Bootstrap

Banyak Orang Bahkan Tidak Dapat Memperoleh Kecukupan Dasar

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Many people are unable to obtain even basic provision

Sekitar 1,4 miliar penduduk dunia hidup dalam kemiskinan ekstrem, artinya mereka tidak bisa mendapatkan kebutuhan hidup pokok. Sebanyak 1,1 miliar lainnya hidup pas-pasan, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dari hari ke hari saja, yang sangat rentan atau sudah di ambang kehancuran.[1] Kemiskinan ekonomi memengaruhi hampir 40 persen manusia. Mengingat yang sudah kita pelajari dari Kejadian 1 dan 2, keadaan seperti ini jelas bukan seperti yang dimaksudkan Allah. Lalu mengapa keadaan ini menjadi realitas sehari-hari begitu banyak orang?

Di dunia yang benar-benar adil dan merata, pilihan-pilihan yang baik akan mendatangkan kecukupan dan kekayaan, dan pilihan-pilihan yang buruk mendatangkan kemiskinan. Di dunia “sebab-akibat” seperti ini, kebenaran amsal-amsal seperti, "Dalam setiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka hanya mendatangkan kemiskinan" (Amsal 14:23) menjadi realistis. Kemalasan, pemborosan, disiplin diri yang buruk, dan perilaku adiktif, semuanya secara alami akan mendatangkan kemiskinan. Sebaliknya, kerja keras, pemakaian yang bijaksana, disiplin diri yang sehat, dan bebas kecanduan akan mendatangkan kekayaan. Hal ini bisa berlaku pada jutaan atau miliaran orang di dunia saat ini—kekayaan atau kemiskinan relatif mereka sebagian besar ditentukan oleh pilihan-pilihan baik, kerja keras, dan kejeniusan mereka sendiri. Di masyarakat yang ditangani dengan baik, di kalangan orang-orang yang memiliki akses merata ke sumber-sumber daya dan pendidikan, dan di dalam situasi-situasi yang tidak terganggu sakit-penyakit, bencana, disfungsi keluarga, kejahatan, atau kecelakaan, kekayaan dan kemiskinan seseorang kemungkinan merupakan hasil yang adil dari usaha pribadi.

Namun pada kenyataannya, dalam skala global, kita sama sekali tidak hidup di area yang adil dan merata. Dunia yang telah jatuh ini tidak adil dan tidak memperlakukan semua orang secara merata. Kita semua tidak memulai kehidupan dari keadaan yang sama. Keluarga, komunitas, dan situasi sosial kita sangat menentukan peluang-peluang kita di dunia ini. Sebagian dari kita beruntung karena dilahirkan dalam keluarga yang mendukung dan penuh kasih di negara-negara makmur, dengan serangkaian kemampuan dan peluang. Sementara orang-orang lain dilahirkan dalam situasi yang serba kekurangan dalam segala hal. Mereka tak pernah memiliki basis yang mereka butuhkan untuk mencukupi diri sendiri.

Memang benar bahwa sebagian besar kemiskinan adalah akibat dosa dan kesalahan tertentu manusia. Tetapi yang membuat orang tidak mendapat kecukupan atau kekayaan tidak selalu akibat dosanya sendiri. Pemerintah yang buruk, perang, korupsi, eksploitasi pihak yang berkuasa, kurangnya pendidikan dan pelatihan, berbagai penyakit masyarakat dan keluarga yang menghalangi pencapaian potensi, semuanya berkontribusi pada banyaknya orang yang tidak mendapat kecukupan, yang bukan akibat kesalahannya sendiri. Secara khusus, tidak mendapat kecukupan seringkali disebabkan, sebagian atau seluruhnya, oleh dosa sosial atau personal terhadap orang miskin. Artinya, mereka adalah korban dari akibat dosa orang lain. Seorang yang kejam merampas tanah keluarga, merenggut kemampuan mereka untuk menghasilkan. Sebuah pabrik mengeksploitasi para pekerja yang lemah dengan membayar upah di bawah standar dan mengancam yang keberatan. Seorang tuan tanah kaya menebangi pohon-pohon di hutan yang luas, membuat jutaan orang di hilir berisiko dilanda banjir. Seorang suami kecanduan judi, dan menelantarkan istri dan anak-anaknya tanpa uang sedikit pun. Sebuah investasi gagal akibat kecurangan dan penipuan, membuat keluarga yang sudah menabung dengan susah payah untuk masa depan tidak punya apa-apa lagi.

Meskipun demikian, tidak semua kemiskinan adalah akibat dosa, atau setidaknya bukan dosa yang jelas-jelas dilakukan orang tertentu. Sebagian orang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka karena disabilitas, penyakit, usia, atau faktor-faktor lain yang bukan kesalahan siapa-siapa. Di Perjanjian Lama, ketiga kelompok ini sangat rentan—“janda, anak yatim, dan pendatang/orang asing.”[2] Untuk mengantisipasinya, Hukum Ibrani memuat peraturan-peraturan yang menjamin terpeliharanya orang-orang ini.[3] Zakharia adalah tipikal nabi itu ketika ia menulis: “Beginilah firman Tuhan semesta alam: tegakkanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kasih setia dan kasih sayang satu sama lain; janganlah menindas janda dan anak yatim, pendatang dan orang miskin” (Zakharia 7:9-10).[4]

Kemiskinan lainnya terjadi akibat keadaan bumi kita yang tak dapat diprediksi. Bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, kekeringan, atau banjir dapat menghancurkan seluruh masyarakat, dan memusnahkan hasil panen, rumah, harta benda, dan mata pencaharian dalam sekejap. Contohnya, seperempat juta orang kehilangan nyawa dalam tsunami Boxing Day tahun 2004 yang melanda wilayah pesisir Indonesia dan wilayah-wilayah Asia Tenggara lainnya, dan ada lebih banyak lagi korban yang kehilangan tempat tinggal dan sarana-sarana untuk mencukupi diri sendiri.

Jadi kita harus sangat berhati-hati agar tidak membuat asumsi-asumsi tentang penyebab situasi seseorang— kaya atau pun miskin. Begitu banyak faktor yang memengaruhi, sebagian dari diri orang itu sendiri; kebanyakan dari luar kendali mereka. Alkitab sangat realistis dalam hal ini. Sebagai contoh, ada pengamatan bahwa, "kurang dari sepertiga amsal yang berbicara tentang orang kaya dan orang miskin mengajarkan bahwa orang akan mendapatkan yang pantas mereka dapatkan, sementara sisanya mengakui adanya masalah keadilan sosial-ekonomi."[5] Jadi, meskipun Alkitab terkadang mengaitkan kecukupan atau tidak berkecukupan dengan suatu sebab, Kitab Suci pada umumnya kurang peduli untuk mengidentifikasi penyebab-penyebab kemiskinan tertentu dan lebih peduli untuk mengingatkan kewajiban orang-orang yang punya kekayaan supaya memerhatikan orang-orang yang berkekurangan.