Bootstrap

Menebus Bidang Ekonomi

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Redeeming the economic sphere

Meskipun benar bahwa maksud Allah yang semula agar manusia menikmati kecukupan dan kekayaan-Nya sudah terkacaukan, cerita belum selesai. Allah menanggapi masalah kekurangan kecukupan dan kekayaan di dunia ini dengan menebus bidang ekonomi agar bidang ini kembali dapat memenuhi yang dibutuhkan setiap orang.

Rasul Paulus mengingatkan kita di dalam surat Kolose, bahwa

Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian dengan darah salib Kristus. (Kolose 1:19-20)

“Segala sesuatu” ini mencakup bidang ekonomi.

Salah satu cara utama Allah dalam melakukan penebusan ini adalah melalui kehidupan para pengikut Yesus. Kitab Kolose melanjutkan,

Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan menjadi musuh-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. (Kolose 1:21-22)

Dan di dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus, Paulus menjelaskan tentang pekerjaan Allah di dalam dan melalui kita:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah memercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.…Jadi kami ini utusan-utusan Kristus. (2 Korintus 5:17-20)

Pendamaian dengan Allah ini membawa implikasi-implikasi yang sangat besar dalam semua aspek kehidupan kita, termasuk aspek ekonomi. Duta besar (utusan) tentu saja merepresentasikan kepentingan ekonomi penguasa mereka, bersama dengan segala kepentingan lainnya.

Jadi apa artinya ini bagi peran kita sebagai utusan/duta besar Kristus dan mitra dalam penebusan?

Kita Harus Memiliki dan Menunjukkan Sikap-sikap Yang Benar tentang Kecukupan dan Kekayaan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Menebus penggunaan sumber daya keuangan kita dimulai dengan merawat sikap-sikap yang alkitabiah – yang akan memunculkan tindakan-tindakan yang benar. Tiga sikap alkitabiah yang mendasar adalah trusteeship (pengelola/pengemban amanah atau perwalian), gratitude (bersyukur), dan contentment (merasa puas/cukup).

Dari Sikap Pemilik Menjadi Pengemban Amanah/Pengelola

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Manusia pertama diperintahkan Allah untuk mengurus Taman Eden dengan segala makhluk dan tanaman di dalamnya. Hal ini sering disebut "mandat penciptaan." Allah berbagi tugas mengelola Taman sehari-hari dengan Adam dan Hawa. Mereka harus memandang diri mereka sebagai pengurus/pengelola tatanan ciptaan.

Perwalian/pertanggungjawaban amanah ini dibangun di atas prinsip bahwa kepemilikan tertinggi atas segala sesuatu yang kita miliki dan diami bukanlah kita, tetapi Allah. Allah adalah Pemilik yang memercayakan manajemen/kepengurusan kepada kita, yang harus dijalankan menurut tujuan-tujuan-Nya. Sebagaimana dinyatakan Pemazmur, "TUHANlah yang mempunyai bumi serta segala isinya" (Mazmur 24:1). Raja Daud meneguhkan hal yang sama dalam doanya di depan bangsa Israel pada saat penggalangan dana pembangunan Bait Suci. "Sebab dari-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu" (1 Tawarikh 29:14b). Kita tidak punya hak untuk menyatakan kepemilikan mutlak atas segala sumber daya kita, entah itu uang, harta benda, bisnis, kemampuan, lingkungan fisik, atau pun warisan. Kita hanyalah pengemban amanah (wali) dari kecukupan atau kekayaan apa pun yang kita terima.

Tanggung jawab fidusia, atau penatalayanan, merupakan elemen penting dalam menjalankan amanah. Meskipun pengemban amanah/wali memiliki sejumlah kebebasan untuk bertindak dan membuat keputusan-keputusan dalam mengalokasi sumber daya/dana, semuanya itu harus dilakukan untuk kepentingan pemilik sesungguhnya atau penyandang dana dari badan yang dikelola. Dan, tentu saja, semakin besar sumber daya/dana yang dipercayakan, semakin besar pula tanggung jawab itu. Yesus menyinggung hal ini dalam perumpamaan-Nya tentang hamba yang setia atau tidak setia, dan berkata bahwa, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Lukas 12:48b). Craig Blomberg mengatakannya seperti ini: “Orang dalam posisi-posisi kekuasaan tidak memiliki hak yang lebih besar—hanya tanggung jawab yang lebih besar!” [1]

Jadi, bertindak sebagai wali/pengemban amanah atas kekayaan apa pun yang diberikan pada kita sangat mendasar dalam perspektif alkitabiah tentang kecukupan dan kekayaan. Sumber-sumber daya ini bukan untuk kita gunakan sesuka hati kita. Cara kita menggunakannya juga bukan urusan kita sendiri saja. Meskipun Allah tidak mengharapkan kita hidup dengan tidak punya apa-apa, Dia mau kita memaksimalkan sumber-sumber daya kita untuk pembangunan kerajaan Allah. Orang yang cukup beruntung dilahirkan dalam kemakmuran memiliki tanggung jawab untuk memakai kekayaan mereka untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang tidak memiliki cukup. Mereka dapat melakukannya dengan berbagai cara, seperti melalui donasi, investasi, dan pelayanan langsung.

Perintah untuk menggunakan sumber daya untuk kepentingan orang miskin disampaikan secara langsung di kitab Keluaran.

Selama enam tahun engkau boleh menabur di tanahmu dan menuai hasilnya, tetapi pada tahun ketujuh engkau harus membiarkannya dan meninggalkannya, supaya orang miskin di antara bangsamu memperoleh makanan. Apa yang mereka tinggalkan harus dibiarkan untuk dimakan binatang liar. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu. (Keluaran 23:10-11)

Siapa saja yang memiliki tanah punya kewajiban untuk membiarkan orang miskin menggunakannya dengan cuma-cuma selama setahun setiap tujuh tahun sekali, dan bahkan membiarkan binatang-binatang liar untuk mendapatkan manfaatnya. Perintah ini diulangi di kitab Ulangan dengan bahasa yang lebih sederhana:

Sebab orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu. Itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, “Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.” (Ulangan 15:11)

Hal yang sangat penting adalah kita tidak boleh menimbun kekayaan yang dipercayakan pada kita untuk diri kita sendiri, untuk mempertahankan gaya hidup, rumah, dan fasilitas gereja yang melebihi kebutuhan.

Perwalian (sikap Pengelola atau Pengemban amanah) mengingatkan kita tentang untuk siapa kita bekerja—Allah—dan untuk apa kita bekerja—Kerajaan Allah. Sikap ini memfokuskan kita pada ekonomi baru dan impian yang berbeda, yang dibingkai dalam agenda Allah untuk dunia ini, dan untuk kita. Sebagai mitra Allah, kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam tujuan ini dengan semua sumber daya yang kita miliki—termasuk kekayaan kita.

Dari Sikap Tidak Bersyukur Menjadi Bersyukur

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jika kita tahu bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Allah—termasuk kemampuan untuk bekerja, menjalankan bisnis, mencipta dan memproduksi, menjual, dan membangun kekayaan—kita akan bersyukur kepada Allah.

Jika kita kaya dan berkelimpahan, tentu saja mudah bagi kita untuk meyakinkan diri bahwa yang kita miliki sebagian besar adalah hasil kerja keras, kepintaran, dan bakat kreatif kita sendiri. Padahal realitasnya adalah sebaliknya. Jika kita dilahirkan dalam keluarga yang penuh kasih, di negara yang makmur, dengan sistem pendidikan yang baik, masyarakat yang tertib dengan supremasi hukum yang stabil, kita memiliki keberuntungan yang diperlukan agar kerja keras kita membuahkan hasil. Ini bukan untuk mengatakan bahwa kerja keras tak pernah berkontribusi pada keberhasilan ekonomi. Hal itu jelas sering menjadi salah satu faktor. Tetapi, kepintaran dan bakat kreatif yang dibutuhkan untuk membuat kerja keras berhasil pun merupakan anugerah Allah. Rasul Paulus mengatakannya secara blak-blakan ketika ia bertanya kepada jemaat Korintus, "Apa yang engkau punyai yang tidak engkau terima? Jika engkau memang menerimanya, mengapa engkau memegahkan diri seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (1 Korintus 4:7). Maksud Paulus adalah segala kemampuan yang ada pada kita pun diberikan pada kita oleh Allah. Raja Daud menggemakan perasaan ini ketika ia merespons kemurahan hati Allah dengan berdoa, "Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sejauh ini?" (1 Tawarikh 17:16). Respons yang alkitabiah terhadap berkat kecukupan dan kelimpahan adalah rasa syukur yang mendalam, meskipun usaha kita sendiri memainkan peran yang penting dalam menghasilkan kekayaan.

Ironisnya, bahkan di kalangan orang Kristen, kekayaan tampaknya menumbuhkan sikap tidak bersyukur dan merasa berhak—seolah-olah kita memang pantas menerima sesuatu. Hal ini menyingkapkan pandangan yang berlebihan tentang pentingnya diri sendiri, dan kesadaran yang sangat terbatas tentang karunia, anugerah dan keberuntungan dalam hidup kita. Faktor lain yang menghalangi kita untuk bersyukur adalah iri hati. Sangat mudah untuk merasa iri terhadap orang lain atas apa yang mereka miliki, alih-alih merasa puas dan bersyukur atas apa yang kita miliki, jika kita memandang diri kita terutama sebagai pelanggan, dan bukan pelayan. Budaya Barat menyuburkan perasaan iri hati ini. Pemasaran, iklan, dan bahkan hiburan mendorong kita untuk menjadikan ‘kehidupan seperti orang kaya’ sebagai aspirasi kita. Dengan bersikap seperti itu, kita jadi mendambakan yang dimiliki orang lain—bukan hanya harta benda mereka tetapi juga segala kemampuan dan situasi mereka. Padahal, Alkitab memerintahkan kita agar tidak mengingini apa pun yang dimiliki sesama kita—entah itu posisi di tempat kerja, gaji, peluang ekonomi, atau saldo di rekening bank—tetapi memiliki rasa syukur yang semakin besar atas yang telah diberikan pada kita.

Bagaimana kita bisa menjadi lebih bersyukur? Dengan bersyukur. Kita menjadi lebih bersyukur melalui tindakan sederhana mengucap syukur setiap hari atas apa pun yang kita miliki yang kita hargai. Mengucap syukur benar-benar mengubah sikap kita. Jika, pada waktu yang sama, kita juga mematikan atau mengabaikan pesan-pesan pemasaran dan budaya yang "menjual impian/aspirasi", kita benar-benar bisa menjadi lebih bersyukur dan bersukacita dalam hidup kita.

Dari Sikap Tidak Puas Menjadi Puas

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Bersyukur menimbulkan rasa puas. Kepuasan itu sendiri merupakan perasaan yang nikmat dan bisa menjadi penawar racun keserakahan dan iri hati. Alkitab memperkenalkan visi kehidupan ekonomi yang tidak bergantung pada konsumsi yang terus meningkat untuk melindungi kita dari rasa kecewa. Dengan visi ini, kita bisa merasa cukup dan berhenti dari mengingini lebih lagi. Bangsa Israel mengalami hal ini di padang gurun ketika setiap hari Allah memberi mereka cukup roti (“manna”) dari surga. “Orang yang memungut banyak, tidak kelebihan dan orang yang memungut sedikit, tidak kekurangan. Tiap orang memungut menurut keperluannya” (Keluaran 16:18). Kitab Ibrani menasihati kita, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” (Ibrani 13:5). Senada dengan itu, Paulus menulis, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa apa pun ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa pun ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1 Timotius 6:6-8). Dan di dalam surat yang ditulis dari sel penjara, Paulus berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya sendiri.

Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:11-13)

Baik Paulus maupun jemaat Filipi yang ia kirimi surat yang jauh dari kaya itu, nyaris tak bisa hidup layak secara ekonomi. Sikap mereka yang merasa puas dalam segala situasi ekonomi ini menantang orang-orang yang hidup berkelimpahan untuk menemukan kepuasan dalam apa yang mereka miliki.

Puas berarti memahami apa itu cukup. Apa itu keuntungan yang cukup? Bayaran yang cukup? Jam kerja yang cukup? Tabungan yang cukup? Ukuran rumah yang cukup? Harta benda yang cukup? Mengingat tidak ada dari kita yang memiliki tolok ukur yang tepat tentang apa itu cukup dan apa itu berkelebihan, kita memerlukan bantuan dari orang lain. Bagaimana jika orang Kristen bertemu dalam kelompok kecil untuk saling membagikan rencana belanja mereka dan merenungkan bersama apakah rencana belanja itu mencerminkan kebutuhan-kebutuhan yang sebenarnya yang menumbuhkan rasa syukur dan puas, ataukah mencerminkan aspirasi-aspirasi iri hati yang hanya akan menimbulkan pikiran merasa berhak dan tidak puas? Tidak banyak orang Kristen yang sudah mencoba melakukan hal ini sehingga sulit untuk mengetahui bagaimana dampaknya jika kita bisa saling berbagi pemahaman tentang apa itu cukup dalam hal-hal praktis.

Kita Harus Mengubah Gaya Hidup Pribadi Kita

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Memiliki sikap-sikap yang benar tentang kecukupan dan kekayaan tak pelak akan memunculkan penyesuaian-penyesuaian dalam cara hidup kita.

Dari Gaya Hidup Individualisme yang Mencukupi Diri Sendiri Menjadi Berkomunitas

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Salah satu kata yang sering diterjemahkan sebagai “komunitas” atau “persekutuan” di Perjanjian Baru adalah koinonia. Kata ini banyak digunakan di lingkungan Yunani. Dalam penggunaan sehari-hari, kata ini merujuk pada memiliki kesamaan dengan seseorang. Akan tetapi, penggunaan kata koinonia di Alkitab menekankan partisipasi aktif—mengambil bagian dalam sesuatu, bukan sekadar terkait dengannya. Ketika Paulus, khususnya, memakai kata koinonia, kata itu mengandung arti kemitraan yang kuat ini, yang meliputi panggilan untuk bermitra secara finansial.[1] Contoh utamanya adalah ketika Paulus memuji jemaat Korintus atas “kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu [koinonias]” (2 Korintus 9:13) yang merujuk pada uang yang mereka sumbangkan untuk meringankan beban orang-orang Kristen yang miskin di Yerusalem. Contoh lainnya adalah pembagian harta milik di dalam “persekutuan” (koinonia, Kisah Para Rasul 2:42) orang Kristen yang mula-mula. Persekutuan ini bersifat spiritual dan juga finansial, sehingga “tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka” (Kisah Para Rasul 4:32-35). Allah memenuhi kebutuhan individu-individu itu melalui sumber daya komunitas. “Semua orang yang percaya tetap bersatu, dan semua milik mereka adalah milik bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kisah Para Rasul 2:44-45).

Meskipun ada sedikit indikasi bahwa pengelolaan kekayaan bersama ini terjadi di luar periode singkat gereja di Perjanjian Baru, tetapi komunitas di Yerusalem itu jelas berusaha merealisasikan visi Allah bahwa kecukupan dan kekayaan adalah masalah komunal, bukan individual. Bagaimana realisasinya di berbagai konteks abad 21 tentu saja akan bergantung pada berbagai faktor. Sejarah menunjukkan bahwa kepemilikan kolektif biasanya tidak berjalan baik. Namun beberapa masih melakukan tindakan saling berbagi secara ekonomi ini di dalam komunitas yang sangat-dipercaya. Komunitas iman lainnya mungkin berusaha mengumpulkan donasi dari orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin. Yang lain lagi mungkin memilih untuk memberi secara pribadi kepada orang tertentu atau badan amal yang menangani orang-orang kesusahan. Alkitab tidak menetapkan cara, tetapi sikap. Allah mencukupi umat-Nya secara jamak/komunal, meskipun sumber dayanya bisa dipercayakan kepada individu-individu sebagai penatalayan/pengurus.

Dari Gaya Hidup Mengisolasi Diri Menjadi Terlibat Secara Pribadi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Godaan orang yang memiliki banyak untuk memisahkan diri dari orang yang memiliki sedikit sangat nyata. Rumah-rumah berpagar tinggi, mobil ber-AC, lingkar pertemanan yang terbatas pada kelompok sosial ekonomi tertentu, dan gereja yang melakukan pembatasan serupa—semuanya berkomplot untuk membuat orang-orang kaya terperangkap di kantong-kantong kemakmuran mereka sendiri. Orang yang memiliki sedikit secara efektif tersingkir dari lingkungan mereka.

Ini berarti orang-orang kaya seringkali sangat sedikit atau tidak memiliki relasi sama sekali dengan orang-orang yang bergumul secara finansial—baik di dalam maupun di luar negeri. Pemahaman mereka tentang situasi orang yang tidak mendapat kecukupan dasar sangat dibatasi oleh jarak geografis dan sosial.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, orang Israel diperintahkan secara spesifik untuk memerhatikan janda-janda, anak yatim (tidak berayah), dan orang asing.[13] Di dalam masyarakat agraris, kelompok-kelompok ini sangat rentan karena mereka tidak memiliki akses untuk menemukan tanah atau sumber penghasilan. Faktor-faktor ini juga membuat mereka rentan terisolasi. Untuk bisa menjangkau dan memerhatikan mereka, orang Israel pertama-tama harus terlibat secara pribadi dengan mereka. Allah sendiri di dalam kitab Mazmur digambarkan berelasi secara pribadi dengan mereka sebagai “bapa bagi anak yatim dan pelindung para janda” (Mazmur 68:5).

Keramahtamahan semacam ini—menyambut “orang asing”—sangat penting dalam mengikut Yesus. Dua bagian penting kitab Injil—Lukas 14:12-14 (mengundang orang miskin ke acara perjamuan) dan Matius 25:31-46 (penghakiman Allah atas bangsa-bangsa)—menunjukkan perbedaan antara keramahtamahan konvensional dan keramahtamahan Kristen. Keramahtamahan konvensional dilakukan kepada teman dan keluarga. Keramahtamahan Kristen dilakukan kepada orang miskin dan “yang paling hina ini” (Matius 25:40), orang-orang yang “tidak dapat membalas” (Lukas 14:14) atau “balik mengundang” (Lukas 14:12). Yesus menekankan aspek relasi pribadi ini ketika Dia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40). Meskipun konteksnya menunjukkan bahwa Yesus terutama merujuk pada murid-murid-Nya ("saudara-Ku"), tetapi tidak ada alasan untuk berkata bahwa para murid juga tidak perlu memiliki sikap yang sama terhadap orang yang bukan Kristen. Bagaimanapun, Kristus telah mati untuk kita "ketika kita masih berdosa" dan sebelum kita sendiri menjadi anggota keluarga-Nya.

Ketika orang yang memiliki banyak mengenal orang yang memiliki sedikit, perspektif-perspektif bisa berubah. Mendengarkan cerita mereka, melihat perjuangan mereka secara langsung, menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka, dan juga bahwa kita semua memiliki banyak kesamaan—semua ini akan membentuk-ulang pola pikir dan hati kita. Allah sendiri telah mengambil rupa manusia untuk bisa mendatangi kita secara pribadi sebagai manusia (Filipi 2:6-8), yang membuat-Nya dapat “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibrani 4:15). Jika Allah saja menganggap penting untuk menjumpai kita yang miskin dan lemah dibandingkan dengan-Nya, bukankah kita seharusnya mengikuti teladan-Nya dan menjumpai orang-orang yang miskin dan lemah dibandingkan dengan kita? Orang miskin tidak lagi hanya sekadar angka tanpa wajah. Mereka adalah orang-orang yang nyata dengan kebutuhan-kebutuhan dan kehidupan yang nyata.

Penting bagi orang Kristen untuk memikirkan dengan murah hati bagaimana keramahtamahan semacam itu dapat dilakukan. Meskipun memberi dan menginvestasikan uang merupakan cara yang pokok dalam mengungkapkan keramahtamahan, ungkapan yang lebih personal dan menyentuh juga penting. Di dalam setiap komunitas, ada banyak macam orang asing, sebagaimana yang telah kita temui. Masalahnya adalah bagi banyak orang yang memiliki pekerjaan dengan gaji tinggi, tinggal di kawasan elit, tergabung dalam kelompok teman-teman yang kaya, dan beribadah di jemaat gereja yang makmur, berhubungan dengan orang miskin kemungkinan bukan bagian dari kehidupan sehari-hari. Membangun relasi pribadi memerlukan tindakan yang disengaja untuk keluar dari lingkungan yang biasa itu dan masuk ke situasi-situasi yang tidak nyaman. Bahkan mungkin juga memerlukan perjalanan geografis atau relokasi. Dan jika ini sungguh-sungguh keramahtamahan Kristen sejati, keramahtamahan ini perlu menghindari paternalisme (melemahkan orang lain dengan melakukan hal-hal yang dapat mereka lakukan sendiri) dan berusaha meminimalisasi ketimpangan kekuasaan. Hal ini mungkin sangat sulit bagi orang-orang yang mengalami kesuksesan finansial, dan bagi orang-orang yang status dan kesuksesannya menjadi tolok ukur utama harga diri. Tidak mudah melepaskan gengsi dan hak-hak istimewa kekuasaan jika naluri kita adalah untuk mengatasi masalah dari jauh, dan bukan menjumpai orang-orang di tengah pergumulan mereka.

Salah satu tokoh Alkitab yang menunjukkan keterlibatan pribadi dengan orang miskin adalah Ayub. Kehidupan Ayub sering bersinggungan dengan orang-orang miskin di wilayahnya. Ia tidak mengisolasi diri dari mereka tetapi tinggal berdekatan dengan para pelayan, janda-janda, anak yatim, dan orang asing.

Pendatang pun tidak pernah bermalam di luar, pintuku kubuka bagi musafir. (Ayub 31:32)
Aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak memiliki penolong…hati seorang janda kubuat bersukacita…Aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan kaki bagi orang lumpuh. Aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan perkara orang yang tidak kukenal, kuselidiki. (Ayub 29:12-13, 15-16)

Ayub mengenal tetangga-tetangganya yang miskin, memperlakukan mereka secara merata, merasakan belas kasihan mendalam terhadap mereka dan memerhatikan mereka dengan kekuatan politik dan finansialnya.

Dari Gaya Hidup Bekerja Kompulsif Menjadi Berirama Kerja dan Istirahat

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Belajar memercayai Allah untuk kecukupan kita merupakan tantangan yang terus-menerus, apalagi jika kita cenderung memiliki kebiasaan bekerja kompulsif. Gordon MacDonald, seorang pendeta di AS, mengamati budayanya:

Semakin banyak yang kita inginkan, semakin besar pendapatan yang harus kita hasilkan untuk memenuhinya. Semakin besar pendapatan yang harus kita hasilkan, semakin lama dan keras kita harus bekerja. Jadi kita membangun rumah yang lebih besar, membeli mobil lebih banyak, menanggung beban keuangan yang lebih berat dan mendapati diri kita harus bekerja lebih keras lagi untuk membayar semuanya itu. Lebih banyak bekerja, lebih sedikit beristirahat. [1]

Namun, kebiasaan bekerja kompulsif tidak hanya terbatas pada orang yang bergumul dengan budaya kemakmuran saja. Kebiasaan itu juga menjadi godaan bagi orang-orang yang berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Bagaimanapun, praktik memelihara hari Sabat yang alkitabiah penting untuk menjaga perspektif Ilahi tentang kecukupan dan kekayaan. Bagi orang Israel, hari Sabat mingguan (berhenti bekerja) adalah bagian dari tanggung jawab perjanjian mereka—hari untuk kembali berfokus pada Allah dan merayakan kasih-Nya kepada mereka. Hari Sabat adalah anugerah Allah untuk terus membuat umat-Nya terbebas dari jerih payah yang melelahkan seperti yang dijelaskan di Kejadian 3. Hari Sabat adalah kemurahan, sebuah contoh tentang kasih dan pemeliharaan Allah.

Istirahat Sabat adalah penyangkalan diri yang terus-menerus terhadap sifat serakah yang selalu ingin memiliki lebih lagi. Sebuah pernyataan pada diri sendiri bahwa ada hal-hal lain dalam hidup ini selain menghasilkan dan menghabiskan. Dan ada yang lebih penting pada identitas kita selain hal-hal yang kita lakukan atau hasilkan. Kita bukanlah jumlah saldo di rekening bank kita, atau jabatan atau tanggung jawab yang kita pikul.

Istirahat Sabat bermuara pada tindakan percaya. Untuk mematuhinya, kita harus berani percaya bahwa Allah akan mencukupi kebutuhan kita, dan bukan berusaha sekuat tenaga untuk mencukupinya sendiri. Pelajaran ini sulit, dan biasanya memerlukan trial and error (mencoba dan gagal) untuk kita benar-benar dapat melakukannya, seperti yang didapati orang Israel ketika bergantung pada penyediaan manna Allah di padang gurun (Keluaran 16:1-36). Dan ini menjadi pengingat bahwa pada akhirnya hidup kita tidak bergantung pada usaha keras kita, tetapi pada kecukupan dan anugerah Allah. Ini adalah tantangan—bagi orang yang bergumul dengan kemungkinan tidak memiliki cukup maupun bagi orang yang bergumul dengan bahaya tidak tahu apa itu cukup.

Lihat artikel Menyelaraskan Irama Kerja dan Istirahat: Tinjauan Umum untuk pembahasan lebih lanjut tentang topik ini.

Kita Harus Memakai Kekayaan Kita untuk Membantu Orang Miskin

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Memiliki sikap yang benar tentang kecukupan dan kekayaan dan membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan pribadi kita adalah titik awal bermitra dengan Allah dalam menebus bidang kehidupan ekonomi. Tetapi, ada juga mandat Alkitab yang kuat dan konsisten bagi orang-orang kaya agar mereka memakai kekayaannya untuk membantu orang-orang miskin. Cara yang paling jelas (dan paling banyak dituliskan dalam Alkitab) adalah dengan memberi. Tetapi, berinvestasi dan berbelanja dengan bijak juga merupakan respons yang benar dalam membantu orang miskin.

Membantu Orang Miskin dengan Memberi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Ketika kita sungguh-sungguh menyadari kehadiran anugerah Allah dalam hidup kita, hati kita yang bersyukur dengan sendirinya akan meluap dalam tindakan memberi yang murah hati. Yesus memerintahkan murid-murid-Nya, "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma" (Matius 10:8). Inilah tepatnya yang terjadi pada gereja-gereja di Makedonia, sebagaimana dijelaskan dalam 2 Korintus, pasal 8 dan 9. Pasal-pasal ini merupakan ungkapan paling jelas di Perjanjian Baru tentang tindakan murah hati dan memberi. Menurut Paulus, gereja-gereja di Makedonia secara spontan memberi kepada gereja di Yerusalem untuk meringankan beban para anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi. Padahal orang-orang Kristen di Makedonia sendiri sangat miskin. Paulus berkata:

Selagi dicobai dengan berat dalam berbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.Aku bersaksi bahwa mereka telah memberi menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh anugerah untuk ambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.” (2 Korintus 8:2-4)

Yang mengherankan adalah mereka tidak memberi dari kelimpahan, tetapi di tengah kekurangan mereka sendiri. Jika kita ingin menjadi pemberi, kita harus mulai memberi sekarang, dari seberapa pun yang kita pikir kita miliki. Jika kita menunggu sampai kita pikir kita memiliki cukup, kita tidak akan pernah memiliki cukup.

Paulus mengamati bahwa Yesus sendiri adalah teladan dalam hal memberi semacam itu. “Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Korintus 8:9). Mengapa kita harus memberi? Karena Dia yang kita ikuti telah memberi teladan kemurahan hati kepada kita.

Paulus melanjutkan dengan berkata bahwa orang kaya harus memberi sedemikian rupa—dan orang miskin harus menerima sedemikian rupa—supaya terjadi keseimbangan.

Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis, “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan, dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.” (2 Korintus 8:13-15)

Jalan pikirannya menunjukkan ada kesenjangan yang ekstrem di antara yang kaya dan yang miskin, yang tidak seharusnya ada di dalam komunitas Kristen. Jika ada saudara-saudari yang tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar mereka, orang yang memiliki kelebihan harus merespons. Ini menjadi tantangan yang sangat besar bagi banyak orang Kristen di Barat, yang kekayaannya jauh melebihi orang-orang Kristen di berbagai bagian dunia yang berjuang untuk sekadar bertahan hidup dari hari-ke-hari.

Tetapi Paulus tidak bermaksud memakai rasa bersalah untuk memotivasi kita. Pemberian kita tidak hanya harus dicirikan dengan kemurahan hati, tetapi juga dengan sukacita. “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7). Kita harus memberi karena kita ingin memberi, dengan sukarela—meluap dari hati yang penuh syukur. Jika kita tidak ingin memberi, mari kita lebih memperhatikan tindakan mengucap syukur dan melihat apakah hal itu akan menumbuhkan hati yang rela dan bersukacita untuk memberi.

Tidak mudah memang untuk memberi dengan murah hati. Hal ini sangat bertentangan dengan intuisi pribadi maupun budaya. Di ranah pribadi, kita takut jika kita memberi dengan murah hati, kita tidak akan memiliki cukup untuk kebutuhan-kebutuhan kita sendiri. Budaya kita memperkuat ketakutan ini dengan menghadirkan "kebutuhan-kebutuhan" yang terus meningkat pada kita, dan membangkitkan keinginan dalam diri kita untuk menemukan rasa aman dengan memiliki dan menimbun lebih banyak. Hanya oleh kuasa Roh Allah kita dapat berharap terbebas dari cengkeraman kekayaan agar kita mampu memberi dengan murah hati. Namun, jika kita menerima karunia kemurahan hati dari Allah, itu adalah anugerah pembebasan dari perbudakan pribadi atas kekayaan dan dari perbudakan budaya atas berhala rasa aman dan status yang palsu.

Setelah memutuskan untuk memberi, tentu saja pertanyaan tentang ke mana dan bagaimana harus dijawab. Perlu hikmat untuk mengetahui manakah yang paling tepat dan bermanfaat dari sekian banyak pilihan. Jika memilih untuk memberi melalui lembaga, dua pertimbangannya adalah:

  • Apakah lembaga ini memberdayakan orang yang akan mereka bantu? Apakah mereka mendengarkan dengan baik dan bekerja sama dengan penerima bantuan agar bantuan yang diberikan benar-benar bermanfaat? Apakah mereka memperhatikan konteks budaya tempat mereka melayani? Atau apakah mereka begitu terfokus untuk melakukan yang menurut mereka dibutuhkan dengan cara yang mereka anggap benar sehingga secara tidak sengaja mereka malah memperburuk keadaan?

  • Apakah lembaga ini transparan dan jujur dalam caranya menggunakan sumber daya dan seberapa efektif cara itu? Apakah mereka bertanggung jawab kepada dewan pimpinan yang independen dan apakah mereka memberikan laporan keuangan kepada badan internasional yang memantau? Sayangnya, lembaga-lembaga seringkali kurang berintegritas dengan melebih-lebihkan laporan mereka, kurang terbuka terhadap audit atau evaluasi independen, cenderung menyia-nyiakan sumber daya, atau melakukan pemborosan yang tidak perlu dalam urusan administrasi, penggalangan dana, gaji tenaga eksekutif yang tinggi, dll.

Membantu Orang Miskin dengan Investasi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Meskipun memberi merupakan cara yang pokok dalam menggunakan kekayaan untuk membantu orang yang terjerat kemiskinan, investasi kekayaan yang bijak juga dapat sangat efektif dalam menolong orang miskin. Ada banyak contoh tentang bagaimana hal ini dapat dilakukan. Namun, dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, ada dua gerakan besar yang menunjukkan hal-hal yang dapat dicapai melalui investasi di komunitas-komunitas termiskin.

Yang pertama adalah sektor mikrofinansial (layanan keuangan mikro). Di seluruh dunia, namun terutama di negara-negara berkembang, koperasi-koperasi didirikan di komunitas-komunitas miskin untuk memberi pinjaman dalam memulai usaha kecil. Ketika usaha ini menghasilkan pemasukan, pinjaman modal awal ini dikembalikan dan uang itu lalu dipinjamkan lagi untuk usaha-usaha kecil yang baru. Setidaknya, itulah tujuannya. Efektivitas layanan keuangan mikro tampaknya tidak merata di berbagai konteks, dan ada banyak yang mendukung maupun yang mencela. Namun, dalam kondisi terbaiknya, layanan keuangan mikro menjadi mekanisme bagi orang-orang yang memiliki kemampuan wirausaha untuk memperoleh modal, menciptakan bisnis yang memberi nilai tambah, memenuhi kebutuhan sendiri, dan membawa manfaat bagi komunitas.

Bentuk umum kedua dari layanan mikrofinansial adalah koperasi “berbasis tabungan”, yang alih-alih memberi pinjaman kepada anggota, mereka malah diminta berkomitmen untuk menabung sejumlah kecil uang setiap minggu, yang kemudian digabungkan dengan tabungan anggota kelompok lainnya dan akhirnya diinvestasikan. Seiring berjalannya waktu, dengan dukungan dan mentoring, koperasi jadi memiliki cadangan modal, yang dapat dimanfaatkan oleh individu-individu untuk kebutuhan mendesak atau dipinjam untuk memulai usaha. Modal bersama itu juga dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh komunitas. Koperasi berbasis tabungan membantu masyarakat miskin dalam mengatasi salah satu hambatan utama orang yang ingin meningkatkan taraf hidup mereka—yaitu, tidak adanya opsi-opsi untuk menginvestasikan tabungan mereka yang sangat kecil dengan aman.

Gerakan lain yang berkembang di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang adalah “social enterprise” (perusahaan sosial). Usaha-usaha ini didirikan untuk mencapai tujuan sosial selain mendapat keuntungan. Perusahaan semacam ini sering berusaha menghasilkan keuntungan yang “berkelanjutan”, tetapi tidak selalu memaksimalkan hasil investasi.

Beberapa contoh perusahaan semacam itu adalah:[1]

  • Sarah dan John mendirikan usaha tembikar dan hanya mempekerjakan orang-orang yang memiliki banyak kendala dalam mendapatkan pekerjaan. Para pekerjanya bisa para tunawisma atau semi-tunawisma yang mungkin memiliki masalah kesehatan mental, cacat fisik, kecanduan obat-obatan, atau masalah-masalah lainnya. Pekerjaan itu tidak sepenuh-waktu, tetapi memberi tambahan penghasilan untuk melengkapi sumber pemasukan lain yang diterima pekerja. Tembikar dijual melalui toko-toko khusus dan juga melalui Internet.

  • Michael menjalankan usaha perakitan dan penjualan (ekspor) komponen-komponen elektronik. Ia mempekerjakan orang-orang dengan gangguan spektrum autisme (yang juga dikenal sebagai sindrom Asperger), dengan melatih mereka melakukan pekerjaan yang sangat rumit. Bisnis ini kecil (hanya mempekerjakan maksimal 12 orang setiap kali), tetapi kesempatan untuk melatih, membimbing, dan mengembangkan orang-orang yang akan sulit mendapat pekerjaan jika tidak ditolong, merupakan inti dari motivasi dan keputusannya menjalankan usaha ini.

  • Lembaga XYZ membangun usaha pembuatan tas goni di kawasan lampu merah (lokalisasi prostitusi) di sebuah kota Asia yang besar. Tas diekspor ke seluruh dunia dan dikenal karena ketahanan dan kualitasnya. Bisnis ini hanya mempekerjakan wanita-wanita yang pernah terjerat prostitusi atau rentan terhadap prostitusi. Dengan memberikan jalan keluar kepada wanita- wanita yang terperangkap untuk menjual diri demi memberi makan keluarganya, pabrik tas goni ini menyediakan pekerjaan alternatif yang berguna dengan upah yang layak, plus manfaat dari komunitas yang mendukung.

  • Jerry menjalankan bisnis impor selama beberapa tahun. Meskipun ia tidak mempekerjakan siapa-siapa, ia telah menginvestasikan sumber daya yang cukup besar untuk membangun bisnis yang berkelanjutan dan menguntungkan. Ia menggaji dirinya sendiri dengan standar upah yang layak, dan menyerahkan semua keuntungan untuk proyek mikrofinansial di negara berkembang.

Meskipun kita sudah berfokus pada sarana-sarana investasi yang secara eksplisit berusaha membantu orang miskin, investasi bisnis komersial biasa di negara-negara dan masyarakat miskin juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengurangi kemiskinan. Kapasitas produksi dunia masih jauh dari kata habis, meskipun kepintaran manusia dan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang baik juga diperlukan.

Namun, karena tujuan bisnis biasanya memberi keuntungan kepada pemegang saham, bukan masyarakat miskin, bisnis juga dapat menjadi sarana eksploitasi dan penyalahgunaan yang efektif. Ratusan juta orang Kristen bekerja dalam bisnis-bisnis yang berinvestasi, memproduksi, mendistribusi, menjual, atau mengangkut barang dan jasa di daerah-daerah miskin. Boleh jadi merekalah yang punya peluang terbesar untuk membentuk strategi dan operasional bisnis dengan cara-cara yang membantu orang miskin di seluruh dunia.

Membantu Orang Miskin dengan Belanja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mungkin tampaknya aneh untuk berkata bahwa belanja merupakan cara potensial untuk membantu orang miskin. Kita sering mengaitkan belanja dengan konsumsi berlebihan. Banyak orang Kristen menganut mentalitas hidup hemat, yang menganggap belanja sebagai hal yang terkesan kurang rohani. Hal ini mungkin benar jika belanja diartikan sebagai membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan. Tetapi, belanja justru sering diartikan sebagai keinginan untuk membeli barang dengan harga murah, entah kita membutuhkannya atau tidak. Entah kenapa, mendapatkan harga murah menenangkan rasa was-was kita saat membeli sesuatu. Padahal akibatnya mungkin kita berkontribusi pada harga yang ditekan, yang menyebabkan produsen membayar pekerja terlalu sedikit untuk mencukupi kehidupan mereka dan keluarga.

Dalam hal tertentu, berbelanja lebih untuk barang-barang yang kita konsumsi dapat meningkatkan kehidupan orang-orang yang menghasilkan dan menjualnya. Di dalam ekonomi global saat ini, banyak pekerja yang dibayar terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Sementara orang-orang yang membeli barang dan jasa mereka dapat dengan mudah membayar harga lebih tinggi untuk hal-hal itu. Jika ada cara untuk konsumen membayar lebih—dan dengan demikian meningkatkan pendapatan pekerja yang membutuhkannya—belanja sebenarnya dapat menjadi bantuan bagi orang miskin.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, sebuah gerakan besar telah berkembang di negara-negara maju untuk berusaha membayar harga yang adil atas produk-produk yang dihasilkan negara-negara berkembang. "Perdagangan yang adil" ini berusaha memberi kompensasi yang adil bagi para petani kopi, coklat, kapas, pembuat kerajinan, dan industri-industri kecil lainnya atas pekerjaan mereka.

Pengeluaran uang juga dianjurkan di dalam Alkitab jika uang itu digunakan dengan kemurahan hati untuk orang lain. Allah menghargai pengeluaran yang royal untuk pesta makan-makan bersama tetangga Anda, asalkan Anda tidak mengharapkan apa-apa sebagai balasannya (Lukas 14:12-14). Yang dilarang Alkitab adalah pengeluaran yang boros untuk kesenangan diri sendiri (Yakobus 4:3). Jadi jika pertanyaan kita adalah, "Apa yang harus kulakukan dengan uang yang kumiliki?" maka "belanjakanlah dengan royal untuk hal-hal yang berguna bagi orang lain tanpa mengharapkan balasan," akan menjadi jawaban yang baik. Tetapi ini di luar topik yang sedang kita bahas saat ini tentang belanja untuk membantu orang miskin, jadi kita akan mengakhiri pembahasan tentang hal itu di sini.

Kita Harus Mengubah Organisasi dan Struktur-struktur Masyarakat

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Orang Kristen tidak hanya dipanggil untuk berkiprah di level usaha kecil dan dari orang-ke-orang saja dalam upaya pengentasan kemiskinan, tetapi juga di tingkat makro atau struktural. Dunia memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Tetapi motivasi sosial, politik dan ekonomi serta cara-cara mewujudkannya tidak pernah terintegrasi secara menyeluruh. Ini juga merupakan satu bentuk dosa dan kesalahan manusia. Kita harus terlibat dalam mengubah organisasi-organisasi dan berbagai sistem kecukupan dan kekayaan di dalam masyarakat kita. Meskipun kita mungkin merasa terlalu kecil dan tidak penting, atau terlalu jauh dari pusat-pusat kekuasaan dalam masyarakat kita, Allah punya kebiasaan memakai orang luar dan tidak penting untuk membawa perubahan ekonomi yang besar dalam masyarakat.

Barangkali agen perubahan struktural di negeri asing yang pertama adalah Yusuf (Kejadian 41-42). Lahir di negeri Kanaan yang tidak signifikan, dijual sebagai budak di Mesir, dipenjarakan atas tuduhan palsu, dan terpinggirkan dalam bentuk-bentuk lainnya, ia akhirnya mereformasi struktur ekonomi negara Mesir yang besar. Dengan memandang ke depan secara sangat profetik, ia menerapkan sistem jaringan kota-kota penyimpanan yang luas, supaya hasil panen dari masa-masa produktif yang baik dapat disimpan untuk masa-masa kelaparan. Inilah bank makanan yang pertama. Sebagai hasilnya, kemampuan orang Mesir untuk menyediakan kecukupan bagi rakyatnya selama tahun-tahun kelaparan yang panjang itu meningkat pesat, dan ada cukup makanan untuk semua orang—bahkan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga Yusuf yang pergi ke selatan sebagai orang asing untuk mencari makanan. Tanpa kesediaan Yusuf untuk menantang sistem perekonomian Mesir, jutaan orang miskin akan mati selama tujuh tahun dilanda kelaparan. Namun karena ia bersedia menantang dan mengubah sistem itu, orang miskin maupun orang kaya dapat tetap hidup.

Demikian pula, ketika bangsa Israel dibuang ke Babel, mereka mendapati diri mereka tak berdaya dan kehilangan hak. Tetapi nabi Yeremia menasihati umat Allah itu untuk "usahakanlah kesejahteraan kota ke mana Aku membuangmu dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu" (Yeremia 29:7). Tujuan Allah adalah agar umat-Nya mereformasi struktur-struktur yang dimiliki para penawan mereka.

Hal ini bisa terjadi ketika beberapa pemuda, Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, direkrut untuk menjalani peran kepemimpinan di pemerintahan Babel. Alih-alih menyerah pada godaan kemewahan yang ditawarkan posisi baru mereka, mereka menantang sistem itu. Mereka mempertaruhkan kedudukan mereka—dan nyawa mereka—untuk melawan ketidakadilan dan ketimpangan. Dengan bertindak sebagai agen-agen perubahan, Daniel dan teman-temannya bekerja untuk mendukung — bukan menentang - kesejahteraan di negara tempat mereka dibuang. Allah bermaksud memakai mereka untuk menebus sistem, budaya, dan masyarakat tempat mereka tinggal dan bekerja. Dalam satu hal, ini berarti Daniel menantang raja secara langsung. “Jadi, ya Raja, kiranya Tuanku berkenan menerima keputusanku ini: lepaskanlah diri Tuanku dari dosa dengan melakukan keadilan, dan dari kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan kepada yang tertindas. Dengan demikian kebahagiaan Tuanku akan berlanjut” (Daniel 4:27).

Di mana pun kita bekerja—di departemen pemerintah, partai politik, organisasi nonpemerintah, struktur kota, perusahaan multinasional, usaha kecil, dinas kesehatan atau pendidikan, lingkungan setempat—kita juga harus berusaha bekerja untuk kesejahteraan dan kemakmuran orang-orang yang kita layani. Terkadang ini berarti kita menantang sistem dan struktur-struktur yang menghalangi kecukupan dan kekayaan Allah bagi semua orang. Usaha ini bisa memerlukan perubahan prioritas, struktur, dan proses-proses dalam organisasi itu—apalagi jika mereka menindas atau memarjinalkan orang-orang lemah atau miskin. Entah itu dalam mengadvokasi sistem perpajakan yang lebih adil, membantu penyusunan undang-undang yang menentang praktik-praktik monopoli atau anti-kompetisi, atau menantang cara pemberi kerja dan serikat kerja saling berhubungan dalam industri tertentu, ada banyak peluang bagi orang Kristen untuk membawa perubahan sistemik pada cara mendapatkan kecukupan dan kekayaan.

Kita Harus Bekerja dengan Orang-orang Tidak Percaya untuk Meningkatkan Kecukupan dan Mengurangi Kemiskinan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Di beberapa bagian Kitab Suci, Allah memakai orang-orang yang bukan pengikut-Nya untuk menggenapi tujuan-Nya. Salah satu contohnya, di dalam kitab Ezra, adalah raja Kores dari Persia.

Pada tahun pertama pemerintahan Kores, raja Persia, TUHAN menggerakkan hati Kores, raja Persia itu, agar firman TUHAN yang diucapkan oleh Yeremia digenapi. Lalu disiarkanlah pengumuman ini di seluruh kerajaannya secara lisan dan tertulis, demikian: "Beginilah perintah Kores, raja Persia: segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah Semesta Langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang ada di Yehuda..." (Ezra 1:1-2)

Secara mengejutkan, Allah memilih memakai orang yang bukan umat Allah untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Allah tidak dibatasi dalam menggenapi rencana penebusan-Nya dengan melulu bekerja dengan umat-Nya saja. Seperti Ezra (dan kemudian juga Nehemia), kita pun dapat bekerja dengan orang-orang tidak percaya untuk menebus dunia.

Salah satu cara melakukan hal ini adalah dengan bermitra dengan orang-orang dan organisasi-organisasi yang berusaha meningkatkan taraf ekonomi orang miskin dengan berbagai cara. Ada banyak individu-individu dan institusi-institusi non-Kristen yang melakukan pekerjaan besar dalam menyediakan lapangan kerja yang bermanfaat, peluang usaha kecil, penanggulangan kemiskinan, dan pengembangan masyarakat. Kita dapat bekerja dalam solidaritas dan kemitraan dengan orang-orang dan tujuan-tujuan semacam itu. Tentu saja kita juga perlu bersikap bijak di sini. Kita perlu memastikan bahwa dampak kemitraan itu selaras dengan tujuan-tujuan dan nilai-nilai alkitabiah.