Bootstrap

Kita Harus Memiliki dan Menunjukkan Sikap-sikap Yang Benar tentang Kecukupan dan Kekayaan

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
We are to develop and model right attitudes to provision and wealth

Menebus penggunaan sumber daya keuangan kita dimulai dengan merawat sikap-sikap yang alkitabiah – yang akan memunculkan tindakan-tindakan yang benar. Tiga sikap alkitabiah yang mendasar adalah trusteeship (pengelola/pengemban amanah atau perwalian), gratitude (bersyukur), dan contentment (merasa puas/cukup).

Dari Sikap Pemilik Menjadi Pengemban Amanah/Pengelola

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Manusia pertama diperintahkan Allah untuk mengurus Taman Eden dengan segala makhluk dan tanaman di dalamnya. Hal ini sering disebut "mandat penciptaan." Allah berbagi tugas mengelola Taman sehari-hari dengan Adam dan Hawa. Mereka harus memandang diri mereka sebagai pengurus/pengelola tatanan ciptaan.

Perwalian/pertanggungjawaban amanah ini dibangun di atas prinsip bahwa kepemilikan tertinggi atas segala sesuatu yang kita miliki dan diami bukanlah kita, tetapi Allah. Allah adalah Pemilik yang memercayakan manajemen/kepengurusan kepada kita, yang harus dijalankan menurut tujuan-tujuan-Nya. Sebagaimana dinyatakan Pemazmur, "TUHANlah yang mempunyai bumi serta segala isinya" (Mazmur 24:1). Raja Daud meneguhkan hal yang sama dalam doanya di depan bangsa Israel pada saat penggalangan dana pembangunan Bait Suci. "Sebab dari-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu" (1 Tawarikh 29:14b). Kita tidak punya hak untuk menyatakan kepemilikan mutlak atas segala sumber daya kita, entah itu uang, harta benda, bisnis, kemampuan, lingkungan fisik, atau pun warisan. Kita hanyalah pengemban amanah (wali) dari kecukupan atau kekayaan apa pun yang kita terima.

Tanggung jawab fidusia, atau penatalayanan, merupakan elemen penting dalam menjalankan amanah. Meskipun pengemban amanah/wali memiliki sejumlah kebebasan untuk bertindak dan membuat keputusan-keputusan dalam mengalokasi sumber daya/dana, semuanya itu harus dilakukan untuk kepentingan pemilik sesungguhnya atau penyandang dana dari badan yang dikelola. Dan, tentu saja, semakin besar sumber daya/dana yang dipercayakan, semakin besar pula tanggung jawab itu. Yesus menyinggung hal ini dalam perumpamaan-Nya tentang hamba yang setia atau tidak setia, dan berkata bahwa, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Lukas 12:48b). Craig Blomberg mengatakannya seperti ini: “Orang dalam posisi-posisi kekuasaan tidak memiliki hak yang lebih besar—hanya tanggung jawab yang lebih besar!” [1]

Jadi, bertindak sebagai wali/pengemban amanah atas kekayaan apa pun yang diberikan pada kita sangat mendasar dalam perspektif alkitabiah tentang kecukupan dan kekayaan. Sumber-sumber daya ini bukan untuk kita gunakan sesuka hati kita. Cara kita menggunakannya juga bukan urusan kita sendiri saja. Meskipun Allah tidak mengharapkan kita hidup dengan tidak punya apa-apa, Dia mau kita memaksimalkan sumber-sumber daya kita untuk pembangunan kerajaan Allah. Orang yang cukup beruntung dilahirkan dalam kemakmuran memiliki tanggung jawab untuk memakai kekayaan mereka untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang tidak memiliki cukup. Mereka dapat melakukannya dengan berbagai cara, seperti melalui donasi, investasi, dan pelayanan langsung.

Perintah untuk menggunakan sumber daya untuk kepentingan orang miskin disampaikan secara langsung di kitab Keluaran.

Selama enam tahun engkau boleh menabur di tanahmu dan menuai hasilnya, tetapi pada tahun ketujuh engkau harus membiarkannya dan meninggalkannya, supaya orang miskin di antara bangsamu memperoleh makanan. Apa yang mereka tinggalkan harus dibiarkan untuk dimakan binatang liar. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu. (Keluaran 23:10-11)

Siapa saja yang memiliki tanah punya kewajiban untuk membiarkan orang miskin menggunakannya dengan cuma-cuma selama setahun setiap tujuh tahun sekali, dan bahkan membiarkan binatang-binatang liar untuk mendapatkan manfaatnya. Perintah ini diulangi di kitab Ulangan dengan bahasa yang lebih sederhana:

Sebab orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu. Itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, “Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.” (Ulangan 15:11)

Hal yang sangat penting adalah kita tidak boleh menimbun kekayaan yang dipercayakan pada kita untuk diri kita sendiri, untuk mempertahankan gaya hidup, rumah, dan fasilitas gereja yang melebihi kebutuhan.

Perwalian (sikap Pengelola atau Pengemban amanah) mengingatkan kita tentang untuk siapa kita bekerja—Allah—dan untuk apa kita bekerja—Kerajaan Allah. Sikap ini memfokuskan kita pada ekonomi baru dan impian yang berbeda, yang dibingkai dalam agenda Allah untuk dunia ini, dan untuk kita. Sebagai mitra Allah, kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam tujuan ini dengan semua sumber daya yang kita miliki—termasuk kekayaan kita.

Dari Sikap Tidak Bersyukur Menjadi Bersyukur

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jika kita tahu bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Allah—termasuk kemampuan untuk bekerja, menjalankan bisnis, mencipta dan memproduksi, menjual, dan membangun kekayaan—kita akan bersyukur kepada Allah.

Jika kita kaya dan berkelimpahan, tentu saja mudah bagi kita untuk meyakinkan diri bahwa yang kita miliki sebagian besar adalah hasil kerja keras, kepintaran, dan bakat kreatif kita sendiri. Padahal realitasnya adalah sebaliknya. Jika kita dilahirkan dalam keluarga yang penuh kasih, di negara yang makmur, dengan sistem pendidikan yang baik, masyarakat yang tertib dengan supremasi hukum yang stabil, kita memiliki keberuntungan yang diperlukan agar kerja keras kita membuahkan hasil. Ini bukan untuk mengatakan bahwa kerja keras tak pernah berkontribusi pada keberhasilan ekonomi. Hal itu jelas sering menjadi salah satu faktor. Tetapi, kepintaran dan bakat kreatif yang dibutuhkan untuk membuat kerja keras berhasil pun merupakan anugerah Allah. Rasul Paulus mengatakannya secara blak-blakan ketika ia bertanya kepada jemaat Korintus, "Apa yang engkau punyai yang tidak engkau terima? Jika engkau memang menerimanya, mengapa engkau memegahkan diri seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (1 Korintus 4:7). Maksud Paulus adalah segala kemampuan yang ada pada kita pun diberikan pada kita oleh Allah. Raja Daud menggemakan perasaan ini ketika ia merespons kemurahan hati Allah dengan berdoa, "Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sejauh ini?" (1 Tawarikh 17:16). Respons yang alkitabiah terhadap berkat kecukupan dan kelimpahan adalah rasa syukur yang mendalam, meskipun usaha kita sendiri memainkan peran yang penting dalam menghasilkan kekayaan.

Ironisnya, bahkan di kalangan orang Kristen, kekayaan tampaknya menumbuhkan sikap tidak bersyukur dan merasa berhak—seolah-olah kita memang pantas menerima sesuatu. Hal ini menyingkapkan pandangan yang berlebihan tentang pentingnya diri sendiri, dan kesadaran yang sangat terbatas tentang karunia, anugerah dan keberuntungan dalam hidup kita. Faktor lain yang menghalangi kita untuk bersyukur adalah iri hati. Sangat mudah untuk merasa iri terhadap orang lain atas apa yang mereka miliki, alih-alih merasa puas dan bersyukur atas apa yang kita miliki, jika kita memandang diri kita terutama sebagai pelanggan, dan bukan pelayan. Budaya Barat menyuburkan perasaan iri hati ini. Pemasaran, iklan, dan bahkan hiburan mendorong kita untuk menjadikan ‘kehidupan seperti orang kaya’ sebagai aspirasi kita. Dengan bersikap seperti itu, kita jadi mendambakan yang dimiliki orang lain—bukan hanya harta benda mereka tetapi juga segala kemampuan dan situasi mereka. Padahal, Alkitab memerintahkan kita agar tidak mengingini apa pun yang dimiliki sesama kita—entah itu posisi di tempat kerja, gaji, peluang ekonomi, atau saldo di rekening bank—tetapi memiliki rasa syukur yang semakin besar atas yang telah diberikan pada kita.

Bagaimana kita bisa menjadi lebih bersyukur? Dengan bersyukur. Kita menjadi lebih bersyukur melalui tindakan sederhana mengucap syukur setiap hari atas apa pun yang kita miliki yang kita hargai. Mengucap syukur benar-benar mengubah sikap kita. Jika, pada waktu yang sama, kita juga mematikan atau mengabaikan pesan-pesan pemasaran dan budaya yang "menjual impian/aspirasi", kita benar-benar bisa menjadi lebih bersyukur dan bersukacita dalam hidup kita.

Dari Sikap Tidak Puas Menjadi Puas

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Bersyukur menimbulkan rasa puas. Kepuasan itu sendiri merupakan perasaan yang nikmat dan bisa menjadi penawar racun keserakahan dan iri hati. Alkitab memperkenalkan visi kehidupan ekonomi yang tidak bergantung pada konsumsi yang terus meningkat untuk melindungi kita dari rasa kecewa. Dengan visi ini, kita bisa merasa cukup dan berhenti dari mengingini lebih lagi. Bangsa Israel mengalami hal ini di padang gurun ketika setiap hari Allah memberi mereka cukup roti (“manna”) dari surga. “Orang yang memungut banyak, tidak kelebihan dan orang yang memungut sedikit, tidak kekurangan. Tiap orang memungut menurut keperluannya” (Keluaran 16:18). Kitab Ibrani menasihati kita, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” (Ibrani 13:5). Senada dengan itu, Paulus menulis, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa apa pun ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa pun ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1 Timotius 6:6-8). Dan di dalam surat yang ditulis dari sel penjara, Paulus berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya sendiri.

Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:11-13)

Baik Paulus maupun jemaat Filipi yang ia kirimi surat yang jauh dari kaya itu, nyaris tak bisa hidup layak secara ekonomi. Sikap mereka yang merasa puas dalam segala situasi ekonomi ini menantang orang-orang yang hidup berkelimpahan untuk menemukan kepuasan dalam apa yang mereka miliki.

Puas berarti memahami apa itu cukup. Apa itu keuntungan yang cukup? Bayaran yang cukup? Jam kerja yang cukup? Tabungan yang cukup? Ukuran rumah yang cukup? Harta benda yang cukup? Mengingat tidak ada dari kita yang memiliki tolok ukur yang tepat tentang apa itu cukup dan apa itu berkelebihan, kita memerlukan bantuan dari orang lain. Bagaimana jika orang Kristen bertemu dalam kelompok kecil untuk saling membagikan rencana belanja mereka dan merenungkan bersama apakah rencana belanja itu mencerminkan kebutuhan-kebutuhan yang sebenarnya yang menumbuhkan rasa syukur dan puas, ataukah mencerminkan aspirasi-aspirasi iri hati yang hanya akan menimbulkan pikiran merasa berhak dan tidak puas? Tidak banyak orang Kristen yang sudah mencoba melakukan hal ini sehingga sulit untuk mengetahui bagaimana dampaknya jika kita bisa saling berbagi pemahaman tentang apa itu cukup dalam hal-hal praktis.