Dari Gaya Hidup Mengisolasi Diri Menjadi Terlibat Secara Pribadi
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Godaan orang yang memiliki banyak untuk memisahkan diri dari orang yang memiliki sedikit sangat nyata. Rumah-rumah berpagar tinggi, mobil ber-AC, lingkar pertemanan yang terbatas pada kelompok sosial ekonomi tertentu, dan gereja yang melakukan pembatasan serupa—semuanya berkomplot untuk membuat orang-orang kaya terperangkap di kantong-kantong kemakmuran mereka sendiri. Orang yang memiliki sedikit secara efektif tersingkir dari lingkungan mereka.
Ini berarti orang-orang kaya seringkali sangat sedikit atau tidak memiliki relasi sama sekali dengan orang-orang yang bergumul secara finansial—baik di dalam maupun di luar negeri. Pemahaman mereka tentang situasi orang yang tidak mendapat kecukupan dasar sangat dibatasi oleh jarak geografis dan sosial.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, orang Israel diperintahkan secara spesifik untuk memerhatikan janda-janda, anak yatim (tidak berayah), dan orang asing.[13] Di dalam masyarakat agraris, kelompok-kelompok ini sangat rentan karena mereka tidak memiliki akses untuk menemukan tanah atau sumber penghasilan. Faktor-faktor ini juga membuat mereka rentan terisolasi. Untuk bisa menjangkau dan memerhatikan mereka, orang Israel pertama-tama harus terlibat secara pribadi dengan mereka. Allah sendiri di dalam kitab Mazmur digambarkan berelasi secara pribadi dengan mereka sebagai “bapa bagi anak yatim dan pelindung para janda” (Mazmur 68:5).
Keramahtamahan semacam ini—menyambut “orang asing”—sangat penting dalam mengikut Yesus. Dua bagian penting kitab Injil—Lukas 14:12-14 (mengundang orang miskin ke acara perjamuan) dan Matius 25:31-46 (penghakiman Allah atas bangsa-bangsa)—menunjukkan perbedaan antara keramahtamahan konvensional dan keramahtamahan Kristen. Keramahtamahan konvensional dilakukan kepada teman dan keluarga. Keramahtamahan Kristen dilakukan kepada orang miskin dan “yang paling hina ini” (Matius 25:40), orang-orang yang “tidak dapat membalas” (Lukas 14:14) atau “balik mengundang” (Lukas 14:12). Yesus menekankan aspek relasi pribadi ini ketika Dia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40). Meskipun konteksnya menunjukkan bahwa Yesus terutama merujuk pada murid-murid-Nya ("saudara-Ku"), tetapi tidak ada alasan untuk berkata bahwa para murid juga tidak perlu memiliki sikap yang sama terhadap orang yang bukan Kristen. Bagaimanapun, Kristus telah mati untuk kita "ketika kita masih berdosa" dan sebelum kita sendiri menjadi anggota keluarga-Nya.
Ketika orang yang memiliki banyak mengenal orang yang memiliki sedikit, perspektif-perspektif bisa berubah. Mendengarkan cerita mereka, melihat perjuangan mereka secara langsung, menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka, dan juga bahwa kita semua memiliki banyak kesamaan—semua ini akan membentuk-ulang pola pikir dan hati kita. Allah sendiri telah mengambil rupa manusia untuk bisa mendatangi kita secara pribadi sebagai manusia (Filipi 2:6-8), yang membuat-Nya dapat “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibrani 4:15). Jika Allah saja menganggap penting untuk menjumpai kita yang miskin dan lemah dibandingkan dengan-Nya, bukankah kita seharusnya mengikuti teladan-Nya dan menjumpai orang-orang yang miskin dan lemah dibandingkan dengan kita? Orang miskin tidak lagi hanya sekadar angka tanpa wajah. Mereka adalah orang-orang yang nyata dengan kebutuhan-kebutuhan dan kehidupan yang nyata.
Penting bagi orang Kristen untuk memikirkan dengan murah hati bagaimana keramahtamahan semacam itu dapat dilakukan. Meskipun memberi dan menginvestasikan uang merupakan cara yang pokok dalam mengungkapkan keramahtamahan, ungkapan yang lebih personal dan menyentuh juga penting. Di dalam setiap komunitas, ada banyak macam orang asing, sebagaimana yang telah kita temui. Masalahnya adalah bagi banyak orang yang memiliki pekerjaan dengan gaji tinggi, tinggal di kawasan elit, tergabung dalam kelompok teman-teman yang kaya, dan beribadah di jemaat gereja yang makmur, berhubungan dengan orang miskin kemungkinan bukan bagian dari kehidupan sehari-hari. Membangun relasi pribadi memerlukan tindakan yang disengaja untuk keluar dari lingkungan yang biasa itu dan masuk ke situasi-situasi yang tidak nyaman. Bahkan mungkin juga memerlukan perjalanan geografis atau relokasi. Dan jika ini sungguh-sungguh keramahtamahan Kristen sejati, keramahtamahan ini perlu menghindari paternalisme (melemahkan orang lain dengan melakukan hal-hal yang dapat mereka lakukan sendiri) dan berusaha meminimalisasi ketimpangan kekuasaan. Hal ini mungkin sangat sulit bagi orang-orang yang mengalami kesuksesan finansial, dan bagi orang-orang yang status dan kesuksesannya menjadi tolok ukur utama harga diri. Tidak mudah melepaskan gengsi dan hak-hak istimewa kekuasaan jika naluri kita adalah untuk mengatasi masalah dari jauh, dan bukan menjumpai orang-orang di tengah pergumulan mereka.
Salah satu tokoh Alkitab yang menunjukkan keterlibatan pribadi dengan orang miskin adalah Ayub. Kehidupan Ayub sering bersinggungan dengan orang-orang miskin di wilayahnya. Ia tidak mengisolasi diri dari mereka tetapi tinggal berdekatan dengan para pelayan, janda-janda, anak yatim, dan orang asing.
Pendatang pun tidak pernah bermalam di luar, pintuku kubuka bagi musafir. (Ayub 31:32)
Aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak memiliki penolong…hati seorang janda kubuat bersukacita…Aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan kaki bagi orang lumpuh. Aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan perkara orang yang tidak kukenal, kuselidiki. (Ayub 29:12-13, 15-16)
Ayub mengenal tetangga-tetangganya yang miskin, memperlakukan mereka secara merata, merasakan belas kasihan mendalam terhadap mereka dan memerhatikan mereka dengan kekuatan politik dan finansialnya.
