Bootstrap

Key Topic Overview Articles

Menyelaraskan Irama Istirahat dan Kerja (Tinjauan Umum)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Membuat Waktu Istirahat Dapat Diperkirakan dan Dibutuhkan

Bacalah lebih lanjut di sini tentang penelitian mengenai irama istirahat dan kerja yang dilakukan di Boston Consulting Group oleh dua profesor Harvard Business School. Penelitian itu menunjukkan bahwa ketika diasumsikan setiap orang harus selalu bersedia ditantang secara kolektif, bukan saja individu-individu dapat memiliki waktu istirahat, pekerjaan mereka juga benar-benar mendapat manfaat. (Harvard Business Review mungkin memasang pengumuman dan mewajibkan mendaftar untuk melihat artikel itu). Mark Roberts juga membahas topik ini dalam renungan Life for Leaders dengan judul "Tidakkah Menaati Hari Sabat Akan Membuat Saya Kurang Produktif?"

Pendahuluan – Istirahat dan Kerja

Manusia membutuhkan irama kerja dan istirahat agar dapat hidup sesuai dengan potensi yang diberikan Allah kepada mereka. Sama seperti Allah memberikan pekerjaan penting untuk dilakukan manusia, Allah juga mau manusia beristirahat secara berkala dari pekerjaan mereka. Pekerjaan memberi kesempatan kepada setiap individu untuk bermitra dengan Allah dalam tujuan-tujuan-Nya atas ciptaan, sementara istirahat memungkinkan orang itu memasuki persekutuan dengan Allah dalam menikmati ciptaan. Idealnya, semua orang bekerja dan beristirahat secara berselang-seling yang nyaman, yang membuat manusia sehat secara fisik, bergairah secara mental, dan puas secara spiritual.

Sayangnya, bagi banyak orang hal ini jarang terjadi. Banyak orang mengabaikan istirahat atau tidak punya kesempatan untuk beristirahat karena pola hidup mereka. Dengan kemajuan teknologi yang memusingkan, orang dapat bekerja di mana saja dan kapan saja. Pada tahun 2014 The Economist melaporkan bahwa 60% orang yang menggunakan telepon pintar terhubung dengan kantor mereka selama 13,5 jam atau lebih dalam sehari.[1] Banyak orang telah berhenti berusaha menyelaraskan kerja dan istirahat.[2] Yang lain mendapati seluruh waktunya habis untuk kebutuhan mencari uang, merawat anak atau orangtua lanjut usia (atau keduanya), serta memenuhi berbagai kebutuhan dan ekspektasi lainnya. Karena bekerja berlebihan, mereka merasa semakin sulit untuk mengalami istirahat yang memanusiakan dan memulihkan yang mereka butuhkan.

Sebaliknya, sebagian orang kurang bekerja, entah karena mereka tidak bekerja secara penuh waktu atau pun merasa tidak terlibat dengan pekerjaan mereka. Sebagian kurang memiliki motivasi untuk bekerja atau tidak mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang dibutuhkan dalam bekerja. Perubahan-perubahan struktural di pasar tenaga kerja selama setengah abad terakhir ini telah mengurangi kesempatan kerja orang-orang yang tidak memiliki akses ke pendidikan tinggi.[3] Dan bahkan orang-orang yang bekerja secara penuh waktu bisa mengalami kurangnya keterlibatan yang produktif. Jika seorang pekerja merasa pekerjaannya tidak dihargai, diperhatikan, atau diapresiasi, pekerja itu akan sulit menunjukkan rasa memiliki atas tugas yang ada.[4] Jika ia tidak siap untuk bekerja secara produktif, buah kesuksesan tak mungkin tercapai. Hasilnya adalah kurangnya motivasi yang membuat kehilangan semangat.[5]

Ketika orang kurang beristirahat, mereka menderita secara fisik, mental, emosional, dan spiritual. Kelelahan fisik dan mental sering dapat menyebabkan ketidakstabilan emosi, karena orang yang kurang istirahat menjadi mudah tersinggung dan/atau cemas. Kekurangan istirahat ini juga bisa menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang lebih besar. Relasi-relasi menjadi tegang. Dan seiring berjalannya waktu, kehidupan rohani —relasi dengan Allah serta makna dan sukacita terbesar dalam hidup—jadi melemah juga.

Hasil riset menunjukkan konsekuensi yang berantai akibat kurangnya istirahat. Pertama-tama, kurang istirahat dapat mengganggu kesehatan dan kualitas kerja. Beban kerja yang berat dan jam kerja yang panjang merupakan sumber stres yang signifikan di tempat kerja. Menurut survei Asosiasi Psikologis Amerika, lebih dari sepertiga (36%) pekerja mengalami stres kerja yang kronis, yang dapat menyebabkan kecemasan, insomnia, nyeri otot, peningkatan tekanan darah, dan juga melemahnya sistem kekebalan tubuh. Stres ini juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan depresi.[6] Selain itu, kelelahan mengurangi keterampilan seseorang dalam mengelola relasi-relasi interpersonal. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa ketika orang lelah, ia akan salah membaca sinyal-sinyal sosial orang lain. Orang yang lelah akan memproyeksikan motif-motif negatif kepada orang lain, dan merasa sulit untuk menahan diri agar tidak meluapkan amarah saat merespons.[7] Akhirnya, ada implikasi-implikasi spiritual dari kurang beristirahat. Allah menciptakan bekerja maupun beristirahat, dan pengabaian dalam hal-hal ini dapat menjauhkan manusia dari-Nya.

Baik orang yang bekerja berlebihan maupun yang kurang bekerja bisa merasa sulit untuk berelasi dengan Allah dalam irama kerja dan istirahat. Namun, oleh kasih karunia Allah, masih ada harapan untuk dapat mengintegrasikan istirahat dan kerja dalam pola hidup yang dimaksudkan Allah. Artikel ini akan menyelidiki alasan-alasan tentang mengapa dan bagaimana melakukannya.

Sejak di halaman-halaman awal Alkitab, baik bekerja maupun beristirahat merupakan topik yang sangat penting. Di pasal pertama kitab Kejadian Allah menciptakan segala sesuatu, namun meskipun Dia memiliki kuasa dan kesempurnaan yang tidak terbatas, Allah mengambil waktu untuk beristirahat. Kajian topikal ini akan menelusuri tema istirahat dalam Kitab Suci melalui empat topik utama: 1) mengapa orang perlu beristirahat, 2) mengapa orang tidak dapat beristirahat, 3) bagaimana istirahat dipulihkan, dan 4) bagaimana orang dapat beristirahat dalam iman.

Panggilan & Vokasi (Tinjauan Umum)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pendahuluan

Ketika orang Kristen bertanya tentang vokasi (atau "panggilan"), kita biasanya mengartikan, “Apakah Allah memanggilku untuk suatu tugas, profesi atau jenis pekerjaan tertentu?” Pertanyaan ini penting karena pekerjaan yang kita lakukan penting bagi Tuhan. Jika pekerjaan itu penting, maka logis untuk bertanya pekerjaan apa yang Tuhan ingin kita lakukan.

Di dalam Alkitab, Allah memanggil orang-orang – setidaknya orang-orang tertentu – untuk pekerjaan tertentu, dan memberikan kepada semua orang berbagai panduan untuk pekerjaan mereka. Kita akan menyelidiki catatan Alkitab tentang “panggilan-panggilan” ini secara mendalam. Meskipun Kitab Suci sebenarnya jarang memakai kata “panggilan” untuk menggambarkan pimpinan Allah untuk suatu pekerjaan, peran atau tugas, peristiwa-peristiwa dalam Alkitab ini sangat cocok dengan yang biasanya kita artikan sebagai “panggilan” vokasional. Jadi, sebagai jawaban awal, kita dapat berkata “ya,” Allah memang memimpin orang-orang kepada tugas, peran dan jenis pekerjaan tertentu.

Tetapi di dalam Alkitab, konsep panggilan lebih mendalam dari aspek kehidupan apa pun, seperti pekerjaan. Allah memanggil manusia untuk dipersatukan dengan-Nya dalam semua aspek kehidupan. Dan ini hanya dapat terjadi dengan merespons panggilan Kristus untuk mengikut Dia. Panggilan untuk mengikut Kristus adalah dasar dari semua panggilan lainnya. Namun penting agar tidak merancukan panggilan untuk mengikut Kristus dengan panggilan untuk menjadi pekerja gereja profesional. Orang-orang di setiap jalan kehidupan dipanggil untuk mengikut Kristus dengan kedalaman dan komitmen yang sama.

Di dalam artikel ini, setelah menyelidiki panggilan untuk mengikut Kristus, kita akan menyelidiki panggilan dalam pekerjaan tertentu berdasarkan berbagai ayat-ayat Alkitab yang terkait dengan panggilan. Kita akan melihat bagaimana Allah Tritunggal Bapa, Putra dan Roh Kudus bekerja sama dalam memimpin dan menjadi teladan dalam pekerjaan kita.

Di dalam perjalanan itu, kita akan membahas topik-topik terkait seperti:

  • bagaimana mengenali panggilan atau pimpinan Allah dalam hal pekerjaan

  • natur panggilan komunitas

  • panggilan gereja vs. pekerjaan non-gereja

  • panggilan-panggilan dalam karya penciptaan dan penebusan Allah di luar pekerjaan yang dibayar

  • pentingnya cara Anda bekerja dalam pekerjaan apa pun yang Anda miliki, dan

  • kemerdekaan terakhir yang dinikmati orang Kristen dalam pekerjaan mereka.

Panggilan untuk Menjadi Milik Kristus dan Berpartisipasi dalam Karya Penebusan-Nya di Dunia

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Di dalam Alkitab, kata “panggilan” paling sering dipakai untuk merujuk pada inisiatif Allah untuk membawa orang kepada Kristus dan berpartisipasi dalam karya penebusan-Nya di dunia. Arti panggilan ini sangat menonjol di dalam surat-surat Paulus, entah kata “panggilan” itu benar-benar digunakan atau tidak.

Roma 1:6

Kamu juga termasuk di antara … yang telah dipanggil menjadi milik Yesus Kristus.

Roma 8:28

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

1 Timotius 2:4

[Allah] menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

2 Korintus 5:17-20

Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang. Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah memercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab, di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka dan Dia telah memercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami. Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Panggilan untuk menjadi milik Kristus lebih mendalam daripada berbagai “panggilan” di tempat kerja yang menjadi fokus utama artikel ini. Oleh karena itu, kita perlu memulai penyelidikan kita tentang panggilan ini dengan panggilan untuk mengikut Yesus. Yaitu, panggilan untuk memiliki relasi yang dipulihkan dengan Allah, orang lain dan dunia sekitar kita. Panggilan yang mencakup seluruh keberadaan dan tindakan seseorang. Panggilan yang mengingatkan kita bahwa panggilan dalam pekerjaan tertentu tidaklah sepenting (alias sekunder dibandingkan) panggilan untuk menjadi milik Kristus dan untuk berpartisipasi dalam karya penebusan-Nya di dunia.

Secara khusus, pekerjaan kita harus menjadi bagian yang menyatu dengan partisipasi kita dalam karya Kristus sendiri. Karya penciptaan-Nya mendasari tindakan kreativitas dan produktivitas di alam semesta (Yohanes 1:1-3). Karya penebusan-Nya dapat berlangsung di semua tempat kerja melalui keadilan, pemulihan, rekonsiliasi, belas kasih, kemurahan, kerendahan hati dan kesabaran (Kolose 3:12). Karya penebusan Kristus tidak terbatas pada penginjilan, tetapi meliputi semua yang diperlukan untuk membuat dunia sebagaimana yang selalu dimaksudkan Allah. Pekerjaan penebusan ini terjadi dalam keselarasan dengan pekerjaan mencipta, mengembangkan dan merawat yang Allah delegasikan kepada manusia di Taman Eden. Alkitab tidak mengindikasikan bahwa pekerjaan penebusan telah menggantikan pekerjaan penciptaan. Keduanya masih terus berlangsung, dan pada umumnya orang Kristen diperintahkan untuk berpartisipasi dalam pekerjaan penciptaan maupun pekerjaan penebusan.[1]

Panggilan Universal untuk Bekerja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sebelum kita membahas kemungkinan pimpinan Allah dalam pekerjaan tertentu, kita harus menyadari bahwa Allah menciptakan manusia untuk bekerja dan Dia memerintahkan manusia untuk bekerja sesuai kemampuan mereka. Di awal Alkitab, Allah menjadikan bekerja sebagai esensi atau hakikat hidup manusia. Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya, dan Dia sendiri adalah Pekerja. Dia menempatkan Adam di taman Eden dengan tujuan untuk mengerjakan taman itu. Kemudian, di berbagai bagian Kitab Suci, Allah memerintahkan semua manusia untuk bekerja sesuai kemampuan mereka. Bekerja terus berlangsung sampai akhir Alkitab. Ada pekerjaan di Taman Eden, dan ada pekerjaan di Langit Baru/ Bumi Baru.

Kejadian 1:27-28

Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakannya dia; laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka. Allah memberkati mereka dan berfirman kepada mereka, “Beranak cuculah dan bertambah banyaklah. Penuhilah dan takhlukkanlah bumi. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut, atas burung-burung di udara dan atas segala binatang melata di bumi.”

Kejadian 2:15,19-20

TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di Taman Eden untuk mengerjakan dan memelihara taman itu.… Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang liar dan segala burung di udara. Semuanya dibawa kepada manusia itu untuk melihat bagaimana ia menamainya. Sama seperti nama yang diberikan manusia itu kepada setiap makhluk hidup, begitulah namanya. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung di udara, dan kepada segala binatang liar, tetapi baginya tidak didapati penolong yang sepadan dengan dia.

Keluaran 20:9

Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaaanmu.

2 Tesalonika 3:10

Sebab juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Wahyu 21:24-26

Bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya. Pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup sepanjang hari, sebab malam tidak akan ada lagi di sana. Kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya.

Yesaya 65:21-22

Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya pula, mereka akan menanam kebun-kebun anggur dan memakan buahnya pula. Mereka tidak akan mendirikan sesuatu supaya orang lain mendiaminya, dan mereka tidak akan menanam sesuatu supaya orang lain memakan buahnya; sebab umur umat-Ku akan sepanjang umur pohon, dan orang-orang pilihan-Ku akan menikmati pekerjaan tangan mereka.

Berdasarkan ayat-ayat ini, kita bisa berkata bahwa semua orang “dipanggil” untuk bekerja, sepanjang kita memahami bahwa “dipanggil” dalam pengertian ini sebenarnya berarti “diciptakan” dan “diperintahkan” untuk bekerja. Allah menciptakan Anda sebagai pekerja, dan Dia memerintahkan Anda untuk bekerja, meskipun Dia tidak memberi Anda surat tawaran kerja tertentu. Mungkin sulit untuk mengenali pekerjaan tertentu yang menjadi panggilan Tuhan untuk Anda, tetapi yang pasti Dia menciptakan Anda sebagai pekerja dan Dia mau Anda bekerja sesuai kemampuan Anda.

Panggilan untuk Hidup, Bukan Hanya untuk Bekerja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Meskipun kita sedang fokus pada panggilan Allah untuk bekerja, pekerjaan hanyalah salah satu aspek kehidupan. Allah memanggil kita untuk menjadi milik Kristus dalam semua aspek kehidupan.

Kolose 3:17

Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus.

Pekerjaan kita tidak selalu merupakan aspek terpenting dari panggilan atau pelayanan kita dalam karya penebusan Kristus. Pertama-tama, kita harus ingat bahwa bekerja tidak terbatas hanya pada pekerjaan yang dibayar. Pekerjaan yang Tuhan berikan pada kita mungkin saja pekerjaan yang tidak berbayar, seperti membesarkan anak, atau merawat anggota keluarga yang lemah/sakit, atau mengajar privat siswa-siswa sepulang sekolah. Meskipun kita dipanggil untuk pekerjaan yang dibayar, Allah kemungkinan tidak memanggil banyak dari kita ke dalam pekerjaan yang membuat kita tak dapat melayani orang lain melalui pekerjaan yang tidak dibayar.

Meskipun Anda memiliki pekerjaan yang dibayar, hal terpenting yang Allah mau Anda lakukan bisa jadi berada di luar pekerjaan Anda. Pekerjaan Anda bisa memenuhi kebutuhan Anda akan uang - yang pada dasarnya memenuhi sebagian perintah Allah untuk bekerja - tetapi bisa jadi tidak memenuhi semua tujuan lain yang Allah maksudkan untuk Anda bekerja. Kita sudah melihat bahwa merawat anak dan orang tua atau orang yang memiliki kelemahan adalah suatu pekerjaan, dan banyak orang yang melakukannya juga memiliki pekerjaan lain yang dibayar. Di sisi lain, yang disebut hobi juga bisa menjadi pekerjaan terpenting yang Allah sediakan untuk Anda. Anda mungkin bekerja dengan menulis, melukis, bermain musik, seni peran, astronomi, memimpin kelompok muda-mudi, sukarelawan di masyarakat sejarah, suaka pelestarian alam, atau ribuan jenis pekerjaan lainnya. Jika hal seperti ini menjadi panggilan Anda, Anda kemungkinan akan terlibat lebih serius dibandingkan orang lain yang menganggapnya sebagai aktivitas waktu luang saja, namun Anda mungkin tetap mencari nafkah dengan cara lain. Ada perbedaan antara pekerjaan dan pengisi waktu luang. Tetapi aktivitas apa pun bisa menjadi pekerjaan, yang dibayar atau pun tidak, bagi orang yang satu, dan menjadi aktivitas waktu luang bagi orang yang lain.

Jika Anda punya pekerjaan, tentu saja pekerjaan itu merupakan aspek panggilan Anda selama Anda memilikinya. Tak peduli bagaimana kaitan pekerjaan Anda dengan aktivitas lain yang Anda merasa terpanggil, Anda harus melakukan pekerjaan Anda seperti untuk Tuhan (Kolose 3:23). Oleh karena itu, suatu pekerjaan tidak boleh hanya menjadi cara menghasilkan uang. Tetapi juga harus menjadi cara untuk melayani orang lain, untuk membuat dunia menjadi makin seperti yang dimaksudkan Tuhan, dan untuk dibentuk oleh Tuhan. Anda mungkin tidak menganggap pekerjaan Anda sebagai aspek utama panggilan Anda, tetapi Allah bisa saja memakainya untuk menyiapkan Anda ke depan dengan cara yang tak dapat Anda bayangkan. Jika Anda meminta Tuhan menolong Anda melakukan pekerjaan Anda dengan setia dan memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan apa pun yang diberikan, permohonan Anda tidak akan sia-sia.

Kedua, kita harus berhati-hati agar tidak membiarkan pekerjaan mendominasi aspek-aspek kehidupan lainnya. Meskipun Tuhan memimpin Anda kepada pekerjaan atau profesi tertentu, Anda perlu membuat batasan-batasan pada pekerjaan itu agar dapat memberi ruang bagi aspek-aspek lain dari panggilan atau pimpinan Tuhan dalam hidup Anda. Jika Tuhan memimpin Anda untuk menikah dan menjadi pemilik usaha kecil, misalnya, Anda harus menyeimbangkan waktu dan tanggung jawab Anda di dalam kedua panggilan itu. Pekerjaan tidak boleh mendesak waktu santai, istirahat dan ibadah. Tidak ada formula untuk menyeimbangkan pekerjaan dengan aspek-aspek kehidupan lainnya. Namun berhati-hatilah agar rasa terpanggil pada suatu pekerjaan tidak membutakan Anda terhadap panggilan Tuhan dalam aspek-aspek kehidupan lainnya. Untuk lebih jelasnya tentang hal ini, lihat artikel Proyek Teologi Kerja "Rest and Work(Istirahat dan Kerja).

Pimpinan Tuhan dalam Pekerjaan Tertentu

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sampai di sini kita sekarang dapat mempelajari kemungkinan pimpinan Allah untuk suatu tugas, peran, karir atau jenis pekerjaan tertentu. Kita sudah belajar bahwa:

  1. Semua orang dipanggil untuk menjadi milik Kristus dan untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan dan penebusan-Nya.

  2. Semua orang diperintahkan untuk bekerja sesuai kemampuan mereka.

  3. Allah memanggil kita kepada seluruh hidup, bukan hanya untuk suatu pekerjaan.

Dengan menggabungkan semuanya kita dapat menyimpulkan bahwa profesi Anda kemungkinan bukan perhatian utama Allah untuk Anda. Allah jauh lebih peduli agar Anda berada dalam kasih karunia Kristus yang menyelamatlan dan berpartisipasi dalam karya penciptaan dan penebusan-Nya, apa pun pekerjaan Anda. Tepatnya, apa pun pekerjaan yang Anda lakukan merupakan kepentingan yang lebih rendah tingkatannya.

Meskipun membawa kita kepada pekerjaan atau karir yang tepat bukan perhatian utama Allah, ini tidak berarti Dia tidak peduli. Faktanya, pekerjaan khusus Roh Kudus adalah memimpin dan memampukan orang percaya untuk hidup dan bekerja di tempat Allah memanggil mereka. Di Perjanjian Lama, Allah memberikan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka pada suatu waktu, seperti yang kita temukan pada Bezaliel dan Aholiab saat membangun kemah suci. Tetapi sekarang Roh secara rutin memimpin orang percaya dalam pekerjaan tertentu dan memberi mereka keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan (1 Korintus 12:7-10). [1] Dia memberi pimpinan tentang pekerjaan apa yang dilakukan maupun bagaimana cara melakukan pekerjaan itu.

Lanjutkan membaca untuk menyelidiki bagaimana Allah memimpin orang dalam pekerjaan tertentu.

Panggilan Langsung dan Jelas untuk Pekerjaan Tertentu

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dengan memahami bahwa gambaran utama panggilan dalam Alkitab adalah panggilan untuk mengikut Yesus, kita kini siap menyelidiki panggilan-panggilan dalam jenis pekerjaan tertentu. Jika kita mengartikan “panggilan” sebagai perintah yang langsung dan jelas dari Allah untuk melakukan suatu tugas, jabatan, profesi atau jenis pekerjaan tertentu, maka panggilan itu sangat jarang ditemukan dalam Alkitab. Tidak lebih dari seratusan orang saja yang dipanggil Allah dalam pengertian ini. Allah memanggil Nuh untuk membuat bahtera. Allah memanggil Musa dan Harun untuk melaksanakan tugas-tugas mereka (Keluaran 3:4, 28:1). Allah memanggil nabi-nabi seperti Samuel (1 Samuel 3:10), Yeremia (Yeremia 1:4-5), Amos (Amos 7:15) dan lain-lainnya. Allah memanggil Abram dan Sara dan beberapa orang lain untuk melakukan perjalanan atau menetap (yang bisa dianggap sebagai panggilan di tempat kerja). Allah menempatkan orang-orang dalam kepemimpinan politik seperti Yusuf, Gideon, Saul, Daud dan keturunan Daud. Allah memilih Bezaliel dan Aholiab sebagai tukang-tukang ahli dalam membuat kemah suci (Keluaran 31:1-6). Yesus memanggil rasul-rasul dan beberapa murid lainnya (contoh: Markus 3:14-19), dan Roh Kudus memanggil Barnabas dan Saulus sebagai misionaris (Kisah Para Rasul 13:2). Kata “memanggil” tidak selalu dipakai, tetapi pimpinan Allah yang jelas bagi orang tertentu untuk melakukan pekerjaan tertentu tampak jelas dalam contoh-contoh ini.

Selain contoh-contoh ini, tidak banyak orang di Alkitab yang menerima panggilan pribadi untuk melakukan pekerjaan tertentu dari Allah. Ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa panggilan langsung dari Allah untuk melakukan pekerjaan tertentu juga jarang terjadi pada saat ini. Jika Allah memanggil Anda secara langsung dan jelas untuk pekerjaan tertentu, Anda tidak memerlukan panduan dari artikel semacam ini, selain mungkin untuk menegaskan bahwa ya, panggilan itu memang ada di Alkitab dalam kasus yang langka. Oleh karena itu kita tidak akan membahas panggilan pribadi secara langsung dan jelas ini lebih lanjut, tetapi kita akan berfokus pada apakah Allah memimpin atau membawa orang kepada jenis pekerjaan tertentu melalui cara-cara yang kurang dramatis.

Pimpinan untuk Suatu Tugas atau Profesi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Meskipun Allah tidak memberikan panggilan pribadi secara langsung dan jelas kepada sebagian besar orang, tetapi Allah memberikan pimpinan kepada orang-orang dengan cara-cara yang kurang dramatis, seperti melalui Pendalaman Alkitab, doa, komunitas Kristen dan refleksi pribadi. Mengembangkan kepekaan umum terhadap pimpinan Allah dalam kehidupan tidak tercakup dalam artikel ini. Tetapi kita akan memerhatikan tiga pertimbangan utama dalam mengenali pimpinan vokasional Allah.

Kebutuhan Dunia

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pertimbangan pertama adalah kebutuhan dunia. Satu indikator terkuat tentang apa yang Allah mau Anda lakukan mungkin adalah kesadaran Anda tentang apa yang harus dilakukan untuk membuat dunia lebih seperti yang dimaksudkan Allah. Ini tidak selalu berarti masalah-masalah dunia yang sangat besar, tetapi bisa hal apa saja di dunia yang perlu dilakukan. Mencari nafkah untuk menopang diri sendiri dan keluarga adalah salah satu contoh yang disebutkan dalam Alkitab:

Amsal 13:22

Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya.

Amsal 14:1

Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.

1 Timotius 5:8

Jika ada orang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

Titus 3:14

Biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan sampai tidak berbuah.

Contoh alkitabiah lainnya adalah bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan orang-orang sekitar selain keluarga sendiri:

Amsal 14:21

Berbahagialah orang yang berbelas kasihan kepada orang yang miskin.

1 Tesalonika 4:11

Anggaplah suatu kehormatan untuk hidup tenang, mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tanganmu, seperti yang telah kami pesankan kepadamu.

Lukas 3:10-11

Orang banyak bertanya kepada-Nya, “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” Jawab-Nya kepada mereka, “Siapa yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan orang yang tidak punya, dan siapa saja yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat demikian juga.”

Amsal 11:25

Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan; siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.

Matius 25:34-36

Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya, “Mari hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan: Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan, ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum, dan ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan. Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”

Bekerja untuk melayani kepentingan masyarakat luas juga perintah yang alkitabiah:

Yeremia 29:5-7

Dirikanlah rumah dan tempatilah; buatlah kebun dan nikmatilah hasilnya. Ambillah istri dan perolehlah anak laki-laki dan perempuan; ambilkanlah istri bagi anakmu laki-laki dan carikanlah suami bagi anakmu perempuan, supaya mereka melahirkan anak laki-laki dan perempuan; bertambah banyaklah di sana dan jangan berkurang. Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana Aku membuangmu, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

Tentu saja tidak mungkin bagi Anda untuk memenuhi semua kebutuhan dunia, karena itu Anda harus agak mempersempitnya. Mulailah dengan kebutuhan-kebutuhan yang menjadi tanggung jawab Anda pribadi, seperti membesarkan anak-anak Anda atau membayar utang Anda. Selebihnya, perhatikanlah kebutuhan-kebutuhan yang Anda berada dalam posisi yang baik untuk memenuhinya, atau tidak banyak orang yang bersedia memenuhinya, atau yang Anda rasa sangat mendesak. Sebagai contoh, Anda mungkin berada dalam posisi yang baik untuk mencalonkan diri sebagai pejabat terpilih di kota atau daerah Anda sendiri, daripada pindah ke daerah lain untuk mencari pekerjaan. Di sisi lain, Anda mungkin salah satu dari sedikit orang yang bersedia membuktikan terjadinya pelanggaran hak-hak azasi manusia di sebuah negara di belahan dunia yang lain. Atau Anda mungkin menjadi yakin bahwa mengajar anak muda yang bermasalah lebih mendesak daripada bergabung dengan sebuah grup musik. Selain itu, Anda mungkin juga menyadari bahwa ada sesuatu dalam hidup Anda, selain pekerjaan atau karir Anda, yang bisa menjadi cara terpenting untuk Anda membantu memenuhi kebutuhan dunia. Namun tidak ada gunanya bertugas mengonseling anak muda bermasalah, jika anak-anak Anda sendiri terbengkalai.

Intinya adalah Allah telah memberikan kemampuan kepada setiap orang untuk menyadari apa yang dibutuhkan dunia. Dia tampaknya ingin kita memerhatikannya dan mulai bekerja, daripada menanti-nantikan panggilan khusus dari-Nya. Tidak ada rumusan alkitabiah untuk menempatkan kebutuhan-kebutuhan dunia dalam tugas panggilan yang tepat. Itu sebabnya Anda perlu mencari pimpinan Tuhan dengan berbagai cara yang bijak yang bisa Anda temukan.

Keterampilan dan Karunia Anda

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pertimbangan kedua adalah keterampilan dan karunia Anda. Alkitab menyatakan Allah memberikan karunia-karunia kepada orang percaya untuk melakukan pekerjaan yang Dia mau mereka lakukan, dan menyebutkan beberapa karunia dan keterampilan yang diimpartasikan Allah.

Yesaya 28:24-26

Setiap harikah orang membajak, mencangkul dan menyisir tanahnya untuk menabur? Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum berjajar dan jelai pada tempatnya dan sekoi di pinggirnya? Ia telah diajari cara yang tepat, dan diberi petunjuk oleh Allahnya.

Roma 12:6-8

Kita mempunyai karunia yang berbeda-beda [1] menurut anugerah yang diberikan kepada kita: Jika karunia itu untuk bernubuat, baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia itu untuk melayani, baiklah kita melayani, jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati; siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia membagikannya dengan hati yang ihklas, siapa yang memimpin, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan belas kasihan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

1 Korintus 12:7-10

Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang, Roh memberi kata-kata hikmat, dan kepada yang lain, Roh yang sama memberi karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang, Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain, Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang, Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mukjizat, dan kepada yang lain, Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang, Ia memberikan karunia untuk berbicara dengan bahasa lidah, dan kepada yang lain, Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa lidah itu.

Sebagaimana ditunjukkan kedua ayat terakhir, ketika Paulus membahas tentang karunia-karunia Roh, ia biasanya merujuk pada penggunaannya di dalam gereja. Dan jika semua pekerjaan yang dilakukan orang Kristen dilakukan untuk Tuhan (Kolose 3:23), maka kita dapat menyimpulkan bahwa karunia-karunia Roh juga diberikan untuk digunakan di tempat kerja. Oleh karena itu karunia dan keterampilan menjadi salah satu unsur pedoman dalam mengenali pimpinan Tuhan.

Sejumlah alat telah dikembangkan untuk menolong orang mengenali karunia-karunia mereka dan menggunakannya dalam konteks pekerjaan (baca “Untuk Penyelidikan Lebih Lanjut”). Namun sangat mudah untuk terlalu banyak memberi perhatian pada keterampilan dan karunia Anda. Generasi Barat saat ini adalah generasi yang paling banyak menganalisis-bakat dalam sejarah manusia, tetapi kecenderungan menganalis ini bisa membuat orang hanya asyik dengan diri sendiri dan kehilangan perhatian terhadap kebutuhan dunia. Ayat-ayat ini berkata bahwa Allah memberikan karunia-karunia untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepuasan pribadi. Lagipula, dalam banyak kasus, Allah baru memberikan karunia-karunia-Nya setelah Anda menerima pekerjaan yang akan memerlukan penggunaan karunia-karunia itu. Terlalu memerhatikan karunia-karunia yang sudah Anda miliki dapat menghalangi Anda untuk menerima karunia-karunia yang akan diberikan Tuhan pada Anda.

Alat Asesmen Karunia

Alat asesmen karunia bisa sangat membantu untuk mengenali karunia-karunia Anda dan menjajaki bagaimana hubungannya dengan berbagai jenis pekerjaan. Alat yang paling tepat dan terverifikasi secara statistik biasanya disediakan melalui para konselor dan lembaga profesional karena mereka memiliki interpretasi yang andal. Di antaranya adalah Strong Interest Inventory, Myers-Briggs Type Indicator (MBTI), California Psychological Inventory, Work-Life Values Checklist, dan PDINH: Global Personality Inventory (yang dikembangkan berdasarkan standar yang benar-benar global). Meskipun alat-alat ini tidak secara eksplisit Kristen, tetapi dengan interpreter orang Kristen yang cakap, alat-alat asesmen ini dapat menjadi titik awal untuk menyelidiki karunia-karunia Allah dan pimpinan-Nya dalam bekerja. Ada juga alat asesmen yang secara eksplisit Kristen dengan dasar teologis dan spiritual yang jelas. SIMA (the System for Identifying Motivated Abilities) dan MAP (Motivated Abilities Pattern) adalah dua alat semacam itu yang memerlukan interpretasi profesional.

Beberapa alat dengan landasan Kristen dapat digunakan tanpa interpreter profesional, seperti What Color Is Your Parachute? oleh Richard Bolles (terbit setiap tahun) dan Live Your Calling: A Practical Guide to Finding and Fulfilling Your Mission In Life, oleh Kevin dan Kay Marie Brennfleck. Meskipun alat-alat ini bisa digunakan secara mandiri, tetapi sebaiknya digunakan bersama konselor karir dan vokasional yang terlatih, dan idealnya diadakan dalam konteks gereja atau komunitas Kristen lainnya. Konselor karir Kristen dapat ditemukan di sebagian besar wilayah perkotaan, di hampir setiap universitas dan perguruan tinggi Kristen, dan di beberapa gereja individu.

Meskipun demikian, karunia-karunia yang sudah Anda miliki bisa memberikan semacam petunjuk tentang bagaimana sebaiknya memenuhi kebutuhan-kebutuhan dunia. Sungguh narsis jika Anda menyatakan Tuhan telah memanggil Anda untuk menjadi pianis terhebat dunia dan kemudian berharap Dia mentransfer bakat yang diperlukan setelah bertahun-tahun Anda bermain piano biasa-biasa saja dan berlatih asal-asalan. Bimbingan karir melalui keterampilan dan karunia adalah tindakan keseimbangan yang sulit, dan itu sebabnya harus ditemukan di tengah relasi dengan Tuhan dan sesama orang Kristen.

Di sini kita lagi-lagi tak boleh sangat terfokus pada pekerjaan sampai mengabaikan aspek kehidupan lainnya. Allah juga memberi kita karunia-karunia untuk kehidupan berkeluarga, persahabatan, rekreasi, menjadi sukarelawan dan seluruh aktivitas kehidupan lainnya.

Hasrat Terdalam Anda

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Akhirnya, Alkitab berkata bahwa hasrat sejati atau terdalam Anda juga penting bagi Allah.

Mazmur 37:4

Bersukalah dalam TUHAN, maka Ia akan memberikan kepadamu hasrat hatimu.

Mazmur 145:19

Ia memenuhi keinginan orang yang takut kepada-Nya, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.

Matius 5:6

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Yohanes 16:24

Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Orang Kristen kadang mengira, jika Allah memanggil mereka ke dalam pekerjaan tertentu, keadaan itu akan menjadi hal yang mereka benci. Jika tidak, mengapa Allah harus memanggil mereka ke sana? Salah satu fantasi aneh orang Kristen adalah memikirkan suatu negara yang Anda tidak akan suka tinggal di sana, dan kemudian menganggap Allah memanggil Anda untuk menjadi misionaris di sana. Padahal misionaris-misionaris terbaik memiliki hasrat yang kuat terhadap tempat dan orang-orang yang mereka layani. Lagipula, siapa yang mengatakan Allah ingin Anda menjadi misionaris? Jika Allah memimpin Anda kepada suatu pekerjaan atau profesi, kemungkinan besar Anda akan menemukan hasrat hati yang mendalam tentang hal itu.

Akan tetapi, bisa jadi sangat sulit untuk mengetahui hasrat sejati atau terdalam Anda. Motivasi-motivasi kita bisa sedemikian dikacaukan oleh dosa dan kerusakan dunia, sampai hasrat hati kita seringkali jauh dari hasrat sejati yang Tuhan letakkan di kedalaman lubuk hati kita.

Roma 7:8, 15, 21-23

Namun dengan perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan. Sebab tanpa hukum Taurat dosa mati…. Sebab, apa yang aku lakukan, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku lakukan, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku lakukan…. Jadi aku dapati hukum ini: Jika aku ingin melakukan apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku, aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.

Oleh karenanya, kita tak dapat sekadar berkata, “Lakukan saja yang membuatmu bahagia.” Apa yang membuat Anda bahagia — atau tampaknya membuat Anda bahagia — mungkin saja jauh dari memenuhi kebutuhan dunia, atau dari menggunakan keterampilan dan karunia Anda untuk kebaikan bersama, atau bahkan jauh dari memenuhi hasrat hati Anda yang sesungguhnya. Dan yang sebaliknya juga sering terjadi. Pekerjaan yang memuaskan hasrat hati Anda yang sesungguhnya pada mulanya tampak seperti tidak diinginkan, dan mungkin memerlukan pengorbanan besar dan usaha yang sulit. Dan hasrat sejati Anda bisa dipenuhi di berbagai aspek kehidupan, tidak selalu dalam pekerjaan. Mengetahui yang benar-benar Anda rindukan memerlukan kedewasaan rohani, yang bisa jadi lebih besar daripada yang Anda butuhkan saat Anda harus mengambil keputusan. Tetapi setidaknya Anda dapat terbebas dari pemikiran bahwa Allah hanya memanggil Anda kepada sesuatu yang Anda benci. Dengan dasar pemikiran ini, Frederick Buechner menulis: “Tempat Allah memanggil Anda adalah tempat Anda merasakan sukacita mendalam dan tempat kebutuhan mendalam dunia dipenuhi.”[1]

Kemerdekaan dalam Kristus

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Ketiga pertimbangan ini — kebutuhan dunia, keterampilan dan karunia Anda, dan hasrat terdalam Anda — bisa menjadi pedoman, tetapi tidak mutlak. Dalam satu hal, di dunia yang sudah jatuh ini, Anda mungkin tidak terlalu bisa memilih pekerjaan Anda. Di sepanjang sejarah, banyak orang yang memiliki pekerjaan sebagai budak, petani atau pengurus rumahtangga, dan ini masih terjadi di banyak belahan dunia di luar negara-negara maju. Sulit membayangkan bahwa – selain penduduk di beberapa negara maju – Allah menginginkan banyak orang menjadi budak, petani dan pengurus rumahtangga. Namun tampaknya situasi telah membuat banyak orang tidak dapat memilih pekerjaan yang benar-benar ingin mereka lakukan. Ini tidak berarti bahwa sebagian orang tidak mau atau tidak suka bertani, mengurus rumahtangga atau berbagai pekerjaan halal lainnya, melainkan bahwa situasi dunia seringkali membuat banyak orang harus melakukan pekerjaan yang tidak mereka sukai. Namun, di dalam pemeliharaan Tuhan, menjadi budak pun dapat menjadi berkat (Matius 24:45-47, 1 Korintus 7:21-24). Ini sama sekali bukan melegitimasi perbudakan di dunia saat ini. Ini hanya berarti bahwa Tuhan menyertai Anda di mana pun Anda bekerja. Mungkin lebih baik belajar menyukai pekerjaan yang Anda miliki – dan mencari cara-cara untuk berpartisipasi dalam karya Kristus di dalam pekerjaan itu – daripada berusaha mencari pekerjaan yang Anda pikir akan lebih Anda sukai.

Di negara-negara maju pun, banyak orang tidak punya banyak pilihan tentang jenis pekerjaan yang mereka lakukan untuk mencari nafkah. Komunitas Kristen sebaiknya dapat memperlengkapi orang-orang dalam membuat pilihan tentang profesi mereka maupun dalam mengikuti pimpinan Tuhan tentang pekerjaan apa pun yang dilakukan. Apa pun pekerjaan Anda, kasih karunia Allah akan memampukan Anda untuk bekerja bagi kepentingan bersama, untuk lebih berkomitmen dalam bekerja, dan untuk mengatasi atau menanggung aspek-aspek negatif dari situasi Anda. Yang terpenting, Allah menjanjikan kemerdekaan akhir dari kerja keras, usaha yang menguras keringat dan onak duri pekerjaan.

Sekalipun Anda memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan Anda, ketiga pertimbangan yang sudah kita bicarakan – kebutuhan dunia, karunia dan keterampilan Anda dan hasrat terdalam Anda – hanya panduan, bukan penentu. Di dalam Kristus, orang Kristen memiliki kemerdekaan yang sempurna:

Yohanes 8:36

Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.

2 Korintus 3:17

Sebab Tuhan adalah Roh dan di mana ada Roh Tuhan, di situ ada kemerdekaan.

Ini berarti Anda memiliki kebebasan untuk mengambil risiko, untuk gagal dan untuk melakukan kesalahan. Allah mungkin saja memimpin Anda dalam suatu pekerjaan yang Anda tidak tahu apa-apa, tidak memiliki kecakapan khusus tentang hal itu pada saat ini, dan tidak berpikir akan Anda sukai. Apakah Anda bersedia menerima pekerjaan itu? Sebaliknya, Anda mungkin terlambat menemukan dalam hidup Anda bahwa Anda sudah mengabaikan panggilan profesional Allah untuk Anda. Jangan khawatir, pada akhirnya Anda tidak akan dihakimi karena memperoleh pekerjaan yang tepat atau memenuhi potensi yang diberikan Tuhan pada Anda. Anda akan dihakimi berdasarkan kemurahan Yesus Kristus, yang dikaruniakan pada Anda hanya karena anugerah Allah yang memberi Anda iman. Panggilan untuk menjadi milik Kristus adalah satu-satunya panggilan Allah yang tak tergantikan.

Tubuh Kristus di bumi adalah komunitas orang percaya (Roma 12:5). Karena itu, kemerdekaan dalam Kristus berarti, panggilan atau pimpinan Allah itu paling baik dipahami dalam dialog dengan komunitas, bukan dalam pengasingan. Kita sudah tahu bahwa kebutuhan dunia (suatu bentuk komunitas) itu penting jika Anda mengenali untuk pekerjaan apa Allah sedang memimpin Anda. Komunitas juga merupakan faktor penting dalam bagaimana Anda mengenali pimpinan Allah itu. Apa yang dirasakan orang lain ketika Allah memimpin Anda? Apa yang mereka alami ketika mereka mengenali karunia dan keterampilan Anda, kebutuhan dunia dan hasrat terdalam Anda pada diri Anda? Lakukanlah diskusi tentang pimpinan Allah dengan orang-orang dalam komunitas Anda yang Anda kenal baik. Mungkin juga baik untuk berbicara dengan sahabat atau penasihat rohani, menerima masukan dari orang-orang yang bekerja di dekat Anda, atau meminta sekelompok orang untuk bertemu dengan Anda secara teratur saat Anda mengenali pimpinan Tuhan.

Komunitas juga merupakan faktor penting untuk mengenali siapa saja yang dipimpin ke berbagai jenis pekerjaan yang dibutuhkan dunia. Banyak orang bisa memiliki karunia dan hasrat kerinduan yang sama untuk membantu memenuhi kebutuhan dunia. Tetapi ini tidak berarti Allah mau mereka semua melakukan pekerjaan yang sama. Anda perlu mengenali bukan saja pekerjaan yang sedang dibawa Tuhan untuk Anda, tetapi juga pekerjaan yang Dia bawa untuk orang lain. Komunitas membutuhkan sekelompok pekerja yang seimbang yang bekerja secara harmonis. Sebagai contoh, para dokter membawa karunia dan keterampilan yang kuat — dan seringkali juga hasrat mendalam untuk menyembuhkan — ke dalam kebutuhan besar dunia akan penyembuhan fisik. Tetapi di AS, setidaknya, ada terlalu banyak dokter spesialis dan tidak cukup dokter perawatan primer untuk memenuhi kebutuhan komunitas. Satu per satu, para mahasiswa kedokteran menyesuaikan karunia-karunia dan hasrat hati mereka dengan kebutuhan dunia untuk mengenali pimpinan di bidang kedokteran. Tetapi secara menyeluruh, kelompok para dokter menjadi agak tidak berimbang. Mengenali panggilan Tuhan juga merupakan usaha komunitas.

Apakah Pekerjaan Gereja Merupakan Panggilan Yang Lebih Tinggi?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Banyak orang Kristen memiliki kesan bahwa para pekerja gereja – terutama para penginjil, misionaris, gembala, pengkotbah, pendeta dan pelayan lainnya – memiliki panggilan yang lebih tinggi daripada para pekerja lainnya. Meskipun tidak banyak ayat Alkitab yang mendukung kesan ini, pada Abad Pertengahan, kehidupan “religius" — sebagai rahib atau biarawati — secara luas dianggap lebih suci daripada kehidupan biasa. Sayangnya, distorsi ini tetap berpengaruh di gereja-gereja dari semua tradisi, sekalipun doktrin di hampir semua gereja saat ini menekankan nilai yang sama pada pekerjaan orang awam. Di dalam Alkitab, Allah memanggil orang-orang untuk pekerjaan yang berkaitan dengan gereja maupun yang tidak berkaitan dengan gereja. Sebagai contoh:

Panggilan-panggilan untuk Pekerjaan Gereja

Keluaran 28:1

“Bawalah abangmu Harun dan anak-anaknya dari antara orang Israel kepadamu untuk melayani sebagai imam bagi-Ku, yaitu Harun, serta Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun.

Markus 1:16-17

Ketika Yesus menyusuri tepi Danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkara kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

Kisah Para Rasul 13:2,5

Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk pekerjaan yang telah Kutentukan bagi mereka.” ....Setibanya di Salamis, mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi. Yohanes menyertai mereka sebagai pembantu mereka.

Panggilan-panggilan untuk Pekerjaan Non-Gereja

Ulangan 31:14

TUHAN berfirman kepada Musa, “Sesungguhnya sudah dekat waktu kematianmu. Panggillah Yosua dan berdirilah bersama dia dalam Kemah Pertemuan supaya Aku memberi perintah kepadanya.”

(Musa dan Yosua sama-sama hanya pemimpin politik/militer, bukan pemimpin kultus/religius. Mereka sama-sama sangat dekat dengan Allah, tetapi hal itu tidak membuat mereka menjadi pemimpin agama. Dan ini menunjukkan bahwa Allah memanggil orang dari seluruh bidang kehidupan).

1 Samuel 16:12-13

Kemudian Isai menyuruh orang untuk menjemput dia. Pipinya kemerah-merahan, matanya indah dan tampan kelihatannya. Lalu TUHAN berfirman, “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.” Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di antara saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnyha Roh TUHAN menguasai Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.

Mengingat fakta Alkitab ini, tidaklah tepat untuk berpikir bahwa Allah memanggil para pekerja gereja tetapi tidak memanggil para pekerja lainnya.

Kebingungan timbul karena banyak gereja ingin jemaat mereka “terpanggil” untuk ditahbiskan atau melayani sebagai pendeta, pengkotbah atau pelayan lainnya. Kata “memanggil” sering dipakai untuk menggambarkan proses menyeleksi seorang pelayan atau keputusan untuk memasuki pekerjaan gereja penuh waktu. Padahal di Alkitab sendiri, situasi ini merupakan panggilan pribadi secara langsung dan jelas dari Allah yang jarang terjadi. Tetapi, situasi ini juga bisa menunjukkan perasaan yang kuat tentang pimpinan Allah. Seperti sudah kita ketahui, pimpinan Allah bisa terasa sama kuatnya dalam pekerjaan dan profesi yang tidak berkaitan dengan gereja. Namun, karena Proyek Teologi Kerja tidak menjadikan pekerjaan gereja sebagai salah satu pokok bahasannya, kita tidak akan mencoba mengevaluasi apakah “panggilan-panggilan” untuk pekerjaan gereja lebih kuat, lebih langsung, lebih jelas atau lebih penting daripada panggilan-panggilan untuk pekerjaan non-gereja. Kami akan menegaskan bahwa pekerjaan gereja pada umumnya bukanlah panggilan yang lebih tinggi daripada pekerjaan non-gereja, dan istilah “panggilan” berlaku sama kuatnya pada pekerjaan non-gereja maupun pekerjaan gereja. Kami juga akan menegaskan bahwa pekerjaan non-gereja adalah “pelayanan orang Kristen sepenuh-waktu” yang sama pentingnya dengan pekerjaan gereja.

Semua orang Kristen dipanggil (atau diperintahkan) untuk melakukan semua yang mereka lakukan, sepanjang waktu, sebagai pelayanan sepenuh waktu untuk Kristus:

Kolose 3:23

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Sebelum mengakhiri pembahasan kita tentang hal ini, kita perlu memerhatikan bahwa satu aliran pemikiran dari 1 Timotius 5:17-18 bertentangan dengan pandangan yang baru saja kita bicarakan. Menurut perspektif ini, menjadi penatua gereja (yang kira-kira sama dengan gembala atau pendeta dalam penggunaan istilah gereja masa kini) memang merupakan panggilan yang lebih tinggi.

1 Timotius 5:17-18

Penatua-penatua yang baik kepemimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan jerih payah berkotbah dan mengajar. Sebab Kitab Suci berkata, “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,” dan lagi, “Seorang pekerja patut mendapat upahnya.”

Menurut pandangan ini, profesi pendeta “dihormati dua kali lipat” dibandingkan profesi-profesi lainnya. Tetapi kebanyakan tafsiran Alkitab menolak interpretasi ini.[1] Interpretasi yang lebih akurat adalah bahwa para penatua yang melakukan pekerjaannya dengan baik patut dihargai lebih baik (atau menerima honorarium lebih besar) dibandingkan para penatua lain yang melakukan pekerjaan mereka dengan sekadarnya saja.[2] Kutipan-kutipan Alkitab Perjanjian Lama tentang upah makin memperkuat pemahaman bahwa ayat ini berbicara tentang memberi penghargaan kepada penatua-penatua yang berkinerja sangat baik, bukan tentang membandingkan pekerjaan gereja dengan pekerjaan lainnya. Pembandingan yang benar dari ayat ini adalah di antara para pendeta, bukan antara pendeta dan jemaat awam.

Satu-satunya pekerjaan yang tidak memiliki kedudukan yang sama di mata Allah adalah pekerjaan yang dilarang Alkitab atau tidak sesuai dengan nilai-nilainya. Sebagai contohnya, pekerjaan yang menuntut orang untuk membunuh, berzinah, mencuri, bersumpah palsu atau serakah (Keluaran 20:13-17), makan riba (Imamat 25:26), merusak kesehatan (Matius10:8), atau membahayakan lingkungan (Kejadian 2:15) haram di mata Tuhan. Ini tidak berarti orang-orang yang melakukan pekerjaan-pekerjaan ini memiliki kedudukan yang lebih rendah di mata Allah. Orang-orang yang karena situasinya membawa mereka kepada pekerjaan-pekerjaan haram tidak selalu merupakan orang-orang yang buruk/jahat. Ulangan 22:21 mengutuk pelacuran, misalnya, tetapi respons Kristus terhadap pelacur tidak mengutuk, melainkan membebaskan (Lukas 7:47-50; Matius 21:31-32). Pekerjaan-pekerjaan semacam ini mungkin tidak seburuk yang terburuk dalam situasi tertentu, tetapi pekerjaan ini tidak pernah dapat menjadi pekerjaan yang dikehendaki Tuhan bagi seseorang.

Panggilan untuk pelayanan atau pekerjaan gereja tidak lebih suci daripada panggilan untuk jenis-jenis pekerjaan lainnya. Yang terpenting bukanlah jabatan pekerjaan atau tempat kerja seseorang, tetapi ketaatan pada Allah yang memanggil kita.

Berganti Pekerjaan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jika Allah memimpin atau menuntun orang dalam pekerjaan mereka, apakah diperbolehkan jika berganti pekerjaan? Bukankah itu berarti menolak pimpinan Allah dalam pekerjaan yang sudah Anda miliki? Martin Luther, teolog Protestan abad 16, sangat menentang soal berganti pekerjaan ini. Ia mendasarkan sebagian besar pemikirannya pada ayat ini:

Baiklah tiap-tiap orang tinggal dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. (1 Korintus 7:20)

Luther menyamakan “keadaan” dengan pekerjaan, dan menyimpulkan bahwa tidaklah benar bagi orang Kristen untuk berganti pekerjaan. Tetapi John Calvin yang sezaman dengan Luther tidak menerima interpretasi ini — dan sebagian besar teolog masa kini juga tidak. Dalam satu hal, interpretasi ini tidak cukup memperhatikan ayat selanjutnya, yang menyatakan bahwa berganti pekerjaan, setidaknya dalam situasi tertentu, diperbolehkan:

Apakah engkau hamba pada waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa. Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu” (1 Korintus 7:21).[1]

Miroslav Volf menulis bahwa karena faktor-faktor di dalam Allah memimpin orang pada pekerjaan dapat berubah selama menjalani kehidupan kerja, Allah bisa saja memimpin orang untuk berganti pekerjaan. [2] Kemampuan-kemampuan Anda harus berkembang seiring pengalaman Anda dalam melayani Tuhan. Dia dapat memimpin Anda kepada tugas-tugas yang lebih besar yang mengharuskan Anda berganti pekerjaan. “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21).

Sebaliknya, jika Anda baru menjadi orang Kristen di kemudian hari, mungkinkah Allah menghendaki Anda untuk berganti pekerjaan? Mungkin tampaknya menemukan hidup baru dalam Kristus berarti juga harus mencari pekerjaan atau karir baru. Tetapi pada umumnya yang terjadi tidak demikian. Karena tidak ada hirarki profesi, pada umumnya tidaklah benar untuk berpikir Allah ingin Anda mencari “panggilan yang lebih tinggi” setelah menjadi orang Kristen. Jika pekerjaan Anda tidak termasuk pekerjaan haram yang disebutkan di atas, atau jika pekerjaan atau kolega-kolega Anda tidak mengancam Anda untuk terpuruk dalam kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai ajaran Kristen, tidak ada perlunya berganti pekerjaan. Tetapi, entah Anda berganti pekerjaan atau tidak, Anda kemungkinan perlu melakukan pekerjaan Anda secara berbeda dari sebelumnya, dengan lebih memerhatikan perintah-perintah, nilai-nilai dan kebajikan-kebajikan alkitabiah, seperti yang terjadi pada pemungut cukai bernama Zakheus:

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepada-Nya, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” (Lukas 19:5-9)

Mengenali Pimpinan Tuhan dalam Cara Anda Bekerja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Cara Anda bekerja sama pentingnya bagi Allah dengan pekerjaan atau profesi yang Anda miliki. Dalam setiap pekerjaan, Anda setidaknya punya kesempatan untuk memenuhi kebutuhan orang lain, menggunakan karunia dan keterampilan Anda, dan mengungkapkan – atau menemukan – hasrat terdalam Anda. Keputusan Anda setiap hari untuk melayani Tuhan hari ini lebih penting daripada menempatkan diri Anda pada pekerjaan yang tepat esok hari.

Sesungguhnya, hal kecil yang dapat Anda lakukan dalam melayani Tuhan hari ini sering menjadi kunci untuk dapat melakukan hal yang lebih besar di waktu mendatang. “Siapa saja yang setia dalam hal-hal kecil, ia setia juga dalam hal-hal besar,” kata Yesus (Lukas 16:10). Sepanjang hidup, Anda dapat melayani Kristus paling baik dengan memanfaatkan sebaik-baiknya setiap pekerjaan bagi tujuan-tujuan-Nya, entah Anda merasa terpanggil dalam pekerjaan itu atau tidak. Hal-hal spesifik tentang cara mengikut Kristus di tempat kerja dibahas dalam sejumlah artikel topikal Proyek Teologi Kerja, yang dapat dilihat melalui www.theologyofwork.org, seperti Kebenaran dan Kebohongan, Etika Kerja, dan Penginjilan – Memberitakan Injil di Tempat Kerja.

Kesimpulan tentang Panggilan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kami menganggap serius panggilan dan pimpinan Allah kepada orang-orang untuk melakukan berbagai jenis pekerjaan biasa. Dengan melakukan hal ini, kami berusaha mengoreksi kecenderungan yang sudah ada sejak lama, yang menganggap pekerjaan biasa tidak sama pentingnya bagi Allah dan tidak seberharga panggilan-Nya. Tetapi akan sama salahnya jika Anda meninggikan pentingnya pekerjaan atau profesi Anda sampai ke posisi penyembahan berhala. Mendapatkan pekerjaan yang tepat tidak mendatangkan keselamatan, atau bahkan kebahagiaan. Lagipula, tujuan bekerja yang benar bagi orang Kristen adalah untuk melayani kepentingan bersama, bukan mendahulukan kepentingan sendiri. Sepanjang hidup, melayani kepentingan bersama lebih banyak berasal dari melakukan pekerjaan setiap hari dengan kemampuan terbaik Anda dalam Kristus, daripada dari menemukan pekerjaan terbaik untuk diri sendiri.

Untuk Penyelidikan Lebih Lanjut

Perspektif Historis-Teologis

Untuk perspektif historis-teologis tentang vokasi yang lebih lengkap dari yang bisa dituliskan dalam artikel ini, lihat Vocation in Historical-Theological Perspective, oleh Gordon Preece.

Legitimasi Bermacam-macam Profesi

Banks, Robert. God the Worker: Journeys into the Mind, Heart and Imagination of God. Sutherland, N.S.W.: Albatross Books, 1992.

Pope John Paul II. On Human Work (Laborem Exercens). Terjemahan Vatikan. Boston: Pauline Books & Media, 1981, khususnya pasal 6, 9, 10, 21 dan 22.

Richardson, Alan. The Biblical Doctrine of Work. London: SCM Press LTD, 1952, terutama pasal-pasal “Creative Craftsmanship and Skill,” “Work as Divine Ordinance for Man,” dan “‘Vocation’ in the New Testament.” Richardson umumnya memakai pandangan yang lebih suram tentang pekerjaan biasa dari yang ada dalam Catatan ini, dan pendekatan alkitabiahnya mencerminkan kepekaan tahun 1940-50an yang tampaknya sudah ketinggalan zaman sekarang ini. Tetapi ia menghimpun sekumpulan ayat Alkitab yang sangat baik terkait pekerjaan, mengingat bukunya yang ringkas itu, dan pasal-pasalnya membahas banyak topik yang sangat penting tentang iman-pekerjaan. Dan juga, seperti Proyek Teologi Kerja, ia memakai proses yang dirancang untuk mengundang partisipasi dan respons yang luas, yang disatukan dalam bagan yang dipublikasikan. Kami tidak selalu setuju dengan kesimpulan-kesimpulan atau pandangan-pandangan alkitabiahnya, tetapi kami mendapati bukunya sangat menggugah-pikiran.

Stevens, R. Paul. Doing God's Business: Meaning and Motivation for the Marketplace. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2006, khususnya pasal 1 dan 2.

Bimbingan Karir dan Mengenali Karunia-karunia

Banks, Robert. Faith Goes to Work. Eugene, OR: Wipf & Stock, 1999.

Mackenzie, Alistair, Wayne Kirkland dan Annette Dunham. Soul Purpose. Christ Church, NZ: NavPress, 2004.

Schuurman, Douglas J. Vocation: Discerning Our Calling in Life. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2004.

Schuster, John P. Answering Your Call: A Guide for Living Your Deepest Purpose. San Francisco: BerrettKoehler Publishers, 2002.

Panggilan dalam Pemikiran dan Praktik Orang Kristen

Guinness, Os. The Call: Finding and Fulfilling the Central Purpose of Your Life. London: Word Publishing, 1998.

Hardy, Lee. The Fabric of This World: Inquiries into Calling, Career Choice, and the Design of Human Work. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1990.

Placher, Williams C., ed. Callings: Twenty Centuries of Christian Wisdom on Vocation. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2005.

Preece, Gordon R. The Viability of the Vocation Tradition in Trinitarian, Credal and Reformed Perspective: The Threefold Call. Lewiston, NY: Edwin Mellen Press, 1998.

Stevens, R. Paul. The Other Six Days: Vocation, Work, and Ministry in Biblical Perspective. Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2000.

Volf, Miroslav. Work in the Spirit: Toward a Theology of Work. Eugene, OR: Wipf & Stock, 2001.

Persaingan di Dunia Kerja (Tinjauan Umum)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Persaingan adalah realita kerja sehari-hari. Namun, apakah orang Kristen boleh bersaing? Atau, apakah kita harus sedapat mungkin menghindari persaingan? Haruskah kita menggunakan segala pengaruh yang kita miliki untuk mengurangi atau bahkan meniadakan persaingan?

Kita semua tahu betapa sulitnya untuk berhasil di pasar yang bersaing, dan betapa kita terus-menerus tergoda untuk mencari keuntungan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain – model persaingan “dog-eat-dog” (kejam dan saling menjatuhkan). Pada saat yang sama kita tahu bahwa persaingan juga membawa dampak yang menguntungkan. Sebagai contoh, harga ponsel dan tiket pesawat mengalami kemajuan signifikan sejak persaingan di sektor-sektor itu diperkenalkan. Kawasan yang hanya memiliki satu toko kelontong cenderung mendapat layanan yang lebih buruk dan harga yang lebih tinggi dibandingkan kawasan yang memiliki tiga toko kelontong. Tekanan persaingan bisa konstruktif (mendorong munculnya yang terbaik, menciptakan nilai/manfaat dan akuntabilitas kepada konsumen/ pelanggan), namun juga bisa destruktif (menimbulkan godaan untuk mengambil jalan pintas, menipu konsumen, atau mengacaukan kinerja pesaing). Persaingan bisa menghancurkan sekaligus menciptakan kekayaan dan pekerjaan. Persaingan menumbuhkan rasa takut dan juga pengharapan.

Ketika kita mencari pandangan Kristen tentang persaingan—atau hal lainnya— Hukum Yang Terutama (Matius 22:37-39) tentang mengasihi Allah dan sesama adalah batu uji yang tak tertandingi. “Sesama” mencakup semua orang yang berinteraksi dengan kita, termasuk orang asing (Lukas 10:25-37) dan musuh (Matius 5:43-48). Bagaimana dengan para pesaing di bidang ekonomi? Karena kita berinteraksi dengan mereka (melalui aktivitas ekonomi), mereka adalah sesama kita. Namun, bagaimana kita dapat mengasihi mereka jika kita bersaing dengan mereka?

Solusi yang dianjurkan adalah mengasihi pesaing kita dengan melakukan “persaingan sebagai bentuk kerja sama.” Dengan cara ini, kita bersaing bukan hanya untuk melayani diri sendiri, keluarga dan rekan kerja kita, tetapi juga untuk para konsumen dan bahkan pesaing kita. Cara ini bukan perilaku yang lazim di dunia yang telah jatuh, tetapi memungkinkan jika kita memiliki pemahaman yang benar tentang apa sebenarnya “persaingan” itu serta formasi moral dan spiritual yang diperlukan agar tidak hanya memikirkan kepentingan kita sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain (Filipi 2:4).

Persaingan Memberi Pilihan Yang Menggiatkan Produktivitas Ekonomi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Persaingan terjadi ketika ada pilihan. Jika pembeli memiliki pilihan tentang produk apa yang akan dibeli dan dari siapa akan dibeli, maka para penjual berada dalam persaingan dengan satu sama lain, begitu pula para pembeli. Persaingan dapat terjadi dalam berbagai jenis aktivitas manusia—atletik, akademis, romantis, dan lain sebagainya—tetapi di sini kita akan berfokus pada persaingan ekonomi karena peran utamanya dalam hal kerja.

Kebutuhan untuk membuat pilihan, dan karenanya kebutuhan untuk bersaing, melekat pada keterbatasan, dan karenanya akan selalu ada pada manusia meskipun tidak/belum jatuh dalam dosa. Kita terbatas pada ruang, waktu, dan sumber daya, sehingga kita harus membuat pilihan tentang hal-hal apa yang akan dipakai untuk tujuan apa. Sebagai contoh yang sangat sederhana, Anda tidak bisa pergi ke acara pertandingan sepak bola pukul 8 malam dan tinggal di rumah untuk membaca buku pada pukul 8 malam. Pertandingan sepak bola dan buku bersaing untuk mendapatkan waktu dan (biasanya) juga uang Anda. Dalam arti yang lebih luas, segala sesuatu yang akan menghabiskan waktu dan sumber daya Anda bersaing dengan segala hal lain yang bisa menghabiskan waktu dan sumber daya Anda. Anda harus memilih di antaranya, dengan keterbatasan waktu dan sumber daya yang Anda miliki.

Sistem yang membuat pembeli bisa bebas memilih di antara para penjual dan produk-produk yang bersaing ini disebut "ekonomi pasar". Pembeli memilih dari sejumlah produk, yang masing-masing diberi harga yang menurut pikiran penjual akan menimbulkan penjualan. Dengan menawarkan sejumlah produk, dan dengan menaikkan dan menurunkan harga, pasar yang terstruktur-rapi melayani masyarakat dengan menunjukkan berapa banyak dan jenis apa saja barang dan jasa yang diinginkan orang seperti apa dan dalam kondisi apa – informasi yang kita perlukan agar kita dapat mengatur kerja kita untuk saling melayani. Ini bukan hanya karena kita kurang memiliki kapasitas komputasi (untuk melakukan penghitungan) yang diperlukan – masalah yang bisa diatasi dengan kemajuan di bidang komputasi. Melainkan, karena satu-satunya cara yang memungkinkan untuk mengumpulkan informasi ini adalah dengan mengukur pilihan-pilihan yang akan dibuat orang ketika mereka bebas untuk memilih. Inilah tepatnya yang dilakukan pasar. Itulah sebabnya banyak yang benar-benar menyebutnya sebagai "riset pasar". Informasi yang diperlukan untuk mengatur semua aktivitas ekonomi manusia secara kolektif tidak dapat dikumpulkan dengan cara lain, karena memang tidak ada yang memiliki informasi itu. Katakanlah Anda melihat sepotong roti seharga Rp 15.000 dan membelinya. Apakah Anda akan membelinya jika harganya Rp 14.000? Rp 10.000? Rp 20.000? Rp 40.000? Tidak ada yang tahu. Anda sendiri pun tidak tahu, karena Anda tidak memikirkannya. Informasi itu tidak ada dan tak mungkin ada selain hanya memilih apakah akan membelinya. Tetapi memiliki informasi ini – bukan hanya untuk Anda sendiri tetapi untuk setiap konsumen roti, dan tidak hanya untuk roti tetapi untuk semua produk yang mungkin Anda beli yang bukan roti – diperlukan untuk mengatur produksi roti secara kolektif.[1]

Allah yang memiliki pengetahuan tak terbatas tentu saja dapat memerintahkan produksi dan distribusi yang sangat tepat tanpa memerlukan pasar. Tetapi, kecuali dan sampai Allah melakukannya, manusia harus memilih produk dan layanan yang tampaknya terbaik, mengingat keterbatasan waktu dan sumber daya yang mereka miliki. Ketika setiap kita menawarkan produk dan layanan kita kepada satu sama lain, kita pasti akan saling bersaing untuk menawarkan opsi-opsi yang paling menarik.

Persaingan Mendapat Tempat di dalam Alkitab

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Terlibat dalam persaingan ekonomi tampaknya dibolehkan dalam Alkitab. Deskripsi tentang wanita saleh di Amsal 31 memujinya berulang-ulang karena terlibat dalam transaksi ekonomi di pasar yang bersaing. Ia memberi dengan murah hati kepada orang-orang yang kesusahan (Amsal 31:20) tetapi ia juga pintar dalam membeli (Amsal 31:13, 14, 16) dan menjual (Amsal 31:18, 24, 28). Usahanya menguntungkan (Amsal 31:18) dan keluarganya mendapat kekayaan (Amsal 31:11) dan kedudukan sosial (Amsal 31:23, 31). Kata Ibrani yang diterjemahkan “menguntungkan” di Amsal 31:18 merujuk secara khusus pada keuntungan yang didapat dari transaksi pasar. [1] Barang-barang yang ia jual dengan sangat menguntungkan diakui sebagai kontribusi bagi masyarakat (Amsal 31:31).

Seperti kita ketahui, pasar-pasar secara alami selalu bersaing, dan Yesus tampaknya bekerja dalam bisnis yang barang-barangnya dijual di pasar (Markus 6:3), seperti juga Paulus (Kisah Para Rasul 18:3) dan tokoh-tokoh Alkitab lainnya. Paulus berbicara tentang membeli di pasar (1 Korintus 10:25) sebagai aktivitas sehari-hari yang bisa kita lakukan. Kita menemukan hal ini tercermin dalam banyak referensi ayat Kitab Suci tentang membeli dan menjual; aturan perdagangan dalam hukum Perjanjian Lama (seperti di Imamat 19 dan Ulangan 25) dan keprihatinan tentang keadilan dalam kitab nabi-nabi (seperti di Yeremia 5:27-29 dan Yehezkiel 18:7-13), sastra dan puisi tentang hikmat (seperti Mazmur 94 dan Amsal 20), serta kelanjutan dari keprihatinan-keprihatinan ini di Perjanjian Baru (seperti di Matius 25 dan Yakobus 4). Regulasi-regulasi ini menunjukkan bahwa persaingan berpotensi melukai orang—hal yang akan kita bahas sebentar lagi—tetapi juga bahwa firman Allah mengatur persaingan dan bukan meniadakannya.

Mengingat potensi manfaat dari ekonomi pasar, tak heran jika Alkitab rupanya membolehkan umat Allah terlibat dalam persaingan. Jika tidak, orang-orang percaya hanya dapat berpartisipasi dalam ekonomi komando (terpusat). Ini tidak berarti Alkitab menetapkan semacam persaingan ekonomi yang tidak terbatas, yang saling menjatuhkan atau "yang menang berhak mengambil semua keuntungan". Melainkan, ini menunjukkan bahwa pertanyaan "Bagaimana Allah ingin kita terlibat dalam persaingan?" dapat menjadi jawaban yang bermanfaat.

Persaingan Dapat Melukai Individu dan Masyarakat

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Meskipun persaingan mendasari pilihan ekonomi dan berbagai manfaatnya, persaingan juga menjadi penyebab dari berbagai masalah yang menimpa individu dan masyarakat. Penyebabnya bukan persaingan itu sendiri, tetapi dosa yang merasuki dunia persaingan. Salah satu efek utama dosa adalah membuat orang berpikir, dengan bodohnya, bahwa kepentingan terbaik diri sendiri sangat bertentangan dengan kepentingan orang lain (Yakobus 4:1-12). Hal ini menyebabkan kita bersaing dengan berusaha melukai pesaing kita—dan juga orang-orang yang seharusnya kita layani dalam pekerjaan kita—ketimbang berusaha meningkatkan produk-produk kita. Sebuah perusahaan bisa memakai iklan palsu untuk menjatuhkan pesaing. Seorang karyawan bisa menyebarkan desas-desus tentang saingannya agar ia mendapat promosi. Seorang konsultan bisa membebankan biaya tagihan lebih banyak dari jam kerja yang sebenarnya ia habiskan untuk melayani klien.

Hukum Musa menentang dosa semacam ini dengan melindungi hak-hak kepemilikan (Ulangan 24:10-15), meminta kerja yang rajin (Keluaran 20:9) dan menghukum kecurangan (Ulangan 19:14 dan 25:13-16). Sebaliknya, di dalam kitab-kitab sejarah dan nabi-nabi di Perjanjian Lama, raja-raja yang jahat dikecam karena menumpuk kekayaan melalui pemanfaatan politik dan perampasan langsung (seperti di 1 Raja-raja 21:1-29 dan Mikha 6:9-16). Keserakahan dan kekikiran, tentu saja, dikecam tanpa memandang konteksnya – tema yang dijadikan fokus utama di Perjanjian Baru (seperti di Lukas 12:13-21)–tetapi persaingan ekonomi itu sendiri tidak diidentifikasi secara khusus sebagai hal yang tidak adil.[1]

Alkitab tidak memberi ruang untuk kenaifan terhadap bahaya-bahaya persaingan. Pikirkanlah tiga bagian Alkitab yang bisa dipilih dari sekian banyak ayat lainnya ini:

Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia, … hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:3-4)
Aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala keterampilan dalam pekerjaan berasal dari rasa iri seseorang terhadap yang lain. Ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin. (Pengkotbah 4:4)
Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya. Seluruh bangsa itu pun harus berkata: Amin! Terkutuklah orang yang menuntun orang buta ke jalan yang sesat. Seluruh bangsa itu pun harus berkata: Amin! Terkutuklah orang yang memperkosa hak pendatang, anak yatim dan janda. Seluruh bangsa itu pun harus berkata: Amin. (Ulangan 27:17-19)

Di sini kita melihat tiga yang terbesar dari sekian banyak godaan yang bisa ditimbulkan persaingan ekonomi:

  • Godaan egoisme, membuat kepentingan diri sendiri lebih penting dari kepentingan orang lain

  • Godaan iri hati, menilai kesejahteraan kita sendiri dengan membandingkannya dengan kesejahteraan orang lain

  • Godaan keserakahan, melanggar aturan main yang adil dengan mengambil kekayaan dan keuntungan dari orang lain secara tidak adil

Kejahatan-kejahatan ini sudah terlalu lazim sampai tak perlu banyak penjelasan lagi. Hal-hal seperti ini sudah menjadi pengalaman sehari-hari. Di dunia yang telah jatuh, kita tahu, orang kadang bahkan akan menyerah kepada godaan-godaan ini. Banyak yang akan menyerah secara teratur dan berulang-ulang sampai membentuk sistem kejahatan yang terorganisir. Sistem kejahatan yang terorganisir inilah yang sering disebut Kitab Suci sebagai "dunia." Tuhan bekerja di dalam gereja untuk memampukan kita hidup dalam kesalehan saat menghadapi pencobaan, dan bahkan di tengah orang-orang fasik anugerah-Nya mampu menahan kejahatan (Roma 2:14-15). Namun, tak cukup hanya memperingatkan bahwa godaan-godaan ini ada. Kita harus menyadari betapa dahsyatnya efek kejatuhan dan kejahatan dunia ini dan membuat rencana-rencana yang sesuai dengan keadaan itu (Efesus 6:12; 1 Yohanes 2:15-16). Kita memerlukan lebih dari sekadar niat baik untuk menahan diri dari godaan-godaan kejahatan dalam persaingan ekonomi.

Persaingan yang terjadi melintasi batas bangsa-bangsa dan kelompok/etnis, dan masalah-masalah etika yang ditimbulkannya menjadi jauh lebih rumit dengan adanya globalisasi. Sebagai contoh, tarif yang rendah biasanya meningkatkan peluang ekonomi bagi pekerja di negara-negara miskin, sementara pada saat yang sama cenderung menggeser pekerja dari negara-negara yang lebih kaya. Kita hampir tidak memiliki ruang di sini untuk membahas semua persoalan spesifik yang muncul di zaman kita mengenai migrasi, pembatasan perdagangan, alih daya, dll. Kita hanya dapat mencatat bahwa Alkitab menghargai itikad baik global (contohnya Imamat 24:22) dan pemberian bantuan (contohnya 1 Tesalonika 4:9-10) serta menekankan perlunya komunitas tertentu untuk hidup tertib (contohnya Roma 13:1-7; 1 Petrus 2:13-17). Dalam ketegangan antara itikad baik global dan ketertiban tertentu inilah sebagian besar ketegangan etika berada. Idealnya, kita mungkin berharap bisa menilai pilihan-pilihan sulit ini dari sudut pandang yang netral, tetapi pada kenyataannya, kita selalu lebih condong kepada yang satu daripada yang lainnya.

Persoalan etika lainnya yang penting di Alkitab adalah memberi tempat kepada orang-orang yang kalah dalam persaingan ekonomi, atau yang tidak dapat bersaing sama sekali karena tidak mampu bekerja. Hukum tentang memungut sisa panen di Perjanjian Lama merupakan contoh yang indah tentang cara memastikan bahwa ekonomi selalu memberi peluang kepada orang yang kesulitan secara ekonomi. Sebagian hasil pertanian harus ditinggalkan di ladang untuk dipungut orang miskin, yang memadukan dengan elok kewajiban orang kaya untuk bermurah hati dan kewajiban orang miskin untuk menghidupi diri sendiri dengan bekerja (Imamat 19:9, Ulangan 24:19-22). Sistem ini mendatangkan hasil yang sangat indah dalam kisah Rut, Naomi, dan Boas (Rut 2). Menemukan cara tepat yang memadukan kedua perintah ini dalam sistem ekonomi masa kini menjadi tantangan terus-menerus yang harus diterapkan umat Allah dengan saksama. Alkitab tentu saja memerintahkan agar orang yang tidak dapat bekerja ditangani dengan murah hati. Tanggung jawab utama hal ini ada di dalam keluarga, sesuai dengan kepedulian Allah terhadap integritas keluarga (contohnya 1 Timotius 5:8); tetapi juga merupakan kewajiban umum, dan gereja khususnya memiliki tanggung jawab untuk melakukan yang dapat dilakukannya dengan mengambil peran (contohnya 1 Yohanes 3:17).

Persaingan Sebagai Bentuk Kerja Sama Merupakan Solusi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kita telah melihat bahwa persaingan itu esensial tetapi juga dapat melukai orang. Alkitab mengakui kedua fakta ini. Alkitab menerima—dan di beberapa tempat menghargai—persaingan. Namun, Alkitab mengecam bahaya yang ditimbulkan satu sama lain ketika orang saling bersaing tanpa kasih, dan memerintahkan kita untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri (Markus 12:31). Bagaimana kita dapat menyelaraskan hal yang tampaknya bertentangan ini? Dengan melakukan persaingan sebagai bentuk kerja sama. Bahkan saat kita bersaing dengan orang lain, kita harus bekerja sama dengan mereka dan masyarakat dalam kasih dengan memerhatikan kebutuhan-kebutuhan mereka dan tujuan-tujuan Allah. Pada bagian ini kita akan membahas bahwa berpartisipasi dalam persaingan ekonomi dapat menjadi bentuk kerja sama, dan karenanya dapat menjadi cara untuk mengasihi sesama.

Kita mulai dengan mengakui bahwa ekonomi bukan hanya akibat dari keterbatasan kita, tetapi juga hasil dari relasionalitas kita. Sebagaimana dinyatakan dalam tafsiran Proyek Teologi Kerja tentang kitab Kejadian, kita diciptakan sebagai makhluk relasional menurut gambar Allah kita yang relasional. Kita adalah makhluk yang saling bergantung dan bekerja sama dalam hampir segala hal, termasuk di dunia kerja. “Ekonomi” di satu sisi hanyalah aspek sosial dan budaya – aspek relasional dan koperatif kerja.

Kepelbagaian kebutuhan, preferensi, dan situasi kita menciptakan peluang untuk saling mengasihi melalui transaksi ekonomi. Hal-hal yang kita hasilkan atau layanan yang kita sediakan memberikan pilihan kepada orang lain. Orang yang satu mungkin lebih suka mengasihi dan memuliakan Allah serta mengasihi sesama dengan menyajikan makanan untuk orang lain, dan sebagai balasannya ia menerima sarana untuk mendengarkan musik di perangkat seluler. Orang yang lain mungkin lebih suka mengasihi dan memuliakan Allah serta mengasihi sesama dengan mengoperasikan perangkat komputer yang menyiarkan musik ke perangkat seluler, dan sebagai balasannya ia menerima makanan siap saji. Jadi, Jane sabagai pelayan restoran mencari uang dengan menyajikan makanan dan membelanjakannya untuk mengunduh lagu dari perusahaan Mary, sementara Mary yang ahli IT mencari uang dengan mengoperasikan komputer dan membelanjakannya untuk memesan makanan di restoran Jane. Dengan kata lain, kita bersaing bukan hanya karena kita ingin melakukan penjualan, tetapi karena kita juga ingin menyediakan hal yang baik untuk konsumen.

Aspek relasional kerja merupakan alasan yang lebih dalam dari keadaan "tidak baik" Adam yang seorang diri saja (Kejadian 2:18). Hawa dibutuhkan bukan hanya untuk memberi keturunan, tetapi sebagai "penolong" Adam, mitra kerja samanya dalam pekerjaan mengembangkan dan mengurus dunia. Satu orang saja tidak dapat bekerja sama, dan karenanya tidak dapat mencerminkan kemuliaan Allah Tritunggal, yang pribadi-pribadi-Nya bekerja dalam kerjasama yang kekal. Seperti dikatakan John Bolt:

“Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja.” Agar kita dapat memahaminya dengan benar, kita harus menyingkirkan sejenak pandangan modern tentang “companionate marriage” (pernikahan yang didasari persahabatan dan kesetaraan). Intinya bukan bahwa Adam itu kesepian, tetapi bahwa ada yang tidak lengkap pada dirinya sebagai manusia. Jika manusia adalah gambar Allah sesuai rancangan Sang Pencipta, maka “laki-laki” perlu dilengkapi dengan “perempuan.” Di sini pada hakikatnya kita menemukan dasar dari seluruh tatanan sosial.[1]

Banyak orang secara bersama-sama – komunitas manusia – dapat melakukan pekerjaan mengelola dan memelihara ciptaan, sehingga dapat menunjukkan kasih yang relasional yaitu Allah.

Itulah sebabnya kerja sama ada di pusat kehendak Allah dalam pekerjaan kita. Perlu dicatat bahwa di samping persaingan, kerja sama merupakan tema yang konsisten dalam tafsiran Proyek Teologi Kerja. Banyak sekali penerapan masa kini yang dianjurkan dalam tafsiran ini untuk membangun kerja sama yang lebih baik di tempat kerja. Inilah perhatian yang didukung secara luas di dalam Alkitab (Mazmur 133:1; Amsal 26:21; Pengkhotbah 4:9-12; Filipi 2:1-5; 2 Timotius 2:24).

Persaingan Sebagai Bentuk Kerja Sama Melayani Konsumen

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Apa artinya bekerja sama? Bekerja sama dapat diartikan sebagai menyelaraskan aktivitas kita dengan satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama. Definisi sederhana ini membuat kita memikirkan apakah hal-hal tertentu yang tidak tampak bekerja sama, seperti persaingan, sebenarnya merupakan bentuk-bentuk kerja sama.

Tafsiran Proyek Teologi Kerja tentang kitab Amsal menyatakan bahwa bisnis pada dasarnya adalah sebuah bentuk kerja sama. Bagian itu menunjukkan hubungan yang wajar antara kerja sama dan persaingan dengan ketepatan yang bermanfaat:

Kekuasaan ekonomi pasar yang hampir universal tak pelak adalah karena manfaat persaingan. Meskipun memiliki aspek-aspek persaingan yang signifikan, bisnis, politik, dan bentuk-bentuk persaingan lainnya pada dasarnya adalah bentuk-bentuk kerja sama. Masyarakat mendukung persaingan agar semua pihak dapat berkembang.

Pernyataan bahwa bisnis pada dasarnya adalah bentuk kerja sama mungkin terasa tak masuk akal bagi banyak orang. Namun, tidak ada barang atau jasa yang dapat sampai ke tangan konsumen tanpa banyak orang yang bekerja sama. Di dalam setiap perusahaan, para rekan kerja harus bekerja sama. Kerja sama juga terjadi di antara perusahaan-perusahaan. Ada lebih dari satu, dan kadang sangat banyak, perusahaan yang bekerja sama dalam menghasilkan barang atau jasa tertentu. Pembeli (konsumen/ pelanggan) harus bekerja sama dengan penjual (perusahaan) dalam aktivitas perdagangan untuk mendapatkan barang dan jasa itu.

Kerja sama adalah realita dasar aktivitas ekonomi. Persaingan adalah efek tidak langsung dari kerja sama ini. Ketika para konsumen memiliki banyak pilihan tentang perusahaan yang akan bekerja sama dengan mereka sebagai pembeli barang dan jasa, perusahaan-perusahaan itu harus bersaing dengan satu sama lain untuk melihat siapa yang dapat bekerja sama lebih efektif dalam memberikan nilai/manfaat kepada konsumen.

Meski kedengarannya aneh, saling bersaing secara etis – dengan motivasi yang benar dan perilaku yang adil – benar-benar dapat menjadi bentuk kerja sama. Jika Honda dan Ford masing-masing bersaing untuk membuat dan menjual mobil-mobil yang paling baik melayani konsumen, para konsumen akan mendapat manfaat dari mobil, harga, dan layanan yang lebih baik. Hal ini memenuhi rancangan Allah tentang kerja itu sendiri. Seperti dikatakan Dorothy Sayers, “Tuntutan pertama yang diminta agamanya dari seorang tukang kayu adalah agar ia membuat meja-meja yang bagus.”[1]

Terkadang pembuatan produk yang baik dibantu oleh kerja sama yang disengaja, seperti standar keselamatan dan teknik/rekayasa (contohnya: peringkat dan ukuran ban). Terkadang ini bisa berarti membeli suku cadang dari jaringan pemasok lain atau saling melakukan servis/perawatan kendaraan satu sama lain. Kerja sama tidak boleh dilakukan untuk merugikan konsumen, seperti bersekongkol dalam menentukan harga atau melemahkan peraturan lingkungan. Persaingan tidak boleh bertujuan menjatuhkan perusahaan lain (seperti memasang iklan palsu) sehingga mengurangi akses konsumen untuk mendapatkan opsi-opsi yang berkualitas. Di pasar yang etis, perusahaan-perusahaan bersaing dalam kendali kasih kepada konsumen dan saling menghormati.

Persaingan Sebagai Bentuk Kerja Sama Melayani Masyarakat

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pasar yang terstruktur-rapi dan dibentuk oleh persaingan yang etis juga dapat mengurangi konflik ekonomi dengan mendorong penciptaan nilai – artinya, aktivitas kerja dan transaksi ekonomi yang dilakukan untuk saling menguntungkan, bukan untuk menguntungkan yang satu dengan mengorbankan yang lain. Bekerja dapat menciptakan nilai dengan mengolah lagi bahan baku ciptaan Allah, dan transaksi ekonomi dapat menciptakan nilai dengan memindahkan sumber daya dari orang yang kurang membutuhkan barang atau jasa tertentu kepada yang lebih membutuhkannya. Dengan menciptakan nilai, orang dapat memenuhi kebutuhan ekonomi mereka bukan dengan mengambil nilai orang lain tetapi dengan meningkatkan seluruh jumlah nilai di dunia.

Sebagai contoh, pabrik baja mengubah bijih besi menjadi balok-balok baja. Hal ini menguntungkan para penambang bijih besi (dengan memberi mereka penghasilan) dan penduduk kota (dengan memungkinkan pembangunan gedung-gedung apartemen) serta pemilik dan pekerja pabrik. Hal ini bukan sekadar mengambil uang dari penduduk kota dan memberikannya kepada penambang bijih besi serta pemilik dan pekerja pabrik, tetapi membuat semua pihak menjadi lebih baik. Bekerja menciptakan nilai karena produk yang dihasilkan, balok-balok baja, lebih bermanfaat (memiliki nilai lebih besar) daripada bijih besi. Transaksi ekonomi menciptakan nilai karena penduduk kota lebih membutuhkan (atau menghargai) balok-balok baja daripada uang yang mereka bayarkan, sementara para penambang dan pengusaha pabrik lebih membutuhkan (atau menghargai) uang daripada bijih besi yang mereka gunakan. Semua pihak menjadi lebih baik setelah pembuatan dan penjualan balok-balok itu daripada sebelumnya. Dengan cara ini, para penjual menopang diri sendiri dan keluarga mereka bukan dengan mengorbankan konsumen tetapi justru dengan melayani konsumen.[1] Hal ini terjadi meskipun perusahaan selalu dalam persaingan tertentu dengan konsumen dalam hal harga. Artinya, produk itu menciptakan nilai, tetapi masih ada suatu ketegangan terkait harga, yang artinya berapa banyak nilai yang bertambah pada penjual dan berapa banyak pula pada pembeli. Ketegangan antara kepentingan penjual dan kepentingan pembeli tak pernah bisa dihilangkan sepenuhnya, sehingga godaan untuk menguntungkan diri sendiri dengan merugikan orang lain akan selalu ada. Dengan memberikan banyak pilihan kepada setiap pihak, persaingan yang etis menciptakan peluang dan dukungan seluas-luasnya untuk mengejar penciptaan nilai dan bukan sekadar transfer kekayaan.

Pendekatan ekonomi yang sehat secara etis mengakui bahwa kerja sama adalah realitas dasar, dan persaingan yang etis melayani tujuan-tujuan kerja sama. Memang benar, ketika tingkat persaingan meningkat, hal itu dapat memunculkan perubahan lingkungan sosial yang cepat, dislokasi ekonomi, migrasi, dan lembaga-lembaga yang tidak permanen. Dalam setiap ekonomi, harus ada penyediaan bagi orang-orang yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dengan bersaing. Semua ini tidak membuktikan bahwa persaingan tidak dapat melayani kebutuhan kerja sama sosial. Sebaliknya justru lingkungan yang sangat kompetitif seringkali dapat melayani kepentingan umum dan memfasilitasi kerja sama sosial lebih baik daripada alternatif-alternatif yang ada. Orang yang kehilangan pekerjaan ketika perusahaannya bangkrut berada dalam kondisi yang relatif baik jika ada banyak perusahaan pesaing untuk ia bisa mencari pekerjaan baru, tetapi keadaannya tidak akan sebaik itu jika hanya sedikit atau tidak ada pesaing lain dalam industri itu.

Mari kita tinjau lebih spesifik bagaimana partisipasi kita dalam persaingan ekonomi dapat selaras dengan definisi kita tentang kerja sama. Definisi itu memerlukan koordinasi “untuk mencapai tujuan bersama.” Jika persaingan merupakan bentuk kerja sama, ini menunjukkan adanya kepentingan umum atau kebaikan bersama yang dikejar semua perusahaan saat mereka bersaing.[2] Tujuan bersama yang tepat dari persaingan adalah tujuan utama yang diidentifikasi Kitab Suci untuk pekerjaan dan transaksi kita – yaitu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga dan komunitas kita, dan untuk mendorong kesejahteraan umum dunia kita. Pada kenyataannya persaingan tidak selalu terarah kepada tujuan ini, karena banyak orang dan perusahaan tidak mengenalinya sebagai tujuan. Namun, persaingan pada kenyataannya berorientasi pada kepentingan umum ketika orang dan organisasi mengenali bahwa tujuan mereka adalah untuk melayani konsumen dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Ini menjadi tantangan bagi beberapa kalangan yang menganggap tujuan utama atau bahkan tujuan satu-satunya dalam bisnis adalah menghasilkan uang bagi pemegang saham; padahal tak ada alasan untuk menganggap bisnis tidak dapat bersaing dalam melayani konsumen dan sekaligus memberi keuntungan bagi pemegang saham, dan keduanya seringkali bisa berjalan seiring.

Selama para pesaing tidak dimotivasi oleh kasih kepada Allah dan sesama (atau etika lainnya yang dianut) untuk melayani kepentingan umum, masyarakat perlu membuat hukum dan peraturan untuk melindungi kepentingan umum. Di dunia yang telah jatuh, hal seperti ini tidak dapat dihindari. Namun, peraturan adalah pengganti kasih yang buruk. Masyarakat akan jauh lebih dilayani dengan baik jika sebagian besar atau seluruh warganya berkomitmen untuk bekerja, dan bahkan bersaing, dengan didasari kasih untuk melayani kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan diri sendiri saja. Inilah salah satu tujuan teologi kerja, membuat orang bekerja dan bersaing dengan cara yang melayani Allah dan sesama, bukan diri sendiri saja.

Gambaran Paulus tentang atletik sangat kaya dalam hal ini. Para atlet sering berbicara tentang persaingan ketat yang "mendorong munculnya kemampuan terbaik." Di dalam olahraga, mematuhi aturan dan melakukan yang terbaik untuk mengalahkan tim lain secara adil dan benar dapat menjadi cara bekerja sama dengan tim lain untuk memberikan hasil yang diinginkan kedua belah pihak – yaitu permainan yang bagus dan menyenangkan di mana kedua tim bermain sebaik mungkin dan tim yang lebih baik akan menang. Keunggulan dan pencapaian didorong dan dihargai. Demikian pula, berusaha keras mengalahkan perusahaan pesaing dengan melayani konsumen lebih baik dapat menjadi cara bekerja sama dengan pesaing untuk memberikan hasil yang diinginkan kedua belah pihak – pasar yang efisien yang menyediakan barang dan jasa terbaik sekaligus memberi keuntungan kepada investor.

Persaingan yang etis mungkin tampaknya tidak melibatkan koordinasi, yang menurut definisi kita merupakan kualitas kerja sama. Memang, koordinasi secara langsung dan eksplisit antar para pesaing untuk mereduksi persaingan biasanya tidak sah dan tidak etis karena melibatkan kolusi terhadap konsumen. Namun, koordinasi di antara para pesaing terjadi di tingkat sosial yang lebih tinggi dan dapat melayani kepentingan umum. Contohnya yang nyata adalah organisasi-organisasi perdagangan, publisitas dan lobi industri secara keseluruhan, pengamanan jaringan pemasok, penetapan standar industri, lembaga-lembaga pelatihan dan (di negara-negara yang diizinkan secara hukum) perundingan bersama. Bentuk-bentuk kerja sama yang nyata ini menentukan adanya norma-norma bersama dan, di atas semuanya, mengakui kesamaan hakikat semua manusia di antara perusahaan-perusahaan yang bersaing.

Hal ini, pada gilirannya, mengantar ke tingkat kerja sama sosial yang lebih tinggi. Tujuan terpenting dari sistem ekonomi – terutama dalam fungsi penetapan harga pasar – adalah memfasilitasi koordinasi besar-besaran di antara para pelaku ekonomi yang bersaing. Pembeli berusaha membeli barang yang lebih baik dengan harga yang lebih rendah; penjual berusaha memproduksi dan menjual barang dengan harga yang lebih menguntungkan. Jika sistem ekonomi dan ekosistem lembaga sosial yang lebih luas berfungsi sebagaimana mestinya, harga akan naik dan turun untuk memungkinkan pemasok mendapat permintaan dan sebaliknya. Hal ini akan mengalokasikan barang dan jasa yang ada secara lebih efektif dibandingkan sistem lainnya, dan—barangkali yang lebih penting—memberikan insentif paling efektif untuk pengarahan investasi barang dan jasa di masa mendatang.

Fungsi koordinasi sosial dari transaksi ekonomi ini, yang dibangun dengan persaingan yang etis sebagai bentuk kerja sama, menjadi semakin penting di era globalisasi. Transaksi pasar adalah satu-satunya metode yang telah ditemukan yang mampu mengkoordinir secara efektif tindakan sejumlah besar orang dan organisasi yang sangat beragam kepada tujuan bersama yang menguntungkan semua pihak. Kita akan selalu membutuhkan lembaga pemerintah untuk mencapai kepentingan politik yang tidak dapat dicapai oleh sistem ekonomi sendiri. Sebaliknya, kita akan selalu membutuhkan pasar untuk mencapai kepentingan ekonomi yang tidak dapat dicapai oleh sistem politik sendiri.

Persaingan Sebagai Bentuk Kerja Sama Melayani Para Pesaing

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Anehnya, persaingan yang ketat justru membantu, bukan menjatuhkan, para pesaing itu sendiri. Jika Honda memberikan nilai lebih kepada konsumen, hal itu akan memacu Ford untuk meningkatkan diri, begitu juga sebaliknya. Hal ini mengingatkan kita pada pepatah, "Besi menajamkan besi, dan orang menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17). Tekanan keras dan bertubi-tubi dari orang lain seringkali menjadi cara untuk membuat kita menjadi yang terbaik. Dengan demikian, menjadi pesaing yang tangguh dapat menjadi cara untuk mengasihi para pesaing maupun masyarakat. Negara-negara yang memberangus persaingan dengan memilih perusahaan "juara nasional" dalam industri tertentu pada akhirnya akan mendapati perusahaan tidak dapat berkembang dan hanya menempatkannya pada posisi berpuas diri, kualitas yang sedang-sedang saja, dan akhirnya gagal.

Bukankah masih ada kemungkinan para pesaing akan saling membahayakan dengan bersaing? Jika Ford berhasil membuat kendaraan yang diinginkan konsumen dan menjualnya dengan harga lebih murah dari Honda, bukankah para karyawan Honda bisa kehilangan pekerjaan dan pemegang saham kehilangan investasinya?

Belum tentu. Michael Porter, profesor di Sekolah Bisnis Harvard menegaskan bahwa persaingan di sini bukan berarti bersaing untuk "menjadi yang terbaik" atau "menjadi nomor satu" seperti dalam persaingan “zero-sum” (dengan hasil nol) yang berfokus untuk mengalahkan pesaing – sehingga kemenangan perusahaan yang satu akan menyebabkan kekalahan perusahaan yang lain. Sebaliknya, persaingan berarti bersaing untuk “menjadi unik” untuk menciptakan nilai bagi konsumen dengan cara yang tidak dilakukan pesaing. Nilai ini dapat diciptakan dengan berbagai cara untuk beragam konsumen, sehingga selalu masih ada tempat di pasar yang bersaing untuk berbagai perusahaan berkembang selama mereka bersaing untuk menjadi unik sebagai pencipta nilai dan bukan hanya berusaha melayani konsumen dengan cara (terbaik) yang sama.

Keberhasilan Ford tidak otomatis membuat Honda gulung tikar. Honda justru akan terpacu untuk mencari cara alternatif dalam melayani konsumen, cara yang akan memenuhi kebutuhan yang tidak dilakukan oleh Ford. Ford mungkin mengalahkan Honda di pasar truk, misalnya, tetapi Honda dapat merespons dengan berfokus di pasar lain, seperti pasar mobil ekonomis. Bahkan jika di pasar mobil ekonomis Ford mengalahkan Honda dengan membuat satu jenis mobil ekonomis, Honda dapat menemukan jenis mobil ekonomis lain yang tidak dibuat (atau tidak sebaik yang dibuat) Ford. Honda hanya akan gulung tikar jika tidak bisa menemukan peluang alternatif untuk melayani konsumen secara berkelanjutan—yang dalam hal ini, mempertahankan Honda tetap beroperasi ketika gagal melayani konsumen bukanlah opsi yang dapat dibenarkan atau lebih baik secara moral.

Dalam sebuah wawancara di Sekolah Bisnis Harvard, Porter diminta merangkum "kesalahan-kesalahan strategi yang paling umum." Dan ia menjawab:

Kesalahan terbesar dari semua kesalahan adalah bersaing untuk menjadi yang terbaik, menempuh jalan yang sama seperti yang dilakukan orang lain dan berpikir bahwa entah bagaimana Anda dapat mencapai hasil yang lebih baik. Perlombaan seperti ini sulit dimenangkan. Banyak sekali manajer yang mencampuradukkan efektivitas operasional dengan strategi.
Kesalahan umum lainnya adalah mencampuradukkan pemasaran dengan strategi. Wajar jika strategi muncul dari berfokus pada konsumen dan kebutuhan-kebutuhannya. Maka dari itu, di banyak perusahaan, strategi dibangun di sekitar proposisi/penawaran nilai, yang merupakan sisi permintaan dari persamaan itu. Tetapi... ini juga tentang sisi persediaan, konfigurasi unik dari aktivitas-aktivitas yang memberikan nilai. Strategi menghubungkan pilihan-pilihan di sisi permintaan dengan pilihan-pilihan unik di dalam rantai nilai (sisi persediaan). Anda tidak bisa memiliki keunggulan dalam bersaing tanpa keduanya.[1]

Dengan kata lain, tujuannya bukanlah meyakinkan konsumen bahwa Anda memberikan nilai, tetapi benar-benar memberikannya. Bukan mengalahkan pesaing dalam memberikan nilai, tetapi memberikannya secara unik, melalui kesesuaian yang nyata antara kemampuan (unik) Anda sendiri dengan kebutuhan konsumen.

Dalam tulisan yang sudah digunakan secara luas, Joan Magretta merangkum gagasan utama Porter:

Persaingan untuk menjadi unik mencerminkan pola pikir dan cara berpikir yang berbeda tentang sifat persaingan. Di sini, perusahaan-perusahaan mengejar cara-cara bersaing yang berbeda yang bertujuan melayani berbagai macam kebutuhan dan konsumen. Fokusnya, dengan kata lain, adalah menciptakan nilai lebih bagi konsumen yang dipilih, bukan meniru dan menyamai pesaing….
Bersaing untuk menjadi unik tidak seperti berperang karena keberhasilan satu perusahaan tidak perlu membuat pesaingnya gagal. Tidak juga seperti pertandingan olahraga karena setiap perusahaan dapat memilih untuk menciptakan permainannya sendiri. Analogi yang lebih tepat… mungkin adalah seni pertunjukan. Ada banyak penyanyi dan pelakon yang bagus – masing-masing menonjol dan sukses dengan caranya sendiri. Masing-masing menemukan dan membentuk penontonnya sendiri. Semakin banyak pemain yang bagus, semakin besar jumlah penonton dan semakin berkembang kesenian itu. Penciptaan nilai yang seperti inilah esensi dari penciptaan nilai yang hasilnya positif….
Tentu saja tidak semua perusahaan akan berhasil. Persaingan akan menyingkirkan perusahaan-perusahaan yang kinerjanya kurang baik. Tetapi, perusahaan-perusahaan yang berkinerja baik bisa memperoleh hasil yang berkelanjutan karena mereka menciptakan nilai lebih.[2]

Semua ini sejalan dengan gagasan “persaingan sebagai bentuk kerja sama”. Gagasan ini mengenali fungsi persaingan dalam menghasilkan dan mempromosikan kebaikan bersama. Dan secara spesifik menolak pemikiran bahwa tujuan dari aktivitas persaingan adalah menjatuhkan atau mengalahkan pesaing. Para pesaing berusaha menciptakan nilai bagi para konsumen, memperkaya diri dengan memperkaya orang lain, dan memacu para pesaing untuk melakukan hal yang sama.

Persaingan Sebagai Bentuk Kerja Sama Kadang Membutuhkan Pengorbanan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sejauh ini, kita telah menjelaskan kerja sama dan persaingan dalam rancangan Allah yang semula – seperti apa kedua hal itu jika kita mencerminkan dengan benar gambar Allah Tritunggal yang adalah kasih. Memiliki pemahaman yang berasal dari Allah sendiri dan dari rancangan-Nya yang semula tentang hakikat diri kita sangatlah penting jika kita ingin membangun pandangan kita berdasarkan standar yang benar.

Tetapi bagi banyak orang, segala pembicaraan tentang rancangan Allah yang sempurna bagi dunia terasa abstrak dan tidak relevan dengan kehidupan nyata. Apa pun yang mungkin kita spekulasikan tentang persaingan di dunia yang tidak jatuh dalam dosa, pada kenyataannya dunia telah jatuh dalam dosa. Itulah realitas kita sekarang, dan kita sering lebih merasakan kehancuran saat ini daripada keterkaitan kita dengan hakikat diri awal kita – atau kemuliaan yang akan datang yang Allah sediakan bagi kita di dalam Kristus.

Di zaman yang jahat ini, persaingan ekonomi pada praktiknya tidak pernah benar-benar etis dan sering dilakukan dengan cara-cara yang tidak etis. Sebagai partisipan di pasar-pasar ekonomi yang bersaing, tanggung jawab kita setiap hari adalah memastikan bahwa kita terlibat dalam persaingan yang etis dan mendorong persaingan yang etis pada orang lain, yang dimotivasi oleh kasih kepada semua manusia.

Beban etika bisa menjadi sangat berat. Kita mungkin berjuang untuk bersaing secara etis, tetapi para pesaing kita mungkin tidak. Meskipun para pesaing tidak menjatuhkan kita dengan cara curang yang tidak akan kita lakukan, mengasihi pesaing – melakukan persaingan sebagai bentuk kerja sama – sulit dilakukan. Diperlukan usaha yang keras dan kesediaan mengorbankan kepentingan diri kita jauh di luar batas minimum perilaku yang biasanya diharapkan dari para pesaing di bidang ekonomi. Kita mungkin harus membayar harga yang mahal untuk memutuskan terlibat dalam persaingan yang etis. Atau kita mungkin mendapati bahwa persaingan tidak etis orang lain mengeksploitasi kita sampai kita tidak bisa menopang diri sendiri dan orang-orang yang bergantung pada kita.

Itu sebabnya Salib sangat penting dalam cara kita bersaing. Salib adalah satu-satunya jalan kembali kepada kasih suci Allah Tritunggal. Gambar tentang kasih suci itu sedang dipulihkan di dalam Kristus yang rela mati agar Allah dapat menebus kita, dan kita harus meniru Kristus sebagai cara dipersatukan dengan-Nya, agar gambar Allah itu dapat dipulihkan di dalam kita juga. Kita harus memikul salib kita dan mati setiap hari untuk mengikut Kristus (Matius 16:24-28).

Mati terhadap diri sendiri, sesuai teladan Salib, adalah inti dari etika Kristen. John Calvin menyebut penyangkalan diri ini sebagai “inti seluruh kehidupan Kristen.”[1] Terlibat dalam persaingan ekonomi dengan tujuan memberi manfaat kepada konsumen dan masyarakat, dan bahkan para pesaing kita, membawa kita kepada cara hidup ekonomi yang berpusat pada penyangkalan diri seperti Kristus.

Mati terhadap diri sendiri ini, tentu saja, sangat bertentangan dengan keinginan sifat dasar kita yang telah jatuh dalam dosa. Kekuatan kita sendiri tidak akan mampu membuat kita sesuai dengan teladan salib Kristus. Kuasa Roh Kuduslah yang memampukan kita untuk hidup menurut teladan Kristus.

Hal ini dimulai dengan reformasi keberdosaan kita sendiri. Kejahatan tidak hanya ada “di luar sana” di antara para pesaing ekonomi kita, tetapi juga “di dalam sini” di hati kita sendiri. Akibat kejatuhan, kita bisa membenci para pesaing kita dan ingin membenarkan tindakan memajukan diri sendiri dengan mengorbankan mereka. Ketika kita berusaha melayani orang lain dengan mengorbankan diri sendiri, seperti yang dilakukan Kristus, kita terus-menerus akan mengalami ketegangan dalam memahami diri kita sebagai agen kasih suci Allah, membawa kasih suci itu kepada dunia melalui kasih kita kepada orang lain, menjadi orang berdosa yang diampuni oleh karena anugerah, serta mengingat dengan rendah hati bahwa sebenarnya Allah-lah yang memenangkan semua pertempuran penting atas kejahatan, bukan kita.

Namun kejahatan tentu saja juga ada “di luar sana”; dan Perjanjian Baru menegaskan keberadaan kuasa jahat itu di dunia. Dalam hal persaingan ekonomi, kejatuhan sangat membatasi kedalaman dan keluasan kerja sama sosial yang bisa kita harapkan dari dunia. Ketika kita mempertahankan standar persaingan sebagai bentuk kerja sama dengan cara-cara yang kreatif dan penuh kasih, seperti kesediaan kita untuk mengorbankan keuntungan kita sendiri demi kepentingan itu, kita memberi tantangan kepada ideologi-ideologi ekonomi duniawi. Persaingan sebagai bentuk kerja sama merupakan cara yang realistis bagi masyarakat pluralis untuk mengarahkan aktivitas ekonomi perorangan dan perusahaan pada kebaikan bersama dan tujuan-tujuan lain yang sehat secara etika. Hal ini akan menantang orang-orang yang menyanjung persaingan pasar maupun yang menyangkal bahwa terlibat dalam persaingan yang etis itu mungkin.

Kita telah menekankan bahwa Salib memulihkan gambar Allah dan rancangan awal hakikat diri kita. Tetapi Salib juga mengarahkan kita ke depan dan ke belakang. Salib tidak hanya memulihkan ciptaan karena menekankan mati terhadap diri sendiri sebagai cara hidup. Salib dan kuasa kebangkitan dari Roh Kudus yang mentransformasi kita seperti itu juga memungkinkan kita untuk terlibat dalam tindakan-tindakan pengorbanan diri dan untuk hidup hari ini dengan cara yang menantikan secara aktif penyempurnaan kerajaan Allah yang akan datang. Sebagai contoh, kita bisa memilih untuk menolong rekan kerja kita berhasil dalam proyek yang menguntungkan konsumen kita, meskipun kita tahu hal itu akan membuat rekan kerja itu dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi dari kita. Kita bisa memilih untuk menentang, atau bahkan mengungkapkan ke dunia luar, tindakan-tindakan organisasi kita yang mengeksploitasi orang lain, meskipun kita tahu kita bisa kehilangan pekerjaan sebagai akibatnya. Kita bisa memilih untuk mengkampanyekan peraturan-peraturan yang diperlukan untuk mengendalikan persaingan yang tidak adil, meskipun menghabiskan waktu untuk itu tidak akan memberi manfaat langsung apa-apa pada kita.

Salib tidak hanya berlaku untuk tindakan-tindakan individu, tetapi juga tindakan suku-suku dan bangsa-bangsa. Wahyu 21-22 menggambarkan umat Allah yang memasuki Yerusalem Baru sebagai "bangsa-bangsa," bukan hanya sebagai sekumpulan besar orang yang tidak saling terhubung dan tidak memiliki identitas. Struktur-struktur budaya yang telah menjadi bagian, dan dalam hal tertentu bahkan berasal, dari Kejatuhan (Kejadian 10-11) juga akan ditebus, bukan hanya individu perorangan saja. "Sekumpulan besar orang" sebagai bangsa-bangsa itu berkumpul untuk berjalan dalam terang Allah (Wahyu 21:24), membawa kemuliaan dan hormat dengan penuh khidmat di hadapan-Nya sebagai persembahan dan pelayanan mereka kepada-Nya (Wahyu 21:26) dan menerima kuasa penyembuhan dari pohon kehidupan (Wahyu 22:2). Bahkan berbagai jabatan politik bangsa-bangsa (Wahyu 21:24) dan beragam bahasa (Wahyu 13:7) tetap ada. Dan "mereka akan menjadi umat-Nya [laoi itu bentuk jamak] dan Allah sendiri akan ada di tengah-tengah mereka sebagai Allah mereka" (Wahyu 21:3). Sebutan yang sebelumnya khusus untuk Israel (Kejadian 17:7-8, Yeremia 32:38, Yehezkiel 37:27) kini berlaku bagi semua bangsa.

Pentakosta mengarahkan hidup kita yang sekarang ini kepada realitas masa mendatang yang struktur-struktur budayanya akan ditebus. Yesus mengutus umat-Nya dengan kuasa Roh untuk “menjadikan semua bangsa murid-Nya” (Matius 28:18-19). Untuk mencapai tujuan ini, pada hari Pentakosta Dia mencurahkan Roh Kudus kepada umat-Nya untuk memberi kuasa kepada orang-orang dari berbagai suku bangsa untuk mengikut Dia dan menyelaraskan hidup dengan Salib, bukan dengan menghapus keberagaman budaya mereka tetapi dengan memakai budaya mereka yang beragam sebagai sarana pemuridan (Kisah Para Rasul 2:5-13). Pentakosta membuat pemuridan terjadi di tengah struktur budaya yang telah jatuh, dengan memakai struktur-struktur itu sebagai sarana untuk melakukan transformasi Injil oleh Roh.

Dallas Willard, yang banyak menulis tentang mengapa gereja harus memakai struktur-struktur budaya dengan cara seperti ini, merangkum gagasan itu dengan kalimat yang luar biasa ini: “Pemuridan bukan untuk gereja; gereja untuk pemuridan, dan pemuridan untuk dunia.”[2]

Semua ini tidak berarti bahwa gereja harus mengembangkan agenda budaya yang terpisah dari pemuridan kepada Kristus. Pemuridan kepada Kristus adalah satu-satunya tujuan, dan segala agenda budaya yang berdiri sendiri atau terpisah dari pemuridan adalah berhala. Selain itu, kerendahan hati tentang keberadaan kita sebagai makhluk yang terbatas – dan berdosa – selalu dibutuhkan. Peran gereja bukanlah untuk menyebarluaskan yang dianggapnya sebagai seperangkat aturan sosial-ekonomi ilahi yang harus ditaati seluruh umat manusia, melainkan untuk memperlengkapi umat Allah dalam belajar bekerja dan bersaing dengan cara-cara yang melayani sesama.

Persaingan Sebagai Bentuk Kerja Sama Memerlukan Formasi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Salah satu cara menyimpulkan perintah praktis tentang persaingan yang etis adalah seperti ini: Sedapat mungkin biarkan tekanan persaingan mendorong Anda untuk memberikan nilai yang lebih baik kepada konsumen, bukan untuk unggul dengan merugikan konsumen atau pesaing. Di dunia yang telah jatuh, melakukan hal ini sulit dan menyakitkan. Mekanisme pasar tidak menjamin hal itu akan terjadi, hanya memberi peluang saja. Mengasihi sesama secara nyata tergantung pada kita. Namun, hal itu dapat dilakukan, dan banyak orang di sekitar kita sedang melakukannya, dan pun kita harus melakukannya lebih lagi.

Di level pribadi, perubahan yang mendasar adalah pada sikap. Apakah saya memandang pesaing saya sebagai sesama? Bagaimana saya dapat memiliki itikad baik terhadap pesaing saya? Paulus berkata, sebagaimana kita pernah memandang Allah dengan kebencian tetapi sekarang kita mendekati-Nya dengan kasih, kita pun memerlukan perubahan sikap seperti itu terhadap orang lain (2 Korintus 5:16).

Salah satu hal praktis terpenting yang dapat kita lakukan adalah berdoa secara teratur bagi para pesaing kita dan bagi situasi persaingan kita. Sangat kecil kemungkinan kita akan menemukan cara yang lebih efektif untuk menundukkan kesombongan, iri hati, dan keserakahan selain meminta Allah memberikan kebaikan kepada orang-orang yang menjadi pesaing kita. Kita dapat mendoakan secara langsung, dengan membawa dan menyebutkan nama-nama pesaing kita ke hadapan Allah untuk memohonkan kebaikan bagi mereka. Kita juga dapat memasukkannya dalam doa-doa kita yang memberkati pekerjaan kita sendiri, dengan memohon agar Allah memakai pelayanan kita kepada konsumen untuk mendorong para pesaing kita meningkatkan diri atau menemukan cara-cara pelayanan yang baru dan berbeda. Kita dapat meminta Allah menciptakan lingkungan yang sehat dan membangun di tengah persaingan sektor ekonomi kita.

Langkah alami berikutnya dari dialog internal ini adalah meminta pertolongan Allah untuk mengendalikan dialog eksternal kita dan "menjinakkan lidah" ​​(Yakobus 3:8). Bagaimana kita menggambarkan pesaing kita saat kita membicarakan mereka dengan rekan-rekan kerja dan orang lain? Sebagai penghalang kesuksesan kita, atau lebih buruk lagi sebagai musuh yang harus dikalahkan? Para pesaing ekonomi harus menahan keinginan untuk menjelek-jelekkan tim lawan, seperti halnya para atlet dan penggemar. Meskipun perintah Allah untuk mengasihi musuh itu menyiratkan bahwa kita dapat memiliki musuh, tidak ada kebutuhan umum untuk melihat pesaing ekonomi sebagai musuh (meskipun mereka mungkin demikian dalam hal tertentu). Bagaimanapun, kita tidak boleh berbicara tentang pesaing kita dengan cara yang merendahkan martabat mereka atau menyiratkan kita ingin mereka terluka. Sebaliknya, kita dapat menggambarkan mereka sebagai tolok ukur untuk menilai keberhasilan kita sendiri, barometer tentang hal-hal yang melayani konsumen dengan baik atau tidak, dan sumber disiplin dan akuntabilitas yang menjaga kita tetap fokus pada misi kita.

Di level yang lebih dalam, bagaimana kita menggambarkan tujuan pekerjaan dan organisasi kita? Ketika kita menggambarkan tujuan kita, apakah kita menggambarkan kepentingan umum atau kebaikan bersama yang membuat persaingan dapat menyelaraskan tindakan kita dengan tindakan pesaing kita? Atau apakah kita hanya berbicara tentang bagaimana kita melayani kepentingan diri sendiri?

Hal ini dengan sendirinya mengantar kepada langkah ketiga yang sangat penting. Apakah tindakan-tindakan kita sesuai dengan perkataan-perkataan ini? Apakah kita benar-benar fokus pada memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga dan komunitas kita, serta mendorong kesejahteraan sesama dan dunia kita? Apakah organisasi kita berusaha untuk berhasil dengan menciptakan nilai bagi konsumen, dan membedakan diri dari pesaing melalui nilai unik yang diciptakan? Apakah melayani konsumen merupakan tujuan utama pekerjaan kita? Apakah meningkatkan nilai yang kita sampaikan kepada konsumen merupakan inti dari strategi persaingan kita? Semakin banyak yang kita lakukan, semakin kita mengarah kepada tujuan bersama yang kita harap dapat membuat pasar menyelaraskan aktivitas kita dengan para pesaing kita.

Dan tentu saja sangat penting bagi kita untuk menjaga kejujuran diri dan perusahaan kita. Godaan untuk memajukan diri sendiri dengan menghalangi pekerjaan pesaing kita, bukan melayani konsumen dengan baik, selalu muncul. Itu sebabnya Kitab Suci sangat sering dan sedemikian keras mengecam pencurian, penipuan, dan eksploitasi.

Gagasan persaingan sebagai bentuk kerja sama tercermin dalam beberapa tafsiran Proyek Teologi Kerja (contohnya Matius 5:7 dan Roma 12:1-3), dan ini menjadi pemahaman yang bermanfaat tentang langkah-langkah spesifik yang bisa kita ambil untuk mengikuti jalan itu. Tafsiran kitab Amsal menyoroti masalah yang terjadi pada orang-orang yang kalah dalam persaingan:

Hukuman yang tepat untuk kegagalan dalam persaingan bukanlah dihancurkan atau dijebloskan ke jurang kemiskinan, tetapi diarahkan atau dialihkan ke pekerjaan yang lebih produktif. Perusahaan-perusahaan bisa bangkrut, tetapi pesaing mereka yang sukses tidak menjadi monopoli. … Karir bisa naik turun, tetapi hukuman yang tepat untuk kegagalan bukanlah "Anda tidak akan pernah bekerja di kota ini lagi" melainkan, "Bantuan apa yang Anda butuhkan untuk menemukan hal yang lebih cocok dengan bakat Anda?" Individu dan organisasi yang paling bijak belajar terlibat dalam persaingan dengan cara yang memanfaatkan sebaik-baiknya partisipasi setiap pemain dan menawarkan “pendaratan yang lembut” bagi yang kalah dalam kontes hari ini, tetapi mungkin saja memberikan kontribusi yang berharga esok.

Tafsiran Lukas 6:27-36 menunjukkan hal serupa: "Di level korporat, itu berarti tidak menghancurkan pesaing, pemasok, atau pelanggan, apalagi dengan tindakan yang tidak adil atau tidak produktif seperti tuntutan hukum yang sembrono, monopoli, desas-desus yang tidak benar, manipulasi saham, dan sejenisnya."

Tafsiran Filipi 1:27-2:11 menawarkan dua cara nyata untuk menjauhi kesombongan dalam situasi persaingan:

Seperti telah kita lihat, ambisi — bahkan persaingan — tidak selalu buruk… tetapi, mementingkan agenda sendiri secara tidak adil itulah hal yang buruk. Hal itu memaksa Anda mengadopsi penilaian yang tidak akurat dan berlebihan terhadap diri sendiri ("kesombongan"), yang menempatkan Anda di dunia fantasi yang semakin jauh yang membuat Anda tidak efektif dalam pekerjaan maupun keyakinan. Ada dua penawarnya. Pertama, pastikan bahwa keberhasilan Anda bergantung dan berkontribusi pada keberhasilan orang lain. Ini biasanya berarti bertindak dalam kerja sama tim yang tulus dengan orang lain di tempat kerja. Kedua, teruslah mencari umpan balik yang akurat tentang diri Anda dan kinerja Anda. Anda mungkin mendapati kinerja Anda sangat baik, tetapi jika Anda mendapatkannya dari sumber yang akurat, itu bukan kesombongan. Tindakan sederhana mau menerima umpan balik dari orang lain ini adalah bentuk kerendahan hati, karena Anda menundukkan citra diri Anda pada citra mereka tentang Anda. Tentu saja, ini hanya berlaku jika Anda menemukan sumber umpan balik yang akurat.

Komunitas iman Kristen juga dapat berperan sebagai tempat transformasi rohani yang unik dan sebagai komunitas yang menyatukan orang-orang dari berbagai kelompok budaya – bahkan para pesaing ekonomi. Gereja dapat membingkai ulang pemahaman kita tentang persaingan dengan menjunjung tinggi persaingan yang etis, atau persaingan sebagai bentuk kerja sama, dan menentang pemahaman-pemahaman stereotip yang memutlakkan persaingan sampai meniadakan kerja sama. Mereka dapat mengadakan diskusi-diskusi khusus berdasarkan bidang pekerjaan tentang seperti apa persaingan yang etis itu, dan bagaimana hal itu dapat diperkenalkan di setiap bidang usaha.

Kita juga perlu memandang melampaui ranah pribadi dan gereja ke ranah publik. Kita harus menentang bentuk-bentuk persaingan tidak adil yang mungkin telah dilembagakan di lingkungan kita, dan mencari cara-cara untuk memperluas kesempatan bagi orang-orang yang dirugikan dalam persaingan, seperti orang miskin, penyandang disabilitas, dan kelompok yang terpinggirkan. Ini bisa menjadi sangat menantang jika status quo yang ingin kita ubah justru menguntungkan kita. Namun, perspektif alkitabiah tentang persaingan mendesak kita untuk mereformasi sistem yang tidak adil, sekalipun hal itu memperbesar tekanan persaingan pada diri kita sendiri. (Akan sangat membantu jika kita mau mengingat betapa kita justru sering mendapat manfaat dengan berada di bawah tekanan persaingan).

Mengasihi Sesama melalui Persaingan Sebagai Bentuk Kerja Sama

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sebagai pengikut Kristus di dunia yang telah jatuh, kita dipanggil untuk mengasihi, dan karenanya kita bekerja untuk kepentingan keluarga, konsumen, dan komunitas kita. Di dalam hampir setiap budaya dalam sejarah, ini melibatkan partisipasi di pasar ekonomi yang bersaing. Kesombongan, iri hati, dan keserakahan manusia yang telah jatuh ada di sekitar kita di setiap sudut kehidupan. Namun, Allah terus bekerja di dunia, memakai struktur-struktur budaya manusia yang sah – termasuk pasar-pasar yang bersaing – untuk mencapai tujuan-Nya. Persaingan dapat, dan sering, menjadi bentuk kerja sama yang memungkinkan pasar-pasar dan harga-harga menentukan aktivitas para pesaing untuk memberi manfaat bagi konsumen, perusahaan, dan kepentingan umum. Kita dapat berpartisipasi dalam pasar ekonomi dengan cara-cara yang mewujudkan dan mendorong persaingan sebagai bentuk kerja sama; inilah strategi kita yang paling menjanjikan untuk meningkatkan kebaikan bersama komunitas kita dan menentang penyalahgunaan struktur-struktur pasar yang tidak benar.

Etika Kerja (Tinjauan Umum)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Catatan: Artikel "Tinjauan Umum" merupakan eksplorasi lengkap tentang topik-topik utama dalam teologi kerja. Jika Anda tertarik pada aspek tertentu topik itu, Daftar Isi bisa membantu Anda menemukannya dengan cepat.

Pendahuluan

Etika adalah tentang mengetahui dan melakukan apa yang baik atau benar, dan etika kerja adalah tentang mengetahui dan melakukan apa yang baik atau benar di dunia kerja. Bagi orang Kristen, ini berarti menggunakan Alkitab dan sumber-sumber iman Kristen lain dalam membantu memutuskan dan melakukan apa yang etis atau bermoral di dunia kerja. (Dalam artikel ini, "etika" dan "moralitas" digunakan secara bergantian)

Ada tiga pendekatan umum etika yang sudah digunakan secara luas dalam pandangan moral Kristen maupun di dunia pada umumnya. Pendekatan-pendekatan itu adalah 3C

  1. Command/ Perintah — Bagaimana cara bertindak yang benar menurut aturan?

  2. Consequences/ Konsekuensi — Tindakan apa yang paling memungkinkan hasil terbaik?

  3. Character/ Karakter — Ingin menjadi orang bermoral seperti apakah saya? [1]

Yang membedakan etika Kristen bukan karena pendekatan yang digunakannya berbeda, tetapi karena membawa nilai-nilai alkitabiah dalam setiap pendekatannya. Ada perintah-perintah alkitabiah (yang juga disebut prinsip-prinsip), hasil-hasil yang diinginkan secara alkitabiah, dan ciri-ciri karakter alkitabiah (yang juga disebut kebajikan) yang perlu dibawa orang Kristen dalam keputusan, tindakan, dan perkembangan moral mereka.

Dalam mengembangkan etika Kristen, kita akan memikirkan bantuan apa yang disediakan dan diberikan Alkitab untuk setiap pendekatan ini. Kemudian kita akan meneliti apakah kita perlu menggabungkan ketiga pendekatan ini dengan cara tertentu untuk memberi kita pendekatan yang lebih seimbang dan terpadu. Akhirnya, kita akan memikirkan bagaimana hidup dengan realita bahwa dunia ini sudah jatuh atau tidak sempurna, dan bahwa hampir tidak pernah ada solusi yang sempurna.

Kita akan membahas pendekatan etika Kristen yang diterapkan di dunia kerja, tetapi kita tidak akan mencoba memberi jawaban atas isu-isu utama dalam etika kerja. Sebaliknya, kita akan mengembangkan prinsip-prinsip dan metode-metode etika Kristen yang dapat digunakan pembaca untuk menerapkan prinsip-prinsip itu pada berbagai masalah dan kasus.

Di sini kami memberi Anda pilihan dua presentasi yang berbeda dalam menyampaikan pendekatan-pendekatan ini. Ada pilihan untuk membaca narasi yang berupa studi kasus kehidupan nyata atau ada juga pilihan presentasi yang lebih sistematis tentang beberapa pendekatan yang berbeda. Pendekatan sistematis lebih singkat dan lebih abstrak. Pendekatan naratif lebih panjang dan menerapkan pendekatan-pendekatan ini pada situasi kehidupan nyata yang dihadapi penjual mobil bekas bernama Wayne Kirkland.

Klik untuk melanjutkan membaca

Presentasi Etika Sistematis

Klik untuk melanjutkan membaca

Presentasi Etika Naratif (Kasus)

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, David. Pastoral Ethics. Oxford: Lynx, 1994.

Atkinson, David, dan David H. Field. New Dictionary of Christian Ethics and Pastoral Theology. Leicester, England, dan Downers Grove, IL: IVP, 1995.

Boulton, Wayne G. serta Thomas D. Kennedy dan Allen Verhey, penyunting. From Christ to the World: Introductory Readings in Christian Ethics. Grand Rapids: Eerdmans, 1994.

Burkett, Larry. Business by the Book. Nashville: Thomas Nelson, 1990.

Chewning, Richard C., John W. Eby and Shirley J. Roels. Business Through the Eyes of Faith. London: Apollos, 1992.

Cook, David. Moral Choices: A Way of Exploring Christian Ethics. London: SPCK, 2000.

Farley, Benjamin W. In Praise of Virtue: An Exploration of Biblical Virtues in a Christian Context. Grand Rapids: Eerdmans, 1995.

Gardner, E. Clinton. Biblical Faith and Social Ethics. New York: Harper and Rowe, 1960.

Gill, Robin. Churchgoing and Christian Ethics. Cambridge: Cambridge University Press, 1999.

Grenz, Stanley J. The Moral Quest. London: Apollos, 1997.

Hauerwas, Stanley. Vision and Virtue. Notre Dame: Fides/Claretian, 1974.

Hauerwas, Stanley. Character and the Christian Life: A Study in Theological Ethics. San Antonio: Trinity University Press, 1975.

Hauerwas, Stanley. A Community of Character: Toward a Constructive Christian Social Ethic. Indiana: University of Notre Dame, 1981.

Higginson, Richard. Called to Account. Guildford: Eagle, 1993.

Higginson, Richard. Questions of Business Life. UK: Spring Harvest, 2002.

Hill, Alexander. Just Business: Christian Ethics for the Marketplace. Downers Grove: IVP, 1997.

Hollinger, Dennis P. Choosing the Good: Christian Ethics in a Complex World. Grand Rapids: Baker, 2002.

Mackenzie, Alistair and Wayne Kirkland. Just Decisions. New Zealand: NavPress NZ, 2008.

Mackenzie, Alistair dan Wayne Kirkland. Where’s God on Monday? Christchurch, NZ: NavPress NZ, 2002.

MacIntyre, Alasdair. After Virtue: A Study in Moral Theology. Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1984.

McLemore, Clinton W. Street Smart Ethics. Louisville/London: WJKP, 2003.

Maxwell, John C. There’s No Such Thing as “Business” Ethics. USA: Warner Books, 2003.

Murdock, Mike. The Businessman’s Topical Bible. Tulsa: Honor Books, 1992.

Murdock, Mike. The Businesswoman’s Topical Bible. Tulsa: Honor Books, 1994.

Nash, Laura. Believers in Business, Nashville: Thomas Nelson, 1994.

Rae, Scott B. and Kenman L. Wong. Beyond Integrity: A Judeo-Christian Approach to Business Ethics. Grand Rapids: Zondervan, 1996.

Rae, Scott B. Moral Choices: An Introduction To Ethics. Grand Rapids, MI: Zondervan, 1995.

Sherman, Doug and William Hendricks. Your Work Matters to God. Colorado Springs: NavPress, 1987.

Sherman, Doug dan William Hendricks. Keeping Your Ethical Edge Sharp. Colorado Springs: NavPress, 1990.

Stackhouse, Max L. “The Ten Commandments: Economic Implications” dalam On Moral Business, Max L. Stackhouse, Dennis P. McCann dan Shirley Roels, penyunting. Grand Rapids: Eerdmans, 1995.

Stassen, Glen H. dan David P. Gushee. Kingdom Ethics. Downers Grove: IVP, 2003.

Zigarelli, Michael. Management by Proverbs. Chicago: Moody Press, 1999.

    Presentasi Etika Sistematis

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Pendahuluan

    Pandangan Kristen tentang kerja agak unik/khas karena menekankan bahwa pekerjaan manusia pada akhirnya mendapatkan makna dan tujuannya dari karakter dan tujuan-tujuan Allah. Siapa Allah dan apa yang dilakukan-Nya itulah yang membentuk cara kita memandang dunia, tempat kerja dan pekerjaan kita di dunia, serta nilai-nilai yang kita pegang dalam bekerja. Dasar pemikirannya adalah menyadari bahwa Allah terus bekerja di dunia ini dan kita adalah para pekerja yang diciptakan menurut gambar- Nya dan diundang untuk bekerja sebagai mitra dalam pekerjaan Allah yang masih terus berlangsung. Kita bekerja untuk mendukung penggenapan tujuan-tujuan Allah melalui pekerjaan kita dan mencerminkan karakter Allah dalam cara kita bekerja. Pemahaman kita tentang realitas inilah yang membawa masuk perspektif-perspektif Kristen yang khas ini ke dalam pandangan kita tentang etika kerja. Namun, kita akan memulai dengan beberapa tinjauan etika yang lebih umum.

    Definisi

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Kata "etika" berasal dari kata Yunani ethos, yang memiliki dua arti dalam pemakaian umum bahasa Yunani: kebiasaan atau adat, dan aturan atau hukum. Penggunaan di Perjanjian Baru mencakup kedua dimensi ini. Contohnya, di Kisah Para Rasul 25:16 kata itu biasanya diterjemahkan menjadi “kebiasaan" ("bukanlah kebiasaan pada orang-orang Roma untuk menyerahkan seorang"), sedangkan di 1 Korintus 15:33 diterjemahkan sebagai "moral" atau "karakter" ("Pergaulan yang buruk merusakkan moral yang baik" – diterjemahkan dari Alkitab bahasa Inggris versi NIV).

    Kedua kata ini — etika dan moral — sering digunakan secara bergantian. Anda bisa berkata bahwa etika adalah studi atau ilmu tentang prinsip-prinsip moral yang mengatur atau memengaruhi perilaku kita. Dennis Hollinger berkata bahwa etika adalah “…studi sistematis tentang norma-norma yang benar dan salah, adil dan tidak adil, baik dan jahat, dengan tujuan menerapkan norma-norma ini dalam realitas hidup kita.”[1]

    Kehidupan Kristen yang etis berkaitan dengan “…mengatur langkah-langkah kita dalam setiap situasi kehidupan berdasarkan komitmen-komitmen iman mendasar yang kita anut sebagai orang Kristen.”[2] Atau, menurut definisi lain: “Etika Kristen adalah upaya memberikan kerangka dan metode dalam membuat keputusan-keputusan yang akan menghormati Allah sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci, mengikuti teladan Yesus dan menanggapi Roh Kudus, untuk mencapai hasil yang mendukung tujuan-tujuan Allah di dunia.”[3]

    Berbagai Pendekatan Etika

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    TINJAUAN UMUM

    Kita perlu menempatkan pendekatan etika Kristen kita pada kerangka pemahaman berbagai pendekatan etika yang berbeda dan penalaran moral secara umum.[1] Ada tiga pendekatan berbeda yang paling sering diidentifikasi. Ketiganya dapat digambarkan secara singkat sebagai pendekatan perintah, konsekuensi, dan karakter.[2]

    Pendekatan Perintah

    Pendekatan perintah bertanya, "Apakah tindakan ini sendiri pada hakikatnya benar atau salah, menurut hukum/aturan?" Pendekatan ini sering disebut pendekatan deontologi (dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban atau aturan [3]). Pendekatan ini didasarkan pada proposisi bahwa tindakan-tindakan pada dasarnya benar atau salah, sebagaimana ditentukan oleh seperangkat aturan atau kewajiban. Perangkat kewajiban/aturan ini bisa diberikan oleh perintah ilahi, hukum alam, logika rasional, atau sumber lain. Dalam etika Kristen, kita tertarik pada perintah-perintah yang diberikan Allah atau yang disimpulkan secara logis dari penyataan-diri Allah dalam Alkitab.

    Pendekatan Konsekuensi

    Pendekatan konsekuensi bertanya, "Apakah tindakan ini akan mendatangkan hasil yang baik atau buruk?" Pendekatan ini sering disebut pendekatan teleologi (dari kata Yunani telos yang berarti akhir [4]) karena pendekatan ini berkata bahwa hasil akhir menentukan tindakan apa yang benar secara moral. Tindakan paling bermoral dapat ditentukan oleh:

    • Apa yang akan menghasilkan kebaikan terbesar? Salah satu contoh pendekatan teleologis yang terkenal adalah Utilitarianisme,[5] yang mendefinisikan kebaikan terbesar sebagai apa saja yang akan mendatangkan kebahagiaan terbesar bagi sebagian terbesar manusia.

    • Apa yang paling mendukung kepentingan pribadi seseorang? Sebagai contoh, sistem yang dikenal sebagai Egoisme Etis [6] berasumsi bahwa cara yang paling memungkinkan untuk mencapai kepentingan terbaik semua orang adalah dengan setiap orang mengejar kepentingan terbaiknya sendiri, dalam batas-batas tertentu.

    • Apa yang akan mendatangkan hasil akhir yang paling sesuai dengan maksud Allah atas ciptaan-Nya? Pendekatan ini dapat berfokus pada tujuan yang lebih rendah, seperti mencapai kualitas hidup yang lebih baik bagi orang cacat, maupun tujuan tertinggi/utama, seperti memuliakan Allah dan menikmati-Nya selamanya. Dalam hal situasi yang rumit, pendekatan ini berusaha memperhitungkan tindakan-tindakan mana yang akan memaksimalkan keseimbangan kebaikan atas kejahatan.

    Karena kebahagiaan maupun kepentingan pribadi bukanlah hasil tertinggi yang Allah inginkan bagi ciptaan-Nya, maka Utilitarianisme maupun Egoisme Etis biasanya tidak dianggap sebagai bentuk etika Kristen. Namun, ini tidak berarti konsekuensi-konsekuensi tidak penting secara etis bagi Allah, sama seperti fakta bahwa adanya sistem-sistem aturan yang tidak akitabiah tidak berarti perintah-perintah yang etis tidak penting bagi Allah.

    Pendekatan Karakter

    Pendekatan ini bertanya, “Apakah pelaku orang baik dengan motif-motif yang baik?” Dalam pendekatan ini, tindakan paling bermoral ditentukan oleh pertanyaan-pertanyaan tentang karakter, motif, dan kesadaran bahwa individu-individu tidak bertindak sendiri karena mereka juga bagian dari komunitas-komunitas yang membentuk karakter, sikap, dan tindakan mereka. Pendekatan ini sering disebut etika kebajikan.[7] Sejak permulaan era Kristen, kebajikan telah diakui sebagai unsur esensial dalam etika Kristen. Namun, sejak zaman Reformasi sampai akhir abad ke-20, etika kebajikan — seperti halnya etika konsekuensi — tertutupi oleh etika perintah di banyak pemikiran etika Protestan.

    Lalu bagaimana ketiga pendekatan yang berbeda ini diterapkan pada etika Kristen?

    Penerapan Pendekatan Perintah

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Orang Kristen dari sebagian besar tradisi gereja mengakui bahwa Alkitab sangat berperan penting dalam membentuk pemahaman kita tentang perintah-perintah dan prinsip-prinsip itu.

    Apa Aturan Allah? Adakah Perintah untuk Setiap Situasi?
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Orang Kristen dari sebagian besar tradisi gereja mengakui bahwa Alkitab sangat berperan penting dalam membentuk pemahaman kita tentang perintah-perintah dan prinsip-prinsip itu. Dan tidak sulit untuk menemukan ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang kerja.

    • Di dua pasal pertama Alkitab, manusia laki-laki dan perempuan diberi pekerjaan yang harus dilakukan, baik untuk merawat maupun mengolah sumber daya alam yang diberikan Allah (Kejadian 1:26-29; Kejadian 2:15; Kejadian 2:18-20).

    • Allah mencontohkan pola bekerja dan beristirahat tujuh hari (enam hari bekerja, satu hari beristirahat) yang harus ditiru oleh umat Allah (Kejadian 2:2; Keluaran 20:9-11; Markus 2:27). Ada juga pola bekerja dan beristirahat harian (Mazmur 104:19-23).

    • Mencari nafkah dengan bekerja jujur/sungguh-sungguh dianjurkan (Mazmur 128:2; 1 Tesalonika 2:9; 2 Tesalonika 3:7-10).

    • Kitab Amsal berisi banyak nasihat untuk bekerja keras dan peringatan terhadap kemalasan (contohnya Amsal 6:6).

    • Pekerjaan manual (dengan tangan) tak boleh dipandang rendah. Raja pun bekerja dengan tangannya (1 Samuel 11:5). Yesus melakukan pekerjaan keterampilan sebagai tukang kayu (Markus 6:3).

    • Para nabi mengecam orang kaya yang malas (contohnya Amos 6:3-6).

    • Seperti nabi-nabi sebelum Dia (lihat Yesaya 5:7-8; Mikha 3:1-3; Amos 5:21-24), Yesus mencela orang-orang yang mengaku beriman tetapi berlaku tidak adil (Matius 23:23).

    • Rasul Paulus menafkahi dirinya sendiri dengan menjadi pembuat tenda untuk menjaga kemandirian dan harga dirinya, serta memberi teladan ketekunan dan kemandirian kepada orang-orang yang menjadi percaya melalui pemberitaan Injilnya. Paulus mendorong mereka untuk berbagi kepada orang lain yang membutuhkan (Efesus 4:28). Ia memandang bekerja jujur/sungguh-sungguh sebagai cara menghormati Injil (1 Tesalonikna 4:11). Ia menegur orang-orang antusias yang ingin meninggalkan pekerjaan mereka sehari-hari untuk melakukan yang mereka anggap sebagai pekerjaan Injil yang lebih mendesak, namun akhirnya mereka hanya hidup dengan bergantung pada orang lain (2 Tesalonika 3:10 dst.).

    • Bekerja harus dipandang sebagai tindakan ibadah/penyembahan (1 Korintus 10:31; Kolose 3:17, 23).

    Alkitab juga menunjukkan kepedulian terhadap masalah-masalah kerja.

    • Kita bekerja bukan hanya untuk menyenangkan atasan kita di dunia. Kita bekerja untuk Tuhan. (Kolose 3:23; Efesus 6:5-8). Bekerja harus dengan sepenuh hati dan dijalani dengan baik (PengKotbah 9:10; Kolose 3:22-24).

    • Allah mau manusia mendapat upah yang layak atas pekerjaan yang dilakukan dan menikmati makanan, tempat tinggal dan pakaian sebagai bagian dari hasil kerja itu (Lukas 10:7; 2 Tesalonika 3:10; Mazmur 128:1-2).

    • Para majikan harus memperlakukan pekerjanya dengan adil dan pantas, karena mereka sendiri juga memiliki majikan yang akan meminta pertanggungjawaban mereka (Kolose 4:1).

    • Mereka harus tahu bahwa “pekerja patut mendapat upahnya” (Lukas 10:7; 1 Timotius 5:18).

    • Para pekerja diingatkan akan tanggung jawabnya terhadap majikan mereka (1 Timotius 6:1; Titus 2:9).

    Di samping perintah-perintah ini, ada banyak ayat Alkitab lain yang berbicara tentang masalah-masalah relasi dan integritas di tempat kerja. The Businessman’s Topical Bible (Alkitab dengan topik-topik untuk Pengusaha) [1] (dan versi pelengkapnya untuk Wanita Pengusaha [2]) mengidentifikasi 100 masalah dunia kerja yang umum dan kemudian memakai 1550 ayat Alkitab untuk menunjukkan jawabannya. Topik-topik itu meliputi apa yang harus dilakukan ketika pelanggan tidak puas, ketika Anda kehilangan karyawan penting, ketika Anda merasa dikhianati, ketika Anda merasa tergoda untuk berbuat curang, dan ketika karyawan Anda membutuhkan motivasi.

    Meskipun demikian, upaya untuk merumuskan buku aturan yang lengkap berdasarkan ayat-ayat Kitab Suci yang akan berbicara tentang setiap masalah etis yang mungkin terjadi tampaknya merupakan usaha yang mustahil. Tak ada kumpulan perintah yang bisa cukup luas untuk mencakup setiap masalah yang muncul. Dan situasi-situasi di tempat kerja saat ini banyak yang tidak memiliki preseden di zaman Alkitab. Apakah etis memberikan opsi-opsi untuk membeli saham berdasarkan kinerja? Apakah etis mengiklankan produk untuk menarik orang supaya membeli lebih banyak? Apakah etis memiliki preferensi-preferensi dalam perekrutan terhadap kelompok-kelompok etnis yang kurang terwakili? Apakah etis membeli perusahaan pesaing? Tidak satu pun dari situasi-situasi ini yang tampaknya tercakup dalam perintah Alkitab.

    Lagipula, persoalan inilah yang dihadapi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi ketika mereka berusaha membuat suatu aturan yang komprehensif, yang akhirnya membuat orang bukan hanya kewalahan dengan hal-hal sepele, tetapi juga kehilangan hal-hal penting. Namun, pada saat yang sama, tidaklah bijak jika kita mengabaikan fakta bahwa Kitab Suci memang memberi kejelasan tentang banyak hal: mencuri, berbohong, mengasihi orang lain termasuk musuh, berlaku adil, peduli terhadap orang miskin dan tertindas, dll. Sebagaimana dikatakan Chris Marshall, "Pengabaian terhadap otoritas normatif atas perintah, hukum, atau prinsip Kitab Suci juga bisa mengancam merusak karakter Kristen yang khas dari etika Kristen dan memberi terlalu banyak ruang untuk penilaian subyektif."[3] Alkitab tidak dapat diubah menjadi buku aturan komprehensif tentang etika kerja masa kini. Namun itu tidak berarti Alkitab tidak memiliki beberapa aturan yang penting dan masih relevan.

    Mencari Prinsip-Prinsip Panduan
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi banyaknya perintah Alkitab menjadi hanya beberapa perintah atau prinsip yang menyeluruh. Beberapa contohnya menekankan pentingnya Sepuluh Perintah Allah yang diberikan kepada Musa [1] atau Ucapan Bahagia yang disampaikan Yesus [2] atau kutipan-kutipan dari Kitab Amsal.[3]

    Buku Larry Burkett, Business by the Book, dengan subjudul yang tampaknya agak berlebihan, The Complete Guide of Biblical Principles for Business Men and Women (Panduan Lengkap Prinsip-prinsip Alkitab bagi Pria dan Wanita Pengusaha) [4] mengumumkan Enam Standar Minimum Bisnis Yang Alkitabiah:

    • Mencerminkan Kristus dalam perilaku-perilaku bisnis.

    • Bertanggung jawab.

    • Menyediakan produk berkualitas dengan harga yang wajar.

    • Menghormati para kreditor.

    • Memperlakukan karyawan dengan adil.

    • Memperlakukan klien dengan adil.

    Ada banyak upaya lain untuk melakukan hal serupa. Sebagian besar berisi banyak wawasan yang berguna, tetapi seringkali juga berakhir dengan menyajikan skema yang dibuat-buat daripada menyatakan pandangan Alkitab mendasar yang benar-benar membantu memfokuskan perhatian kita pada inti permasalahan.

    Bertolak dari beberapa prinsip Alkitab yang lebih mendasar, Business Through the Eyes of Faith [5] menganggap perintah untuk mengasihi sesama sebagai persoalan etis utama. Hal itu lalu dikembangkan dengan memakai Mikha 6:8 sebagai prinsip yang mengatur dalam menentukan bagaimana Allah mau kita menerapkan kasih dalam bisnis: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Apakah yang dituntut TUHAN darimu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”[6] Dengan demikian, kasih yang diterapkan melalui keadilan, kebaikan, dan kesetiaan menjadi prinsip etika yang mendasar. Dan kita mendapati Yesus sendiri menekankan pentingnya ketiga unsur yang sama ini di Matius 23:23, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Hal ini tampaknya lebih mendekati inti etika Kristen sekaligus mengatasi pemisahan/perbedaan besar yang seringkali ada di antara etika pribadi dan sosial. Jika mematuhi beberapa perintah mendasar tampaknya menjadi pendekatan yang lebih baik daripada mencari perintah spesifik untuk setiap hal, maka pertanyaannya menjadi, "Adakah satu perintah Alkitab yang mendasari semua perintah lainnya?"

    Dari Prinsip-Prinsip Panduan Menjadi Satu Perintah Yang Jelas
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Ada daya tarik yang tak terbantahkan untuk mereduksi seluruh perintah moral Alkitab menjadi hanya satu perintah yang menyeluruh. Bagi John Maxwell, ini adalah Aturan Emas, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Matius 7:12). Pendekatan ini hanya perlu mengajukan satu pertanyaan, “Bagaimana saya ingin diperlakukan dalam situasi ini?”[1] Maxwell mengakui bahwa dalam penerapannya mungkin juga diperlukan sejumlah prinsip lain, seperti:

    • Memperlakukan orang lain lebih baik daripada mereka memperlakukan Anda.

    • Berjalan sejauh dua mil.

    • Menolong orang yang tidak dapat menolong Anda.

    • Melakukan yang benar ketika melakukan yang salah itu wajar.

    • Menepati janji sekalipun hal itu menyakitkan.

    Sayangnya, cara ini justru menambah dan bukannya mengurangi jumlah perintah yang mendasar. Cara ini juga bisa memasukkan prinsip-prinsip yang tidak secara langsung berasal dari Alkitab.

    Joseph Fletcher, dalam Situation Ethics [2] menundukkan segala sesuatu di bawah “Hukum Kasih” Yesus: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39). Ia kemudian menghadapi masalah yang sama, dipaksa menemukan sejumlah prinsip lain (empat pra-asumsi dan enam proposisi), untuk menjelaskan bagaimana hal yang paling mengasihi bisa ditentukan. Maxwell ingin menjauhkan diri dari “relativisme moral” Etika Situasi dan, tidak seperti Fletcher, ia tidak berkata bahwa Hukum Kasih adalah satu-satunya prinsip moral absolut dengan cara mereduksi semua aturan moral lainnya menjadi hanya sebagai “pencerahan” yang berguna. Tetapi Maxwell dan Fletcher sama-sama menunjukkan bahwa meskipun kesederhanaan meninggikan satu prinsip itu menarik dan berguna dalam beberapa hal, tetapi cara itu terlalu menyederhanakan dan cukup menyesatkan dalam hal lain.

    Mereka juga menunjukkan ketidakcukupan menggunakan satu pendekatan saja dalam melakukan etika, yang dalam kasus mereka, pendekatan perintah. Kedua contoh ini dimulai dengan meninggikan satu perintah Alkitab absolut, tetapi kemudian beranjak dengan cepat memikirkan berbagai situasi dan konsekuensi untuk menentukan perintah-perintah memenuhi syarat lainnya yang diperlukan untuk memberi kejelasan. Dan cara mereka berbicara tentang kasih menunjukkan bahwa penerapannya bagaimana pun akan sangat bergantung pada karakter pelaku.

    Tiga Prinsip Penyeimbang
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Bagi Alexander Hill, “dasar etika Kristen dalam bisnis adalah karakter Allah yang tidak berubah.”[1] Perintah atau prinsip yang harus dipatuhi manusia ditentukan oleh karakter Allah. Perhatikan bahwa meskipun Hill memulai dengan karakter Allah, metodenya tidak dianggap sebagai bentuk etika berbasis karakter, seperti yang akan dibahas sebentar lagi. Hal ini karena dalam menentukan bagaimana manusia harus bertindak, metode Hill mengembangkan aturan-aturan dan prinsip-prinsip. Aturan dan prinsip adalah ciri khas etika dengan pendekatan perintah.

    Gambaran karakter Allah yang paling sering dimunculkan berulang-ulang di Alkitab adalah kudus, adil, dan kasih. Hukum, aturan, dan tindakan kita harus menunjukkan kekudusan, keadilan, dan kasih. Hill berpendapat bahwa etika Kristen menuntut ketiga prinsip itu diperhatikan setiap waktu. Setiap prinsip, sama seperti setiap kaki pada bangku berkaki tiga, menyeimbangkan kedua prinsip lainnya. Terlalu menekankan pentingnya yang satu dan mengabaikan yang lain akan selalu menimbulkan distorsi dalam pemikiran etika. Sebagai contoh, terlalu menekankan kekudusan bisa dengan mudah memunculkan aturan-aturan yang membuat orang Kristen menarik diri dari dunia dan masuk ke dalam isolasionisme yang tiada guna. Terlalu menekankan keadilan bisa dengan mudah mendatangkan hukuman-hukuman yang terlampau keras karena melanggar aturan. Terlalu menekankan kasih kadang bisa menyebabkan kerancuan dan kurangnya akuntabilitas.

    Pendekatan Hill tampaknya memberikan keseimbangan yang lebih baik daripada pendekatan yang hanya berfokus pada satu prinsip saja. Pendekatan ini memberi semacam bantuan untuk menjelajahi dimensi-dimensi etika pribadi maupun sosial. Tetapi konsep kasih, keadilan, dan kekudusan masih perlu dijelaskan dengan merujuk pada prinsip-prinsip lain. Harapan mereduksi sedemikian banyak aturan menjadi hanya beberapa prinsip utama saja lagi-lagi tak bisa dicapai.


    Pendekatan Konsekuensi

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Pertanyaan mendasar yang diajukan pendekatan konsekuensi adalah, "Apakah ini akan mendatangkan hasil yang baik?” atau "Opsi mana yang akan mendatangkan hasil terbaik?" Tidak seperti pendekatan perintah (yang opsi terbaiknya ditentukan oleh aturan yang menentukan kebaikan yang melekat pada suatu tindakan), pendekatan konsekuensi ditentukan oleh hasil. Hasil akhirlah yang menentukan tindakan apa yang paling bermoral. Ini melibatkan upaya mengantisipasi dan memperhitungkan hasil-hasil dari berbagai tindakan yang berbeda dan memilih yang benar-benar baik atau seterbaik mungkin.

    Alkitab dan Konsekuensi
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Karena begitu banyaknya orang yang memikirkan etika dalam kerangka Sepuluh Perintah Allah, dan menganggap Alkitab sebagai buku aturan, mungkin mengejutkan mendapati betapa sering Kitab Suci sendiri mendorong pembacanya untuk memikirkan konsekuensi-konsekuensi dari tindakan mereka dan membiarkan hal ini memengaruhi pengambilan keputusan mereka.

    Sebagai contoh, kitab Amsal berisi banyak peringatan dan janji-janji — pepatah-pepatah sarat makna yang memaparkan kemungkinan hasil dari tindakan tertentu. Contohnya, Amsal 14:14 berkata, "Orang yang murtad hatinya akan kenyang dengan langkah-langkahnya, dan orang yang baik dengan apa yang ada padanya."

    Yesus juga memperingatkan para pendengar-Nya untuk menimbang dengan hati-hati konsekuensi dari setiap keputusan mereka. "Dari buahnyalah kamu akan mengenali mereka" (Matius 7:16). Bahkan, dalam satu hal, seluruh kehidupan dan pelayanan Yesus dapat dipandang sebagai contoh nyata tentang membuat keputusan untuk kebaikan yang lebih besar.

    Ucapan Bahagia juga memperlihatkan aspek konsekuensi yang tersirat — jika kamu ingin "dipuaskan" maka haus dan laparlah akan kebenaran, dst. (Matius 5:6). Begitu pula dengan banyak pesan Kotbah di Bukit lainnya, seperti:

    Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. (Matius 5:16)
    Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. (Matius 5:25)
    Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Matius 6:3-4)
    Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu. (Matius 6:15)

    Memikirkan konsekuensi merupakan pendekatan alkitabiah yang penting dalam kita mengambil keputusan etis. Namun, ada juga sejumlah potensi jebakan dalam pemikiran itu ketika akan menjawab, "Apa yang baik?" "Baik untuk siapa?" "Apakah tujuan yang baik selalu membenarkan cara?" "Apakah konteks memengaruhi apa yang baik?" Mengukur yang baik tidaklah sesederhana yang kelihatan.

    Klik di sini untuk bergabung dalam pembahasan mendalam tentang penerapan praktis etika pendekatan konsekuensi yang terdapat dalam narasi studi kasus Wayne. Setelah membacanya, Anda akan menemukan tautan untuk kembali ke sini. (Tautan ke bagian studi kasus "Mengukur Yang Baik").

    Pendekatan Karakter

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Alih-alih bertanya "Apa aturan-aturannya?" atau "Apa yang akan mendatangkan hasil terbaik?" dalam setiap situasi tertentu, pendekatan kebajikan bertanya, "Akan menjadi orang seperti apakah saya?" Asumsinya, jika seseorang memiliki karakter yang baik, ia kemungkinan akan lebih melakukan hal yang benar/baik dalam berbagai situasi sepanjang hidupnya. Karena itu, pendekatan ini lebih merupakan etika tentang “menjadi” daripada tentang “melakukan”.

    Pendekatan ini juga mengakui bahwa mengetahui hal yang benar — dengan menggunakan pendekatan etika konsekuensi atau perintah — tidak menjamin Anda benar-benar akan melakukan hal yang benar itu. Melakukan hal yang benar membutuhkan karakter. Etika karakter mengembangkan kebiasaan melakukan hal yang benar dengan disertai kemampuan mengetahui hal yang benar. Etika ini tentang karakter Allah yang membentuk karakter kita — tentang apakah kita akan menjadi orang yang lebih kudus, adil, dan mengasihi - tiga ciri karakter yang menonjol dalam Alkitab. Dan ini bukan lagi sekadar prinsip-prinsip yang membimbing kita dalam pengambilan keputusan. Ini adalah sifat-sifat karakter yang menjadi tertanam dalam diri kita sebagai setelan bawaan. Ada beberapa alasan mengapa hal ini sangat penting.

    Pertama, karena cara kita berbicara tentang masalah-masalah etis sejauh ini menunjukkan bahwa kita memiliki waktu dan juga kemampuan untuk berpikir logis dalam menghadapi masalah-masalah yang pelik dan membuat keputusan yang tepat. Dan kita kadang memang berlaku seperti itu. Namun, bagaimana dengan waktu-waktu pada umumnya? Bukankah sebagian besar keputusan kita dibuat dalam sepersekian detik ketika kita terburu-buru? Bagaimana kita berelasi dengan orang ini, atau menyelesaikan masalah itu, menasihati klien, atau memotivasi orang atau tim yang kinerjanya buruk?

    Kedua, mungkinkah berbagai pilihan etis yang kita buat sebenarnya sudah ditentukan sebelum kita membuat keputusan? Bahwa karakter kita secara otomatis memengaruhi banyak hal yang akan kita putuskan? Dan karena itu, keputusan-keputusan etis kita kebanyakan ditentukan oleh siapa kita (karakter dan nilai-nilai yang kita anut) daripada proses pengambilan keputusan yang kita gunakan.

    Ketiga, apakah kita benar-benar orang yang membuat keputusan pribadi dengan bebas, atau apakah keputusan kita banyak ditentukan oleh komunitas-komunitas kita? Apakah karakter dan komunitas terjalin erat dengan nilai-nilai kita secara tak terpisahkan saat berbicara tentang etika?

    David Cook berpendapat bahwa kita jarang membuat keputusan moral yang disadari.[1] Kita sering tidak berpikir dalam hal moral, kita hanya berespons secara spontan. Jika demikian halnya dan reaksi kita sebenarnya hanya bersifat naluriah, maka pentingnya mengembangkan karakter ilahi semakin kuat, karena kita sedang membuat begitu banyak pilihan etis secara otomatis. Orang baik memiliki peluang yang lebih besar untuk membuat pilihan-pilihan yang baik.

    Kebajikan Yang Mana?
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Sebagaimana pendekatan perintah dan konsekuensi harus menentukan perintah dan konsekuensi yang mana yang benar-benar baik, pendekatan karakter harus menentukan kebajikan yang mana yang baik. Aristoteles mengajarkan kebajikan Yunani klasik: keadilan, ketabahan, kebijaksanaan, pengendalian diri. Santo Ambrosius (339-397) mengakui kebajikan-kebajikan ini tersirat dalam Alkitab, tetapi ia juga menambahkan tiga kebajikan "teologis" spesifik lain dari Alkitab — iman, pengharapan, dan kasih. Teolog abad pertengahan Thomas Aquinas kemudian membandingkan kebajikan-kebajikan ini dengan sifat-sifat buruk yang sepadan - yang kita kenal dengan tujuh dosa maut.

    Etika kebajikan tetap menonjol dalam pemikiran Katolik, tetapi para teolog Protestan baru akhir-akhir ini mulai antusias menjelajahi pendekatan karakter. Kebanyakan mereka sudah memandang Alkitab sebagai sumber kebajikan. Kita telah melihat Alexander Hill mengidentifikasi kebajikan-kebajikan alkitabiah seperti kekudusan, keadilan, dan kasih sebagai kebajikan-kebajikan utama Allah. Meskipun demikian, ia menempatkan pendekatan kebajikan di bawah pendekatan aturan. Ia tidak berkata bahwa manusia harus mengembangkan kebajikan-kebajikannya sendiri. Sebaliknya ia berkata bahwa manusia harus mengembangkan aturan-aturan yang sesuai dengan kebajikan-kebajikan Allah.

    Para teolog Protestan yang mencoba mengidentifikasi kebajikan-kebajikan Kristen yang harus dikembangkan manusia cenderung berfokus secara khusus pada kehidupan dan pengajaran Yesus. Stassen dan Gushee berkata:

    Alkitab tidak datar; Kristus adalah puncak dan pusatnya. Tidak ada masalah moral yang layak dibahas tanpa memikirkan makna Yesus Kristus sebagai bahan pertimbangan untuk masalah itu. [1]

    Bagi Stassen dan Gushee, titik awal yang jelas untuk memikirkan kebajikan-kebajikan spesifik yang harus didambakan para pengikut Yesus adalah Kotbah di Bukit, khususnya Ucapan Bahagia. Miskin rohani, murah hati, haus/lapar akan kebenaran, lemah lembut/rendah hati, pembawa damai, berbelas kasihan - adalah beberapa kualitas utama yang harus dikembangkan. Bagi Yesus, tindakan dan perilaku kita adalah manifestasi dari sikap hati, motif, dan kualitas karakter yang jauh lebih mendasar (Markus 7:21-22). Rasul Paulus juga menekankan pentingnya pengembangan karakter. Sebagai contoh, di surat Galatia, ia menasihati orang-orang yang telah menjadi milik Yesus agar tidak memuaskan keinginan "daging", tetapi mempersilakan Roh Kudus menumbuhkan "buah" seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:16-25). Kepada jemaat di Filipi, Paulus menulis, "Hendaklah kamu… tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri.... Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:3-5).

    Yesus adalah teladan kita. Teladan-Nyalah yang harus kita tiru. Karakter-Nyalah yang harus kita kembangkan melalui pekerjaan Roh-Nya. Referensi-referensi ini menunjukkan penekanan yang sangat kuat di Perjanjian Baru untuk menumbuhkan karakter Yesus.

    Klik di sini untuk pembahasan mendalam tentang penerapan praktis etika pendekatan konsekuensi. Setelah membacanya, Anda akan menemukan tautan untuk kembali ke sini. (Tautan ke bagian studi kasus "Bagaimana karakter bertumbuh dan berkembang dalam hidup kita”).

    Siapa Yesus Yang Sebenarnya?
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Sebagai orang Kristen, kita ingin menjadi seperti Yesus (1 Yohanes 3:2). Karena itu, kita harus benar-benar menyadari bahaya yang kita hadapi ketika kita “membingkai ulang” perintah-perintah Yesus, konsekuensi-konsekuensi dan karakter yang diinginkan, dengan cara yang kurang menantang gaya hidup dan pandangan dunia kita sendiri. “Menjadikan” Yesus menurut gambaran kita sendiri adalah godaan yang kita semua hadapi. Sangat mudah, terutama di komunitas-komunitas yang relatif makmur, untuk secara tidak sadar memfilter dampak kehidupan dan pengajaran Yesus yang sangat besar pada lingkungan, sosial, ekonomi, dan politik, sehingga yang tersisa hanyalah Yesus yang menangani sejumlah kecil isu moral “pribadi” saja. “WWJD - What Would Jesus Do“ (Apa Yang Akan Yesus Lakukan) bisa dengan mudah diremehkan. Riset menunjukkan bahwa kebanyakan orang yang pergi ke gereja secara teratur hanya menunjukkan pemahaman etis yang berbeda dari kebanyakan orang dalam beberapa hal yang terkait isu perilaku seksual, kejujuran pribadi, dan penumpukan kekayaan saja.[1] Dalam banyak hal lainnya, kita lebih dibentuk oleh nilai-nilai budaya kita daripada etika Yesus.

    Yang menggembirakan dari riset ini adalah penelitian ini menunjukkan dengan jelas bahwa pergi ke gereja membuat perbedaan dalam pemahaman etis kita. Namun sayangnya, hanya dalam beberapa hal tertentu saja, karena persoalan etis yang disampaikan di gereja secara teratur tidak mencakup sebagian besar masalah etis di dunia kerja dan bisnis. Fakta bahwa para CEO Enron dan WorldCom bisa mengaku menjadi orang Kristen yang taat karena dukungan gereja menunjukkan beberapa titik buta? Kita harus berusaha lebih keras untuk mengatasi lebih banyak masalah di dunia kerja dengan cara kita menceritakan, merayakan, dan mengeksplorasi cerita Kristen.

    Karakter Kristen berkembang bukan hanya sebagai hasil transformasi pribadi. Karakter Kristus berkembang terutama dalam konteks komunitas. Sebagaimana ditulis Benjamin Farley:

    Perjanjian Baru, selaras dengan Alkitab Ibrani, menekankan konteks yang tak tergantikan dalam komunitas orang percaya….Di dalam konteks iman, pengharapan, dan kasih yang merawat inilah … kehidupan Kristen, sebagai sebuah proses, berlangsung. Bukan persoalan pribadi saja, tetapi dihadapkan pada budaya asing dan bermusuhan itulah yang membentuk tindakan moral Kristen [2]

    Kita jauh lebih mungkin menjadi orang baik jika kita berkomitmen pada komunitas yang berusaha menceritakan kembali, memahami, menerima, dan menghidupi cerita Injil – terutama jika komunitas ini juga berkomitmen untuk menemukan gambar karakter Yesus yang lebih jelas, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dan tidak mengenakkan yang membantu kita menghadapi pandangan kita yang terbatas tentang kehidupan yang baik. Jika hal ini terjadi, kita kemungkinan tidak akan meniru banyak contoh menyedihkan tentang orang Kristen yang berbisnis dengan cara yang tidak Kristen.

    Menggabungkan Semuanya

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Nah, kita sudah membahas tentang Perintah, Konsekuensi, dan Karakter. Tiga pendekatan etika yang berbeda. Pada kenyataannya, beberapa gabungan pendekatan ini sering muncul saat menghadapi situasi nyata sehari-hari. Sebagai contoh, sulit untuk memikirkan penerapan perintah atau aturan tertentu tanpa juga memikirkan konsekuensi-konsekuensi dari tindakan itu. Sementara pada saat yang sama, memilih di antara berbagai konsekuensi yang diantisipasi bergantung pada mengetahui prinsip-prinsip apa yang kita prioritaskan dalam menentukan yang terbaik. Dan, apa pun yang ditentukan dalam teori itu, karakterlah yang akhirnya menentukan bagaimana seseorang memilih untuk bertindak.

    Oleh karena itu, dalam membuat keputusan moral, kita akan mendapati diri kita berada dalam tarian etis yang melibatkan interaksi-interaksi yang saling memengaruhi di antara berbagai pendekatan ini.

    Rangkuman Ketiga Pendekatan

    Deontologi

    Teleologi

    Kebajikan

    Konsep Kunci

    Perintah/Aturan

    Konsekuensi/Hasil

    Karakter

    Pertanyaan Utama

    Apa aturan yang berlaku?

    Apa yang akan mendatangkan hasil terbaik?

    Apakah saya akan menjadi orang baik?

    Seringkali, pendekatan yang kita gunakan tergantung pada sifat situasi yang kita hadapi. Sebagai contoh, apakah kita sedang berusaha menyelesaikan persoalan moral yang besar ataukah memutuskan pilihan moral sehari-hari yang lebih sederhana. Mari kita jelaskan maksudnya.

    Menyelesaikan Persoalan Moral Yang Besar
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Banyak pengajaran tentang etika bisnis dibangun dengan menelaah studi-studi kasus yang penting dan dikembangkan sebagai respons terhadap persoalan moral yang besar; khususnya tantangan-tantangan yang muncul ketika prinsip-prinsip penting saling berbenturan dan tampaknya mengarahkan kepada solusi yang berbeda-beda. Usaha menyelesaikan masalah semacam itu cenderung dimulai dengan menekankan pentingnya mengembangkan metode penalaran moral dalam menghadapi tantangan itu. Model itu biasanya menekankan pentingnya memikirkan aturan-aturan yang relevan dan memperhitungkan kemungkinan hasilnya dengan tujuan membandingkan dan mempertimbangkannya untuk menemukan opsi tindakan terbaik dalam konteks itu. Penekanan pada kebajikan dan karakter dalam hal ini terutama berkaitan dengan memastikan ada cukup motivasi dan tekad untuk menjamin dihasilkannya tindakan yang tepat. Model ini dapat digambarkan sebagai berikut:

    Model Prioritas Aturan/Konsekuensi (keputusan-tindakan)

    Menentukan hal apa yang benar yang harus dilakukan dalam setiap situasi →

    Menetapkan aturan (perintah) yang berlaku

    Menemukan hasil (konsekuensi) terbaik

    Menjadi orang baik dengan melakukan hal yang benar dalam segala situasi →

    Melakukan yang Anda tentukan benar (karakter)

    Jenis metode yang dianjurkan biasanya terlihat seperti ini:[1]

    1. Mengumpulkan semua fakta yang relevan.

    2. Memperjelas masalah-masalah etis utama.

    3. Mengdentifikasi aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang relevan untuk kasus itu.

    4. Merujuk ke sumber-sumber panduan yang penting — terutama Alkitab, dengan keterbukaan pada cara terbaik dalam membaca Alkitab untuk mengatasi situasi ini. Namun juga merujuk ke sumber-sumber yang relevan lainnya.

    5. Meminta bantuan orang-orang di komunitas yang mengenal Anda dan situasi itu. Ini akan membantu Anda terhindar dari penipuan diri atau terlalu memperhatikan kecenderungan/ prasangka tertentu Anda.

    6. Membuat daftar semua tindakan alternatif.

    7. Membandingkan alternatif-alternatif itu dengan prinsip-prinsip.

    8. Menghitung kemungkinan hasil dari setiap tindakan dan memikirkan konsekuensi-konsekuensi.

    9. Merenungkan keputusan Anda dalam doa di hadapan Tuhan.

    10. Membuat keputusan dan menindaklanjutinya.

    11. Membangun sistem dan kebiasaan praktik yang membentuk karakter organisasi/masyarakat agar cenderung melakukan yang telah Anda tentukan benar sebagaimana yang seharusnya.

    12. Menemukan cara-cara untuk terus-menerus melakukan aktivitas-aktivitas yang memang bagian dari melakukan hal yang benar seperti yang telah Anda tentukan.

    Pilihan Moral Sehari-hari
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Model kedua mengakui bahwa sebagian besar keputusan etis dalam kehidupan dan pekerjaan kita sehari-hari dibuat secara instan, seringkali di bawah tekanan dan tanpa banyak kesempatan untuk berpikir panjang. Keputusan-keputusan ini adalah hasil dari kebiasaan-kebiasaan seumur hidup dan juga dipengaruhi oleh budaya tempat kita bekerja, kelompok sebaya dan komunitas iman kita. Sejauh mana kebajikan dan karakter Kristen telah tertanam dalam diri kita juga ikut memengaruhi. Inilah pemuridan Kristen yang umum. Tetapi pentingnya “menjadi” sebagai dasar untuk kita “melakukan” tidak berarti penalaran moral tidak diperlukan. Dalam kehidupan yang baik, masih ada tempat untuk memahami aturan-aturan dan memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi. Namun dalam hal ini, aturan dan konsekuensi berada di bawah kebajikan dan dipandang sebagai pelayan, bukan tuan. Ini memutarbalik prioritas yang ditunjukkan pada diagram sebelumnya:

    Model prioritas-karakter (perkembangan etis)

    Menjadi orang baik →

    Mengembangkan karakter yang baik agar memiliki kebijaksanaan dan ketekunan untuk mematuhi aturan dan menemukan hasil (karakter) terbaik

    ↓ ↓

    Menentukan hal yang benar untuk dilakukan ketika situasi tidak jelas →

    Menentukan aturan yang berlaku dalam setiap situasi (perintah)

    Menemukan hasil terbaik dalam setiap situasi (konsekuensi)


    Ini tidak berarti bahwa penekanan pada kebajikan juga tidak menimbulkan masalah moral, karena kita bisa saja menemukan kebajikan-kebajikan saling bersaing dan menarik ke arah yang berbeda-beda. Contohnya, keberanian dan kehati-hatian dapat menarik ke arah yang berbeda, atau keadilan dan kedamaian, atau kesetiaan dan kebenaran. Membuat keputusan moral yang baik dalam hal-hal seperti ini bukan tentang mencari satu jawaban yang benar karena ada kemungkinan jawabannya tidak hanya satu. Membuat keputusan moral yang baik di sini lebih tentang melihat alternatif-alternatif sebagai ketegangan yang dapat memunculkan respons-respons kristiani yang seimbang.

    Membuat Keputusan Etis di Dunia Yang Telah Jatuh
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Sejauh ini kita sudah berbicara seolah-olah kita memiliki kemampuan untuk mematuhi aturan-aturan Allah, mencari hasil yang dicari Allah, menjadi karakter yang diinginkan Allah pada diri kita. Padahal biasanya kita sangat jauh dari kemampuan itu. Kita bisa tidak memiliki kekuatan atau posisi untuk melakukan hal yang benar. Kita bisa tidak memiliki keberanian. Kita bisa tersandung oleh keinginan, sikap, ketakutan, relasi-relasi, dan faktor-faktor lain diri kita sendiri yang tidak benar.

    Terkadang kita tidak hanya kekurangan kemampuan, tetapi juga pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan yang benar. Mungkin aturan Allah tidak jelas ketika menyangkut perang atau bioetika, misalnya. Mungkin kita tidak tahu hasil yang mana yang dikehendaki Allah ketika pilihannya adalah bekerja sebagai pelacur atau melihat anak-anak kita kelaparan. Mungkin kita tak dapat membayangkan karakter seperti apa yang Yesus inginkan dari kita di tempat kerja ketika orang-orang tampaknya kompeten namun berpikiran sempit, atau tidak kompeten namun baik hati.

    Dalam banyak situasi kerja dan kehidupan, kita benar-benar tak dapat mencapai solusi yang sempurna. Kita sering menghadapi pilihan bukan antara yang lebih baik dan terbaik, tetapi antara yang buruk dan lebih buruk. Meskipun demikian, Allah tetap bersama kita. Pendekatan etika Kristen tidak menghukum kita untuk gagal jika kita tidak dapat menggapai kesempurnaan. Sebaliknya, pendekatan ini memberi kita sumber daya untuk melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, atau setidaknya melakukan yang lebih baik daripada yang biasanya kita lakukan. Dalam sistem yang korup, mungkin tidak banyak yang dapat kita lakukan untuk membuat perbedaan nyata. Meskipun demikian, Alkitab memberi kita gambaran tentang maksud Allah dalam segala sesuatu, meskipun kita tak dapat menggapainya dalam waktu dekat. Hal ini dimaksudkan untuk menjadi alasan untuk berharap, bukan merasa bersalah. Allah telah memilih memasuki kehidupan manusia — dalam diri Yesus — di tengah rezim yang korup. Dia menderita konsekuensi terburuk, tetapi muncul sebagai pemenang oleh kasih karunia Allah. Kita pun dapat mengharapkan hal yang sama sebagai pengikut Yesus. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia” (Yohanes 3:17).

    Pada akhirnya, semua bermuara pada kasih karunia. Kasih karunia Allah dapat memperjelas bagi kita apa itu hal yang benar. Kasih karunia Allah dapat membuat kita mampu melakukan yang kita tahu benar. Bahkan jika kita gagal, kasih karunia Allah dapat mengampuni kita dan memungkinkan kita untuk mencoba lagi.

    Kejatuhan dunia adalah salah satu alasan terpenting untuk menganggap pendekatan karakter sangat penting. Kita mungkin tidak dapat mematuhi semua aturan Allah atau menginginkan semua hasil yang diinginkan Allah. Namun, dengan kasih karunia Allah, kita dapat berlatih melakukan sesuatu yang lebih baik hari ini daripada yang kita lakukan kemarin. Jika kita tak melakukan apa-apa pun selain mengatakan kebenaran satu kali pada hari ini ketika kita sudah akan berbohong kemarin, karakter kita telah menjadi sedikit lebih seperti yang Allah inginkan. Pertumbuhan seumur hidup secara etis untuk menjadi lebih baik, sedikit demi sedikit, membuat perbedaan yang nyata.

    Kesimpulan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Alkitab adalah sumber utama perintah-perintah yang harus kita patuhi, konsekuensi-konsekuensi yang harus kita inginkan, dan karakter-karakter yang harus kita bentuk sebagai pengikut Yesus Kristus. Meskipun perintah-perintah Alkitab adalah hal pertama yang mungkin terlintas di pikiran saat kita berpikir tentang etika Kristen, konsekuensi dan karakter juga merupakan unsur-unsur esensial dalam etika Kristen. Bagi kebanyakan dari kita, cara paling efektif untuk menjadi lebih etis mungkin adalah dengan lebih memerhatikan bagaimana tindakan dan keputusan kita di tempat kerja membentuk karakter kita. Keputusan etis terbaik di tempat kerja dan tempat-tempat lainnya adalah keputusan yang membentuk karakter kita menjadi makin seperti Yesus. Pada akhirnya, oleh kasih karunia Allah, “kita akan menjadi sama seperti Dia” (1 Yohanes 3:2).

    Presentasi Etika Naratif (Kasus)

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Klik di sini jika Anda hendak kembali ke bagian awal artikel Etika Kerja.

    Kasus Transmisi Yang Rusak

    Wayne adalah seorang Kristen pedagang mobil. Lebih dari dua belas bulan yang lalu, Wayne menjual Toyota Camry bekas kepada seorang klien yang beritikad baik. Mobil itu telah diperiksa secara menyeluruh sebelum dijual dan dipastikan dalam kondisi di atas rata-rata untuk kisaran harganya. Sekarang, dua belas bulan kemudian, klien itu menelepon Wayne. Ada masalah yang baru muncul pada transmisi otomatisnya. Apa yang akan dilakukan Wayne untuk menyelesaikan masalah itu? Penjualan mobil itu sudah lama, tetapi Wayne juga bersimpati pada kesulitan klien itu. Haruskah ia (Wayne bertanya-tanya) bertanggung jawab atas masalah itu dan menanggung biaya perbaikan transmisi? Secara realitanya, ini berarti memilih untuk menanggung kerugian finansial atas mobil Camry itu. Menambah biaya perbaikan akan membuat mobil itu lebih mahal bagi Wayne daripada harga jual yang ia berikan. Alih-alih langsung berkomitmen untuk melakukan tindakan tertentu, Wayne memberi tahu klien itu bahwa ia akan menghubunginya lagi dalam waktu satu hari.

    Saat Wayne menutup telepon, sejumlah keresahan mulai berkecamuk di benaknya. Siapa yang harus menanggung biayanya, Wayne atau kliennya? Atas dasar apa Wayne harus membuat keputusan? Dan dengan cara apa iman Kristennya memengaruhi yang ia pilih untuk dilakukan?

    1. Perintah-perintah apa yang seharusnya dipatuhi orang Kristen?

    2. Konsekuensi-konsekuensi apa yang seharusnya diinginkan orang Kristen?

    3. Karakter seperti apa yang seharusnya ditunjukkan orang Kristen?

    Kita akan tetap bersama Wayne sementara ia memikirkan setiap pendekatan ini.

    Pendekatan Perintah

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Ketika Wayne memikirkan masalahnya dengan mobil itu, ia bertanya-tanya apakah ada aturan atau perintah sederhana yang dapat membantunya menentukan hal yang benar untuk dilakukan. Satu titik awalnya cukup jelas — apakah hukum negara memberikan jawaban yang jelas? Bagaimana aturan hukum itu?

    Apa Saja Kewajiban Wayne Menurut Hukum Itu?

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Wayne tahu bahwa Undang-undang Perlindungan Konsumen (di Selandia Baru) memberikan enam garansi kepada konsumen tentang kendaraan yang dibeli. Yang terpenting adalah kendaraan itu harus memiliki kualitas yang sesuai. Kendaraan itu harus:

    • Sesuai dengan tujuan penggunaan jenis kendaraan itu.

    • Dapat diterima dari segi ‘finishing’ (hasil pengerjaan akhir) dan penampilan.

    • Bebas dari cacat-cacat kecil.

    • Aman.

    • Tahan lama — dengan kata lain, kendaraan itu dapat digunakan untuk pemakaian normal selama jangka waktu yang wajar setelah pembelian.

    • Usia dan harga kendaraan harus diperhitungkan saat memutuskan apakah kendaraan itu memenuhi kualitas yang layak.

    Jadi, berapa lama yang dianggap sebagai jangka waktu yang "wajar" setelah pembelian? Tidak ada jawaban yang ditentukan dengan jelas untuk pertanyaan ini, sehingga kewajiban hukum Wayne tidak pasti. Tetapi, untuk mobil Camry umur tujuh tahun dengan jarak tempuh sedang seperti yang dijual Wayne, tiga bulan atau 5000 kilometer (km) akan dianggap sebagai jangka waktu yang "wajar" bagi Wayne untuk secara hukum berkewajiban memperbaiki mobil itu. Klien bisa saja berpikir bahwa enam atau dua belas bulan itu "wajar". Tetapi jangka waktu dua belas bulan kemungkinan tidak akan diakui jika suatu saat diproses secara hukum di pengadilan.

    Wayne bertanya kepada klien itu berapa kilometer ia telah mengendarai mobil itu selama dua belas bulan. Jawabannya adalah 22.000 km. Hal ini menunjukkan pada Wayne bahwa ia sebenarnya tidak memiliki kewajiban hukum untuk memperbaiki kerusakan itu. Jangka waktu setelah penjualan maupun jarak yang sudah dilalui jauh melampaui batas garansi yang "wajar" untuk mobil dengan usia dan jarak tempuh seperti ini.

    Perintah Hukum dan/atau Moral?

    Meskipun Wayne merasa yakin ia tidak memiliki kewajiban hukum untuk membayar biaya perbaikan, keresahannya tentang masalah itu belum berakhir. Ia tahu bahwa legalitas dan moralitas bukanlah hal yang sama. Hukum biasanya menetapkan standar moral minimum masyarakat untuk melindungi orang-orang. Wayne teringat pada suatu kejadian yang diceritakan temannya baru-baru ini. Dewan Direksi perusahaan tertentu sedang rapat membicarakan sebuah proposal bisnis. Tanggapan awal yang dibahas adalah tentang legalitas proposal itu, yang segera menjadi jelas bahwa usulan itu tidak melanggar hukum. Namun kemudian seorang direktur berkata, "Memang legal, tetapi apakah itu benar?"

    "Begitu pertanyaan itu diajukan," kata teman Wayne, "keheningan menyelimuti ruang rapat, karena kami semua tahu jawabannya adalah 'Tidak', bahkan sebelum kami sempat membahas alasannya."

    Wayne tahu bahwa yang dikatakan hukum itu jelas tidak cukup. Tetapi, berpikir melampaui standar minimum hukum tidak selalu mudah. ​​Standar lebih tinggi apa yang harus dipatuhi sebuah perusahaan? Ada suatu masa di masyarakat Barat ketika prinsip-prinsip etika Kristen menjadi standar yang lebih tinggi yang diterima secara luas — jika tidak secara universal. Di Amerika, perusahaan J.C. Penney — jaringan toserba besar — ​​dikenal sebagai "Toserba Aturan Emas," dan dianggap tepat untuk membuat ketentuan layanan pelanggan yang didasarkan perintah-perintah Alkitab. Tak diragukan hal serupa berlaku (atau masih berlaku) di masyarakat yang diidentikkan dengan satu agama atau filsafat tertentu.

    Namun seiring dengan makin sekulernya masyarakat Barat, pertimbangan agama menjadi tidak dapat diterima lagi sebagai dasar etika perusahaan. Padahal, tidak ada sumber panduan etika lain yang dapat diterima secara luas seperti yang pernah diterima etika alkitabiah saat itu. Secara umum ini berarti tidak ada sumber panduan etika selain yang hanya sekadar mematuhi hukum. Ini menjadi masalah bagi banyak sekolah bisnis ketika mereka hendak membicarakan etika. Karena ingin menegaskan status sekuler mereka dan menunjukkan bahwa mereka bebas dari keberpihakan atau campur tangan agama, mereka akhirnya seringkali mengabaikan moralitas dan nilai-nilai. Hasilnya adalah fokus yang sempit yang hanya berkutat di sekitar hal-hal yang legal saja. Diskusi di antara para direktur perusahaan di atas menunjukkan kepicikan sikap ini. Mereka semua tahu ada yang salah, tetapi mereka tidak punya cara untuk membicarakannya.

    Perintah Yang Melampaui Hukum

    Meskipun ada banyak kesulitan, pendekatan etika Kristen mencari perintah Allah yang akan mengatakan dengan jelas apa yang benar dan yang salah. Dalam beberapa hal, tidak sulit menemukan ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang masalah kerja dan ketenagakerjaan, misalnya. Dalam hal-hal lainnya, mungkin sangat sulit untuk mengidentifikasi, memahami, atau menerapkan ayat-ayat Alkitab dengan tepat. Bagaimana kita tahu aturan dan prinsip yang mana yang berlaku untuk situasi tertentu? Ada banyak sistem yang berbeda dalam menerapkan ayat Alkitab.

    Jadi, dari mana Wayne mulai mencari jawaban atas persoalannya ini?

    Aturan untuk Setiap Situasi?

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Dalam kegalauannya, Wayne mencari pertolongan dari rak bukunya. Ia menemukan buku yang bisa jadi berisi hal yang ia cari — The Businessman’s Topical Bible. [1] Pandangan sekilas menunjukkan bahwa buku ini bisa menyelesaikan masalah. Buku ini mencari ayat Alkitab tertentu untuk memberi aturan yang berkaitan dengan masalah pekerjaan tertentu yang dihadapi.

    Wayne meninjau halaman-halamannya. Di dalam buku itu, penulis Mike Murdock mencantumkan 1550 ayat Alkitab untuk “memberikan wawasan Allah tentang situasi dan kondisi yang dihadapi setiap hari di dunia bisnis saat ini.” Ayat-ayat ini dikelompokkan dalam beberapa bagian, seperti “Sikap Anda”, “Pekerjaan Anda”, “Jadwal Harian Anda”, “Keluarga Anda”, “Keuangan Anda”, “Pebisnis dan Integritas”, atau “Ketika Pelanggan Tidak Puas."
    [2] Hampir 100 topik tercakup, yang meliputi berbagai situasi bisnis secara umum.

    Saat membaca beberapa bagian, Wayne memerhatikan bahwa penulis tidak mencoba menjelaskan metode tertentu dalam membuat keputusan. Ia hanya mencantumkan ayat-ayat Alkitab yang ia pikir relevan dengan setiap situasi, tanpa penjelasan atau penafsiran apa pun. Implikasinya ayat-ayat itu langsung diterapkan dan menjelaskan-sendiri.

    Wayne menemukan beberapa topik yang awalnya ia pikir bisa membantu mengatasi masalahnya:

    • “Ketika pelanggan tidak puas” yang mencantumkan ayat-ayat seperti 2 Timotius 2:24: “Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus pandai mengajar, sabar” dan Lukas 6:35: “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan apa pun. Upahmu akan besar.”

    • “Pebisnis dan Integritas,” yang mengutip Mazmur 112:5: “Bahagialah orang yang menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan adil.”

    • “Pebisnis dan Negosiasi,” yang meliputi 2 Timotius 1:7: “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan penguasaan diri.”[3]

    Setelah mempelajari lebih dalam, Wayne mendapati bahwa ayat-ayat Alkitab acak ini tidak banyak membantunya. 2 Timotius 2:24 tampaknya memberi nasihat yang bertentangan dengan 2 Timotius 1:7, dan bagaimanapun, 2 Timotius 1:7 berbicara tentang pengajaran, bukan tentang pembayaran kembali. Lukas 6:35 berbicara tentang musuh, bukan klien. Ayat-ayat ini tampaknya benar-benar tidak berlaku untuk situasi Wayne. Bahkan, salah satu masalah yang bisa timbul dari pendekatan semacam itu adalah, jika Alkitab dipandang sebagai "buku jawaban" atas semua situasi yang kita hadapi, kita bisa dengan mudah tergoda untuk mengambil ayat-ayat di luar konteksnya dan mengartikannya secara berbeda dari yang dimaksud penulis aslinya. (Ini sering disebut "proof-texting" – sekadar mencomot ayat Alkitab untuk mendukung suatu situasi tanpa memerhatikan konteks ayat keseluruhannya-Pen).

    Ketika kita memulai dengan "masalah" dan mencari "jawaban," kita sebenarnya sedang menggunakan Kitab Suci secara terbalik. Risikonya adalah kita hanya mencomot ayat yang sesuai dengan rancangan yang telah kita tentukan sebelumnya dan mengabaikan semua hal lainnya, bukannya membiarkan Alkitab berbicara sendiri dan membiarkan tema-tema dan pesan-pesan yang sesuai membuktikan diri melalui pembacaan dan pembacaan-ulang ayat itu.

    Sebagai contoh, ketika Wayne mempelajari lebih dalam bagian "Ketika pelanggan tidak puas," ia memerhatikan ayat Lukas 21:19: "Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu." Ketika ia membaca perikop ayat itu, ia menyadari bahwa ayat itu sama sekali tak ada hubungannya dengan pelanggan yang tidak puas dalam bisnis. Lukas sedang mengutip perkataan Yesus kepada para pengikut-Nya, yang memberitahukan apa yang harus mereka lakukan ketika mereka ditangkap dan dianiaya karena iman mereka! Ayat itu telah diambil di luar konteks, sama seperti banyak ayat lainnya di bagian-bagian yang dibaca Wayne.

    Ada bahaya lain dari mencari aturan Alkitab untuk setiap situasi. Tindakan semacam itu bisa dengan mudah tergelincir ke dalam semacam reduksionisme dan legalisme. Kita hanya perlu mengingat para ahli Taurat dan orang-orang Farisi untuk mengetahui seperti apa hal ini. Dalam kerinduan mereka yang tulus untuk menaati Allah, mereka memerinci hukum menjadi serangkaian hal-hal khusus yang boleh dan tidak boleh dilakukan, yang pada akhirnya membutakan mereka tentang legalisme dan kesombongan mereka sendiri, alih-alih membantu mereka menaati Allah.

    Jika ini terdengar seperti kritik keras terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi, mari kita perhatikan secara singkat saja di sini bahwa hal yang mereka coba lakukan itu sebenarnya mengagumkan. Mereka adalah beberapa dari sedikit orang yang secara serius berusaha menerapkan iman dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk bisnis. Mereka menyadari bahwa iman bukan hanya tentang menjalankan ritual di bait suci dan menghadiri pertemuan-pertemuan di sinagoge. Mereka berusaha menentukan apa artinya menjadi saleh dalam setiap aspek kehidupan. Masalahnya adalah, satu-satunya cara yang mereka tahu untuk melakukan hal itu adalah dengan berusaha menetapkan aturan untuk setiap situasi. Dan ini menimbulkan ledakan aturan-aturan yang jauh melampaui yang sebenarnya dikatakan Kitab Suci, namun tetap saja gagal mencakup setiap situasi.

    Sebagai contoh, ambillah kerinduan mereka untuk memenuhi perintah tentang memelihara hari Sabat. Dalam upaya memastikan seperti apa praktiknya tentang hal ini, mereka sama sekali telah mengabaikan dan kehilangan makna tentang hal itu, bahkan mencaci-maki Yesus karena berani menyembuhkan orang pada hari Sabat! Mereka menjadi tawanan dari aturan-aturan yang mereka buat sendiri, dan dengan berbuat demikian mereka justru menghalangi dan bukannya membantu orang mematuhi isi perintah itu.

    Jadi, upaya untuk merumuskan buku aturan lengkap berdasarkan Kitab Suci yang akan membahas setiap persoalan etis yang mungkin kita hadapi dalam konteks pekerjaan kita merupakan pencarian yang sia-sia dan tak ada gunanya. Alkitab bukan saja tidak mencakup ribuan situasi yang terjadi di dunia bisnis, tetapi bahkan jika kita berusaha memaksanya untuk melakukannya, kita justru berisiko mengatakan hal-hal yang sebenarnya tak pernah dimaksudkan ... atau yang lebih buruk lagi, meremehkan Kitab Suci dan tidak memahami maksudnya sama sekali.

    Namun, meskipun Alkitab tidak dapat dan tidak seharusnya diubah menjadi buku aturan yang komprehensif tentang etika kerja, Alkitab tetap berisi perintah/aturan yang penting dan relevan. Banyak perkataan dalam Kitab Suci yang jelas dan mudah diterapkan. Tidak setiap situasi yang kita hadapi di dunia kerja itu pelik. Dalam banyak kegiatan bisnis, tidak sulit untuk menemukan nasihat Alkitab. Jika Kitab Suci mengatakan (misalnya, Kolose 3:22) kita perlu bekerja sepenuh hati untuk tuan kita di bumi ("bos" atau majikan kita), maka kita harus melakukannya. Jika Alkitab memperingatkan kita terhadap kemalasan dan sikap tidak bertanggung jawab dalam mencari nafkah (misalnya, 2 Tesalonika 3:10-12), maka itulah yang seharusnya menjadi tujuan kita. Ketika Alkitab memerintahkan kita untuk menyelesaikan konflik dengan cara berbicara langsung dengan orang yang bermasalah dengan kita, ada pedoman yang perlu kita ikuti. Ketika Alkitab melarang kita untuk mencuri atau memfitnah orang lain, kita harus mematuhi perintah-perintah itu dengan tepat.

    Prinsip Yang Lebih Besar?

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Dengan rasa kecewa, Wayne menaruh kembali buku itu di tempatnya. Saat melakukannya, ia melihat judul lain yang menarik perhatiannya — Business By The Book.[32] Karena penasaran, ia mengambil buku itu dan langsung mendapati bahwa pendekatan penulis Larry Burkett adalah mengidentifikasi prinsip-prinsip dalam Alkitab. Yang dimaksud dengan "prinsip-prinsip" di sini adalah pengajaran yang lebih luas dan lebih umum daripada aturan-aturan, tetapi masih dalam bentuk perintah yang berasal dari Alkitab tentang hal yang benar yang perlu dilakukan.

    Subjudul buku itu, tulis Wayne, adalah "The Complete Guide of Biblical Principles for Business Men and Women” (Panduan Lengkap Prinsip-prinsip Alkitab bagi Pria dan Wanita Pengusaha." Buku ini tampak menjanjikan. Jadi ia mulai membaca. Jelas bahwa Business by the Book berasumsi Allah telah menetapkan dalam prinsip-prinsip-Nya petunjuk etis yang diperlukan untuk "menjalankan bisnis dengan cara-Nya." Menurut Burkett, Alkitab berisi berbagai ketetapan, perintah, dan prinsip yang merupakan “rencana Allah bagi umat-Nya dalam bisnis.”[33]

    Yang mendasar dari prinsip-prinsip ini adalah Sepuluh Perintah Allah — yang menurut Burkett merupakan standar minimum yang membedakan umat Allah dari orang-orang di sekitar mereka. Maka ada “standar minimum lain yang membedakan pengikut Allah dari orang lain di dunia bisnis.”[34]

    Dalam hal ini, Burkett mengembangkan “enam standar minimun bisnis yang alkitabiah.” Yaitu:

    • Mencerminkan Kristus dalam perilaku-perilaku bisnis.

    • Bertanggung jawab.

    • Menyediakan produk berkualitas dengan harga yang wajar.

    • Menghormati para kreditor.

    • Memperlakukan karyawan dengan adil.

    • Memperlakukan klien dengan adil.

    Aturan ini tidak terdapat di Alkitab, tetapi merupakan prinsip-prinsip yang diyakini Larry Burkett dapat disimpulkan langsung dari aturan-aturan dalam Alkitab. Maksudnya adalah agar aturan ini dapat mencakup lebih banyak situasi aktual yang terjadi di dunia kerja, karena aturan ini tidak sesempit aturan-aturan spesifik.

    Apakah Ini Membantu Wayne?

    Dua "standar minimum" tentang "menyediakan produk berkualitas dengan harga yang wajar" dan "memperlakukan klien dengan adil" jelas relevan dengan masalah Wayne. Namun, meskipun mengenal prinsip-prinsip ini baik, hal ini sebenarnya tidak membuat Wayne lebih dekat kepada yang harus ia lakukan. Ia masih bergumul untuk menentukan dengan tepat apa yang dalam kasus ini bisa menjadi perlakuan yang "adil" dan proses apa yang bisa ia gunakan untuk menentukan apa yang adil itu? Ia bisa setuju dengan dua prinsip Burkett itu — tetapi hal ini tidak membantunya melangkah lebih jauh. Masalah seperti ini umum atau biasa terjadi dalam metode-metode yang berbasis perintah. Jika perintah itu spesifik, perintah itu tidak dapat mencakup berbagai situasi yang terjadi di dunia. Jika peritah itu umum, perintah itu tidak dapat memberikan solusi aktual bagi masalah-masalah yang dicakupnya.

    Namun, buku itu memberi saran untuk membicarakan dengan teman tentang apa yang dianggap adil dalam situasi ini. Menurut Wayne saran ini merupakan hal yang baik untuk dilakukan. Ia suka dengan gagasan mengembangkan lingkungan yang lebih komunal untuk membantunya memperoleh perspektif tentang masalahnya. Melakukan hal ini berlawanan dengan sifat individualisme yang kuat yang kita semua hadapi, dan juga mengakui bahwa banyak tantangan etis yang rumit dan membutuhkan orang lain yang berpikiran tajam untuk memberikan perspektif dan dukungan.

    Wayne kurang tertarik dengan yang dianggapnya sebagai pendekatan yang sangat preskriptif dalam menggunakan Alkitab. Pendekatan itu tampaknya mereduksi Kitab Suci menjadi serangkaian prinsip dan aturan yang mudah dipahami - seperti buku petunjuk tentang “cara melakukan sesuatu.” Meskipun menggembirakan melihat pendekatan Business by the Book menanggapi serius tantangan agar iman kita memengaruhi dunia bisnis secara praktis, yang disayangkan pendekatan itu dibangun di sekitar prinsip-prinsip yang dipilih secara terbatas berdasarkan perspektif tertentu Burkett. Oleh karena itu, seperti banyak usaha lain yang serupa yang meringkas pendekatan Alkitab tentang bisnis, pendekatan itu memberi wawasan yang berguna dalam beberapa hal, tetapi juga menjanjikan lebih dari yang dapat direalisasikannya.

    Satu Prinsip atau Perintah?

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Wayne masih bergumul dengan masalahnya. Ia kembali ke rak bukunya untuk melihat apa lagi yang bisa membantunya. Buku John Maxwell, There’s No Such Thing as “Business” Ethics langsung menarik perhatiannya.

    John Maxwell berpikir, kita telah membuat pengambilan-keputusan Kristen menjadi jauh lebih rumit. Ia percaya bahwa semua perintah moral Alkitab pada dasarnya dapat direduksi menjadi satu perintah yang menyeluruh saja. Menurut Maxwell, tidak ada yang namanya etika bisnis: hanya ada satu aturan dalam membuat keputusan.[1] Dan itu adalah “Aturan Emas” yang disampaikan Yesus dalam Kotbah di Bukit - “Perlakukanlah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan; karena itulah seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Matius 7:12).

    Pedoman ini (“Bagaimana saya ingin diperlakukan dalam situasi ini?”) harus mengatur semua pengambilan keputusan etis.[2] Sederhana tetapi tidak mudah adalah cara Maxwell menjelaskan aturan ini. Namun, ia mengakui bahwa untuk menjelaskan aturan ini diperlukan sejumlah prinsip lain seperti:

    • Memperlakukan orang lain lebih baik daripada mereka memperlakukan Anda.

    • Berjalanlah sejauh dua mil.

    • Menolong orang yang tidak dapat menolong Anda.

    • Melakukan yang benar ketika melakukan yang salah itu wajar.

    • Menepati janji sekalipun hal itu menyakitkan.

    Meskipun ia tidak mengutip Alkitab secara eksplisit, pendekatan Maxwell jelas berasal dari Matius 7:12. [3] Selama dua abad terakhir, perkataan ini sudah dikenal sebagai Aturan Emas [4] dan Maxwell memerhatikan inti ajaran ini juga ada di dalam agama dan budaya lain. Jadi prinsip ini merupakan prinsip yang dapat dihargai orang Kristen maupun orang non-Kristen.

    Beberapa prinsip-penjelas yang disebutkan Maxwell juga jelas didasarkan pada bagian-bagian lain pengajaran Yesus dalam Kotbah di Bukit. Contohnya, "Memperlakukan orang lain lebih baik daripada mereka memperlakukan Anda" tampaknya merupakan implikasi logis dari Matius 5:43-48, dan "Berjalanlah sejauh dua mil" jelas merujuk ke ayat Matius 5:41.

    Satu hal yang membuat Wayne tertarik memakai Aturan Emas dalam pendekatan etika bisnis adalah karena pendekatan ini didasarkan pada ajaran Yesus. Mengingat kita sering bersalah karena menghindari Yesus dan etika-Nya, hal ini menyegarkan.

    Bagaimana Hal Ini Membantu Wayne Menyelesaikan Masalahnya?

    Aturan Emas tentu saja merupakan prinsip-penjelas yang sangat berguna bagi Wayne. Aturan ini membuatnya berpikir, "Bagaimana saya ingin diperlakukan jika saya berada dalam posisi klien saya?" Dan prinsip-prinsip terkait seperti "memperlakukan orang lain lebih baik daripada mereka memperlakukan Anda" dan "berjalanlah sejauh dua mil" benar-benar menantang Wayne untuk bertindak melampaui yang secara hukum diharapkan darinya. Tetapi pendekatan Maxwell masih kurang membantu Wayne dalam menentukan secara spesifik tentang langkah tanggung jawabnya.

    Tak ada keraguan bahwa Aturan Emas adalah inti dari ajaran etika Yesus. Kesederhanaan meninggikan satu prinsip jelas menarik dan berguna dalam beberapa hal, tetapi juga menunjukkan sikap terlalu menyederhanakan dan bisa menyesatkan dalam hal lain. Kebutuhan Maxwell untuk melengkapi dengan aturan-aturan yang memenuhi syarat lainnya menunjukkan bahwa hal ini benar.

    Beberapa asumsi mendasar Maxwell juga dipertanyakan, seperti keyakinannya bahwa perilaku etis itu menguntungkan (setidaknya dalam jangka panjang). Tak ada bukti yang meyakinkan bahwa ini benar. [5] Bahkan, seperti dikatakan Scott Rae dan Kenman Wong, jika hal itu selalu (kebanyakan) benar:

    …tidak akan diperlukan buku-buku atau kursus-kursus tentang etika bisnis, karena hampir semua orang akan melakukan perilaku moral yang baik karena prospek imbalan finansial.[6]

    Ada keterbatasan lain pada pendekatan Maxwell. Pendekatan ini berasumsi hanya ada dua pihak yang terlibat dalam keputusan (orang yang membuat keputusan dan orang yang dipengaruhi oleh keputusan itu). Selama keputusan itu menguntungkan kedua orang ini, menurut Aturan Emas itu yang terbaik. Wayne menyadari bahwa dalam situasi khususnya saat ini, hal itu sebagian besar benar. Namun, pikirannya menerawang kepada banyak keputusan lain yang harus ia buat, yang secara tidak langsung akan memengaruhi orang lain dan/atau juga lingkungannya.

    Sebagai contoh, belum lama ini Wayne menjual kendaraan besar dengan penggerak empat roda. Ia merasa sudah menerapkan Aturan Emas pada kliennya (memperlakukannya dengan hormat, memberinya tawaran terbaik yang bisa ia berikan, mengungkapkan semua informasi yang sesuai, dll). Tetapi dalam penjualan itu, satu hal yang tidak ia pertimbangkan adalah masalah yang lebih luas tentang seberapa besar dampak kendaraan itu, dengan pemakaian bahan bakarnya yang tinggi, terhadap lingkungan.

    Tiga Prinsip Penyeimbang

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Wayne hampir kehabisan buku. Namun, ketika ia melirik ke rak bukunya lagi, ia melihat buku Just Business tulisan Alexander Hill.[1] Hill, seorang profesor bisnis dan ekonomi, dalam buku ini mencoba menemukan jalan tengah antara pendekatan satu-aturan yang sederhana dan pendekatan dengan banyak aturan lain yang lebih rumit.

    Poin utamanya adalah etika bisnis Kristen seharusnya tidak dibangun di atas aturan-aturan, tetapi di atas karakter Allah yang tidak berubah. Saat kita mempelajari dan mengamati karakter Allah, kita dapat belajar untuk meniru Allah. “Perilaku yang sesuai dengan karakter Allah itu etis — yang tidak sesuai berarti tidak etis.”[2]

    Oleh karena itu, kita dipanggil untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip yang menolong kita meniru karakter Allah. Tidak banyak dari kita yang akan membantah hal itu, tetapi pertanyaan besarnya adalah… lalu seperti apakah Allah itu? Jawaban Hill adalah tiga karakteristik sifat Allah yang paling sering ditekankan dalam Alkitab, yaitu:

    • Kekudusan

    • Keadilan

    • Kasih

    Secara lebih spesifik, ia mendefinisikan ciri-ciri sifat ini sebagai berikut:

    Kekudusan

    Mengejar kekudusan berarti memiliki fokus tujuan yang tak teralihkan untuk menjadikan Allah sebagai prioritas tertinggi. Ini berarti menganggap semua hal lainnya sebagai kepentingan yang lebih rendah — hal-hal seperti harta benda, tujuan karier, dan bahkan relasi-relasi pribadi. Mengejar kekudusan mencakup semangat, kemurnian, akuntabilitas, dan kerendahan hati.

    Keadilan

    “Keadilan membawa ketertiban pada relasi-relasi manusia dengan menetapkan seperangkat hak dan kewajiban timbal balik bagi orang-orang yang hidup dalam konteks komunitas.”[3] Dua hak pribadi yang mendasar adalah hak untuk diperlakukan secara bermartabat dan hak menjalankan kehendak bebas. Kewajiban atau tanggung jawab (yang sebenarnya merupakan sisi lain dari mata uang keadilan) menuntut kita memperlakukan orang lain dengan cara yang memberikan hak-hak ini kepada mereka. Hak dan kewajiban berada dalam ketegangan, menjadi penyeimbang yang diperlukan satu sama lain. Sebagai contoh, hak pekerja untuk mendapat upah yang layak berarti pemberi kerja memiliki kewajiban untuk membayar pekerja dengan adil. Dan ini juga mewajibkan pekerja untuk bekerja dengan rajin untuk mendapatkan upahnya. Keadilan berlaku di kedua sisi.

    Kasih

    Hill mengakui bahwa kasih pada umumnya dipandang sebagai kebajikan utama.[4] Tetapi kasih perlu dimoderasi oleh dua karakteristik lainnya. Kontribusi utama kasih pada gabungan kekudusan-keadilan-kasih adalah penekanannya pada relasi melalui empati, belas kasih, dan pengorbanan diri. Kasih menciptakan ikatan di antara manusia, dan sebaliknya, perusakan ikatan ini menimbulkan penderitaan.

    Bangku Berkaki Tiga

    Jadi, pandangan Hill adalah "tindakan bisnis itu etis jika mencerminkan karakter Allah yang kudus, adil, dan kasih."[5] (Tidak ada makna khusus dalam pengurutan ketiga karakteristik ini. Bahkan, ketiganya saling terkait sepenuhnya dengan satu sama lain). Gambaran yang digunakan Hill untuk menjelaskan hal ini adalah bangku berkaki tiga. Jika kita hendak menjalankan bisnis secara alkitabiah, ketiga (kaki) aspek itu harus diperhitungkan secara konsisten; jika tidak, kita akan memiliki bangku yang sangat tidak seimbang.

    Sebagai contoh, jika kekudusan terlalu ditekankan dengan mengesampingkan kasih dan keadilan, maka hasilnya adalah legalisme, suka menghakimi, merasa benar sendiri, dan menarik diri dari masyarakat.

    Jika keadilan mendominasi, maka hasil yang tidak menyenangkan, emosi yang dingin, dan hukuman adalah kemungkinan yang akan terjadi.

    Jika kasih menjadi satu-satunya ukuran utama, segala sesuatu bisa dengan mudah tergelincir ke dalam sikap permisif dan pilih kasih, karena tidak ada kompas moral yang mengarahkan kita ke batas-batas yang diperlukan kasih.

    Alexander Hill mengecam segala upaya mereduksi Kitab Suci menjadi kitab aturan yang dapat diterapkan pada situasi spesifik.[6] Ia juga sangat menyadari kerumitan tentang dunia bisnis. (Ini merupakan hal yang dihargai Wayne).

    Meskipun pendekatan Hill dibangun di atas tiga prinsip (perintah-perintah umum yang disimpulkan dari sifat-sifat Allah), ia juga sering memikirkan konsekuensi-konsekuensi — khususnya dalam menentukan apakah keadilan telah ditegakkan.

    Bagaimana Wayne Terbantu oleh Pendekatan Ini?

    Wayne bergumul untuk bisa memahami dengan tepat seperti apa kekudusan itu dalam situasinya ini, dan ia mendapati prinsip keadilan dan kasih yang seimbang sangat menolong. Hak dan kewajiban tertentu apa yang ada dalam relasinya sebagai penjual dengan kliennya? Dan respons terhadap permintaan klien yang bagaimana yang adil bagi kedua pihak? Wayne memutuskan bahwa ia mungkin memiliki kewajiban untuk berkontribusi pada biaya perbaikan itu — meskipun ia berpikir klien itu juga memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi. Keadilan berlaku dua arah — bersikap adil terhadap klien maupun penjual.

    Mengingat Wayne sejak awal sudah memberi harga yang sangat murah kepada kliennya untuk mobil itu — dengan marjin keuntungan yang kecil — ia merasa tidak adil jika diharapkan membayar seluruh biaya perbaikan. Namun, prinsip kasih membuatnya juga memikirkan dengan saksama pertanyaan, "Apa artinya mengasihi orang ini bagi saya?" Sekali lagi, meskipun tidak ada hasil jawaban yang pasti, Wayne terdorong untuk memikirkan situasi keuangan kliennya. Apa dampak yang akan ditimbulkan tagihan biaya perbaikan yang cukup besar bagi klien tertentu ini?

    Beberapa Tanggapan Umum

    Salah satu kekuatan besar pendekatan Hill adalah kejelasan yang diberikannya saat memikirkan masalah-masalah etis yang lebih kompleks tanpa terlalu menyederhanakannya. Bangku kekudusan-keadilan-kasih jauh lebih seimbang daripada satu-prinsip Aturan Emas, dan jauh lebih praktis daripada pendekatan multi-aturan yang sudah kita bahas sebelumnya.

    Keterbatasan utama dari bangku berkaki tiga adalah kita masih dihadapkan pada tantangan untuk menentukan dengan tepat apa itu kudus, adil, dan kasih bagi pihak-pihak yang dipengaruhi. Dan apa yang Anda lakukan, misalnya, saat keadilan berbenturan dengan kasih? Mana yang diprioritaskan?

    Meskipun demikian, Wayne mulai merasa mengalami kemajuan. Mencapai suatu keputusan jelas tidak selalu mudah, tetapi bangku berkaki tiga Hill khususnya telah memberinya sesuatu untuk dilakukan. Jelas bahwa pendekatan etika apa pun yang kita adopsi, mengenali dan menyeimbangkan aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang relevan adalah hal yang penting. Tetapi selain itu, kita juga harus berusaha memperhitungkan konsekuensi dari berbagai tindakan untuk mengetahui keputusan yang mana yang mendatangkan hasil yang paling mengasihi, adil, dan kudus.

    Pendekatan Konsekuensi

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Sampai saat ini, Wayne masih bertanya, "Apa aturan-aturan yang harus saya patuhi?" — dan mencari aturan-aturan atau prinsip-prinsip dari Alkitab.

    Namun Wayne juga memakai cara lain dengan pendekatan yang mengevaluasi opsi mana yang akan mendatangkan hasil terbaik. Dengan kata lain, jika Wayne menelaah kemungkinan konsekuensi dari setiap respons dan membandingkan hasil-hasil yang mungkin itu, ia kemungkinan dapat menentukan berdasarkan hasil yang ideal. Di dalam pendekatan ini, Wayne berhenti mencari aturan-aturan yang menunjukkan apa yang harus dilakukan di setiap langkah, dan hanya akan melakukan apa saja yang diperlukan untuk mencapai hasil yang tepat.

    Pendekatan yang memperhitungkan konsekuensi dan membandingkan hasilnya ini sering dikenal sebagai "konsekuensialisme" atau "etika teleologi" — dari kata Yunani telos, yang berarti "akhir." Tidak seperti pendekatan perintah (yang opsi terbaiknya ditentukan oleh apakah tindakan itu sesuai dengan aturan yang berlaku), pendekatan konsekuensi ditentukan oleh hasilnya. Hasil akhirlah yang menentukan tindakan apa yang paling bermoral.

    Alkitab dan Konsekuensi

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Karena begitu banyak orang yang menganggap Alkitab sebagai buku aturan, dan memikirkan etika dalam arti Sepuluh Perintah Allah, mungkin mengejutkan mendapati betapa sering Kitab Suci sendiri mendorong pembacanya untuk memikirkan konsekuensi-konsekuensi dari tindakan mereka dan membiarkan hal ini memengaruhi pengambilan keputusan mereka.

    Kitab Amsal berulang kali melakukan hal ini. Kitab ini berisi banyak peringatan dan janji — pepatah-pepatah sarat makna yang memaparkan kemungkinan hasil dari tindakan tertentu. Sebagai contoh, Amsal 14:14 berkata, "Orang yang murtad hatinya akan kenyang dengan langkah-langkahnya, dan orang yang baik dengan apa yang ada padanya."[1]

    Yesus juga memperingatkan para pendengar-Nya untuk menimbang dengan hati-hati konsekuensi dari setiap keputusan mereka. Bahkan, dalam satu hal, seluruh hidup dan pelayanan Yesus dapat dipandang sebagai contoh nyata tentang membuat keputusan untuk kebaikan yang lebih besar. Ucapan Bahagia-Nya menunjukkan aspek konsekuensi yang tersirat — jika kamu ingin "dipuaskan," maka haus dan laparlah akan kebenaran, dst. (Matius 5:6). Begitu pula dengan banyak pesan Kotbah di Bukit lainnya, seperti:
    Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. (Matius 5:16)
    Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. (Matius 5:25)
    Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Matius 6:3-4)
    Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu. (Matius 6:15)

    Mengukur Yang Baik

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Memikirkan konsekuensi seharusnya menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan kita. Namun, seperti ditemukan Wayne, konsekuensialisme menimbulkan empat pertanyaan pelik. Yaitu:

    1. Apa yang baik? (Bagaimana kita menentukan apa yang baik? Sebagai contoh, baik itu agaknya lebih dari sekadar membuat klien - atau Wayne - lebih baik secara finansial)

    2. Baik untuk siapa? (Siapa sebenarnya yang diuntungkan dari keputusan ini?)

    3. Dapatkah kebaikan dihitung? (Dapatkah kita memperkirakan sepenuhnya apa yang akan dihasilkan dan yang baik dalam situasi tertentu?)

    4. Baik dalam konteks apa? (Dapatkah yang baik di satu konteks buruk di konteks lain?)

    Apa Yang Baik?
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Definisi kita tentang apa yang baik sangat penting. Pandangan konsekuensialis yang paling terkenal menentukan kebahagiaan atau kesenangan sebagai kebaikan tertinggi. Versi etika konsekuensialis ini disebut "Utilitarianisme." Apa pun yang menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi sebagian terbesar manusia adalah baik. Kebahagiaan dipandang sebagai tujuan hidup utama (dan dengan demikian implikasinya rasa sakit harus diminimalkan atau dihindari dalam segala situasi).

    Tetapi di dalam Alkitab kebahagiaan tidak dipandang sebagai kebaikan tertinggi. Bahkan ketika kebahagiaan menjadi pusat perhatian dalam Alkitab, kebahagiaan itu cenderung didefinisikan-ulang secara sangat berbeda dari pemahaman budaya kita. Sebagai contoh, Yesus membuat kita berpikir terbalik dalam Ucapan Bahagia-Nya. Dia menyatakan bahwa situasi-situasi yang bisa membuat kita merasa dirugikan atau sedih justru dapat menjadi situasi yang membuat kita diberkati atau bahagia!

    Jadi, bagaimana kita menentukan yang baik secara alkitabiah? Apa yang dianggap baik dalam Alkitab? Keadaan dunia sebelum Kejatuhan di Kejadian 3 dinyatakan “baik” dan “sangat baik” oleh Allah (Kejadian 1:4, 9, 12, 18, 21, 25, 32 dan 2:18-24). Keadaan ini dipulihkan dan diperluas ketika Kristus datang kembali dan memulai langit baru/bumi baru di Wahyu 21-22. Sejarah Israel; kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus; dan pemeliharaan Allah bagi komunitas Kristen semuanya merupakan tujuan utama pemulihan keadaan ini. Dan unsur-unsur keadaan ini dijelaskan di dalam banyak ayat Alkitab, seperti yang berikut ini:

    Manusia hidup dalam relasi yang menyenangkan dengan Allah dan orang lain. (Kejadian 2:19-25)
    Manusia melakukan pekerjaan yang menyenangkan dan menyediakan kebutuhan hidup bagi semua orang. (Kejadian 2:7-9)
    Manusia memiliki kedudukan yang sama di dalam masyarakat tanpa diskriminasi ras, kesenjangan ekonomi atau gender. (Galatia 3:23)
    Tidak ada sakit-penyakit. (Wahyu 21:4; 22:2)
    Masyarakat hidup dalam damai dan sejahtera. (Mikha 4:3-4)

    Meskipun kebahagiaan tampaknya jauh lebih memungkinkan di dunia seperti itu daripada di dunia yang rusak seperti yang kita jumpai di sekitar kita, tujuan utama Tuhan bukanlah membuat kita bahagia. Tujuan-Nya adalah membuat kita utuh seperti mula-mula kita diciptakan. Perjanjian Baru menunjukkan dengan jelas bahwa menerima penderitaan dan kesakitan sering menjadi jalan menuju keutuhan — bagi kita sendiri, maupun orang-orang yang ditolong melalui penderitaan kita. [1]

    Pilihan Yesus untuk tunduk pada jalan Salib adalah teladan kita. Dia mengorbankan diri-Nya demi membawa pembebasan dan kehidupan bagi orang lain: "Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Matius 20:28). [2]

    Baik untuk Siapa?
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Persoalan dalam etika konsekuensialis adalah menentukan konsekuensi siapa yang harus dioptimalkan.

    Kepentingan Pribadi

    Ada orang-orang yang memakai kepentingan pribadi sebagai tolok ukur. Mereka memakai pendekatan bahwa, jika suatu keputusan mendatangkan kebaikan bagi mereka, maka itu adalah pilihan terbaik. Aliran pemikiran ini dikenal sebagai “egoisme etis”.

    Anda tidak terkesan dengan pemikiran ini? Ehm, sebelum Anda menganggapnya salah sama sekali, pikirkan lebih lanjut masalah Wayne. Kepentingan pribadi tidak selalu berarti bertindak dari perspektif yang sepenuhnya egois. Wayne bisa saja memilih memperbaiki kerusakan mobil kliennya karena kepentingan pribadi. Ia bisa saja memutuskan bahwa reputasi dan kapasitas jangka panjangnya untuk mendapatkan bisnis baru tergantung pada memenuhi ekspektasi-ekspektasi klien.

    Jadi, yang tampak dari luar sebagai respons yang tanpa pamrih seringkali bisa jadi didorong oleh kepentingan pribadi. Dan ini tidak selalu buruk atau salah. Ini bahkan sering membawa hasil positif. Kita mungkin berkata, "Yang baik bagi saya seringkali akan baik bagi semua orang." Ekonom dan ahli filsafat Adam Smith (yang sering dikenal sebagai Bapak Kapitalisme Modern) berpendapat seperti ini ketika ia berbicara tentang orang-orang yang berkecimpung dalam bisnis:

    Dengan mengejar kepentingannya sendiri, ia sering lebih efektif dalam memajukan masyarakat daripada ketika ia benar-benar berniat memajukannya. Saya tidak pernah melihat banyak kebaikan dilakukan oleh orang yang berpura-pura berdagang untuk kepentingan umum.[1]

    Saat ini hal ini mungkin dianggap agak terlalu optimis dan naif. (Bahkan negara-negara yang paling kapitalis pun telah menambahkan banyak sekali undang-undang untuk melindungi pelanggan dan konsumen).

    Kebaikan Yang Lebih Besar

    Kelompok kedua yang lebih substansial mengatakan bahwa konsekuensi bisa menentukan keputusan etis kita dengan memakai kebaikan yang lebih besar sebagai tolok ukur. Kelompok ini memakai pendekatan bahwa keputusan terbaik adalah yang akan menghasilkan kebaikan terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Seperti telah kita ketahui, Utilitarianisme berusaha memaksimalkan kebaikan (kebahagiaan) bagi sejumlah terbesar manusia. Suatu tindakan tidak baik jika membuat sedikit orang sangat bahagia tetapi tidak membawa manfaat apa-apa — atau bahkan memperburuk banyak hal — bagi banyak orang. Sebaliknya, suatu tindakan dinilai baik jika membuat banyak orang bahagia dengan tidak membahagiakan sedikit orang.

    Namun, kita harus berhati-hati saat membuat keputusan yang didasarkan pada kebaikan mayoritas namun berpotensi menimbulkan konsekuensi negatif atau membahayakan yang minoritas — apalagi jika yang minoritas itu kelompok yang terpinggirkan dan hampir tak punya kekuatan. Dengan ketentuan yang semacam “tujuan-membenarkan-cara”, segala kejahatan bisa ditoleransi.[2]

    Alkitab secara konsisten memanggil umat Allah untuk membela dan melindungi orang miskin dan yang terpinggirkan. Sesungguhnya, para nabi secara teratur menantang umat Allah untuk memerhatikan orang yang paling lemah, bahkan menyatakan bahwa kesehatan masyarakat diukur dari cara mereka memperlakukan "yatim piatu, janda, dan orang asing" (tiga kelompok terpinggirkan yang signifikan).

    Namun, janganlah juga kita beranggapan bahwa tujuan tidak pernah membenarkan cara. Ada pilihan-pilihan sulit yang harus dibuat ketika alternatifnya benar-benar tidak ada yang baik atau benar. Dalam kasus-kasus seperti itu, pembuat keputusan hanya dihadapkan pada pilihan yang buruk dengan level-level yang berbeda (relatif). Teori perang disebut "teori perang yang adil" adalah salah satu contoh cara para ahli etika berusaha memberi panduan dalam situasi semacam itu.[3] Suatu pilihan terkadang membawa penderitaan bagi orang lain. Namun, betapapun penderitaan itu tak terelakkan, pilihan itu harus dilakukan dengan belas kasih dan kerendahan hati yang tulus.

    Apa Artinya Ini bagi Wayne?

    Mencoba memikirkan konsekuensi dari keputusannya sebenarnya jauh lebih mudah bagi Wayne dalam situasi khusus ini daripada dalam banyak kasus lainnya. Ini karena, sebagaimana didapati Wayne, hanya ada dua pihak yang benar-benar akan dipengaruhi oleh keputusannya — dirinya dan kliennya. Tidak seperti banyak keputusan lain yang ia hadapi sebagai pedagang mobil yang melibatkan berbagai konsekuensi yang tak dapat dijelaskan terkait dampaknya pada masalah lingkungan, sosial, dan komunitas, pilihan ini agak lebih sederhana. Kebaikan apa yang akan dihasilkan dari keputusan untuk membayar, atau setidaknya berkontribusi dalam biaya perbaikan? Jawabannya adalah ia akan memiliki klien yang puas dan mungkin terhindar dari kesulitan ekonomi yang tidak perlu. Ini bisa menjadi kebaikan yang lebih besar daripada tidak mau membayar dan mendapat keuntungan pribadi sebagai hasilnya.

    Dapatkah Kebaikan Dihitung?
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Konsekuensi bisa sulit diukur dan dihitung; bahkan kadang mustahil dilakukan. Dalam beberapa hal, kita mengetahui konsekuensi itu, tetapi tidak punya cara untuk mengukurnya. Apakah Anda akan lebih bahagia jika mendapat pekerjaan yang Anda sukai ataukah yang menghasilkan banyak uang? Dalam hal-hal lain, kita bahkan tidak mengetahui semua konsekuensi dari keputusan kita. Seringkali ada orang atau lingkungan terdampak yang tidak kita perhitungkan. Kadang bahkan tidak ada cara untuk mengetahui sebelumnya.

    Dalam banyak hal, Alkitab membantu kita menyadari keterbatasan kita sendiri dan perspektif kita yang sangat terbatas. Sebaliknya, Allah itu mahatahu dan mahabijaksana. Maka ketika manusia bertanggung jawab atas tindakannya dan diharapkan memikirkan baik-baik konsekuensinya, diperlukan kerendahan hati dan ketergantungan pada satu-satunya Pribadi yang mengetahui segala sesuatu.

    Kita sering benar-benar tidak memiliki cara untuk mengetahui konsekuensi yang akan dihasilkan tindakan kita, atau bahkan untuk menilai/mengukur yang baik. Karena itu, meskipun memikirkan konsekuensi merupakan hal yang penting dalam membuat keputusan, satu pendekatan ini saja tidak cukup dalam melakukan tindakan etis. Setidaknya, perintah dan konsekuensi perlu sama-sama dipertimbangkan. Perintah sering berfungsi mengarahkan kita kepada tindakan yang secara logis dapat diharapkan mendatangkan hasil yang baik, selain dari fakta bahwa tindakan itu sendiri pada dasarnya baik. Sebagai contoh, perintah "Jangan Berdusta" sangat mungkin menghasilkan konsekuensi yang lebih baik daripada sebaliknya, apalagi dalam situasi pelik yang sulit memprediksi konsekuensi dari berdusta, bahkan dusta "putih" yang niatnya baik. Pada saat yang sama, memikirkan konsekuensi sering membantu kita menentukan aturan mana yang berlaku dalam situasi yang mana. "Jangan Membunuh" berlaku dalam segala situasi karena konsekuensinya adalah kematian, yang tidak dapat dibatalkan oleh kekuatan manusia. Tetapi “Menghormati Hari Sabat” tidak berlaku dalam situasi yang menghalangi Anda menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, karena konsekuensi dari kesakitan dan penderitaan bertentangan dengan pemulihan dunia kepada keadaan yang dimaksudkan Allah (Lukas 13:10-16, Yohanes 5:1-9).

    Baik dalam Konteks Apa?
    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Konteks etika itu penting. Kadang karena tindakan bisa diartikan berbeda di antara orang dari budaya yang berbeda. Kadang karena situasi orang berbeda-beda.

    Salah satu contoh yang paling terkenal di Alkitab ditemukan dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat Korintus, pasal 8, ketika ia membahas keputusan-keputusan etis yang muncul tentang memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Masalah utamanya adalah, kata Paulus, perilaku kita akan memengaruhi "orang-orang percaya yang lemah." Dalam hal ini, Paulus lebih mengutamakan kasih dan kepentingan orang lain di atas kebebasannya sendiri untuk melakukan yang ia rasa pantas. Pertanyaannya bukan hanya, "Apakah itu benar?" tetapi juga, "Apa hasil yang akan ditimbulkannya?" Hal yang ia rasa bebas ia lakukan dalam satu situasi, tidak ia pilih untuk ia lakukan dalam situasi lain yang bisa menimbulkan kegusaran atau masalah. Paulus menentukan ketepatan atau kebijaksanaan tindakan itu berdasarkan konsekuensi dalam konteks tertentu ini.

    Ini tidak sama dengan relativisme moral. Mengakui bahwa nilai-nilai kristiani perlu diterjemahkan secara kontekstual, karena apa yang baik dalam satu situasi belum tentu baik dalam situasi lain, sangat berbeda dengan relativisme total yang menjadi ciri budaya kita, di mana tidak ada standar kebenaran atau moralitas yang absolut. Sebagai contoh, perintah untuk jangan berdusta adalah standar absolut. Tetapi standar itu berlaku secara berbeda dalam konteks yang berbeda: "Apakah Anda sudah membayar untuk hal ini?" memerlukan proses penerapan prinsip yang berbeda dari, "Apakah kemeja ini terlihat bagus untuk saya?"

    Semakin lama masyarakat tempat kita tinggal semakin multikultural. Kita bisa menghadapi banyak situasi di mana konteks menantang kita untuk mengubah tindakan kita. Sebagai contoh, jika Anda pemberi kerja, bagaimana Anda menentukan cuti berkabung ketika beberapa staf Anda berasal dari latar belakang etnis yang secara budaya sangat penting bagi mereka untuk mengambil cuti beberapa hari, beberapa kali dalam setahun, untuk menghadiri pemakaman kerabat dan teman?

    Atau anggaplah Anda seorang penghasil tenda dan Anda memutuskan untuk membuat tenda di bagian dunia yang jauh lebih miskin karena biayanya jauh lebih murah. Bagaimana Anda menentukan bayaran yang tepat untuk para karyawan Anda?

    Masalah konteks melampaui masalah lintas budaya. Masalah ini juga merupakan faktor yang menentukan apakah perlu memperlakukan orang secara berbeda karena situasi mereka. Sebagai contoh, seorang dokter mungkin mengenakan tarif yang berbeda berdasarkan pendapatan pasien. Seorang pedagang mobil mungkin mempertimbangkan situasi ekonomi seseorang saat menegosiasikan harga, seperti yang dilakukan Flow Automotive ketika mereka menyadari bahwa orang miskin cenderung membayar lebih mahal untuk mobilnya karena mereka cenderung kurang terlatih dalam bernegosiasi.

    Bagaimana Masalah Kontekstual Memengaruhi Pengambilan Keputusan Wayne?

    Ketika Wayne mulai memikirkan bagaimana situasi-situasi tertentu ini memengaruhi tindakan yang mungkin dilakukan, ia mendapati dirinya berusaha memahami dan mengantisipasi sejumlah hal.

    Kita sudah menyebutkan pertanyaan tentang situasi keuangan kliennya. Jika Wayne menolak membayar biaya perbaikan, atau hanya berkontribusi sebagian, apa dampak finansial yang mungkin dialami klien itu dan keluarganya? Apakah hal itu mungkin akan membuat stres? Wayne menganggap hal ini perlu dipertimbangkan. Bahkan, baginya, hal ini merupakan bagian dari pertanyaan yang lebih luas tentang kasih dan keadilan.

    Bagaimana jika Wayne tahu bahwa klien itu murah hati dan tidak itung-itungan dalam hal waktu dan uangnya sendiri — suka melayani orang lain dan sungguh-sungguh ingin membuat perbedaan di dunia? Jika demikian, Wayne mungkin akan merasa lebih mantap untuk berlaku murah hati padanya.

    Pada saat yang sama, Wayne tahu ia juga harus mempertimbangkan kemampuan membayarnya sendiri, serta dampaknya bagi dirinya dan keluarganya jika pada akhirnya ia hanya mendapat sedikit atau sama sekali tidak mendapat keuntungan dari penjualan ini.

    Ada sudut pandang lain. Haruskah Wayne memikirkan baik-baik preseden yang sedang ia ciptakan? Jika ia bersikap lunak, apakah klien-klien lainnya juga akan datang padanya untuk meminta bantuan? Wayne tersenyum masam memikirkan kemungkinan itu. Tetapi, bagi dirinya secara pribadi, itu bukan masalah besar. Faktor-faktor lain yang telah ia pertimbangkan, sejauh yang ia ketahui, jauh lebih penting. Ia tidak keberatan jika mendapat reputasi sebagai "orang yang lembek," selama ia puas dengan kesesuaian pilihannya.

    Hal ini membuat Wayne berpikir tentang bagaimana karakternya dibentuk untuk membuat pilihan moral.

    Jika Anda datang ke sini dari artikel Presentasi Etika Sistematis, klik di sini untuk kembali ke awal Presentasi Sistematis. Jika tidak, silakan lanjutkan membaca yang berikut ini.

    Pendekatan Karakter

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Dua pendekatan utama dalam pengambilan keputusan yang digunakan Wayne untuk menganalisis masalah penjualan mobilnya sejauh ini — pendekatan perintah dan konsekuensi — berkaitan dengan moralitas tindakan/pilihan itu sendiri. Namun, ada cara lain untuk memikirkan pilihan etis — yang tidak berfokus pada tindakan, tetapi pada orang yang membuat keputusan. Ini sering disebut etika "kebajikan" atau "karakter", karena perhatian utamanya pada karakter orang yang melakukan tindakan.

    Alih-alih bertanya, "Apa yang benar?" atau "Apa yang akan mendatangkan hasil terbaik?" pendekatan kebajikan bertanya, "Akan menjadi orang seperti apakah saya?" Asumsinya, jika karakter Anda semakin dibentuk menuruti karakter Allah, Anda akan semakin terarah untuk melakukan hal yang benar/baik. Karena itu, pendekatan ini lebih merupakan etika tentang menjadi daripada melakukan.

    Pendekatan ini juga mengakui adanya kekurangan dalam proses yang kita semua sadari. Mengetahui hal yang benar tidak menjamin hal yang benar itu akan dilakukan! Ini karena dibutuhkan karakter untuk melakukan hal yang benar.

    Sebelumnya kita telah membahas bahwa memahami karakter Allah dapat memengaruhi cara kita dalam membuat keputusan. (Kita telah membahas khususnya tentang kasih, keadilan, dan kekudusan Allah). Tujuannya adalah agar kita dapat memakai karakteristik-karakteristik itu sebagai kisi-kisi dalam menentukan keputusan yang benar. Ini termasuk pendekatan perintah karena kita berusaha mengikuti karakter Allah, bukan membentuknya! Dalam pendekatan karakter, kita bertanya bagaimana tindakan kita akan membentuk atau memengaruhi karakter kita. Karena itu, mari kita ubah penekanannya secara halus. Mari kita lihat bagaimana karakter Allah membentuk karakter kita. Sebagai orang Kristen, tujuan kita adalah menjadi orang yang lebih kudus, adil, dan mengasihi, sehingga ciri-ciri ini tertanam dalam diri kita sebagai setelan bawaan. Sekali lagi, ini bukan lagi tentang karakter Allah. Sekarang penekanannya pada karakter kita.

    Ada beberapa alasan mengapa hal ini sangat penting. Pertama, cara kita berbicara tentang masalah-masalah etis sejauh ini menunjukkan proses pengambilan keputusan yang agak ideal, di mana kita memiliki waktu dan juga kemampuan untuk berpikir logis dalam menghadapi masalah-masalah yang pelik dan membuat keputusan yang tepat. Dan kita kadang memang berlaku seperti itu. Tetapi sebagian besar keputusan kita dibuat dalam sepersekian detik dalam keadaan terburu-buru? Cara kita menyikapi keluhan atasan kita, menyelesaikan kesalahpahaman dengan klien, menasihati pelayan toko yang kurang berpengalaman, memotivasi tim yang kinerjanya buruk - tindakan-tindakan ini seringkali dilakukan tanpa banyak berpikir sama sekali. Pastinya akan jauh lebih efektif jika kita dapat bersandar pada sifat-sifat karakter atau kebajikan yang sudah tertanam dalam diri kita untuk membawa kita secara naluriah kepada keputusan dan tindakan yang benar.

    Kedua, mungkinkah berbagai pilihan etis kita sebenarnya sudah ditentukan sebelum kita membuat keputusan? Dengan kata lain, karakter kita secara otomatis memengaruhi banyak hal yang akan kita putuskan. Bahkan ketika kita punya waktu untuk memikirkan keputusan dengan saksama, keputusan kita cenderung sangat dipengaruhi oleh kebiasaan dan karakter kita, baik atau buruk. Karena itu, keputusan-keputusan etis kita kebanyakan ditentukan oleh siapa kita (karakter dan nilai-nilai yang kita anut) daripada proses pengambilan keputusan yang kita gunakan. Iris Murdoch berkata, "Di saat-saat krusial ketika harus memilih, sebagian besar proses memilih sudah selesai."[1]

    Ketiga, pendekatan berbasis karakter memudahkan kita untuk memikirkan peran komunitas dalam pembentukan dan keputusan etis. Meskipun kita sering menganggap diri kita sebagai orang yang bebas membuat keputusan pribadi, keputusan kita dapat dipengaruhi secara signifikan oleh komunitas kita. Seperti akan kita lihat, pendekatan berbasis karakter seringkali lebih efektif dalam memakai sumber-sumber etika yang dapat diberikan komunitas kita.

    Karena alasan-alasan ini, sebagian orang percaya bahwa daripada berfokus pada pengambilan keputusan yang baik, lebih baik berkonsentrasi pada pengembangan karakter yang baik. Mereka berkata, jika kebajikan dan kebaikan berkembang dalam hidup kita, keputusan yang baik akan secara otomatis mengikuti.

    Menentukan Apa Itu Kebajikan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Jika pengembangan karakter dan kebajikan sedemikian penting, maka ada beberapa pertanyaan kunci yang harus kita hadapi. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:

    • Bagaimana kita menentukan kebajikan?

    • Siapa sebenarnya yang menentukan kebajikan?

    • Bagaimana sebenarnya kebajikan itu berkembang?

    Pertanyaan pertama mungkin yang paling mudah dijawab. Kamus Oxford mendefinisikan "kebajikan" sebagai "kualitas yang dianggap baik atau diinginkan secara moral." Setiap budaya sangat menghargai kualitas-kualitas tertentu. Dalam konteksnya, kualitas-kualitas ini dianggap kebajikan.[1]

    Namun, pertanyaan kedua tentang siapa sebenarnya yang menentukan kualitas tertentu itu baik agak lebih sulit. Dari tahun ke tahun, sudah banyak ahli filsafat, teolog, dan pemikir yang mencoba mendaftarkan dan mendefinisikan kebajikan. Sebagai contoh, Aristoteles menekankan kebajikan Yunani klasik: keadilan, ketabahan, kebijaksanaan, dan pengendalian diri. Ambrosius (339-397), seorang pemimpin Kristen mula-mula, menyatakan hal-hal ini tersirat dalam Alkitab, tetapi ia juga menambahkan tiga kebajikan alkitabiah (atau “teologis”) spesifik lain — iman, pengharapan, dan kasih (1 Korintus 13:13). Sejak abad keenam, Paus Gregorius Agung membandingkan ketujuh kebajikan ini dengan sifat-sifat buruk yang sepadan — yang sekarang kita kenal sebagai “tujuh dosa maut.”[2] Baru akhir-akhir ini para teolog Protestan mulai serius meneliti kebajikan. Glen Stassen dan David Gushee berkata bahwa “kebajikan adalah ciri karakter yang memungkinkan kita berkontribusi (secara positif) pada komunitas.”

    Jadi, apa artinya ini bagi kita sebagai pengikut Yesus? Siapa atau apa yang seharusnya menentukan apa itu kebajikan bagi kita? Jelaslah bahwa Alkitab adalah jawabannya, dan di dalam Kitab Suci, titik fokus dalam menentukan kebajikan-kebajikan Kristen adalah kehidupan dan pengajaran Yesus. Yesus adalah ungkapan karakter Allah yang paling nyata bagi kita. Jadi, jika kita ingin mengetahui kebajikan apa saja yang harus dikembangkan, mengamati kualitas-kualitas yang dicontohkan dan dibicarakan Yesus adalah titik awal terbaik kita. Kita setuju dengan Stassen dan Gushee yang berkata bahwa:

    Alkitab tidak datar; Kristus adalah puncak dan pusatnya. Tidak ada masalah moral yang layak dibahas tanpa memikirkan makna Yesus Kristus sebagai bahan pertimbangan untuk masalah itu.

    Bagian terbesar ajaran etika Yesus terdapat dalam Kotbah di Bukit. Inilah tempat yang baik untuk memulai jika kita ingin memikirkan kebajikan-kebajikan spesifik yang harus didambakan para pengikut Yesus. Secara lebih spesifik, di dalam Ucapan Bahagialah, Yesus menyoroti kebajikan-kebajikan utama — kualitas-kualitas dan perilaku-perilaku yang sangat Dia hargai itu. Miskin rohani, murah hati, haus dan lapar akan kebenaran, lemah lembut/rendah hati, pembawa damai, berbelas kasih (Matius 5:1-12) — adalah ciri-ciri karakter yang harus menjadi tujuan utama kita.

    Di dalam Kotbah di Bukit, Yesus berulang kali menghubungkan tindakan kita secara langsung dengan karakter kita — dengan sikap hati dan motif mendasar kita. Perkataan-perkataan Yesus lainnya di kitab-kitab Injil menguatkan hubungan ini. Sebagai contoh, “Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat: percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan…” (Markus 7:21-22).

    Gereja mula-mula juga menyadari pentingnya meneladani Yesus. Tulisan-tulisan dalam surat rasul Paulus menekankan pentingnya pengembangan karakter. Sebagai contoh, ia menasihati jemaat di Galatia agar tidak memuaskan keinginan "daging", tetapi mempersilakan Roh Kudus menumbuhkan "buah" seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:16-25). Kepada jemaat di Filipi, Paulus menulis, "Hendaklah kamu… tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri.... Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:3-5).

    Kristus adalah contoh dan teladan kita. Karakter-Nyalah yang harus kita kembangkan. Referensi-referensi ini menunjukkan penekanan yang sangat kuat di Perjanjian Baru untuk menumbuhkan karakter Yesus.

    Bagaimana Karakter Memengaruhi Keputusan Wayne?

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Semua pembicaraan tentang kebajikan ini membuat Wayne agak bingung. Sulit untuk mengevaluasi bagaimana karakternya sendiri berkembang. Pada kenyataannya, karakter sejati mungkin lebih akurat diukur melalui pengamatan orang lain daripada analisis kita sendiri.

    Namun Wayne merasakan reaksi yang signifikan di sepanjang proses pengambilan keputusannya. Alih-alih merasa mudah untuk menolak keluhan kliennya tentang mobil dan permintaan untuk memperbaiki, ia justru merasa iba pada klien itu. Wayne benar-benar ingin menyikapi dengan cara yang menunjukkan kasih dan kepedulian. Sesungguhnya, jika ia melihat ke belakang dan meninjau perkembangan karakter kristianinya yang lambat namun nyata sepanjang hidupnya, ia secara khusus menyadari (dan menghargai) pertumbuhannya dalam belas kasih, kebaikan, dan kemurahan hati.

    Akibatnya, ia mendapati dirinya ingin menanggapi positif permintaan kliennya itu dengan cara yang kemungkinan tidak dilakukan banyak orang lain. Maka, ketika Wayne mulai menghitung konsekuensi, pertimbangannya lebih kepada seberapa besar yang mampu ia bayar untuk membantu daripada bagaimana ia dapat menolak permintaan klien itu. Tampaknya setelan bawaannya sudah ditentukan oleh nilai-nilai yang membentuk karakternya.

    Bagaimana Karakter Bertumbuh dan Berkembang dalam Hidup Kita?

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Kita semua mengenal orang-orang yang hidupnya memancarkan karakter. Cara mereka bekerja di dunia usaha menunjukkan integritas atau konsistensi dengan aspek-aspek kehidupan mereka yang lain. Namun, bagaimana sebenarnya persisnya mereka menjadi orang-orang berkarakter seperti itu?

    Dalam budaya kita yang sangat individualistis, mudah untuk menganggap bahwa hal itu kemungkinan besar akibat dari komitmen yang kuat pada Kristus, kesalehan dan disiplin yang ketat, serta kerinduan untuk menumbuhkan karakter Yesus dalam hidupnya.

    Namun, meskipun unsur-unsur ini jelas penting, dan Roh Kudus pasti mengubah kita dengan cara yang sangat pribadi, perubahan seperti itu jarang terjadi di luar konteks yang lebih luas. MacIntyre maupun Hauerwas (dua pendukung etika kebajikan baru-baru ini) menekankan peran komunitas yang sangat besar dalam membentuk dan mewujudkan hidup yang berkebajikan. Bahkan mereka mengatakan bahwa penyampaian cerita-cerita (narasi) di komunitas tertentu merupakan pembentuk utama karakter kelompok. Cerita melibatkan imajinasi kita dan membuat kita terlibat dengan cara-cara yang sering kali menyingkapkan diri. Cerita memiliki kekuatan untuk membantu mengembangkan karakter maupun komunitas.

    Sebagai contoh, cerita yang paling berpengaruh dalam budaya Amerika selama bertahun-tahun adalah cerita tentang orang yang memimpin dirinya sendiri yang mampu melepaskan diri dari penindasan konformitas sosial. Dari Frank Sinatra yang menyanyikan lagu "My Way," ketenaran Babe Ruth, hingga film "Pirates of the Caribbean" (hanya satu contoh saja — karena sebagian besar film Hollywood adalah variasi-variasi dari cerita ini), cerita yang sangat berpengaruh adalah cerita tentang kemenangan kepribadian batin individu atas beban ekspektasi sosial yang menghancurkan. Membaca surat kabar dan menelusuri bagaimana peristiwa dan pemberitaan surat kabar tentang hal itu terkait dengan cerita yang berpengaruh ini, entah buruk atau baik, bisa jadi menarik.

    Bagi orang Kristen jelas Alkitab merupakan narasi/cerita utama kita. Alkitab juga merupakan cerita kemenangan seorang individu — Yesus — atas penindasan masyarakat. Namun, Yesus berulang kali berkata bahwa Dia tidak bertindak dari dirinya sendiri. Sebaliknya, Dia berkata bahwa pimpinan-Nya datang dari luar, yaitu dari Allah (contohnya, Yohanes 12:49-50). Dan kita harus menjadi seperti Yesus (1 Yohanes 3:2). Cerita Kitab Suci mengingatkan kita tentang menjadi orang seperti apa kita diciptakan Allah serta bagaimana perspektif dan nilai-nilai Allah seharusnya membentuk kehidupan kita di dunia. Cerita ini membuat kita dapat menemukan diri kita sendiri, dan mengundang respons kita dengan implikasi-implikasi moral yang mendalam.

    Bagi Hauerwas, Stassen, dan Gushee, cerita spesifik yang paling penting bagi orang Kristen adalah cerita tentang Yesus, yang karakter dan kebajikan-Nya harus kita teladani.

    Tetapi cerita/narasi Injil tidak sampai kepada kita dengan fokus yang tajam. Tanpa kita sengaja, kita sering menyerapnya melalui sebuah filter — filter budaya dan komunitas iman kita. Cara kita menceritakan-lagi cerita ini — kebajikan apa yang kita tekankan, kegagalan apa yang kita soroti, dan bagaimana kita saling mendorong untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan dan tindakan-tindakan yang digambarkannya — semuanya memiliki dampak signifikan pada cara kita bertumbuh dalam kebajikan.

    Sesungguhnya, kita perlu betul-betul menyadari kecenderungan semua komunitas iman untuk membingkai-ulang Yesus dengan cara yang tidak terlalu menantang gaya hidup dan pandangan dunia kita. Menjadikan Yesus menurut gambaran kita sendiri adalah godaan yang kita semua hadapi. Gereja-gereja Barat saat ini hidup dalam masyarakat dengan kekayaan dan kemakmuran yang sangat meluas, dan dengan cerita kemenangan memimpin diri sendiri yang diterima dalam tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Bahaya yang kita hadapi adalah kita menyaring secara tidak sengaja dampak sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan yang sangat besar dari kehidupan dan pengajaran Yesus. Ketika hal itu terjadi, sebagaimana yang sering terjadi, yang tersisa dalam narasi komunitas iman hanyalah Yesus yang membatasi diri untuk menangani sejumlah kecil masalah moral pribadi saja.

    Ini bukanlah Yesus yang ada dalam kitab-kitab Injil. Karena Yesus Kristus memberikan teladan dan mengajarkan etika kehidupan yang konsisten, bukan etika yang sangat terbatas dan dibatasi pada masalah-masalah perilaku seksual dan kejujuran pribadi saja — betapapun pentingnya hal itu. Etika Yesus mencakup jauh lebih dari itu.

    Jadi, karakter ilahi tidak hanya berkembang sebagai hasil transformasi pribadi. Dalam konteks komunitaslah karakter itu terutama dirawat dan dikembangkan. Dan komunitas itu harus menemukan cara untuk menyingkapkan titik-titik buta yang tak terelakkan dari pandangannya pada Yesus. Seperti yang ditulis Benjamin Farley:

    Perjanjian Baru, selaras dengan Alkitab Ibrani, menekankan konteks yang tak tergantikan dalam komunitas orang percaya, yang dalam hal ini adalah gereja, ekklesia. Di dalam konteks iman, pengharapan, dan kasih yang merawat inilah kehidupan Kristen, sebagai sebuah proses, berlangsung. Bukan persoalan pribadi saja, tetapi dihadapkan pada budaya asing dan bermusuhan itulah yang membentuk tindakan moral Kristen. [1]

    Jika Anda datang ke sini dari artikel Presentasi Etika Sistematis, klik di sini untuk kembali ke awal Presentasi Sistematis. Jika tidak, silakan lanjutkan membaca yang berikut ini.

    Mengembangkan Karakter Yesus di Dunia Kerja

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Etika kebajikan memiliki pelajaran-pelajaran penting untuk diajarkan pada kita:

    • Membuat keputusan etis di dunia kerja jauh lebih dari sekadar mengembangkan proses pengambilan keputusan yang baik. Bahkan jauh lebih dari sekadar menyetujui "Kode Etik." Menjadi seperti siapa kita itulah yang secara substansial membentuk pilihan-pilihan etis kita.

    • Kita tidak dapat mengembangkan karakter Allah sendirian. Kita membutuhkan orang lain. Ketika kita berkomitmen pada komunitas yang berusaha menceritakan kembali, memahami, menerima, dan menghidupi cerita Injil, kita jauh lebih mungkin menjadi orang yang berkebajikan. Dan dunia bisnis pastinya membutuhkan orang-orang yang berkarakter.

    Komunitas seperti itu harus menemukan cara untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang karakter Yesus, mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit dan tidak mengenakkan yang membantu kita menghadapi pandangan kita yang terbatas tentang kehidupan yang baik. Ketika hal ini terjadi, kita cenderung tidak akan meniru banyak contoh menyedihkan tentang orang Kristen yang menjalankan bisnis dengan cara yang sama sekali tidak Kristen.

    Jika Anda datang ke sini dari artikel Presentasi Etika Sistematis, klik di sini untuk kembali ke awal Presentasi Sistematis. Jika tidak, silakan lanjutkan membaca yang berikut ini.

    Menggabungkan Semuanya

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Perintah, Konsekuensi, Karakter – tiga pendekatan berbeda dalam membuat keputusan etis. Dan, seperti yang telah kita lihat, ada banyak variasi dalam aliran-aliran ini. Kebenarannya, dalam situasi nyata sehari-hari, banyak orang menggunakan kombinasi dari beberapa pendekatan. Contohnya, sulit menerapkan perintah atau aturan tertentu tanpa memikirkan juga konsekuensi dari tindakan-tindakan itu. Pada saat yang sama, ketika kita memikirkan dan membandingkan konsekuensi-konsekuensi yang berbeda, kita perlu mengidentifikasi aturan-aturan yang mengarahkan kepada hasil-hasil itu. Dan pada akhirnya, apa pun yang kita putuskan dalam teori itu, karakter dan keterbukaan terhadap pimpinan Roh Kuduslah yang sebenarnya seringkali menentukan bagaimana kita bertindak.

    Jadi, dalam membuat keputusan moral, kita akan mendapati diri kita berada dalam tarian etis yang melibatkan interaksi-interaksi yang saling memengaruhi di antara berbagai pendekatan ini.

    Rangkuman Ketiga Pendekatan

    Deontologi

    Teleologi

    Kebajikan

    Konsep Kunci

    Perintah/Aturan

    Konsekuensi/Hasil

    Karakter

    Pertanyaan Utama

    Apa aturan yang berlaku?

    Apa yang akan mendatangkan hasil terbaik?

    Apakah saya akan menjadi orang baik?

    Yang manakah dari pendekatan-pendekatan ini yang Anda sukai dalam pengambilan-keputusan Anda sendiri? Seringkali hal ini tergantung pada sifat situasi yang Anda hadapi. Sebagai contoh, apakah Anda sedang berusaha menyelesaikan persolan moral yang besar ataukah pilihan moral sehari-hari? Mari kita jelaskan maksudnya.

    Persoalan Moral Yang Besar

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Terkadang persoalan moral yang besar membutuhkan dan memungkinkan pertimbangan yang matang dalam jangka waktu yang lama. Dalam kasus-kasus seperti itu, salah satu cara melakukan proses pengambilan keputusan ini bisa sebagai berikut:[1]

    1. Mengumpulkan semua fakta yang relevan.

    2. Memperjelas masalah-masalah etis utama.

    3. Mengdentifikasi aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang relevan untuk kasus itu.

    4. Merujuk ke sumber-sumber panduan yang penting — terutama Alkitab, dengan keterbukaan pada cara terbaik dalam membaca Alkitab untuk mengatasi situasi ini. Namun juga merujuk ke sumber-sumber relevan lainnya.

    5. Membuat daftar semua tindakan alternatif.

    6. Membandingkan alternatif-alternatif itu dengan prinsip-prinsip.

    7. Menghitung kemungkinan hasil dari setiap tindakan dan memikirkan konsekuensi-konsekuensi.

    8. Merenungkan keputusan Anda dalam doa di hadapan Tuhan.

    9. Membuat keputusan dan menindaklanjutinya.

    Seperti yang dapat Anda lihat, menentukan arah/tindakan ketika dihadapkan pada keputusan moral yang besar membutuhkan banyak “darah, keringat, dan air mata” (usaha keras dan pengorbanan)! Terutama bagi organisasi. Tetapi dalam memutuskan persoalan sehari-hari yang kita hadapi sebagai individu, kehidupan yang berjalan cepat kemungkinan membuat kita lebih efisien.

    Pilihan Moral Sehari-hari

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Kita sudah menyatakan bahwa sebagian besar keputusan etis dalam kehidupan dan pekerjaan kita sehari-hari dibuat secara instan, seringkali di bawah tekanan dan tanpa banyak kesempatan untuk berpikir panjang. Keputusan-keputusan ini bersifat naluriah, hasil dari kebiasaan-kebiasaan seumur hidup dan juga dipengaruhi oleh budaya tempat kita bekerja, kelompok sebaya dan komunitas iman tempat kita berada. Keputusan-keputusan ini dipengaruhi oleh sejauh mana kebajikan dan karakter Kristen telah tertanam di dalam diri kita. Inilah pemuridan Kristen yang umum.

    Tetapi, pentingnya “menjadi” sebagai dasar untuk kita “melakukan” tidak berarti kita tidak memerlukan penalaran moral. Dalam kehidupan yang baik, masih ada tempat untuk memahami aturan-aturan dan memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi – tetapi di sini, aturan dan konsekuensi berada di bawah kebajikan dan dipandang sebagai pelayan, bukan tuan. Sebagai contoh, orang yang memiliki kebajikan kejujuran pun harus memahami dan mematuhi Prinsip Akuntansi Yang Berlaku Umum (Standar Pelaporan Keuangan Internasional, di luar AS) agar dapat membuat laporan-laporan keuangan yang akurat. Istilah seperti "menurut pendapat kami" dan "tak dapat diperkirakan" memiliki definisi khusus yang harus diikuti. Tetapi orang yang jujur ​​selalu menggunakan aturan yang meningkatkan keakuratan laporan keuangan secara menyeluruh, dan tidak pernah mencari cara untuk mengaburkan kebenaran tanpa melanggar hukum.

    Penekanan pada kebajikan tidak menghilangkan masalah moral. Bahkan, kebajikan yang saling bersaing bisa menarik kita ke arah yang berbeda-beda. Contohnya adalah ketegangan yang kadang timbul antara keadilan dan kedamaian, kesetiaan dan kebenaran, atau keberanian dan kehati-hatian.

    Membuat keputusan moral yang baik dalam hal ini bukan tentang mencari satu jawaban yang benar (karena jawabannya kemungkinan tidak hanya satu), tetapi lebih tentang memperjuangkan respons-respons kristiani yang seimbang yang mengakui semua prioritas yang saling bersaing.

    Kita tidak hanya dibiarkan berjuang sungguh-sungguh setiap waktu untuk mengenali dan menjalani respons-respons kristiani yang sempurna. Sesungguhnya, menyadari bahwa kita hidup di dunia yang telah jatuh berarti menyadari bahwa seringkali tidak ada respons kristiani yang sempurna — bahwa kadang semua tindakan mengandung konsekuensi negatif. Hanya oleh kasih karunia Allah kita dapat diampuni dan hidup merdeka sebagai orang Kristen. Tidak lagi sangat bergantung pada upaya melakukan hal yang benar untuk mendapat perkenan Allah, tetapi tetap berkomitmen untuk berusaha melakukan hal yang benar sebagaimana ditentukan oleh karakter Tuhan dan Juru Selamat kita, tukang kayu dari Nazaret, yang jejak langkah-Nya kita ikuti saat kita melakukan pekerjaan sehari-hari.

    Klik di sini untuk kembali ke bagian awal artikel Etika Kerja

    Klik di sini untuk membaca Presentasi Etika Sistematis

    Klik di sini untuk membaca Daftar Pustaka

    Penginjilan – Memberitakan Injil di Tempat Kerja (Tinjauan Umum)

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Pemikiran bahwa setiap orang Kristen dipanggil untuk memberitakan Injil menggelisahkan banyak orang Kristen, karena kebanyakan dari kita merasa tidak berbakat untuk menjadi penginjil. Meskipun menjadi bagian dalam perjalanan iman seseorang itu menggetarkan, namun memulai percakapan rohani dengan rekan-rekan di tempat kerja dapat menimbulkan kecemasan besar.

    Mungkin hal ini sedang Anda alami – dengan banyak alasan yang dapat dimengerti. Anda mungkin merasa tidak siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan rekan-rekan kerja pada Anda. Anda mungkin merasa memulai percakapan rohani di tempat kerja itu tidak cocok – atau begitulah yang Anda ketahui. Anda mungkin merasa agak terintimidasi dengan sikap-sikap bermusuhan terhadap Kekristenan yang ditunjukkan beberapa rekan kerja. Anda mungkin berpikir membagikan iman Anda bisa menimbulkan konflik dan membangkitkan perasaan negatif pada rekan-rekan kerja. Anda mungkin merasa tidak mampu karena—ehm, Anda tahu iman Anda sendiri belum patut dicontoh di tempat kerja.

    Definisi Penginjilan Yang Dapat Dilaksanakan

    Penginjilan adalah

    proses organis terlibat secara intensional

    pribadi-pribadi dalam perjalanan rohani mereka

    bergabung dengan Roh Kudus

    memerhatikan di mana Dia sudah bekerja

    menolong pribadi-pribadi mengambil satu langkah lebih dekat kepada Allah

    dan hidup baru dalam Kristus

    menjadi cerminan unik dari gambar Kristus

    sebagai orang-orang yang dibangkitkan, dimuliakan sesuai rencana Allah

    Keberhasilan dalam penginjilan terus-menerus mengambil inisiatif, memakai karunia-karunia dan kesempatan-kesempatan yang diberikan Allah pada kita untuk menolong orang-orang mengambil satu langkah lebih dekat kepada Kristus.

    Tetapi bagaimana jika Anda tahu bahwa menjadi bagian dari perjalanan iman seseorang kepada Kristus dapat dimulai dengan hal-hal sederhana seperti minum kopi bersama seorang teman, menghibur orang yang mengalami minggu yang kacau di tempat kerja, atau menawarkan bantuan kepada pimpinan atau rekan kerja yang sedang tertekan? Bagaimana jika kita sungguh-sungguh memercayai perkataan Yesus tentang mengabarkan Injil kepada orang lain?

    • Bagaimana jika kita percaya bahwa Yesus memberi kita kuasa untuk bertindak atas nama-Nya dalam memenuhi panggilan kita sebagai saksi-saksi-Nya di tempat kerja, bahwa “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” (Matius 28:18)?

    • Bagaimana jika janji-Nya benar bahwa “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yohanes 14:26)?

    • Bagaimana jika kita yakin dengan kehadiran Kristus—bahwa Dia menyertai kita senantiasa di segala tempat, dan dalam setiap situasi (Matius 28:20)?

    • Bagaimana jika dalam interaksi-interaksi singkat dan bincang-bincang informal tentang iman kita, kita tahu Roh Kudus bekerja di hati dan pikiran orang untuk “menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yohanes 16:8)?

    • Bagaimana jika kita tahu bahwa kita tidak harus sempurna dan selalu mengatakan hal yang tepat – bahwa Allahlah yang bekerja untuk menarik orang kepada diri-Nya dan “tidak ada seorang pun yang datang kepada-Ku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa” (Yohanes 6:44)?

    • Bagaimana jika kita mengerti bahwa dengan melakukan tugas kita dengan baik di tempat kerja, kita bisa menjadi terang bagi rekan-rekan kerja “supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Matius 5:16)?

    Inilah yang dipercayai orang Kristen mula-mula dan cara mereka melihat peran mereka dalam memenuhi Amanat Agung untuk menjadikan murid di segala suku bangsa—yang mengubah dunia. Inilah kisah sukses komunikasi terbesar dalam sejarah manusia—bagaimana Injil tersebar sampai ke wilayah Mediterania dan akhirnya ke seluruh ujung bumi. Sesaat menjelang kenaikan-Nya ke surga, Yesus menjelaskan rencana strategis-Nya untuk menjangkau seluruh dunia dengan Injil Kerajaan Allah kepada para pengikut-Nya. Yesus mendekati mereka dan berkata “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Matius 28:18-20). “Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). Murid-murid abad pertama menerima tugas ini, dan pengikut Yesus berkembang dari beberapa ratus sebelum hari Pentakosta menjadi lebih dari enam juta jiwa pada akhir abad ketiga [1]—pertumbuhan yang luar biasa pesat menurut perhitungan siapa pun.

    Tugas Memberitakan Injil

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Kita mungkin tergoda untuk percaya bahwa pertumbuhan eksponensial gereja mula-mula adalah hasil dari kotbah-kotbah dahsyat Petrus, Paulus dan beberapa pembicara berbakat lainnya yang pekerjaannya memberitakan Injil. Atau kita mungkin memuji strategi Paulus yang menargetkan pusat-pusat budaya penting dan menanam gereja-gereja yang dapat menyebarkan Injil ke seluruh daerah pedalaman di sekitarnya. Upaya-upaya ini memang patut diperhatikan – bagaimanapun semuanya tertulis di Alkitab [1] —tetapi yang jauh lebih penting adalah fakta bahwa orang Kristen mula-mula dari setiap etnis, gender dan lapisan masyarakat sangat bergairah untuk memperluas Kerajaan Kristus. Mereka berkomitmen untuk “bertindak sebagai duta-duta besar Kristus kepada dunia yang memberontak, apa pun konsekuensinya.”[2]

    Orang Yang Pergi ke Gereja Percaya tentang Hal Membagikan Iman, tetapi Kebanyakan Tak Pernah Melakukannya

    Studi yang diadakan LifeWay Research menemukan bahwa 80 persen dari orang yang pergi ke gereja sebulan sekali atau lebih, percaya bahwa mereka punya tanggung jawab pribadi untuk membagikan iman mereka, tetapi sebagian besar tidak pernah melakukannya.

    Sejarah dan Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Injil tersebar dengan sangat cepat di sepanjang rute-rute perdagangan, tempat-tempat umum, dan dari rumah ke rumah – atau dalam bahasa Yunaninya, dari oikos ke oikos. Oikos adalah unit sosial dan ekonomi dasar di dunia Yunani-Romawi —bukan hanya sebagai rumah tempat tinggal keluarga, tetapi sebagai tempat bisnis rumahtangga kecil di zaman kuno yang meliputi para anggota keluarga besar, karyawan, dan pelanggan yang sering datang ke tempat itu.

    Melalui percakapan-percakapan informal di dalam dan di antara oikos-oikos inilah orang-orang percaya, laki-laki dan perempuan, memberitakan Injil kepada teman, kerabat, rekan kerja, kolega, pelanggan, murid, guru dan sesama prajurit – melalui jaringan relasi di tempat kerja mereka. Mereka bukan rohaniwan profesional, tetapi pekabar Injil informal.

    Sejak di Kisah Para Rasul 8 kita sudah mendapati bahwa orang-orang yang terusir dari Yerusalem sebagai akibat penganiayaan sesudah Stefanus mati dibunuh sebagai martir bukanlah para rasul tetapi para misionaris “amatir” yang membawa Injil bersama mereka ke mana pun mereka pergi…. Penginjilan mereka tentu bukan mengajar secara formal, tetapi melalui percakapan informal dengan teman dan kenalan yang dijumpai secara tak terduga, di rumah-rumah dan kedai minuman, di jalan-jalan dan pasar-pasar. Mereka pergi ke mana saja sambil membicarakan Injil; mereka melakukannya secara alami, dengan antusias dan dengan keyakinan mereka yang tidak dibayar untuk mengatakan hal-hal itu.[3]

    Sebagai akibatnya, tempat kerja menjadi medan paling strategis dalam pekabaran Injil gereja mula-mula. Saat ini, gereja Yesus Kristus juga sedang mengalami pertumbuhan eksponensial yang sama di Dunia Selatan – yang menimbulkan pertanyaan: Dengan adanya lebih dari 340.000 gereja [4] dan lebih dari 600.000 rohaniwan [5] serta 75 persen orang Amerika yang “mencari cara-cara untuk hidup lebih bermakna,” [6] mengapa populasi Kristen di Barat menyusut, sementara populasi non-religius meningkat? [7]

    Dengan semakin jauhnya budaya Barat dari Kristus, kita bisa berasumsi bahwa menjangkau orang dengan Injil menjadi makin sulit. Dalam satu hal, ini benar. Memang makin sulit untuk mengajak orang pergi ke gereja, mendengarkan pemaparan Injil dari orang asing, atau menghadiri kebaktian kebangunan rohani. Tetapi pintu Injil tetap terbuka lebar melalui relasi-relasi pribadi. Sesungguhnya, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa 90 persen anggota jemaat yang datang pada Kristus ketika mereka dewasa, menjadi percaya karena relasi mereka dengan satu atau lebih orang Kristen di luar gereja.[8] Inilah yang membuat tempat kerja sangat strategis. Di situlah sesungguhnya pekerjaan yang kita lakukan setiap hari tidak hanya berkontribusi bagi kemajuan umat manusia, tetapi juga memberi bukti nyata bahwa Injil benar-benar Kabar Baik.

    Kita Dipanggil untuk Melayani Sebagai Duta Besar Kristus

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Orang Kristen di segala zaman dipanggil untuk menjadi duta-duta besar Kristus. Duta besar adalah utusan pribadi yang dikirim kepala negara. Sama seperti kepala negara mengutus duta besar dengan tugas diplomatik, Kristus mengutus kita dengan tugas merepresentasikan Dia dalam perkataan maupun perbuatan.

    Jadi kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. (2 Korintus 5:20)

    Tugas ini memiliki dua aspek—menyampaikan pesan-pesan dari penguasa tertinggi dan merepresentasikan penguasa tertinggi itu secara pribadi. Menyampaikan pesan memerlukan perkataan, tetapi merepresentasikan secara pribadi membutuhkan lebih dari sekadar perkataan. Diperlukan juga perbuatan, misalnya dengan menunjukkan karakter penguasa itu dan melakukan hal-hal yang dapat mencapai tujuan-tujuan penguasa itu. Sebagai duta besar Kristus, kita menyampaikan pesan Injil Kristus dan kita hidup dengan cara yang menyatakan kasih Allah kepada orang-orang yang kita jumpai di tempat kerja dan di mana pun kita berada.

    Perkataan Yesus di Kisah Para Rasul 1:8 memperjelas gambaran tentang menjadi duta besar ini: “Kamu akan saksi-saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi.” Yesus mengutus para pengikut-Nya bukan untuk pergi menyaksikan, tetapi untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Pergi menyaksikan mungkin artinya hanya menyampaikan perkataan-perkataan tentang Allah di suatu tempat yang jauh dari rumah, tetapi menjadi saksi berarti menjalani kehidupan yang menunjukkan kasih Allah di mana pun kita berada. Sesungguhnya, Alkitab tak pernah memerintahkan kita untuk pergi menyaksikan. Berfokus pada menyampaikan sebelum menunjukkan akan memisahkan siapa kita dari apa yang kita katakan—dan itulah yang menjadi masalah. Ahli sejarah gereja Michael Greene mengamati bahwa dampak gereja mula-mula pada dunia tergantung pada hubungan antara kehidupan pembawa pesan dengan pesan/perkataan mereka.

    Sudah menjadi aksioma (pernyataan yang dianggap benar tanpa perlu pembuktian-Pen) bahwa semua orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Kristus bukan hanya melalui kehidupan (life), tetapi juga dengan perkataan (lip). [1]
    Hubungan antara keyakinan (iman) dan perilaku (perbuatan) terlihat jelas dalam literatur Kristen. Keduanya tak dapat dipisahkan tanpa akibat-akibat yang buruk. Di antaranya, berakhirnya penginjilan yang efektif. [2]

    Perhatikanlah urutan dalam perintah-perintah Paulus kepada jemaat Kolose, bagaimana perbuatan mendahului percakapan rohani.

    Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. (Kolose 4:5-6)

    Ketika kita melayani orang lain dengan perbuatan kita, kita membawa kasih Yesus kepada mereka. Penginjilan bukan hanya tentang membawa orang kepada Yesus, tetapi juga membawa Yesus kepada mereka – untuk menunjukkan dan kemudian menyampaikan. Membawa Yesus kepada orang lain —melayani mereka —adalah kunci strategi Paulus dalam membawa orang kepada Yesus. Di dalam 1 Korintus 9:19 ia berkata, “Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba bagi semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” Paulus bersedia menjangkau orang lain di mana pun mereka merasa nyaman, entah itu dalam arti tempat, bahasa atau sejarah, dan bukan membuat mereka yang harus menyesuaikan diri dengannya.[3]

    Empat Cara Melayani Sebagai Duta Besar Kristus di Tempat Kerja

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Seperti apakah menjadi duta besar Kristus di tempat kerja — melayani Kristus di tempat kerja dan merepresentasikan Dia di sana? Meskipun tidak ada dari kita yang dapat melakukan hal ini dengan sempurna, ada empat komponen yang bisa membuat kesaksian kita dapat dipercaya orang lain—kompetensi, karakter, kepedulian, dan percakapan yang bijak. Kami mendorong Anda untuk memikirkan bagaimana Allah dapat memakai elemen-elemen ini untuk menarik orang kepada diri-Nya. Hal-hal ini bukan formula, teknik, atau langkah-langkah untuk sukses, tetapi sebagai cara kita menunjukkan kepada rekan-rekan kerja dan kolega bahwa iman kita nyata. Ketika kami meninjau konsep-konsep ini untuk diri kami sendiri, kami sendiri terus-menerus menemukan aspek-aspek yang perlu kami tingkatkan. Tetapi tidak ada yang begitu gagal sampai membuat putus asa. Bahkan, ketika kami melakukan kesalahan dan dapat mengakui kekurangan-kekurangan kami dengan rendah hati, kesaksian kami menjadi lebih dapat dipercaya. Sekalipun ada kemungkinan untuk sempurna, orang tidak akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Kristen yang sempurna. Untuk mengidentifikasi diri sebagai saksi seperti kita, mereka perlu tahu bahwa kita pun membutuhkan kasih karunia.

    Memberitakan Injil melalui Kompetensi

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Tugas pertama duta besar Kristus di tempat kerja adalah melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya – karena kompetensi kita sangat memengaruhi kredibilitas kita. Kompetensi berarti melaksanakan pekerjaan kita sebaik-baiknya, mencurahkan segenap hati kita di dalamnya, memberikan produk dan layanan terbaik yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang logis.

    Alkitab berbicara tentang pentingnya melakukan pekerjaan baik di sejumlah ayatnya. Sebagai contoh:

    Pernahkah engkau melihat orang yang mahir dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri. (Amsal 22:29)
    Apa pun yang dapat dikerjakan dengan tanganmu, kerjakanlah dengan sekuat tenaga. (Pengkotbah 9:10)
    Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk TUHAN. (Kolose 3:23)

    Kita tak perlu heran jika pekerjaan kita sangat terkait erat dengan kesaksian kita. Pikirkan hal berikut:

    • Allah itu Pekerja dan Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya yang seperti itu. Di dalam Kejadian 1 dan 2, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Pekerja – pencipta, perancang, pembangun, penguasa dan pengembang properti— dan sejak awal, bekerja sudah menjadi bagian dari rencana Allah untuk manusia - sebagai bagian integral yang menyatu dengan kehidupan manusia. Allah memerintahkan manusia pertama, nenek moyang kita, untuk mengusahakan dan merawat Taman Eden dengan rajin (Kejadian 2:15), untuk produktif dalam pekerjaan mereka membuat dunia berkembang sepenuhnya (Kejadian 1:28).

    • Kehidupan, masa depan dan identitas Adam berkaitan erat dengan bumi dan pekerjaannya di dalamnya. [1]

    • Kita mencerminkan gambar Allah melalui pekerjaan kita. Sebagai duta besar Kristus, kita punya tanggung jawab untuk menyatakan Kristus dalam konteks dinamika pekerjaan kita sendiri. Michael Williams menulis, “Kita ada untuk tujuan menggambarkan Allah, mencerminkan Dia kepada dunia, menirukan Dia dalam kehidupan orang-orang dan masyarakat sekitar kita.” [2]

    • Kualitas pekerjaan dan sikap kita dalam bekerja berbicara banyak kepada orang lain tentang kita – dan tentang Allah yang kita layani. Dapatkah Anda bayangkan Yesus memakai bahan yang kurang bermutu, menunjukkan kinerja tukang kayu yang buruk, atau meminta bayaran yang terlalu tinggi kepada pelanggan-Nya? Jika Dia bekerja seperti itu, para pelanggan yang mendengar Dia mengajar akan punya alasan untuk menyimpulkan bahwa teologi-Nya sama reyotnya dengan meja-meja-Nya.

    • Paulus berkata bahwa produk dan layanan yang kita berikan dalam memenuhi kebutuhan orang lain dan memengaruhi kemajuan hidup manusia merupakan hal penting dalam kita mengasihi sesama: "Tentang kasih persaudaraan, … kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, mengurus persoalan-persoalan sendiri, dan bekerja dengan tanganmu sendiri, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada siapa pun." (1 Tesalonika 4:9-12)

    • Ketika kita melakukan pekerjaan baik, Allah dimuliakan. Abraham Kuyper menjelaskan, "Di mana pun manusia berada, apa pun yang ia lakukan, untuk apa pun ia menggunakan tangannya dalam pertanian, perdagangan, industri, atau memakai pikirannya dalam dunia seni atau sains, ia bagaimanapun selalu berdiri di hadapan wajah Allahnya, ia dipekerjakan untuk melayani Allahnya, ia harus tekun menaati Allahnya, dan di atas segalanya, ia harus bertujuan untuk memuliakan Allahnya."[3]

    • Melakukan pekerjaan baik dengan hati seorang hamba dan “seperti melakukan untuk Tuhan” membawa kemuliaan bagi Allah dan sangat membantu kita untuk memiliki hak untuk didengar. Sebaliknya, kita merusak kesaksian kita jika kita melalaikan tanggung jawab kita, bekerja asal-asalan, atau bekerja hanya untuk kepentingan diri sendiri saja.

    Intinya: Di tempat kerja, orang menilai kita pertama-tama dari pekerjaan kita, bukan teologi kita. Jika kita ingin orang lain memerhatikan iman kita, kita harus memerhatikan pekerjaan kita.

    Memberitakan Injil melalui Karakter

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Karakter adalah prasyarat kedua untuk memiliki pengaruh rohani. Setiap manusia diciptakan segambar dengan Allah dan secara naluriah menghormati sifat-sifat karakter Allah yang menciptakan kita – dan ini berlaku juga pada orang-orang yang tidak mengenal Allah. Manusia secara universal menghargai Buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak para pemuka agama tertarik pada Yesus karena Dia menunjukkan karakteristik-karakteristik ini. Saat ini, karakter seperti-Kristus masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat.

    Orang-orang non-Kristen memerhatikan sukacita kita saat kita bekerja, damai sejahtera kita di tengah kekecewaan, serta keramahan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, hal-hal seperti ini terlalu sering kurang tampak pada orang-orang di antara kita yang seharusnya menunjukkan karakter Kristus kepada dunia. Pada tahun 2013, Grup Barna meneliti tentang kemunafikan di antara orang Kristen. Di antara orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Kristen, penelitian yang didasarkan pada sejumlah sikap dan tindakan yang dipilih-sendiri ini menemukan bahwa 51 persen menggambarkan dirinya lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, suka menghakimi) dibandingkan dengan 14 persen saja yang meneladani sikap dan tindakan Yesus (tidak mementingkan diri sendiri, empati, kasih).[1] C.S. Lewis menjelaskan hal ini:

    “Ketika orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat Kekristenan tak dapat dipercaya oleh dunia luar… Hidup kita yang ceroboh memengaruhi pembicaraan dunia luar, dan kita memberi mereka alasan untuk berbicara dengan cara yang menimbulkan keraguan tentang kebenaran Kekristenan.[2]

    Jika perkataan kita hendak berarti bagi orang lain, perkataan itu harus keluar dari hidup yang berintegritas, jika tidak, perbuatan kita akan dicemari perkataan yang bernada kebohongan. Integritas bisa sangat menantang di tempat kerja. Tekanan untuk menanggalkan nilai-nilai alkitabiah dan mengikuti cara hidup yang berbeda pada hari Senin dapat mengalahkan komitmen-komitmen tipis yang dibuat di gereja pada hari Minggu. Kristus memanggil kita untuk menghidupi nilai-nilai Kekristenan kita sama utuhnya di tempat kerja maupun di tempat lain, sekalipun harus dengan pengorbanan. Ketika orang melihat bahwa kita tidak sekadar pencitraan, tetapi berusaha dengan rendah hati untuk hidup berintegritas, mereka akan memerhatikan.

    Orang juga akan memerhatikan, bukan ketika kita gagal – yang pasti akan kita alami – tetapi ketika kita gagal dan mengakui bahwa kita tidak mampu mengatasinya. Barangkali yang lebih penting daripada melakukan segala sesuatu dengan benar adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan dan meminta maaf kepada orang-orang yang kita lukai. Salah satu unsur karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita tidak sempurna. Jerram Barrs mengingatkan kita tentang dampak kerendahan hati kita pada orang lain,

    Sebagai orang Kristen, kita sering berperilaku seakan-akan kita memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen, dan tidak ada yang diterima. Kita bayangkan bahwa mengakui kelemahan atau kebutuhan kita akan merendahkan martabat kita. Orang Kristen dipandang “memiliki segalanya” dan kita takut bahwa membiarkan orang tidak percaya melihat yang tidak kita miliki, akan menghilangkan kepercayaan mereka terhadap kita, dan terhadap Injil. Tetapi ini adalah kebodohan, karena kebenarannya kita selalu lemah dan memiliki kekurangan, dan Injil tidak dilayani dengan berpura-pura sebaliknya. Mengakui, seperti Yesus, bahwa kita membutuhkan kebaikan, karunia, hikmat, atau nasihat dari orang tidak percaya adalah hal yang akan membesarkan hati dan memuliakan orang-orang yang mungkin sudah berpikir hanya akan mendapat cemoohan atau sikap merendahkan dari kita.[3]

    Intinya: Melakukan pekerjaan baik saja tidak cukup, harus ada yang menarik dari karakter kita. Dan terkhusus, kemampuan untuk mengakui kesalahan dan kegagalan akan tampak sangat mencolok di mata budaya sekitar kita. Orang perlu mencium keharuman aroma kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang tampak paling jelas melalui karakter rendah hati yang Dia hasilkan di dalam kita.

    Memberitakan Injil dengan Menunjukkan Kepedulian

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Ketika kompetensi dan karakter bergabung, keduanya membangun kepercayaan yang memberi kredibilitas pada perkataan kita. Jika digabungkan lagi dengan kepedulian yang tulus pada orang lain, kesaksian kita menjadi sangat efektif. Memang benar, orang tidak peduli seberapa banyak yang Anda tahu sampai mereka tahu seberapa banyak Anda peduli.

    Menunjukkan kepedulian kepada orang lain bukanlah opsi bagi para pengikut Kristus, tetapi hal yang biasa dilakukan orang Kristen—buah alami dari relasi kita dengan Allah yang murah hati [1]. Kata-kata ramah dan tindakan murah hati yang memengaruhi orang lain muncul dari dalam/hati, bukan karena kewajiban atau sekadar menunaikan tugas agama. Ketika orang melihat kepedulian kita yang tulus, mereka melihat Yesus hidup di dalam kita.

    Kita menunjukkan kepedulian dengan perkataan kita. Apa yang kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya berbicara keras tentang siapa kita, apa yang memotivasi kita, dan seberapa besar kita peduli pada orang lain. Rasul Paulus tidak memberi banyak ruang pada kata-kata yang sembrono:

    Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh anugerah (Efesus 4:29)

    Renungkanlah hikmat tentang berkata-kata dari kitab Amsal berikut ini:

    Jawaban yang lemah-lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan kemarahan. (Amsal 15:1)
    Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang. (Amsal 25:15)
    Bibir orang benar mengetahui hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik tipu muslihat. (Amsal 10:32)
    Siapa memberi jawaban yang benar, mengecup bibir. (Amsal 24:26)
    Bagaikan apel emas di pinggan perak, demikianlah perkataan yang diucapkan pada waktu yang tepat. (Amsal 25:11)
    Dan ketika kita harus memberi nasihat, kita harus mengatakan “kebenaran di dalam kasih” (Efesus 4:15).

    Kita menunjukkan kepedulian dengan mendengarkan perkataan orang lain. Kesediaan kita untuk mendengar dan menerima masukan dari orang lain memberi pesan kuat yang berkata, “Aku memerhatikan yang kamu pikirkan; kamu punya sesuatu yang berharga untuk dikontribusikan.” Ketika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mendengarkan dengan penuh perhatian dan rendah hati, kita mengundang kepercayaan dan kerja sama di tempat kerja maupun dalam relasi-relasi pribadi.

    Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah. (Yakobus 1:19)

    Kita mendengarkan bukan hanya karena itu kepemimpinan yang baik atau menunjukkan hal yang baik tentang kita, tetapi karena orang yang berbicara itu adalah individu yang diciptakan segambar dengan Allah dan patut kita hormati sekalipun gambar itu sudah rusak.

    Kita menunjukkan kepedulian dengan perbuatan kita. Berbicara dan mendengarkan dengan ramah harus disertai perilaku yang sesuai. Cara kita menanggapi orang lain di tengah stres dan sukses kehidupan sehari-hari akan menunjukkan apakah kita lebih peduli pada orang lain atau diri kita sendiri. Di dalam kitab-kitab Injil, Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya bahwa kepemimpinan rohani bukanlah tentang melakukan hal-hal besar, tetapi tentang menjadi pelayan.

    Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu, siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba bagi semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:42-45)

    Tindakan-tindakan kebaikan kecil dapat menerangi ruang gelap atau tempat kerja yang gelap.

    Janganlah tiap-tiap orang hanya memerhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:4)
    Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia. (Filipi 2:14-15)

    Mengingat persepsi negatif yang dimiliki banyak orang tentang orang Kristen, Kekristenan tampaknya tidak seperti iman yang dapat dipahami, apalagi bermanfaat, bagi banyak orang, kecuali jika kita menunjukkannya secara berbeda kepada mereka melalui kompetensi, karakter dan kepedulian kita.

    Membangun relasi dengan orang-orang yang bekerja di sekitar kita tidak boleh menjadi strategi untuk memanipulasi mereka dalam percakapan iman, melainkan sebagai cara kita yang tulus untuk semakin mengasihi mereka lebih dalam dan mengetahui bagaimana kita dapat melayani mereka.

    Intinya: Kompetensi, karakter dan kepedulian secara bersama-sama menimbulkan apologetika Injil yang kuat, yang dengan sentuhan Roh Kudus dapat membuka pintu kepada percakapan-percakapan tentang Injil.

    Memberitakan Injil melalui Percakapan Yang Bijak

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Secara umum, orang perlu memercayai pembawa pesan sebelum mereka memercayai pesannya. Tetapi jangan salah – kita memiliki pesan yang harus disampaikan. Namun kita harus menyampaikannya dengan bijak. Tak seorang pun datang pada Kristus hanya karena melihat orang Kristen— dan dalam hampir semua kasus, harus ada orang yang menceritakan tentang Kristus kepada mereka. Ini tentu saja tidak berarti kita harus berbicara tentang Yesus setiap waktu. Tetapi ini berarti kita tidak boleh menyembunyikan iman kita dan harus siap berbicara setiap kali kita melihat ada orang yang terbuka untuk lebih memahami.

    Mustahil sungguh-sungguh membaca Alkitab tetapi mengabaikan kewajiban untuk membuat Kristus dikenal. Dalam Kotbah di Bukit, Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk menjadi terang dunia—hal yang bukan untuk disembunyikan.

    Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. (Matius 5:14-16)
    Berbicara tentang Iman Itu Tepat . . .
    • ketika kesempatan muncul dari persahabatan yang terjalin dan dibangun di sekitar pekerjaan Anda. Saat Anda membicarakan pekerjaan dan kehidupan dengan rekan-rekan kerja Anda, percakapan informal tentang kebenaran rohani akan muncul dengan sendirinya, seperti topik-topik pribadi penting yang muncul dalam percakapan Anda.

    • ketika hal itu sangat pas/cocok dengan percakapan. Jangan dengan sengaja mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik rohani yang tak ada hubungannya dengan percakapan. Tetapi, di tengah percakapan tentang persoalan bisnis, misalnya, menceritakan secara singkat bagaimana iman Anda memengaruhi keputusan-keputusan Anda mungkin tepat.

    • ketika rekan kerja nyaman dengan pembicaraan itu. Tetaplah melihat situasi dan alihkan topik pembicaraan jika Anda merasakan ketidaknyamanan.

    • ketika Anda ditanya. Pertanyaan membuka kesempatan untuk menyampaikan topik-topik rohani. Anda tidak harus menjadi pakar Alkitab untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tunjukkan saja ketertarikan Anda sendiri untuk mempelajari topik itu dan jelaskan dengan sederhana dan rendah hati yang sudah Anda temukan dalam hidup Anda sampai saat ini. Bangkitkan rasa ingin tahu untuk menciptakan lingkungan yang aman untuk pertanyaan-pertanyaan lainnya di waktu mendatang.

    • ketika tidak mengambil waktu yang Anda atau rekan kerja Anda dibayar untuk bekerja. Carilah waktu di saat-saat istirahat, makan siang atau sepulang kerja untuk percakapan yang lebih panjang.

    (Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal. 68)

    Sebagian orang Kristen memakai perkataan yang dilaporkan dari St. Francis (“Beritakanlah Injil setiap waktu, dan jika perlu, pergunakanlah kata-kata”) sebagai alasan untuk tidak membicarakan iman mereka dengan orang-orang yang perlu mendengar Injil. Mereka percaya bahwa mereka memenuhi panggilan Kristus untuk menjadi saksi-Nya hanya dengan cara hidup mereka – tanpa perlu menjelaskan mengapa mereka hidup dengan cara seperti itu. Orang yang berkata dengan naif, “Aku tidak berbicara; Aku hanya membiarkan hidupku yang berbicara,” mungkin tidak menyadari betapa egoisnya pernyataan itu. Siapakah di antara kita yang menjalani kehidupan dengan sedemikian baik sampai perbuatan kita adalah satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk bersaksi atas kebaikan Yesus? [1]

    Perilaku yang menghormati dan mencerminkan Kristus memang merupakan hal yang sangat penting dalam menjadi saksi. Tetapi menjadi saksi juga memerlukan perkataan.

    Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan. Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggung jawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang baik supaya mereka yang memfitnah kamu karena perilakumu yang baik dalam Kristus menjadi malu karena fitnah mereka itu. (1 Petrus 3:15-16)

    Hal yang sering dilupakan dari perintah Petrus ini adalah bahwa berbuat baik kepada orang lain itu akan membangun relasi yang membuat orang ingin bertanya “Mengapa?” Mengapa Anda hidup dengan cara yang Anda lakukan? Kita memberi penjelasan kepada orang-orang yang telah melihat perilaku kita yang saleh, mengenali pengharapan kita dan bertanya tentang iman kita.

    Meskipun Petrus mendorong saksi-saksi yang enggan untuk berbicara, ia juga memberikan batasan-batasan bagi orang Kristen yang terlalu bersemangat mencari kesempatan untuk mengabarkan Injil—entah pendengarnya siap atau tidak. Meskipun sebagian orang datang pada Kristus tanpa melalui relasi – dan dalam kasus yang jarang tanpa seorang saksi – memaksakan percakapan rohani pada orang lain biasanya akan lebih menimbulkan panas daripada terang. Percakapan iman yang bijak bukan tentang membuat seseorang memanjatkan doa keselamatan, tetapi tentang memancarkan realitas anugerah Allah pada kita dalam Kristus dan menjelaskan realitas itu pada orang yang ingin tahu.

    Seperti apakah percakapan yang bijak itu? Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

    Percakapan yang bijak memerhatikan kondisi hati pendengar. Di Matius 13, Yesus menggambarkan hati manusia seperti lahan yang kasar untuk ditanami Injil. Rumput liar, bebatuan, dan tanah yang keras menggagalkan penanaman benih Kebenaran. Kita para penabur Injil perlu mengambil waktu untuk memikirkan daya penerimaan pendengar kita.

    Kebanyakan orang dewasa yang belum percaya memiliki hambatan signifikan dalam menerima Injil, hal-hal yang mengeraskan hati mereka dan telah melatih mereka untuk menjaga jarak dari kebenaran rohani. Selain isu-isu intelektual yang dimiliki banyak orang terhadap Kekristenan, masalah yang lebih mendasar dan sering dilupakan adalah hambatan emosional – sikap acuh tak acuh, tidak percaya, bermusuhan atau ketakutan terhadap orang Kristen atau Kekristenan – sikap-sikap negatif yang merintangi terjadinya percakapan rohani.

    Terkadang, hambatan emosional itu disebabkan oleh pengalaman negatif mereka saat bersama kelompok religius atau orang Kristen yang berpikiran sempit, suka menghakimi atau fanatik. Bahkan orang Kristen yang bermaksud baik yang terlalu agresif dapat memicu rasa tidak percaya atau kemarahan, dan tanpa disengaja menciptakan lebih banyak hambatan. Tetapi kemunafikan secara umum bisa memalingkan lebih banyak hati dari Yesus daripada hal lainnya. Anggota keluarga, tetangga, guru yang munafik bisa mengeraskan tanah hati.

    Orang Kristen yang bijak akan memikirkan dulu hambatan-hambatan ini sebelum upaya mereka memaparkan Injil ditolak mentah-mentah. Namun ketika orang melihat kompetensi, karakter dan kepedulian kita, Roh Kudus akan membuka pintu bagi kita untuk menjelaskan tentang pengharapan kita kepada orang-orang yang sebetulnya enggan berbicara tentang kebenaran rohani.

    Apakah Injil itu?

    Injil adalah Kabar Baik tentang Allah yang menjangkau kita dengan kepenuhan kasih-Nya melalui Yesus. Biasanya, orang paling tertarik mendengar bagaimana Anda mengalami kebaikan kasih Allah. Ceritakan saja perbedaan mengikut Yesus yang sudah terjadi dalam kehidupan Anda, maka Anda sudah memberitakan Injil. Meskipun, terkadang orang juga bertanya tentang apa itu Injil dalam arti yang lebih teologis, bukan hanya secara subyektif dalam hidup Anda, tetapi sebagai definisi yang obyektif. Banyak penjelasan tentang Injil bisa ditemukan di buku-buku, kotbah-kotbah atau internet, yang bisa membantu untuk Anda pikirkan. Definisi paling langsung terdapat di Alkitab sendiri:

    Allah menunjukkan kasih-Nya yang besar pada kita dengan mengutus Kristus untuk mati bagi kita ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8). Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci. Dia telah dikuburkan dan telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci. (1 Korintus 15:3-4). Karena anugerah Allah yang menyelamatkan semua orang telah nyata. Dia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia yang sekarang ini, dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh berkat dan penampakan kemuliaan Allah yang mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. (Titus 2:11-14). Sebab di dalam Kristus Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka dan Dia telah memercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepada kamu: berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah. (2 Korintus 5:19-20).

    Percakapan yang bijak mengikuti ke mana Roh Kudus sudah bekerja. Penting untuk kita mengenali apa yang sedang dikerjakan Roh Kudus dan mengikuti-Nya, daripada berusaha sendiri membuat sesuatu terjadi menurut waktu kita. Betapa pun meyakinkan atau kuatnya argumen-argumen kita, kita tidak dapat membangkitkan orang yang mati secara rohani. Membuka hati adalah pekerjaan Allah. Dan Dia melakukannya pada waktu-Nya, bukan waktu kita – yang kadang mengherankan kita. Hanya karena seseorang tidak tertarik pada percakapan rohani saat ini tidak berarti Roh Kudus tidak dapat melembutkan hati yang sangat keras itu dengan berjalannya waktu.

    Antagonisme atau sikap bermusuhan terhadap Allah bukan cuma persoalan masa kini. Di sepanjang sejarah, umat Allah telah membawa kebenaran-Nya ke kota-kota, bangsa-bangsa dan tempat-tempat kerja yang bersikap bermusuhan. Tetapi Injil tak pernah dikalahkan oleh permusuhan. Allah lebih dahsyat dari segala strategi yang dipakai Si Jahat untuk menghentikan Injil. Tak ada pandangan dunia, tren budaya, atau lingkungan kerja yang terlalu bermusuhan – dan tak ada orang yang terlalu tak punya harapan – untuk dijangkau kuasa Roh Kudus yang sangat cukup.

    Dan betapa pun kita sangat bersemangat mengharapkan seseorang datang pada Kristus, ingatlah perkataan Kristus sendiri ini. “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku …” (Yohanes 6:44).

    Tugas kita adalah menolong orang mengambil satu langkah lebih dekat kepada Kristus, dan menyerahkan hasil dan waktunya kepada Tuhan. Kita hanyalah satu mata rantai dari rangkaian yang dapat dipakai Roh Kudus pada waktu tertentu – dan rangkaian itu bisa jadi rantai yang panjang. Sungguh indah bisa menjadi mata rantai terakhir dalam rangkaian perjalanan iman seseorang. Tetapi jika kita mengenali yang sedang dikerjakan Roh Kudus dan bergabung, kita tak akan menjadi mata rantai yang hilang.

    Percakapan yang bijak membangkitkan rasa ingin tahu. Ketika kita pergi bekerja esok hari sebagai duta besar Kristus, kita perlu mengenali orang-orang yang bekerja di sekitar kita. Apa saja minat mereka, kebutuhan-kebutuhan mereka, harapan-harapan dan impian-impian mereka? Apa yang dapat membuat mereka mendengar cukup lama untuk belajar tentang Allah yang sangat mengasihi mereka dan rindu mengaruniakan kepada mereka hidup yang berkelimpahan di bumi maupun dalam kekekalan di hadirat-Nya? Jika kita tidak mengambil waktu untuk mengenali rekan-rekan kerja kita, pintu-pintu bisa tertutup, tidak terbuka.

    Percakapan yang bijak harus singkatsetidaknya di awal. Rasa ingin tahu tentang iman kita tidak muncul dengan sendirinya. Saat menjajaki ketertarikan rohani seseorang, percakapan iman yang panjang kemungkinan tidak cocok atau menimbulkan rasa ingin tahu. Meskipun rekan kita mungkin mendengarkan dengan sopan, tetapi dalam hati mereka mungkin berencana untuk lari dan melepaskan diri dari orang fanatik rohani ini. Karena itu, berusahalah untuk membuat orang ingin mengetahui lebih banyak lagi.

    Memerhatikan “Kepentingan” Orang Lain

    Ketika pesawat lepas landas, Bill terlibat percakapan yang sopan dengan seorang wanita yang duduk dekat jendela yang ternyata seorang artis. Wanita itu terdiam dan kembali membaca buku ketika ia mengetahui bahwa Bill seorang teolog. Bill memejamkan matanya dan mencoba untuk beristirahat. Ketika pesawat menembus awan dan mencapai ketinggian jelajah, desakan Roh Kudus mengusik tidur siangnya. Ia membuka mata dan melihat teman duduknya sedang memandangi matahari terbenam yang mempesona. “Indah, bukan?” Bill berkata sambil lalu. “Sungguh menakjubkan bagaimana Allah melukis karya seni yang baru setiap petang, dan tak pernah ada yang sama setiap harinya.” Responnya mengejutkan Bill. Selama beberapa saat berikutnya, wanita itu lebih banyak bercerita tentang kehidupannya. Mereka lalu berbincang tentang apa yang dikatakan Alkitab tentang kemampuan Allah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dalam situasi-situasi sulit yang dihadapinya.

    (Dari Bill Peel dan Walt Larrimore, Workplace Grace, hal. 84-85)

    Mengibarkan Bendera Iman

    Bendera iman adalah pernyataan atau komentar singkat (tidak lebih dari dua kalimat) tentang Allah, Alkitab atau doa dalam percakapan alami yang menunjukkan kita memiliki dimensi rohani – sebuah potret tentang diri Anda. Bendera iman juga bisa berupa kata-kata penghargaan sederhana yang menunjukkan bagaimana Anda melihat gambar Allah terungkap dalam pekerjaan seseorang.

    Bendera iman itu bisa terdengar seperti …

    • Ketika seseorang mengurai masalah yang rumit: “Aku sungguh gembira kamu ada di tim ini. Allah tentu telah mengaruniakan pikiran yang tajam kepadamu untuk menyelesaikan masalah-masalah.”

    • Ketika seseorang mengungkapkan kekhawatirannya tentang anak: “Aku akan menggantikan melakukan tugas-tugasmu setiap kali kamu perlu pergi meninggalkan pekerjaan untuk membawa anakmu ke dokter. Aku juga akan mendoakan anakmu jika kamu berkenan.”

    • Ketika seseorang memuji presentasi Anda: “Terima kasih atas dukunganmu. Andai saja kamu tahu betapa takutnya aku kemarin. Tuhan menenangkanku dan menolongku untuk fokus."

    Pedoman: bendera iman itu …

    • Bagian yang wajar dari suatu percakapan.

    • Bersifat umum dan tidak mengatasnamakan gereja, denominasi, pendeta atau pemimpin rohani tertentu.

    • Bernada positif dan biasanya tidak memakai iman sebagai alasan untuk menghindari perilaku tertentu.

    • Memerhatikan, tetapi tidak mengharapkan, tanggapan.

    • Menghargai tanggapan negatif atau pun tidak ada tanggapan.

    (Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal. 82-84)

    Bahkan pertanyaan tentang hal-hal biasa seperti rencana kita di akhir pekan, bisa menjadi kesempatan untuk mengundang rasa ingin tahu. “Saya mengajar kelas Sekolah Minggu tentang pemulihan dan perceraian.” “Saya akan mengikuti retret kaum pria bersama gereja saya.” Membiarkan teman-teman kerja mengetahui yang kita lakukan bisa membuka peluang untuk menimbulkan rasa ingin tahu. Pilihan-pilihan dan aktivitas-aktivitas kita lebih berbicara banyak kepada mereka daripada cara penggunaan waktu kita. Semua itu menunjukkan hal-hal yang kita sukai. Mereka mungkin menjadi bingung dan bertanya-tanya, mengapa dari sekian banyaknya pilihan, kita memilih aktivitas-aktivitas Kristen—yang bagi mereka mungkin membosankan atau membuang-buang waktu saja. Ketika rasa ingin tahu itu memenuhi mereka, mereka akan bertanya, dan membuka kesempatan untuk kita memberi penjelasan singkat kepada mereka.

    Mereka mungkin juga bertanya: Bagaimana Anda bisa memercayai Tuhan di tengah segala kesulitan yang Anda hadapi? Mengapa Anda begitu baik kepada orang yang sulit dikasihi? Mengapa Anda sedemikian berusaha keras untuk menolong orang lain berhasil? Bagaimana Anda dapat memercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga? Keingintahuan mereka yang terucap merupakan undangan untuk menyampaikan lebih banyak tentang berita Injil yang telah Anda alami di dalam Yesus.

    Rasa ingin tahu juga bisa muncul karena adanya kesamaan dalam berelasi. Jerram Barrs, Kepala Institut Francis Schaeffer, menasihati para mahasiswanya agar mencari kesamaan dengan rekan-rekan kerjanya, dan mulai membicarakan iman berdasarkan kesamaan-kesamaan itu. Apakah mereka menyukai seni? Apakah mereka penggemar olahraga? Musik apa yang mereka sukai? Apa pun kegemaran mereka, ketika kita menemukan minat yang sama, dasar relasi terbentuk. Dari hampir setiap ketertarikan yang sama, sebagian cerita iman Anda bisa muncul.[2]

    Dalam percakapan-percakapan yang lebih panjang, patut diingat juga bahwa orang menjadi tertarik pada Yesus karena kebutuhan atau aspirasi yang dirasakan secara pribadi. Sebagai makhluk rasional, kita memerlukan informasi, jawaban dan argumen yang rasional, tetapi bukan itu saja. Kita juga makhluk yang memiliki hasrat/kerinduan, yang merasakan jalan hidup kita dengan berusaha menemukan apa yang hilang, yang seringkali tanpa mengetahui apa yang kita cari.[3] Menolong orang lain melihat bahwa kerinduan-kerinduan terdalam mereka dapat dipenuhi di dalam Kristus, akan menimbulkan rasa ingin tahu yang sangat kuat tentang bagaimana Yesus memenuhi kerinduan itu.

    Tim Keller merefleksikan pengalaman hidupnya saat berbicara tentang Yesus kepada orang-orang sekuler di New York. “Jika orang tidak mendapati percakapan kita tentang Kristus sangat menarik (dan mematahkan stereotip), mata mereka akan langsung berkabut ketika Anda mencoba berbicara dengan mereka.”[4] Percakapan Yesus dengan Nikodemus (Yohanes 3:1-21) dan dengan perempuan di tepi sumur (Yohanes 4:4-26) adalah contoh yang tepat. Yesus tidak hanya berbicara dengan konsep-konsep dan bahasa yang dapat mereka pahami, Dia juga menjalin percakapan itu dengan hal-hal yang menjawab permasalahan unik setiap orang—kerinduan-kerinduan mereka yang terdalam. Dengan berfokus pada ketertarikan individu, Dia membangkitkan rasa ingin tahu mereka. Kita dapat melihat betapa Dia berhasil dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagai tanggapan mereka.

    Akhirnya, ketika orang dapat menghubungkan kuasa Injil dengan kerinduan terdalam mereka, mereka akan berkata, “Andai saja itu benar!” Ketika hal itu terjadi, kita melihat pintu terbuka untuk berita Injil.

    Menghubungkan dengan Kebutuhan Orang Lain

    Pikirkanlah percakapan-percakapan yang terjadi di tempat kerja Anda selama seminggu terakhir. Topik-topik keprihatinan, ketakutan, kecemasan, kekecewaan, kemarahan, kegembiraan, penghargaan, kedamaian dll apa saja yang diungkapkan? Apakah Anda pernah memiliki pengalaman yang sama ketika Allah begitu nyata bagi Anda, ketika Anda mendapat suatu pelajaran, ketika Anda mulai melihat sesuatu secara berbeda? Ambillah waktu untuk berlatih menceritakan atau menuliskan yang akan Anda katakan. Jagalah sikap positif dan hindari terdengar superior. Jangan katakan “Aku ingat ketika aku dulu percaya bahwa …”

    Percakapan yang bijak (biasanya) positif. Ketika orang menjadi ingin tahu, mereka kemungkinan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Seringkali yang benar-benar ingin mereka ketahui justru yang tidak terucap dalam kata-kata mereka. Mereka mungkin takut bertanya karena mereka khawatir kita tidak berpikiran sama seperti mereka. Mereka mungkin juga sedang menguji kita untuk mengetahui, apakah kita akan mendekati mereka dengan cara yang memaksakan-Alkitab. Jika kita menjawab dengan cara yang menghakimi, mereka kemungkinan akan mundur dan menghindari kita bagaikan wabah penyakit. Namun jika mereka mendapatkan respons yang tidak menghakimi, jujur, tulus, mereka kemungkinan akan kembali untuk bertanya lebih lanjut, apalagi jika hidup dan tindakan kita menggemakan jawaban-jawaban yang kita berikan.

    Injil adalah Kabar Baik tentang Yesus, yang bukan berarti Allah menghakimi kita, tetapi Dia mengasihi kita dan ingin mengampuni serta memulihkan kita. Kita tak perlu heran jika orang-orang tak percaya membuat pilihan yang buruk. Jika kita mengeritik secara agresif pilihan-pilihan dan gaya hidup mereka, kita dapat menciptakan penghalang. Ini bukan berarti kita mentolerir perilaku berdosa, melainkan karena kita ingat bahwa keinsafan adalah deskripsi tugas Roh Kudus, bukan kita.

    Ketika Dia [Roh Kudus] datang, Dia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman: akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi krpada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yohanes 16:8-11)

    Kita juga perlu mengingat respons Yesus terhadap orang berdosa. Dia tidak membawa penghakiman kepada orang-orang yang tidak religius. Dia menyimpan kecaman-kecaman-Nya untuk para pemuka agama, orang-orang Farisi dan para pemimpin Yahudi pada zaman itu. Terhadap orang-orang di luar lingkup aristokrasi religius ini, sikap-Nya lembut, rendah hati dan penuh belas kasih. Ingat kemurahan hati-Nya kepada perempuan yang kedapatan berzinah?

    Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Ibu, di manakah mereka? Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?"Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi." (Yohanes 8:10-11)

    Saat ini, banyak orang menjaga jarak dari Yesus karena mereka memiliki kesan buruk tentang Dia dari para pengikut-Nya. Mereka mungkin berpikir Dia membenci kaum homoseksual, tidak suka bersenang-senang, memihak pada pandangan politik yang mereka benci, menjauhi orang yang tidak sempurna, rasis, merendahkan wanita, atau hanya peduli pada yang akan terjadi setelah manusia mati. Sikap-sikap ini mungkin ada pada sebagian orang Kristen, tetapi bukan pada Yesus.

    Keramahan kita yang tak diduga pada orang yang sensitif terhadap kritik dapat membuat mereka heran dan menjadi penasaran. Petrus memberikan nasihat penting kepada orang yang ingin membantu rekan-rekan kerjanya mengambil satu langkah lebih dekat kepada relasi dengan Kristus.

    Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. (1 Petrus 3:8-9)

    Setiap interaksi dengan setiap orang setiap hari sangat penting secara rohani, dan kita punya kesempatan untuk menjadi berkat bagi orang lain tidak hanya ketika kita dihina atau diperlakukan buruk, tetapi ketika kita terhubung dengan siapa saja yang diciptakan menurut gambar Allah. Senyum, kata-kata ramah, pujian atas pekerjaan yang diselesaikan dengan baik, dapat dipakai Roh Kudus untuk menarik orang selangkah lebih dekat kepada Yesus.

    Percakapan yang bijak memanfaatkan kekuatan cerita. Tak ada yang ingin mendengar pidato basi tentang Yesus, tetapi kebanyakan orang menyukai cerita yang bagus. Dari Kejadian sampai Wahyu, Alkitab dipenuhi dengan cerita-cerita. Allah bisa saja memberi kita buku panduan dengan indeks untuk menjalani kehidupan di bumi. Tetapi Dia memberi kita Alkitab, firman yang diilhamkan-Nya, dan mengisinya dengan cerita-cerita, yang semuanya "bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (2 Timotius 3:16). Bahkan, seluruh Alkitab adalah satu cerita besar tentang penebusan.

    Ketika Yesus ingin berbicara tentang kasih Bapa, Dia tidak sekadar menyajikan konsep; Dia menyampaikan cerita yang menarik perhatian—Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32). Ketika Dia ingin menolong murid-murid-Nya memahami tentang kerajaan Allah, Dia memakai cerita-cerita yang ditulis Matius di dalam kitab Injilnya.

    Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah dan duduk di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Ia menyampaikan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur….(Matius 13:1-3)

    Manusia, menurut Alasdair MacIntyre, adalah "makhluk yang bercerita" [5]. Pikirkanlah percakapan-percakapan yang Anda lakukan di tempat kerja akhir-akhir ini. Berapa banyak yang melibatkan cerita? Kemungkinan besar banyak. Dalam penginjilan, cerita seharusnya memenuhi percakapan rohani kita dengan orang tidak percaya. Cerita dapat membentuk informasi menjadi maksud dan membantu orang lain membayangkan siapa kita dan apa yang kita yakini. Bercerita menggambarkan kebenaran dengan cara yang otentik dan nyata. Cerita membuka peluang bagi orang tidak percaya untuk melihat sekilas tentang menjadi orang percaya, dan dapat memberi alasan untuk mereka memikirkan ulang pikiran-pikiran negatif yang mungkin mereka miliki tentang orang Kristen atau Kekristenan.

    Bercerita mengandung kekuatan besar. Alih-alih memakai fakta-fakta untuk mengetuk pintu depan pikiran, yang seringkali dikunci dari dalam, cerita memungkinkan kebenaran masuk melalui pintu belakang hati. Cerita dapat menghasilkan pemahaman baru dan mengembangkan kedalaman dan keluasan persepsi dalam membantu kita dan orang tidak percaya memahami dunia.

    Cerita adalah sarana yang sangat penting untuk orang Kristen menantang cara orang tidak percaya memandang dunia. Dengan menyampaikan cerita yang tepat, orang Kristen dapat membuat orang tidak percaya meletakkan senjatanya, lalu masuk dan mendengarkan dengan hati dan pikiran terbuka. Dengan demikian, cerita memberi kesempatan yang tiada bandingannya untuk menantang asumsi-asumsi dasar orang tidak percaya tentang kehidupan.[6]

    Cara Menyampaikan Cerita Iman

    Cerita Iman merupakan cara yang efektif untuk menyampaikan kebenaran rohani dalam bentuk yang menarik. Cerita itu menggambarkan secara singkat peristiwa tertentu saat kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan atau saat kita memahami suatu pelajaran rohani yang penting. Cerita iman membuat pendengarnya melihat bagaimana Tuhan bekerja, membuat perbedaan yang berarti dan bermanfaat dalam hidup kita.

    Cerita Iman ...

    • memberi gambaran sekilas tentang bagaimana menjadi anak Allah dan seperti apa iman yang

    hidup dalam kehidupan nyata itu.

    • sesuai dengan kebutuhan atau situasi dalam kehidupan pendengar dan dapat mendorong

    timbulnya pertanyaan atau komentar.

    • membantu menjelaskan mengapa ada yang berbeda pada kita.

    Pedoman: Cerita Iman …

    Sesuai dengan alur percakapan alami, berkaitan dengan topik yang sedang dibicarakan.

    • Tidak boleh lebih dari dua menit.

    • Menghindari perdebatan.

    • Jangan menggambarkan diri kita sebagai orang baik, tetapi sebagai orang yang diampuni,

    disembuhkan, atau ditolong Tuhan

    • Menerima, tetapi tidak menuntut, tanggapan.

    (Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal. 85-89)

    Percakapan yang bijak dapat dipahami. Ketika kita berbicara dengan orang tidak percaya—atau siapa pun—kita ingin dipahami. Namun, jika kita berbicara tentang iman dengan jargon-jargon Kristen, kita menciptakan penghalang yang signifikan. Jargon adalah bahasa orang dalam yang hanya dipahami oleh orang-orang di dalam suatu kelompok—dalam hal ini orang Kristen lain. Berbicara dalam bahasa orang Kristen dapat membuat rekan kerja dan teman kita yang tidak percaya menjadi bingung dan malah menjauh.

    Kita tidak dapat berasumsi orang lain memahami istilah-istilah Alkitab yang kaya makna bagi iman kita. Ketika berbicara dengan orang non-Kristen, kita harus menghindari istilah-istilah yang dapat membingungkan, disalahpahami, atau dianggap negatif. Batasi penggunaan bahasa orang dalam seminimal mungkin, lakukan jeda, tanyakan kepada pendengar apakah mereka bisa mengikuti, dan pastikan mereka memahami semua kata-kata teologisnya.

    Percakapan yang bijak mengingat siapa yang kita ajak bicara. Salah satu alasan mengapa percakapan rohani itu menakutkan adalah karena kita berbicara dengan orang yang mati—mati rohani, maksudnya. Paulus menggambarkan kondisi mengerikan manusia yang terpisah dari Kristus di dalam kitab Efesus.

    Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, kamu menaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang yang tidak taat. Sebenarnya dahulu kita semua juga termasuk di antara mereka, ketika kita hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kita. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. (Efesus 2:1-3)

    Meskipun percakapan kita harus positif, Injil itu pada hakikatnya bersifat konfrontatif. Menurut Tim Keller,

    Dalam setiap presentasi Injil, ada tantangan epistemologis. Orang diberi tahu bahwa pemahaman mereka tentang Allah dan realitas tertinggi: salah… Singkatnya, ada kebenaran tentang Allah (“Anda pikir Anda tahu siapa Allah, tetapi Anda tidak tahu”), kebenaran tentang dosa dan kebutuhan Anda akan keselamatan (“Anda berusaha menyelamatkan diri sendiri, tetapi Anda tidak bisa”), kebenaran tentang Yesus (“Dia adalah Raja Mesianis yang datang untuk menyelesaikan keselamatan bagi Anda”), serta panggilan untuk menanggapi kebenaran-kebenaran ini dengan bertobat dan percaya kepada-Nya.[7]

    Jika kita takut orang tidak percaya akan memusuhi Kabar Baik Kristus, patut diingat bahwa kita sedang berbicara dengan orang-orang yang menjadi korban Musuh itu, bukan Musuh itu sendiri. Ya, mereka bisa memusuhi, tetapi kita juga dulu adalah musuh Allah ketika Dia datang mencari kita. Ya, mereka itu orang berdosa, tetapi kita juga. Ya, mereka mungkin tidak mengenal kebenaran, tetapi kita juga tidak bisa mengenal kebenaran dengan pikiran kita sendiri. Ya, mereka mungkin mendukung hal-hal yang dibenci Allah, tetapi kita juga demikian. Mereka mungkin tidak mengasihi Allah, tetapi Allah mengasihi mereka.

    Dan yang terpenting, kita sedang berbicara dengan orang yang diciptakan menurut gambar Allah, tak peduli betapa terdistorsi, rusak, atau tak dapat dikenalinya lagi mereka. Fakta ini menuntut rasa hormat kita dan layak mendapatkan harkat yang seringkali tidak diakui di dunia yang telah jatuh dosa ini.

    Penulis blog Katolik Jennifer Fitz mengingatkan kita tentang bagaimana hal ini harus memengaruhi penginjilan.

    Penginjilan bukanlah tentang membuat orang lain melakukan yang Anda ingin mereka lakukan. Bukan tentang menciptakan teknik yang tepat untuk membuat momen yang tepat itu berlangsung dengan sangat baik.

    Penginjilan adalah tentang melihat orang yang ada di depan Anda, tak peduli siapa orang itu, dan memandang takjub pada ciptaan Allah yang sangat indah yang telah dikaruniai martabat dan nilai yang tak dapat dihilangkan oleh apa pun, betapa pun dalamnya orang itu sedang berkubang dalam lumpur saat ini. Anda melihat orang itu, dan Anda tahu pasti: Inilah orang yang pantas menerima pengorbanan sampai mati.

    Dan kemudian Anda berusaha selama beberapa menit untuk melakukan hal yang pantas di hadapan orang itu.[8]

    Dengan Rendah Hati Menganggap Orang Lain Lebih Utama dari Diri Sendiri (Filipi 2:3)

    Apa tanda gambar Allah yang Anda lihat pada seseorang?

    Apa saja kesamaan Anda dengan orang-orang non-Kristen yang menjadi bagian kehidupan Anda?

    Pengalaman?

    Kegembiraan?

    Penderitaan?

    Persoalan?

    Kapan Allah begitu nyata bagi Anda, mengajar Anda, menghibur Anda, menguatkan Anda dalam situasi-situasi ini?

    Percakapan yang bijak dimulai dengan bercakap-cakap dengan Tuhan. Meskipun penyebaran Injil yang meluas dengan cepat pada abad pertama digerakkan oleh mobilisasi massa orang-orang Kristen biasa, penyebaran itu sesungguhnya diberdayakan oleh doa-doa yang tekun. Peran penting doa dalam penginjilan dicatat di sepanjang Kitab Kisah Para Rasul (Kisah Para Rasul 1:14; 1:24; 2:42; 2:47; 4:24,31; 8:15; 9:40; 10:9; 10:30-31; 12:5; 13:3; 14:23; 16:25; 20:36; 21:5; 26:29; 28:8).

    Ketika kita bertemu rekan kerja dan kolega di tempat kerja yang kita harapkan menjadi percaya, kita perlu ingat bahwa penginjilan dimulai dan diakhiri dengan Allah. Dia telah mengundang kita untuk bermitra dengan-Nya dalam misi kehormatan mendamaikan manusia dengan diri-Nya. Kita melakukan bagian kita dengan menunjukkan kesalehan dan berbicara dengan bijak. Selebihnya ada di tangan-Nya. Itu sebabnya kita berbicara dengan Yesus tentang seseorang sebelum kita berbicara dengan seseorang tentang Yesus. Bahkan Paulus, yang merupakan pembicara andal pun, membutuhkan doa.

    Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya. (Kolose 4:2-4)

    Perhatikan bahwa Paulus berdoa untuk orang-orang yang belum percaya agar Allah membuka pintu untuk pemberitaan firman – yang hanya Allah yang dapat melakukannya – tetapi juga untuk dirinya sendiri agar ia dapat berbicara dengan jelas.

    Berdoa untuk Diri Sendiri dan Orang Lain

    Berdoa untuk Diri Sendiri

    Kita tidak dapat melakukan apa pun yang bernilai rohani jika Roh Kudus tidak bekerja di dalam kita. Berikut ini adalah contoh-contoh tentang bagaimana kita dapat berdoa untuk diri sendiri sebagai duta besar Kristus di tempat kerja. Kita dapat meminta agar…

    • kita bisa bekerja sangat baik sehingga menarik perhatian orang lain (Amsal 22:29).

    • pekerjaan kita membawa kemuliaan bagi Allah (Matius 5:16).

    • kita memperlakukan orang lain dengan adil (Kolose 4:1).

    • kita memiliki reputasi yang baik di mata orang tidak percaya (1 Tesalonika 4:12).

    • orang lain melihat Yesus di dalam kita (Filipi 2:12-16).

    • hidup kita membuat iman kita menarik (Titus 2:10).

    • perkataan kita penuh hikmat, peka, penuh kasih dan menarik (Kolose 4:5-6).

    • kita memiliki keberanian dan tidak kecil hati (Efesus 6:19).

    • kita siap sedia menghadapi pintu-pintu terbuka (Kolose 4:3).

    • kita dapat menyampaikan Injil dengan jelas (Kolose 4:4).

    • Allah memperluas pengaruh kita (1 Tawarikh 4:10).

    Berdoa untuk Orang Lain

    Kita dapat berdoa untuk rekan dan teman kerja kita dan meminta agar...

    • Bapa menarik mereka kepada diri-Nya (Yohanes 6:44).

    • mereka rindu mengenal Allah (Ulangan 4:29; Kisah Para Rasul 17:27).

    • mereka mau memercayai Alkitab (Roma 10:17; 1 Tesalonika 2:13).

    • Iblis diikat agar tidak membutakan mereka dari kebenaran (Matius 13:19; 2 Korintus 4:4).

    • Roh Kudus menginsafkan mereka akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yohanes 16:8-13)

    • Allah mengutus orang-orang Kristen lainnya dalam kehidupan mereka untuk memengaruhi mereka ke arah Yesus (Matius 9:37-38).

    • mereka percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat mereka (Yohanes 1:12; 5:24).

    • mereka berbalik dari dosa (Kisah Para Rasul 3:19; 17:30-31).

    • mereka mengakui Yesus sebagai Tuhan (Roma 10:9-10).

    • mereka menyerahkan hidup mereka dan mengikut Yesus (Markus 8:34-37; Roma 12:1-2; 2 Korintus 5:15; Filipi 3:7-8).

    • mereka bertumbuh dalam Yesus (Kolose 2:6-7).

    • mereka menjadi pengaruh positif bagi Yesus dalam bidang pengaruh mereka (2 Timotius 2:2).

    (Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal.164-165)

    Percakapan yang bijak menghormati integritas di tempat kerja. Apakah tidak apa-apa berbicara tentang Yesus di tempat kerja? Banyak orang Kristen bertanya-tanya, apakah di lingkungan kerja yang berbeda-beda spiritualitasnya kita boleh berbicara tentang Yesus. Apakah hal itu sah? Apakah diizinkan oleh perusahaan saya? Secara umum, jawabannya adalah "ya," - berbicara tentang Yesus di tempat kerja adalah sah. Kami mempertimbangkan situasi hukum, khususnya, di Amerika Serikat. Kami sarankan yang di negara lain juga mempelajari undang-undang di tempat tinggal masing-masing.

    Secara umum, jika suatu tempat kerja membolehkan percakapan dan pembicaraan pribadi apa pun—seperti yang terjadi hampir di setiap tempat kerja—maka tempat kerja itu juga harus memperbolehkan percakapan-percakapan religius. Jadi, jika orang dapat berbicara tentang keluarga atau sepak bola di tempat kerja, maka berbicara tentang agama pun dapat dilakukan. Bab VII Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964 (di Amerika-Red) melindungi pekerja di banyak tempat kerja pemerintah maupun swasta dari diskriminasi yang didasarkan agama:

    Tindakan ketenagakerjaan yang melanggar hukum bagi pemberi kerja adalah:

    (1) gagal atau menolak mempekerjakan atau memberhentikan seseorang, atau dengan kata lain mendiskriminasi seseorang sehubungan dengan kompensasi, syarat, ketentuan, atau hak istimewa pekerjaannya, karena ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau asal kebangsaannya; atau

    (2) membatasi, memisahkan, atau menggolongkan pekerja atau pelamar kerja dengan cara apa pun yang akan menghilangkan atau cenderung menghilangkan kesempatan-kesempatan kerjanya, atau dengan kata lain, akan berdampak buruk pada statusnya sebagai pekerja, karena ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau asal kebangsaannya.[9]

    Ini berarti, antara lain, jika bagian dari keyakinan agama yang kita pegang teguh adalah kewajiban untuk menceritakan Yesus kepada orang lain, maka pemberi kerja biasanya tidak dapat menghalangi kita untuk melakukannya, kecuali jika hal itu akan mengganggu pekerjaan yang sedang dilakukan atau menciptakan lingkungan kerja yang tidak bersahabat bagi orang lain. (Lingkungan kerja yang tidak bersahabat tercipta ketika "tempat kerja dipenuhi intimidasi, olok-olok, dan cercaan diskriminatif yang cukup parah atau meluas hingga mengubah kondisi-kondisi pekerjaan korban dan menciptakan lingkungan kerja yang kejam” [10] Jangan lakukan hal itu!)

    Meskipun sudah ada perlindungan hukum semacam ini, para pemberi kerja cenderung tidak konsisten dengan kebijakan mereka sehubungan dengan penginjilan. Terkadang pemberi kerja tidak mengetahui hak-hak pekerja dalam hal ini, atau memilih mengabaikannya, sehingga penegakan hukumnya bisa berbeda-beda. Menurut Deborah Weinstein, yang mengajar Undang-undang Ketenagakerjaan di Wharton School, Universitas Pennsylvania, "Pengadilan di seluruh negeri sangat berbeda-beda dalam menafsirkan isu ini. Dalam kasus tahun 2006 di California, pengadilan mengatakan bahwa proselitisasi yang terus-menerus dan terang-terangan dilarang karena dapat menjadi gangguan. Tetapi pengadilan lain, seperti di Colorado, mengatakan bahwa para pemberi kerja harus berusaha keras mendukung orang-orang yang perlu melakukan proselitisasi.[11]

    Tentu saja, jika kita harus menggunakan kekuatan hukum untuk berbicara tentang Allah kepada rekan-rekan kerja, kita mungkin telah kehilangan kesempatan untuk mendapat rekan bicara. Mungkin kita perlu bertanya mengapa ada kebijakan yang sangat membatasi itu pada awalnya. Apakah kita atau orang Kristen lain pernah melakukan gangguan, penyelewengan, penyalahgunaan kekuasaan, atau pelanggaran lainnya saat berbicara tentang Allah? Sekalipun ada hukum yang berpihak pada Anda tentang dengan hak untuk menginjili, namun jika cara-cara Anda tidak dapat dipertanggungjawabkan, Anda bisa berisiko menjauhkan orang-orang yang akan Anda ajak bicara.

    Bagaimanapun, sangat penting untuk menghindari ketidakseimbangan kekuasaan saat membagikan iman kita di tempat kerja. Jika kita memiliki kekuasaan atas orang lain, ada bahaya bahwa membagikan iman kita akan dipandang sebagai pemaksaan. Orang mungkin takut untuk berkata tidak atau meminta kita berhenti bicara. Mereka bahkan bisa berpura-pura menerima pesan kita karena takut prospek pekerjaan mereka akan berkurang jika mereka tidak menerimanya. Yang lain mungkin menduga orang-orang yang menerima pesan kita akan mendapat keuntungan di tempat kerja. The Conference Board —sebuah organisasi bisnis global— memerhatikan, “Karena para supervisor memiliki wewenang untuk mempekerjakan, memecat, atau mempromosikan seseorang, para karyawan bisa menganggap ekspresi keagamaan supervisor mereka sebagai paksaan, meskipun hal itu tidak dimaksudkan demikian.”[12]

    Sebagian orang Kristen berpendapat bahwa yang terbaik adalah menghindari penginjilan kepada orang-orang yang posisi kekuasaannya lebih rendah dan memercayai Tuhan agar menunjuk orang lain untuk membagikan Kabar Baik kepada mereka. Yang lain percaya bahwa para supervisor bisa saja membagikan iman mereka jika mereka benar-benar memperhatikan untuk mencegah dampak yang merugikan. Sudah jelas bahwa, jika berbicara tentang Tuhan akan mengeksploitasi ketidakseimbangan kekuasaan, maka kita tidak boleh melakukannya. Berhati-hatilah, dan ingatlah bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan hampir selalu meremehkan betapa besarnya pengaruh kekuasaan itu terhadap orang-orang yang posisinya lebih rendah. Seorang supervisor mungkin berpikir percakapan sambil lalu tentang iman bukanlah penyalahgunaan kekuasaan, tetapi bagaimana supervisor itu bisa benar-benar tahu kalau bawahannya merasakan hal yang sama? Bertanya kepada bawahan jelas bukan cara mengetahui yang dapat diandalkan!

    Intinya, setidaknya di Amerika Serikat, hampir di setiap tempat kerja kita memiliki hak untuk menceritakan Kabar Baik kepada orang lain, selama kita melakukannya dengan cara yang tidak menyinggung, agresif, atau menyalahgunakan kekuasaan. Dengan kasih karunia Allah, hal ini seharusnya sangat mungkin dilakukan.

    Nasihat Penutup untuk Para Duta Besar Kristus

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Sebagai duta-duta besar Kristus, kita adalah para pemain inti dalam drama besar penebusan. Allah di dalam Kristus sedang mendamaikan dunia dengan diri-Nya dan Dia ingin kita bergabung dengan-Nya. Dia tidak memerlukan kita untuk menggenapi rencana-Nya, tetapi Dia memberi kita hak istimewa ini. Dia mengundang kita untuk bergabung dengan-Nya dalam penebusan dunia dan berpartisipasi bersama Roh Kudus untuk menarik orang-orang kepada diri-Nya. Dengan hikmat-Nya yang tak terbatas, Allah telah menetapkan bahwa kedaulatan-Nya dan tanggung jawab manusia akan bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya. Meskipun terlalu tinggi untuk dipahami pikiran kita yang terbatas, Allah memanggil kita untuk memercayai hal ini dengan iman dan memenuhi peran kita dalam cerita-Nya dengan menghasilkan murid. Sebagai pengikut Kristus di tempat kerja, kita tidak hanya memiliki kewajiban tetapi juga kesempatan luar biasa untuk mendukung kemajuan manusia dan menyampaikan Injil kepada orang-orang yang tinggal dan bekerja bersama kita. Tak seorang pun dari kita mampu melakukan tugas itu, tetapi untungnya Allah mampu. Kemampuan Allah-lah, bukan kemampuan kita sendiri, yang pada akhirnya memberi kita keyakinan dalam tugas penginjilan itu. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).

    Untuk Bacaan Lebih Lanjut

    Workplace Grace oleh Bill Peel dan Walt Larrimore

    Permission Evangelism oleh Michael L. Simpson

    The Heart of Evangelism oleh Jerram Barrs

    Apologetics at the Cross oleh Joshua D. Chatraw dan Mark D. Allen

    Apa Kata Alkitab tentang Keuangan? (Tinjauan Umum)

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Apakah keuangan berkontribusi pada kemajuan masyarakat dan pelayanan kepada sesama? Ketua United Kingdom Financial Service Administration mengatakan bahwa peran penting perbankan "tidak memberi manfaat bagi masyarakat.” [1] Laura Newland, yang baru lulus dari Universitas Duke, dalam tulisannya di New York Times menyesalkan para lulusan yang bekerja di bidang keuangan, karena menurutnya mereka bisa bekerja di bidang yang memberi manfaat bagi masyarakat.[2] Orang-orang muda bertanya-tanya apakah belajar atau bekerja di bidang keuangan merupakan pekerjaan terhormat.

    Di dalam artikel ini, kita akan menilai pentingnya keuangan dari perspektif teologi Kristen—khususnya Alkitab—dan dari literatur dan praktik finansial. Kesimpulan kami, keuangan bukan tidak bermanfaat secara sosial. Bahkan penyelidikan Alkitab dan teologi kami menunjukkan bahwa Allah menciptakan dasar-dasar keuangan dan memerintahkan kita untuk menggunakan keuangan bagi kebaikan sosial, khususnya dalam penatalayanan, keadilan, dan kasih.

    Penatalayanan, keadilan, dan kasih dapat memiliki banyak arti yang berbeda, oleh karenanya kita perlu menentukan apa yang kita maksudkan dengan ketiga hal ini. Penatalayanan adalah ketaatan pada perintah Allah untuk mengembangkan ciptaan-Nya dari yang berupa seperti taman menjadi seperti kota, sambil mengingat bahwa semua itu milik-Nya. Kita harus merawatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban sebagai pengelola. Keadilan adalah memperlakukan orang lain dengan rasa hormat yang pantas atas hak-hak mereka sebagai manusia; hak-hak yang didasarkan pada fakta bahwa semua manusia dikasihi Allah. Kasih adalah memerhatikan orang lain dengan berusaha mewujudkan kesejahteraan mereka sebagai tujuan itu sendiri, dan dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia. Keuangan dalam kerangka ini merupakan tempat yang sangat baik untuk orang Kristen bekerja dan mengusahakan pembaruan dan transformasi sosial, meskipun akibat dosa sudah merambah ke bidang keuangan.

    Pendekatan kita pertama-tama adalah memikirkan apa itu keuangan, bagaimana batu-batu bangunan dasarnya diciptakan oleh Allah dan bagaimana Allah memampukan manusia untuk membangun institusi-institusi keuangan di atas dasar-dasar yang Dia ciptakan itu. Kita juga akan memikirkan dampak Kejatuhan pada keuangan, dan khususnya apakah keuangan dengan suku bunga pasar memiliki peran positif di dunia yang telah jatuh ini. Kemudian kita akan merajut tema-tema biblika tentang visi keuangan yang ditebus dengan hal-hal spesifik tentang para profesional keuangan, peminjam dan pemberi pinjaman.

    Apa Itu Keuangan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Keuangan adalah aktivitas manusia dalam kita mengalokasikan atau bertukar sumber daya yang terkait dengan waktu. Sebagian besar artikel ini berkaitan dengan pertukaran/transaksi eksternal—yaitu, meminjam, memberi pinjaman, dan berinvestasi—bukan mengalokasikan sumber daya dalam entitas-entitas. Istilah "keuangan" di sini digunakan sebagai cara singkat untuk menyebut transaksi keuangan di antara para pihak. Fungsi-fungsi keuangan dalam rumahtangga dan institusi juga berkaitan dengan pengalokasian sumber daya pada waktu tertentu, dan dengan analogi banyak prinsip yang sama yang berlaku. Tetapi keuangan internal—seperti penganggaran atau perencanaan proyek—memiliki situasi-situasi khusus tersendiri, yang tidak dibahas dalam artikel ini.

    Keuangan terjadi ketika orang yang hendak meminjam sejumlah sumber daya dalam jangka waktu tertentu melakukannya dengan membuat perjanjian dengan orang yang memiliki sumber daya lebih banyak dari yang ia butuhkan saat ini. Peminjam bersedia membayar harga (bunga) untuk mendapatkan akses saat ini ke sumber daya itu, dan pemberi pinjaman akan mendapat keuntungan atau menerima pengembalian di waktu mendatang dari melepas akses ke sumber daya saat ini tersebut. Dengan asumsi semuanya berjalan lancar, pemberi pinjaman menguntungkan peminjam dengan menyediakan sumber daya pada saat yang ia butuhkan (saat ini), sementara peminjam menguntungkan pemberi pinjaman dengan meningkatkan sumber dayanya di waktu mendatang. Jika semuanya berjalan baik, peminjam akan menggunakan sumber daya itu sedemikian rupa sehingga baik peminjam maupun pemberi pinjaman akan sama-sama diuntungkan setelah sumber daya yang dipinjam itu dikembalikan kepada pemberi pinjaman.

    Secara agak resminya dapat dikatakan bahwa, keuangan adalah aktivitas manusia yang terlibat dalam alokasi dan pertukaran sumber daya dengan memerhatikan waktu. Untuk singkatnya, kita akan memakai istilah "pinjaman" untuk merujuk pada segala bentuk penyediaan sumber daya, termasuk utang, ekuitas (modal saham), derivatif (instrumen turunan), dll. Jadi pemberi pinjaman itu bisa rumah tangga/keluarga yang memiliki simpanan di bank, tetapi bisa juga para investor saham, investor ekuitas swasta, atau karyawan yang membayar iuran dana pensiun. Demikian pula, peminjam itu bisa rumahtangga/keluarga yang memiliki pinjaman dari bank, tetapi bisa juga bisnis-bisnis yang menjual saham, keluarga yang meminjam untuk membeli rumah, atau entitas-entitas pemerintah yang menerbitkan obligasi di pasar bebas. Secara umum kita akan merujuk pada transaksi-transaksi berbasis pasar yang dilakukan secara sukarela dan saling menguntungkan.[1] Kita tidak akan membahas teologi tentang jenis-jenis alokasi sumber daya non-pasar—seperti alokasi sumber daya pemerintah atau non-sukarela—yang lebih tepatnya disebut "subsidi." Dan juga, karena “keuangan” yang kita maksud adalah pertukaran sumber daya pada waktu tertentu dengan harapan akan terjadi pertukaran-balik sumber daya itu di kemudian hari, maka kita tidak akan membahas tentang pasar tenaga kerja, pasar barang dan jasa, dan lain-lainnya, yang lebih tepatnya disebut “perdagangan”.

    Contoh yang paling kuno mungkin adalah meminjamkan alat berburu kepada sesama anggota suku dalam jangka waktu tertentu dengan persetujuan alat itu akan dikembalikan lagi beserta sebagian hasil buruan. Contoh yang lebih kemudian mungkin adalah meminjam benih dari tetangga dengan persetujuan sejumlah benih itu akan dikembalikan dengan sedikit tambahan pada akhir musim tanam. Lalu, ketika mata uang mulai dikembangkan, transaksi pinjam meminjam yang lebih rumit dapat ditangani dengan lebih mudah. ​​Nelayan yang berhasil bisa menjual hasil tangkapannya dan memiliki uang lebih setelahnya. Petani dapat meminjam uang itu, membeli benih, menanam padi, menjual sebagian hasil panen, dan membayar kembali modal awal dari nelayan itu ditambah bunga tertentu. Nelayan itu membantu membuat si petani berhasil dan juga sebaliknya. Dengan cara ini, orang saling menguntungkan dengan cara yang melampaui keterampilan atau kemampuan mereka sendiri. Sejarah keuangan adalah sejarah kreativitas manusia dan kerja sama sosial yang dilakukan untuk membuat sumber daya bumi pemberian-Allah lebih produktif.

    Dari abad ke abad, beberapa jenis insitusi telah dikembangkan untuk sangat memudahkan pinjam-meminjam sumber daya ini. Bank-bank, bank investasi, reksa dana, badan keuangan mikro, koperasi simpan pinjam, dan berbagai lembaga lainnya telah bermunculan untuk membantu peminjam dan pemberi pinjaman saling bertemu dan bertukar atau bertukar-balik sumber daya yang sesuai dengan kebutuhan peminjam dan pemberi pinjaman. Sebagai contoh, reksa dana memungkinkan orang untuk menginvestasikan sejumlah kecil uang dalam berbagai saham dan obligasi, yang akan terlalu repot dan rumit jika diinvestasikan secara perorangan. Kontrak atau instrumen-instrumen yang digunakan dalam keuangan meliputi utang dan ekuitas serta berbagai gabungan dan turunannya yang dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan peminjam atau penyimpan tertentu.

    Tujuan Allah dalam Keuangan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Keuangan memiliki peran dalam tujuan Allah bagi manusia. Tiga tujuan utama manusia bekerja yang dinyatakan dalam Alkitab adalah untuk: i) menyatakan kemuliaan Allah, ii) terlibat dalam penatalayanan, dan iii) menunjukkan keadilan dan kasih. Kita akan membahas setiap tujuan ini sebentar lagi. Namun sebelumnya, mari kita ingat bahwa keuangan—sebagaimana halnya semua usaha manusia—juga telah menderita akibat dosa yang mendalam dan merusak. Sebagai contoh, keserakahan dan ketidakjujuran memengaruhi keuangan dalam berbagai situasi, mencemari secara langsung pelayanan bagi kemuliaan Allah, serta penatalayanan, keadilan, dan kasih manusia. Kita akan membahas dampak dosa ini secara agak lebih rinci nanti. Namun pertama-tama, mari kita menjelajahi keuangan menurut tujuan awal Allah bagi dunia, yang memberi kita gambaran sekilas tentang apa yang dimaksud Allah dan apa yang bisa terjadi melalui penebusan Kristus.

    Keuangan Membantu Menyatakan Kemuliaan Ciptaan Allah

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Dalam narasi Alkitab, Allah menciptakan segala sesuatu untuk kemuliaan dan kehormatan-Nya (Kolose 1:16, Wahyu 4:11). Dasar-dasar keuangan—seperti halnya semua ciptaan—menyatakan kreativitas Allah yang tak tertandingi. Allah menciptakan waktu—musim-musim, tahun-tahun, dan umur/masa hidup. Allah menenun kita agar kita memiliki keinginan dan kemampuan untuk hidup dan berkembang dalam komunitas dengan jalinan interaksi sosial yang kaya, yang salah satunya dengan berbagi sumber daya dari waktu ke waktu. Ketika kita berbagi sumber daya dari waktu yang satu ke waktu yang lain dalam jaringan relasi sosial, kita mengambil bagian dalam penciptaan-Nya yang melimpah dan menghidupkannya dengan kreativitas dan kasih yang Dia berikan pada kita sesuai citra-Nya. Seperti musik yang indah dan makanan yang lezat, keuangan menyatakan kemuliaan Allah dengan menunjukkan kemahakuasaan dan kreativitas-Nya dalam ciptaan-Nya. Kita akan mengembangkan penghargaan tentang kemuliaan Allah yang lebih rinci di bagian berikutnya saat kita melihat bahwa Allah telah menciptakan delapan dasar spesifik dalam keuangan.

    Keuangan Membantu Kita Memenuhi Mandat Ciptaan Sebagai Penatalayan Yang Baik

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
    Mengikut Kristus Sebagai Analis Keuangan

    Dalam sebuah wawancara dengan The High Calling, Will Messenger membicarakan tentang mencari Kristus di bidang keuangan.

    Pertanyaan: “Bagaimana Anda mengikut Kristus sebagai seorang analis keuangan?”

    Apakah Anda punya jawaban praktis untuk diri Anda sendiri?

    Saya bekerja sebagai analis keuangan di sebuah bank investasi pada suatu musim panas. Saya ditugaskan untuk mengerjakan sebuah proyek yang membuat kami dapat melihat apakah kami bisa mendapatkan investor ekuitas swasta untuk membeli pembangkit listrik dari perusahaan utilitas listrik. Jika ya, kami bisa mendapat bayaran besar dari setiap transaksi. Cara kami melakukannya adalah: Saya akan membuat model keuangan untuk setiap pembangkit listrik yang menunjukkan berapa megawatt jam yang bisa dihasilkan, berapa harga jual tiap megawatt jam, berapa biaya untuk batu bara, upah karyawan, dll. Kemudian saya akan menghitung angka-angka itu, menanyakan suku bunga maksimum yang dapat dibayarkan untuk obligasi “sampah” (berperingkat rendah) yang akan diterbitkan investor ekuitas swasta itu, agar kami dapat mengumpulkan dana untuk membeli pembangkit tenaga listrik.

    Selanjutnya kami akan tahu apakah kami bisa mendapatkan investor yang bersedia membeli obligasi, meskipun suku bunganya terlalu rendah untuk benar-benar bisa mengimbangi risiko tinggi jika pembangkit listrik itu bangkrut karena harga batu bara naik, atau permintaan listrik turun. Saya dalam posisi paling junior. Orang yang menggagas proyek ini juga kurang berpengalaman, dan berusaha menghasilkan bayaran dengan mengusulkan beberapa transaksi. Bagi saya itu bukanlah cara yang benar-benar menebus/memperbaiki keadaan. Ini bukan tentang membiayai kebutuhan pembangkit listrik dari perusahaan utilitas. Ini bukan tentang menciptakan struktur keuangan yang berkelanjutan untuk membantu perusahaan bertahan dari naik turunnya pasar energi. Ini hanya tentang melihat apakah kami dapat melakukan banyak transaksi dan mendapat bayaran besar.

    Tidak seperti di IBM, saya tidak bisa melihat masalah bisnis apa yang hendak diselesaikan. Saya percaya bahwa dalam segala sesuatu Kristus bekerja untuk menebus dunia kita yang sudah rusak dalam segala hal—bukan hanya dalam kita menyembah hal-hal yang salah dan mengejar ilah-ilah palsu secara harfiah, tetapi juga dalam hal-hal ekonomi dan organisasi yang salah di dunia ini. Saya kira Allah juga tertarik pada pembangkit tenaga listrik. Saya tahu industri pembangkit tenaga listrik terkendala berbagai macam masalah pada saat itu. Tetapi saya tidak melihat proyek kami sedang menyelesaikan masalah yang riil dari pekerjaan pembangkit tenaga listrik yang sebenarnya itu.

    Lalu adakah hal yang Anda lakukan sebagai bankir investasi, yang Anda pikir bersifat menebus - atau berarti dari sudut pandang Allah?

    Oh, ya! Saya membantu perusahaan lain melakukan rekapitulasi dengan menerbitkan saham preferen yang dapat dikonversi dan menggunakan pendapatannya untuk melunasi utang. Itu membuat basis keuangan mereka lebih kokoh, sehingga mereka bisa fokus pada pertumbuhan bisnis. Dan ini juga masuk akal bagi para investor. Saya tidak ingin melebih-lebihkan betapa memulihkannya transaksi keuangan yang baik. Ada perbedaan yang jelas antara jiwa seseorang dengan struktur keuangan dalam organisasi, tetapi saya juga tidak berpikir Allah tidak peduli dengan keuangan. Struktur keuangan memungkinkan untuk meneliti dan menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat, mempekerjakan orang, menyediakan pendapatan investasi bagi para pensiunan, dana abadi untuk perguruan tinggi, dan sebagainya. Gambaran tentang Kerajaan Akhir, Kerajaan Allah yang kekal, bukanlah tentang kita menjadi roh tanpa tubuh yang melayang-layang di suatu tempat yang tidak ada apa-apa. Melainkan, kita akan melihat langit baru dan bumi baru, dengan kerajaan-kerajaan dunia yang membawa kekayaan mereka ke Yerusalem Baru. Jadi kita akan terus memiliki aspek-aspek kehidupan yang terwujud sepenuhnya—hal-hal ciptaan diubahkan, bukan dilenyapkan.

    Penatalayanan adalah pemenuhan mandat Allah untuk memenuhi bumi, menaklukkan (atau memerintah), mengerjakan, dan memeliharanya (Kejadian 1:28-30, Kejadian 2:15). Ciptaan Allah yang mula-mula ditunjukkan di kitab Kejadian sebagai taman yang dipenuhi berbagai tumbuhan, hewan, dan manusia dalam persekutuan yang sempurna dengan Allah. Taman itu baik, tetapi tidak dimaksudkan untuk tetap seperti itu selamanya. Ketika Alkitab melihat ke depan kepada penggenapan ciptaan Allah, Alkitab menunjukkan pada kita dunia yang penuh dengan orang-orang dari setiap suku bangsa yang memuji Allah. Mereka tidak lagi berada di taman, tetapi di kota yang memiliki fondasi, tembok, pintu gerbang, jalan dengan deretan pepohonan, besi, emas, hewan peliharaan, dan kapal-kapal dagang (Yesaya 60, Wahyu 21). Pengembangan ciptaan dari taman menjadi kota yang dipenuhi manusia dan unsur-unsur budayanya adalah kesimpulan dari mandat Allah untuk memenuhi bumi, menaklukkan, mengerjakan, dan memeliharanya. Meskipun ciptaan Allah yang mula-mula itu sempurna dan sarat sumber daya, ciptaan ini belum selengkap yang Allah mau jadikan. Mouw berpendapat bahwa “Allah sejak semula bermaksud agar manusia memenuhi bumi dengan berbagai proses, pola, dan produk pembentukan budaya.”[1] Kita adalah tangan-tangan kreatif Allah yang melanjutkan karya kreatif-Nya, untuk membangun dengan kasih karunia Allah di atas fondasi ciptaan-Nya yang sempurna dan kaya. Van Duzer berpendapat bahwa ciptaan Allah yang sempurna, meskipun belum lengkap, merupakan fondasi yang sangat baik untuk bisnis.[2]

    Mengalokasikan sumber daya dengan baik dari waktu ke waktu agar terus berkembang sangat penting dalam memenuhi mandat ciptaan ini. Contoh-contoh tentang bagaimana keuangan membantu manusia dalam mematuhi mandat ciptaan Allah meliputi: menabung uang untuk membeli benih di musim tanam, mengumpulkan modal untuk membeli alat pertambangan yang akan menghasilkan bijih besi di tahun-tahun mendatang, keluarga muda yang meminjam uang untuk membeli rumah, dan masyarakat yang menerbitkan obligasi untuk mendirikan sekolah. Keuangan menyediakan pengalokasian sumber daya yang berorientasi ke depan yang diperlukan untuk pertumbuhan. Keuangan menyediakan sumber daya bagi orang-orang yang memiliki peluang terbesar untuk meningkatkan sumber dayanya di waktu mendatang, dan kemudian membagikan peningkatan sumber daya itu kepada orang yang meminjamkan sumber daya berlebih, yang tidak akan produktif jika tidak dipinjamkan. Tanpa keuangan, orang hanya akan hidup setiap hari dengan sumber daya yang bisa mereka peroleh pada hari itu, atau yang telah mereka kumpulkan secara pribadi pada hari-hari sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi yang telah dialami manusia dari abad ke abad tidak mungkin terjadi tanpa keuangan. Manusia tidak mungkin berkembang tanpa meminjam dan meminjamkan.[3]

    Allah memberi kita mandat bukan hanya untuk mengelola ciptaan-Nya, tetapi juga untuk merawatnya.[4] Karena meminjam dan meminjamkan pada dasarnya melibatkan lintas-waktu, keuangan mendorong perspektif jangka panjang dalam pengambilan keputusan. Orang yang mengajukan pinjaman hipotek (semacam KPR) untuk membeli rumah cenderung akan merawat lebih baik daripada orang yang menyewa rumah jangka pendek. Sebaliknya, aktivitas-aktivitas yang tidak berkelanjutan sulit mendapat pendanaan. Siapa yang mau meminjamkan uang kepada perusahaan kayu yang terlalu cepat menebang pohon-pohon sampai kayunya akan habis dalam waktu beberapa tahun saja? Keuangan juga memungkinkan peningkatan modal dari mengurangi pemakaian sumber daya alam untuk operasional. Sebagai contoh, sebuah kota dapat meminjam uang untuk mengembangkan sistem transportasi umum, yang akan lebih memanfaatkan sumber daya karbon/energi milik Allah dan juga memberikan pemasukan dana pensiun bagi para investor obligasi daerah.

    Keuangan Dapat Menjadi Sarana Keadilan dan Kasih

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Keuangan memungkinkan terjadinya aktivitas-aktivitas tertentu yang menunjukkan keadilan dan kasih. Kami mengadopsi pandangan keadilan Wolterstorff yang berpendapat bahwa setiap orang harus diperlakukan dengan rasa hormat yang pantas atas hak-hak mereka sebagai manusia.[1] Pandangan teistik Wolterstorff mendasarkan hak-hak manusia ini semata-mata pada fakta bahwa setiap manusia dikaruniai kehormatan untuk dikasihi Allah. Jadi, “Oleh karena keterikatan Allah pada manusia, orang yang menyakiti manusia juga bersalah pada Allah.”[2] Relasi Allah-manusia inilah yang melahirkan hak-hak manusia, yang kemudian membentuk wawasan kita tentang keadilan. Kami juga memakai konsep “kepedulian” kasih Wolterstorff yang ia sebut “care-agapism”—yaitu berusaha mewujudkan kesejahteraan orang lain sebagai tujuan itu sendiri dan dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia.[3] Ia berpendapat bahwa kasih sebagai kepedulian adalah cara terbaik untuk memahami kasih yang alkitabiah (agape), karena kepedulian menggabungkan keadilan dengan kasih. “Kepedulian mencakup upaya agar orang yang dikasihi diperlakukan dengan adil. Dan kepedulian adalah kasih yang biasanya untuk mengasihi diri sendiri, yang Yesus hubungkan dengan Allah untuk kita, dan Yesus perintahkan pada kita untuk Allah dan sesama. Memahami kasih sebagai kepedulian memberi kita wawasan yang terpadu tentang keempat manifestasi kasih.”[4] Kepedulian meliputi tindakan yang bisa mengandung risiko atau memerlukan pengorbanan tertentu dari pihak yang mengasihi.

    Kasih yang diwujudkan dengan kepedulian sesuai dengan pandangan Kristen tentang keadilan dan kasih. Contohnya, Chris Wright menunjukkan bahwa tema-tema pokok Alkitab tentang kebenaran dan keadilan merupakan konsep-konsep yang berkaitan erat yang berarti "apa yang perlu dilakukan dalam situasi atau relasi tertentu" untuk mengembalikan segala sesuatu kepada yang semestinya.[5] Wright lalu berpendapat bahwa Allah memilih Abraham secara khusus untuk memajukan misi-Nya dalam memberkati bangsa-bangsa dengan keadilan dan kebenaran.[6] Ini berarti bahwa alasan Allah memilih kita juga untuk memberkati orang-orang di sekitar kita dengan keadilan dan kebenaran. Pandangan Wright memberi kita alasan untuk benar-benar mempraktikkan kasih ini. Kita diberi amanat oleh Allah untuk memberkati orang-orang di sekitar kita dengan menunjukkan kasih, yaitu dengan mewujudkan kesejahteraan mereka dengan cara yang menghormati mereka sebagai orang-orang yang dikasihi Allah.

    Dan kepada siapa kita perlu menunjukkan kasih dan keadilan ini? Yesus berkata bahwa ajaran-Nya yang terpenting adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan kita dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Matius 22, Markus 12, Lukas 10), yang menggemakan ajaran Musa sebelumnya.[7] Perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati menjelaskan bahwa sesama kita adalah siapa saja yang dapat kita tunjukkan kasih dan keadilan, bahkan orang-orang yang tak punya hubungan dengan kita sebelumnya. Atau seperti dikatakan Wolterstorff, “Saya menganggap Yesus memerintahkan kita untuk siaga melakukan kewajiban yang dibebankan pada kita oleh kebutuhan siapa saja yang kita temui.”[8]

    Konsep keadilan dan kasih Wolterstorff berguna untuk memahami tujuan keuangan yang dimaksudkan Allah karena dua alasan. Pertama, keuangan dapat bermanfaat untuk mewujudkan kesejahteraan orang lain dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia. Keuangan menyediakan akses kepada sumber daya. Sumber daya yang disediakan keuangan untuk dialokasikan-kembali dapat membantu orang berkembang, dan berbagi sumber daya secara sukarela dan saling menguntungkan adalah cara yang sangat baik, meskipun bukan satu-satunya cara, untuk menunjukkan rasa hormat yang pantas kepada orang lain. Inilah hakikat keadilan. Jika Anda tidak memiliki sumber daya yang Anda butuhkan saat ini untuk produktif, dan jika Anda bersedia membagikan sebagian peningkatan sumber daya itu pada saya nanti, maka wajar jika kita meminjamkan, meminjam, dan membayar kembali dengan saling menghormati. Kedua, keuangan dapat menjadi sarana untuk mengasihi sesama—dalam arti peduli dengan kesejahteraan mereka—orang-orang yang bahkan tidak memiliki hubungan pribadi dengan kita atau tinggal di dekat kita. Manajemen keuangan yang terstruktur baik— dengan sistem hukum yang baik—memungkinkan orang asing untuk meminjam dan meminjamkan dengan keyakinan akan mendapat hasil/pengembalian yang pantas. Dengan cara ini, kita dapat berbagi sumber daya untuk saling menguntungkan jauh di luar lingkup kita sendiri. Tidak semua manajemen keuangan mewujudkan keadilan dan kasih dengan cara ini, tetapi semua seharusnya dapat dan melakukan yang seperti ini. Chaplin mendorong kita untuk merombak institusi-institusi, mungkin secara radikal, agar dapat “mewujudkan norma utama kasih” dan berfungsi sebagai “saluran” kasih dan keadilan.[9]

    Dasar-dasar Keuangan Diciptakan oleh Allah

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Allahlah yang memilih menciptakan kita dengan cara tertentu yang memungkinkan adanya keuangan. Ini bukan berarti Allah menciptakan institusi atau sistem keuangan tertentu, tetapi bahwa manusia diciptakan dengan cara yang memberi peran pada keuangan dalam tujuan Allah. Konsep ini sangat penting dalam teologi kita. Jika Allah tidak menciptakan dasar-dasar keuangan, maka keuangan itu murni penemuan manusia yang tidak memiliki peran apa pun dalam tujuan Allah bagi manusia. Namun, jika Allah menciptakan dasar-dasar keuangan, maka Dia pasti melakukannya untuk suatu tujuan, dan tujuan itu harus sesuai dengan kehendak-Nya yang dinyatakan. Kita akan membahas delapan dasar keuangan ini untuk melihat apakah hal itu benar-benar lahir dari penciptaan Allah.[1]

    Kita Terikat-Waktu

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Allah menciptakan dunia dengan waktu dan tempat untuk hidup manusia yang terbatas. Melalui penciptaan Allah, kita memiliki hari-hari, musim-musim, generasi-generasi, dan umur/masa hidup (Kejadian 1, Mazmur 104).[1] Selanjutnya, kita perlu menyadari tentang waktu dan akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu hidup kita (Mazmur 90:12, Pengkhotbah 3, Amsal 6:6-11, Amsal 20:4). Kana berpendapat bahwa waktu adalah sumber daya Allah dan kita sebagai pengelola waktu.[2]

    Mengalokasikan sumber daya di antara orang-orang dari berbagai periode waktu merupakan dasar yang menopang keuangan. Sumber daya keuangan dibutuhkan selama beberapa hari oleh karena waktu produksi atau pengiriman, atau beberapa bulan oleh karena bisnis musiman, atau setengah tahunan karena berkaitan dengan musim tanam, atau selama beberapa tahun untuk pengembangan dan peluncuran produk baru, atau puluhan tahun untuk membangun pabrik atau membeli rumah, atau hampir seumur hidup untuk tabungan pensiun. Di dunia dengan kebutuhan, peluang, dan ketersediaan sumber daya yang bervariasi dari waktu ke waktu, keuangan merupakan sarana utama untuk menyesuaikan sumber daya dengan kebutuhan dari waktu ke waktu.

    Kita Makhluk Sosial

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Manusia diciptakan untuk menjadi makhluk sosial dan hidup dalam komunitas, dan kita memiliki hasrat untuk bersama orang lain. Sebagaimana dikatakan Allah, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja” (Kejadian 2:18). Lagipula, kita diciptakan segambar dengan Allah (Kejadian 1:26-27; 2 Korintus 3:8), dan Tritunggal Yang Mahakudus yang berada dalam kesatuan yang sempurna merupakan model komunitas untuk kita (Galatia 4:1-7). Sebagai bentuk cara berbagi sumber daya di antara manusia, keuangan pada dasarnya merupakan aktivitas sosial. Dengan menciptakan kita sebagai makhluk sosial, Allah meletakkan dasar untuk pertukaran sumber daya, yang bentuk krusialnya adalah keuangan.

    Kita Heterogen

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Manusia diciptakan dengan beragam keterampilan, kebutuhan, dan keinginan. Di Alkitab, kita melihat keberagaman dalam ciptaan Allah ini ketika Dia mengaruniakan berbagai macam keterampilan kepada manusia untuk membangun tabernakel (Keluaran 35:30-36:5) dan membangun kembali Yerusalem sekembalinya sisa-sisa umat Allah dari pembuangan di Babel (Ezra 7:6-7; Nehemia 1, 2). Paulus mengajarkan bahwa setiap kita diberi karunia yang berbeda-beda (1 Korintus 12:12-31). Selain itu, karena kita semua tidak dilahirkan pada waktu yang sama, masyarakat manusia memiliki beragam tingkat usia dan tahap kehidupan. Sebagian orang masih kecil dan belum dapat mencari makan dan mengusahakan tempat tinggal sendiri, sebagian orang muda lainnya baru saja mulai dapat melakukannya, dan sebagian orang lainnya lagi sedang berada pada masa-masa sangat produktif dan memiliki sumber daya yang melebihi kebutuhan mereka saat ini, sementara yang lainnya lagi sudah lanjut usia dan membutuhkan bantuan untuk menopang diri sendiri, atau perlu memanfaatkan sumber daya yang dikumpulkan pada tahun-tahun kehidupan mereka sebelumnya.

    Keberagaman atau heterogenitas ini merupakan dasar dalam pasar keuangan karena pada suatu saat sebagian orang akan memiliki sumber daya yang berlebih, sementara yang lain memiliki kebutuhan atau peluang untuk memakai sumber daya yang tidak mereka miliki saat ini. Sebagai contoh, sebagian dari kita mungkin perlu meminjam uang untuk mengejar peluang bisnis atau membangun infrastruktur demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi. Sementara yang lain akan menjadi penyimpan dalam periode tertentu kehidupan mereka dan dapat meminjamkannya untuk memenuhi kebutuhan orang yang meminjam.

    Kita Bertindak Sebagai Perwakilan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Manusia diciptakan untuk bertindak bagi orang lain, untuk menjadi penatalayan atau perwakilan. Contoh utamanya adalah Allah memerintahkan kita untuk mengurus ciptaan-Nya dan mengelola anugerah-Nya (1 Petrus 4:10). Kita juga tahu bahwa Allah memanggil Yusuf untuk bertindak sebagai penatalayan bagi Potifar dan juga Firaun (Kejadian 39:2-6; 41:41-44). Perumpamaan Yesus tentang talenta menjelaskan bahwa kita adalah para penatalayan-Nya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang Dia inginkan dari kita (Matius 25:14-30).

    Keuangan tergantung pada orang-orang yang bertindak sebagai perwakilan atau penatalayan bagi orang lain. Para eksekutif bertindak sebagai perwakilan bagi para pemegang saham perusahaan. Manajer reksa dana bertindak atas nama para investor dalam memutuskan saham-saham atau obligasi yang akan diinvestasikan. Para pengacara memakai keahliannya untuk melayani kepentingan klien mereka dalam transaksi-transaksi keuangan. Keseluruhan cabang literatur keuangan didedikasikan untuk memahami dengan lebih baik berbagai relasi para perwakilan di bidang keuangan. Keuangan bisa ada karena Allah menciptakan manusia dengan kemampuan untuk bertindak bagi kepentingan orang lain.

    Kita Membuat Janji-janji

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Allah adalah Allah yang membuat janji dan perjanjian. Cerita Alkitab adalah cerita tentang janji-janji Allah yang ditepati. Manusia diciptakan menurut gambar-Nya, dan karenanya kita memiliki cerita-cerita Alkitab tentang manusia yang membuat janji kepada satu sama lain. Contohnya, cerita Rut bergantung pada janji-janji di antara orang-orang dari bangsa yang berbeda (Rut 1:16-18). Paulus merujuk pada janji-janji manusia di Galatia 3:15. Manusia diciptakan untuk dapat membuat dan menepati janji kepada satu sama lain.

    Setiap instrumen keuangan adalah janji di antara dua pihak atau lebih, yang tidak akan mungkin terjadi jika janji-janji bukan bagian dari ciptaan Allah. Pinjaman hipotek (Kredit Pemilikan Rumah) adalah janji untuk membayar sejumlah uang tertentu setiap bulan. Selembar saham adalah janji untuk menerima dividen (pembagian keuntungan) di masa mendatang dan hak untuk memilih anggota dewan. Dalam ekonomi modern, beberapa janji kita cenderung menjadi sangat rumit dan rinci sehingga biasanya dibuat tertulis. Tetapi perjanjian tertulis ini pada dasarnya menunjukkan kemampuan kita yang diciptakan untuk membuat dan menepati janji. Kemampuan ini begitu sentral dalam keuangan sehingga Alkitab mengajar kita untuk tidak berjanji berlebihan dalam keuangan kita (Amsal 22:26-27).

    Kita Tidak Mahatahu

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Manusia tidak mengetahui segalanya, dan setiap kita secara individu hanya mengetahui sebagian kecil saja dari yang dapat diketahui. Allah menciptakan setiap kita dengan keunikan pikiran yang berbeda dari orang lain dalam menerima, memproses, dan mengingat berbagai hal. Usaha manusia tergantung pada setiap kita yang memakai pengetahuan kita masing-masing untuk kebaikan bersama, bukan pada setiap kita yang mempelajari segala hal yang dibutuhkan untuk berhasil.

    Pengetahuan yang terbatas dan informasi yang tidak seimbang dimediasi oleh pasar-pasar keuangan. Ini berarti ketika suatu pinjaman dibuat, peminjam lebih memiliki informasi tentang kemampuannya melunasi daripada pemberi pinjaman. Ini berarti ketika kita membeli saham, penjual kemungkinan mengetahui sesuatu tentang saham itu yang tidak kita ketahui. Ketidakseimbangan ini akan memengaruhi kesediaan kita untuk berpartisipasi dalam pasar keuangan dan memengaruhi harga keuangan. Keuangan dibangun di atas dua kewajiban yang mengubah informasi tidak seimbang dari sebagai penghalang menjadi peluang. Pertama, kita menggunakan janji untuk menyatakan kepastian tentang informasi yang kita miliki yang tidak dimiliki pihak lain. Janji saya untuk membayar hipotek, dengan sanksi bisa kehilangan rumah, memberi Anda keyakinan untuk menyimpan uang di bank yang membiayai hipotek itu, meskipun Anda tidak mengetahui perkiraan penghasilan saya di masa depan. Kedua, kita melarang pemalsuan informasi dalam transaksi keuangan. Jika dokumen investasi Anda mengatakan ada pasar senilai $3 miliar untuk produk-produk yang seperti Anda miliki, informasi ini pasti akurat. Karena itu, kita dapat memanfaatkan informasi yang diberikan orang lain, meskipun kita tidak memiliki pengetahuan sendiri tentang keakuratannya.

    Kita Menciptakan Sumber Daya untuk Masa Depan Yang Tidak Kita Ketahui

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Allah menciptakan risiko karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan (Pengkhotbah 8:7). Tetapi Allah menciptakan kita dengan kemampuan untuk memengaruhi kejadian-kejadian di masa depan, khususnya dengan kemampuan menciptakan hal-hal baru yang akan terwujud di masa depan. Miller menguraikan tiga pandangan tentang risiko, dan yang ketiga adalah “penciptaan peluang” di mana imajinasi dan kreativitas manusia membuat masa depan tak bisa diprediksi karena kita mungkin—atau mungkin tidak—dapat mewujudkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada.[1] Selaras dengan ini, Buchanan dan Vanberg (1991) berpendapat bahwa pasar paling baik dipahami sebagai proses kreatif, bukan proses penemuan atau pengalokasian.[2] Menurut rancangan Allah, masa depan bukanlah hal yang sudah pasti, tetapi proses yang masih berlangsung yang dipengaruhi oleh pilihan manusia.

    Risiko ini sangat berdampak pada keputusan-keputusan keuangan.[3] Sebagian besar instrumen keuangan dan penetapan harga instrumen menunjukkan ketidakpastian ini. Pengajuan pinjaman ditolak karena ketidakpastian, atau diberi harga lebih tinggi untuk mengimbangi persentase yang diperkirakan gagal. Harga saham naik turun karena ketidakpastian. Perjanjian utang disertai syarat pelaporan dan jaminan karena ketidakpastian. Pasar-pasar keuangan sangat dipersulit oleh ketidakpastian, meskipun memberi manfaat yang besar juga bagi masyarakat karena risiko itu bisa dikelola dan dialokasikan- kembali melalui mekanisme keuangan.

    Kita Pengambil Risiko

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Allah menciptakan kita untuk dapat mengambil risiko dan memberikan dukungan alkitabiah untuk mengambil risiko (Kejadian 1:28-30; 2:15; Matius 25:14-30; Lukas 19:11-27; Yohanes 12:24). Kita diciptakan menurut gambar Allah yang mengambil risiko, yang telah mengambil “risiko dengan menciptakan dunia yang unik dan manusia berkehendak bebas untuk menguasainya.” [1] Allah menciptakan kita agar kita mengalami risiko, tetapi kita tahu bahwa Allah memelihara.[2] Namun, kita juga diberi banyak pengajaran Alkitab agar bijaksana dalam mengambil risiko.[3] Gregersen mendefinisikan risiko sebagai gabungan dari peristiwa-peristiwa alam, peristiwa-peristiwa dalam masyarakat, dan makna yang dibawanya pada seseorang.[4] Gregersen mengutip Luhmann yang berpendapat bahwa percaya adalah posisi bersedia mengambil risiko, yang menciptakan siklus positif antara kepercayaan dan risiko. Gregersen berpendapat bahwa Alkitab mengajarkan “dunia diciptakan oleh Allah yang baik dengan cara sedemikian rupa sampai mendorong sikap berani mengambil risiko dan menerima ganjarannya dalam jangka panjang.”[5]

    Sikap manusia terhadap risiko sangat penting dalam keuangan. Orang biasanya bersedia mengambil risiko tertentu tetapi tidak terlalu banyak, dan banyaknya bervariasi tergantung individu dan situasi. Kemampuan mengambil risiko serta keengganan mengambil risiko yang tidak perlu ini adalah bagian dari rancangan penciptaan Allah. Allah dengan hikmat-Nya telah menciptakan kita dengan kemampuan bawaan untuk menyeimbangkan risiko dengan ganjaran, dan kita melihat hal ini tercermin pada harga-harga keuangan. Dengan kesadaran ini kita dapat mengakui bahwa risiko yang dipahami dan dikelola sesuai dengan rancangan penciptaan Allah.

    Kesimpulan tentang Dasar-dasar Keuangan Yang Diciptakan Allah

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Delapan aspek penciptaan ini—khususnya penciptaan manusia—membentuk fondasi keuangan. Keuangan menjembatani kesenjangan-kesenjangan yang dapat menghalangi orang memanfaatkan sumber daya yang tidak terpakai untuk menumbuhkan dan meningkatkan produktivitas manusia serta berbagi sumber daya secara sosial untuk saling menguntungkan. Dengan kata lain, keuangan mengubah kondisi-kondisi kehidupan manusia menjadi kesempatan-kesempatan untuk memuliakan Allah, melayani sebagai pengelola ciptaan, dan saling peduli dengan keadilan dan kasih.

    Institusi-institusi Keuangan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Untuk melengkapi analisis teologis kita tentang keuangan, kita perlu menunjukkan dengan tepat bagaimana orang dapat mengembangkan institusi-institusi keuangan yang mendatangkan kemuliaan, penatalayanan, keadilan, dan kasih dari dasar-dasar yang diciptakan Allah. Institusi yang dimaksudkan di sini adalah struktur-struktur dan mekanisme-mekanisme yang dipakai masyarakat untuk menata aktivitasnya. Empat institusi keuangan utama adalah mata uang, perantara, instrumen, dan harga. Di bagian ini kita akan membahas keempat institusi ini masing-masing, dan menunjukkan bagaimana keempatnya dibangun di atas dasar-dasar Allah dan menjadi cara untuk kita menanggapi Allah dengan taat melalui penatalayanan, keadilan, dan kasih. Di sepanjang jalan kita juga akan membahas beberapa pertanyaan yang muncul.

    Van Duzer berpendapat bahwa institusi-institusi bisa termasuk kekuasaan-kekuasaan dan pemerintah-pemerintah yang disebutkan dalam Alkitab, dan dengan demikian diciptakan Allah untuk kebaikan.[1] Ia menyimpulkan bahwa Kolose 1:16-17 bisa jadi merujuk pada institusi-institusi seperti bisnis atau pasar.[2] Ia mengutip Yoder yang berpendapat bahwa Allah menciptakan institusi-institusi untuk memberi "keteraturan, sistem, tatanan" pada ciptaan-Nya.[3] Selaras dengan ini, kami menganut pandangan yang optimistis tentang keuangan; pandangan keuangan "yang dimaksudkan Allah". Selanjutnya kita melihat bahwa maksud Allah tentang keuangan dipengaruhi oleh kejatuhan manusia, dan menyadari bahwa institusi-institusi keuangan dapat, dan sedang, digunakan untuk menimbulkan kerusakan besar dalam masyarakat; dengan menunjukkan penatalayanan yang buruk dan tidak berkeadilan dan kasih kepada sesama manusia.

    Mata Uang

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Allah memampukan manusia untuk merepresentasikan nilai material melalui media yang tahan lama, dapat disimpan, dan dapat dipindahkan. Dalam rancangan penciptaan-Nya yang mula-mula, Allah sudah menciptakan beberapa unsur fisik seperti emas, tampak menarik, kecil, dan relatif langka. Dia juga menciptakan dalam diri manusia kemampuan untuk mengenali dan memberikan nilai pada benda-benda itu. Kemudian, Allah mengizinkan manusia membentuk pemerintah-pemerintah yang akan menggunakan sumber daya yang tidak langka, seperti kertas, untuk merepresentasikan sumber daya yang langka, seperti emas, yang pada waktunya dapat ditukar dengan berbagai macam sumber daya.[1] Di zaman modern kita memiliki uang yang sangat mudah dipindahkan (dan hampir tanpa biaya jika dipindahkan secara elektronik) dan yang memberi akses kepada sumber daya riil seperti makanan, perumahan, pendidikan, dan barang-barang modal produksi. Dapat mengalokasikan sumber daya dengan mudah melalui mata uang merupakan bagian yang penting dari memenuhi mandat penatalayanan atas ciptaan.

    Alkitab berisi banyak pengajaran tentang uang. Beberapa pengajaran yang terkenal adalah bahwa “cinta uang adalah akar dari segala kejahatan” (1 Timotius 6:10) dan “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24). Pengajaran-pengajaran ini bukan tentang uang sebagai alat tukar, tetapi lebih tentang sikap manusia terhadap uang dan kekuatan yang ditunjukkannya pada kita. Tetapi, uang sebagai alat tukar bukanlah akar kejahatan. Uang sebagai alat tukar adalah berkat yang dimungkinkan oleh Allah.[2]

    Perantara

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Perantara adalah institusi-institusi yang "memproses ulang" sumber daya dari pemberi pinjaman dalam bentuk yang bermanfaat bagi peminjam. Contoh yang sederhana adalah ketika bank menjadi perantara di antara beberapa penyimpan dan satu peminjam utang bisnis. Institusi perantara mencakup semua jenis bank, tetapi ada juga beberapa jenis perantara lain yang penting seperti dana pensiun, perusahaan asuransi jiwa, reksa dana, dana ekuitas swasta, dana lindung nilai, dan entitas-entitas sekuritisasi. Bahkan transaksi keuangan yang "menghilangkan perantara"—seperti ketika perusahaan meminjam uang dengan menerbitkan obligasi bagi pemberi pinjaman, bukan meminjam dari bank—biasanya juga melalui semacam perantara tertentu, seperti bank investasi. Setiap entitas keuangan yang mengumpulkan uang penyimpan dan menginvestasikannya dalam bentuk obligasi bagi peminjam menjalankan fungsi sebagai perantara keuangan. Perantara-perantara ini berfungsi karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial dan heterogen, untuk bertindak sebagai perwakilan, membuat janji-janji, dan menjadi pengambil risiko yang bijaksana.

    Perantara memungkinkan manusia memenuhi mandat penatalayanan Allah dengan dua cara utama. Pertama, perantara membangun jaringan para peminjam dan pemberi pinjaman, dan menginvestasikan sumber daya mereka untuk mengidentifikasi dan membangun kepercayaan di antara para pihak. Anda mungkin tidak akan pernah meminjamkan uang kepada orang asing untuk membeli rumah, tetapi Anda bisa menyimpan uang di bank yang meminjamkannya kepada orang asing. Anda memercayai bank karena Anda tahu bank itu memiliki proses untuk memastikan pinjaman itu aman karena diberikan kepada peminjam yang tepat. Kedua, perantara membuat sumber daya dapat ditingkatkan dengan menggabungkan sumber daya banyak penyimpan. Anda tidak dapat meminjamkan cukup uang untuk seseorang membeli rumah, tetapi bank dengan ribuan atau jutaan deposan dapat menggabungkan uang mereka untuk memungkinkan pemberian pinjaman yang besar.

    Salah satu cara perantara menunjukkan keadilan adalah dengan memungkinkan keluarga non-elit dan usaha kecil memperoleh akses ke sumber daya. Tanpa perantara, akses sebuah rumahtangga/keluarga ke sumber daya hanya akan terbatas pada relasi-relasi sosial keluarga itu saja. Keluarga-keluarga miskin kemungkinan akan tetap miskin. Dengan adanya perantara, keluarga miskin dapat meminjam sumber daya untuk membeli rumah, mobil, membiayai pendidikan tinggi, atau memulai usaha kecil. Begitu pula dengan usaha-usaha kecil yang tidak punya ukuran atau reputasi untuk menerbitkan obligasi langsung kepada investor. Semua ini memungkinkan terciptanya masyarakat yang lebih adil.

    Perantara memungkinkan peminjam dan penyimpan untuk saling peduli kepada satu sama lain, yang seperti telah kita ketahui merupakan tindakan kasih. Perantara memungkinkan peminjam memperoleh dana yang dibutuhkan dengan lebih mudah dan murah daripada jika hanya bergantung pada keluarga dan teman. Perantara juga memungkinkan penyimpan menabung untuk masa depan dengan risiko lebih rendah dan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan menyembunyikan uang itu di bawah kasur atau hanya meminjamkannya kepada kenalan. Meskipun penyimpan dan peminjam tidak pernah bertemu, mereka saling peduli dengan berbagi sumber daya melalui cara ini.

    Dapatkah Kita Benar-benar Mengasihi Seseorang melalui Perantara?

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
    Iman & Rekan: Mengandalkan Harapan

    Bagaimana Injil mengubah pandangan bank terhadap orang-orang dan bagaimana cara mereka seharusnya diperlakukan, terutama orang-orang sederhana? Terinspirasi oleh iman yang memandang harga setiap orang secara tak ternilai, Bank Guardian memakai pandangan berbeda, yang lebih manusiawi dan penuh harapan, yang juga memberi harapan kepada rumahtangga/keluarga-keluarga biasa maupun nasabah-nasabah komersial.

    Jika keuangan adalah sarana kepedulian dan kasih, melakukan keuangan dengan perantara menimbulkan satu pertanyaan. Dapatkah kita mengasihi orang yang bahkan tidak kita kenal?

    Tentu saja kita dapat menunjukkan kasih kepada orang yang tidak kita kenal. Banyak dari kita yang mengenal lembaga-lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan orang menunjukkan kasih kepada satu sama lain melintasi jarak dan waktu. Sebagai contoh, karyawan dan donatur LSM-LSM seperti Oxfam, World Vision, dan Palang Merah, melakukan tindakan kasih kepada orang-orang yang membutuhkan di seluruh dunia, meskipun mereka benar-benar tidak mengenal orang-orang yang mereka kasihi itu. Bahkan sesungguhnya pekerjaan yang mengembangkan organisasi-organisasi itu pun merupakan tindakan kasih kepada sesama manusia.[1] Demikian juga, meskipun kita biasanya tidak memikirkan hal ini, para penyimpan yang menabung uang di bank yang memungkinkan peminjam menggunakan sumber daya itu untuk jangka waktu tertentu, bisa melakukan tindakan kasih kepada peminjam itu meskipun identitas orang yang sebenarnya tidak diketahui oleh penyimpan.

    Namun hal ini dapat menunjukkan adanya kemungkinan ketegangan antara penatalayanan dan kasih. Perantara-perantara yang lebih besar tampaknya dapat melakukan penatalayanan yang lebih baik karena mereka memiliki peluang untuk meminjam dan meminjamkan di berbagai pasar di seluruh dunia. Tetapi perantara-perantara lokal yang lebih kecil dengan relasi-relasi yang lebih sempit mungkin dapat menunjukkan kasih dengan lebih baik karena mereka bisa mengenal nasabah lebih dekat. Bank nasional besar bisa melakukan penatalayanan yang lebih optimal, dan bank lokal kecil bisa menunjukkan kasih yang lebih intim. Teologi kita akan mendorong bank-bank dan nasabah-nasabah untuk memikirkan potensi pertukaran ini ketika membuat keputusan tentang skala bank mereka. Jika sebuah bank memilih untuk menjadi besar, hal itu harus dilakukan dengan tujuan yang jelas untuk melakukan penatalayanan terbaik secara geografis maupun skalanya. Jika sebuah bank memilih untuk tetap kecil, hal itu harus dilakukan dengan misi yang jelas untuk menjadi sangat baik dalam kasih.[2] Para deposan juga harus memikirkan pertukaran yang sama ketika memutuskan di mana mereka akan melakukan aktivitas perbankan mereka.

    Instrumen

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Instrumen keuangan adalah janji di antara dua pihak atau lebih dengan kebutuhan sumber daya yang berbeda yang dirancang untuk memungkinkan kedua pihak menjadi pengambil risiko yang bijaksana ketika masa depan tidak diketahui. Seperti sudah disampaikan di atas, Allah menciptakan manusia untuk menjadi orang yang menepati janji. Unsur penciptaan ini bersama fakta bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, heterogen, terikat waktu, dan menjadi pengambil risiko yang bijaksana di dunia yang tidak pasti ini menghasilkan instrumen-instrumen keuangan. Instrumen keuangan adalah produk-produk yang "dihasilkan" perantara-perantara untuk memenuhi kebutuhan penyimpan dan peminjam dan memungkinkan manusia menaati mandat penciptaan Allah serta menunjukkan keadilan dan kasih dengan cara-cara yang signifikan.

    Instrumen keuangan memungkinkan penatalayanan yang baik karena bisa dirancang sesuai dengan risiko, hasil, dan profil waktu peluang penatalayanan tertentu. Jadi, jika perusahaan peminjam memiliki proyek tertentu yang hasilnya sangat bergantung pada masa depan yang tidak pasti (dengan kata lain, berisiko), maka sebuah instrumen keuangan dapat diciptakan untuk mengantisipasi risiko ini dan membantu penyimpan dan peminjam saling menyepakati bagaimana persisnya berbagi sumber daya yang dibutuhkan, yang sangat mungkin dengan instrumen jenis-ekuitas.

    Instrumen keuangan juga memungkinkan terciptanya masyarakat yang lebih adil. Instrumen dapat disesuaikan dengan kebutuhan anggota masyarakat yang paling membutuhkan. Pinjaman usaha kecil adalah instrumen yang telah memberi banyak sekali peluang kepada para wirausahawan untuk melayani masyarakat. Pinjaman mahasiswa adalah instrumen yang telah menyediakan peluang besar bagi kaum muda yang keluarganya tidak dapat menabung cukup dana untuk pendidikan. Instrumen-instrumen yang dirancang khusus untuk digunakan dalam kredit-mikro juga memungkinkan keadilan. Pinjaman khusus perumahan dengan uang muka yang lebih kecil dan asuransi pemerintah telah memungkinkan banyak keluarga berpenghasilan rendah untuk memperoleh manfaat dari kepemilikan rumah. Instrumen keuangan memungkinkan anggota masyarakat dengan sumber daya yang cukup/ berlebih untuk menunjukkan keadilan kepada anggota masyarakat yang kurang mampu.[1]

    Pinjaman hipotek merupakan contoh kasih yang dimungkinkan oleh instrumen keuangan. Penyimpan membantu peminjam mendapatkan tempat fisik yang membuat ia dan keluarganya dapat berkembang. Sebaliknya, peminjam membantu penyimpan mempersiapkan tahap kehidupan selanjutnya ketika ia sudah tua dan tidak lagi cukup produktif untuk mencukupi diri sendiri. Melalui rancangan penciptaan ini, Allah berharap kita dapat mengembangkan instrumen-instrumen keuangan yang memungkinkan manusia saling mengasihi dengan cara yang bermakna dan bermanfaat. Memang, pihak peminjam dan penyimpan tidak saling mengenal secara spesifik, tetapi mereka mengetahui keberadaan satu sama lain sehingga dapat saling mengasihi dengan cara ini.

    Harga

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Harga di pasar keuangan diekspresikan sebagai nilai pengembalian yang diharapkan dari instrumen keuangan, yang pada instrumen utang disebut sebagai suku bunga.[1] Mengapa sebenarnya peminjam dan penyimpan setuju untuk membayar atau menerima nilai pengembalian atau bunga? Apakah itu bagian dari rancangan penciptaan Allah? Kami berpendapat ya, dengan penjelasan sebagai berikut.

    Pertama-tama pikirkan hal ini dari sisi peminjam. Idealnya, peminjam akan bersedia dan mampu membayar bunga karena ia dapat menggunakan sumber daya yang dipinjam itu untuk menghasilkan sumber daya yang lebih besar pada waktu mendatang. Peluang-peluang produktif ini diciptakan oleh Allah dan meliputi hal-hal seperti tempat bernaung agar peminjam dapat tetap sehat, menanam benih untuk menghasilkan panen, memperoleh keterampilan melalui pendidikan, membangun jalan atau pabrik, atau membeli mesin yang dapat memproduksi sesuatu yang berguna. Periode waktu dan peluang produktif sama-sama merupakan bagian dari tatanan ciptaan Allah. Ini separuh dari dasar suku bunga yang penting.

    Untuk paruhan kedua dasar suku bunga itu, pikirkan hal ini dari sisi pemberi pinjaman. Pemberi pinjaman bersedia memberi akses ke sumber daya tertentu sampai periode waktu mendatang karena dua alasan. Saat ini ia memiliki sumber daya yang berlebih dari yang ia butuhkan. Tetapi di kemudian hari, ada kemungkinan ia akan membutuhkan sumber daya tambahan, seperti misalnya pada saat ia pensiun. Wajar jika ia membiarkan peminjam menggunakan sumber daya itu dalam jangka waktu tertentu dan mengembalikannya lagi kemudian. Untuk melepaskan kendali atas sumber daya selama beberapa waktu, pemberi pinjaman akan menginginkan kompensasi yang setidaknya setara dengan penggunaan terbaik sumber daya itu kemudian. Berkurangnya keinginan pemberi pinjaman untuk menggunakan sumber daya itu saat ini serta pengetahuannya tentang kemungkinan kehidupan pada periode waktu mendatang merupakan hasil langsung dari penciptaan Allah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang terbatas dan terikat waktu.

    Jadi, peluang produktif dan kebutuhan pemakaian/konsumsi manusia yang diciptakan Allah, bersama delapan dasar keuangan di atas, membentuk basis untuk suku bunga. Suku bunga bukanlah gagasan manusia yang menyimpang (dari norma); tetapi suku bunga adalah institusi yang dihasilkan langsung dari rancangan penciptaan Allah. Lagipula, suku bunga yang ditetapkan dengan tepat dapat menguntungkan peminjam maupun pemberi pinjaman, dan akan menjadi hasil pertukaran sukarela yang saling menguntungkan.

    Suku bunga adalah bagian penatalayanan yang penting. Mekanisme harga ini memberi kejelasan dalam pengambilan keputusan tentang alokasi sumber daya. Jika Anda membayar bunga, Anda akan memiliki dorongan untuk meminjam hanya jika hal itu membantu meningkatkan produktivitas Anda di masa mendatang. Bunga akan mencegah Anda untuk meminjam hanya demi menopang kehidupan yang di luar kemampuan finansial Anda, karena Anda harus membayar lebih banyak esok hari daripada yang Anda konsumsi hari ini. Mekanisme suku bunga mendorong penatalayanan sumber daya keuangan yang baik dari waktu ke waktu. Namun, kami peringatkan agar jangan berasumsi bahwa mekanisme ini secara otomatis mengarah ke bagian "pemeliharaan" dari mandat penciptaan Allah. Tidak semua proyek yang memberi hasil finansial yang positif mengarah pada pemeliharaan ciptaan. Diperlukan para pelaku keuangan yang bijaksana untuk bekerja dalam konteks suku bunga untuk memelihara ciptaan Allah.

    Suku bunga memfasilitasi dan menstimulasi pengalokasian-kembali sumber daya yang adil. Suku bunga memberi jalan kepada anggota masyarakat yang tidak memiliki sumber daya untuk mendapatkan akses ke sumber daya hanya dengan setuju memberi kompensasi yang adil kepada pemberi pinjaman atas penggunaan sementara sumber daya itu. Suku bunga memungkinkan pembagian sumber daya yang disepakati secara sukarela dan saling menguntungkan. Suku bunga memungkinkan transaksi keuangan berjalan baik bagi kedua pihak. Tanpa suku bunga (suku bunga nol), aktivitas keuangan akan menjadi hadiah dari pemberi pinjaman kepada peminjam. Tanpa suku bunga, peminjam akan perlu berusaha mendapatkan akses gratis ke sumber daya pemberi pinjaman. Ini akan tampak seperti mengemis, yang kemungkinan bukan cara terbaik untuk menunjukkan keadilan. Tetapi Allah dengan kejeniusan kreativitas-Nya telah mengatur agar keadilan dapat terjadi melalui aktivitas sukarela yang berkelanjutan dan saling menguntungkan di antara manusia, yang salah satunya kita sebut suku bunga.

    Dapatkah Transaksi Pasar Benar-benar Mewujudkan Kasih?

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Masalah harga memunculkan dua pertanyaan tentang keuangan sebagai bentuk kasih. Pertama, dapatkah kasih diungkapkan dalam relasi pertukaran-nilai pasar? Dengan kata lain, jika peminjam dan pemberi pinjaman sama-sama berharap mendapat keuntungan dari relasi itu, apakah salah satunya benar-benar melakukannya karena kasih? Kedua, karena sebagian besar transaksi keuangan dilakukan secara independen (tanpa hubungan khusus), dapatkah seseorang mengasihi orang lain meskipun tidak ada hubungan pribadi?

    Dapatkah seseorang mengasihi orang lain melalui menjual sesuatu dengan harga tertentu? Mengingat bahwa konsep kita tentang kasih adalah berusaha mewujudkan kesejahteraan orang lain sebagai tujuan itu sendiri dan dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia, maka jawabannya adalah ya. Orang bisa mewujudkan kesejahteraan orang lain setiap waktu melalui penyediaan barang dan jasa dengan harga tertentu. Ketika para petani menyediakan pangan yang sehat, mereka membantu konsumen untuk berkembang, meskipun konsumen membayar untuk bahan makanan itu. Kita tidak menganggap guru-guru yang baik sebagai “prajurit bayaran” hanya karena mereka dibayar. Sebagian besar pekerjaan dalam ekonomi modern dibayar, dan barang dan jasa yang dihasilkan pekerjaan dijual dengan harga tertentu. Jika mengenakan harga menafikan kemungkinan kasih, maka hampir tidak ada pekerjaan yang dapat menunjukkan kasih.

    Mengapa keuangan dengan suku bunga pasar tampaknya bisa kurang/tidak menunjukkan kasih? Mungkin karena uang—tidak seperti pengajaran atau hasil pertanian - tampak seperti produk homogen yang tidak dapat dibedakan (tidak ada ciri khusus). Seorang petani menunjukkan kasih dengan menjual hasil pertanian yang baik. Dapatkah pemberi pinjaman menunjukkan kasih dengan meminjamkan uang yang baik/halal? Jawabannya, secara mengejutkan, adalah ya. Uang (pinjaman) itu sendiri tentu saja tidak lebih baik atau lebih buruk dari uang lainnya. Tetapi situasi, kondisi, dan ketentuan peminjaman merupakan kesempatan bagi peminjam dan pemberi pinjaman untuk saling peduli. Jangka waktu pinjaman, ketentuan pembayarannya, persyaratan agunan, denda gagal bayar, asuransi, perlindungan terhadap inflasi, dan berbagai ketentuan lainnya dapat membuat sebuah pinjaman lebih cocok untuk memungkinkan peminjam dan pemberi pinjaman berkembang. Verifikasi pendapatan, penilaian properti, uji tuntas/pemeriksaan menyeluruh, kemudahan memahami dokumen pinjaman, ketersediaan informasi yang obyektif, dan faktor-faktor lain yang terkait dengan inisiasi pinjaman juga dapat menunjukkan kasih dan hormat. Lokasi dan kemudahan akses ke bank, petugas pinjaman, perbandingan suku bunga, keterlibatan masyarakat, iklan, dan faktor-faktor lainnya dapat membantu menjangkau masyarakat yang kurang terlayani. Konseling kredit, dialog yang penuh rasa hormat tentang penggunaan hasil—entah untuk konsumsi atau pun investasi produksi, edukasi produk, dan lain-lainnya dapat menunjukkan kasih dengan membantu orang menghindari utang jika hal itu akan merugikan mereka. Dalam transaksi-transaksi ekuitas, keterbukaan pasar, keakuratan laporan keuangan, integritas orang-orang yang memiliki informasi internal juga mengasihi dan menghormati para investor. Meskipun uang itu sendiri dari pemberi pinjaman yang mana pun sama saja, tetapi menunjukkan kasih—atau kepedulian dengan rasa hormat—dapat sangat bervariasi.

    Sebagai contoh, pemberi pinjaman hipotek dapat membantu keluarga yang berpenghasilan rendah untuk membeli rumah daripada menyewa. Jika rumah, suku bunga, jangka waktu pinjaman, verifikasi pendapatan, dan semua faktor lainnya ditangani dengan benar, hal ini dapat memberi keuntungan luar biasa bagi keluarga itu saat mereka mulai membangun ekuitas. Hal ini juga menguntungkan semua pihak yang meminjamkan uang itu, yang biasanya para penyimpan uang di bank atau dana pensiun. Demikian pula, bank investasi yang membantu pengusaha menerbitkan penawaran umum perdana (IPO) penjualan sahamnya dalam mendapatkan modal untuk mengembangkan bisnis menunjukkan semacam kasih kepada para nasabah wirausaha masa depan, karyawan, pemasok, dan masyarakat, selain pemegang saham yang membeli saham itu. Semua ini adalah transaksi-transaksi dengan suku bunga pasar yang menunjukkan kasih kepada peminjam maupun pemberi pinjaman.

    Akhirnya, kasih dapat ditunjukkan dengan menghormati dan menepati janji yang dibuat dalam transaksi. Tentu saja kebanyakan hal ini diwajibkan oleh hukum, tetapi di sini kami hendak mengatakan bahwa kasih dapat ditunjukkan dalam transaksi-transaksi pasar dengan bertindak melampaui atau di atas hukum dengan memikirkan kepentingan terbaik pihak lain, meskipun hal itu tidak diwajibkan atau diharapkan, dan meskipun tidak ada ekspektasi untuk mendapat keuntungan di masa depan dengan melakukannya. Ini berarti mengusahakan kesejahteraan pihak lain sebagai tujuan itu sendiri. Lagipula, pasar-pasar barang dan jasa lainnya secara teratur melakukan hal ini—pikirkan tentang perawatan kesehatan, misalnya—dan tidak ada alasan untuk keuangan tidak dapat melakukan hal yang sama. Sebagian besar, jika tidak semuanya, transaksi pasar dapat menunjukkan ciri kasih ini, dan banyak yang melakukannya.

    Apakah Alkitab Melarang Mengenakan Bunga?

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Pertanyaan lainnya adalah apakah harga dalam keuangan—khususnya bunga—dilarang oleh Alkitab. Selama berabad-abad orang Kristen telah memperdebatkan penerapan ayat-ayat Alkitab yang tampaknya melarang mengenakan bunga atau mengambil agunan [1] seperti yang tampak pada ayat berikut ini:

    Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apa pun yang dapat dibungakan. Dari orang asing engkau boleh memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga supaya Tuhan, Allahmu, memberkati engkau dalam segala usahamu di negeri yang engkau masuki untuk mendudukinya. (Ulangan 23:19-20)

    Untuk mempelajari ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang relevan, lihat Menggunakan Aset untuk Kepentingan Umum (Ulangan 23:1-24:13), "Pinjaman dan Agunan (Keluaran 22:25-27)", "Tahun Sabat dan Tahun Yobel (Imamat 25)”, “Orang Benar Tidak Mengambil Laba atau Bunga Yang Terus Bertambah (Yehezkiel 18.8a)", “Orang Benar Tidak Menindas, Tetapi Mengembalikan Agunan Orang yang Berutang padanya (Yehezkiel 18:5,7)".

    Pada umumnya orang Kristen menyimpulkan bahwa bunga pada dasarnya tidak dilarang di masyarakat modern, tetapi praktik pemberian pinjaman—yang mencakup suku bunga dan agunan—tidak boleh mengambil keuntungan dari orang yang lemah atau membuat orang menjadi miskin. Inilah yang sebenarnya sedang kami advokasi di sini—bahwa keuangan dimaksudkan sebagai sarana penatalayanan, kepedulian, dan menghormati.

    Kesimpulan tentang Institusi-institusi Keuangan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Untuk menyimpulkan teologi kita, kami berpendapat bahwa tujuan keuangan adalah untuk membawa kemuliaan bagi Allah, memampukan manusia menjadi penatalatan atas ciptaan, serta menunjukkan keadilan dan kasih. Kami mengatakan hal ini dengan menunjukkan bahwa Allah telah menciptakan dasar-dasar keuangan dan kemudian menunjukkan bagaimana dasar-dasar ini memampukan manusia untuk membangun empat institusi khusus di atas dasar-dasar itu. Institusi-institusi ini memampukan manusia menaati mandat penatalayanan atas ciptaan Allah dan mandat untuk menyatakan keadilan dan kasih Allah. Di bawah ini kami memberikan beberapa contoh tentang bagaimana dengan kerangka ini penebusan Kristus dapat memungkinkan terwujudnya penatalayanan, keadilan, dan kasih.

    Keuangan dan Kejatuhan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
    Ekonom Inggris Memberikan Perspektif tentang Krisis Global (Klik untuk Membaca)

    Di dalam sejarah belakangan ini, tak ada yang lebih menunjukkan sifat kejatuhan keuangan daripada resesi ekonomi tahun 2008. Apa yang salah? Adakah masa depan bagi kapitalisme? Bagaimana masyarakat dan pemerintah melangkah maju? Dalam wawancara dengan Al dan Nancy Erisman dari Ethix, Lord Brian Griffiths memberikan jawaban yang menginspirasi, berbelas kasih, dan penuh pengharapan atas pertanyaan-pertanyaan ini.[1]

    Sejauh ini kita sudah memikirkan keuangan sebagaimana yang Allah maksudkan semula. Tetapi kita tahu bahwa Kejatuhan manusia telah merusak setiap aspek ciptaan. Sebelum penebusan Kristus bagi dunia tercapai sepenuhnya, kita hidup di dunia yang dibentuk oleh kebaikan ciptaan Allah maupun kejahatan akibat Kejatuhan. Dosa telah sangat merusak kemampuan dan kecenderungan manusia dalam menjadi penatalayan dan menunjukkan keadilan dan kasih melalui pasar keuangan.

    Beberapa dosa sangat merusak keuangan. Karena keuangan pada dasarnya tentang mengalokasikan sumber daya, dosa keserakahan berdampak besar pada keuangan.[2] Karena Allah tidak menciptakan kita untuk mahatahu, dan karena informasi itu penting dalam keuangan, dosa berbohong juga menimbulkan masalah-masalah yang sangat besar dalam keuangan. Bahkan, keserakahan dan kebohongan ini dapat sangat merusak kemampuan institusi-institusi keuangan dalam melakukan kebaikan yang seharusnya mereka lakukan, dan menimbulkan pertanyaan apakah institusi-institusi ini sudah sedemikian dirusak oleh dosa sampai tidak dapat ditebus.

    Banyak penulis telah mengupas masalah-masalah dalam keuangan dan alasan-alasan yang mendasarinya. Shiller mengingatkan kita bahwa menurut Keynes kita memiliki dorongan spontan untuk bertindak yang disebutnya dorongan naluriah/insting yang menyebabkan pasar-pasar keuangan menghadapi masalah.[3] Stiglitz menguraikan berbagai masalah dalam bank-bank investasi (perantara keuangan berskala besar), yang berfokus khusus pada struktur-struktur kompensasi.[4] Ia berpendapat bahwa "sistem keuangan telah gagal menjalankan fungsi-fungsi utamanya: dalam mengelola risiko, mengalokasi modal, dan mempertahankan biaya transaksi yang rendah." Terrill berpendapat bahwa kerusakan moral telah terjadi di perbankan investasi dan para nasabah, dan kita memerlukan tranformasi mental untuk mengejar apa yang "baik dan benar." [5] Van Duzer menulis bab yang merinci bagaimana dosa memengaruhi pasar-pasar, termasuk keuangan.[6] Ia menunjukkan bahwa relasi-relasi yang rusak di antara manusia dan dengan Allah menyebabkan banyak masalah di pasar-pasar. Davis berpendapat bahwa selama tiga dekade terakhir beberapa unsur keuangan—khususnya investasi institusional dan sekuritisasi—telah berkontribusi pada meredupnya organisasi-organisasi yang berperan dalam masyarakat dan munculnya mentalitas pedagang berwawasan jangka pendek yang dapat merusak masyarakat.[7]

    Mengingat yang sudah disampaikan para penulis ini dan juga penulis-penulis lainnya, kami tidak akan membahas lebih jauh tentang kejahatan-kejahatan yang dilakukan manusia dengan sengaja dalam keuangan, seperti kecurangan, penipuan, kekerasan, rasisme, diskriminasi etnis, gender, dan prasangka-prasangka lainnya, dst. Hal-hal ini kurang lebih sama dengan pelanggaran etika di bidang-bidang pekerjaan yang lain. Artikel Tinjauan Etika Kerja di www.theologyofwork.org memberikan kerangka pemikiran etis dari perspektif Alkitab.

    Kami di sini lebih tertarik pada bagaimana Kejatuhan dapat membatasi kemampuan keuangan - dalam arti transaksi-transaksi dengan suku bunga pasar yang dilakukan secara sukarela - dalam menunjukkan penatalayanan, keadilan, dan kasih kepada peminjam dan pemberi pinjaman. Adakah situasi-situasi yang di dalamnya keuangan harus digantikan dengan beberapa bentuk pertukaran lain—khususnya badan amal swasta atau pemerintah—dan jika ada, seberapa luas cakupannya? Di dunia yang telah jatuh, masih adakah ruang bagi keuangan untuk memenuhi tujuan-tujuan yang dimaksudkan Allah?

    Ketidakmampuan Orang Miskin untuk Meminjam

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Idealnya, keuangan dengan suku bunga pasar menjadi berkat bagi peminjam maupun pemberi pinjaman. Ini sama di semua jenis perdagangan. Memproduksi dan menjual segala macam produk dan jasa dimaksudkan untuk menguntungkan pembeli dan penjual. Namun, ada kalanya orang membutuhkan produk atau jasa tetapi tidak mampu membelinya. Hal ini terjadi juga di bidang keuangan seperti makanan, tempat tinggal, listrik, perawatan kesehatan, atau yang lain-lainnya. Orang mungkin memerlukan akses untuk memiliki uang namun tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman, atau hanya ditawari suku bunga yang sangat tinggi yang tidak terjangkau. Seperti halnya pada produk lainnya, ketika hal ini terjadi, ini bukan lagi transaksi komersial, tetapi subsidi, pemindahan, atau pemberian/hadiah. Kita biasanya tidak berharap para produsen menjual barang dan jasa mereka dengan merugi atau memberikannya secara gratis. Sebaliknya, kita bergantung pada donatur, lembaga bantuan, atau pemerintah untuk memberikan subsidi atau membelikan dan menyumbangkan barang-barang itu kepada yang membutuhkan. Namun pada saat yang sama, kita sangat berharap, atau setidaknya berharap, orang-orang yang berkelebihan mau bermurah hati.

    Keuangan sama dengan semua sektor lainnya dalam hal ini. Alkitab memuji kemurahan hati dalam hal keuangan—

    Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan hidup di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagaimana terhadap pendatang dan warga asing, supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau mengambil riba atau laba darinya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu. (Imamat 25:35-36)
    Jika ada di antaramu orang miskin, salah seorang saudaramu di salah satu kotamu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati atau pun menutup tangan terhadap saudaramu yang miskin itu. Sebaliknya engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa pun yang diperlukan. (Ulangan 15:7-8)

    —sama seperti memuji kemurahan hati dalam hal-hal lainnya,

    Jawabnya [Yohanes Pembaptis] kepada mereka: "Siapa yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian” (Lukas 3:11)

    Kemurahan hati itu penting. Tetapi pasar dengan harga-harga kemungkinan bukan cara terbaik untuk menunjukkan kemurahan hati kepada anggota keluarga (“saudara” di Imamat 25:35) dan orang-orang yang membutuhkan. Jika kita memikirkan pasar gandum, kita tahu bahwa Allah menciptakan dasar untuk pasar-pasar gandum karena kita makhluk sosial, tidak semua orang memiliki keterampilan yang sama untuk menanam gandum, gandum tidak tumbuh sama baiknya di semua tempat, gandum tidak dapat dipanen setiap hari sepanjang tahun, gandum kaya akan nutrisi dan tubuh kita tidak dapat mencerna cukup banyak gandum pada saat panen untuk bertahan sampai panen berikutnya. Alkitab tidak berisi larangan umum tentang membeli dan menjual gandum. Tetapi Alkitab mendorong kita untuk tidak menimbun gandum, melainkan untuk memberikannya kepada orang miskin, janda-janda, dan para yatim piatu (Imamat 19; Lukas 12:16-21). Alkitab memiliki ajaran yang sama tentang sumber daya keuangan sebagaimana telah kita bahas di atas. Tidak ada ketidaksesuaian yang alkitabiah antara mengalokasikan sebagian besar sumber daya keuangan melalui pasar dengan harga (suku bunga) sebagaimana yang dimaksudkan Allah dalam rancangan penciptaan-Nya, dengan membagikan sebagian sumber daya keuangan secara cuma-cuma (suku bunga nol) kepada keluarga atau orang yang miskin. Keduanya dapat menunjukkan kasih kepada orang lain. Bagi orang yang memiliki peluang produktif untuk mendapatkan uang, meminjamkan dengan bunga dapat menjadi bentuk kasih. Meminjamkan tanpa bunga kepada keluarga dan orang miskin yang tidak memiliki akses kepada uang juga dapat menjadi kasih.

    Secara umum, fakta bahwa keuangan berkaitan dengan uang, bukan barang dan jasa, tidak memberi kewajiban beramal yang lebih besar pada pemberi pinjaman dibandingkan bisnis atau institusi lainnya. Sesungguhnya, setiap bisnis yang tidak lagi beroperasi secara menguntungkan justru menghancurkan nilai manfaat yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat. Seperti telah kita ketahui, dasar-dasar keuangan mencakup memberi manfaat kepada pemberi pinjaman maupun peminjam. Setiap kali suatu institusi keuangan membagikan uang, ia mengurangi keuntungan yang diharapkan investornya sendiri. Dan mengingat investor terbesar saat ini adalah dana pensiun [1] maka beramal kepada peminjam terutama akan mengurangi pendapatan pensiun bagi para pensiunan. Jadi, sebagaimana pada industri-industri lainnya, beramal besar-besaran bukanlah fungsi keuangan.

    Eksploitasi Peminjam

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Para pemegang keuangan memiliki kewajiban untuk meminjamkan secara menguntungkan tetapi tidak boleh mengambil keuntungan dari kelemahan para peminjam.

    Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta riba, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta laba. (Imamat 25:37)

    Dengan kata lain, pemberi pinjaman tidak boleh mengeksploitasi "kesulitan" yang dihadapi calon peminjam untuk mendapat keuntungan atau memaksakan persyaratan yang memberatkan seperti menagih bunga di muka. Secara keseluruhan ayat ini berbicara khusus tentang syarat memberi pinjaman kepada sanak saudara (Imamat 25:35), tetapi begitu keputusan meminjamkan dibuat dengan alasan apa pun, kewajiban untuk tidak mengeksploitasi kesulitan peminjam berlaku untuk semua orang.

    Isu moral muncul dari ketidakseimbangan kekuasaan antara pemberi pinjaman dan peminjam. Pemberi pinjaman memiliki banyak uang, tetapi peminjam berada dalam situasi yang sangat sulit. Bahkan dalam banyak situasi suku bunga pasar saat ini, pemberi pinjaman lebih berkuasa daripada peminjam. Sebagai contoh, sebuah bank pada umumnya memiliki sumber daya, informasi, pengetahuan hukum, pengaruh legislatif, dan jangkauan geografis yang jauh lebih besar daripada nasabah yang mengambil pinjaman. Terkadang undang-undang melarang eksploitasi tertentu dalam pemberian pinjaman, tetapi sekalipun pemberian pinjaman yang eksploitatif itu legal, tindakan itu tidak benar. Bagaimanapun, tidak ada industri yang dapat berkembang dalam jangka panjang dengan mengeksploitasi pelanggannya. Salah satu kontribusi yang dapat dilakukan orang Kristen dalam keuangan adalah memanfaatkan pengaruh apa pun yang kita miliki sebagai deposan, karyawan, investor, direktur, agen, dan pemberi suara untuk mengurangi eksploitasi terhadap orang-orang lemah.

    Penggunaan Pinjaman Yang Tidak Produktif

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Maksud Allah adalah keuangan menjadi bentuk saling berbagi dari waktu ke waktu antara peminjam dan pemberi pinjaman. Saling berbagi itu hanya akan bermanfaat jika pinjaman itu bisa meningkatkan produktivitas. Karena itu, peminjam dan pemberi pinjaman sama-sama memiliki tanggung jawab atas penggunaan uang pinjaman. Hipotek dapat meningkatkan produktivitas peminjam dengan memperkecil dana perumahan. Sewa mobil (jangka panjang) memungkinkan peminjam bisa bekerja secara efisien. Pinjaman bisnis dapat digunakan untuk membiayai peralatan, inventaris, piutang, atau aset-aset pertumbuhan lainnya. Di sisi lain, hipotek yang dilakukan untuk properti spekulatif atau tanpa verifikasi pendapatan atau ekuitas yang cukup dapat merugikan peminjam maupun pemberi pinjaman. Sewa mobil dengan suku bunga promosi atau pembayaran akhir yang lebih besar dari harga mobil bisa mendorong peminjam untuk membeli mobil yang tak mampu dibelinya. Pinjaman bisnis yang dilakukan tanpa uji tuntas dapat dihamburkan sia-sia untuk aset-aset yang tidak produktif.

    Contoh-contoh ini memperkuat pandangan alkitabiah bahwa keuangan adalah kewajiban-bersama peminjam dan pemberi pinjaman. Peminjam wajib membatasi diri dengan pinjaman yang akan membuatnya produktif dan bisa diperkirakan dapat dilunasi. Pemberi pinjaman wajib membantu peminjam dalam hal ini dan menolak untuk meminjamkan dalam situasi yang tidak tepat. Pada praktiknya, hal ini bisa cukup sulit untuk dilakukan. Peminjam mungkin kurang memiliki pengetahuan untuk mengukur kesesuaian pinjaman, atau hanya berpikir jangka pendek atau impulsif. Pemberi pinjaman juga dapat salah mengukur kesesuaian pinjaman, atau mereka mungkin serakah, tidak bermoral, atau berwawasan jangka pendek.

    Sebagai contohnya, krisis keuangan global tahun 2008 diawali dengan gagal bayar hipotek-hipotek yang lebih didasarkan pada spekulasi—baik oleh peminjam maupun pemberi pinjaman—daripada peluang memiliki rumah yang baik. Pemberi pinjaman tahu bahwa pembayaran kembali akan bergantung pada harga rumah yang terus meningkat dari nilai sebelumnya yang sudah tumbuh pesat. Namun karena mereka biasanya menjual hipotek kepada investor institusional dan cepat menerima kembali uang mereka, mereka tidak banyak terdorong untuk menunjukkan kehati-hatian terhadap kepentingan jangka panjang peminjam. Pada akhirnya ketiga pelaku—peminjam, pemrakarsa hipotek, dan investor obligasi hipotek yang dijaminkan—kurang memperhatikan sifat keuangan yang terikat-waktu dan pentingnya relasi di antara semua pihak yang berbagi risiko dan keuntungan. Sebaliknya, pemberian pinjaman yang berdasarkan prinsip Alkitab mewajibkan semua pihak memerhatikan apakah pinjaman itu—penggunaannya oleh peminjam—benar-benar produktif.

    Masih Adakah Ruang untuk Keuangan Memenuhi Tujuan-tujuan Allah?

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Seperti yang ditunjukkan situasi-situasi ini, di dunia yang telah jatuh, adakalanya keuangan dengan suku bunga pasar tidak dapat memenuhi kebutuhan calon peminjam tertentu atau pun menguntungkan pemberi pinjaman. Hanya karena Allah menciptakan dasar untuk pasar dan harga, tidak berarti keuangan selalu mampu melakukan penatalayanan, keadilan, dan kasih yang menyeluruh dalam pengalokasian sumber daya. Kita harus berhati-hati agar tidak memuja pasar atau membenarkan sesuatu karena itu hasil dari transaksi pasar. Pasar keuangan adalah berkat pemberian Allah, tetapi bukan satu-satunya berkat dan tidak akan menjadi berkat dalam setiap situasi. Pemerintah dan lembaga-lembaga nirlaba juga merupakan berkat pemberian Allah. Selanjutnya, di dunia yang telah jatuh, pasar-pasar dan institusi-institusi keuangan bisa menimbulkan masalah besar bagi masyarakat dan individu. Pasar perlu diseimbangkan dengan lembaga-lembaga masyarakat lainnya dan selalu dievaluasi berdasarkan kehendak Allah bagi kita sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya.[1] Masih ada ruang untuk keuangan memenuhi tujuan-tujuan Allah, tetapi hanya melalui penebusan Allah keuangan dapat dipulihkan ke rancangannya yang semula.

    Keuangan Yang Ditebus

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
    Ketaatan dan Perbankan: Wawancara dengan John Gage (Klik di sini untuk Membaca)

    Dalam wawancara di Institut Washington tentang Iman, Vokasi dan Budaya ini, bankir John Gage berbicara tentang bagaimana ketika ia menempuh pendidikan di seminari teologi ia menyadari bahwa Allah memakai kita semua dalam berbagai pekerjaan bagi misi-Nya di dunia, dan merasakan panggilan yang diperbarui untuk menjalani kehidupan yang taat di industri perbankan.

    Bagaimana keuangan berpartisipasi dalam penebusan Allah di dunia? Allah, oleh karena kasih karunia-Nya telah mengaruniakan Anak-Nya agar kita dapat diperdamaikan dengan-Nya dan seluruh ciptaan-Nya dapat dibebaskan dari akibat dosa. Kasih karunia Allah yang menebus, yang bekerja melalui orang-orang di institusi keuangan, dapat menebus kemampuan keuangan untuk menghormati Allah, menumbuhkembangkan penatalayanan yang baik, dan menunjukkan keadilan dan kasih kepada banyak orang. Mengingat arti istilah-istilah ini akan bermanfaat di sini. Penatalayanan adalah ketaatan pada perintah Allah untuk mengembangkan ciptaan-Nya dari yang berupa seperti taman menjadi seperti kota dan mengingat bahwa sumber-sumber daya itu pada akhirnya adalah milik Allah. Keadilan adalah memperlakukan orang lain dengan rasa hormat yang pantas sesuai hak-hak mereka, yang didasarkan pada fakta bahwa setiap manusia dikasihi Allah. Kasih adalah kepedulian terhadap orang lain dengan berusaha mewujudkan kesejahteraan mereka sebagai tujuan itu sendiri. Dengan menggunakan kerangka ini, mari kita pikirkan beberapa contoh sederhana tentang cara kerja keuangan yang ditebus.

    Bekerja di Bank

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Para pekerja di bank berada di garis depan pelayanan keuangan. Langkah awal mereka untuk bertindak sebagai sarana penebusan adalah memahami bahwa peran tertentu mereka di sebuah perantara keuangan berkaitan dengan keadilan dan kasih bagi para penyimpan atau peminjam, dan kemudian memfokuskan usaha-usaha mereka untuk menjadi sangat baik dalam hal keadilan dan kasih itu.

    Sebagai contoh, seorang anggota departemen penyelesaian utang bank dapat mengadvokasi untuk memerhatikan situasi-situasi peminjam. Kegaduhan terkait "robo-signer" (pejabat yang asal menandatangani dokumen tanpa memeriksa kebenarannya) dalam krisis hipotek di AS menunjukkan bahwa terlalu banyak peminjam yang merasa aspek relasional keuangan telah hilang dan kebutuhan mereka tidak diperhitungkan. Ini tidak berarti bahwa pekerja bank harus selalu menentang segala bentuk penyitaan. Namun, ini menunjukkan perlunya advokasi untuk memberi perhatian secara pribadi kepada peminjam yang kesusahan.

    Seorang profesional sumber daya manusia di bank dapat memberi perhatian khusus pada keterbebanan pelamar kerja dalam keadilan dan kasih sebagai salah satu faktor perekrutan. Jika, seiring berjalannya waktu, pekerja keuangan tidak dapat menemukan bagaimana pekerjaannya dapat mewujudkan kasih dan keadilan bagi para penyimpan dan peminjam, atau tidak dapat membuat organisasinya bergerak ke sana, mungkin ia tidak cocok untuk organisasi itu.

    Para profesional keuangan perlu memperhatikan tindakan mereka sendiri tentang dua dasar keuangan yang alkitabiah. Pertama, para profesional keuangan biasanya bertindak sebagai perwakilan atau penatalayan bagi nasabah mereka. Ini membuat mereka wajib mengutamakan kebaikan nasabah di atas kepentingan pribadi. Kedua, para profesional keuangan sering bernegosiasi dan mengadakan kontrak-kontrak atau perjanjian. Ini membuat mereka wajib menilai dengan cermat kemampuan dan kemauan organisasi mereka untuk menepati janji yang disepakati. Penatalayanan dan menepati janji benar-benar merupakan dasar yang kudus dalam keuangan dan para profesional keuangan harus melakukannya dengan bertanggung jawab di hadapan Allah.

    Membuat Keputusan Memberi Pinjaman

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Bagaimana teologi keuangan memberitahu kita tentang apakah akan memberi pinjaman kepada nasabah tertentu dan dengan suku bunga berapa? Beberapa dasar keuangan yang alkitabiah terlihat jelas di sini. Pertama, para bankir tidak mahatahu, jadi mereka perlu bekerja dengan cermat untuk memahami situasi dan kebutuhan calon peminjam. Mereka memiliki peran penting dalam membantu peminjam mengevaluasi apakah pinjaman itu benar-benar akan bermanfaat baginya, dan bagaimana cara menggunakannya secara produktif.

    Kedua, tidak ada pihak yang tahu tentang masa depan, jadi kedua pihak harus berhati-hati dan konservatif dalam memikirkan skenario-skenario masa depan. Keduanya dianjurkan untuk membicarakan apa saja yang bisa menjadi masalah selama masa peminjaman dan bagaimana mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi itu.

    Ketiga, para bankir dapat membimbing pemberi pinjaman untuk memberi pinjaman yang paling menunjukkan keadilan dan kasih kepada peminjam. Pinjaman yang dapat dilunasi peminjam tanpa kesulitan adalah pinjaman yang adil dan penuh kasih. Pinjaman yang tidak menggoda peminjam dengan suku bunga rendah yang kemudian meningkat merupakan pinjaman yang adil dan penuh kasih. Sebaliknya pinjaman—dalam banyak kasus kartu kredit—yang cenderung menimbulkan utang yang lebih besar di masa mendatang bukanlah cara yang baik untuk menunjukkan keadilan dan kasih.

    Suku bunga bervariasi sesuai tingkat risiko pinjaman, yang diperlukan agar peminjam juga ikut ambil bagian dalam imbal hasil pinjaman yang telah disesuaikan dengan risiko. Tetapi, suku bunga yang terlalu tinggi sampai menghambat peminjam untuk berkembang bertentangan dengan tujuan keuangan yang alkitabiah. Prinsip-prinsip Alkitab menyarankan beberapa langkah tindakan ketika suku bunga pasar untuk kredit peminjam terlalu tinggi untuk ditanggung. Pertama, berikan pinjaman dengan suku bunga subsidi. Kedua, bantu peminjam menemukan cara untuk menggunakan pinjaman secara menguntungkan sekalipun suku bunganya tinggi. Ketiga, bantu orang tersebut untuk menemukan sumber daya melalui pemerintah atau badan amal daripada meminjam. Keempat, bantu orang tersebut untuk menemukan cara untuk hidup tanpa pinjaman. Boleh jadi, solusi paling alkitabiah untuk pinjaman bagi orang miskin adalah pinjaman dengan suku bunga nol yang diberikan oleh organisasi nirlaba yang disertai konseling tentang keuangan dan mata pencaharian.[1] Beberapa solusi ini tidak tercakup dalam keuangan yang kita definisikan, tetapi orang-orang yang bekerja di institusi keuangan kemungkinan merupakan satu-satunya kontak yang dimiliki orang miskin untuk membantu mereka menavigasi labirin keuangan. Hal ini dapat menjadi kesempatan menunjukkan keadilan dan kasih yang melampaui persyaratan—dan jam kerja yang dibayar—dari pekerjaan keuangan. Memberi pinjaman kepada orang miskin merupakan hal yang sangat menantang, yang hampir pasti menjadi alasan mengapa Alkitab mengajarkan tentang topik ini secara khusus.[2]

    Bekerja di Hedge Fund (Dana Lindung Nilai)

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Dana lindung nilai adalah dana-bersama yang berinvestasi dalam instrumen keuangan khusus yang biasanya tidak tersedia bagi penyimpan perorangan. Dana lindung nilai seringkali diatur secara longgar, memiliki daya ungkit tinggi, dan dapat berinvestasi di lebih banyak instrumen keuangan dengan biaya administrasi yang lebih mahal daripada reksa dana biasa. Dana lindung nilai menjadi pemberitaan belakangan ini karena beberapa manajernya memperoleh bayaran pengelolaan yang sangat besar, beberapa manajer lainnya dituduh melakukan perdagangan “orang dalam”, dan ketika harga saham menurun tajam, dana lindung nilai cenderung disalahkan.

    Dana lindung nilai dapat dipahami dengan bantuan kerangka keuangan kita. Dana lindung nilai dapat mengasihi penyimpan dengan memberi kesempatan menyimpan dengan pengembalian yang lebih besar di dalam risiko dan korelasi yang lebih rendah dalam siklus ekonomi. Banyak dana lindung nilai berinvestasi dalam derivatif (instrumen keuangan turunan, yang nilainya tergantung pada aset lain yang menjadi acuannya), dan dengan demikian memberi peluang mengurangi risiko di berbagai pihak para peminjam derivatif, selain para investor. Dengan cara ini, dana lindung nilai dapat menunjukkan kasih kepada perusahaan-perusahaan yang ingin mengurangi risiko. Dana lindung nilai dapat dianggap sebagai pedagang grosir di pasar sekuritas yang bergerak dalam bisnis membeli produk yang kelebihan pasokan dan menjual produk yang kekurangan pasokan, dan dengan demikian berusaha mendapatkan keuntungan dan juga membantu memperbaiki mekanisme pasar. Dengan cara ini, mereka melayani masyarakat dengan membuat harga sekuritas lebih akurat dalam mencerminkan nilai intrinsik.

    Kerumitan investasi dana lindung nilai tertentu dapat menyulitkan dalam menjelaskan dengan tepat bagaimana mereka menunjukkan keadilan dan kasih. Jika semua posisinya adalah pertukaran nilai pasar secara sukarela, maka dapat diasumsikan masing-masing pihak berharap mendapat keuntungan. Namun, kerumitan itu juga bisa menutupi subsidi-subsidi tersembunyi, ketidakseimbangan kekuasaan, informasi yang tidak seimbang, penghindaran pajak, atau pelanggaran dasar-dasar keuangan alkitabiah lainnya. Beberapa dana lindung nilai, karena strategi investasi tertentunya, dapat cukup jelas dalam cara mereka mengasihi penyimpan dan peminjam, sementara beberapa lainnya mengalami kesulitan dalam melakukannya. Para profesional keuangan dan investor sebaiknya menyelidiki dengan saksama apakah dana lindung nilai tertentu—atau investasi apa pun—mendatangkan penatalayanan yang baik, keadilan, dan kasih, ataukah hanya beroperasi untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya bagi para manajernya dengan mengorbankan pihak-pihak lain.

    Peminjam

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Kita sudah melihat bahwa meminjam dapat menjadi tindakan penatalayanan, keadilan dan kasih yang dimampukan oleh penciptaan Allah. Meminjam bisa membuat orang mendapatkan akses ke sumber daya yang digunakan untuk membuat peminjam maupun pemberi pinjaman berkembang.

    Jumlah Utang Yang Tepat

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Dapatkah prinsip-prinsip Alkitab membantu kita untuk menentukan berapa besar harus meminjam atau kapan harus meminjam? Beberapa dasar keuangan yang alkitabiah dapat membantu. Pertama, kita hidup di dunia ciptaan Allah yang terikat-waktu dengan siklus-siklus kehidupan sosial dan individu yang heterogen. Ada waktu untuk berutang guna berinvestasi dalam peluang pertumbuhan atau infrastruktur yang akan melayani konsumen atau warga masyarakat, dan ada pula waktu untuk membayar utang, dan waktu-waktu ini berbeda-beda pada setiap individu. Sebagai contoh, orang dengan sumber daya berlebih pada waktu resesi bisa menunjukkan keadilan dan kasih dengan berinvestasi dan bukan menimbun uang tunai. Dari siklus kehidupan pribadi, orang-orang muda biasanya mendapat manfaat dari tabungan atau pinjaman yang disimpan orang-orang yang lebih tua.

    Kedua, tujuan meminjam adalah untuk mendapatkan akses ke sumber daya yang dapat digunakan untuk menciptakan sumber daya mendatang yang dapat digunakan untuk membayar kembali. Meminjam untuk pendidikan, peluang pertumbuhan, dan memperkecil dana perumahan dapat memuliakan Allah. Meminjam untuk menopang gaya hidup yang di luar kemampuan Anda, sebagaimana sudah dibahas di atas, merupakan "Penggunaan Pinjaman Yang Tidak Produktif." Ajaran Alkitab menentang segala bentuk keserakahan, yang bisa termasuk meminjam uang untuk alasan yang salah (Lukas 12:14).

    Ketiga, peminjam harus cukup yakin bahwa ia dapat menepati janji untuk membayar utangnya—atau setidaknya memahami dan bersedia menerima risiko-risiko jika tidak membayar yang sudah disepakati dengan pemberi pinjaman—sebagai tindakan kasih. Hal ini akan menyingkirkan pengajuan pinjaman yang palsu atau menyesatkan maupun referensi pribadi yang tidak benar. Sebagai contoh, meminjam hari ini karena Anda memperkirakan akan kehilangan pekerjaan besok tidak mungkin menunjukkan kasih kepada pemberi pinjaman. Meningkatkan saldo kartu kredit tanpa perencanaan yang jelas untuk membayarnya juga bukan tindakan kasih.

    Keempat, jumlah yang dipinjam seharusnya tidak berlebihan tetapi tepat, bijaksana, sesuai dengan risiko-risiko yang akan dihadapi. Bagaimana mungkin mengasihi—diri sendiri maupun orang yang memberi pinjaman—jika kita selalu meminjam hingga batas kredit kita tanpa ada ruang untuk situasi tak terduga?

    Prinsip-prinsip keuangan alkitabiah berlaku untuk keputusan-keputusan keuangan pribadi, institusi, maupun pemerintah, meskipun contoh-contoh di atas kebanyakan untuk individu. Secara umum, prinsip-prinsip ini menganjurkan level utang yang wajar dalam sebagian besar kasus dan penggunaan ekuitas keuangan individu, perusahaan, dan pemerintah yang lebih besar. Secara khusus, para peminjam mungkin tidak akan mengambil banyak utang jika mereka ingat bahwa menurut rancangan Allah, meminjam itu menciptakan relasi timbal balik jangka panjang yang dimaksudkan Allah untuk membawa manfaat bagi pemberi pinjaman maupun peminjam. Akses terhadap utang bukanlah satu-satunya perhatian kita. Memberkati orang lain melalui meminjam dan meminjamkan jelas ya.

    Memberi Agunan untuk Mendapatkan Pinjaman

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Kami membahas beberapa ayat Alkitab tentang agunan di bagian, Kebangkrutan, penghapusan utang, dan modifikasi pinjaman”. Pandangan orang Kristen arus utama adalah bahwa memakai rumah sebagai agunan pinjaman tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab. Pandangan ini sesuai dengan pemahaman kita tentang peran keuangan yang dimaksudkan Allah dalam masyarakat. Tetapi, menurut Amsal 22:26-27 dan berdasarkan ajaran Alkitab tentang menjadi pengambil risiko yang bijaksana, pemberi pinjaman tampaknya tidak boleh menerima rumah sebagai agunan jika mereka tidak sangat yakin peminjam dapat membayar utangnya. Demikian pula, menurut ajaran Alkitab, pemilik rumah tidak boleh menjaminkan rumahnya sebagai agunan jika ia tidak sangat yakin akan dapat membayar utang itu. Hal ini sangat kontras dengan praktik-praktik pemberian pinjaman saat ini di berbagai negara maju yang membolehkan orang mengambil pinjaman yang relatif besar dibandingkan tingkat dan kestabilan pemasukan mereka, atau riwayat mereka dalam membayar utang. Dengan agunan, ada kecenderungan untuk pemberi pinjaman berpikir, "Saya dapat menyita jika perlu, jadi saya tak perlu berpikir terlalu keras tentang apakah utang ini baik bagi peminjam atau dapat dibayar," dan ada kecenderungan untuk peminjam berpikir, "Jika saya tidak dapat membayar, bank dapat mengambil rumah itu dan saya tidak melakukan hal yang merugikan." Pemikiran kedua pihak ini tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dan dengan peran keuangan yang dimaksudkan Allah sebagai bentuk keadilan dan kasih.

    Kebangkrutan, Penghapusan Utang dan Modifikasi Pinjaman

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Dasar-dasar keuangan yang diciptakan Allah meliputi penciptaan kita sebagai makhluk sosial yang mampu mengambil risiko dan tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Hal ini tentu saja akan menimbulkan kasus-kasus pinjaman yang tak dapat dilunasi. Jadi, pinjaman yang tak dapat dilunasi belum tentu merupakan dosa. Gagal bayar bisa terjadi akibat peminjaman yang ceroboh, pengelolaan yang tidak cakap, menyembunyikan atau menutupi pendapatan dari pemberi pinjaman, memberi keterangan palsu kepada pemberi pinjaman saat mengajukan pinjaman, memberi keterangan palsu kepada peminjam saat memberikan pinjaman, atau persyaratan pinjaman yang tidak dirancang untuk membantu peminjam berkembang. Tetapi pada kasus-kasus lain, situasi-situasi tak terduga bisa menyebabkan pinjaman yang dilakukan dengan baik pun gagal. Peminjam mungkin kehilangan pekerjaan, menanggung biaya medis yang tak terduga, atau menderita kerugian akibat bencana alam.

    Dalam situasi-situasi seperti ini, pemberi pinjaman wajib menghapuskan utang itu atau memodikasi pembayaran utang. Di Alkitab, hal ini dilakukan dengan membolehkan peminjam menyimpan agunannya jika hal itu diperlukan untuk kesejahteraan atau kemampuannya mencari nafkah.

    Jika engkau sampai mengambil jubah sesamamu sebagai gadai, engkau harus mengembalikannya kepada dia sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja selimutnya, pakaian yang menempel pada kulitnya. Apa lagi yang dapat dipakainya untuk tidur? (Keluaran 22:26–27)
    Kilangan atau batu kilangan atas tidak boleh diambil sebagai gadai karena hal itu berarti mengambil nyawa orang sebagai gadai. (Ulangan 24:6)
    Apabila engkau meminjamkan sesuatu kepada sesamamu, engkau tidak boleh masuk ke rumahnya untuk mengambil jaminan darinya. Engkau harus berdiri di luar, dan orang yang kauberi pinjaman itu harus membawa jaminan itu ke luar kepadamu. Jika orang itu miskin, janganlah engkau tidur dengan barang jaminannya; kembalikanlah jaminan itu kepadanya pada waktu matahari terbenam, supaya ia dapat tidur dengan jubahnya sendiri dan memberkati engkau. Maka engkau akan menjadi benar di hadapan TUHAN, Allahmu. (Ulangan 24:10-13)

    Jubah sesama yang diambil sebagai agunan harus dikembalikan sebelum matahari terbenam karena sesama itu membutuhkannya agar ia tidak kedinginan di malam hari. Batu kilangan tidak boleh disita karena hal itu akan menghilangkan kemampuan menggiling gandum untuk mencari nafkah. Bahkan agunan yang sah tidak boleh diambil dengan paksa, seperti dengan memasuki rumah peminjam. Semua ini melindungi peminjam yang kesusahan dari malapetaka lebih lanjut, meskipun ini akan membuat pemberi pinjaman bukan saja kehilangan keuntungan yang diharapkan dari pinjaman itu, tetapi juga kehilangan modal. Situasi peminjam dirasakan juga oleh pemberi pinjaman. Inilah sifat relasi berbasis-waktu yang melekat pada keuangan.

    Dalam ekonomi modern, perlindungan-perlindungan ini diwujudkan dalam undang-undang kebangkrutan, yang juga dikenal sebagai insolvensi (ketidakmampuan membayar utang), pemeriksaan, kuratel (pengampunan oleh kurator), administrasi (pengelolaan/restrukturisasi utang oleh administator) atau penyitaan (penguasaan aset). Pada umumnya, undang-undang itu mencegah pemberi pinjaman mengambil kebutuhan-kebutuhan pokok untuk hidup dan bekerja sebagai pembayaran dari peminjam yang gagal bayar. Undang-undang modern juga mencegah pemberi pinjaman memasuki rumah peminjam untuk menyita barang-barang, meskipun mereka bisa meminta aparat penegak hukum untuk melakukannya. Undang-undang juga mencegah peminjam dijebloskan ke penjara karena gagal bayar, sebuah tindakan tidak manusiawi yang kontraproduktif yang biasa dilakukan selama berabad-abad sebelum zaman modern. Bisa jadi pengembangan undang-undang kebangkrutan modern merupakan penggenapan yang telah lama tertunda dari prinsip-prinsip yang ada di Alkitab tentang hal ini.

    Meskipun demikian, para peminjam harus melakukan apa pun yang dapat mereka lakukan untuk membayar utang. Chewning berpendapat, berdasarkan sifat Allah yang tidak berubah dan Amsal 6:1-5, jika kita tidak dapat membayar utang, kita harus merendahkan diri dan memohon belas kasihan dari pemiutang kita, dan bukan mencari perlindungan hukum atas kebangkrutan kita.[1] Mungkin ini terlalu jauh, mengingat ayat-ayat di atas melindungi peminjam yang kesusahan dengan hukum Allah, bukan belas kasihan pemberi pinjaman. Tetapi Chewning sungguh benar bahwa langkah pertama bagi peminjam adalah mencari bantuan dan nasihat pemberi pinjaman. Seperti telah kita ketahui, pinjaman dimaksudkan untuk menciptakan relasi jangka panjang antara peminjam dan pemberi pinjaman. Mengajukan kebangkrutan tanpa terlebih dahulu berusaha membuat rencana yang disetujui bersama dengan pemberi pinjaman hampir tak pernah menjadi cara yang menghormati relasi. Tiemstra mendorong kita untuk memandang risiko sebagai hal yang serius dan bahwa meminjam bukanlah “cara mudah untuk mendapat uang tanpa bekerja; meminjam adalah ungkapan serius dari tanggung jawab kita di hadapan Allah.”[2] Keuangan adalah tentang keadilan dan kasih yang serius, dan ketika hal-hal yang terjadi tidak seperti yang diharapkan peminjam dan pemberi pinjaman, keadilan dan kasih tak boleh terhenti, tetapi justru harus ditingkatkan di kedua belah pihak.

    Penyimpan dan Pemberi Pinjaman

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Orang yang menyediakan sumber daya—pemberi pinjaman dan penyimpan—memiliki tanggung jawab untuk menginvestasikan sumber daya mereka untuk kepentingan bersama, dan bukan untuk keuntungan mereka saja. Perspektif ini kadang disebut “investasi yang bertanggung jawab secara sosial.” Kita akan membahasnya melalui contoh berinvestasi dalam saham, bukan menyimpan uang di bank atau memberikan pinjaman, meskipun prinsip-prinsip yang sama berlaku di semua jenis investasi.

    Sebuah perusahaan menerbitkan saham karena ia yakin ia memiliki lebih banyak peluang produktif daripada memiliki sumber daya. Perusahaan itu mendapatkan akses ke sumber daya tambahan dengan menjual saham kepada investor.[1] Investor mengasihi perusahaan itu—dan akhirnya juga para nasabah, pemasok, pekerja, dan komunitasnya—dengan mengizinkannya menggunakan beberapa sumber daya untuk suatu periode. Perusahaan itu mengasihi penyimpan dengan memberikan pengembalian yang pantas dalam bentuk dividen atau apresiasi saham.

    Para investor harus membeli saham hanya di perusahaan-perusahaan yang memenuhi tujuan Allah dalam keuangan. Perusahaan-perusahaan ini akan bertindak sebagai penatalayan yang baik atas ciptaan Allah, menunjukkan kepedulian dan kasih melalui produk dan jasa yang mereka jual, dan berlaku adil dalam praktik-praktik ketenagakerjaan dan relasi-relasi komunitas. Secara praktiknya, hal ini sulit dilakukan investor, karena untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang ribuan perusahaan akan memakan waktu. Namun, sekarang ada beberapa opsi untuk para investor dapat berinvestasi dalam reksa dana yang menyaring perusahaan-perusahaan melalui tindakan penatalayanan, keadilan, dan kasih yang buruk. Banyak yang telah ditulis tentang investasi yang bertanggung jawab secara sosial dan investasi yang bertanggung jawab secara alkitabiah, dan pembahasan rinci tentang hal ini tidak tercakup dalam artikel ini.[2] Namun, pendekatan investasi ini sangat selaras, dan memang diamanatkan oleh, kerangka yang dikembangkan dalam tulisan ini. Kami tidak melihat ada dasar alkitabiah yang memisahkan iman seseorang dari keputusan untuk berinvestasi dalam saham.

    Kesimpulan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Allah menciptakan dasar-dasar keuangan yang mengarah pada pengembangan institusi-institusi keuangan yang berupa mata uang, perantara, instrumen, dan harga. Idealnya, institusi-institusi ini akan membuat keuangan berfungsi sebagai salah satu sarana Allah—di antara banyak sarana lainnya—dalam penatalayanan, keadilan, dan kasih. Para peminjam dan pemberi pinjaman akan bertukar atau berbagi sumber daya dari waktu ke waktu dengan cara yang mengembangkan sumber daya dan membantu semua orang untuk berkembang. Namun, Kejatuhan telah merusak keuangan secara luas, seperti halnya setiap aspek ciptaan Allah lainnya. Secara khusus, dosa keserakahan dan kebohongan meracuni keuangan dan sangat melumpuhkan kemampuan kita untuk memenuhi rencana-rencana Allah. Meskipun demikian, keuangan masih memiliki peran positif untuk dilakukan dalam karya penebusan Allah di dunia. Beberapa contoh menunjukkan bahwa keuangan dapat ditebus oleh kasih karunia Allah dan dapat digunakan untuk penatalayanan, keadilan, dan kasih. Para profesional keuangan, peminjam, dan penyimpan/pemberi pinjaman semuanya memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam keuangan sebagai tindakan penebusan. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk mengalami penebusan itu sendiri ketika kita berusaha menerapkan dasar-dasar keuangan yang diperbarui dalam keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan kita sendiri.

    Tugas selanjutnya perlu dilakukan agar kita dapat lebih memahami dan menghargai maksud Allah dalam keuangan. Pertama, keterkaitan yang lebih erat antara unsur-unsur spesifik kerangka kerja kita dengan praktik-praktik tertentu perlu dikembangkan. Para profesional keuangan, misalnya, dapat menerapkan kerangka alkitabiah ini pada praktik-praktik tertentu dalam pinjaman hipotek atau manajemen investasi. Kedua, kita perlu makin menjembatani kesenjangan antara pandangan tentang keuangan yang ditebus dengan kejatuhan keuangan yang sebenarnya. Meskipun beberapa contoh sudah diberikan, pemikiran, tindakan, dan institusi-institusi perlu dikembangkan untuk memungkinkan para profesional di bidang keuangan lebih menghormati peran keuangan yang dimaksudkan Allah dalam masyarakat. Ketiga, meskipun kerangka teologi yang dikembangkan dalam artikel ini dapat disesuaikan untuk derivatif dan asuransi, artikel ini tidak membahas topik-topik tersebut. Keempat, kita telah melihat bahwa pasar-pasar keuangan tidak selalu membuat manusia mampu saling melayani, terutama orang miskin, dan pengembangan peran keuangan secara penuh yang berkaitan dengan pemerintah dan badan-badan amal belum dilakukan. Akhirnya, kami membatasi keuangan dalam arti pertukaran di antara peminjam dan pemberi pinjaman (dan padanan-padanan ekuitasnya) dari waktu ke waktu. Dalam pemakaian umum, keuangan juga dapat merujuk pada alokasi sumber daya dalam rumah tangga atau organisasi yang tidak melibatkan pertukaran, seperti dalam penganggaran, akuntansi, desain produk, perencanaan proyek, dan analisis keuangan internal. Artikel lain tentang topik-topik ini mungkin perlu dibuat.

    Apa Kata Alkitab tentang Kekayaan dan Kecukupan? (Tinjauan Umum)

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Pendahuluan

    Allah mau semua orang sejahtera secara ekonomi. Dia ingin kita mendapat kecukupan (kebutuhan dasar) untuk kehidupan kita sehari-hari. Dia juga ingin kita menikmati kekayaan (kelimpahan) dari kemurahan hati-Nya. Selain itu, dunia ciptaan Allah ini memiliki banyak sumber daya yang cukup untuk memenuhi semua yang kita butuhkan. Sayangnya, di dunia yang telah jatuh yang kita diami ini, banyak orang tidak mengalami kecukupan Allah yang melimpah. Orang-orang lainnya bisa memperoleh kecukupan tetapi dengan pengorbanan yang besar (secara emosional, fisik, relasional, lingkungan, moral atau spiritual) dari diri mereka sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka. Lalu ada juga orang-orang lainnya lagi yang memiliki kekayaan ekonomi yang signifikan, tetapi cara memperolehnya membawa risiko pada orang lain maupun diri mereka sendiri. Bagaimanapun situasi kita secara ekonomi, pertanyaan dan kekhawatiran tentang maksud dan peran Allah dalam hal kecukupan dan kekayaan sangat membebani pikiran hampir setiap orang Kristen. Hal-hal seperti ini menjadi perhatian utama dalam kehidupan orang kaya maupun orang miskin; pemberi kerja, pekerja dan pencari kerja; pelajar/mahasiswa, orangtua dan pensiunan; pemilik rumah, penyewa maupun orang yang tak punya rumah.

    Bersyukur, perhatian terhadap bidang ekonomi ini sejalan dengan prioritas yang diberikan Kitab Suci. Sesungguhnya, kecukupan dan kekayaan bukanlah isu-isu sampingan di dalam Alkitab. Keduanya memenuhi sebagian besar isi Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dan mencolok di dalam kitab-kitab Injil.

    Jadi, apa yang dikatakan firman Allah kepada kita? Dalam artikel ini, kita akan membahas:

    • Maksud Allah yang semula untuk kita dalam hal kecukupan dan kekayaan.

    • Dampak kehidupan di dunia yang telah jatuh pada kemampuan kita untuk mengalami kecukupan dan kekayaan.

    • Respons Allah dalam menebus bidang ekonomi serta peran kita dalam hal ini.

    • Apa yang layak kita harapkan dari Allah mengenai kecukupan kita.

    • Bagaimana seharusnya kita menangani kekayaan yang ada pada kita.

    Secara keseluruhan, penekanan artikel ini lebih banyak pada maksud Allah dalam cara menangani kekayaan, daripada tentang arti bergantung pada Allah dalam mencukupi kebutuhan dasar. Banyak orang yang membaca artikel ini mungkin merasa khawatir apakah Allah akan mencukupi kebutuhan mereka, tetapi kami menduga, bagi sebagian besar pembaca, kekhawatiran yang banyak itu sebenarnya adalah tentang apakah mereka akan terus menikmati kekayaan yang besar—menurut standar dunia—daripada sekadar mendapat kecukupan dasar. Meskipun demikian, kecukupan dasar tentu saja menjadi bagian penting dalam pembahasan ini, dan kami menyambut baik kalau ada wawasan yang lebih mendalam tentang hal ini, terutama dari mereka yang memiliki pengalaman hidup dalam kemiskinan dan punya kekhawatiran yang lebih besar tentang kecukupan kebutuhan dasar.

    Maksud Allah Yang Semula: Berkat, Kecukupan, Kelimpahan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Narasi di Kejadian 1 dan 2 menyatakan dengan jelas bahwa Allah merencanakan agar manusia menikmati keindahan, kelimpahan, dan keberbuahan ciptaan. Di lokasi yang indah di Taman Eden, manusia pertama mendapatkan tempat yang kaya dan subur, dan manusia dimaksudkan untuk menjadi kaya dalam segala hal. Allah menyediakan berlimpah sumber daya dan sarana agar manusia dapat hidup sejahtera dan makmur.

    Seperti dikatakan penulis kitab Kejadian di awal kisah penciptaan manusia, “Allah memberkati mereka” (Kejadian 1:28). Kata “berkat” atau “diberkati” adalah fitur sentral narasi Alkitab. Bagian dari berkat berelasi dengan Allah adalah hal yang sangat nyata dan langsung bisa dinikmati. Dan berkat-berkat materi ini terintegrasi penuh dengan berkat-berkat mengenal dan mengasihi Sang Pencipta yang lainnya.

    Kemudian, bahkan di dalam kegersangan padang gurun, orang Israel mendapat kecukupan hidup sehari-hari dari Allah dalam bentuk manna (Keluaran 16) dan air yang memancar dari batu karang (Keluaran 17). Kekayaan ciptaan Allah yang melimpah ditemukan lagi dalam narasi Alkitab ketika orang Israel akhirnya mencapai Tanah Perjanjian. Itulah tanah yang "berlimpah susu dan madu," yang kaya dengan segala hal yang dibutuhkan untuk hidup sesuai rancangan Allah. Kitab Ulangan mencatat janji yang diberikan kepada umat Allah di padang gurun bahwa mereka akan mendapatkan semua yang mereka butuhkan di bumi ini untuk hidup sejahtera dan makmur.

    Sebab Tuhan, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan sumber air yang mengalir di lembah dan gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelai, dengan pokok anggur, pohon ara dan pohon delima; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madu; suatu negeri di mana engkau akan makan roti tanpa perlu berhemat, dan engkau tidak akan kekurangan apa-apa. (Ulangan 8:7-9)

    Sejak semula, Allah telah dengan sempurna menyediakan dunia untuk manusia berkembang dan berbuah. Tanah yang subur menghasilkan makanan ketika manusia menggunakan kemampuan yang diberikan Allah untuk “mengerjakan dan memeliharanya” (Kejadian 2:15). Maksud Allah bukanlah hanya supaya manusia dapat bertahan hidup, tetapi supaya mereka berkelimpahan dalam segala hal yang baik. “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi dan taklukkanlah bumi” (Kejadian 1:28). Allah memberi kemampuan kepada manusia untuk memahami keadaan alam agar mereka dapat memanfaatkan sumber-sumber dayanya (Kejadian 2:20). Usaha dan kepintaran manusia bukan cuma mampu mengembangkan ciptaan Allah untuk mencukupi kebutuhan semua orang dengan melimpah. Di dalam kemitraan dengan Sang Pencipta, kita dapat memanfaatkan secara kreatif sumber-sumber daya di bumi dengan mengembangkan dan berinovasi, menciptakan produk-produk baru, dan memperbaiki versi aslinya. Ada lebih dari cukup bahan baku untuk semua orang. Hal ini sangat kontras dengan prinsip kelangkaan/keterbatasan yang terjadi pada sebagian besar barang dan bahan di era ekonomi pasca-Eden.

    Pada saat terbaik kita, kita manusia dapat bekerja sama dengan Allah secara luar biasa dalam mengembangkan ciptaan-Nya. Entah itu dalam pembangunan pertanian dan hortikultura, pemanfaatan batu bara, minyak, gas, angin, dan air untuk pembangkit listrik, pembuatan taman-taman, kebun-kebun dan gambar-gambar keindahan, atau perancangan dan pengembangan rumah-rumah, peralatan, pakaian, dan moda-moda transportasi, semua perkembangan yang memperkaya hidup kita itu adalah ungkapan-ungkapan dari penciptaan-bersama (co-creation). Kemampuan berinovasi, menghasilkan dan mengembangkan adalah bagian dari arti diciptakan segambar dengan Allah.

    Dampak Kejatuhan Dunia

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Pemberontakan manusia pertama (Kejadian 3) membawa dampak yang sangat buruk pada seluruh ciptaan—bukan saja dalam berelasi dengan Allah, tetapi juga dalam kemampuan memperoleh kecukupan dan menghasilkan kekayaan dari bumi. Kejatuhan menunjukkan bahwa ketika kita menghancurkan relasi kita dengan Allah, kita menciptakan masalah-masalah ekonomi dengan berbagai macam kejahatan lainnya. Karena Allah adalah sumber berkat, tidak lagi mendekat pada-Nya mengikis kemampuan manusia untuk mendapatkan kecukupan dan kekayaan.

    Sebagai akibat Kejatuhan, manusia mulai hidup di bawah kutuk dan berkat. Hal ini membawa implikasi-implikasi signifikan pada pekerjaan/bekerja. Tanah—dan juga produktivitas dan keberhasilannya—sangat terdampak oleh kehancuran relasi itu, yang membuat Allah berkata kepada Adam:

    Terkutuklah tanah karena engkau; dengan susah payah engkau mencari makan dari tanah itu seumur hidupmu; semak duri dan rumput duri akan ditumbuhkannya bagimu; dan tanaman ladang akan menjadi makananmu. Dengan cucuran keringat engkau akan mencari makan, sampai engkau kembali menjadi tanah… (Kejadian 3:17b-19a)

    Kita mungkin juga menjadi tidak mampu mendapat kecukupan dasar dari materi-materi ciptaan, entah karena kesalahan kita sendiri, kesalahan orang lain, atau bukan kesalahan siapa-siapa secara khusus. Penyalahgunaan obat-obatan, kebiasaan kerja yang buruk, kurangnya akses pendidikan, kesehatan yang buruk, pemusatan sumber daya di tangan para elit, diskriminasi etnis, dan berbagai penyebab lainnya bisa menjadi penghalang untuk para individu, keluarga, komunitas, dan seluruh masyarakat mencipta-bersama (co-creation) dengan Allah dalam mencukupi kebutuhan mereka. Di dunia yang telah jatuh yang kita diami ini, maksud-maksud Allah yang semula tentang kecukupan dan kekayaan terganggu dalam beberapa hal yang nyata.

    Banyak Orang Bahkan Tidak Dapat Memperoleh Kecukupan Dasar

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Sekitar 1,4 miliar penduduk dunia hidup dalam kemiskinan ekstrem, artinya mereka tidak bisa mendapatkan kebutuhan hidup pokok. Sebanyak 1,1 miliar lainnya hidup pas-pasan, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dari hari ke hari saja, yang sangat rentan atau sudah di ambang kehancuran.[1] Kemiskinan ekonomi memengaruhi hampir 40 persen manusia. Mengingat yang sudah kita pelajari dari Kejadian 1 dan 2, keadaan seperti ini jelas bukan seperti yang dimaksudkan Allah. Lalu mengapa keadaan ini menjadi realitas sehari-hari begitu banyak orang?

    Di dunia yang benar-benar adil dan merata, pilihan-pilihan yang baik akan mendatangkan kecukupan dan kekayaan, dan pilihan-pilihan yang buruk mendatangkan kemiskinan. Di dunia “sebab-akibat” seperti ini, kebenaran amsal-amsal seperti, "Dalam setiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka hanya mendatangkan kemiskinan" (Amsal 14:23) menjadi realistis. Kemalasan, pemborosan, disiplin diri yang buruk, dan perilaku adiktif, semuanya secara alami akan mendatangkan kemiskinan. Sebaliknya, kerja keras, pemakaian yang bijaksana, disiplin diri yang sehat, dan bebas kecanduan akan mendatangkan kekayaan. Hal ini bisa berlaku pada jutaan atau miliaran orang di dunia saat ini—kekayaan atau kemiskinan relatif mereka sebagian besar ditentukan oleh pilihan-pilihan baik, kerja keras, dan kejeniusan mereka sendiri. Di masyarakat yang ditangani dengan baik, di kalangan orang-orang yang memiliki akses merata ke sumber-sumber daya dan pendidikan, dan di dalam situasi-situasi yang tidak terganggu sakit-penyakit, bencana, disfungsi keluarga, kejahatan, atau kecelakaan, kekayaan dan kemiskinan seseorang kemungkinan merupakan hasil yang adil dari usaha pribadi.

    Namun pada kenyataannya, dalam skala global, kita sama sekali tidak hidup di area yang adil dan merata. Dunia yang telah jatuh ini tidak adil dan tidak memperlakukan semua orang secara merata. Kita semua tidak memulai kehidupan dari keadaan yang sama. Keluarga, komunitas, dan situasi sosial kita sangat menentukan peluang-peluang kita di dunia ini. Sebagian dari kita beruntung karena dilahirkan dalam keluarga yang mendukung dan penuh kasih di negara-negara makmur, dengan serangkaian kemampuan dan peluang. Sementara orang-orang lain dilahirkan dalam situasi yang serba kekurangan dalam segala hal. Mereka tak pernah memiliki basis yang mereka butuhkan untuk mencukupi diri sendiri.

    Memang benar bahwa sebagian besar kemiskinan adalah akibat dosa dan kesalahan tertentu manusia. Tetapi yang membuat orang tidak mendapat kecukupan atau kekayaan tidak selalu akibat dosanya sendiri. Pemerintah yang buruk, perang, korupsi, eksploitasi pihak yang berkuasa, kurangnya pendidikan dan pelatihan, berbagai penyakit masyarakat dan keluarga yang menghalangi pencapaian potensi, semuanya berkontribusi pada banyaknya orang yang tidak mendapat kecukupan, yang bukan akibat kesalahannya sendiri. Secara khusus, tidak mendapat kecukupan seringkali disebabkan, sebagian atau seluruhnya, oleh dosa sosial atau personal terhadap orang miskin. Artinya, mereka adalah korban dari akibat dosa orang lain. Seorang yang kejam merampas tanah keluarga, merenggut kemampuan mereka untuk menghasilkan. Sebuah pabrik mengeksploitasi para pekerja yang lemah dengan membayar upah di bawah standar dan mengancam yang keberatan. Seorang tuan tanah kaya menebangi pohon-pohon di hutan yang luas, membuat jutaan orang di hilir berisiko dilanda banjir. Seorang suami kecanduan judi, dan menelantarkan istri dan anak-anaknya tanpa uang sedikit pun. Sebuah investasi gagal akibat kecurangan dan penipuan, membuat keluarga yang sudah menabung dengan susah payah untuk masa depan tidak punya apa-apa lagi.

    Meskipun demikian, tidak semua kemiskinan adalah akibat dosa, atau setidaknya bukan dosa yang jelas-jelas dilakukan orang tertentu. Sebagian orang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka karena disabilitas, penyakit, usia, atau faktor-faktor lain yang bukan kesalahan siapa-siapa. Di Perjanjian Lama, ketiga kelompok ini sangat rentan—“janda, anak yatim, dan pendatang/orang asing.”[2] Untuk mengantisipasinya, Hukum Ibrani memuat peraturan-peraturan yang menjamin terpeliharanya orang-orang ini.[3] Zakharia adalah tipikal nabi itu ketika ia menulis: “Beginilah firman Tuhan semesta alam: tegakkanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kasih setia dan kasih sayang satu sama lain; janganlah menindas janda dan anak yatim, pendatang dan orang miskin” (Zakharia 7:9-10).[4]

    Kemiskinan lainnya terjadi akibat keadaan bumi kita yang tak dapat diprediksi. Bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, kekeringan, atau banjir dapat menghancurkan seluruh masyarakat, dan memusnahkan hasil panen, rumah, harta benda, dan mata pencaharian dalam sekejap. Contohnya, seperempat juta orang kehilangan nyawa dalam tsunami Boxing Day tahun 2004 yang melanda wilayah pesisir Indonesia dan wilayah-wilayah Asia Tenggara lainnya, dan ada lebih banyak lagi korban yang kehilangan tempat tinggal dan sarana-sarana untuk mencukupi diri sendiri.

    Jadi kita harus sangat berhati-hati agar tidak membuat asumsi-asumsi tentang penyebab situasi seseorang— kaya atau pun miskin. Begitu banyak faktor yang memengaruhi, sebagian dari diri orang itu sendiri; kebanyakan dari luar kendali mereka. Alkitab sangat realistis dalam hal ini. Sebagai contoh, ada pengamatan bahwa, "kurang dari sepertiga amsal yang berbicara tentang orang kaya dan orang miskin mengajarkan bahwa orang akan mendapatkan yang pantas mereka dapatkan, sementara sisanya mengakui adanya masalah keadilan sosial-ekonomi."[5] Jadi, meskipun Alkitab terkadang mengaitkan kecukupan atau tidak berkecukupan dengan suatu sebab, Kitab Suci pada umumnya kurang peduli untuk mengidentifikasi penyebab-penyebab kemiskinan tertentu dan lebih peduli untuk mengingatkan kewajiban orang-orang yang punya kekayaan supaya memerhatikan orang-orang yang berkekurangan.

    Banyak Orang Memperoleh Kecukupan dan Bahkan Menjadi Kaya—Tetapi Menimbulkan Bahaya Besar

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Dibandingkan miliaran orang yang berjuang dengan susah payah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, orang-orang yang punya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka dan lain-lainnya mungkin tampaknya diberkati. Dan kenyataannya mereka memang diberkati, setidaknya secara ekonomi. Namun, memiliki cukup banyak juga dapat menimbulkan bahaya besar, baik bagi individu itu sendiri, keluarga, komunitas, atau negaranya, maupun bagi orang-orang lain yang terkena dampaknya. Kita akan membahas beberapa situasi kecukupan atau kekayaan yang menimbulkan bahaya bagi orang yang mendapatkannya maupun orang-orang yang dieksploitasi untuk mendapatkannya.

    Kekayaan Yang Diperoleh dengan Cara Tidak Adil Itu Berbahaya

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Sebagian pemimpin nasional mendapatkan kecukupan atau kekayaan dengan cara-cara yang tidak adil seperti eksploitasi, kekerasan, korupsi, pencurian, dan lain-lainnya. Para diktator dan rezim yang kejam merampas yang mereka inginkan, menindas rakyat mereka sendiri dengan kekerasan dan intimidasi, dan menjalani hidup mewah sementara rakyat berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Burma, Zimbabwe, Libya... daftarnya bisa terus ditambahkan.

    Beberapa perusahaan multinasional mengeksploitasi pasar-pasar tenaga kerja murah, memaksakan kondisi-kondisi kerja yang tidak aman bagi para pekerja yang tak berdaya, atau menghancurkan ekosistem setempat agar dapat meraup keuntungan yang sangat besar. Keuntungan mereka didapat dengan mengorbankan orang-orang dan tempat-tempat yang tidak terlihat pihak berwenang di negara asal mereka dan tidak terhubung dengan para konsumen yang membeli produk-produk itu.

    Beberapa individu dan organisasi mencurangi atau menipu para investor rumahtangga untuk mengambil risiko berlebihan, tanpa memikirkan orang-orang yang mungkin dirugikan dalam proses itu.

    Ini hanyalah beberapa saja dari cara-cara memperoleh kekayaan dengan merugikan orang lain. Penyebab ketidakadilan semacam itu seringkali adalah keserakahan—“keinginan yang kuat dan egois untuk mendapatkan kekayaan, kekuasaan, atau makanan” [1] Rasul Paulus menghadapi masalah ini di gereja Efesus ketika ia menulis kepada Timotius, dan berkata:

    Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Sebab, akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai duka. (1 Timotius 6:9-10)

    Akibat keserakahan semacam itu seringkali tidak hanya membahayakan keadaan rohani kita sendiri dan keadaan ekonomi orang lain. Keserakahan itu juga dapat mengakibatkan degradasi lingkungan—yang menimbulkan kerusakan signifikan pada bumi, yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan orang lain untuk hidup layak dan mengurangi produktivitas ke depan banyak orang.

    Yang menyedihkan, di Israel kuno sebagian orang menjadi kaya dengan cara-cara yang tidak adil. Sesungguhnya, banyak pesan nabi-nabi yang berbicara tentang ketidakadilan ekonomi yang dilakukan orang-orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan di Israel. Melalui juru bicara seperti Amos, Mikha, dan Yeremia, Allah menyatakan bahwa ibadah kita tidak ada artinya jika kita menumpuk kekayaan dengan cara mengeksploitasi orang lain. Jika kita berkata kita mengasihi Allah, kita harus mencerminkannya dalam cara kita memperlakukan orang lain dan menjalankan bisnis.

    Hukuman datang kepada Israel, "karena mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut" (Amos 2:6b). Hukuman itu merupakan konsekuensi yang tak terelakkan dari kegagalan Israel untuk setia pada tanggung jawab perjanjiannya. Karena ciri khas Allah adalah kasih setia, keadilan, dan kebenaran [2], maka implikasinya, sifat-sifat ini juga harus menjadi ciri komunitas perjanjian. Memastikan seluruh anggota masyarakat (khususnya yang lemah) memiliki akses ke sumber-sumber yang dapat membuat mereka menjalani hidup yang bermartabat adalah bagian dari tanggung jawab perjanjian Israel.

    Sayangnya, mekanisme Hukum yang berusaha membangun masyarakat yang adil, jujur, dan berbelas kasih telah dilanggar dan diabaikan. Alih-alih meneladani syalom Allah, bangsa Israel menjadi sama seperti bangsa-bangsa yang lainnya—sarang penindasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan pengabaian terang-terangan terhadap orang-orang yang terpuruk secara ekonomi. Orang kaya memperoleh kepemilikan banyak tanah (yang melanggar Imamat 25:25-28), lalu menyewakannya kembali kepada petani-petani kecil dengan mengenakan bunga (yang dilarang di Ulangan 23:19-20), yang pada akhirnya membuat gagal bayar. Sementara itu, sistem peradilan diputarbalikan dengan suap. Akibatnya, orang-orang yang tidak mampu lagi mencari nafkah harus menjual diri dengan menjadi budak.

    Sebagai tanggapannya, nabi Amos berseru, "Hendaklah keadilan bergulung-gulung seperti air, dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir" (Amos 5:24). Nabi Mikha bertanya: "Apakah yang dituntut TUHAN darimu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Cara kita mencari nafkah, mempekerjakan atau mengatur orang lain, menjalankan bisnis, berinvestasi, dan menggunakan uang, bisa adil atau tidak adil. Dan ini tidak bisa dipisahkan dari ibadah kita kepada Allah. Kita tidak dapat mengasihi Allah dan juga mengeksploitasi orang lain dalam mengejar kekayaan.

    Kekayaan Yang Halal Juga Bisa Berbahaya

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Tidak semua akumulasi kekayaan merupakan hasil ketidakadilan. Namun, meskipun kekayaan diperoleh dengan cara yang halal, potensi mendatangkan bahaya besar tetap ada. Ada banyak ayat dalam Kitab Suci yang memperingatkan pembaca tentang kebenaran bahwa kekayaan itu berbahaya. Kekayaan dapat menimbulkan berbagai macam efek samping yang negatif:

    Pertama, kekayaan dapat menimbulkan kesombongan dan keangkuhan. Amsal 28:11 berkata, "Orang kaya menganggap dirinya bijak, tetapi orang miskin yang berpengertian mengenal dia." Mudah bagi orang kaya untuk percaya bahwa mereka memperoleh kekayaan semata-mata karena kepintaran atau kerja keras mereka sendiri. Yehezkiel memperingatkan Raja Tirus, "Dengan sangat pandainya engkau berdagang, engkau memperbanyak kekayaanmu, dan engkau menjadi sombong karena kekayaanmu" (Yehezkiel 28:5).

    Kedua, kekayaan sering menimbulkan pengandalan-diri, kepuasan diri dan rasa aman yang palsu. Salah satu contoh ekstrem tentang hal ini adalah kesombongan Efraim di Hosea 12:9, “Bukankah aku telah menjadi kaya, telah mendapat harta bagiku; itu semua hasih jerih payahku. Orang tidak menemukan kesalahan yang merupakan dosa bagiku.” Dan perkataan Hosea di pasal berikutnya juga sangat tajam—tentang Israel yang melupakan Allah—“Ketika mereka digembalakan, mereka kenyang; setelah kenyang, mereka tinggi hati.” (Hosea 13:6). Yesus juga melihat bahaya kekayaan yang meninabobokan kita dengan rasa aman yang palsu ini dalam perumpamaan-Nya tentang orang kaya yang bodoh (Lukas 12:13-21). Sangat mudah sekali untuk berpikir kita tidak membutuhkan Allah ketika perut kita kenyang, kehidupan baik-baik saja, dan masa depan tampak terjamin.

    Ketiga, kekayaan juga dapat menumpulkan kepekaan kita terhadap kebutuhan besar di sekitar kita, mengeringkan belas kasihan dan kemurahan hati kita. Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31). Meskipun si miskin Lazarus tinggal dalam kesusahan besar di pintu gerbang orang kaya itu, si orang kaya itu tidak peka dengan keadaan si miskin yang menyedihkan dan hanya asyik dengan gaya hidup dan penggunaan kekayaannya sendiri. Ironisnya, bahkan di Hades, orang kaya itu masih terobsesi dengan kebutuhannya sendiri dan memandang Lazarus tak lebih dari sekadar orang suruhan.

    Keempat, dan yang paling menggoda dari semuanya adalah, pesona kekayaan yang memikat hati kita dan membagi kesetiaan kita. Di sini kita melihat bahwa Alkitab mengakui kekuatan yang dimiliki uang. Pemazmur memperingatkan kita tentang hal ini ketika ia menulis, "Apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya" (Mazmur 62:11b). Bahaya ini juga disampaikan dengan saksama kepada orang Israel di Ulangan 8:12-17:

    Jangan sampai apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembumu dan kambing dombamu bertambah banyak, dan emas serta perakmu bertambah banyak... engkau menjadi tinggi hati, sehingga engkau melupakan Tuhan, Allahmu... Jangan sampai kaukatakan dalam hatimu, "Kuasaku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini."

    Perkataan ini menyadarkan. Mungkin itu sebabnya penulis Amsal 30 meminta kepada Allah:

    Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya jangan kalau aku kenyang aku menyangkal-Mu dan berkata “Siapa TUHAN itu?” atau kalau aku miskin, aku mencuri dan mencemarkan nama Allahku (Amsal 30:8-9)

    Bahaya-bahaya kekayaan bahkan lebih ditegaskan lagi di Perjanjian Baru. Yang menjadi inti dari sikap Yesus adalah pernyataan-Nya bahwa:

    Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Matius 6:24)

    Kata yang digunakan untuk kekayaan di sini adalah mamon. Beberapa terjemahan menuliskannya dengan huruf besar (Mamon) untuk menekankan bahwa Yesus sedang memperhadapkan allah yang satu dengan yang lain. Keduanya sama-sama menuntut kesetiaan/pengabdian dan penyembahan kita. Kekayaan/Mamon itu tidak netral. Ia tidak pernah terpuaskan—begitu Anda memiliki sejumlah kekayaan, Anda akan terus menginginkannya lebih dan lebih lagi. Tak heran jika setelah bertemu dengan pemuda kaya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya seperti ini:

    Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sukarlah bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu: Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Matius 19:23-24)

    Bagi Yesus, kekayaan adalah hal yang berbahaya. Kekayaan itu seperti batang dinamit—yang berpotensi melakukan banyak kebaikan, tetapi juga bisa menimbulkan banyak kerusakan. Dan semakin banyak yang Anda miliki, semakin besar risiko itu.

    Kelima, memperoleh kecukupan dan kekayaan dapat memicu ketidakpuasan atas yang sudah kita miliki serta keinginan untuk memiliki lebih banyak lagi. Iri hati dan serakah bisa menyeruak dengan mudah saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang memiliki lebih banyak dari kita. Bahkan, dorongan untuk mengumpulkan dan menghabiskan lebih banyak membuat kita rentan terhadap manipulasi. Sejak tahun 1929, Floyd Allen, seorang eksekutif di General Motors, sudah berkata terus terang—“Iklan adalah bisnis yang membuat orang merasa tidak puas dengan yang mereka miliki demi sesuatu yang dianggap lebih baik.”[1]

    Yang lebih terkini, sosiolog Bernard McGrane berkata bahwa,

    Salah satu pesan tersembunyi dari semua iklan adalah, “Anda sedang tidak baik-baik saja dengan keadaan Anda saat ini. Segalanya buruk. Anda perlu bantuan. Anda perlu penyelamat.” Dalam arti itu, iklan dirancang untuk menghasilkan kritik-diri yang tak ada habisnya, berbagai macam kecemasan, dan kemudian menawarkan segala macam barang konsumen sebagai penyelamat Anda… Sebaliknya, satu pesan yang tidak akan pernah Anda dengar dari iklan adalah, “Anda baik-baik saja. Anda tidak perlu apa-apa. Jadilah diri Anda sendiri.”[2]

    Kita dengan mudah mendapati diri kita terus-menerus menginginkan lebih. Kita telah melatih hawa nafsu kita untuk selalu menginginkan lebih. Menentukan batas “cukup” sangatlah sulit di lingkungan yang konsumtif ini. Mungkin inilah yang disampaikan Yakobus ketika ia menulis:

    Kamu mengingini sesuatu, tetapi tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. (Yakobus 4:2-3)

    Keenam, kita dapat menjadi cemas dan sangat khawatir tentang kecukupan kebutuhan kita yang akan datang. Orang mungkin berpikir kekhawatiran semacam ini hanya memenuhi hati dan pikiran orang yang benar-benar tidak memiliki cukup. Ternyata, banyak orang yang memiliki banyak juga mengalami stres yang membahayakan ini. Memiliki lebih dari kebutuhan dasar tampaknya membuat kita lebih khawatir karena sekarang kita memiliki lebih banyak barang yang bisa dikhawatirkan hilang.

    Ketakutan tidak memiliki cukup inilah yang mendorong sebagian orang bekerja jauh lebih lama dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka yang artinya membelikan mereka gawai terbaru dan pakaian model terkini, padahal yang sebenarnya paling mereka butuhkan adalah waktu dan perhatian orang tua. Orang lainnya dipenuhi ketakutan bahwa mereka tidak akan memiliki cukup uang untuk menopang kehidupan mereka di hari tua. Dan karenanya, mereka merancang kecukupan untuk masa depan dengan mengorbankan pelayanan kepada Allah dan orang lain di-sini-dan-saat-ini, tidak membangun relasi-relasi yang kaya dan berarti, atau menjalani kehidupan yang seimbang.

    Yang lain lagi terjaga di malam hari karena mencemaskan keamanan investasi tertentu atau memikirkan cara mendapatkan rumah atau mobil yang sangat mereka idam-idamkan. Sesungguhnya, lebih banyak energi cemas yang terkuras untuk masalah uang daripada hampir semua masalah lainnya. Apakah kecemasan ini yang mendorong orang melakukan hal-hal yang biasanya tidak akan mereka lakukan—seperti melakukan kecurangan, kurang jujur, mengorbankan persahabatan, atau mengkompromikan nilai-nilai?

    Memiliki lebih dari kecukupan dasar yang kita butuhkan dapat menjadi beban. Kata-kata Yesus yang terkenal di Matius 6—yang diucapkan kepada orang banyak yang tahu bagaimana beratnya perjuangan mencari nafkah—sangat relevan:

    Janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:31-33)

    Pernyataan Yesus ini sangat provokatif. Tidak mudah memercayai Allah—apalagi jika masa depan ekonomi Anda tidak pasti. Namun, seperti dituliskan N.T. Wright: “Ketika [Yesus] menasihati para pengikut-Nya agar tidak khawatir tentang hari esok, kita harus menganggap Dia sedang mengajar dengan teladan.”[3] Jika kita bertanya, “Dapatkah orang benar-benar memercayai Allah seperti ini?” kita dapat menjawab bahwa setidaknya ada satu orang yang dapat.

    Menebus Bidang Ekonomi

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Meskipun benar bahwa maksud Allah yang semula agar manusia menikmati kecukupan dan kekayaan-Nya sudah terkacaukan, cerita belum selesai. Allah menanggapi masalah kekurangan kecukupan dan kekayaan di dunia ini dengan menebus bidang ekonomi agar bidang ini kembali dapat memenuhi yang dibutuhkan setiap orang.

    Rasul Paulus mengingatkan kita di dalam surat Kolose, bahwa

    Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian dengan darah salib Kristus. (Kolose 1:19-20)

    “Segala sesuatu” ini mencakup bidang ekonomi.

    Salah satu cara utama Allah dalam melakukan penebusan ini adalah melalui kehidupan para pengikut Yesus. Kitab Kolose melanjutkan,

    Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan menjadi musuh-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. (Kolose 1:21-22)

    Dan di dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus, Paulus menjelaskan tentang pekerjaan Allah di dalam dan melalui kita:

    Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah memercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.…Jadi kami ini utusan-utusan Kristus. (2 Korintus 5:17-20)

    Pendamaian dengan Allah ini membawa implikasi-implikasi yang sangat besar dalam semua aspek kehidupan kita, termasuk aspek ekonomi. Duta besar (utusan) tentu saja merepresentasikan kepentingan ekonomi penguasa mereka, bersama dengan segala kepentingan lainnya.

    Jadi apa artinya ini bagi peran kita sebagai utusan/duta besar Kristus dan mitra dalam penebusan?

    Kita Harus Memiliki dan Menunjukkan Sikap-sikap Yang Benar tentang Kecukupan dan Kekayaan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Menebus penggunaan sumber daya keuangan kita dimulai dengan merawat sikap-sikap yang alkitabiah – yang akan memunculkan tindakan-tindakan yang benar. Tiga sikap alkitabiah yang mendasar adalah trusteeship (pengelola/pengemban amanah atau perwalian), gratitude (bersyukur), dan contentment (merasa puas/cukup).

    Dari Sikap Pemilik Menjadi Pengemban Amanah/Pengelola

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Manusia pertama diperintahkan Allah untuk mengurus Taman Eden dengan segala makhluk dan tanaman di dalamnya. Hal ini sering disebut "mandat penciptaan." Allah berbagi tugas mengelola Taman sehari-hari dengan Adam dan Hawa. Mereka harus memandang diri mereka sebagai pengurus/pengelola tatanan ciptaan.

    Perwalian/pertanggungjawaban amanah ini dibangun di atas prinsip bahwa kepemilikan tertinggi atas segala sesuatu yang kita miliki dan diami bukanlah kita, tetapi Allah. Allah adalah Pemilik yang memercayakan manajemen/kepengurusan kepada kita, yang harus dijalankan menurut tujuan-tujuan-Nya. Sebagaimana dinyatakan Pemazmur, "TUHANlah yang mempunyai bumi serta segala isinya" (Mazmur 24:1). Raja Daud meneguhkan hal yang sama dalam doanya di depan bangsa Israel pada saat penggalangan dana pembangunan Bait Suci. "Sebab dari-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu" (1 Tawarikh 29:14b). Kita tidak punya hak untuk menyatakan kepemilikan mutlak atas segala sumber daya kita, entah itu uang, harta benda, bisnis, kemampuan, lingkungan fisik, atau pun warisan. Kita hanyalah pengemban amanah (wali) dari kecukupan atau kekayaan apa pun yang kita terima.

    Tanggung jawab fidusia, atau penatalayanan, merupakan elemen penting dalam menjalankan amanah. Meskipun pengemban amanah/wali memiliki sejumlah kebebasan untuk bertindak dan membuat keputusan-keputusan dalam mengalokasi sumber daya/dana, semuanya itu harus dilakukan untuk kepentingan pemilik sesungguhnya atau penyandang dana dari badan yang dikelola. Dan, tentu saja, semakin besar sumber daya/dana yang dipercayakan, semakin besar pula tanggung jawab itu. Yesus menyinggung hal ini dalam perumpamaan-Nya tentang hamba yang setia atau tidak setia, dan berkata bahwa, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Lukas 12:48b). Craig Blomberg mengatakannya seperti ini: “Orang dalam posisi-posisi kekuasaan tidak memiliki hak yang lebih besar—hanya tanggung jawab yang lebih besar!” [1]

    Jadi, bertindak sebagai wali/pengemban amanah atas kekayaan apa pun yang diberikan pada kita sangat mendasar dalam perspektif alkitabiah tentang kecukupan dan kekayaan. Sumber-sumber daya ini bukan untuk kita gunakan sesuka hati kita. Cara kita menggunakannya juga bukan urusan kita sendiri saja. Meskipun Allah tidak mengharapkan kita hidup dengan tidak punya apa-apa, Dia mau kita memaksimalkan sumber-sumber daya kita untuk pembangunan kerajaan Allah. Orang yang cukup beruntung dilahirkan dalam kemakmuran memiliki tanggung jawab untuk memakai kekayaan mereka untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang tidak memiliki cukup. Mereka dapat melakukannya dengan berbagai cara, seperti melalui donasi, investasi, dan pelayanan langsung.

    Perintah untuk menggunakan sumber daya untuk kepentingan orang miskin disampaikan secara langsung di kitab Keluaran.

    Selama enam tahun engkau boleh menabur di tanahmu dan menuai hasilnya, tetapi pada tahun ketujuh engkau harus membiarkannya dan meninggalkannya, supaya orang miskin di antara bangsamu memperoleh makanan. Apa yang mereka tinggalkan harus dibiarkan untuk dimakan binatang liar. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu. (Keluaran 23:10-11)

    Siapa saja yang memiliki tanah punya kewajiban untuk membiarkan orang miskin menggunakannya dengan cuma-cuma selama setahun setiap tujuh tahun sekali, dan bahkan membiarkan binatang-binatang liar untuk mendapatkan manfaatnya. Perintah ini diulangi di kitab Ulangan dengan bahasa yang lebih sederhana:

    Sebab orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu. Itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, “Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.” (Ulangan 15:11)

    Hal yang sangat penting adalah kita tidak boleh menimbun kekayaan yang dipercayakan pada kita untuk diri kita sendiri, untuk mempertahankan gaya hidup, rumah, dan fasilitas gereja yang melebihi kebutuhan.

    Perwalian (sikap Pengelola atau Pengemban amanah) mengingatkan kita tentang untuk siapa kita bekerja—Allah—dan untuk apa kita bekerja—Kerajaan Allah. Sikap ini memfokuskan kita pada ekonomi baru dan impian yang berbeda, yang dibingkai dalam agenda Allah untuk dunia ini, dan untuk kita. Sebagai mitra Allah, kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam tujuan ini dengan semua sumber daya yang kita miliki—termasuk kekayaan kita.

    Dari Sikap Tidak Bersyukur Menjadi Bersyukur

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Jika kita tahu bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Allah—termasuk kemampuan untuk bekerja, menjalankan bisnis, mencipta dan memproduksi, menjual, dan membangun kekayaan—kita akan bersyukur kepada Allah.

    Jika kita kaya dan berkelimpahan, tentu saja mudah bagi kita untuk meyakinkan diri bahwa yang kita miliki sebagian besar adalah hasil kerja keras, kepintaran, dan bakat kreatif kita sendiri. Padahal realitasnya adalah sebaliknya. Jika kita dilahirkan dalam keluarga yang penuh kasih, di negara yang makmur, dengan sistem pendidikan yang baik, masyarakat yang tertib dengan supremasi hukum yang stabil, kita memiliki keberuntungan yang diperlukan agar kerja keras kita membuahkan hasil. Ini bukan untuk mengatakan bahwa kerja keras tak pernah berkontribusi pada keberhasilan ekonomi. Hal itu jelas sering menjadi salah satu faktor. Tetapi, kepintaran dan bakat kreatif yang dibutuhkan untuk membuat kerja keras berhasil pun merupakan anugerah Allah. Rasul Paulus mengatakannya secara blak-blakan ketika ia bertanya kepada jemaat Korintus, "Apa yang engkau punyai yang tidak engkau terima? Jika engkau memang menerimanya, mengapa engkau memegahkan diri seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (1 Korintus 4:7). Maksud Paulus adalah segala kemampuan yang ada pada kita pun diberikan pada kita oleh Allah. Raja Daud menggemakan perasaan ini ketika ia merespons kemurahan hati Allah dengan berdoa, "Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sejauh ini?" (1 Tawarikh 17:16). Respons yang alkitabiah terhadap berkat kecukupan dan kelimpahan adalah rasa syukur yang mendalam, meskipun usaha kita sendiri memainkan peran yang penting dalam menghasilkan kekayaan.

    Ironisnya, bahkan di kalangan orang Kristen, kekayaan tampaknya menumbuhkan sikap tidak bersyukur dan merasa berhak—seolah-olah kita memang pantas menerima sesuatu. Hal ini menyingkapkan pandangan yang berlebihan tentang pentingnya diri sendiri, dan kesadaran yang sangat terbatas tentang karunia, anugerah dan keberuntungan dalam hidup kita. Faktor lain yang menghalangi kita untuk bersyukur adalah iri hati. Sangat mudah untuk merasa iri terhadap orang lain atas apa yang mereka miliki, alih-alih merasa puas dan bersyukur atas apa yang kita miliki, jika kita memandang diri kita terutama sebagai pelanggan, dan bukan pelayan. Budaya Barat menyuburkan perasaan iri hati ini. Pemasaran, iklan, dan bahkan hiburan mendorong kita untuk menjadikan ‘kehidupan seperti orang kaya’ sebagai aspirasi kita. Dengan bersikap seperti itu, kita jadi mendambakan yang dimiliki orang lain—bukan hanya harta benda mereka tetapi juga segala kemampuan dan situasi mereka. Padahal, Alkitab memerintahkan kita agar tidak mengingini apa pun yang dimiliki sesama kita—entah itu posisi di tempat kerja, gaji, peluang ekonomi, atau saldo di rekening bank—tetapi memiliki rasa syukur yang semakin besar atas yang telah diberikan pada kita.

    Bagaimana kita bisa menjadi lebih bersyukur? Dengan bersyukur. Kita menjadi lebih bersyukur melalui tindakan sederhana mengucap syukur setiap hari atas apa pun yang kita miliki yang kita hargai. Mengucap syukur benar-benar mengubah sikap kita. Jika, pada waktu yang sama, kita juga mematikan atau mengabaikan pesan-pesan pemasaran dan budaya yang "menjual impian/aspirasi", kita benar-benar bisa menjadi lebih bersyukur dan bersukacita dalam hidup kita.

    Dari Sikap Tidak Puas Menjadi Puas

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Bersyukur menimbulkan rasa puas. Kepuasan itu sendiri merupakan perasaan yang nikmat dan bisa menjadi penawar racun keserakahan dan iri hati. Alkitab memperkenalkan visi kehidupan ekonomi yang tidak bergantung pada konsumsi yang terus meningkat untuk melindungi kita dari rasa kecewa. Dengan visi ini, kita bisa merasa cukup dan berhenti dari mengingini lebih lagi. Bangsa Israel mengalami hal ini di padang gurun ketika setiap hari Allah memberi mereka cukup roti (“manna”) dari surga. “Orang yang memungut banyak, tidak kelebihan dan orang yang memungut sedikit, tidak kekurangan. Tiap orang memungut menurut keperluannya” (Keluaran 16:18). Kitab Ibrani menasihati kita, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” (Ibrani 13:5). Senada dengan itu, Paulus menulis, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa apa pun ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa pun ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1 Timotius 6:6-8). Dan di dalam surat yang ditulis dari sel penjara, Paulus berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya sendiri.

    Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:11-13)

    Baik Paulus maupun jemaat Filipi yang ia kirimi surat yang jauh dari kaya itu, nyaris tak bisa hidup layak secara ekonomi. Sikap mereka yang merasa puas dalam segala situasi ekonomi ini menantang orang-orang yang hidup berkelimpahan untuk menemukan kepuasan dalam apa yang mereka miliki.

    Puas berarti memahami apa itu cukup. Apa itu keuntungan yang cukup? Bayaran yang cukup? Jam kerja yang cukup? Tabungan yang cukup? Ukuran rumah yang cukup? Harta benda yang cukup? Mengingat tidak ada dari kita yang memiliki tolok ukur yang tepat tentang apa itu cukup dan apa itu berkelebihan, kita memerlukan bantuan dari orang lain. Bagaimana jika orang Kristen bertemu dalam kelompok kecil untuk saling membagikan rencana belanja mereka dan merenungkan bersama apakah rencana belanja itu mencerminkan kebutuhan-kebutuhan yang sebenarnya yang menumbuhkan rasa syukur dan puas, ataukah mencerminkan aspirasi-aspirasi iri hati yang hanya akan menimbulkan pikiran merasa berhak dan tidak puas? Tidak banyak orang Kristen yang sudah mencoba melakukan hal ini sehingga sulit untuk mengetahui bagaimana dampaknya jika kita bisa saling berbagi pemahaman tentang apa itu cukup dalam hal-hal praktis.

    Kita Harus Mengubah Gaya Hidup Pribadi Kita

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Memiliki sikap-sikap yang benar tentang kecukupan dan kekayaan tak pelak akan memunculkan penyesuaian-penyesuaian dalam cara hidup kita.

    Dari Gaya Hidup Individualisme yang Mencukupi Diri Sendiri Menjadi Berkomunitas

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Salah satu kata yang sering diterjemahkan sebagai “komunitas” atau “persekutuan” di Perjanjian Baru adalah koinonia. Kata ini banyak digunakan di lingkungan Yunani. Dalam penggunaan sehari-hari, kata ini merujuk pada memiliki kesamaan dengan seseorang. Akan tetapi, penggunaan kata koinonia di Alkitab menekankan partisipasi aktif—mengambil bagian dalam sesuatu, bukan sekadar terkait dengannya. Ketika Paulus, khususnya, memakai kata koinonia, kata itu mengandung arti kemitraan yang kuat ini, yang meliputi panggilan untuk bermitra secara finansial.[1] Contoh utamanya adalah ketika Paulus memuji jemaat Korintus atas “kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu [koinonias]” (2 Korintus 9:13) yang merujuk pada uang yang mereka sumbangkan untuk meringankan beban orang-orang Kristen yang miskin di Yerusalem. Contoh lainnya adalah pembagian harta milik di dalam “persekutuan” (koinonia, Kisah Para Rasul 2:42) orang Kristen yang mula-mula. Persekutuan ini bersifat spiritual dan juga finansial, sehingga “tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka” (Kisah Para Rasul 4:32-35). Allah memenuhi kebutuhan individu-individu itu melalui sumber daya komunitas. “Semua orang yang percaya tetap bersatu, dan semua milik mereka adalah milik bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kisah Para Rasul 2:44-45).

    Meskipun ada sedikit indikasi bahwa pengelolaan kekayaan bersama ini terjadi di luar periode singkat gereja di Perjanjian Baru, tetapi komunitas di Yerusalem itu jelas berusaha merealisasikan visi Allah bahwa kecukupan dan kekayaan adalah masalah komunal, bukan individual. Bagaimana realisasinya di berbagai konteks abad 21 tentu saja akan bergantung pada berbagai faktor. Sejarah menunjukkan bahwa kepemilikan kolektif biasanya tidak berjalan baik. Namun beberapa masih melakukan tindakan saling berbagi secara ekonomi ini di dalam komunitas yang sangat-dipercaya. Komunitas iman lainnya mungkin berusaha mengumpulkan donasi dari orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin. Yang lain lagi mungkin memilih untuk memberi secara pribadi kepada orang tertentu atau badan amal yang menangani orang-orang kesusahan. Alkitab tidak menetapkan cara, tetapi sikap. Allah mencukupi umat-Nya secara jamak/komunal, meskipun sumber dayanya bisa dipercayakan kepada individu-individu sebagai penatalayan/pengurus.

    Dari Gaya Hidup Mengisolasi Diri Menjadi Terlibat Secara Pribadi

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Godaan orang yang memiliki banyak untuk memisahkan diri dari orang yang memiliki sedikit sangat nyata. Rumah-rumah berpagar tinggi, mobil ber-AC, lingkar pertemanan yang terbatas pada kelompok sosial ekonomi tertentu, dan gereja yang melakukan pembatasan serupa—semuanya berkomplot untuk membuat orang-orang kaya terperangkap di kantong-kantong kemakmuran mereka sendiri. Orang yang memiliki sedikit secara efektif tersingkir dari lingkungan mereka.

    Ini berarti orang-orang kaya seringkali sangat sedikit atau tidak memiliki relasi sama sekali dengan orang-orang yang bergumul secara finansial—baik di dalam maupun di luar negeri. Pemahaman mereka tentang situasi orang yang tidak mendapat kecukupan dasar sangat dibatasi oleh jarak geografis dan sosial.

    Seperti telah disebutkan sebelumnya, orang Israel diperintahkan secara spesifik untuk memerhatikan janda-janda, anak yatim (tidak berayah), dan orang asing.[13] Di dalam masyarakat agraris, kelompok-kelompok ini sangat rentan karena mereka tidak memiliki akses untuk menemukan tanah atau sumber penghasilan. Faktor-faktor ini juga membuat mereka rentan terisolasi. Untuk bisa menjangkau dan memerhatikan mereka, orang Israel pertama-tama harus terlibat secara pribadi dengan mereka. Allah sendiri di dalam kitab Mazmur digambarkan berelasi secara pribadi dengan mereka sebagai “bapa bagi anak yatim dan pelindung para janda” (Mazmur 68:5).

    Keramahtamahan semacam ini—menyambut “orang asing”—sangat penting dalam mengikut Yesus. Dua bagian penting kitab Injil—Lukas 14:12-14 (mengundang orang miskin ke acara perjamuan) dan Matius 25:31-46 (penghakiman Allah atas bangsa-bangsa)—menunjukkan perbedaan antara keramahtamahan konvensional dan keramahtamahan Kristen. Keramahtamahan konvensional dilakukan kepada teman dan keluarga. Keramahtamahan Kristen dilakukan kepada orang miskin dan “yang paling hina ini” (Matius 25:40), orang-orang yang “tidak dapat membalas” (Lukas 14:14) atau “balik mengundang” (Lukas 14:12). Yesus menekankan aspek relasi pribadi ini ketika Dia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40). Meskipun konteksnya menunjukkan bahwa Yesus terutama merujuk pada murid-murid-Nya ("saudara-Ku"), tetapi tidak ada alasan untuk berkata bahwa para murid juga tidak perlu memiliki sikap yang sama terhadap orang yang bukan Kristen. Bagaimanapun, Kristus telah mati untuk kita "ketika kita masih berdosa" dan sebelum kita sendiri menjadi anggota keluarga-Nya.

    Ketika orang yang memiliki banyak mengenal orang yang memiliki sedikit, perspektif-perspektif bisa berubah. Mendengarkan cerita mereka, melihat perjuangan mereka secara langsung, menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka, dan juga bahwa kita semua memiliki banyak kesamaan—semua ini akan membentuk-ulang pola pikir dan hati kita. Allah sendiri telah mengambil rupa manusia untuk bisa mendatangi kita secara pribadi sebagai manusia (Filipi 2:6-8), yang membuat-Nya dapat “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibrani 4:15). Jika Allah saja menganggap penting untuk menjumpai kita yang miskin dan lemah dibandingkan dengan-Nya, bukankah kita seharusnya mengikuti teladan-Nya dan menjumpai orang-orang yang miskin dan lemah dibandingkan dengan kita? Orang miskin tidak lagi hanya sekadar angka tanpa wajah. Mereka adalah orang-orang yang nyata dengan kebutuhan-kebutuhan dan kehidupan yang nyata.

    Penting bagi orang Kristen untuk memikirkan dengan murah hati bagaimana keramahtamahan semacam itu dapat dilakukan. Meskipun memberi dan menginvestasikan uang merupakan cara yang pokok dalam mengungkapkan keramahtamahan, ungkapan yang lebih personal dan menyentuh juga penting. Di dalam setiap komunitas, ada banyak macam orang asing, sebagaimana yang telah kita temui. Masalahnya adalah bagi banyak orang yang memiliki pekerjaan dengan gaji tinggi, tinggal di kawasan elit, tergabung dalam kelompok teman-teman yang kaya, dan beribadah di jemaat gereja yang makmur, berhubungan dengan orang miskin kemungkinan bukan bagian dari kehidupan sehari-hari. Membangun relasi pribadi memerlukan tindakan yang disengaja untuk keluar dari lingkungan yang biasa itu dan masuk ke situasi-situasi yang tidak nyaman. Bahkan mungkin juga memerlukan perjalanan geografis atau relokasi. Dan jika ini sungguh-sungguh keramahtamahan Kristen sejati, keramahtamahan ini perlu menghindari paternalisme (melemahkan orang lain dengan melakukan hal-hal yang dapat mereka lakukan sendiri) dan berusaha meminimalisasi ketimpangan kekuasaan. Hal ini mungkin sangat sulit bagi orang-orang yang mengalami kesuksesan finansial, dan bagi orang-orang yang status dan kesuksesannya menjadi tolok ukur utama harga diri. Tidak mudah melepaskan gengsi dan hak-hak istimewa kekuasaan jika naluri kita adalah untuk mengatasi masalah dari jauh, dan bukan menjumpai orang-orang di tengah pergumulan mereka.

    Salah satu tokoh Alkitab yang menunjukkan keterlibatan pribadi dengan orang miskin adalah Ayub. Kehidupan Ayub sering bersinggungan dengan orang-orang miskin di wilayahnya. Ia tidak mengisolasi diri dari mereka tetapi tinggal berdekatan dengan para pelayan, janda-janda, anak yatim, dan orang asing.

    Pendatang pun tidak pernah bermalam di luar, pintuku kubuka bagi musafir. (Ayub 31:32)
    Aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak memiliki penolong…hati seorang janda kubuat bersukacita…Aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan kaki bagi orang lumpuh. Aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan perkara orang yang tidak kukenal, kuselidiki. (Ayub 29:12-13, 15-16)

    Ayub mengenal tetangga-tetangganya yang miskin, memperlakukan mereka secara merata, merasakan belas kasihan mendalam terhadap mereka dan memerhatikan mereka dengan kekuatan politik dan finansialnya.

    Dari Gaya Hidup Bekerja Kompulsif Menjadi Berirama Kerja dan Istirahat

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Belajar memercayai Allah untuk kecukupan kita merupakan tantangan yang terus-menerus, apalagi jika kita cenderung memiliki kebiasaan bekerja kompulsif. Gordon MacDonald, seorang pendeta di AS, mengamati budayanya:

    Semakin banyak yang kita inginkan, semakin besar pendapatan yang harus kita hasilkan untuk memenuhinya. Semakin besar pendapatan yang harus kita hasilkan, semakin lama dan keras kita harus bekerja. Jadi kita membangun rumah yang lebih besar, membeli mobil lebih banyak, menanggung beban keuangan yang lebih berat dan mendapati diri kita harus bekerja lebih keras lagi untuk membayar semuanya itu. Lebih banyak bekerja, lebih sedikit beristirahat. [1]

    Namun, kebiasaan bekerja kompulsif tidak hanya terbatas pada orang yang bergumul dengan budaya kemakmuran saja. Kebiasaan itu juga menjadi godaan bagi orang-orang yang berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

    Bagaimanapun, praktik memelihara hari Sabat yang alkitabiah penting untuk menjaga perspektif Ilahi tentang kecukupan dan kekayaan. Bagi orang Israel, hari Sabat mingguan (berhenti bekerja) adalah bagian dari tanggung jawab perjanjian mereka—hari untuk kembali berfokus pada Allah dan merayakan kasih-Nya kepada mereka. Hari Sabat adalah anugerah Allah untuk terus membuat umat-Nya terbebas dari jerih payah yang melelahkan seperti yang dijelaskan di Kejadian 3. Hari Sabat adalah kemurahan, sebuah contoh tentang kasih dan pemeliharaan Allah.

    Istirahat Sabat adalah penyangkalan diri yang terus-menerus terhadap sifat serakah yang selalu ingin memiliki lebih lagi. Sebuah pernyataan pada diri sendiri bahwa ada hal-hal lain dalam hidup ini selain menghasilkan dan menghabiskan. Dan ada yang lebih penting pada identitas kita selain hal-hal yang kita lakukan atau hasilkan. Kita bukanlah jumlah saldo di rekening bank kita, atau jabatan atau tanggung jawab yang kita pikul.

    Istirahat Sabat bermuara pada tindakan percaya. Untuk mematuhinya, kita harus berani percaya bahwa Allah akan mencukupi kebutuhan kita, dan bukan berusaha sekuat tenaga untuk mencukupinya sendiri. Pelajaran ini sulit, dan biasanya memerlukan trial and error (mencoba dan gagal) untuk kita benar-benar dapat melakukannya, seperti yang didapati orang Israel ketika bergantung pada penyediaan manna Allah di padang gurun (Keluaran 16:1-36). Dan ini menjadi pengingat bahwa pada akhirnya hidup kita tidak bergantung pada usaha keras kita, tetapi pada kecukupan dan anugerah Allah. Ini adalah tantangan—bagi orang yang bergumul dengan kemungkinan tidak memiliki cukup maupun bagi orang yang bergumul dengan bahaya tidak tahu apa itu cukup.

    Lihat artikel Menyelaraskan Irama Kerja dan Istirahat: Tinjauan Umum untuk pembahasan lebih lanjut tentang topik ini.

    Kita Harus Memakai Kekayaan Kita untuk Membantu Orang Miskin

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Memiliki sikap yang benar tentang kecukupan dan kekayaan dan membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan pribadi kita adalah titik awal bermitra dengan Allah dalam menebus bidang kehidupan ekonomi. Tetapi, ada juga mandat Alkitab yang kuat dan konsisten bagi orang-orang kaya agar mereka memakai kekayaannya untuk membantu orang-orang miskin. Cara yang paling jelas (dan paling banyak dituliskan dalam Alkitab) adalah dengan memberi. Tetapi, berinvestasi dan berbelanja dengan bijak juga merupakan respons yang benar dalam membantu orang miskin.

    Membantu Orang Miskin dengan Memberi

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Ketika kita sungguh-sungguh menyadari kehadiran anugerah Allah dalam hidup kita, hati kita yang bersyukur dengan sendirinya akan meluap dalam tindakan memberi yang murah hati. Yesus memerintahkan murid-murid-Nya, "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma" (Matius 10:8). Inilah tepatnya yang terjadi pada gereja-gereja di Makedonia, sebagaimana dijelaskan dalam 2 Korintus, pasal 8 dan 9. Pasal-pasal ini merupakan ungkapan paling jelas di Perjanjian Baru tentang tindakan murah hati dan memberi. Menurut Paulus, gereja-gereja di Makedonia secara spontan memberi kepada gereja di Yerusalem untuk meringankan beban para anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi. Padahal orang-orang Kristen di Makedonia sendiri sangat miskin. Paulus berkata:

    Selagi dicobai dengan berat dalam berbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.Aku bersaksi bahwa mereka telah memberi menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh anugerah untuk ambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.” (2 Korintus 8:2-4)

    Yang mengherankan adalah mereka tidak memberi dari kelimpahan, tetapi di tengah kekurangan mereka sendiri. Jika kita ingin menjadi pemberi, kita harus mulai memberi sekarang, dari seberapa pun yang kita pikir kita miliki. Jika kita menunggu sampai kita pikir kita memiliki cukup, kita tidak akan pernah memiliki cukup.

    Paulus mengamati bahwa Yesus sendiri adalah teladan dalam hal memberi semacam itu. “Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Korintus 8:9). Mengapa kita harus memberi? Karena Dia yang kita ikuti telah memberi teladan kemurahan hati kepada kita.

    Paulus melanjutkan dengan berkata bahwa orang kaya harus memberi sedemikian rupa—dan orang miskin harus menerima sedemikian rupa—supaya terjadi keseimbangan.

    Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis, “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan, dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.” (2 Korintus 8:13-15)

    Jalan pikirannya menunjukkan ada kesenjangan yang ekstrem di antara yang kaya dan yang miskin, yang tidak seharusnya ada di dalam komunitas Kristen. Jika ada saudara-saudari yang tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar mereka, orang yang memiliki kelebihan harus merespons. Ini menjadi tantangan yang sangat besar bagi banyak orang Kristen di Barat, yang kekayaannya jauh melebihi orang-orang Kristen di berbagai bagian dunia yang berjuang untuk sekadar bertahan hidup dari hari-ke-hari.

    Tetapi Paulus tidak bermaksud memakai rasa bersalah untuk memotivasi kita. Pemberian kita tidak hanya harus dicirikan dengan kemurahan hati, tetapi juga dengan sukacita. “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7). Kita harus memberi karena kita ingin memberi, dengan sukarela—meluap dari hati yang penuh syukur. Jika kita tidak ingin memberi, mari kita lebih memperhatikan tindakan mengucap syukur dan melihat apakah hal itu akan menumbuhkan hati yang rela dan bersukacita untuk memberi.

    Tidak mudah memang untuk memberi dengan murah hati. Hal ini sangat bertentangan dengan intuisi pribadi maupun budaya. Di ranah pribadi, kita takut jika kita memberi dengan murah hati, kita tidak akan memiliki cukup untuk kebutuhan-kebutuhan kita sendiri. Budaya kita memperkuat ketakutan ini dengan menghadirkan "kebutuhan-kebutuhan" yang terus meningkat pada kita, dan membangkitkan keinginan dalam diri kita untuk menemukan rasa aman dengan memiliki dan menimbun lebih banyak. Hanya oleh kuasa Roh Allah kita dapat berharap terbebas dari cengkeraman kekayaan agar kita mampu memberi dengan murah hati. Namun, jika kita menerima karunia kemurahan hati dari Allah, itu adalah anugerah pembebasan dari perbudakan pribadi atas kekayaan dan dari perbudakan budaya atas berhala rasa aman dan status yang palsu.

    Setelah memutuskan untuk memberi, tentu saja pertanyaan tentang ke mana dan bagaimana harus dijawab. Perlu hikmat untuk mengetahui manakah yang paling tepat dan bermanfaat dari sekian banyak pilihan. Jika memilih untuk memberi melalui lembaga, dua pertimbangannya adalah:

    • Apakah lembaga ini memberdayakan orang yang akan mereka bantu? Apakah mereka mendengarkan dengan baik dan bekerja sama dengan penerima bantuan agar bantuan yang diberikan benar-benar bermanfaat? Apakah mereka memperhatikan konteks budaya tempat mereka melayani? Atau apakah mereka begitu terfokus untuk melakukan yang menurut mereka dibutuhkan dengan cara yang mereka anggap benar sehingga secara tidak sengaja mereka malah memperburuk keadaan?

    • Apakah lembaga ini transparan dan jujur dalam caranya menggunakan sumber daya dan seberapa efektif cara itu? Apakah mereka bertanggung jawab kepada dewan pimpinan yang independen dan apakah mereka memberikan laporan keuangan kepada badan internasional yang memantau? Sayangnya, lembaga-lembaga seringkali kurang berintegritas dengan melebih-lebihkan laporan mereka, kurang terbuka terhadap audit atau evaluasi independen, cenderung menyia-nyiakan sumber daya, atau melakukan pemborosan yang tidak perlu dalam urusan administrasi, penggalangan dana, gaji tenaga eksekutif yang tinggi, dll.

    Membantu Orang Miskin dengan Investasi

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Meskipun memberi merupakan cara yang pokok dalam menggunakan kekayaan untuk membantu orang yang terjerat kemiskinan, investasi kekayaan yang bijak juga dapat sangat efektif dalam menolong orang miskin. Ada banyak contoh tentang bagaimana hal ini dapat dilakukan. Namun, dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, ada dua gerakan besar yang menunjukkan hal-hal yang dapat dicapai melalui investasi di komunitas-komunitas termiskin.

    Yang pertama adalah sektor mikrofinansial (layanan keuangan mikro). Di seluruh dunia, namun terutama di negara-negara berkembang, koperasi-koperasi didirikan di komunitas-komunitas miskin untuk memberi pinjaman dalam memulai usaha kecil. Ketika usaha ini menghasilkan pemasukan, pinjaman modal awal ini dikembalikan dan uang itu lalu dipinjamkan lagi untuk usaha-usaha kecil yang baru. Setidaknya, itulah tujuannya. Efektivitas layanan keuangan mikro tampaknya tidak merata di berbagai konteks, dan ada banyak yang mendukung maupun yang mencela. Namun, dalam kondisi terbaiknya, layanan keuangan mikro menjadi mekanisme bagi orang-orang yang memiliki kemampuan wirausaha untuk memperoleh modal, menciptakan bisnis yang memberi nilai tambah, memenuhi kebutuhan sendiri, dan membawa manfaat bagi komunitas.

    Bentuk umum kedua dari layanan mikrofinansial adalah koperasi “berbasis tabungan”, yang alih-alih memberi pinjaman kepada anggota, mereka malah diminta berkomitmen untuk menabung sejumlah kecil uang setiap minggu, yang kemudian digabungkan dengan tabungan anggota kelompok lainnya dan akhirnya diinvestasikan. Seiring berjalannya waktu, dengan dukungan dan mentoring, koperasi jadi memiliki cadangan modal, yang dapat dimanfaatkan oleh individu-individu untuk kebutuhan mendesak atau dipinjam untuk memulai usaha. Modal bersama itu juga dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh komunitas. Koperasi berbasis tabungan membantu masyarakat miskin dalam mengatasi salah satu hambatan utama orang yang ingin meningkatkan taraf hidup mereka—yaitu, tidak adanya opsi-opsi untuk menginvestasikan tabungan mereka yang sangat kecil dengan aman.

    Gerakan lain yang berkembang di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang adalah “social enterprise” (perusahaan sosial). Usaha-usaha ini didirikan untuk mencapai tujuan sosial selain mendapat keuntungan. Perusahaan semacam ini sering berusaha menghasilkan keuntungan yang “berkelanjutan”, tetapi tidak selalu memaksimalkan hasil investasi.

    Beberapa contoh perusahaan semacam itu adalah:[1]

    • Sarah dan John mendirikan usaha tembikar dan hanya mempekerjakan orang-orang yang memiliki banyak kendala dalam mendapatkan pekerjaan. Para pekerjanya bisa para tunawisma atau semi-tunawisma yang mungkin memiliki masalah kesehatan mental, cacat fisik, kecanduan obat-obatan, atau masalah-masalah lainnya. Pekerjaan itu tidak sepenuh-waktu, tetapi memberi tambahan penghasilan untuk melengkapi sumber pemasukan lain yang diterima pekerja. Tembikar dijual melalui toko-toko khusus dan juga melalui Internet.

    • Michael menjalankan usaha perakitan dan penjualan (ekspor) komponen-komponen elektronik. Ia mempekerjakan orang-orang dengan gangguan spektrum autisme (yang juga dikenal sebagai sindrom Asperger), dengan melatih mereka melakukan pekerjaan yang sangat rumit. Bisnis ini kecil (hanya mempekerjakan maksimal 12 orang setiap kali), tetapi kesempatan untuk melatih, membimbing, dan mengembangkan orang-orang yang akan sulit mendapat pekerjaan jika tidak ditolong, merupakan inti dari motivasi dan keputusannya menjalankan usaha ini.

    • Lembaga XYZ membangun usaha pembuatan tas goni di kawasan lampu merah (lokalisasi prostitusi) di sebuah kota Asia yang besar. Tas diekspor ke seluruh dunia dan dikenal karena ketahanan dan kualitasnya. Bisnis ini hanya mempekerjakan wanita-wanita yang pernah terjerat prostitusi atau rentan terhadap prostitusi. Dengan memberikan jalan keluar kepada wanita- wanita yang terperangkap untuk menjual diri demi memberi makan keluarganya, pabrik tas goni ini menyediakan pekerjaan alternatif yang berguna dengan upah yang layak, plus manfaat dari komunitas yang mendukung.

    • Jerry menjalankan bisnis impor selama beberapa tahun. Meskipun ia tidak mempekerjakan siapa-siapa, ia telah menginvestasikan sumber daya yang cukup besar untuk membangun bisnis yang berkelanjutan dan menguntungkan. Ia menggaji dirinya sendiri dengan standar upah yang layak, dan menyerahkan semua keuntungan untuk proyek mikrofinansial di negara berkembang.

    Meskipun kita sudah berfokus pada sarana-sarana investasi yang secara eksplisit berusaha membantu orang miskin, investasi bisnis komersial biasa di negara-negara dan masyarakat miskin juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengurangi kemiskinan. Kapasitas produksi dunia masih jauh dari kata habis, meskipun kepintaran manusia dan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang baik juga diperlukan.

    Namun, karena tujuan bisnis biasanya memberi keuntungan kepada pemegang saham, bukan masyarakat miskin, bisnis juga dapat menjadi sarana eksploitasi dan penyalahgunaan yang efektif. Ratusan juta orang Kristen bekerja dalam bisnis-bisnis yang berinvestasi, memproduksi, mendistribusi, menjual, atau mengangkut barang dan jasa di daerah-daerah miskin. Boleh jadi merekalah yang punya peluang terbesar untuk membentuk strategi dan operasional bisnis dengan cara-cara yang membantu orang miskin di seluruh dunia.

    Membantu Orang Miskin dengan Belanja

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Mungkin tampaknya aneh untuk berkata bahwa belanja merupakan cara potensial untuk membantu orang miskin. Kita sering mengaitkan belanja dengan konsumsi berlebihan. Banyak orang Kristen menganut mentalitas hidup hemat, yang menganggap belanja sebagai hal yang terkesan kurang rohani. Hal ini mungkin benar jika belanja diartikan sebagai membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan. Tetapi, belanja justru sering diartikan sebagai keinginan untuk membeli barang dengan harga murah, entah kita membutuhkannya atau tidak. Entah kenapa, mendapatkan harga murah menenangkan rasa was-was kita saat membeli sesuatu. Padahal akibatnya mungkin kita berkontribusi pada harga yang ditekan, yang menyebabkan produsen membayar pekerja terlalu sedikit untuk mencukupi kehidupan mereka dan keluarga.

    Dalam hal tertentu, berbelanja lebih untuk barang-barang yang kita konsumsi dapat meningkatkan kehidupan orang-orang yang menghasilkan dan menjualnya. Di dalam ekonomi global saat ini, banyak pekerja yang dibayar terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Sementara orang-orang yang membeli barang dan jasa mereka dapat dengan mudah membayar harga lebih tinggi untuk hal-hal itu. Jika ada cara untuk konsumen membayar lebih—dan dengan demikian meningkatkan pendapatan pekerja yang membutuhkannya—belanja sebenarnya dapat menjadi bantuan bagi orang miskin.

    Dalam beberapa dasawarsa terakhir, sebuah gerakan besar telah berkembang di negara-negara maju untuk berusaha membayar harga yang adil atas produk-produk yang dihasilkan negara-negara berkembang. "Perdagangan yang adil" ini berusaha memberi kompensasi yang adil bagi para petani kopi, coklat, kapas, pembuat kerajinan, dan industri-industri kecil lainnya atas pekerjaan mereka.

    Pengeluaran uang juga dianjurkan di dalam Alkitab jika uang itu digunakan dengan kemurahan hati untuk orang lain. Allah menghargai pengeluaran yang royal untuk pesta makan-makan bersama tetangga Anda, asalkan Anda tidak mengharapkan apa-apa sebagai balasannya (Lukas 14:12-14). Yang dilarang Alkitab adalah pengeluaran yang boros untuk kesenangan diri sendiri (Yakobus 4:3). Jadi jika pertanyaan kita adalah, "Apa yang harus kulakukan dengan uang yang kumiliki?" maka "belanjakanlah dengan royal untuk hal-hal yang berguna bagi orang lain tanpa mengharapkan balasan," akan menjadi jawaban yang baik. Tetapi ini di luar topik yang sedang kita bahas saat ini tentang belanja untuk membantu orang miskin, jadi kita akan mengakhiri pembahasan tentang hal itu di sini.

    Kita Harus Mengubah Organisasi dan Struktur-struktur Masyarakat

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Orang Kristen tidak hanya dipanggil untuk berkiprah di level usaha kecil dan dari orang-ke-orang saja dalam upaya pengentasan kemiskinan, tetapi juga di tingkat makro atau struktural. Dunia memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Tetapi motivasi sosial, politik dan ekonomi serta cara-cara mewujudkannya tidak pernah terintegrasi secara menyeluruh. Ini juga merupakan satu bentuk dosa dan kesalahan manusia. Kita harus terlibat dalam mengubah organisasi-organisasi dan berbagai sistem kecukupan dan kekayaan di dalam masyarakat kita. Meskipun kita mungkin merasa terlalu kecil dan tidak penting, atau terlalu jauh dari pusat-pusat kekuasaan dalam masyarakat kita, Allah punya kebiasaan memakai orang luar dan tidak penting untuk membawa perubahan ekonomi yang besar dalam masyarakat.

    Barangkali agen perubahan struktural di negeri asing yang pertama adalah Yusuf (Kejadian 41-42). Lahir di negeri Kanaan yang tidak signifikan, dijual sebagai budak di Mesir, dipenjarakan atas tuduhan palsu, dan terpinggirkan dalam bentuk-bentuk lainnya, ia akhirnya mereformasi struktur ekonomi negara Mesir yang besar. Dengan memandang ke depan secara sangat profetik, ia menerapkan sistem jaringan kota-kota penyimpanan yang luas, supaya hasil panen dari masa-masa produktif yang baik dapat disimpan untuk masa-masa kelaparan. Inilah bank makanan yang pertama. Sebagai hasilnya, kemampuan orang Mesir untuk menyediakan kecukupan bagi rakyatnya selama tahun-tahun kelaparan yang panjang itu meningkat pesat, dan ada cukup makanan untuk semua orang—bahkan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga Yusuf yang pergi ke selatan sebagai orang asing untuk mencari makanan. Tanpa kesediaan Yusuf untuk menantang sistem perekonomian Mesir, jutaan orang miskin akan mati selama tujuh tahun dilanda kelaparan. Namun karena ia bersedia menantang dan mengubah sistem itu, orang miskin maupun orang kaya dapat tetap hidup.

    Demikian pula, ketika bangsa Israel dibuang ke Babel, mereka mendapati diri mereka tak berdaya dan kehilangan hak. Tetapi nabi Yeremia menasihati umat Allah itu untuk "usahakanlah kesejahteraan kota ke mana Aku membuangmu dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu" (Yeremia 29:7). Tujuan Allah adalah agar umat-Nya mereformasi struktur-struktur yang dimiliki para penawan mereka.

    Hal ini bisa terjadi ketika beberapa pemuda, Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, direkrut untuk menjalani peran kepemimpinan di pemerintahan Babel. Alih-alih menyerah pada godaan kemewahan yang ditawarkan posisi baru mereka, mereka menantang sistem itu. Mereka mempertaruhkan kedudukan mereka—dan nyawa mereka—untuk melawan ketidakadilan dan ketimpangan. Dengan bertindak sebagai agen-agen perubahan, Daniel dan teman-temannya bekerja untuk mendukung — bukan menentang - kesejahteraan di negara tempat mereka dibuang. Allah bermaksud memakai mereka untuk menebus sistem, budaya, dan masyarakat tempat mereka tinggal dan bekerja. Dalam satu hal, ini berarti Daniel menantang raja secara langsung. “Jadi, ya Raja, kiranya Tuanku berkenan menerima keputusanku ini: lepaskanlah diri Tuanku dari dosa dengan melakukan keadilan, dan dari kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan kepada yang tertindas. Dengan demikian kebahagiaan Tuanku akan berlanjut” (Daniel 4:27).

    Di mana pun kita bekerja—di departemen pemerintah, partai politik, organisasi nonpemerintah, struktur kota, perusahaan multinasional, usaha kecil, dinas kesehatan atau pendidikan, lingkungan setempat—kita juga harus berusaha bekerja untuk kesejahteraan dan kemakmuran orang-orang yang kita layani. Terkadang ini berarti kita menantang sistem dan struktur-struktur yang menghalangi kecukupan dan kekayaan Allah bagi semua orang. Usaha ini bisa memerlukan perubahan prioritas, struktur, dan proses-proses dalam organisasi itu—apalagi jika mereka menindas atau memarjinalkan orang-orang lemah atau miskin. Entah itu dalam mengadvokasi sistem perpajakan yang lebih adil, membantu penyusunan undang-undang yang menentang praktik-praktik monopoli atau anti-kompetisi, atau menantang cara pemberi kerja dan serikat kerja saling berhubungan dalam industri tertentu, ada banyak peluang bagi orang Kristen untuk membawa perubahan sistemik pada cara mendapatkan kecukupan dan kekayaan.

    Kita Harus Bekerja dengan Orang-orang Tidak Percaya untuk Meningkatkan Kecukupan dan Mengurangi Kemiskinan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Di beberapa bagian Kitab Suci, Allah memakai orang-orang yang bukan pengikut-Nya untuk menggenapi tujuan-Nya. Salah satu contohnya, di dalam kitab Ezra, adalah raja Kores dari Persia.

    Pada tahun pertama pemerintahan Kores, raja Persia, TUHAN menggerakkan hati Kores, raja Persia itu, agar firman TUHAN yang diucapkan oleh Yeremia digenapi. Lalu disiarkanlah pengumuman ini di seluruh kerajaannya secara lisan dan tertulis, demikian: "Beginilah perintah Kores, raja Persia: segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah Semesta Langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang ada di Yehuda..." (Ezra 1:1-2)

    Secara mengejutkan, Allah memilih memakai orang yang bukan umat Allah untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Allah tidak dibatasi dalam menggenapi rencana penebusan-Nya dengan melulu bekerja dengan umat-Nya saja. Seperti Ezra (dan kemudian juga Nehemia), kita pun dapat bekerja dengan orang-orang tidak percaya untuk menebus dunia.

    Salah satu cara melakukan hal ini adalah dengan bermitra dengan orang-orang dan organisasi-organisasi yang berusaha meningkatkan taraf ekonomi orang miskin dengan berbagai cara. Ada banyak individu-individu dan institusi-institusi non-Kristen yang melakukan pekerjaan besar dalam menyediakan lapangan kerja yang bermanfaat, peluang usaha kecil, penanggulangan kemiskinan, dan pengembangan masyarakat. Kita dapat bekerja dalam solidaritas dan kemitraan dengan orang-orang dan tujuan-tujuan semacam itu. Tentu saja kita juga perlu bersikap bijak di sini. Kita perlu memastikan bahwa dampak kemitraan itu selaras dengan tujuan-tujuan dan nilai-nilai alkitabiah.

    Nehemia – Sosok Teladan Yang Positif

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Nehemia adalah salah satu tokoh Alkitab yang sikap, gaya hidup, strategi, dan prioritasnya bekerja bersama-sama untuk mengubah masyarakat demi kebaikan orang miskin. Sebagai gubernur kota Yerusalem—yang bekerja untuk kekuatan asing—ia mempertaruhkan kedudukannya untuk mengadvokasi pembangunan kembali tembok kota demi melindungi penduduk asli Yahudi (yang sebagian besar miskin). Nehemia dihargai dengan baik secara materi atas peran kepemimpinannya. Mudah baginya untuk menikmati saja hak-hak istimewa yang menyertai jabatannya. Namun, ketika Nehemia didatangi sekelompok orang Yahudi yang bergumul secara ekonomi, ia turun tangan menolong mereka. Seperti yang terjadi pada banyak orang Yahudi, mereka akhirnya terlilit utang yang melumpuhkan, kehilangan tanah mereka, bahkan menjadi budak, karena banyak orang kaya mengeksploitasi keuntungan yang tidak adil dalam situasi ekonomi yang sulit. Respons Nehemia adalah menegur secara terbuka orang-orang yang melakukan eksploitasi itu dan menantang mereka untuk mengembalikan yang telah mereka ambil. Dan hebatnya, mereka menurut! Selain itu, Nehemia juga mengorganisir program bantuan untuk orang-orang yang kesusahan dan mengadakan reformasi keuangan jangka panjang untuk memastikan orang miskin dapat memiliki mata pencaharian lagi.

    Tetapi ciri paling menonjol dari respons Nehemia adalah perubahan gaya hidup pribadinya yang mahal. Setelah mengamati bagaimana para pendahulunya beserta para asistennya "sangat membebani rakyat" dan bertindak sewenang-wenang, Nehemia memilih untuk mengurangi pemasukannya, hidup lebih sederhana, dan menolak banyak keuntungan yang seharusnya menjadi haknya. Untuk mengurangi beban pajak rakyat, ia menanggung biaya makan 150 orang Yahudi, pejabat, dan orang asing yang bekerja di pemerintahannya. Dengan demikian, ia menunjukkan keramahtamahan yang murah hati dengan menjamu mereka setiap hari di mejanya sendiri (Nehemia 5:14-19).

    Lihat "Membangun Kembali Tembok Yerusalem (Nehemia 1:1-7:73)" dalam "Ezra, Nehemia & Ester dan Pekerjaan" di https://www.teologikerja.org untuk informasi lebih lanjut tentang penggunaan kekayaan Nehemia untuk kebaikan bangsa Israel.

    Pengharapan dan Pertolongan dalam Kecukupan Allah

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Lalu apa yang layak kita harapkan dari Allah dalam hal kecukupan atas kebutuhan kita sendiri?

    Kita Dapat Mencari Pimpinan tentang Kecukupan Allah…

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Kita dapat mencari pimpinan tentang kecukupan Allah dan berharap tindakan itu akan menolong kita dalam memenuhi kebutuhan kita, kebutuhan orang-orang yang bergantung pada kita, dan kebutuhan dunia. Yesus berkata,

    Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari antara kamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (Matius 7:7-11)

    Setelah mengungkapkan penghargaan dan berterima kasih kepada jemaat Filipi atas pemberian mereka kepadanya ketika ia menderita di rumah tahanan di Roma, Paulus dengan yakin berkata, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

    Apakah ini berarti jika kita tidak memiliki kecukupan untuk kebutuhan kita dan kebutuhan orang-orang di sekitar kita, kita harus meminta pertolongan Allah? Ya. Kita tidak memiliki janji Allah bahwa Dia akan memenuhi segala yang kita inginkan dengan segera. Tetapi, kita memiliki janji-Nya bahwa Dia akan memberikan yang kita butuhkan. Kita bisa meminta pimpinan-Nya secara praktis jika kita ada kebutuhan. Kita dapat meminta pimpinan-Nya dalam mencari pekerjaan, mengajukan permohonan bantuan/tunjangan, berganti pekerjaan, menyelesaikan perselisihan antara pekerja dan pemberi kerja, memperoleh pendidikan dan pelatihan kerja. Kita perlu meminta kuasa-Nya yang mengubahkan dalam etika kerja, kreativitas dan produktivitas, kebiasaan-kebiasaan kerja, dan faktor-faktor lain yang diperlukan untuk mempertahankan pekerjaan dan berkembang di tempat kerja. Jika kita menganggur atau tidak bekerja secara optimal, kekecewaan atau perasaan malu kita bisa membuat kita menjauh dari Allah. Namun, saat-saat seperti ini justru merupakan kesempatan untuk kita makin mendekatkan diri lagi pada Allah daripada sebelum-sebelumnya.

    Mencari pertolongan Allah tidak hanya bagi yang kekurangan. Jika kita memiliki kekayaan, pilihan-pilihan tentang cara memperoleh, berinvestasi, dan memberi seringkali juga sangat rumit. Dalam situasi-situasi seperti itu, kita membutuhkan pimpinan dan petunjuk Allah dalam memilih cara-cara memperoleh dan menggunakan sumber daya dengan baik—cara-cara yang memuliakan Allah dan tidak membahayakan diri sendiri atau orang lain. Yakobus memberi nasihat, "Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya" (Yakobus 1:5).

    Kita Dimaksudkan untuk Bergantung pada Kecukupan Allah…

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Kita dimaksudkan untuk bergantung pada kecukupan Allah, artinya, kita harus mengandalkan Dia untuk mencukupi kebutuhan kita ketika kemampuan kita sendiri tidak memadai.

    Mukjizat ketika Yesus memberi makan lima ribu orang adalah contoh alkitabiah paling tepat tentang Allah yang mencukupi ketika kemampuan kita sendiri tidak memadai. Sekumpulan orang banyak mengikuti Yesus ketika Dia pergi ke tempat terpencil. Lalu mereka lapar, tetapi tidak ada tempat untuk membeli makanan dan tidak ada uang juga untuk membelinya. Salah seorang murid menemukan seorang anak laki-laki yang hanya memiliki lima roti gandum dan dua ikan. Yesus menerima bekal yang sedikit itu, mengucap syukur, dan menyuruh membagikannya kepada seluruh orang banyak itu, seolah-olah makanan itu untuk ribuan orang. Ajaibnya, setiap orang di antara ribuan orang itu dapat mengambil sebanyak yang mereka inginkan. “Setelah mereka kenyang, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ‘Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih, supaya tidak ada yang terbuang’.” (Yohanes 6:11-12). Dan ketika mereka melakukannya, mereka mengisi penuh dua belas bakul. (Yohanes 6:1-14; lihat juga Matius 14:13-21, Markus 6:30-44, dan Lukas 9:10-17).

    Allah senang mengisi kekurangan kita. Ini menjadi pengingat bahwa tidak seorang pun dari kita mampu mencukupi dirinya sendiri. Allah-lah pemelihara dan penyedia kebutuhan kita.

    Kita Dimaksudkan untuk Bekerja dengan Rajin dan Bijak…

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Kita dimaksudkan untuk bekerja dengan rajin dan bijak sesuai kemampuan kita. Bergantung pada Allah adalah sikap tentang kerja manusia, bukan pengganti untuk kerja manusia.

    Meskipun Allah itu Pemelihara kita, Dia memanggil kita untuk memakai apa yang ada di tangan kita, bukan yang tidak ada. Berkat pertama Allah untuk mencukupi kita adalah kemampuan kita untuk bekerja, seperti yang telah kita pelajari di Kejadian 1 dan 2. Pekerjaan kita tidak berdiri sendiri, sebagai pengganti kemurahan Allah, tetapi biasanya merupakan unsur pertama dari penyediaan/pemeliharaan Allah. Meskipun disabilitas, situasi, atau ketidakadilan bisa dengan tragis membuat kerja kita gagal memenuhi kebutuhan kita, Allah akan memanfaatkan apa yang dapat kita lakukan. Dan membuat perbedaan dari kekayaan-Nya yang tidak ada habisnya.

    Ketika menanggapi berita tentang adanya beberapa orang di gereja Tesalonika yang tidak mau bekerja, Paulus berkata,

    Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar bahwa ada orang di antara kamu yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringatkan dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. (2 Tesalonika 3:10-12).

    Tidak bekerja, tidak makan. Tentu saja ini asumsinya ada pekerjaan yang bisa dilakukan. Tidak masalah apakah pekerjaan itu dibayar atau tidak. Jika ada pekerjaan yang berguna yang dapat kita lakukan, kita tidak bisa hanya duduk manis dan berharap Allah memberkati kemalasan kita. Banyak rumahtangga bergantung pada pekerjaan yang dibayar di luar rumahtangga itu dan pekerjaan yang tidak dibayar yang dilakukan di dalamnya. Kedua pekerjaan ini sama-sama unsur kecukupan Allah. Bahkan orang yang membutuhkan pekerjaan yang dibayar, tetapi menganggur atau tidak dapat mempertahankan pekerjaan yang dibayar, masih dapat bekerja secara sukarela. Sudah menjadi tanggung jawab kita untuk bekerja sejauh yang dapat kita lakukan, meskipun Allah-lah yang bertanggung jawab untuk menjamin kebutuhan kita terpenuhi. Kemalasan bukanlah bentuk kebergantungan pada Allah yang sah.

    Allah Tidak Berjanji Orang Kristen akan Luput dari Efek-efek Dunia Yang Jatuh

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Tidak ada janji Allah di Alkitab yang mengatakan bahwa para pengikut-Nya akan luput dari efek-efek dunia yang telah jatuh dalam dosa. Sesungguhnya, banyak tokoh Alkitab yang menderita saat-saat ketika situasi, penderitaan dan penganiayaan merampas hal-hal yang mereka butuhkan secara materi.

    • Yusuf bertahun-tahun menderita di sel penjara Mesir, yang pastinya hanya diberi makan seadanya untuk membuatnya tetap sehat.

    • Naomi merasakan perihnya hidup dalam kondisi yang sangat minim—tanpa suami atau tanah untuk mencukupi kebutuhannya bersama menantunya, Rut.

    • Paulus mengalami banyak penderitaan yang antara lain “berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali tidak tidur; lapar dan dahaga; kerap kali berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian” (2 Korintus 11:27).

    Allah tidak meluputkan kita dari penderitaan-penderitaan dunia, tetapi Dia melindungi kita agar tidak dikalahkan oleh penderitaan itu. Yesus berdoa kepada Bapa untuk murid-murid-Nya, “Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat” (Yohanes 17:15).

    Jadi, apa yang Allah janjikan? Memenuhi kebutuhan kita, bukan keinginan kita. Membantu kita dalam menanggung dan mengatasi kekurangan, penderitaan, dan kesengsaraan apa pun yang kita alami. Dan yang terpenting, Allah akan memakai segala situasi yang kita hadapi—termasuk ketika kita kekurangan kecukupan—untuk mendatangkan kebaikan. Bagi Dia, bagi kita, dan bagi dunia. Seperti tertulis dalam ayat paling terkenal di surat Roma, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

    Kekayaan Bukanlah Tanda Perkenan atau Berkat Allah

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Beberapa gereja mengajarkan yang bisa disebut sebagai "Injil kesehatan dan kemakmuran," yang mengeklaim bahwa Allah selalu mengganjar umat-Nya dengan kemakmuran di dunia ini. Tetapi di Alkitab kekayaan bukanlah tanda perkenan Allah. Kemiskinan juga bukan tanda hukuman Allah. "[Allah] menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar" (Matius 5:45).

    Para pendukung Injil kesehatan-dan-kemakmuran sering menyatakan bahwa di Perjanjian Lama, banyak tokoh yang paling kita hormati adalah orang-orang kaya. Mereka meliputi Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Boas, Ayub, Daud, dan Salomo. Dan hampir bisa dipastikan pengalaman kelimpahan mereka ada kaitannya dengan kesetiaan mereka kepada Allah. Pakar Alkitab Craig Blomberg menulis bahwa di Perjanjian Lama,

    Kekayaan dapat menjadi tanda berkat Allah, meskipun tidak selalu ada kaitannya dengan ketaatan seseorang atau suatu bangsa. Tetapi, pengaturan perjanjian yang unik antara Allah dan Israel tidak bisa membuat kita menyamaratakan dan berkata bahwa Allah harus mengganjar umat-Nya yang setia secara materi pada bangsa-bangsa atau zaman-zaman yang lain.[1]

    Jadi, sulit untuk menyatakan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara kebenaran dan kekayaan. Kisah bangsa Israel meneguhkan penilaian ini. Banyak orang kaya di Alkitab menjadi makmur karena kejahatan mereka, bukan kebenaran. Ini termasuk sejumlah keturunan raja Daud. Contohnya, di 1 Raja-raja 21 kita membaca bahwa raja Ahab menginginkan tanah Nabot dan ketika ia tidak dapat memilikinya dengan cara yang benar, Izebel istrinya memerintahkan agar Nabot dibunuh. Hal ini terjadi meskipun Ahab sudah sangat kaya raya.

    Keterkaitan antara kebenaran dan kekayaan lebih lemah lagi di Perjanjian Baru. Pakar Alkitab Gordon Fee berkata bahwa kekayaan tidak pernah dikaitkan dengan kehidupan yang taat di dalam kitab-kitab Injil dan kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya.[2] Meskipun kita menemukan beberapa orang percaya yang kaya seperti Yusuf dari Arimatea dan Lidia, tidak ada pernyataan dari penulis Perjanjian Baru mana pun bahwa perkenan Allah terutama diberikan kepada orang-orang kaya. Bahkan, yang benar justru kebalikannya.

    Sebagai contoh, setelah bertemu dengan pemimpin muda yang kaya itu, Yesus berkata bahwa lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah. Keterkejutan atas pernyataan ini membuat para murid-Nya bertanya, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” (Matius 19:25). Dengan kata lain, “Jika orang kaya saja tidak bisa, maka pasti tidak ada harapan untuk orang lainnya, bukan?” Di dalam budaya yang menganggap kekayaan sebagai tanda perkenan dan berkat Allah, perkataan Yesus sangat tegas. Kekayaan bukanlah tanda keadilan atau perkenan Allah. Kekayaan adalah ancaman serius bagi relasi kita dengan Allah.

    Pengharapan Terakhir

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Pengharapan terakhir orang Kristen bukanlah terhindar dari penderitaan yang dialami semua orang di dunia yang telah jatuh. Melainkan, menjadi bagian dalam hidup berkelimpahan yang dijanjikan ketika dunia ditebus sepenuhnya pada saat kedatangan Kristus kembali. Di bumi yang baru akan ada banyak hal untuk semua orang. Tak ada yang akan kekurangan kecukupan. Keadilan akan memerintah. Kekayaan akan dialami oleh semua, tanpa membahayakan siapa pun atau apa pun. Kita sendiri tidak akan menderita kekurangan. Kita juga tidak akan memperkaya diri dengan mengorbankan orang lain. Semua akan seperti yang selalu diinginkan Allah.

    Yesaya bernubuat tentang saat itu:

    Sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati…. Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya pula; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya pula. Mereka tidak akan mendirikan sesuatu supaya orang lain yang mendiaminya; dan mereka tidak akan menanam sesuatu supaya orang lain memakan buahnya… Mereka tidak akan sia-sia bersusah payah, atau melahirkan anak yang akan mati mendadak…. Aku akan mengalirkan kepadanya [Yerusalem] damai sejahtera seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang meluap. (Yesaya 65:17, 21-23; 66:12)

    Yohanes juga menubuatkan kemakmuran Yerusalem Baru. Penyediaan Allah begitu luar biasa sampai pintu-pintu gerbang kota itu dihiasi mutiara, fondasinya bertabur segala jenis permata, dan jalan-jalannya terbuat dari emas murni (Wahyu 21:19-21). Jika penglihatan ini terdengar agak fantastis, kemungkinan itu berarti kemurahan hati Allah memang benar-benar tak terbayangkan oleh kita, karena kita sudah terbiasa dengan kekurangan.

    Kesimpulan

    Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

    Lalu, apa yang dapat kita simpulkan tentang kecukupan dan kekayaan dalam Alkitab?

    Jika kita kaya, kita patut bersyukur dan berterima kasih atas berkat kekayaan itu dan mencari pimpinan Allah tentang cara mengelola kekayaan ini tanpa membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Kita harus belajar puas dengan yang kita miliki dan sebagai wali pengemban amanah Allah, kita menyerahkan kekayaan kita untuk Dia pakai sesuai kehendak-Nya melalui tindakan memberi, investasi yang bijaksana, dan belanja yang bertanggung jawab. Menyadari adanya bahaya-bahaya kekayaan, kita harus meminta kasih karunia Allah agar tidak menjadi sombong, korupsi, mengandalkan diri sendiri, eksploitatif, atau berpuas diri. Dan barangkali yang terutama, kita tidak boleh menganggap bahwa kita sangat diperkenan Allah.

    Jika kita miskin—atau sulit mencukupi kebutuhan kita sendiri—kita perlu meminta pimpinan dan pertolongan Allah. Sambil menolak dorongan untuk dikuasai kekhawatiran atau keputusasaan, kita dapat meminta kasih karunia Allah untuk tetap bermurah hati dan bersukacita, bahkan mencari cara untuk lebih puas dengan menginginkan lebih sedikit. Yang terutama, kita harus meminta kasih karunia-Nya agar tidak menganggap diri kita tidak berharga di mata Allah atau sedang dihukum Allah.

    Jika kita merasa tidak kaya atau miskin—sekadar cukup/pas-pasan saja, sepertinya —kita patut mengucap syukur atas apa yang telah kita terima dan meminta pimpinan Allah untuk dapat menggunakannya dengan baik. Sambil bersikap waspada terhadap kekhawatiran, kita patut bersukacita atas kesempatan yang diberikan situasi ekonomi untuk kita memercayai Allah setiap hari dalam kebutuhan-kebutuhan kita. Kita dipanggil untuk belajar puas dan mempraktikkan kemurahan hati melampaui yang kita rasa dapat kita lakukan. Bahkan ketika kita merasa tidak yakin dengan keamanan kita sendiri, kita dipanggil untuk mengusahakan keadilan ekonomi, meskipun hal itu tampaknya dapat mengancam harapan-harapan kita sendiri. Kebiasaan bersyukur, merasa puas, bermurah hati secara bersama-sama akan menunjukkan dengan lebih jelas perbedaan antara yang kita rasa kita butuhkan dengan yang benar-benar terbaik untuk kita. Mungkin hal itu akan menyiapkan kita untuk memercayai janji-janji Allah atas kecukupan kita.

    Kaya, miskin, atau di antaranya, kita dapat menantikan dengan penuh keyakinan masa depan yang tidak ada lagi pergumulan dan tidak ada lagi yang kekurangan apa pun. Kita akan hidup berkelimpahan di bumi yang baru. Visi Allah bagi kita dan bagi dunia-Nya akan digenapi.