Bootstrap

Menyelaraskan Irama Istirahat dan Kerja (Tinjauan Umum)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Balance work rest 552x470
Membuat Waktu Istirahat Dapat Diperkirakan dan Dibutuhkan

Bacalah lebih lanjut di sini tentang penelitian mengenai irama istirahat dan kerja yang dilakukan di Boston Consulting Group oleh dua profesor Harvard Business School. Penelitian itu menunjukkan bahwa ketika diasumsikan setiap orang harus selalu bersedia ditantang secara kolektif, bukan saja individu-individu dapat memiliki waktu istirahat, pekerjaan mereka juga benar-benar mendapat manfaat. (Harvard Business Review mungkin memasang pengumuman dan mewajibkan mendaftar untuk melihat artikel itu). Mark Roberts juga membahas topik ini dalam renungan Life for Leaders dengan judul "Tidakkah Menaati Hari Sabat Akan Membuat Saya Kurang Produktif?"

Pendahuluan – Istirahat dan Kerja

Manusia membutuhkan irama kerja dan istirahat agar dapat hidup sesuai dengan potensi yang diberikan Allah kepada mereka. Sama seperti Allah memberikan pekerjaan penting untuk dilakukan manusia, Allah juga mau manusia beristirahat secara berkala dari pekerjaan mereka. Pekerjaan memberi kesempatan kepada setiap individu untuk bermitra dengan Allah dalam tujuan-tujuan-Nya atas ciptaan, sementara istirahat memungkinkan orang itu memasuki persekutuan dengan Allah dalam menikmati ciptaan. Idealnya, semua orang bekerja dan beristirahat secara berselang-seling yang nyaman, yang membuat manusia sehat secara fisik, bergairah secara mental, dan puas secara spiritual.

Sayangnya, bagi banyak orang hal ini jarang terjadi. Banyak orang mengabaikan istirahat atau tidak punya kesempatan untuk beristirahat karena pola hidup mereka. Dengan kemajuan teknologi yang memusingkan, orang dapat bekerja di mana saja dan kapan saja. Pada tahun 2014 The Economist melaporkan bahwa 60% orang yang menggunakan telepon pintar terhubung dengan kantor mereka selama 13,5 jam atau lebih dalam sehari.[1] Banyak orang telah berhenti berusaha menyelaraskan kerja dan istirahat.[2] Yang lain mendapati seluruh waktunya habis untuk kebutuhan mencari uang, merawat anak atau orangtua lanjut usia (atau keduanya), serta memenuhi berbagai kebutuhan dan ekspektasi lainnya. Karena bekerja berlebihan, mereka merasa semakin sulit untuk mengalami istirahat yang memanusiakan dan memulihkan yang mereka butuhkan.

Sebaliknya, sebagian orang kurang bekerja, entah karena mereka tidak bekerja secara penuh waktu atau pun merasa tidak terlibat dengan pekerjaan mereka. Sebagian kurang memiliki motivasi untuk bekerja atau tidak mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang dibutuhkan dalam bekerja. Perubahan-perubahan struktural di pasar tenaga kerja selama setengah abad terakhir ini telah mengurangi kesempatan kerja orang-orang yang tidak memiliki akses ke pendidikan tinggi.[3] Dan bahkan orang-orang yang bekerja secara penuh waktu bisa mengalami kurangnya keterlibatan yang produktif. Jika seorang pekerja merasa pekerjaannya tidak dihargai, diperhatikan, atau diapresiasi, pekerja itu akan sulit menunjukkan rasa memiliki atas tugas yang ada.[4] Jika ia tidak siap untuk bekerja secara produktif, buah kesuksesan tak mungkin tercapai. Hasilnya adalah kurangnya motivasi yang membuat kehilangan semangat.[5]

Ketika orang kurang beristirahat, mereka menderita secara fisik, mental, emosional, dan spiritual. Kelelahan fisik dan mental sering dapat menyebabkan ketidakstabilan emosi, karena orang yang kurang istirahat menjadi mudah tersinggung dan/atau cemas. Kekurangan istirahat ini juga bisa menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang lebih besar. Relasi-relasi menjadi tegang. Dan seiring berjalannya waktu, kehidupan rohani —relasi dengan Allah serta makna dan sukacita terbesar dalam hidup—jadi melemah juga.

Hasil riset menunjukkan konsekuensi yang berantai akibat kurangnya istirahat. Pertama-tama, kurang istirahat dapat mengganggu kesehatan dan kualitas kerja. Beban kerja yang berat dan jam kerja yang panjang merupakan sumber stres yang signifikan di tempat kerja. Menurut survei Asosiasi Psikologis Amerika, lebih dari sepertiga (36%) pekerja mengalami stres kerja yang kronis, yang dapat menyebabkan kecemasan, insomnia, nyeri otot, peningkatan tekanan darah, dan juga melemahnya sistem kekebalan tubuh. Stres ini juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan depresi.[6] Selain itu, kelelahan mengurangi keterampilan seseorang dalam mengelola relasi-relasi interpersonal. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa ketika orang lelah, ia akan salah membaca sinyal-sinyal sosial orang lain. Orang yang lelah akan memproyeksikan motif-motif negatif kepada orang lain, dan merasa sulit untuk menahan diri agar tidak meluapkan amarah saat merespons.[7] Akhirnya, ada implikasi-implikasi spiritual dari kurang beristirahat. Allah menciptakan bekerja maupun beristirahat, dan pengabaian dalam hal-hal ini dapat menjauhkan manusia dari-Nya.

Baik orang yang bekerja berlebihan maupun yang kurang bekerja bisa merasa sulit untuk berelasi dengan Allah dalam irama kerja dan istirahat. Namun, oleh kasih karunia Allah, masih ada harapan untuk dapat mengintegrasikan istirahat dan kerja dalam pola hidup yang dimaksudkan Allah. Artikel ini akan menyelidiki alasan-alasan tentang mengapa dan bagaimana melakukannya.

Sejak di halaman-halaman awal Alkitab, baik bekerja maupun beristirahat merupakan topik yang sangat penting. Di pasal pertama kitab Kejadian Allah menciptakan segala sesuatu, namun meskipun Dia memiliki kuasa dan kesempurnaan yang tidak terbatas, Allah mengambil waktu untuk beristirahat. Kajian topikal ini akan menelusuri tema istirahat dalam Kitab Suci melalui empat topik utama: 1) mengapa orang perlu beristirahat, 2) mengapa orang tidak dapat beristirahat, 3) bagaimana istirahat dipulihkan, dan 4) bagaimana orang dapat beristirahat dalam iman.

Diciptakan untuk Beristirahat: Memasuki Persekutuan dengan Allah Yang Menggembirakan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Semakin Sibuk Hidup Anda, Semakin Anda Membutuhkan Waktu Teduh

Pada tahun 2017, Harvard Business Review menerbitkan ringkasan penelitian-penelitian medis dan psikologis terbaru yang memperlihatkan bahwa manusia dirancang untuk waktu-waktu beristirahat, berdiam diri, dan berpikir mendalam: "Mengambil waktu untuk berdiam diri akan memulihkan sistem saraf, membantu menjaga energi, dan mengkondisikan pikiran kita untuk lebih adaptif dan responsif terhadap lingkungan yang kompleks, yang di dalamnya kebanyakan dari kita saat ini hidup, bekerja, dan memimpin." Mereka juga menyertakan empat kiat untuk melatih kebiasaan berdiam diri dan beristirahat sekalipun di tengah tempat kerja yang sibuk.

Pada hari ketujuh Allah selesai melakukan pekerjaan penciptaan-Nya, dan pada hari ketujuh itu Dia beristirahat dari segala pekerjaan yang telah diselesaikan-Nya. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itu Allah berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah diselesaikan-Nya. (Kejadian 2:2-3)
Hari ketujuh adalah hal pertama dalam Kitab Suci yang dikuduskan, untuk memperolah status istimewa yang sebenarnya hanya milik Allah. Dengan cara ini, kitab Kejadian menekankan tentang kekudusan hari Sabat. – Bruce Waltke [1]

Setelah enam hari menciptakan, Allah mengamati pekerjaan tangan-Nya dan menyatakan bahwa semuanya itu “sungguh sangat baik” (Kejadian 1:31). Namun, baru pada hari ketujuh itulah Allah menyebut sesuatu “kudus” yaitu pada hari istirahat yang Dia sisipkan di dalam waktu dan tempat ciptaan. Hari istirahat mendapat sebutan kudus, yang merupakan hakikat karakter Allah. Dua ayat pendek di Kejadian 2:2-3 menegaskan sampai tiga kali bahwa Allah beristirahat.

Saat ini, banyak orang menganggap istirahat sebagai hal yang harus mereka lakukan agar dapat bekerja. Jika bisa memilih, sebagian orang akan lebih memilih tubuh yang tidak perlu beristirahat. Di dalam masyarakat modern, istirahat sering dipandang sebagai lawan dari produktivitas. Istirahat adalah kebutuhan fungsional yang melayani tujuan kerja yang lebih tinggi, yang tidak memiliki arti atau signifikansi yang lebih dalam. Apakah pandangan tentang istirahat dan kerja ini tepat secara alkitabiah?

Di Kejadian 2, Allah bekerja dan juga beristirahat. Di dalam kemahakuasaan-Nya, Allah jelas tidak membutuhkan istirahat karena keletihan atau kelelahan fisik. Dia tidak perlu beristirahat agar dapat menjadi lebih produktif, mengingat Dia sudah menciptakan segalanya. Jadi, jelas ada sesuatu yang lebih pada istirahat daripada sekadar mempertahankan energi demi kelangsungan produksi.

Yang juga menarik, hal pertama yang dikuduskan dari segala ciptaan bukanlah manusia atau benda, tetapi hari. Apa signifikansinya istirahat bagi Allah, dan mengapa Dia membuat hari istirahat ini kudus? Kejadian 2 tidak menjelaskan mengapa Allah membuat hari ketujuh itu kudus, selain bahwa Dia menguduskannya. Jadi, akan menolong jika kita beralih ke konsep tentang Sabat yang dijelaskan di sepanjang Alkitab. Anehnya, kata Sabat tidak muncul lagi sampai di Keluaran 16:23-29, ketika bangsa Israel mengembara di padang gurun setelah dibebaskan dari perbudakan Mesir. Penyebutan kata Sabat yang signifikan berikutnya terjadi pada waktu Allah memberikan Sepuluh Perintah di Keluaran 20:8-11. Perintah keempat agar mengingat dan menguduskan hari Sabat didasarkan pada teladan Allah yang bekerja selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh, yang secara eksplisit menghubungkan penciptaan dengan ketaatan memelihara hari Sabat, “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh.” (Keluaran 20:11). Israel diperintahkan untuk beristirahat karena Allah beristirahat dalam penciptaan.

Patut dicatat bahwa kekudusan istirahat sama sekali tidak merendahkan pentingnya atau harkat bekerja. Pasal-pasal pembukaan kitab Kejadian menetapkan pola untuk bekerja maupun beristirahat; dan melakukan yang satu tanpa yang lain berarti menyimpang dari tatanan yang diciptakan Allah. Bahkan, Perintah Keempat menggabungkan perintah untuk bekerja maupun untuk beristirahat: "Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu." Allah meneguhkan kebaikan kerja dan kekudusan istirahat dengan menyatukan keduanya dengan indah. Perintah Keempat yang diberikan di kitab Ulangan mendukung irama kerja dan istirahat dengan argumen yang berbeda—karena Allah telah membebaskan umat-Nya dari Mesir. "Ingatlah, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu, dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung. Itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat" (Ulangan 5:13-15). Manusia harus bekerja dan beristirahat sesuai perintah Allah karena teladan-Nya dalam penciptaan dan juga teladan-Nya dalam penebusan.

Keluaran 31:16-17 memberikan pemahaman yang lebih dalam lagi. “Orang Israel harus memelihara hari Sabat dengan merayakannya turun-temurun sebagai perjanjian kekal. Itulah tanda antara Aku dan orang Israel untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja dan beristirahat.” Dua hal penting ditemukan dari ayat ini. Pertama, hari Sabat berfungsi sebagai tanda, yang menunjuk pada “perjanjian” antara Allah dan orang Israel. Perjanjian ini mencerminkan hubungan istimewa yang dinikmati orang Israel dengan Allah, yang dimulai dari bapa Abraham. Ahli Perjanjian Lama John Durham menulis dalam tafsir Alkitabnya: “Alasan memelihara hari Sabat adalah karena Yahweh telah memerintahkannya sebagai tanda perjanjian kekal antara diri-Nya dan orang Israel, perjanjian yang dilakukan orang Israel sebagai respons terhadap anugerah Penyertaan Yahweh.”[2] Dengan kata lain, memelihara hari Sabat berarti menjalani relasi istimewa yang dinikmati umat Allah bersama Allah. Kedua, Sabat adalah hari ketika Allah sendiri “disegarkan” dan Dia mau umat-Nya mengalami penyegaran yang sama. Jadi Sabat mewujudkan kerinduan Allah untuk berada dalam relasi yang intim dengan umat-Nya. Allah memberi penyegaran mingguan kepada umat-Nya melalui persekutuan dengan Dia dan dengan ciptaan-Nya.

Bukti selanjutnya tentang aspek relasional hari Sabat ini muncul di Yehezkiel 20:12, “Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka untuk menjadi tanda antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka.” Menurut ayat ini, Allah memberikan orang Israel “hari-hari Sabat-Nya” (penyegaran yang merupakan milik-Nya, sebagai tanda relasional antara Allah dan umat-Nya) agar mereka dapat mengenal siapa Dia dan mengalami efek pengudusan dari berelasi dengan-Nya. Ahli Perjanjian Lama Bruce Waltke menguatkan penekanan relasional ini: “Sabat adalah tanda bahwa Sang Pencipta telah mengkhususkan orang Israel untuk sebuah relasi perjanjian yang istimewa dengan-Nya.”[3] Tanda itu tidak sembarangan, yang seperti tato atau isyarat rahasia. Melainkan, tanda Sabat adalah partisipasi nyata bersama Allah dalam kegembiraan beristirahat di dalam ciptaan Allah sendiri. Allah memilih tidak jauh dari ciptaan-Nya. Sebaliknya, Allah memilih untuk bersekutu erat dengan umat-Nya dan dengan ciptaan-Nya melalui partisipasi mereka dalam istirahat Sabat-Nya.

Perjanjian Baru memperluas perintah untuk memasuki istirahat Allah maupun kemungkinan dalam melaksanakannya. Ibrani 4 mendorong para pengikut Yesus untuk beristirahat. "Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang pun di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku." (Ibrani 4:1). Menurut kitab Ibrani, orang Israel kuno gagal menerima tawaran istirahat Allah karena mereka tidak taat kepada-Nya. Tetapi para pengikut Yesus menerima kabar baik tentang istirahat yang dijanjikan Allah sejak awal. Oleh karena pengorbanan Kristus, orang percaya dapat menerima tawaran istirahat Allah, tanpa mempedulikan siapa mereka atau di mana mereka tinggal. "Jadi, masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah, sebab siapa saja yang telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan yang sama." (Ibrani 4:9-11)

Ayat-ayat ini menyampaikan makna yang lebih dalam tentang istirahat melalui konsep "sabat" ini. Istirahat jauh melebihi sekadar menguatkan diri lagi setelah minggu yang sibuk dan melelahkan. Istirahat adalah penguatan dari relasi khusus yang dimiliki manusia dengan Allah. Istirahat adalah hak istimewa yang diberikan dengan murah hati oleh Allah yang rindu ciptaan-Nya bergembira dalam kesegaran yang Dia nikmati. Hari Sabat itu kudus karena hari itu milik Allah dan Dia memilih untuk membagikannya dengan murah hati untuk dinikmati bersama ciptaan-Nya. Dialah Allah yang murah hati yang bergembira dalam kegembiraan umat-Nya. Istirahat menunjukkan karakter Allah yang kudus yang senang pada ciptaan-Nya (Amsal 8:30-31) dan rindu bersekutu dengannya. Istirahat adalah wujud nyata kerinduan Allah yang murah hati untuk berada dalam relasi yang intim dan penuh kegembiraan dengan manusia dan ciptaan.

Singkatnya, Allah menguduskan hari ketujuh dalam penciptaan untuk memisahkan atau mengkhususkannya dari hari-hari lainnya sebagai hari istirahat. Allah tidak membutuhkan istirahat, namun Dia mendapati istirahat itu menyegarkan. Allah beristirahat agar umat-Nya dapat mengambil bagian dalam kesegaran-Nya. Lagipula, istirahat-Nya dari bekerja mendukung pengembangan relasi-Nya dengan umat-Nya. Manusia bergembira dalam ciptaan Allah yang "sangat baik", yang di atasnya pekerjaan manusia dimaksudkan untuk dibangun.

Di kedua pasal pertama kitab Kejadian, Allah bekerja dan juga beristirahat. Allah juga menciptakan manusia untuk menjadi serupa dengan Dia: “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, atas ternak dan seluruh bumi, serta atas segala binatang yang melata di bumi’.” (Kejadian 1:26). Allah menciptakan manusia dengan suatu tugas di pikiran-Nya: tanggung jawab atas ciptaan. Fakta bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah serta besarnya tugas yang Dia percayakan kepada mereka membuktikan bahwa Allah mau umat-Nya menjadi pekerja. Demikian pula, Dia mau umat-Nya menjadi orang yang beristirahat, mengikuti teladan yang Dia berikan pada hari ketujuh penciptaan (Kejadian 2:2). Undangan ganda Allah untuk bekerja dan beristirahat ini menjadi validasi atas ikatan khusus antara Allah, manusia, dan ciptaan.

Diperintahkan untuk Beristirahat: Dampak Kejatuhan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jika istirahat merupakan sumber kesegaran dan sarana peningkatan relasi dengan Allah dan sesama, mengapa banyak orang tidak melakukannya? Jawabannya dimulai dengan Kejatuhan manusia.

Lalu firman-Nya kepada Adam, “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan makan buah dari pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan darinya, maka terkutuklah tanah karena engkau. Dengan susah payah engkau mencari makan dari tanah itu seumur hidupmu. Semak duri dan rumput duri akan ditumbuhkannya bagimu, dan tanaman ladang akan menjadi makananmu. Dengan cucuran keringat engkau akan mencari makan, sampai engkau kembali menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:17-19).

Ketidaktaatan Adam dan Hawa menghancurkan persekutuan intim yang dimaksudkan untuk mereka nikmati bersama Allah, dan membuat mereka menjadi terasing dari Pencipta mereka. Dampak pemberontakan manusia merusak semua aspek ciptaan, termasuk kerja dan istirahat. Bekerja pada mulanya dimaksudkan untuk menjadi kemitraan dengan Allah yang memuliakan, tetapi akibat dosa manusia, Allah mengutuk tanah, dan bekerja pun menjadi sulit dan menyakitkan. Istirahat juga dimaksudkan untuk menjadi peneguhan persekutuan intim manusia dengan Allah yang memuliakan, tetapi akibat jurang pemisah yang diciptakan dosa antara Allah dan manusia, istirahat menjadi sangat melenceng. Setelah kejatuhan, istirahat menjadi penawar yang dibutuhkan atas kerasnya kerja, tetapi istirahat sulit didapat karena relasi yang sempurna antara manusia dengan Allah sudah rusak.

Perlu dijelaskan di sini bahwa pekerjaan itu sendiri bukanlah kutukan; tanahlah yang dikutuk, yang menimbulkan penderitaan, frustrasi, dan kesulitan lebih besar dalam kaitannya dengan pekerjaan. Bekerja masih tetap mulia dan mendatangkan sukacita, tetapi akibat dosa, bekerja juga jadi dikelilingi berbagai tantangan dan kesulitan. Kejatuhan membuat bekerja jadi melelahkan, dan makna istirahat yang lebih dalam yang ditetapkan dalam penciptaan dikacaukan oleh kebutuhan fisik manusia untuk beristirahat. Di dunia yang sudah rusak, orang beristirahat semata-mata untuk bisa tetap hidup, untuk mengisi ulang daya untuk bekerja yang semakin melelahkan.

Meskipun kehancuran telah merasuki dunia akibat dosa manusia, Allah mau memulihkan irama kerja dan istirahat yang kudus bagi umat-Nya. Dan Dia melakukannya pertama-tama dengan memberikan perintah-perintah spesifik kepada orang Israel tentang bekerja dan beristirahat. Setelah itu Allah memperluas jangkauan dan kemungkinan dalam beristirahat maupun bekerja melalui kehidupan dan pengorbanan Yesus.

Allah menetapkan panduan pemulihan dalam hukum Perjanjian Lama. Hukum yang paling terkenal adalah Sepuluh Perintah Allah yang diberikan kepada Musa di Gunung Sinai setelah bangsa Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir. Di antara Sepuluh Perintah itu, Allah memasukkan perintah untuk beristirahat:

Ingat dan kuduskanlah hari Sabat. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu. Tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat bagi Tuhan, Allahmu. Janganlah melakukan pekerjaan apa pun, engkau, anakmu laki-laki atau perempuan, hambamu laki-laki atau perempuan, hewanmu, atau pun pendatang di dalam kotamu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh. Itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya (Keluaran 20:8-11).

Allah memerintahkan bangsa Israel menghormati hari Sabat dan menguduskannya dengan beristirahat dari pekerjaan yang dilakukan selama enam hari lainnya. Istirahat ini meliputi seisi rumah, para pelayan dan hewan ternak agar semuanya dapat “melepas lelah” (Keluaran 23:12). Allah mengakhiri perintah ini dengan mengingatkan bahwa Dia juga beristirahat pada hari ketujuh setelah enam hari penciptaan, seakan hendak mengatakan bahwa mengikuti irama kerja dan istirahat yang diperintahkan akan memulihkan sebagian keharmonisan utopis yang hilang dari manusia setelah Kejatuhan.

Karena kehidupan di Taman Eden menjadi sangat sulit untuk kerja manusia, Allah juga menetapkan siklus-siklus istirahat lain dalam tahun kalender orang Israel. Ada hari-hari raya dan perayaan musiman yang diberikan Allah di Imamat 23, seperti hari Paskah, hari raya panen, hari pendamaian dan hari istirahat satu minggu sebelumnya (yang sekarang dikenal sebagai Yom Kippur dan Rosh Hashanah), dan juga hari raya Pondok Daun (yang saat ini dikenal sebagai Sukot). Untuk setiap perayaan ini, Allah memerintahkan orang Israel untuk berhenti dari pekerjaan rutin mereka dan beristirahat. Allah juga memerintahkan orang Israel untuk melakukan hal-hal tertentu pada setiap hari raya itu, yang bisa membantu membuat mereka berelasi lebih baik dengan Allah. Berikut adalah salah satu contoh perintah untuk beristirahat dan melakukan ritual semacam itu (dalam hal ini tentang hari raya Rosh Hashanah):

TUHAN berfirman kepada Musa: "Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Pada bulan ketujuh, tanggal satu bulan itu, kamu harus mengadakan hari perhentian penuh yang diperingati dengan meniup serunai, suatu pertemuan kudus. Janganlah kamu melakukan pekerjaan berat apa pun dan kamu harus mempersembahkan kurban oleh api bagi TUHAN." (Imamat 23:23-25)

Pada hari raya ini, Allah memerintahkan bangsa itu untuk berhenti dari pekerjaan rutin mereka, dan melakukan tindakan yang mengingatkan mereka bahwa Allah adalah pemelihara tertinggi dalam kerja maupun istirahat mereka. Dalam perayaan yang khusus ini, orang Israel diperintahkan untuk meniup terompet dan memberikan kembali sebagian dari penghasilan mereka kepada Allah dalam bentuk persembahan.

Pola istirahat tahunan juga relevan dari perspektif bisnis modern. Hakim Louis Brandeis, yang menjabat di Mahkamah Agung AS dari tahun 1916 sampai 1939, pernah mengambil liburan singkat tepat sebelum dimulainya sebuah persidangan penting. Ia menerima kritik atas keputusannya ini, tetapi Brandeis menyampaikan pembelaan yang meyakinkan: “Saya perlu beristirahat. Saya mendapati saya dapat melakukan pekerjaan setahun dalam waktu sebelas bulan, tetapi saya tidak dapat melakukannya dalam waktu dua belas bulan.” [1] Banyak orang berpikir pekerjaan mereka terlalu menyeluruh sampai tidak memungkinkan mereka untuk beristirahat sepanjang tahun, tetapi jika seorang hakim top Amerika saja dapat melakukannya, orang lain pun dapat melakukannya juga.

Allah juga memerintahkan orang Israel untuk mematuhi pola istirahat yang panjang setiap tujuh tahun sekali (Keluaran 23, Imamat 25:1-7) dan empat puluh sembilan tahun sekali (Imamat 25:8-55). Karena tanah terkutuk sebagai akibat Kejatuhan, periode istirahat yang panjang ini juga memberi kesempatan untuk tanah mengalami pemulihan.

Di Perjanjian Lama, siklus istirahat mingguan, tahunan, tujuh tahunan, dan empat puluh sembilan tahunan ini memiliki dua fungsi. Yang pertama untuk memberikan istirahat fisik kepada manusia maupun tanah dari kesulitan dan kekecewaan kerja. Yang kedua agar pola istirahat yang teratur ini mengundang manusia untuk bersekutu dengan Allah dalam penyembahan, dan memenuhi kebutuhan yang lebih besar dari sekadar kebutuhan tubuh secara fisik. Umat Allah tidak hanya membutuhkan istirahat fisik/jasmani, tetapi juga istirahat rohani yang mendalam—istirahat dari ketidakstabilan, kecemasan, dan rasa tidak aman yang disebabkan oleh ancaman serangan musuh. Allah menetapkan siklus-siklus istirahat ini agar umat-Nya dapat menyediakan waktu untuk menyembah Dia dan menemukan kembali kasih dan kesetiaan perjanjian-Nya kepada mereka. Selama waktu-waktu penyembahan ini, orang Israel diingatkan bahwa Allah sendirilah tempat peristirahatan/kelegaan mereka: "Aku sendiri akan berjalan besertamu, dan memberi ketenteraman kepadamu" (Keluaran 33:14). Ketika orang Israel datang pada Allah dengan percaya dan ketaatan, janji peristirahatan ini terealisasi dalam bentuk perlindungan dan berkat Ilahi. Orang Israel lalu mendapat kemenangan atas musuh-musuhnya dalam peperangan dan dapat memiliki Tanah Perjanjian:

TUHAN mengaruniakan kepada mereka ketenteraman di segala penjuru, tepat seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang mereka. Tidak satu pun musuh mereka tahan menghadapi mereka. Semua musuh mereka diserahkan TUHAN ke dalam tangan mereka. Segala janji yang indah yang difirmankan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang gugur. Semuanya terpenuhi. (Yosua 21:44-45).

Di sepanjang Alkitab ada banyak contoh tentang istirahat/kelegaan yang disediakan Allah bagi umat-Nya, istirahat yang bukan sekadar istirahat fisik. Allah memberikan istirahat dari perang (Yosua 11:23, Yosua 14:15; 1 Raja-raja 5:4; 1 Tawarikh 22:9; Mazmur 46:9-10; Amsal 1:33; Yesaya 14:3), dari konflik sosial (2 Korintus 13:11, Pengkhotbah 10:4; 1 Korintus 1:10; 1 Tesalonika 4:11; Ibrani 12:14; Yakobus 3:17-18; 1 Petrus 3:8), dari ketakutan (Markus 4:37-38; Matius 8:24-25; Lukas 8:23-24; Kejadian 32:11; Mazmur 127:2; Mikha 4:4; Matius 6:31; Lukas 12:29), dan dari kekhawatiran (1 Petrus 5:7; Matius 6:25; Filipi 4:6). Penyertaan-Nya memberi rasa aman (Ulangan 33:12; Amsal 19:23) dan damai di tengah kematian (Ulangan 31:16; Ayub 3:13-17; Wahyu 14:13).

Istirahat yang lebih dalam ini dapat digambarkan sebagai istirahat rohani—istirahat yang didapat dalam persekutuan perjanjian dengan Allah. Sarjana Yahudi Abraham Heschel menggambarkan istirahat yang mendalam ini sebagai menuha. Menurut Heschel, “menuha terjadi pada hari Sabat dan dapat digambarkan sebagai keteduhan, ketenteraman, kedamaian, dan ketenangan. Menuha adalah keadaan di mana tidak ada pertikaian dan perkelahian, tidak ada rasa takut dan rasa tidak percaya.”[2]

Heschel dengan indah mengungkapkan apa yang hilang pada manusia akibat Kejatuhan. Selain aspek-aspek istirahat secara fisik, ada kebutuhan spiritual yang lebih dalam pada semua manusia—kerinduan akan menuha atau jaminan bahwa semuanya baik-baik saja. Yang menjadi masalahnya adalah, untuk mengalami istirahat rohani yang lebih dalam ini, banyak orang mencarinya pada hal-hal yang salah, yang mengakibatkan kegelisahan yang makin meningkat.

Inilah situasi yang melanda banyak orang saat ini. Mereka mungkin tidak menyadari perlunya istirahat jamani maupun istirahat rohani. Istirahat jasmani tanpa istirahat rohani tidak memuaskan; dan istirahat rohani tanpa istirahat jasmani tidak memulihkan. Menghormati hari Sabat bukan berarti melakukan hal-hal dangkal yang menumpulkan kepekaan jiwa, atau bersekutu dengan Allah dengan kekakuan yang gersang. Menguduskan hari Sabat berarti menyadari kehancuran dunia akibat Kejatuhan dan mencari Allah untuk memperbaiki tubuh-tubuh yang rusak maupun harapan-harapan yang salah.

Mengapa Orang Tidak Dapat Beristirahat – Sifat Dasar Manusia Terungkap dalam Kitab Suci Ibrani

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Narasi Alkitab tentang kerja dan istirahat adalah narasi yang kaya dan agak pelik. Kerja dimaksudkan sebagai kemitraan dengan Allah yang memuliakan, dan istirahat dimaksudkan sebagai undangan untuk menikmati persekutuan yang intim dengan-Nya. Kejatuhan membuat kerja menjadi sulit dan menimbulkan kebutuhan mendalam untuk manusia mengalami istirahat jasmani maupun istirahat rohani. Namun, banyak orang sering merasa sulit untuk beristirahat. Ayat-ayat Kitab Suci berikut ini mengungkapkan alasannya.

Pada hari ketujuh ada dari bangsa itu yang keluar untuk memungut [manna], dan mereka tidak menemukannya. Sebab itu TUHAN berfirman kepada Musa, “Berapa lama lagi kamu menolak untuk mengikuti segala perintah-Ku dan hukum-Ku? Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan sabat itu kepadamu, itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan roti untuk dua hari kepadamu. Tinggallah di tempatmu masing-masing;seorang pun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu.” Lalu beristirahatlah bangsa itu pada hari ketujuh (Keluaran 16:27-30).

Perikop ini muncul segera sesudah Allah secara dramatis menyelamatkan orang Israel dari Mesir. Melalui pertunjukan kuasa dan keperkasaan-Nya yang dahsyat, Allah menyatakan kesetiaan-Nya kepada Israel dan melepaskan mereka dari belenggu perbudakan. Ketika mereka dalam perjalanan menuju Tanah Perjanjian, Allah terus-menerus menyediakan segala kebutuhan mereka, termasuk makanan dalam bentuk manna yang tidak biasa ini. Allah secara spesifik memerintahkan mereka untuk mengambil cukup manna setiap hari, yang tidak lebih dari kebutuhan untuk sehari, kecuali pada hari keenam saat mereka diperintahkan untuk mengambil cukup manna untuk dua hari, agar mereka dapat berhenti bekerja pada hari Sabat (Keluaran 16:4-5).

Perintah Allah itu jelas. Ambillah cukup makanan untuk setiap hari—tidak lebih, tidak kurang—dan Allah akan setia untuk menyediakan setiap hari. Setelah mengalami peristiwa keluaran dari Mesir yang dramatis dan ajaib, mestinya tidak ada alasan yang logis bagi orang Israel untuk tidak percaya bahwa Allah akan memenuhi kebutuhan mereka. Tetapi nyatanya, masih ada saja beberapa orang di Israel yang keluar pada hari ketujuh untuk memungut manna. Apakah mereka benar-benar lupa kalau hari itu hari Sabat? Tidak, tujuan eksplisit perintah Allah adalah untuk menguji apakah orang Israel percaya dan taat: “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Sesungguhnya, Aku akan menurunkan hujan roti dari langit bagimu. Bangsa itu akan keluar dan memungut secukupnya untuk sehari, supaya mereka Kuuji, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak’.” (Keluaran 16:4). Allah tahu masalah lebih mendalam yang ada di hati umat-Nya—mereka tidak beristirahat pada hari Sabat karena hati mereka tidak percaya akan penyediaan Allah. Demikian pula, orang masa kini yang tidak percaya pada Allah tidak akan dapat mempersilakan Dia memulihkan relasi dengan-Nya dan orang lain yang hancur akibat Kejatuhan.

Jika ketidakpercayaan adalah salah satu alasan manusia untuk bekerja berlebihan, ketidakpuasan merupakan alasan yang lainnya. Penulis kitab Pengkhotbah mengamati bahwa sebagian orang bekerja tidak henti-hentinya karena pekerjaan, hasil jerih payah mereka, atau pun kesenangannya tidak memberi kepuasan kepada mereka.

Aku melihat lagi kesia-siaan di bawah matahari:ada seorang sendirian, ia tidak mempunyai anak laki-laki atau saudara laki-laki, dan tidak henti-hentinya ia berlelah-lelah, matanyapun tidak puas dengan kekayaan; -- untuk siapa aku berlelah-lelah dan menolak kesenangan? -- Inipun kesia-siaan dan hal yang menyusahkan. (Pengkotbah 4:7-9).

Banyak orang akhirnya terjebak dalam “kesibukan kerja yang tidak membahagiakan” untuk mengurangi ketidakpuasan dalam hidup mereka, kehilangan relasi dengan Allah dan sesama, takut tidak mendapatkan hal-hal yang mereka perlukan, dan tidak mampu menemukan kesenangan dalam apa pun. Padahal kerja berlebihan hanya membuat mereka semakin gelisah dan tidak bahagia.

Karena menolak beristirahat pada hari Sabat menghalangi rencana Allah untuk memulihkan dunia dari efek-efek Kejatuhan, pelanggaran ini menjadi hal yang sangat serius di Perjanjian Lama.

“Pada masa itu aku melihat di Yehuda orang-orang yang mengirik anggur pada hari Sabat, dan orang-orang yang membawa berkas-berkas gandum, memuatinya di atas keledai, juga anggur, buah anggur dan buah ara dan berbagai muatan yang dibawa ke Yerusalem pada hari Sabat. Aku memperingatkan mereka ketika mereka menjual bahan-bahan makanan. Orang Tirus yang tinggal di situ membawa ikan dan berbagai barang dagangan dan menjual itu kepada orang-orang Yehuda pada hari Sabat di Yerusalem. Lalu aku menegur para pemuka Yehuda, kataku kepada mereka: "Kejahatan apa yang kamu lakukan ini dengan melanggar kekudusan hari Sabat? Bukankah nenek moyangmu telah berbuat demikian, sehingga Allah kita mendatangkan seluruh malapetaka ini atas kita dan atas kota ini? Kamu memperbesar murka atas Israel dengan melanggar kekudusan hari Sabat. (Nehemia 13:15-18, penekanan ditambahkan)

Ketika Allah memberikan Sabat kepada orang Israel, Dia memberikan mereka sedikit tentang Taman Eden. Jadi ketika umat Allah menolak Sabat, hal itu “memperbesar murka atas Israel” dengan membuat mereka mengalami efek-efek Kejatuhan untuk kedua kalinya.

Perintah untuk beristirahat dan tantangan-tantangan dalam mematuhinya bukan hanya terjadi pada bangsa Israel. Pergumulan ini juga nyata di zaman modern. Istirahat masih tetap penting seperti sebelumnya, masih tetap menjadi pola yang ditetapkan Allah bagi manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya. Alasan orang tidak dapat beristirahat pada masa kini juga sama. Entah mereka tidak dapat beristirahat karena masih diperbudak oleh kekuatan eksternal seperti orang Israel waktu berada di tanah Mesir, atau seperti orang Israel saat berada di padang gurun, mereka memilih tidak beristirahat karena mereka tidak memercayai Allah. Kristus sudah memungkinkan orang percaya untuk beristirahat, tetapi istirahat masih jauh dari kepenuhannya.

Seperti orang Israel yang diperbudak, banyak umat Allah saat ini yang kekurangan kebutuhan dasar, bahkan makanan dan air minum untuk bertahan hidup. Dunia sudah sedemikian dirusak oleh dosa sampai janji pemeliharaan Allah tidak selalu terpenuhi dalam hidup ini. Dan tidak akan menjadi kabar baik jika orang-orang dalam situasi-situasi mengerikan itu ditambahi beban perintah untuk mengambil cuti dari pekerjaan ketika istirahat semacam itu tak mungkin dilakukan. Sabat dimaksudkan untuk menjadi pembebasan bagi manusia, bukan beban tambahan. Yesus melakukan pekerjaan yang meringankan beban orang yang kesusahan pada hari Sabat dan mengajarkan bahwa "hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat" (Markus 2:27). Kristus memberi kita kebebasan untuk beristirahat, bukan tugas yang mustahil untuk dipenuhi.

Allah akhirnya membawa orang Israel keluar dari perbudakan dan masuk ke Tanah Perjanjian. Yesus juga menunjukkan belas kasihan yang besar kepada orang yang dalam kesusahan, menyembuhkan pada hari Sabat dan menjelaskan bahwa, "Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lubang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? Bukankah manusia jauh lebih berharga daripada domba? Karena itu, boleh berbuat baik pada hari Sabat.” (Matius 12:11-12). Jadi, bagi orang-orang yang saat ini sedang diperbudak baik dalam arti sebenarnya maupun oleh kebutuhan ekonomi, tidak ada aturan yang membolehkan siapa pun untuk menghakimi mereka atas kebiasaan Sabat mereka. Semua orang Kristen semestinya bermitra dengan Allah dalam pekerjaan-Nya yang masih terus berlanjut dalam membebaskan yang tertindas.

Sebagian orang lainnya melakukan bentuk pemberontakan seperti yang diadopsi orang Israel di padang gurun Sinai. Alih-alih percaya bahwa Allah akan menyediakan kebutuhan mereka setiap hari, orang-orang ini mencoba mengusahakan sendiri yang mereka pikir mereka butuhkan. Banyak orang lebih suka mengandalkan usaha mereka sendiri daripada memercayai Allah yang berjanji menyediakan semua yang dibutuhkan umat-Nya meskipun tanpa terlihat. Masalah lebih dalam yang membuat orang tidak dapat beristirahat adalah ketidakpercayaan pada Allah ini, meskipun Dia telah menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya. Menolak untuk memercayai Allah inilah yang menyebabkan orang kehilangan istirahat yang sangat mereka butuhkan.

Mengapa istirahat begitu sulit? Sebagian orang berkata: "Aku merasa bersalah jika aku tidak bekerja", "Aku takut orang lain akan lebih maju", "Aku akan kehilangan pekerjaan jika aku tidak terus bekerja", "Rekan-rekan kerjaku akan menghakimiku", "Aku tidak akan dipromosikan", "Perusahaanku akan bangkrut jika aku tidak bekerja", "Orang akan menganggap aku malas" atau "Agar aku tidak merasa khawatir." Beberapa bahkan akan berkata, "Aku menyukai yang kulakukan dan menikmati pekerjaan itu." Daftar ini bisa terus diperpanjang, dan banyak dari alasan-alasan ini tidak selalu buruk. Tak ada yang salah dengan keinginan bekerja keras untuk mencukupi keluarga atau mempertahankan pekerjaan, seperti juga tak ada yang salah dengan bekerja keras untuk meraih kesuksesan atau karena hal itu memberi kepuasan batin. Allah juga memaksudkan pekerjaan untuk semua tujuan ini. Masalahnya muncul ketika yang mendasari keinginan-keinginan yang baik ini adalah hasrat untuk menjadi “Allah” dan bukannya memercayai Allah yang sesungguhnya.

Ketika orang masa kini punya waktu untuk beristirahat tetapi menolak untuk menaati perintah Allah, mereka sedang bertindak persis seperti yang dilakukan orang Israel di padang gurun. Mereka tidak percaya bahwa Allah akan menyediakan yang mereka butuhkan. Mereka lebih percaya pada usaha mencukupi diri sendiri mereka, yang tanpa disengaja telah mencoba mengambil alih peran Allah. Dalam usaha-usaha yang bodoh dan sia-sia untuk menjadi “Allah” ini , mereka kehilangan anugerah yang dijanjikan Allah. Sebagaimana dikatakan Agustinus, hati manusia akan terus gelisah sampai mereka menemukan tempat peristirahatan di dalam Allah.[1]

Di sisi lain, orang bisa menjadikan pekerjaan sebagai “allah” dengan berusaha mendapatkan semua kepuasan mereka dari bekerja/pekerjaan daripada di dalam Allah. Di balik yang tampak di permukaan sebagai keputusan yang tidak berbahaya dalam bekerja sebenarnya ada penolakan terhadap Allah, anugerah-Nya, dan ungkapan karakter murah hati-Nya.

Bagaimanapun kecenderungan individu atau keadaan ekonominya, setiap orang harus bertanya pada dirinya sendiri apakah pola kerja dan istirahat saat ini benar-benar mencerminkan kemurahan hati dan pemeliharaan Allah. Mengingat anugerah Allah yang telah diterima sampai saat ini, seringkali tak masuk akal jika orang masih bekerja begitu banyak dan beristirahat begitu sedikit. Memang, ucapan selamat kepada diri sendiri yang dicari banyak orang mungkin bukan yang akan diberikan Allah lebih banyak. Pada saat setiap orang harus memutuskan apakah akan bekerja atau beristirahat, mungkin ada baiknya untuk bertanya, "Apakah bekerja sekarang dan bukan beristirahat benar-benar merupakan cara menerima kebaikan yang telah disediakan Allah bagi saya dan orang lain? Apakah pekerjaan saya bisa membuat saya mendapatkan apa saja yang tidak akan diberikan Allah jika saya beristirahat?" Jelas akan ada kasus-kasus ketika jawabannya "ya," sama seperti ketika ada hewan yang jatuh ke lubang dan melakukan tindakan segera adalah satu-satunya cara untuk mendatangkan hasil yang baik (Matius 12:11-12). Namun bagi banyak orang, ketika dicobai untuk menganggap tidak ada pilihan lain kecuali bekerja dengan mengorbankan istirahat, jawabannya adalah "tidak."

Bagaimana Istirahat Dipulihkan – Sabat & Penebusan Yesus di Perjanjian Baru

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Apa yang dapat membebaskan orang dari siklus berpusat pada diri sendiri yang merusak ini agar mereka dapat mengalami istirahat yang mereka butuhkan? Sebesar apa pun keinginan banyak orang untuk menjadikan istirahat sebagai disiplin yang ketat, mereka tidak bisa hanya sekadar menjadwalkan waktu-waktu istirahat yang teratur dalam kalender mereka dan berharap mengalami istirahat menuha yang mendalam seperti yang dijelaskan Heschel. Masalah yang lebih dalam tentang istirahat bukanlah masalah penjadwalan, tetapi masalah percaya kepada Allah. Entah bagaimana, hati manusia perlu diubahkan.

Di Perjanjian Baru, ada dua ayat yang menjelaskan tentang bagaimana Allah memulihkan istirahat. Di ayat yang pertama, Yesus membuat pernyataan yang tegas dan kontroversial bahwa Dia akan memberi istirahat/kelegaan kepada manusia.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:28-30).

Pernyataan ini membangkitkan kemarahan sebagian orang Israel karena hanya Allah yang dapat memberikan istirahat/kelegaan semacam itu, seperti yang tertulis di Keluaran 33:14: “Aku sendiri akan berjalan di depanmu dan memberi ketenteraman kepadamu.” Yesus memang bermaksud mengidentifikasi diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang benar yang dapat memberikan kelegaan semacam itu yang dijanjikan kepada bangsa Israel. Tetapi bagaimana caranya Yesus memberikan istirahat/kelegaan ini?

Di pasal kedua Injil Matius, Yesus membuat pernyataan menghebohkan lain dengan berkata bahwa Dia lebih besar dari hari Sabat karena Dia adalah “Tuhan atas hari Sabat” (Matius 12:8).

Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Sekiranya kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Sebab Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat" (Matius 12:6-8)

Yesus membuat pernyataan dramatis bahwa Dia akan memberikan istirahat yang lebih besar dari yang dapat diberikan hukum Sabat. Bagaimana Yesus memberikan istirahat yang lebih mendalam dari hukum Sabat ini? Kitab Roma memberikan penjelasannya.

Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tidak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sama seperti manusia yang berdosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. (Roma 8:3-4).

Hukum Sabat sendiri tidak mampu mengatasi masalah yang lebih dalam pada diri manusia. Perintah Keempat mengajarkan bahwa manusia harus beristirahat, tetapi perintah itu tidak dapat memampukan mereka untuk beristirahat karena perintah itu sendiri tidak mampu mengubah hati. Ketidakmampuan beristirahat yang umum ini justru menyingkapkan masalah yang jauh lebih dalam. Manusia ingin mandiri/mencukupi diri sendiri tanpa Allah, padahal usaha yang diperlukan untuk melakukan hal itu membuat manusia kelelahan dan kosong. Di sinilah kabar baik Injil berperan. Menurut kitab Roma (lihat ayat di bawah), Allah tahu bahwa hukum itu tidak dapat mengubah hati. Yesus menyebut diri-Nya sebagai Tuhan atas hari Sabat karena Dia memang dapat melakukan hal yang tidak pernah dapat dilakukan oleh hukum Sabat. Allah ingin bersekutu dengan umat-Nya melalui istirahat, tetapi manusia tidak dapat bersekutu dengan Allah jika mereka takut pada hukuman-Nya. Yesus membebaskan manusia dari hukuman itu dengan mengampuni segala dosa melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Dengan melakukan hal itu, Yesus memberikan orang Kristen akses baru kepada Allah yang tidak dapat diperoleh atau dicapai dengan usaha manusia sendiri. Karena tidak lagi tepisah dari Allah akibat dosa, manusia kini dapat memasuki persekutuan dengan Allah yang benar-benar melegakan.

Sesungguhnya, pemeriksaan iman Kristen, sebagaimana dijelaskan dalam surat-surat kepada gereja mula-mula, sejalan dengan yang telah dilakukan Kristus bagi manusia dalam hal istirahat.

Pertama-tama, di dalam Kristus orang-orang percaya diselamatkan dari kutuk hukum Taurat.

Oleh sebab itu, sekarang sama sekali tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Sebab hukum Roh yang memberi hidup telah memerdekakan engkau dalam Kristus Yesus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tidak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sama seperti manusia yang berdosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh (Roma 8:1-4)

Karena manusia tidak perlu takut lagi pada Allah, orang percaya tidak perlu lagi merasa terpaksa harus bekerja terus-menerus dalam usaha yang sia-sia untuk menyenangkan Allah.

Dengan memberikan pengampunan, Kristus merekonsiliasi relasi setiap orang dengan Allah. Dengan demikian, Yesus memulihkan kemungkinan setiap orang untuk dapat mengalami persekutuan dengan Allah yang penuh kasih.

Sebab aku yakin bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, atau pun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:38-39)

Menurut ayat ini, semua orang seharusnya dapat mengalami relasi yang penuh kelegaan dengan Allah, meskipun di tengah berbagai tantangan dunia-nyata.

Selain itu, melalui pengorbanan Kristus relasi orangtua-anak antara Allah dan umat-Nya dipulihkan.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu sendiri bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Roma 8:15-17)

Kristus mengembalikan semua hak istimewa dan berkat sebagai anak Allah yang pernah diberikan Allah kepada manusia di taman Eden. Diadopsi sebagai anak Allah, manusia kini memiliki hak untuk meminta yang mereka butuhkan dan Allah berjanji tidak akan menahan segala hal yang baik dari mereka (Roma 8:32, 2 Korintus 9:8). Selain itu, individu-individu mendapat kehormatan untuk bermitra dengan Allah dalam pekerjaan yang Dia rancangkan akan Dia lakukan di dunia.

Diadopsi sebagai anak Allah tidak berarti orang Kristen tidak mungkin mengalami penderitaan hidup. Tetapi, penderitaan dapat dipandang sebagai bagian dari menjalankan bisnis keluarga. Orang kadang mendapat kesempatan untuk menderita bersama Allah dengan cara yang sama seperti Yesus menyertai semua orang yang menderita. Entah orang percaya merasa sangat tercukupi atau sangat kekurangan, pengorbanan Yesus berarti mereka tak perlu lagi mengandalkan pekerjaan mereka sendiri sebagai sumber utama rasa aman dan identitas mereka.

Demikian pula, ketika orang-orang bermitra dengan Allah dalam pekerjaan-Nya mengembalikan dunia kepada rancangan-Nya yang semula, Roh Kudus memampukan mereka untuk memperdalam relasi mereka dengan orang lain. Hanya oleh pengorbanan Yesus, manusia dapat menerima karunia Roh Kudus (Yohanes 16:7-7). Dan berkat karunia Roh Kudus, para pengikut Yesus dimampukan untuk memberikan waktu dan harta mereka dengan penuh pengorbanan kepada orang lain (Kisah Para Rasul 4:34). Allah memberikan Roh-Nya kepada para pengikut-Nya untuk memampukan mereka hidup oleh iman, bekerja dengan iman, dan akhirnya beristirahat dalam iman.

Pencerahan terakhir tentang topik ini di Perjanjian Baru adalah bahwa Kristus akan datang kembali pada suatu hari untuk memulihkan sepenuhnya rancangan Allah dalam bekerja maupun beristirahat. Di dunia yang telah jatuh yang masih berlanjut hingga saat ini, manusia akan selalu mengalami pola-pola kekecewaan, kelelahan, dan pemulihan sebagian. Namun, ketika kelak Kristus datang kembali untuk menjadikan dunia sebagaimana yang selalu dimaksudkan Allah, Dia akan menegakkan kembali pola yang terpadu antara bekerja yang bertujuan dalam kemitraan dengan Allah dan beristirahat dalam persekutuan yang sempurna dengan Dia. Ayat-ayat dari Kitab Wahyu berikut ini menyingkapkan kedua tema bekerja dan beristirahat itu.

Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah." Aku pun sujud di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: "Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudara seimanmu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah!" (Wahyu 19:9-10)

Kehidupan dalam ciptaan baru akan meliputi bekerja (dalam pelayanan bersama dengan para malaikat) dan beristirahat (menikmati perjamuan kawin Anak Domba). Kerja dan istirahat manusia di masa yang akan datang itu akan terjadi dalam kemitraan yang sempurna dengan Allah. Orang percaya dapat menantikan hal ini dengan penuh pengharapan, sementara setiap orang berusaha mengalami kedekatan dengan Allah dalam kerja dan istirahat mereka saat ini (Ibrani 4:1).

Apakah Orang Kristen Diharapkan Menaati Sabat Mingguan?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pengorbanan Kristus membuka kesempatan bagi orang Kristen untuk bisa dengan leluasa memasuki istirahat Allah. Karena itu, pertanyaan apakah orang Kristen perlu mematuhi hari istirahat mingguan yang di Perjanjian Lama disebut hari Sabat, tetap menjadi pertanyaan terbuka. Alkitab Perjanjian Baru tampaknya memberi kebebasan kepada orang Kristen untuk memilih sendiri jawaban pertanyaan ini.

Yang seorang menganggap hari tertentu lebih penting daripada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang pada suatu hari tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Siapa yang makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. (Roma 14:5-6).

Sebagian orang Kristen menafsirkan ayat ini sebagai pembenaran untuk tidak merayakan hari Sabat secara formal, meskipun kitab Roma dengan jelas menyatakan bahwa orang yang memilih mematuhi hari Sabat tidak boleh dihakimi karena hal itu. Entah orang percaya menetapkan hari tertentu untuk beristirahat Sabat, atau hanya beristirahat sesuai pimpinan Roh, ayat dari kitab Roma ini menunjukkan bahwa kedua kebiasaan itu harus sama-sama dijalani dengan ucapan syukur kepada Allah.

Meskipun orang bebas memilih kapan dan bagaimana beristirahat, ada argumen-argumen yang kuat tentang menaati istirahat Sabat mingguan maupun beribadah bersama orang Kristen lain pada hari yang biasa ditentukan dalam minggu itu (entah hari itu terasa memberi kelegaan bagi seseorang atau tidak). Pertemuan mingguan yang meliputi ibadah telah dilakukan secara luas di sepanjang sejarah gereja.

Murid-murid Yesus tentu saja pergi ke bait suci pada hari Sabat Yahudi, yang kalau pun tidak ada alasan yang lain, setidaknya untuk meyakinkan orang lain bahwa Yesus adalah Mesias.

Paulus dan Silas mengambil jalan melalui Amfipolis dan Apolonia dan tiba di Tesalonika. Di situ ada sebuah rumah ibadat orang Yahudi. Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci. Ia menerangkan dan menunjukkan kepada mereka bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, lalu ia berkata: "Inilah Mesias, yaitu Yesus, yang kuberitakan kepadamu." Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka. (Kisah Para Rasul 17:1-4)

Paulus biasa menghadiri pertemuan Sabat di kota mana pun yang dikunjunginya dan memakai kesempatan itu untuk memberitakan Kabar Baik tentang Yesus. Tindakan ini tidak tampak sebagai hal yang benar-benar memberi kelegaan baginya (bahkan seringkali perkataannya disambut dengan kerusuhan massa yang beringas), dan kemungkinan istirahat bukan alasan utamanya melakukan hal itu.

Yesus sendiri dalam kehidupan-Nya menunjukkan dua kebiasaan Sabat yang berbeda. Yesus melakukan istirahat rohani secara pribadi maupun dalam pengalaman ibadah bersama. Yesus mengambil waktu sendirian untuk beristirahat di hadirat Allah (Matius 14:13). Di waktu lain, Dia memakai ibadah Sabat orang Yahudi untuk menjangkau orang lain dengan berita keselamatan-Nya (Lukas 4:16-21). Karena beristirahat secara pribadi maupun beribadah bersama sama-sama penting dalam kehidupan Yesus, orang Kristen masa kini juga bisa membuat pilihan serupa itu dengan kebebasan yang diberikan Allah kepada mereka.

Entah seseorang memilih beristirahat dengan pola mingguan tertentu atau tidak, orang-orang yang membawahi orang lain punya tanggung jawab untuk memastikan para pekerjanya memiliki akses yang semestinya untuk beristirahat. Perintah Allah kepada orang Israel menunjukkan kepedulian-Nya yang besar terhadap umat yang lain juga:

Tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat bagi TUHAN, Allahmu. Jangan melakukan pekerjaan apa pun, engkau, anakmu laki-laki atau perempuan, hambamu laki-laki atau perempuan, lembumu atau keledaimu, segala hewanmu, atau pun pendatang di dalam kotamu, supaya hambamu laki-laki atau perempuan beristirahat seperti engkau juga. Haruslah kauingat bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan teracung. Itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat. (Ulangan 5:14-15)

Di dalam ayat-ayat ini, berakhirnya perbudakan mendatangkan kebebasan untuk beristirahat. Kebebasan orang Kristen untuk menjalani Sabat dengan cara yang mereka pilih sendiri harus selalu dilihat dalam terang ini. Istirahat, pada intinya, adalah kebebasan dari bekerja tak henti-hentinya yang menjadi sifat perbudakan. [1] Karena Allah membebaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir, Dia berharap para pengikut-Nya juga setidaknya menahan diri dari memperbudak orang lain. Lagipula, pengorbanan Yesus yang menyerahkan nyawa-Nya sendiri tidak terbatas hanya bagi kelompok religius tertentu, tetapi “bagi banyak orang” (Matius 26:28). Jadi ketika para manajer melindungi waktu istirahat bagi para karyawannya, mereka dapat menganggap tindakan manajemen ini sebagai kemitraan dengan Allah dalam karya pembebasan-Nya yang masih terus berlangsung.

Memberikan istirahat kepada semua pekerja dapat dilakukan dengan berbagai cara di berbagai industri atau organisasi. Bandwidth.com, sebuah perusahaan telekomunikasi yang berpusat di Carolina Utara, memiliki kebijakan yang mengharuskan setiap orang meninggalkan pekerjaan pada jam 6 sore agar dapat memiliki waktu makan malam bersama orang-orang yang mereka kasihi. Jika diperlukan, mereka dapat bekerja dari rumah setelah jam 8 malam atau lebih, tetapi setidaknya para pekerja diharapkan tidak bekerja atau saling berkomunikasi antara jam 6 sore sampai jam 8 malam. Rekan-pendirinya, Henry Kaestner, berkata bahwa yang menginspirasi kebijakan itu adalah hari Sabat yang alkitabiah, bukan karena sifat keagamaannya yang spesifik, tetapi karena hal itu memberi kesempatan untuk beristirahat dan berelasi kepada semua orang.[2]

Jaringan restoran cepat saji Chick-fil-A terkenal karena tutup pada hari Minggu. Kebijakan ini tentu saja merupakan satu cara untuk memastikan setiap orang memiliki hari libur, setidaknya dari pekerjaan mereka di perusahaan itu. Menurut situs web perusahaan itu, keputusan Pendirinya, Truett Cathy, untuk menjadikan sabat mingguan sebagai kebijakan perusahaan merupakan hal yang “praktis serta rohani.” Ia percaya bahwa semua penyelenggara dan karyawan restoran waralaba Chick-fil-A harus punya kesempatan untuk beristirahat, menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat, dan beribadah jika mereka mau." Harapannya, sebagai tambahan, setiap orang yang bekerja di perusahaan itu tidak merasa perlu bekerja di tempat lain lagi pada hari Minggu untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Bagaimana Orang Kristen Dapat Mengalami Istirahat Yang Mendalam

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah begitu mengasihi manusia sampai Dia rela meninggalkan tempat istirahat yang sempurna untuk datang ke dunia yang penuh keresahan ini. Kristus, Tuhan atas hari Sabat, menjadi Anak Manusia yang “tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Matius 8:20) agar para pengikut-Nya bisa mendapatkan istirahat yang sesungguhnya. Bagian terakhir ini membahas bagaimana orang dapat mengalami istirahat yang lebih besar dan lebih dalam. Langkah pertama adalah datang pada Yesus dengan iman yang mendalam.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan. (Matius 11:28-30).

Orang percaya dapat menyerahkan beban mereka kepada Yesus dan mengalami istirahat yang lebih dalam. Namun, hal itu memerlukan penyerahan penuh segala pikiran, perasaan dan kehendak.

Banyak hambatan untuk beristirahat dimulai dari pikiran. Pikiran marah, takut, atau cemas menghalangi istirahat. Sangat sulit untuk beristirahat jika situasi-situasi hidup menimbulkan amarah terhadap orang lain, ketakutan bahwa banyak hal tidak akan berjalan lancar, atau kecemasan tentang ekspektasi-ekspektasi orang lain. Kitab Ibrani mengingatkan orang percaya untuk menanggalkan semua beban pikiran itu dan memandang pada Kristus saja dengan percaya pada-Nya akan masa mendatang.

Kristus sendiri saat menghadapi penderitaan dan kehinaan salib berfokus pada sukacita yang akan datang.

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah. (Ibrani 12:1-2)

Kebebasan untuk mengarahkan pikiran-pikiran aktif kepada Kristus ini, dan terutama kepada pengharapan akan kemuliaan yang akan datang, bisa ditemukan di dalam surat-surat Perjanjian Baru.

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. (Filipi 4:8).
Karena itu, apabila kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, tampak kelak, kamu pun akan tampak bersama dengan Dia dalam kemuliaan. (Kolose 3:1-4).
Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, akan menghasilkan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. (2 Korintus 4:17-18).

Bagian terpenting dari mengalami istirahat yang mendalam adalah sikap proaktif terhadap pikiran-pikiran yang ada di benak kita. Surat Filipi menasihati kita agar memikirkan hal-hal yang baik, yang benar dan yang indah. Surat Kolose mendorong orang Kristen untuk memikirkan kemuliaan yang akan datang yang menanti semua orang yang percaya pada Kristus. Surat 2 Korintus mengajak orang percaya untuk memandang persoalan dan penderitaan yang sekarang ini sebagai kesusahan sementara yang tak sebanding dengan kelegaan kekal yang menanti kita. Orang Kristen dapat memilih untuk menuruti nasihat ini atau untuk dikalahkan oleh pencobaan dan penderitaan. Beristirahat sepenuhnya berarti melabuhkan pikiran pada Yesus dan masa depan sempurna yang menanti semua orang yang menaati Dia.

Kedua, memasuki istirahat orang beriman berarti memeriksa keinginan-keinginan yang ada. Yesus mengundang “semua yang letih lesu dan berbeban berat” untuk datang pada-Nya dan mendapat kelegaan (Matius 11:28), tetapi setiap orang pertama-tama harus menanggapi undangan itu dalam hatinya. Datang pada Kristus bukan keputusan yang asal saja atau pasif. Yesus memperjelas bahwa menjadi murid adalah realitas yang menguras kehidupan yang membutuhkan penyangkalan diri yang tidak terjadi dengan sendirinya.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? (Matius 16:24-26).

Setiap orang memiliki sesuatu di dalam hatinya yang secara keliru ia percayai dapat memberinya kelegaan. Banyak orang tidak mengalami kelegaan sejati karena mereka secara sadar atau tidak sadar mengejar sesuatu yang menjanjikan kelegaan, yang tak pernah terwujud. Alkitab memandang segala sesuatu yang dikejar manusia selain Kristus sebagai berhala. Sebagian orang menghina atau menyakiti orang lain dengan harapan hal itu akan membuat mereka merasa lebih baik. Yang lain menghibur diri sampai mati rasa, atau mencari kesenangan sampai kelelahan. Yang lain lagi menumpuk pencapaian-pencapaian dengan harapan dapat mencapai cukup tinggi untuk mengatasi rasa takut kekurangan yang mereka butuhkan. Ketika orang merasa tertekan dan lelah akibat minggu kerja atau kecemasan, banyak yang beralih kepada berhala-berhala ini untuk memberi rasa lega. Pendeta Tim Keller menjelaskan hal ini dalam bukunya, Counterfeit Gods.

Berhala memiliki posisi yang sedemikian mengendalikan di hati Anda, sampai Anda dapat mencurahkan sebagian besar gairah dan energi Anda, perasaan dan finansial Anda, tanpa berpikir dua kali. Berhala itu bisa berupa keluarga dan anak-anak, karir dan mata pencarian, prestasi dan pujian, atau reputasi dan status sosial. Berhala juga bisa berupa hubungan romantis, persetujuan teman sebaya, kompetensi dan keterampilan, situasi aman dan nyaman, kecantikan atau kepintaran, tujuan politik atau sosial yang baik, moralitas dan kebajikan, atau bahkan keberhasilan dalam pelayanan Kristen…. Berhala adalah apa saja yang Anda pandang dan katakan, dalam hati Anda yang terdalam,“Jika aku memilikinya, aku akan merasa hidupku bermakna; aku akan tahu bahwa aku berharga; aku akan merasa penting dan aman.”[1]

Keller berpendapat bahwa hal-hal baik pun bisa menjadi berhala yang mengambil alih tempat Kristus. Manusia secara naluriah akan mencari hal-hal ini untuk mendapatkan rasa lega yang lebih dalam, tetapi berhala pada suatu saat pasti gagal atau mengecewakan. Berhala menghalangi orang untuk memercayai Allah, yang menyebabkan mereka kehilangan anugerah yang mendatangkan kelegaan sejati. Allah mengundang para pengikut-Nya untuk beristirahat di tengah bekerja, tetapi berhala menuntut kegilaan yang terus meningkat. Bagaimana manusia dapat mematahkan berhala-berhala ini dan menempatkan Kristus di pusat hasrat hati? Jawabannya adalah pertobatan. Dengan pertobatan, seseorang dapat menyerahkan ilusi kendali itu. Ia harus mati terhadap rasa mencukupi-diri-sendiri yang salah itu. Lebih tepatnya, setiap orang percaya harus percaya bahwa Allah dapat dan akan dengan murah hati menyediakan semua "yang diinginkan hatimu" (Mazmur 37:4). Tanpa pertobatan ini, orang tidak dapat mengalami istirahat yang mendalam.

Marva Dawn, dalam bukunya, Keeping the Sabbath Wholly, menjelaskan apa yang diperoleh orang ketika mereka bertobat dari berhala dan berserah penuh pada Allah. “Ketika kita berhenti berusaha untuk menjadi Allah, kita belajar rasa puas yang sama sekali baru, rasa senang akan kehadiran Allah dalam situasi kita saat ini. Ketika kita menyerahkan pemberontakan kita yang bodoh yang menentang tujuan-tujuan Allah, kita menemukan bahwa Dia memberikan rasa aman yang kita cari.”[2]

Akhirnya, kebiasaan-kebiasaan juga dapat menghalangi orang mengalami istirahat yang mendalam. Penting bagi kita untuk memeriksa apakah irama kerja dan istirahat kita saat ini membuat kita semakin dekat dengan persekutuan yang penuh damai dengan Allah, atau malah semakin menjauh. Di Perjanjian Lama, Allah menetapkan berbagai pola atau siklus istirahat yang menciptakan irama-irama yang teratur bagi orang Israel. Meskipun pengorbanan Yesus membebaskan orang Kristen dari keharusan mematuhi hukum Perjanjian Lama secara harfiah, irama-irama sabatikal mingguan, bulanan, musiman, tahunan dapat memberi panduan yang dibutuhkan bagi orang-orang yang ingin memasuki istirahat yang membebaskan yang sudah dimungkinkan oleh Kristus.

Singkatnya, berikut ini ada beberapa saran praktis bagi orang-orang yang ingin menyerahkan beban mereka kepada Yesus dan memasuki istirahat Allah:

  1. Pikirkan hal-hal yang adil, yang suci, dan yang berkenan kepada Allah (Filipi 4:8). Sebagian orang merasa terbantu dengan menulis jurnal ucapan syukur.[3]

  2. Bayangkan masa mendatang yang melampaui segala persoalan di dunia saat ini (Kolose 3:1-4). Mungkin akan menolong dengan mengembangkan imajinasi yang kudus.[4]

  3. Bingkai ulang masalah-masalah saat ini sebagai hal kecil dibandingkan waktu kekekalan (2 Korintus 4:17-18). Bayangkan melihat situasi saat ini dari sudut pandang masa depan yang jauh (juga dikenal sebagai model pengambilan keputusan yang “melompat ke depan”). [5]

  4. Jika ada solusi yang menjanjikan akan mengatasi semua masalah kehidupan, dan itu bukan Yesus, bertobatlah.[6]

  5. Pikirkan apakah menambah kebiasaan istirahat harian dapat membantu. Contohnya: membaca buku renungan harian [7] atau rencana bacaan Alkitab (jika hal ini tidak terasa sebagai tugas yang memberatkan), berdoa dengan penyembahan di awal dan akhir setiap hari, [8] atau berdoa bersama para anggota keluarga pada saat makan malam.

  6. Pikirkan kebiasaan istirahat mingguan yang terasa menguatkan. Beberapa orang melakukan satu hari istirahat penuh dalam seminggu, atau mengadakan pertemuan mingguan dengan sekelompok kecil orang Kristen. Banyak orang mendapati ibadah mingguan di gereja menyegarkan, tetapi hal itu seharusnya tidak menjadi semacam titik puncak istirahat sabat. Ide-ide istirahat mingguan lainnya meliputi: makan bersama teman-teman dan tetangga, bermain atau mendengarkan musik, atau terlibat dalam aktivitas fisik yang menyenangkan.

  7. Ada praktik-praktik istirahat lain yang bisa membantu orang kembali berpusat pada Allah secara musiman atau tahunan. Menghabiskan waktu lebih lama untuk berdoa dan membaca Kitab Suci. Pergi retret. Memperingati hari-hari raya atau musim-musim perenungan spiritual yang lebih mendalam, seperti masa Adven dan PraPaskah.[9]

Satu pertanyaan penting tentang praktik-praktik istirahat pribadi, apa pun itu, adalah apakah tindakan-tindakan itu membuat orang semakin mengalami kesetiaan Allah secara mendalam. Allah memberikan Sabat mingguan untuk mengingatkan orang Israel akan pemeliharaan-Nya yang setia dan tak berkesudahan, dan Yesus menyembuhkan pada hari Sabat untuk membuktikan kuasa-Nya yang mahatinggi yang mengatasi segala persoalan. Pendekatan tertentu apa pun, entah itu menghadiri ibadah gereja, membaca renungan, atau makan bersama teman-teman, bukanlah solusi yang pasti berhasil. Tetapi, semua tindakan itu memberi kesempatan yang lebih besar untuk orang berkomunikasi dengan Allah, tempat manusia menemukan istirahat terdalam dan paling memuaskan.

Penting juga dicatat bahwa ada musim-musim tertentu dalam kehidupan seseorang yang tidak memungkinkannya untuk mengalami istirahat yang ia butuhkan. Para orangtua baru, misalnya, mereka tidak dapat mengambil cuti sehari pun dari urusan merawat bayi mereka. Para wiraswastawan, yang seringkali tidak memiliki orang lain untuk mereka mendelegasikan semua pekerjaan yang diperlukan, mungkin merasa mustahil untuk menyisihkan cukup waktu untuk beristirahat. Pada musim-musim ketika orang tidak dapat beristirahat dengan baik ini, mereka tidak perlu merasa bersalah, tetapi mereka bisa datang pada Allah dengan berharap penuh akan irama istirahat dan kerja di masa mendatang. “Masih tersedia suatu hari perhentian Sabat bagi umat Allah” (Ibrani 4:9), baik dari perspektif kekekalan maupun dalam kehidupan saat ini. Bayi bertumbuh makin besar, perusahaan rintisan mengembangkan kapasitas-kapasitas kelembagaan, dan praktik-praktik Sabat pribadi mengalami perubahan meskipun kebaikan Allah tidak pernah berubah.

Istirahat dan Kerja: Kesimpulan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sebagai kesimpulan, istirahat dimaksudkan untuk mengingatkan manusia pada hak istimewa yang tak terkira karena diciptakan segambar dengan Allah. Menguduskan hari ketujuh adalah undangan Allah yang murah hati untuk menikmati persekutuan yang intim dengan Dia dan bergembira dalam ciptaan-Nya. Namun akibat dosa manusia dalam Kejatuhan, bekerja yang awalnya diciptakan Allah sebagai hal yang baik kini menjadi menyakitkan dan mengecewakan.

Sementara istirahat fisik merupakan kebutuhan untuk bisa tetap hidup, keterbatasan manusia juga menunjukkan kebutuhan akan istirahat rohani. Kecuali bagi mereka yang bekerja dalam kondisi-kondisi seperti perbudakan, kerja berlebihan yang kronis muncul akibat ketidakpercayaan akan penyediaan Allah dan upaya-upaya untuk menyelesaikan masalah dengan kekuatan tangan manusia sendiri. Kecanduan kerja berakar pada ketakutan dan rasa tidak aman yang mendalam. Tanpa irama kerja yang teratur, sebagian orang bisa merasa tidak aman dengan stabilitas masa depan, identitas, atau harga diri mereka.

Yesus masuk ke dalam lingkaran setan ini sebagai "Tuhan atas hari Sabat," Pribadi yang lebih besar dari hari Sabat dan melakukan yang tidak pernah dapat dilakukan hukum Sabat sendiri. Kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus memulihkan relasi manusia dengan Allah. Sekali lagi manusia dapat kembali bekerja dalam kemitraan dengan Allah dan beristirahat di hadirat-Nya.

Setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih irama kerja dan istirahat yang sesuai untuk dirinya. Namun pada akhirnya, iman kepada Kristuslah yang menuntun kepada istirahat rohani yang lebih dalam. Yesus menawarkan untuk menanggung beban setiap orang percaya, dan Dia serius. Identitas dari Allah yang disediakan Yesus bagi setiap orang yang mengikut Dia memberi kekuatan kepada orang Kristen untuk mengupayakan istirahat fisik serta keberanian untuk memperjuangkan kebebasan ini bagi orang lain. Ya, selalu ada masa mendatang yang bisa diharapkan umat Allah untuk bekerja dengan lebih memuaskan dan beristirahat dengan lebih menyenangkan. Namun, untuk sementara ini, orang Kristen dapat mengikuti pimpinan Allah dan mencurahkan diri sepenuhnya dalam bekerja dan beristirahat.