Bootstrap

Gereja Yang Memperlengkapi (Tinjauan Umum)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Vancouver 176251 620

Keberhasilan misi sebuah gereja sangat tergantung pada kemampuan gereja itu memobilisasi jemaatnya dalam melakukan pekerjaan Allah di dunia. Kekuatan terbesar gereja dalam melakukan misinya adalah Umat Allah yang terlibat dalam kehidupan di dunia setiap hari dalam aktivitas kerja sehari-hari mereka. Misi gereja meliputi membawa jemaat kepada Kristus, membimbing pertumbuhan rohani mereka dan memerhatikan kebutuhan mereka. Tetapi, misi gereja bagi orang-orang di luar jemaatnya juga merupakan kebutuhan yang besar. Tujuan kita di sini adalah memusatkan perhatian pada bagaimana gereja-gereja dapat memperlengkapi jemaatnya untuk membuat dunia di luar gereja makin seperti yang dimaksudkan Allah.

Bersyukur, semakin banyak gereja-gereja yang mengembangkan cara-cara baru dalam menyediakan sumber daya dan mendukung jemaatnya untuk pekerjaan ini. Kita akan membahas pemikiran tentang gereja-gereja yang memperlengkapi ini dan juga strategi-strategi praktis yang mereka adopsi. Kami berharap semua materi di situs daring Proyek Teologi Kerja dapat bermanfaat bagi gereja-gereja dan orang-orang Kristen di tempat kerja dalam hal ini. Kami menyambut baik jika ada gereja-gereja dan individu-individu yang mengirimkan pada kami materi-materi dan evaluasi sumber-sumber yang telah mereka ujicobakan untuk dimasukkan ke dalam materi Proyek Teologi Kerja ke depan.

Gereja-gereja yang mengembangkan kemampuan untuk memperlengkapi jemaatnya dalam bermisi melalui pekerjaan sehari-hari biasanya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  • Apa misi Allah di dunia?

  • Bagaimana pekerjaan manusia berhubungan dengan pekerjaan Allah?

  • Apa artinya ini dalam pekerjaan manusia sehari-hari?

  • Bagaimana kita dapat memperlengkapi jemaat untuk pekerjaan Allah di dunia?

Apa Misi Allah di Dunia?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pertama-tama, misi Allah adalah menginspirasi orang untuk bekerja dengan bahan-bahan yang Dia sediakan untuk menghasilkan kreasi atau ciptaan-ciptaan baru dan baik serta menata alam semesta. Dunia yang diciptakan Allah itu baik, dan ketika manusia mulai bekerja bersama Allah dalam penciptaan, segala sesuatu menjadi ‘amat sangat baik’ (Kejadian 1:31). Sayangnya, akibat Kejatuhan manusia, dunia menjadi sangat jauh dari yang dimaksudkan Allah, dan keadaan manusia berkisar dari sangat baik (walaupun masih, kadang-kadang) menjadi suram atau lebih buruk. Meskipun demikian, di sepanjang perjalanan sejarah—yang mula-mula dipusatkan pada bangsa Israel, berfokus pada kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, dan berlanjut pada umat Allah saat ini—Allah memberikan kasih karunia untuk manusia kembali kepada-Nya. Dia memulihkan kehancuran Dunia, dan membuka jalan untuk memperbarui sepenuhnya maksud awal-Nya bagi dunia, termasuk peran manusia dalam mencipta/berkarya bersama-Nya. Jadi, baik penciptaan dunia maupun penebusannya oleh anugerah Allah adalah misi Allah.

Orang ​​Kristen berpartisipasi dalam misi Allah melalui setiap aktivitas kehidupan yang mengungkapkan kreativitas Allah, menopang ciptaan Allah, dan bekerja sama dengan penebusan Allah. Gereja—termasuk lembaga-lembaga yang terkait dengan gereja—adalah satu tubuh yang secara eksklusif dipersembahkan untuk menjalankan misi Allah, sehingga semua orang Kristen adalah bagian dari gereja. Tentu saja, gereja sendiri bukanlah kerajaan Allah, dan pekerjaan gereja bukanlah satu-satunya cara orang percaya menjalankan pekerjaan untuk memajukan kerajaan Allah. Seperti dikatakan Dallas Willard, “Gereja untuk pemuridan, dan pemuridan untuk dunia”.[1] Dengan berkumpul di gereja, orang Kristen menjalankan misi Allah melalui berbagai macam aktivitas. Dengan menyebar di berbagai macam tempat kerja, kita memiliki kesempatan untuk menjalankan misi Allah melalui pekerjaan sehari-hari di semua bidang kehidupan masyarakat. Uskup Anglikan D.T. Niles dari Ceylon (sekarang Sri Lanka) berkata bahwa “Gereja adalah satu-satunya masyarakat yang ada untuk kepentingan bukan anggotanya.”[2] Gereja berhubungan dengan bukan anggotanya terutama melalui interaksi sehari-hari anggotanya dengan orang-orang di tempat kerja mereka.

Akibatnya, gereja-gereja melakukan misi Allah sendiri dan juga memperlengkapi orang Kristen untuk melakukan misi Allah dalam berbagai aspek kehidupan dan pekerjaan lainnya. Peran yang belakangan—memperlengkapi orang Kristen untuk bekerja di luar tubuh gereja—sangat penting, karena jika bukan orang Kristen yang dilatih dan didukung untuk itu, pekerjaan kita kemungkinan tidak akan banyak berdampak positif bagi misi Allah. Gereja-gereja yang mendukung orang-orang Kristen di tempat kerja sudah berada dalam perjalanan misi. Fokus mereka sudah berkembang dari berpusat pada yang sedang dilakukan Allah di gereja kepada yang sedang dilakukan Allah di dunia. Mereka juga menolong para anggota gereja untuk memiliki pandangan tentang Allah yang berjalan di depan mereka di dunia kerja dan mengundang mereka untuk bekerja sebagai mitra dalam pekerjaan Allah di sana.

Di gereja-gereja yang telah mengalami perubahan perspektif ini, penekanan-penekanan teologis yang berbeda dapat terlihat.

Bagi sebagian gereja, ini merupakan perluasan dari penekanan penginjilan mereka yang sudah ada. Mereka sekarang lebih dengan sengaja mengakui tempat-tempat kerja sebagai prioritas strategis dalam penjangkauan penginjilan mereka. Bagaimanapun, inilah tempat banyak orang menghabiskan sebagian besar waktu mereka dan tempat orang Kristen paling sering berinteraksi langsung dengan orang-orang non-Kristen.

Bagi gereja-gereja lainnya, memahami misi Allah termasuk menerima pandangan yang lebih luas tentang misi yang melibatkan partisipasi dalam karya penciptaan, pemeliharaan, dan penebusan Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sebagai contohnya, Gereja Presbiterian Redeemer di New York telah mengembangkan program iman dan kerja yang luar biasa yang didedikasikan untuk “kebangkitan kembali keterlibatan budaya Kristen di Kota New York”. Mereka mengerti bahwa misi Allah mencakup “pembentukan budaya” di seluruh kota secara umum, selain memanggil orang untuk datang kepada Kristus melalui gereja.[3] Gereja-gereja yang menganut pandangan misi ini seringkali dibentuk oleh pengaruh para pemikir seperti John Stott dan Lesslie Newbigin. Pengaruh John Stott telah membuat beberapa orang dari latar belakang Injili konservatif menambahkan kepedulian baru untuk melayani orang lain dan memelihara ciptaan melalui pekerjaan mereka, selain mengenalkan orang pada Yesus.[4] Lesslie Newbigin memperingatkan gereja-gereja di Barat agar tidak memisahkan spiritualitas pribadi dari cara kita hidup dan masalah-masalah yang kita hadapi di tempat kerja dan komunitas.[5] Miroslav Volf, yang berasal dari latar belakang Pentakosta Eropa Timur, menambahkan penekanan tentang bekerja dalam roh.[6]

Bagi gereja-gereja lainnya lagi, memahami misi Allah di dunia berarti memikirkan-ulang perspektif mereka tentang tujuan keselamatan. Gereja-gereja ini telah menemukan bahwa keselamatan dalam Kristus bukanlah tentang kelepasan jiwa-jiwa dari dunia ini, tetapi transformasi dunia untuk menjadi kerajaan Allah di bumi (Wahyu pasal 21 dan 22, lihat "Kisah Dua Kota” - Wahyu 17-22). Dunia yang baru ini akan digenapi ketika Kristus datang kembali ke bumi, dan pekerjaan yang kita lakukan saat ini berkontribusi bagi pembaruan kerajaan Allah dalam kekekalan. Jadi, pekerjaan memiliki nilai yang hakiki atau kekal yang setara dengan penginjilan dan penyembahan/ibadah. Buku Darrell Cosden yang berjudul The Heavenly Good of Earthly Work [7] merupakan sumber yang baik untuk menyelidiki topik ini dengan pemahaman biblika dan teologi yang mendalam.

Satu sumber yang mungkin berguna dalam gereja-gereja menjelajahi cara yang lebih baik untuk memperlengkapi jemaat dalam pekerjaan sehari-hari adalah skema Dasar-dasar Teologis Proyek Teologi Kerja.

Pemuridan Seluruh Hidup

Seorang pemimpin gereja di Inggris menggambarkan yang terjadi di gerejanya seperti ini: “Hal-hal tentang pemuridan seluruh-hidup ini mulai menyentuh hati – dalam persekutuan doa tengah-minggu kami, seorang wanita berdoa untuk kesejahteraan kota, lalu dalam persekutuan doa para pemimpin pagi berikutnya hal itu terjadi lagi – kami berdoa untuk bisnis-bisnis di Milton Keynes, untuk para pengangguran agar mereka tidak hanya mendapat pekerjaan tetapi juga mengetahui di mana mereka dipanggil untuk melayani Allah dan memenuhi panggilan itu dengan kekuatan-Nya. Deloitte’s, Ernst and Young, Home, Milton Keynes Job Centre, Santander, Alanod, Accenture, MK Hospital, Bradwell School, BT, Keune & Nagel, Stowe School, Invensys PLC… Terang telah bersinar; garam mulai terasa!’[8]

Sungguh menggembirakan menemukan keprihatinan yang sama ini di antara para pemikir dan pemimpin gereja dari berbagai latar belakang yang berbeda. Meskipun ada banyak perbedaan, titik awal dalam setiap kasus adalah memahami bahwa misi dimulai dari yang telah dan sedang dilakukan Allah, yang meliputi bukan saja yang kita lakukan di gereja, tetapi juga pekerjaan kita sehari-hari di tempat kerja, di rumah, dan dalam pelayanan sukarela di masyarakat.

Misi Allah pada dasarnya bukan membuat orang makin terlibat dalam yang sedang dikerjakan gereja, tetapi membuat gereja makin terlibat dalam yang sedang dikerjakan Allah di dunia. Inilah pergeseran penekanan dari menarik orang banyak ke acara-acara gereja menjadi memperlengkapi dan mendukung pengikut Yesus dalam pekerjaan mereka di dunia. Ini tidak berarti bahwa berkumpul untuk beribadah dan mengikuti acara-acara gereja tidak penting lagi di gereja-gereja ini. Tetapi gereja-gereja ini telah menyadari pentingnya mempersekutukan orang Kristen maupun mengutus mereka untuk melakukan pekerjaan Allah di dunia. Mengutus orang telah menjadi upaya yang lebih serius dalam membentuk hubungan yang lebih kuat dalam pengalaman hidup jemaat antara hari Minggu dan Senin agar dapat menolong mereka menjadi partisipan yang lebih efektif dalam pekerjaan Allah di dunia.

Bagaimana Pekerjaan Manusia Berhubungan dengan Pekerjaan Allah?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Latihan Pemuridan Mandat Penciptaan

Memahami mandat penciptaan sebagai konsep teologi adalah satu hal, tetapi memahaminya sebagai realitas praktis adalah hal lain. Cobalah ajukan pertanyaan-pertanyaan dan latihan-latihan berikut ini untuk membantu orang-orang yang Anda muridkan menghayati secara pribadi yang diajarkan Kejadian 1 tentang kerja:

  • Apakah Anda menganggap kerja sebagai berkat atau kutuk? Cobalah menjalani satu minggu tanpa mengeluh tentang pekerjaan Anda.

  • Tuliskanlah semua cara Allah memberkati Anda dalam pekerjaan Anda.

  • Jika Anda membawahi orang lain, apa yang Anda lakukan untuk membuat kerja menjadi berkat bagi bawahan Anda?

  • Bagaimana pekerjaan Anda terhubung dengan orang lain dalam jaringan penyediaan? Daftarkanlah semua industri yang terhubung dengan pekerjaan Anda.

  • Bayangkan melakukan pekerjaan Anda di surga. Seperti apakah rasanya?

  • Dalam hal apa interaksi Anda dengan rekan-rekan kerja mencerminkan karakter Kristus? Apa yang Roh Kudus mau Anda tingkatkan? Bagaimana perubahan itu akan memengaruhi relasi-relasi di tempat kerja Anda?

  • Sebutkan nama sepuluh orang yang bekerja bersama Anda. Untuk setiap nama, pikirkanlah, “________ adalah penyandang gambar Allah dan rekan kerja saya dalam pekerjaan yang merupakan panggilan Allah bagi kami. Kiranya Allah memberkati _________ dalam pekerjaannya.”

  • Pikirkanlah semua cara Anda menjumpai ciptaan Allah yang bukan manusia saat Anda bekerja. Ide apa yang Anda miliki untuk mengembangkan interaksi Anda dengan alam saat Anda bekerja?

  • Apa kesenjangan antara maksud Allah tentang kerja dengan yang Anda alami atau amati? Apa yang dapat Anda lakukan untuk membuat pekerjaan Anda makin mendekati rancangan Allah?

  • Bagaimana Anda menjawab pertanyaan: “Mengapa Anda bekerja?”

  • Mengapa kita bekerja selalu berkaitan erat dengan siapa kita sebagai penyandang-gambar yang sudah ditebus dan berharga, yang diutus ke dunia untuk bekerja dengan tujuan Kerajaan.” Apa artinya pernyataan ini bagi Anda dalam konteks pekerjaan Anda saat ini?

Diambil dari Equipping Christians for Kingdom Purpose in Their Work oleh Tom Lutz dan Heidi Unruh. Diterbitkan oleh Penerbit Hendrickson. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Saat ditanya, “Apakah pekerjaan kita penting bagi Allah?” banyak gereja menjawab ya. Tetapi mereka memberi jawaban yang berbeda ketika menjelaskan “Bagaimana pekerjaan kita penting bagi Allah?” Bagi sebagian gereja, bekerja hanya tentang mencari uang untuk menopang diri sendiri dan pekerjaan gereja. Gereja-gereja lainnya memprioritaskan pentingnya penginjilan di tempat kerja. Kedua pendekatan ini sama-sama tidak melihat bekerja sebagai latihan rohani dan memiliki nilai intrinsik. Bagi orang-orang ini, bekerja hanya memiliki nilai instrumental, bekerja hanya dianggap penting jika bisa menghasilkan uang dan menjadi peluang untuk penginjilan. Orang-orang lain memperluasnya dengan memasukkan bekerja sebagai konteks untuk melayani orang lain. Contohnya, orang-orang Kristen yang terlibat dalam yang kadang disebut sebagai 'profesi menolong' (dokter, perawat, pekerja sosial, konselor dan guru) merasa pekerjaan mereka penting bagi Allah dengan cara yang tidak dialami orang-orang yang terlibat dalam kebanyakan profesi lain. Banyak gereja tampaknya meneguhkan pentingnya pekerjaan yang melayani orang secara lebih langsung, dan kata-kata seperti 'ministry' dan 'pelayanan' sering diterapkan untuk pekerjaan ini. Orang-orang ​​Kristen yang berkecimpung di industri-industri lain juga mencari peluang-peluang untuk menolong orang di tempat kerjanya, tetapi tidak banyak gereja yang meneguhkan nilai intrinsik dari pekerjaan yang di luar profesi-profesi menolong. Barangkali istilah ‘profesi menolong’ inilah yang menjadi bagian dari masalahnya, karena istilah itu memberi kesan bahwa profesi-profesi lain seperti bisnis, hukum, teknik, keuangan, dan lain-lainnya tidak menolong siapa pun. Padahal, semua pekerjaan yang baik adalah profesi menolong. Pemahaman yang alkitabiah menegaskan bahwa semua pekerjaan penting bagi Allah dan merupakan kesempatan untuk manusia berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah yang masih terus berlangsung, sebagaimana disebutkan di Kejadian 1:26-28.

Pemahaman yang lebih lengkap tentang pentingnya kerja dapat digambarkan sebagai bangku berkaki tiga. Setiap kaki merepresentasikan salah satu dari tiga panggilan besar yang kita baca di Alkitab: Amanat Agung (Matius 28:19-20), Hukum Yang Terutama (Matius 22:37-38) dan panggilan penciptaan—atau yang sering disebut sebagai “Mandat Budaya” (Kejadian 1:26-28). Amanat Agung menekankan pentingnya orang Kristen terlibat dalam membagikan iman dan menjadikan murid. Hukum Yang Terutama menekankan pentingnya pelayanan orang Kristen, yang menunjukkan kasih dalam tindakan. Mandat Budaya menekankan bahwa pekerjaan kita sendiri dapat menjadi tindakan penyembahan dan partisipasi dalam pekerjaan Allah. Sesungguhnya inilah yang pertama-tama dari segala perintah, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah, penuhilah dan taklukkanlah bumi” (Kejadian 1:28), dan perintah-perintah lainnya melengkapi, tetapi tidak menggantikannya. Jadi, sebagaimana bangku itu memerlukan ketiga kakinya untuk berdiri, teologi kerja yang terpadu juga perlu meneguhkan pentingnya kesaksian, pelayanan, dan nilai intrinsik, meskipun orang-orang tertentu dengan karunia-karunia atau situasi-situasi mereka yang berbeda-beda lebih menekankan yang satu daripada yang lainnya.

Lihat Dasar-dasar Teologis dan Panggilan dalam Perspektif Historis-Teologis di www.theologyofwork.org untuk informasi lebih lanjut tentang teologi kerja yang alkitabiah.

Apa Artinya Ini dalam Pekerjaan Manusia Sehari-hari?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Doa Bertiga Pada Waktu Istirahat Makan

Doa Bertiga Terkait Pekerjaan: Tiga orang bertemu dalam kelompok hanya sekitar setengah jam untuk saling mendoakan pada waktu sarapan, makan siang, atau makan malam. Idealnya mereka semua bekerja di lembaga yang sama, atau setidaknya di bidang yang sama. Mereka berdoa secara khusus untuk pekerjaan, tempat kerja, dan rekan kerja satu sama lain.

Pemahaman tentang kerja yang terpadu dari perspektif Alkitab perlu mencakup pengertian yang jelas tentang vokasi atau panggilan orang Kristen. Sebagai orang Kristen, kita pertama-tama dipanggil untuk menemukan identitas kita dalam relasi kita dengan Allah. Inilah panggilan utama kita. Kita dipanggil untuk “menjadi bagian” dan “berada” dalam relasi dengan Allah melalui Yesus, dan kemudian kita dipanggil untuk 'bertindak' dan mengikut Yesus dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk pekerjaan kita sehari-hari. Panggilan ini berpusat pada Yesus, bukan pada pekerjaan yang kita lakukan. Pada saat yang sama, panggilan ini bukan pemuridan yang terpisah dari pekerjaan kita, tetapi panggilan untuk mengikut Yesus dalam seluruh aktivitas kita sehari-hari— dalam tugas-tugas rumah tangga, kegiatan sukarela dan pelayanan gereja, termasuk juga pekerjaan. Panggilan kita bukan hanya tentang pekerjaan kita, tetapi tentang aktivitas seluruh hidup kita, tentang menjadi pengikut Yesus dalam segala sesuatu yang kita lakukan.

Sebagaimana panggilan kita dalam Kristus menuntun kita dalam pekerjaan sehari-hari, menerapkan iman dalam pekerjaan sehari-hari menolong kita bertumbuh secara rohani. Ini jalan dua arah. Renungkan buah Roh di Galatia 5:22—kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kemurahan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Penting bagi kita untuk belajar tentang buah itu di gereja, tetapi tempat kita benar-benar mengembangkan buah itu kemungkinan besar adalah di tempat kerja kita. Sebagai contoh, melakukan pekerjaan kita saat ini dengan segenap kemampuan terbaik kita—bahkan saat kita berharap mendapat pekerjaan lain yang lebih baik—membuat kita mengembangkan kesabaran dan penguasaan diri. Untuk bacaan lebih lanjut, buku After You Believe oleh N.T. Wright [1] dan The Callings oleh Paul Helm [2] mengupas bagaimana pekerjaan sehari-hari berkontribusi pada pertumbuhan rohani.

Gereja memiliki pelayanan penting dalam bimbingan vokasional yang perlu ditemukan kembali. Menurut Alkitab, ini bukan tentang menemukan kepuasan pribadi dalam pekerjaan kita, tetapi lebih tentang menemukan kesempatan-kesempatan untuk melayani dalam pekerjaan kita—menemukan kesempatan untuk melayani Allah dan orang lain melalui pekerjaan kita. Bekerja, dalam perspektif Kristen, adalah tentang melayani, dan gereja-gereja ditantang untuk lebih serius mendukung dan memperlengkapi semua orang Kristen dalam pelayanan melalui kehidupan sehari-hari ini.

Ini menepis anggapan bahwa rohaniwan melakukan pekerjaan Allah, sementara orang awam mendukung rohaniwan dengan memberi persembahan dan menjadi sukarelawan di gereja. Rohaniwan dan para pemimpin gereja memang memiliki peran yang unik, tetapi orang awam yang bekerja di luar gereja pun memiliki peran yang sama pentingnya dalam misi Allah. Orang awam memang mendukung pendeta dan pengerja gereja dengan mempersembahkan uang dan menjadi sukarelawan di gereja, tetapi ini bukanlah cara utama mereka berkontribusi dalam misi Allah. Ini bukan soal mengecilkan peran rohaniwan, tetapi soal memperlengkapi setiap orang untuk melakukan seluruh pekerjaan mereka sebagai pelayanan bagi kerajaan Allah.

Bagaimana Kita Dapat Memperlengkapi Jemaat untuk Pekerjaan Allah di Dunia?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Bagaimana gereja bisa menjadi lebih efektif dalam memperlengkapi jemaatnya? Kebutuhan untuk kembali berorientasi ke luar dan memulai perjalanan misi telah diidentifikasi—demikian juga kebutuhan untuk memahami vokasi dan panggilan kita sebagai orang Kristen, yang meliputi penghargaan baru terhadap peran pekerjaan kita sehari-hari dalam misi Allah. Ada baiknya juga untuk bertanya, seperti apa tindakan nyata gereja yang mencerminkan perspektif dan prioritas yang berubah ini? Gereja-gereja yang telah memulai perjalanan ini menunjukkan beberapa ciri umum.

Gereja yang memperlengkapi:

  • memiliki visi tentang Allah yang bekerja di tempat jemaatnya bekerja

  • aktif mencari contoh-contoh dan sumber-sumber

  • menghubungkan pekerjaan sehari-hari dengan ibadah

  • menanggapi peluang dan tantangan yang dihadapi jemaatnya di tempat kerja

  • menginvestasikan sumber daya untuk memperlengkapi jemaat dalam pekerjaan sehari-hari

  • menciptakan struktur-struktur yang menopang pelayanan ini

  • memberdayakan dan bekerja sama dengan orang-orang di jemaat dalam mengadakan pelayanan

  • melepas dan mendukung jemaatnya untuk bekerja di luar gereja

  • mendorong semua orang untuk mengambil tanggung jawab

  • memasukkan pekerjaan sehari-hari sebagai bagian dari pelayanan kaum muda dan pelayanan-pelayanan belas kasih/penjangkauan/bantuan praktis

Barangkali daftar ini bisa menjadi tolok ukur yang berguna untuk menilai, mengevaluasi, dan memikirkan pengembangan-pengembangan dalam konteks gereja Anda sendiri. Kita akan membahas beberapa hal yang terkait dengan setiap pengembangan ini.

Gereja Yang Memperlengkapi Memiliki Visi tentang Allah Yang Bekerja di Tempat Jemaatnya Bekerja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Inilah Gereja Kita pada Hari Senin

Foto-foto digital tentang orang-orang dalam berbagai suasana kerja ditayangkan selama waktu perenungan dan doa, sementara lagu tentang makna kerja diputar melalui perangkat tata suara. Beberapa orang tertawa ketika mereka melihat para anggota gereja mengenakan pakaian yang berbeda dari yang pernah mereka lihat sebelumnya. Beberapa mengenakan jas dan dasi. Yang lain mengenakan “baju monyet” (pakaian kerja terusan), atau baju putih dan sarung tangan karet.

Doa untuk Para Pekerja

Seorang guru berkata kepada Mark Greene, "Saya meluangkan waktu 45 menit seminggu untuk mengajar Sekolah Minggu dan mereka memanggil saya maju ke depan altar untuk mendoakan saya. Hari-hari lainnya dalam minggu itu saya menjadi guru sepenuh-waktu dan gereja tidak pernah berdoa untuk saya." Berbeda dengan itu, gereja lain berdoa untuk berbagai macam kelompok pekerja setiap bulan. Mereka telah memeriksa daftar seluruh jemaat mereka dengan tujuan dapat memasukkan setiap orang ke dalam doa khusus untuk pekerjaan sehari-hari mereka minimal setahun sekali.

Gereja yang memperlengkapi melihat pekerjaan sehari-hari jemaatnya sebagai bagian dari pelayanan gereja. Gereja-gereja ini sudah mulai bertanya, "Di mana jemaat kita selama seminggu?" Mereka mulai mengembangkan cara-cara untuk mengidentifikasi di mana jemaatnya berada dan apa yang mereka lakukan selama seminggu. Identifikasi ini bisa berupa penanda-penanda pada peta, papan berisi foto-foto, presentasi PowerPoint tentang orang-orang yang bekerja, atau buklet yang berisi daftar pekerjaan dan minat jemaat. Gereja-gereja ini membuat jemaatnya merasa bahwa mereka telah ditempatkan Allah secara strategis di dunia kerja mereka untuk membuat perbedaan di sana.

Tidak ada model tunggal atau rumus sederhana. Setiap gereja bisa memulai perjalanannya sendiri dalam menyediakan sumber daya bagi orang Kristen untuk melayani Allah dalam pekerjaan mereka sehari-hari. Setiap gereja harus memulai dengan orang-orang yang telah diberikan Allah padanya dengan tempat-tempat dan jenis-jenis pekerjaan yang telah menyibukkan hidup mereka. Ini bukan tentang menambah ekspektasi atau kewajiban ekstra pada orang-orang yang sudah kesulitan meluangkan waktu untuk terlibat di gereja. Gereja-gereja ini meneguhkan bahwa mengajar anak-anak sekolah untuk belajar menulis adalah perbuatan saleh, bahwa merapikan tempat tidur dengan sepenuh hati membawa kemuliaan bagi Kristus, dan bahwa mengelola anggaran perusahaan merupakan penatalayanan yang baik atas ciptaan Allah. Gereja-gereja yang memperlengkapi memberi semangat dan bantuan kepada jemaatnya untuk meningkatkan rasa memiliki tujuan baru dalam kehidupan kerja mereka sehari-hari yang sudah ada. Gereja-gereja ini menolong jemaatnya untuk menjaga keutuhan hidup mereka yang penuh tekanan dengan lebih mengintegrasikan iman, pekerjaan, keluarga, dan seluruh aspek kehidupan.

Para anggota Proyek Imagine di Inggris telah menemukan bahwa kebanyakan orang Kristen hanya dapat memberikan waktu tidak lebih dari 10 jam per minggu untuk kegiatan gereja (termasuk untuk ibadah, kelompok kecil dan pelayanan lainnya), kecuali mereka dipekerjakan oleh gereja atau memiliki banyak waktu yang diberikan secara sukarela. Mereka sudah mulai bertanya, “Bagaimana waktu 10 jam ini dapat digunakan dengan sebaik-baiknya untuk memperlengkapi satu sama lain agar dapat hidup dengan baik bagi Kristus, sementara 110 jam lainnya diinvestasikan untuk bekerja, keluarga, dan relaksasi?” dan “Apa yang akan berubah jika kita benar-benar serius dalam memperlengkapi?” Secara khusus mereka bertanya:

  • Apa yang kita doakan ketika kita bersama-sama?

  • Bagaimana kotbah bisa benar-benar menolong kita untuk hidup dengan baik bagi Kristus, di mana pun kita berada?

  • Isu-isu apa yang paling banyak menghabiskan waktu dalam rapat-rapat kepemimpinan?

  • Lagu-lagu apa yang akan dipilih para pemimpin penyembahan?

  • Apa yang akan kita bicarakan dalam kelompok-kelompok kecil?

  • Cerita-cerita apa yang ingin kita dengar ketika kita bersekutu bersama?

  • Kriteria apa yang akan menentukan bahwa kita telah mengalami waktu bersama yang menyenangkan? [1]

Gereja Yang Memperlengkapi Aktif Mencari Contoh-contoh dan Sumber-sumber

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Saat Seperti Ini Besok

Proyek Gereja The Imagine di London mendorong gereja-gereja untuk mengundang orang yang berbeda setiap minggu untuk menjawab tiga pertanyaan TTT (This Time Tomorrow) dalam acara ibadah mereka. Apa yang akan Anda lakukan pada saat seperti ini besok? Peluang atau tantangan apa yang akan Anda hadapi? Bagaimana kami dapat mendoakan Anda? [1]

Para pemimpin dan jemaat bersama-sama berusaha belajar sebanyak mungkin dari contoh-contoh gereja lain yang sudah menjalani proses ini di tempat lain. Mereka aktif mencari sumber-sumber teologis dan praktis yang baik untuk studi dan ibadah pribadi maupun kelompok. Kotak-kotak di samping sepanjang artikel ini menunjukkan berbagai strategi praktis yang telah diadopsi gereja-gereja itu. Semuanya adalah aktivitas-aktivitas yang diharapkan dapat memicu pembaca memikirkan opsi-opsi kreatif di lingkungannya masing-masing.

Dari hasil penelitiannya di sejumlah gereja di Amerika yang telah memulai perjalanan “iman di tempat kerja”, Stuart Dugan menarik empat kesimpulan penting:

  1. Tidak ada satu model tunggal untuk pelayanan dunia kerja yang cocok untuk semua gereja atau komunitas.

  2. Gereja-gereja yang lebih besar dapat menggali lebih banyak sumber internal daripada gereja-gereja yang lebih kecil. Gereja-gereja di komunitas pebisnis memiliki orientasi yang berbeda dari gereja-gereja di kalangan buruh atau petani. Gereja-gereja yang kaya seringkali lebih mampu memberi dampak yang lebih luas daripada gereja-gereja yang jemaatnya berjuang keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

  3. Gereja-gereja yang mengadopsi model gereja lain tanpa mempertimbangkan konteks pelayanannya sendiri, tingkat kedewasaan rohani, atau kebutuhan regionalnya kemungkinan besar akan menjadi frustrasi. Dengan kata lain, gereja mana pun yang ingin memulai perjalanan ini harus menemukan jalannya sendiri dan mengikuti pimpinan Roh di dalam jemaatnya sendiri.

  4. Tidak ada satu model pun yang memadai dengan sendirinya, bahkan di satu jemaat saja.

Gereja-gereja yang berhasil tidak pernah membatasi dirinya dengan satu pendekatan saja. Sebaliknya, mereka menilai, mengevaluasi ulang, menyesuaikan, dan berinovasi untuk mengumpulkan kekuatan dari berbagai macam cara beroperasi, dan mereka selektif dalam mengadopsi yang paling cocok dengan kebutuhan mereka sendiri. Gereja bisa banyak belajar dari semangat kewirausahaan yang cepat beradaptasi dengan situasi pasar yang terus berubah. Sama seperti bisnis-bisnis harus sangat adaptif agar tetap dapat bersaing di pasar yang terus berubah, gereja juga perlu bersikap fleksibel dan sigap agar dapat melayani kebutuhan jemaat dan komunitasnya yang terus berubah dengan sebaik-baiknya.

Salah satu kunci keberhasilan dalam usaha-usaha ini adalah konsep memberi-izin. Orang-orang yang sudah berhasil dalam profesi mereka di luar gereja perlu diberi izin untuk mengalihkan keterampilan, kontak/relasi, dan gairah keterbebanan mereka kepada usaha-usaha yang memajukan Kerajaan. Gereja-gereja yang dipimpin rohaniwan tradisional seringkali memiliki pola pikir bahwa para pendeta mengetahui yang terbaik, dan segala pendekatan dan program yang paling efektif berasal dari seminari-seminari dan penerbit-penerbit Kristen. Tetapi pengalaman mengajarkan pada kita bahwa hal-hal yang jauh lebih besar dapat terjadi dengan memberi izin kepada orang-orang yang telah sukses dalam bisnis untuk sukses dalam pelayanan di luar jemaat.

Di Mana Tempatku Yang Pas dalam Puzzle Allah?

Di mana tempat saya yang pas dalam Puzzle (Gambar Besar) Allah? Gereja Baptis Avonhead di Selandia Baru memiliki banyak siswa sekolah menengah dan mahasiswa universitas yang akan lulus. Mereka mengadakan serangkaian acara Minggu malam dan lokakarya tengah minggu tentang karir dan perencanaan hidup. Mereka mendapati bahwa sejumlah orang paruh baya juga tertarik dan mencari bantuan dalam hal ini. Saat itu mereka melibatkan pembicara dari luar. Tetapi mereka berharap beberapa lulusan kursus ini dapat dilatih untuk mengadakan sendiri bagi orang lain.[2]

Gereja Willow Creek menawarkan lokakarya selama 9 minggu untuk orang-orang yang sedang dalam masa transisi dan mencari arah baru, dan buku Halftime karya Bob Buford juga telah digunakan secara luas di gereja-gereja Amerika untuk orang-orang paruh baya. [3]

Hanya 4 Pertanyaan

Ketika ditanya, “Jika ada satu hal saja yang dapat Anda lakukan untuk mengubah budaya jemaat agar dapat mendukung orang Kristen di tempat kerja, apa yang akan Anda lakukan?” R. Paul Stevens berkata, “Beri saya waktu tiga menit dan empat pertanyaan dalam ibadah setiap hari Minggu selama setahun. Saya akan mengundang orang yang berbeda setiap minggu untuk maju ke depan jemaat dan berkata kepada mereka: 1. Ceritakan tentang pekerjaan yang Anda lakukan. 2. Masalah apa saja yang Anda hadapi dalam pekerjaan Anda? 3. Apakah iman Anda memengaruhi cara Anda menghadapi masalah-masalah ini? 4. Bagaimana Anda ingin kami mendoakan Anda dan pelayanan Anda di tempat kerja? Kemudian kita akan berdoa untuk mereka.”

Masih ada banyak sekali kreativitas yang dapat dimanfaatkan dan model-model inovatif yang bisa dikembangkan yang akan jauh melampaui yang sudah dilakukan saat ini. Jika diberi izin dan dukungan yang memadai, para inovator di bidang pelayanan ‘iman di tempat kerja’ kemungkinan besar akan melakukan yang bahkan tak pernah terbayangkan. Di era teknologi dan dinamika kerja yang terus berubah sekarang ini, termasuk dampak era informasi global, jenis-jenis kebutuhan pelayanan di dunia kerja akan terus berubah dan membutuhkan inovasi baru. Robert Lewis, pendeta lintas-jemaat di gereja Fellowship Bible menyatakan dengan jelas, ‘Di balik struktur Kekristenan Amerika, orang-orang yang merindukan pengalaman pribadi dan langsung menjadi pembuat perubahan, bukan melayani pembuat perubahan. Mereka datang ke gereja untuk dirawat dan ditantang, tetapi harus ada titik tujuan akhir – pelayanan langsung mereka sendiri. Membantu mereka menemukan kesempatan ini seharusnya menjadi hasrat terbesar kita’.[4]

Strategi-strategi yang menolong gereja-gereja menjadi pemerlengkap yang lebih baik perlu dijalankan dengan saksama dalam jangka panjang. Ini membutuhkan perubahan ekspektasi dan budaya jemaat. Spektrum partisipan yang luas dari seluruh gereja diperlukan untuk melakukan sedemikian banyak perubahan secara efektif dan berkelanjutan.

Pendekatan lain dalam menjalankan proses ini telah diadopsi oleh gereja-gereja yang terlibat dalam Proyek Gereja Imagine yang diketuai Neil Hudson untuk London Institute of Contemporary Christianity. Proses yang mereka jalani berputar dan berkelanjutan sementara gereja-gereja didorong untuk meninjau kembali dan memperkuat perubahan-perubahan yang telah dilakukan sebelumnya. Enam langkah yang mereka gambarkan bergerak searah jarum jam di sekitar lingkaran meliputi:

  1. Sampaikan visi – visi untuk menjadi gereja pembuat-murid seluruh-hidup.

  2. Fokus di garis depan – konteks-konteks misi tempat jemaat menghabiskan waktunya di dunia di luar gereja.

  3. Bentuk tim inti – sekelompok orang yang terlibat secara pribadi untuk menyampaikan visi, mendorong inisiatif dan memelopori proses perubahan.

  4. Lakukan perubahan satu derajat – promosikan perubahan-perubahan kecil namun efektif yang berfungsi sebagai tuas yang menguatkan satu sama lain ke arah perubahan budaya yang menyeluruh.

  5. Bagikan cerita-cerita – rayakan tanda-tanda pertumbuhan dan perubahan kecil sehari-hari, dengarkan cerita-cerita yang disampaikan dalam percakapan-percakapan yang dapat dilakukan untuk menyemangati dan memberkati orang lain.

  6. Definisikan ulang komitmen gereja – perubahan fokus ketika para pemimpin dan anggota mulai melihat gereja bukan semata-mata sebagai tempat menerima perawatan pastoral tetapi terutama sebagai tempat untuk mengembangkan kemampuan vokasional. [5]

Gereja Yang Memperlengkapi Menghubungkan Pekerjaan Sehari-hari dengan Ibadah

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Gereja-gereja ini mengubah pendekatan mereka terhadap ibadah. Hubungan antara kerja dan ibadah dijelajahi dalam lagu-lagu yang mereka nyanyikan, doa-doa yang mereka panjatkan, kesaksian yang mereka bagikan, dan tema-tema yang disampaikan dalam kotbah. Gereja-gereja ini telah menyadari bahwa ibadah bukan hanya yang terjadi di gereja. Seperti tertulis dalam Laporan Keuskupan Anglikan Sydney tentang Arti dan Pentingnya Ibadah, “Ibadah adalah respons yang tepat dari seluruh pribadi terhadap penyataan diri Allah dalam Kristus: itulah aktivitas seluruh hidup (Roma 12:1)”.[1] Gereja-gereja ini mendorong jemaatnya mempraktikkan yang diajarkan rasul Paulus ketika ia berkata, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan… Kristus adalah tuan [yang kamu layani]” (Kolose 3:23-24).

Ada banyak cara untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara iman dan kerja dalam acara-acara ibadah bersama kita. Beberapa contohnya adalah:

Kotbah

Steve Graham, pendeta gereja Pentakosta di Christchurch, Selandia Baru, menyampaikan serangkaian kotbah tentang Yusuf. Ia merasa tertantang untuk berusaha lebih keras memahami situasi kerja Yusuf sehari-hari dan menghubungkan pemahaman ini dengan kehidupan kerja jemaatnya. Ia terkejut dengan respons hangat jemaat dan umpan balik yang mereka berikan. Ia meminta beberapa dari mereka untuk menceritakan kisah mereka di gereja. Ia mulai mendapat pertanyaan-pertanyaan tentang masalah-masalah etika lainnya. Maka, ia memutuskan untuk menyampaikan serangkaian kotbah lain berdasarkan Sepuluh Perintah Allah, yang juga dengan penekanan tentang kerja. Umpan balik dan cerita-cerita yang menarik pun berlanjut.[2]

Kotbah dan Pengajaran: Banyak orang Kristen berkata mereka tak bisa mengingat pernah mendengar kotbah atau pelajaran tentang makna kerja dari sudut pandang Allah.[3] Gereja yang memperlengkapi belajar cara mengajarkan dan mengkotbahkan cerita Alkitab dari berbagai segi yang berkaitan dengan kerja.[4] Dalam kotbah-kotbah yang didasarkan pada penyelidikan bagian Alkitab tertentu (kotbah ekspositori), mungkin lebih efektif jika memasukkan tema-tema yang berkaitan dengan kerja dalam kotbah mingguan, daripada menyampaikan satu atau dua kotbah tentang kerja berdasarkan ayat Alkitab yang dipilih secara khusus. Tafsiran Proyek Teologi Kerja yang mengupas setiap kitab dalam Alkitab dapat menjadi sumber yang sangat bermanfaat dalam hal ini.

Bacaan Alkitab: Banyak orang tidak terbiasa mendengarkan tema-tema tentang kerja melalui Bacaan Alkitab. Seringkali akan menolong jika bacaan itu diperkenalkan dengan cara yang lebih eksplisit mengajak anggota jemaat untuk memikirkan segala hal yang berkaitan dengan persoalan hidup dan kerja. Tafsiran yang mengupas setiap kitab dalam Alkitab di https://www.teologikerja.org/ memberikan ide-ide untuk menerapkan ratusan ayat Alkitab tentang kerja dan dapat membantu jemaat untuk belajar mencari tema-tema yang berkaitan dengan kerja di dalam Alkitab.

Renungan Anak

Pendeta mengambil tas besar berisi benda-benda menarik dan mengundang anak-anak untuk maju ke depan dan melihat apa yang ada di dalamnya. Tas itu berisi baju-baju seragam dan barang-barang dari pekerjaan orang sehari-hari. Anak-anak mengenakan seragam-seragam itu dan menebak milik siapa baju seragam itu. Ada sabuk tukang kayu, sekop tukang batu, sepatu bot karet putih besar, komputer jinjing dan kunci Inggris tukang ledeng dan.. Momen paling gaduh adalah saat pendeta menyalakan gergaji mesin. Anak-anak tertawa riuh rendah dan akhirnya berdoa untuk orang-orang dalam pekerjaan mereka.

Kotbah Anak: Ada banyak cara yang bervariasi untuk memasukkan cerita atau pelajaran dengan alat peraga yang berhubungan dengan kerja sebagai bagian dari renungan anak dalam ibadah, seperti yang disarankan di kotak “Children Talk” (Renungan Anak).

Nyanyian rohani dan lagu-lagu kontemporer: Ada banyak nyanyian rohani tradisional yang berbicara tentang aspek-aspek iman yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan kerja, tetapi lagu-lagu kontemporer yang menyuarakan hal ini lebih sulit ditemukan. Sejumlah lagu yang berhubungan dengan kerja dapat ditemukan di materi Proyek Teologi Kerja tentang Ibadah/Penyembahan.

Doa Partisipatif

Ketika jemaat memasuki Gereja Baptis Opawa, mereka menuliskan tiga jenis pekerjaan berbayar dan tidak berbayar yang kemungkinan mereka lakukan dalam minggu itu. Pada waktu persembahan, tulisan-tulisan mereka dipajang dengan tali gantungan di auditorium. Kemudian, pada waktu doa, dua orang berjalan di sepanjang tali sambil membacakan beberapa jenis pekerjaan yang tertulis di situ dan semua orang diundang untuk mempersembahkan pekerjaan mereka bagi Allah.

Doa syafaat: Doa-doa syafaat rutin dapat berisi ungkapan-ungkapan keprihatinan khusus atau yang lebih umum tentang orang-orang yang bekerja dan masalah-masalah yang mereka hadapi.

Liturgi: Ini mencakup bentuk-bentuk ibadah formal maupun informal yang membangun hubungan yang lebih kuat dengan kehidupan sehari-hari di luar gereja dengan memasukkan unsur-unsur (secara lisan maupun dengan memakai simbol-simbol dan gambar-gambar) dari situasi dan masalah jemaat sehari-hari. Salah satu sumber daring tentang liturgi yang berkaitan dengan kerja dapat diperoleh di https://www.ecfvp.org/files/uploads/14MDLResourcesFormaPDF1.pdf.

Perenungan dan Doa

Waktu Merenung (Saat Teduh): Musik mengalun diselingi beberapa pembacaan singkat tentang pekerjaan Allah dan pekerjaan kita. Pada saat yang sama, serangkaian gambar yang menunjukkan berbagai aspek pekerjaan Allah dalam penciptaan dan juga pekerjaan manusia ditayangkan di layar. Saat teduh ini kemudian diakhiri dengan doa tanggapan bersama.

Gambar visual: Di samping gambar-gambar biasa yang dipampang di dekat altar gereja, baik juga jika menampilkan gambar tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari jemaat di dunia sebagai pengingat visual tentang keterlibatan Allah. Gambar-gambar ini memberi undangan lain untuk menghubungkan ibadah dan kerja. Gambar visual ini bisa dalam bentuk peralatan kerja atau patung/pahatan yang berkaitan dengan dunia kerja atau gambar orang-orang di tempat kerja.

Menjembatani Kesenjangan hari Minggu-Senin

Small Boat Big Sea adalah sekelompok orang Kristen di Sydney yang mengadopsi pola untuk kehidupan komunitasnya dengan membicarakan pekerjaan sebagai bagian dari fungsi pengutusan tetap mereka. Seorang pengacara Kristen diundang untuk membicarakan tentang pekerjaannya, apa yang ia sukai, apa yang ia gumuli, dan bagaimana imannya memengaruhi pendekatannya terhadap pekerjaan itu. Jemaat juga mengajukan beberapa pertanyaan lain padanya. Ia kemudian ditanya mau didoakan apa dan komunitas pun lalu mengelilinginya untuk mendoakannya. Setiap minggu orang yang berbeda diundang untuk membicarakan tentang pekerjaan sehari-harinya.[5]

Acara Pengutusan: Banyak gereja bereksperimen dengan berbagai cara untuk mendoakan dan mendukung jemaat dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, sama seperti yang mereka lakukan pada orang-orang yang bekerja di gereja dan bidang-bidang pelayanannya. Terkadang ini bisa berupa upacara pengutusan resmi, tetapi seringkali itu hanya berarti sekadar mengakui dan mendoakan kelompok-kelompok pekerjaan yang berbeda pada beberapa hari Minggu berturut-turut. Namun penting untuk tidak memberi kesan bahwa acara itu hanya versi kelas dua dari upacara pengutusan pendeta atau pengerja gereja. Sebagai contoh, alih-alih “menahbiskan” seseorang untuk “pelayanan” di tempat kerjanya—dengan menggunakan istilah-istilah yang dianggap banyak orang berkaitan dengan pendeta—lebih baik “mengutus” atau “mensahkan” seseorang dalam “pekerjaan” atau “pelayanan” di bidangnya. Apa pun istilah yang digunakan, gereja-gereja yang memperlengkapi memperhatikan pola keseluruhan dari mengakui dan mendukung pekerjaan jemaat. Sebagai contoh, jika jemaat diutus untuk misi jangka pendek, tetapi tidak untuk pekerjaan sehari-hari mereka, hal itu mengirim pesan bahwa misi gereja lebih penting daripada pekerjaan biasa. Atau jika para dokter dan perawat diutus untuk pekerjaan mereka, tetapi pekerja ritel dan ibu rumah tangga tidak, hal itu mengirim pesan bahwa pekerjaan tertentu lebih penting bagi Allah daripada yang lainnya.

Festival Kerja

Di beberapa gereja, acara Festival Panen tradisional telah diubah menjadi festival kerja. Gereja-gereja lainnya memakai Hari Buruh untuk acara ini. Jemaat datang dengan mengenakan pakaian kerja mereka dan membawa barang-barang yang berkaitan dengan pekerjaan mereka untuk diletakkan di depan altar. Puncaknya adalah acara pengutusan yang menyerahkan setiap orang kepada Allah dalam pelayanan kehidupan sehari-hari mereka. Di Bakewell Inggris, festival kerja diadakan selama seminggu dengan melibatkan seluruh kota dalam berbagai pertunjukan dan kegiatan yang ditutup dengan ibadah khusus untuk merayakan dan mengucapkan “Terima kasih” atas berbagai macam pekerjaan di kota itu.[6]

Perayaan: Banyak gereja memakai Festival Panen, Rogation (Doa memohon berkat untuk ladang), Minggu Industri, atau peringatan Hari Buruh untuk merayakan pengalaman di tempat kerja dan mengeksplorasi isu-isu tentang kerja secara kreatif.

Ibadah dan Kelompok Kecil: Survei menunjukkan bahwa meskipun para pendeta berpikir jemaat membicarakan masalah-masalah kerja dalam kelompok kecil, pada kenyataannya mereka jarang melakukannya jika isu-isu ini tidak dimunculkan dalam konteks/pertemuan jemaat.[7] Banyak orang Kristen tidak pernah membicarakan kehidupan kerjanya sehari-hari kepada orang-orang dalam kelompoknya, kecuali saat mereka mengalami krisis di tempat kerja. Ini menunjukkan bahwa isu-isu tentang kerja perlu disebutkan secara eksplisit dalam kotbah, doa, kesaksian dan bagian-bagian penting lainnya dalam ibadah jika mereka ingin memicu percakapan itu di luar waktu ibadah.

Apakah Kelompok Rumahtangga Anda Bekerja?

Di Gereja Baptis Ilam (Christchurch, Selandia Baru), beberapa kelompok rumahtangga memutuskan untuk lebih serius memerhatikan pekerjaan sehari-hari jemaat mereka. Mereka memulai dengan menggunakan bagian pertama acara setiap malam untuk mendengarkan cerita satu orang tentang pekerjaannya termasuk menjelaskan peluang dan tantangan yang dihadapinya dalam bekerja. Jika memungkinkan, mereka memutuskan untuk mengunjungi tempat kerja orang itu. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mengakhirinya dengan mendoakan orang itu dalam pekerjaannya dan juga kebaikan perusahaan serta orang-orang yang bekerja bersamanya.

Ibadah dan Pertumbuhan Rohani: Survei baru-baru ini di Gereja Willow Creek dan beberapa jemaat lainnya menemukan bahwa kehadiran di gereja dan partisipasi dalam program-program gereja tidak berhubungan langsung dengan pertumbuhan rohani kecuali pada pengalaman awal orang percaya menjadi orang Kristen.[8] Pengembangan latihan rohani pribadi merupakan kunci untuk pertumbuhan rohani yang berkelanjutan. Laporan itu menyimpulkan bahwa gereja-gereja perlu beralih dari peran sebagai orang tua rohani yang mendorong kebergantungan pada program-program gereja menjadi pembimbing rohani yang menyediakan sumber-sumber untuk jemaat memberi makan (rohani) diri sendiri. Gereja yang berfokus pada peralihan ini mulai menjajaki metode-metode rohani yang konkret untuk pemuridan seluruh-hidup. Mereka juga memikirkan bagaimana bentuk dan isi pelayanan ibadah mereka perlu diubah.

Pusat Sumber Daya Iman dan Kerja

Sejumlah gereja telah mengadakan pusat-pusat sumber daya iman dan kerja dan laman-laman situs daring. Di salah satu gereja, pusat ini berupa perpustakaan buku-buku bacaan untuk individu dan bahan-bahan studi untuk kelompok kecil, seperti seri DVD 6 minggu Christian Life and Work oleh Mark Greene; Going to Work with God oleh Robert dan Linda Banks (8 sesi); dan Where’s God on Monday? oleh Alistair Mackenzie dan Wayne Kirkland (12 sesi). Sumber-sumber Iman dan Kerja yang dirancang khusus untuk gereja-gereja juga bisa didapatkan di situs daring:

Program Rekan Kerja dan Magang dalam Iman dan Kerja

Beberapa gereja telah mengadakan program-program rekan kerja atau magang selama setahun bagi para lulusan-baru universitas yang berkomitmen mengintegrasikan iman dan kerja. Program rekan kerja membentuk komunitas doa dan penyembahan yang erat di bawah kepemimpinan pendeta lokal dan seorang Kristen di dunia kerja. Mereka mempelajari dasar-dasar biblika dan teologi tentang kerja dan menerapkan pemahaman mereka saat bekerja dalam pekerjaan biasa sehari-hari. Mereka dipasangkan dengan mentor-mentor Kristen di bidang masing-masing.

Beberapa gereja besar telah membuat program-program sendiri, seperti gereja Falls di Alexandria, Virginia, AS, dan gereja Presbiterian Redeemer di New York. Gereja-gereja yang lebih kecil dapat bekerja sama dalam membuat program ini, dan di banyak kota, mereka mendapat bantuan dari The Fellows Initiative, sebuah hasil pengembangan program gereja Falls. Seringkali perguruan tinggi, seminari, atau bidang pelayanan dunia kerja setempat ikut menyumbangkan keahlian dan stabilitas organisasi.

Ibadah dan Etika: Apakah pergi ke gereja mengubah perspektif etika pengunjung gereja rutin? Menurut penelitian yang dilakukan Robin Gill dan lain-lainnya yang telah menguji hasil survei tentang nilai-nilai di Inggris, Eropa, Australia, dan Selandia Baru, jawabannya adalah ya, tetapi dengan catatan. Dengan catatan, karena menurut survei ini, hal ini hanya berlaku untuk beberapa isu moralitas pribadi (khususnya seks, mencuri dan menumpuk kekayaan), dan tidak berkaitan dengan pertimbangan etika yang lebih luas dalam bisnis, lingkungan, dan pemerintah.[9] Pergi ke gereja tampaknya memang bisa membuat perubahan etika, tetapi hanya jika hal itu berkaitan dengan isu-isu yang dibicarakan di gereja secara teratur. Gereja perlu memperluas spektrum isu-isu yang disiapkan untuk disebut penting (ini tidak berarti bahwa banyak waktu ibadah akan dihabiskan untuk membahas isu-isu ini secara rinci, tetapi hanya bahwa isu-isu itu sudah dimasukkan ke dalam agenda). Kita juga bisa mulai menyelidiki dengan lebih saksama dan sengaja kehidupan kerja tokoh-tokoh Alkitab yang menghadapi tantangan etika di tempat kerjanya dan mendorong orang Kristen untuk menghubungkan contoh-contoh ini dengan situasi mereka sendiri.

Berkat

Jemaat di Gereja Baptis Dumfries di Skotlandia berbalik menghadap ke pintu keluar seraya berkata, “Kiranya kasih Allah menopang kami dalam pekerjaan kami, Kiranya terang Yesus menerangi pikiran dan perkataan kami, Kiranya kuasa Roh Kudus memimpin semua pertimbangan kami, Dan kiranya semua yang dilakukan menjadi saksi kehadiran-Mu dalam hidup kami’.

Berkat: Berkat yang berbicara tentang Allah yang mengutus umat-Nya ke dunia untuk membuat perbedaan di sana dapat mengingatkan jemaat bahwa Allah menyertai mereka dalam pekerjaan mereka. Dengan memakai jemaat dengan cara demikian, Allah sedang menggenapi firman-Nya kepada Abraham, “Oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 22:18).

Gereja Yang Memperlengkapi Menanggapi Peluang dan Tantangan Yang Dihadapi Jemaatnya di Tempat Kerja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Sarapan Iman di Tempat Kerja

Sebulan sekali, mereka berkumpul di sebuah tempat di pusat kota Christchurch, Selandia Baru. Mereka membayar $10,00 di pintu masuk dan memilih sarapan yang mereka inginkan. Saat itu pukul 7.00 pagi. Selama 20 menit pertama terdengar percakapan yang riuh dan hidup. Pada pukul 7.20, setiap kali, orang yang berbeda dari kelompok itu diundang untuk berbagi cerita tentang iman dan pekerjaannya. Tujuannya adalah untuk tetap jujur, sederhana, dan memahami sekilas gambaran tentang pemuridan sehari-hari, bukan berfokus pada kisah-kisah yang lebih dramatis dari pembicara profesional. Ada juga waktu untuk bertanya. Kadang diadakan pembahasan tentang studi kasus. Acara formal diakhiri pukul 8.00 pagi. Banyak kota-kota di seluruh dunia telah mengadakan acara serupa.

Gereja-gereja ini membantu jemaatnya menemukan cara-cara baru dalam merawat dan mengamalkan iman mereka dalam kehidupan kerja sehari-hari. Ini berarti membantu menyediakan bahan-bahan bacaan Alkitab dan doa bagi jemaat untuk mendorong disiplin rohani pribadi, dan juga bacaan-bacaan lain yang direkomendasikan atau rekaman audio atau video yang membahas isu-isu tentang kerja. Ini juga bisa berarti mendorong jemaat untuk terlibat dalam kelompok-kecil doa, bimbingan pribadi, kelompok teman sejawat, atau seminar-seminar tentang kerja. Terkadang pendekatan ini diadakan dalam kemitraan dengan gereja-gereja atau lembaga pelayanan lain.

Topik-topik dan isu-isu apa yang perlu dibahas?

Para anggota Proyek Teologi Kerja memutuskan ada tiga jenis sumber daya yang sangat dibutuhkan. Sumber-sumber daya ini adalah: tafsiran setiap kitab dalam Alkitab yang dikupas dari perspektif dunia kerja, pernyataan sederhana tentang keyakinan pokok yang membantu membangun teologi kerja yang sehat, dan eksplorasi isu-isu penting tentang kerja dari perspektif biblika dan teologi dalam format yang mudah dibaca. Semua ini sekarang sudah tersedia secara cuma-cuma di situs daring Teologi Kerja.

Modul Pendidikan Orang Dewasa

Gereja Presbiterian Redeemer di New York mengadakan kelas-kelas reguler yang masing-masing berlangsung selama 5 minggu untuk membahas isu-isu tentang iman dan kerja. Seri modulnya meliputi Mengapa Bekerja? Teologi Kerja, Pengambilan Keputusan Vokasional, Kepemimpinan, Kerja dan Pembaruan Budaya, dan Etika.

Tetapi seperti apakah kurikulum dasar untuk gereja itu?

Jelaslah bahwa tidak semua orang mulai mengeksplorasi masalah-masalah iman dan kerja karena alasan yang sama. David Miller mengidentifikasi empat pintu yang berbeda yang dilalui orang untuk menjelajahi integrasi iman dan kerja: Penginjilan, Etika, Pengalaman (integrasi kehidupan yang terkotak-kotak), dan Pengayaan (spiritualitas sehari-hari yang lebih kaya). Miller menggambarkannya sebagai empat kuadran yang disebutnya “Kotak Integrasi”. Satu kuadran bisa berupa keprihatinan awal yang membuat orang memulai proses mencari integrasi iman dan kerja yang lebih holistik, tetapi mereka juga bisa melanjutkan dengan menjelajahi dimensi-dimensi integrasi lainnya dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, gereja-gereja yang ingin mendukung orang Kristen di tempat kerja perlu menyadari bahwa pendekatan yang berbeda diperlukan untuk terhubung dengan kebutuhan jemaat di titik awal yang berbeda. Selain itu, pendekatan holistik mungkin seharusnya mencakup keempat dimensi ini.[1]

Beberapa topik yang patut dipikirkan dalam kotbah, pengajaran, seminar, dan kelompok diskusi adalah:

  • Pekerjaan Anda penting bagi Allah. Pekerjaan Allah dan pekerjaan kita dalam Alkitab. Pengantar teologi kerja. (Lihat Dasar-dasar Teologis Proyek Teologi Kerja).

  • Apa yang sedang dikerjakan Allah di dunia ini? Pengantar teologi misi dan pelayanan, khususnya yang berkaitan dengan dunia kerja. (Seperti yang telah kita bahas di bagian pembukaan tulisan ini).

  • Apakah Allah memanggil orang Kristen untuk bekerja di luar gereja dan lembaga Kristen? Teologi panggilan dan vokasi yang terkait dengan pekerjaan seluruh umat Allah, di dalam maupun di luar gereja. (Lihat Tinjauan Umum tentang Panggilan)

  • Bagaimana saya menemukan tempat yang pas untuk saya? Eksplorasi praktis tentang arti panggilan dan vokasi khususnya bagi individu-individu, termasuk proses-proses praktis untuk memperjelas karunia-karunia dan nilai-nilai serta mngenali pimpinan Allah. (Lihat Tinjauan Umum tentang Panggilan)

  • Bagaimana dengan doa “di jalur cepat” (dalam kehidupan yang sibuk dan terburu-buru-Pen)? Mengeksplorasi berbagai pemahaman dan praktik untuk mengembangkan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.[2]

  • Bagaimana saya dapat membagikan iman di tempat kerja? Menyediakan sumber daya bagi umat Allah untuk penginjilan di tempat kerja. (Lihat Penginjilan dan Kerja)

  • Etika di dunia kerja – teori dan studi kasus. (Lihat Etika Kerja)

  • Mengatur tuntutan waktu yang saling bersaing: keluarga, pekerjaan, gereja, komunitas, dan relaksasi. Seperti apakah pemuridan seluruh-hidup yang sehat itu? (Lihat Istirahat dan Kerja)

  • Pekerjaan bidang bisnis. Model-model bisnis dan wirausaha orang Kristen. Bisnis sebagai misi dan contoh-contoh misi di dunia kerja.

  • Bagaimana seharusnya kita bekerja sebagai orang Kristen. (Lihat Bagaimana Seharusnya Kita Bekerja sebagai Orang Kristen)

  • Pekerjaan para pekerja seni/seniman.

  • Transformasi budaya dan sosial. Pelayanan dunia kerja dan transformasi budaya. (Lihat James Davison Hunter, To Change the World, [3] Tim Keller, Center Church,[4] dan Andy Crouch, Culture Making.[5])

  • Kepemimpinan Kristen di dunia kerja dan dunia.

Kontak, Nasihat, dan Apresiasi bagi Pencari Kerja

Crossroads Career Network adalah badan pelayanan nirlaba di Gereja Perimeter, Atlanta, AS, yang berusaha memberikan kontak/relasi, nasihat, dan dorongan semangat untuk membantu orang menemukan pekerjaan, karir, atau panggilannya. Perimeter’s Crossroads Career Ministry mengadakan pertemuan karir bulanan yang menjadi dasar-dasar untuk dukungan dan pertumbuhan rohani. Setiap pertemuan berisi presentasi singkat oleh pembicara tamu atau pakar dari komunitas bisnis. Peserta mendapatkan wawasan dan petunjuk dari yang diajarkan Alkitab tentang pekerjaan dan pemeliharaan Allah. Tidak dipungut biaya untuk hadir.

Presentasi Video Kreatif

Untuk memperkenalkan tema kerja pada sekelompok anak muda, cuplikan video lucu namun menyadarkan tentang kondisi kerja yang menyesakkan dari film Modern Times Charlie Chaplin ditayangkan, diselingi foto-foto digital para anggota kelompok pemuda di tempat kerja mereka. Lagu rock ‘We gotta get out of this place’ oleh The Animals diputar pada saat yang sama. Setiap kali sampai pada refrain lagu itu, gambar-gambar ditimpa suara ‘We gotta get out of this place’ (Kami ingin keluar dari tempat ini) sampai baris terakhir saat kata-kata berikutnya ditambahkan ‘Or do we?’ (Benarkah begitu?). Acara dilanjutkan dengan presentasi tentang iman di tempat kerja.

Bagi Eugene Peterson, tantangannya terletak pada peneguhan pentingnya pelayanan sehari-hari seluruh umat Allah:

Salah satu frasa paling merusak jiwa yang telah memasuki perbendaharaan kata orang Kristen adalah "pekerjaan Kristen penuh-waktu". Setiap kali frasa itu digunakan, ia menimbulkan kesalahpahaman yang merusak antara cara kita berdoa dan cara kita bekerja, antara cara kita beribadah dan cara kita mencari nafkah.... Sebagian besar perkataan dan tindakan Yesus terjadi di dunia kerja sekuler — di ladang petani, di perahu nelayan, di pesta pernikahan, di pemakaman, di sumur umum tempat Dia meminta minum kepada seorang perempuan yang tidak dikenal, di lereng bukit pedesaan yang Dia ubah menjadi tempat piknik besar, di ruang sidang, di rumah-rumah tempat Dia makan bersama para kenalan atau sahabat.... Dua puluh tujuh kali di dalam Injil Yohanes, Yesus diidentifikasi sebagai seorang Pekerja: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga." (Yohanes 5:17). Pekerjaan tidak menjauhkan kita dari Allah, tetapi melanjutkan pekerjaan Allah. Allah hadir di halaman pertama Kitab Suci kita sebagai Pekerja. Begitu kita mengenali Allah yang bekerja di tempat kerja-Nya, tak lama kita pun akan menemukan diri kita bekerja di tempat kerja kita dalam nama Allah.[6]

Setiap gereja perlu mengidentifikasi berbagai peluang dan tantangan tertentu yang dihadapi jemaatnya di tempat kerja. Apakah jemaat bekerja sebagai profesional, manajer, buruh, teknisi, pegawai negeri, guru, atau petugas layanan? Peluang dan tantangan sangat bervariasi di dalam berbagai jenis pekerjaan ini. Apakah pekerjaan jemaat memperoleh status, gaji, kesempatan, kekuasaan, keamanan, dan mobilitas yang tinggi, atau rendah? Initiatives–publikasi daring triwulanan dari National Center for the Laity di AS (https://catholiclabor.org/library/national-center-for-the-laity/)– dalam setiap terbitannya menjelaskan secara rinci cara-cara gereja lokal mengidentifikasi dan menanggapi situasi-situasi kerja tertentu yang dihadapi jemaatnya. Ini bisa menjadi sumber daya bagi gereja-gereja yang mencari contoh-contoh.

Gereja Yang Memperlengkapi Menginvestasikan Sumber Daya untuk Memperlengkapi Jemaat dalam Pekerjaan Sehari-hari

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Kelompok-kelompok Profesional

Di Gereja Redeemer di New York, sedikitnya ada 18 kelompok profesional utama, seperti Seni, Pendidikan, Wirausaha, Keuangan, Hukum, Teknik Informasi, Pemasaran, dll. (ditambah berbagai sub-sub kelompok lainnya) yang para anggotanya bertemu sebulan sekali, biasanya di sekitar waktu makan dan kemudian dilanjutkan dalam kelompok-kelompok kecil, dengan tujuan “memperlengkapi, menghubungkan, dan memobilisasi para profesional ke arah transformasi yang berpusat pada Injil untuk kebaikan bersama”. Gereja Redeemer juga mengadakan program magang Gotham Fellowship selama 9 bulan yang didasarkan pada bacaan-bacaan, diskusi, dan seminar-seminar yang ditetapkan untuk mendorong pertumbuhan rohani dan refleksi sistematis sementara para pemagang terus bekerja. Gereja Redeemer juga mengadakan kompetisi tahunan untuk para wirausahawan.[1]

Gereja-gereja yang lebih kecil bisa bekerja sama, mungkin dalam kemitraan dengan seminari atau lembaga lain, untuk membentuk kelompok pekerja yang lebih besar agar banyak pekerjaan bisa memiliki kelompoknya sendiri.

Memperlengkapi anggota gereja secara efektif untuk kehidupan dan pekerjaan sehari-hari memerlukan investasi dana dan waktu staf yang signifikan. Ini bisa berarti mengalokasi-ulang sumber-sumber daya untuk mendukung pelayanan kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Di gereja-gereja yang paling maju dalam memperlengkapi, hal ini sudah menjadi pos anggaran khusus. Ini merupakan ujian yang wajar tentang seberapa serius tantangan itu ditanggapi. Gereja-gereja yang melakukan investasi itu menyadari bahwa kehidupan dan pekerjaan sehari-hari adalah tempat iman ditunjukkan di depan mata dunia dan tempat masa depan gereja ditentukan.

Gereja Yang Memperlengkapi Menciptakan Struktur-struktur Yang Menopang Pelayanan Ini

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Pendekatan Gereja Superbesar

Gereja Komunitas Saddleback menyediakan sumber daya setiap minggu untuk kelompok-kelompok kecil yang melayani sekitar 4000 orang Kristen yang bertemu secara teratur untuk membahas perspektif biblika tentang masalah-masalah iman dan kerja. Ini di luar ratusan kelompok rumah tangga reguler di Saddleback. Satu anggota gereja dikontrak sebagai tenaga paruh-waktu untuk menyiapkan pelaksanaan studi kelompok-kelompok ini. Tugasnya juga termasuk mengelola situs daring dan mengirimkan email Workplace Wisdom setiap minggu untuk memberi semangat dan mendorong refleksi.[1]

Memperlengkapi jemaat adalah usaha yang rumit. Struktur bisa membantu melancarkan namun bisa juga menghambat pelayanan. Hal yang menolong generasi pertama sering menjadi penghambat bagi generasi berikutnya, karena energi akhirnya dicurahkan untuk melayani dan mendukung struktur, namun tidak selalu melayani fungsi yang dimaksudkan semula. Bentuk harus selalu mengikuti fungsi dan bukan sebaliknya. Impian yang melahirkan suatu struktur perlu ditinjau ulang secara berkala untuk melihat apakah visi itu masih terus dikejar atau sudah hilang atau menyimpang.

Pada saat yang sama, segala usaha yang berhasil dalam pelayanan atau misi juga membutuhkan struktur untuk menjaga dan memfasilitasi kesinambungannya. Mungkin contoh paling rumit dari hal ini – dalam konteks gereja yang terlibat dalam pelayanan di tempat kerja - adalah struktur yang dikembangkan Katherine Leary Alsdorf dan timnya (yang sekarang dipimpin David Kim) di Gereja Presbiterian Redeemer di New York. Pusat Iman dan Kerja mereka meliputi satu tim anggota staf yang masing-masing mengepalai bidang-bidang pelayanan yang berbeda seperti bidang pelayanan Seni, Inisiatif Kewirausahaan, dan program magang Gotham Fellowship. Staf ini juga membawahi kepemimpinan delapan belas Kelompok Vokasional yang berbeda, yang masing-masing juga meliputi beberapa subkelompok. Beberapa gereja lain juga memiliki staf yang spesialisasinya menyediakan sumber daya dan mendukung orang-orang yang menganggur atau sedang mencari pekerjaan.

Tantangan bagi gereja-gereja yang baru memulai perjalanan ini adalah menentukan unsur-unsur struktural yang penting untuk memulai. Proyek Gereja Imagine menyarankan untuk memulai dengan formasi tim inti. Struktur ini membantu menjaga kesinambungan dan mempertahankan pendanaan serta sumber daya lain yang memadai. Tetapi, struktur ini juga lama-lama dapat mengikis vitalitas dan visi program-program dunia kerja gereja jika menjadi terlalu birokratis. Tantangannya adalah membentuk pusat yang dilembagakan sambil tetap menjaga fleksibilitas untuk melibatkan generasi yang lebih muda dalam membangun pelayanan-pelayanan mereka sendiri.

Gereja Yang Memperlengkapi Memberdayakan dan Bekerja Sama dengan Orang-orang di Jemaatnya dalam Mengadakan Pelayanan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Kunjungan ke Tempat Kerja

Pendeta Gereja Baptis Inggris David Coffey berkata, “Selama saya menjadi Pendeta, saya membuat kebiasaan rutin untuk mengunjungi anggota gereja di tempat kerja mereka, kapan saja dirasa tepat. Saya pernah duduk bersama pengacara pembela di ruang sidang; saya pernah menyaksikan petani membantu kelahiran anak sapi; saya pernah menghabiskan waktu bersama konsultan kanker di rumah sakitnya; saya pernah mengamati aktivitas di pabrik kimia dan duduk di kantor manajer yang mengelola toko buku besar. Saya pernah naik tank (kendaraan lapis baja) dan menghabiskan waktu bersama beberapa perwira militer senior; saya pernah berbagi suka dan duka tentang hidup berkeluarga bersama para ibu rumah tangga; saya pernah mengunjungi asrama tunawisma di London dan berkeliling penjara wilayah bersama seorang Gubernur. Tujuan dari kunjungan-kunjungan ini terutama adalah untuk mendorong dan memuridkan anggota gereja di tempat Allah memanggil mereka menjadi pekerja.’[2]

Ahli Alkitab Dale Bruner melaporkan, “Pengkotbah Presbiterian yang dihormati, George Buttrick, berkata di kelas pelatihan kotbah bahwa alasannya mendedikasikan sebagian besar minggu kerjanya untuk mengunjungi jemaatnya di rumah-rumah dan kantor-kantor mereka di pusat kota New York adalah sebuah ayat dari Injil Yohanes yang mengatakan: “Domba-domba tidak akan mendengarkan suara orang asing” (Yohanes 10:4-5). Saya percaya bahwa sebagian besar efektivitas Dr. Buttrick sebagai pengkotbah adalah kepedulian dan waktu kebersamaannya dengan jemaatnya ini.”.[3]

Apa Yang Seharusnya Dilakukan Para Pemimpin Gereja?

Seorang pengusaha Australia yang sangat terkemuka berkata dalam pidato sambutannya di sebuah acara makan makan yang menghormatinya sebagai penerima penghargaan atas integritas dalam kehidupan masyarakat dan kerja, bahwa meskipun ia telah sepuluh tahun menjadi pengurus gereja Anglikan, sebagai pendukung dan orang kepercayaan pendeta yang ditahbiskan, namun tidak sekali pun selama sepuluh tahun itu pendeta itu menanyakan tentang pekerjaannya atau bagaimana ia mengungkapkan imannya di tempat kerja.[7]

Para pemimpin gereja yang memperlengkapi sudah mulai memikirkan tentang misi Allah yang utuh dan juga pertumbuhan gereja. Mereka memikirkan bagaimana mereka dapat menolong meningkatkan pelayanan dan misi sehari-hari jemaatnya di dunia maupun melalui program-program dan pelayanan di gereja. Mereka memikirkan apa yang dilakukan jemaatnya sepanjang waktu dan bukan hanya pada waktu senggang. Mereka juga menyadari keterbatasan mereka sendiri dan merekrut para pemimpin awam untuk memimpin pelayanan-pelayanan di tempat kerja.

Sangat mudah untuk menyalahkan para pemimpin gereja atas kegagalan gereja menyediakan sumber daya bagi jemaat agar mereka dapat lebih baik dalam pelayanan hidup sehari-hari. Tetapi, para pemimpin hanya bisa disalahkan sebagian. Bagi banyak anggota gereja, menyerahkan tanggung jawab pelayanan kepada para profesional dan menghindari untuk menerima tanggung jawab pribadi adalah hal yang melegakan. Padahal visi gereja yang memperlengkapi adalah seluruh gereja mengambil tanggung jawab. Di banyak gereja yang sudah memulai gerakan memperlengkapi, tindakan itu adalah hasil level baru dari percakapan dan kemitraan para pemimpin gereja dengan anggota jemaat akar rumput. Terkadang hal ini terbantu dari masukan para narasumber yang terlibat dalam pelayanan iman dan kerja di gereja atau tempat lain. Gerakan ini kadang dilakukan secara langsung dan kadang melalui buku, video, atau materi daring. Agar inisiatif ini dapat berkelanjutan, diperlukan pemaparan visi dari atas, energi dan semangat yang menyala-nyala dari anggota akar rumput, dan sumber daya dari luar.

Banyak pendeta menyadari perlunya memberdayakan setiap orang percaya dalam pelayanan hidup sehari-hari, tetapi mereka menghadapi berbagai hambatan ketika mencoba memenuhi kebutuhan ini. Laporan Dwight Dubois, Equipping Pastors Conversations, membahas berbagai kesulitan yang dihadapi para pendeta. Lihat atau unduh laporan lengkapnya: Equipping Pastors Conversations (PDF).

Jika pemerlengkapan harus ditanamkan sebagai prioritas dalam kehidupan jemaat, kepemimpinan pastoral dan bagaimana pelaksanaannya sangatlah penting, meskipun sulit untuk menguraikan seperti apa kepemimpinan itu. David Miller mengidentifikasi lima faktor yang terkait dengan aspek-aspek inti pelayanan pastoral secara umum, yang menurutnya perlu diterapkan secara lebih spesifik untuk dunia kerja oleh para pemimpin gereja. Aspek-aspek inti ini meliputi:

  • Pelayanan kehadiran atau mendengarkan di lingkup pekerjaan, dengan mengunjungi jemaat di tempat kerja mereka

  • Pelayanan kotbah dan doa yang secara intensional dan konstruktif membahas masalah-masalah iman dan kerja

  • Pelayanan pengajaran yang dirancang untuk membahas masalah-masalah iman dan kerja, dan juga memanfaatkan pengalaman dan keahlian anggota gereja lain sebagai masukan

  • Pelayanan integrasi pribadi yang memastikan jemaat dilatih untuk menggunakan doa dan studi perenungan pribadi dalam kehidupan sehari-hari mereka

  • Pelayanan pertemuan jemaat pebisnis, mungkin dalam kemitraan dengan lembaga pelayanan dunia kerja lainnya [1]

Miller berkata, “hasil riset saya menemukan bahwa kelompok-kelompok yang dipimpin dan didirikan orang awam biasanya lebih efektif dalam memahami dan memenuhi kebutuhan integrasi dunia kerja’.[4] William Diehl mengatakan hal serupa:

Kunci untuk membawa dunia kerja ke tempat ibadah adalah pendeta. Jika ia harus memegang kendali ketat atas segala sesuatu, hal itu tidak akan terjadi. Ada dua alasan mengapa pendeta tidak boleh mencoba mengendalikan sepenuhnya: sangat sedikit pendeta yang memiliki pengetahuan luas tentang isu-isu dunia kerja untuk dapat merancang program-program pendidikan yang relevan; dan kedua, kepemimpinan awam harus dilibatkan dalam perencanaan maupun pelaksanaan program-program agar mereka memiliki kredibilitas di mata jemaat lainnya.[5]

Robert Banks juga sangat menganjurkan keterlibatan orang Kristen “biasa” jika ingin mengembangkan teologi kehidupan sehari-hari yang bermanfaat, karena:

  • Orang Kristen biasa dapat mengidentifikasi masalah mereka sehari-hari dengan sangat baik.

  • Orang Kristen biasa sudah memiliki beberapa unsur teologi kehidupan sehari-hari.

  • Teologi kehidupan sehari-hari adalah usaha yang koperatif antara orang Kristen biasa dan teolog profesional.

  • Teologi kehidupan sehari-hari yang dapat diterapkan memerlukan uji coba praktis oleh orang-orang Kristen biasa.

  • Hanya teologi yang ditempa dalam kerasnya dinamika kehidupan sehari-hari yang akan memiliki vitalitas dan relevansi.[6]

Pengusaha Kent Humphries, ketika ia menjadi Presiden Fellowship of Companies for Christ International, menekankan peran penting yang harus dilakukan para pendeta sebagai pemerlengkap dan mentor dalam pelayanan di dunia kerja.[8] Jelas bahwa banyak pendeta merasa tidak terhubung dengan dunia kerja masa kini dan merasa tidak mampu untuk tugas itu. Beberapa merasa terancam dengan antusiasme dan mimpi-mimpi besar para wirausahawan di dunia kerja. Tetapi pesan yang jelas adalah bahwa para pendeta memiliki peran yang sangat penting untuk dilakukan—bukan dengan berpura-pura sebagai ahli, atau sebagai pengendali, melainkan sebagai penyemangat dan pendukung.

Memulai proses kemitraan antara pendeta dan jemaat yang bekerja membutuhkan banyak waktu, banyak percakapan, dan banyak kolaborasi. Kemitraan semacam ini juga memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi seluruh gereja yang dimobilisasi dan didukung oleh misi dan pelayanan sepanjang waktu. Debra Meyerson menjelaskan jenis kepemimpinan yang terlibat dalam penjelasannya tentang para pengubah budaya terbaik:

Mereka tidak membawa panji-panji; mereka tidak meniup terompet. Tujuan mereka besar-besaran, tetapi cara mereka biasa-biasa saja. Mereka teguh dalam komitmen mereka, namun fleksibel dalam cara-cara memenuhinya. Tindakan mereka mungkin kecil tetapi dapat menyebar seperti virus. Mereka mendambakan perubahan cepat tetapi percaya pada kesabaran. Mereka sering bekerja secara individu, tetapi menyatukan orang-orang. Alih-alih memaksakan keras-keras agenda mereka, mereka mengadakan percakapan-percakapan. Alih-alih memerangi musuh-musuh yang kuat, mereka mencari teman-teman yang kuat. Dan dalam menghadapi kemunduran, mereka terus bergerak maju.[9]

Gereja Yang Memperlengkapi Melepas dan Mendukung Jemaatnya untuk Bekerja di Luar Gereja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
God@Work Group (Kelompok Allah di Tempat Kerja)

Kelompok kecil di Gereja Baptis Opawa ini bertemu sebulan sekali dan mengikuti format tiga-bagian yang ditetapkan, yang disebut “The Three Dwellings” (Tiga ‘Tinggal Tetap’). Setiap bagian didelegasikan untuk dipimpin orang yang berbeda setiap pagi.

1. Tinggal tetap dalam Firman

Pilihlah ayat Alkitab yang relevan dengan dunia kerja. Kelompok mendengarkan ayat itu dibacakan dan berhenti untuk merenungkan dalam keheningan apa yang dikatakan Firman itu kepada mereka. Setelah itu setiap anggota kelompok mengungkapkan respons mereka secara bergiliran sebelum merenungkan bersama-sama tentang yang mereka dengar.

2. Tinggal tetap dalam Kerja

Pilihlah sebuah studi kasus dari pengalaman kerja Anda. Kelompok mendengarkan pengalaman itu disampaikan. Setiap orang diundang untuk memikirkan respons mereka dalam keheningan dan kemudian membagikan respons itu kepada kelompok. Mereka terutama berkonsentrasi untuk menjawab dua pertanyaan:

Apa yang menurut Anda paling terlihat penting dalam situasi itu?

Pertanyaan apa yang dimunculkan hal ini pada diri Anda?

Semua orang memberikan masukannya sebelum ada diskusi apa pun.

3. Tinggal tetap dalam Tindakan

Pilihlah tindakan tertentu yang Anda dapati berguna dan/atau bisa menolong kelompok. Anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka melihat implikasi-implikasi tindakan ini pada mereka. Acara kelompok diakhiri dengan para anggota saling mengungkapkan kebutuhan dan saling memberi dukungan dan doa kepada satu sama lain.

Gereja-gereja yang memperlengkapi mendorong jemaatnya untuk membangun relasi-relasi dengan orang Kristen maupun orang non-Kristen di dunia kerja. Mereka menyadari bahwa ini bisa berarti sebagian jemaat memiliki lebih sedikit waktu untuk berperan di gereja. Mereka menepis kekhawatiran bahwa menekankan pentingnya pelayanan kehidupan sehari-hari dapat mengurangi perekrutan jemaat untuk fungsi-fungsi kepemimpinan gereja yang penting lainnya. Mereka percaya bahwa jemaat akan lebih berkomitmen untuk mendukung gereja yang meletakkan di depan mereka visi besar dan menarik tentang Allah yang bekerja di dunia mereka dan membantu mereka mengenali bagian mereka dalam hal ini serta menyediakan sumber daya untuk mereka melakukannya. Seperti dikatakan Miroslav Volf, “Kita perlu membangun dan memperkuat komunitas-komunitas yang dewasa dalam visi dan karakter yang merayakan iman sebagai cara hidup ketika mereka berkumpul di hadapan Allah untuk beribadah, dan yang diutus Allah untuk menghidupinya ketika mereka menyebar untuk melakukan berbagai pekerjaan di dunia.’[1]

Gereja Yang Memperlengkapi Mendorong Semua Orang untuk Mengambil Tanggung Jawab

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Kelompok Teman Sejawat

Bentuklah kelompok-kelompok kecil dari orang-orang yang memiliki pekerjaan yang sama (misalnya kelompok arsitek, ibu-ibu rumahtangga, guru-guru, atau direktur-direktur keuangan) yang mau berbagi tentang yang terjadi dalam pekerjaannya dan mencari tuntunan dari perspektif Kristen. Tujuannya adalah agar para anggota menyadari bahwa mereka memiliki cukup banyak kesamaan untuk benar-benar dapat saling membantu dalam meningkatkan kemampuan di bidang pekerjaan mereka. Mereka bertemu selama 4-5 jam sebulan sekali, termasuk untuk makan malam. Setiap bulan, dua orang menceritakan situasi dalam pekerjaan mereka, dan anggota lainnya meminta penjelasan dan mengajukan pertanyaan. Setelah itu mereka bertanya, Apakah hal ini mengingatkan sesuatu dari Alkitab? Selain itu, pembacaan Alkitab atau ayat-ayat yang terkait dengan pekerjaan, doa, dan berbagi cerita pribadi dapat dilakukan. Kelompok-kelompok seperti ini sudah dikembangkan oleh C12, Gereja Presbiterian Redeemer (NYC), dan lain-lainnya.

Artikel ini disusun oleh gabungan para pendeta dan orang-orang di dunia kerja dan ibu rumah tangga. Kami sangat menyadari bahwa meskipun kami berusaha menjalani hidup yang lebih utuh yang mengintegrasikan iman dan pekerjaan sehari-hari dengan lebih baik, kami masih bersalah karena menjalani hidup yang tidak terintegrasi yang menonjolkan kesenjangan antara hari Minggu dan hari Senin dalam banyak hal. Kami belum berbuat sebanyak yang kami mampu untuk menjembatani kesenjangan antara para pendeta dan orang-orang Kristen di tempat kerja agar kami dapat mengeksplorasi dan mengekspresikan iman bersama-sama dan bukan terisolasi di dunia tersendiri. Kami belum berbuat cukup untuk menginisiasi dialog yang mengubah energi yang sekarang ini terbuang karena frustrasi di tempat kerja menjadi energi yang mampu mengubah lingkungan-lingkungan kerja. Kami juga belum berbuat cukup untuk mengubah energi yang terkuras oleh frustrasi di dalam gereja menjadi gerakan positif ke arah misi yang lebih efektif. Kita berada pada tim yang sama, tetapi kita hanya akan menjadi efektif ketika kita belajar dari satu sama lain. Kita harus saling mengedukasi dan diedukasi oleh satu sama lain dengan sikap yang rendah hati.

Miliaran orang pergi bekerja setiap hari untuk mencari nafkah. Kebanyakan pengunjung gereja adalah bagian dari tenaga kerja itu, tetapi banyak yang tidak menjalankan panggilannya. Mereka tidak menggunakan secara efektif karunia-karunia dan panggilan yang Allah berikan kepada mereka untuk mengubah lingkungan kerja mereka menjadi tempat Allah dapat bergerak bebas dan mengubah hidup. Tantangan yang dihadapi gereja masa kini adalah memperlengkapi, mendorong, dan memampukan orang Kristen di dunia kerja untuk menghidupi panggilan itu secara efektif. Orang Kristen di dunia kerja ingin mengubah dunia mereka dan terlibat dalam rencana Allah untuk melakukannya. Mereka ingin para pendeta mereka menjadi bagian yang menyatu dengan yang Allah ingin lakukan di tempat kerja mereka. Namun, sebelum orang Kristen di dunia kerja dan para pendeta bergerak proaktif bersama-sama untuk menjembatani kesenjangan saat ini antara gereja pada hari Minggu dan pekerjaan pada hari Senin, kesenjangan ini akan tetap ada. Budaya-budaya yang direpresentasikan dalam Alkitab (dan di berbagai tempat lain di seluruh dunia) memandang manusia secara lebih holistik sebagai gabungan tubuh, jiwa, dan roh dengan seluruh aktivitas kehidupan sebagai hal yang kudus. Pandangan bahwa seseorang bisa berpindah dari aktivitas atau lingkungan yang kudus menjadi tidak kudus tidak dikenal dalam kelompok-kelompok ini. Kita perlu belajar dari Alkitab dan budaya-budaya yang lebih holistik tentang cara menjalani kehidupan yang utuh. Kita perlu mengakui bahwa kita masih perlu banyak belajar tentang kehidupan yang utuh. Kita tidak dapat mengharapkan orang lain melakukan hal ini untuk kita. Kita sendiri yang harus mengambil tanggung jawab. Kita dapat saling mendukung dan berusaha dengan lebih baik untuk mulai mengubah lingkungan di bidang pengaruh kita masing-masing.[1]

Gereja Yang Memperlengkapi Memasukkan Pekerjaan Sehari-hari Sebagai Bagian dari Pelayanan-Pelayanan Belas Kasihan/Penjangkauan/Bantuan Praktis

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
JustWork (Inkubator Bisnis)

Satu contoh gereja yang menciptakan program pengembangan ekonomi masyarakat adalah gereja Baptis Grandview Calvary (GCBC) di Vancouver, British Columbia, Kanada. Di awal tahun 2000-an, GCBC mulai berdoa dan bertanya pada Allah bagaimana mereka dapat melayani masyarakat di sekitarnya dengan sebaik-baiknya. Gereja itu menyadari bahwa orang-orang yang menganggur di sekitar mereka adalah orang-orang yang memiliki pendidikan dan keterampilan, tetapi mengalami kesulitan untuk menemukan atau melakukan pekerjaan sepenuh waktu.

Gereja itu lalu mengajak David Holcomb, seorang wirausahawan dengan latar belakang bisnis dan pengembangan masyarakat untuk membuat JustWork, sebuah inkubator bisnis. Tujuannya adalah untuk menciptakan bisnis-bisnis yang menghasilkan pendapatan yang dapat memberikan pekerjaan yang berarti dan bermartabat bagi orang-orang yang menghadapi hambatan dalam bekerja. Sampai tahun 2013, JustWork telah membuat tiga inkubator bisnis seperti: JustRenos, perusahaan renovasi; JustCatering, jasa katering untuk acara-acara rapat, konferensi, pernikahan, pesta, dll.; dan JustPotters, yang menjual tembikar buatan tangan ke seluruh Amerika Utara. Pada akhir tahun 2013, ketiga perusahaan JustWork mempekerjakan 28 orang.

Banyak gereja memiliki pelayanan-pelayanan untuk melayani masyarakat di sekitar mereka, yang sering disebut pelayanan compassion (belas kasihan), penjangkauan, atau bantuan praktis. Gereja-gereja yang memperlengkapi memiliki program-program untuk memperlengkapi orang-orang yang mereka layani agar mereka dapat berhasil di tempat kerja mereka sendiri. Pelayanan-pelayanan ini bisa berupa inkubator bisnis, program peralihan pekerjaan atau tenaga kerja, program pengembangan ekonomi, komunitas dan masyarakat, sekolah-sekolah perdagangan, koperasi usaha perempuan, program pemasyarakatan mantan narapidana, bank-bank dan perusahaan keuangan, dan masih banyak lagi. Gereja-gereja seringkali memanfaatkan keahlian yang telah dikembangkan para anggotanya di bidang-bidang ini melalui pekerjaan mereka. Di Amerika Serikat, Asosiasi Pengembangan Masyarakat Kristen merupakan jaringan dari sekitar 1000 gereja dan organisasi lain yang memiliki pelayanan pengembangan. Gereja-gereja dengan pelayanan semacam itu di antaranya:

Kesimpulan tentang Gereja Yang Memperlengkapi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Orang Kristen di semua pekerjaan yang sah dipanggil untuk bekerja berdasarkan visi Allah bagi dunia. Untuk memenuhinya, diperlukan pelatihan, dukungan, dan dorongan. Banyak orang Kristen tidak punya tempat selain di gereja mereka untuk diperlengkapi dalam Tugas ini. Banyak gereja melakukan pekerjaan besar dengan memperlengkapi jemaatnya untuk aspek-aspek kehidupan iman yang lain, dan ini sangat penting. Namun, banyak gereja belum mampu memperlengkapi jemaatnya untuk kehidupan di dunia kerja.

Tidak ada cara tunggal untuk sebuah gereja dapat menjadi gereja yang memperlengkapi. Kami telah memberi gambaran sekilas tentang beberapa metode, teknik, program, dan ide-ide yang telah dirintis di berbagai gereja dan tempat kerja di seluruh dunia. Semoga beberapa di antaranya dapat bermanfaat di gereja Anda juga. Tetapi untuk menjadi gereja yang memperlengkapi tidak bisa dengan sekadar menambahkan beberapa metode dan program. Dibutuhkan keyakinan yang mendalam bahwa pekerjaan sehari-hari jemaat di semua jenis pekerjaan adalah — atau bisa menjadi — pelayanan bagi Allah. Dibutuhkan komitmen untuk terus mencoba, mempraktikkan, dan menyesuaikan cara-cara yang menyiapkan dan mendukung pekerjaan setiap anggota. Kami berharap materi-materi di situs daring Proyek Teologi Kerja dapat bermanfaat bagi gereja-gereja dan orang-orang Kristen di dunia kerja dalam hal ini, dan kami mengundang orang-orang untuk mengirimkan kepada kami materi-materi dan evaluasi-evaluasi sumber daya yang telah mereka ujicobakan.