Bootstrap

Kebenaran, Kejujuran dan Kebohongan di Tempat Kerja (Tinjauan Umum)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Truth and deception

Hampir semua orang tahu bahwa umat Allah seyogyanya mengatakan kebenaran. Meskipun kita tahu ada beberapa pengecualian – seperti saat melindungi orang tak bersalah, menjaga keamanan nasional, dan beberapa hal lainnya – kita harus ingat bahwa Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai “jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6) dan kita tahu bahwa kebenaran adalah cara hidup panggilan Allah untuk kita.

Tetapi komitmen kita terhadap kebenaran seringkali diuji di tempat kerja. Kadang tampaknya mustahil bisa berhasil di tempat kerja hanya dengan mengatakan kebenaran. Kadang bahkan tempat kerja tampak seperti dunia yang berbeda dari yang pernah didiami Yesus, dan kebenaran benar-benar tidak cocok di tempat kerja. Pikirkanlah kasus Philippe Kahn ini:

Philippe Kahn adalah pimpinan Borland International, perusahaan perangkat lunak rintisan yang memerlukan peluang untuk meluncurkan perusahaannya. Perangkat lunaknya telah diuji di lapangan dan siap dipasarkan dan didistribusikan, dan satu-satunya yang ia butuhkan tinggal peluang itu. Tetapi Kahn tidak memiliki karyawan (selain asistennya) dan tidak punya uang untuk mengadakan kampanye lewat pemasangan iklan yang mahal. Yang ia butuhkan sebenarnya memasang iklan di majalah yang tepat, majalah Byte. Tetapi biaya pemasangan iklan itu $20.000 yang tidak ia miliki, dan ia juga tidak memiliki agunan yang cukup untuk melakukan pinjaman sebesar itu. Ia membutuhkan kredit 100% untuk pemasangan iklan itu. Dan satu-satunya cara yang ia tahu untuk mendapatkan kredit itu adalah dengan melakukan bluffing (gertakan) untuk meyakinkan staf penjualan Byte bahwa perusahaannya jauh lebih aktif dan berjalan baik dari kenyataannya. Maka, ia lalu menyewa ruang kantor untuk hari itu, mempekerjakan karyawan-karyawan sementara untuk menjawab panggilan-panggilan telepon yang sebenarnya tidak ada, membiarkan satu berkas terbuka yang menunjukkan bahwa Byte berada jauh di bawah daftar para pengiklan potensial, dan berkata kepada staf penjualan itu bahwa Byte sebetulnya bukanlah forum yang tepat untuk mengiklankan produknya. Tujuannya, sebagaimana diakuinya kemudian dalam wawancara di majalah Inc., staf penjualan itu percaya bahwa perusahaannya cukup kuat untuk menghasilkan penjualan dari pemasangan iklan itu dan mengembalikan pinjaman.[1] Dan ternyata, yang terjadi memang seperti itu. Iklan itu menjual perangkat lunak seharga sekitar $150.000, Byte mendapat bayaran, dan Borland International siap beroperasi. Jelas, semua pihak diuntungkan dan tidak ada yang dirugikan.

Strategi Kahn menimbulkan pertanyaan penting tentang mengatakan kebenaran dan penipuan. Tampak jelas bahwa tujuan Kahn adalah menipu staf penjualan Byte. Banyak orang di kalangan bisnis menilai tindakan yang dilakukan Kahn itu sebagai hal yang cerdik, dan menyalahkan staf penjualan itu karena tidak mengerjakan PRnya (menyelidiki perusahaan) sebelum memberikan kredit. [2] Tetapi, skenario ini membuat banyak orang lain menilainya sebagai hal yang tidak etis. Hal ini menunjukkan beberapa nuansa yang perlu dikaji untuk mencapai pandangan yang logis dan benar tentang kejujuran dan keterbukaan serta penerapannya di dunia kerja.

Dalam artikel ini, kita pertama-tama akan meletakkan dasar alkitabiah tentang mengatakan kebenaran, menetapkannya sebagai norma prima facie (norma pada pandangan pertama yang berlaku sampai ada alasan yang lebih kuat untuk mengesampingkannya-Pen) dalam interaksi-interaksi antar manusia. Setelah itu kita akan melihat beberapa pengecualian dari norma ini. Kita akan menegaskan mengapa mengatakan kebenaran itu penting, baik bagi orang percaya maupun masyarakat pada umumnya. Kemudian kita akan menerapkan gagasan tentang mengatakan kebenaran ini di tempat kerja dan menyatakan bahwa meskipun berkata benar merupakan norma yang sangat kuat, tetapi ada kalanya norma itu tidak harus selalu dilakukan. Kita akan membahas tentang puffery (bualan, pernyataan yang melebih-lebihkan), white lies (dusta putih), bluffing (gertakan), dan situasi-situasi ketika pihak lain tidak punya hak atas kebenaran. Meskipun sebagian besar hidup orang percaya dijalani dengan mengejar kebenaran, menjelaskan pengecualian-pengecualiannya membutuhkan banyak kata, dan banyak teks artikel ini dihabiskan untuk menentukan batasannya yang tepat. Proporsi teks dalam artikel tentang kebenaran dan kebohongan ini tidak mencerminkan proporsi yang seimbang antara kebenaran dan kebohongan dalam hidup orang percaya.

Mengatakan Kebenaran adalah Norma Alkitab

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Seperti yang tampak dari sekadar membuat daftar ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang topik ini, kejujuran dan mengatakan kebenaran sangat dihargai Allah dan dipandang sebagai bagian integral dari hidup yang berintegritas dan setia kepada-Nya. Hukum Musa memerintahkan umat Allah untuk tidak berdusta atau saling mendustai (Imamat 19:11) atau memberi kesaksian palsu tentang orang lain (Keluaran 20:16). Pemazmur menggambarkan orang yang hidupnya tidak bercela dan berlaku adil sebagai orang yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya (Mazmur 15:2). Perjanjian Baru menggemakan hal ini ketika menghubungkan kejujuran dan kebenaran dengan hidup baru orang percaya dalam Kristus (Kolose 3:9). Salah satu manifestasi pertama dari orang percaya yang menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru dalam Kristus adalah komitmen terhadap kejujuran ​​(Efesus 4:24-25).

Kejujuran pada akhirnya didasarkan pada karakter Allah – yang artinya, kita harus jujur ​​karena Allah itu jujur. Allah tidak berdusta, kata Alkitab (Titus 1:2), dan Yesus maupun Roh Kudus disebut sebagai Kebenaran (Yohanes 14:6, 16:13; 1 Yohanes 5:6). Firman Allah juga disebut Kebenaran (Mazmur 119:142, Yohanes 17:17). Secara teologis, kejujuran adalah kebajikan karena sebagaimana semua kebajikan, kejujuran berakar pada sifat Allah. Mengatakan kebenaran adalah prinsip moral yang harus dipatuhi karena Allah itu benar, dan kita dipanggil untuk meniru karakter-Nya.

Allah juga memerintahkan umat-Nya untuk berkata benar, terutama dalam Sepuluh Perintah Allah yang disampaikan di kitab Keluaran: "Jangan memberikan kesaksian dusta terhadap sesamamu" (Keluaran 20:16) dan diulangi di Imamat 19:11: "Janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu menipu satu sama lain." Kitab Amsal mengatakan bahwa berkata benar mendatangkan hasil jangka panjang terbaik untuk kita: "Bibir kebenaran tetap untuk selama-lamanya, tetapi lidah dusta hanya untuk sekejap mata" (Amsal 12:19). Dengan kata lain, berkata benar adalah norma alkitabiah yang berada di dalam ketiga pendekatan: etika, kebajikan, perintah dan konsekuensi. (Lihat artikel Etika Kerja untuk informasi lebih lanjut tentang pendekatan etika yang alkitabiah dalam konteks pekerjaan),

Bagaimana pun kita memandangnya, mengatakan kebenaran adalah ekspektasi Alkitab untuk kita. Di atas segalanya, kejujuran adalah kebajikan karena, sebagaimana semua kebajikan, kejujuran berakar pada sifat Allah. Berkata benar adalah prinsip moral yang harus dipatuhi karena Allah adalah kebenaran dan kita ingin berada dalam relasi yang erat dengan Allah. Satu-satunya cara untuk mendekat pada kebenaran adalah dengan berkata benar/jujur. Dengan kata lain, Hukum Allah tidak hanya preskriptif—Allah memerintahkan kita untuk mengatakan kebenaran—tetapi juga deskriptif—Allah menggambarkan diri-Nya sebagai kebenaran. Jika perintah Allah pada kita dipandang deskriptif dari cara kita diciptakan untuk berelasi dengan-Nya dan dengan satu sama lain, maka kebohongan mengingkari kemanusiaan kita, mengurangi hakikat rancangan Allah untuk kita, dan merusak diri kita sendiri dan orang lain. Singkatnya, sikap dasar iman manusia adalah “dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Efesus 4:15). “Sebab kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran, yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran” (2 Korintus 13:8).

Pengecualian Mengatakan Kebenaran dalam Alkitab

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah menyatukan kebenaran dan kasih dalam pernikahan yang sempurna. Ketika keduanya bersatu, tidak ada konflik. Jika dipisahkan, kita menghadapi dilema; seperti ketika kasih membutuhkan kebohongan (contohnya dalam kisah Corrie Ten Boom yang berbohong kepada Nazi saat menyembunyikan orang-orang Yahudi di rumahnya) atau ketika kebenaran mengakibatkan hal buruk (seperti mengatakan kebenaran pada anak yang belum siap/dapat memahami). Ini bukan karena ada yang salah dengan Allah, melainkan karena keadaan dunia kita yang sudah jatuh dalam dosa. Sebelum kerajaan Allah digenapi, orang-orang yang mengikut Tuhan akan mengalami konflik-konflik secara periodik ketika mereka berusaha mengasihi dalam kebenaran dan mengatakan kebenaran dalam kasih.

Dengan kata lain, fakta bahwa mengatakan kebenaran adalah prinsip Alkitab tidak selalu berarti hal itu mutlak harus selalu dipatuhi dalam setiap situasi. Setidaknya ada dua peristiwa dalam Alkitab yang kebohongan tampaknya dibolehkan, jika tidak dipuji. Contohnya, para bidan yang ditugaskan merawat bayi Musa melakukan kebohongan yang pelik untuk melindungi hidup dan kesejahteraan bayi itu, menyembunyikan asal-usulnya sebagai anak orang Ibrani dan membuat Firaun percaya bahwa ia benar-benar seorang anaknya sendiri (Keluaran 2:1-10). Contoh lainnya, Rahab membohongi para tentara Yerikho agar dapat melindungi nyawa mata-mata Israel yang datang untuk melakukan pengintaian lebih dulu di tanah perjanjian (Yosua 2:1-24). Rahab benar-benar berakhir di barisan Para Pahlawan Iman di Ibrani 11 karena imannya, yang ditunjukkan dengan menyelamatkan nyawa mata-mata itu (dengan kebohongan yang merupakan bagian yang menyatu).

Salah satu contoh klasik dari pengecualian prinsip umum tentang mengatakan kebenaran ini terjadi pada waktu Perang Dunia II dalam kisah Corrie Ten Boom yang dikenal luas, yang kemudian ditulis dalam buku The Hiding Place. Selama beberapa waktu, Corrie dan saudara perempuannya menyembunyikan orang-orang Yahudi agar mereka terluput dari tentara Nazi dan dari perjalanan ke kamp konsentrasi tertentu. Berulang kali ia diminta Gestapo untuk berterus terang apakah ia sedang menyembunyikan orang-orang Yahudi, dan ia terus-menerus berbohong kepada pihak yang berwenang itu untuk melindungi nyawa mereka.

Inilah konflik moral yang sesungguhnya, di mana dua atau lebih nilai-nilai moral dan kebajikan saling beradu, dan keluarga Ten Boom berada dalam posisi sulit karena harus mempertimbangkan nilai-nilai yang saling bertentangan. Tetapi mereka dengan tepat mempertimbangkan bahwa kewajiban untuk melindungi nyawa orang Yahudi lebih besar daripada kewajiban untuk mengatakan kebenaran, khususnya kepada orang-orang yang tidak punya hak untuk itu.

Konflik-konflik ini tidak lazim dan juga tidak memberi kesan bahwa perintah Allah saling bertentangan. Konflik-konflik ini hanya mencerminkan dunia yang telah jatuh, yang di dalamnya berbagai tuntutan moralitas berjalan dengan sendirinya, yang kadang dengan cara yang saling bertentangan. Lagipula, perintah-perintah Allah diberikan dalam konsepsi dan bahasa manusia, sehingga cara kita memahami perintah-perintah Allah tunduk pada keterbatasan persepsi manusia. Bahasa manusia tidak mampu mencakup segala situasi tanpa saling berkontradiksi, [1] sehingga hal-hal yang dinyatakan mutlak pun memiliki pengecualian. Kita harus menduga bahwa terkadang kita perlu mempertimbangkan nilai-nilai yang bertentangan, dan kita juga harus mengharapkan Allah memimpin kita dalam melalui hal seperti itu. Jadi, alih-alih berkata bahwa mengatakan kebenaran tak boleh dilanggar, lebih tepat jika dikatakan bahwa norma itu adalah aturan umum yang menerima adanya pengecualian sewaktu-waktu jika bertentangan dengan nilai-nilai moral penting lainnya.

Sesungguhnya, Allah juga digambarkan bekerja dengan cara yang kadang “menyerempet-nyerempet” kebohongan di dunia yang telah jatuh ini. Ada beberapa contoh, khususnya di Perjanjian Lama, ketika Allah memakai dusta/penipuan dan hal itu tampaknya menjadi kontradiksi yang membingungkan tentang konsep Allah yang tidak berdusta (lihat misalnya, 1 Raja-raja 22:23; Yeremia 4:10, 20:7). Tetapi di dalam semua situasi itu, orang Israel benar-benar sedang berkanjang dalam penyembahan berhala dan menunggu dihukum Allah dalam pembuangan yang akan datang. Allah sudah menjelaskan kebenaran ini kepada bangsa itu, tetapi mereka tetap saja menolaknya, maka hukuman pun akan segera datang menimpa mereka. Jelaslah bahwa Allah mendustai bangsa itu bukan sebagai sarana pengajaran, tetapi sebagai sarana penghakiman. Ketika orang menolak kebenaran, karakter Allah juga menjadi dusta bagi mereka. Namun, dengan menipu orang yang menipu diri sendiri ini, tindakan Allah tidak bertentangan dengan karakter kebenaran-Nya.

Persamaannya di Perjanjian Baru terdapat dalam pengajaran Paulus di 2 Tesalonika 2:11-12: “Itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya kepada dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya kepada kebenaran dan suka kejahatan.” Di sini Paulus menjelaskan bahwa pada akhir zaman “manusia durhaka” mengangkat dirinya sendiri menjadi Allah. Untuk menghadapi penipuan diri sendiri ini, Allah memakai penipuan bukan untuk menyesatkan manusia, tetapi untuk menghakimi orang yang meninggalkan kebenaran. Jadi, ketika Paulus berbicara tentang “Allah yang tidak berdusta” (Titus 1:2), ia sedang menyatakan karakter Allah, namun ia menyadari bahwa di dunia yang telah jatuh dosa ini, kebenaran terdalam kadang harus diselimuti kebohongan untuk kepentingan kasih. Corrie ten Boom bukanlah sebuah pengecualian yang dapat dibenarkan tentang gambar karakter kejujuran Allah pada manusia, melainkan sebuah pemenuhan kebenaran yang lebih besar di dalam kasih.

Memandang berkata benar sebagai prinsip moral prima facie juga menarik intuisi akal sehat kita tentang profesi tertentu yang sering menggunakan kebohongan. Ambillah contohnya, pertemuan intelijen. Hampir tak ada keraguan bahwa badan intelijen di berbagai negara memakai kebohongan untuk mendapatkan informasi intelijen penting tentang musuh seseorang. Apalagi, tugas polisi rahasia juga mengharuskan mereka untuk menyamarkan identitas mereka dan menciptakan persona yang sama sekali baru agar dapat menyusupi organisasi-organisasi dengan efektif. Tidak banyak pertanyaan yang muncul tentang perlunya menggunakan penipuan dalam pekerjaan ini.[2] Dan, tentu saja, hampir tidak ada pertanyaan tentang validitas bluffing (gertakan) dalam permainan poker atau penggunaan kepura-puraan yang sangat meyakinkan dalam olahraga, karena semua itu dianggap sebagai bagian dari permainan—yang dapat diterima di dalam aturan permainan.

Namun, tidak satu pun dari skenario di atas yang dapat disamakan sepenuhnya dengan bisnis dan bidang-bidang lain yang merupakan tempat berlangsungnya sebagian besar pekerjaan. Kita akan membahas nanti, apakah ada pengecualian “tujuan-menghalalkan-cara” yang melebihi tujuan keamanan nasional dan keselamatan publik. Dan situasi-situasi yang di dalamnya kebenaran tidak diharapkan, seperti dalam permainan poker, sangatlah jarang dan hampir tak dapat dijadikan sebagai norma dalam perilaku kerja.[3] Hal ini menimbulkan pertanyaan penting tentang kriteria apa yang seharusnya menuntun kita dalam hal mengatakan kebenaran di dalam pekerjaan kita.

Mengapa Mengatakan Kebenaran Itu Penting

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Selain meniru karakter Allah, mengatakan kebenaran sangat penting bagi masyarakat yang berkembang. Oleh karena itu, selain dalam situasi-situasi yang jarang terjadi, Allah memerintahkan kita untuk berkata benar. Dan meskipun perintah Allah saja sudah cukup untuk menjadi motivasi, para teolog dan ahli filsafat juga mengidentifikasi alasan-alasan lain.

Komunikasi Yang Otentik Memerlukan Kejujuran/Berkata Benar

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Berkata benar/kejujuran sangat penting untuk terjalinnya komunikasi yang otentik, dan memungkinkan terjadinya interaksi yang tulus di antara manusia. Artinya, jika kebenaran tidak diharapkan, komunikasi tak akan berlangsung lama sebelum akhirnya terputus seluruhnya. Bayangkan seperti apa rasanya hidup dalam masyarakat yang tak seorang pun mengharapkan kebenaran. Bagaimana orang dapat membedakan mana yang benar dan yang salah? Atas dasar apa orang dapat membuat keputusan-keputusan penting jika tidak ada harapan tentang kebenaran? Hidup akan kacau tanpa norma kejujuran.

Ini sebenarnya adalah pandangan ahli filsafat Immanuel Kant, dan prinsip universalisabilitas tentang mengatakan kebenaran (meskipun ia tidak akan mendukung pendapat yang disampaikan di sini bahwa ada pengecualian terhadap norma universal). Kant menganggap prinsip ini sebagai ujian terhadap prinsip moral yang valid, dan memakai kejujuran/berkata benar sebagai salah satu ilustrasi utamanya. Ia menegaskan bahwa untuk dianggap sah, sebuah norma harus bersifat universal—berlaku untuk semua orang. Salah satu ilustrasinya membayangkan apa yang akan terjadi jika tidak ada yang menerima norma tersebut. Ia dengan tepat mengatakan bahwa tanpa norma universal tentang mengatakan kebenaran, dasar komunikasi akan terancam, dan masyarakat yang tidak memiliki norma ini tidak akan berfungsi.[1] Hal ini dikuatkan oleh fakta bahwa hampir semua peradaban memiliki semacam norma yang menganjurkan berkata benar dan melarang kebohongan.[2]

Kepercayaan dan Kerja Sama Memerlukan Kejujuran/Berkata Benar

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Berkata benar/kejujuran ​​membangun kepercayaan dan kerja sama di antara warga masyarakat. Kepercayaan sangat penting bagi masyarakat yang berkembang, dan menjadi orang yang perkataannya dapat dipegang membangun kepercayaan dan kredibilitas.[1] Hukum Musa menegaskan hal ini di Ulangan 25:15, yang mengaitkan transaksi yang jujur ​​dengan kemakmuran orang Israel di negeri itu. “Haruslah ada padamu batu timbangan yang tepat dan benar; serta takaran yang utuh dan benar, supaya kamu hidup lama di tanah yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu” (lihat juga Imamat 19:36). Kitab Amsal juga menunjukkan hubungan antara sifat dapat dipercaya dengan kerukunan masyarakat. Amsal 3:29 menegaskan bahwa kepercayaan di antara sesama memungkinkan mereka untuk hidup tenteram, tanpa takut dicelakai oleh sesamanya. Selanjutnya, kitab Amsal juga menekankan bahwa sifat dapat dipercaya membawa pemulihan dalam relasi maupun komunitas (Amsal 13:17, 25:13). Adam Smith menyatakan dengan sangat jelas bahwa transaksi yang jujur ​​dan sifat dapat dipercaya sangat penting untuk berlangsungnya sistem pasar yang baik. Budaya-budaya yang rentan korupsi seringkali berada di bagian-bagian dunia yang paling miskin, karena menjalankan bisnis di dalam budaya-budaya yang tingkat kepercayaannya rendah lebih sulit dan berisiko. Demikian pula, perusahaan-perusahaan yang dikuasai budaya tidak percaya biasanya memiliki biaya operasional yang tinggi, karena mereka memerlukan sistem atau cara-cara pengawasan yang mahal. Mereka juga memerlukan biaya-biaya yang tidak jelas, karena karyawan cenderung enggan untuk "bekerja lebih keras" bagi majikan mereka, cenderung kurang bersemangat untuk menerima perubahan, dan kurang berkomitmen pada pekerjaan mereka.

Martabat Manusia Memerlukan Kejujuran/Berkata Benar

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Berkata benar/kejujuran memperlakukan orang lain dengan bermartabat. Mengatakan kebenaran kepada seseorang adalah ukuran rasa hormat yang akan hilang ketika seseorang dibohongi.

Alkitab menjelaskan hal ini dengan kisah di kitab Kejadian tentang Yakub dan pelayanannya kepada Laban (Kejadian 29-30). Yakub bekerja selama tujuh tahun untuk bisa menikahi Rahel, tetapi setelah tahun-tahun pelayanan itu dipenuhi, Laban menipu Yakub dan mengganti Rahel dengan putrinya yang kurang disukai, Lea, sebagai istri Yakub. Yakub sangat marah ketika ditipu dan diperlakukan tidak hormat seperti itu (Kejadian 29:25). Ia lalu membalas sikap tidak hormat itu kepada Laban di Kejadian 30, ketika ia menipu Laban melalui kawanan ternak yang digembalakannya untuk Laban, dengan cara memisahkan ternak yang lebih kuat untuk dirinya dan menyisakan yang lebih lemah untuk Laban (Kejadian 30:42).

Demikian pula di 2 Raja-raja 12, ketika menyangkut uang untuk renovasi bait suci, ada pekerja-pekerja tertentu yang sangat dapat dipercaya sehingga para pengawas tidak perlu menghitung lagi uang yang mereka keluarkan untuk biaya renovasi itu. Karena mereka jujur, mereka diperlakukan dengan bermartabat dan dipercaya oleh raja dan para imam yang bertanggung jawab atas renovasi bait suci itu (lihat juga 2 Raja-raja 22:7). Hal ini diperkuat juga oleh amsal yang memperingatkan seseorang, “Seorang kawan melukai dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlebihan” (Amsal 27:6). Lawan yang mencium secara berlebihan adalah orang yang melimpahi seseorang dengan sanjungan palsu, menjerumuskan orang itu ke dalam ilusi persahabatan dan kepercayaan, padahal kenyataannya ia seorang musuh. Di sini, penipuan memperlakukan orang yang ditipu sebagai pion yang dimanipulasi untuk tujuan-tujuan egois penipu sendiri, bukan sebagai orang yang bermartabat yang pantas dihormati. Rasa tidak hormat juga tampak dalam amsal: “Lidah dusta membenci korbannya, dan mulut licin mendatangkan kehancuran” (Amsal 26:28; juga Amsal 26:18-19, 24, 26).

Hak seseorang untuk membuat keputusan otonominya sendiri didasarkan pada memiliki informasi yang akurat, sehingga orang sering merasa dilanggar dan sangat tidak dihormati ketika ditipu. Otonomi seseorang dilemahkan ketika ia ditipu. Hal ini tampak dalam kasus Yakub dan Laban. Otonomi Yakub untuk menikahi wanita pilihannya benar-benar terkikis oleh penipuan Laban, karena Yakub tidak akan menikahi Lea jika ia dibiarkan memilih sendiri sepenuhnya (Kejadian 29:17-20). Hal ini semakin tampak jelas ketika Yakub balik menipu Laban, karena Laban tidak akan memelihara ternak yang jelas-jelas akan merugikannya secara finansial jika ia tidak ditipu dengan sangat berhasil oleh Yakub (Kejadian 30:42-43).

Laporan Keuangan Harus Menyatakan Kebenaran

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Contoh paling tepat untuk peran kejujuran/berkata benar di tempat kerja adalah dalam penyusunan laporan-laporan keuangan perusahaan, pemerintah, gereja, lembaga nirlaba, atau pun individu. Semua entitas ini harus memenuhi ketentuan tertentu untuk menyiapkan laporan keuangan yang bertujuan memberi gambaran yang akurat kepada orang lain tentang kondisi keuangan mereka.

Hal ini sering membutuhkan pengungkapan informasi yang tidak menyenangkan, seperti keuntungan yang berkurang, cadangan dana yang menipis, standar kompensasi eksekutif yang kontroversial, kewajiban utang yang meningkat, dan lain sebagainya. Meskipun organisasi dan individu mungkin lebih suka menyembunyikan informasi ini, mereka memiliki kewajiban hukum dan moral untuk memberikan informasi yang akurat.

Kebanyakan laporan keuangan disusun berdasarkan aturan-aturan yang menentukan cara mendefinisikan, menghitung, memperkirakan, dan memverifikasi berbagai aspek laporan. Mematuhi aturan-aturan ini membantu membuat laporan keuangan menjadi akurat dan sebanding antar berbagai entitas. Namun, aturan-aturan saja tidak cukup. Entitas juga harus membuat penilaian tentang faktor-faktor seperti kemungkinan kontrak selesai tepat waktu, masa pakai peralatan, suku bunga mendatang, berbagai macam risiko ke depan, dan banyak hal lainnya. Para pemimpin sering tergoda untuk menyesuaikan penilaian mereka tentang faktor-faktor ini dengan cara yang akan menggambarkan entitas dalam keadaan paling baik—ketimbang memberikan gambaran paling akurat tentang posisi keuangan yang sebenarnya. Bahkan, beberapa pemimpin mungkin percaya bahwa mereka punya kewajiban untuk "mengatur pemasukan"—agar laba tampak stabil dari kuartal ke kuartal—dengan membuat penyesuaian-penyesuaian pesimistis pada saat-saat makmur dan beralih ke penyesuaian-penyesuaian optimistis pada masa-masa sulit.

Alkitab, ekspektasi masyarakat, serta hukum dan regulasi di negara-negara yang bebas dan terbuka melarang manipulasi-manipulasi semacam itu. Satu-satunya kriteria yang dapat diterima untuk laporan keuangan adalah “menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan entitas, hasil usaha, dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.” [1] Artinya, laporan itu harus menyampaikan kebenaran. Tidak cukup hanya mengikuti aturan atau tidak berisi laporan palsu. Ada kewajiban yang lebih tinggi, yaitu menyampaikan gambaran yang akurat tentang situasi yang sebenarnya. Inilah standar untuk menilai semua laporan kita. Apakah laporan itu memberi gambaran akurat tentang situasi sebenarnya kepada pendengar atau pembacanya? Jika tidak, laporan itu tidak mengatakan kebenaran.

Mungkin Ada Pengecualian tentang Mengatakan Kebenaran di Tempat Kerja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Meskipun jelas sikap standarnya adalah mengatakan kebenaran, di dalam Kitab Suci pun sikap ini tidak dianggap mutlak sepenuhnya—ada beberapa pengecualian terhadap prinsip umum ini. Tentu saja yang dibolehkan hukum tidak menentukan standar berkata benar. Atau, jika hendak dikatakan dengan cara lain, hukum adalah batas minimum moral, titik dasar moral, bukan batas atasnya. Apa yang dapat dilakukan seseorang tanpa melanggar hukum bukanlah standar.

Berikut adalah beberapa kategori pengecualian yang dapat diterima tentang norma mengatakan kebenaran.

Puffery (Bualan/Pernyataan Yang Dilebih-lebihkan)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Banyak iklan zaman sekarang termasuk kategori yang bisa disebut "harmless puffery” (bualan yang tidak berbahaya). Ini bisa berlaku untuk teks iklan maupun citra yang dibangun dan dikaitkan dengan produk perusahaan. Sebagai contoh, jaringan penjual Yogurt TCBY menyebut produknya "Yogurt Terbaik di Negara Ini." Padahal, kemungkinan besar ada perselisihan pendapat yang meluas tentang apakah produk itu benar-benar yogurt terbaik di negara itu. Sejauh yang diketahui, perusahaan itu belum mengadakan survei untuk mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung pernyataan mereka, atau memberikan klarifikasi apa pun tentang hal yang pada dasarnya merupakan opini dan pernyataan yang tidak terukur. Ini jelas merupakan contoh puffery (bualan, pernyataan yang dilebih-lebihkan) yang tidak akan dianggap serius oleh banyak orang sebagai pernyataan yang dapat dibuktikan. Namun kebanyakan orang tidak akan menganggap nama perusahaan itu sebagai samaran. Konsumen yang rasional akan menerima pernyataan itu apa adanya—omong kosong dalam hubungan antar manusia.

Menerapkan standar berkata benar yang ketat pada iklan yang akan melucuti bualan promosi akan membuat iklan itu menjadi sekadar pernyataan fakta yang dapat diverifikasi, dan akan membuat banyak iklan kehilangan daya tariknya. "Pizza terlezat di kota ini" dipahami sebagai slogan, bukan fakta. Pada umumnya, segala pernyataan tentang opini yang tak dapat diverifikasi dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap berkata benar, kecuali pernyataan itu disertai pernyataan eksplisit seperti "Menurut pendapat saya...." Namun, kita biasanya bisa tahu jika seseorang mengungkapkan opini, dan kita tahu bahwa iklan pada umumnya adalah opini yang bermotif jualan, bukan pernyataan kebenaran yang obyektif. Kita tak perlu diberi tahu, "Pizza terlezat di kota ini—menurut pendapat pemiliknya." Opini itu penting bagi masyarakat—sekalipun tidak benar—dan iklan itu juga punya nilai penting, sekalipun hanya semacam bualan yang tak berbahaya. Apakah kita benar-benar menginginkan dunia dengan para penggemar olahraga yang menyanyi, "Kita di peringkat 14, atau paling banter 13," atau para kekasih yang bersenandung, "Aku mencintaimu dengan 93% hatiku”?

Mari kita ambil contoh lain dari bursa mobil yang memasang iklan, "Masalah kredit? Tidak ada aplikasi yang ditolak." Kebanyakan orang tidak akan menerima iklan ini secara harfiah karena kita mengenalinya sebagai bualan komersial. Kita tidak akan benar-benar percaya bahwa orang dengan riwayat kredit yang sangat buruk, atau baru saja menyatakan bangkrut, benar-benar akan diberi kredit. Karena kita menyikapinya dengan skeptis, kita mungkin berpikir iklan itu tidak akan merugikan siapa-siapa. Namun, karena iklan itu memuat pernyataan khusus—"tidak ada aplikasi yang ditolak"—iklan itu jelas lebih berpotensi menyesatkan daripada pernyataan opini yang tidak jelas. Jika iklan itu tidak menyampaikan realitas situasi yang sebenarnya kepada orang kebanyakan, iklan itu harus menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksudkan. Dalam hal ini, perusahaan itu harus menyertakan disclaimer yang menjelaskan bahwa semua aplikasi kredit akan ditinjau. Atau, untuk meminimalkan kemungkinan salah paham, mereka harus menghapus bagian iklan yang menyatakan, "tidak ada aplikasi yang ditolak." Permasalahannya di sini adalah pernyataan “Tidak ada aplikasi yang ditolak" bukan sekadar opini, tetapi fakta. Jika bukan fakta, maka pernyataan itu merupakan pelanggaran terhadap norma mengatakan kebenaran yang tidak dapat diterima.

Iklan-iklan juga bisa membuat pernyataan yang tersirat, bukan melalui teks iklan itu secara langsung, tetapi melalui gambar-gambar yang dikaitkan dengan produk mereka. Produk alat cukur pria sering disertai gambar wanita cantik yang tertarik pada pria yang habis bercukur menggunakan alat, krim, atau losion dari suatu perusahaan. Pernyataan tersiratnya adalah jika Anda menggunakan produk ini, Anda akan dikelilingi wanita-wanita cantik yang menganggap Anda sangat menarik. Atau setidaknya Anda akan merasa lebih seperti pria yang menarik. Atau mungkin juga iklan itu hanya menggunakan wanita cantik untuk menarik perhatian Anda, dan Anda tahu betul bahwa memakai produk itu tidak akan membuat Anda lebih menarik.

Terlepas dari cara kerja psikologis iklan itu, kebanyakan konsumen yang rasional bisa tahu bahwa itu hanya bualan dan tidak mengharapkan gambaran yang sepenuhnya akurat tentang daya tarik produk itu. Faktanya, banyak orang, ketika mereka berpikir rasional, menyadari bahwa produk kebersihan mereka tidak ada hubungannya dengan daya tarik seksual. Namun, citra yang dikaitkan dengan produk itu tetap populer bagi pengiklan, yang menjadi alasan mengapa bualan semacam ini terus berlanjut. Sulit untuk menjadi terlalu marah terhadap jenis promosi berlebihan seperti ini, sejauh iklan itu tidak benar-benar menyesatkan siapa pun. (Apakah iklan itu memperkuat stereotip gender yang berbahaya, merendahkan perempuan atau laki-laki, atau mempromosikan citra tubuh yang tidak sehat, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang layak diajukan, meskipun tidak termasuk dalam pembahasan ini).

Tentu saja, ketika pengiklan membuat pernyataan yang terukur, mereka menampilkan diri seakan sedang mengatakan kebenaran, memenuhi tuntutan moral berkata benar, dan mematuhi hukum yang mewajibkan kejujuran dalam periklanan. Sebagai contoh, ketika produsen pasta gigi membuat pernyataan bahwa "4 dari 5 dokter gigi yang disurvei merekomendasikan Crest," pernyataan itu harus diverifikasi oleh survei-survei itu sendiri.

Kebenaran juga diharapkan ketika pernyataan yang dapat diverifikasi dibuat di luar konteks periklanan. Pernyataan non-iklan yang melebih-lebihkan biasanya dimaksud untuk menyesatkan, untuk menyampaikan bahwa orang atau situasi itu lebih baik dari yang sebenarnya. Jika kebenaran disampaikan apa adanya, hal itu jelas tidak akan memberi kesan sepositif pernyataan yang dilebih-lebihkan. Sebagai contoh, melebih-lebihkan pengalaman kerja atau latar belakang pendidikan pada daftar riwayat hidup adalah hal yang tidak etis, karena penerima CV itu mengharapkan kebenaran dan akan membuat keputusan berdasarkan kebenaran yang ada dalam dokumen itu. Mengatakan, "Saya orang paling tepat untuk pekerjaan ini," dibolehkan karena semua orang tahu perkataan itu tidak didasarkan pada penilaian obyektif semua kandidat. Tetapi mengatakan, “Saya lulusan Oxford,” padahal Anda tidak lulus, tidak diperbolehkan.

Bahkan ketika memberikan pendapat yang tak dapat diverifikasi, Anda harus tetap berhati-hati agar tidak melebih-lebihkan, karena orang yang meminta pendapat Anda mungkin bergantung pada penilaian yang akurat. Jika Anda dimintai pendapat tentang mantan mahasiswa atau rekan kerja, misalnya, segala pernyataan spesifik yang Anda berikan diharapkan benar. Bahkan pernyataan yang kurang jelas seperti "salah satu mahasiswa terbaik saya" hanya boleh disampaikan jika mahasiswa itu memang lebih baik dari kebanyakan mahasiswa lainnya.

Memang, hiperbola (penggunaan penekanan yang berlebihan untuk menyampaikan hal yang benar) merupakan kiasan yang lazim digunakan dalam cara berkomunikasi masa kini. Hiperbola juga dipakai dalam Alkitab, terutama dalam ayat-ayat puitis. Mazmur 6:7 yang berbunyi, "Setiap malam, aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku" merupakan gaya hiperbola yang mengatakan, "Aku sangat sedih." Kita tidak mengharapkan tempat tidur Pemazmur benar-benar basah kuyup atau dibanjiri air mata. Perkataan Yesus, "Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah... Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah... Jika matamu menyebabkan engkau berbuat dosa, cungkillah" (Markus 9:43, 45, 47) sering dianggap sebagai hiperbola. Kita akan merasa ngeri jika seseorang mengamputasi kakinya karena berharap hal itu akan mencegahnya untuk merampok bank lagi. Tetapi hiperbola tidak diharapkan dalam situasi-situasi orang meminta pendapat Anda, dan jika pendapat diberikan, pendapat itu biasanya disertai penjelasan yang makin menegaskan pendapat yang sebenarnya.

Salah satu contoh yang sulit dihadapi adalah dalam hal memberi surat rekomendasi. Sungguh menyusahkan jika Anda harus merekomendasi karyawan yang sudah Anda pecat dan yang, tanpa bantuan Anda, akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan lain. Salah satu solusi yang umum untuk hal ini, yang sering dianjurkan para pengacara perusahaan, adalah tidak mengatakan apa-apa selain menyatakan bahwa orang itu pernah bekerja di perusahaan Anda selama periode tertentu. Namun, hal ini bisa sangat bermasalah dalam kasus mantan karyawan yang “berbahaya”, karena pemberi kerja berikutnya tidak terlindungi dari “potensi bahaya” akibat ketidakcakapan, karakter yang buruk, atau kepribadian yang kasar. Namun, kebanyakan perusahaan tak mau ambil risiko dituntut atas pencemaran nama baik. Di pengadilan, kebenaran adalah pembelaan mutlak, tetapi sebagian besar perusahaan ingin menghindari proses hukum sejak awal.

Ketika rekomendasi diberikan, tak jarang rekomendasi itu dilebih-lebihkan, membuat orang yang direkomendasikan menjadi lebih baik atau lebih berkualitas dari yang sebenarnya. Hal ini sering terjadi pada rekomendasi yang diberikan kepada karyawan yang akan kembali ke sekolah untuk menempuh pendidikan lebih lanjut. Kebiasaan umum melebih-lebihkan dalam surat referensi ini menimbulkan masalah, karena penerima referensi mengharapkan evaluasi yang jujur ​​tentang orang itu untuk dapat menentukan apakah orang itu cocok untuk posisi atau organisasi tertentu. Ketidakcocokan tidak akan membawa kebaikan bagi organisasi maupun karyawan itu sendiri.

Kebiasaan melebih-lebihkan yang sudah sangat lazim inilah yang menyebabkan timbulnya sinisme terhadap surat-surat rekomendasi dan referensi, sampai-sampai ada sebagian orang yang benar-benar mengabaikannya dan meragukan nilai keseluruhannya. Ini hal yang sulit, karena prinsip kehati-hatian dalam hukum dapat melarang pengungkapan material tentang kandidat suatu posisi. Meskipun Anda tidak melanggar kewajiban untuk mengatakan kebenaran, tindakan itu sama sekali tidak akan membantu orang yang meminta rekomendasi. Untuk berlaku adil, jika Anda mengadopsi kebijakan ini, Anda harus memberlakukannya untuk semua permintaan rekomendasi, karena akan tidak tepat jika ketidakterbukaan Anda ditafsirkan sebagai penolakan terhadap kandidat itu. Ini bahkan juga berlaku jika seseorang meminta klarifikasi lebih lanjut dari Anda secara tidak resmi atau “off the record.”

Kita mungkin tergoda untuk melakukan tindakan melebih-lebihkan ini untuk diri kita sendiri. Kita mungkin ingin berkata atau memberi kesan seperti, "Saya sudah berkali-kali berada dalam situasi yang Anda bicarakan, dan inilah cara terbaik yang saya temukan untuk mengatasinya," padahal sebenarnya kita hanya sekali menghadapi situasi seperti itu, atau hanya mendengar bagaimana orang lain mengatasi situasi itu. Jika faktanya kita benar-benar yakin dengan apa yang harus dilakukan dalam situasi itu, kita mungkin merasa dibenarkan untuk menampilkan diri dengan begitu percaya diri. Namun, pernyataan telah melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan, sesungguhnya, adalah kebohongan yang disampaikan dalam situasi yang mengharapkan kebenaran. Alih-alih melebih-lebihkan seberapa sering Anda menghadapi situasi tertentu, cukup katakan pada orang itu bagaimana Anda akan mengatasinya. Anda dapat berkata bahwa Anda telah melihatnya (jika memang ya) dan menjelaskan bagaimana Anda akan mengatasi situasi semacam itu.

White Lies (Dusta Putih)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

"Dusta putih" adalah kebohongan yang dimaksudkan untuk memperlancar komunikasi atau membelokkan konflik kecil yang dianggap tidak akan merugikan siapa-siapa. Sebagai contoh, jika Anda terlambat menghadiri rapat, Anda mungkin tergoda untuk mencari-cari alasan demi menyelamatkan muka, seperti "Lalu lintas macet sekali hari ini," atau "Saya mendapat telepon mendadak yang harus diterima." Atau ambillah contoh skenario yang sangat umum ini: Anda tidak ingin berbicara dengan seseorang, jadi Anda meminta seorang rekan untuk mengatakan kepada orang itu bahwa Anda tidak ada di tempat atau sedang ada rapat. Jenis dusta putih lainnya termasuk perkataan-perkataan seperti, "Perkenalkan teman baik saya" (padahal orang itu tidak begitu Anda sukai), "Saya lihat Anda orang yang bijaksana" (padalah pelanggan itu jelas-jelas bodoh), "Saya akan menelepon Anda" (padahal Anda tidak berniat menghubunginya).

Meskipun sulit untuk secara tegas menolak dusta putih (karena tampaknya tidak berbahaya), tetapi biasanya ada cara untuk menangani hal-hal semacam itu tanpa harus berbohong dan tetap terhindar dari situasi canggung. Jika Anda terlambat datang rapat, misalnya, Anda cukup mengakui, “Maaf saya terlambat,” dan tidak perlu membahas lebih lanjut. Orang-orang yang ikut rapat bersama Anda tidak perlu tahu apa yang membuat Anda terlambat, dan sikap ambigu ini lebih baik daripada dusta putih, meskipun sama-sama relatif tidak berbahaya. Demikian pula, jika Anda tidak ingin ditemui, cukup minta orang yang mewakili Anda itu untuk mengatakan bahwa Anda sedang tidak bersedia. Orang yang minta bertemu biasanya tidak perlu tahu apa alasan Anda tidak bersedia ditemui, dan Anda tidak berkewajiban memberi penjelasan lengkap tentang alasan itu. Atau jika Anda berhadapan langsung dengan orang itu, Anda cukup berkata, "Saya tidak bisa membicarakan hal ini sekarang, tetapi saya akan senang menghubungi Anda lagi nanti." Sekali lagi, Anda tidak berkewajiban memberi penjelasan lengkap. Membiarkan sesuatu ambigu/mengambang tidak selalu sama dengan menipu, dan tidak memberi penjelasan lengkap tidak selalu berarti berbohong.

Beberapa situasi yang membuat kita tergoda untuk berdusta putih sebenarnya adalah situasi-situasi yang kita harus jujur. Sebagai contohnya, ketika seseorang meminta evaluasi Anda tentang presentasi yang dilakukannya di perusahaan, akan lebih mudah dan sangat efisien bagi Anda untuk berkata, "Bagus, saya suka," dan selesai. Namun, tindakan itu bisa menghilangkan kesempatan untuk memberi umpan balik yang bermanfaat dan membangun jika, pada kenyataannya, presentasi itu tidak bagus. Anda dapat memuji bagian-bagian yang memang patut dipuji, dan juga menunjukkan bagian-bagian yang masih kurang agar orang itu dapat memperbaikinya untuk presentasi yang selanjutnya.

Demikian pula, kita mungkin mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa beberapa kebohongan dapat diterima karena relatif kecil. Misalnya, mengelabui atasan Anda tentang cara Anda menggunakan waktu atau menggelembungkan laporan pengeluaran Anda. Kita bisa sangat rentan terhadap kecurangan ini jika kita dapat meyakinkan diri kita sendiri bahwa hal itu sudah menjadi kebiasaan umum. Atau kita mungkin mencoba membenarkan kecurangan sebagai kompensasi atas ketidakadilan yang kita rasa dilakukan terhadap kita. "Saya pantas mendapatkan bonus yang lebih besar, tetapi saya dicurangi karena saya tidak mau tidur dengan bos seperti Pat, jadi saya menebusnya dengan mengambil sedikit uang dari laci." Tindakan ini jelas sudah melampaui semua yang disebut dusta putih atau bualan yang tidak berbahaya. Tindakan ini adalah penipuan terhadap rekan yang tidak menaruh curiga, yang tujuannya tiada lain hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi, yang kita tahu tidak akan bisa kita dapatkan jika pihak lain tidak ditipu. Tindakan seperti ini tidak mendapat tempat dalam etika Kristen.

Bluffing (Gertakan)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Salah satu pelanggaran terhadap kejujuran yang paling umum di dunia kerja adalah bluffing (gertakan) atau yang disebut sebagian orang sebagai "saling menipu". [1]

Bluffing bisa dianggap sah jika semua pihak tahu bahwa kebenaran tidak selalu diharapkan, dan gertakan itu dianggap sebagai bagian dari negosiasi. Seperti sebuah tarian yang diharapkan ketika kedua pihak sudah mengetahui musik dan gerakannya. Contoh-contoh bluffing yang lazim yang biasanya dianggap sah meliputi kepura-puraan dalam olahraga, tipu muslihat dalam permainan poker, negosiasi harga ketika belanja di berbagai bagian dunia non-barat, dan pernyataan tidak bersalah dalam persidangan. Bluffing yang dilakukan Philippe Kahn terhadap staf penjualan majalah Byte adalah contoh lainnya. Yang membuat bluffing tampak dapat diterima adalah asumsi bahwa semua orang tahu gertakan itu bisa terjadi—yang artinya, semua orang tahu aturan permainannya. Ini jelas tampak pada contoh-contoh di atas (meskipun tidak begitu jelas dalam kasus Kahn), dan sulit untuk menyatakan bahwa seseorang telah ditipu secara tidak dapat dibenarkan dalam kasus-kasus tersebut.

Boleh jadi, pembelaan klasik terhadap bluffing/gertakan dalam bisnis datang dari Albert Carr, yang menulis di Harvard Business Review pada tahun 1968. Carr menyatakan bahwa bisnis itu seperti permainan poker, dan karena semua orang tahu aturan mainnya, bluffing atau gertakan bukanlah penipuan dan karena itu merupakan tindakan yang dapat diterima. Tindakan ini adalah bagian dari yang sering disebut sebagai moralitas caveat emptor ("membuat pembeli berhati-hati") yang sangat sesuai dengan pandangan Carr tentang mengatakan kebenaran. Carr lebih lanjut mengatakan bahwa gertakan merupakan komponen penting dalam praktik bisnis yang cerdik dan efektif. Berbicara tentang pebisnis, ia berkata,

Dalam kehidupan mereka di kantor, mereka tidak lagi menjadi warganegara biasa; mereka menjadi pelaku permainan yang harus dipimpin oleh seperangkat standar etika yang berbeda.... Etika dalam permainan poker berbeda dengan idealisme etika dalam relasi-relasi manusia yang beradab. Permainan poker tidak membutuhkan kepercayaan orang lain. Permainan itu mengabaikan pernyataan persahabatan. Tipu muslihat yang cerdik dengan menyembunyikan kekuatan dan niat seseorang, bukan kebaikan dan ketulusan hati, sangat penting dalam permainan poker. Tak ada yang menganggap permainan poker lebih buruk karena alasan itu. Dan tak ada yang boleh menganggap permainan dalam bisnis lebih buruk karena standarnya tentang yang benar dan yang salah berbeda dari tradisi-tradisi moralitas dalam masyarakat.[2]

Carr berbicara tentang moralitas ganda yang radikal, di mana standar moral kehidupan pribadi tidak dapat diterapkan pada bisnis dan tetap kompetitif. Carr menyimpulkan bahwa mengatakan kebenaran sebagai nilai etika di tempat kerja harus ditinggalkan dan digantikan dengan gertakan dan tipu muslihat yang menjadi ciri khas dalam permainan poker. Dalam hal ini Carr berbeda pendapat dengan pakar ekonomi seperti Milton Friedman, yang mengatakan bahwa aktivitas-aktivitas bisnis harus sesuai dengan "aturan dasar masyarakat, baik yang tercermin dalam hukum maupun dalam kebiasaan/norma etika."[3]

Dari perspektif alkitabiah, pandangan Carr tentang moralitas bisnis yang dipisahkan secara tegas dari moralitas kehidupan pribadi, tidak dapat dianggap sebagai etika bisnis yang sah. Alkitab tidak menerima pembagian kehidupan ke dalam aspek-aspek moral yang terpisah, yang di antaranya boleh mengambil keuntungan dari orang lain melalui penipuan yang tak diduga. Sebagaimana disampaikan sebelumnya dalam tulisan ini, analogi permainan poker tidak berlaku untuk bisnis, karena bisnis jelas bukan permainan: tidak semua pelaku berada di meja permainan karena pilihan (dan tidak bebas pergi sesuai pilihan) dan tidak semua orang mengetahui aturan permainan itu. Elemen terakhir ini sangat penting karena batas antara menggertak orang yang tahu apa yang sedang terjadi dengan mengambil keuntungan dari orang yang tidak tahu, tidak selalu jelas.

Namun, ini tidak selalu berarti bahwa semua gertakan itu salah. Atau bahwa gertakan dan negosiasi itu selalu merupakan hal yang sama, karena dalam negosiasi tujuannya adalah untuk mencapai kesepakatan yang baik dan jujur ​​tentang harga yang wajar dan saling menguntungkan. Namun, pada kenyataannya gertakan sering menjadi bagian dari negosiasi. Ada beberapa skenario yang jelas menunjukkan semua orang mengetahui aturannya, seperti negosiasi dalam penjualan properti komersial, atau perjanjian dalam penyelesaian gugatan hukum. Dalam situasi-situasi semacam itu, kedua pihak mengharapkan proses negosiasi yang progresif untuk mencapai kesepakatan akhir. Tetapi, negosiasi yang progresif tidak berarti Anda boleh menipu pihak lain secara terang-terangan di dalam proses itu. Hal itu hanya berarti Anda tidak mengungkapkan semua kartu Anda sejak awal. Sebagai contoh, pengacara yang mewakili kliennya dalam sidang penyelesaian sengketa mungkin mendapat wewenang untuk menyelesaikan kasus itu dengan $100.000. Mengatakan kebenaran tidak berarti harus mengungkapkan semuanya sejak awal, dan pengacara itu dapat secara sah melakukan penawaran pertama sebesar $75.000. Hal ini menjadi lebih rumit jika pengacara itu secara eksplisit ditanya apakah ini harga tertinggi dari wewenang yang diberikan padanya. Alih-alih berbohong dan berkata "ya", pengacara itu bisa dengan enteng berkata bahwa itulah harga yang ditawarkan pada saat ini. Negosiasi itu tidak perlu benar-benar melakukan penipuan terhadap pihak lain, meskipun mereka mengetahui tarian permainan itu. Namun, mengatakan kebenaran juga tidak berarti harus mengungkapkan semuanya dari awal, sehingga kehilangan daya tawar dalam bernegosiasi.

Satu batasan gertakan yang penting dalam situasi apa pun adalah harus ada pengungkapan material; karena pengungkapan informasi faktual sangat penting untuk memahami transaksi itu. Sebagai contoh, jika saya akan menjual mobil yang transmisinya akan rusak, tidaklah sah jika saya mengelabui pembeli untuk berpikir bahwa transmisi mobil itu dalam keadaan baik. Jika saya tidak mau atau tidak mampu mengungkapkan kondisi mobil yang sebenarnya, setidaknya saya harus menyatakan bahwa saya menjual mobil itu "apa adanya". Sesungguhnya, dalam banyak yurisdiksi, penjual dapat dituntut atas penipuan karena tidak melakukan pengungkapan material (hal ini terutama berlaku dalam penjualan rumah).

Dalam banyak skenario negosiasi, pelaku menggertak dengan mengarang fakta-fakta semu yang tidak dapat diverifikasi, seperti, "Saya tidak tahu apakah saya bisa membuat penawaran ini disetujui oleh bos saya," atau "Ini adalah penawaran terbaik dan terakhir saya," atau "Sudah ada sejumlah orang lain yang tertarik pada transaksi ini." Apakah mengarang "fakta" semu termasuk dalam aturan permainan yang dipahami semua orang? Dalam beberapa kasus, mungkin ya. "Ini adalah penawaran terakhir saya" yang disampaikan di awal negosiasi tidak akan dianggap serius oleh negosiator berpengalaman dari pihak lain. Atau jika salah satu pihak berkata, "Ada lima orang lain yang tertarik pada transaksi ini," pernyataan itu akan diabaikan oleh orang-orang di sekitar meja perundingan. Meskipun demikian, tindakan seperti ini dipertanyakan, karena membuat pernyataan yang tampaknya faktual dapat dianggap pihak lain sebagai tindakan yang melampaui aturan gertakan. Kita mungkin tidak dapat berkata dengan tegas bahwa orang Kristen tidak boleh terlibat dalam tindakan menggertak semacam ini. Tetapi, kami sangat menganjurkan agar orang-orang percaya bertanya, "Apakah proses ini menghormati Tuhan dan menghargai pihak lain?"

Pada akhirnya, semua negosiasi harus dilandaskan pada aturan realitas yang normal, di mana pernyataan-pernyataan faktual diharapkan benar. Jika Anda mencoba menjual tanah yang bukan milik Anda, misalnya, tidak seorang pun akan menganggap hal itu sebagai gertakan yang sah. Pendekatan yang mungkin paling menganggap gertakan itu sebagai iklan. Membesar-besarkan (atau mengecilkan) sikap para pihak mengenai harga, ketentuan, atau aspek-aspek lain yang dipahami sebagai taktik bernegosiasi bukanlah menipu. Tetapi, membuat pernyataan fakta yang tidak benar adalah tindakan yang menipu. Kemungkinannya tindakan itu juga tidak akan dipercaya, kecuali oleh pihak-pihak yang paling mudah percaya, yaitu orang-orang yang kemungkinan besar tidak memahami aturan permainan yang membuat gertakan itu sah sejak awal. Alih-alih mengarang fakta palsu, mengapa tidak membuat pernyataan yang benar tentang kurangnya pengetahuan pihak lain. Alih-alih berkata, "Ada tiga pembeli lain yang siap mengajukan penawaran, jadi anggaplah Anda beruntung mendapat penawaran seharga ini," bagaimana jika mengatakan, "Untuk Anda tahu saja, saya bisa mendapatkan tiga pembeli lain yang siap mengajukan penawaran, jadi apakah Anda benar-benar ingin mencoba keberuntungan Anda dengan harga ini?"

Jelas bahwa merasa ragu tentang bluffing (tindakan menggertak) tidak berarti suatu perusahaan atau individu tidak dapat menunjukkan citra terbaiknya. Itu sebabnya orang berdandan saat wawancara dan presentasi, dan mengapa kantor perusahaan menjadi tempat yang menarik untuk bekerja dan dikunjungi. Tetapi yang penting adalah yang kita tampilkan dengan cara terbaik dan menarik itu merupakan diri atau produk kita yang sebenarnya, bukan pribadi atau produk fiktif. Dalam kisah Philippe Kahn dan majalah Byte, Kahn dengan sengaja menampilkan perusahaannya yang bukan sebenarnya kepada staf penjualan yang tidak tahu bahwa dirinya sedang digertak. Kasus ini menggambarkan bahayanya gertakan. Meski diakui bahwa gertakan dapat diterima jika jelas semua orang tahu aturannya, godaan untuk mengambil keuntungan dari orang yang mungkin tidak mengetahui aturan itu sangat besar, dan sering menjadi alasan untuk menggertak sejak awal. Seperti dikatakan Alexander Hill, “Konsep saling menipu... hanya boleh digunakan dalam situasi-situasi yang sudah ditetapkan dengan cermat... di mana setiap orang memahami aturan dengan jelas dan orang luar yang tidak tahu apa-apa tidak boleh dipengaruhi secara negatif. Prosedur yang bersih seperti itu hampir tidak mungkin diterapkan di tempat kerja.”[4]

Dengan pemikiran ini, kasus Philippe Kahn dan Borland jelas merupakan penipuan yang tidak sah. Fakta bahwa taktik itu berhasil tidak menjadikannya benar, sama seperti menerobos lampu merah tidak apa-apa jika tidak tertabrak mobil di persimpangan. Jika Borland bangkrut dan tidak membayar Byte $20.000, akan lebih jelas lagi bahwa penipuan itu tidak sah.

Sebetulnya, penipuan yang dilakukan Kahn sangat mirip dengan jenis-jenis penipuan yang dilakukan dalam kehancuran ekonomi global belakangan ini, yang dipicu oleh runtuhnya pasar obligasi hipotek yang dijaminkan. Pemberi pinjaman memberi pinjaman berisiko kepada pembeli rumah yang tidak menunjukkan kemampuan untuk membayar kembali. Pemberi pinjaman lalu menjual pinjaman-pinjaman itu kepada investor yang tidak (diberi) tahu tentang tingkat risiko yang ada. Jika harga perumahan terus meningkat—seperti halnya ketika Borland menjual banyak perangkat lunak—maka ketika para peminjam gagal bayar, pemberi pinjaman dapat menyita dan menjual rumah-rumah itu dengan harga yang cukup tinggi untuk mengembalikan pinjaman, dan para investor kemungkinan tidak pernah tahu seberapa besar sebenarnya risiko yang mereka hadapi. Tetapi fakta bahwa yang terjadi sebaliknya—harga rumah turun, kredit macet, dan ekonomi terjerumus ke dalam resesi global—menunjukkan bahwa hanya karena penipuan kadang diuntungkan oleh faktor keberuntungan, tidak berarti semua orang mendapat keuntungan dan tak ada yang dirugikan. Menipu orang atau pihak lain pada dasarnya adalah tindakan yang merugikan semuanya.

Faktanya, seringkali sulit untuk mengenali batas antara gertakan dan penipuan yang melanggar hukum. Bayangkan Anda mengelabui seorang rekan kerja untuk berpikir bahwa Anda akan mendukung usahanya untuk mendapatkan promosi, tetapi Anda lalu menjelek-jelekkannya di depan bos agar Anda sendiri yang mendapatkan promosi itu. Ini jelas merupakan pelanggaran terhadap norma mengatakan kebenaran, pelecehan terang-terangan terhadap rekan kerja itu, dan tidak menghormati Kristus. Namun, Anda hampir dapat meyakinkan diri Anda bahwa itu hanyalah satu bentuk gertakan. Salah satu problema tentang gertakan adalah cara itu membuka celah penyalahgunaan sambil tetap memakai kedok legitimasi. Kita sebaiknya membatasi gertakan hanya pada situasi-situasi yang kita yakin semua pihak tahu bahwa gertakan sedang terjadi dan apa saja aturan dan batasannya. Mengulangi peringatan Alexander Hill, banyak orang jarang atau tidak pernah menghadapi situasi seperti itu dalam pekerjaan mereka.

Ketika Orang Tidak Punya Hak atas Kebenaran Itu

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kategori lain dari pengecualian yang mungkin terjadi pada norma mengatakan kebenaran adalah ketika orang yang bertanya tidak punya hak atas kebenaran itu. Sebagai contoh, jika seorang penjahat bersenjata datang ke sebuah toko swalayan untuk merampok, para karyawan tidak wajib mengatakan kebenaran tentang di mana tempat menyimpan uang. Banyak orang akan menerima bahwa berbohong kepada perampok itu adalah hal yang dapat dibenarkan. Bahkan, dalam beberapa kasus, menjelaskan kepada orang itu bahwa ia tak punya hak atas kebenaran itu sama dengan memberi informasi yang ia cari. Dalam kasus itu, sedikit menipu orang itu untuk mencegahnya mengetahui yang tidak berhak ia ketahui merupakan hal yang juga dapat dibenarkan.

Demikian pula, jika Anda dalam posisi harus menjaga kerahasiaan, orang yang meminta Anda melanggar kewajiban itu tidak punya hak atas informasi yang mereka cari dari Anda. Namun, dalam kasus kerahasiaan, kewajiban untuk tidak mengungkap informasi tidak membuat kebohongan dapat dibenarkan. Sebagai contoh, jika Anda bekerja di bagian SDM perusahaan Anda dan Anda memiliki informasi tentang PHK mendatang yang harus Anda rahasiakan, lalu seseorang meminta Anda untuk memberi “peringatan” tentang keamanan pekerjaan mereka, Anda punya kewajiban untuk tetap menjaga kerahasiaan itu.

Membocorkan informasi itu salah, tetapi berbohong juga salah. Respons yang tepat adalah berkata bahwa andaipun Anda memiliki informasi tentang hal itu, Anda tidak dapat mengungkapkannya. Hal ini tetap berlaku meskipun orang itu minta tolong atas dasar hubungan persahabatan atau menunjukkan bahwa alasannya membutuhkan informasi itu adalah karena ada pembelian rumah yang sedang dalam proses atau komitmen finansial lainnya yang sedang dibuat. Dalam hal ini, Anda harus menjaga kerahasiaan sebagai bagian dari kesetiaan Anda kepada perusahaan, dan mengatakan kepada orang itu bahwa Anda tidak dapat menjawab pertanyaan seperti itu dan Anda tidak suka ditempatkan dalam posisi yang membahayakan itu, yang dapat membuat Anda kehilangan pekerjaan jika Anda mengungkapkan informasi itu.

Perbedaan antara contoh kasus perampokan dan menjaga kerahasiaan adalah karyawan bagian SDM itu memiliki opsi lain selain berbohong secara langsung. Penjaga toko itu tidak dapat berkata kepada perampok, "Andaipun saya tahu di mana uang itu disimpan, saya tidak akan mengungkapkan informasi itu kepada Anda"—setidaknya jika ia mau selamat dari para perampok itu! Tetapi karyawan di bagian SDM memiliki opsi itu. Hal ini juga berlaku jika ada pelanggan yang menanyakan tentang margin keuntungan dari harga produk yang Anda tawarkan. Anda tidak perlu berbohong, Anda hanya perlu menegaskan bahwa itu adalah informasi rahasia yang tidak boleh Anda ungkapkan. Perkataan ini memperkuat fakta bahwa pelanggan itu tak punya hak atas informasi itu. Dan pelanggan itu punya hak untuk tidak dibohongi oleh Anda.

Situasi makin ambigu jika kebohongan itu hanya untuk melindungi diri Anda dari akibat tindakan Anda sendiri. Sebagai contoh, atasan Anda pada umumnya tidak punya hak untuk mengetahui apa yang Anda lakukan pada saat Anda tidak bekerja. Bagaimana jika Anda memilih untuk melakukan hal yang akan membuat Anda tidak disukai oleh atasan atau rekan kerja Anda atau akan menyingkapkan informasi yang sangat pribadi? Jika seseorang berkata ia melihat Anda di kasino akhir pekan lalu, apakah Anda boleh berbohong untuk menyangkalnya? Bagaimana dengan ikut demonstrasi untuk memperjuangkan hak-hak sipil? Beribadah di gereja? Menghadiri lokakarya untuk para korban KDRT? Sulit untuk menemukan aturan umum dari Kitab Suci atau lainnya dalam situasi seperti ini. Tetapi kita dapat memerhatikan bahwa kedewasaan rohani yang berkembang cenderung berjalan seiring dengan kemampuan mengungkap kebenaran yang lebih besar dalam situasi-situasi yang tampaknya bisa menimbulkan kesulitan pribadi. Orang Kristen baru mungkin akan sangat sulit mengakui dirinya menghadiri ibadah gereja jika ia takut hal itu akan mengurangi penghargaan rekan kerjanya terhadapnya. Orang Kristen yang lebih dewasa mungkin bersedia mengambil risiko dan mampu mengubah situasi itu menjadi pengalaman yang positif bagi diri mereka sendiri maupun rekan kerja mereka. Namun, orang yang paling dewasa rohani pun yang bertobat menjadi Kristen di negara yang melarang pertobatan semacam itu mungkin akan memutuskan untuk membohongi orang lain agar hal itu tetap tersembunyi, setidaknya sampai waktu dan tempat yang ditentukan Tuhan. Dietrich Bonhoeffer menasihati teman-temannya untuk memberi hormat ala Nazi (“Heil Hitler”) untuk menutupi perlawanan mereka terhadap Hitler.[1] Di sini, sekali lagi, perhatikanlah bahwa untuk menemukan contoh yang jelas, kita telah mengambil situasi yang jauh melebihi yang dihadapi banyak orang Kristen di tempat kerja. Bagi banyak orang Kristen di berbagai tempat dan waktu, bertumbuh dalam Kristus berarti makin bersedia mengungkapkan diri secara terbuka dan tanpa kebohongan.

Tipu Muslihat untuk Mendapatkan Informasi Yang Berhak Anda Ketahui

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Ada situasi-situasi di mana penipuan diperlukan untuk mendapatkan informasi yang berhak diketahui suatu organisasi. Hal ini pada dasarnya merupakan pengecualian dari yang sudah disebutkan sebelumnya, penipuan untuk tujuan intelijen nasional dan menerapkannya di tempat kerja yang lain. Sebagai contoh, bayangkan pekerjaan Anda adalah menyampaikan (surat) perintah pengadilan kepada orang yang ingin menghindari muncul di pengadilan. Jika Anda memulai dengan mengungkapkan siapa diri Anda dan mengapa Anda mencoba menghubungi mereka, mereka mungkin tidak akan mengakui siapa mereka. Padahal, pekerjaan Anda sangat penting untuk berjalannya sistem hukum.

Atau pikirkan tentang praktik belanja misteri. Sebagai sarana penilaian kualitas, banyak perusahaan ritel, medis, perhotelan, dan layanan pelanggan lainnya menggunakan para pembeli misterius untuk datang ke lokasi-lokasi mereka, berpura-pura menjadi pelanggan, dan melaporkan pengalaman mereka. Informasi ini bisa sangat penting untuk memastikan pelanggan mendapatkan yang dijanjikan oleh merek tertentu. [1] Untuk memastikan mereka akan diperlakukan sebagai pelanggan biasa, para pembelanja misterius ini harus menyembunyikan kebenaran bahwa mereka akan melaporkan pengalaman mereka kepada perusahaan. Pembelanja misterius—setidaknya dalam situasi ini—berusaha memperoleh informasi yang berhak diketahui organisasi mereka, yang tidak dapat diperoleh tanpa penipuan.

Sama seperti memakai kebohongan untuk melindungi informasi yang tidak berhak diketahui orang lain itu sah, menggunakan tipu muslihat untuk memperoleh informasi yang berhak Anda ketahui juga sah. Pendekatan yang sama dapat dilakukan untuk mengetahui layanan pelanggan, harga dan lain-lainnya dari pesaing dengan mengirim "pembeli misterius kompetitif" ke lokasi-lokasi mereka. Tindakan ini dasar etikanya lebih dipertanyakan. Selama pembeli misterius kompetitif hanya mengamati harga, interaksi, lingkungan, dan lain-lain yang bisa terlihat di depan umum, tidak ada penipuan yang dilakukan. Namun, jika pembeli misterius kompetitif ini ditanya siapa mereka sebenarnya atau apa yang sedang mereka lakukan, akan tidak etis jika mereka memberi jawaban yang bohong. Yang lebih buruk lagi adalah menghubungi pesaing, mengelabui mereka tentang identitas Anda, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan mereka jawab jika mereka tidak ditipu.[2]

Informasi Yang Tidak Berhak Anda Ketahui

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sampai di sini kita telah membahas tentang penipuan untuk memperoleh informasi yang berhak Anda ketahui. Hal ini berbeda dengan spionase korporat, yang artinya memakai penipuan atau cara lain untuk mendapatkan informasi yang tidak berhak Anda ketahui. Informasi ini biasanya mengenai produk, strategi, keuangan, orang, atau penelitian dan pengembangan yang menjadi target perusahaan itu. Tindakan ini tidak etis dan ilegal. Karena entitas yang melakukan spionase tidak berhak mengetahui informasi itu, mereka jelas tidak boleh memakai penipuan untuk mendapatkan informasi itu. Sebagai contoh, beberapa perusahaan berusaha mendapatkan informasi tentang keadaan internal perusahaan pesaing dengan menyuruh beberapa karyawan mengaku sebagai mahasiswa pascasarjana yang sedang mengerjakan tesis. Mereka mungkin mengatakan atau menyiratkan bahwa informasi itu akan disamarkan atau disatukan. Ini jelas melanggar hukum, persis seperti cara perusahaan pada umumnya yang memata-matai, menggunakan cara-cara curang untuk memperoleh akses kepada informasi yang tidak berhak dimiliki perusahaan pesaing.

Hal lain yang menarik dari spionase korporat adalah situasi di mana Anda mungkin tanpa menipu mendapatkan informasi yang tidak berhak Anda peroleh. Sebagai contoh, Anda seorang tenaga pemasaran yang menginap di sebuah hotel di kota calon pelanggan potensial Anda. Anda mendapati, tenaga pemasaran pesaing juga menginap di kamar hotel itu pada malam sebelumnya dan meninggalkan salinan penawaran perusahaannya di laci. Anda tinggal membolak-balik surat penawaran itu untuk mengetahui tentang harga, ketentuan, dan produk-produk yang direkomendasikan pesaing. Dari sini Anda bisa mendapatkan keuntungan kompetitif yang lumayan. Namun Anda tidak punya hak atas informasi itu, dan sebenarnya (dalam banyak kasus) surat penawaran itu akan ditandai dengan jelas sebagai hal yang "rahasia". Tetapi, Anda tidak menipu siapa pun untuk mendapatkan informasi itu. Haruskah Anda menganggapnya sebagai keberuntungan, atau sebagai konsekuensi yang wajar dari keteledoran pesaing yang meninggalkan surat penawaran di kamar hotel?

Karena prinsip yang selama ini kita ikuti berkaitan dengan "hak untuk tahu", maka satu-satunya jawaban yang sesuai dengan prinsip itu adalah Anda tidak boleh membaca surat penawaran itu atau membiarkan diri Anda atau perusahaan Anda mengetahui isinya. Banyak perusahaan dengan reputasi baik memiliki kebijakan untuk tidak memakai—atau bahkan mengetahui, jika mungkin—informasi rahasia pesaing. Manajer dan para eksekutif—jika mereka beretika—akan menegakkan kebijakan ini dan mencegah secara ketat penggunaan informasi yang tidak berhak diketahui perusahaan.

Implikasi Sosial dari Melindungi Informasi Yang Tak Berhak Diketahui Orang Lain

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pembahasan tentang legitimasi penipuan ketika pihak lain tidak berhak tahu ini mungkin tampaknya seperti serangkaian alasan untuk tindakan yang dipertanyakan. Di level pribadi, hal ini mungkin sering terjadi. Namun di level masyarakat, jika tidak ada mekanisme yang melindungi orang dan organisasi dari keharusan mengungkap hal-hal yang tidak berhak diketahui orang lain, masyarakat dapat dirugikan. Pikirkan kasus berikut ini yang dilaporkan kepada Proyek Teologi Kerja:

Saya bekerja di sebuah perusahaan farmasi besar, mengajar kursus yang dimaksudkan untuk membantu para manajer dan tenaga profesional menyelidiki keluhan-keluhan tentang kualitas produk. Jadi, jika suatu produk kedapatan dibuat dan dipasarkan meskipun sebenarnya tidak memenuhi standar kualitas, maka penyelidikan akan diadakan untuk mengungkap apa yang telah terjadi yang menyebabkan insiden itu. Selama melakukan penyelidikan itu, hal yang profesional adalah membuat daftar kemungkinan penyebab yang kemudian akan diuji, dan dieliminasi dengan logika dan pengujian lebih lanjut, untuk menentukan mana yang paling cocok dengan akibat sebenarnya yang dilaporkan. Tindakan ini benar-benar setara dengan proses yang harus dilalui seorang dokter dalam mendiagnosis serangkaian gejala misterius; karena tentu akan menjadi tindakan malpraktik jika langsung mengambil kesimpulan awal tanpa mengeliminasi kemungkinan penyebab-penyebab lain yang masuk akal.
Tetapi, divisi hukum perusahaan menasihati para manajer agar tidak menyimpan catatan tentang penyelidikan daftar kemungkinan penyebab tersebut, karena catatan itu bisa terkena panggilan pengadilan (diminta melalui surat panggilan pengadilan). Jika ada orang yang menggugat perusahaan karena alasan lain memperoleh akses ke dokumen yang berisi daftar panjang kemungkinan penyebab cacat produk itu, hal itu dapat memberi kesan yang salah bahwa perusahaan mengetahui banyak kekurangan dalam proses-proses itu, tetapi tidak melakukan apa-apa untuk memperbaikinya.[1]

Dalam situasi ini, perusahaan farmasi itu memiliki informasi internal yang digunakan untuk meningkatkan pengendalian mutu. Perusahaan itu percaya—mungkin dengan alasan yang sah—bahwa jika informasi ini terungkap kepada para penuntut dalam perkara hukum yang tidak berhak mengetahuinya, informasi itu kemungkinan akan disalahpahami dan digunakan untuk merugikan perusahaan. Karena perusahaan itu tidak yakin bahwa yang dianggapnya sebagai hak privasi akan dihormati sistem peradilan, maka perusahaan itu mengubah prosesnya dengan tidak melakukan pencatatan informasi yang diperlukan untuk meningkatkan pengendalian mutu. Akibatnya, masyarakat dirugikan karena kualitas obat tidak sebaik yang seharusnya bisa dicapai jika ada pencatatan informasi itu. Anda tidak harus setuju dengan pendapat perusahaan farmasi itu tentang siapa tepatnya yang berhak mengetahui apa, untuk menyadari bahwa mencapai keseimbangan yang tepat adalah persoalan yang memiliki dampak sosial yang penting. Hak atas privasi, termasuk hak untuk memakai penipuan untuk menyembunyikan informasi dari yang tidak berhak mengetahuinya, terlalu rumit untuk ditangani dengan larangan penipuan yang menyeluruh. Di dunia yang telah jatuh, setidaknya, kebenaran dan kebohongan adalah isu-isu yang sangat rumit, bahkan dalam terang prinsip-prinsip Alkitab.

Kesimpulan tentang Kebenaran dan Kebohongan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Meskipun sebagian besar pembahasan dalam makalah ini berbicara tentang pengecualian terhadap hal mengatakan kebenaran, hal ini tidak boleh diartikan bahwa mengatakan kebenaran bukan norma moral. Perspektif alkitabiah dasar tentang kejujuran dan kebohongan adalah mengatakan kebenaran dan membiarkan konsekuensinya terjadi apa adanya. Ambiguitas muncul ketika membahas pengecualian-pengecualian terhadap norma itu. Pengecualian-pengecualian itu terjadi ketika tidak ada harapan tentang kebenaran (seperti dalam bualan dan permainan poker), ketika (dalam kasus yang jarang terjadi) jelas semua orang tahu aturannya (seperti dalam gertakan), ketika seseorang tidak punya hak atas informasi itu (seperti dalam melindungi informasi rahasia), dan ketika mengatakan kebenaran berbenturan dengan nilai-nilai moral penting lainnya (seperti dalam kisah Corrie Ten Boom dan Nazi). Pengecualian terhadap norma itu hanyalah pengecualian untuk kejadian-kejadian yang tidak biasa. Pengecualian itu tidak menetapkan pola untuk penerapan mengatakan kebenaran di tempat kerja.

Penulis buku terlaris James Stewart, dalam bukunya yang baru saja dirilis, Tangled Webs: How False Statements Are Undermining America, [1] berbicara tentang pemulihan mengatakan kebenaran sebagai nilai moral yang penting dalam masyarakat. Pandangannya—bahwa kejujuran sangat penting bagi persatuan masyarakat—berlaku di tempat kerja maupun di semua lapisan masyarakat. Ia mencatat kerusakan yang diakibatkan oleh kebohongan, yang di dalam kasus kebanyakan korbannya, adalah kehidupan yang hancur dan bencana finansial.

Mengatakan kebenaran juga merupakan nilai moral yang sangat penting dalam pandangan-dunia Kristen, karena identitas orang Kristen ada di dalam Yesus—Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Orang Kristen dapat melakukan pengecualian-pengecualian yang jelas terhadap norma mengatakan kebenaran dengan cara-cara yang telah dijelaskan, dan bahkan kadang menjadi tugas kita untuk melakukannya. Tetapi, marilah kita berharap bahwa cinta kita pada kebenaran akan membuat kita memperkecil wilayah pengecualian, dan bukan memperluasnya. Orang yang dimotivasi keuntungan pribadi akan lebih suka mengeksploitasi keuntungan yang dapat mereka peroleh dengan melebih-lebihkan, menggertak, atau menyesatkan ketika pihak lain mengharapkan kebenaran. Orang yang dimotivasi kedatangan kerajaan Allah di bumi akan lebih suka melayani orang lain dengan mengatakan kebenaran, bahkan pada saat hal itu tidak diharapkan. Pertanyaan favorit kita bukanlah "Apakah ini dapat dibenarkan," tetapi "Apakah ini cara melakukan segala sesuatu ketika kerajaan Allah datang?"

Ayat-ayat Alkitab Penting tentang Kebenaran dan Kebohongan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

AYAT

TEMA

Kejadian 3:13 Ular itu yang memperdayaku.

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Kejadian 29:25 Bukankah untuk mendapat Rachel aku bekerja padamu? Mengapa engkau menipu aku?

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Kejadian 31:20, 26 Yakub pun mengakali Laban . . . “Engkau telah mengakali aku.”

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Imamat 19:11 Janganlah kamu berbohong, dan janganlah kamu menipu satu sama lain.

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Ayub 11:11 Sesungguhnya, Ia mengenali penipu . . .

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Mazmur 32:2 Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu.

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Mazmur 101:7 Orang yang melakukan tipu daya tidak akan tinggal di dalam rumahku.

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Mazmur 120:2 Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari bibir dusta, dari lidah penipu.

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Amsal 14:5 Saksi yang setia tidak berbohong, tetapi saksi dusta meniupkan kebohongan.

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Yesaya 53:9 Sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu daya tidak ada dalam mulutnya.

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Markus 7:21-22 Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan. . .

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Roma 1:29 [Mereka] penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Roma 16:18 Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dengan kata-kata yang muluk-muluk dan bahasa yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya.

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

1 Petrus 2:1 Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.

Kebohongan/Kecurangan/Penipuan

Kejadian 42:16 Dengan demikian perkataanmu dapat diuji, apakah benar.

Kebenaran/Kejujuran

Mazmur 15:1-3 TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh tinggal di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya.

Kebenaran/Kejujuran

Amsal 12:17 Siapa mengatakan kebenaran, menyatakan apa yang adil, tetapi saksi dusta menyatakan tipu daya.

Kebenaran/Kejujuran

Amsal 12:19 Bibir kebenaran tetap untuk selama-lamanya, tetapi lidah dusta hanya untuk sekejap mata.

Kebenaran/Kejujuran

Amsal 14:25 Saksi yang setia menyelamatkan hidup, tetapi siapa meniupkan kebohongan adalah pengkhianat.

Kebenaran/Kejujuran

Amsal 22:21 . . . untuk mengajarkan kepadamu apa yang benar dan dapat dipercaya, supaya engkau dapat memberikan jawaban yang tepat.

Kebenaran/Kejujuran

Yohanes 14:6 Akulah jalan, kebenaran dan hidup.

Kebenaran/Kejujuran

Yohanes 16:13 Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.

Kebenaran/Kejujuran

Yohanes 17:17 Firman-Mu itulah kebenaran.

Kebenaran/Kejujuran

1 Yohanes 5:6 Rohlah yang bersaksi, karena Roh adalah kebenaran.

Kebenaran/Kejujuran

Keluaran 20:16/Ulangan 5:20 Jangan memberikan kesaksian palsu terhadap sesamamu.

Kepalsuan/saksi dusta

Mazmur 52:3 Engkau mencintai … dusta lebih daripada perkataan yang benar.

Kepalsuan/saksi dusta

Amsal 30:8 Jauhkanlah dariku kecurangan dan kebohongan.

Kepalsuan/saksi dusta

Efesus 4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

Kepalsuan/saksi dusta

Ayub 27:4 Bibirku tidak akan mengucapkan kebohongan, dan lidahku tidak akan menyuakan dusta.

Dusta/Kebohongan

Mazmur 10:7 Mulutnya penuh dengan sumpah serapah, tipu daya dan penindasan; di bawah lidahnya ada kelaliman dan kejahatan.

Dusta/Kebohongan

Kolose 3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya.

Dusta/Kebohongan

Titus 1:2 . . . Allah yang tidak berdusta . . .

Dusta/Kebohongan

Amsal 20:17 Roti hasil tipuan sedap rasanya, tetapi kemudian mulutnya penuh dengan kerikil. .

Kecurangan

Kejadian 30:33 Kejujuranku akan terbukti di kemudian hari, apabila engkau datang memeriksa upahku.

Jujur/Kejujuran

Imamat 19:36 Haruslah kamu memakai neraca dan batu timbangan yang benar, efa dan hin yang benar. Akulah TUHAN, Allahmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir. (lihat juga Ulangan 25:15, Amsal 16:11).

Jujur/Kejujuran

2 Raja-raja 12:15 Mereka tidak meminta perhitungan dari orang-orang yang diserahi uang untuk diberikan kepada para pekerja, sebab mereka itu bekerja dengan jujur.

Jujur/Kejujuran

Amsal 16:13 Bibir yang benar disenangi raja.

Jujur/Kejujuran

Amsal 24:26 Siapa memberi jawaban yang tepat mengecup bibir.

Jujur/Kejujuran

Matius 5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.

Jujur/Kejujuran