Bootstrap

Bagaimana Istirahat Dipulihkan – Sabat & Penebusan Yesus di Perjanjian Baru

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Sunset 192978 960 720

Apa yang dapat membebaskan orang dari siklus berpusat pada diri sendiri yang merusak ini agar mereka dapat mengalami istirahat yang mereka butuhkan? Sebesar apa pun keinginan banyak orang untuk menjadikan istirahat sebagai disiplin yang ketat, mereka tidak bisa hanya sekadar menjadwalkan waktu-waktu istirahat yang teratur dalam kalender mereka dan berharap mengalami istirahat menuha yang mendalam seperti yang dijelaskan Heschel. Masalah yang lebih dalam tentang istirahat bukanlah masalah penjadwalan, tetapi masalah percaya kepada Allah. Entah bagaimana, hati manusia perlu diubahkan.

Di Perjanjian Baru, ada dua ayat yang menjelaskan tentang bagaimana Allah memulihkan istirahat. Di ayat yang pertama, Yesus membuat pernyataan yang tegas dan kontroversial bahwa Dia akan memberi istirahat/kelegaan kepada manusia.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:28-30).

Pernyataan ini membangkitkan kemarahan sebagian orang Israel karena hanya Allah yang dapat memberikan istirahat/kelegaan semacam itu, seperti yang tertulis di Keluaran 33:14: “Aku sendiri akan berjalan di depanmu dan memberi ketenteraman kepadamu.” Yesus memang bermaksud mengidentifikasi diri-Nya sebagai satu-satunya Allah yang benar yang dapat memberikan kelegaan semacam itu yang dijanjikan kepada bangsa Israel. Tetapi bagaimana caranya Yesus memberikan istirahat/kelegaan ini?

Di pasal kedua Injil Matius, Yesus membuat pernyataan menghebohkan lain dengan berkata bahwa Dia lebih besar dari hari Sabat karena Dia adalah “Tuhan atas hari Sabat” (Matius 12:8).

Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi Bait Allah. Sekiranya kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Sebab Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat" (Matius 12:6-8)

Yesus membuat pernyataan dramatis bahwa Dia akan memberikan istirahat yang lebih besar dari yang dapat diberikan hukum Sabat. Bagaimana Yesus memberikan istirahat yang lebih mendalam dari hukum Sabat ini? Kitab Roma memberikan penjelasannya.

Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tidak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sama seperti manusia yang berdosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. (Roma 8:3-4).

Hukum Sabat sendiri tidak mampu mengatasi masalah yang lebih dalam pada diri manusia. Perintah Keempat mengajarkan bahwa manusia harus beristirahat, tetapi perintah itu tidak dapat memampukan mereka untuk beristirahat karena perintah itu sendiri tidak mampu mengubah hati. Ketidakmampuan beristirahat yang umum ini justru menyingkapkan masalah yang jauh lebih dalam. Manusia ingin mandiri/mencukupi diri sendiri tanpa Allah, padahal usaha yang diperlukan untuk melakukan hal itu membuat manusia kelelahan dan kosong. Di sinilah kabar baik Injil berperan. Menurut kitab Roma (lihat ayat di bawah), Allah tahu bahwa hukum itu tidak dapat mengubah hati. Yesus menyebut diri-Nya sebagai Tuhan atas hari Sabat karena Dia memang dapat melakukan hal yang tidak pernah dapat dilakukan oleh hukum Sabat. Allah ingin bersekutu dengan umat-Nya melalui istirahat, tetapi manusia tidak dapat bersekutu dengan Allah jika mereka takut pada hukuman-Nya. Yesus membebaskan manusia dari hukuman itu dengan mengampuni segala dosa melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Dengan melakukan hal itu, Yesus memberikan orang Kristen akses baru kepada Allah yang tidak dapat diperoleh atau dicapai dengan usaha manusia sendiri. Karena tidak lagi tepisah dari Allah akibat dosa, manusia kini dapat memasuki persekutuan dengan Allah yang benar-benar melegakan.

Sesungguhnya, pemeriksaan iman Kristen, sebagaimana dijelaskan dalam surat-surat kepada gereja mula-mula, sejalan dengan yang telah dilakukan Kristus bagi manusia dalam hal istirahat.

Pertama-tama, di dalam Kristus orang-orang percaya diselamatkan dari kutuk hukum Taurat.

Oleh sebab itu, sekarang sama sekali tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Sebab hukum Roh yang memberi hidup telah memerdekakan engkau dalam Kristus Yesus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tidak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sama seperti manusia yang berdosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh (Roma 8:1-4)

Karena manusia tidak perlu takut lagi pada Allah, orang percaya tidak perlu lagi merasa terpaksa harus bekerja terus-menerus dalam usaha yang sia-sia untuk menyenangkan Allah.

Dengan memberikan pengampunan, Kristus merekonsiliasi relasi setiap orang dengan Allah. Dengan demikian, Yesus memulihkan kemungkinan setiap orang untuk dapat mengalami persekutuan dengan Allah yang penuh kasih.

Sebab aku yakin bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, atau pun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:38-39)

Menurut ayat ini, semua orang seharusnya dapat mengalami relasi yang penuh kelegaan dengan Allah, meskipun di tengah berbagai tantangan dunia-nyata.

Selain itu, melalui pengorbanan Kristus relasi orangtua-anak antara Allah dan umat-Nya dipulihkan.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu sendiri bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Roma 8:15-17)

Kristus mengembalikan semua hak istimewa dan berkat sebagai anak Allah yang pernah diberikan Allah kepada manusia di taman Eden. Diadopsi sebagai anak Allah, manusia kini memiliki hak untuk meminta yang mereka butuhkan dan Allah berjanji tidak akan menahan segala hal yang baik dari mereka (Roma 8:32, 2 Korintus 9:8). Selain itu, individu-individu mendapat kehormatan untuk bermitra dengan Allah dalam pekerjaan yang Dia rancangkan akan Dia lakukan di dunia.

Diadopsi sebagai anak Allah tidak berarti orang Kristen tidak mungkin mengalami penderitaan hidup. Tetapi, penderitaan dapat dipandang sebagai bagian dari menjalankan bisnis keluarga. Orang kadang mendapat kesempatan untuk menderita bersama Allah dengan cara yang sama seperti Yesus menyertai semua orang yang menderita. Entah orang percaya merasa sangat tercukupi atau sangat kekurangan, pengorbanan Yesus berarti mereka tak perlu lagi mengandalkan pekerjaan mereka sendiri sebagai sumber utama rasa aman dan identitas mereka.

Demikian pula, ketika orang-orang bermitra dengan Allah dalam pekerjaan-Nya mengembalikan dunia kepada rancangan-Nya yang semula, Roh Kudus memampukan mereka untuk memperdalam relasi mereka dengan orang lain. Hanya oleh pengorbanan Yesus, manusia dapat menerima karunia Roh Kudus (Yohanes 16:7-7). Dan berkat karunia Roh Kudus, para pengikut Yesus dimampukan untuk memberikan waktu dan harta mereka dengan penuh pengorbanan kepada orang lain (Kisah Para Rasul 4:34). Allah memberikan Roh-Nya kepada para pengikut-Nya untuk memampukan mereka hidup oleh iman, bekerja dengan iman, dan akhirnya beristirahat dalam iman.

Pencerahan terakhir tentang topik ini di Perjanjian Baru adalah bahwa Kristus akan datang kembali pada suatu hari untuk memulihkan sepenuhnya rancangan Allah dalam bekerja maupun beristirahat. Di dunia yang telah jatuh yang masih berlanjut hingga saat ini, manusia akan selalu mengalami pola-pola kekecewaan, kelelahan, dan pemulihan sebagian. Namun, ketika kelak Kristus datang kembali untuk menjadikan dunia sebagaimana yang selalu dimaksudkan Allah, Dia akan menegakkan kembali pola yang terpadu antara bekerja yang bertujuan dalam kemitraan dengan Allah dan beristirahat dalam persekutuan yang sempurna dengan Dia. Ayat-ayat dari Kitab Wahyu berikut ini menyingkapkan kedua tema bekerja dan beristirahat itu.

Lalu ia berkata kepadaku: "Tuliskanlah: Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba." Katanya lagi kepadaku: "Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah." Aku pun sujud di depan kakinya untuk menyembah dia, tetapi ia berkata kepadaku: "Janganlah berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama dengan engkau dan saudara-saudara seimanmu, yang memiliki kesaksian Yesus. Sembahlah Allah!" (Wahyu 19:9-10)

Kehidupan dalam ciptaan baru akan meliputi bekerja (dalam pelayanan bersama dengan para malaikat) dan beristirahat (menikmati perjamuan kawin Anak Domba). Kerja dan istirahat manusia di masa yang akan datang itu akan terjadi dalam kemitraan yang sempurna dengan Allah. Orang percaya dapat menantikan hal ini dengan penuh pengharapan, sementara setiap orang berusaha mengalami kedekatan dengan Allah dalam kerja dan istirahat mereka saat ini (Ibrani 4:1).

Apakah Orang Kristen Diharapkan Menaati Sabat Mingguan?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pengorbanan Kristus membuka kesempatan bagi orang Kristen untuk bisa dengan leluasa memasuki istirahat Allah. Karena itu, pertanyaan apakah orang Kristen perlu mematuhi hari istirahat mingguan yang di Perjanjian Lama disebut hari Sabat, tetap menjadi pertanyaan terbuka. Alkitab Perjanjian Baru tampaknya memberi kebebasan kepada orang Kristen untuk memilih sendiri jawaban pertanyaan ini.

Yang seorang menganggap hari tertentu lebih penting daripada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang pada suatu hari tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Siapa yang makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. (Roma 14:5-6).

Sebagian orang Kristen menafsirkan ayat ini sebagai pembenaran untuk tidak merayakan hari Sabat secara formal, meskipun kitab Roma dengan jelas menyatakan bahwa orang yang memilih mematuhi hari Sabat tidak boleh dihakimi karena hal itu. Entah orang percaya menetapkan hari tertentu untuk beristirahat Sabat, atau hanya beristirahat sesuai pimpinan Roh, ayat dari kitab Roma ini menunjukkan bahwa kedua kebiasaan itu harus sama-sama dijalani dengan ucapan syukur kepada Allah.

Meskipun orang bebas memilih kapan dan bagaimana beristirahat, ada argumen-argumen yang kuat tentang menaati istirahat Sabat mingguan maupun beribadah bersama orang Kristen lain pada hari yang biasa ditentukan dalam minggu itu (entah hari itu terasa memberi kelegaan bagi seseorang atau tidak). Pertemuan mingguan yang meliputi ibadah telah dilakukan secara luas di sepanjang sejarah gereja.

Murid-murid Yesus tentu saja pergi ke bait suci pada hari Sabat Yahudi, yang kalau pun tidak ada alasan yang lain, setidaknya untuk meyakinkan orang lain bahwa Yesus adalah Mesias.

Paulus dan Silas mengambil jalan melalui Amfipolis dan Apolonia dan tiba di Tesalonika. Di situ ada sebuah rumah ibadat orang Yahudi. Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci. Ia menerangkan dan menunjukkan kepada mereka bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, lalu ia berkata: "Inilah Mesias, yaitu Yesus, yang kuberitakan kepadamu." Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka. (Kisah Para Rasul 17:1-4)

Paulus biasa menghadiri pertemuan Sabat di kota mana pun yang dikunjunginya dan memakai kesempatan itu untuk memberitakan Kabar Baik tentang Yesus. Tindakan ini tidak tampak sebagai hal yang benar-benar memberi kelegaan baginya (bahkan seringkali perkataannya disambut dengan kerusuhan massa yang beringas), dan kemungkinan istirahat bukan alasan utamanya melakukan hal itu.

Yesus sendiri dalam kehidupan-Nya menunjukkan dua kebiasaan Sabat yang berbeda. Yesus melakukan istirahat rohani secara pribadi maupun dalam pengalaman ibadah bersama. Yesus mengambil waktu sendirian untuk beristirahat di hadirat Allah (Matius 14:13). Di waktu lain, Dia memakai ibadah Sabat orang Yahudi untuk menjangkau orang lain dengan berita keselamatan-Nya (Lukas 4:16-21). Karena beristirahat secara pribadi maupun beribadah bersama sama-sama penting dalam kehidupan Yesus, orang Kristen masa kini juga bisa membuat pilihan serupa itu dengan kebebasan yang diberikan Allah kepada mereka.

Entah seseorang memilih beristirahat dengan pola mingguan tertentu atau tidak, orang-orang yang membawahi orang lain punya tanggung jawab untuk memastikan para pekerjanya memiliki akses yang semestinya untuk beristirahat. Perintah Allah kepada orang Israel menunjukkan kepedulian-Nya yang besar terhadap umat yang lain juga:

Tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat bagi TUHAN, Allahmu. Jangan melakukan pekerjaan apa pun, engkau, anakmu laki-laki atau perempuan, hambamu laki-laki atau perempuan, lembumu atau keledaimu, segala hewanmu, atau pun pendatang di dalam kotamu, supaya hambamu laki-laki atau perempuan beristirahat seperti engkau juga. Haruslah kauingat bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan teracung. Itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat. (Ulangan 5:14-15)

Di dalam ayat-ayat ini, berakhirnya perbudakan mendatangkan kebebasan untuk beristirahat. Kebebasan orang Kristen untuk menjalani Sabat dengan cara yang mereka pilih sendiri harus selalu dilihat dalam terang ini. Istirahat, pada intinya, adalah kebebasan dari bekerja tak henti-hentinya yang menjadi sifat perbudakan. [1] Karena Allah membebaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir, Dia berharap para pengikut-Nya juga setidaknya menahan diri dari memperbudak orang lain. Lagipula, pengorbanan Yesus yang menyerahkan nyawa-Nya sendiri tidak terbatas hanya bagi kelompok religius tertentu, tetapi “bagi banyak orang” (Matius 26:28). Jadi ketika para manajer melindungi waktu istirahat bagi para karyawannya, mereka dapat menganggap tindakan manajemen ini sebagai kemitraan dengan Allah dalam karya pembebasan-Nya yang masih terus berlangsung.

Memberikan istirahat kepada semua pekerja dapat dilakukan dengan berbagai cara di berbagai industri atau organisasi. Bandwidth.com, sebuah perusahaan telekomunikasi yang berpusat di Carolina Utara, memiliki kebijakan yang mengharuskan setiap orang meninggalkan pekerjaan pada jam 6 sore agar dapat memiliki waktu makan malam bersama orang-orang yang mereka kasihi. Jika diperlukan, mereka dapat bekerja dari rumah setelah jam 8 malam atau lebih, tetapi setidaknya para pekerja diharapkan tidak bekerja atau saling berkomunikasi antara jam 6 sore sampai jam 8 malam. Rekan-pendirinya, Henry Kaestner, berkata bahwa yang menginspirasi kebijakan itu adalah hari Sabat yang alkitabiah, bukan karena sifat keagamaannya yang spesifik, tetapi karena hal itu memberi kesempatan untuk beristirahat dan berelasi kepada semua orang.[2]

Jaringan restoran cepat saji Chick-fil-A terkenal karena tutup pada hari Minggu. Kebijakan ini tentu saja merupakan satu cara untuk memastikan setiap orang memiliki hari libur, setidaknya dari pekerjaan mereka di perusahaan itu. Menurut situs web perusahaan itu, keputusan Pendirinya, Truett Cathy, untuk menjadikan sabat mingguan sebagai kebijakan perusahaan merupakan hal yang “praktis serta rohani.” Ia percaya bahwa semua penyelenggara dan karyawan restoran waralaba Chick-fil-A harus punya kesempatan untuk beristirahat, menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat, dan beribadah jika mereka mau." Harapannya, sebagai tambahan, setiap orang yang bekerja di perusahaan itu tidak merasa perlu bekerja di tempat lain lagi pada hari Minggu untuk memenuhi kebutuhan hidup.