Bootstrap

Diciptakan untuk Beristirahat: Memasuki Persekutuan dengan Allah Yang Menggembirakan

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Road 815297 960 720
Semakin Sibuk Hidup Anda, Semakin Anda Membutuhkan Waktu Teduh

Pada tahun 2017, Harvard Business Review menerbitkan ringkasan penelitian-penelitian medis dan psikologis terbaru yang memperlihatkan bahwa manusia dirancang untuk waktu-waktu beristirahat, berdiam diri, dan berpikir mendalam: "Mengambil waktu untuk berdiam diri akan memulihkan sistem saraf, membantu menjaga energi, dan mengkondisikan pikiran kita untuk lebih adaptif dan responsif terhadap lingkungan yang kompleks, yang di dalamnya kebanyakan dari kita saat ini hidup, bekerja, dan memimpin." Mereka juga menyertakan empat kiat untuk melatih kebiasaan berdiam diri dan beristirahat sekalipun di tengah tempat kerja yang sibuk.

Pada hari ketujuh Allah selesai melakukan pekerjaan penciptaan-Nya, dan pada hari ketujuh itu Dia beristirahat dari segala pekerjaan yang telah diselesaikan-Nya. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itu Allah berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah diselesaikan-Nya. (Kejadian 2:2-3)
Hari ketujuh adalah hal pertama dalam Kitab Suci yang dikuduskan, untuk memperolah status istimewa yang sebenarnya hanya milik Allah. Dengan cara ini, kitab Kejadian menekankan tentang kekudusan hari Sabat. – Bruce Waltke [1]

Setelah enam hari menciptakan, Allah mengamati pekerjaan tangan-Nya dan menyatakan bahwa semuanya itu “sungguh sangat baik” (Kejadian 1:31). Namun, baru pada hari ketujuh itulah Allah menyebut sesuatu “kudus” yaitu pada hari istirahat yang Dia sisipkan di dalam waktu dan tempat ciptaan. Hari istirahat mendapat sebutan kudus, yang merupakan hakikat karakter Allah. Dua ayat pendek di Kejadian 2:2-3 menegaskan sampai tiga kali bahwa Allah beristirahat.

Saat ini, banyak orang menganggap istirahat sebagai hal yang harus mereka lakukan agar dapat bekerja. Jika bisa memilih, sebagian orang akan lebih memilih tubuh yang tidak perlu beristirahat. Di dalam masyarakat modern, istirahat sering dipandang sebagai lawan dari produktivitas. Istirahat adalah kebutuhan fungsional yang melayani tujuan kerja yang lebih tinggi, yang tidak memiliki arti atau signifikansi yang lebih dalam. Apakah pandangan tentang istirahat dan kerja ini tepat secara alkitabiah?

Di Kejadian 2, Allah bekerja dan juga beristirahat. Di dalam kemahakuasaan-Nya, Allah jelas tidak membutuhkan istirahat karena keletihan atau kelelahan fisik. Dia tidak perlu beristirahat agar dapat menjadi lebih produktif, mengingat Dia sudah menciptakan segalanya. Jadi, jelas ada sesuatu yang lebih pada istirahat daripada sekadar mempertahankan energi demi kelangsungan produksi.

Yang juga menarik, hal pertama yang dikuduskan dari segala ciptaan bukanlah manusia atau benda, tetapi hari. Apa signifikansinya istirahat bagi Allah, dan mengapa Dia membuat hari istirahat ini kudus? Kejadian 2 tidak menjelaskan mengapa Allah membuat hari ketujuh itu kudus, selain bahwa Dia menguduskannya. Jadi, akan menolong jika kita beralih ke konsep tentang Sabat yang dijelaskan di sepanjang Alkitab. Anehnya, kata Sabat tidak muncul lagi sampai di Keluaran 16:23-29, ketika bangsa Israel mengembara di padang gurun setelah dibebaskan dari perbudakan Mesir. Penyebutan kata Sabat yang signifikan berikutnya terjadi pada waktu Allah memberikan Sepuluh Perintah di Keluaran 20:8-11. Perintah keempat agar mengingat dan menguduskan hari Sabat didasarkan pada teladan Allah yang bekerja selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh, yang secara eksplisit menghubungkan penciptaan dengan ketaatan memelihara hari Sabat, “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh.” (Keluaran 20:11). Israel diperintahkan untuk beristirahat karena Allah beristirahat dalam penciptaan.

Patut dicatat bahwa kekudusan istirahat sama sekali tidak merendahkan pentingnya atau harkat bekerja. Pasal-pasal pembukaan kitab Kejadian menetapkan pola untuk bekerja maupun beristirahat; dan melakukan yang satu tanpa yang lain berarti menyimpang dari tatanan yang diciptakan Allah. Bahkan, Perintah Keempat menggabungkan perintah untuk bekerja maupun untuk beristirahat: "Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu." Allah meneguhkan kebaikan kerja dan kekudusan istirahat dengan menyatukan keduanya dengan indah. Perintah Keempat yang diberikan di kitab Ulangan mendukung irama kerja dan istirahat dengan argumen yang berbeda—karena Allah telah membebaskan umat-Nya dari Mesir. "Ingatlah, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu, dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung. Itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat" (Ulangan 5:13-15). Manusia harus bekerja dan beristirahat sesuai perintah Allah karena teladan-Nya dalam penciptaan dan juga teladan-Nya dalam penebusan.

Keluaran 31:16-17 memberikan pemahaman yang lebih dalam lagi. “Orang Israel harus memelihara hari Sabat dengan merayakannya turun-temurun sebagai perjanjian kekal. Itulah tanda antara Aku dan orang Israel untuk selama-lamanya, sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja dan beristirahat.” Dua hal penting ditemukan dari ayat ini. Pertama, hari Sabat berfungsi sebagai tanda, yang menunjuk pada “perjanjian” antara Allah dan orang Israel. Perjanjian ini mencerminkan hubungan istimewa yang dinikmati orang Israel dengan Allah, yang dimulai dari bapa Abraham. Ahli Perjanjian Lama John Durham menulis dalam tafsir Alkitabnya: “Alasan memelihara hari Sabat adalah karena Yahweh telah memerintahkannya sebagai tanda perjanjian kekal antara diri-Nya dan orang Israel, perjanjian yang dilakukan orang Israel sebagai respons terhadap anugerah Penyertaan Yahweh.”[2] Dengan kata lain, memelihara hari Sabat berarti menjalani relasi istimewa yang dinikmati umat Allah bersama Allah. Kedua, Sabat adalah hari ketika Allah sendiri “disegarkan” dan Dia mau umat-Nya mengalami penyegaran yang sama. Jadi Sabat mewujudkan kerinduan Allah untuk berada dalam relasi yang intim dengan umat-Nya. Allah memberi penyegaran mingguan kepada umat-Nya melalui persekutuan dengan Dia dan dengan ciptaan-Nya.

Bukti selanjutnya tentang aspek relasional hari Sabat ini muncul di Yehezkiel 20:12, “Hari-hari Sabat-Ku juga Kuberikan kepada mereka untuk menjadi tanda antara Aku dan mereka, supaya mereka mengetahui bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka.” Menurut ayat ini, Allah memberikan orang Israel “hari-hari Sabat-Nya” (penyegaran yang merupakan milik-Nya, sebagai tanda relasional antara Allah dan umat-Nya) agar mereka dapat mengenal siapa Dia dan mengalami efek pengudusan dari berelasi dengan-Nya. Ahli Perjanjian Lama Bruce Waltke menguatkan penekanan relasional ini: “Sabat adalah tanda bahwa Sang Pencipta telah mengkhususkan orang Israel untuk sebuah relasi perjanjian yang istimewa dengan-Nya.”[3] Tanda itu tidak sembarangan, yang seperti tato atau isyarat rahasia. Melainkan, tanda Sabat adalah partisipasi nyata bersama Allah dalam kegembiraan beristirahat di dalam ciptaan Allah sendiri. Allah memilih tidak jauh dari ciptaan-Nya. Sebaliknya, Allah memilih untuk bersekutu erat dengan umat-Nya dan dengan ciptaan-Nya melalui partisipasi mereka dalam istirahat Sabat-Nya.

Perjanjian Baru memperluas perintah untuk memasuki istirahat Allah maupun kemungkinan dalam melaksanakannya. Ibrani 4 mendorong para pengikut Yesus untuk beristirahat. "Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang pun di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentian-Nya masih berlaku." (Ibrani 4:1). Menurut kitab Ibrani, orang Israel kuno gagal menerima tawaran istirahat Allah karena mereka tidak taat kepada-Nya. Tetapi para pengikut Yesus menerima kabar baik tentang istirahat yang dijanjikan Allah sejak awal. Oleh karena pengorbanan Kristus, orang percaya dapat menerima tawaran istirahat Allah, tanpa mempedulikan siapa mereka atau di mana mereka tinggal. "Jadi, masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah, sebab siapa saja yang telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya. Karena itu baiklah kita berusaha masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan yang sama." (Ibrani 4:9-11)

Ayat-ayat ini menyampaikan makna yang lebih dalam tentang istirahat melalui konsep "sabat" ini. Istirahat jauh melebihi sekadar menguatkan diri lagi setelah minggu yang sibuk dan melelahkan. Istirahat adalah penguatan dari relasi khusus yang dimiliki manusia dengan Allah. Istirahat adalah hak istimewa yang diberikan dengan murah hati oleh Allah yang rindu ciptaan-Nya bergembira dalam kesegaran yang Dia nikmati. Hari Sabat itu kudus karena hari itu milik Allah dan Dia memilih untuk membagikannya dengan murah hati untuk dinikmati bersama ciptaan-Nya. Dialah Allah yang murah hati yang bergembira dalam kegembiraan umat-Nya. Istirahat menunjukkan karakter Allah yang kudus yang senang pada ciptaan-Nya (Amsal 8:30-31) dan rindu bersekutu dengannya. Istirahat adalah wujud nyata kerinduan Allah yang murah hati untuk berada dalam relasi yang intim dan penuh kegembiraan dengan manusia dan ciptaan.

Singkatnya, Allah menguduskan hari ketujuh dalam penciptaan untuk memisahkan atau mengkhususkannya dari hari-hari lainnya sebagai hari istirahat. Allah tidak membutuhkan istirahat, namun Dia mendapati istirahat itu menyegarkan. Allah beristirahat agar umat-Nya dapat mengambil bagian dalam kesegaran-Nya. Lagipula, istirahat-Nya dari bekerja mendukung pengembangan relasi-Nya dengan umat-Nya. Manusia bergembira dalam ciptaan Allah yang "sangat baik", yang di atasnya pekerjaan manusia dimaksudkan untuk dibangun.

Di kedua pasal pertama kitab Kejadian, Allah bekerja dan juga beristirahat. Allah juga menciptakan manusia untuk menjadi serupa dengan Dia: “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, atas ternak dan seluruh bumi, serta atas segala binatang yang melata di bumi’.” (Kejadian 1:26). Allah menciptakan manusia dengan suatu tugas di pikiran-Nya: tanggung jawab atas ciptaan. Fakta bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah serta besarnya tugas yang Dia percayakan kepada mereka membuktikan bahwa Allah mau umat-Nya menjadi pekerja. Demikian pula, Dia mau umat-Nya menjadi orang yang beristirahat, mengikuti teladan yang Dia berikan pada hari ketujuh penciptaan (Kejadian 2:2). Undangan ganda Allah untuk bekerja dan beristirahat ini menjadi validasi atas ikatan khusus antara Allah, manusia, dan ciptaan.