Apakah Orang Kristen Diharapkan Menaati Sabat Mingguan?
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Pengorbanan Kristus membuka kesempatan bagi orang Kristen untuk bisa dengan leluasa memasuki istirahat Allah. Karena itu, pertanyaan apakah orang Kristen perlu mematuhi hari istirahat mingguan yang di Perjanjian Lama disebut hari Sabat, tetap menjadi pertanyaan terbuka. Alkitab Perjanjian Baru tampaknya memberi kebebasan kepada orang Kristen untuk memilih sendiri jawaban pertanyaan ini.
Yang seorang menganggap hari tertentu lebih penting daripada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang pada suatu hari tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Siapa yang makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. (Roma 14:5-6).
Sebagian orang Kristen menafsirkan ayat ini sebagai pembenaran untuk tidak merayakan hari Sabat secara formal, meskipun kitab Roma dengan jelas menyatakan bahwa orang yang memilih mematuhi hari Sabat tidak boleh dihakimi karena hal itu. Entah orang percaya menetapkan hari tertentu untuk beristirahat Sabat, atau hanya beristirahat sesuai pimpinan Roh, ayat dari kitab Roma ini menunjukkan bahwa kedua kebiasaan itu harus sama-sama dijalani dengan ucapan syukur kepada Allah.
Meskipun orang bebas memilih kapan dan bagaimana beristirahat, ada argumen-argumen yang kuat tentang menaati istirahat Sabat mingguan maupun beribadah bersama orang Kristen lain pada hari yang biasa ditentukan dalam minggu itu (entah hari itu terasa memberi kelegaan bagi seseorang atau tidak). Pertemuan mingguan yang meliputi ibadah telah dilakukan secara luas di sepanjang sejarah gereja.
Murid-murid Yesus tentu saja pergi ke bait suci pada hari Sabat Yahudi, yang kalau pun tidak ada alasan yang lain, setidaknya untuk meyakinkan orang lain bahwa Yesus adalah Mesias.
Paulus dan Silas mengambil jalan melalui Amfipolis dan Apolonia dan tiba di Tesalonika. Di situ ada sebuah rumah ibadat orang Yahudi. Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci. Ia menerangkan dan menunjukkan kepada mereka bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, lalu ia berkata: "Inilah Mesias, yaitu Yesus, yang kuberitakan kepadamu." Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan Paulus dan Silas dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak sedikit perempuan-perempuan terkemuka. (Kisah Para Rasul 17:1-4)
Paulus biasa menghadiri pertemuan Sabat di kota mana pun yang dikunjunginya dan memakai kesempatan itu untuk memberitakan Kabar Baik tentang Yesus. Tindakan ini tidak tampak sebagai hal yang benar-benar memberi kelegaan baginya (bahkan seringkali perkataannya disambut dengan kerusuhan massa yang beringas), dan kemungkinan istirahat bukan alasan utamanya melakukan hal itu.
Yesus sendiri dalam kehidupan-Nya menunjukkan dua kebiasaan Sabat yang berbeda. Yesus melakukan istirahat rohani secara pribadi maupun dalam pengalaman ibadah bersama. Yesus mengambil waktu sendirian untuk beristirahat di hadirat Allah (Matius 14:13). Di waktu lain, Dia memakai ibadah Sabat orang Yahudi untuk menjangkau orang lain dengan berita keselamatan-Nya (Lukas 4:16-21). Karena beristirahat secara pribadi maupun beribadah bersama sama-sama penting dalam kehidupan Yesus, orang Kristen masa kini juga bisa membuat pilihan serupa itu dengan kebebasan yang diberikan Allah kepada mereka.
Entah seseorang memilih beristirahat dengan pola mingguan tertentu atau tidak, orang-orang yang membawahi orang lain punya tanggung jawab untuk memastikan para pekerjanya memiliki akses yang semestinya untuk beristirahat. Perintah Allah kepada orang Israel menunjukkan kepedulian-Nya yang besar terhadap umat yang lain juga:
Tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat bagi TUHAN, Allahmu. Jangan melakukan pekerjaan apa pun, engkau, anakmu laki-laki atau perempuan, hambamu laki-laki atau perempuan, lembumu atau keledaimu, segala hewanmu, atau pun pendatang di dalam kotamu, supaya hambamu laki-laki atau perempuan beristirahat seperti engkau juga. Haruslah kauingat bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan teracung. Itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat. (Ulangan 5:14-15)
Di dalam ayat-ayat ini, berakhirnya perbudakan mendatangkan kebebasan untuk beristirahat. Kebebasan orang Kristen untuk menjalani Sabat dengan cara yang mereka pilih sendiri harus selalu dilihat dalam terang ini. Istirahat, pada intinya, adalah kebebasan dari bekerja tak henti-hentinya yang menjadi sifat perbudakan. [1] Karena Allah membebaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir, Dia berharap para pengikut-Nya juga setidaknya menahan diri dari memperbudak orang lain. Lagipula, pengorbanan Yesus yang menyerahkan nyawa-Nya sendiri tidak terbatas hanya bagi kelompok religius tertentu, tetapi “bagi banyak orang” (Matius 26:28). Jadi ketika para manajer melindungi waktu istirahat bagi para karyawannya, mereka dapat menganggap tindakan manajemen ini sebagai kemitraan dengan Allah dalam karya pembebasan-Nya yang masih terus berlangsung.
Memberikan istirahat kepada semua pekerja dapat dilakukan dengan berbagai cara di berbagai industri atau organisasi. Bandwidth.com, sebuah perusahaan telekomunikasi yang berpusat di Carolina Utara, memiliki kebijakan yang mengharuskan setiap orang meninggalkan pekerjaan pada jam 6 sore agar dapat memiliki waktu makan malam bersama orang-orang yang mereka kasihi. Jika diperlukan, mereka dapat bekerja dari rumah setelah jam 8 malam atau lebih, tetapi setidaknya para pekerja diharapkan tidak bekerja atau saling berkomunikasi antara jam 6 sore sampai jam 8 malam. Rekan-pendirinya, Henry Kaestner, berkata bahwa yang menginspirasi kebijakan itu adalah hari Sabat yang alkitabiah, bukan karena sifat keagamaannya yang spesifik, tetapi karena hal itu memberi kesempatan untuk beristirahat dan berelasi kepada semua orang.[2]
Jaringan restoran cepat saji Chick-fil-A terkenal karena tutup pada hari Minggu. Kebijakan ini tentu saja merupakan satu cara untuk memastikan setiap orang memiliki hari libur, setidaknya dari pekerjaan mereka di perusahaan itu. Menurut situs web perusahaan itu, keputusan Pendirinya, Truett Cathy, untuk menjadikan sabat mingguan sebagai kebijakan perusahaan merupakan hal yang “praktis serta rohani.” Ia percaya bahwa semua penyelenggara dan karyawan restoran waralaba Chick-fil-A harus punya kesempatan untuk beristirahat, menghabiskan waktu bersama keluarga dan sahabat, dan beribadah jika mereka mau." Harapannya, sebagai tambahan, setiap orang yang bekerja di perusahaan itu tidak merasa perlu bekerja di tempat lain lagi pada hari Minggu untuk memenuhi kebutuhan hidup.
