Bootstrap

Melampaui Kedudukan dan Kekuasaan: Apa Yang Dikatakan Kitab Filemon tentang Kepemimpinan

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Hands people woman meeting large

Hanya berisi satu pasal yang luar biasa, kitab Filemon merupakan surat terpendek yang ditulis Paulus dan salah satu kitab terpendek di seluruh Perjanjian Baru.[1] Mengingat ukurannya yang kecil, dimasukkannya kitab ini ke dalam kanonisasi Alkitab awalnya tampak mengherankan. Tetapi pandangan sekilas ke dalam isi surat singkat ini mulai menunjukkan alasannya—buku tipis ini berisi pesan yang kuat. Paulus sedang menangani isu-isu yang berkaitan dengan perbudakan, institusi sosial inti dan realitas di dunia kuno. Dalam menangani ekspektasi-ekspektasi budaya terhadap perbudakan, Paulus tidak hanya membahas tentang institusi kuno. Ia juga membahas tentang peran-peran sosial dan perubahan mendalam yang seharusnya ditunjukkan orang-orang yang mengenal Yesus. Ia terlibat dalam pembahasan tema-tema yang berkaitan dengan kekuasaan, kedudukan, keadilan, dan belas kasihan.

Paulus menulis surat ini untuk Filemon, seorang pemilik budak. Isinya berkaitan dengan Onesimus, salah seorang budak Filemon yang menghilang, tampaknya karena melarikan diri, dan akhirnya bertemu dengan Paulus. Secara hukum dan norma, Onesimus sepenuhnya berada dalam belas kasihan Filemon, mengingat ia adalah properti pemilik budak dan telah melanggar segala aturan sosial. Cara Paulus menangani situasi ini menyingkapkan bahwa Yesus bukan saja membuat perbedaan, tetapi juga bahwa perbedaan itu memengaruhi kepemimpinan dan kekuasaan.

Berikut adalah cara kita melanjutkan pembahasan. Saya akan memberikan latar belakang tentang bagaimana surat itu berkaitan dengan kepemimpinan, membaca surat itu secara berurutan, dan kemudian mengambil poin-poin penting yang dapat disampaikan tentang kepemimpinan. Saya berencana membaca seluruh kitab Filemon sebelum menunjukkan keterkaitannya dengan isu-isu kekuasaan, kedudukan, dan kepemimpinan, karena kita perlu meninjau seluruh yang dilakukan Paulus untuk memahami semua yang terjadi. Pendekatan ini tidak sporadis (mengambil sebagian dari sini dan sebagian lagi dari sana) dengan penerapan yang tercecer di sepanjang jalan. Paulus sedang berusaha mengatur ulang cara memandang dan menjalankan relasi-relasi. Pelajaran yang diambil bukan cuma dari yang dikatakan saja, tetapi juga dari bagaimana melakukannya. Tulisan ini mengembangkan yang disebut tafsiran Teologi Kerja sebagai mutualitas (kesalingan) dalam berbagai aspek di kitab Filemon dengan meninjau bahasan surat ini tentang persekutuan, sekaligus melengkapi pernyataan tafsiran itu bahwa Paulus menghindari penggunaan perintah saat berbicara dengan Filemon.[2] Poin kedua ini tampak dalam cara Paulus menangani soal kedudukan sosial Filemon.

Kitab Filemon: Latar Belakang

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mengapa surat Filemon dimasukkan dalam pembahasan tentang kepemimpinan? Sebagian orang memimpin dengan karakter. Mereka dipandang sebagai pemimpin dari cara mereka melakukan yang mereka lakukan. Yang lain menjadi pemimpin karena kedudukan sosial atau jabatan dalam perusahaan. Filemon termasuk dalam kategori terakhir.

Inilah realitas pertama yang menjadi latar belakang surat Filemon dan keputusan Paulus menulis surat itu. Sebagai pemilik budak yang melarikan diri, Filemon memegang kendali sosial atas situasi itu. Paulus menyapanya sebagai seorang yang memiliki pilihan dan pengaruh tentang bagaimana situasi itu akan ditangani. Tampaknya kemungkinan besar keduanya tahu bahwa Onesimus telah ditemukan, karena tidak banyak yang dikatakan tentang status budak itu. Jadi, masalahnya sekarang adalah bagaimana Filemon akan bertindak setelah mengetahui budak itu telah ditemukan.

Kedua, ada suatu "ketidakadilan" yang telah dilakukan budak itu terhadap Filemon dalam konteks sosial perbudakan kuno. Dengan melarikan diri atau mencari bantuan Paulus saat berselisih dengan Filemon [1], Onesimus telah menimbulkan utang sosial dan ekonomi, yang akan ditangani Paulus dengan cara yang berbeda dari cara situasi seperti itu biasanya ditangani.

Cara Paulus Memulai Pembicaraan Yang Pelik (Filemon 1-8)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Salam Paulus kepada Filemon menyiapkan panggung untuk terjadinya negosiasi sosial pelik yang akan ia adakan. Paulus mengawali suratnya dengan memuji kasih dan iman Filemon yang membuat Paulus mendoakannya dengan penuh ucapan syukur. Kualitas persekutuan iman Filemon menjadi sasaran doa Paulus. Tujuan persekutuan iman Filemon seharusnya mendorong pengembangan pengetahuan akan hal-hal baik yang menjadi milik orang-orang yang mengenal Kristus. Inilah iman yang bekerja sebelum kita membahas bagaimana iman itu bekerja dalam konteks pekerjaan. Iman punya sasaran, bagaimana kita terlibat dengan orang lain. Tujuannya adalah mencari pengetahuan akan yang baik, yang diterapkan dalam relasi-relasi, termasuk relasi sosial yang berkaitan dengan kekuasaan. Pengetahuan di sini bukan sekadar fakta/data informasi, tetapi hal-hal baik yang bersifat praktis dan relasional sebagaimana akan ditunjukkan isi surat itu selanjutnya. Kata Yunani untuk persekutuan (koinōnia) sebenarnya menunjukkan partisipasi, interaksi dan keterlibatan dengan orang lain (ayat 6).[1] Paulus bisa mengharapkan hasil ini karena rekam jejak Filemon menunjukkan ia telah banyak menghiburkan hati orang-orang kudus. Semua motif ini tertulis di tujuh ayat pertama sebelum Paulus mengajukan permintaan apa pun. Namun, jangan salah, salam pembuka ini bukan sekadar ucapan atau perkataan biasa. Sapaan ini membantu meletakkan dasar untuk yang akan diminta Paulus.

Dua hal tentang memimpin muncul dari pembukaan ini.

Pertama, Paulus menyatakan bahwa tujuan kepemimpinan adalah membangun kualitas dalam relasi-relasi. Inilah tujuan dari semua relasi: mengembangkan pengetahuan tentang kebaikan praktis agar orang-orang dapat hidup dan bekerja bersama dengan baik. Kepemimpinan bukan sekadar tentang menunaikan tugas atau mencapai target. Cara memperlakukan orang lain juga penting. Tujuan inilah yang mendorong disampaikannya permintaan itu.

Kedua, Paulus menjadi pendorong yang mengupayakan tercapainya tujuan-tujuan ini. Ia menanamkan keyakinan bahwa Filemon mampu melangkah ke arah yang akan ditunjukkannya, meskipun permintaan itu akan menuntut pengorbanan hak-hak tertentu dari Filemon. Paulus cukup mengenal Filemon dengan baik untuk mengetahui bahwa pemilik budak itu mampu melakukan yang akan ia minta. Rekam jejaknya telah menunjukkan bahwa Filemon mampu melangkah ke arah yang diminta.

Permintaan Paulus Yang Pelik (Filemon 9-25)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Cara Paulus menyampaikan permintaannya akan mengorbankan posisinya sendiri sebagai pemimpin, sebagai contoh dari yang akan ia minta. Langkah ini mudah terlewatkan, karena munculnya di awal. Di ayat 8-9 Paulus berkata bahwa ia bisa saja memerintahkan yang akan ia minta. Ia bisa saja memanfaatkan kartu pemimpin kekuasaan dan kedudukan sosialnya. Ia juga mengatakan hal senada di ayat 14, ketika ia berkata bahwa ia ingin Filemon bertindak bukan karena terpaksa, tetapi karena kehendak bebas. Paulus tidak mau bertindak dari tempat kekuasaan dan otoritas. Karena kasih, bukan status, Paulus ingin menyampaikan permintaannya bukan dari dirinya sebagai utusan/rasul, tetapi sebagai seorang tahanan karena Yesus Kristus. Dari dalam penjara, Paulus lebih suka Filemon bertindak berdasarkan apa yang baik dan benar secara relasional daripada hanya terpaksa bertindak.

Permintaan itu disampaikan atas nama Onesimus. Paulus bermain kata dengan nama budak itu, yang artinya "berguna."[1] "Si Berguna" telah menjadi "tidak berguna" bagi Filemon karena ia melarikan diri, tetapi sekarang ia berguna bagi mereka berdua. Sulit untuk mengetahui apakah penilaian Paulus ini karena Onesimus telah melarikan diri sehingga ia tidak dapat melayani Filemon, ataukah ini merupakan deskripsi Paulus tentang Onesimus secara sosial dan relasional sebagai budak yang hanya dianggap properti. Yang pertama tampaknya lebih memungkinkan daripada yang kedua, karena seorang budak menjadi berguna bagi pemiliknya ketika ia melayani di rumah itu.

Paulus mengirim kembali budak itu kepada Filemon, meskipun ia lebih suka menahan Onesimus dan membiarkannya melayani Injil atas nama Filemon. Paulus berkata bahwa pelarian Onesimus justru telah membawa perubahan pada status budak itu, karena ia lalu mengenal Kristus di dalam pelarian itu. Onesimus telah berubah dari seorang budak menjadi seorang saudara. Ia telah berubah statusnya dari budak untuk sementara waktu sampai kematian datang, menjadi orang yang memiliki relasi dengan Filemon selamanya.

Lalu, permintaan Paulus adalah agar Onesimus diterima seolah-olah Paulus sendiri yang kembali kepadanya. Sungguh peningkatan status yang luar biasa. Onesimus telah berubah dari budak menjadi saudara lalu menjadi "rasul" dalam beberapa kalimat saja. Permintaan Paulus menarik. Ia berkata, "Kalau engkau menganggap aku sebagai teman seiman (koinōnon), terimalah dia seperti kamu menerima aku." [2] Persekutuan berarti kemitraan. Onesimus mungkin memiliki suatu status di mata dunia, tetapi di dalam Yesus ada cara lain untuk melihat siapa dirinya. Ia adalah seorang saudara.

Hampir dapat dipastikan bahwa salah satu hal yang mendorong permintaan Paulus ini adalah karena Filemon dan Onesimus memiliki iman yang sama dengan Paulus. Tetapi, gagasan untuk memandang melampaui status sosial semata terhadap seorang manusia tetap berlaku meskipun Onesimus bukan orang percaya. Dasar yang mendorong perintah untuk mengasihi sesama, siapa pun itu, termasuk musuh, pastinya adalah fakta bahwa semua orang diciptakan segambar dengan Allah.

Filemon mungkin juga bertanya, "Tetapi bagaimana dengan risiko dimanfaatkan, Paulus?" Paulus menyadari pertanyaan itu dan memberikan solusi juga. Ia berkata jika Onesimus telah merugikan Filemon dalam hal apa pun juga, hal itu bisa dibebankan kepada Paulus. Paulus bersedia menanggung segala kerugian apa pun yang harus ditanggung Onesimus. Ia bahkan menulis surat itu dengan tangannya sendiri agar maksudnya tersampaikan sepribadi mungkin.[3] Paulus juga meneguhkan maksudnya ini dengan berkata bahwa Filemon sendiri berutang padanya, yang kemungkinan merujuk pada bagaimana Paulus telah memimpin dan membinanya dalam iman. Jika Filemon bersedia melakukan hal ini, menerima Onesimus sebagai saudara, hati Paulus akan bergembira sekali. Filemon akan melakukan bagi Paulus hal yang telah ia lakukan bagi banyak orang lainnya (lihat ayat 7).

Paulus tidak malu dengan permintaannya karena ia yakin Filemon tidak hanya akan memenuhi permintaan itu, ia bahkan akan melakukan lebih dari yang diminta. Ini mungkin merupakan sindiran halus terhadap gagasan untuk mengirim kembali budak itu kepada Paulus. Ia kemudian menulis bahwa ia berharap dapat segera mengunjungi Filemon, jadi Filemon perlu menyiapkan kamar untuknya.

Setelah berkata begitu dan menyampaikan permintaannya, Paulus memberikan salam penutup dan mengakhiri suratnya dengan menyerahkan Filemon ke dalam kasih karunia Tuhan Yesus.

Pelajaran-pelajaran tentang Memimpin

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Bagaimana iman mengubah kerja dan kepemimpinan? Surat ini berbicara banyak tentang hal itu karena membahas bagaimana Kristus memengaruhi relasi-relasi, termasuk relasi yang ada di ranah kedudukan sosial. Kedudukan sosial menyatakan diri dan sering memengaruhi penilaian kita tentang relasi-relasi dalam banyak aspek: pekerjaan, keluarga, gereja, dan masyarakat pada umumnya. Berikut ini adalah beberapa dinamika relasional yang ditekankan Paulus untuk dipahami dan diterapkan Filemon, yang juga dapat diterapkan dalam berbagai konteks lainnya.

1. Yesus tidak membeda-bedakan orang dalam hal status dan kedudukan sosial. Paulus meminta agar Filemon tidak memandang Onesimus dari perspektif aspek sosial melainkan dari sudut pandang iman. Permintaan ini akan mengubah segalanya. Paulus tidak hanya memintanya sekali, tetapi sampai tiga kali. Yang paling jelas adalah ketika ia meminta Filemon untuk menganggap Onesimus bukan sebagai budak tetapi sebagai saudara. Yang kedua ketika ia meminta Filemon untuk menerima Onesimus seperti Filemon menerima dirinya, sebagai rasul. Dan yang ketiga, ironisnya, ketika Paulus berkata bahwa ia meminta kepada Filemon bukan sebagai seorang rasul, tetapi sebagai seorang budak/tahanan karena Yesus Kristus.

Setiap permohonan ini ada maksudnya. Perbaikan status yang diperoleh Onesimus dalam Kristus akan membuatnya dipandang secara baru/berbeda. Tetapi, maksud Paulus yang lain adalah agar Filemon memandangnya sebagai budak/tawanan. Ini menunjukkan observasi yang mendalam bahwa kita semua adalah pelayan Yesus dan status kekuasaan apa pun yang kita miliki sangat relatif. Pekerjaan apa pun yang kita lakukan, kita lakukan seperti untuk Tuhan, untuk melayani Dia. Bahkan para rasul pun melayani dengan pimpinan dan petunjuk Allah. Kesamaan ini, pada keduanya, mengingatkan kita bahwa di balik kedudukan yang seringkali diberikan dunia pada kita, ada hakikat kemanusiaan kita yang menjadikan kita semua sebagai pelayan-pelayan Allah. Kita dipanggil dalam peran apa pun, kita harus melayani Dia dengan baik. Sesungguhnya, bisa dikatakan, inilah inti dari permohonan yang disampaikan Paulus dalam surat ini. Ia memakai sikapnya yang rendah hati dan tidak memanfaatkan otoritasnya sebagai contoh yang menyiapkan panggung untuk yang akan diminta dilakukan Filemon. Mengatakan bahwa perspektif itu hanya “game changer” (mengubah arah) sangat meremehkan betapa pentingnya langkah ini sebagaimana akan ditunjukkan poin-poin berikutnya.

2. Kepemimpinan pada akhirnya bukan melulu tentang menjalankan kekuasaan, kedudukan, hak, atau efisiensi, tetapi melibatkan diri dalam relasi-relasi, sebuah partisipasi yang menuntun kepada kebaikan praktis dan meneguhkan potensi baru. Kebaikan praktis ini seringkali berarti menindaklanjuti komitmen-komitmen dan melakukan pekerjaan dengan integritas, tetapi juga dapat berarti, seperti di sini, mengampuni dan menghargai potensi seseorang untuk berubah dan menjadi manusia baru. Paulus pada akhirnya meminta Filemon untuk menerima dan mengakui perubahan pada Onesimus ini. Untuk melihatnya secara baru dalam terang yang telah dinyalakan Yesus, yang membuat Onesimus menjadi pribadi yang berbeda dari budak yang pernah melarikan diri.

3. Sebagai pemimpin, Paulus bersedia menanggung harga pengorbanan yang ia minta dilakukan orang lain. Perlu diingat bahwa Paulus, yang merasakan kehilangan dan kerugian yang ditanggung Filemon, bersedia menanggung kerugian itu dan memastikan ada keadilan yang ditegakkan ketika ia meminta kemurahan hati dan belas kasihan. Utang yang bersedia ditanggung Paulus mencerminkan perumpamaan yang diceritakan Yesus, tentang Orang Samaria yang baik hati, yang tidak hanya bersedia menyelamatkan orang yang dianiaya di pinggir jalan, tetapi juga membayar kepada pemilik penginapan setiap utang yang ditimbulkan selama perawatan pemulihan orang itu di penginapannya. Menanggung beban orang lain ini adalah bagian dari "partisipasi" atau tuntutan persekutuan yang ditantang Paulus dalam surat Filemon. Tentu saja, contoh tertinggi dari menanggung beban orang lain adalah tindakan Yesus sendiri yang rela mati untuk dosa kita dan membayar utang rohani kita. Dengan memasukkan dirinya ke dalam persamaan relasional ini, Paulus juga menjadikan dirinya sebagai partisipan dalam situasi ini, untuk menjadi bagian dari persekutuan yang ia minta ditunjukkan Filemon.

4. Kepemimpinan yang baik mempersilakan orang lain bertindak berdasarkan keputusan terbaiknya dan bukan memaksakan kehendak. Paulus sebagai pemimpin tidak hanya meminta Filemon untuk membuat keputusan, tetapi juga untuk melakukannya dengan memahami dan menghargai mengapa hal itu merupakan keputusan yang baik. Ia mempersilakan Filemon memakai kehendak bebasnya agar karakter itu berkembang. Paulus tidak hanya tertarik pada keputusan akhirnya saja. Ada pepatah terkenal yang mengatakan, "Orang yang diyakinkan bertentangan dengan kehendaknya akan tetap memiliki pendapat yang sama." Dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang benar-benar berubah. Setiap tindakan yang dilakukan semata-mata karena terpaksa sering kali hanya dilakukan sekali dan setelah itu ditinggalkan karena dasar pemikirannya tidak benar-benar dipahami. Setelah tidak ada paksaan lagi, perilaku akan kembali seperti semula tanpa ada pertumbuhan karakter. Paulus ingin Filemon bertindak bukan karena ia harus/terpaksa melakukannya, tetapi karena ia mau/bersedia melakukannya. Ia ingin Filemon memahami perbedaannya yang mendalam itu.

5. Sebagai pemimpin, Paulus tetap dapat memberikan tekanan moral kepada orang yang dimintanya membuat keputusan. Salah satu hal menarik dari surat ini adalah bagaimana Paulus menggunakan "tekanan." Ada semacam penggunaan kekuasaan yang tidak biasa di sini. Paulus tidak “menekan” dari kedudukannya, tetapi ia menekan dengan sangat intensional—secara relasional—dengan mengingatkan Filemon akan utangnya sendiri pada Paulus. Paulus tidak meminta sebagai seorang rasul, tetapi ia meminta berdasarkan yang telah dilakukannya sendiri pada Filemon. Filemon jelas sangat mengenal siapa Paulus, tetapi Paulus mendekatinya dari sisi lain. Dengan kata lain, Paulus berkata, “Jika kamu menghargai caraku berelasi denganmu sebagai penerima manfaat, maka kamu akan tahu bagaimana aku memintamu memperlakukan orang lain. Jika kamu dapat menjadi penerima manfaat dari relasi semacam itu, maka kamu dapat berkontribusi pada orang lain dengan cara yang sama.” Permintaan yang bersifat relasional ini menggarisbawahi seluruh pendekatan surat itu agar Filemon menunjukkan respons yang kuat secara relasional. Pendekatan itu sesuai dengan tujuannya.

Kita juga diingatkan bahwa kita harus belajar dari teladan Tuhan pada kita. Pelajaran-pelajaran itu bisa jadi ada di balik permintaan Paulus, hal yang juga diajarkan di ayat-ayat seperti Filipi 2:6-11. Yesus tidak menganggap keilahian-Nya sebagai hal yang harus dipertahankan, tetapi Dia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk kita, bahkan sampai mati sebagai orang tak bersalah untuk kita. Yesus juga menyampaikan perumpamaan tentang seorang yang dihapuskan dari utangnya yang banyak, tetapi tidak mau mengampuni orang lain yang berutang sedikit padanya. Orang yang sudah diampuni dan tidak mau mengampuni itu ditegur dan ditolak dalam perumpamaan itu, karena ia tidak menunjukkan pengampunan yang sama seperti yang telah ia terima. Paulus meminta hal serupa di sini. “Jika aku dapat melayanimu untuk kebaikanmu, Filemon, maka kamu juga dapat melayani orang lain. Jika Yesus atau aku bisa mengosongkan diri bagi orang lain, maka kamu pun bisa.”

6. Poin terakhir: inti dari permintaan Paulus kepada Filemon adalah panggilan untuk menjalani relasi bukan dengan menonjolkan status, tetapi dengan tujuan untuk melayani. Jika Filemon melakukan yang diminta Paulus, Paulus akan sangat bergembira. Jika Filemon melakukan lebih dari yang diminta Paulus, Paulus akan dilayani dengan cara yang membuat Filemon berpartisipasi dalam pelayanan Paulus maupun pelayanan Onesimus. Ketika kita memimpin dengan kerinduan untuk membangun relasi dan karakter, ketika kita bersedia melihat potensi dan memberi ruang bagi pertumbuhan dan perubahan hidup orang lain, dan ketika kita bersedia berkorban di dalam proses itu, kita sedang menjalani kepemimpinan kita bukan saja dengan mengikuti model permintaan Paulus kepada Filemon, tetapi juga teladan Tuhan Yesus sendiri. Itulah iman yang hidup, yang bekerja dalam pelayanan yang patut diteladani dan penuh pengorbanan yang membangun relasi dan karakter. Bukan hanya pemimpin yang bertumbuh, tetapi orang-orang yang dipimpinnya juga bertumbuh ketika ia mencontohkan bagaimana iman bekerja.

Penerapan Lebih Lanjut dalam Kepemimpinan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Masih ada dua penerapan lagi. Yang pertama adalah bagaimana hak-hak Filemon (tidak) ditangani. Paulus memang membahas ketidakadilan itu dengan menyatakan kesediaannya untuk membayar utang/ kerugian yang ditanggung Filemon. Tetapi pada akhirnya, yang menarik, hal itu ternyata tidak dibicarakan lagi. Dalam banyak konteks saat ini, hal seperti itu tentu akan menjadi masalah yang harus diselesaikan. Fakta bahwa Paulus tidak memberi banyak ruang untuk membahasnya dan juga tidak mendorong Filemon untuk membahasnya menunjukkan bahwa relasi-relasi yang sudah berubah juga akan mengubah apa yang sebetulnya menjadi hal yang penting untuk dipikirkan dan diselesaikan.

Penerapan kedua adalah tentang dampak surat itu yang tidak kita ketahui. Salah satu hal penting dalam kepemimpinan adalah dapat belajar memahami dan menangani konfrontasi seperti yang dialami Paulus dengan Filemon. Kita sebenarnya tidak tahu apa yang dilakukan Filemon dengan yang disampaikan Paulus padanya. Apakah ia mendengarkan dan menuruti nasihat itu atau tidak, kita tidak tahu. Tetapi pendekatan Paulus menunjukkan bahwa para pemimpin harus mampu belajar. Yang dinasihati Kitab Suci untuk kita pikirkan adalah bahwa kedudukan dan kekuasaan bukanlah kacamata berpikir utama dalam melihat relasi-relasi, bahkan dalam konteks sosial di mana kita mungkin memiliki kedudukan. Kita terutama harus memikirkan dinamika-dinamika relasional yang kita terima dari Allah dan dari teladan Yesus ketika memikirkan masalah-masalah relasional yang sering kita hadapi. Hal ini dapat mengubah cara kita bereaksi, yang sebelumnya dipengaruhi budaya, terhadap peristiwa-peristiwa itu. Kita bisa memiliki kacamata berpikir lain yang mungkin lebih efektif dalam menolong kita bertumbuh dan menolong orang lain bertumbuh juga. Pemimpin yang benar-benar memimpin akan membimbing orang lain menjadi lebih baik, tidak hanya dalam pekerjaan yang dilakukan tetapi juga dalam cara melakukannya. Ketika berelasi menjadi fokus dari cara para pemimpin menjalankan kepemimpinan, para pemimpin itu pun akan belajar dan menghasilkan pertumbuhan dalam dirinya sendiri maupun orang lain. Itulah yang pada akhirnya disebut Paulus sebagai persekutuan sejati, kehidupan berelasi yang sesungguhnya.