Bootstrap

Cara Paulus Memulai Pembicaraan Yang Pelik (Filemon 1-8)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
People talking 908342 1280

Salam Paulus kepada Filemon menyiapkan panggung untuk terjadinya negosiasi sosial pelik yang akan ia adakan. Paulus mengawali suratnya dengan memuji kasih dan iman Filemon yang membuat Paulus mendoakannya dengan penuh ucapan syukur. Kualitas persekutuan iman Filemon menjadi sasaran doa Paulus. Tujuan persekutuan iman Filemon seharusnya mendorong pengembangan pengetahuan akan hal-hal baik yang menjadi milik orang-orang yang mengenal Kristus. Inilah iman yang bekerja sebelum kita membahas bagaimana iman itu bekerja dalam konteks pekerjaan. Iman punya sasaran, bagaimana kita terlibat dengan orang lain. Tujuannya adalah mencari pengetahuan akan yang baik, yang diterapkan dalam relasi-relasi, termasuk relasi sosial yang berkaitan dengan kekuasaan. Pengetahuan di sini bukan sekadar fakta/data informasi, tetapi hal-hal baik yang bersifat praktis dan relasional sebagaimana akan ditunjukkan isi surat itu selanjutnya. Kata Yunani untuk persekutuan (koinōnia) sebenarnya menunjukkan partisipasi, interaksi dan keterlibatan dengan orang lain (ayat 6).[1] Paulus bisa mengharapkan hasil ini karena rekam jejak Filemon menunjukkan ia telah banyak menghiburkan hati orang-orang kudus. Semua motif ini tertulis di tujuh ayat pertama sebelum Paulus mengajukan permintaan apa pun. Namun, jangan salah, salam pembuka ini bukan sekadar ucapan atau perkataan biasa. Sapaan ini membantu meletakkan dasar untuk yang akan diminta Paulus.

Dua hal tentang memimpin muncul dari pembukaan ini.

Pertama, Paulus menyatakan bahwa tujuan kepemimpinan adalah membangun kualitas dalam relasi-relasi. Inilah tujuan dari semua relasi: mengembangkan pengetahuan tentang kebaikan praktis agar orang-orang dapat hidup dan bekerja bersama dengan baik. Kepemimpinan bukan sekadar tentang menunaikan tugas atau mencapai target. Cara memperlakukan orang lain juga penting. Tujuan inilah yang mendorong disampaikannya permintaan itu.

Kedua, Paulus menjadi pendorong yang mengupayakan tercapainya tujuan-tujuan ini. Ia menanamkan keyakinan bahwa Filemon mampu melangkah ke arah yang akan ditunjukkannya, meskipun permintaan itu akan menuntut pengorbanan hak-hak tertentu dari Filemon. Paulus cukup mengenal Filemon dengan baik untuk mengetahui bahwa pemilik budak itu mampu melakukan yang akan ia minta. Rekam jejaknya telah menunjukkan bahwa Filemon mampu melangkah ke arah yang diminta.