Bootstrap

Pelajaran-pelajaran tentang Memimpin

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Leadership lessons philemon

Bagaimana iman mengubah kerja dan kepemimpinan? Surat ini berbicara banyak tentang hal itu karena membahas bagaimana Kristus memengaruhi relasi-relasi, termasuk relasi yang ada di ranah kedudukan sosial. Kedudukan sosial menyatakan diri dan sering memengaruhi penilaian kita tentang relasi-relasi dalam banyak aspek: pekerjaan, keluarga, gereja, dan masyarakat pada umumnya. Berikut ini adalah beberapa dinamika relasional yang ditekankan Paulus untuk dipahami dan diterapkan Filemon, yang juga dapat diterapkan dalam berbagai konteks lainnya.

1. Yesus tidak membeda-bedakan orang dalam hal status dan kedudukan sosial. Paulus meminta agar Filemon tidak memandang Onesimus dari perspektif aspek sosial melainkan dari sudut pandang iman. Permintaan ini akan mengubah segalanya. Paulus tidak hanya memintanya sekali, tetapi sampai tiga kali. Yang paling jelas adalah ketika ia meminta Filemon untuk menganggap Onesimus bukan sebagai budak tetapi sebagai saudara. Yang kedua ketika ia meminta Filemon untuk menerima Onesimus seperti Filemon menerima dirinya, sebagai rasul. Dan yang ketiga, ironisnya, ketika Paulus berkata bahwa ia meminta kepada Filemon bukan sebagai seorang rasul, tetapi sebagai seorang budak/tahanan karena Yesus Kristus.

Setiap permohonan ini ada maksudnya. Perbaikan status yang diperoleh Onesimus dalam Kristus akan membuatnya dipandang secara baru/berbeda. Tetapi, maksud Paulus yang lain adalah agar Filemon memandangnya sebagai budak/tawanan. Ini menunjukkan observasi yang mendalam bahwa kita semua adalah pelayan Yesus dan status kekuasaan apa pun yang kita miliki sangat relatif. Pekerjaan apa pun yang kita lakukan, kita lakukan seperti untuk Tuhan, untuk melayani Dia. Bahkan para rasul pun melayani dengan pimpinan dan petunjuk Allah. Kesamaan ini, pada keduanya, mengingatkan kita bahwa di balik kedudukan yang seringkali diberikan dunia pada kita, ada hakikat kemanusiaan kita yang menjadikan kita semua sebagai pelayan-pelayan Allah. Kita dipanggil dalam peran apa pun, kita harus melayani Dia dengan baik. Sesungguhnya, bisa dikatakan, inilah inti dari permohonan yang disampaikan Paulus dalam surat ini. Ia memakai sikapnya yang rendah hati dan tidak memanfaatkan otoritasnya sebagai contoh yang menyiapkan panggung untuk yang akan diminta dilakukan Filemon. Mengatakan bahwa perspektif itu hanya “game changer” (mengubah arah) sangat meremehkan betapa pentingnya langkah ini sebagaimana akan ditunjukkan poin-poin berikutnya.

2. Kepemimpinan pada akhirnya bukan melulu tentang menjalankan kekuasaan, kedudukan, hak, atau efisiensi, tetapi melibatkan diri dalam relasi-relasi, sebuah partisipasi yang menuntun kepada kebaikan praktis dan meneguhkan potensi baru. Kebaikan praktis ini seringkali berarti menindaklanjuti komitmen-komitmen dan melakukan pekerjaan dengan integritas, tetapi juga dapat berarti, seperti di sini, mengampuni dan menghargai potensi seseorang untuk berubah dan menjadi manusia baru. Paulus pada akhirnya meminta Filemon untuk menerima dan mengakui perubahan pada Onesimus ini. Untuk melihatnya secara baru dalam terang yang telah dinyalakan Yesus, yang membuat Onesimus menjadi pribadi yang berbeda dari budak yang pernah melarikan diri.

3. Sebagai pemimpin, Paulus bersedia menanggung harga pengorbanan yang ia minta dilakukan orang lain. Perlu diingat bahwa Paulus, yang merasakan kehilangan dan kerugian yang ditanggung Filemon, bersedia menanggung kerugian itu dan memastikan ada keadilan yang ditegakkan ketika ia meminta kemurahan hati dan belas kasihan. Utang yang bersedia ditanggung Paulus mencerminkan perumpamaan yang diceritakan Yesus, tentang Orang Samaria yang baik hati, yang tidak hanya bersedia menyelamatkan orang yang dianiaya di pinggir jalan, tetapi juga membayar kepada pemilik penginapan setiap utang yang ditimbulkan selama perawatan pemulihan orang itu di penginapannya. Menanggung beban orang lain ini adalah bagian dari "partisipasi" atau tuntutan persekutuan yang ditantang Paulus dalam surat Filemon. Tentu saja, contoh tertinggi dari menanggung beban orang lain adalah tindakan Yesus sendiri yang rela mati untuk dosa kita dan membayar utang rohani kita. Dengan memasukkan dirinya ke dalam persamaan relasional ini, Paulus juga menjadikan dirinya sebagai partisipan dalam situasi ini, untuk menjadi bagian dari persekutuan yang ia minta ditunjukkan Filemon.

4. Kepemimpinan yang baik mempersilakan orang lain bertindak berdasarkan keputusan terbaiknya dan bukan memaksakan kehendak. Paulus sebagai pemimpin tidak hanya meminta Filemon untuk membuat keputusan, tetapi juga untuk melakukannya dengan memahami dan menghargai mengapa hal itu merupakan keputusan yang baik. Ia mempersilakan Filemon memakai kehendak bebasnya agar karakter itu berkembang. Paulus tidak hanya tertarik pada keputusan akhirnya saja. Ada pepatah terkenal yang mengatakan, "Orang yang diyakinkan bertentangan dengan kehendaknya akan tetap memiliki pendapat yang sama." Dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang benar-benar berubah. Setiap tindakan yang dilakukan semata-mata karena terpaksa sering kali hanya dilakukan sekali dan setelah itu ditinggalkan karena dasar pemikirannya tidak benar-benar dipahami. Setelah tidak ada paksaan lagi, perilaku akan kembali seperti semula tanpa ada pertumbuhan karakter. Paulus ingin Filemon bertindak bukan karena ia harus/terpaksa melakukannya, tetapi karena ia mau/bersedia melakukannya. Ia ingin Filemon memahami perbedaannya yang mendalam itu.

5. Sebagai pemimpin, Paulus tetap dapat memberikan tekanan moral kepada orang yang dimintanya membuat keputusan. Salah satu hal menarik dari surat ini adalah bagaimana Paulus menggunakan "tekanan." Ada semacam penggunaan kekuasaan yang tidak biasa di sini. Paulus tidak “menekan” dari kedudukannya, tetapi ia menekan dengan sangat intensional—secara relasional—dengan mengingatkan Filemon akan utangnya sendiri pada Paulus. Paulus tidak meminta sebagai seorang rasul, tetapi ia meminta berdasarkan yang telah dilakukannya sendiri pada Filemon. Filemon jelas sangat mengenal siapa Paulus, tetapi Paulus mendekatinya dari sisi lain. Dengan kata lain, Paulus berkata, “Jika kamu menghargai caraku berelasi denganmu sebagai penerima manfaat, maka kamu akan tahu bagaimana aku memintamu memperlakukan orang lain. Jika kamu dapat menjadi penerima manfaat dari relasi semacam itu, maka kamu dapat berkontribusi pada orang lain dengan cara yang sama.” Permintaan yang bersifat relasional ini menggarisbawahi seluruh pendekatan surat itu agar Filemon menunjukkan respons yang kuat secara relasional. Pendekatan itu sesuai dengan tujuannya.

Kita juga diingatkan bahwa kita harus belajar dari teladan Tuhan pada kita. Pelajaran-pelajaran itu bisa jadi ada di balik permintaan Paulus, hal yang juga diajarkan di ayat-ayat seperti Filipi 2:6-11. Yesus tidak menganggap keilahian-Nya sebagai hal yang harus dipertahankan, tetapi Dia mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba untuk kita, bahkan sampai mati sebagai orang tak bersalah untuk kita. Yesus juga menyampaikan perumpamaan tentang seorang yang dihapuskan dari utangnya yang banyak, tetapi tidak mau mengampuni orang lain yang berutang sedikit padanya. Orang yang sudah diampuni dan tidak mau mengampuni itu ditegur dan ditolak dalam perumpamaan itu, karena ia tidak menunjukkan pengampunan yang sama seperti yang telah ia terima. Paulus meminta hal serupa di sini. “Jika aku dapat melayanimu untuk kebaikanmu, Filemon, maka kamu juga dapat melayani orang lain. Jika Yesus atau aku bisa mengosongkan diri bagi orang lain, maka kamu pun bisa.”

6. Poin terakhir: inti dari permintaan Paulus kepada Filemon adalah panggilan untuk menjalani relasi bukan dengan menonjolkan status, tetapi dengan tujuan untuk melayani. Jika Filemon melakukan yang diminta Paulus, Paulus akan sangat bergembira. Jika Filemon melakukan lebih dari yang diminta Paulus, Paulus akan dilayani dengan cara yang membuat Filemon berpartisipasi dalam pelayanan Paulus maupun pelayanan Onesimus. Ketika kita memimpin dengan kerinduan untuk membangun relasi dan karakter, ketika kita bersedia melihat potensi dan memberi ruang bagi pertumbuhan dan perubahan hidup orang lain, dan ketika kita bersedia berkorban di dalam proses itu, kita sedang menjalani kepemimpinan kita bukan saja dengan mengikuti model permintaan Paulus kepada Filemon, tetapi juga teladan Tuhan Yesus sendiri. Itulah iman yang hidup, yang bekerja dalam pelayanan yang patut diteladani dan penuh pengorbanan yang membangun relasi dan karakter. Bukan hanya pemimpin yang bertumbuh, tetapi orang-orang yang dipimpinnya juga bertumbuh ketika ia mencontohkan bagaimana iman bekerja.