Penerapan Lebih Lanjut dalam Kepemimpinan
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi KerjaMasih ada dua penerapan lagi. Yang pertama adalah bagaimana hak-hak Filemon (tidak) ditangani. Paulus memang membahas ketidakadilan itu dengan menyatakan kesediaannya untuk membayar utang/ kerugian yang ditanggung Filemon. Tetapi pada akhirnya, yang menarik, hal itu ternyata tidak dibicarakan lagi. Dalam banyak konteks saat ini, hal seperti itu tentu akan menjadi masalah yang harus diselesaikan. Fakta bahwa Paulus tidak memberi banyak ruang untuk membahasnya dan juga tidak mendorong Filemon untuk membahasnya menunjukkan bahwa relasi-relasi yang sudah berubah juga akan mengubah apa yang sebetulnya menjadi hal yang penting untuk dipikirkan dan diselesaikan.
Penerapan kedua adalah tentang dampak surat itu yang tidak kita ketahui. Salah satu hal penting dalam kepemimpinan adalah dapat belajar memahami dan menangani konfrontasi seperti yang dialami Paulus dengan Filemon. Kita sebenarnya tidak tahu apa yang dilakukan Filemon dengan yang disampaikan Paulus padanya. Apakah ia mendengarkan dan menuruti nasihat itu atau tidak, kita tidak tahu. Tetapi pendekatan Paulus menunjukkan bahwa para pemimpin harus mampu belajar. Yang dinasihati Kitab Suci untuk kita pikirkan adalah bahwa kedudukan dan kekuasaan bukanlah kacamata berpikir utama dalam melihat relasi-relasi, bahkan dalam konteks sosial di mana kita mungkin memiliki kedudukan. Kita terutama harus memikirkan dinamika-dinamika relasional yang kita terima dari Allah dan dari teladan Yesus ketika memikirkan masalah-masalah relasional yang sering kita hadapi. Hal ini dapat mengubah cara kita bereaksi, yang sebelumnya dipengaruhi budaya, terhadap peristiwa-peristiwa itu. Kita bisa memiliki kacamata berpikir lain yang mungkin lebih efektif dalam menolong kita bertumbuh dan menolong orang lain bertumbuh juga. Pemimpin yang benar-benar memimpin akan membimbing orang lain menjadi lebih baik, tidak hanya dalam pekerjaan yang dilakukan tetapi juga dalam cara melakukannya. Ketika berelasi menjadi fokus dari cara para pemimpin menjalankan kepemimpinan, para pemimpin itu pun akan belajar dan menghasilkan pertumbuhan dalam dirinya sendiri maupun orang lain. Itulah yang pada akhirnya disebut Paulus sebagai persekutuan sejati, kehidupan berelasi yang sesungguhnya.
