Permintaan Paulus Yang Pelik (Filemon 9-25)
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi KerjaCara Paulus menyampaikan permintaannya akan mengorbankan posisinya sendiri sebagai pemimpin, sebagai contoh dari yang akan ia minta. Langkah ini mudah terlewatkan, karena munculnya di awal. Di ayat 8-9 Paulus berkata bahwa ia bisa saja memerintahkan yang akan ia minta. Ia bisa saja memanfaatkan kartu pemimpin kekuasaan dan kedudukan sosialnya. Ia juga mengatakan hal senada di ayat 14, ketika ia berkata bahwa ia ingin Filemon bertindak bukan karena terpaksa, tetapi karena kehendak bebas. Paulus tidak mau bertindak dari tempat kekuasaan dan otoritas. Karena kasih, bukan status, Paulus ingin menyampaikan permintaannya bukan dari dirinya sebagai utusan/rasul, tetapi sebagai seorang tahanan karena Yesus Kristus. Dari dalam penjara, Paulus lebih suka Filemon bertindak berdasarkan apa yang baik dan benar secara relasional daripada hanya terpaksa bertindak.
Permintaan itu disampaikan atas nama Onesimus. Paulus bermain kata dengan nama budak itu, yang artinya "berguna."[1] "Si Berguna" telah menjadi "tidak berguna" bagi Filemon karena ia melarikan diri, tetapi sekarang ia berguna bagi mereka berdua. Sulit untuk mengetahui apakah penilaian Paulus ini karena Onesimus telah melarikan diri sehingga ia tidak dapat melayani Filemon, ataukah ini merupakan deskripsi Paulus tentang Onesimus secara sosial dan relasional sebagai budak yang hanya dianggap properti. Yang pertama tampaknya lebih memungkinkan daripada yang kedua, karena seorang budak menjadi berguna bagi pemiliknya ketika ia melayani di rumah itu.
Paulus mengirim kembali budak itu kepada Filemon, meskipun ia lebih suka menahan Onesimus dan membiarkannya melayani Injil atas nama Filemon. Paulus berkata bahwa pelarian Onesimus justru telah membawa perubahan pada status budak itu, karena ia lalu mengenal Kristus di dalam pelarian itu. Onesimus telah berubah dari seorang budak menjadi seorang saudara. Ia telah berubah statusnya dari budak untuk sementara waktu sampai kematian datang, menjadi orang yang memiliki relasi dengan Filemon selamanya.
Lalu, permintaan Paulus adalah agar Onesimus diterima seolah-olah Paulus sendiri yang kembali kepadanya. Sungguh peningkatan status yang luar biasa. Onesimus telah berubah dari budak menjadi saudara lalu menjadi "rasul" dalam beberapa kalimat saja. Permintaan Paulus menarik. Ia berkata, "Kalau engkau menganggap aku sebagai teman seiman (koinōnon), terimalah dia seperti kamu menerima aku." [2] Persekutuan berarti kemitraan. Onesimus mungkin memiliki suatu status di mata dunia, tetapi di dalam Yesus ada cara lain untuk melihat siapa dirinya. Ia adalah seorang saudara.
Hampir dapat dipastikan bahwa salah satu hal yang mendorong permintaan Paulus ini adalah karena Filemon dan Onesimus memiliki iman yang sama dengan Paulus. Tetapi, gagasan untuk memandang melampaui status sosial semata terhadap seorang manusia tetap berlaku meskipun Onesimus bukan orang percaya. Dasar yang mendorong perintah untuk mengasihi sesama, siapa pun itu, termasuk musuh, pastinya adalah fakta bahwa semua orang diciptakan segambar dengan Allah.
Filemon mungkin juga bertanya, "Tetapi bagaimana dengan risiko dimanfaatkan, Paulus?" Paulus menyadari pertanyaan itu dan memberikan solusi juga. Ia berkata jika Onesimus telah merugikan Filemon dalam hal apa pun juga, hal itu bisa dibebankan kepada Paulus. Paulus bersedia menanggung segala kerugian apa pun yang harus ditanggung Onesimus. Ia bahkan menulis surat itu dengan tangannya sendiri agar maksudnya tersampaikan sepribadi mungkin.[3] Paulus juga meneguhkan maksudnya ini dengan berkata bahwa Filemon sendiri berutang padanya, yang kemungkinan merujuk pada bagaimana Paulus telah memimpin dan membinanya dalam iman. Jika Filemon bersedia melakukan hal ini, menerima Onesimus sebagai saudara, hati Paulus akan bergembira sekali. Filemon akan melakukan bagi Paulus hal yang telah ia lakukan bagi banyak orang lainnya (lihat ayat 7).
Paulus tidak malu dengan permintaannya karena ia yakin Filemon tidak hanya akan memenuhi permintaan itu, ia bahkan akan melakukan lebih dari yang diminta. Ini mungkin merupakan sindiran halus terhadap gagasan untuk mengirim kembali budak itu kepada Paulus. Ia kemudian menulis bahwa ia berharap dapat segera mengunjungi Filemon, jadi Filemon perlu menyiapkan kamar untuknya.
Setelah berkata begitu dan menyampaikan permintaannya, Paulus memberikan salam penutup dan mengakhiri suratnya dengan menyerahkan Filemon ke dalam kasih karunia Tuhan Yesus.
