Bootstrap

Menyelaraskan Irama Istirahat dan Kerja (Tinjauan Umum)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Balance work rest 552x470
Membuat Waktu Istirahat Dapat Diperkirakan dan Dibutuhkan

Bacalah lebih lanjut di sini tentang penelitian mengenai irama istirahat dan kerja yang dilakukan di Boston Consulting Group oleh dua profesor Harvard Business School. Penelitian itu menunjukkan bahwa ketika diasumsikan setiap orang harus selalu bersedia ditantang secara kolektif, bukan saja individu-individu dapat memiliki waktu istirahat, pekerjaan mereka juga benar-benar mendapat manfaat. (Harvard Business Review mungkin memasang pengumuman dan mewajibkan mendaftar untuk melihat artikel itu). Mark Roberts juga membahas topik ini dalam renungan Life for Leaders dengan judul "Tidakkah Menaati Hari Sabat Akan Membuat Saya Kurang Produktif?"

Pendahuluan – Istirahat dan Kerja

Manusia membutuhkan irama kerja dan istirahat agar dapat hidup sesuai dengan potensi yang diberikan Allah kepada mereka. Sama seperti Allah memberikan pekerjaan penting untuk dilakukan manusia, Allah juga mau manusia beristirahat secara berkala dari pekerjaan mereka. Pekerjaan memberi kesempatan kepada setiap individu untuk bermitra dengan Allah dalam tujuan-tujuan-Nya atas ciptaan, sementara istirahat memungkinkan orang itu memasuki persekutuan dengan Allah dalam menikmati ciptaan. Idealnya, semua orang bekerja dan beristirahat secara berselang-seling yang nyaman, yang membuat manusia sehat secara fisik, bergairah secara mental, dan puas secara spiritual.

Sayangnya, bagi banyak orang hal ini jarang terjadi. Banyak orang mengabaikan istirahat atau tidak punya kesempatan untuk beristirahat karena pola hidup mereka. Dengan kemajuan teknologi yang memusingkan, orang dapat bekerja di mana saja dan kapan saja. Pada tahun 2014 The Economist melaporkan bahwa 60% orang yang menggunakan telepon pintar terhubung dengan kantor mereka selama 13,5 jam atau lebih dalam sehari.[1] Banyak orang telah berhenti berusaha menyelaraskan kerja dan istirahat.[2] Yang lain mendapati seluruh waktunya habis untuk kebutuhan mencari uang, merawat anak atau orangtua lanjut usia (atau keduanya), serta memenuhi berbagai kebutuhan dan ekspektasi lainnya. Karena bekerja berlebihan, mereka merasa semakin sulit untuk mengalami istirahat yang memanusiakan dan memulihkan yang mereka butuhkan.

Sebaliknya, sebagian orang kurang bekerja, entah karena mereka tidak bekerja secara penuh waktu atau pun merasa tidak terlibat dengan pekerjaan mereka. Sebagian kurang memiliki motivasi untuk bekerja atau tidak mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang dibutuhkan dalam bekerja. Perubahan-perubahan struktural di pasar tenaga kerja selama setengah abad terakhir ini telah mengurangi kesempatan kerja orang-orang yang tidak memiliki akses ke pendidikan tinggi.[3] Dan bahkan orang-orang yang bekerja secara penuh waktu bisa mengalami kurangnya keterlibatan yang produktif. Jika seorang pekerja merasa pekerjaannya tidak dihargai, diperhatikan, atau diapresiasi, pekerja itu akan sulit menunjukkan rasa memiliki atas tugas yang ada.[4] Jika ia tidak siap untuk bekerja secara produktif, buah kesuksesan tak mungkin tercapai. Hasilnya adalah kurangnya motivasi yang membuat kehilangan semangat.[5]

Ketika orang kurang beristirahat, mereka menderita secara fisik, mental, emosional, dan spiritual. Kelelahan fisik dan mental sering dapat menyebabkan ketidakstabilan emosi, karena orang yang kurang istirahat menjadi mudah tersinggung dan/atau cemas. Kekurangan istirahat ini juga bisa menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang lebih besar. Relasi-relasi menjadi tegang. Dan seiring berjalannya waktu, kehidupan rohani —relasi dengan Allah serta makna dan sukacita terbesar dalam hidup—jadi melemah juga.

Hasil riset menunjukkan konsekuensi yang berantai akibat kurangnya istirahat. Pertama-tama, kurang istirahat dapat mengganggu kesehatan dan kualitas kerja. Beban kerja yang berat dan jam kerja yang panjang merupakan sumber stres yang signifikan di tempat kerja. Menurut survei Asosiasi Psikologis Amerika, lebih dari sepertiga (36%) pekerja mengalami stres kerja yang kronis, yang dapat menyebabkan kecemasan, insomnia, nyeri otot, peningkatan tekanan darah, dan juga melemahnya sistem kekebalan tubuh. Stres ini juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan depresi.[6] Selain itu, kelelahan mengurangi keterampilan seseorang dalam mengelola relasi-relasi interpersonal. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa ketika orang lelah, ia akan salah membaca sinyal-sinyal sosial orang lain. Orang yang lelah akan memproyeksikan motif-motif negatif kepada orang lain, dan merasa sulit untuk menahan diri agar tidak meluapkan amarah saat merespons.[7] Akhirnya, ada implikasi-implikasi spiritual dari kurang beristirahat. Allah menciptakan bekerja maupun beristirahat, dan pengabaian dalam hal-hal ini dapat menjauhkan manusia dari-Nya.

Baik orang yang bekerja berlebihan maupun yang kurang bekerja bisa merasa sulit untuk berelasi dengan Allah dalam irama kerja dan istirahat. Namun, oleh kasih karunia Allah, masih ada harapan untuk dapat mengintegrasikan istirahat dan kerja dalam pola hidup yang dimaksudkan Allah. Artikel ini akan menyelidiki alasan-alasan tentang mengapa dan bagaimana melakukannya.

Sejak di halaman-halaman awal Alkitab, baik bekerja maupun beristirahat merupakan topik yang sangat penting. Di pasal pertama kitab Kejadian Allah menciptakan segala sesuatu, namun meskipun Dia memiliki kuasa dan kesempurnaan yang tidak terbatas, Allah mengambil waktu untuk beristirahat. Kajian topikal ini akan menelusuri tema istirahat dalam Kitab Suci melalui empat topik utama: 1) mengapa orang perlu beristirahat, 2) mengapa orang tidak dapat beristirahat, 3) bagaimana istirahat dipulihkan, dan 4) bagaimana orang dapat beristirahat dalam iman.