Penginjilan – Memberitakan Injil di Tempat Kerja (Tinjauan Umum)
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Pemikiran bahwa setiap orang Kristen dipanggil untuk memberitakan Injil menggelisahkan banyak orang Kristen, karena kebanyakan dari kita merasa tidak berbakat untuk menjadi penginjil. Meskipun menjadi bagian dalam perjalanan iman seseorang itu menggetarkan, namun memulai percakapan rohani dengan rekan-rekan di tempat kerja dapat menimbulkan kecemasan besar.
Mungkin hal ini sedang Anda alami – dengan banyak alasan yang dapat dimengerti. Anda mungkin merasa tidak siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan rekan-rekan kerja pada Anda. Anda mungkin merasa memulai percakapan rohani di tempat kerja itu tidak cocok – atau begitulah yang Anda ketahui. Anda mungkin merasa agak terintimidasi dengan sikap-sikap bermusuhan terhadap Kekristenan yang ditunjukkan beberapa rekan kerja. Anda mungkin berpikir membagikan iman Anda bisa menimbulkan konflik dan membangkitkan perasaan negatif pada rekan-rekan kerja. Anda mungkin merasa tidak mampu karena—ehm, Anda tahu iman Anda sendiri belum patut dicontoh di tempat kerja.
Definisi Penginjilan Yang Dapat Dilaksanakan Penginjilan adalah … proses organis terlibat secara intensional pribadi-pribadi dalam perjalanan rohani mereka bergabung dengan Roh Kudus memerhatikan di mana Dia sudah bekerja menolong pribadi-pribadi mengambil satu langkah lebih dekat kepada Allah dan hidup baru dalam Kristus menjadi cerminan unik dari gambar Kristus sebagai orang-orang yang dibangkitkan, dimuliakan sesuai rencana Allah Keberhasilan dalam penginjilan terus-menerus mengambil inisiatif, memakai karunia-karunia dan kesempatan-kesempatan yang diberikan Allah pada kita untuk menolong orang-orang mengambil satu langkah lebih dekat kepada Kristus. |
Tetapi bagaimana jika Anda tahu bahwa menjadi bagian dari perjalanan iman seseorang kepada Kristus dapat dimulai dengan hal-hal sederhana seperti minum kopi bersama seorang teman, menghibur orang yang mengalami minggu yang kacau di tempat kerja, atau menawarkan bantuan kepada pimpinan atau rekan kerja yang sedang tertekan? Bagaimana jika kita sungguh-sungguh memercayai perkataan Yesus tentang mengabarkan Injil kepada orang lain?
Bagaimana jika kita percaya bahwa Yesus memberi kita kuasa untuk bertindak atas nama-Nya dalam memenuhi panggilan kita sebagai saksi-saksi-Nya di tempat kerja, bahwa “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” (Matius 28:18)?
Bagaimana jika janji-Nya benar bahwa “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yohanes 14:26)?
Bagaimana jika kita yakin dengan kehadiran Kristus—bahwa Dia menyertai kita senantiasa di segala tempat, dan dalam setiap situasi (Matius 28:20)?
Bagaimana jika dalam interaksi-interaksi singkat dan bincang-bincang informal tentang iman kita, kita tahu Roh Kudus bekerja di hati dan pikiran orang untuk “menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yohanes 16:8)?
Bagaimana jika kita tahu bahwa kita tidak harus sempurna dan selalu mengatakan hal yang tepat – bahwa Allahlah yang bekerja untuk menarik orang kepada diri-Nya dan “tidak ada seorang pun yang datang kepada-Ku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa” (Yohanes 6:44)?
Bagaimana jika kita mengerti bahwa dengan melakukan tugas kita dengan baik di tempat kerja, kita bisa menjadi terang bagi rekan-rekan kerja “supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Matius 5:16)?
Inilah yang dipercayai orang Kristen mula-mula dan cara mereka melihat peran mereka dalam memenuhi Amanat Agung untuk menjadikan murid di segala suku bangsa—yang mengubah dunia. Inilah kisah sukses komunikasi terbesar dalam sejarah manusia—bagaimana Injil tersebar sampai ke wilayah Mediterania dan akhirnya ke seluruh ujung bumi. Sesaat menjelang kenaikan-Nya ke surga, Yesus menjelaskan rencana strategis-Nya untuk menjangkau seluruh dunia dengan Injil Kerajaan Allah kepada para pengikut-Nya. Yesus mendekati mereka dan berkata “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Matius 28:18-20). “Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). Murid-murid abad pertama menerima tugas ini, dan pengikut Yesus berkembang dari beberapa ratus sebelum hari Pentakosta menjadi lebih dari enam juta jiwa pada akhir abad ketiga [1]—pertumbuhan yang luar biasa pesat menurut perhitungan siapa pun.
Tugas Memberitakan Injil
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKita mungkin tergoda untuk percaya bahwa pertumbuhan eksponensial gereja mula-mula adalah hasil dari kotbah-kotbah dahsyat Petrus, Paulus dan beberapa pembicara berbakat lainnya yang pekerjaannya memberitakan Injil. Atau kita mungkin memuji strategi Paulus yang menargetkan pusat-pusat budaya penting dan menanam gereja-gereja yang dapat menyebarkan Injil ke seluruh daerah pedalaman di sekitarnya. Upaya-upaya ini memang patut diperhatikan – bagaimanapun semuanya tertulis di Alkitab [1] —tetapi yang jauh lebih penting adalah fakta bahwa orang Kristen mula-mula dari setiap etnis, gender dan lapisan masyarakat sangat bergairah untuk memperluas Kerajaan Kristus. Mereka berkomitmen untuk “bertindak sebagai duta-duta besar Kristus kepada dunia yang memberontak, apa pun konsekuensinya.”[2]
|
Studi yang diadakan LifeWay Research menemukan bahwa 80 persen dari orang yang pergi ke gereja sebulan sekali atau lebih, percaya bahwa mereka punya tanggung jawab pribadi untuk membagikan iman mereka, tetapi sebagian besar tidak pernah melakukannya. |
Sejarah dan Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Injil tersebar dengan sangat cepat di sepanjang rute-rute perdagangan, tempat-tempat umum, dan dari rumah ke rumah – atau dalam bahasa Yunaninya, dari oikos ke oikos. Oikos adalah unit sosial dan ekonomi dasar di dunia Yunani-Romawi —bukan hanya sebagai rumah tempat tinggal keluarga, tetapi sebagai tempat bisnis rumahtangga kecil di zaman kuno yang meliputi para anggota keluarga besar, karyawan, dan pelanggan yang sering datang ke tempat itu.
Melalui percakapan-percakapan informal di dalam dan di antara oikos-oikos inilah orang-orang percaya, laki-laki dan perempuan, memberitakan Injil kepada teman, kerabat, rekan kerja, kolega, pelanggan, murid, guru dan sesama prajurit – melalui jaringan relasi di tempat kerja mereka. Mereka bukan rohaniwan profesional, tetapi pekabar Injil informal.
Sejak di Kisah Para Rasul 8 kita sudah mendapati bahwa orang-orang yang terusir dari Yerusalem sebagai akibat penganiayaan sesudah Stefanus mati dibunuh sebagai martir bukanlah para rasul tetapi para misionaris “amatir” yang membawa Injil bersama mereka ke mana pun mereka pergi…. Penginjilan mereka tentu bukan mengajar secara formal, tetapi melalui percakapan informal dengan teman dan kenalan yang dijumpai secara tak terduga, di rumah-rumah dan kedai minuman, di jalan-jalan dan pasar-pasar. Mereka pergi ke mana saja sambil membicarakan Injil; mereka melakukannya secara alami, dengan antusias dan dengan keyakinan mereka yang tidak dibayar untuk mengatakan hal-hal itu.[3]
Sebagai akibatnya, tempat kerja menjadi medan paling strategis dalam pekabaran Injil gereja mula-mula. Saat ini, gereja Yesus Kristus juga sedang mengalami pertumbuhan eksponensial yang sama di Dunia Selatan – yang menimbulkan pertanyaan: Dengan adanya lebih dari 340.000 gereja [4] dan lebih dari 600.000 rohaniwan [5] serta 75 persen orang Amerika yang “mencari cara-cara untuk hidup lebih bermakna,” [6] mengapa populasi Kristen di Barat menyusut, sementara populasi non-religius meningkat? [7]
Dengan semakin jauhnya budaya Barat dari Kristus, kita bisa berasumsi bahwa menjangkau orang dengan Injil menjadi makin sulit. Dalam satu hal, ini benar. Memang makin sulit untuk mengajak orang pergi ke gereja, mendengarkan pemaparan Injil dari orang asing, atau menghadiri kebaktian kebangunan rohani. Tetapi pintu Injil tetap terbuka lebar melalui relasi-relasi pribadi. Sesungguhnya, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa 90 persen anggota jemaat yang datang pada Kristus ketika mereka dewasa, menjadi percaya karena relasi mereka dengan satu atau lebih orang Kristen di luar gereja.[8] Inilah yang membuat tempat kerja sangat strategis. Di situlah sesungguhnya pekerjaan yang kita lakukan setiap hari tidak hanya berkontribusi bagi kemajuan umat manusia, tetapi juga memberi bukti nyata bahwa Injil benar-benar Kabar Baik.
Kita Dipanggil untuk Melayani Sebagai Duta Besar Kristus
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiOrang Kristen di segala zaman dipanggil untuk menjadi duta-duta besar Kristus. Duta besar adalah utusan pribadi yang dikirim kepala negara. Sama seperti kepala negara mengutus duta besar dengan tugas diplomatik, Kristus mengutus kita dengan tugas merepresentasikan Dia dalam perkataan maupun perbuatan.
Jadi kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. (2 Korintus 5:20)
Tugas ini memiliki dua aspek—menyampaikan pesan-pesan dari penguasa tertinggi dan merepresentasikan penguasa tertinggi itu secara pribadi. Menyampaikan pesan memerlukan perkataan, tetapi merepresentasikan secara pribadi membutuhkan lebih dari sekadar perkataan. Diperlukan juga perbuatan, misalnya dengan menunjukkan karakter penguasa itu dan melakukan hal-hal yang dapat mencapai tujuan-tujuan penguasa itu. Sebagai duta besar Kristus, kita menyampaikan pesan Injil Kristus dan kita hidup dengan cara yang menyatakan kasih Allah kepada orang-orang yang kita jumpai di tempat kerja dan di mana pun kita berada.
Perkataan Yesus di Kisah Para Rasul 1:8 memperjelas gambaran tentang menjadi duta besar ini: “Kamu akan saksi-saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi.” Yesus mengutus para pengikut-Nya bukan untuk pergi menyaksikan, tetapi untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Pergi menyaksikan mungkin artinya hanya menyampaikan perkataan-perkataan tentang Allah di suatu tempat yang jauh dari rumah, tetapi menjadi saksi berarti menjalani kehidupan yang menunjukkan kasih Allah di mana pun kita berada. Sesungguhnya, Alkitab tak pernah memerintahkan kita untuk pergi menyaksikan. Berfokus pada menyampaikan sebelum menunjukkan akan memisahkan siapa kita dari apa yang kita katakan—dan itulah yang menjadi masalah. Ahli sejarah gereja Michael Greene mengamati bahwa dampak gereja mula-mula pada dunia tergantung pada hubungan antara kehidupan pembawa pesan dengan pesan/perkataan mereka.
Sudah menjadi aksioma (pernyataan yang dianggap benar tanpa perlu pembuktian-Pen) bahwa semua orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Kristus bukan hanya melalui kehidupan (life), tetapi juga dengan perkataan (lip). [1]
Hubungan antara keyakinan (iman) dan perilaku (perbuatan) terlihat jelas dalam literatur Kristen. Keduanya tak dapat dipisahkan tanpa akibat-akibat yang buruk. Di antaranya, berakhirnya penginjilan yang efektif. [2]
Perhatikanlah urutan dalam perintah-perintah Paulus kepada jemaat Kolose, bagaimana perbuatan mendahului percakapan rohani.
Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. (Kolose 4:5-6)
Ketika kita melayani orang lain dengan perbuatan kita, kita membawa kasih Yesus kepada mereka. Penginjilan bukan hanya tentang membawa orang kepada Yesus, tetapi juga membawa Yesus kepada mereka – untuk menunjukkan dan kemudian menyampaikan. Membawa Yesus kepada orang lain —melayani mereka —adalah kunci strategi Paulus dalam membawa orang kepada Yesus. Di dalam 1 Korintus 9:19 ia berkata, “Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba bagi semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” Paulus bersedia menjangkau orang lain di mana pun mereka merasa nyaman, entah itu dalam arti tempat, bahasa atau sejarah, dan bukan membuat mereka yang harus menyesuaikan diri dengannya.[3]
Empat Cara Melayani Sebagai Duta Besar Kristus di Tempat Kerja
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSeperti apakah menjadi duta besar Kristus di tempat kerja — melayani Kristus di tempat kerja dan merepresentasikan Dia di sana? Meskipun tidak ada dari kita yang dapat melakukan hal ini dengan sempurna, ada empat komponen yang bisa membuat kesaksian kita dapat dipercaya orang lain—kompetensi, karakter, kepedulian, dan percakapan yang bijak. Kami mendorong Anda untuk memikirkan bagaimana Allah dapat memakai elemen-elemen ini untuk menarik orang kepada diri-Nya. Hal-hal ini bukan formula, teknik, atau langkah-langkah untuk sukses, tetapi sebagai cara kita menunjukkan kepada rekan-rekan kerja dan kolega bahwa iman kita nyata. Ketika kami meninjau konsep-konsep ini untuk diri kami sendiri, kami sendiri terus-menerus menemukan aspek-aspek yang perlu kami tingkatkan. Tetapi tidak ada yang begitu gagal sampai membuat putus asa. Bahkan, ketika kami melakukan kesalahan dan dapat mengakui kekurangan-kekurangan kami dengan rendah hati, kesaksian kami menjadi lebih dapat dipercaya. Sekalipun ada kemungkinan untuk sempurna, orang tidak akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Kristen yang sempurna. Untuk mengidentifikasi diri sebagai saksi seperti kita, mereka perlu tahu bahwa kita pun membutuhkan kasih karunia.
Memberitakan Injil melalui Kompetensi
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiTugas pertama duta besar Kristus di tempat kerja adalah melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya – karena kompetensi kita sangat memengaruhi kredibilitas kita. Kompetensi berarti melaksanakan pekerjaan kita sebaik-baiknya, mencurahkan segenap hati kita di dalamnya, memberikan produk dan layanan terbaik yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang logis.
Alkitab berbicara tentang pentingnya melakukan pekerjaan baik di sejumlah ayatnya. Sebagai contoh:
Pernahkah engkau melihat orang yang mahir dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri. (Amsal 22:29)
Apa pun yang dapat dikerjakan dengan tanganmu, kerjakanlah dengan sekuat tenaga. (Pengkotbah 9:10)
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk TUHAN. (Kolose 3:23)
Kita tak perlu heran jika pekerjaan kita sangat terkait erat dengan kesaksian kita. Pikirkan hal berikut:
Allah itu Pekerja dan Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya yang seperti itu. Di dalam Kejadian 1 dan 2, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Pekerja – pencipta, perancang, pembangun, penguasa dan pengembang properti— dan sejak awal, bekerja sudah menjadi bagian dari rencana Allah untuk manusia - sebagai bagian integral yang menyatu dengan kehidupan manusia. Allah memerintahkan manusia pertama, nenek moyang kita, untuk mengusahakan dan merawat Taman Eden dengan rajin (Kejadian 2:15), untuk produktif dalam pekerjaan mereka membuat dunia berkembang sepenuhnya (Kejadian 1:28).
Kehidupan, masa depan dan identitas Adam berkaitan erat dengan bumi dan pekerjaannya di dalamnya. [1]
Kita mencerminkan gambar Allah melalui pekerjaan kita. Sebagai duta besar Kristus, kita punya tanggung jawab untuk menyatakan Kristus dalam konteks dinamika pekerjaan kita sendiri. Michael Williams menulis, “Kita ada untuk tujuan menggambarkan Allah, mencerminkan Dia kepada dunia, menirukan Dia dalam kehidupan orang-orang dan masyarakat sekitar kita.” [2]
Kualitas pekerjaan dan sikap kita dalam bekerja berbicara banyak kepada orang lain tentang kita – dan tentang Allah yang kita layani. Dapatkah Anda bayangkan Yesus memakai bahan yang kurang bermutu, menunjukkan kinerja tukang kayu yang buruk, atau meminta bayaran yang terlalu tinggi kepada pelanggan-Nya? Jika Dia bekerja seperti itu, para pelanggan yang mendengar Dia mengajar akan punya alasan untuk menyimpulkan bahwa teologi-Nya sama reyotnya dengan meja-meja-Nya.
Paulus berkata bahwa produk dan layanan yang kita berikan dalam memenuhi kebutuhan orang lain dan memengaruhi kemajuan hidup manusia merupakan hal penting dalam kita mengasihi sesama: "Tentang kasih persaudaraan, … kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, mengurus persoalan-persoalan sendiri, dan bekerja dengan tanganmu sendiri, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada siapa pun." (1 Tesalonika 4:9-12)
Ketika kita melakukan pekerjaan baik, Allah dimuliakan. Abraham Kuyper menjelaskan, "Di mana pun manusia berada, apa pun yang ia lakukan, untuk apa pun ia menggunakan tangannya dalam pertanian, perdagangan, industri, atau memakai pikirannya dalam dunia seni atau sains, ia bagaimanapun selalu berdiri di hadapan wajah Allahnya, ia dipekerjakan untuk melayani Allahnya, ia harus tekun menaati Allahnya, dan di atas segalanya, ia harus bertujuan untuk memuliakan Allahnya."[3]
Melakukan pekerjaan baik dengan hati seorang hamba dan “seperti melakukan untuk Tuhan” membawa kemuliaan bagi Allah dan sangat membantu kita untuk memiliki hak untuk didengar. Sebaliknya, kita merusak kesaksian kita jika kita melalaikan tanggung jawab kita, bekerja asal-asalan, atau bekerja hanya untuk kepentingan diri sendiri saja.
Intinya: Di tempat kerja, orang menilai kita pertama-tama dari pekerjaan kita, bukan teologi kita. Jika kita ingin orang lain memerhatikan iman kita, kita harus memerhatikan pekerjaan kita.
Memberitakan Injil melalui Karakter
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKarakter adalah prasyarat kedua untuk memiliki pengaruh rohani. Setiap manusia diciptakan segambar dengan Allah dan secara naluriah menghormati sifat-sifat karakter Allah yang menciptakan kita – dan ini berlaku juga pada orang-orang yang tidak mengenal Allah. Manusia secara universal menghargai Buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak para pemuka agama tertarik pada Yesus karena Dia menunjukkan karakteristik-karakteristik ini. Saat ini, karakter seperti-Kristus masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat.
Orang-orang non-Kristen memerhatikan sukacita kita saat kita bekerja, damai sejahtera kita di tengah kekecewaan, serta keramahan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, hal-hal seperti ini terlalu sering kurang tampak pada orang-orang di antara kita yang seharusnya menunjukkan karakter Kristus kepada dunia. Pada tahun 2013, Grup Barna meneliti tentang kemunafikan di antara orang Kristen. Di antara orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Kristen, penelitian yang didasarkan pada sejumlah sikap dan tindakan yang dipilih-sendiri ini menemukan bahwa 51 persen menggambarkan dirinya lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, suka menghakimi) dibandingkan dengan 14 persen saja yang meneladani sikap dan tindakan Yesus (tidak mementingkan diri sendiri, empati, kasih).[1] C.S. Lewis menjelaskan hal ini:
“Ketika orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat Kekristenan tak dapat dipercaya oleh dunia luar… Hidup kita yang ceroboh memengaruhi pembicaraan dunia luar, dan kita memberi mereka alasan untuk berbicara dengan cara yang menimbulkan keraguan tentang kebenaran Kekristenan.[2]
Jika perkataan kita hendak berarti bagi orang lain, perkataan itu harus keluar dari hidup yang berintegritas, jika tidak, perbuatan kita akan dicemari perkataan yang bernada kebohongan. Integritas bisa sangat menantang di tempat kerja. Tekanan untuk menanggalkan nilai-nilai alkitabiah dan mengikuti cara hidup yang berbeda pada hari Senin dapat mengalahkan komitmen-komitmen tipis yang dibuat di gereja pada hari Minggu. Kristus memanggil kita untuk menghidupi nilai-nilai Kekristenan kita sama utuhnya di tempat kerja maupun di tempat lain, sekalipun harus dengan pengorbanan. Ketika orang melihat bahwa kita tidak sekadar pencitraan, tetapi berusaha dengan rendah hati untuk hidup berintegritas, mereka akan memerhatikan.
Orang juga akan memerhatikan, bukan ketika kita gagal – yang pasti akan kita alami – tetapi ketika kita gagal dan mengakui bahwa kita tidak mampu mengatasinya. Barangkali yang lebih penting daripada melakukan segala sesuatu dengan benar adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan dan meminta maaf kepada orang-orang yang kita lukai. Salah satu unsur karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita tidak sempurna. Jerram Barrs mengingatkan kita tentang dampak kerendahan hati kita pada orang lain,
Sebagai orang Kristen, kita sering berperilaku seakan-akan kita memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen, dan tidak ada yang diterima. Kita bayangkan bahwa mengakui kelemahan atau kebutuhan kita akan merendahkan martabat kita. Orang Kristen dipandang “memiliki segalanya” dan kita takut bahwa membiarkan orang tidak percaya melihat yang tidak kita miliki, akan menghilangkan kepercayaan mereka terhadap kita, dan terhadap Injil. Tetapi ini adalah kebodohan, karena kebenarannya kita selalu lemah dan memiliki kekurangan, dan Injil tidak dilayani dengan berpura-pura sebaliknya. Mengakui, seperti Yesus, bahwa kita membutuhkan kebaikan, karunia, hikmat, atau nasihat dari orang tidak percaya adalah hal yang akan membesarkan hati dan memuliakan orang-orang yang mungkin sudah berpikir hanya akan mendapat cemoohan atau sikap merendahkan dari kita.[3]
Intinya: Melakukan pekerjaan baik saja tidak cukup, harus ada yang menarik dari karakter kita. Dan terkhusus, kemampuan untuk mengakui kesalahan dan kegagalan akan tampak sangat mencolok di mata budaya sekitar kita. Orang perlu mencium keharuman aroma kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang tampak paling jelas melalui karakter rendah hati yang Dia hasilkan di dalam kita.
