Bootstrap

Penginjilan – Memberitakan Injil di Tempat Kerja (Tinjauan Umum)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Evangelism share faith at work

Pemikiran bahwa setiap orang Kristen dipanggil untuk memberitakan Injil menggelisahkan banyak orang Kristen, karena kebanyakan dari kita merasa tidak berbakat untuk menjadi penginjil. Meskipun menjadi bagian dalam perjalanan iman seseorang itu menggetarkan, namun memulai percakapan rohani dengan rekan-rekan di tempat kerja dapat menimbulkan kecemasan besar.

Mungkin hal ini sedang Anda alami – dengan banyak alasan yang dapat dimengerti. Anda mungkin merasa tidak siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan rekan-rekan kerja pada Anda. Anda mungkin merasa memulai percakapan rohani di tempat kerja itu tidak cocok – atau begitulah yang Anda ketahui. Anda mungkin merasa agak terintimidasi dengan sikap-sikap bermusuhan terhadap Kekristenan yang ditunjukkan beberapa rekan kerja. Anda mungkin berpikir membagikan iman Anda bisa menimbulkan konflik dan membangkitkan perasaan negatif pada rekan-rekan kerja. Anda mungkin merasa tidak mampu karena—ehm, Anda tahu iman Anda sendiri belum patut dicontoh di tempat kerja.

Definisi Penginjilan Yang Dapat Dilaksanakan

Penginjilan adalah

proses organis terlibat secara intensional

pribadi-pribadi dalam perjalanan rohani mereka

bergabung dengan Roh Kudus

memerhatikan di mana Dia sudah bekerja

menolong pribadi-pribadi mengambil satu langkah lebih dekat kepada Allah

dan hidup baru dalam Kristus

menjadi cerminan unik dari gambar Kristus

sebagai orang-orang yang dibangkitkan, dimuliakan sesuai rencana Allah

Keberhasilan dalam penginjilan terus-menerus mengambil inisiatif, memakai karunia-karunia dan kesempatan-kesempatan yang diberikan Allah pada kita untuk menolong orang-orang mengambil satu langkah lebih dekat kepada Kristus.

Tetapi bagaimana jika Anda tahu bahwa menjadi bagian dari perjalanan iman seseorang kepada Kristus dapat dimulai dengan hal-hal sederhana seperti minum kopi bersama seorang teman, menghibur orang yang mengalami minggu yang kacau di tempat kerja, atau menawarkan bantuan kepada pimpinan atau rekan kerja yang sedang tertekan? Bagaimana jika kita sungguh-sungguh memercayai perkataan Yesus tentang mengabarkan Injil kepada orang lain?

  • Bagaimana jika kita percaya bahwa Yesus memberi kita kuasa untuk bertindak atas nama-Nya dalam memenuhi panggilan kita sebagai saksi-saksi-Nya di tempat kerja, bahwa “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi.” (Matius 28:18)?

  • Bagaimana jika janji-Nya benar bahwa “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yohanes 14:26)?

  • Bagaimana jika kita yakin dengan kehadiran Kristus—bahwa Dia menyertai kita senantiasa di segala tempat, dan dalam setiap situasi (Matius 28:20)?

  • Bagaimana jika dalam interaksi-interaksi singkat dan bincang-bincang informal tentang iman kita, kita tahu Roh Kudus bekerja di hati dan pikiran orang untuk “menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yohanes 16:8)?

  • Bagaimana jika kita tahu bahwa kita tidak harus sempurna dan selalu mengatakan hal yang tepat – bahwa Allahlah yang bekerja untuk menarik orang kepada diri-Nya dan “tidak ada seorang pun yang datang kepada-Ku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa” (Yohanes 6:44)?

  • Bagaimana jika kita mengerti bahwa dengan melakukan tugas kita dengan baik di tempat kerja, kita bisa menjadi terang bagi rekan-rekan kerja “supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Matius 5:16)?

Inilah yang dipercayai orang Kristen mula-mula dan cara mereka melihat peran mereka dalam memenuhi Amanat Agung untuk menjadikan murid di segala suku bangsa—yang mengubah dunia. Inilah kisah sukses komunikasi terbesar dalam sejarah manusia—bagaimana Injil tersebar sampai ke wilayah Mediterania dan akhirnya ke seluruh ujung bumi. Sesaat menjelang kenaikan-Nya ke surga, Yesus menjelaskan rencana strategis-Nya untuk menjangkau seluruh dunia dengan Injil Kerajaan Allah kepada para pengikut-Nya. Yesus mendekati mereka dan berkata “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Matius 28:18-20). “Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). Murid-murid abad pertama menerima tugas ini, dan pengikut Yesus berkembang dari beberapa ratus sebelum hari Pentakosta menjadi lebih dari enam juta jiwa pada akhir abad ketiga [1]—pertumbuhan yang luar biasa pesat menurut perhitungan siapa pun.

Tugas Memberitakan Injil

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kita mungkin tergoda untuk percaya bahwa pertumbuhan eksponensial gereja mula-mula adalah hasil dari kotbah-kotbah dahsyat Petrus, Paulus dan beberapa pembicara berbakat lainnya yang pekerjaannya memberitakan Injil. Atau kita mungkin memuji strategi Paulus yang menargetkan pusat-pusat budaya penting dan menanam gereja-gereja yang dapat menyebarkan Injil ke seluruh daerah pedalaman di sekitarnya. Upaya-upaya ini memang patut diperhatikan – bagaimanapun semuanya tertulis di Alkitab [1] —tetapi yang jauh lebih penting adalah fakta bahwa orang Kristen mula-mula dari setiap etnis, gender dan lapisan masyarakat sangat bergairah untuk memperluas Kerajaan Kristus. Mereka berkomitmen untuk “bertindak sebagai duta-duta besar Kristus kepada dunia yang memberontak, apa pun konsekuensinya.”[2]

Orang Yang Pergi ke Gereja Percaya tentang Hal Membagikan Iman, tetapi Kebanyakan Tak Pernah Melakukannya

Studi yang diadakan LifeWay Research menemukan bahwa 80 persen dari orang yang pergi ke gereja sebulan sekali atau lebih, percaya bahwa mereka punya tanggung jawab pribadi untuk membagikan iman mereka, tetapi sebagian besar tidak pernah melakukannya.

Sejarah dan Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Injil tersebar dengan sangat cepat di sepanjang rute-rute perdagangan, tempat-tempat umum, dan dari rumah ke rumah – atau dalam bahasa Yunaninya, dari oikos ke oikos. Oikos adalah unit sosial dan ekonomi dasar di dunia Yunani-Romawi —bukan hanya sebagai rumah tempat tinggal keluarga, tetapi sebagai tempat bisnis rumahtangga kecil di zaman kuno yang meliputi para anggota keluarga besar, karyawan, dan pelanggan yang sering datang ke tempat itu.

Melalui percakapan-percakapan informal di dalam dan di antara oikos-oikos inilah orang-orang percaya, laki-laki dan perempuan, memberitakan Injil kepada teman, kerabat, rekan kerja, kolega, pelanggan, murid, guru dan sesama prajurit – melalui jaringan relasi di tempat kerja mereka. Mereka bukan rohaniwan profesional, tetapi pekabar Injil informal.

Sejak di Kisah Para Rasul 8 kita sudah mendapati bahwa orang-orang yang terusir dari Yerusalem sebagai akibat penganiayaan sesudah Stefanus mati dibunuh sebagai martir bukanlah para rasul tetapi para misionaris “amatir” yang membawa Injil bersama mereka ke mana pun mereka pergi…. Penginjilan mereka tentu bukan mengajar secara formal, tetapi melalui percakapan informal dengan teman dan kenalan yang dijumpai secara tak terduga, di rumah-rumah dan kedai minuman, di jalan-jalan dan pasar-pasar. Mereka pergi ke mana saja sambil membicarakan Injil; mereka melakukannya secara alami, dengan antusias dan dengan keyakinan mereka yang tidak dibayar untuk mengatakan hal-hal itu.[3]

Sebagai akibatnya, tempat kerja menjadi medan paling strategis dalam pekabaran Injil gereja mula-mula. Saat ini, gereja Yesus Kristus juga sedang mengalami pertumbuhan eksponensial yang sama di Dunia Selatan – yang menimbulkan pertanyaan: Dengan adanya lebih dari 340.000 gereja [4] dan lebih dari 600.000 rohaniwan [5] serta 75 persen orang Amerika yang “mencari cara-cara untuk hidup lebih bermakna,” [6] mengapa populasi Kristen di Barat menyusut, sementara populasi non-religius meningkat? [7]

Dengan semakin jauhnya budaya Barat dari Kristus, kita bisa berasumsi bahwa menjangkau orang dengan Injil menjadi makin sulit. Dalam satu hal, ini benar. Memang makin sulit untuk mengajak orang pergi ke gereja, mendengarkan pemaparan Injil dari orang asing, atau menghadiri kebaktian kebangunan rohani. Tetapi pintu Injil tetap terbuka lebar melalui relasi-relasi pribadi. Sesungguhnya, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa 90 persen anggota jemaat yang datang pada Kristus ketika mereka dewasa, menjadi percaya karena relasi mereka dengan satu atau lebih orang Kristen di luar gereja.[8] Inilah yang membuat tempat kerja sangat strategis. Di situlah sesungguhnya pekerjaan yang kita lakukan setiap hari tidak hanya berkontribusi bagi kemajuan umat manusia, tetapi juga memberi bukti nyata bahwa Injil benar-benar Kabar Baik.

Kita Dipanggil untuk Melayani Sebagai Duta Besar Kristus

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Orang Kristen di segala zaman dipanggil untuk menjadi duta-duta besar Kristus. Duta besar adalah utusan pribadi yang dikirim kepala negara. Sama seperti kepala negara mengutus duta besar dengan tugas diplomatik, Kristus mengutus kita dengan tugas merepresentasikan Dia dalam perkataan maupun perbuatan.

Jadi kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. (2 Korintus 5:20)

Tugas ini memiliki dua aspek—menyampaikan pesan-pesan dari penguasa tertinggi dan merepresentasikan penguasa tertinggi itu secara pribadi. Menyampaikan pesan memerlukan perkataan, tetapi merepresentasikan secara pribadi membutuhkan lebih dari sekadar perkataan. Diperlukan juga perbuatan, misalnya dengan menunjukkan karakter penguasa itu dan melakukan hal-hal yang dapat mencapai tujuan-tujuan penguasa itu. Sebagai duta besar Kristus, kita menyampaikan pesan Injil Kristus dan kita hidup dengan cara yang menyatakan kasih Allah kepada orang-orang yang kita jumpai di tempat kerja dan di mana pun kita berada.

Perkataan Yesus di Kisah Para Rasul 1:8 memperjelas gambaran tentang menjadi duta besar ini: “Kamu akan saksi-saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi.” Yesus mengutus para pengikut-Nya bukan untuk pergi menyaksikan, tetapi untuk menjadi saksi-saksi-Nya. Pergi menyaksikan mungkin artinya hanya menyampaikan perkataan-perkataan tentang Allah di suatu tempat yang jauh dari rumah, tetapi menjadi saksi berarti menjalani kehidupan yang menunjukkan kasih Allah di mana pun kita berada. Sesungguhnya, Alkitab tak pernah memerintahkan kita untuk pergi menyaksikan. Berfokus pada menyampaikan sebelum menunjukkan akan memisahkan siapa kita dari apa yang kita katakan—dan itulah yang menjadi masalah. Ahli sejarah gereja Michael Greene mengamati bahwa dampak gereja mula-mula pada dunia tergantung pada hubungan antara kehidupan pembawa pesan dengan pesan/perkataan mereka.

Sudah menjadi aksioma (pernyataan yang dianggap benar tanpa perlu pembuktian-Pen) bahwa semua orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Kristus bukan hanya melalui kehidupan (life), tetapi juga dengan perkataan (lip). [1]
Hubungan antara keyakinan (iman) dan perilaku (perbuatan) terlihat jelas dalam literatur Kristen. Keduanya tak dapat dipisahkan tanpa akibat-akibat yang buruk. Di antaranya, berakhirnya penginjilan yang efektif. [2]

Perhatikanlah urutan dalam perintah-perintah Paulus kepada jemaat Kolose, bagaimana perbuatan mendahului percakapan rohani.

Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. (Kolose 4:5-6)

Ketika kita melayani orang lain dengan perbuatan kita, kita membawa kasih Yesus kepada mereka. Penginjilan bukan hanya tentang membawa orang kepada Yesus, tetapi juga membawa Yesus kepada mereka – untuk menunjukkan dan kemudian menyampaikan. Membawa Yesus kepada orang lain —melayani mereka —adalah kunci strategi Paulus dalam membawa orang kepada Yesus. Di dalam 1 Korintus 9:19 ia berkata, “Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba bagi semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.” Paulus bersedia menjangkau orang lain di mana pun mereka merasa nyaman, entah itu dalam arti tempat, bahasa atau sejarah, dan bukan membuat mereka yang harus menyesuaikan diri dengannya.[3]

Empat Cara Melayani Sebagai Duta Besar Kristus di Tempat Kerja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Seperti apakah menjadi duta besar Kristus di tempat kerja — melayani Kristus di tempat kerja dan merepresentasikan Dia di sana? Meskipun tidak ada dari kita yang dapat melakukan hal ini dengan sempurna, ada empat komponen yang bisa membuat kesaksian kita dapat dipercaya orang lain—kompetensi, karakter, kepedulian, dan percakapan yang bijak. Kami mendorong Anda untuk memikirkan bagaimana Allah dapat memakai elemen-elemen ini untuk menarik orang kepada diri-Nya. Hal-hal ini bukan formula, teknik, atau langkah-langkah untuk sukses, tetapi sebagai cara kita menunjukkan kepada rekan-rekan kerja dan kolega bahwa iman kita nyata. Ketika kami meninjau konsep-konsep ini untuk diri kami sendiri, kami sendiri terus-menerus menemukan aspek-aspek yang perlu kami tingkatkan. Tetapi tidak ada yang begitu gagal sampai membuat putus asa. Bahkan, ketika kami melakukan kesalahan dan dapat mengakui kekurangan-kekurangan kami dengan rendah hati, kesaksian kami menjadi lebih dapat dipercaya. Sekalipun ada kemungkinan untuk sempurna, orang tidak akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Kristen yang sempurna. Untuk mengidentifikasi diri sebagai saksi seperti kita, mereka perlu tahu bahwa kita pun membutuhkan kasih karunia.

Memberitakan Injil melalui Kompetensi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Tugas pertama duta besar Kristus di tempat kerja adalah melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya – karena kompetensi kita sangat memengaruhi kredibilitas kita. Kompetensi berarti melaksanakan pekerjaan kita sebaik-baiknya, mencurahkan segenap hati kita di dalamnya, memberikan produk dan layanan terbaik yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang logis.

Alkitab berbicara tentang pentingnya melakukan pekerjaan baik di sejumlah ayatnya. Sebagai contoh:

Pernahkah engkau melihat orang yang mahir dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri. (Amsal 22:29)
Apa pun yang dapat dikerjakan dengan tanganmu, kerjakanlah dengan sekuat tenaga. (Pengkotbah 9:10)
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk TUHAN. (Kolose 3:23)

Kita tak perlu heran jika pekerjaan kita sangat terkait erat dengan kesaksian kita. Pikirkan hal berikut:

  • Allah itu Pekerja dan Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya yang seperti itu. Di dalam Kejadian 1 dan 2, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Pekerja – pencipta, perancang, pembangun, penguasa dan pengembang properti— dan sejak awal, bekerja sudah menjadi bagian dari rencana Allah untuk manusia - sebagai bagian integral yang menyatu dengan kehidupan manusia. Allah memerintahkan manusia pertama, nenek moyang kita, untuk mengusahakan dan merawat Taman Eden dengan rajin (Kejadian 2:15), untuk produktif dalam pekerjaan mereka membuat dunia berkembang sepenuhnya (Kejadian 1:28).

  • Kehidupan, masa depan dan identitas Adam berkaitan erat dengan bumi dan pekerjaannya di dalamnya. [1]

  • Kita mencerminkan gambar Allah melalui pekerjaan kita. Sebagai duta besar Kristus, kita punya tanggung jawab untuk menyatakan Kristus dalam konteks dinamika pekerjaan kita sendiri. Michael Williams menulis, “Kita ada untuk tujuan menggambarkan Allah, mencerminkan Dia kepada dunia, menirukan Dia dalam kehidupan orang-orang dan masyarakat sekitar kita.” [2]

  • Kualitas pekerjaan dan sikap kita dalam bekerja berbicara banyak kepada orang lain tentang kita – dan tentang Allah yang kita layani. Dapatkah Anda bayangkan Yesus memakai bahan yang kurang bermutu, menunjukkan kinerja tukang kayu yang buruk, atau meminta bayaran yang terlalu tinggi kepada pelanggan-Nya? Jika Dia bekerja seperti itu, para pelanggan yang mendengar Dia mengajar akan punya alasan untuk menyimpulkan bahwa teologi-Nya sama reyotnya dengan meja-meja-Nya.

  • Paulus berkata bahwa produk dan layanan yang kita berikan dalam memenuhi kebutuhan orang lain dan memengaruhi kemajuan hidup manusia merupakan hal penting dalam kita mengasihi sesama: "Tentang kasih persaudaraan, … kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, mengurus persoalan-persoalan sendiri, dan bekerja dengan tanganmu sendiri, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada siapa pun." (1 Tesalonika 4:9-12)

  • Ketika kita melakukan pekerjaan baik, Allah dimuliakan. Abraham Kuyper menjelaskan, "Di mana pun manusia berada, apa pun yang ia lakukan, untuk apa pun ia menggunakan tangannya dalam pertanian, perdagangan, industri, atau memakai pikirannya dalam dunia seni atau sains, ia bagaimanapun selalu berdiri di hadapan wajah Allahnya, ia dipekerjakan untuk melayani Allahnya, ia harus tekun menaati Allahnya, dan di atas segalanya, ia harus bertujuan untuk memuliakan Allahnya."[3]

  • Melakukan pekerjaan baik dengan hati seorang hamba dan “seperti melakukan untuk Tuhan” membawa kemuliaan bagi Allah dan sangat membantu kita untuk memiliki hak untuk didengar. Sebaliknya, kita merusak kesaksian kita jika kita melalaikan tanggung jawab kita, bekerja asal-asalan, atau bekerja hanya untuk kepentingan diri sendiri saja.

Intinya: Di tempat kerja, orang menilai kita pertama-tama dari pekerjaan kita, bukan teologi kita. Jika kita ingin orang lain memerhatikan iman kita, kita harus memerhatikan pekerjaan kita.

Memberitakan Injil melalui Karakter

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Karakter adalah prasyarat kedua untuk memiliki pengaruh rohani. Setiap manusia diciptakan segambar dengan Allah dan secara naluriah menghormati sifat-sifat karakter Allah yang menciptakan kita – dan ini berlaku juga pada orang-orang yang tidak mengenal Allah. Manusia secara universal menghargai Buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak para pemuka agama tertarik pada Yesus karena Dia menunjukkan karakteristik-karakteristik ini. Saat ini, karakter seperti-Kristus masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat.

Orang-orang non-Kristen memerhatikan sukacita kita saat kita bekerja, damai sejahtera kita di tengah kekecewaan, serta keramahan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, hal-hal seperti ini terlalu sering kurang tampak pada orang-orang di antara kita yang seharusnya menunjukkan karakter Kristus kepada dunia. Pada tahun 2013, Grup Barna meneliti tentang kemunafikan di antara orang Kristen. Di antara orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Kristen, penelitian yang didasarkan pada sejumlah sikap dan tindakan yang dipilih-sendiri ini menemukan bahwa 51 persen menggambarkan dirinya lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, suka menghakimi) dibandingkan dengan 14 persen saja yang meneladani sikap dan tindakan Yesus (tidak mementingkan diri sendiri, empati, kasih).[1] C.S. Lewis menjelaskan hal ini:

“Ketika orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat Kekristenan tak dapat dipercaya oleh dunia luar… Hidup kita yang ceroboh memengaruhi pembicaraan dunia luar, dan kita memberi mereka alasan untuk berbicara dengan cara yang menimbulkan keraguan tentang kebenaran Kekristenan.[2]

Jika perkataan kita hendak berarti bagi orang lain, perkataan itu harus keluar dari hidup yang berintegritas, jika tidak, perbuatan kita akan dicemari perkataan yang bernada kebohongan. Integritas bisa sangat menantang di tempat kerja. Tekanan untuk menanggalkan nilai-nilai alkitabiah dan mengikuti cara hidup yang berbeda pada hari Senin dapat mengalahkan komitmen-komitmen tipis yang dibuat di gereja pada hari Minggu. Kristus memanggil kita untuk menghidupi nilai-nilai Kekristenan kita sama utuhnya di tempat kerja maupun di tempat lain, sekalipun harus dengan pengorbanan. Ketika orang melihat bahwa kita tidak sekadar pencitraan, tetapi berusaha dengan rendah hati untuk hidup berintegritas, mereka akan memerhatikan.

Orang juga akan memerhatikan, bukan ketika kita gagal – yang pasti akan kita alami – tetapi ketika kita gagal dan mengakui bahwa kita tidak mampu mengatasinya. Barangkali yang lebih penting daripada melakukan segala sesuatu dengan benar adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan dan meminta maaf kepada orang-orang yang kita lukai. Salah satu unsur karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita tidak sempurna. Jerram Barrs mengingatkan kita tentang dampak kerendahan hati kita pada orang lain,

Sebagai orang Kristen, kita sering berperilaku seakan-akan kita memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen, dan tidak ada yang diterima. Kita bayangkan bahwa mengakui kelemahan atau kebutuhan kita akan merendahkan martabat kita. Orang Kristen dipandang “memiliki segalanya” dan kita takut bahwa membiarkan orang tidak percaya melihat yang tidak kita miliki, akan menghilangkan kepercayaan mereka terhadap kita, dan terhadap Injil. Tetapi ini adalah kebodohan, karena kebenarannya kita selalu lemah dan memiliki kekurangan, dan Injil tidak dilayani dengan berpura-pura sebaliknya. Mengakui, seperti Yesus, bahwa kita membutuhkan kebaikan, karunia, hikmat, atau nasihat dari orang tidak percaya adalah hal yang akan membesarkan hati dan memuliakan orang-orang yang mungkin sudah berpikir hanya akan mendapat cemoohan atau sikap merendahkan dari kita.[3]

Intinya: Melakukan pekerjaan baik saja tidak cukup, harus ada yang menarik dari karakter kita. Dan terkhusus, kemampuan untuk mengakui kesalahan dan kegagalan akan tampak sangat mencolok di mata budaya sekitar kita. Orang perlu mencium keharuman aroma kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang tampak paling jelas melalui karakter rendah hati yang Dia hasilkan di dalam kita.

Memberitakan Injil dengan Menunjukkan Kepedulian

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Ketika kompetensi dan karakter bergabung, keduanya membangun kepercayaan yang memberi kredibilitas pada perkataan kita. Jika digabungkan lagi dengan kepedulian yang tulus pada orang lain, kesaksian kita menjadi sangat efektif. Memang benar, orang tidak peduli seberapa banyak yang Anda tahu sampai mereka tahu seberapa banyak Anda peduli.

Menunjukkan kepedulian kepada orang lain bukanlah opsi bagi para pengikut Kristus, tetapi hal yang biasa dilakukan orang Kristen—buah alami dari relasi kita dengan Allah yang murah hati [1]. Kata-kata ramah dan tindakan murah hati yang memengaruhi orang lain muncul dari dalam/hati, bukan karena kewajiban atau sekadar menunaikan tugas agama. Ketika orang melihat kepedulian kita yang tulus, mereka melihat Yesus hidup di dalam kita.

Kita menunjukkan kepedulian dengan perkataan kita. Apa yang kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya berbicara keras tentang siapa kita, apa yang memotivasi kita, dan seberapa besar kita peduli pada orang lain. Rasul Paulus tidak memberi banyak ruang pada kata-kata yang sembrono:

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh anugerah (Efesus 4:29)

Renungkanlah hikmat tentang berkata-kata dari kitab Amsal berikut ini:

Jawaban yang lemah-lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan kemarahan. (Amsal 15:1)
Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang. (Amsal 25:15)
Bibir orang benar mengetahui hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik tipu muslihat. (Amsal 10:32)
Siapa memberi jawaban yang benar, mengecup bibir. (Amsal 24:26)
Bagaikan apel emas di pinggan perak, demikianlah perkataan yang diucapkan pada waktu yang tepat. (Amsal 25:11)
Dan ketika kita harus memberi nasihat, kita harus mengatakan “kebenaran di dalam kasih” (Efesus 4:15).

Kita menunjukkan kepedulian dengan mendengarkan perkataan orang lain. Kesediaan kita untuk mendengar dan menerima masukan dari orang lain memberi pesan kuat yang berkata, “Aku memerhatikan yang kamu pikirkan; kamu punya sesuatu yang berharga untuk dikontribusikan.” Ketika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mendengarkan dengan penuh perhatian dan rendah hati, kita mengundang kepercayaan dan kerja sama di tempat kerja maupun dalam relasi-relasi pribadi.

Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah. (Yakobus 1:19)

Kita mendengarkan bukan hanya karena itu kepemimpinan yang baik atau menunjukkan hal yang baik tentang kita, tetapi karena orang yang berbicara itu adalah individu yang diciptakan segambar dengan Allah dan patut kita hormati sekalipun gambar itu sudah rusak.

Kita menunjukkan kepedulian dengan perbuatan kita. Berbicara dan mendengarkan dengan ramah harus disertai perilaku yang sesuai. Cara kita menanggapi orang lain di tengah stres dan sukses kehidupan sehari-hari akan menunjukkan apakah kita lebih peduli pada orang lain atau diri kita sendiri. Di dalam kitab-kitab Injil, Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya bahwa kepemimpinan rohani bukanlah tentang melakukan hal-hal besar, tetapi tentang menjadi pelayan.

Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu, siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba bagi semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:42-45)

Tindakan-tindakan kebaikan kecil dapat menerangi ruang gelap atau tempat kerja yang gelap.

Janganlah tiap-tiap orang hanya memerhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:4)
Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia. (Filipi 2:14-15)

Mengingat persepsi negatif yang dimiliki banyak orang tentang orang Kristen, Kekristenan tampaknya tidak seperti iman yang dapat dipahami, apalagi bermanfaat, bagi banyak orang, kecuali jika kita menunjukkannya secara berbeda kepada mereka melalui kompetensi, karakter dan kepedulian kita.

Membangun relasi dengan orang-orang yang bekerja di sekitar kita tidak boleh menjadi strategi untuk memanipulasi mereka dalam percakapan iman, melainkan sebagai cara kita yang tulus untuk semakin mengasihi mereka lebih dalam dan mengetahui bagaimana kita dapat melayani mereka.

Intinya: Kompetensi, karakter dan kepedulian secara bersama-sama menimbulkan apologetika Injil yang kuat, yang dengan sentuhan Roh Kudus dapat membuka pintu kepada percakapan-percakapan tentang Injil.

Memberitakan Injil melalui Percakapan Yang Bijak

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Secara umum, orang perlu memercayai pembawa pesan sebelum mereka memercayai pesannya. Tetapi jangan salah – kita memiliki pesan yang harus disampaikan. Namun kita harus menyampaikannya dengan bijak. Tak seorang pun datang pada Kristus hanya karena melihat orang Kristen— dan dalam hampir semua kasus, harus ada orang yang menceritakan tentang Kristus kepada mereka. Ini tentu saja tidak berarti kita harus berbicara tentang Yesus setiap waktu. Tetapi ini berarti kita tidak boleh menyembunyikan iman kita dan harus siap berbicara setiap kali kita melihat ada orang yang terbuka untuk lebih memahami.

Mustahil sungguh-sungguh membaca Alkitab tetapi mengabaikan kewajiban untuk membuat Kristus dikenal. Dalam Kotbah di Bukit, Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk menjadi terang dunia—hal yang bukan untuk disembunyikan.

Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. (Matius 5:14-16)
Berbicara tentang Iman Itu Tepat . . .
  • ketika kesempatan muncul dari persahabatan yang terjalin dan dibangun di sekitar pekerjaan Anda. Saat Anda membicarakan pekerjaan dan kehidupan dengan rekan-rekan kerja Anda, percakapan informal tentang kebenaran rohani akan muncul dengan sendirinya, seperti topik-topik pribadi penting yang muncul dalam percakapan Anda.

  • ketika hal itu sangat pas/cocok dengan percakapan. Jangan dengan sengaja mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik rohani yang tak ada hubungannya dengan percakapan. Tetapi, di tengah percakapan tentang persoalan bisnis, misalnya, menceritakan secara singkat bagaimana iman Anda memengaruhi keputusan-keputusan Anda mungkin tepat.

  • ketika rekan kerja nyaman dengan pembicaraan itu. Tetaplah melihat situasi dan alihkan topik pembicaraan jika Anda merasakan ketidaknyamanan.

  • ketika Anda ditanya. Pertanyaan membuka kesempatan untuk menyampaikan topik-topik rohani. Anda tidak harus menjadi pakar Alkitab untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Tunjukkan saja ketertarikan Anda sendiri untuk mempelajari topik itu dan jelaskan dengan sederhana dan rendah hati yang sudah Anda temukan dalam hidup Anda sampai saat ini. Bangkitkan rasa ingin tahu untuk menciptakan lingkungan yang aman untuk pertanyaan-pertanyaan lainnya di waktu mendatang.

  • ketika tidak mengambil waktu yang Anda atau rekan kerja Anda dibayar untuk bekerja. Carilah waktu di saat-saat istirahat, makan siang atau sepulang kerja untuk percakapan yang lebih panjang.

(Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal. 68)

Sebagian orang Kristen memakai perkataan yang dilaporkan dari St. Francis (“Beritakanlah Injil setiap waktu, dan jika perlu, pergunakanlah kata-kata”) sebagai alasan untuk tidak membicarakan iman mereka dengan orang-orang yang perlu mendengar Injil. Mereka percaya bahwa mereka memenuhi panggilan Kristus untuk menjadi saksi-Nya hanya dengan cara hidup mereka – tanpa perlu menjelaskan mengapa mereka hidup dengan cara seperti itu. Orang yang berkata dengan naif, “Aku tidak berbicara; Aku hanya membiarkan hidupku yang berbicara,” mungkin tidak menyadari betapa egoisnya pernyataan itu. Siapakah di antara kita yang menjalani kehidupan dengan sedemikian baik sampai perbuatan kita adalah satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk bersaksi atas kebaikan Yesus? [1]

Perilaku yang menghormati dan mencerminkan Kristus memang merupakan hal yang sangat penting dalam menjadi saksi. Tetapi menjadi saksi juga memerlukan perkataan.

Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan. Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggung jawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang baik supaya mereka yang memfitnah kamu karena perilakumu yang baik dalam Kristus menjadi malu karena fitnah mereka itu. (1 Petrus 3:15-16)

Hal yang sering dilupakan dari perintah Petrus ini adalah bahwa berbuat baik kepada orang lain itu akan membangun relasi yang membuat orang ingin bertanya “Mengapa?” Mengapa Anda hidup dengan cara yang Anda lakukan? Kita memberi penjelasan kepada orang-orang yang telah melihat perilaku kita yang saleh, mengenali pengharapan kita dan bertanya tentang iman kita.

Meskipun Petrus mendorong saksi-saksi yang enggan untuk berbicara, ia juga memberikan batasan-batasan bagi orang Kristen yang terlalu bersemangat mencari kesempatan untuk mengabarkan Injil—entah pendengarnya siap atau tidak. Meskipun sebagian orang datang pada Kristus tanpa melalui relasi – dan dalam kasus yang jarang tanpa seorang saksi – memaksakan percakapan rohani pada orang lain biasanya akan lebih menimbulkan panas daripada terang. Percakapan iman yang bijak bukan tentang membuat seseorang memanjatkan doa keselamatan, tetapi tentang memancarkan realitas anugerah Allah pada kita dalam Kristus dan menjelaskan realitas itu pada orang yang ingin tahu.

Seperti apakah percakapan yang bijak itu? Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Percakapan yang bijak memerhatikan kondisi hati pendengar. Di Matius 13, Yesus menggambarkan hati manusia seperti lahan yang kasar untuk ditanami Injil. Rumput liar, bebatuan, dan tanah yang keras menggagalkan penanaman benih Kebenaran. Kita para penabur Injil perlu mengambil waktu untuk memikirkan daya penerimaan pendengar kita.

Kebanyakan orang dewasa yang belum percaya memiliki hambatan signifikan dalam menerima Injil, hal-hal yang mengeraskan hati mereka dan telah melatih mereka untuk menjaga jarak dari kebenaran rohani. Selain isu-isu intelektual yang dimiliki banyak orang terhadap Kekristenan, masalah yang lebih mendasar dan sering dilupakan adalah hambatan emosional – sikap acuh tak acuh, tidak percaya, bermusuhan atau ketakutan terhadap orang Kristen atau Kekristenan – sikap-sikap negatif yang merintangi terjadinya percakapan rohani.

Terkadang, hambatan emosional itu disebabkan oleh pengalaman negatif mereka saat bersama kelompok religius atau orang Kristen yang berpikiran sempit, suka menghakimi atau fanatik. Bahkan orang Kristen yang bermaksud baik yang terlalu agresif dapat memicu rasa tidak percaya atau kemarahan, dan tanpa disengaja menciptakan lebih banyak hambatan. Tetapi kemunafikan secara umum bisa memalingkan lebih banyak hati dari Yesus daripada hal lainnya. Anggota keluarga, tetangga, guru yang munafik bisa mengeraskan tanah hati.

Orang Kristen yang bijak akan memikirkan dulu hambatan-hambatan ini sebelum upaya mereka memaparkan Injil ditolak mentah-mentah. Namun ketika orang melihat kompetensi, karakter dan kepedulian kita, Roh Kudus akan membuka pintu bagi kita untuk menjelaskan tentang pengharapan kita kepada orang-orang yang sebetulnya enggan berbicara tentang kebenaran rohani.

Apakah Injil itu?

Injil adalah Kabar Baik tentang Allah yang menjangkau kita dengan kepenuhan kasih-Nya melalui Yesus. Biasanya, orang paling tertarik mendengar bagaimana Anda mengalami kebaikan kasih Allah. Ceritakan saja perbedaan mengikut Yesus yang sudah terjadi dalam kehidupan Anda, maka Anda sudah memberitakan Injil. Meskipun, terkadang orang juga bertanya tentang apa itu Injil dalam arti yang lebih teologis, bukan hanya secara subyektif dalam hidup Anda, tetapi sebagai definisi yang obyektif. Banyak penjelasan tentang Injil bisa ditemukan di buku-buku, kotbah-kotbah atau internet, yang bisa membantu untuk Anda pikirkan. Definisi paling langsung terdapat di Alkitab sendiri:

Allah menunjukkan kasih-Nya yang besar pada kita dengan mengutus Kristus untuk mati bagi kita ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8). Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci. Dia telah dikuburkan dan telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci. (1 Korintus 15:3-4). Karena anugerah Allah yang menyelamatkan semua orang telah nyata. Dia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia yang sekarang ini, dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh berkat dan penampakan kemuliaan Allah yang mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. (Titus 2:11-14). Sebab di dalam Kristus Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka dan Dia telah memercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepada kamu: berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah. (2 Korintus 5:19-20).

Percakapan yang bijak mengikuti ke mana Roh Kudus sudah bekerja. Penting untuk kita mengenali apa yang sedang dikerjakan Roh Kudus dan mengikuti-Nya, daripada berusaha sendiri membuat sesuatu terjadi menurut waktu kita. Betapa pun meyakinkan atau kuatnya argumen-argumen kita, kita tidak dapat membangkitkan orang yang mati secara rohani. Membuka hati adalah pekerjaan Allah. Dan Dia melakukannya pada waktu-Nya, bukan waktu kita – yang kadang mengherankan kita. Hanya karena seseorang tidak tertarik pada percakapan rohani saat ini tidak berarti Roh Kudus tidak dapat melembutkan hati yang sangat keras itu dengan berjalannya waktu.

Antagonisme atau sikap bermusuhan terhadap Allah bukan cuma persoalan masa kini. Di sepanjang sejarah, umat Allah telah membawa kebenaran-Nya ke kota-kota, bangsa-bangsa dan tempat-tempat kerja yang bersikap bermusuhan. Tetapi Injil tak pernah dikalahkan oleh permusuhan. Allah lebih dahsyat dari segala strategi yang dipakai Si Jahat untuk menghentikan Injil. Tak ada pandangan dunia, tren budaya, atau lingkungan kerja yang terlalu bermusuhan – dan tak ada orang yang terlalu tak punya harapan – untuk dijangkau kuasa Roh Kudus yang sangat cukup.

Dan betapa pun kita sangat bersemangat mengharapkan seseorang datang pada Kristus, ingatlah perkataan Kristus sendiri ini. “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku …” (Yohanes 6:44).

Tugas kita adalah menolong orang mengambil satu langkah lebih dekat kepada Kristus, dan menyerahkan hasil dan waktunya kepada Tuhan. Kita hanyalah satu mata rantai dari rangkaian yang dapat dipakai Roh Kudus pada waktu tertentu – dan rangkaian itu bisa jadi rantai yang panjang. Sungguh indah bisa menjadi mata rantai terakhir dalam rangkaian perjalanan iman seseorang. Tetapi jika kita mengenali yang sedang dikerjakan Roh Kudus dan bergabung, kita tak akan menjadi mata rantai yang hilang.

Percakapan yang bijak membangkitkan rasa ingin tahu. Ketika kita pergi bekerja esok hari sebagai duta besar Kristus, kita perlu mengenali orang-orang yang bekerja di sekitar kita. Apa saja minat mereka, kebutuhan-kebutuhan mereka, harapan-harapan dan impian-impian mereka? Apa yang dapat membuat mereka mendengar cukup lama untuk belajar tentang Allah yang sangat mengasihi mereka dan rindu mengaruniakan kepada mereka hidup yang berkelimpahan di bumi maupun dalam kekekalan di hadirat-Nya? Jika kita tidak mengambil waktu untuk mengenali rekan-rekan kerja kita, pintu-pintu bisa tertutup, tidak terbuka.

Percakapan yang bijak harus singkatsetidaknya di awal. Rasa ingin tahu tentang iman kita tidak muncul dengan sendirinya. Saat menjajaki ketertarikan rohani seseorang, percakapan iman yang panjang kemungkinan tidak cocok atau menimbulkan rasa ingin tahu. Meskipun rekan kita mungkin mendengarkan dengan sopan, tetapi dalam hati mereka mungkin berencana untuk lari dan melepaskan diri dari orang fanatik rohani ini. Karena itu, berusahalah untuk membuat orang ingin mengetahui lebih banyak lagi.

Memerhatikan “Kepentingan” Orang Lain

Ketika pesawat lepas landas, Bill terlibat percakapan yang sopan dengan seorang wanita yang duduk dekat jendela yang ternyata seorang artis. Wanita itu terdiam dan kembali membaca buku ketika ia mengetahui bahwa Bill seorang teolog. Bill memejamkan matanya dan mencoba untuk beristirahat. Ketika pesawat menembus awan dan mencapai ketinggian jelajah, desakan Roh Kudus mengusik tidur siangnya. Ia membuka mata dan melihat teman duduknya sedang memandangi matahari terbenam yang mempesona. “Indah, bukan?” Bill berkata sambil lalu. “Sungguh menakjubkan bagaimana Allah melukis karya seni yang baru setiap petang, dan tak pernah ada yang sama setiap harinya.” Responnya mengejutkan Bill. Selama beberapa saat berikutnya, wanita itu lebih banyak bercerita tentang kehidupannya. Mereka lalu berbincang tentang apa yang dikatakan Alkitab tentang kemampuan Allah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dalam situasi-situasi sulit yang dihadapinya.

(Dari Bill Peel dan Walt Larrimore, Workplace Grace, hal. 84-85)

Mengibarkan Bendera Iman

Bendera iman adalah pernyataan atau komentar singkat (tidak lebih dari dua kalimat) tentang Allah, Alkitab atau doa dalam percakapan alami yang menunjukkan kita memiliki dimensi rohani – sebuah potret tentang diri Anda. Bendera iman juga bisa berupa kata-kata penghargaan sederhana yang menunjukkan bagaimana Anda melihat gambar Allah terungkap dalam pekerjaan seseorang.

Bendera iman itu bisa terdengar seperti …

  • Ketika seseorang mengurai masalah yang rumit: “Aku sungguh gembira kamu ada di tim ini. Allah tentu telah mengaruniakan pikiran yang tajam kepadamu untuk menyelesaikan masalah-masalah.”

  • Ketika seseorang mengungkapkan kekhawatirannya tentang anak: “Aku akan menggantikan melakukan tugas-tugasmu setiap kali kamu perlu pergi meninggalkan pekerjaan untuk membawa anakmu ke dokter. Aku juga akan mendoakan anakmu jika kamu berkenan.”

  • Ketika seseorang memuji presentasi Anda: “Terima kasih atas dukunganmu. Andai saja kamu tahu betapa takutnya aku kemarin. Tuhan menenangkanku dan menolongku untuk fokus."

Pedoman: bendera iman itu …

  • Bagian yang wajar dari suatu percakapan.

  • Bersifat umum dan tidak mengatasnamakan gereja, denominasi, pendeta atau pemimpin rohani tertentu.

  • Bernada positif dan biasanya tidak memakai iman sebagai alasan untuk menghindari perilaku tertentu.

  • Memerhatikan, tetapi tidak mengharapkan, tanggapan.

  • Menghargai tanggapan negatif atau pun tidak ada tanggapan.

(Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal. 82-84)

Bahkan pertanyaan tentang hal-hal biasa seperti rencana kita di akhir pekan, bisa menjadi kesempatan untuk mengundang rasa ingin tahu. “Saya mengajar kelas Sekolah Minggu tentang pemulihan dan perceraian.” “Saya akan mengikuti retret kaum pria bersama gereja saya.” Membiarkan teman-teman kerja mengetahui yang kita lakukan bisa membuka peluang untuk menimbulkan rasa ingin tahu. Pilihan-pilihan dan aktivitas-aktivitas kita lebih berbicara banyak kepada mereka daripada cara penggunaan waktu kita. Semua itu menunjukkan hal-hal yang kita sukai. Mereka mungkin menjadi bingung dan bertanya-tanya, mengapa dari sekian banyaknya pilihan, kita memilih aktivitas-aktivitas Kristen—yang bagi mereka mungkin membosankan atau membuang-buang waktu saja. Ketika rasa ingin tahu itu memenuhi mereka, mereka akan bertanya, dan membuka kesempatan untuk kita memberi penjelasan singkat kepada mereka.

Mereka mungkin juga bertanya: Bagaimana Anda bisa memercayai Tuhan di tengah segala kesulitan yang Anda hadapi? Mengapa Anda begitu baik kepada orang yang sulit dikasihi? Mengapa Anda sedemikian berusaha keras untuk menolong orang lain berhasil? Bagaimana Anda dapat memercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga? Keingintahuan mereka yang terucap merupakan undangan untuk menyampaikan lebih banyak tentang berita Injil yang telah Anda alami di dalam Yesus.

Rasa ingin tahu juga bisa muncul karena adanya kesamaan dalam berelasi. Jerram Barrs, Kepala Institut Francis Schaeffer, menasihati para mahasiswanya agar mencari kesamaan dengan rekan-rekan kerjanya, dan mulai membicarakan iman berdasarkan kesamaan-kesamaan itu. Apakah mereka menyukai seni? Apakah mereka penggemar olahraga? Musik apa yang mereka sukai? Apa pun kegemaran mereka, ketika kita menemukan minat yang sama, dasar relasi terbentuk. Dari hampir setiap ketertarikan yang sama, sebagian cerita iman Anda bisa muncul.[2]

Dalam percakapan-percakapan yang lebih panjang, patut diingat juga bahwa orang menjadi tertarik pada Yesus karena kebutuhan atau aspirasi yang dirasakan secara pribadi. Sebagai makhluk rasional, kita memerlukan informasi, jawaban dan argumen yang rasional, tetapi bukan itu saja. Kita juga makhluk yang memiliki hasrat/kerinduan, yang merasakan jalan hidup kita dengan berusaha menemukan apa yang hilang, yang seringkali tanpa mengetahui apa yang kita cari.[3] Menolong orang lain melihat bahwa kerinduan-kerinduan terdalam mereka dapat dipenuhi di dalam Kristus, akan menimbulkan rasa ingin tahu yang sangat kuat tentang bagaimana Yesus memenuhi kerinduan itu.

Tim Keller merefleksikan pengalaman hidupnya saat berbicara tentang Yesus kepada orang-orang sekuler di New York. “Jika orang tidak mendapati percakapan kita tentang Kristus sangat menarik (dan mematahkan stereotip), mata mereka akan langsung berkabut ketika Anda mencoba berbicara dengan mereka.”[4] Percakapan Yesus dengan Nikodemus (Yohanes 3:1-21) dan dengan perempuan di tepi sumur (Yohanes 4:4-26) adalah contoh yang tepat. Yesus tidak hanya berbicara dengan konsep-konsep dan bahasa yang dapat mereka pahami, Dia juga menjalin percakapan itu dengan hal-hal yang menjawab permasalahan unik setiap orang—kerinduan-kerinduan mereka yang terdalam. Dengan berfokus pada ketertarikan individu, Dia membangkitkan rasa ingin tahu mereka. Kita dapat melihat betapa Dia berhasil dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagai tanggapan mereka.

Akhirnya, ketika orang dapat menghubungkan kuasa Injil dengan kerinduan terdalam mereka, mereka akan berkata, “Andai saja itu benar!” Ketika hal itu terjadi, kita melihat pintu terbuka untuk berita Injil.

Menghubungkan dengan Kebutuhan Orang Lain

Pikirkanlah percakapan-percakapan yang terjadi di tempat kerja Anda selama seminggu terakhir. Topik-topik keprihatinan, ketakutan, kecemasan, kekecewaan, kemarahan, kegembiraan, penghargaan, kedamaian dll apa saja yang diungkapkan? Apakah Anda pernah memiliki pengalaman yang sama ketika Allah begitu nyata bagi Anda, ketika Anda mendapat suatu pelajaran, ketika Anda mulai melihat sesuatu secara berbeda? Ambillah waktu untuk berlatih menceritakan atau menuliskan yang akan Anda katakan. Jagalah sikap positif dan hindari terdengar superior. Jangan katakan “Aku ingat ketika aku dulu percaya bahwa …”

Percakapan yang bijak (biasanya) positif. Ketika orang menjadi ingin tahu, mereka kemungkinan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Seringkali yang benar-benar ingin mereka ketahui justru yang tidak terucap dalam kata-kata mereka. Mereka mungkin takut bertanya karena mereka khawatir kita tidak berpikiran sama seperti mereka. Mereka mungkin juga sedang menguji kita untuk mengetahui, apakah kita akan mendekati mereka dengan cara yang memaksakan-Alkitab. Jika kita menjawab dengan cara yang menghakimi, mereka kemungkinan akan mundur dan menghindari kita bagaikan wabah penyakit. Namun jika mereka mendapatkan respons yang tidak menghakimi, jujur, tulus, mereka kemungkinan akan kembali untuk bertanya lebih lanjut, apalagi jika hidup dan tindakan kita menggemakan jawaban-jawaban yang kita berikan.

Injil adalah Kabar Baik tentang Yesus, yang bukan berarti Allah menghakimi kita, tetapi Dia mengasihi kita dan ingin mengampuni serta memulihkan kita. Kita tak perlu heran jika orang-orang tak percaya membuat pilihan yang buruk. Jika kita mengeritik secara agresif pilihan-pilihan dan gaya hidup mereka, kita dapat menciptakan penghalang. Ini bukan berarti kita mentolerir perilaku berdosa, melainkan karena kita ingat bahwa keinsafan adalah deskripsi tugas Roh Kudus, bukan kita.

Ketika Dia [Roh Kudus] datang, Dia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman: akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi krpada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yohanes 16:8-11)

Kita juga perlu mengingat respons Yesus terhadap orang berdosa. Dia tidak membawa penghakiman kepada orang-orang yang tidak religius. Dia menyimpan kecaman-kecaman-Nya untuk para pemuka agama, orang-orang Farisi dan para pemimpin Yahudi pada zaman itu. Terhadap orang-orang di luar lingkup aristokrasi religius ini, sikap-Nya lembut, rendah hati dan penuh belas kasih. Ingat kemurahan hati-Nya kepada perempuan yang kedapatan berzinah?

Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Ibu, di manakah mereka? Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?"Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi." (Yohanes 8:10-11)

Saat ini, banyak orang menjaga jarak dari Yesus karena mereka memiliki kesan buruk tentang Dia dari para pengikut-Nya. Mereka mungkin berpikir Dia membenci kaum homoseksual, tidak suka bersenang-senang, memihak pada pandangan politik yang mereka benci, menjauhi orang yang tidak sempurna, rasis, merendahkan wanita, atau hanya peduli pada yang akan terjadi setelah manusia mati. Sikap-sikap ini mungkin ada pada sebagian orang Kristen, tetapi bukan pada Yesus.

Keramahan kita yang tak diduga pada orang yang sensitif terhadap kritik dapat membuat mereka heran dan menjadi penasaran. Petrus memberikan nasihat penting kepada orang yang ingin membantu rekan-rekan kerjanya mengambil satu langkah lebih dekat kepada relasi dengan Kristus.

Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. (1 Petrus 3:8-9)

Setiap interaksi dengan setiap orang setiap hari sangat penting secara rohani, dan kita punya kesempatan untuk menjadi berkat bagi orang lain tidak hanya ketika kita dihina atau diperlakukan buruk, tetapi ketika kita terhubung dengan siapa saja yang diciptakan menurut gambar Allah. Senyum, kata-kata ramah, pujian atas pekerjaan yang diselesaikan dengan baik, dapat dipakai Roh Kudus untuk menarik orang selangkah lebih dekat kepada Yesus.

Percakapan yang bijak memanfaatkan kekuatan cerita. Tak ada yang ingin mendengar pidato basi tentang Yesus, tetapi kebanyakan orang menyukai cerita yang bagus. Dari Kejadian sampai Wahyu, Alkitab dipenuhi dengan cerita-cerita. Allah bisa saja memberi kita buku panduan dengan indeks untuk menjalani kehidupan di bumi. Tetapi Dia memberi kita Alkitab, firman yang diilhamkan-Nya, dan mengisinya dengan cerita-cerita, yang semuanya "bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (2 Timotius 3:16). Bahkan, seluruh Alkitab adalah satu cerita besar tentang penebusan.

Ketika Yesus ingin berbicara tentang kasih Bapa, Dia tidak sekadar menyajikan konsep; Dia menyampaikan cerita yang menarik perhatian—Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32). Ketika Dia ingin menolong murid-murid-Nya memahami tentang kerajaan Allah, Dia memakai cerita-cerita yang ditulis Matius di dalam kitab Injilnya.

Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah dan duduk di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Ia menyampaikan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur….(Matius 13:1-3)

Manusia, menurut Alasdair MacIntyre, adalah "makhluk yang bercerita" [5]. Pikirkanlah percakapan-percakapan yang Anda lakukan di tempat kerja akhir-akhir ini. Berapa banyak yang melibatkan cerita? Kemungkinan besar banyak. Dalam penginjilan, cerita seharusnya memenuhi percakapan rohani kita dengan orang tidak percaya. Cerita dapat membentuk informasi menjadi maksud dan membantu orang lain membayangkan siapa kita dan apa yang kita yakini. Bercerita menggambarkan kebenaran dengan cara yang otentik dan nyata. Cerita membuka peluang bagi orang tidak percaya untuk melihat sekilas tentang menjadi orang percaya, dan dapat memberi alasan untuk mereka memikirkan ulang pikiran-pikiran negatif yang mungkin mereka miliki tentang orang Kristen atau Kekristenan.

Bercerita mengandung kekuatan besar. Alih-alih memakai fakta-fakta untuk mengetuk pintu depan pikiran, yang seringkali dikunci dari dalam, cerita memungkinkan kebenaran masuk melalui pintu belakang hati. Cerita dapat menghasilkan pemahaman baru dan mengembangkan kedalaman dan keluasan persepsi dalam membantu kita dan orang tidak percaya memahami dunia.

Cerita adalah sarana yang sangat penting untuk orang Kristen menantang cara orang tidak percaya memandang dunia. Dengan menyampaikan cerita yang tepat, orang Kristen dapat membuat orang tidak percaya meletakkan senjatanya, lalu masuk dan mendengarkan dengan hati dan pikiran terbuka. Dengan demikian, cerita memberi kesempatan yang tiada bandingannya untuk menantang asumsi-asumsi dasar orang tidak percaya tentang kehidupan.[6]

Cara Menyampaikan Cerita Iman

Cerita Iman merupakan cara yang efektif untuk menyampaikan kebenaran rohani dalam bentuk yang menarik. Cerita itu menggambarkan secara singkat peristiwa tertentu saat kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan atau saat kita memahami suatu pelajaran rohani yang penting. Cerita iman membuat pendengarnya melihat bagaimana Tuhan bekerja, membuat perbedaan yang berarti dan bermanfaat dalam hidup kita.

Cerita Iman ...

• memberi gambaran sekilas tentang bagaimana menjadi anak Allah dan seperti apa iman yang

hidup dalam kehidupan nyata itu.

• sesuai dengan kebutuhan atau situasi dalam kehidupan pendengar dan dapat mendorong

timbulnya pertanyaan atau komentar.

• membantu menjelaskan mengapa ada yang berbeda pada kita.

Pedoman: Cerita Iman …

Sesuai dengan alur percakapan alami, berkaitan dengan topik yang sedang dibicarakan.

• Tidak boleh lebih dari dua menit.

• Menghindari perdebatan.

• Jangan menggambarkan diri kita sebagai orang baik, tetapi sebagai orang yang diampuni,

disembuhkan, atau ditolong Tuhan

• Menerima, tetapi tidak menuntut, tanggapan.

(Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal. 85-89)

Percakapan yang bijak dapat dipahami. Ketika kita berbicara dengan orang tidak percaya—atau siapa pun—kita ingin dipahami. Namun, jika kita berbicara tentang iman dengan jargon-jargon Kristen, kita menciptakan penghalang yang signifikan. Jargon adalah bahasa orang dalam yang hanya dipahami oleh orang-orang di dalam suatu kelompok—dalam hal ini orang Kristen lain. Berbicara dalam bahasa orang Kristen dapat membuat rekan kerja dan teman kita yang tidak percaya menjadi bingung dan malah menjauh.

Kita tidak dapat berasumsi orang lain memahami istilah-istilah Alkitab yang kaya makna bagi iman kita. Ketika berbicara dengan orang non-Kristen, kita harus menghindari istilah-istilah yang dapat membingungkan, disalahpahami, atau dianggap negatif. Batasi penggunaan bahasa orang dalam seminimal mungkin, lakukan jeda, tanyakan kepada pendengar apakah mereka bisa mengikuti, dan pastikan mereka memahami semua kata-kata teologisnya.

Percakapan yang bijak mengingat siapa yang kita ajak bicara. Salah satu alasan mengapa percakapan rohani itu menakutkan adalah karena kita berbicara dengan orang yang mati—mati rohani, maksudnya. Paulus menggambarkan kondisi mengerikan manusia yang terpisah dari Kristus di dalam kitab Efesus.

Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, kamu menaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang yang tidak taat. Sebenarnya dahulu kita semua juga termasuk di antara mereka, ketika kita hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kita. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. (Efesus 2:1-3)

Meskipun percakapan kita harus positif, Injil itu pada hakikatnya bersifat konfrontatif. Menurut Tim Keller,

Dalam setiap presentasi Injil, ada tantangan epistemologis. Orang diberi tahu bahwa pemahaman mereka tentang Allah dan realitas tertinggi: salah… Singkatnya, ada kebenaran tentang Allah (“Anda pikir Anda tahu siapa Allah, tetapi Anda tidak tahu”), kebenaran tentang dosa dan kebutuhan Anda akan keselamatan (“Anda berusaha menyelamatkan diri sendiri, tetapi Anda tidak bisa”), kebenaran tentang Yesus (“Dia adalah Raja Mesianis yang datang untuk menyelesaikan keselamatan bagi Anda”), serta panggilan untuk menanggapi kebenaran-kebenaran ini dengan bertobat dan percaya kepada-Nya.[7]

Jika kita takut orang tidak percaya akan memusuhi Kabar Baik Kristus, patut diingat bahwa kita sedang berbicara dengan orang-orang yang menjadi korban Musuh itu, bukan Musuh itu sendiri. Ya, mereka bisa memusuhi, tetapi kita juga dulu adalah musuh Allah ketika Dia datang mencari kita. Ya, mereka itu orang berdosa, tetapi kita juga. Ya, mereka mungkin tidak mengenal kebenaran, tetapi kita juga tidak bisa mengenal kebenaran dengan pikiran kita sendiri. Ya, mereka mungkin mendukung hal-hal yang dibenci Allah, tetapi kita juga demikian. Mereka mungkin tidak mengasihi Allah, tetapi Allah mengasihi mereka.

Dan yang terpenting, kita sedang berbicara dengan orang yang diciptakan menurut gambar Allah, tak peduli betapa terdistorsi, rusak, atau tak dapat dikenalinya lagi mereka. Fakta ini menuntut rasa hormat kita dan layak mendapatkan harkat yang seringkali tidak diakui di dunia yang telah jatuh dosa ini.

Penulis blog Katolik Jennifer Fitz mengingatkan kita tentang bagaimana hal ini harus memengaruhi penginjilan.

Penginjilan bukanlah tentang membuat orang lain melakukan yang Anda ingin mereka lakukan. Bukan tentang menciptakan teknik yang tepat untuk membuat momen yang tepat itu berlangsung dengan sangat baik.

Penginjilan adalah tentang melihat orang yang ada di depan Anda, tak peduli siapa orang itu, dan memandang takjub pada ciptaan Allah yang sangat indah yang telah dikaruniai martabat dan nilai yang tak dapat dihilangkan oleh apa pun, betapa pun dalamnya orang itu sedang berkubang dalam lumpur saat ini. Anda melihat orang itu, dan Anda tahu pasti: Inilah orang yang pantas menerima pengorbanan sampai mati.

Dan kemudian Anda berusaha selama beberapa menit untuk melakukan hal yang pantas di hadapan orang itu.[8]

Dengan Rendah Hati Menganggap Orang Lain Lebih Utama dari Diri Sendiri (Filipi 2:3)

Apa tanda gambar Allah yang Anda lihat pada seseorang?

Apa saja kesamaan Anda dengan orang-orang non-Kristen yang menjadi bagian kehidupan Anda?

Pengalaman?

Kegembiraan?

Penderitaan?

Persoalan?

Kapan Allah begitu nyata bagi Anda, mengajar Anda, menghibur Anda, menguatkan Anda dalam situasi-situasi ini?

Percakapan yang bijak dimulai dengan bercakap-cakap dengan Tuhan. Meskipun penyebaran Injil yang meluas dengan cepat pada abad pertama digerakkan oleh mobilisasi massa orang-orang Kristen biasa, penyebaran itu sesungguhnya diberdayakan oleh doa-doa yang tekun. Peran penting doa dalam penginjilan dicatat di sepanjang Kitab Kisah Para Rasul (Kisah Para Rasul 1:14; 1:24; 2:42; 2:47; 4:24,31; 8:15; 9:40; 10:9; 10:30-31; 12:5; 13:3; 14:23; 16:25; 20:36; 21:5; 26:29; 28:8).

Ketika kita bertemu rekan kerja dan kolega di tempat kerja yang kita harapkan menjadi percaya, kita perlu ingat bahwa penginjilan dimulai dan diakhiri dengan Allah. Dia telah mengundang kita untuk bermitra dengan-Nya dalam misi kehormatan mendamaikan manusia dengan diri-Nya. Kita melakukan bagian kita dengan menunjukkan kesalehan dan berbicara dengan bijak. Selebihnya ada di tangan-Nya. Itu sebabnya kita berbicara dengan Yesus tentang seseorang sebelum kita berbicara dengan seseorang tentang Yesus. Bahkan Paulus, yang merupakan pembicara andal pun, membutuhkan doa.

Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya. (Kolose 4:2-4)

Perhatikan bahwa Paulus berdoa untuk orang-orang yang belum percaya agar Allah membuka pintu untuk pemberitaan firman – yang hanya Allah yang dapat melakukannya – tetapi juga untuk dirinya sendiri agar ia dapat berbicara dengan jelas.

Berdoa untuk Diri Sendiri dan Orang Lain

Berdoa untuk Diri Sendiri

Kita tidak dapat melakukan apa pun yang bernilai rohani jika Roh Kudus tidak bekerja di dalam kita. Berikut ini adalah contoh-contoh tentang bagaimana kita dapat berdoa untuk diri sendiri sebagai duta besar Kristus di tempat kerja. Kita dapat meminta agar…

  • kita bisa bekerja sangat baik sehingga menarik perhatian orang lain (Amsal 22:29).

  • pekerjaan kita membawa kemuliaan bagi Allah (Matius 5:16).

  • kita memperlakukan orang lain dengan adil (Kolose 4:1).

  • kita memiliki reputasi yang baik di mata orang tidak percaya (1 Tesalonika 4:12).

  • orang lain melihat Yesus di dalam kita (Filipi 2:12-16).

  • hidup kita membuat iman kita menarik (Titus 2:10).

  • perkataan kita penuh hikmat, peka, penuh kasih dan menarik (Kolose 4:5-6).

  • kita memiliki keberanian dan tidak kecil hati (Efesus 6:19).

  • kita siap sedia menghadapi pintu-pintu terbuka (Kolose 4:3).

  • kita dapat menyampaikan Injil dengan jelas (Kolose 4:4).

  • Allah memperluas pengaruh kita (1 Tawarikh 4:10).

Berdoa untuk Orang Lain

Kita dapat berdoa untuk rekan dan teman kerja kita dan meminta agar...

  • Bapa menarik mereka kepada diri-Nya (Yohanes 6:44).

  • mereka rindu mengenal Allah (Ulangan 4:29; Kisah Para Rasul 17:27).

  • mereka mau memercayai Alkitab (Roma 10:17; 1 Tesalonika 2:13).

  • Iblis diikat agar tidak membutakan mereka dari kebenaran (Matius 13:19; 2 Korintus 4:4).

  • Roh Kudus menginsafkan mereka akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yohanes 16:8-13)

  • Allah mengutus orang-orang Kristen lainnya dalam kehidupan mereka untuk memengaruhi mereka ke arah Yesus (Matius 9:37-38).

  • mereka percaya kepada Yesus sebagai Juru Selamat mereka (Yohanes 1:12; 5:24).

  • mereka berbalik dari dosa (Kisah Para Rasul 3:19; 17:30-31).

  • mereka mengakui Yesus sebagai Tuhan (Roma 10:9-10).

  • mereka menyerahkan hidup mereka dan mengikut Yesus (Markus 8:34-37; Roma 12:1-2; 2 Korintus 5:15; Filipi 3:7-8).

  • mereka bertumbuh dalam Yesus (Kolose 2:6-7).

  • mereka menjadi pengaruh positif bagi Yesus dalam bidang pengaruh mereka (2 Timotius 2:2).

(Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal.164-165)

Percakapan yang bijak menghormati integritas di tempat kerja. Apakah tidak apa-apa berbicara tentang Yesus di tempat kerja? Banyak orang Kristen bertanya-tanya, apakah di lingkungan kerja yang berbeda-beda spiritualitasnya kita boleh berbicara tentang Yesus. Apakah hal itu sah? Apakah diizinkan oleh perusahaan saya? Secara umum, jawabannya adalah "ya," - berbicara tentang Yesus di tempat kerja adalah sah. Kami mempertimbangkan situasi hukum, khususnya, di Amerika Serikat. Kami sarankan yang di negara lain juga mempelajari undang-undang di tempat tinggal masing-masing.

Secara umum, jika suatu tempat kerja membolehkan percakapan dan pembicaraan pribadi apa pun—seperti yang terjadi hampir di setiap tempat kerja—maka tempat kerja itu juga harus memperbolehkan percakapan-percakapan religius. Jadi, jika orang dapat berbicara tentang keluarga atau sepak bola di tempat kerja, maka berbicara tentang agama pun dapat dilakukan. Bab VII Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964 (di Amerika-Red) melindungi pekerja di banyak tempat kerja pemerintah maupun swasta dari diskriminasi yang didasarkan agama:

Tindakan ketenagakerjaan yang melanggar hukum bagi pemberi kerja adalah:

(1) gagal atau menolak mempekerjakan atau memberhentikan seseorang, atau dengan kata lain mendiskriminasi seseorang sehubungan dengan kompensasi, syarat, ketentuan, atau hak istimewa pekerjaannya, karena ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau asal kebangsaannya; atau

(2) membatasi, memisahkan, atau menggolongkan pekerja atau pelamar kerja dengan cara apa pun yang akan menghilangkan atau cenderung menghilangkan kesempatan-kesempatan kerjanya, atau dengan kata lain, akan berdampak buruk pada statusnya sebagai pekerja, karena ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau asal kebangsaannya.[9]

Ini berarti, antara lain, jika bagian dari keyakinan agama yang kita pegang teguh adalah kewajiban untuk menceritakan Yesus kepada orang lain, maka pemberi kerja biasanya tidak dapat menghalangi kita untuk melakukannya, kecuali jika hal itu akan mengganggu pekerjaan yang sedang dilakukan atau menciptakan lingkungan kerja yang tidak bersahabat bagi orang lain. (Lingkungan kerja yang tidak bersahabat tercipta ketika "tempat kerja dipenuhi intimidasi, olok-olok, dan cercaan diskriminatif yang cukup parah atau meluas hingga mengubah kondisi-kondisi pekerjaan korban dan menciptakan lingkungan kerja yang kejam” [10] Jangan lakukan hal itu!)

Meskipun sudah ada perlindungan hukum semacam ini, para pemberi kerja cenderung tidak konsisten dengan kebijakan mereka sehubungan dengan penginjilan. Terkadang pemberi kerja tidak mengetahui hak-hak pekerja dalam hal ini, atau memilih mengabaikannya, sehingga penegakan hukumnya bisa berbeda-beda. Menurut Deborah Weinstein, yang mengajar Undang-undang Ketenagakerjaan di Wharton School, Universitas Pennsylvania, "Pengadilan di seluruh negeri sangat berbeda-beda dalam menafsirkan isu ini. Dalam kasus tahun 2006 di California, pengadilan mengatakan bahwa proselitisasi yang terus-menerus dan terang-terangan dilarang karena dapat menjadi gangguan. Tetapi pengadilan lain, seperti di Colorado, mengatakan bahwa para pemberi kerja harus berusaha keras mendukung orang-orang yang perlu melakukan proselitisasi.[11]

Tentu saja, jika kita harus menggunakan kekuatan hukum untuk berbicara tentang Allah kepada rekan-rekan kerja, kita mungkin telah kehilangan kesempatan untuk mendapat rekan bicara. Mungkin kita perlu bertanya mengapa ada kebijakan yang sangat membatasi itu pada awalnya. Apakah kita atau orang Kristen lain pernah melakukan gangguan, penyelewengan, penyalahgunaan kekuasaan, atau pelanggaran lainnya saat berbicara tentang Allah? Sekalipun ada hukum yang berpihak pada Anda tentang dengan hak untuk menginjili, namun jika cara-cara Anda tidak dapat dipertanggungjawabkan, Anda bisa berisiko menjauhkan orang-orang yang akan Anda ajak bicara.

Bagaimanapun, sangat penting untuk menghindari ketidakseimbangan kekuasaan saat membagikan iman kita di tempat kerja. Jika kita memiliki kekuasaan atas orang lain, ada bahaya bahwa membagikan iman kita akan dipandang sebagai pemaksaan. Orang mungkin takut untuk berkata tidak atau meminta kita berhenti bicara. Mereka bahkan bisa berpura-pura menerima pesan kita karena takut prospek pekerjaan mereka akan berkurang jika mereka tidak menerimanya. Yang lain mungkin menduga orang-orang yang menerima pesan kita akan mendapat keuntungan di tempat kerja. The Conference Board —sebuah organisasi bisnis global— memerhatikan, “Karena para supervisor memiliki wewenang untuk mempekerjakan, memecat, atau mempromosikan seseorang, para karyawan bisa menganggap ekspresi keagamaan supervisor mereka sebagai paksaan, meskipun hal itu tidak dimaksudkan demikian.”[12]

Sebagian orang Kristen berpendapat bahwa yang terbaik adalah menghindari penginjilan kepada orang-orang yang posisi kekuasaannya lebih rendah dan memercayai Tuhan agar menunjuk orang lain untuk membagikan Kabar Baik kepada mereka. Yang lain percaya bahwa para supervisor bisa saja membagikan iman mereka jika mereka benar-benar memperhatikan untuk mencegah dampak yang merugikan. Sudah jelas bahwa, jika berbicara tentang Tuhan akan mengeksploitasi ketidakseimbangan kekuasaan, maka kita tidak boleh melakukannya. Berhati-hatilah, dan ingatlah bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan hampir selalu meremehkan betapa besarnya pengaruh kekuasaan itu terhadap orang-orang yang posisinya lebih rendah. Seorang supervisor mungkin berpikir percakapan sambil lalu tentang iman bukanlah penyalahgunaan kekuasaan, tetapi bagaimana supervisor itu bisa benar-benar tahu kalau bawahannya merasakan hal yang sama? Bertanya kepada bawahan jelas bukan cara mengetahui yang dapat diandalkan!

Intinya, setidaknya di Amerika Serikat, hampir di setiap tempat kerja kita memiliki hak untuk menceritakan Kabar Baik kepada orang lain, selama kita melakukannya dengan cara yang tidak menyinggung, agresif, atau menyalahgunakan kekuasaan. Dengan kasih karunia Allah, hal ini seharusnya sangat mungkin dilakukan.

Nasihat Penutup untuk Para Duta Besar Kristus

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sebagai duta-duta besar Kristus, kita adalah para pemain inti dalam drama besar penebusan. Allah di dalam Kristus sedang mendamaikan dunia dengan diri-Nya dan Dia ingin kita bergabung dengan-Nya. Dia tidak memerlukan kita untuk menggenapi rencana-Nya, tetapi Dia memberi kita hak istimewa ini. Dia mengundang kita untuk bergabung dengan-Nya dalam penebusan dunia dan berpartisipasi bersama Roh Kudus untuk menarik orang-orang kepada diri-Nya. Dengan hikmat-Nya yang tak terbatas, Allah telah menetapkan bahwa kedaulatan-Nya dan tanggung jawab manusia akan bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya. Meskipun terlalu tinggi untuk dipahami pikiran kita yang terbatas, Allah memanggil kita untuk memercayai hal ini dengan iman dan memenuhi peran kita dalam cerita-Nya dengan menghasilkan murid. Sebagai pengikut Kristus di tempat kerja, kita tidak hanya memiliki kewajiban tetapi juga kesempatan luar biasa untuk mendukung kemajuan manusia dan menyampaikan Injil kepada orang-orang yang tinggal dan bekerja bersama kita. Tak seorang pun dari kita mampu melakukan tugas itu, tetapi untungnya Allah mampu. Kemampuan Allah-lah, bukan kemampuan kita sendiri, yang pada akhirnya memberi kita keyakinan dalam tugas penginjilan itu. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13).

Untuk Bacaan Lebih Lanjut

Workplace Grace oleh Bill Peel dan Walt Larrimore

Permission Evangelism oleh Michael L. Simpson

The Heart of Evangelism oleh Jerram Barrs

Apologetics at the Cross oleh Joshua D. Chatraw dan Mark D. Allen