Bootstrap

Apa Kata Alkitab tentang Keuangan? (Tinjauan Umum)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Nyc 620

Apakah keuangan berkontribusi pada kemajuan masyarakat dan pelayanan kepada sesama? Ketua United Kingdom Financial Service Administration mengatakan bahwa peran penting perbankan "tidak memberi manfaat bagi masyarakat.” [1] Laura Newland, yang baru lulus dari Universitas Duke, dalam tulisannya di New York Times menyesalkan para lulusan yang bekerja di bidang keuangan, karena menurutnya mereka bisa bekerja di bidang yang memberi manfaat bagi masyarakat.[2] Orang-orang muda bertanya-tanya apakah belajar atau bekerja di bidang keuangan merupakan pekerjaan terhormat.

Di dalam artikel ini, kita akan menilai pentingnya keuangan dari perspektif teologi Kristen—khususnya Alkitab—dan dari literatur dan praktik finansial. Kesimpulan kami, keuangan bukan tidak bermanfaat secara sosial. Bahkan penyelidikan Alkitab dan teologi kami menunjukkan bahwa Allah menciptakan dasar-dasar keuangan dan memerintahkan kita untuk menggunakan keuangan bagi kebaikan sosial, khususnya dalam penatalayanan, keadilan, dan kasih.

Penatalayanan, keadilan, dan kasih dapat memiliki banyak arti yang berbeda, oleh karenanya kita perlu menentukan apa yang kita maksudkan dengan ketiga hal ini. Penatalayanan adalah ketaatan pada perintah Allah untuk mengembangkan ciptaan-Nya dari yang berupa seperti taman menjadi seperti kota, sambil mengingat bahwa semua itu milik-Nya. Kita harus merawatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban sebagai pengelola. Keadilan adalah memperlakukan orang lain dengan rasa hormat yang pantas atas hak-hak mereka sebagai manusia; hak-hak yang didasarkan pada fakta bahwa semua manusia dikasihi Allah. Kasih adalah memerhatikan orang lain dengan berusaha mewujudkan kesejahteraan mereka sebagai tujuan itu sendiri, dan dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia. Keuangan dalam kerangka ini merupakan tempat yang sangat baik untuk orang Kristen bekerja dan mengusahakan pembaruan dan transformasi sosial, meskipun akibat dosa sudah merambah ke bidang keuangan.

Pendekatan kita pertama-tama adalah memikirkan apa itu keuangan, bagaimana batu-batu bangunan dasarnya diciptakan oleh Allah dan bagaimana Allah memampukan manusia untuk membangun institusi-institusi keuangan di atas dasar-dasar yang Dia ciptakan itu. Kita juga akan memikirkan dampak Kejatuhan pada keuangan, dan khususnya apakah keuangan dengan suku bunga pasar memiliki peran positif di dunia yang telah jatuh ini. Kemudian kita akan merajut tema-tema biblika tentang visi keuangan yang ditebus dengan hal-hal spesifik tentang para profesional keuangan, peminjam dan pemberi pinjaman.

Apa Itu Keuangan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Keuangan adalah aktivitas manusia dalam kita mengalokasikan atau bertukar sumber daya yang terkait dengan waktu. Sebagian besar artikel ini berkaitan dengan pertukaran/transaksi eksternal—yaitu, meminjam, memberi pinjaman, dan berinvestasi—bukan mengalokasikan sumber daya dalam entitas-entitas. Istilah "keuangan" di sini digunakan sebagai cara singkat untuk menyebut transaksi keuangan di antara para pihak. Fungsi-fungsi keuangan dalam rumahtangga dan institusi juga berkaitan dengan pengalokasian sumber daya pada waktu tertentu, dan dengan analogi banyak prinsip yang sama yang berlaku. Tetapi keuangan internal—seperti penganggaran atau perencanaan proyek—memiliki situasi-situasi khusus tersendiri, yang tidak dibahas dalam artikel ini.

Keuangan terjadi ketika orang yang hendak meminjam sejumlah sumber daya dalam jangka waktu tertentu melakukannya dengan membuat perjanjian dengan orang yang memiliki sumber daya lebih banyak dari yang ia butuhkan saat ini. Peminjam bersedia membayar harga (bunga) untuk mendapatkan akses saat ini ke sumber daya itu, dan pemberi pinjaman akan mendapat keuntungan atau menerima pengembalian di waktu mendatang dari melepas akses ke sumber daya saat ini tersebut. Dengan asumsi semuanya berjalan lancar, pemberi pinjaman menguntungkan peminjam dengan menyediakan sumber daya pada saat yang ia butuhkan (saat ini), sementara peminjam menguntungkan pemberi pinjaman dengan meningkatkan sumber dayanya di waktu mendatang. Jika semuanya berjalan baik, peminjam akan menggunakan sumber daya itu sedemikian rupa sehingga baik peminjam maupun pemberi pinjaman akan sama-sama diuntungkan setelah sumber daya yang dipinjam itu dikembalikan kepada pemberi pinjaman.

Secara agak resminya dapat dikatakan bahwa, keuangan adalah aktivitas manusia yang terlibat dalam alokasi dan pertukaran sumber daya dengan memerhatikan waktu. Untuk singkatnya, kita akan memakai istilah "pinjaman" untuk merujuk pada segala bentuk penyediaan sumber daya, termasuk utang, ekuitas (modal saham), derivatif (instrumen turunan), dll. Jadi pemberi pinjaman itu bisa rumah tangga/keluarga yang memiliki simpanan di bank, tetapi bisa juga para investor saham, investor ekuitas swasta, atau karyawan yang membayar iuran dana pensiun. Demikian pula, peminjam itu bisa rumahtangga/keluarga yang memiliki pinjaman dari bank, tetapi bisa juga bisnis-bisnis yang menjual saham, keluarga yang meminjam untuk membeli rumah, atau entitas-entitas pemerintah yang menerbitkan obligasi di pasar bebas. Secara umum kita akan merujuk pada transaksi-transaksi berbasis pasar yang dilakukan secara sukarela dan saling menguntungkan.[1] Kita tidak akan membahas teologi tentang jenis-jenis alokasi sumber daya non-pasar—seperti alokasi sumber daya pemerintah atau non-sukarela—yang lebih tepatnya disebut "subsidi." Dan juga, karena “keuangan” yang kita maksud adalah pertukaran sumber daya pada waktu tertentu dengan harapan akan terjadi pertukaran-balik sumber daya itu di kemudian hari, maka kita tidak akan membahas tentang pasar tenaga kerja, pasar barang dan jasa, dan lain-lainnya, yang lebih tepatnya disebut “perdagangan”.

Contoh yang paling kuno mungkin adalah meminjamkan alat berburu kepada sesama anggota suku dalam jangka waktu tertentu dengan persetujuan alat itu akan dikembalikan lagi beserta sebagian hasil buruan. Contoh yang lebih kemudian mungkin adalah meminjam benih dari tetangga dengan persetujuan sejumlah benih itu akan dikembalikan dengan sedikit tambahan pada akhir musim tanam. Lalu, ketika mata uang mulai dikembangkan, transaksi pinjam meminjam yang lebih rumit dapat ditangani dengan lebih mudah. ​​Nelayan yang berhasil bisa menjual hasil tangkapannya dan memiliki uang lebih setelahnya. Petani dapat meminjam uang itu, membeli benih, menanam padi, menjual sebagian hasil panen, dan membayar kembali modal awal dari nelayan itu ditambah bunga tertentu. Nelayan itu membantu membuat si petani berhasil dan juga sebaliknya. Dengan cara ini, orang saling menguntungkan dengan cara yang melampaui keterampilan atau kemampuan mereka sendiri. Sejarah keuangan adalah sejarah kreativitas manusia dan kerja sama sosial yang dilakukan untuk membuat sumber daya bumi pemberian-Allah lebih produktif.

Dari abad ke abad, beberapa jenis insitusi telah dikembangkan untuk sangat memudahkan pinjam-meminjam sumber daya ini. Bank-bank, bank investasi, reksa dana, badan keuangan mikro, koperasi simpan pinjam, dan berbagai lembaga lainnya telah bermunculan untuk membantu peminjam dan pemberi pinjaman saling bertemu dan bertukar atau bertukar-balik sumber daya yang sesuai dengan kebutuhan peminjam dan pemberi pinjaman. Sebagai contoh, reksa dana memungkinkan orang untuk menginvestasikan sejumlah kecil uang dalam berbagai saham dan obligasi, yang akan terlalu repot dan rumit jika diinvestasikan secara perorangan. Kontrak atau instrumen-instrumen yang digunakan dalam keuangan meliputi utang dan ekuitas serta berbagai gabungan dan turunannya yang dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan peminjam atau penyimpan tertentu.

Tujuan Allah dalam Keuangan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Keuangan memiliki peran dalam tujuan Allah bagi manusia. Tiga tujuan utama manusia bekerja yang dinyatakan dalam Alkitab adalah untuk: i) menyatakan kemuliaan Allah, ii) terlibat dalam penatalayanan, dan iii) menunjukkan keadilan dan kasih. Kita akan membahas setiap tujuan ini sebentar lagi. Namun sebelumnya, mari kita ingat bahwa keuangan—sebagaimana halnya semua usaha manusia—juga telah menderita akibat dosa yang mendalam dan merusak. Sebagai contoh, keserakahan dan ketidakjujuran memengaruhi keuangan dalam berbagai situasi, mencemari secara langsung pelayanan bagi kemuliaan Allah, serta penatalayanan, keadilan, dan kasih manusia. Kita akan membahas dampak dosa ini secara agak lebih rinci nanti. Namun pertama-tama, mari kita menjelajahi keuangan menurut tujuan awal Allah bagi dunia, yang memberi kita gambaran sekilas tentang apa yang dimaksud Allah dan apa yang bisa terjadi melalui penebusan Kristus.

Keuangan Membantu Menyatakan Kemuliaan Ciptaan Allah

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dalam narasi Alkitab, Allah menciptakan segala sesuatu untuk kemuliaan dan kehormatan-Nya (Kolose 1:16, Wahyu 4:11). Dasar-dasar keuangan—seperti halnya semua ciptaan—menyatakan kreativitas Allah yang tak tertandingi. Allah menciptakan waktu—musim-musim, tahun-tahun, dan umur/masa hidup. Allah menenun kita agar kita memiliki keinginan dan kemampuan untuk hidup dan berkembang dalam komunitas dengan jalinan interaksi sosial yang kaya, yang salah satunya dengan berbagi sumber daya dari waktu ke waktu. Ketika kita berbagi sumber daya dari waktu yang satu ke waktu yang lain dalam jaringan relasi sosial, kita mengambil bagian dalam penciptaan-Nya yang melimpah dan menghidupkannya dengan kreativitas dan kasih yang Dia berikan pada kita sesuai citra-Nya. Seperti musik yang indah dan makanan yang lezat, keuangan menyatakan kemuliaan Allah dengan menunjukkan kemahakuasaan dan kreativitas-Nya dalam ciptaan-Nya. Kita akan mengembangkan penghargaan tentang kemuliaan Allah yang lebih rinci di bagian berikutnya saat kita melihat bahwa Allah telah menciptakan delapan dasar spesifik dalam keuangan.

Keuangan Membantu Kita Memenuhi Mandat Ciptaan Sebagai Penatalayan Yang Baik

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Mengikut Kristus Sebagai Analis Keuangan

Dalam sebuah wawancara dengan The High Calling, Will Messenger membicarakan tentang mencari Kristus di bidang keuangan.

Pertanyaan: “Bagaimana Anda mengikut Kristus sebagai seorang analis keuangan?”

Apakah Anda punya jawaban praktis untuk diri Anda sendiri?

Saya bekerja sebagai analis keuangan di sebuah bank investasi pada suatu musim panas. Saya ditugaskan untuk mengerjakan sebuah proyek yang membuat kami dapat melihat apakah kami bisa mendapatkan investor ekuitas swasta untuk membeli pembangkit listrik dari perusahaan utilitas listrik. Jika ya, kami bisa mendapat bayaran besar dari setiap transaksi. Cara kami melakukannya adalah: Saya akan membuat model keuangan untuk setiap pembangkit listrik yang menunjukkan berapa megawatt jam yang bisa dihasilkan, berapa harga jual tiap megawatt jam, berapa biaya untuk batu bara, upah karyawan, dll. Kemudian saya akan menghitung angka-angka itu, menanyakan suku bunga maksimum yang dapat dibayarkan untuk obligasi “sampah” (berperingkat rendah) yang akan diterbitkan investor ekuitas swasta itu, agar kami dapat mengumpulkan dana untuk membeli pembangkit tenaga listrik.

Selanjutnya kami akan tahu apakah kami bisa mendapatkan investor yang bersedia membeli obligasi, meskipun suku bunganya terlalu rendah untuk benar-benar bisa mengimbangi risiko tinggi jika pembangkit listrik itu bangkrut karena harga batu bara naik, atau permintaan listrik turun. Saya dalam posisi paling junior. Orang yang menggagas proyek ini juga kurang berpengalaman, dan berusaha menghasilkan bayaran dengan mengusulkan beberapa transaksi. Bagi saya itu bukanlah cara yang benar-benar menebus/memperbaiki keadaan. Ini bukan tentang membiayai kebutuhan pembangkit listrik dari perusahaan utilitas. Ini bukan tentang menciptakan struktur keuangan yang berkelanjutan untuk membantu perusahaan bertahan dari naik turunnya pasar energi. Ini hanya tentang melihat apakah kami dapat melakukan banyak transaksi dan mendapat bayaran besar.

Tidak seperti di IBM, saya tidak bisa melihat masalah bisnis apa yang hendak diselesaikan. Saya percaya bahwa dalam segala sesuatu Kristus bekerja untuk menebus dunia kita yang sudah rusak dalam segala hal—bukan hanya dalam kita menyembah hal-hal yang salah dan mengejar ilah-ilah palsu secara harfiah, tetapi juga dalam hal-hal ekonomi dan organisasi yang salah di dunia ini. Saya kira Allah juga tertarik pada pembangkit tenaga listrik. Saya tahu industri pembangkit tenaga listrik terkendala berbagai macam masalah pada saat itu. Tetapi saya tidak melihat proyek kami sedang menyelesaikan masalah yang riil dari pekerjaan pembangkit tenaga listrik yang sebenarnya itu.

Lalu adakah hal yang Anda lakukan sebagai bankir investasi, yang Anda pikir bersifat menebus - atau berarti dari sudut pandang Allah?

Oh, ya! Saya membantu perusahaan lain melakukan rekapitulasi dengan menerbitkan saham preferen yang dapat dikonversi dan menggunakan pendapatannya untuk melunasi utang. Itu membuat basis keuangan mereka lebih kokoh, sehingga mereka bisa fokus pada pertumbuhan bisnis. Dan ini juga masuk akal bagi para investor. Saya tidak ingin melebih-lebihkan betapa memulihkannya transaksi keuangan yang baik. Ada perbedaan yang jelas antara jiwa seseorang dengan struktur keuangan dalam organisasi, tetapi saya juga tidak berpikir Allah tidak peduli dengan keuangan. Struktur keuangan memungkinkan untuk meneliti dan menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat, mempekerjakan orang, menyediakan pendapatan investasi bagi para pensiunan, dana abadi untuk perguruan tinggi, dan sebagainya. Gambaran tentang Kerajaan Akhir, Kerajaan Allah yang kekal, bukanlah tentang kita menjadi roh tanpa tubuh yang melayang-layang di suatu tempat yang tidak ada apa-apa. Melainkan, kita akan melihat langit baru dan bumi baru, dengan kerajaan-kerajaan dunia yang membawa kekayaan mereka ke Yerusalem Baru. Jadi kita akan terus memiliki aspek-aspek kehidupan yang terwujud sepenuhnya—hal-hal ciptaan diubahkan, bukan dilenyapkan.

Penatalayanan adalah pemenuhan mandat Allah untuk memenuhi bumi, menaklukkan (atau memerintah), mengerjakan, dan memeliharanya (Kejadian 1:28-30, Kejadian 2:15). Ciptaan Allah yang mula-mula ditunjukkan di kitab Kejadian sebagai taman yang dipenuhi berbagai tumbuhan, hewan, dan manusia dalam persekutuan yang sempurna dengan Allah. Taman itu baik, tetapi tidak dimaksudkan untuk tetap seperti itu selamanya. Ketika Alkitab melihat ke depan kepada penggenapan ciptaan Allah, Alkitab menunjukkan pada kita dunia yang penuh dengan orang-orang dari setiap suku bangsa yang memuji Allah. Mereka tidak lagi berada di taman, tetapi di kota yang memiliki fondasi, tembok, pintu gerbang, jalan dengan deretan pepohonan, besi, emas, hewan peliharaan, dan kapal-kapal dagang (Yesaya 60, Wahyu 21). Pengembangan ciptaan dari taman menjadi kota yang dipenuhi manusia dan unsur-unsur budayanya adalah kesimpulan dari mandat Allah untuk memenuhi bumi, menaklukkan, mengerjakan, dan memeliharanya. Meskipun ciptaan Allah yang mula-mula itu sempurna dan sarat sumber daya, ciptaan ini belum selengkap yang Allah mau jadikan. Mouw berpendapat bahwa “Allah sejak semula bermaksud agar manusia memenuhi bumi dengan berbagai proses, pola, dan produk pembentukan budaya.”[1] Kita adalah tangan-tangan kreatif Allah yang melanjutkan karya kreatif-Nya, untuk membangun dengan kasih karunia Allah di atas fondasi ciptaan-Nya yang sempurna dan kaya. Van Duzer berpendapat bahwa ciptaan Allah yang sempurna, meskipun belum lengkap, merupakan fondasi yang sangat baik untuk bisnis.[2]

Mengalokasikan sumber daya dengan baik dari waktu ke waktu agar terus berkembang sangat penting dalam memenuhi mandat ciptaan ini. Contoh-contoh tentang bagaimana keuangan membantu manusia dalam mematuhi mandat ciptaan Allah meliputi: menabung uang untuk membeli benih di musim tanam, mengumpulkan modal untuk membeli alat pertambangan yang akan menghasilkan bijih besi di tahun-tahun mendatang, keluarga muda yang meminjam uang untuk membeli rumah, dan masyarakat yang menerbitkan obligasi untuk mendirikan sekolah. Keuangan menyediakan pengalokasian sumber daya yang berorientasi ke depan yang diperlukan untuk pertumbuhan. Keuangan menyediakan sumber daya bagi orang-orang yang memiliki peluang terbesar untuk meningkatkan sumber dayanya di waktu mendatang, dan kemudian membagikan peningkatan sumber daya itu kepada orang yang meminjamkan sumber daya berlebih, yang tidak akan produktif jika tidak dipinjamkan. Tanpa keuangan, orang hanya akan hidup setiap hari dengan sumber daya yang bisa mereka peroleh pada hari itu, atau yang telah mereka kumpulkan secara pribadi pada hari-hari sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi yang telah dialami manusia dari abad ke abad tidak mungkin terjadi tanpa keuangan. Manusia tidak mungkin berkembang tanpa meminjam dan meminjamkan.[3]

Allah memberi kita mandat bukan hanya untuk mengelola ciptaan-Nya, tetapi juga untuk merawatnya.[4] Karena meminjam dan meminjamkan pada dasarnya melibatkan lintas-waktu, keuangan mendorong perspektif jangka panjang dalam pengambilan keputusan. Orang yang mengajukan pinjaman hipotek (semacam KPR) untuk membeli rumah cenderung akan merawat lebih baik daripada orang yang menyewa rumah jangka pendek. Sebaliknya, aktivitas-aktivitas yang tidak berkelanjutan sulit mendapat pendanaan. Siapa yang mau meminjamkan uang kepada perusahaan kayu yang terlalu cepat menebang pohon-pohon sampai kayunya akan habis dalam waktu beberapa tahun saja? Keuangan juga memungkinkan peningkatan modal dari mengurangi pemakaian sumber daya alam untuk operasional. Sebagai contoh, sebuah kota dapat meminjam uang untuk mengembangkan sistem transportasi umum, yang akan lebih memanfaatkan sumber daya karbon/energi milik Allah dan juga memberikan pemasukan dana pensiun bagi para investor obligasi daerah.

Keuangan Dapat Menjadi Sarana Keadilan dan Kasih

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Keuangan memungkinkan terjadinya aktivitas-aktivitas tertentu yang menunjukkan keadilan dan kasih. Kami mengadopsi pandangan keadilan Wolterstorff yang berpendapat bahwa setiap orang harus diperlakukan dengan rasa hormat yang pantas atas hak-hak mereka sebagai manusia.[1] Pandangan teistik Wolterstorff mendasarkan hak-hak manusia ini semata-mata pada fakta bahwa setiap manusia dikaruniai kehormatan untuk dikasihi Allah. Jadi, “Oleh karena keterikatan Allah pada manusia, orang yang menyakiti manusia juga bersalah pada Allah.”[2] Relasi Allah-manusia inilah yang melahirkan hak-hak manusia, yang kemudian membentuk wawasan kita tentang keadilan. Kami juga memakai konsep “kepedulian” kasih Wolterstorff yang ia sebut “care-agapism”—yaitu berusaha mewujudkan kesejahteraan orang lain sebagai tujuan itu sendiri dan dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia.[3] Ia berpendapat bahwa kasih sebagai kepedulian adalah cara terbaik untuk memahami kasih yang alkitabiah (agape), karena kepedulian menggabungkan keadilan dengan kasih. “Kepedulian mencakup upaya agar orang yang dikasihi diperlakukan dengan adil. Dan kepedulian adalah kasih yang biasanya untuk mengasihi diri sendiri, yang Yesus hubungkan dengan Allah untuk kita, dan Yesus perintahkan pada kita untuk Allah dan sesama. Memahami kasih sebagai kepedulian memberi kita wawasan yang terpadu tentang keempat manifestasi kasih.”[4] Kepedulian meliputi tindakan yang bisa mengandung risiko atau memerlukan pengorbanan tertentu dari pihak yang mengasihi.

Kasih yang diwujudkan dengan kepedulian sesuai dengan pandangan Kristen tentang keadilan dan kasih. Contohnya, Chris Wright menunjukkan bahwa tema-tema pokok Alkitab tentang kebenaran dan keadilan merupakan konsep-konsep yang berkaitan erat yang berarti "apa yang perlu dilakukan dalam situasi atau relasi tertentu" untuk mengembalikan segala sesuatu kepada yang semestinya.[5] Wright lalu berpendapat bahwa Allah memilih Abraham secara khusus untuk memajukan misi-Nya dalam memberkati bangsa-bangsa dengan keadilan dan kebenaran.[6] Ini berarti bahwa alasan Allah memilih kita juga untuk memberkati orang-orang di sekitar kita dengan keadilan dan kebenaran. Pandangan Wright memberi kita alasan untuk benar-benar mempraktikkan kasih ini. Kita diberi amanat oleh Allah untuk memberkati orang-orang di sekitar kita dengan menunjukkan kasih, yaitu dengan mewujudkan kesejahteraan mereka dengan cara yang menghormati mereka sebagai orang-orang yang dikasihi Allah.

Dan kepada siapa kita perlu menunjukkan kasih dan keadilan ini? Yesus berkata bahwa ajaran-Nya yang terpenting adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan kita dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Matius 22, Markus 12, Lukas 10), yang menggemakan ajaran Musa sebelumnya.[7] Perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati menjelaskan bahwa sesama kita adalah siapa saja yang dapat kita tunjukkan kasih dan keadilan, bahkan orang-orang yang tak punya hubungan dengan kita sebelumnya. Atau seperti dikatakan Wolterstorff, “Saya menganggap Yesus memerintahkan kita untuk siaga melakukan kewajiban yang dibebankan pada kita oleh kebutuhan siapa saja yang kita temui.”[8]

Konsep keadilan dan kasih Wolterstorff berguna untuk memahami tujuan keuangan yang dimaksudkan Allah karena dua alasan. Pertama, keuangan dapat bermanfaat untuk mewujudkan kesejahteraan orang lain dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia. Keuangan menyediakan akses kepada sumber daya. Sumber daya yang disediakan keuangan untuk dialokasikan-kembali dapat membantu orang berkembang, dan berbagi sumber daya secara sukarela dan saling menguntungkan adalah cara yang sangat baik, meskipun bukan satu-satunya cara, untuk menunjukkan rasa hormat yang pantas kepada orang lain. Inilah hakikat keadilan. Jika Anda tidak memiliki sumber daya yang Anda butuhkan saat ini untuk produktif, dan jika Anda bersedia membagikan sebagian peningkatan sumber daya itu pada saya nanti, maka wajar jika kita meminjamkan, meminjam, dan membayar kembali dengan saling menghormati. Kedua, keuangan dapat menjadi sarana untuk mengasihi sesama—dalam arti peduli dengan kesejahteraan mereka—orang-orang yang bahkan tidak memiliki hubungan pribadi dengan kita atau tinggal di dekat kita. Manajemen keuangan yang terstruktur baik— dengan sistem hukum yang baik—memungkinkan orang asing untuk meminjam dan meminjamkan dengan keyakinan akan mendapat hasil/pengembalian yang pantas. Dengan cara ini, kita dapat berbagi sumber daya untuk saling menguntungkan jauh di luar lingkup kita sendiri. Tidak semua manajemen keuangan mewujudkan keadilan dan kasih dengan cara ini, tetapi semua seharusnya dapat dan melakukan yang seperti ini. Chaplin mendorong kita untuk merombak institusi-institusi, mungkin secara radikal, agar dapat “mewujudkan norma utama kasih” dan berfungsi sebagai “saluran” kasih dan keadilan.[9]

Dasar-dasar Keuangan Diciptakan oleh Allah

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allahlah yang memilih menciptakan kita dengan cara tertentu yang memungkinkan adanya keuangan. Ini bukan berarti Allah menciptakan institusi atau sistem keuangan tertentu, tetapi bahwa manusia diciptakan dengan cara yang memberi peran pada keuangan dalam tujuan Allah. Konsep ini sangat penting dalam teologi kita. Jika Allah tidak menciptakan dasar-dasar keuangan, maka keuangan itu murni penemuan manusia yang tidak memiliki peran apa pun dalam tujuan Allah bagi manusia. Namun, jika Allah menciptakan dasar-dasar keuangan, maka Dia pasti melakukannya untuk suatu tujuan, dan tujuan itu harus sesuai dengan kehendak-Nya yang dinyatakan. Kita akan membahas delapan dasar keuangan ini untuk melihat apakah hal itu benar-benar lahir dari penciptaan Allah.[1]

Kita Terikat-Waktu

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah menciptakan dunia dengan waktu dan tempat untuk hidup manusia yang terbatas. Melalui penciptaan Allah, kita memiliki hari-hari, musim-musim, generasi-generasi, dan umur/masa hidup (Kejadian 1, Mazmur 104).[1] Selanjutnya, kita perlu menyadari tentang waktu dan akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu hidup kita (Mazmur 90:12, Pengkhotbah 3, Amsal 6:6-11, Amsal 20:4). Kana berpendapat bahwa waktu adalah sumber daya Allah dan kita sebagai pengelola waktu.[2]

Mengalokasikan sumber daya di antara orang-orang dari berbagai periode waktu merupakan dasar yang menopang keuangan. Sumber daya keuangan dibutuhkan selama beberapa hari oleh karena waktu produksi atau pengiriman, atau beberapa bulan oleh karena bisnis musiman, atau setengah tahunan karena berkaitan dengan musim tanam, atau selama beberapa tahun untuk pengembangan dan peluncuran produk baru, atau puluhan tahun untuk membangun pabrik atau membeli rumah, atau hampir seumur hidup untuk tabungan pensiun. Di dunia dengan kebutuhan, peluang, dan ketersediaan sumber daya yang bervariasi dari waktu ke waktu, keuangan merupakan sarana utama untuk menyesuaikan sumber daya dengan kebutuhan dari waktu ke waktu.

Kita Makhluk Sosial

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Manusia diciptakan untuk menjadi makhluk sosial dan hidup dalam komunitas, dan kita memiliki hasrat untuk bersama orang lain. Sebagaimana dikatakan Allah, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja” (Kejadian 2:18). Lagipula, kita diciptakan segambar dengan Allah (Kejadian 1:26-27; 2 Korintus 3:8), dan Tritunggal Yang Mahakudus yang berada dalam kesatuan yang sempurna merupakan model komunitas untuk kita (Galatia 4:1-7). Sebagai bentuk cara berbagi sumber daya di antara manusia, keuangan pada dasarnya merupakan aktivitas sosial. Dengan menciptakan kita sebagai makhluk sosial, Allah meletakkan dasar untuk pertukaran sumber daya, yang bentuk krusialnya adalah keuangan.

Kita Heterogen

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Manusia diciptakan dengan beragam keterampilan, kebutuhan, dan keinginan. Di Alkitab, kita melihat keberagaman dalam ciptaan Allah ini ketika Dia mengaruniakan berbagai macam keterampilan kepada manusia untuk membangun tabernakel (Keluaran 35:30-36:5) dan membangun kembali Yerusalem sekembalinya sisa-sisa umat Allah dari pembuangan di Babel (Ezra 7:6-7; Nehemia 1, 2). Paulus mengajarkan bahwa setiap kita diberi karunia yang berbeda-beda (1 Korintus 12:12-31). Selain itu, karena kita semua tidak dilahirkan pada waktu yang sama, masyarakat manusia memiliki beragam tingkat usia dan tahap kehidupan. Sebagian orang masih kecil dan belum dapat mencari makan dan mengusahakan tempat tinggal sendiri, sebagian orang muda lainnya baru saja mulai dapat melakukannya, dan sebagian orang lainnya lagi sedang berada pada masa-masa sangat produktif dan memiliki sumber daya yang melebihi kebutuhan mereka saat ini, sementara yang lainnya lagi sudah lanjut usia dan membutuhkan bantuan untuk menopang diri sendiri, atau perlu memanfaatkan sumber daya yang dikumpulkan pada tahun-tahun kehidupan mereka sebelumnya.

Keberagaman atau heterogenitas ini merupakan dasar dalam pasar keuangan karena pada suatu saat sebagian orang akan memiliki sumber daya yang berlebih, sementara yang lain memiliki kebutuhan atau peluang untuk memakai sumber daya yang tidak mereka miliki saat ini. Sebagai contoh, sebagian dari kita mungkin perlu meminjam uang untuk mengejar peluang bisnis atau membangun infrastruktur demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi. Sementara yang lain akan menjadi penyimpan dalam periode tertentu kehidupan mereka dan dapat meminjamkannya untuk memenuhi kebutuhan orang yang meminjam.

Kita Bertindak Sebagai Perwakilan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Manusia diciptakan untuk bertindak bagi orang lain, untuk menjadi penatalayan atau perwakilan. Contoh utamanya adalah Allah memerintahkan kita untuk mengurus ciptaan-Nya dan mengelola anugerah-Nya (1 Petrus 4:10). Kita juga tahu bahwa Allah memanggil Yusuf untuk bertindak sebagai penatalayan bagi Potifar dan juga Firaun (Kejadian 39:2-6; 41:41-44). Perumpamaan Yesus tentang talenta menjelaskan bahwa kita adalah para penatalayan-Nya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang Dia inginkan dari kita (Matius 25:14-30).

Keuangan tergantung pada orang-orang yang bertindak sebagai perwakilan atau penatalayan bagi orang lain. Para eksekutif bertindak sebagai perwakilan bagi para pemegang saham perusahaan. Manajer reksa dana bertindak atas nama para investor dalam memutuskan saham-saham atau obligasi yang akan diinvestasikan. Para pengacara memakai keahliannya untuk melayani kepentingan klien mereka dalam transaksi-transaksi keuangan. Keseluruhan cabang literatur keuangan didedikasikan untuk memahami dengan lebih baik berbagai relasi para perwakilan di bidang keuangan. Keuangan bisa ada karena Allah menciptakan manusia dengan kemampuan untuk bertindak bagi kepentingan orang lain.

Kita Membuat Janji-janji

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah adalah Allah yang membuat janji dan perjanjian. Cerita Alkitab adalah cerita tentang janji-janji Allah yang ditepati. Manusia diciptakan menurut gambar-Nya, dan karenanya kita memiliki cerita-cerita Alkitab tentang manusia yang membuat janji kepada satu sama lain. Contohnya, cerita Rut bergantung pada janji-janji di antara orang-orang dari bangsa yang berbeda (Rut 1:16-18). Paulus merujuk pada janji-janji manusia di Galatia 3:15. Manusia diciptakan untuk dapat membuat dan menepati janji kepada satu sama lain.

Setiap instrumen keuangan adalah janji di antara dua pihak atau lebih, yang tidak akan mungkin terjadi jika janji-janji bukan bagian dari ciptaan Allah. Pinjaman hipotek (Kredit Pemilikan Rumah) adalah janji untuk membayar sejumlah uang tertentu setiap bulan. Selembar saham adalah janji untuk menerima dividen (pembagian keuntungan) di masa mendatang dan hak untuk memilih anggota dewan. Dalam ekonomi modern, beberapa janji kita cenderung menjadi sangat rumit dan rinci sehingga biasanya dibuat tertulis. Tetapi perjanjian tertulis ini pada dasarnya menunjukkan kemampuan kita yang diciptakan untuk membuat dan menepati janji. Kemampuan ini begitu sentral dalam keuangan sehingga Alkitab mengajar kita untuk tidak berjanji berlebihan dalam keuangan kita (Amsal 22:26-27).

Kita Tidak Mahatahu

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Manusia tidak mengetahui segalanya, dan setiap kita secara individu hanya mengetahui sebagian kecil saja dari yang dapat diketahui. Allah menciptakan setiap kita dengan keunikan pikiran yang berbeda dari orang lain dalam menerima, memproses, dan mengingat berbagai hal. Usaha manusia tergantung pada setiap kita yang memakai pengetahuan kita masing-masing untuk kebaikan bersama, bukan pada setiap kita yang mempelajari segala hal yang dibutuhkan untuk berhasil.

Pengetahuan yang terbatas dan informasi yang tidak seimbang dimediasi oleh pasar-pasar keuangan. Ini berarti ketika suatu pinjaman dibuat, peminjam lebih memiliki informasi tentang kemampuannya melunasi daripada pemberi pinjaman. Ini berarti ketika kita membeli saham, penjual kemungkinan mengetahui sesuatu tentang saham itu yang tidak kita ketahui. Ketidakseimbangan ini akan memengaruhi kesediaan kita untuk berpartisipasi dalam pasar keuangan dan memengaruhi harga keuangan. Keuangan dibangun di atas dua kewajiban yang mengubah informasi tidak seimbang dari sebagai penghalang menjadi peluang. Pertama, kita menggunakan janji untuk menyatakan kepastian tentang informasi yang kita miliki yang tidak dimiliki pihak lain. Janji saya untuk membayar hipotek, dengan sanksi bisa kehilangan rumah, memberi Anda keyakinan untuk menyimpan uang di bank yang membiayai hipotek itu, meskipun Anda tidak mengetahui perkiraan penghasilan saya di masa depan. Kedua, kita melarang pemalsuan informasi dalam transaksi keuangan. Jika dokumen investasi Anda mengatakan ada pasar senilai $3 miliar untuk produk-produk yang seperti Anda miliki, informasi ini pasti akurat. Karena itu, kita dapat memanfaatkan informasi yang diberikan orang lain, meskipun kita tidak memiliki pengetahuan sendiri tentang keakuratannya.

Kita Menciptakan Sumber Daya untuk Masa Depan Yang Tidak Kita Ketahui

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah menciptakan risiko karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan (Pengkhotbah 8:7). Tetapi Allah menciptakan kita dengan kemampuan untuk memengaruhi kejadian-kejadian di masa depan, khususnya dengan kemampuan menciptakan hal-hal baru yang akan terwujud di masa depan. Miller menguraikan tiga pandangan tentang risiko, dan yang ketiga adalah “penciptaan peluang” di mana imajinasi dan kreativitas manusia membuat masa depan tak bisa diprediksi karena kita mungkin—atau mungkin tidak—dapat mewujudkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada.[1] Selaras dengan ini, Buchanan dan Vanberg (1991) berpendapat bahwa pasar paling baik dipahami sebagai proses kreatif, bukan proses penemuan atau pengalokasian.[2] Menurut rancangan Allah, masa depan bukanlah hal yang sudah pasti, tetapi proses yang masih berlangsung yang dipengaruhi oleh pilihan manusia.

Risiko ini sangat berdampak pada keputusan-keputusan keuangan.[3] Sebagian besar instrumen keuangan dan penetapan harga instrumen menunjukkan ketidakpastian ini. Pengajuan pinjaman ditolak karena ketidakpastian, atau diberi harga lebih tinggi untuk mengimbangi persentase yang diperkirakan gagal. Harga saham naik turun karena ketidakpastian. Perjanjian utang disertai syarat pelaporan dan jaminan karena ketidakpastian. Pasar-pasar keuangan sangat dipersulit oleh ketidakpastian, meskipun memberi manfaat yang besar juga bagi masyarakat karena risiko itu bisa dikelola dan dialokasikan- kembali melalui mekanisme keuangan.

Kita Pengambil Risiko

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah menciptakan kita untuk dapat mengambil risiko dan memberikan dukungan alkitabiah untuk mengambil risiko (Kejadian 1:28-30; 2:15; Matius 25:14-30; Lukas 19:11-27; Yohanes 12:24). Kita diciptakan menurut gambar Allah yang mengambil risiko, yang telah mengambil “risiko dengan menciptakan dunia yang unik dan manusia berkehendak bebas untuk menguasainya.” [1] Allah menciptakan kita agar kita mengalami risiko, tetapi kita tahu bahwa Allah memelihara.[2] Namun, kita juga diberi banyak pengajaran Alkitab agar bijaksana dalam mengambil risiko.[3] Gregersen mendefinisikan risiko sebagai gabungan dari peristiwa-peristiwa alam, peristiwa-peristiwa dalam masyarakat, dan makna yang dibawanya pada seseorang.[4] Gregersen mengutip Luhmann yang berpendapat bahwa percaya adalah posisi bersedia mengambil risiko, yang menciptakan siklus positif antara kepercayaan dan risiko. Gregersen berpendapat bahwa Alkitab mengajarkan “dunia diciptakan oleh Allah yang baik dengan cara sedemikian rupa sampai mendorong sikap berani mengambil risiko dan menerima ganjarannya dalam jangka panjang.”[5]

Sikap manusia terhadap risiko sangat penting dalam keuangan. Orang biasanya bersedia mengambil risiko tertentu tetapi tidak terlalu banyak, dan banyaknya bervariasi tergantung individu dan situasi. Kemampuan mengambil risiko serta keengganan mengambil risiko yang tidak perlu ini adalah bagian dari rancangan penciptaan Allah. Allah dengan hikmat-Nya telah menciptakan kita dengan kemampuan bawaan untuk menyeimbangkan risiko dengan ganjaran, dan kita melihat hal ini tercermin pada harga-harga keuangan. Dengan kesadaran ini kita dapat mengakui bahwa risiko yang dipahami dan dikelola sesuai dengan rancangan penciptaan Allah.

Kesimpulan tentang Dasar-dasar Keuangan Yang Diciptakan Allah

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Delapan aspek penciptaan ini—khususnya penciptaan manusia—membentuk fondasi keuangan. Keuangan menjembatani kesenjangan-kesenjangan yang dapat menghalangi orang memanfaatkan sumber daya yang tidak terpakai untuk menumbuhkan dan meningkatkan produktivitas manusia serta berbagi sumber daya secara sosial untuk saling menguntungkan. Dengan kata lain, keuangan mengubah kondisi-kondisi kehidupan manusia menjadi kesempatan-kesempatan untuk memuliakan Allah, melayani sebagai pengelola ciptaan, dan saling peduli dengan keadilan dan kasih.

Institusi-institusi Keuangan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Untuk melengkapi analisis teologis kita tentang keuangan, kita perlu menunjukkan dengan tepat bagaimana orang dapat mengembangkan institusi-institusi keuangan yang mendatangkan kemuliaan, penatalayanan, keadilan, dan kasih dari dasar-dasar yang diciptakan Allah. Institusi yang dimaksudkan di sini adalah struktur-struktur dan mekanisme-mekanisme yang dipakai masyarakat untuk menata aktivitasnya. Empat institusi keuangan utama adalah mata uang, perantara, instrumen, dan harga. Di bagian ini kita akan membahas keempat institusi ini masing-masing, dan menunjukkan bagaimana keempatnya dibangun di atas dasar-dasar Allah dan menjadi cara untuk kita menanggapi Allah dengan taat melalui penatalayanan, keadilan, dan kasih. Di sepanjang jalan kita juga akan membahas beberapa pertanyaan yang muncul.

Van Duzer berpendapat bahwa institusi-institusi bisa termasuk kekuasaan-kekuasaan dan pemerintah-pemerintah yang disebutkan dalam Alkitab, dan dengan demikian diciptakan Allah untuk kebaikan.[1] Ia menyimpulkan bahwa Kolose 1:16-17 bisa jadi merujuk pada institusi-institusi seperti bisnis atau pasar.[2] Ia mengutip Yoder yang berpendapat bahwa Allah menciptakan institusi-institusi untuk memberi "keteraturan, sistem, tatanan" pada ciptaan-Nya.[3] Selaras dengan ini, kami menganut pandangan yang optimistis tentang keuangan; pandangan keuangan "yang dimaksudkan Allah". Selanjutnya kita melihat bahwa maksud Allah tentang keuangan dipengaruhi oleh kejatuhan manusia, dan menyadari bahwa institusi-institusi keuangan dapat, dan sedang, digunakan untuk menimbulkan kerusakan besar dalam masyarakat; dengan menunjukkan penatalayanan yang buruk dan tidak berkeadilan dan kasih kepada sesama manusia.

Mata Uang

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah memampukan manusia untuk merepresentasikan nilai material melalui media yang tahan lama, dapat disimpan, dan dapat dipindahkan. Dalam rancangan penciptaan-Nya yang mula-mula, Allah sudah menciptakan beberapa unsur fisik seperti emas, tampak menarik, kecil, dan relatif langka. Dia juga menciptakan dalam diri manusia kemampuan untuk mengenali dan memberikan nilai pada benda-benda itu. Kemudian, Allah mengizinkan manusia membentuk pemerintah-pemerintah yang akan menggunakan sumber daya yang tidak langka, seperti kertas, untuk merepresentasikan sumber daya yang langka, seperti emas, yang pada waktunya dapat ditukar dengan berbagai macam sumber daya.[1] Di zaman modern kita memiliki uang yang sangat mudah dipindahkan (dan hampir tanpa biaya jika dipindahkan secara elektronik) dan yang memberi akses kepada sumber daya riil seperti makanan, perumahan, pendidikan, dan barang-barang modal produksi. Dapat mengalokasikan sumber daya dengan mudah melalui mata uang merupakan bagian yang penting dari memenuhi mandat penatalayanan atas ciptaan.

Alkitab berisi banyak pengajaran tentang uang. Beberapa pengajaran yang terkenal adalah bahwa “cinta uang adalah akar dari segala kejahatan” (1 Timotius 6:10) dan “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24). Pengajaran-pengajaran ini bukan tentang uang sebagai alat tukar, tetapi lebih tentang sikap manusia terhadap uang dan kekuatan yang ditunjukkannya pada kita. Tetapi, uang sebagai alat tukar bukanlah akar kejahatan. Uang sebagai alat tukar adalah berkat yang dimungkinkan oleh Allah.[2]

Perantara

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Perantara adalah institusi-institusi yang "memproses ulang" sumber daya dari pemberi pinjaman dalam bentuk yang bermanfaat bagi peminjam. Contoh yang sederhana adalah ketika bank menjadi perantara di antara beberapa penyimpan dan satu peminjam utang bisnis. Institusi perantara mencakup semua jenis bank, tetapi ada juga beberapa jenis perantara lain yang penting seperti dana pensiun, perusahaan asuransi jiwa, reksa dana, dana ekuitas swasta, dana lindung nilai, dan entitas-entitas sekuritisasi. Bahkan transaksi keuangan yang "menghilangkan perantara"—seperti ketika perusahaan meminjam uang dengan menerbitkan obligasi bagi pemberi pinjaman, bukan meminjam dari bank—biasanya juga melalui semacam perantara tertentu, seperti bank investasi. Setiap entitas keuangan yang mengumpulkan uang penyimpan dan menginvestasikannya dalam bentuk obligasi bagi peminjam menjalankan fungsi sebagai perantara keuangan. Perantara-perantara ini berfungsi karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial dan heterogen, untuk bertindak sebagai perwakilan, membuat janji-janji, dan menjadi pengambil risiko yang bijaksana.

Perantara memungkinkan manusia memenuhi mandat penatalayanan Allah dengan dua cara utama. Pertama, perantara membangun jaringan para peminjam dan pemberi pinjaman, dan menginvestasikan sumber daya mereka untuk mengidentifikasi dan membangun kepercayaan di antara para pihak. Anda mungkin tidak akan pernah meminjamkan uang kepada orang asing untuk membeli rumah, tetapi Anda bisa menyimpan uang di bank yang meminjamkannya kepada orang asing. Anda memercayai bank karena Anda tahu bank itu memiliki proses untuk memastikan pinjaman itu aman karena diberikan kepada peminjam yang tepat. Kedua, perantara membuat sumber daya dapat ditingkatkan dengan menggabungkan sumber daya banyak penyimpan. Anda tidak dapat meminjamkan cukup uang untuk seseorang membeli rumah, tetapi bank dengan ribuan atau jutaan deposan dapat menggabungkan uang mereka untuk memungkinkan pemberian pinjaman yang besar.

Salah satu cara perantara menunjukkan keadilan adalah dengan memungkinkan keluarga non-elit dan usaha kecil memperoleh akses ke sumber daya. Tanpa perantara, akses sebuah rumahtangga/keluarga ke sumber daya hanya akan terbatas pada relasi-relasi sosial keluarga itu saja. Keluarga-keluarga miskin kemungkinan akan tetap miskin. Dengan adanya perantara, keluarga miskin dapat meminjam sumber daya untuk membeli rumah, mobil, membiayai pendidikan tinggi, atau memulai usaha kecil. Begitu pula dengan usaha-usaha kecil yang tidak punya ukuran atau reputasi untuk menerbitkan obligasi langsung kepada investor. Semua ini memungkinkan terciptanya masyarakat yang lebih adil.

Perantara memungkinkan peminjam dan penyimpan untuk saling peduli kepada satu sama lain, yang seperti telah kita ketahui merupakan tindakan kasih. Perantara memungkinkan peminjam memperoleh dana yang dibutuhkan dengan lebih mudah dan murah daripada jika hanya bergantung pada keluarga dan teman. Perantara juga memungkinkan penyimpan menabung untuk masa depan dengan risiko lebih rendah dan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan menyembunyikan uang itu di bawah kasur atau hanya meminjamkannya kepada kenalan. Meskipun penyimpan dan peminjam tidak pernah bertemu, mereka saling peduli dengan berbagi sumber daya melalui cara ini.

Dapatkah Kita Benar-benar Mengasihi Seseorang melalui Perantara?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Iman & Rekan: Mengandalkan Harapan

Bagaimana Injil mengubah pandangan bank terhadap orang-orang dan bagaimana cara mereka seharusnya diperlakukan, terutama orang-orang sederhana? Terinspirasi oleh iman yang memandang harga setiap orang secara tak ternilai, Bank Guardian memakai pandangan berbeda, yang lebih manusiawi dan penuh harapan, yang juga memberi harapan kepada rumahtangga/keluarga-keluarga biasa maupun nasabah-nasabah komersial.

Jika keuangan adalah sarana kepedulian dan kasih, melakukan keuangan dengan perantara menimbulkan satu pertanyaan. Dapatkah kita mengasihi orang yang bahkan tidak kita kenal?

Tentu saja kita dapat menunjukkan kasih kepada orang yang tidak kita kenal. Banyak dari kita yang mengenal lembaga-lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan orang menunjukkan kasih kepada satu sama lain melintasi jarak dan waktu. Sebagai contoh, karyawan dan donatur LSM-LSM seperti Oxfam, World Vision, dan Palang Merah, melakukan tindakan kasih kepada orang-orang yang membutuhkan di seluruh dunia, meskipun mereka benar-benar tidak mengenal orang-orang yang mereka kasihi itu. Bahkan sesungguhnya pekerjaan yang mengembangkan organisasi-organisasi itu pun merupakan tindakan kasih kepada sesama manusia.[1] Demikian juga, meskipun kita biasanya tidak memikirkan hal ini, para penyimpan yang menabung uang di bank yang memungkinkan peminjam menggunakan sumber daya itu untuk jangka waktu tertentu, bisa melakukan tindakan kasih kepada peminjam itu meskipun identitas orang yang sebenarnya tidak diketahui oleh penyimpan.

Namun hal ini dapat menunjukkan adanya kemungkinan ketegangan antara penatalayanan dan kasih. Perantara-perantara yang lebih besar tampaknya dapat melakukan penatalayanan yang lebih baik karena mereka memiliki peluang untuk meminjam dan meminjamkan di berbagai pasar di seluruh dunia. Tetapi perantara-perantara lokal yang lebih kecil dengan relasi-relasi yang lebih sempit mungkin dapat menunjukkan kasih dengan lebih baik karena mereka bisa mengenal nasabah lebih dekat. Bank nasional besar bisa melakukan penatalayanan yang lebih optimal, dan bank lokal kecil bisa menunjukkan kasih yang lebih intim. Teologi kita akan mendorong bank-bank dan nasabah-nasabah untuk memikirkan potensi pertukaran ini ketika membuat keputusan tentang skala bank mereka. Jika sebuah bank memilih untuk menjadi besar, hal itu harus dilakukan dengan tujuan yang jelas untuk melakukan penatalayanan terbaik secara geografis maupun skalanya. Jika sebuah bank memilih untuk tetap kecil, hal itu harus dilakukan dengan misi yang jelas untuk menjadi sangat baik dalam kasih.[2] Para deposan juga harus memikirkan pertukaran yang sama ketika memutuskan di mana mereka akan melakukan aktivitas perbankan mereka.

Instrumen

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Instrumen keuangan adalah janji di antara dua pihak atau lebih dengan kebutuhan sumber daya yang berbeda yang dirancang untuk memungkinkan kedua pihak menjadi pengambil risiko yang bijaksana ketika masa depan tidak diketahui. Seperti sudah disampaikan di atas, Allah menciptakan manusia untuk menjadi orang yang menepati janji. Unsur penciptaan ini bersama fakta bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, heterogen, terikat waktu, dan menjadi pengambil risiko yang bijaksana di dunia yang tidak pasti ini menghasilkan instrumen-instrumen keuangan. Instrumen keuangan adalah produk-produk yang "dihasilkan" perantara-perantara untuk memenuhi kebutuhan penyimpan dan peminjam dan memungkinkan manusia menaati mandat penciptaan Allah serta menunjukkan keadilan dan kasih dengan cara-cara yang signifikan.

Instrumen keuangan memungkinkan penatalayanan yang baik karena bisa dirancang sesuai dengan risiko, hasil, dan profil waktu peluang penatalayanan tertentu. Jadi, jika perusahaan peminjam memiliki proyek tertentu yang hasilnya sangat bergantung pada masa depan yang tidak pasti (dengan kata lain, berisiko), maka sebuah instrumen keuangan dapat diciptakan untuk mengantisipasi risiko ini dan membantu penyimpan dan peminjam saling menyepakati bagaimana persisnya berbagi sumber daya yang dibutuhkan, yang sangat mungkin dengan instrumen jenis-ekuitas.

Instrumen keuangan juga memungkinkan terciptanya masyarakat yang lebih adil. Instrumen dapat disesuaikan dengan kebutuhan anggota masyarakat yang paling membutuhkan. Pinjaman usaha kecil adalah instrumen yang telah memberi banyak sekali peluang kepada para wirausahawan untuk melayani masyarakat. Pinjaman mahasiswa adalah instrumen yang telah menyediakan peluang besar bagi kaum muda yang keluarganya tidak dapat menabung cukup dana untuk pendidikan. Instrumen-instrumen yang dirancang khusus untuk digunakan dalam kredit-mikro juga memungkinkan keadilan. Pinjaman khusus perumahan dengan uang muka yang lebih kecil dan asuransi pemerintah telah memungkinkan banyak keluarga berpenghasilan rendah untuk memperoleh manfaat dari kepemilikan rumah. Instrumen keuangan memungkinkan anggota masyarakat dengan sumber daya yang cukup/ berlebih untuk menunjukkan keadilan kepada anggota masyarakat yang kurang mampu.[1]

Pinjaman hipotek merupakan contoh kasih yang dimungkinkan oleh instrumen keuangan. Penyimpan membantu peminjam mendapatkan tempat fisik yang membuat ia dan keluarganya dapat berkembang. Sebaliknya, peminjam membantu penyimpan mempersiapkan tahap kehidupan selanjutnya ketika ia sudah tua dan tidak lagi cukup produktif untuk mencukupi diri sendiri. Melalui rancangan penciptaan ini, Allah berharap kita dapat mengembangkan instrumen-instrumen keuangan yang memungkinkan manusia saling mengasihi dengan cara yang bermakna dan bermanfaat. Memang, pihak peminjam dan penyimpan tidak saling mengenal secara spesifik, tetapi mereka mengetahui keberadaan satu sama lain sehingga dapat saling mengasihi dengan cara ini.

Harga

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Harga di pasar keuangan diekspresikan sebagai nilai pengembalian yang diharapkan dari instrumen keuangan, yang pada instrumen utang disebut sebagai suku bunga.[1] Mengapa sebenarnya peminjam dan penyimpan setuju untuk membayar atau menerima nilai pengembalian atau bunga? Apakah itu bagian dari rancangan penciptaan Allah? Kami berpendapat ya, dengan penjelasan sebagai berikut.

Pertama-tama pikirkan hal ini dari sisi peminjam. Idealnya, peminjam akan bersedia dan mampu membayar bunga karena ia dapat menggunakan sumber daya yang dipinjam itu untuk menghasilkan sumber daya yang lebih besar pada waktu mendatang. Peluang-peluang produktif ini diciptakan oleh Allah dan meliputi hal-hal seperti tempat bernaung agar peminjam dapat tetap sehat, menanam benih untuk menghasilkan panen, memperoleh keterampilan melalui pendidikan, membangun jalan atau pabrik, atau membeli mesin yang dapat memproduksi sesuatu yang berguna. Periode waktu dan peluang produktif sama-sama merupakan bagian dari tatanan ciptaan Allah. Ini separuh dari dasar suku bunga yang penting.

Untuk paruhan kedua dasar suku bunga itu, pikirkan hal ini dari sisi pemberi pinjaman. Pemberi pinjaman bersedia memberi akses ke sumber daya tertentu sampai periode waktu mendatang karena dua alasan. Saat ini ia memiliki sumber daya yang berlebih dari yang ia butuhkan. Tetapi di kemudian hari, ada kemungkinan ia akan membutuhkan sumber daya tambahan, seperti misalnya pada saat ia pensiun. Wajar jika ia membiarkan peminjam menggunakan sumber daya itu dalam jangka waktu tertentu dan mengembalikannya lagi kemudian. Untuk melepaskan kendali atas sumber daya selama beberapa waktu, pemberi pinjaman akan menginginkan kompensasi yang setidaknya setara dengan penggunaan terbaik sumber daya itu kemudian. Berkurangnya keinginan pemberi pinjaman untuk menggunakan sumber daya itu saat ini serta pengetahuannya tentang kemungkinan kehidupan pada periode waktu mendatang merupakan hasil langsung dari penciptaan Allah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang terbatas dan terikat waktu.

Jadi, peluang produktif dan kebutuhan pemakaian/konsumsi manusia yang diciptakan Allah, bersama delapan dasar keuangan di atas, membentuk basis untuk suku bunga. Suku bunga bukanlah gagasan manusia yang menyimpang (dari norma); tetapi suku bunga adalah institusi yang dihasilkan langsung dari rancangan penciptaan Allah. Lagipula, suku bunga yang ditetapkan dengan tepat dapat menguntungkan peminjam maupun pemberi pinjaman, dan akan menjadi hasil pertukaran sukarela yang saling menguntungkan.

Suku bunga adalah bagian penatalayanan yang penting. Mekanisme harga ini memberi kejelasan dalam pengambilan keputusan tentang alokasi sumber daya. Jika Anda membayar bunga, Anda akan memiliki dorongan untuk meminjam hanya jika hal itu membantu meningkatkan produktivitas Anda di masa mendatang. Bunga akan mencegah Anda untuk meminjam hanya demi menopang kehidupan yang di luar kemampuan finansial Anda, karena Anda harus membayar lebih banyak esok hari daripada yang Anda konsumsi hari ini. Mekanisme suku bunga mendorong penatalayanan sumber daya keuangan yang baik dari waktu ke waktu. Namun, kami peringatkan agar jangan berasumsi bahwa mekanisme ini secara otomatis mengarah ke bagian "pemeliharaan" dari mandat penciptaan Allah. Tidak semua proyek yang memberi hasil finansial yang positif mengarah pada pemeliharaan ciptaan. Diperlukan para pelaku keuangan yang bijaksana untuk bekerja dalam konteks suku bunga untuk memelihara ciptaan Allah.

Suku bunga memfasilitasi dan menstimulasi pengalokasian-kembali sumber daya yang adil. Suku bunga memberi jalan kepada anggota masyarakat yang tidak memiliki sumber daya untuk mendapatkan akses ke sumber daya hanya dengan setuju memberi kompensasi yang adil kepada pemberi pinjaman atas penggunaan sementara sumber daya itu. Suku bunga memungkinkan pembagian sumber daya yang disepakati secara sukarela dan saling menguntungkan. Suku bunga memungkinkan transaksi keuangan berjalan baik bagi kedua pihak. Tanpa suku bunga (suku bunga nol), aktivitas keuangan akan menjadi hadiah dari pemberi pinjaman kepada peminjam. Tanpa suku bunga, peminjam akan perlu berusaha mendapatkan akses gratis ke sumber daya pemberi pinjaman. Ini akan tampak seperti mengemis, yang kemungkinan bukan cara terbaik untuk menunjukkan keadilan. Tetapi Allah dengan kejeniusan kreativitas-Nya telah mengatur agar keadilan dapat terjadi melalui aktivitas sukarela yang berkelanjutan dan saling menguntungkan di antara manusia, yang salah satunya kita sebut suku bunga.

Dapatkah Transaksi Pasar Benar-benar Mewujudkan Kasih?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Masalah harga memunculkan dua pertanyaan tentang keuangan sebagai bentuk kasih. Pertama, dapatkah kasih diungkapkan dalam relasi pertukaran-nilai pasar? Dengan kata lain, jika peminjam dan pemberi pinjaman sama-sama berharap mendapat keuntungan dari relasi itu, apakah salah satunya benar-benar melakukannya karena kasih? Kedua, karena sebagian besar transaksi keuangan dilakukan secara independen (tanpa hubungan khusus), dapatkah seseorang mengasihi orang lain meskipun tidak ada hubungan pribadi?

Dapatkah seseorang mengasihi orang lain melalui menjual sesuatu dengan harga tertentu? Mengingat bahwa konsep kita tentang kasih adalah berusaha mewujudkan kesejahteraan orang lain sebagai tujuan itu sendiri dan dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia, maka jawabannya adalah ya. Orang bisa mewujudkan kesejahteraan orang lain setiap waktu melalui penyediaan barang dan jasa dengan harga tertentu. Ketika para petani menyediakan pangan yang sehat, mereka membantu konsumen untuk berkembang, meskipun konsumen membayar untuk bahan makanan itu. Kita tidak menganggap guru-guru yang baik sebagai “prajurit bayaran” hanya karena mereka dibayar. Sebagian besar pekerjaan dalam ekonomi modern dibayar, dan barang dan jasa yang dihasilkan pekerjaan dijual dengan harga tertentu. Jika mengenakan harga menafikan kemungkinan kasih, maka hampir tidak ada pekerjaan yang dapat menunjukkan kasih.

Mengapa keuangan dengan suku bunga pasar tampaknya bisa kurang/tidak menunjukkan kasih? Mungkin karena uang—tidak seperti pengajaran atau hasil pertanian - tampak seperti produk homogen yang tidak dapat dibedakan (tidak ada ciri khusus). Seorang petani menunjukkan kasih dengan menjual hasil pertanian yang baik. Dapatkah pemberi pinjaman menunjukkan kasih dengan meminjamkan uang yang baik/halal? Jawabannya, secara mengejutkan, adalah ya. Uang (pinjaman) itu sendiri tentu saja tidak lebih baik atau lebih buruk dari uang lainnya. Tetapi situasi, kondisi, dan ketentuan peminjaman merupakan kesempatan bagi peminjam dan pemberi pinjaman untuk saling peduli. Jangka waktu pinjaman, ketentuan pembayarannya, persyaratan agunan, denda gagal bayar, asuransi, perlindungan terhadap inflasi, dan berbagai ketentuan lainnya dapat membuat sebuah pinjaman lebih cocok untuk memungkinkan peminjam dan pemberi pinjaman berkembang. Verifikasi pendapatan, penilaian properti, uji tuntas/pemeriksaan menyeluruh, kemudahan memahami dokumen pinjaman, ketersediaan informasi yang obyektif, dan faktor-faktor lain yang terkait dengan inisiasi pinjaman juga dapat menunjukkan kasih dan hormat. Lokasi dan kemudahan akses ke bank, petugas pinjaman, perbandingan suku bunga, keterlibatan masyarakat, iklan, dan faktor-faktor lainnya dapat membantu menjangkau masyarakat yang kurang terlayani. Konseling kredit, dialog yang penuh rasa hormat tentang penggunaan hasil—entah untuk konsumsi atau pun investasi produksi, edukasi produk, dan lain-lainnya dapat menunjukkan kasih dengan membantu orang menghindari utang jika hal itu akan merugikan mereka. Dalam transaksi-transaksi ekuitas, keterbukaan pasar, keakuratan laporan keuangan, integritas orang-orang yang memiliki informasi internal juga mengasihi dan menghormati para investor. Meskipun uang itu sendiri dari pemberi pinjaman yang mana pun sama saja, tetapi menunjukkan kasih—atau kepedulian dengan rasa hormat—dapat sangat bervariasi.

Sebagai contoh, pemberi pinjaman hipotek dapat membantu keluarga yang berpenghasilan rendah untuk membeli rumah daripada menyewa. Jika rumah, suku bunga, jangka waktu pinjaman, verifikasi pendapatan, dan semua faktor lainnya ditangani dengan benar, hal ini dapat memberi keuntungan luar biasa bagi keluarga itu saat mereka mulai membangun ekuitas. Hal ini juga menguntungkan semua pihak yang meminjamkan uang itu, yang biasanya para penyimpan uang di bank atau dana pensiun. Demikian pula, bank investasi yang membantu pengusaha menerbitkan penawaran umum perdana (IPO) penjualan sahamnya dalam mendapatkan modal untuk mengembangkan bisnis menunjukkan semacam kasih kepada para nasabah wirausaha masa depan, karyawan, pemasok, dan masyarakat, selain pemegang saham yang membeli saham itu. Semua ini adalah transaksi-transaksi dengan suku bunga pasar yang menunjukkan kasih kepada peminjam maupun pemberi pinjaman.

Akhirnya, kasih dapat ditunjukkan dengan menghormati dan menepati janji yang dibuat dalam transaksi. Tentu saja kebanyakan hal ini diwajibkan oleh hukum, tetapi di sini kami hendak mengatakan bahwa kasih dapat ditunjukkan dalam transaksi-transaksi pasar dengan bertindak melampaui atau di atas hukum dengan memikirkan kepentingan terbaik pihak lain, meskipun hal itu tidak diwajibkan atau diharapkan, dan meskipun tidak ada ekspektasi untuk mendapat keuntungan di masa depan dengan melakukannya. Ini berarti mengusahakan kesejahteraan pihak lain sebagai tujuan itu sendiri. Lagipula, pasar-pasar barang dan jasa lainnya secara teratur melakukan hal ini—pikirkan tentang perawatan kesehatan, misalnya—dan tidak ada alasan untuk keuangan tidak dapat melakukan hal yang sama. Sebagian besar, jika tidak semuanya, transaksi pasar dapat menunjukkan ciri kasih ini, dan banyak yang melakukannya.

Apakah Alkitab Melarang Mengenakan Bunga?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pertanyaan lainnya adalah apakah harga dalam keuangan—khususnya bunga—dilarang oleh Alkitab. Selama berabad-abad orang Kristen telah memperdebatkan penerapan ayat-ayat Alkitab yang tampaknya melarang mengenakan bunga atau mengambil agunan [1] seperti yang tampak pada ayat berikut ini:

Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apa pun yang dapat dibungakan. Dari orang asing engkau boleh memungut bunga, tetapi dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga supaya Tuhan, Allahmu, memberkati engkau dalam segala usahamu di negeri yang engkau masuki untuk mendudukinya. (Ulangan 23:19-20)

Untuk mempelajari ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang relevan, lihat Menggunakan Aset untuk Kepentingan Umum (Ulangan 23:1-24:13), "Pinjaman dan Agunan (Keluaran 22:25-27)", "Tahun Sabat dan Tahun Yobel (Imamat 25)”, “Orang Benar Tidak Mengambil Laba atau Bunga Yang Terus Bertambah (Yehezkiel 18.8a)", “Orang Benar Tidak Menindas, Tetapi Mengembalikan Agunan Orang yang Berutang padanya (Yehezkiel 18:5,7)".

Pada umumnya orang Kristen menyimpulkan bahwa bunga pada dasarnya tidak dilarang di masyarakat modern, tetapi praktik pemberian pinjaman—yang mencakup suku bunga dan agunan—tidak boleh mengambil keuntungan dari orang yang lemah atau membuat orang menjadi miskin. Inilah yang sebenarnya sedang kami advokasi di sini—bahwa keuangan dimaksudkan sebagai sarana penatalayanan, kepedulian, dan menghormati.

Kesimpulan tentang Institusi-institusi Keuangan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Untuk menyimpulkan teologi kita, kami berpendapat bahwa tujuan keuangan adalah untuk membawa kemuliaan bagi Allah, memampukan manusia menjadi penatalatan atas ciptaan, serta menunjukkan keadilan dan kasih. Kami mengatakan hal ini dengan menunjukkan bahwa Allah telah menciptakan dasar-dasar keuangan dan kemudian menunjukkan bagaimana dasar-dasar ini memampukan manusia untuk membangun empat institusi khusus di atas dasar-dasar itu. Institusi-institusi ini memampukan manusia menaati mandat penatalayanan atas ciptaan Allah dan mandat untuk menyatakan keadilan dan kasih Allah. Di bawah ini kami memberikan beberapa contoh tentang bagaimana dengan kerangka ini penebusan Kristus dapat memungkinkan terwujudnya penatalayanan, keadilan, dan kasih.

Keuangan dan Kejatuhan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Ekonom Inggris Memberikan Perspektif tentang Krisis Global (Klik untuk Membaca)

Di dalam sejarah belakangan ini, tak ada yang lebih menunjukkan sifat kejatuhan keuangan daripada resesi ekonomi tahun 2008. Apa yang salah? Adakah masa depan bagi kapitalisme? Bagaimana masyarakat dan pemerintah melangkah maju? Dalam wawancara dengan Al dan Nancy Erisman dari Ethix, Lord Brian Griffiths memberikan jawaban yang menginspirasi, berbelas kasih, dan penuh pengharapan atas pertanyaan-pertanyaan ini.[1]

Sejauh ini kita sudah memikirkan keuangan sebagaimana yang Allah maksudkan semula. Tetapi kita tahu bahwa Kejatuhan manusia telah merusak setiap aspek ciptaan. Sebelum penebusan Kristus bagi dunia tercapai sepenuhnya, kita hidup di dunia yang dibentuk oleh kebaikan ciptaan Allah maupun kejahatan akibat Kejatuhan. Dosa telah sangat merusak kemampuan dan kecenderungan manusia dalam menjadi penatalayan dan menunjukkan keadilan dan kasih melalui pasar keuangan.

Beberapa dosa sangat merusak keuangan. Karena keuangan pada dasarnya tentang mengalokasikan sumber daya, dosa keserakahan berdampak besar pada keuangan.[2] Karena Allah tidak menciptakan kita untuk mahatahu, dan karena informasi itu penting dalam keuangan, dosa berbohong juga menimbulkan masalah-masalah yang sangat besar dalam keuangan. Bahkan, keserakahan dan kebohongan ini dapat sangat merusak kemampuan institusi-institusi keuangan dalam melakukan kebaikan yang seharusnya mereka lakukan, dan menimbulkan pertanyaan apakah institusi-institusi ini sudah sedemikian dirusak oleh dosa sampai tidak dapat ditebus.

Banyak penulis telah mengupas masalah-masalah dalam keuangan dan alasan-alasan yang mendasarinya. Shiller mengingatkan kita bahwa menurut Keynes kita memiliki dorongan spontan untuk bertindak yang disebutnya dorongan naluriah/insting yang menyebabkan pasar-pasar keuangan menghadapi masalah.[3] Stiglitz menguraikan berbagai masalah dalam bank-bank investasi (perantara keuangan berskala besar), yang berfokus khusus pada struktur-struktur kompensasi.[4] Ia berpendapat bahwa "sistem keuangan telah gagal menjalankan fungsi-fungsi utamanya: dalam mengelola risiko, mengalokasi modal, dan mempertahankan biaya transaksi yang rendah." Terrill berpendapat bahwa kerusakan moral telah terjadi di perbankan investasi dan para nasabah, dan kita memerlukan tranformasi mental untuk mengejar apa yang "baik dan benar." [5] Van Duzer menulis bab yang merinci bagaimana dosa memengaruhi pasar-pasar, termasuk keuangan.[6] Ia menunjukkan bahwa relasi-relasi yang rusak di antara manusia dan dengan Allah menyebabkan banyak masalah di pasar-pasar. Davis berpendapat bahwa selama tiga dekade terakhir beberapa unsur keuangan—khususnya investasi institusional dan sekuritisasi—telah berkontribusi pada meredupnya organisasi-organisasi yang berperan dalam masyarakat dan munculnya mentalitas pedagang berwawasan jangka pendek yang dapat merusak masyarakat.[7]

Mengingat yang sudah disampaikan para penulis ini dan juga penulis-penulis lainnya, kami tidak akan membahas lebih jauh tentang kejahatan-kejahatan yang dilakukan manusia dengan sengaja dalam keuangan, seperti kecurangan, penipuan, kekerasan, rasisme, diskriminasi etnis, gender, dan prasangka-prasangka lainnya, dst. Hal-hal ini kurang lebih sama dengan pelanggaran etika di bidang-bidang pekerjaan yang lain. Artikel Tinjauan Etika Kerja di www.theologyofwork.org memberikan kerangka pemikiran etis dari perspektif Alkitab.

Kami di sini lebih tertarik pada bagaimana Kejatuhan dapat membatasi kemampuan keuangan - dalam arti transaksi-transaksi dengan suku bunga pasar yang dilakukan secara sukarela - dalam menunjukkan penatalayanan, keadilan, dan kasih kepada peminjam dan pemberi pinjaman. Adakah situasi-situasi yang di dalamnya keuangan harus digantikan dengan beberapa bentuk pertukaran lain—khususnya badan amal swasta atau pemerintah—dan jika ada, seberapa luas cakupannya? Di dunia yang telah jatuh, masih adakah ruang bagi keuangan untuk memenuhi tujuan-tujuan yang dimaksudkan Allah?

Ketidakmampuan Orang Miskin untuk Meminjam

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Idealnya, keuangan dengan suku bunga pasar menjadi berkat bagi peminjam maupun pemberi pinjaman. Ini sama di semua jenis perdagangan. Memproduksi dan menjual segala macam produk dan jasa dimaksudkan untuk menguntungkan pembeli dan penjual. Namun, ada kalanya orang membutuhkan produk atau jasa tetapi tidak mampu membelinya. Hal ini terjadi juga di bidang keuangan seperti makanan, tempat tinggal, listrik, perawatan kesehatan, atau yang lain-lainnya. Orang mungkin memerlukan akses untuk memiliki uang namun tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman, atau hanya ditawari suku bunga yang sangat tinggi yang tidak terjangkau. Seperti halnya pada produk lainnya, ketika hal ini terjadi, ini bukan lagi transaksi komersial, tetapi subsidi, pemindahan, atau pemberian/hadiah. Kita biasanya tidak berharap para produsen menjual barang dan jasa mereka dengan merugi atau memberikannya secara gratis. Sebaliknya, kita bergantung pada donatur, lembaga bantuan, atau pemerintah untuk memberikan subsidi atau membelikan dan menyumbangkan barang-barang itu kepada yang membutuhkan. Namun pada saat yang sama, kita sangat berharap, atau setidaknya berharap, orang-orang yang berkelebihan mau bermurah hati.

Keuangan sama dengan semua sektor lainnya dalam hal ini. Alkitab memuji kemurahan hati dalam hal keuangan—

Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan hidup di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagaimana terhadap pendatang dan warga asing, supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau mengambil riba atau laba darinya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu. (Imamat 25:35-36)
Jika ada di antaramu orang miskin, salah seorang saudaramu di salah satu kotamu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati atau pun menutup tangan terhadap saudaramu yang miskin itu. Sebaliknya engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa pun yang diperlukan. (Ulangan 15:7-8)

—sama seperti memuji kemurahan hati dalam hal-hal lainnya,

Jawabnya [Yohanes Pembaptis] kepada mereka: "Siapa yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian” (Lukas 3:11)

Kemurahan hati itu penting. Tetapi pasar dengan harga-harga kemungkinan bukan cara terbaik untuk menunjukkan kemurahan hati kepada anggota keluarga (“saudara” di Imamat 25:35) dan orang-orang yang membutuhkan. Jika kita memikirkan pasar gandum, kita tahu bahwa Allah menciptakan dasar untuk pasar-pasar gandum karena kita makhluk sosial, tidak semua orang memiliki keterampilan yang sama untuk menanam gandum, gandum tidak tumbuh sama baiknya di semua tempat, gandum tidak dapat dipanen setiap hari sepanjang tahun, gandum kaya akan nutrisi dan tubuh kita tidak dapat mencerna cukup banyak gandum pada saat panen untuk bertahan sampai panen berikutnya. Alkitab tidak berisi larangan umum tentang membeli dan menjual gandum. Tetapi Alkitab mendorong kita untuk tidak menimbun gandum, melainkan untuk memberikannya kepada orang miskin, janda-janda, dan para yatim piatu (Imamat 19; Lukas 12:16-21). Alkitab memiliki ajaran yang sama tentang sumber daya keuangan sebagaimana telah kita bahas di atas. Tidak ada ketidaksesuaian yang alkitabiah antara mengalokasikan sebagian besar sumber daya keuangan melalui pasar dengan harga (suku bunga) sebagaimana yang dimaksudkan Allah dalam rancangan penciptaan-Nya, dengan membagikan sebagian sumber daya keuangan secara cuma-cuma (suku bunga nol) kepada keluarga atau orang yang miskin. Keduanya dapat menunjukkan kasih kepada orang lain. Bagi orang yang memiliki peluang produktif untuk mendapatkan uang, meminjamkan dengan bunga dapat menjadi bentuk kasih. Meminjamkan tanpa bunga kepada keluarga dan orang miskin yang tidak memiliki akses kepada uang juga dapat menjadi kasih.

Secara umum, fakta bahwa keuangan berkaitan dengan uang, bukan barang dan jasa, tidak memberi kewajiban beramal yang lebih besar pada pemberi pinjaman dibandingkan bisnis atau institusi lainnya. Sesungguhnya, setiap bisnis yang tidak lagi beroperasi secara menguntungkan justru menghancurkan nilai manfaat yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat. Seperti telah kita ketahui, dasar-dasar keuangan mencakup memberi manfaat kepada pemberi pinjaman maupun peminjam. Setiap kali suatu institusi keuangan membagikan uang, ia mengurangi keuntungan yang diharapkan investornya sendiri. Dan mengingat investor terbesar saat ini adalah dana pensiun [1] maka beramal kepada peminjam terutama akan mengurangi pendapatan pensiun bagi para pensiunan. Jadi, sebagaimana pada industri-industri lainnya, beramal besar-besaran bukanlah fungsi keuangan.

Eksploitasi Peminjam

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Para pemegang keuangan memiliki kewajiban untuk meminjamkan secara menguntungkan tetapi tidak boleh mengambil keuntungan dari kelemahan para peminjam.

Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta riba, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta laba. (Imamat 25:37)

Dengan kata lain, pemberi pinjaman tidak boleh mengeksploitasi "kesulitan" yang dihadapi calon peminjam untuk mendapat keuntungan atau memaksakan persyaratan yang memberatkan seperti menagih bunga di muka. Secara keseluruhan ayat ini berbicara khusus tentang syarat memberi pinjaman kepada sanak saudara (Imamat 25:35), tetapi begitu keputusan meminjamkan dibuat dengan alasan apa pun, kewajiban untuk tidak mengeksploitasi kesulitan peminjam berlaku untuk semua orang.

Isu moral muncul dari ketidakseimbangan kekuasaan antara pemberi pinjaman dan peminjam. Pemberi pinjaman memiliki banyak uang, tetapi peminjam berada dalam situasi yang sangat sulit. Bahkan dalam banyak situasi suku bunga pasar saat ini, pemberi pinjaman lebih berkuasa daripada peminjam. Sebagai contoh, sebuah bank pada umumnya memiliki sumber daya, informasi, pengetahuan hukum, pengaruh legislatif, dan jangkauan geografis yang jauh lebih besar daripada nasabah yang mengambil pinjaman. Terkadang undang-undang melarang eksploitasi tertentu dalam pemberian pinjaman, tetapi sekalipun pemberian pinjaman yang eksploitatif itu legal, tindakan itu tidak benar. Bagaimanapun, tidak ada industri yang dapat berkembang dalam jangka panjang dengan mengeksploitasi pelanggannya. Salah satu kontribusi yang dapat dilakukan orang Kristen dalam keuangan adalah memanfaatkan pengaruh apa pun yang kita miliki sebagai deposan, karyawan, investor, direktur, agen, dan pemberi suara untuk mengurangi eksploitasi terhadap orang-orang lemah.

Penggunaan Pinjaman Yang Tidak Produktif

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Maksud Allah adalah keuangan menjadi bentuk saling berbagi dari waktu ke waktu antara peminjam dan pemberi pinjaman. Saling berbagi itu hanya akan bermanfaat jika pinjaman itu bisa meningkatkan produktivitas. Karena itu, peminjam dan pemberi pinjaman sama-sama memiliki tanggung jawab atas penggunaan uang pinjaman. Hipotek dapat meningkatkan produktivitas peminjam dengan memperkecil dana perumahan. Sewa mobil (jangka panjang) memungkinkan peminjam bisa bekerja secara efisien. Pinjaman bisnis dapat digunakan untuk membiayai peralatan, inventaris, piutang, atau aset-aset pertumbuhan lainnya. Di sisi lain, hipotek yang dilakukan untuk properti spekulatif atau tanpa verifikasi pendapatan atau ekuitas yang cukup dapat merugikan peminjam maupun pemberi pinjaman. Sewa mobil dengan suku bunga promosi atau pembayaran akhir yang lebih besar dari harga mobil bisa mendorong peminjam untuk membeli mobil yang tak mampu dibelinya. Pinjaman bisnis yang dilakukan tanpa uji tuntas dapat dihamburkan sia-sia untuk aset-aset yang tidak produktif.

Contoh-contoh ini memperkuat pandangan alkitabiah bahwa keuangan adalah kewajiban-bersama peminjam dan pemberi pinjaman. Peminjam wajib membatasi diri dengan pinjaman yang akan membuatnya produktif dan bisa diperkirakan dapat dilunasi. Pemberi pinjaman wajib membantu peminjam dalam hal ini dan menolak untuk meminjamkan dalam situasi yang tidak tepat. Pada praktiknya, hal ini bisa cukup sulit untuk dilakukan. Peminjam mungkin kurang memiliki pengetahuan untuk mengukur kesesuaian pinjaman, atau hanya berpikir jangka pendek atau impulsif. Pemberi pinjaman juga dapat salah mengukur kesesuaian pinjaman, atau mereka mungkin serakah, tidak bermoral, atau berwawasan jangka pendek.

Sebagai contohnya, krisis keuangan global tahun 2008 diawali dengan gagal bayar hipotek-hipotek yang lebih didasarkan pada spekulasi—baik oleh peminjam maupun pemberi pinjaman—daripada peluang memiliki rumah yang baik. Pemberi pinjaman tahu bahwa pembayaran kembali akan bergantung pada harga rumah yang terus meningkat dari nilai sebelumnya yang sudah tumbuh pesat. Namun karena mereka biasanya menjual hipotek kepada investor institusional dan cepat menerima kembali uang mereka, mereka tidak banyak terdorong untuk menunjukkan kehati-hatian terhadap kepentingan jangka panjang peminjam. Pada akhirnya ketiga pelaku—peminjam, pemrakarsa hipotek, dan investor obligasi hipotek yang dijaminkan—kurang memperhatikan sifat keuangan yang terikat-waktu dan pentingnya relasi di antara semua pihak yang berbagi risiko dan keuntungan. Sebaliknya, pemberian pinjaman yang berdasarkan prinsip Alkitab mewajibkan semua pihak memerhatikan apakah pinjaman itu—penggunaannya oleh peminjam—benar-benar produktif.

Masih Adakah Ruang untuk Keuangan Memenuhi Tujuan-tujuan Allah?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Seperti yang ditunjukkan situasi-situasi ini, di dunia yang telah jatuh, adakalanya keuangan dengan suku bunga pasar tidak dapat memenuhi kebutuhan calon peminjam tertentu atau pun menguntungkan pemberi pinjaman. Hanya karena Allah menciptakan dasar untuk pasar dan harga, tidak berarti keuangan selalu mampu melakukan penatalayanan, keadilan, dan kasih yang menyeluruh dalam pengalokasian sumber daya. Kita harus berhati-hati agar tidak memuja pasar atau membenarkan sesuatu karena itu hasil dari transaksi pasar. Pasar keuangan adalah berkat pemberian Allah, tetapi bukan satu-satunya berkat dan tidak akan menjadi berkat dalam setiap situasi. Pemerintah dan lembaga-lembaga nirlaba juga merupakan berkat pemberian Allah. Selanjutnya, di dunia yang telah jatuh, pasar-pasar dan institusi-institusi keuangan bisa menimbulkan masalah besar bagi masyarakat dan individu. Pasar perlu diseimbangkan dengan lembaga-lembaga masyarakat lainnya dan selalu dievaluasi berdasarkan kehendak Allah bagi kita sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya.[1] Masih ada ruang untuk keuangan memenuhi tujuan-tujuan Allah, tetapi hanya melalui penebusan Allah keuangan dapat dipulihkan ke rancangannya yang semula.

Keuangan Yang Ditebus

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Ketaatan dan Perbankan: Wawancara dengan John Gage (Klik di sini untuk Membaca)

Dalam wawancara di Institut Washington tentang Iman, Vokasi dan Budaya ini, bankir John Gage berbicara tentang bagaimana ketika ia menempuh pendidikan di seminari teologi ia menyadari bahwa Allah memakai kita semua dalam berbagai pekerjaan bagi misi-Nya di dunia, dan merasakan panggilan yang diperbarui untuk menjalani kehidupan yang taat di industri perbankan.

Bagaimana keuangan berpartisipasi dalam penebusan Allah di dunia? Allah, oleh karena kasih karunia-Nya telah mengaruniakan Anak-Nya agar kita dapat diperdamaikan dengan-Nya dan seluruh ciptaan-Nya dapat dibebaskan dari akibat dosa. Kasih karunia Allah yang menebus, yang bekerja melalui orang-orang di institusi keuangan, dapat menebus kemampuan keuangan untuk menghormati Allah, menumbuhkembangkan penatalayanan yang baik, dan menunjukkan keadilan dan kasih kepada banyak orang. Mengingat arti istilah-istilah ini akan bermanfaat di sini. Penatalayanan adalah ketaatan pada perintah Allah untuk mengembangkan ciptaan-Nya dari yang berupa seperti taman menjadi seperti kota dan mengingat bahwa sumber-sumber daya itu pada akhirnya adalah milik Allah. Keadilan adalah memperlakukan orang lain dengan rasa hormat yang pantas sesuai hak-hak mereka, yang didasarkan pada fakta bahwa setiap manusia dikasihi Allah. Kasih adalah kepedulian terhadap orang lain dengan berusaha mewujudkan kesejahteraan mereka sebagai tujuan itu sendiri. Dengan menggunakan kerangka ini, mari kita pikirkan beberapa contoh sederhana tentang cara kerja keuangan yang ditebus.

Bekerja di Bank

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Para pekerja di bank berada di garis depan pelayanan keuangan. Langkah awal mereka untuk bertindak sebagai sarana penebusan adalah memahami bahwa peran tertentu mereka di sebuah perantara keuangan berkaitan dengan keadilan dan kasih bagi para penyimpan atau peminjam, dan kemudian memfokuskan usaha-usaha mereka untuk menjadi sangat baik dalam hal keadilan dan kasih itu.

Sebagai contoh, seorang anggota departemen penyelesaian utang bank dapat mengadvokasi untuk memerhatikan situasi-situasi peminjam. Kegaduhan terkait "robo-signer" (pejabat yang asal menandatangani dokumen tanpa memeriksa kebenarannya) dalam krisis hipotek di AS menunjukkan bahwa terlalu banyak peminjam yang merasa aspek relasional keuangan telah hilang dan kebutuhan mereka tidak diperhitungkan. Ini tidak berarti bahwa pekerja bank harus selalu menentang segala bentuk penyitaan. Namun, ini menunjukkan perlunya advokasi untuk memberi perhatian secara pribadi kepada peminjam yang kesusahan.

Seorang profesional sumber daya manusia di bank dapat memberi perhatian khusus pada keterbebanan pelamar kerja dalam keadilan dan kasih sebagai salah satu faktor perekrutan. Jika, seiring berjalannya waktu, pekerja keuangan tidak dapat menemukan bagaimana pekerjaannya dapat mewujudkan kasih dan keadilan bagi para penyimpan dan peminjam, atau tidak dapat membuat organisasinya bergerak ke sana, mungkin ia tidak cocok untuk organisasi itu.

Para profesional keuangan perlu memperhatikan tindakan mereka sendiri tentang dua dasar keuangan yang alkitabiah. Pertama, para profesional keuangan biasanya bertindak sebagai perwakilan atau penatalayan bagi nasabah mereka. Ini membuat mereka wajib mengutamakan kebaikan nasabah di atas kepentingan pribadi. Kedua, para profesional keuangan sering bernegosiasi dan mengadakan kontrak-kontrak atau perjanjian. Ini membuat mereka wajib menilai dengan cermat kemampuan dan kemauan organisasi mereka untuk menepati janji yang disepakati. Penatalayanan dan menepati janji benar-benar merupakan dasar yang kudus dalam keuangan dan para profesional keuangan harus melakukannya dengan bertanggung jawab di hadapan Allah.

Membuat Keputusan Memberi Pinjaman

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Bagaimana teologi keuangan memberitahu kita tentang apakah akan memberi pinjaman kepada nasabah tertentu dan dengan suku bunga berapa? Beberapa dasar keuangan yang alkitabiah terlihat jelas di sini. Pertama, para bankir tidak mahatahu, jadi mereka perlu bekerja dengan cermat untuk memahami situasi dan kebutuhan calon peminjam. Mereka memiliki peran penting dalam membantu peminjam mengevaluasi apakah pinjaman itu benar-benar akan bermanfaat baginya, dan bagaimana cara menggunakannya secara produktif.

Kedua, tidak ada pihak yang tahu tentang masa depan, jadi kedua pihak harus berhati-hati dan konservatif dalam memikirkan skenario-skenario masa depan. Keduanya dianjurkan untuk membicarakan apa saja yang bisa menjadi masalah selama masa peminjaman dan bagaimana mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi itu.

Ketiga, para bankir dapat membimbing pemberi pinjaman untuk memberi pinjaman yang paling menunjukkan keadilan dan kasih kepada peminjam. Pinjaman yang dapat dilunasi peminjam tanpa kesulitan adalah pinjaman yang adil dan penuh kasih. Pinjaman yang tidak menggoda peminjam dengan suku bunga rendah yang kemudian meningkat merupakan pinjaman yang adil dan penuh kasih. Sebaliknya pinjaman—dalam banyak kasus kartu kredit—yang cenderung menimbulkan utang yang lebih besar di masa mendatang bukanlah cara yang baik untuk menunjukkan keadilan dan kasih.

Suku bunga bervariasi sesuai tingkat risiko pinjaman, yang diperlukan agar peminjam juga ikut ambil bagian dalam imbal hasil pinjaman yang telah disesuaikan dengan risiko. Tetapi, suku bunga yang terlalu tinggi sampai menghambat peminjam untuk berkembang bertentangan dengan tujuan keuangan yang alkitabiah. Prinsip-prinsip Alkitab menyarankan beberapa langkah tindakan ketika suku bunga pasar untuk kredit peminjam terlalu tinggi untuk ditanggung. Pertama, berikan pinjaman dengan suku bunga subsidi. Kedua, bantu peminjam menemukan cara untuk menggunakan pinjaman secara menguntungkan sekalipun suku bunganya tinggi. Ketiga, bantu orang tersebut untuk menemukan sumber daya melalui pemerintah atau badan amal daripada meminjam. Keempat, bantu orang tersebut untuk menemukan cara untuk hidup tanpa pinjaman. Boleh jadi, solusi paling alkitabiah untuk pinjaman bagi orang miskin adalah pinjaman dengan suku bunga nol yang diberikan oleh organisasi nirlaba yang disertai konseling tentang keuangan dan mata pencaharian.[1] Beberapa solusi ini tidak tercakup dalam keuangan yang kita definisikan, tetapi orang-orang yang bekerja di institusi keuangan kemungkinan merupakan satu-satunya kontak yang dimiliki orang miskin untuk membantu mereka menavigasi labirin keuangan. Hal ini dapat menjadi kesempatan menunjukkan keadilan dan kasih yang melampaui persyaratan—dan jam kerja yang dibayar—dari pekerjaan keuangan. Memberi pinjaman kepada orang miskin merupakan hal yang sangat menantang, yang hampir pasti menjadi alasan mengapa Alkitab mengajarkan tentang topik ini secara khusus.[2]

Bekerja di Hedge Fund (Dana Lindung Nilai)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dana lindung nilai adalah dana-bersama yang berinvestasi dalam instrumen keuangan khusus yang biasanya tidak tersedia bagi penyimpan perorangan. Dana lindung nilai seringkali diatur secara longgar, memiliki daya ungkit tinggi, dan dapat berinvestasi di lebih banyak instrumen keuangan dengan biaya administrasi yang lebih mahal daripada reksa dana biasa. Dana lindung nilai menjadi pemberitaan belakangan ini karena beberapa manajernya memperoleh bayaran pengelolaan yang sangat besar, beberapa manajer lainnya dituduh melakukan perdagangan “orang dalam”, dan ketika harga saham menurun tajam, dana lindung nilai cenderung disalahkan.

Dana lindung nilai dapat dipahami dengan bantuan kerangka keuangan kita. Dana lindung nilai dapat mengasihi penyimpan dengan memberi kesempatan menyimpan dengan pengembalian yang lebih besar di dalam risiko dan korelasi yang lebih rendah dalam siklus ekonomi. Banyak dana lindung nilai berinvestasi dalam derivatif (instrumen keuangan turunan, yang nilainya tergantung pada aset lain yang menjadi acuannya), dan dengan demikian memberi peluang mengurangi risiko di berbagai pihak para peminjam derivatif, selain para investor. Dengan cara ini, dana lindung nilai dapat menunjukkan kasih kepada perusahaan-perusahaan yang ingin mengurangi risiko. Dana lindung nilai dapat dianggap sebagai pedagang grosir di pasar sekuritas yang bergerak dalam bisnis membeli produk yang kelebihan pasokan dan menjual produk yang kekurangan pasokan, dan dengan demikian berusaha mendapatkan keuntungan dan juga membantu memperbaiki mekanisme pasar. Dengan cara ini, mereka melayani masyarakat dengan membuat harga sekuritas lebih akurat dalam mencerminkan nilai intrinsik.

Kerumitan investasi dana lindung nilai tertentu dapat menyulitkan dalam menjelaskan dengan tepat bagaimana mereka menunjukkan keadilan dan kasih. Jika semua posisinya adalah pertukaran nilai pasar secara sukarela, maka dapat diasumsikan masing-masing pihak berharap mendapat keuntungan. Namun, kerumitan itu juga bisa menutupi subsidi-subsidi tersembunyi, ketidakseimbangan kekuasaan, informasi yang tidak seimbang, penghindaran pajak, atau pelanggaran dasar-dasar keuangan alkitabiah lainnya. Beberapa dana lindung nilai, karena strategi investasi tertentunya, dapat cukup jelas dalam cara mereka mengasihi penyimpan dan peminjam, sementara beberapa lainnya mengalami kesulitan dalam melakukannya. Para profesional keuangan dan investor sebaiknya menyelidiki dengan saksama apakah dana lindung nilai tertentu—atau investasi apa pun—mendatangkan penatalayanan yang baik, keadilan, dan kasih, ataukah hanya beroperasi untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya bagi para manajernya dengan mengorbankan pihak-pihak lain.

Peminjam

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kita sudah melihat bahwa meminjam dapat menjadi tindakan penatalayanan, keadilan dan kasih yang dimampukan oleh penciptaan Allah. Meminjam bisa membuat orang mendapatkan akses ke sumber daya yang digunakan untuk membuat peminjam maupun pemberi pinjaman berkembang.

Jumlah Utang Yang Tepat

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dapatkah prinsip-prinsip Alkitab membantu kita untuk menentukan berapa besar harus meminjam atau kapan harus meminjam? Beberapa dasar keuangan yang alkitabiah dapat membantu. Pertama, kita hidup di dunia ciptaan Allah yang terikat-waktu dengan siklus-siklus kehidupan sosial dan individu yang heterogen. Ada waktu untuk berutang guna berinvestasi dalam peluang pertumbuhan atau infrastruktur yang akan melayani konsumen atau warga masyarakat, dan ada pula waktu untuk membayar utang, dan waktu-waktu ini berbeda-beda pada setiap individu. Sebagai contoh, orang dengan sumber daya berlebih pada waktu resesi bisa menunjukkan keadilan dan kasih dengan berinvestasi dan bukan menimbun uang tunai. Dari siklus kehidupan pribadi, orang-orang muda biasanya mendapat manfaat dari tabungan atau pinjaman yang disimpan orang-orang yang lebih tua.

Kedua, tujuan meminjam adalah untuk mendapatkan akses ke sumber daya yang dapat digunakan untuk menciptakan sumber daya mendatang yang dapat digunakan untuk membayar kembali. Meminjam untuk pendidikan, peluang pertumbuhan, dan memperkecil dana perumahan dapat memuliakan Allah. Meminjam untuk menopang gaya hidup yang di luar kemampuan Anda, sebagaimana sudah dibahas di atas, merupakan "Penggunaan Pinjaman Yang Tidak Produktif." Ajaran Alkitab menentang segala bentuk keserakahan, yang bisa termasuk meminjam uang untuk alasan yang salah (Lukas 12:14).

Ketiga, peminjam harus cukup yakin bahwa ia dapat menepati janji untuk membayar utangnya—atau setidaknya memahami dan bersedia menerima risiko-risiko jika tidak membayar yang sudah disepakati dengan pemberi pinjaman—sebagai tindakan kasih. Hal ini akan menyingkirkan pengajuan pinjaman yang palsu atau menyesatkan maupun referensi pribadi yang tidak benar. Sebagai contoh, meminjam hari ini karena Anda memperkirakan akan kehilangan pekerjaan besok tidak mungkin menunjukkan kasih kepada pemberi pinjaman. Meningkatkan saldo kartu kredit tanpa perencanaan yang jelas untuk membayarnya juga bukan tindakan kasih.

Keempat, jumlah yang dipinjam seharusnya tidak berlebihan tetapi tepat, bijaksana, sesuai dengan risiko-risiko yang akan dihadapi. Bagaimana mungkin mengasihi—diri sendiri maupun orang yang memberi pinjaman—jika kita selalu meminjam hingga batas kredit kita tanpa ada ruang untuk situasi tak terduga?

Prinsip-prinsip keuangan alkitabiah berlaku untuk keputusan-keputusan keuangan pribadi, institusi, maupun pemerintah, meskipun contoh-contoh di atas kebanyakan untuk individu. Secara umum, prinsip-prinsip ini menganjurkan level utang yang wajar dalam sebagian besar kasus dan penggunaan ekuitas keuangan individu, perusahaan, dan pemerintah yang lebih besar. Secara khusus, para peminjam mungkin tidak akan mengambil banyak utang jika mereka ingat bahwa menurut rancangan Allah, meminjam itu menciptakan relasi timbal balik jangka panjang yang dimaksudkan Allah untuk membawa manfaat bagi pemberi pinjaman maupun peminjam. Akses terhadap utang bukanlah satu-satunya perhatian kita. Memberkati orang lain melalui meminjam dan meminjamkan jelas ya.

Memberi Agunan untuk Mendapatkan Pinjaman

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kami membahas beberapa ayat Alkitab tentang agunan di bagian, Kebangkrutan, penghapusan utang, dan modifikasi pinjaman”. Pandangan orang Kristen arus utama adalah bahwa memakai rumah sebagai agunan pinjaman tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab. Pandangan ini sesuai dengan pemahaman kita tentang peran keuangan yang dimaksudkan Allah dalam masyarakat. Tetapi, menurut Amsal 22:26-27 dan berdasarkan ajaran Alkitab tentang menjadi pengambil risiko yang bijaksana, pemberi pinjaman tampaknya tidak boleh menerima rumah sebagai agunan jika mereka tidak sangat yakin peminjam dapat membayar utangnya. Demikian pula, menurut ajaran Alkitab, pemilik rumah tidak boleh menjaminkan rumahnya sebagai agunan jika ia tidak sangat yakin akan dapat membayar utang itu. Hal ini sangat kontras dengan praktik-praktik pemberian pinjaman saat ini di berbagai negara maju yang membolehkan orang mengambil pinjaman yang relatif besar dibandingkan tingkat dan kestabilan pemasukan mereka, atau riwayat mereka dalam membayar utang. Dengan agunan, ada kecenderungan untuk pemberi pinjaman berpikir, "Saya dapat menyita jika perlu, jadi saya tak perlu berpikir terlalu keras tentang apakah utang ini baik bagi peminjam atau dapat dibayar," dan ada kecenderungan untuk peminjam berpikir, "Jika saya tidak dapat membayar, bank dapat mengambil rumah itu dan saya tidak melakukan hal yang merugikan." Pemikiran kedua pihak ini tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dan dengan peran keuangan yang dimaksudkan Allah sebagai bentuk keadilan dan kasih.

Kebangkrutan, Penghapusan Utang dan Modifikasi Pinjaman

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dasar-dasar keuangan yang diciptakan Allah meliputi penciptaan kita sebagai makhluk sosial yang mampu mengambil risiko dan tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Hal ini tentu saja akan menimbulkan kasus-kasus pinjaman yang tak dapat dilunasi. Jadi, pinjaman yang tak dapat dilunasi belum tentu merupakan dosa. Gagal bayar bisa terjadi akibat peminjaman yang ceroboh, pengelolaan yang tidak cakap, menyembunyikan atau menutupi pendapatan dari pemberi pinjaman, memberi keterangan palsu kepada pemberi pinjaman saat mengajukan pinjaman, memberi keterangan palsu kepada peminjam saat memberikan pinjaman, atau persyaratan pinjaman yang tidak dirancang untuk membantu peminjam berkembang. Tetapi pada kasus-kasus lain, situasi-situasi tak terduga bisa menyebabkan pinjaman yang dilakukan dengan baik pun gagal. Peminjam mungkin kehilangan pekerjaan, menanggung biaya medis yang tak terduga, atau menderita kerugian akibat bencana alam.

Dalam situasi-situasi seperti ini, pemberi pinjaman wajib menghapuskan utang itu atau memodikasi pembayaran utang. Di Alkitab, hal ini dilakukan dengan membolehkan peminjam menyimpan agunannya jika hal itu diperlukan untuk kesejahteraan atau kemampuannya mencari nafkah.

Jika engkau sampai mengambil jubah sesamamu sebagai gadai, engkau harus mengembalikannya kepada dia sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja selimutnya, pakaian yang menempel pada kulitnya. Apa lagi yang dapat dipakainya untuk tidur? (Keluaran 22:26–27)
Kilangan atau batu kilangan atas tidak boleh diambil sebagai gadai karena hal itu berarti mengambil nyawa orang sebagai gadai. (Ulangan 24:6)
Apabila engkau meminjamkan sesuatu kepada sesamamu, engkau tidak boleh masuk ke rumahnya untuk mengambil jaminan darinya. Engkau harus berdiri di luar, dan orang yang kauberi pinjaman itu harus membawa jaminan itu ke luar kepadamu. Jika orang itu miskin, janganlah engkau tidur dengan barang jaminannya; kembalikanlah jaminan itu kepadanya pada waktu matahari terbenam, supaya ia dapat tidur dengan jubahnya sendiri dan memberkati engkau. Maka engkau akan menjadi benar di hadapan TUHAN, Allahmu. (Ulangan 24:10-13)

Jubah sesama yang diambil sebagai agunan harus dikembalikan sebelum matahari terbenam karena sesama itu membutuhkannya agar ia tidak kedinginan di malam hari. Batu kilangan tidak boleh disita karena hal itu akan menghilangkan kemampuan menggiling gandum untuk mencari nafkah. Bahkan agunan yang sah tidak boleh diambil dengan paksa, seperti dengan memasuki rumah peminjam. Semua ini melindungi peminjam yang kesusahan dari malapetaka lebih lanjut, meskipun ini akan membuat pemberi pinjaman bukan saja kehilangan keuntungan yang diharapkan dari pinjaman itu, tetapi juga kehilangan modal. Situasi peminjam dirasakan juga oleh pemberi pinjaman. Inilah sifat relasi berbasis-waktu yang melekat pada keuangan.

Dalam ekonomi modern, perlindungan-perlindungan ini diwujudkan dalam undang-undang kebangkrutan, yang juga dikenal sebagai insolvensi (ketidakmampuan membayar utang), pemeriksaan, kuratel (pengampunan oleh kurator), administrasi (pengelolaan/restrukturisasi utang oleh administator) atau penyitaan (penguasaan aset). Pada umumnya, undang-undang itu mencegah pemberi pinjaman mengambil kebutuhan-kebutuhan pokok untuk hidup dan bekerja sebagai pembayaran dari peminjam yang gagal bayar. Undang-undang modern juga mencegah pemberi pinjaman memasuki rumah peminjam untuk menyita barang-barang, meskipun mereka bisa meminta aparat penegak hukum untuk melakukannya. Undang-undang juga mencegah peminjam dijebloskan ke penjara karena gagal bayar, sebuah tindakan tidak manusiawi yang kontraproduktif yang biasa dilakukan selama berabad-abad sebelum zaman modern. Bisa jadi pengembangan undang-undang kebangkrutan modern merupakan penggenapan yang telah lama tertunda dari prinsip-prinsip yang ada di Alkitab tentang hal ini.

Meskipun demikian, para peminjam harus melakukan apa pun yang dapat mereka lakukan untuk membayar utang. Chewning berpendapat, berdasarkan sifat Allah yang tidak berubah dan Amsal 6:1-5, jika kita tidak dapat membayar utang, kita harus merendahkan diri dan memohon belas kasihan dari pemiutang kita, dan bukan mencari perlindungan hukum atas kebangkrutan kita.[1] Mungkin ini terlalu jauh, mengingat ayat-ayat di atas melindungi peminjam yang kesusahan dengan hukum Allah, bukan belas kasihan pemberi pinjaman. Tetapi Chewning sungguh benar bahwa langkah pertama bagi peminjam adalah mencari bantuan dan nasihat pemberi pinjaman. Seperti telah kita ketahui, pinjaman dimaksudkan untuk menciptakan relasi jangka panjang antara peminjam dan pemberi pinjaman. Mengajukan kebangkrutan tanpa terlebih dahulu berusaha membuat rencana yang disetujui bersama dengan pemberi pinjaman hampir tak pernah menjadi cara yang menghormati relasi. Tiemstra mendorong kita untuk memandang risiko sebagai hal yang serius dan bahwa meminjam bukanlah “cara mudah untuk mendapat uang tanpa bekerja; meminjam adalah ungkapan serius dari tanggung jawab kita di hadapan Allah.”[2] Keuangan adalah tentang keadilan dan kasih yang serius, dan ketika hal-hal yang terjadi tidak seperti yang diharapkan peminjam dan pemberi pinjaman, keadilan dan kasih tak boleh terhenti, tetapi justru harus ditingkatkan di kedua belah pihak.

Penyimpan dan Pemberi Pinjaman

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Orang yang menyediakan sumber daya—pemberi pinjaman dan penyimpan—memiliki tanggung jawab untuk menginvestasikan sumber daya mereka untuk kepentingan bersama, dan bukan untuk keuntungan mereka saja. Perspektif ini kadang disebut “investasi yang bertanggung jawab secara sosial.” Kita akan membahasnya melalui contoh berinvestasi dalam saham, bukan menyimpan uang di bank atau memberikan pinjaman, meskipun prinsip-prinsip yang sama berlaku di semua jenis investasi.

Sebuah perusahaan menerbitkan saham karena ia yakin ia memiliki lebih banyak peluang produktif daripada memiliki sumber daya. Perusahaan itu mendapatkan akses ke sumber daya tambahan dengan menjual saham kepada investor.[1] Investor mengasihi perusahaan itu—dan akhirnya juga para nasabah, pemasok, pekerja, dan komunitasnya—dengan mengizinkannya menggunakan beberapa sumber daya untuk suatu periode. Perusahaan itu mengasihi penyimpan dengan memberikan pengembalian yang pantas dalam bentuk dividen atau apresiasi saham.

Para investor harus membeli saham hanya di perusahaan-perusahaan yang memenuhi tujuan Allah dalam keuangan. Perusahaan-perusahaan ini akan bertindak sebagai penatalayan yang baik atas ciptaan Allah, menunjukkan kepedulian dan kasih melalui produk dan jasa yang mereka jual, dan berlaku adil dalam praktik-praktik ketenagakerjaan dan relasi-relasi komunitas. Secara praktiknya, hal ini sulit dilakukan investor, karena untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang ribuan perusahaan akan memakan waktu. Namun, sekarang ada beberapa opsi untuk para investor dapat berinvestasi dalam reksa dana yang menyaring perusahaan-perusahaan melalui tindakan penatalayanan, keadilan, dan kasih yang buruk. Banyak yang telah ditulis tentang investasi yang bertanggung jawab secara sosial dan investasi yang bertanggung jawab secara alkitabiah, dan pembahasan rinci tentang hal ini tidak tercakup dalam artikel ini.[2] Namun, pendekatan investasi ini sangat selaras, dan memang diamanatkan oleh, kerangka yang dikembangkan dalam tulisan ini. Kami tidak melihat ada dasar alkitabiah yang memisahkan iman seseorang dari keputusan untuk berinvestasi dalam saham.

Kesimpulan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah menciptakan dasar-dasar keuangan yang mengarah pada pengembangan institusi-institusi keuangan yang berupa mata uang, perantara, instrumen, dan harga. Idealnya, institusi-institusi ini akan membuat keuangan berfungsi sebagai salah satu sarana Allah—di antara banyak sarana lainnya—dalam penatalayanan, keadilan, dan kasih. Para peminjam dan pemberi pinjaman akan bertukar atau berbagi sumber daya dari waktu ke waktu dengan cara yang mengembangkan sumber daya dan membantu semua orang untuk berkembang. Namun, Kejatuhan telah merusak keuangan secara luas, seperti halnya setiap aspek ciptaan Allah lainnya. Secara khusus, dosa keserakahan dan kebohongan meracuni keuangan dan sangat melumpuhkan kemampuan kita untuk memenuhi rencana-rencana Allah. Meskipun demikian, keuangan masih memiliki peran positif untuk dilakukan dalam karya penebusan Allah di dunia. Beberapa contoh menunjukkan bahwa keuangan dapat ditebus oleh kasih karunia Allah dan dapat digunakan untuk penatalayanan, keadilan, dan kasih. Para profesional keuangan, peminjam, dan penyimpan/pemberi pinjaman semuanya memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam keuangan sebagai tindakan penebusan. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk mengalami penebusan itu sendiri ketika kita berusaha menerapkan dasar-dasar keuangan yang diperbarui dalam keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan kita sendiri.

Tugas selanjutnya perlu dilakukan agar kita dapat lebih memahami dan menghargai maksud Allah dalam keuangan. Pertama, keterkaitan yang lebih erat antara unsur-unsur spesifik kerangka kerja kita dengan praktik-praktik tertentu perlu dikembangkan. Para profesional keuangan, misalnya, dapat menerapkan kerangka alkitabiah ini pada praktik-praktik tertentu dalam pinjaman hipotek atau manajemen investasi. Kedua, kita perlu makin menjembatani kesenjangan antara pandangan tentang keuangan yang ditebus dengan kejatuhan keuangan yang sebenarnya. Meskipun beberapa contoh sudah diberikan, pemikiran, tindakan, dan institusi-institusi perlu dikembangkan untuk memungkinkan para profesional di bidang keuangan lebih menghormati peran keuangan yang dimaksudkan Allah dalam masyarakat. Ketiga, meskipun kerangka teologi yang dikembangkan dalam artikel ini dapat disesuaikan untuk derivatif dan asuransi, artikel ini tidak membahas topik-topik tersebut. Keempat, kita telah melihat bahwa pasar-pasar keuangan tidak selalu membuat manusia mampu saling melayani, terutama orang miskin, dan pengembangan peran keuangan secara penuh yang berkaitan dengan pemerintah dan badan-badan amal belum dilakukan. Akhirnya, kami membatasi keuangan dalam arti pertukaran di antara peminjam dan pemberi pinjaman (dan padanan-padanan ekuitasnya) dari waktu ke waktu. Dalam pemakaian umum, keuangan juga dapat merujuk pada alokasi sumber daya dalam rumah tangga atau organisasi yang tidak melibatkan pertukaran, seperti dalam penganggaran, akuntansi, desain produk, perencanaan proyek, dan analisis keuangan internal. Artikel lain tentang topik-topik ini mungkin perlu dibuat.