Dasar-dasar Keuangan Diciptakan oleh Allah
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Allahlah yang memilih menciptakan kita dengan cara tertentu yang memungkinkan adanya keuangan. Ini bukan berarti Allah menciptakan institusi atau sistem keuangan tertentu, tetapi bahwa manusia diciptakan dengan cara yang memberi peran pada keuangan dalam tujuan Allah. Konsep ini sangat penting dalam teologi kita. Jika Allah tidak menciptakan dasar-dasar keuangan, maka keuangan itu murni penemuan manusia yang tidak memiliki peran apa pun dalam tujuan Allah bagi manusia. Namun, jika Allah menciptakan dasar-dasar keuangan, maka Dia pasti melakukannya untuk suatu tujuan, dan tujuan itu harus sesuai dengan kehendak-Nya yang dinyatakan. Kita akan membahas delapan dasar keuangan ini untuk melihat apakah hal itu benar-benar lahir dari penciptaan Allah.[1]
Kita Terikat-Waktu
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiAllah menciptakan dunia dengan waktu dan tempat untuk hidup manusia yang terbatas. Melalui penciptaan Allah, kita memiliki hari-hari, musim-musim, generasi-generasi, dan umur/masa hidup (Kejadian 1, Mazmur 104).[1] Selanjutnya, kita perlu menyadari tentang waktu dan akan dimintai pertanggungjawaban atas waktu hidup kita (Mazmur 90:12, Pengkhotbah 3, Amsal 6:6-11, Amsal 20:4). Kana berpendapat bahwa waktu adalah sumber daya Allah dan kita sebagai pengelola waktu.[2]
Mengalokasikan sumber daya di antara orang-orang dari berbagai periode waktu merupakan dasar yang menopang keuangan. Sumber daya keuangan dibutuhkan selama beberapa hari oleh karena waktu produksi atau pengiriman, atau beberapa bulan oleh karena bisnis musiman, atau setengah tahunan karena berkaitan dengan musim tanam, atau selama beberapa tahun untuk pengembangan dan peluncuran produk baru, atau puluhan tahun untuk membangun pabrik atau membeli rumah, atau hampir seumur hidup untuk tabungan pensiun. Di dunia dengan kebutuhan, peluang, dan ketersediaan sumber daya yang bervariasi dari waktu ke waktu, keuangan merupakan sarana utama untuk menyesuaikan sumber daya dengan kebutuhan dari waktu ke waktu.
Kita Makhluk Sosial
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiManusia diciptakan untuk menjadi makhluk sosial dan hidup dalam komunitas, dan kita memiliki hasrat untuk bersama orang lain. Sebagaimana dikatakan Allah, “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja” (Kejadian 2:18). Lagipula, kita diciptakan segambar dengan Allah (Kejadian 1:26-27; 2 Korintus 3:8), dan Tritunggal Yang Mahakudus yang berada dalam kesatuan yang sempurna merupakan model komunitas untuk kita (Galatia 4:1-7). Sebagai bentuk cara berbagi sumber daya di antara manusia, keuangan pada dasarnya merupakan aktivitas sosial. Dengan menciptakan kita sebagai makhluk sosial, Allah meletakkan dasar untuk pertukaran sumber daya, yang bentuk krusialnya adalah keuangan.
Kita Heterogen
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiManusia diciptakan dengan beragam keterampilan, kebutuhan, dan keinginan. Di Alkitab, kita melihat keberagaman dalam ciptaan Allah ini ketika Dia mengaruniakan berbagai macam keterampilan kepada manusia untuk membangun tabernakel (Keluaran 35:30-36:5) dan membangun kembali Yerusalem sekembalinya sisa-sisa umat Allah dari pembuangan di Babel (Ezra 7:6-7; Nehemia 1, 2). Paulus mengajarkan bahwa setiap kita diberi karunia yang berbeda-beda (1 Korintus 12:12-31). Selain itu, karena kita semua tidak dilahirkan pada waktu yang sama, masyarakat manusia memiliki beragam tingkat usia dan tahap kehidupan. Sebagian orang masih kecil dan belum dapat mencari makan dan mengusahakan tempat tinggal sendiri, sebagian orang muda lainnya baru saja mulai dapat melakukannya, dan sebagian orang lainnya lagi sedang berada pada masa-masa sangat produktif dan memiliki sumber daya yang melebihi kebutuhan mereka saat ini, sementara yang lainnya lagi sudah lanjut usia dan membutuhkan bantuan untuk menopang diri sendiri, atau perlu memanfaatkan sumber daya yang dikumpulkan pada tahun-tahun kehidupan mereka sebelumnya.
Keberagaman atau heterogenitas ini merupakan dasar dalam pasar keuangan karena pada suatu saat sebagian orang akan memiliki sumber daya yang berlebih, sementara yang lain memiliki kebutuhan atau peluang untuk memakai sumber daya yang tidak mereka miliki saat ini. Sebagai contoh, sebagian dari kita mungkin perlu meminjam uang untuk mengejar peluang bisnis atau membangun infrastruktur demi memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi. Sementara yang lain akan menjadi penyimpan dalam periode tertentu kehidupan mereka dan dapat meminjamkannya untuk memenuhi kebutuhan orang yang meminjam.
Kita Bertindak Sebagai Perwakilan
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiManusia diciptakan untuk bertindak bagi orang lain, untuk menjadi penatalayan atau perwakilan. Contoh utamanya adalah Allah memerintahkan kita untuk mengurus ciptaan-Nya dan mengelola anugerah-Nya (1 Petrus 4:10). Kita juga tahu bahwa Allah memanggil Yusuf untuk bertindak sebagai penatalayan bagi Potifar dan juga Firaun (Kejadian 39:2-6; 41:41-44). Perumpamaan Yesus tentang talenta menjelaskan bahwa kita adalah para penatalayan-Nya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang Dia inginkan dari kita (Matius 25:14-30).
Keuangan tergantung pada orang-orang yang bertindak sebagai perwakilan atau penatalayan bagi orang lain. Para eksekutif bertindak sebagai perwakilan bagi para pemegang saham perusahaan. Manajer reksa dana bertindak atas nama para investor dalam memutuskan saham-saham atau obligasi yang akan diinvestasikan. Para pengacara memakai keahliannya untuk melayani kepentingan klien mereka dalam transaksi-transaksi keuangan. Keseluruhan cabang literatur keuangan didedikasikan untuk memahami dengan lebih baik berbagai relasi para perwakilan di bidang keuangan. Keuangan bisa ada karena Allah menciptakan manusia dengan kemampuan untuk bertindak bagi kepentingan orang lain.
Kita Membuat Janji-janji
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiAllah adalah Allah yang membuat janji dan perjanjian. Cerita Alkitab adalah cerita tentang janji-janji Allah yang ditepati. Manusia diciptakan menurut gambar-Nya, dan karenanya kita memiliki cerita-cerita Alkitab tentang manusia yang membuat janji kepada satu sama lain. Contohnya, cerita Rut bergantung pada janji-janji di antara orang-orang dari bangsa yang berbeda (Rut 1:16-18). Paulus merujuk pada janji-janji manusia di Galatia 3:15. Manusia diciptakan untuk dapat membuat dan menepati janji kepada satu sama lain.
Setiap instrumen keuangan adalah janji di antara dua pihak atau lebih, yang tidak akan mungkin terjadi jika janji-janji bukan bagian dari ciptaan Allah. Pinjaman hipotek (Kredit Pemilikan Rumah) adalah janji untuk membayar sejumlah uang tertentu setiap bulan. Selembar saham adalah janji untuk menerima dividen (pembagian keuntungan) di masa mendatang dan hak untuk memilih anggota dewan. Dalam ekonomi modern, beberapa janji kita cenderung menjadi sangat rumit dan rinci sehingga biasanya dibuat tertulis. Tetapi perjanjian tertulis ini pada dasarnya menunjukkan kemampuan kita yang diciptakan untuk membuat dan menepati janji. Kemampuan ini begitu sentral dalam keuangan sehingga Alkitab mengajar kita untuk tidak berjanji berlebihan dalam keuangan kita (Amsal 22:26-27).
Kita Tidak Mahatahu
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiManusia tidak mengetahui segalanya, dan setiap kita secara individu hanya mengetahui sebagian kecil saja dari yang dapat diketahui. Allah menciptakan setiap kita dengan keunikan pikiran yang berbeda dari orang lain dalam menerima, memproses, dan mengingat berbagai hal. Usaha manusia tergantung pada setiap kita yang memakai pengetahuan kita masing-masing untuk kebaikan bersama, bukan pada setiap kita yang mempelajari segala hal yang dibutuhkan untuk berhasil.
Pengetahuan yang terbatas dan informasi yang tidak seimbang dimediasi oleh pasar-pasar keuangan. Ini berarti ketika suatu pinjaman dibuat, peminjam lebih memiliki informasi tentang kemampuannya melunasi daripada pemberi pinjaman. Ini berarti ketika kita membeli saham, penjual kemungkinan mengetahui sesuatu tentang saham itu yang tidak kita ketahui. Ketidakseimbangan ini akan memengaruhi kesediaan kita untuk berpartisipasi dalam pasar keuangan dan memengaruhi harga keuangan. Keuangan dibangun di atas dua kewajiban yang mengubah informasi tidak seimbang dari sebagai penghalang menjadi peluang. Pertama, kita menggunakan janji untuk menyatakan kepastian tentang informasi yang kita miliki yang tidak dimiliki pihak lain. Janji saya untuk membayar hipotek, dengan sanksi bisa kehilangan rumah, memberi Anda keyakinan untuk menyimpan uang di bank yang membiayai hipotek itu, meskipun Anda tidak mengetahui perkiraan penghasilan saya di masa depan. Kedua, kita melarang pemalsuan informasi dalam transaksi keuangan. Jika dokumen investasi Anda mengatakan ada pasar senilai $3 miliar untuk produk-produk yang seperti Anda miliki, informasi ini pasti akurat. Karena itu, kita dapat memanfaatkan informasi yang diberikan orang lain, meskipun kita tidak memiliki pengetahuan sendiri tentang keakuratannya.
Kita Menciptakan Sumber Daya untuk Masa Depan Yang Tidak Kita Ketahui
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiAllah menciptakan risiko karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan (Pengkhotbah 8:7). Tetapi Allah menciptakan kita dengan kemampuan untuk memengaruhi kejadian-kejadian di masa depan, khususnya dengan kemampuan menciptakan hal-hal baru yang akan terwujud di masa depan. Miller menguraikan tiga pandangan tentang risiko, dan yang ketiga adalah “penciptaan peluang” di mana imajinasi dan kreativitas manusia membuat masa depan tak bisa diprediksi karena kita mungkin—atau mungkin tidak—dapat mewujudkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada.[1] Selaras dengan ini, Buchanan dan Vanberg (1991) berpendapat bahwa pasar paling baik dipahami sebagai proses kreatif, bukan proses penemuan atau pengalokasian.[2] Menurut rancangan Allah, masa depan bukanlah hal yang sudah pasti, tetapi proses yang masih berlangsung yang dipengaruhi oleh pilihan manusia.
Risiko ini sangat berdampak pada keputusan-keputusan keuangan.[3] Sebagian besar instrumen keuangan dan penetapan harga instrumen menunjukkan ketidakpastian ini. Pengajuan pinjaman ditolak karena ketidakpastian, atau diberi harga lebih tinggi untuk mengimbangi persentase yang diperkirakan gagal. Harga saham naik turun karena ketidakpastian. Perjanjian utang disertai syarat pelaporan dan jaminan karena ketidakpastian. Pasar-pasar keuangan sangat dipersulit oleh ketidakpastian, meskipun memberi manfaat yang besar juga bagi masyarakat karena risiko itu bisa dikelola dan dialokasikan- kembali melalui mekanisme keuangan.
Kita Pengambil Risiko
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiAllah menciptakan kita untuk dapat mengambil risiko dan memberikan dukungan alkitabiah untuk mengambil risiko (Kejadian 1:28-30; 2:15; Matius 25:14-30; Lukas 19:11-27; Yohanes 12:24). Kita diciptakan menurut gambar Allah yang mengambil risiko, yang telah mengambil “risiko dengan menciptakan dunia yang unik dan manusia berkehendak bebas untuk menguasainya.” [1] Allah menciptakan kita agar kita mengalami risiko, tetapi kita tahu bahwa Allah memelihara.[2] Namun, kita juga diberi banyak pengajaran Alkitab agar bijaksana dalam mengambil risiko.[3] Gregersen mendefinisikan risiko sebagai gabungan dari peristiwa-peristiwa alam, peristiwa-peristiwa dalam masyarakat, dan makna yang dibawanya pada seseorang.[4] Gregersen mengutip Luhmann yang berpendapat bahwa percaya adalah posisi bersedia mengambil risiko, yang menciptakan siklus positif antara kepercayaan dan risiko. Gregersen berpendapat bahwa Alkitab mengajarkan “dunia diciptakan oleh Allah yang baik dengan cara sedemikian rupa sampai mendorong sikap berani mengambil risiko dan menerima ganjarannya dalam jangka panjang.”[5]
Sikap manusia terhadap risiko sangat penting dalam keuangan. Orang biasanya bersedia mengambil risiko tertentu tetapi tidak terlalu banyak, dan banyaknya bervariasi tergantung individu dan situasi. Kemampuan mengambil risiko serta keengganan mengambil risiko yang tidak perlu ini adalah bagian dari rancangan penciptaan Allah. Allah dengan hikmat-Nya telah menciptakan kita dengan kemampuan bawaan untuk menyeimbangkan risiko dengan ganjaran, dan kita melihat hal ini tercermin pada harga-harga keuangan. Dengan kesadaran ini kita dapat mengakui bahwa risiko yang dipahami dan dikelola sesuai dengan rancangan penciptaan Allah.
Kesimpulan tentang Dasar-dasar Keuangan Yang Diciptakan Allah
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDelapan aspek penciptaan ini—khususnya penciptaan manusia—membentuk fondasi keuangan. Keuangan menjembatani kesenjangan-kesenjangan yang dapat menghalangi orang memanfaatkan sumber daya yang tidak terpakai untuk menumbuhkan dan meningkatkan produktivitas manusia serta berbagi sumber daya secara sosial untuk saling menguntungkan. Dengan kata lain, keuangan mengubah kondisi-kondisi kehidupan manusia menjadi kesempatan-kesempatan untuk memuliakan Allah, melayani sebagai pengelola ciptaan, dan saling peduli dengan keadilan dan kasih.
