Bootstrap

Institusi-institusi Keuangan

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Skyscraper 620

Untuk melengkapi analisis teologis kita tentang keuangan, kita perlu menunjukkan dengan tepat bagaimana orang dapat mengembangkan institusi-institusi keuangan yang mendatangkan kemuliaan, penatalayanan, keadilan, dan kasih dari dasar-dasar yang diciptakan Allah. Institusi yang dimaksudkan di sini adalah struktur-struktur dan mekanisme-mekanisme yang dipakai masyarakat untuk menata aktivitasnya. Empat institusi keuangan utama adalah mata uang, perantara, instrumen, dan harga. Di bagian ini kita akan membahas keempat institusi ini masing-masing, dan menunjukkan bagaimana keempatnya dibangun di atas dasar-dasar Allah dan menjadi cara untuk kita menanggapi Allah dengan taat melalui penatalayanan, keadilan, dan kasih. Di sepanjang jalan kita juga akan membahas beberapa pertanyaan yang muncul.

Van Duzer berpendapat bahwa institusi-institusi bisa termasuk kekuasaan-kekuasaan dan pemerintah-pemerintah yang disebutkan dalam Alkitab, dan dengan demikian diciptakan Allah untuk kebaikan.[1] Ia menyimpulkan bahwa Kolose 1:16-17 bisa jadi merujuk pada institusi-institusi seperti bisnis atau pasar.[2] Ia mengutip Yoder yang berpendapat bahwa Allah menciptakan institusi-institusi untuk memberi "keteraturan, sistem, tatanan" pada ciptaan-Nya.[3] Selaras dengan ini, kami menganut pandangan yang optimistis tentang keuangan; pandangan keuangan "yang dimaksudkan Allah". Selanjutnya kita melihat bahwa maksud Allah tentang keuangan dipengaruhi oleh kejatuhan manusia, dan menyadari bahwa institusi-institusi keuangan dapat, dan sedang, digunakan untuk menimbulkan kerusakan besar dalam masyarakat; dengan menunjukkan penatalayanan yang buruk dan tidak berkeadilan dan kasih kepada sesama manusia.

Mata Uang

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Allah memampukan manusia untuk merepresentasikan nilai material melalui media yang tahan lama, dapat disimpan, dan dapat dipindahkan. Dalam rancangan penciptaan-Nya yang mula-mula, Allah sudah menciptakan beberapa unsur fisik seperti emas, tampak menarik, kecil, dan relatif langka. Dia juga menciptakan dalam diri manusia kemampuan untuk mengenali dan memberikan nilai pada benda-benda itu. Kemudian, Allah mengizinkan manusia membentuk pemerintah-pemerintah yang akan menggunakan sumber daya yang tidak langka, seperti kertas, untuk merepresentasikan sumber daya yang langka, seperti emas, yang pada waktunya dapat ditukar dengan berbagai macam sumber daya.[1] Di zaman modern kita memiliki uang yang sangat mudah dipindahkan (dan hampir tanpa biaya jika dipindahkan secara elektronik) dan yang memberi akses kepada sumber daya riil seperti makanan, perumahan, pendidikan, dan barang-barang modal produksi. Dapat mengalokasikan sumber daya dengan mudah melalui mata uang merupakan bagian yang penting dari memenuhi mandat penatalayanan atas ciptaan.

Alkitab berisi banyak pengajaran tentang uang. Beberapa pengajaran yang terkenal adalah bahwa “cinta uang adalah akar dari segala kejahatan” (1 Timotius 6:10) dan “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Matius 6:24). Pengajaran-pengajaran ini bukan tentang uang sebagai alat tukar, tetapi lebih tentang sikap manusia terhadap uang dan kekuatan yang ditunjukkannya pada kita. Tetapi, uang sebagai alat tukar bukanlah akar kejahatan. Uang sebagai alat tukar adalah berkat yang dimungkinkan oleh Allah.[2]

Perantara

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Perantara adalah institusi-institusi yang "memproses ulang" sumber daya dari pemberi pinjaman dalam bentuk yang bermanfaat bagi peminjam. Contoh yang sederhana adalah ketika bank menjadi perantara di antara beberapa penyimpan dan satu peminjam utang bisnis. Institusi perantara mencakup semua jenis bank, tetapi ada juga beberapa jenis perantara lain yang penting seperti dana pensiun, perusahaan asuransi jiwa, reksa dana, dana ekuitas swasta, dana lindung nilai, dan entitas-entitas sekuritisasi. Bahkan transaksi keuangan yang "menghilangkan perantara"—seperti ketika perusahaan meminjam uang dengan menerbitkan obligasi bagi pemberi pinjaman, bukan meminjam dari bank—biasanya juga melalui semacam perantara tertentu, seperti bank investasi. Setiap entitas keuangan yang mengumpulkan uang penyimpan dan menginvestasikannya dalam bentuk obligasi bagi peminjam menjalankan fungsi sebagai perantara keuangan. Perantara-perantara ini berfungsi karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial dan heterogen, untuk bertindak sebagai perwakilan, membuat janji-janji, dan menjadi pengambil risiko yang bijaksana.

Perantara memungkinkan manusia memenuhi mandat penatalayanan Allah dengan dua cara utama. Pertama, perantara membangun jaringan para peminjam dan pemberi pinjaman, dan menginvestasikan sumber daya mereka untuk mengidentifikasi dan membangun kepercayaan di antara para pihak. Anda mungkin tidak akan pernah meminjamkan uang kepada orang asing untuk membeli rumah, tetapi Anda bisa menyimpan uang di bank yang meminjamkannya kepada orang asing. Anda memercayai bank karena Anda tahu bank itu memiliki proses untuk memastikan pinjaman itu aman karena diberikan kepada peminjam yang tepat. Kedua, perantara membuat sumber daya dapat ditingkatkan dengan menggabungkan sumber daya banyak penyimpan. Anda tidak dapat meminjamkan cukup uang untuk seseorang membeli rumah, tetapi bank dengan ribuan atau jutaan deposan dapat menggabungkan uang mereka untuk memungkinkan pemberian pinjaman yang besar.

Salah satu cara perantara menunjukkan keadilan adalah dengan memungkinkan keluarga non-elit dan usaha kecil memperoleh akses ke sumber daya. Tanpa perantara, akses sebuah rumahtangga/keluarga ke sumber daya hanya akan terbatas pada relasi-relasi sosial keluarga itu saja. Keluarga-keluarga miskin kemungkinan akan tetap miskin. Dengan adanya perantara, keluarga miskin dapat meminjam sumber daya untuk membeli rumah, mobil, membiayai pendidikan tinggi, atau memulai usaha kecil. Begitu pula dengan usaha-usaha kecil yang tidak punya ukuran atau reputasi untuk menerbitkan obligasi langsung kepada investor. Semua ini memungkinkan terciptanya masyarakat yang lebih adil.

Perantara memungkinkan peminjam dan penyimpan untuk saling peduli kepada satu sama lain, yang seperti telah kita ketahui merupakan tindakan kasih. Perantara memungkinkan peminjam memperoleh dana yang dibutuhkan dengan lebih mudah dan murah daripada jika hanya bergantung pada keluarga dan teman. Perantara juga memungkinkan penyimpan menabung untuk masa depan dengan risiko lebih rendah dan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan menyembunyikan uang itu di bawah kasur atau hanya meminjamkannya kepada kenalan. Meskipun penyimpan dan peminjam tidak pernah bertemu, mereka saling peduli dengan berbagi sumber daya melalui cara ini.

Dapatkah Kita Benar-benar Mengasihi Seseorang melalui Perantara?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Iman & Rekan: Mengandalkan Harapan

Bagaimana Injil mengubah pandangan bank terhadap orang-orang dan bagaimana cara mereka seharusnya diperlakukan, terutama orang-orang sederhana? Terinspirasi oleh iman yang memandang harga setiap orang secara tak ternilai, Bank Guardian memakai pandangan berbeda, yang lebih manusiawi dan penuh harapan, yang juga memberi harapan kepada rumahtangga/keluarga-keluarga biasa maupun nasabah-nasabah komersial.

Jika keuangan adalah sarana kepedulian dan kasih, melakukan keuangan dengan perantara menimbulkan satu pertanyaan. Dapatkah kita mengasihi orang yang bahkan tidak kita kenal?

Tentu saja kita dapat menunjukkan kasih kepada orang yang tidak kita kenal. Banyak dari kita yang mengenal lembaga-lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan orang menunjukkan kasih kepada satu sama lain melintasi jarak dan waktu. Sebagai contoh, karyawan dan donatur LSM-LSM seperti Oxfam, World Vision, dan Palang Merah, melakukan tindakan kasih kepada orang-orang yang membutuhkan di seluruh dunia, meskipun mereka benar-benar tidak mengenal orang-orang yang mereka kasihi itu. Bahkan sesungguhnya pekerjaan yang mengembangkan organisasi-organisasi itu pun merupakan tindakan kasih kepada sesama manusia.[1] Demikian juga, meskipun kita biasanya tidak memikirkan hal ini, para penyimpan yang menabung uang di bank yang memungkinkan peminjam menggunakan sumber daya itu untuk jangka waktu tertentu, bisa melakukan tindakan kasih kepada peminjam itu meskipun identitas orang yang sebenarnya tidak diketahui oleh penyimpan.

Namun hal ini dapat menunjukkan adanya kemungkinan ketegangan antara penatalayanan dan kasih. Perantara-perantara yang lebih besar tampaknya dapat melakukan penatalayanan yang lebih baik karena mereka memiliki peluang untuk meminjam dan meminjamkan di berbagai pasar di seluruh dunia. Tetapi perantara-perantara lokal yang lebih kecil dengan relasi-relasi yang lebih sempit mungkin dapat menunjukkan kasih dengan lebih baik karena mereka bisa mengenal nasabah lebih dekat. Bank nasional besar bisa melakukan penatalayanan yang lebih optimal, dan bank lokal kecil bisa menunjukkan kasih yang lebih intim. Teologi kita akan mendorong bank-bank dan nasabah-nasabah untuk memikirkan potensi pertukaran ini ketika membuat keputusan tentang skala bank mereka. Jika sebuah bank memilih untuk menjadi besar, hal itu harus dilakukan dengan tujuan yang jelas untuk melakukan penatalayanan terbaik secara geografis maupun skalanya. Jika sebuah bank memilih untuk tetap kecil, hal itu harus dilakukan dengan misi yang jelas untuk menjadi sangat baik dalam kasih.[2] Para deposan juga harus memikirkan pertukaran yang sama ketika memutuskan di mana mereka akan melakukan aktivitas perbankan mereka.

Instrumen

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Instrumen keuangan adalah janji di antara dua pihak atau lebih dengan kebutuhan sumber daya yang berbeda yang dirancang untuk memungkinkan kedua pihak menjadi pengambil risiko yang bijaksana ketika masa depan tidak diketahui. Seperti sudah disampaikan di atas, Allah menciptakan manusia untuk menjadi orang yang menepati janji. Unsur penciptaan ini bersama fakta bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, heterogen, terikat waktu, dan menjadi pengambil risiko yang bijaksana di dunia yang tidak pasti ini menghasilkan instrumen-instrumen keuangan. Instrumen keuangan adalah produk-produk yang "dihasilkan" perantara-perantara untuk memenuhi kebutuhan penyimpan dan peminjam dan memungkinkan manusia menaati mandat penciptaan Allah serta menunjukkan keadilan dan kasih dengan cara-cara yang signifikan.

Instrumen keuangan memungkinkan penatalayanan yang baik karena bisa dirancang sesuai dengan risiko, hasil, dan profil waktu peluang penatalayanan tertentu. Jadi, jika perusahaan peminjam memiliki proyek tertentu yang hasilnya sangat bergantung pada masa depan yang tidak pasti (dengan kata lain, berisiko), maka sebuah instrumen keuangan dapat diciptakan untuk mengantisipasi risiko ini dan membantu penyimpan dan peminjam saling menyepakati bagaimana persisnya berbagi sumber daya yang dibutuhkan, yang sangat mungkin dengan instrumen jenis-ekuitas.

Instrumen keuangan juga memungkinkan terciptanya masyarakat yang lebih adil. Instrumen dapat disesuaikan dengan kebutuhan anggota masyarakat yang paling membutuhkan. Pinjaman usaha kecil adalah instrumen yang telah memberi banyak sekali peluang kepada para wirausahawan untuk melayani masyarakat. Pinjaman mahasiswa adalah instrumen yang telah menyediakan peluang besar bagi kaum muda yang keluarganya tidak dapat menabung cukup dana untuk pendidikan. Instrumen-instrumen yang dirancang khusus untuk digunakan dalam kredit-mikro juga memungkinkan keadilan. Pinjaman khusus perumahan dengan uang muka yang lebih kecil dan asuransi pemerintah telah memungkinkan banyak keluarga berpenghasilan rendah untuk memperoleh manfaat dari kepemilikan rumah. Instrumen keuangan memungkinkan anggota masyarakat dengan sumber daya yang cukup/ berlebih untuk menunjukkan keadilan kepada anggota masyarakat yang kurang mampu.[1]

Pinjaman hipotek merupakan contoh kasih yang dimungkinkan oleh instrumen keuangan. Penyimpan membantu peminjam mendapatkan tempat fisik yang membuat ia dan keluarganya dapat berkembang. Sebaliknya, peminjam membantu penyimpan mempersiapkan tahap kehidupan selanjutnya ketika ia sudah tua dan tidak lagi cukup produktif untuk mencukupi diri sendiri. Melalui rancangan penciptaan ini, Allah berharap kita dapat mengembangkan instrumen-instrumen keuangan yang memungkinkan manusia saling mengasihi dengan cara yang bermakna dan bermanfaat. Memang, pihak peminjam dan penyimpan tidak saling mengenal secara spesifik, tetapi mereka mengetahui keberadaan satu sama lain sehingga dapat saling mengasihi dengan cara ini.

Harga

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Harga di pasar keuangan diekspresikan sebagai nilai pengembalian yang diharapkan dari instrumen keuangan, yang pada instrumen utang disebut sebagai suku bunga.[1] Mengapa sebenarnya peminjam dan penyimpan setuju untuk membayar atau menerima nilai pengembalian atau bunga? Apakah itu bagian dari rancangan penciptaan Allah? Kami berpendapat ya, dengan penjelasan sebagai berikut.

Pertama-tama pikirkan hal ini dari sisi peminjam. Idealnya, peminjam akan bersedia dan mampu membayar bunga karena ia dapat menggunakan sumber daya yang dipinjam itu untuk menghasilkan sumber daya yang lebih besar pada waktu mendatang. Peluang-peluang produktif ini diciptakan oleh Allah dan meliputi hal-hal seperti tempat bernaung agar peminjam dapat tetap sehat, menanam benih untuk menghasilkan panen, memperoleh keterampilan melalui pendidikan, membangun jalan atau pabrik, atau membeli mesin yang dapat memproduksi sesuatu yang berguna. Periode waktu dan peluang produktif sama-sama merupakan bagian dari tatanan ciptaan Allah. Ini separuh dari dasar suku bunga yang penting.

Untuk paruhan kedua dasar suku bunga itu, pikirkan hal ini dari sisi pemberi pinjaman. Pemberi pinjaman bersedia memberi akses ke sumber daya tertentu sampai periode waktu mendatang karena dua alasan. Saat ini ia memiliki sumber daya yang berlebih dari yang ia butuhkan. Tetapi di kemudian hari, ada kemungkinan ia akan membutuhkan sumber daya tambahan, seperti misalnya pada saat ia pensiun. Wajar jika ia membiarkan peminjam menggunakan sumber daya itu dalam jangka waktu tertentu dan mengembalikannya lagi kemudian. Untuk melepaskan kendali atas sumber daya selama beberapa waktu, pemberi pinjaman akan menginginkan kompensasi yang setidaknya setara dengan penggunaan terbaik sumber daya itu kemudian. Berkurangnya keinginan pemberi pinjaman untuk menggunakan sumber daya itu saat ini serta pengetahuannya tentang kemungkinan kehidupan pada periode waktu mendatang merupakan hasil langsung dari penciptaan Allah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang terbatas dan terikat waktu.

Jadi, peluang produktif dan kebutuhan pemakaian/konsumsi manusia yang diciptakan Allah, bersama delapan dasar keuangan di atas, membentuk basis untuk suku bunga. Suku bunga bukanlah gagasan manusia yang menyimpang (dari norma); tetapi suku bunga adalah institusi yang dihasilkan langsung dari rancangan penciptaan Allah. Lagipula, suku bunga yang ditetapkan dengan tepat dapat menguntungkan peminjam maupun pemberi pinjaman, dan akan menjadi hasil pertukaran sukarela yang saling menguntungkan.

Suku bunga adalah bagian penatalayanan yang penting. Mekanisme harga ini memberi kejelasan dalam pengambilan keputusan tentang alokasi sumber daya. Jika Anda membayar bunga, Anda akan memiliki dorongan untuk meminjam hanya jika hal itu membantu meningkatkan produktivitas Anda di masa mendatang. Bunga akan mencegah Anda untuk meminjam hanya demi menopang kehidupan yang di luar kemampuan finansial Anda, karena Anda harus membayar lebih banyak esok hari daripada yang Anda konsumsi hari ini. Mekanisme suku bunga mendorong penatalayanan sumber daya keuangan yang baik dari waktu ke waktu. Namun, kami peringatkan agar jangan berasumsi bahwa mekanisme ini secara otomatis mengarah ke bagian "pemeliharaan" dari mandat penciptaan Allah. Tidak semua proyek yang memberi hasil finansial yang positif mengarah pada pemeliharaan ciptaan. Diperlukan para pelaku keuangan yang bijaksana untuk bekerja dalam konteks suku bunga untuk memelihara ciptaan Allah.

Suku bunga memfasilitasi dan menstimulasi pengalokasian-kembali sumber daya yang adil. Suku bunga memberi jalan kepada anggota masyarakat yang tidak memiliki sumber daya untuk mendapatkan akses ke sumber daya hanya dengan setuju memberi kompensasi yang adil kepada pemberi pinjaman atas penggunaan sementara sumber daya itu. Suku bunga memungkinkan pembagian sumber daya yang disepakati secara sukarela dan saling menguntungkan. Suku bunga memungkinkan transaksi keuangan berjalan baik bagi kedua pihak. Tanpa suku bunga (suku bunga nol), aktivitas keuangan akan menjadi hadiah dari pemberi pinjaman kepada peminjam. Tanpa suku bunga, peminjam akan perlu berusaha mendapatkan akses gratis ke sumber daya pemberi pinjaman. Ini akan tampak seperti mengemis, yang kemungkinan bukan cara terbaik untuk menunjukkan keadilan. Tetapi Allah dengan kejeniusan kreativitas-Nya telah mengatur agar keadilan dapat terjadi melalui aktivitas sukarela yang berkelanjutan dan saling menguntungkan di antara manusia, yang salah satunya kita sebut suku bunga.