Bootstrap

Harga

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Mortgage rates 620

Harga di pasar keuangan diekspresikan sebagai nilai pengembalian yang diharapkan dari instrumen keuangan, yang pada instrumen utang disebut sebagai suku bunga.[1] Mengapa sebenarnya peminjam dan penyimpan setuju untuk membayar atau menerima nilai pengembalian atau bunga? Apakah itu bagian dari rancangan penciptaan Allah? Kami berpendapat ya, dengan penjelasan sebagai berikut.

Pertama-tama pikirkan hal ini dari sisi peminjam. Idealnya, peminjam akan bersedia dan mampu membayar bunga karena ia dapat menggunakan sumber daya yang dipinjam itu untuk menghasilkan sumber daya yang lebih besar pada waktu mendatang. Peluang-peluang produktif ini diciptakan oleh Allah dan meliputi hal-hal seperti tempat bernaung agar peminjam dapat tetap sehat, menanam benih untuk menghasilkan panen, memperoleh keterampilan melalui pendidikan, membangun jalan atau pabrik, atau membeli mesin yang dapat memproduksi sesuatu yang berguna. Periode waktu dan peluang produktif sama-sama merupakan bagian dari tatanan ciptaan Allah. Ini separuh dari dasar suku bunga yang penting.

Untuk paruhan kedua dasar suku bunga itu, pikirkan hal ini dari sisi pemberi pinjaman. Pemberi pinjaman bersedia memberi akses ke sumber daya tertentu sampai periode waktu mendatang karena dua alasan. Saat ini ia memiliki sumber daya yang berlebih dari yang ia butuhkan. Tetapi di kemudian hari, ada kemungkinan ia akan membutuhkan sumber daya tambahan, seperti misalnya pada saat ia pensiun. Wajar jika ia membiarkan peminjam menggunakan sumber daya itu dalam jangka waktu tertentu dan mengembalikannya lagi kemudian. Untuk melepaskan kendali atas sumber daya selama beberapa waktu, pemberi pinjaman akan menginginkan kompensasi yang setidaknya setara dengan penggunaan terbaik sumber daya itu kemudian. Berkurangnya keinginan pemberi pinjaman untuk menggunakan sumber daya itu saat ini serta pengetahuannya tentang kemungkinan kehidupan pada periode waktu mendatang merupakan hasil langsung dari penciptaan Allah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang terbatas dan terikat waktu.

Jadi, peluang produktif dan kebutuhan pemakaian/konsumsi manusia yang diciptakan Allah, bersama delapan dasar keuangan di atas, membentuk basis untuk suku bunga. Suku bunga bukanlah gagasan manusia yang menyimpang (dari norma); tetapi suku bunga adalah institusi yang dihasilkan langsung dari rancangan penciptaan Allah. Lagipula, suku bunga yang ditetapkan dengan tepat dapat menguntungkan peminjam maupun pemberi pinjaman, dan akan menjadi hasil pertukaran sukarela yang saling menguntungkan.

Suku bunga adalah bagian penatalayanan yang penting. Mekanisme harga ini memberi kejelasan dalam pengambilan keputusan tentang alokasi sumber daya. Jika Anda membayar bunga, Anda akan memiliki dorongan untuk meminjam hanya jika hal itu membantu meningkatkan produktivitas Anda di masa mendatang. Bunga akan mencegah Anda untuk meminjam hanya demi menopang kehidupan yang di luar kemampuan finansial Anda, karena Anda harus membayar lebih banyak esok hari daripada yang Anda konsumsi hari ini. Mekanisme suku bunga mendorong penatalayanan sumber daya keuangan yang baik dari waktu ke waktu. Namun, kami peringatkan agar jangan berasumsi bahwa mekanisme ini secara otomatis mengarah ke bagian "pemeliharaan" dari mandat penciptaan Allah. Tidak semua proyek yang memberi hasil finansial yang positif mengarah pada pemeliharaan ciptaan. Diperlukan para pelaku keuangan yang bijaksana untuk bekerja dalam konteks suku bunga untuk memelihara ciptaan Allah.

Suku bunga memfasilitasi dan menstimulasi pengalokasian-kembali sumber daya yang adil. Suku bunga memberi jalan kepada anggota masyarakat yang tidak memiliki sumber daya untuk mendapatkan akses ke sumber daya hanya dengan setuju memberi kompensasi yang adil kepada pemberi pinjaman atas penggunaan sementara sumber daya itu. Suku bunga memungkinkan pembagian sumber daya yang disepakati secara sukarela dan saling menguntungkan. Suku bunga memungkinkan transaksi keuangan berjalan baik bagi kedua pihak. Tanpa suku bunga (suku bunga nol), aktivitas keuangan akan menjadi hadiah dari pemberi pinjaman kepada peminjam. Tanpa suku bunga, peminjam akan perlu berusaha mendapatkan akses gratis ke sumber daya pemberi pinjaman. Ini akan tampak seperti mengemis, yang kemungkinan bukan cara terbaik untuk menunjukkan keadilan. Tetapi Allah dengan kejeniusan kreativitas-Nya telah mengatur agar keadilan dapat terjadi melalui aktivitas sukarela yang berkelanjutan dan saling menguntungkan di antara manusia, yang salah satunya kita sebut suku bunga.