Bootstrap

Dapatkah Kita Benar-benar Mengasihi Seseorang melalui Perantara?

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
620px yuanta bank hq in yuanta financial tower
Iman & Rekan: Mengandalkan Harapan

Bagaimana Injil mengubah pandangan bank terhadap orang-orang dan bagaimana cara mereka seharusnya diperlakukan, terutama orang-orang sederhana? Terinspirasi oleh iman yang memandang harga setiap orang secara tak ternilai, Bank Guardian memakai pandangan berbeda, yang lebih manusiawi dan penuh harapan, yang juga memberi harapan kepada rumahtangga/keluarga-keluarga biasa maupun nasabah-nasabah komersial.

Jika keuangan adalah sarana kepedulian dan kasih, melakukan keuangan dengan perantara menimbulkan satu pertanyaan. Dapatkah kita mengasihi orang yang bahkan tidak kita kenal?

Tentu saja kita dapat menunjukkan kasih kepada orang yang tidak kita kenal. Banyak dari kita yang mengenal lembaga-lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan orang menunjukkan kasih kepada satu sama lain melintasi jarak dan waktu. Sebagai contoh, karyawan dan donatur LSM-LSM seperti Oxfam, World Vision, dan Palang Merah, melakukan tindakan kasih kepada orang-orang yang membutuhkan di seluruh dunia, meskipun mereka benar-benar tidak mengenal orang-orang yang mereka kasihi itu. Bahkan sesungguhnya pekerjaan yang mengembangkan organisasi-organisasi itu pun merupakan tindakan kasih kepada sesama manusia.[1] Demikian juga, meskipun kita biasanya tidak memikirkan hal ini, para penyimpan yang menabung uang di bank yang memungkinkan peminjam menggunakan sumber daya itu untuk jangka waktu tertentu, bisa melakukan tindakan kasih kepada peminjam itu meskipun identitas orang yang sebenarnya tidak diketahui oleh penyimpan.

Namun hal ini dapat menunjukkan adanya kemungkinan ketegangan antara penatalayanan dan kasih. Perantara-perantara yang lebih besar tampaknya dapat melakukan penatalayanan yang lebih baik karena mereka memiliki peluang untuk meminjam dan meminjamkan di berbagai pasar di seluruh dunia. Tetapi perantara-perantara lokal yang lebih kecil dengan relasi-relasi yang lebih sempit mungkin dapat menunjukkan kasih dengan lebih baik karena mereka bisa mengenal nasabah lebih dekat. Bank nasional besar bisa melakukan penatalayanan yang lebih optimal, dan bank lokal kecil bisa menunjukkan kasih yang lebih intim. Teologi kita akan mendorong bank-bank dan nasabah-nasabah untuk memikirkan potensi pertukaran ini ketika membuat keputusan tentang skala bank mereka. Jika sebuah bank memilih untuk menjadi besar, hal itu harus dilakukan dengan tujuan yang jelas untuk melakukan penatalayanan terbaik secara geografis maupun skalanya. Jika sebuah bank memilih untuk tetap kecil, hal itu harus dilakukan dengan misi yang jelas untuk menjadi sangat baik dalam kasih.[2] Para deposan juga harus memikirkan pertukaran yang sama ketika memutuskan di mana mereka akan melakukan aktivitas perbankan mereka.