Keuangan memiliki peran dalam tujuan Allah bagi manusia. Tiga tujuan utama manusia bekerja yang dinyatakan dalam Alkitab adalah untuk: i) menyatakan kemuliaan Allah, ii) terlibat dalam penatalayanan, dan iii) menunjukkan keadilan dan kasih. Kita akan membahas setiap tujuan ini sebentar lagi. Namun sebelumnya, mari kita ingat bahwa keuangan—sebagaimana halnya semua usaha manusia—juga telah menderita akibat dosa yang mendalam dan merusak. Sebagai contoh, keserakahan dan ketidakjujuran memengaruhi keuangan dalam berbagai situasi, mencemari secara langsung pelayanan bagi kemuliaan Allah, serta penatalayanan, keadilan, dan kasih manusia. Kita akan membahas dampak dosa ini secara agak lebih rinci nanti. Namun pertama-tama, mari kita menjelajahi keuangan menurut tujuan awal Allah bagi dunia, yang memberi kita gambaran sekilas tentang apa yang dimaksud Allah dan apa yang bisa terjadi melalui penebusan Kristus.
Kembali ke Daftar Isi
Kembali ke Daftar Isi
Dalam narasi Alkitab, Allah menciptakan segala sesuatu untuk kemuliaan dan kehormatan-Nya (Kolose 1:16, Wahyu 4:11). Dasar-dasar keuangan—seperti halnya semua ciptaan—menyatakan kreativitas Allah yang tak tertandingi. Allah menciptakan waktu—musim-musim, tahun-tahun, dan umur/masa hidup. Allah menenun kita agar kita memiliki keinginan dan kemampuan untuk hidup dan berkembang dalam komunitas dengan jalinan interaksi sosial yang kaya, yang salah satunya dengan berbagi sumber daya dari waktu ke waktu. Ketika kita berbagi sumber daya dari waktu yang satu ke waktu yang lain dalam jaringan relasi sosial, kita mengambil bagian dalam penciptaan-Nya yang melimpah dan menghidupkannya dengan kreativitas dan kasih yang Dia berikan pada kita sesuai citra-Nya. Seperti musik yang indah dan makanan yang lezat, keuangan menyatakan kemuliaan Allah dengan menunjukkan kemahakuasaan dan kreativitas-Nya dalam ciptaan-Nya. Kita akan mengembangkan penghargaan tentang kemuliaan Allah yang lebih rinci di bagian berikutnya saat kita melihat bahwa Allah telah menciptakan delapan dasar spesifik dalam keuangan.
Kembali ke Daftar Isi
Kembali ke Daftar Isi
Mengikut Kristus Sebagai Analis Keuangan
Dalam sebuah wawancara dengan The High Calling, Will Messenger membicarakan tentang mencari Kristus di bidang keuangan.
Pertanyaan: “Bagaimana Anda mengikut Kristus sebagai seorang analis keuangan?”
Apakah Anda punya jawaban praktis untuk diri Anda sendiri?
Saya bekerja sebagai analis keuangan di sebuah bank investasi pada suatu musim panas. Saya ditugaskan untuk mengerjakan sebuah proyek yang membuat kami dapat melihat apakah kami bisa mendapatkan investor ekuitas swasta untuk membeli pembangkit listrik dari perusahaan utilitas listrik. Jika ya, kami bisa mendapat bayaran besar dari setiap transaksi. Cara kami melakukannya adalah: Saya akan membuat model keuangan untuk setiap pembangkit listrik yang menunjukkan berapa megawatt jam yang bisa dihasilkan, berapa harga jual tiap megawatt jam, berapa biaya untuk batu bara, upah karyawan, dll. Kemudian saya akan menghitung angka-angka itu, menanyakan suku bunga maksimum yang dapat dibayarkan untuk obligasi “sampah” (berperingkat rendah) yang akan diterbitkan investor ekuitas swasta itu, agar kami dapat mengumpulkan dana untuk membeli pembangkit tenaga listrik.
Selanjutnya kami akan tahu apakah kami bisa mendapatkan investor yang bersedia membeli obligasi, meskipun suku bunganya terlalu rendah untuk benar-benar bisa mengimbangi risiko tinggi jika pembangkit listrik itu bangkrut karena harga batu bara naik, atau permintaan listrik turun. Saya dalam posisi paling junior. Orang yang menggagas proyek ini juga kurang berpengalaman, dan berusaha menghasilkan bayaran dengan mengusulkan beberapa transaksi. Bagi saya itu bukanlah cara yang benar-benar menebus/memperbaiki keadaan. Ini bukan tentang membiayai kebutuhan pembangkit listrik dari perusahaan utilitas. Ini bukan tentang menciptakan struktur keuangan yang berkelanjutan untuk membantu perusahaan bertahan dari naik turunnya pasar energi. Ini hanya tentang melihat apakah kami dapat melakukan banyak transaksi dan mendapat bayaran besar.
Tidak seperti di IBM, saya tidak bisa melihat masalah bisnis apa yang hendak diselesaikan. Saya percaya bahwa dalam segala sesuatu Kristus bekerja untuk menebus dunia kita yang sudah rusak dalam segala hal—bukan hanya dalam kita menyembah hal-hal yang salah dan mengejar ilah-ilah palsu secara harfiah, tetapi juga dalam hal-hal ekonomi dan organisasi yang salah di dunia ini. Saya kira Allah juga tertarik pada pembangkit tenaga listrik. Saya tahu industri pembangkit tenaga listrik terkendala berbagai macam masalah pada saat itu. Tetapi saya tidak melihat proyek kami sedang menyelesaikan masalah yang riil dari pekerjaan pembangkit tenaga listrik yang sebenarnya itu.
Lalu adakah hal yang Anda lakukan sebagai bankir investasi, yang Anda pikir bersifat menebus - atau berarti dari sudut pandang Allah?
Oh, ya! Saya membantu perusahaan lain melakukan rekapitulasi dengan menerbitkan saham preferen yang dapat dikonversi dan menggunakan pendapatannya untuk melunasi utang. Itu membuat basis keuangan mereka lebih kokoh, sehingga mereka bisa fokus pada pertumbuhan bisnis. Dan ini juga masuk akal bagi para investor. Saya tidak ingin melebih-lebihkan betapa memulihkannya transaksi keuangan yang baik. Ada perbedaan yang jelas antara jiwa seseorang dengan struktur keuangan dalam organisasi, tetapi saya juga tidak berpikir Allah tidak peduli dengan keuangan. Struktur keuangan memungkinkan untuk meneliti dan menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat, mempekerjakan orang, menyediakan pendapatan investasi bagi para pensiunan, dana abadi untuk perguruan tinggi, dan sebagainya. Gambaran tentang Kerajaan Akhir, Kerajaan Allah yang kekal, bukanlah tentang kita menjadi roh tanpa tubuh yang melayang-layang di suatu tempat yang tidak ada apa-apa. Melainkan, kita akan melihat langit baru dan bumi baru, dengan kerajaan-kerajaan dunia yang membawa kekayaan mereka ke Yerusalem Baru. Jadi kita akan terus memiliki aspek-aspek kehidupan yang terwujud sepenuhnya—hal-hal ciptaan diubahkan, bukan dilenyapkan.
|
Penatalayanan adalah pemenuhan mandat Allah untuk memenuhi bumi, menaklukkan (atau memerintah), mengerjakan, dan memeliharanya (Kejadian 1:28-30, Kejadian 2:15). Ciptaan Allah yang mula-mula ditunjukkan di kitab Kejadian sebagai taman yang dipenuhi berbagai tumbuhan, hewan, dan manusia dalam persekutuan yang sempurna dengan Allah. Taman itu baik, tetapi tidak dimaksudkan untuk tetap seperti itu selamanya. Ketika Alkitab melihat ke depan kepada penggenapan ciptaan Allah, Alkitab menunjukkan pada kita dunia yang penuh dengan orang-orang dari setiap suku bangsa yang memuji Allah. Mereka tidak lagi berada di taman, tetapi di kota yang memiliki fondasi, tembok, pintu gerbang, jalan dengan deretan pepohonan, besi, emas, hewan peliharaan, dan kapal-kapal dagang (Yesaya 60, Wahyu 21). Pengembangan ciptaan dari taman menjadi kota yang dipenuhi manusia dan unsur-unsur budayanya adalah kesimpulan dari mandat Allah untuk memenuhi bumi, menaklukkan, mengerjakan, dan memeliharanya. Meskipun ciptaan Allah yang mula-mula itu sempurna dan sarat sumber daya, ciptaan ini belum selengkap yang Allah mau jadikan. Mouw berpendapat bahwa “Allah sejak semula bermaksud agar manusia memenuhi bumi dengan berbagai proses, pola, dan produk pembentukan budaya.” Kita adalah tangan-tangan kreatif Allah yang melanjutkan karya kreatif-Nya, untuk membangun dengan kasih karunia Allah di atas fondasi ciptaan-Nya yang sempurna dan kaya. Van Duzer berpendapat bahwa ciptaan Allah yang sempurna, meskipun belum lengkap, merupakan fondasi yang sangat baik untuk bisnis.
Mengalokasikan sumber daya dengan baik dari waktu ke waktu agar terus berkembang sangat penting dalam memenuhi mandat ciptaan ini. Contoh-contoh tentang bagaimana keuangan membantu manusia dalam mematuhi mandat ciptaan Allah meliputi: menabung uang untuk membeli benih di musim tanam, mengumpulkan modal untuk membeli alat pertambangan yang akan menghasilkan bijih besi di tahun-tahun mendatang, keluarga muda yang meminjam uang untuk membeli rumah, dan masyarakat yang menerbitkan obligasi untuk mendirikan sekolah. Keuangan menyediakan pengalokasian sumber daya yang berorientasi ke depan yang diperlukan untuk pertumbuhan. Keuangan menyediakan sumber daya bagi orang-orang yang memiliki peluang terbesar untuk meningkatkan sumber dayanya di waktu mendatang, dan kemudian membagikan peningkatan sumber daya itu kepada orang yang meminjamkan sumber daya berlebih, yang tidak akan produktif jika tidak dipinjamkan. Tanpa keuangan, orang hanya akan hidup setiap hari dengan sumber daya yang bisa mereka peroleh pada hari itu, atau yang telah mereka kumpulkan secara pribadi pada hari-hari sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi yang telah dialami manusia dari abad ke abad tidak mungkin terjadi tanpa keuangan. Manusia tidak mungkin berkembang tanpa meminjam dan meminjamkan.
Allah memberi kita mandat bukan hanya untuk mengelola ciptaan-Nya, tetapi juga untuk merawatnya.Karena meminjam dan meminjamkan pada dasarnya melibatkan lintas-waktu, keuangan mendorong perspektif jangka panjang dalam pengambilan keputusan. Orang yang mengajukan pinjaman hipotek (semacam KPR) untuk membeli rumah cenderung akan merawat lebih baik daripada orang yang menyewa rumah jangka pendek. Sebaliknya, aktivitas-aktivitas yang tidak berkelanjutan sulit mendapat pendanaan. Siapa yang mau meminjamkan uang kepada perusahaan kayu yang terlalu cepat menebang pohon-pohon sampai kayunya akan habis dalam waktu beberapa tahun saja? Keuangan juga memungkinkan peningkatan modal dari mengurangi pemakaian sumber daya alam untuk operasional. Sebagai contoh, sebuah kota dapat meminjam uang untuk mengembangkan sistem transportasi umum, yang akan lebih memanfaatkan sumber daya karbon/energi milik Allah dan juga memberikan pemasukan dana pensiun bagi para investor obligasi daerah.
Kembali ke Daftar Isi
Kembali ke Daftar Isi
Keuangan memungkinkan terjadinya aktivitas-aktivitas tertentu yang menunjukkan keadilan dan kasih. Kami mengadopsi pandangan keadilan Wolterstorff yang berpendapat bahwa setiap orang harus diperlakukan dengan rasa hormat yang pantas atas hak-hak mereka sebagai manusia. Pandangan teistik Wolterstorff mendasarkan hak-hak manusia ini semata-mata pada fakta bahwa setiap manusia dikaruniai kehormatan untuk dikasihi Allah. Jadi, “Oleh karena keterikatan Allah pada manusia, orang yang menyakiti manusia juga bersalah pada Allah.” Relasi Allah-manusia inilah yang melahirkan hak-hak manusia, yang kemudian membentuk wawasan kita tentang keadilan. Kami juga memakai konsep “kepedulian” kasih Wolterstorff yang ia sebut “care-agapism”—yaitu berusaha mewujudkan kesejahteraan orang lain sebagai tujuan itu sendiri dan dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia. Ia berpendapat bahwa kasih sebagai kepedulian adalah cara terbaik untuk memahami kasih yang alkitabiah (agape), karena kepedulian menggabungkan keadilan dengan kasih. “Kepedulian mencakup upaya agar orang yang dikasihi diperlakukan dengan adil. Dan kepedulian adalah kasih yang biasanya untuk mengasihi diri sendiri, yang Yesus hubungkan dengan Allah untuk kita, dan Yesus perintahkan pada kita untuk Allah dan sesama. Memahami kasih sebagai kepedulian memberi kita wawasan yang terpadu tentang keempat manifestasi kasih.”Kepedulian meliputi tindakan yang bisa mengandung risiko atau memerlukan pengorbanan tertentu dari pihak yang mengasihi.
Kasih yang diwujudkan dengan kepedulian sesuai dengan pandangan Kristen tentang keadilan dan kasih. Contohnya, Chris Wright menunjukkan bahwa tema-tema pokok Alkitab tentang kebenaran dan keadilan merupakan konsep-konsep yang berkaitan erat yang berarti "apa yang perlu dilakukan dalam situasi atau relasi tertentu" untuk mengembalikan segala sesuatu kepada yang semestinya. Wright lalu berpendapat bahwa Allah memilih Abraham secara khusus untuk memajukan misi-Nya dalam memberkati bangsa-bangsa dengan keadilan dan kebenaran.Ini berarti bahwa alasan Allah memilih kita juga untuk memberkati orang-orang di sekitar kita dengan keadilan dan kebenaran. Pandangan Wright memberi kita alasan untuk benar-benar mempraktikkan kasih ini. Kita diberi amanat oleh Allah untuk memberkati orang-orang di sekitar kita dengan menunjukkan kasih, yaitu dengan mewujudkan kesejahteraan mereka dengan cara yang menghormati mereka sebagai orang-orang yang dikasihi Allah.
Dan kepada siapa kita perlu menunjukkan kasih dan keadilan ini? Yesus berkata bahwa ajaran-Nya yang terpenting adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan kita dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Matius 22, Markus 12, Lukas 10), yang menggemakan ajaran Musa sebelumnya. Perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati menjelaskan bahwa sesama kita adalah siapa saja yang dapat kita tunjukkan kasih dan keadilan, bahkan orang-orang yang tak punya hubungan dengan kita sebelumnya. Atau seperti dikatakan Wolterstorff, “Saya menganggap Yesus memerintahkan kita untuk siaga melakukan kewajiban yang dibebankan pada kita oleh kebutuhan siapa saja yang kita temui.”
Konsep keadilan dan kasih Wolterstorff berguna untuk memahami tujuan keuangan yang dimaksudkan Allah karena dua alasan. Pertama, keuangan dapat bermanfaat untuk mewujudkan kesejahteraan orang lain dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia. Keuangan menyediakan akses kepada sumber daya. Sumber daya yang disediakan keuangan untuk dialokasikan-kembali dapat membantu orang berkembang, dan berbagi sumber daya secara sukarela dan saling menguntungkan adalah cara yang sangat baik, meskipun bukan satu-satunya cara, untuk menunjukkan rasa hormat yang pantas kepada orang lain. Inilah hakikat keadilan. Jika Anda tidak memiliki sumber daya yang Anda butuhkan saat ini untuk produktif, dan jika Anda bersedia membagikan sebagian peningkatan sumber daya itu pada saya nanti, maka wajar jika kita meminjamkan, meminjam, dan membayar kembali dengan saling menghormati. Kedua, keuangan dapat menjadi sarana untuk mengasihi sesama—dalam arti peduli dengan kesejahteraan mereka—orang-orang yang bahkan tidak memiliki hubungan pribadi dengan kita atau tinggal di dekat kita. Manajemen keuangan yang terstruktur baik— dengan sistem hukum yang baik—memungkinkan orang asing untuk meminjam dan meminjamkan dengan keyakinan akan mendapat hasil/pengembalian yang pantas. Dengan cara ini, kita dapat berbagi sumber daya untuk saling menguntungkan jauh di luar lingkup kita sendiri. Tidak semua manajemen keuangan mewujudkan keadilan dan kasih dengan cara ini, tetapi semua seharusnya dapat dan melakukan yang seperti ini. Chaplin mendorong kita untuk merombak institusi-institusi, mungkin secara radikal, agar dapat “mewujudkan norma utama kasih” dan berfungsi sebagai “saluran” kasih dan keadilan.