Bootstrap

Keuangan Dapat Menjadi Sarana Keadilan dan Kasih

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
A business in south sudan benefiting from microfinance 6189731244

Keuangan memungkinkan terjadinya aktivitas-aktivitas tertentu yang menunjukkan keadilan dan kasih. Kami mengadopsi pandangan keadilan Wolterstorff yang berpendapat bahwa setiap orang harus diperlakukan dengan rasa hormat yang pantas atas hak-hak mereka sebagai manusia.[1] Pandangan teistik Wolterstorff mendasarkan hak-hak manusia ini semata-mata pada fakta bahwa setiap manusia dikaruniai kehormatan untuk dikasihi Allah. Jadi, “Oleh karena keterikatan Allah pada manusia, orang yang menyakiti manusia juga bersalah pada Allah.”[2] Relasi Allah-manusia inilah yang melahirkan hak-hak manusia, yang kemudian membentuk wawasan kita tentang keadilan. Kami juga memakai konsep “kepedulian” kasih Wolterstorff yang ia sebut “care-agapism”—yaitu berusaha mewujudkan kesejahteraan orang lain sebagai tujuan itu sendiri dan dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia.[3] Ia berpendapat bahwa kasih sebagai kepedulian adalah cara terbaik untuk memahami kasih yang alkitabiah (agape), karena kepedulian menggabungkan keadilan dengan kasih. “Kepedulian mencakup upaya agar orang yang dikasihi diperlakukan dengan adil. Dan kepedulian adalah kasih yang biasanya untuk mengasihi diri sendiri, yang Yesus hubungkan dengan Allah untuk kita, dan Yesus perintahkan pada kita untuk Allah dan sesama. Memahami kasih sebagai kepedulian memberi kita wawasan yang terpadu tentang keempat manifestasi kasih.”[4] Kepedulian meliputi tindakan yang bisa mengandung risiko atau memerlukan pengorbanan tertentu dari pihak yang mengasihi.

Kasih yang diwujudkan dengan kepedulian sesuai dengan pandangan Kristen tentang keadilan dan kasih. Contohnya, Chris Wright menunjukkan bahwa tema-tema pokok Alkitab tentang kebenaran dan keadilan merupakan konsep-konsep yang berkaitan erat yang berarti "apa yang perlu dilakukan dalam situasi atau relasi tertentu" untuk mengembalikan segala sesuatu kepada yang semestinya.[5] Wright lalu berpendapat bahwa Allah memilih Abraham secara khusus untuk memajukan misi-Nya dalam memberkati bangsa-bangsa dengan keadilan dan kebenaran.[6] Ini berarti bahwa alasan Allah memilih kita juga untuk memberkati orang-orang di sekitar kita dengan keadilan dan kebenaran. Pandangan Wright memberi kita alasan untuk benar-benar mempraktikkan kasih ini. Kita diberi amanat oleh Allah untuk memberkati orang-orang di sekitar kita dengan menunjukkan kasih, yaitu dengan mewujudkan kesejahteraan mereka dengan cara yang menghormati mereka sebagai orang-orang yang dikasihi Allah.

Dan kepada siapa kita perlu menunjukkan kasih dan keadilan ini? Yesus berkata bahwa ajaran-Nya yang terpenting adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, pikiran, jiwa, dan kekuatan kita dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Matius 22, Markus 12, Lukas 10), yang menggemakan ajaran Musa sebelumnya.[7] Perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati menjelaskan bahwa sesama kita adalah siapa saja yang dapat kita tunjukkan kasih dan keadilan, bahkan orang-orang yang tak punya hubungan dengan kita sebelumnya. Atau seperti dikatakan Wolterstorff, “Saya menganggap Yesus memerintahkan kita untuk siaga melakukan kewajiban yang dibebankan pada kita oleh kebutuhan siapa saja yang kita temui.”[8]

Konsep keadilan dan kasih Wolterstorff berguna untuk memahami tujuan keuangan yang dimaksudkan Allah karena dua alasan. Pertama, keuangan dapat bermanfaat untuk mewujudkan kesejahteraan orang lain dengan rasa hormat yang pantas bagi orang itu sebagai manusia. Keuangan menyediakan akses kepada sumber daya. Sumber daya yang disediakan keuangan untuk dialokasikan-kembali dapat membantu orang berkembang, dan berbagi sumber daya secara sukarela dan saling menguntungkan adalah cara yang sangat baik, meskipun bukan satu-satunya cara, untuk menunjukkan rasa hormat yang pantas kepada orang lain. Inilah hakikat keadilan. Jika Anda tidak memiliki sumber daya yang Anda butuhkan saat ini untuk produktif, dan jika Anda bersedia membagikan sebagian peningkatan sumber daya itu pada saya nanti, maka wajar jika kita meminjamkan, meminjam, dan membayar kembali dengan saling menghormati. Kedua, keuangan dapat menjadi sarana untuk mengasihi sesama—dalam arti peduli dengan kesejahteraan mereka—orang-orang yang bahkan tidak memiliki hubungan pribadi dengan kita atau tinggal di dekat kita. Manajemen keuangan yang terstruktur baik— dengan sistem hukum yang baik—memungkinkan orang asing untuk meminjam dan meminjamkan dengan keyakinan akan mendapat hasil/pengembalian yang pantas. Dengan cara ini, kita dapat berbagi sumber daya untuk saling menguntungkan jauh di luar lingkup kita sendiri. Tidak semua manajemen keuangan mewujudkan keadilan dan kasih dengan cara ini, tetapi semua seharusnya dapat dan melakukan yang seperti ini. Chaplin mendorong kita untuk merombak institusi-institusi, mungkin secara radikal, agar dapat “mewujudkan norma utama kasih” dan berfungsi sebagai “saluran” kasih dan keadilan.[9]