Bootstrap

Bagaimana Kita Dapat Memperlengkapi Jemaat untuk Pekerjaan Allah di Dunia?

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Joshua rawson harris KRELI Sh Kx TM unsplash

Bagaimana gereja bisa menjadi lebih efektif dalam memperlengkapi jemaatnya? Kebutuhan untuk kembali berorientasi ke luar dan memulai perjalanan misi telah diidentifikasi—demikian juga kebutuhan untuk memahami vokasi dan panggilan kita sebagai orang Kristen, yang meliputi penghargaan baru terhadap peran pekerjaan kita sehari-hari dalam misi Allah. Ada baiknya juga untuk bertanya, seperti apa tindakan nyata gereja yang mencerminkan perspektif dan prioritas yang berubah ini? Gereja-gereja yang telah memulai perjalanan ini menunjukkan beberapa ciri umum.

Gereja yang memperlengkapi:

  • memiliki visi tentang Allah yang bekerja di tempat jemaatnya bekerja

  • aktif mencari contoh-contoh dan sumber-sumber

  • menghubungkan pekerjaan sehari-hari dengan ibadah

  • menanggapi peluang dan tantangan yang dihadapi jemaatnya di tempat kerja

  • menginvestasikan sumber daya untuk memperlengkapi jemaat dalam pekerjaan sehari-hari

  • menciptakan struktur-struktur yang menopang pelayanan ini

  • memberdayakan dan bekerja sama dengan orang-orang di jemaat dalam mengadakan pelayanan

  • melepas dan mendukung jemaatnya untuk bekerja di luar gereja

  • mendorong semua orang untuk mengambil tanggung jawab

  • memasukkan pekerjaan sehari-hari sebagai bagian dari pelayanan kaum muda dan pelayanan-pelayanan belas kasih/penjangkauan/bantuan praktis

Barangkali daftar ini bisa menjadi tolok ukur yang berguna untuk menilai, mengevaluasi, dan memikirkan pengembangan-pengembangan dalam konteks gereja Anda sendiri. Kita akan membahas beberapa hal yang terkait dengan setiap pengembangan ini.

Gereja Yang Memperlengkapi Memiliki Visi tentang Allah Yang Bekerja di Tempat Jemaatnya Bekerja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Inilah Gereja Kita pada Hari Senin

Foto-foto digital tentang orang-orang dalam berbagai suasana kerja ditayangkan selama waktu perenungan dan doa, sementara lagu tentang makna kerja diputar melalui perangkat tata suara. Beberapa orang tertawa ketika mereka melihat para anggota gereja mengenakan pakaian yang berbeda dari yang pernah mereka lihat sebelumnya. Beberapa mengenakan jas dan dasi. Yang lain mengenakan “baju monyet” (pakaian kerja terusan), atau baju putih dan sarung tangan karet.

Doa untuk Para Pekerja

Seorang guru berkata kepada Mark Greene, "Saya meluangkan waktu 45 menit seminggu untuk mengajar Sekolah Minggu dan mereka memanggil saya maju ke depan altar untuk mendoakan saya. Hari-hari lainnya dalam minggu itu saya menjadi guru sepenuh-waktu dan gereja tidak pernah berdoa untuk saya." Berbeda dengan itu, gereja lain berdoa untuk berbagai macam kelompok pekerja setiap bulan. Mereka telah memeriksa daftar seluruh jemaat mereka dengan tujuan dapat memasukkan setiap orang ke dalam doa khusus untuk pekerjaan sehari-hari mereka minimal setahun sekali.

Gereja yang memperlengkapi melihat pekerjaan sehari-hari jemaatnya sebagai bagian dari pelayanan gereja. Gereja-gereja ini sudah mulai bertanya, "Di mana jemaat kita selama seminggu?" Mereka mulai mengembangkan cara-cara untuk mengidentifikasi di mana jemaatnya berada dan apa yang mereka lakukan selama seminggu. Identifikasi ini bisa berupa penanda-penanda pada peta, papan berisi foto-foto, presentasi PowerPoint tentang orang-orang yang bekerja, atau buklet yang berisi daftar pekerjaan dan minat jemaat. Gereja-gereja ini membuat jemaatnya merasa bahwa mereka telah ditempatkan Allah secara strategis di dunia kerja mereka untuk membuat perbedaan di sana.

Tidak ada model tunggal atau rumus sederhana. Setiap gereja bisa memulai perjalanannya sendiri dalam menyediakan sumber daya bagi orang Kristen untuk melayani Allah dalam pekerjaan mereka sehari-hari. Setiap gereja harus memulai dengan orang-orang yang telah diberikan Allah padanya dengan tempat-tempat dan jenis-jenis pekerjaan yang telah menyibukkan hidup mereka. Ini bukan tentang menambah ekspektasi atau kewajiban ekstra pada orang-orang yang sudah kesulitan meluangkan waktu untuk terlibat di gereja. Gereja-gereja ini meneguhkan bahwa mengajar anak-anak sekolah untuk belajar menulis adalah perbuatan saleh, bahwa merapikan tempat tidur dengan sepenuh hati membawa kemuliaan bagi Kristus, dan bahwa mengelola anggaran perusahaan merupakan penatalayanan yang baik atas ciptaan Allah. Gereja-gereja yang memperlengkapi memberi semangat dan bantuan kepada jemaatnya untuk meningkatkan rasa memiliki tujuan baru dalam kehidupan kerja mereka sehari-hari yang sudah ada. Gereja-gereja ini menolong jemaatnya untuk menjaga keutuhan hidup mereka yang penuh tekanan dengan lebih mengintegrasikan iman, pekerjaan, keluarga, dan seluruh aspek kehidupan.

Para anggota Proyek Imagine di Inggris telah menemukan bahwa kebanyakan orang Kristen hanya dapat memberikan waktu tidak lebih dari 10 jam per minggu untuk kegiatan gereja (termasuk untuk ibadah, kelompok kecil dan pelayanan lainnya), kecuali mereka dipekerjakan oleh gereja atau memiliki banyak waktu yang diberikan secara sukarela. Mereka sudah mulai bertanya, “Bagaimana waktu 10 jam ini dapat digunakan dengan sebaik-baiknya untuk memperlengkapi satu sama lain agar dapat hidup dengan baik bagi Kristus, sementara 110 jam lainnya diinvestasikan untuk bekerja, keluarga, dan relaksasi?” dan “Apa yang akan berubah jika kita benar-benar serius dalam memperlengkapi?” Secara khusus mereka bertanya:

  • Apa yang kita doakan ketika kita bersama-sama?

  • Bagaimana kotbah bisa benar-benar menolong kita untuk hidup dengan baik bagi Kristus, di mana pun kita berada?

  • Isu-isu apa yang paling banyak menghabiskan waktu dalam rapat-rapat kepemimpinan?

  • Lagu-lagu apa yang akan dipilih para pemimpin penyembahan?

  • Apa yang akan kita bicarakan dalam kelompok-kelompok kecil?

  • Cerita-cerita apa yang ingin kita dengar ketika kita bersekutu bersama?

  • Kriteria apa yang akan menentukan bahwa kita telah mengalami waktu bersama yang menyenangkan? [1]

Gereja Yang Memperlengkapi Aktif Mencari Contoh-contoh dan Sumber-sumber

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi
Saat Seperti Ini Besok

Proyek Gereja The Imagine di London mendorong gereja-gereja untuk mengundang orang yang berbeda setiap minggu untuk menjawab tiga pertanyaan TTT (This Time Tomorrow) dalam acara ibadah mereka. Apa yang akan Anda lakukan pada saat seperti ini besok? Peluang atau tantangan apa yang akan Anda hadapi? Bagaimana kami dapat mendoakan Anda? [1]

Para pemimpin dan jemaat bersama-sama berusaha belajar sebanyak mungkin dari contoh-contoh gereja lain yang sudah menjalani proses ini di tempat lain. Mereka aktif mencari sumber-sumber teologis dan praktis yang baik untuk studi dan ibadah pribadi maupun kelompok. Kotak-kotak di samping sepanjang artikel ini menunjukkan berbagai strategi praktis yang telah diadopsi gereja-gereja itu. Semuanya adalah aktivitas-aktivitas yang diharapkan dapat memicu pembaca memikirkan opsi-opsi kreatif di lingkungannya masing-masing.

Dari hasil penelitiannya di sejumlah gereja di Amerika yang telah memulai perjalanan “iman di tempat kerja”, Stuart Dugan menarik empat kesimpulan penting:

  1. Tidak ada satu model tunggal untuk pelayanan dunia kerja yang cocok untuk semua gereja atau komunitas.

  2. Gereja-gereja yang lebih besar dapat menggali lebih banyak sumber internal daripada gereja-gereja yang lebih kecil. Gereja-gereja di komunitas pebisnis memiliki orientasi yang berbeda dari gereja-gereja di kalangan buruh atau petani. Gereja-gereja yang kaya seringkali lebih mampu memberi dampak yang lebih luas daripada gereja-gereja yang jemaatnya berjuang keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

  3. Gereja-gereja yang mengadopsi model gereja lain tanpa mempertimbangkan konteks pelayanannya sendiri, tingkat kedewasaan rohani, atau kebutuhan regionalnya kemungkinan besar akan menjadi frustrasi. Dengan kata lain, gereja mana pun yang ingin memulai perjalanan ini harus menemukan jalannya sendiri dan mengikuti pimpinan Roh di dalam jemaatnya sendiri.

  4. Tidak ada satu model pun yang memadai dengan sendirinya, bahkan di satu jemaat saja.

Gereja-gereja yang berhasil tidak pernah membatasi dirinya dengan satu pendekatan saja. Sebaliknya, mereka menilai, mengevaluasi ulang, menyesuaikan, dan berinovasi untuk mengumpulkan kekuatan dari berbagai macam cara beroperasi, dan mereka selektif dalam mengadopsi yang paling cocok dengan kebutuhan mereka sendiri. Gereja bisa banyak belajar dari semangat kewirausahaan yang cepat beradaptasi dengan situasi pasar yang terus berubah. Sama seperti bisnis-bisnis harus sangat adaptif agar tetap dapat bersaing di pasar yang terus berubah, gereja juga perlu bersikap fleksibel dan sigap agar dapat melayani kebutuhan jemaat dan komunitasnya yang terus berubah dengan sebaik-baiknya.

Salah satu kunci keberhasilan dalam usaha-usaha ini adalah konsep memberi-izin. Orang-orang yang sudah berhasil dalam profesi mereka di luar gereja perlu diberi izin untuk mengalihkan keterampilan, kontak/relasi, dan gairah keterbebanan mereka kepada usaha-usaha yang memajukan Kerajaan. Gereja-gereja yang dipimpin rohaniwan tradisional seringkali memiliki pola pikir bahwa para pendeta mengetahui yang terbaik, dan segala pendekatan dan program yang paling efektif berasal dari seminari-seminari dan penerbit-penerbit Kristen. Tetapi pengalaman mengajarkan pada kita bahwa hal-hal yang jauh lebih besar dapat terjadi dengan memberi izin kepada orang-orang yang telah sukses dalam bisnis untuk sukses dalam pelayanan di luar jemaat.

Di Mana Tempatku Yang Pas dalam Puzzle Allah?

Di mana tempat saya yang pas dalam Puzzle (Gambar Besar) Allah? Gereja Baptis Avonhead di Selandia Baru memiliki banyak siswa sekolah menengah dan mahasiswa universitas yang akan lulus. Mereka mengadakan serangkaian acara Minggu malam dan lokakarya tengah minggu tentang karir dan perencanaan hidup. Mereka mendapati bahwa sejumlah orang paruh baya juga tertarik dan mencari bantuan dalam hal ini. Saat itu mereka melibatkan pembicara dari luar. Tetapi mereka berharap beberapa lulusan kursus ini dapat dilatih untuk mengadakan sendiri bagi orang lain.[2]

Gereja Willow Creek menawarkan lokakarya selama 9 minggu untuk orang-orang yang sedang dalam masa transisi dan mencari arah baru, dan buku Halftime karya Bob Buford juga telah digunakan secara luas di gereja-gereja Amerika untuk orang-orang paruh baya. [3]

Hanya 4 Pertanyaan

Ketika ditanya, “Jika ada satu hal saja yang dapat Anda lakukan untuk mengubah budaya jemaat agar dapat mendukung orang Kristen di tempat kerja, apa yang akan Anda lakukan?” R. Paul Stevens berkata, “Beri saya waktu tiga menit dan empat pertanyaan dalam ibadah setiap hari Minggu selama setahun. Saya akan mengundang orang yang berbeda setiap minggu untuk maju ke depan jemaat dan berkata kepada mereka: 1. Ceritakan tentang pekerjaan yang Anda lakukan. 2. Masalah apa saja yang Anda hadapi dalam pekerjaan Anda? 3. Apakah iman Anda memengaruhi cara Anda menghadapi masalah-masalah ini? 4. Bagaimana Anda ingin kami mendoakan Anda dan pelayanan Anda di tempat kerja? Kemudian kita akan berdoa untuk mereka.”

Masih ada banyak sekali kreativitas yang dapat dimanfaatkan dan model-model inovatif yang bisa dikembangkan yang akan jauh melampaui yang sudah dilakukan saat ini. Jika diberi izin dan dukungan yang memadai, para inovator di bidang pelayanan ‘iman di tempat kerja’ kemungkinan besar akan melakukan yang bahkan tak pernah terbayangkan. Di era teknologi dan dinamika kerja yang terus berubah sekarang ini, termasuk dampak era informasi global, jenis-jenis kebutuhan pelayanan di dunia kerja akan terus berubah dan membutuhkan inovasi baru. Robert Lewis, pendeta lintas-jemaat di gereja Fellowship Bible menyatakan dengan jelas, ‘Di balik struktur Kekristenan Amerika, orang-orang yang merindukan pengalaman pribadi dan langsung menjadi pembuat perubahan, bukan melayani pembuat perubahan. Mereka datang ke gereja untuk dirawat dan ditantang, tetapi harus ada titik tujuan akhir – pelayanan langsung mereka sendiri. Membantu mereka menemukan kesempatan ini seharusnya menjadi hasrat terbesar kita’.[4]

Strategi-strategi yang menolong gereja-gereja menjadi pemerlengkap yang lebih baik perlu dijalankan dengan saksama dalam jangka panjang. Ini membutuhkan perubahan ekspektasi dan budaya jemaat. Spektrum partisipan yang luas dari seluruh gereja diperlukan untuk melakukan sedemikian banyak perubahan secara efektif dan berkelanjutan.

Pendekatan lain dalam menjalankan proses ini telah diadopsi oleh gereja-gereja yang terlibat dalam Proyek Gereja Imagine yang diketuai Neil Hudson untuk London Institute of Contemporary Christianity. Proses yang mereka jalani berputar dan berkelanjutan sementara gereja-gereja didorong untuk meninjau kembali dan memperkuat perubahan-perubahan yang telah dilakukan sebelumnya. Enam langkah yang mereka gambarkan bergerak searah jarum jam di sekitar lingkaran meliputi:

  1. Sampaikan visi – visi untuk menjadi gereja pembuat-murid seluruh-hidup.

  2. Fokus di garis depan – konteks-konteks misi tempat jemaat menghabiskan waktunya di dunia di luar gereja.

  3. Bentuk tim inti – sekelompok orang yang terlibat secara pribadi untuk menyampaikan visi, mendorong inisiatif dan memelopori proses perubahan.

  4. Lakukan perubahan satu derajat – promosikan perubahan-perubahan kecil namun efektif yang berfungsi sebagai tuas yang menguatkan satu sama lain ke arah perubahan budaya yang menyeluruh.

  5. Bagikan cerita-cerita – rayakan tanda-tanda pertumbuhan dan perubahan kecil sehari-hari, dengarkan cerita-cerita yang disampaikan dalam percakapan-percakapan yang dapat dilakukan untuk menyemangati dan memberkati orang lain.

  6. Definisikan ulang komitmen gereja – perubahan fokus ketika para pemimpin dan anggota mulai melihat gereja bukan semata-mata sebagai tempat menerima perawatan pastoral tetapi terutama sebagai tempat untuk mengembangkan kemampuan vokasional. [5]

Gereja Yang Memperlengkapi Menghubungkan Pekerjaan Sehari-hari dengan Ibadah

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Gereja-gereja ini mengubah pendekatan mereka terhadap ibadah. Hubungan antara kerja dan ibadah dijelajahi dalam lagu-lagu yang mereka nyanyikan, doa-doa yang mereka panjatkan, kesaksian yang mereka bagikan, dan tema-tema yang disampaikan dalam kotbah. Gereja-gereja ini telah menyadari bahwa ibadah bukan hanya yang terjadi di gereja. Seperti tertulis dalam Laporan Keuskupan Anglikan Sydney tentang Arti dan Pentingnya Ibadah, “Ibadah adalah respons yang tepat dari seluruh pribadi terhadap penyataan diri Allah dalam Kristus: itulah aktivitas seluruh hidup (Roma 12:1)”.[1] Gereja-gereja ini mendorong jemaatnya mempraktikkan yang diajarkan rasul Paulus ketika ia berkata, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan… Kristus adalah tuan [yang kamu layani]” (Kolose 3:23-24).

Ada banyak cara untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara iman dan kerja dalam acara-acara ibadah bersama kita. Beberapa contohnya adalah:

Kotbah

Steve Graham, pendeta gereja Pentakosta di Christchurch, Selandia Baru, menyampaikan serangkaian kotbah tentang Yusuf. Ia merasa tertantang untuk berusaha lebih keras memahami situasi kerja Yusuf sehari-hari dan menghubungkan pemahaman ini dengan kehidupan kerja jemaatnya. Ia terkejut dengan respons hangat jemaat dan umpan balik yang mereka berikan. Ia meminta beberapa dari mereka untuk menceritakan kisah mereka di gereja. Ia mulai mendapat pertanyaan-pertanyaan tentang masalah-masalah etika lainnya. Maka, ia memutuskan untuk menyampaikan serangkaian kotbah lain berdasarkan Sepuluh Perintah Allah, yang juga dengan penekanan tentang kerja. Umpan balik dan cerita-cerita yang menarik pun berlanjut.[2]

Kotbah dan Pengajaran: Banyak orang Kristen berkata mereka tak bisa mengingat pernah mendengar kotbah atau pelajaran tentang makna kerja dari sudut pandang Allah.[3] Gereja yang memperlengkapi belajar cara mengajarkan dan mengkotbahkan cerita Alkitab dari berbagai segi yang berkaitan dengan kerja.[4] Dalam kotbah-kotbah yang didasarkan pada penyelidikan bagian Alkitab tertentu (kotbah ekspositori), mungkin lebih efektif jika memasukkan tema-tema yang berkaitan dengan kerja dalam kotbah mingguan, daripada menyampaikan satu atau dua kotbah tentang kerja berdasarkan ayat Alkitab yang dipilih secara khusus. Tafsiran Proyek Teologi Kerja yang mengupas setiap kitab dalam Alkitab dapat menjadi sumber yang sangat bermanfaat dalam hal ini.

Bacaan Alkitab: Banyak orang tidak terbiasa mendengarkan tema-tema tentang kerja melalui Bacaan Alkitab. Seringkali akan menolong jika bacaan itu diperkenalkan dengan cara yang lebih eksplisit mengajak anggota jemaat untuk memikirkan segala hal yang berkaitan dengan persoalan hidup dan kerja. Tafsiran yang mengupas setiap kitab dalam Alkitab di https://www.teologikerja.org/ memberikan ide-ide untuk menerapkan ratusan ayat Alkitab tentang kerja dan dapat membantu jemaat untuk belajar mencari tema-tema yang berkaitan dengan kerja di dalam Alkitab.

Renungan Anak

Pendeta mengambil tas besar berisi benda-benda menarik dan mengundang anak-anak untuk maju ke depan dan melihat apa yang ada di dalamnya. Tas itu berisi baju-baju seragam dan barang-barang dari pekerjaan orang sehari-hari. Anak-anak mengenakan seragam-seragam itu dan menebak milik siapa baju seragam itu. Ada sabuk tukang kayu, sekop tukang batu, sepatu bot karet putih besar, komputer jinjing dan kunci Inggris tukang ledeng dan.. Momen paling gaduh adalah saat pendeta menyalakan gergaji mesin. Anak-anak tertawa riuh rendah dan akhirnya berdoa untuk orang-orang dalam pekerjaan mereka.

Kotbah Anak: Ada banyak cara yang bervariasi untuk memasukkan cerita atau pelajaran dengan alat peraga yang berhubungan dengan kerja sebagai bagian dari renungan anak dalam ibadah, seperti yang disarankan di kotak “Children Talk” (Renungan Anak).

Nyanyian rohani dan lagu-lagu kontemporer: Ada banyak nyanyian rohani tradisional yang berbicara tentang aspek-aspek iman yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari dan kerja, tetapi lagu-lagu kontemporer yang menyuarakan hal ini lebih sulit ditemukan. Sejumlah lagu yang berhubungan dengan kerja dapat ditemukan di materi Proyek Teologi Kerja tentang Ibadah/Penyembahan.

Doa Partisipatif

Ketika jemaat memasuki Gereja Baptis Opawa, mereka menuliskan tiga jenis pekerjaan berbayar dan tidak berbayar yang kemungkinan mereka lakukan dalam minggu itu. Pada waktu persembahan, tulisan-tulisan mereka dipajang dengan tali gantungan di auditorium. Kemudian, pada waktu doa, dua orang berjalan di sepanjang tali sambil membacakan beberapa jenis pekerjaan yang tertulis di situ dan semua orang diundang untuk mempersembahkan pekerjaan mereka bagi Allah.

Doa syafaat: Doa-doa syafaat rutin dapat berisi ungkapan-ungkapan keprihatinan khusus atau yang lebih umum tentang orang-orang yang bekerja dan masalah-masalah yang mereka hadapi.

Liturgi: Ini mencakup bentuk-bentuk ibadah formal maupun informal yang membangun hubungan yang lebih kuat dengan kehidupan sehari-hari di luar gereja dengan memasukkan unsur-unsur (secara lisan maupun dengan memakai simbol-simbol dan gambar-gambar) dari situasi dan masalah jemaat sehari-hari. Salah satu sumber daring tentang liturgi yang berkaitan dengan kerja dapat diperoleh di https://www.ecfvp.org/files/uploads/14MDLResourcesFormaPDF1.pdf.

Perenungan dan Doa

Waktu Merenung (Saat Teduh): Musik mengalun diselingi beberapa pembacaan singkat tentang pekerjaan Allah dan pekerjaan kita. Pada saat yang sama, serangkaian gambar yang menunjukkan berbagai aspek pekerjaan Allah dalam penciptaan dan juga pekerjaan manusia ditayangkan di layar. Saat teduh ini kemudian diakhiri dengan doa tanggapan bersama.

Gambar visual: Di samping gambar-gambar biasa yang dipampang di dekat altar gereja, baik juga jika menampilkan gambar tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari jemaat di dunia sebagai pengingat visual tentang keterlibatan Allah. Gambar-gambar ini memberi undangan lain untuk menghubungkan ibadah dan kerja. Gambar visual ini bisa dalam bentuk peralatan kerja atau patung/pahatan yang berkaitan dengan dunia kerja atau gambar orang-orang di tempat kerja.

Menjembatani Kesenjangan hari Minggu-Senin

Small Boat Big Sea adalah sekelompok orang Kristen di Sydney yang mengadopsi pola untuk kehidupan komunitasnya dengan membicarakan pekerjaan sebagai bagian dari fungsi pengutusan tetap mereka. Seorang pengacara Kristen diundang untuk membicarakan tentang pekerjaannya, apa yang ia sukai, apa yang ia gumuli, dan bagaimana imannya memengaruhi pendekatannya terhadap pekerjaan itu. Jemaat juga mengajukan beberapa pertanyaan lain padanya. Ia kemudian ditanya mau didoakan apa dan komunitas pun lalu mengelilinginya untuk mendoakannya. Setiap minggu orang yang berbeda diundang untuk membicarakan tentang pekerjaan sehari-harinya.[5]

Acara Pengutusan: Banyak gereja bereksperimen dengan berbagai cara untuk mendoakan dan mendukung jemaat dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, sama seperti yang mereka lakukan pada orang-orang yang bekerja di gereja dan bidang-bidang pelayanannya. Terkadang ini bisa berupa upacara pengutusan resmi, tetapi seringkali itu hanya berarti sekadar mengakui dan mendoakan kelompok-kelompok pekerjaan yang berbeda pada beberapa hari Minggu berturut-turut. Namun penting untuk tidak memberi kesan bahwa acara itu hanya versi kelas dua dari upacara pengutusan pendeta atau pengerja gereja. Sebagai contoh, alih-alih “menahbiskan” seseorang untuk “pelayanan” di tempat kerjanya—dengan menggunakan istilah-istilah yang dianggap banyak orang berkaitan dengan pendeta—lebih baik “mengutus” atau “mensahkan” seseorang dalam “pekerjaan” atau “pelayanan” di bidangnya. Apa pun istilah yang digunakan, gereja-gereja yang memperlengkapi memperhatikan pola keseluruhan dari mengakui dan mendukung pekerjaan jemaat. Sebagai contoh, jika jemaat diutus untuk misi jangka pendek, tetapi tidak untuk pekerjaan sehari-hari mereka, hal itu mengirim pesan bahwa misi gereja lebih penting daripada pekerjaan biasa. Atau jika para dokter dan perawat diutus untuk pekerjaan mereka, tetapi pekerja ritel dan ibu rumah tangga tidak, hal itu mengirim pesan bahwa pekerjaan tertentu lebih penting bagi Allah daripada yang lainnya.

Festival Kerja

Di beberapa gereja, acara Festival Panen tradisional telah diubah menjadi festival kerja. Gereja-gereja lainnya memakai Hari Buruh untuk acara ini. Jemaat datang dengan mengenakan pakaian kerja mereka dan membawa barang-barang yang berkaitan dengan pekerjaan mereka untuk diletakkan di depan altar. Puncaknya adalah acara pengutusan yang menyerahkan setiap orang kepada Allah dalam pelayanan kehidupan sehari-hari mereka. Di Bakewell Inggris, festival kerja diadakan selama seminggu dengan melibatkan seluruh kota dalam berbagai pertunjukan dan kegiatan yang ditutup dengan ibadah khusus untuk merayakan dan mengucapkan “Terima kasih” atas berbagai macam pekerjaan di kota itu.[6]

Perayaan: Banyak gereja memakai Festival Panen, Rogation (Doa memohon berkat untuk ladang), Minggu Industri, atau peringatan Hari Buruh untuk merayakan pengalaman di tempat kerja dan mengeksplorasi isu-isu tentang kerja secara kreatif.

Ibadah dan Kelompok Kecil: Survei menunjukkan bahwa meskipun para pendeta berpikir jemaat membicarakan masalah-masalah kerja dalam kelompok kecil, pada kenyataannya mereka jarang melakukannya jika isu-isu ini tidak dimunculkan dalam konteks/pertemuan jemaat.[7] Banyak orang Kristen tidak pernah membicarakan kehidupan kerjanya sehari-hari kepada orang-orang dalam kelompoknya, kecuali saat mereka mengalami krisis di tempat kerja. Ini menunjukkan bahwa isu-isu tentang kerja perlu disebutkan secara eksplisit dalam kotbah, doa, kesaksian dan bagian-bagian penting lainnya dalam ibadah jika mereka ingin memicu percakapan itu di luar waktu ibadah.

Apakah Kelompok Rumahtangga Anda Bekerja?

Di Gereja Baptis Ilam (Christchurch, Selandia Baru), beberapa kelompok rumahtangga memutuskan untuk lebih serius memerhatikan pekerjaan sehari-hari jemaat mereka. Mereka memulai dengan menggunakan bagian pertama acara setiap malam untuk mendengarkan cerita satu orang tentang pekerjaannya termasuk menjelaskan peluang dan tantangan yang dihadapinya dalam bekerja. Jika memungkinkan, mereka memutuskan untuk mengunjungi tempat kerja orang itu. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mengakhirinya dengan mendoakan orang itu dalam pekerjaannya dan juga kebaikan perusahaan serta orang-orang yang bekerja bersamanya.

Ibadah dan Pertumbuhan Rohani: Survei baru-baru ini di Gereja Willow Creek dan beberapa jemaat lainnya menemukan bahwa kehadiran di gereja dan partisipasi dalam program-program gereja tidak berhubungan langsung dengan pertumbuhan rohani kecuali pada pengalaman awal orang percaya menjadi orang Kristen.[8] Pengembangan latihan rohani pribadi merupakan kunci untuk pertumbuhan rohani yang berkelanjutan. Laporan itu menyimpulkan bahwa gereja-gereja perlu beralih dari peran sebagai orang tua rohani yang mendorong kebergantungan pada program-program gereja menjadi pembimbing rohani yang menyediakan sumber-sumber untuk jemaat memberi makan (rohani) diri sendiri. Gereja yang berfokus pada peralihan ini mulai menjajaki metode-metode rohani yang konkret untuk pemuridan seluruh-hidup. Mereka juga memikirkan bagaimana bentuk dan isi pelayanan ibadah mereka perlu diubah.

Pusat Sumber Daya Iman dan Kerja

Sejumlah gereja telah mengadakan pusat-pusat sumber daya iman dan kerja dan laman-laman situs daring. Di salah satu gereja, pusat ini berupa perpustakaan buku-buku bacaan untuk individu dan bahan-bahan studi untuk kelompok kecil, seperti seri DVD 6 minggu Christian Life and Work oleh Mark Greene; Going to Work with God oleh Robert dan Linda Banks (8 sesi); dan Where’s God on Monday? oleh Alistair Mackenzie dan Wayne Kirkland (12 sesi). Sumber-sumber Iman dan Kerja yang dirancang khusus untuk gereja-gereja juga bisa didapatkan di situs daring:

Program Rekan Kerja dan Magang dalam Iman dan Kerja

Beberapa gereja telah mengadakan program-program rekan kerja atau magang selama setahun bagi para lulusan-baru universitas yang berkomitmen mengintegrasikan iman dan kerja. Program rekan kerja membentuk komunitas doa dan penyembahan yang erat di bawah kepemimpinan pendeta lokal dan seorang Kristen di dunia kerja. Mereka mempelajari dasar-dasar biblika dan teologi tentang kerja dan menerapkan pemahaman mereka saat bekerja dalam pekerjaan biasa sehari-hari. Mereka dipasangkan dengan mentor-mentor Kristen di bidang masing-masing.

Beberapa gereja besar telah membuat program-program sendiri, seperti gereja Falls di Alexandria, Virginia, AS, dan gereja Presbiterian Redeemer di New York. Gereja-gereja yang lebih kecil dapat bekerja sama dalam membuat program ini, dan di banyak kota, mereka mendapat bantuan dari The Fellows Initiative, sebuah hasil pengembangan program gereja Falls. Seringkali perguruan tinggi, seminari, atau bidang pelayanan dunia kerja setempat ikut menyumbangkan keahlian dan stabilitas organisasi.

Ibadah dan Etika: Apakah pergi ke gereja mengubah perspektif etika pengunjung gereja rutin? Menurut penelitian yang dilakukan Robin Gill dan lain-lainnya yang telah menguji hasil survei tentang nilai-nilai di Inggris, Eropa, Australia, dan Selandia Baru, jawabannya adalah ya, tetapi dengan catatan. Dengan catatan, karena menurut survei ini, hal ini hanya berlaku untuk beberapa isu moralitas pribadi (khususnya seks, mencuri dan menumpuk kekayaan), dan tidak berkaitan dengan pertimbangan etika yang lebih luas dalam bisnis, lingkungan, dan pemerintah.[9] Pergi ke gereja tampaknya memang bisa membuat perubahan etika, tetapi hanya jika hal itu berkaitan dengan isu-isu yang dibicarakan di gereja secara teratur. Gereja perlu memperluas spektrum isu-isu yang disiapkan untuk disebut penting (ini tidak berarti bahwa banyak waktu ibadah akan dihabiskan untuk membahas isu-isu ini secara rinci, tetapi hanya bahwa isu-isu itu sudah dimasukkan ke dalam agenda). Kita juga bisa mulai menyelidiki dengan lebih saksama dan sengaja kehidupan kerja tokoh-tokoh Alkitab yang menghadapi tantangan etika di tempat kerjanya dan mendorong orang Kristen untuk menghubungkan contoh-contoh ini dengan situasi mereka sendiri.

Berkat

Jemaat di Gereja Baptis Dumfries di Skotlandia berbalik menghadap ke pintu keluar seraya berkata, “Kiranya kasih Allah menopang kami dalam pekerjaan kami, Kiranya terang Yesus menerangi pikiran dan perkataan kami, Kiranya kuasa Roh Kudus memimpin semua pertimbangan kami, Dan kiranya semua yang dilakukan menjadi saksi kehadiran-Mu dalam hidup kami’.

Berkat: Berkat yang berbicara tentang Allah yang mengutus umat-Nya ke dunia untuk membuat perbedaan di sana dapat mengingatkan jemaat bahwa Allah menyertai mereka dalam pekerjaan mereka. Dengan memakai jemaat dengan cara demikian, Allah sedang menggenapi firman-Nya kepada Abraham, “Oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat” (Kejadian 22:18).