Bootstrap

Gereja Yang Memperlengkapi Aktif Mencari Contoh-contoh dan Sumber-sumber

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Church door 620
Saat Seperti Ini Besok

Proyek Gereja The Imagine di London mendorong gereja-gereja untuk mengundang orang yang berbeda setiap minggu untuk menjawab tiga pertanyaan TTT (This Time Tomorrow) dalam acara ibadah mereka. Apa yang akan Anda lakukan pada saat seperti ini besok? Peluang atau tantangan apa yang akan Anda hadapi? Bagaimana kami dapat mendoakan Anda? [1]

Para pemimpin dan jemaat bersama-sama berusaha belajar sebanyak mungkin dari contoh-contoh gereja lain yang sudah menjalani proses ini di tempat lain. Mereka aktif mencari sumber-sumber teologis dan praktis yang baik untuk studi dan ibadah pribadi maupun kelompok. Kotak-kotak di samping sepanjang artikel ini menunjukkan berbagai strategi praktis yang telah diadopsi gereja-gereja itu. Semuanya adalah aktivitas-aktivitas yang diharapkan dapat memicu pembaca memikirkan opsi-opsi kreatif di lingkungannya masing-masing.

Dari hasil penelitiannya di sejumlah gereja di Amerika yang telah memulai perjalanan “iman di tempat kerja”, Stuart Dugan menarik empat kesimpulan penting:

  1. Tidak ada satu model tunggal untuk pelayanan dunia kerja yang cocok untuk semua gereja atau komunitas.

  2. Gereja-gereja yang lebih besar dapat menggali lebih banyak sumber internal daripada gereja-gereja yang lebih kecil. Gereja-gereja di komunitas pebisnis memiliki orientasi yang berbeda dari gereja-gereja di kalangan buruh atau petani. Gereja-gereja yang kaya seringkali lebih mampu memberi dampak yang lebih luas daripada gereja-gereja yang jemaatnya berjuang keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

  3. Gereja-gereja yang mengadopsi model gereja lain tanpa mempertimbangkan konteks pelayanannya sendiri, tingkat kedewasaan rohani, atau kebutuhan regionalnya kemungkinan besar akan menjadi frustrasi. Dengan kata lain, gereja mana pun yang ingin memulai perjalanan ini harus menemukan jalannya sendiri dan mengikuti pimpinan Roh di dalam jemaatnya sendiri.

  4. Tidak ada satu model pun yang memadai dengan sendirinya, bahkan di satu jemaat saja.

Gereja-gereja yang berhasil tidak pernah membatasi dirinya dengan satu pendekatan saja. Sebaliknya, mereka menilai, mengevaluasi ulang, menyesuaikan, dan berinovasi untuk mengumpulkan kekuatan dari berbagai macam cara beroperasi, dan mereka selektif dalam mengadopsi yang paling cocok dengan kebutuhan mereka sendiri. Gereja bisa banyak belajar dari semangat kewirausahaan yang cepat beradaptasi dengan situasi pasar yang terus berubah. Sama seperti bisnis-bisnis harus sangat adaptif agar tetap dapat bersaing di pasar yang terus berubah, gereja juga perlu bersikap fleksibel dan sigap agar dapat melayani kebutuhan jemaat dan komunitasnya yang terus berubah dengan sebaik-baiknya.

Salah satu kunci keberhasilan dalam usaha-usaha ini adalah konsep memberi-izin. Orang-orang yang sudah berhasil dalam profesi mereka di luar gereja perlu diberi izin untuk mengalihkan keterampilan, kontak/relasi, dan gairah keterbebanan mereka kepada usaha-usaha yang memajukan Kerajaan. Gereja-gereja yang dipimpin rohaniwan tradisional seringkali memiliki pola pikir bahwa para pendeta mengetahui yang terbaik, dan segala pendekatan dan program yang paling efektif berasal dari seminari-seminari dan penerbit-penerbit Kristen. Tetapi pengalaman mengajarkan pada kita bahwa hal-hal yang jauh lebih besar dapat terjadi dengan memberi izin kepada orang-orang yang telah sukses dalam bisnis untuk sukses dalam pelayanan di luar jemaat.

Di Mana Tempatku Yang Pas dalam Puzzle Allah?

Di mana tempat saya yang pas dalam Puzzle (Gambar Besar) Allah? Gereja Baptis Avonhead di Selandia Baru memiliki banyak siswa sekolah menengah dan mahasiswa universitas yang akan lulus. Mereka mengadakan serangkaian acara Minggu malam dan lokakarya tengah minggu tentang karir dan perencanaan hidup. Mereka mendapati bahwa sejumlah orang paruh baya juga tertarik dan mencari bantuan dalam hal ini. Saat itu mereka melibatkan pembicara dari luar. Tetapi mereka berharap beberapa lulusan kursus ini dapat dilatih untuk mengadakan sendiri bagi orang lain.[2]

Gereja Willow Creek menawarkan lokakarya selama 9 minggu untuk orang-orang yang sedang dalam masa transisi dan mencari arah baru, dan buku Halftime karya Bob Buford juga telah digunakan secara luas di gereja-gereja Amerika untuk orang-orang paruh baya. [3]

Hanya 4 Pertanyaan

Ketika ditanya, “Jika ada satu hal saja yang dapat Anda lakukan untuk mengubah budaya jemaat agar dapat mendukung orang Kristen di tempat kerja, apa yang akan Anda lakukan?” R. Paul Stevens berkata, “Beri saya waktu tiga menit dan empat pertanyaan dalam ibadah setiap hari Minggu selama setahun. Saya akan mengundang orang yang berbeda setiap minggu untuk maju ke depan jemaat dan berkata kepada mereka: 1. Ceritakan tentang pekerjaan yang Anda lakukan. 2. Masalah apa saja yang Anda hadapi dalam pekerjaan Anda? 3. Apakah iman Anda memengaruhi cara Anda menghadapi masalah-masalah ini? 4. Bagaimana Anda ingin kami mendoakan Anda dan pelayanan Anda di tempat kerja? Kemudian kita akan berdoa untuk mereka.”

Masih ada banyak sekali kreativitas yang dapat dimanfaatkan dan model-model inovatif yang bisa dikembangkan yang akan jauh melampaui yang sudah dilakukan saat ini. Jika diberi izin dan dukungan yang memadai, para inovator di bidang pelayanan ‘iman di tempat kerja’ kemungkinan besar akan melakukan yang bahkan tak pernah terbayangkan. Di era teknologi dan dinamika kerja yang terus berubah sekarang ini, termasuk dampak era informasi global, jenis-jenis kebutuhan pelayanan di dunia kerja akan terus berubah dan membutuhkan inovasi baru. Robert Lewis, pendeta lintas-jemaat di gereja Fellowship Bible menyatakan dengan jelas, ‘Di balik struktur Kekristenan Amerika, orang-orang yang merindukan pengalaman pribadi dan langsung menjadi pembuat perubahan, bukan melayani pembuat perubahan. Mereka datang ke gereja untuk dirawat dan ditantang, tetapi harus ada titik tujuan akhir – pelayanan langsung mereka sendiri. Membantu mereka menemukan kesempatan ini seharusnya menjadi hasrat terbesar kita’.[4]

Strategi-strategi yang menolong gereja-gereja menjadi pemerlengkap yang lebih baik perlu dijalankan dengan saksama dalam jangka panjang. Ini membutuhkan perubahan ekspektasi dan budaya jemaat. Spektrum partisipan yang luas dari seluruh gereja diperlukan untuk melakukan sedemikian banyak perubahan secara efektif dan berkelanjutan.

Pendekatan lain dalam menjalankan proses ini telah diadopsi oleh gereja-gereja yang terlibat dalam Proyek Gereja Imagine yang diketuai Neil Hudson untuk London Institute of Contemporary Christianity. Proses yang mereka jalani berputar dan berkelanjutan sementara gereja-gereja didorong untuk meninjau kembali dan memperkuat perubahan-perubahan yang telah dilakukan sebelumnya. Enam langkah yang mereka gambarkan bergerak searah jarum jam di sekitar lingkaran meliputi:

  1. Sampaikan visi – visi untuk menjadi gereja pembuat-murid seluruh-hidup.

  2. Fokus di garis depan – konteks-konteks misi tempat jemaat menghabiskan waktunya di dunia di luar gereja.

  3. Bentuk tim inti – sekelompok orang yang terlibat secara pribadi untuk menyampaikan visi, mendorong inisiatif dan memelopori proses perubahan.

  4. Lakukan perubahan satu derajat – promosikan perubahan-perubahan kecil namun efektif yang berfungsi sebagai tuas yang menguatkan satu sama lain ke arah perubahan budaya yang menyeluruh.

  5. Bagikan cerita-cerita – rayakan tanda-tanda pertumbuhan dan perubahan kecil sehari-hari, dengarkan cerita-cerita yang disampaikan dalam percakapan-percakapan yang dapat dilakukan untuk menyemangati dan memberkati orang lain.

  6. Definisikan ulang komitmen gereja – perubahan fokus ketika para pemimpin dan anggota mulai melihat gereja bukan semata-mata sebagai tempat menerima perawatan pastoral tetapi terutama sebagai tempat untuk mengembangkan kemampuan vokasional. [5]