Bagaimana Pekerjaan Manusia Berhubungan dengan Pekerjaan Allah?
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Latihan Pemuridan Mandat PenciptaanMemahami mandat penciptaan sebagai konsep teologi adalah satu hal, tetapi memahaminya sebagai realitas praktis adalah hal lain. Cobalah ajukan pertanyaan-pertanyaan dan latihan-latihan berikut ini untuk membantu orang-orang yang Anda muridkan menghayati secara pribadi yang diajarkan Kejadian 1 tentang kerja:
Diambil dari Equipping Christians for Kingdom Purpose in Their Work oleh Tom Lutz dan Heidi Unruh. Diterbitkan oleh Penerbit Hendrickson. Hak cipta dilindungi undang-undang. |
Saat ditanya, “Apakah pekerjaan kita penting bagi Allah?” banyak gereja menjawab ya. Tetapi mereka memberi jawaban yang berbeda ketika menjelaskan “Bagaimana pekerjaan kita penting bagi Allah?” Bagi sebagian gereja, bekerja hanya tentang mencari uang untuk menopang diri sendiri dan pekerjaan gereja. Gereja-gereja lainnya memprioritaskan pentingnya penginjilan di tempat kerja. Kedua pendekatan ini sama-sama tidak melihat bekerja sebagai latihan rohani dan memiliki nilai intrinsik. Bagi orang-orang ini, bekerja hanya memiliki nilai instrumental, bekerja hanya dianggap penting jika bisa menghasilkan uang dan menjadi peluang untuk penginjilan. Orang-orang lain memperluasnya dengan memasukkan bekerja sebagai konteks untuk melayani orang lain. Contohnya, orang-orang Kristen yang terlibat dalam yang kadang disebut sebagai 'profesi menolong' (dokter, perawat, pekerja sosial, konselor dan guru) merasa pekerjaan mereka penting bagi Allah dengan cara yang tidak dialami orang-orang yang terlibat dalam kebanyakan profesi lain. Banyak gereja tampaknya meneguhkan pentingnya pekerjaan yang melayani orang secara lebih langsung, dan kata-kata seperti 'ministry' dan 'pelayanan' sering diterapkan untuk pekerjaan ini. Orang-orang Kristen yang berkecimpung di industri-industri lain juga mencari peluang-peluang untuk menolong orang di tempat kerjanya, tetapi tidak banyak gereja yang meneguhkan nilai intrinsik dari pekerjaan yang di luar profesi-profesi menolong. Barangkali istilah ‘profesi menolong’ inilah yang menjadi bagian dari masalahnya, karena istilah itu memberi kesan bahwa profesi-profesi lain seperti bisnis, hukum, teknik, keuangan, dan lain-lainnya tidak menolong siapa pun. Padahal, semua pekerjaan yang baik adalah profesi menolong. Pemahaman yang alkitabiah menegaskan bahwa semua pekerjaan penting bagi Allah dan merupakan kesempatan untuk manusia berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah yang masih terus berlangsung, sebagaimana disebutkan di Kejadian 1:26-28.
Pemahaman yang lebih lengkap tentang pentingnya kerja dapat digambarkan sebagai bangku berkaki tiga. Setiap kaki merepresentasikan salah satu dari tiga panggilan besar yang kita baca di Alkitab: Amanat Agung (Matius 28:19-20), Hukum Yang Terutama (Matius 22:37-38) dan panggilan penciptaan—atau yang sering disebut sebagai “Mandat Budaya” (Kejadian 1:26-28). Amanat Agung menekankan pentingnya orang Kristen terlibat dalam membagikan iman dan menjadikan murid. Hukum Yang Terutama menekankan pentingnya pelayanan orang Kristen, yang menunjukkan kasih dalam tindakan. Mandat Budaya menekankan bahwa pekerjaan kita sendiri dapat menjadi tindakan penyembahan dan partisipasi dalam pekerjaan Allah. Sesungguhnya inilah yang pertama-tama dari segala perintah, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah, penuhilah dan taklukkanlah bumi” (Kejadian 1:28), dan perintah-perintah lainnya melengkapi, tetapi tidak menggantikannya. Jadi, sebagaimana bangku itu memerlukan ketiga kakinya untuk berdiri, teologi kerja yang terpadu juga perlu meneguhkan pentingnya kesaksian, pelayanan, dan nilai intrinsik, meskipun orang-orang tertentu dengan karunia-karunia atau situasi-situasi mereka yang berbeda-beda lebih menekankan yang satu daripada yang lainnya.
Lihat Dasar-dasar Teologis dan Panggilan dalam Perspektif Historis-Teologis di www.theologyofwork.org untuk informasi lebih lanjut tentang teologi kerja yang alkitabiah.
