Bootstrap

Apa Kata Alkitab tentang Kekayaan dan Kecukupan? (Tinjauan Umum)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Bible wealth provision money 72

Pendahuluan

Allah mau semua orang sejahtera secara ekonomi. Dia ingin kita mendapat kecukupan (kebutuhan dasar) untuk kehidupan kita sehari-hari. Dia juga ingin kita menikmati kekayaan (kelimpahan) dari kemurahan hati-Nya. Selain itu, dunia ciptaan Allah ini memiliki banyak sumber daya yang cukup untuk memenuhi semua yang kita butuhkan. Sayangnya, di dunia yang telah jatuh yang kita diami ini, banyak orang tidak mengalami kecukupan Allah yang melimpah. Orang-orang lainnya bisa memperoleh kecukupan tetapi dengan pengorbanan yang besar (secara emosional, fisik, relasional, lingkungan, moral atau spiritual) dari diri mereka sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka. Lalu ada juga orang-orang lainnya lagi yang memiliki kekayaan ekonomi yang signifikan, tetapi cara memperolehnya membawa risiko pada orang lain maupun diri mereka sendiri. Bagaimanapun situasi kita secara ekonomi, pertanyaan dan kekhawatiran tentang maksud dan peran Allah dalam hal kecukupan dan kekayaan sangat membebani pikiran hampir setiap orang Kristen. Hal-hal seperti ini menjadi perhatian utama dalam kehidupan orang kaya maupun orang miskin; pemberi kerja, pekerja dan pencari kerja; pelajar/mahasiswa, orangtua dan pensiunan; pemilik rumah, penyewa maupun orang yang tak punya rumah.

Bersyukur, perhatian terhadap bidang ekonomi ini sejalan dengan prioritas yang diberikan Kitab Suci. Sesungguhnya, kecukupan dan kekayaan bukanlah isu-isu sampingan di dalam Alkitab. Keduanya memenuhi sebagian besar isi Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dan mencolok di dalam kitab-kitab Injil.

Jadi, apa yang dikatakan firman Allah kepada kita? Dalam artikel ini, kita akan membahas:

  • Maksud Allah yang semula untuk kita dalam hal kecukupan dan kekayaan.

  • Dampak kehidupan di dunia yang telah jatuh pada kemampuan kita untuk mengalami kecukupan dan kekayaan.

  • Respons Allah dalam menebus bidang ekonomi serta peran kita dalam hal ini.

  • Apa yang layak kita harapkan dari Allah mengenai kecukupan kita.

  • Bagaimana seharusnya kita menangani kekayaan yang ada pada kita.

Secara keseluruhan, penekanan artikel ini lebih banyak pada maksud Allah dalam cara menangani kekayaan, daripada tentang arti bergantung pada Allah dalam mencukupi kebutuhan dasar. Banyak orang yang membaca artikel ini mungkin merasa khawatir apakah Allah akan mencukupi kebutuhan mereka, tetapi kami menduga, bagi sebagian besar pembaca, kekhawatiran yang banyak itu sebenarnya adalah tentang apakah mereka akan terus menikmati kekayaan yang besar—menurut standar dunia—daripada sekadar mendapat kecukupan dasar. Meskipun demikian, kecukupan dasar tentu saja menjadi bagian penting dalam pembahasan ini, dan kami menyambut baik kalau ada wawasan yang lebih mendalam tentang hal ini, terutama dari mereka yang memiliki pengalaman hidup dalam kemiskinan dan punya kekhawatiran yang lebih besar tentang kecukupan kebutuhan dasar.

Maksud Allah Yang Semula: Berkat, Kecukupan, Kelimpahan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Narasi di Kejadian 1 dan 2 menyatakan dengan jelas bahwa Allah merencanakan agar manusia menikmati keindahan, kelimpahan, dan keberbuahan ciptaan. Di lokasi yang indah di Taman Eden, manusia pertama mendapatkan tempat yang kaya dan subur, dan manusia dimaksudkan untuk menjadi kaya dalam segala hal. Allah menyediakan berlimpah sumber daya dan sarana agar manusia dapat hidup sejahtera dan makmur.

Seperti dikatakan penulis kitab Kejadian di awal kisah penciptaan manusia, “Allah memberkati mereka” (Kejadian 1:28). Kata “berkat” atau “diberkati” adalah fitur sentral narasi Alkitab. Bagian dari berkat berelasi dengan Allah adalah hal yang sangat nyata dan langsung bisa dinikmati. Dan berkat-berkat materi ini terintegrasi penuh dengan berkat-berkat mengenal dan mengasihi Sang Pencipta yang lainnya.

Kemudian, bahkan di dalam kegersangan padang gurun, orang Israel mendapat kecukupan hidup sehari-hari dari Allah dalam bentuk manna (Keluaran 16) dan air yang memancar dari batu karang (Keluaran 17). Kekayaan ciptaan Allah yang melimpah ditemukan lagi dalam narasi Alkitab ketika orang Israel akhirnya mencapai Tanah Perjanjian. Itulah tanah yang "berlimpah susu dan madu," yang kaya dengan segala hal yang dibutuhkan untuk hidup sesuai rancangan Allah. Kitab Ulangan mencatat janji yang diberikan kepada umat Allah di padang gurun bahwa mereka akan mendapatkan semua yang mereka butuhkan di bumi ini untuk hidup sejahtera dan makmur.

Sebab Tuhan, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan sumber air yang mengalir di lembah dan gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelai, dengan pokok anggur, pohon ara dan pohon delima; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madu; suatu negeri di mana engkau akan makan roti tanpa perlu berhemat, dan engkau tidak akan kekurangan apa-apa. (Ulangan 8:7-9)

Sejak semula, Allah telah dengan sempurna menyediakan dunia untuk manusia berkembang dan berbuah. Tanah yang subur menghasilkan makanan ketika manusia menggunakan kemampuan yang diberikan Allah untuk “mengerjakan dan memeliharanya” (Kejadian 2:15). Maksud Allah bukanlah hanya supaya manusia dapat bertahan hidup, tetapi supaya mereka berkelimpahan dalam segala hal yang baik. “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi dan taklukkanlah bumi” (Kejadian 1:28). Allah memberi kemampuan kepada manusia untuk memahami keadaan alam agar mereka dapat memanfaatkan sumber-sumber dayanya (Kejadian 2:20). Usaha dan kepintaran manusia bukan cuma mampu mengembangkan ciptaan Allah untuk mencukupi kebutuhan semua orang dengan melimpah. Di dalam kemitraan dengan Sang Pencipta, kita dapat memanfaatkan secara kreatif sumber-sumber daya di bumi dengan mengembangkan dan berinovasi, menciptakan produk-produk baru, dan memperbaiki versi aslinya. Ada lebih dari cukup bahan baku untuk semua orang. Hal ini sangat kontras dengan prinsip kelangkaan/keterbatasan yang terjadi pada sebagian besar barang dan bahan di era ekonomi pasca-Eden.

Pada saat terbaik kita, kita manusia dapat bekerja sama dengan Allah secara luar biasa dalam mengembangkan ciptaan-Nya. Entah itu dalam pembangunan pertanian dan hortikultura, pemanfaatan batu bara, minyak, gas, angin, dan air untuk pembangkit listrik, pembuatan taman-taman, kebun-kebun dan gambar-gambar keindahan, atau perancangan dan pengembangan rumah-rumah, peralatan, pakaian, dan moda-moda transportasi, semua perkembangan yang memperkaya hidup kita itu adalah ungkapan-ungkapan dari penciptaan-bersama (co-creation). Kemampuan berinovasi, menghasilkan dan mengembangkan adalah bagian dari arti diciptakan segambar dengan Allah.

Dampak Kejatuhan Dunia

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pemberontakan manusia pertama (Kejadian 3) membawa dampak yang sangat buruk pada seluruh ciptaan—bukan saja dalam berelasi dengan Allah, tetapi juga dalam kemampuan memperoleh kecukupan dan menghasilkan kekayaan dari bumi. Kejatuhan menunjukkan bahwa ketika kita menghancurkan relasi kita dengan Allah, kita menciptakan masalah-masalah ekonomi dengan berbagai macam kejahatan lainnya. Karena Allah adalah sumber berkat, tidak lagi mendekat pada-Nya mengikis kemampuan manusia untuk mendapatkan kecukupan dan kekayaan.

Sebagai akibat Kejatuhan, manusia mulai hidup di bawah kutuk dan berkat. Hal ini membawa implikasi-implikasi signifikan pada pekerjaan/bekerja. Tanah—dan juga produktivitas dan keberhasilannya—sangat terdampak oleh kehancuran relasi itu, yang membuat Allah berkata kepada Adam:

Terkutuklah tanah karena engkau; dengan susah payah engkau mencari makan dari tanah itu seumur hidupmu; semak duri dan rumput duri akan ditumbuhkannya bagimu; dan tanaman ladang akan menjadi makananmu. Dengan cucuran keringat engkau akan mencari makan, sampai engkau kembali menjadi tanah… (Kejadian 3:17b-19a)

Kita mungkin juga menjadi tidak mampu mendapat kecukupan dasar dari materi-materi ciptaan, entah karena kesalahan kita sendiri, kesalahan orang lain, atau bukan kesalahan siapa-siapa secara khusus. Penyalahgunaan obat-obatan, kebiasaan kerja yang buruk, kurangnya akses pendidikan, kesehatan yang buruk, pemusatan sumber daya di tangan para elit, diskriminasi etnis, dan berbagai penyebab lainnya bisa menjadi penghalang untuk para individu, keluarga, komunitas, dan seluruh masyarakat mencipta-bersama (co-creation) dengan Allah dalam mencukupi kebutuhan mereka. Di dunia yang telah jatuh yang kita diami ini, maksud-maksud Allah yang semula tentang kecukupan dan kekayaan terganggu dalam beberapa hal yang nyata.

Banyak Orang Bahkan Tidak Dapat Memperoleh Kecukupan Dasar

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sekitar 1,4 miliar penduduk dunia hidup dalam kemiskinan ekstrem, artinya mereka tidak bisa mendapatkan kebutuhan hidup pokok. Sebanyak 1,1 miliar lainnya hidup pas-pasan, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dari hari ke hari saja, yang sangat rentan atau sudah di ambang kehancuran.[1] Kemiskinan ekonomi memengaruhi hampir 40 persen manusia. Mengingat yang sudah kita pelajari dari Kejadian 1 dan 2, keadaan seperti ini jelas bukan seperti yang dimaksudkan Allah. Lalu mengapa keadaan ini menjadi realitas sehari-hari begitu banyak orang?

Di dunia yang benar-benar adil dan merata, pilihan-pilihan yang baik akan mendatangkan kecukupan dan kekayaan, dan pilihan-pilihan yang buruk mendatangkan kemiskinan. Di dunia “sebab-akibat” seperti ini, kebenaran amsal-amsal seperti, "Dalam setiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka hanya mendatangkan kemiskinan" (Amsal 14:23) menjadi realistis. Kemalasan, pemborosan, disiplin diri yang buruk, dan perilaku adiktif, semuanya secara alami akan mendatangkan kemiskinan. Sebaliknya, kerja keras, pemakaian yang bijaksana, disiplin diri yang sehat, dan bebas kecanduan akan mendatangkan kekayaan. Hal ini bisa berlaku pada jutaan atau miliaran orang di dunia saat ini—kekayaan atau kemiskinan relatif mereka sebagian besar ditentukan oleh pilihan-pilihan baik, kerja keras, dan kejeniusan mereka sendiri. Di masyarakat yang ditangani dengan baik, di kalangan orang-orang yang memiliki akses merata ke sumber-sumber daya dan pendidikan, dan di dalam situasi-situasi yang tidak terganggu sakit-penyakit, bencana, disfungsi keluarga, kejahatan, atau kecelakaan, kekayaan dan kemiskinan seseorang kemungkinan merupakan hasil yang adil dari usaha pribadi.

Namun pada kenyataannya, dalam skala global, kita sama sekali tidak hidup di area yang adil dan merata. Dunia yang telah jatuh ini tidak adil dan tidak memperlakukan semua orang secara merata. Kita semua tidak memulai kehidupan dari keadaan yang sama. Keluarga, komunitas, dan situasi sosial kita sangat menentukan peluang-peluang kita di dunia ini. Sebagian dari kita beruntung karena dilahirkan dalam keluarga yang mendukung dan penuh kasih di negara-negara makmur, dengan serangkaian kemampuan dan peluang. Sementara orang-orang lain dilahirkan dalam situasi yang serba kekurangan dalam segala hal. Mereka tak pernah memiliki basis yang mereka butuhkan untuk mencukupi diri sendiri.

Memang benar bahwa sebagian besar kemiskinan adalah akibat dosa dan kesalahan tertentu manusia. Tetapi yang membuat orang tidak mendapat kecukupan atau kekayaan tidak selalu akibat dosanya sendiri. Pemerintah yang buruk, perang, korupsi, eksploitasi pihak yang berkuasa, kurangnya pendidikan dan pelatihan, berbagai penyakit masyarakat dan keluarga yang menghalangi pencapaian potensi, semuanya berkontribusi pada banyaknya orang yang tidak mendapat kecukupan, yang bukan akibat kesalahannya sendiri. Secara khusus, tidak mendapat kecukupan seringkali disebabkan, sebagian atau seluruhnya, oleh dosa sosial atau personal terhadap orang miskin. Artinya, mereka adalah korban dari akibat dosa orang lain. Seorang yang kejam merampas tanah keluarga, merenggut kemampuan mereka untuk menghasilkan. Sebuah pabrik mengeksploitasi para pekerja yang lemah dengan membayar upah di bawah standar dan mengancam yang keberatan. Seorang tuan tanah kaya menebangi pohon-pohon di hutan yang luas, membuat jutaan orang di hilir berisiko dilanda banjir. Seorang suami kecanduan judi, dan menelantarkan istri dan anak-anaknya tanpa uang sedikit pun. Sebuah investasi gagal akibat kecurangan dan penipuan, membuat keluarga yang sudah menabung dengan susah payah untuk masa depan tidak punya apa-apa lagi.

Meskipun demikian, tidak semua kemiskinan adalah akibat dosa, atau setidaknya bukan dosa yang jelas-jelas dilakukan orang tertentu. Sebagian orang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka karena disabilitas, penyakit, usia, atau faktor-faktor lain yang bukan kesalahan siapa-siapa. Di Perjanjian Lama, ketiga kelompok ini sangat rentan—“janda, anak yatim, dan pendatang/orang asing.”[2] Untuk mengantisipasinya, Hukum Ibrani memuat peraturan-peraturan yang menjamin terpeliharanya orang-orang ini.[3] Zakharia adalah tipikal nabi itu ketika ia menulis: “Beginilah firman Tuhan semesta alam: tegakkanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kasih setia dan kasih sayang satu sama lain; janganlah menindas janda dan anak yatim, pendatang dan orang miskin” (Zakharia 7:9-10).[4]

Kemiskinan lainnya terjadi akibat keadaan bumi kita yang tak dapat diprediksi. Bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, kekeringan, atau banjir dapat menghancurkan seluruh masyarakat, dan memusnahkan hasil panen, rumah, harta benda, dan mata pencaharian dalam sekejap. Contohnya, seperempat juta orang kehilangan nyawa dalam tsunami Boxing Day tahun 2004 yang melanda wilayah pesisir Indonesia dan wilayah-wilayah Asia Tenggara lainnya, dan ada lebih banyak lagi korban yang kehilangan tempat tinggal dan sarana-sarana untuk mencukupi diri sendiri.

Jadi kita harus sangat berhati-hati agar tidak membuat asumsi-asumsi tentang penyebab situasi seseorang— kaya atau pun miskin. Begitu banyak faktor yang memengaruhi, sebagian dari diri orang itu sendiri; kebanyakan dari luar kendali mereka. Alkitab sangat realistis dalam hal ini. Sebagai contoh, ada pengamatan bahwa, "kurang dari sepertiga amsal yang berbicara tentang orang kaya dan orang miskin mengajarkan bahwa orang akan mendapatkan yang pantas mereka dapatkan, sementara sisanya mengakui adanya masalah keadilan sosial-ekonomi."[5] Jadi, meskipun Alkitab terkadang mengaitkan kecukupan atau tidak berkecukupan dengan suatu sebab, Kitab Suci pada umumnya kurang peduli untuk mengidentifikasi penyebab-penyebab kemiskinan tertentu dan lebih peduli untuk mengingatkan kewajiban orang-orang yang punya kekayaan supaya memerhatikan orang-orang yang berkekurangan.

Banyak Orang Memperoleh Kecukupan dan Bahkan Menjadi Kaya—Tetapi Menimbulkan Bahaya Besar

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dibandingkan miliaran orang yang berjuang dengan susah payah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, orang-orang yang punya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka dan lain-lainnya mungkin tampaknya diberkati. Dan kenyataannya mereka memang diberkati, setidaknya secara ekonomi. Namun, memiliki cukup banyak juga dapat menimbulkan bahaya besar, baik bagi individu itu sendiri, keluarga, komunitas, atau negaranya, maupun bagi orang-orang lain yang terkena dampaknya. Kita akan membahas beberapa situasi kecukupan atau kekayaan yang menimbulkan bahaya bagi orang yang mendapatkannya maupun orang-orang yang dieksploitasi untuk mendapatkannya.

Kekayaan Yang Diperoleh dengan Cara Tidak Adil Itu Berbahaya

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sebagian pemimpin nasional mendapatkan kecukupan atau kekayaan dengan cara-cara yang tidak adil seperti eksploitasi, kekerasan, korupsi, pencurian, dan lain-lainnya. Para diktator dan rezim yang kejam merampas yang mereka inginkan, menindas rakyat mereka sendiri dengan kekerasan dan intimidasi, dan menjalani hidup mewah sementara rakyat berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Burma, Zimbabwe, Libya... daftarnya bisa terus ditambahkan.

Beberapa perusahaan multinasional mengeksploitasi pasar-pasar tenaga kerja murah, memaksakan kondisi-kondisi kerja yang tidak aman bagi para pekerja yang tak berdaya, atau menghancurkan ekosistem setempat agar dapat meraup keuntungan yang sangat besar. Keuntungan mereka didapat dengan mengorbankan orang-orang dan tempat-tempat yang tidak terlihat pihak berwenang di negara asal mereka dan tidak terhubung dengan para konsumen yang membeli produk-produk itu.

Beberapa individu dan organisasi mencurangi atau menipu para investor rumahtangga untuk mengambil risiko berlebihan, tanpa memikirkan orang-orang yang mungkin dirugikan dalam proses itu.

Ini hanyalah beberapa saja dari cara-cara memperoleh kekayaan dengan merugikan orang lain. Penyebab ketidakadilan semacam itu seringkali adalah keserakahan—“keinginan yang kuat dan egois untuk mendapatkan kekayaan, kekuasaan, atau makanan” [1] Rasul Paulus menghadapi masalah ini di gereja Efesus ketika ia menulis kepada Timotius, dan berkata:

Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Sebab, akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai duka. (1 Timotius 6:9-10)

Akibat keserakahan semacam itu seringkali tidak hanya membahayakan keadaan rohani kita sendiri dan keadaan ekonomi orang lain. Keserakahan itu juga dapat mengakibatkan degradasi lingkungan—yang menimbulkan kerusakan signifikan pada bumi, yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan orang lain untuk hidup layak dan mengurangi produktivitas ke depan banyak orang.

Yang menyedihkan, di Israel kuno sebagian orang menjadi kaya dengan cara-cara yang tidak adil. Sesungguhnya, banyak pesan nabi-nabi yang berbicara tentang ketidakadilan ekonomi yang dilakukan orang-orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan di Israel. Melalui juru bicara seperti Amos, Mikha, dan Yeremia, Allah menyatakan bahwa ibadah kita tidak ada artinya jika kita menumpuk kekayaan dengan cara mengeksploitasi orang lain. Jika kita berkata kita mengasihi Allah, kita harus mencerminkannya dalam cara kita memperlakukan orang lain dan menjalankan bisnis.

Hukuman datang kepada Israel, "karena mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut" (Amos 2:6b). Hukuman itu merupakan konsekuensi yang tak terelakkan dari kegagalan Israel untuk setia pada tanggung jawab perjanjiannya. Karena ciri khas Allah adalah kasih setia, keadilan, dan kebenaran [2], maka implikasinya, sifat-sifat ini juga harus menjadi ciri komunitas perjanjian. Memastikan seluruh anggota masyarakat (khususnya yang lemah) memiliki akses ke sumber-sumber yang dapat membuat mereka menjalani hidup yang bermartabat adalah bagian dari tanggung jawab perjanjian Israel.

Sayangnya, mekanisme Hukum yang berusaha membangun masyarakat yang adil, jujur, dan berbelas kasih telah dilanggar dan diabaikan. Alih-alih meneladani syalom Allah, bangsa Israel menjadi sama seperti bangsa-bangsa yang lainnya—sarang penindasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan pengabaian terang-terangan terhadap orang-orang yang terpuruk secara ekonomi. Orang kaya memperoleh kepemilikan banyak tanah (yang melanggar Imamat 25:25-28), lalu menyewakannya kembali kepada petani-petani kecil dengan mengenakan bunga (yang dilarang di Ulangan 23:19-20), yang pada akhirnya membuat gagal bayar. Sementara itu, sistem peradilan diputarbalikan dengan suap. Akibatnya, orang-orang yang tidak mampu lagi mencari nafkah harus menjual diri dengan menjadi budak.

Sebagai tanggapannya, nabi Amos berseru, "Hendaklah keadilan bergulung-gulung seperti air, dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir" (Amos 5:24). Nabi Mikha bertanya: "Apakah yang dituntut TUHAN darimu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Cara kita mencari nafkah, mempekerjakan atau mengatur orang lain, menjalankan bisnis, berinvestasi, dan menggunakan uang, bisa adil atau tidak adil. Dan ini tidak bisa dipisahkan dari ibadah kita kepada Allah. Kita tidak dapat mengasihi Allah dan juga mengeksploitasi orang lain dalam mengejar kekayaan.

Kekayaan Yang Halal Juga Bisa Berbahaya

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Tidak semua akumulasi kekayaan merupakan hasil ketidakadilan. Namun, meskipun kekayaan diperoleh dengan cara yang halal, potensi mendatangkan bahaya besar tetap ada. Ada banyak ayat dalam Kitab Suci yang memperingatkan pembaca tentang kebenaran bahwa kekayaan itu berbahaya. Kekayaan dapat menimbulkan berbagai macam efek samping yang negatif:

Pertama, kekayaan dapat menimbulkan kesombongan dan keangkuhan. Amsal 28:11 berkata, "Orang kaya menganggap dirinya bijak, tetapi orang miskin yang berpengertian mengenal dia." Mudah bagi orang kaya untuk percaya bahwa mereka memperoleh kekayaan semata-mata karena kepintaran atau kerja keras mereka sendiri. Yehezkiel memperingatkan Raja Tirus, "Dengan sangat pandainya engkau berdagang, engkau memperbanyak kekayaanmu, dan engkau menjadi sombong karena kekayaanmu" (Yehezkiel 28:5).

Kedua, kekayaan sering menimbulkan pengandalan-diri, kepuasan diri dan rasa aman yang palsu. Salah satu contoh ekstrem tentang hal ini adalah kesombongan Efraim di Hosea 12:9, “Bukankah aku telah menjadi kaya, telah mendapat harta bagiku; itu semua hasih jerih payahku. Orang tidak menemukan kesalahan yang merupakan dosa bagiku.” Dan perkataan Hosea di pasal berikutnya juga sangat tajam—tentang Israel yang melupakan Allah—“Ketika mereka digembalakan, mereka kenyang; setelah kenyang, mereka tinggi hati.” (Hosea 13:6). Yesus juga melihat bahaya kekayaan yang meninabobokan kita dengan rasa aman yang palsu ini dalam perumpamaan-Nya tentang orang kaya yang bodoh (Lukas 12:13-21). Sangat mudah sekali untuk berpikir kita tidak membutuhkan Allah ketika perut kita kenyang, kehidupan baik-baik saja, dan masa depan tampak terjamin.

Ketiga, kekayaan juga dapat menumpulkan kepekaan kita terhadap kebutuhan besar di sekitar kita, mengeringkan belas kasihan dan kemurahan hati kita. Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31). Meskipun si miskin Lazarus tinggal dalam kesusahan besar di pintu gerbang orang kaya itu, si orang kaya itu tidak peka dengan keadaan si miskin yang menyedihkan dan hanya asyik dengan gaya hidup dan penggunaan kekayaannya sendiri. Ironisnya, bahkan di Hades, orang kaya itu masih terobsesi dengan kebutuhannya sendiri dan memandang Lazarus tak lebih dari sekadar orang suruhan.

Keempat, dan yang paling menggoda dari semuanya adalah, pesona kekayaan yang memikat hati kita dan membagi kesetiaan kita. Di sini kita melihat bahwa Alkitab mengakui kekuatan yang dimiliki uang. Pemazmur memperingatkan kita tentang hal ini ketika ia menulis, "Apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya" (Mazmur 62:11b). Bahaya ini juga disampaikan dengan saksama kepada orang Israel di Ulangan 8:12-17:

Jangan sampai apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembumu dan kambing dombamu bertambah banyak, dan emas serta perakmu bertambah banyak... engkau menjadi tinggi hati, sehingga engkau melupakan Tuhan, Allahmu... Jangan sampai kaukatakan dalam hatimu, "Kuasaku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini."

Perkataan ini menyadarkan. Mungkin itu sebabnya penulis Amsal 30 meminta kepada Allah:

Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya jangan kalau aku kenyang aku menyangkal-Mu dan berkata “Siapa TUHAN itu?” atau kalau aku miskin, aku mencuri dan mencemarkan nama Allahku (Amsal 30:8-9)

Bahaya-bahaya kekayaan bahkan lebih ditegaskan lagi di Perjanjian Baru. Yang menjadi inti dari sikap Yesus adalah pernyataan-Nya bahwa:

Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Matius 6:24)

Kata yang digunakan untuk kekayaan di sini adalah mamon. Beberapa terjemahan menuliskannya dengan huruf besar (Mamon) untuk menekankan bahwa Yesus sedang memperhadapkan allah yang satu dengan yang lain. Keduanya sama-sama menuntut kesetiaan/pengabdian dan penyembahan kita. Kekayaan/Mamon itu tidak netral. Ia tidak pernah terpuaskan—begitu Anda memiliki sejumlah kekayaan, Anda akan terus menginginkannya lebih dan lebih lagi. Tak heran jika setelah bertemu dengan pemuda kaya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya seperti ini:

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sukarlah bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu: Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Matius 19:23-24)

Bagi Yesus, kekayaan adalah hal yang berbahaya. Kekayaan itu seperti batang dinamit—yang berpotensi melakukan banyak kebaikan, tetapi juga bisa menimbulkan banyak kerusakan. Dan semakin banyak yang Anda miliki, semakin besar risiko itu.

Kelima, memperoleh kecukupan dan kekayaan dapat memicu ketidakpuasan atas yang sudah kita miliki serta keinginan untuk memiliki lebih banyak lagi. Iri hati dan serakah bisa menyeruak dengan mudah saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang memiliki lebih banyak dari kita. Bahkan, dorongan untuk mengumpulkan dan menghabiskan lebih banyak membuat kita rentan terhadap manipulasi. Sejak tahun 1929, Floyd Allen, seorang eksekutif di General Motors, sudah berkata terus terang—“Iklan adalah bisnis yang membuat orang merasa tidak puas dengan yang mereka miliki demi sesuatu yang dianggap lebih baik.”[1]

Yang lebih terkini, sosiolog Bernard McGrane berkata bahwa,

Salah satu pesan tersembunyi dari semua iklan adalah, “Anda sedang tidak baik-baik saja dengan keadaan Anda saat ini. Segalanya buruk. Anda perlu bantuan. Anda perlu penyelamat.” Dalam arti itu, iklan dirancang untuk menghasilkan kritik-diri yang tak ada habisnya, berbagai macam kecemasan, dan kemudian menawarkan segala macam barang konsumen sebagai penyelamat Anda… Sebaliknya, satu pesan yang tidak akan pernah Anda dengar dari iklan adalah, “Anda baik-baik saja. Anda tidak perlu apa-apa. Jadilah diri Anda sendiri.”[2]

Kita dengan mudah mendapati diri kita terus-menerus menginginkan lebih. Kita telah melatih hawa nafsu kita untuk selalu menginginkan lebih. Menentukan batas “cukup” sangatlah sulit di lingkungan yang konsumtif ini. Mungkin inilah yang disampaikan Yakobus ketika ia menulis:

Kamu mengingini sesuatu, tetapi tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. (Yakobus 4:2-3)

Keenam, kita dapat menjadi cemas dan sangat khawatir tentang kecukupan kebutuhan kita yang akan datang. Orang mungkin berpikir kekhawatiran semacam ini hanya memenuhi hati dan pikiran orang yang benar-benar tidak memiliki cukup. Ternyata, banyak orang yang memiliki banyak juga mengalami stres yang membahayakan ini. Memiliki lebih dari kebutuhan dasar tampaknya membuat kita lebih khawatir karena sekarang kita memiliki lebih banyak barang yang bisa dikhawatirkan hilang.

Ketakutan tidak memiliki cukup inilah yang mendorong sebagian orang bekerja jauh lebih lama dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka yang artinya membelikan mereka gawai terbaru dan pakaian model terkini, padahal yang sebenarnya paling mereka butuhkan adalah waktu dan perhatian orang tua. Orang lainnya dipenuhi ketakutan bahwa mereka tidak akan memiliki cukup uang untuk menopang kehidupan mereka di hari tua. Dan karenanya, mereka merancang kecukupan untuk masa depan dengan mengorbankan pelayanan kepada Allah dan orang lain di-sini-dan-saat-ini, tidak membangun relasi-relasi yang kaya dan berarti, atau menjalani kehidupan yang seimbang.

Yang lain lagi terjaga di malam hari karena mencemaskan keamanan investasi tertentu atau memikirkan cara mendapatkan rumah atau mobil yang sangat mereka idam-idamkan. Sesungguhnya, lebih banyak energi cemas yang terkuras untuk masalah uang daripada hampir semua masalah lainnya. Apakah kecemasan ini yang mendorong orang melakukan hal-hal yang biasanya tidak akan mereka lakukan—seperti melakukan kecurangan, kurang jujur, mengorbankan persahabatan, atau mengkompromikan nilai-nilai?

Memiliki lebih dari kecukupan dasar yang kita butuhkan dapat menjadi beban. Kata-kata Yesus yang terkenal di Matius 6—yang diucapkan kepada orang banyak yang tahu bagaimana beratnya perjuangan mencari nafkah—sangat relevan:

Janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:31-33)

Pernyataan Yesus ini sangat provokatif. Tidak mudah memercayai Allah—apalagi jika masa depan ekonomi Anda tidak pasti. Namun, seperti dituliskan N.T. Wright: “Ketika [Yesus] menasihati para pengikut-Nya agar tidak khawatir tentang hari esok, kita harus menganggap Dia sedang mengajar dengan teladan.”[3] Jika kita bertanya, “Dapatkah orang benar-benar memercayai Allah seperti ini?” kita dapat menjawab bahwa setidaknya ada satu orang yang dapat.

Menebus Bidang Ekonomi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Meskipun benar bahwa maksud Allah yang semula agar manusia menikmati kecukupan dan kekayaan-Nya sudah terkacaukan, cerita belum selesai. Allah menanggapi masalah kekurangan kecukupan dan kekayaan di dunia ini dengan menebus bidang ekonomi agar bidang ini kembali dapat memenuhi yang dibutuhkan setiap orang.

Rasul Paulus mengingatkan kita di dalam surat Kolose, bahwa

Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian dengan darah salib Kristus. (Kolose 1:19-20)

“Segala sesuatu” ini mencakup bidang ekonomi.

Salah satu cara utama Allah dalam melakukan penebusan ini adalah melalui kehidupan para pengikut Yesus. Kitab Kolose melanjutkan,

Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan menjadi musuh-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. (Kolose 1:21-22)

Dan di dalam suratnya yang kedua kepada jemaat Korintus, Paulus menjelaskan tentang pekerjaan Allah di dalam dan melalui kita:

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah memercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.…Jadi kami ini utusan-utusan Kristus. (2 Korintus 5:17-20)

Pendamaian dengan Allah ini membawa implikasi-implikasi yang sangat besar dalam semua aspek kehidupan kita, termasuk aspek ekonomi. Duta besar (utusan) tentu saja merepresentasikan kepentingan ekonomi penguasa mereka, bersama dengan segala kepentingan lainnya.

Jadi apa artinya ini bagi peran kita sebagai utusan/duta besar Kristus dan mitra dalam penebusan?

Kita Harus Memiliki dan Menunjukkan Sikap-sikap Yang Benar tentang Kecukupan dan Kekayaan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Menebus penggunaan sumber daya keuangan kita dimulai dengan merawat sikap-sikap yang alkitabiah – yang akan memunculkan tindakan-tindakan yang benar. Tiga sikap alkitabiah yang mendasar adalah trusteeship (pengelola/pengemban amanah atau perwalian), gratitude (bersyukur), dan contentment (merasa puas/cukup).

Dari Sikap Pemilik Menjadi Pengemban Amanah/Pengelola

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Manusia pertama diperintahkan Allah untuk mengurus Taman Eden dengan segala makhluk dan tanaman di dalamnya. Hal ini sering disebut "mandat penciptaan." Allah berbagi tugas mengelola Taman sehari-hari dengan Adam dan Hawa. Mereka harus memandang diri mereka sebagai pengurus/pengelola tatanan ciptaan.

Perwalian/pertanggungjawaban amanah ini dibangun di atas prinsip bahwa kepemilikan tertinggi atas segala sesuatu yang kita miliki dan diami bukanlah kita, tetapi Allah. Allah adalah Pemilik yang memercayakan manajemen/kepengurusan kepada kita, yang harus dijalankan menurut tujuan-tujuan-Nya. Sebagaimana dinyatakan Pemazmur, "TUHANlah yang mempunyai bumi serta segala isinya" (Mazmur 24:1). Raja Daud meneguhkan hal yang sama dalam doanya di depan bangsa Israel pada saat penggalangan dana pembangunan Bait Suci. "Sebab dari-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu" (1 Tawarikh 29:14b). Kita tidak punya hak untuk menyatakan kepemilikan mutlak atas segala sumber daya kita, entah itu uang, harta benda, bisnis, kemampuan, lingkungan fisik, atau pun warisan. Kita hanyalah pengemban amanah (wali) dari kecukupan atau kekayaan apa pun yang kita terima.

Tanggung jawab fidusia, atau penatalayanan, merupakan elemen penting dalam menjalankan amanah. Meskipun pengemban amanah/wali memiliki sejumlah kebebasan untuk bertindak dan membuat keputusan-keputusan dalam mengalokasi sumber daya/dana, semuanya itu harus dilakukan untuk kepentingan pemilik sesungguhnya atau penyandang dana dari badan yang dikelola. Dan, tentu saja, semakin besar sumber daya/dana yang dipercayakan, semakin besar pula tanggung jawab itu. Yesus menyinggung hal ini dalam perumpamaan-Nya tentang hamba yang setia atau tidak setia, dan berkata bahwa, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya” (Lukas 12:48b). Craig Blomberg mengatakannya seperti ini: “Orang dalam posisi-posisi kekuasaan tidak memiliki hak yang lebih besar—hanya tanggung jawab yang lebih besar!” [1]

Jadi, bertindak sebagai wali/pengemban amanah atas kekayaan apa pun yang diberikan pada kita sangat mendasar dalam perspektif alkitabiah tentang kecukupan dan kekayaan. Sumber-sumber daya ini bukan untuk kita gunakan sesuka hati kita. Cara kita menggunakannya juga bukan urusan kita sendiri saja. Meskipun Allah tidak mengharapkan kita hidup dengan tidak punya apa-apa, Dia mau kita memaksimalkan sumber-sumber daya kita untuk pembangunan kerajaan Allah. Orang yang cukup beruntung dilahirkan dalam kemakmuran memiliki tanggung jawab untuk memakai kekayaan mereka untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang tidak memiliki cukup. Mereka dapat melakukannya dengan berbagai cara, seperti melalui donasi, investasi, dan pelayanan langsung.

Perintah untuk menggunakan sumber daya untuk kepentingan orang miskin disampaikan secara langsung di kitab Keluaran.

Selama enam tahun engkau boleh menabur di tanahmu dan menuai hasilnya, tetapi pada tahun ketujuh engkau harus membiarkannya dan meninggalkannya, supaya orang miskin di antara bangsamu memperoleh makanan. Apa yang mereka tinggalkan harus dibiarkan untuk dimakan binatang liar. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu. (Keluaran 23:10-11)

Siapa saja yang memiliki tanah punya kewajiban untuk membiarkan orang miskin menggunakannya dengan cuma-cuma selama setahun setiap tujuh tahun sekali, dan bahkan membiarkan binatang-binatang liar untuk mendapatkan manfaatnya. Perintah ini diulangi di kitab Ulangan dengan bahasa yang lebih sederhana:

Sebab orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu. Itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, “Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.” (Ulangan 15:11)

Hal yang sangat penting adalah kita tidak boleh menimbun kekayaan yang dipercayakan pada kita untuk diri kita sendiri, untuk mempertahankan gaya hidup, rumah, dan fasilitas gereja yang melebihi kebutuhan.

Perwalian (sikap Pengelola atau Pengemban amanah) mengingatkan kita tentang untuk siapa kita bekerja—Allah—dan untuk apa kita bekerja—Kerajaan Allah. Sikap ini memfokuskan kita pada ekonomi baru dan impian yang berbeda, yang dibingkai dalam agenda Allah untuk dunia ini, dan untuk kita. Sebagai mitra Allah, kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam tujuan ini dengan semua sumber daya yang kita miliki—termasuk kekayaan kita.

Dari Sikap Tidak Bersyukur Menjadi Bersyukur

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Jika kita tahu bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Allah—termasuk kemampuan untuk bekerja, menjalankan bisnis, mencipta dan memproduksi, menjual, dan membangun kekayaan—kita akan bersyukur kepada Allah.

Jika kita kaya dan berkelimpahan, tentu saja mudah bagi kita untuk meyakinkan diri bahwa yang kita miliki sebagian besar adalah hasil kerja keras, kepintaran, dan bakat kreatif kita sendiri. Padahal realitasnya adalah sebaliknya. Jika kita dilahirkan dalam keluarga yang penuh kasih, di negara yang makmur, dengan sistem pendidikan yang baik, masyarakat yang tertib dengan supremasi hukum yang stabil, kita memiliki keberuntungan yang diperlukan agar kerja keras kita membuahkan hasil. Ini bukan untuk mengatakan bahwa kerja keras tak pernah berkontribusi pada keberhasilan ekonomi. Hal itu jelas sering menjadi salah satu faktor. Tetapi, kepintaran dan bakat kreatif yang dibutuhkan untuk membuat kerja keras berhasil pun merupakan anugerah Allah. Rasul Paulus mengatakannya secara blak-blakan ketika ia bertanya kepada jemaat Korintus, "Apa yang engkau punyai yang tidak engkau terima? Jika engkau memang menerimanya, mengapa engkau memegahkan diri seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (1 Korintus 4:7). Maksud Paulus adalah segala kemampuan yang ada pada kita pun diberikan pada kita oleh Allah. Raja Daud menggemakan perasaan ini ketika ia merespons kemurahan hati Allah dengan berdoa, "Siapakah aku ini, ya TUHAN Allah, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sejauh ini?" (1 Tawarikh 17:16). Respons yang alkitabiah terhadap berkat kecukupan dan kelimpahan adalah rasa syukur yang mendalam, meskipun usaha kita sendiri memainkan peran yang penting dalam menghasilkan kekayaan.

Ironisnya, bahkan di kalangan orang Kristen, kekayaan tampaknya menumbuhkan sikap tidak bersyukur dan merasa berhak—seolah-olah kita memang pantas menerima sesuatu. Hal ini menyingkapkan pandangan yang berlebihan tentang pentingnya diri sendiri, dan kesadaran yang sangat terbatas tentang karunia, anugerah dan keberuntungan dalam hidup kita. Faktor lain yang menghalangi kita untuk bersyukur adalah iri hati. Sangat mudah untuk merasa iri terhadap orang lain atas apa yang mereka miliki, alih-alih merasa puas dan bersyukur atas apa yang kita miliki, jika kita memandang diri kita terutama sebagai pelanggan, dan bukan pelayan. Budaya Barat menyuburkan perasaan iri hati ini. Pemasaran, iklan, dan bahkan hiburan mendorong kita untuk menjadikan ‘kehidupan seperti orang kaya’ sebagai aspirasi kita. Dengan bersikap seperti itu, kita jadi mendambakan yang dimiliki orang lain—bukan hanya harta benda mereka tetapi juga segala kemampuan dan situasi mereka. Padahal, Alkitab memerintahkan kita agar tidak mengingini apa pun yang dimiliki sesama kita—entah itu posisi di tempat kerja, gaji, peluang ekonomi, atau saldo di rekening bank—tetapi memiliki rasa syukur yang semakin besar atas yang telah diberikan pada kita.

Bagaimana kita bisa menjadi lebih bersyukur? Dengan bersyukur. Kita menjadi lebih bersyukur melalui tindakan sederhana mengucap syukur setiap hari atas apa pun yang kita miliki yang kita hargai. Mengucap syukur benar-benar mengubah sikap kita. Jika, pada waktu yang sama, kita juga mematikan atau mengabaikan pesan-pesan pemasaran dan budaya yang "menjual impian/aspirasi", kita benar-benar bisa menjadi lebih bersyukur dan bersukacita dalam hidup kita.

Dari Sikap Tidak Puas Menjadi Puas

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Bersyukur menimbulkan rasa puas. Kepuasan itu sendiri merupakan perasaan yang nikmat dan bisa menjadi penawar racun keserakahan dan iri hati. Alkitab memperkenalkan visi kehidupan ekonomi yang tidak bergantung pada konsumsi yang terus meningkat untuk melindungi kita dari rasa kecewa. Dengan visi ini, kita bisa merasa cukup dan berhenti dari mengingini lebih lagi. Bangsa Israel mengalami hal ini di padang gurun ketika setiap hari Allah memberi mereka cukup roti (“manna”) dari surga. “Orang yang memungut banyak, tidak kelebihan dan orang yang memungut sedikit, tidak kekurangan. Tiap orang memungut menurut keperluannya” (Keluaran 16:18). Kitab Ibrani menasihati kita, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu” (Ibrani 13:5). Senada dengan itu, Paulus menulis, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa apa pun ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa pun ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1 Timotius 6:6-8). Dan di dalam surat yang ditulis dari sel penjara, Paulus berbagi cerita tentang perjalanan hidupnya sendiri.

Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam setiap keadaan dan dalam segala hal tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam keadaan kenyang, maupun dalam keadaan lapar, baik dalam keadaan berkelimpahan maupun dalam keadaan berkekurangan. Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:11-13)

Baik Paulus maupun jemaat Filipi yang ia kirimi surat yang jauh dari kaya itu, nyaris tak bisa hidup layak secara ekonomi. Sikap mereka yang merasa puas dalam segala situasi ekonomi ini menantang orang-orang yang hidup berkelimpahan untuk menemukan kepuasan dalam apa yang mereka miliki.

Puas berarti memahami apa itu cukup. Apa itu keuntungan yang cukup? Bayaran yang cukup? Jam kerja yang cukup? Tabungan yang cukup? Ukuran rumah yang cukup? Harta benda yang cukup? Mengingat tidak ada dari kita yang memiliki tolok ukur yang tepat tentang apa itu cukup dan apa itu berkelebihan, kita memerlukan bantuan dari orang lain. Bagaimana jika orang Kristen bertemu dalam kelompok kecil untuk saling membagikan rencana belanja mereka dan merenungkan bersama apakah rencana belanja itu mencerminkan kebutuhan-kebutuhan yang sebenarnya yang menumbuhkan rasa syukur dan puas, ataukah mencerminkan aspirasi-aspirasi iri hati yang hanya akan menimbulkan pikiran merasa berhak dan tidak puas? Tidak banyak orang Kristen yang sudah mencoba melakukan hal ini sehingga sulit untuk mengetahui bagaimana dampaknya jika kita bisa saling berbagi pemahaman tentang apa itu cukup dalam hal-hal praktis.

Kita Harus Mengubah Gaya Hidup Pribadi Kita

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Memiliki sikap-sikap yang benar tentang kecukupan dan kekayaan tak pelak akan memunculkan penyesuaian-penyesuaian dalam cara hidup kita.

Dari Gaya Hidup Individualisme yang Mencukupi Diri Sendiri Menjadi Berkomunitas

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Salah satu kata yang sering diterjemahkan sebagai “komunitas” atau “persekutuan” di Perjanjian Baru adalah koinonia. Kata ini banyak digunakan di lingkungan Yunani. Dalam penggunaan sehari-hari, kata ini merujuk pada memiliki kesamaan dengan seseorang. Akan tetapi, penggunaan kata koinonia di Alkitab menekankan partisipasi aktif—mengambil bagian dalam sesuatu, bukan sekadar terkait dengannya. Ketika Paulus, khususnya, memakai kata koinonia, kata itu mengandung arti kemitraan yang kuat ini, yang meliputi panggilan untuk bermitra secara finansial.[1] Contoh utamanya adalah ketika Paulus memuji jemaat Korintus atas “kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu [koinonias]” (2 Korintus 9:13) yang merujuk pada uang yang mereka sumbangkan untuk meringankan beban orang-orang Kristen yang miskin di Yerusalem. Contoh lainnya adalah pembagian harta milik di dalam “persekutuan” (koinonia, Kisah Para Rasul 2:42) orang Kristen yang mula-mula. Persekutuan ini bersifat spiritual dan juga finansial, sehingga “tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka” (Kisah Para Rasul 4:32-35). Allah memenuhi kebutuhan individu-individu itu melalui sumber daya komunitas. “Semua orang yang percaya tetap bersatu, dan semua milik mereka adalah milik bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kisah Para Rasul 2:44-45).

Meskipun ada sedikit indikasi bahwa pengelolaan kekayaan bersama ini terjadi di luar periode singkat gereja di Perjanjian Baru, tetapi komunitas di Yerusalem itu jelas berusaha merealisasikan visi Allah bahwa kecukupan dan kekayaan adalah masalah komunal, bukan individual. Bagaimana realisasinya di berbagai konteks abad 21 tentu saja akan bergantung pada berbagai faktor. Sejarah menunjukkan bahwa kepemilikan kolektif biasanya tidak berjalan baik. Namun beberapa masih melakukan tindakan saling berbagi secara ekonomi ini di dalam komunitas yang sangat-dipercaya. Komunitas iman lainnya mungkin berusaha mengumpulkan donasi dari orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin. Yang lain lagi mungkin memilih untuk memberi secara pribadi kepada orang tertentu atau badan amal yang menangani orang-orang kesusahan. Alkitab tidak menetapkan cara, tetapi sikap. Allah mencukupi umat-Nya secara jamak/komunal, meskipun sumber dayanya bisa dipercayakan kepada individu-individu sebagai penatalayan/pengurus.

Dari Gaya Hidup Mengisolasi Diri Menjadi Terlibat Secara Pribadi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Godaan orang yang memiliki banyak untuk memisahkan diri dari orang yang memiliki sedikit sangat nyata. Rumah-rumah berpagar tinggi, mobil ber-AC, lingkar pertemanan yang terbatas pada kelompok sosial ekonomi tertentu, dan gereja yang melakukan pembatasan serupa—semuanya berkomplot untuk membuat orang-orang kaya terperangkap di kantong-kantong kemakmuran mereka sendiri. Orang yang memiliki sedikit secara efektif tersingkir dari lingkungan mereka.

Ini berarti orang-orang kaya seringkali sangat sedikit atau tidak memiliki relasi sama sekali dengan orang-orang yang bergumul secara finansial—baik di dalam maupun di luar negeri. Pemahaman mereka tentang situasi orang yang tidak mendapat kecukupan dasar sangat dibatasi oleh jarak geografis dan sosial.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, orang Israel diperintahkan secara spesifik untuk memerhatikan janda-janda, anak yatim (tidak berayah), dan orang asing.[13] Di dalam masyarakat agraris, kelompok-kelompok ini sangat rentan karena mereka tidak memiliki akses untuk menemukan tanah atau sumber penghasilan. Faktor-faktor ini juga membuat mereka rentan terisolasi. Untuk bisa menjangkau dan memerhatikan mereka, orang Israel pertama-tama harus terlibat secara pribadi dengan mereka. Allah sendiri di dalam kitab Mazmur digambarkan berelasi secara pribadi dengan mereka sebagai “bapa bagi anak yatim dan pelindung para janda” (Mazmur 68:5).

Keramahtamahan semacam ini—menyambut “orang asing”—sangat penting dalam mengikut Yesus. Dua bagian penting kitab Injil—Lukas 14:12-14 (mengundang orang miskin ke acara perjamuan) dan Matius 25:31-46 (penghakiman Allah atas bangsa-bangsa)—menunjukkan perbedaan antara keramahtamahan konvensional dan keramahtamahan Kristen. Keramahtamahan konvensional dilakukan kepada teman dan keluarga. Keramahtamahan Kristen dilakukan kepada orang miskin dan “yang paling hina ini” (Matius 25:40), orang-orang yang “tidak dapat membalas” (Lukas 14:14) atau “balik mengundang” (Lukas 14:12). Yesus menekankan aspek relasi pribadi ini ketika Dia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40). Meskipun konteksnya menunjukkan bahwa Yesus terutama merujuk pada murid-murid-Nya ("saudara-Ku"), tetapi tidak ada alasan untuk berkata bahwa para murid juga tidak perlu memiliki sikap yang sama terhadap orang yang bukan Kristen. Bagaimanapun, Kristus telah mati untuk kita "ketika kita masih berdosa" dan sebelum kita sendiri menjadi anggota keluarga-Nya.

Ketika orang yang memiliki banyak mengenal orang yang memiliki sedikit, perspektif-perspektif bisa berubah. Mendengarkan cerita mereka, melihat perjuangan mereka secara langsung, menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka, dan juga bahwa kita semua memiliki banyak kesamaan—semua ini akan membentuk-ulang pola pikir dan hati kita. Allah sendiri telah mengambil rupa manusia untuk bisa mendatangi kita secara pribadi sebagai manusia (Filipi 2:6-8), yang membuat-Nya dapat “turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibrani 4:15). Jika Allah saja menganggap penting untuk menjumpai kita yang miskin dan lemah dibandingkan dengan-Nya, bukankah kita seharusnya mengikuti teladan-Nya dan menjumpai orang-orang yang miskin dan lemah dibandingkan dengan kita? Orang miskin tidak lagi hanya sekadar angka tanpa wajah. Mereka adalah orang-orang yang nyata dengan kebutuhan-kebutuhan dan kehidupan yang nyata.

Penting bagi orang Kristen untuk memikirkan dengan murah hati bagaimana keramahtamahan semacam itu dapat dilakukan. Meskipun memberi dan menginvestasikan uang merupakan cara yang pokok dalam mengungkapkan keramahtamahan, ungkapan yang lebih personal dan menyentuh juga penting. Di dalam setiap komunitas, ada banyak macam orang asing, sebagaimana yang telah kita temui. Masalahnya adalah bagi banyak orang yang memiliki pekerjaan dengan gaji tinggi, tinggal di kawasan elit, tergabung dalam kelompok teman-teman yang kaya, dan beribadah di jemaat gereja yang makmur, berhubungan dengan orang miskin kemungkinan bukan bagian dari kehidupan sehari-hari. Membangun relasi pribadi memerlukan tindakan yang disengaja untuk keluar dari lingkungan yang biasa itu dan masuk ke situasi-situasi yang tidak nyaman. Bahkan mungkin juga memerlukan perjalanan geografis atau relokasi. Dan jika ini sungguh-sungguh keramahtamahan Kristen sejati, keramahtamahan ini perlu menghindari paternalisme (melemahkan orang lain dengan melakukan hal-hal yang dapat mereka lakukan sendiri) dan berusaha meminimalisasi ketimpangan kekuasaan. Hal ini mungkin sangat sulit bagi orang-orang yang mengalami kesuksesan finansial, dan bagi orang-orang yang status dan kesuksesannya menjadi tolok ukur utama harga diri. Tidak mudah melepaskan gengsi dan hak-hak istimewa kekuasaan jika naluri kita adalah untuk mengatasi masalah dari jauh, dan bukan menjumpai orang-orang di tengah pergumulan mereka.

Salah satu tokoh Alkitab yang menunjukkan keterlibatan pribadi dengan orang miskin adalah Ayub. Kehidupan Ayub sering bersinggungan dengan orang-orang miskin di wilayahnya. Ia tidak mengisolasi diri dari mereka tetapi tinggal berdekatan dengan para pelayan, janda-janda, anak yatim, dan orang asing.

Pendatang pun tidak pernah bermalam di luar, pintuku kubuka bagi musafir. (Ayub 31:32)
Aku menyelamatkan orang sengsara yang berteriak minta tolong, juga anak piatu yang tidak memiliki penolong…hati seorang janda kubuat bersukacita…Aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan kaki bagi orang lumpuh. Aku menjadi bapa bagi orang miskin, dan perkara orang yang tidak kukenal, kuselidiki. (Ayub 29:12-13, 15-16)

Ayub mengenal tetangga-tetangganya yang miskin, memperlakukan mereka secara merata, merasakan belas kasihan mendalam terhadap mereka dan memerhatikan mereka dengan kekuatan politik dan finansialnya.

Dari Gaya Hidup Bekerja Kompulsif Menjadi Berirama Kerja dan Istirahat

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Belajar memercayai Allah untuk kecukupan kita merupakan tantangan yang terus-menerus, apalagi jika kita cenderung memiliki kebiasaan bekerja kompulsif. Gordon MacDonald, seorang pendeta di AS, mengamati budayanya:

Semakin banyak yang kita inginkan, semakin besar pendapatan yang harus kita hasilkan untuk memenuhinya. Semakin besar pendapatan yang harus kita hasilkan, semakin lama dan keras kita harus bekerja. Jadi kita membangun rumah yang lebih besar, membeli mobil lebih banyak, menanggung beban keuangan yang lebih berat dan mendapati diri kita harus bekerja lebih keras lagi untuk membayar semuanya itu. Lebih banyak bekerja, lebih sedikit beristirahat. [1]

Namun, kebiasaan bekerja kompulsif tidak hanya terbatas pada orang yang bergumul dengan budaya kemakmuran saja. Kebiasaan itu juga menjadi godaan bagi orang-orang yang berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Bagaimanapun, praktik memelihara hari Sabat yang alkitabiah penting untuk menjaga perspektif Ilahi tentang kecukupan dan kekayaan. Bagi orang Israel, hari Sabat mingguan (berhenti bekerja) adalah bagian dari tanggung jawab perjanjian mereka—hari untuk kembali berfokus pada Allah dan merayakan kasih-Nya kepada mereka. Hari Sabat adalah anugerah Allah untuk terus membuat umat-Nya terbebas dari jerih payah yang melelahkan seperti yang dijelaskan di Kejadian 3. Hari Sabat adalah kemurahan, sebuah contoh tentang kasih dan pemeliharaan Allah.

Istirahat Sabat adalah penyangkalan diri yang terus-menerus terhadap sifat serakah yang selalu ingin memiliki lebih lagi. Sebuah pernyataan pada diri sendiri bahwa ada hal-hal lain dalam hidup ini selain menghasilkan dan menghabiskan. Dan ada yang lebih penting pada identitas kita selain hal-hal yang kita lakukan atau hasilkan. Kita bukanlah jumlah saldo di rekening bank kita, atau jabatan atau tanggung jawab yang kita pikul.

Istirahat Sabat bermuara pada tindakan percaya. Untuk mematuhinya, kita harus berani percaya bahwa Allah akan mencukupi kebutuhan kita, dan bukan berusaha sekuat tenaga untuk mencukupinya sendiri. Pelajaran ini sulit, dan biasanya memerlukan trial and error (mencoba dan gagal) untuk kita benar-benar dapat melakukannya, seperti yang didapati orang Israel ketika bergantung pada penyediaan manna Allah di padang gurun (Keluaran 16:1-36). Dan ini menjadi pengingat bahwa pada akhirnya hidup kita tidak bergantung pada usaha keras kita, tetapi pada kecukupan dan anugerah Allah. Ini adalah tantangan—bagi orang yang bergumul dengan kemungkinan tidak memiliki cukup maupun bagi orang yang bergumul dengan bahaya tidak tahu apa itu cukup.

Lihat artikel Menyelaraskan Irama Kerja dan Istirahat: Tinjauan Umum untuk pembahasan lebih lanjut tentang topik ini.

Kita Harus Memakai Kekayaan Kita untuk Membantu Orang Miskin

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Memiliki sikap yang benar tentang kecukupan dan kekayaan dan membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan pribadi kita adalah titik awal bermitra dengan Allah dalam menebus bidang kehidupan ekonomi. Tetapi, ada juga mandat Alkitab yang kuat dan konsisten bagi orang-orang kaya agar mereka memakai kekayaannya untuk membantu orang-orang miskin. Cara yang paling jelas (dan paling banyak dituliskan dalam Alkitab) adalah dengan memberi. Tetapi, berinvestasi dan berbelanja dengan bijak juga merupakan respons yang benar dalam membantu orang miskin.

Membantu Orang Miskin dengan Memberi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Ketika kita sungguh-sungguh menyadari kehadiran anugerah Allah dalam hidup kita, hati kita yang bersyukur dengan sendirinya akan meluap dalam tindakan memberi yang murah hati. Yesus memerintahkan murid-murid-Nya, "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma" (Matius 10:8). Inilah tepatnya yang terjadi pada gereja-gereja di Makedonia, sebagaimana dijelaskan dalam 2 Korintus, pasal 8 dan 9. Pasal-pasal ini merupakan ungkapan paling jelas di Perjanjian Baru tentang tindakan murah hati dan memberi. Menurut Paulus, gereja-gereja di Makedonia secara spontan memberi kepada gereja di Yerusalem untuk meringankan beban para anggotanya yang mengalami kesulitan ekonomi. Padahal orang-orang Kristen di Makedonia sendiri sangat miskin. Paulus berkata:

Selagi dicobai dengan berat dalam berbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.Aku bersaksi bahwa mereka telah memberi menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh anugerah untuk ambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.” (2 Korintus 8:2-4)

Yang mengherankan adalah mereka tidak memberi dari kelimpahan, tetapi di tengah kekurangan mereka sendiri. Jika kita ingin menjadi pemberi, kita harus mulai memberi sekarang, dari seberapa pun yang kita pikir kita miliki. Jika kita menunggu sampai kita pikir kita memiliki cukup, kita tidak akan pernah memiliki cukup.

Paulus mengamati bahwa Yesus sendiri adalah teladan dalam hal memberi semacam itu. “Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Korintus 8:9). Mengapa kita harus memberi? Karena Dia yang kita ikuti telah memberi teladan kemurahan hati kepada kita.

Paulus melanjutkan dengan berkata bahwa orang kaya harus memberi sedemikian rupa—dan orang miskin harus menerima sedemikian rupa—supaya terjadi keseimbangan.

Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis, “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan, dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.” (2 Korintus 8:13-15)

Jalan pikirannya menunjukkan ada kesenjangan yang ekstrem di antara yang kaya dan yang miskin, yang tidak seharusnya ada di dalam komunitas Kristen. Jika ada saudara-saudari yang tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar mereka, orang yang memiliki kelebihan harus merespons. Ini menjadi tantangan yang sangat besar bagi banyak orang Kristen di Barat, yang kekayaannya jauh melebihi orang-orang Kristen di berbagai bagian dunia yang berjuang untuk sekadar bertahan hidup dari hari-ke-hari.

Tetapi Paulus tidak bermaksud memakai rasa bersalah untuk memotivasi kita. Pemberian kita tidak hanya harus dicirikan dengan kemurahan hati, tetapi juga dengan sukacita. “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7). Kita harus memberi karena kita ingin memberi, dengan sukarela—meluap dari hati yang penuh syukur. Jika kita tidak ingin memberi, mari kita lebih memperhatikan tindakan mengucap syukur dan melihat apakah hal itu akan menumbuhkan hati yang rela dan bersukacita untuk memberi.

Tidak mudah memang untuk memberi dengan murah hati. Hal ini sangat bertentangan dengan intuisi pribadi maupun budaya. Di ranah pribadi, kita takut jika kita memberi dengan murah hati, kita tidak akan memiliki cukup untuk kebutuhan-kebutuhan kita sendiri. Budaya kita memperkuat ketakutan ini dengan menghadirkan "kebutuhan-kebutuhan" yang terus meningkat pada kita, dan membangkitkan keinginan dalam diri kita untuk menemukan rasa aman dengan memiliki dan menimbun lebih banyak. Hanya oleh kuasa Roh Allah kita dapat berharap terbebas dari cengkeraman kekayaan agar kita mampu memberi dengan murah hati. Namun, jika kita menerima karunia kemurahan hati dari Allah, itu adalah anugerah pembebasan dari perbudakan pribadi atas kekayaan dan dari perbudakan budaya atas berhala rasa aman dan status yang palsu.

Setelah memutuskan untuk memberi, tentu saja pertanyaan tentang ke mana dan bagaimana harus dijawab. Perlu hikmat untuk mengetahui manakah yang paling tepat dan bermanfaat dari sekian banyak pilihan. Jika memilih untuk memberi melalui lembaga, dua pertimbangannya adalah:

  • Apakah lembaga ini memberdayakan orang yang akan mereka bantu? Apakah mereka mendengarkan dengan baik dan bekerja sama dengan penerima bantuan agar bantuan yang diberikan benar-benar bermanfaat? Apakah mereka memperhatikan konteks budaya tempat mereka melayani? Atau apakah mereka begitu terfokus untuk melakukan yang menurut mereka dibutuhkan dengan cara yang mereka anggap benar sehingga secara tidak sengaja mereka malah memperburuk keadaan?

  • Apakah lembaga ini transparan dan jujur dalam caranya menggunakan sumber daya dan seberapa efektif cara itu? Apakah mereka bertanggung jawab kepada dewan pimpinan yang independen dan apakah mereka memberikan laporan keuangan kepada badan internasional yang memantau? Sayangnya, lembaga-lembaga seringkali kurang berintegritas dengan melebih-lebihkan laporan mereka, kurang terbuka terhadap audit atau evaluasi independen, cenderung menyia-nyiakan sumber daya, atau melakukan pemborosan yang tidak perlu dalam urusan administrasi, penggalangan dana, gaji tenaga eksekutif yang tinggi, dll.

Membantu Orang Miskin dengan Investasi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Meskipun memberi merupakan cara yang pokok dalam menggunakan kekayaan untuk membantu orang yang terjerat kemiskinan, investasi kekayaan yang bijak juga dapat sangat efektif dalam menolong orang miskin. Ada banyak contoh tentang bagaimana hal ini dapat dilakukan. Namun, dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, ada dua gerakan besar yang menunjukkan hal-hal yang dapat dicapai melalui investasi di komunitas-komunitas termiskin.

Yang pertama adalah sektor mikrofinansial (layanan keuangan mikro). Di seluruh dunia, namun terutama di negara-negara berkembang, koperasi-koperasi didirikan di komunitas-komunitas miskin untuk memberi pinjaman dalam memulai usaha kecil. Ketika usaha ini menghasilkan pemasukan, pinjaman modal awal ini dikembalikan dan uang itu lalu dipinjamkan lagi untuk usaha-usaha kecil yang baru. Setidaknya, itulah tujuannya. Efektivitas layanan keuangan mikro tampaknya tidak merata di berbagai konteks, dan ada banyak yang mendukung maupun yang mencela. Namun, dalam kondisi terbaiknya, layanan keuangan mikro menjadi mekanisme bagi orang-orang yang memiliki kemampuan wirausaha untuk memperoleh modal, menciptakan bisnis yang memberi nilai tambah, memenuhi kebutuhan sendiri, dan membawa manfaat bagi komunitas.

Bentuk umum kedua dari layanan mikrofinansial adalah koperasi “berbasis tabungan”, yang alih-alih memberi pinjaman kepada anggota, mereka malah diminta berkomitmen untuk menabung sejumlah kecil uang setiap minggu, yang kemudian digabungkan dengan tabungan anggota kelompok lainnya dan akhirnya diinvestasikan. Seiring berjalannya waktu, dengan dukungan dan mentoring, koperasi jadi memiliki cadangan modal, yang dapat dimanfaatkan oleh individu-individu untuk kebutuhan mendesak atau dipinjam untuk memulai usaha. Modal bersama itu juga dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh komunitas. Koperasi berbasis tabungan membantu masyarakat miskin dalam mengatasi salah satu hambatan utama orang yang ingin meningkatkan taraf hidup mereka—yaitu, tidak adanya opsi-opsi untuk menginvestasikan tabungan mereka yang sangat kecil dengan aman.

Gerakan lain yang berkembang di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang adalah “social enterprise” (perusahaan sosial). Usaha-usaha ini didirikan untuk mencapai tujuan sosial selain mendapat keuntungan. Perusahaan semacam ini sering berusaha menghasilkan keuntungan yang “berkelanjutan”, tetapi tidak selalu memaksimalkan hasil investasi.

Beberapa contoh perusahaan semacam itu adalah:[1]

  • Sarah dan John mendirikan usaha tembikar dan hanya mempekerjakan orang-orang yang memiliki banyak kendala dalam mendapatkan pekerjaan. Para pekerjanya bisa para tunawisma atau semi-tunawisma yang mungkin memiliki masalah kesehatan mental, cacat fisik, kecanduan obat-obatan, atau masalah-masalah lainnya. Pekerjaan itu tidak sepenuh-waktu, tetapi memberi tambahan penghasilan untuk melengkapi sumber pemasukan lain yang diterima pekerja. Tembikar dijual melalui toko-toko khusus dan juga melalui Internet.

  • Michael menjalankan usaha perakitan dan penjualan (ekspor) komponen-komponen elektronik. Ia mempekerjakan orang-orang dengan gangguan spektrum autisme (yang juga dikenal sebagai sindrom Asperger), dengan melatih mereka melakukan pekerjaan yang sangat rumit. Bisnis ini kecil (hanya mempekerjakan maksimal 12 orang setiap kali), tetapi kesempatan untuk melatih, membimbing, dan mengembangkan orang-orang yang akan sulit mendapat pekerjaan jika tidak ditolong, merupakan inti dari motivasi dan keputusannya menjalankan usaha ini.

  • Lembaga XYZ membangun usaha pembuatan tas goni di kawasan lampu merah (lokalisasi prostitusi) di sebuah kota Asia yang besar. Tas diekspor ke seluruh dunia dan dikenal karena ketahanan dan kualitasnya. Bisnis ini hanya mempekerjakan wanita-wanita yang pernah terjerat prostitusi atau rentan terhadap prostitusi. Dengan memberikan jalan keluar kepada wanita- wanita yang terperangkap untuk menjual diri demi memberi makan keluarganya, pabrik tas goni ini menyediakan pekerjaan alternatif yang berguna dengan upah yang layak, plus manfaat dari komunitas yang mendukung.

  • Jerry menjalankan bisnis impor selama beberapa tahun. Meskipun ia tidak mempekerjakan siapa-siapa, ia telah menginvestasikan sumber daya yang cukup besar untuk membangun bisnis yang berkelanjutan dan menguntungkan. Ia menggaji dirinya sendiri dengan standar upah yang layak, dan menyerahkan semua keuntungan untuk proyek mikrofinansial di negara berkembang.

Meskipun kita sudah berfokus pada sarana-sarana investasi yang secara eksplisit berusaha membantu orang miskin, investasi bisnis komersial biasa di negara-negara dan masyarakat miskin juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengurangi kemiskinan. Kapasitas produksi dunia masih jauh dari kata habis, meskipun kepintaran manusia dan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan yang baik juga diperlukan.

Namun, karena tujuan bisnis biasanya memberi keuntungan kepada pemegang saham, bukan masyarakat miskin, bisnis juga dapat menjadi sarana eksploitasi dan penyalahgunaan yang efektif. Ratusan juta orang Kristen bekerja dalam bisnis-bisnis yang berinvestasi, memproduksi, mendistribusi, menjual, atau mengangkut barang dan jasa di daerah-daerah miskin. Boleh jadi merekalah yang punya peluang terbesar untuk membentuk strategi dan operasional bisnis dengan cara-cara yang membantu orang miskin di seluruh dunia.

Membantu Orang Miskin dengan Belanja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Mungkin tampaknya aneh untuk berkata bahwa belanja merupakan cara potensial untuk membantu orang miskin. Kita sering mengaitkan belanja dengan konsumsi berlebihan. Banyak orang Kristen menganut mentalitas hidup hemat, yang menganggap belanja sebagai hal yang terkesan kurang rohani. Hal ini mungkin benar jika belanja diartikan sebagai membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan. Tetapi, belanja justru sering diartikan sebagai keinginan untuk membeli barang dengan harga murah, entah kita membutuhkannya atau tidak. Entah kenapa, mendapatkan harga murah menenangkan rasa was-was kita saat membeli sesuatu. Padahal akibatnya mungkin kita berkontribusi pada harga yang ditekan, yang menyebabkan produsen membayar pekerja terlalu sedikit untuk mencukupi kehidupan mereka dan keluarga.

Dalam hal tertentu, berbelanja lebih untuk barang-barang yang kita konsumsi dapat meningkatkan kehidupan orang-orang yang menghasilkan dan menjualnya. Di dalam ekonomi global saat ini, banyak pekerja yang dibayar terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Sementara orang-orang yang membeli barang dan jasa mereka dapat dengan mudah membayar harga lebih tinggi untuk hal-hal itu. Jika ada cara untuk konsumen membayar lebih—dan dengan demikian meningkatkan pendapatan pekerja yang membutuhkannya—belanja sebenarnya dapat menjadi bantuan bagi orang miskin.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, sebuah gerakan besar telah berkembang di negara-negara maju untuk berusaha membayar harga yang adil atas produk-produk yang dihasilkan negara-negara berkembang. "Perdagangan yang adil" ini berusaha memberi kompensasi yang adil bagi para petani kopi, coklat, kapas, pembuat kerajinan, dan industri-industri kecil lainnya atas pekerjaan mereka.

Pengeluaran uang juga dianjurkan di dalam Alkitab jika uang itu digunakan dengan kemurahan hati untuk orang lain. Allah menghargai pengeluaran yang royal untuk pesta makan-makan bersama tetangga Anda, asalkan Anda tidak mengharapkan apa-apa sebagai balasannya (Lukas 14:12-14). Yang dilarang Alkitab adalah pengeluaran yang boros untuk kesenangan diri sendiri (Yakobus 4:3). Jadi jika pertanyaan kita adalah, "Apa yang harus kulakukan dengan uang yang kumiliki?" maka "belanjakanlah dengan royal untuk hal-hal yang berguna bagi orang lain tanpa mengharapkan balasan," akan menjadi jawaban yang baik. Tetapi ini di luar topik yang sedang kita bahas saat ini tentang belanja untuk membantu orang miskin, jadi kita akan mengakhiri pembahasan tentang hal itu di sini.

Kita Harus Mengubah Organisasi dan Struktur-struktur Masyarakat

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Orang Kristen tidak hanya dipanggil untuk berkiprah di level usaha kecil dan dari orang-ke-orang saja dalam upaya pengentasan kemiskinan, tetapi juga di tingkat makro atau struktural. Dunia memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Tetapi motivasi sosial, politik dan ekonomi serta cara-cara mewujudkannya tidak pernah terintegrasi secara menyeluruh. Ini juga merupakan satu bentuk dosa dan kesalahan manusia. Kita harus terlibat dalam mengubah organisasi-organisasi dan berbagai sistem kecukupan dan kekayaan di dalam masyarakat kita. Meskipun kita mungkin merasa terlalu kecil dan tidak penting, atau terlalu jauh dari pusat-pusat kekuasaan dalam masyarakat kita, Allah punya kebiasaan memakai orang luar dan tidak penting untuk membawa perubahan ekonomi yang besar dalam masyarakat.

Barangkali agen perubahan struktural di negeri asing yang pertama adalah Yusuf (Kejadian 41-42). Lahir di negeri Kanaan yang tidak signifikan, dijual sebagai budak di Mesir, dipenjarakan atas tuduhan palsu, dan terpinggirkan dalam bentuk-bentuk lainnya, ia akhirnya mereformasi struktur ekonomi negara Mesir yang besar. Dengan memandang ke depan secara sangat profetik, ia menerapkan sistem jaringan kota-kota penyimpanan yang luas, supaya hasil panen dari masa-masa produktif yang baik dapat disimpan untuk masa-masa kelaparan. Inilah bank makanan yang pertama. Sebagai hasilnya, kemampuan orang Mesir untuk menyediakan kecukupan bagi rakyatnya selama tahun-tahun kelaparan yang panjang itu meningkat pesat, dan ada cukup makanan untuk semua orang—bahkan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga Yusuf yang pergi ke selatan sebagai orang asing untuk mencari makanan. Tanpa kesediaan Yusuf untuk menantang sistem perekonomian Mesir, jutaan orang miskin akan mati selama tujuh tahun dilanda kelaparan. Namun karena ia bersedia menantang dan mengubah sistem itu, orang miskin maupun orang kaya dapat tetap hidup.

Demikian pula, ketika bangsa Israel dibuang ke Babel, mereka mendapati diri mereka tak berdaya dan kehilangan hak. Tetapi nabi Yeremia menasihati umat Allah itu untuk "usahakanlah kesejahteraan kota ke mana Aku membuangmu dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu" (Yeremia 29:7). Tujuan Allah adalah agar umat-Nya mereformasi struktur-struktur yang dimiliki para penawan mereka.

Hal ini bisa terjadi ketika beberapa pemuda, Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, direkrut untuk menjalani peran kepemimpinan di pemerintahan Babel. Alih-alih menyerah pada godaan kemewahan yang ditawarkan posisi baru mereka, mereka menantang sistem itu. Mereka mempertaruhkan kedudukan mereka—dan nyawa mereka—untuk melawan ketidakadilan dan ketimpangan. Dengan bertindak sebagai agen-agen perubahan, Daniel dan teman-temannya bekerja untuk mendukung — bukan menentang - kesejahteraan di negara tempat mereka dibuang. Allah bermaksud memakai mereka untuk menebus sistem, budaya, dan masyarakat tempat mereka tinggal dan bekerja. Dalam satu hal, ini berarti Daniel menantang raja secara langsung. “Jadi, ya Raja, kiranya Tuanku berkenan menerima keputusanku ini: lepaskanlah diri Tuanku dari dosa dengan melakukan keadilan, dan dari kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan kepada yang tertindas. Dengan demikian kebahagiaan Tuanku akan berlanjut” (Daniel 4:27).

Di mana pun kita bekerja—di departemen pemerintah, partai politik, organisasi nonpemerintah, struktur kota, perusahaan multinasional, usaha kecil, dinas kesehatan atau pendidikan, lingkungan setempat—kita juga harus berusaha bekerja untuk kesejahteraan dan kemakmuran orang-orang yang kita layani. Terkadang ini berarti kita menantang sistem dan struktur-struktur yang menghalangi kecukupan dan kekayaan Allah bagi semua orang. Usaha ini bisa memerlukan perubahan prioritas, struktur, dan proses-proses dalam organisasi itu—apalagi jika mereka menindas atau memarjinalkan orang-orang lemah atau miskin. Entah itu dalam mengadvokasi sistem perpajakan yang lebih adil, membantu penyusunan undang-undang yang menentang praktik-praktik monopoli atau anti-kompetisi, atau menantang cara pemberi kerja dan serikat kerja saling berhubungan dalam industri tertentu, ada banyak peluang bagi orang Kristen untuk membawa perubahan sistemik pada cara mendapatkan kecukupan dan kekayaan.

Kita Harus Bekerja dengan Orang-orang Tidak Percaya untuk Meningkatkan Kecukupan dan Mengurangi Kemiskinan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Di beberapa bagian Kitab Suci, Allah memakai orang-orang yang bukan pengikut-Nya untuk menggenapi tujuan-Nya. Salah satu contohnya, di dalam kitab Ezra, adalah raja Kores dari Persia.

Pada tahun pertama pemerintahan Kores, raja Persia, TUHAN menggerakkan hati Kores, raja Persia itu, agar firman TUHAN yang diucapkan oleh Yeremia digenapi. Lalu disiarkanlah pengumuman ini di seluruh kerajaannya secara lisan dan tertulis, demikian: "Beginilah perintah Kores, raja Persia: segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah Semesta Langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang ada di Yehuda..." (Ezra 1:1-2)

Secara mengejutkan, Allah memilih memakai orang yang bukan umat Allah untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Allah tidak dibatasi dalam menggenapi rencana penebusan-Nya dengan melulu bekerja dengan umat-Nya saja. Seperti Ezra (dan kemudian juga Nehemia), kita pun dapat bekerja dengan orang-orang tidak percaya untuk menebus dunia.

Salah satu cara melakukan hal ini adalah dengan bermitra dengan orang-orang dan organisasi-organisasi yang berusaha meningkatkan taraf ekonomi orang miskin dengan berbagai cara. Ada banyak individu-individu dan institusi-institusi non-Kristen yang melakukan pekerjaan besar dalam menyediakan lapangan kerja yang bermanfaat, peluang usaha kecil, penanggulangan kemiskinan, dan pengembangan masyarakat. Kita dapat bekerja dalam solidaritas dan kemitraan dengan orang-orang dan tujuan-tujuan semacam itu. Tentu saja kita juga perlu bersikap bijak di sini. Kita perlu memastikan bahwa dampak kemitraan itu selaras dengan tujuan-tujuan dan nilai-nilai alkitabiah.

Nehemia – Sosok Teladan Yang Positif

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Nehemia adalah salah satu tokoh Alkitab yang sikap, gaya hidup, strategi, dan prioritasnya bekerja bersama-sama untuk mengubah masyarakat demi kebaikan orang miskin. Sebagai gubernur kota Yerusalem—yang bekerja untuk kekuatan asing—ia mempertaruhkan kedudukannya untuk mengadvokasi pembangunan kembali tembok kota demi melindungi penduduk asli Yahudi (yang sebagian besar miskin). Nehemia dihargai dengan baik secara materi atas peran kepemimpinannya. Mudah baginya untuk menikmati saja hak-hak istimewa yang menyertai jabatannya. Namun, ketika Nehemia didatangi sekelompok orang Yahudi yang bergumul secara ekonomi, ia turun tangan menolong mereka. Seperti yang terjadi pada banyak orang Yahudi, mereka akhirnya terlilit utang yang melumpuhkan, kehilangan tanah mereka, bahkan menjadi budak, karena banyak orang kaya mengeksploitasi keuntungan yang tidak adil dalam situasi ekonomi yang sulit. Respons Nehemia adalah menegur secara terbuka orang-orang yang melakukan eksploitasi itu dan menantang mereka untuk mengembalikan yang telah mereka ambil. Dan hebatnya, mereka menurut! Selain itu, Nehemia juga mengorganisir program bantuan untuk orang-orang yang kesusahan dan mengadakan reformasi keuangan jangka panjang untuk memastikan orang miskin dapat memiliki mata pencaharian lagi.

Tetapi ciri paling menonjol dari respons Nehemia adalah perubahan gaya hidup pribadinya yang mahal. Setelah mengamati bagaimana para pendahulunya beserta para asistennya "sangat membebani rakyat" dan bertindak sewenang-wenang, Nehemia memilih untuk mengurangi pemasukannya, hidup lebih sederhana, dan menolak banyak keuntungan yang seharusnya menjadi haknya. Untuk mengurangi beban pajak rakyat, ia menanggung biaya makan 150 orang Yahudi, pejabat, dan orang asing yang bekerja di pemerintahannya. Dengan demikian, ia menunjukkan keramahtamahan yang murah hati dengan menjamu mereka setiap hari di mejanya sendiri (Nehemia 5:14-19).

Lihat "Membangun Kembali Tembok Yerusalem (Nehemia 1:1-7:73)" dalam "Ezra, Nehemia & Ester dan Pekerjaan" di https://www.teologikerja.org untuk informasi lebih lanjut tentang penggunaan kekayaan Nehemia untuk kebaikan bangsa Israel.

Pengharapan dan Pertolongan dalam Kecukupan Allah

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Lalu apa yang layak kita harapkan dari Allah dalam hal kecukupan atas kebutuhan kita sendiri?

Kita Dapat Mencari Pimpinan tentang Kecukupan Allah…

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kita dapat mencari pimpinan tentang kecukupan Allah dan berharap tindakan itu akan menolong kita dalam memenuhi kebutuhan kita, kebutuhan orang-orang yang bergantung pada kita, dan kebutuhan dunia. Yesus berkata,

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari antara kamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi, jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (Matius 7:7-11)

Setelah mengungkapkan penghargaan dan berterima kasih kepada jemaat Filipi atas pemberian mereka kepadanya ketika ia menderita di rumah tahanan di Roma, Paulus dengan yakin berkata, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).

Apakah ini berarti jika kita tidak memiliki kecukupan untuk kebutuhan kita dan kebutuhan orang-orang di sekitar kita, kita harus meminta pertolongan Allah? Ya. Kita tidak memiliki janji Allah bahwa Dia akan memenuhi segala yang kita inginkan dengan segera. Tetapi, kita memiliki janji-Nya bahwa Dia akan memberikan yang kita butuhkan. Kita bisa meminta pimpinan-Nya secara praktis jika kita ada kebutuhan. Kita dapat meminta pimpinan-Nya dalam mencari pekerjaan, mengajukan permohonan bantuan/tunjangan, berganti pekerjaan, menyelesaikan perselisihan antara pekerja dan pemberi kerja, memperoleh pendidikan dan pelatihan kerja. Kita perlu meminta kuasa-Nya yang mengubahkan dalam etika kerja, kreativitas dan produktivitas, kebiasaan-kebiasaan kerja, dan faktor-faktor lain yang diperlukan untuk mempertahankan pekerjaan dan berkembang di tempat kerja. Jika kita menganggur atau tidak bekerja secara optimal, kekecewaan atau perasaan malu kita bisa membuat kita menjauh dari Allah. Namun, saat-saat seperti ini justru merupakan kesempatan untuk kita makin mendekatkan diri lagi pada Allah daripada sebelum-sebelumnya.

Mencari pertolongan Allah tidak hanya bagi yang kekurangan. Jika kita memiliki kekayaan, pilihan-pilihan tentang cara memperoleh, berinvestasi, dan memberi seringkali juga sangat rumit. Dalam situasi-situasi seperti itu, kita membutuhkan pimpinan dan petunjuk Allah dalam memilih cara-cara memperoleh dan menggunakan sumber daya dengan baik—cara-cara yang memuliakan Allah dan tidak membahayakan diri sendiri atau orang lain. Yakobus memberi nasihat, "Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya" (Yakobus 1:5).

Kita Dimaksudkan untuk Bergantung pada Kecukupan Allah…

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kita dimaksudkan untuk bergantung pada kecukupan Allah, artinya, kita harus mengandalkan Dia untuk mencukupi kebutuhan kita ketika kemampuan kita sendiri tidak memadai.

Mukjizat ketika Yesus memberi makan lima ribu orang adalah contoh alkitabiah paling tepat tentang Allah yang mencukupi ketika kemampuan kita sendiri tidak memadai. Sekumpulan orang banyak mengikuti Yesus ketika Dia pergi ke tempat terpencil. Lalu mereka lapar, tetapi tidak ada tempat untuk membeli makanan dan tidak ada uang juga untuk membelinya. Salah seorang murid menemukan seorang anak laki-laki yang hanya memiliki lima roti gandum dan dua ikan. Yesus menerima bekal yang sedikit itu, mengucap syukur, dan menyuruh membagikannya kepada seluruh orang banyak itu, seolah-olah makanan itu untuk ribuan orang. Ajaibnya, setiap orang di antara ribuan orang itu dapat mengambil sebanyak yang mereka inginkan. “Setelah mereka kenyang, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, ‘Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih, supaya tidak ada yang terbuang’.” (Yohanes 6:11-12). Dan ketika mereka melakukannya, mereka mengisi penuh dua belas bakul. (Yohanes 6:1-14; lihat juga Matius 14:13-21, Markus 6:30-44, dan Lukas 9:10-17).

Allah senang mengisi kekurangan kita. Ini menjadi pengingat bahwa tidak seorang pun dari kita mampu mencukupi dirinya sendiri. Allah-lah pemelihara dan penyedia kebutuhan kita.

Kita Dimaksudkan untuk Bekerja dengan Rajin dan Bijak…

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kita dimaksudkan untuk bekerja dengan rajin dan bijak sesuai kemampuan kita. Bergantung pada Allah adalah sikap tentang kerja manusia, bukan pengganti untuk kerja manusia.

Meskipun Allah itu Pemelihara kita, Dia memanggil kita untuk memakai apa yang ada di tangan kita, bukan yang tidak ada. Berkat pertama Allah untuk mencukupi kita adalah kemampuan kita untuk bekerja, seperti yang telah kita pelajari di Kejadian 1 dan 2. Pekerjaan kita tidak berdiri sendiri, sebagai pengganti kemurahan Allah, tetapi biasanya merupakan unsur pertama dari penyediaan/pemeliharaan Allah. Meskipun disabilitas, situasi, atau ketidakadilan bisa dengan tragis membuat kerja kita gagal memenuhi kebutuhan kita, Allah akan memanfaatkan apa yang dapat kita lakukan. Dan membuat perbedaan dari kekayaan-Nya yang tidak ada habisnya.

Ketika menanggapi berita tentang adanya beberapa orang di gereja Tesalonika yang tidak mau bekerja, Paulus berkata,

Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar bahwa ada orang di antara kamu yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringatkan dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. (2 Tesalonika 3:10-12).

Tidak bekerja, tidak makan. Tentu saja ini asumsinya ada pekerjaan yang bisa dilakukan. Tidak masalah apakah pekerjaan itu dibayar atau tidak. Jika ada pekerjaan yang berguna yang dapat kita lakukan, kita tidak bisa hanya duduk manis dan berharap Allah memberkati kemalasan kita. Banyak rumahtangga bergantung pada pekerjaan yang dibayar di luar rumahtangga itu dan pekerjaan yang tidak dibayar yang dilakukan di dalamnya. Kedua pekerjaan ini sama-sama unsur kecukupan Allah. Bahkan orang yang membutuhkan pekerjaan yang dibayar, tetapi menganggur atau tidak dapat mempertahankan pekerjaan yang dibayar, masih dapat bekerja secara sukarela. Sudah menjadi tanggung jawab kita untuk bekerja sejauh yang dapat kita lakukan, meskipun Allah-lah yang bertanggung jawab untuk menjamin kebutuhan kita terpenuhi. Kemalasan bukanlah bentuk kebergantungan pada Allah yang sah.

Allah Tidak Berjanji Orang Kristen akan Luput dari Efek-efek Dunia Yang Jatuh

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Tidak ada janji Allah di Alkitab yang mengatakan bahwa para pengikut-Nya akan luput dari efek-efek dunia yang telah jatuh dalam dosa. Sesungguhnya, banyak tokoh Alkitab yang menderita saat-saat ketika situasi, penderitaan dan penganiayaan merampas hal-hal yang mereka butuhkan secara materi.

  • Yusuf bertahun-tahun menderita di sel penjara Mesir, yang pastinya hanya diberi makan seadanya untuk membuatnya tetap sehat.

  • Naomi merasakan perihnya hidup dalam kondisi yang sangat minim—tanpa suami atau tanah untuk mencukupi kebutuhannya bersama menantunya, Rut.

  • Paulus mengalami banyak penderitaan yang antara lain “berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali tidak tidur; lapar dan dahaga; kerap kali berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian” (2 Korintus 11:27).

Allah tidak meluputkan kita dari penderitaan-penderitaan dunia, tetapi Dia melindungi kita agar tidak dikalahkan oleh penderitaan itu. Yesus berdoa kepada Bapa untuk murid-murid-Nya, “Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat” (Yohanes 17:15).

Jadi, apa yang Allah janjikan? Memenuhi kebutuhan kita, bukan keinginan kita. Membantu kita dalam menanggung dan mengatasi kekurangan, penderitaan, dan kesengsaraan apa pun yang kita alami. Dan yang terpenting, Allah akan memakai segala situasi yang kita hadapi—termasuk ketika kita kekurangan kecukupan—untuk mendatangkan kebaikan. Bagi Dia, bagi kita, dan bagi dunia. Seperti tertulis dalam ayat paling terkenal di surat Roma, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

Kekayaan Bukanlah Tanda Perkenan atau Berkat Allah

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Beberapa gereja mengajarkan yang bisa disebut sebagai "Injil kesehatan dan kemakmuran," yang mengeklaim bahwa Allah selalu mengganjar umat-Nya dengan kemakmuran di dunia ini. Tetapi di Alkitab kekayaan bukanlah tanda perkenan Allah. Kemiskinan juga bukan tanda hukuman Allah. "[Allah] menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar" (Matius 5:45).

Para pendukung Injil kesehatan-dan-kemakmuran sering menyatakan bahwa di Perjanjian Lama, banyak tokoh yang paling kita hormati adalah orang-orang kaya. Mereka meliputi Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Boas, Ayub, Daud, dan Salomo. Dan hampir bisa dipastikan pengalaman kelimpahan mereka ada kaitannya dengan kesetiaan mereka kepada Allah. Pakar Alkitab Craig Blomberg menulis bahwa di Perjanjian Lama,

Kekayaan dapat menjadi tanda berkat Allah, meskipun tidak selalu ada kaitannya dengan ketaatan seseorang atau suatu bangsa. Tetapi, pengaturan perjanjian yang unik antara Allah dan Israel tidak bisa membuat kita menyamaratakan dan berkata bahwa Allah harus mengganjar umat-Nya yang setia secara materi pada bangsa-bangsa atau zaman-zaman yang lain.[1]

Jadi, sulit untuk menyatakan bahwa ada keterkaitan yang kuat antara kebenaran dan kekayaan. Kisah bangsa Israel meneguhkan penilaian ini. Banyak orang kaya di Alkitab menjadi makmur karena kejahatan mereka, bukan kebenaran. Ini termasuk sejumlah keturunan raja Daud. Contohnya, di 1 Raja-raja 21 kita membaca bahwa raja Ahab menginginkan tanah Nabot dan ketika ia tidak dapat memilikinya dengan cara yang benar, Izebel istrinya memerintahkan agar Nabot dibunuh. Hal ini terjadi meskipun Ahab sudah sangat kaya raya.

Keterkaitan antara kebenaran dan kekayaan lebih lemah lagi di Perjanjian Baru. Pakar Alkitab Gordon Fee berkata bahwa kekayaan tidak pernah dikaitkan dengan kehidupan yang taat di dalam kitab-kitab Injil dan kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya.[2] Meskipun kita menemukan beberapa orang percaya yang kaya seperti Yusuf dari Arimatea dan Lidia, tidak ada pernyataan dari penulis Perjanjian Baru mana pun bahwa perkenan Allah terutama diberikan kepada orang-orang kaya. Bahkan, yang benar justru kebalikannya.

Sebagai contoh, setelah bertemu dengan pemimpin muda yang kaya itu, Yesus berkata bahwa lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah. Keterkejutan atas pernyataan ini membuat para murid-Nya bertanya, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” (Matius 19:25). Dengan kata lain, “Jika orang kaya saja tidak bisa, maka pasti tidak ada harapan untuk orang lainnya, bukan?” Di dalam budaya yang menganggap kekayaan sebagai tanda perkenan dan berkat Allah, perkataan Yesus sangat tegas. Kekayaan bukanlah tanda keadilan atau perkenan Allah. Kekayaan adalah ancaman serius bagi relasi kita dengan Allah.

Pengharapan Terakhir

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pengharapan terakhir orang Kristen bukanlah terhindar dari penderitaan yang dialami semua orang di dunia yang telah jatuh. Melainkan, menjadi bagian dalam hidup berkelimpahan yang dijanjikan ketika dunia ditebus sepenuhnya pada saat kedatangan Kristus kembali. Di bumi yang baru akan ada banyak hal untuk semua orang. Tak ada yang akan kekurangan kecukupan. Keadilan akan memerintah. Kekayaan akan dialami oleh semua, tanpa membahayakan siapa pun atau apa pun. Kita sendiri tidak akan menderita kekurangan. Kita juga tidak akan memperkaya diri dengan mengorbankan orang lain. Semua akan seperti yang selalu diinginkan Allah.

Yesaya bernubuat tentang saat itu:

Sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru; hal-hal yang dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati…. Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya pula; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya pula. Mereka tidak akan mendirikan sesuatu supaya orang lain yang mendiaminya; dan mereka tidak akan menanam sesuatu supaya orang lain memakan buahnya… Mereka tidak akan sia-sia bersusah payah, atau melahirkan anak yang akan mati mendadak…. Aku akan mengalirkan kepadanya [Yerusalem] damai sejahtera seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang meluap. (Yesaya 65:17, 21-23; 66:12)

Yohanes juga menubuatkan kemakmuran Yerusalem Baru. Penyediaan Allah begitu luar biasa sampai pintu-pintu gerbang kota itu dihiasi mutiara, fondasinya bertabur segala jenis permata, dan jalan-jalannya terbuat dari emas murni (Wahyu 21:19-21). Jika penglihatan ini terdengar agak fantastis, kemungkinan itu berarti kemurahan hati Allah memang benar-benar tak terbayangkan oleh kita, karena kita sudah terbiasa dengan kekurangan.

Kesimpulan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Lalu, apa yang dapat kita simpulkan tentang kecukupan dan kekayaan dalam Alkitab?

Jika kita kaya, kita patut bersyukur dan berterima kasih atas berkat kekayaan itu dan mencari pimpinan Allah tentang cara mengelola kekayaan ini tanpa membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan. Kita harus belajar puas dengan yang kita miliki dan sebagai wali pengemban amanah Allah, kita menyerahkan kekayaan kita untuk Dia pakai sesuai kehendak-Nya melalui tindakan memberi, investasi yang bijaksana, dan belanja yang bertanggung jawab. Menyadari adanya bahaya-bahaya kekayaan, kita harus meminta kasih karunia Allah agar tidak menjadi sombong, korupsi, mengandalkan diri sendiri, eksploitatif, atau berpuas diri. Dan barangkali yang terutama, kita tidak boleh menganggap bahwa kita sangat diperkenan Allah.

Jika kita miskin—atau sulit mencukupi kebutuhan kita sendiri—kita perlu meminta pimpinan dan pertolongan Allah. Sambil menolak dorongan untuk dikuasai kekhawatiran atau keputusasaan, kita dapat meminta kasih karunia Allah untuk tetap bermurah hati dan bersukacita, bahkan mencari cara untuk lebih puas dengan menginginkan lebih sedikit. Yang terutama, kita harus meminta kasih karunia-Nya agar tidak menganggap diri kita tidak berharga di mata Allah atau sedang dihukum Allah.

Jika kita merasa tidak kaya atau miskin—sekadar cukup/pas-pasan saja, sepertinya —kita patut mengucap syukur atas apa yang telah kita terima dan meminta pimpinan Allah untuk dapat menggunakannya dengan baik. Sambil bersikap waspada terhadap kekhawatiran, kita patut bersukacita atas kesempatan yang diberikan situasi ekonomi untuk kita memercayai Allah setiap hari dalam kebutuhan-kebutuhan kita. Kita dipanggil untuk belajar puas dan mempraktikkan kemurahan hati melampaui yang kita rasa dapat kita lakukan. Bahkan ketika kita merasa tidak yakin dengan keamanan kita sendiri, kita dipanggil untuk mengusahakan keadilan ekonomi, meskipun hal itu tampaknya dapat mengancam harapan-harapan kita sendiri. Kebiasaan bersyukur, merasa puas, bermurah hati secara bersama-sama akan menunjukkan dengan lebih jelas perbedaan antara yang kita rasa kita butuhkan dengan yang benar-benar terbaik untuk kita. Mungkin hal itu akan menyiapkan kita untuk memercayai janji-janji Allah atas kecukupan kita.

Kaya, miskin, atau di antaranya, kita dapat menantikan dengan penuh keyakinan masa depan yang tidak ada lagi pergumulan dan tidak ada lagi yang kekurangan apa pun. Kita akan hidup berkelimpahan di bumi yang baru. Visi Allah bagi kita dan bagi dunia-Nya akan digenapi.