Bootstrap

Apa Kata Alkitab tentang Kekayaan dan Kecukupan? (Tinjauan Umum)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Bible wealth provision money 72

Pendahuluan

Allah mau semua orang sejahtera secara ekonomi. Dia ingin kita mendapat kecukupan (kebutuhan dasar) untuk kehidupan kita sehari-hari. Dia juga ingin kita menikmati kekayaan (kelimpahan) dari kemurahan hati-Nya. Selain itu, dunia ciptaan Allah ini memiliki banyak sumber daya yang cukup untuk memenuhi semua yang kita butuhkan. Sayangnya, di dunia yang telah jatuh yang kita diami ini, banyak orang tidak mengalami kecukupan Allah yang melimpah. Orang-orang lainnya bisa memperoleh kecukupan tetapi dengan pengorbanan yang besar (secara emosional, fisik, relasional, lingkungan, moral atau spiritual) dari diri mereka sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka. Lalu ada juga orang-orang lainnya lagi yang memiliki kekayaan ekonomi yang signifikan, tetapi cara memperolehnya membawa risiko pada orang lain maupun diri mereka sendiri. Bagaimanapun situasi kita secara ekonomi, pertanyaan dan kekhawatiran tentang maksud dan peran Allah dalam hal kecukupan dan kekayaan sangat membebani pikiran hampir setiap orang Kristen. Hal-hal seperti ini menjadi perhatian utama dalam kehidupan orang kaya maupun orang miskin; pemberi kerja, pekerja dan pencari kerja; pelajar/mahasiswa, orangtua dan pensiunan; pemilik rumah, penyewa maupun orang yang tak punya rumah.

Bersyukur, perhatian terhadap bidang ekonomi ini sejalan dengan prioritas yang diberikan Kitab Suci. Sesungguhnya, kecukupan dan kekayaan bukanlah isu-isu sampingan di dalam Alkitab. Keduanya memenuhi sebagian besar isi Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dan mencolok di dalam kitab-kitab Injil.

Jadi, apa yang dikatakan firman Allah kepada kita? Dalam artikel ini, kita akan membahas:

  • Maksud Allah yang semula untuk kita dalam hal kecukupan dan kekayaan.

  • Dampak kehidupan di dunia yang telah jatuh pada kemampuan kita untuk mengalami kecukupan dan kekayaan.

  • Respons Allah dalam menebus bidang ekonomi serta peran kita dalam hal ini.

  • Apa yang layak kita harapkan dari Allah mengenai kecukupan kita.

  • Bagaimana seharusnya kita menangani kekayaan yang ada pada kita.

Secara keseluruhan, penekanan artikel ini lebih banyak pada maksud Allah dalam cara menangani kekayaan, daripada tentang arti bergantung pada Allah dalam mencukupi kebutuhan dasar. Banyak orang yang membaca artikel ini mungkin merasa khawatir apakah Allah akan mencukupi kebutuhan mereka, tetapi kami menduga, bagi sebagian besar pembaca, kekhawatiran yang banyak itu sebenarnya adalah tentang apakah mereka akan terus menikmati kekayaan yang besar—menurut standar dunia—daripada sekadar mendapat kecukupan dasar. Meskipun demikian, kecukupan dasar tentu saja menjadi bagian penting dalam pembahasan ini, dan kami menyambut baik kalau ada wawasan yang lebih mendalam tentang hal ini, terutama dari mereka yang memiliki pengalaman hidup dalam kemiskinan dan punya kekhawatiran yang lebih besar tentang kecukupan kebutuhan dasar.

Maksud Allah Yang Semula: Berkat, Kecukupan, Kelimpahan

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Narasi di Kejadian 1 dan 2 menyatakan dengan jelas bahwa Allah merencanakan agar manusia menikmati keindahan, kelimpahan, dan keberbuahan ciptaan. Di lokasi yang indah di Taman Eden, manusia pertama mendapatkan tempat yang kaya dan subur, dan manusia dimaksudkan untuk menjadi kaya dalam segala hal. Allah menyediakan berlimpah sumber daya dan sarana agar manusia dapat hidup sejahtera dan makmur.

Seperti dikatakan penulis kitab Kejadian di awal kisah penciptaan manusia, “Allah memberkati mereka” (Kejadian 1:28). Kata “berkat” atau “diberkati” adalah fitur sentral narasi Alkitab. Bagian dari berkat berelasi dengan Allah adalah hal yang sangat nyata dan langsung bisa dinikmati. Dan berkat-berkat materi ini terintegrasi penuh dengan berkat-berkat mengenal dan mengasihi Sang Pencipta yang lainnya.

Kemudian, bahkan di dalam kegersangan padang gurun, orang Israel mendapat kecukupan hidup sehari-hari dari Allah dalam bentuk manna (Keluaran 16) dan air yang memancar dari batu karang (Keluaran 17). Kekayaan ciptaan Allah yang melimpah ditemukan lagi dalam narasi Alkitab ketika orang Israel akhirnya mencapai Tanah Perjanjian. Itulah tanah yang "berlimpah susu dan madu," yang kaya dengan segala hal yang dibutuhkan untuk hidup sesuai rancangan Allah. Kitab Ulangan mencatat janji yang diberikan kepada umat Allah di padang gurun bahwa mereka akan mendapatkan semua yang mereka butuhkan di bumi ini untuk hidup sejahtera dan makmur.

Sebab Tuhan, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan sumber air yang mengalir di lembah dan gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelai, dengan pokok anggur, pohon ara dan pohon delima; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madu; suatu negeri di mana engkau akan makan roti tanpa perlu berhemat, dan engkau tidak akan kekurangan apa-apa. (Ulangan 8:7-9)

Sejak semula, Allah telah dengan sempurna menyediakan dunia untuk manusia berkembang dan berbuah. Tanah yang subur menghasilkan makanan ketika manusia menggunakan kemampuan yang diberikan Allah untuk “mengerjakan dan memeliharanya” (Kejadian 2:15). Maksud Allah bukanlah hanya supaya manusia dapat bertahan hidup, tetapi supaya mereka berkelimpahan dalam segala hal yang baik. “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah bumi dan taklukkanlah bumi” (Kejadian 1:28). Allah memberi kemampuan kepada manusia untuk memahami keadaan alam agar mereka dapat memanfaatkan sumber-sumber dayanya (Kejadian 2:20). Usaha dan kepintaran manusia bukan cuma mampu mengembangkan ciptaan Allah untuk mencukupi kebutuhan semua orang dengan melimpah. Di dalam kemitraan dengan Sang Pencipta, kita dapat memanfaatkan secara kreatif sumber-sumber daya di bumi dengan mengembangkan dan berinovasi, menciptakan produk-produk baru, dan memperbaiki versi aslinya. Ada lebih dari cukup bahan baku untuk semua orang. Hal ini sangat kontras dengan prinsip kelangkaan/keterbatasan yang terjadi pada sebagian besar barang dan bahan di era ekonomi pasca-Eden.

Pada saat terbaik kita, kita manusia dapat bekerja sama dengan Allah secara luar biasa dalam mengembangkan ciptaan-Nya. Entah itu dalam pembangunan pertanian dan hortikultura, pemanfaatan batu bara, minyak, gas, angin, dan air untuk pembangkit listrik, pembuatan taman-taman, kebun-kebun dan gambar-gambar keindahan, atau perancangan dan pengembangan rumah-rumah, peralatan, pakaian, dan moda-moda transportasi, semua perkembangan yang memperkaya hidup kita itu adalah ungkapan-ungkapan dari penciptaan-bersama (co-creation). Kemampuan berinovasi, menghasilkan dan mengembangkan adalah bagian dari arti diciptakan segambar dengan Allah.

Dampak Kejatuhan Dunia

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pemberontakan manusia pertama (Kejadian 3) membawa dampak yang sangat buruk pada seluruh ciptaan—bukan saja dalam berelasi dengan Allah, tetapi juga dalam kemampuan memperoleh kecukupan dan menghasilkan kekayaan dari bumi. Kejatuhan menunjukkan bahwa ketika kita menghancurkan relasi kita dengan Allah, kita menciptakan masalah-masalah ekonomi dengan berbagai macam kejahatan lainnya. Karena Allah adalah sumber berkat, tidak lagi mendekat pada-Nya mengikis kemampuan manusia untuk mendapatkan kecukupan dan kekayaan.

Sebagai akibat Kejatuhan, manusia mulai hidup di bawah kutuk dan berkat. Hal ini membawa implikasi-implikasi signifikan pada pekerjaan/bekerja. Tanah—dan juga produktivitas dan keberhasilannya—sangat terdampak oleh kehancuran relasi itu, yang membuat Allah berkata kepada Adam:

Terkutuklah tanah karena engkau; dengan susah payah engkau mencari makan dari tanah itu seumur hidupmu; semak duri dan rumput duri akan ditumbuhkannya bagimu; dan tanaman ladang akan menjadi makananmu. Dengan cucuran keringat engkau akan mencari makan, sampai engkau kembali menjadi tanah… (Kejadian 3:17b-19a)

Kita mungkin juga menjadi tidak mampu mendapat kecukupan dasar dari materi-materi ciptaan, entah karena kesalahan kita sendiri, kesalahan orang lain, atau bukan kesalahan siapa-siapa secara khusus. Penyalahgunaan obat-obatan, kebiasaan kerja yang buruk, kurangnya akses pendidikan, kesehatan yang buruk, pemusatan sumber daya di tangan para elit, diskriminasi etnis, dan berbagai penyebab lainnya bisa menjadi penghalang untuk para individu, keluarga, komunitas, dan seluruh masyarakat mencipta-bersama (co-creation) dengan Allah dalam mencukupi kebutuhan mereka. Di dunia yang telah jatuh yang kita diami ini, maksud-maksud Allah yang semula tentang kecukupan dan kekayaan terganggu dalam beberapa hal yang nyata.