Dampak Kejatuhan Dunia
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Pemberontakan manusia pertama (Kejadian 3) membawa dampak yang sangat buruk pada seluruh ciptaan—bukan saja dalam berelasi dengan Allah, tetapi juga dalam kemampuan memperoleh kecukupan dan menghasilkan kekayaan dari bumi. Kejatuhan menunjukkan bahwa ketika kita menghancurkan relasi kita dengan Allah, kita menciptakan masalah-masalah ekonomi dengan berbagai macam kejahatan lainnya. Karena Allah adalah sumber berkat, tidak lagi mendekat pada-Nya mengikis kemampuan manusia untuk mendapatkan kecukupan dan kekayaan.
Sebagai akibat Kejatuhan, manusia mulai hidup di bawah kutuk dan berkat. Hal ini membawa implikasi-implikasi signifikan pada pekerjaan/bekerja. Tanah—dan juga produktivitas dan keberhasilannya—sangat terdampak oleh kehancuran relasi itu, yang membuat Allah berkata kepada Adam:
Terkutuklah tanah karena engkau; dengan susah payah engkau mencari makan dari tanah itu seumur hidupmu; semak duri dan rumput duri akan ditumbuhkannya bagimu; dan tanaman ladang akan menjadi makananmu. Dengan cucuran keringat engkau akan mencari makan, sampai engkau kembali menjadi tanah… (Kejadian 3:17b-19a)
Kita mungkin juga menjadi tidak mampu mendapat kecukupan dasar dari materi-materi ciptaan, entah karena kesalahan kita sendiri, kesalahan orang lain, atau bukan kesalahan siapa-siapa secara khusus. Penyalahgunaan obat-obatan, kebiasaan kerja yang buruk, kurangnya akses pendidikan, kesehatan yang buruk, pemusatan sumber daya di tangan para elit, diskriminasi etnis, dan berbagai penyebab lainnya bisa menjadi penghalang untuk para individu, keluarga, komunitas, dan seluruh masyarakat mencipta-bersama (co-creation) dengan Allah dalam mencukupi kebutuhan mereka. Di dunia yang telah jatuh yang kita diami ini, maksud-maksud Allah yang semula tentang kecukupan dan kekayaan terganggu dalam beberapa hal yang nyata.
Banyak Orang Bahkan Tidak Dapat Memperoleh Kecukupan Dasar
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSekitar 1,4 miliar penduduk dunia hidup dalam kemiskinan ekstrem, artinya mereka tidak bisa mendapatkan kebutuhan hidup pokok. Sebanyak 1,1 miliar lainnya hidup pas-pasan, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dari hari ke hari saja, yang sangat rentan atau sudah di ambang kehancuran.[1] Kemiskinan ekonomi memengaruhi hampir 40 persen manusia. Mengingat yang sudah kita pelajari dari Kejadian 1 dan 2, keadaan seperti ini jelas bukan seperti yang dimaksudkan Allah. Lalu mengapa keadaan ini menjadi realitas sehari-hari begitu banyak orang?
Di dunia yang benar-benar adil dan merata, pilihan-pilihan yang baik akan mendatangkan kecukupan dan kekayaan, dan pilihan-pilihan yang buruk mendatangkan kemiskinan. Di dunia “sebab-akibat” seperti ini, kebenaran amsal-amsal seperti, "Dalam setiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka hanya mendatangkan kemiskinan" (Amsal 14:23) menjadi realistis. Kemalasan, pemborosan, disiplin diri yang buruk, dan perilaku adiktif, semuanya secara alami akan mendatangkan kemiskinan. Sebaliknya, kerja keras, pemakaian yang bijaksana, disiplin diri yang sehat, dan bebas kecanduan akan mendatangkan kekayaan. Hal ini bisa berlaku pada jutaan atau miliaran orang di dunia saat ini—kekayaan atau kemiskinan relatif mereka sebagian besar ditentukan oleh pilihan-pilihan baik, kerja keras, dan kejeniusan mereka sendiri. Di masyarakat yang ditangani dengan baik, di kalangan orang-orang yang memiliki akses merata ke sumber-sumber daya dan pendidikan, dan di dalam situasi-situasi yang tidak terganggu sakit-penyakit, bencana, disfungsi keluarga, kejahatan, atau kecelakaan, kekayaan dan kemiskinan seseorang kemungkinan merupakan hasil yang adil dari usaha pribadi.
Namun pada kenyataannya, dalam skala global, kita sama sekali tidak hidup di area yang adil dan merata. Dunia yang telah jatuh ini tidak adil dan tidak memperlakukan semua orang secara merata. Kita semua tidak memulai kehidupan dari keadaan yang sama. Keluarga, komunitas, dan situasi sosial kita sangat menentukan peluang-peluang kita di dunia ini. Sebagian dari kita beruntung karena dilahirkan dalam keluarga yang mendukung dan penuh kasih di negara-negara makmur, dengan serangkaian kemampuan dan peluang. Sementara orang-orang lain dilahirkan dalam situasi yang serba kekurangan dalam segala hal. Mereka tak pernah memiliki basis yang mereka butuhkan untuk mencukupi diri sendiri.
Memang benar bahwa sebagian besar kemiskinan adalah akibat dosa dan kesalahan tertentu manusia. Tetapi yang membuat orang tidak mendapat kecukupan atau kekayaan tidak selalu akibat dosanya sendiri. Pemerintah yang buruk, perang, korupsi, eksploitasi pihak yang berkuasa, kurangnya pendidikan dan pelatihan, berbagai penyakit masyarakat dan keluarga yang menghalangi pencapaian potensi, semuanya berkontribusi pada banyaknya orang yang tidak mendapat kecukupan, yang bukan akibat kesalahannya sendiri. Secara khusus, tidak mendapat kecukupan seringkali disebabkan, sebagian atau seluruhnya, oleh dosa sosial atau personal terhadap orang miskin. Artinya, mereka adalah korban dari akibat dosa orang lain. Seorang yang kejam merampas tanah keluarga, merenggut kemampuan mereka untuk menghasilkan. Sebuah pabrik mengeksploitasi para pekerja yang lemah dengan membayar upah di bawah standar dan mengancam yang keberatan. Seorang tuan tanah kaya menebangi pohon-pohon di hutan yang luas, membuat jutaan orang di hilir berisiko dilanda banjir. Seorang suami kecanduan judi, dan menelantarkan istri dan anak-anaknya tanpa uang sedikit pun. Sebuah investasi gagal akibat kecurangan dan penipuan, membuat keluarga yang sudah menabung dengan susah payah untuk masa depan tidak punya apa-apa lagi.
Meskipun demikian, tidak semua kemiskinan adalah akibat dosa, atau setidaknya bukan dosa yang jelas-jelas dilakukan orang tertentu. Sebagian orang tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka karena disabilitas, penyakit, usia, atau faktor-faktor lain yang bukan kesalahan siapa-siapa. Di Perjanjian Lama, ketiga kelompok ini sangat rentan—“janda, anak yatim, dan pendatang/orang asing.”[2] Untuk mengantisipasinya, Hukum Ibrani memuat peraturan-peraturan yang menjamin terpeliharanya orang-orang ini.[3] Zakharia adalah tipikal nabi itu ketika ia menulis: “Beginilah firman Tuhan semesta alam: tegakkanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kasih setia dan kasih sayang satu sama lain; janganlah menindas janda dan anak yatim, pendatang dan orang miskin” (Zakharia 7:9-10).[4]
Kemiskinan lainnya terjadi akibat keadaan bumi kita yang tak dapat diprediksi. Bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, kekeringan, atau banjir dapat menghancurkan seluruh masyarakat, dan memusnahkan hasil panen, rumah, harta benda, dan mata pencaharian dalam sekejap. Contohnya, seperempat juta orang kehilangan nyawa dalam tsunami Boxing Day tahun 2004 yang melanda wilayah pesisir Indonesia dan wilayah-wilayah Asia Tenggara lainnya, dan ada lebih banyak lagi korban yang kehilangan tempat tinggal dan sarana-sarana untuk mencukupi diri sendiri.
Jadi kita harus sangat berhati-hati agar tidak membuat asumsi-asumsi tentang penyebab situasi seseorang— kaya atau pun miskin. Begitu banyak faktor yang memengaruhi, sebagian dari diri orang itu sendiri; kebanyakan dari luar kendali mereka. Alkitab sangat realistis dalam hal ini. Sebagai contoh, ada pengamatan bahwa, "kurang dari sepertiga amsal yang berbicara tentang orang kaya dan orang miskin mengajarkan bahwa orang akan mendapatkan yang pantas mereka dapatkan, sementara sisanya mengakui adanya masalah keadilan sosial-ekonomi."[5] Jadi, meskipun Alkitab terkadang mengaitkan kecukupan atau tidak berkecukupan dengan suatu sebab, Kitab Suci pada umumnya kurang peduli untuk mengidentifikasi penyebab-penyebab kemiskinan tertentu dan lebih peduli untuk mengingatkan kewajiban orang-orang yang punya kekayaan supaya memerhatikan orang-orang yang berkekurangan.
Banyak Orang Memperoleh Kecukupan dan Bahkan Menjadi Kaya—Tetapi Menimbulkan Bahaya Besar
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDibandingkan miliaran orang yang berjuang dengan susah payah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, orang-orang yang punya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka dan lain-lainnya mungkin tampaknya diberkati. Dan kenyataannya mereka memang diberkati, setidaknya secara ekonomi. Namun, memiliki cukup banyak juga dapat menimbulkan bahaya besar, baik bagi individu itu sendiri, keluarga, komunitas, atau negaranya, maupun bagi orang-orang lain yang terkena dampaknya. Kita akan membahas beberapa situasi kecukupan atau kekayaan yang menimbulkan bahaya bagi orang yang mendapatkannya maupun orang-orang yang dieksploitasi untuk mendapatkannya.
Kekayaan Yang Diperoleh dengan Cara Tidak Adil Itu Berbahaya
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSebagian pemimpin nasional mendapatkan kecukupan atau kekayaan dengan cara-cara yang tidak adil seperti eksploitasi, kekerasan, korupsi, pencurian, dan lain-lainnya. Para diktator dan rezim yang kejam merampas yang mereka inginkan, menindas rakyat mereka sendiri dengan kekerasan dan intimidasi, dan menjalani hidup mewah sementara rakyat berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Burma, Zimbabwe, Libya... daftarnya bisa terus ditambahkan.
Beberapa perusahaan multinasional mengeksploitasi pasar-pasar tenaga kerja murah, memaksakan kondisi-kondisi kerja yang tidak aman bagi para pekerja yang tak berdaya, atau menghancurkan ekosistem setempat agar dapat meraup keuntungan yang sangat besar. Keuntungan mereka didapat dengan mengorbankan orang-orang dan tempat-tempat yang tidak terlihat pihak berwenang di negara asal mereka dan tidak terhubung dengan para konsumen yang membeli produk-produk itu.
Beberapa individu dan organisasi mencurangi atau menipu para investor rumahtangga untuk mengambil risiko berlebihan, tanpa memikirkan orang-orang yang mungkin dirugikan dalam proses itu.
Ini hanyalah beberapa saja dari cara-cara memperoleh kekayaan dengan merugikan orang lain. Penyebab ketidakadilan semacam itu seringkali adalah keserakahan—“keinginan yang kuat dan egois untuk mendapatkan kekayaan, kekuasaan, atau makanan” [1] Rasul Paulus menghadapi masalah ini di gereja Efesus ketika ia menulis kepada Timotius, dan berkata:
Mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Sebab, akar segala kejahatan ialah cinta uang dan karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai duka. (1 Timotius 6:9-10)
Akibat keserakahan semacam itu seringkali tidak hanya membahayakan keadaan rohani kita sendiri dan keadaan ekonomi orang lain. Keserakahan itu juga dapat mengakibatkan degradasi lingkungan—yang menimbulkan kerusakan signifikan pada bumi, yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan orang lain untuk hidup layak dan mengurangi produktivitas ke depan banyak orang.
Yang menyedihkan, di Israel kuno sebagian orang menjadi kaya dengan cara-cara yang tidak adil. Sesungguhnya, banyak pesan nabi-nabi yang berbicara tentang ketidakadilan ekonomi yang dilakukan orang-orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan di Israel. Melalui juru bicara seperti Amos, Mikha, dan Yeremia, Allah menyatakan bahwa ibadah kita tidak ada artinya jika kita menumpuk kekayaan dengan cara mengeksploitasi orang lain. Jika kita berkata kita mengasihi Allah, kita harus mencerminkannya dalam cara kita memperlakukan orang lain dan menjalankan bisnis.
Hukuman datang kepada Israel, "karena mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut" (Amos 2:6b). Hukuman itu merupakan konsekuensi yang tak terelakkan dari kegagalan Israel untuk setia pada tanggung jawab perjanjiannya. Karena ciri khas Allah adalah kasih setia, keadilan, dan kebenaran [2], maka implikasinya, sifat-sifat ini juga harus menjadi ciri komunitas perjanjian. Memastikan seluruh anggota masyarakat (khususnya yang lemah) memiliki akses ke sumber-sumber yang dapat membuat mereka menjalani hidup yang bermartabat adalah bagian dari tanggung jawab perjanjian Israel.
Sayangnya, mekanisme Hukum yang berusaha membangun masyarakat yang adil, jujur, dan berbelas kasih telah dilanggar dan diabaikan. Alih-alih meneladani syalom Allah, bangsa Israel menjadi sama seperti bangsa-bangsa yang lainnya—sarang penindasan, penyalahgunaan kekuasaan, dan pengabaian terang-terangan terhadap orang-orang yang terpuruk secara ekonomi. Orang kaya memperoleh kepemilikan banyak tanah (yang melanggar Imamat 25:25-28), lalu menyewakannya kembali kepada petani-petani kecil dengan mengenakan bunga (yang dilarang di Ulangan 23:19-20), yang pada akhirnya membuat gagal bayar. Sementara itu, sistem peradilan diputarbalikan dengan suap. Akibatnya, orang-orang yang tidak mampu lagi mencari nafkah harus menjual diri dengan menjadi budak.
Sebagai tanggapannya, nabi Amos berseru, "Hendaklah keadilan bergulung-gulung seperti air, dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir" (Amos 5:24). Nabi Mikha bertanya: "Apakah yang dituntut TUHAN darimu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Cara kita mencari nafkah, mempekerjakan atau mengatur orang lain, menjalankan bisnis, berinvestasi, dan menggunakan uang, bisa adil atau tidak adil. Dan ini tidak bisa dipisahkan dari ibadah kita kepada Allah. Kita tidak dapat mengasihi Allah dan juga mengeksploitasi orang lain dalam mengejar kekayaan.
Kekayaan Yang Halal Juga Bisa Berbahaya
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiTidak semua akumulasi kekayaan merupakan hasil ketidakadilan. Namun, meskipun kekayaan diperoleh dengan cara yang halal, potensi mendatangkan bahaya besar tetap ada. Ada banyak ayat dalam Kitab Suci yang memperingatkan pembaca tentang kebenaran bahwa kekayaan itu berbahaya. Kekayaan dapat menimbulkan berbagai macam efek samping yang negatif:
Pertama, kekayaan dapat menimbulkan kesombongan dan keangkuhan. Amsal 28:11 berkata, "Orang kaya menganggap dirinya bijak, tetapi orang miskin yang berpengertian mengenal dia." Mudah bagi orang kaya untuk percaya bahwa mereka memperoleh kekayaan semata-mata karena kepintaran atau kerja keras mereka sendiri. Yehezkiel memperingatkan Raja Tirus, "Dengan sangat pandainya engkau berdagang, engkau memperbanyak kekayaanmu, dan engkau menjadi sombong karena kekayaanmu" (Yehezkiel 28:5).
Kedua, kekayaan sering menimbulkan pengandalan-diri, kepuasan diri dan rasa aman yang palsu. Salah satu contoh ekstrem tentang hal ini adalah kesombongan Efraim di Hosea 12:9, “Bukankah aku telah menjadi kaya, telah mendapat harta bagiku; itu semua hasih jerih payahku. Orang tidak menemukan kesalahan yang merupakan dosa bagiku.” Dan perkataan Hosea di pasal berikutnya juga sangat tajam—tentang Israel yang melupakan Allah—“Ketika mereka digembalakan, mereka kenyang; setelah kenyang, mereka tinggi hati.” (Hosea 13:6). Yesus juga melihat bahaya kekayaan yang meninabobokan kita dengan rasa aman yang palsu ini dalam perumpamaan-Nya tentang orang kaya yang bodoh (Lukas 12:13-21). Sangat mudah sekali untuk berpikir kita tidak membutuhkan Allah ketika perut kita kenyang, kehidupan baik-baik saja, dan masa depan tampak terjamin.
Ketiga, kekayaan juga dapat menumpulkan kepekaan kita terhadap kebutuhan besar di sekitar kita, mengeringkan belas kasihan dan kemurahan hati kita. Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31). Meskipun si miskin Lazarus tinggal dalam kesusahan besar di pintu gerbang orang kaya itu, si orang kaya itu tidak peka dengan keadaan si miskin yang menyedihkan dan hanya asyik dengan gaya hidup dan penggunaan kekayaannya sendiri. Ironisnya, bahkan di Hades, orang kaya itu masih terobsesi dengan kebutuhannya sendiri dan memandang Lazarus tak lebih dari sekadar orang suruhan.
Keempat, dan yang paling menggoda dari semuanya adalah, pesona kekayaan yang memikat hati kita dan membagi kesetiaan kita. Di sini kita melihat bahwa Alkitab mengakui kekuatan yang dimiliki uang. Pemazmur memperingatkan kita tentang hal ini ketika ia menulis, "Apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya" (Mazmur 62:11b). Bahaya ini juga disampaikan dengan saksama kepada orang Israel di Ulangan 8:12-17:
Jangan sampai apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembumu dan kambing dombamu bertambah banyak, dan emas serta perakmu bertambah banyak... engkau menjadi tinggi hati, sehingga engkau melupakan Tuhan, Allahmu... Jangan sampai kaukatakan dalam hatimu, "Kuasaku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini."
Perkataan ini menyadarkan. Mungkin itu sebabnya penulis Amsal 30 meminta kepada Allah:
Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya jangan kalau aku kenyang aku menyangkal-Mu dan berkata “Siapa TUHAN itu?” atau kalau aku miskin, aku mencuri dan mencemarkan nama Allahku (Amsal 30:8-9)
Bahaya-bahaya kekayaan bahkan lebih ditegaskan lagi di Perjanjian Baru. Yang menjadi inti dari sikap Yesus adalah pernyataan-Nya bahwa:
Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. (Matius 6:24)
Kata yang digunakan untuk kekayaan di sini adalah mamon. Beberapa terjemahan menuliskannya dengan huruf besar (Mamon) untuk menekankan bahwa Yesus sedang memperhadapkan allah yang satu dengan yang lain. Keduanya sama-sama menuntut kesetiaan/pengabdian dan penyembahan kita. Kekayaan/Mamon itu tidak netral. Ia tidak pernah terpuaskan—begitu Anda memiliki sejumlah kekayaan, Anda akan terus menginginkannya lebih dan lebih lagi. Tak heran jika setelah bertemu dengan pemuda kaya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya seperti ini:
Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sukarlah bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu: Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Matius 19:23-24)
Bagi Yesus, kekayaan adalah hal yang berbahaya. Kekayaan itu seperti batang dinamit—yang berpotensi melakukan banyak kebaikan, tetapi juga bisa menimbulkan banyak kerusakan. Dan semakin banyak yang Anda miliki, semakin besar risiko itu.
Kelima, memperoleh kecukupan dan kekayaan dapat memicu ketidakpuasan atas yang sudah kita miliki serta keinginan untuk memiliki lebih banyak lagi. Iri hati dan serakah bisa menyeruak dengan mudah saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang memiliki lebih banyak dari kita. Bahkan, dorongan untuk mengumpulkan dan menghabiskan lebih banyak membuat kita rentan terhadap manipulasi. Sejak tahun 1929, Floyd Allen, seorang eksekutif di General Motors, sudah berkata terus terang—“Iklan adalah bisnis yang membuat orang merasa tidak puas dengan yang mereka miliki demi sesuatu yang dianggap lebih baik.”[1]
Yang lebih terkini, sosiolog Bernard McGrane berkata bahwa,
Salah satu pesan tersembunyi dari semua iklan adalah, “Anda sedang tidak baik-baik saja dengan keadaan Anda saat ini. Segalanya buruk. Anda perlu bantuan. Anda perlu penyelamat.” Dalam arti itu, iklan dirancang untuk menghasilkan kritik-diri yang tak ada habisnya, berbagai macam kecemasan, dan kemudian menawarkan segala macam barang konsumen sebagai penyelamat Anda… Sebaliknya, satu pesan yang tidak akan pernah Anda dengar dari iklan adalah, “Anda baik-baik saja. Anda tidak perlu apa-apa. Jadilah diri Anda sendiri.”[2]
Kita dengan mudah mendapati diri kita terus-menerus menginginkan lebih. Kita telah melatih hawa nafsu kita untuk selalu menginginkan lebih. Menentukan batas “cukup” sangatlah sulit di lingkungan yang konsumtif ini. Mungkin inilah yang disampaikan Yakobus ketika ia menulis:
Kamu mengingini sesuatu, tetapi tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. (Yakobus 4:2-3)
Keenam, kita dapat menjadi cemas dan sangat khawatir tentang kecukupan kebutuhan kita yang akan datang. Orang mungkin berpikir kekhawatiran semacam ini hanya memenuhi hati dan pikiran orang yang benar-benar tidak memiliki cukup. Ternyata, banyak orang yang memiliki banyak juga mengalami stres yang membahayakan ini. Memiliki lebih dari kebutuhan dasar tampaknya membuat kita lebih khawatir karena sekarang kita memiliki lebih banyak barang yang bisa dikhawatirkan hilang.
Ketakutan tidak memiliki cukup inilah yang mendorong sebagian orang bekerja jauh lebih lama dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan anak-anak mereka yang artinya membelikan mereka gawai terbaru dan pakaian model terkini, padahal yang sebenarnya paling mereka butuhkan adalah waktu dan perhatian orang tua. Orang lainnya dipenuhi ketakutan bahwa mereka tidak akan memiliki cukup uang untuk menopang kehidupan mereka di hari tua. Dan karenanya, mereka merancang kecukupan untuk masa depan dengan mengorbankan pelayanan kepada Allah dan orang lain di-sini-dan-saat-ini, tidak membangun relasi-relasi yang kaya dan berarti, atau menjalani kehidupan yang seimbang.
Yang lain lagi terjaga di malam hari karena mencemaskan keamanan investasi tertentu atau memikirkan cara mendapatkan rumah atau mobil yang sangat mereka idam-idamkan. Sesungguhnya, lebih banyak energi cemas yang terkuras untuk masalah uang daripada hampir semua masalah lainnya. Apakah kecemasan ini yang mendorong orang melakukan hal-hal yang biasanya tidak akan mereka lakukan—seperti melakukan kecurangan, kurang jujur, mengorbankan persahabatan, atau mengkompromikan nilai-nilai?
Memiliki lebih dari kecukupan dasar yang kita butuhkan dapat menjadi beban. Kata-kata Yesus yang terkenal di Matius 6—yang diucapkan kepada orang banyak yang tahu bagaimana beratnya perjuangan mencari nafkah—sangat relevan:
Janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Matius 6:31-33)
Pernyataan Yesus ini sangat provokatif. Tidak mudah memercayai Allah—apalagi jika masa depan ekonomi Anda tidak pasti. Namun, seperti dituliskan N.T. Wright: “Ketika [Yesus] menasihati para pengikut-Nya agar tidak khawatir tentang hari esok, kita harus menganggap Dia sedang mengajar dengan teladan.”[3] Jika kita bertanya, “Dapatkah orang benar-benar memercayai Allah seperti ini?” kita dapat menjawab bahwa setidaknya ada satu orang yang dapat.
