Bootstrap

Keuangan dan Kejatuhan

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Philippine stock market board
Ekonom Inggris Memberikan Perspektif tentang Krisis Global (Klik untuk Membaca)

Di dalam sejarah belakangan ini, tak ada yang lebih menunjukkan sifat kejatuhan keuangan daripada resesi ekonomi tahun 2008. Apa yang salah? Adakah masa depan bagi kapitalisme? Bagaimana masyarakat dan pemerintah melangkah maju? Dalam wawancara dengan Al dan Nancy Erisman dari Ethix, Lord Brian Griffiths memberikan jawaban yang menginspirasi, berbelas kasih, dan penuh pengharapan atas pertanyaan-pertanyaan ini.[1]

Sejauh ini kita sudah memikirkan keuangan sebagaimana yang Allah maksudkan semula. Tetapi kita tahu bahwa Kejatuhan manusia telah merusak setiap aspek ciptaan. Sebelum penebusan Kristus bagi dunia tercapai sepenuhnya, kita hidup di dunia yang dibentuk oleh kebaikan ciptaan Allah maupun kejahatan akibat Kejatuhan. Dosa telah sangat merusak kemampuan dan kecenderungan manusia dalam menjadi penatalayan dan menunjukkan keadilan dan kasih melalui pasar keuangan.

Beberapa dosa sangat merusak keuangan. Karena keuangan pada dasarnya tentang mengalokasikan sumber daya, dosa keserakahan berdampak besar pada keuangan.[2] Karena Allah tidak menciptakan kita untuk mahatahu, dan karena informasi itu penting dalam keuangan, dosa berbohong juga menimbulkan masalah-masalah yang sangat besar dalam keuangan. Bahkan, keserakahan dan kebohongan ini dapat sangat merusak kemampuan institusi-institusi keuangan dalam melakukan kebaikan yang seharusnya mereka lakukan, dan menimbulkan pertanyaan apakah institusi-institusi ini sudah sedemikian dirusak oleh dosa sampai tidak dapat ditebus.

Banyak penulis telah mengupas masalah-masalah dalam keuangan dan alasan-alasan yang mendasarinya. Shiller mengingatkan kita bahwa menurut Keynes kita memiliki dorongan spontan untuk bertindak yang disebutnya dorongan naluriah/insting yang menyebabkan pasar-pasar keuangan menghadapi masalah.[3] Stiglitz menguraikan berbagai masalah dalam bank-bank investasi (perantara keuangan berskala besar), yang berfokus khusus pada struktur-struktur kompensasi.[4] Ia berpendapat bahwa "sistem keuangan telah gagal menjalankan fungsi-fungsi utamanya: dalam mengelola risiko, mengalokasi modal, dan mempertahankan biaya transaksi yang rendah." Terrill berpendapat bahwa kerusakan moral telah terjadi di perbankan investasi dan para nasabah, dan kita memerlukan tranformasi mental untuk mengejar apa yang "baik dan benar." [5] Van Duzer menulis bab yang merinci bagaimana dosa memengaruhi pasar-pasar, termasuk keuangan.[6] Ia menunjukkan bahwa relasi-relasi yang rusak di antara manusia dan dengan Allah menyebabkan banyak masalah di pasar-pasar. Davis berpendapat bahwa selama tiga dekade terakhir beberapa unsur keuangan—khususnya investasi institusional dan sekuritisasi—telah berkontribusi pada meredupnya organisasi-organisasi yang berperan dalam masyarakat dan munculnya mentalitas pedagang berwawasan jangka pendek yang dapat merusak masyarakat.[7]

Mengingat yang sudah disampaikan para penulis ini dan juga penulis-penulis lainnya, kami tidak akan membahas lebih jauh tentang kejahatan-kejahatan yang dilakukan manusia dengan sengaja dalam keuangan, seperti kecurangan, penipuan, kekerasan, rasisme, diskriminasi etnis, gender, dan prasangka-prasangka lainnya, dst. Hal-hal ini kurang lebih sama dengan pelanggaran etika di bidang-bidang pekerjaan yang lain. Artikel Tinjauan Etika Kerja di www.theologyofwork.org memberikan kerangka pemikiran etis dari perspektif Alkitab.

Kami di sini lebih tertarik pada bagaimana Kejatuhan dapat membatasi kemampuan keuangan - dalam arti transaksi-transaksi dengan suku bunga pasar yang dilakukan secara sukarela - dalam menunjukkan penatalayanan, keadilan, dan kasih kepada peminjam dan pemberi pinjaman. Adakah situasi-situasi yang di dalamnya keuangan harus digantikan dengan beberapa bentuk pertukaran lain—khususnya badan amal swasta atau pemerintah—dan jika ada, seberapa luas cakupannya? Di dunia yang telah jatuh, masih adakah ruang bagi keuangan untuk memenuhi tujuan-tujuan yang dimaksudkan Allah?

Ketidakmampuan Orang Miskin untuk Meminjam

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Idealnya, keuangan dengan suku bunga pasar menjadi berkat bagi peminjam maupun pemberi pinjaman. Ini sama di semua jenis perdagangan. Memproduksi dan menjual segala macam produk dan jasa dimaksudkan untuk menguntungkan pembeli dan penjual. Namun, ada kalanya orang membutuhkan produk atau jasa tetapi tidak mampu membelinya. Hal ini terjadi juga di bidang keuangan seperti makanan, tempat tinggal, listrik, perawatan kesehatan, atau yang lain-lainnya. Orang mungkin memerlukan akses untuk memiliki uang namun tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman, atau hanya ditawari suku bunga yang sangat tinggi yang tidak terjangkau. Seperti halnya pada produk lainnya, ketika hal ini terjadi, ini bukan lagi transaksi komersial, tetapi subsidi, pemindahan, atau pemberian/hadiah. Kita biasanya tidak berharap para produsen menjual barang dan jasa mereka dengan merugi atau memberikannya secara gratis. Sebaliknya, kita bergantung pada donatur, lembaga bantuan, atau pemerintah untuk memberikan subsidi atau membelikan dan menyumbangkan barang-barang itu kepada yang membutuhkan. Namun pada saat yang sama, kita sangat berharap, atau setidaknya berharap, orang-orang yang berkelebihan mau bermurah hati.

Keuangan sama dengan semua sektor lainnya dalam hal ini. Alkitab memuji kemurahan hati dalam hal keuangan—

Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan hidup di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagaimana terhadap pendatang dan warga asing, supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau mengambil riba atau laba darinya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu. (Imamat 25:35-36)
Jika ada di antaramu orang miskin, salah seorang saudaramu di salah satu kotamu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati atau pun menutup tangan terhadap saudaramu yang miskin itu. Sebaliknya engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa pun yang diperlukan. (Ulangan 15:7-8)

—sama seperti memuji kemurahan hati dalam hal-hal lainnya,

Jawabnya [Yohanes Pembaptis] kepada mereka: "Siapa yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian” (Lukas 3:11)

Kemurahan hati itu penting. Tetapi pasar dengan harga-harga kemungkinan bukan cara terbaik untuk menunjukkan kemurahan hati kepada anggota keluarga (“saudara” di Imamat 25:35) dan orang-orang yang membutuhkan. Jika kita memikirkan pasar gandum, kita tahu bahwa Allah menciptakan dasar untuk pasar-pasar gandum karena kita makhluk sosial, tidak semua orang memiliki keterampilan yang sama untuk menanam gandum, gandum tidak tumbuh sama baiknya di semua tempat, gandum tidak dapat dipanen setiap hari sepanjang tahun, gandum kaya akan nutrisi dan tubuh kita tidak dapat mencerna cukup banyak gandum pada saat panen untuk bertahan sampai panen berikutnya. Alkitab tidak berisi larangan umum tentang membeli dan menjual gandum. Tetapi Alkitab mendorong kita untuk tidak menimbun gandum, melainkan untuk memberikannya kepada orang miskin, janda-janda, dan para yatim piatu (Imamat 19; Lukas 12:16-21). Alkitab memiliki ajaran yang sama tentang sumber daya keuangan sebagaimana telah kita bahas di atas. Tidak ada ketidaksesuaian yang alkitabiah antara mengalokasikan sebagian besar sumber daya keuangan melalui pasar dengan harga (suku bunga) sebagaimana yang dimaksudkan Allah dalam rancangan penciptaan-Nya, dengan membagikan sebagian sumber daya keuangan secara cuma-cuma (suku bunga nol) kepada keluarga atau orang yang miskin. Keduanya dapat menunjukkan kasih kepada orang lain. Bagi orang yang memiliki peluang produktif untuk mendapatkan uang, meminjamkan dengan bunga dapat menjadi bentuk kasih. Meminjamkan tanpa bunga kepada keluarga dan orang miskin yang tidak memiliki akses kepada uang juga dapat menjadi kasih.

Secara umum, fakta bahwa keuangan berkaitan dengan uang, bukan barang dan jasa, tidak memberi kewajiban beramal yang lebih besar pada pemberi pinjaman dibandingkan bisnis atau institusi lainnya. Sesungguhnya, setiap bisnis yang tidak lagi beroperasi secara menguntungkan justru menghancurkan nilai manfaat yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat. Seperti telah kita ketahui, dasar-dasar keuangan mencakup memberi manfaat kepada pemberi pinjaman maupun peminjam. Setiap kali suatu institusi keuangan membagikan uang, ia mengurangi keuntungan yang diharapkan investornya sendiri. Dan mengingat investor terbesar saat ini adalah dana pensiun [1] maka beramal kepada peminjam terutama akan mengurangi pendapatan pensiun bagi para pensiunan. Jadi, sebagaimana pada industri-industri lainnya, beramal besar-besaran bukanlah fungsi keuangan.

Eksploitasi Peminjam

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Para pemegang keuangan memiliki kewajiban untuk meminjamkan secara menguntungkan tetapi tidak boleh mengambil keuntungan dari kelemahan para peminjam.

Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta riba, juga makananmu janganlah kauberikan dengan meminta laba. (Imamat 25:37)

Dengan kata lain, pemberi pinjaman tidak boleh mengeksploitasi "kesulitan" yang dihadapi calon peminjam untuk mendapat keuntungan atau memaksakan persyaratan yang memberatkan seperti menagih bunga di muka. Secara keseluruhan ayat ini berbicara khusus tentang syarat memberi pinjaman kepada sanak saudara (Imamat 25:35), tetapi begitu keputusan meminjamkan dibuat dengan alasan apa pun, kewajiban untuk tidak mengeksploitasi kesulitan peminjam berlaku untuk semua orang.

Isu moral muncul dari ketidakseimbangan kekuasaan antara pemberi pinjaman dan peminjam. Pemberi pinjaman memiliki banyak uang, tetapi peminjam berada dalam situasi yang sangat sulit. Bahkan dalam banyak situasi suku bunga pasar saat ini, pemberi pinjaman lebih berkuasa daripada peminjam. Sebagai contoh, sebuah bank pada umumnya memiliki sumber daya, informasi, pengetahuan hukum, pengaruh legislatif, dan jangkauan geografis yang jauh lebih besar daripada nasabah yang mengambil pinjaman. Terkadang undang-undang melarang eksploitasi tertentu dalam pemberian pinjaman, tetapi sekalipun pemberian pinjaman yang eksploitatif itu legal, tindakan itu tidak benar. Bagaimanapun, tidak ada industri yang dapat berkembang dalam jangka panjang dengan mengeksploitasi pelanggannya. Salah satu kontribusi yang dapat dilakukan orang Kristen dalam keuangan adalah memanfaatkan pengaruh apa pun yang kita miliki sebagai deposan, karyawan, investor, direktur, agen, dan pemberi suara untuk mengurangi eksploitasi terhadap orang-orang lemah.

Penggunaan Pinjaman Yang Tidak Produktif

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Maksud Allah adalah keuangan menjadi bentuk saling berbagi dari waktu ke waktu antara peminjam dan pemberi pinjaman. Saling berbagi itu hanya akan bermanfaat jika pinjaman itu bisa meningkatkan produktivitas. Karena itu, peminjam dan pemberi pinjaman sama-sama memiliki tanggung jawab atas penggunaan uang pinjaman. Hipotek dapat meningkatkan produktivitas peminjam dengan memperkecil dana perumahan. Sewa mobil (jangka panjang) memungkinkan peminjam bisa bekerja secara efisien. Pinjaman bisnis dapat digunakan untuk membiayai peralatan, inventaris, piutang, atau aset-aset pertumbuhan lainnya. Di sisi lain, hipotek yang dilakukan untuk properti spekulatif atau tanpa verifikasi pendapatan atau ekuitas yang cukup dapat merugikan peminjam maupun pemberi pinjaman. Sewa mobil dengan suku bunga promosi atau pembayaran akhir yang lebih besar dari harga mobil bisa mendorong peminjam untuk membeli mobil yang tak mampu dibelinya. Pinjaman bisnis yang dilakukan tanpa uji tuntas dapat dihamburkan sia-sia untuk aset-aset yang tidak produktif.

Contoh-contoh ini memperkuat pandangan alkitabiah bahwa keuangan adalah kewajiban-bersama peminjam dan pemberi pinjaman. Peminjam wajib membatasi diri dengan pinjaman yang akan membuatnya produktif dan bisa diperkirakan dapat dilunasi. Pemberi pinjaman wajib membantu peminjam dalam hal ini dan menolak untuk meminjamkan dalam situasi yang tidak tepat. Pada praktiknya, hal ini bisa cukup sulit untuk dilakukan. Peminjam mungkin kurang memiliki pengetahuan untuk mengukur kesesuaian pinjaman, atau hanya berpikir jangka pendek atau impulsif. Pemberi pinjaman juga dapat salah mengukur kesesuaian pinjaman, atau mereka mungkin serakah, tidak bermoral, atau berwawasan jangka pendek.

Sebagai contohnya, krisis keuangan global tahun 2008 diawali dengan gagal bayar hipotek-hipotek yang lebih didasarkan pada spekulasi—baik oleh peminjam maupun pemberi pinjaman—daripada peluang memiliki rumah yang baik. Pemberi pinjaman tahu bahwa pembayaran kembali akan bergantung pada harga rumah yang terus meningkat dari nilai sebelumnya yang sudah tumbuh pesat. Namun karena mereka biasanya menjual hipotek kepada investor institusional dan cepat menerima kembali uang mereka, mereka tidak banyak terdorong untuk menunjukkan kehati-hatian terhadap kepentingan jangka panjang peminjam. Pada akhirnya ketiga pelaku—peminjam, pemrakarsa hipotek, dan investor obligasi hipotek yang dijaminkan—kurang memperhatikan sifat keuangan yang terikat-waktu dan pentingnya relasi di antara semua pihak yang berbagi risiko dan keuntungan. Sebaliknya, pemberian pinjaman yang berdasarkan prinsip Alkitab mewajibkan semua pihak memerhatikan apakah pinjaman itu—penggunaannya oleh peminjam—benar-benar produktif.

Masih Adakah Ruang untuk Keuangan Memenuhi Tujuan-tujuan Allah?

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Seperti yang ditunjukkan situasi-situasi ini, di dunia yang telah jatuh, adakalanya keuangan dengan suku bunga pasar tidak dapat memenuhi kebutuhan calon peminjam tertentu atau pun menguntungkan pemberi pinjaman. Hanya karena Allah menciptakan dasar untuk pasar dan harga, tidak berarti keuangan selalu mampu melakukan penatalayanan, keadilan, dan kasih yang menyeluruh dalam pengalokasian sumber daya. Kita harus berhati-hati agar tidak memuja pasar atau membenarkan sesuatu karena itu hasil dari transaksi pasar. Pasar keuangan adalah berkat pemberian Allah, tetapi bukan satu-satunya berkat dan tidak akan menjadi berkat dalam setiap situasi. Pemerintah dan lembaga-lembaga nirlaba juga merupakan berkat pemberian Allah. Selanjutnya, di dunia yang telah jatuh, pasar-pasar dan institusi-institusi keuangan bisa menimbulkan masalah besar bagi masyarakat dan individu. Pasar perlu diseimbangkan dengan lembaga-lembaga masyarakat lainnya dan selalu dievaluasi berdasarkan kehendak Allah bagi kita sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya.[1] Masih ada ruang untuk keuangan memenuhi tujuan-tujuan Allah, tetapi hanya melalui penebusan Allah keuangan dapat dipulihkan ke rancangannya yang semula.