Bootstrap

Penggunaan Pinjaman Yang Tidak Produktif

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
620px sign of the times foreclosure

Maksud Allah adalah keuangan menjadi bentuk saling berbagi dari waktu ke waktu antara peminjam dan pemberi pinjaman. Saling berbagi itu hanya akan bermanfaat jika pinjaman itu bisa meningkatkan produktivitas. Karena itu, peminjam dan pemberi pinjaman sama-sama memiliki tanggung jawab atas penggunaan uang pinjaman. Hipotek dapat meningkatkan produktivitas peminjam dengan memperkecil dana perumahan. Sewa mobil (jangka panjang) memungkinkan peminjam bisa bekerja secara efisien. Pinjaman bisnis dapat digunakan untuk membiayai peralatan, inventaris, piutang, atau aset-aset pertumbuhan lainnya. Di sisi lain, hipotek yang dilakukan untuk properti spekulatif atau tanpa verifikasi pendapatan atau ekuitas yang cukup dapat merugikan peminjam maupun pemberi pinjaman. Sewa mobil dengan suku bunga promosi atau pembayaran akhir yang lebih besar dari harga mobil bisa mendorong peminjam untuk membeli mobil yang tak mampu dibelinya. Pinjaman bisnis yang dilakukan tanpa uji tuntas dapat dihamburkan sia-sia untuk aset-aset yang tidak produktif.

Contoh-contoh ini memperkuat pandangan alkitabiah bahwa keuangan adalah kewajiban-bersama peminjam dan pemberi pinjaman. Peminjam wajib membatasi diri dengan pinjaman yang akan membuatnya produktif dan bisa diperkirakan dapat dilunasi. Pemberi pinjaman wajib membantu peminjam dalam hal ini dan menolak untuk meminjamkan dalam situasi yang tidak tepat. Pada praktiknya, hal ini bisa cukup sulit untuk dilakukan. Peminjam mungkin kurang memiliki pengetahuan untuk mengukur kesesuaian pinjaman, atau hanya berpikir jangka pendek atau impulsif. Pemberi pinjaman juga dapat salah mengukur kesesuaian pinjaman, atau mereka mungkin serakah, tidak bermoral, atau berwawasan jangka pendek.

Sebagai contohnya, krisis keuangan global tahun 2008 diawali dengan gagal bayar hipotek-hipotek yang lebih didasarkan pada spekulasi—baik oleh peminjam maupun pemberi pinjaman—daripada peluang memiliki rumah yang baik. Pemberi pinjaman tahu bahwa pembayaran kembali akan bergantung pada harga rumah yang terus meningkat dari nilai sebelumnya yang sudah tumbuh pesat. Namun karena mereka biasanya menjual hipotek kepada investor institusional dan cepat menerima kembali uang mereka, mereka tidak banyak terdorong untuk menunjukkan kehati-hatian terhadap kepentingan jangka panjang peminjam. Pada akhirnya ketiga pelaku—peminjam, pemrakarsa hipotek, dan investor obligasi hipotek yang dijaminkan—kurang memperhatikan sifat keuangan yang terikat-waktu dan pentingnya relasi di antara semua pihak yang berbagi risiko dan keuntungan. Sebaliknya, pemberian pinjaman yang berdasarkan prinsip Alkitab mewajibkan semua pihak memerhatikan apakah pinjaman itu—penggunaannya oleh peminjam—benar-benar produktif.