Bootstrap

Keuangan Yang Ditebus

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Cross 71090 620
Ketaatan dan Perbankan: Wawancara dengan John Gage (Klik di sini untuk Membaca)

Dalam wawancara di Institut Washington tentang Iman, Vokasi dan Budaya ini, bankir John Gage berbicara tentang bagaimana ketika ia menempuh pendidikan di seminari teologi ia menyadari bahwa Allah memakai kita semua dalam berbagai pekerjaan bagi misi-Nya di dunia, dan merasakan panggilan yang diperbarui untuk menjalani kehidupan yang taat di industri perbankan.

Bagaimana keuangan berpartisipasi dalam penebusan Allah di dunia? Allah, oleh karena kasih karunia-Nya telah mengaruniakan Anak-Nya agar kita dapat diperdamaikan dengan-Nya dan seluruh ciptaan-Nya dapat dibebaskan dari akibat dosa. Kasih karunia Allah yang menebus, yang bekerja melalui orang-orang di institusi keuangan, dapat menebus kemampuan keuangan untuk menghormati Allah, menumbuhkembangkan penatalayanan yang baik, dan menunjukkan keadilan dan kasih kepada banyak orang. Mengingat arti istilah-istilah ini akan bermanfaat di sini. Penatalayanan adalah ketaatan pada perintah Allah untuk mengembangkan ciptaan-Nya dari yang berupa seperti taman menjadi seperti kota dan mengingat bahwa sumber-sumber daya itu pada akhirnya adalah milik Allah. Keadilan adalah memperlakukan orang lain dengan rasa hormat yang pantas sesuai hak-hak mereka, yang didasarkan pada fakta bahwa setiap manusia dikasihi Allah. Kasih adalah kepedulian terhadap orang lain dengan berusaha mewujudkan kesejahteraan mereka sebagai tujuan itu sendiri. Dengan menggunakan kerangka ini, mari kita pikirkan beberapa contoh sederhana tentang cara kerja keuangan yang ditebus.

Bekerja di Bank

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Para pekerja di bank berada di garis depan pelayanan keuangan. Langkah awal mereka untuk bertindak sebagai sarana penebusan adalah memahami bahwa peran tertentu mereka di sebuah perantara keuangan berkaitan dengan keadilan dan kasih bagi para penyimpan atau peminjam, dan kemudian memfokuskan usaha-usaha mereka untuk menjadi sangat baik dalam hal keadilan dan kasih itu.

Sebagai contoh, seorang anggota departemen penyelesaian utang bank dapat mengadvokasi untuk memerhatikan situasi-situasi peminjam. Kegaduhan terkait "robo-signer" (pejabat yang asal menandatangani dokumen tanpa memeriksa kebenarannya) dalam krisis hipotek di AS menunjukkan bahwa terlalu banyak peminjam yang merasa aspek relasional keuangan telah hilang dan kebutuhan mereka tidak diperhitungkan. Ini tidak berarti bahwa pekerja bank harus selalu menentang segala bentuk penyitaan. Namun, ini menunjukkan perlunya advokasi untuk memberi perhatian secara pribadi kepada peminjam yang kesusahan.

Seorang profesional sumber daya manusia di bank dapat memberi perhatian khusus pada keterbebanan pelamar kerja dalam keadilan dan kasih sebagai salah satu faktor perekrutan. Jika, seiring berjalannya waktu, pekerja keuangan tidak dapat menemukan bagaimana pekerjaannya dapat mewujudkan kasih dan keadilan bagi para penyimpan dan peminjam, atau tidak dapat membuat organisasinya bergerak ke sana, mungkin ia tidak cocok untuk organisasi itu.

Para profesional keuangan perlu memperhatikan tindakan mereka sendiri tentang dua dasar keuangan yang alkitabiah. Pertama, para profesional keuangan biasanya bertindak sebagai perwakilan atau penatalayan bagi nasabah mereka. Ini membuat mereka wajib mengutamakan kebaikan nasabah di atas kepentingan pribadi. Kedua, para profesional keuangan sering bernegosiasi dan mengadakan kontrak-kontrak atau perjanjian. Ini membuat mereka wajib menilai dengan cermat kemampuan dan kemauan organisasi mereka untuk menepati janji yang disepakati. Penatalayanan dan menepati janji benar-benar merupakan dasar yang kudus dalam keuangan dan para profesional keuangan harus melakukannya dengan bertanggung jawab di hadapan Allah.

Membuat Keputusan Memberi Pinjaman

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Bagaimana teologi keuangan memberitahu kita tentang apakah akan memberi pinjaman kepada nasabah tertentu dan dengan suku bunga berapa? Beberapa dasar keuangan yang alkitabiah terlihat jelas di sini. Pertama, para bankir tidak mahatahu, jadi mereka perlu bekerja dengan cermat untuk memahami situasi dan kebutuhan calon peminjam. Mereka memiliki peran penting dalam membantu peminjam mengevaluasi apakah pinjaman itu benar-benar akan bermanfaat baginya, dan bagaimana cara menggunakannya secara produktif.

Kedua, tidak ada pihak yang tahu tentang masa depan, jadi kedua pihak harus berhati-hati dan konservatif dalam memikirkan skenario-skenario masa depan. Keduanya dianjurkan untuk membicarakan apa saja yang bisa menjadi masalah selama masa peminjaman dan bagaimana mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi itu.

Ketiga, para bankir dapat membimbing pemberi pinjaman untuk memberi pinjaman yang paling menunjukkan keadilan dan kasih kepada peminjam. Pinjaman yang dapat dilunasi peminjam tanpa kesulitan adalah pinjaman yang adil dan penuh kasih. Pinjaman yang tidak menggoda peminjam dengan suku bunga rendah yang kemudian meningkat merupakan pinjaman yang adil dan penuh kasih. Sebaliknya pinjaman—dalam banyak kasus kartu kredit—yang cenderung menimbulkan utang yang lebih besar di masa mendatang bukanlah cara yang baik untuk menunjukkan keadilan dan kasih.

Suku bunga bervariasi sesuai tingkat risiko pinjaman, yang diperlukan agar peminjam juga ikut ambil bagian dalam imbal hasil pinjaman yang telah disesuaikan dengan risiko. Tetapi, suku bunga yang terlalu tinggi sampai menghambat peminjam untuk berkembang bertentangan dengan tujuan keuangan yang alkitabiah. Prinsip-prinsip Alkitab menyarankan beberapa langkah tindakan ketika suku bunga pasar untuk kredit peminjam terlalu tinggi untuk ditanggung. Pertama, berikan pinjaman dengan suku bunga subsidi. Kedua, bantu peminjam menemukan cara untuk menggunakan pinjaman secara menguntungkan sekalipun suku bunganya tinggi. Ketiga, bantu orang tersebut untuk menemukan sumber daya melalui pemerintah atau badan amal daripada meminjam. Keempat, bantu orang tersebut untuk menemukan cara untuk hidup tanpa pinjaman. Boleh jadi, solusi paling alkitabiah untuk pinjaman bagi orang miskin adalah pinjaman dengan suku bunga nol yang diberikan oleh organisasi nirlaba yang disertai konseling tentang keuangan dan mata pencaharian.[1] Beberapa solusi ini tidak tercakup dalam keuangan yang kita definisikan, tetapi orang-orang yang bekerja di institusi keuangan kemungkinan merupakan satu-satunya kontak yang dimiliki orang miskin untuk membantu mereka menavigasi labirin keuangan. Hal ini dapat menjadi kesempatan menunjukkan keadilan dan kasih yang melampaui persyaratan—dan jam kerja yang dibayar—dari pekerjaan keuangan. Memberi pinjaman kepada orang miskin merupakan hal yang sangat menantang, yang hampir pasti menjadi alasan mengapa Alkitab mengajarkan tentang topik ini secara khusus.[2]

Bekerja di Hedge Fund (Dana Lindung Nilai)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dana lindung nilai adalah dana-bersama yang berinvestasi dalam instrumen keuangan khusus yang biasanya tidak tersedia bagi penyimpan perorangan. Dana lindung nilai seringkali diatur secara longgar, memiliki daya ungkit tinggi, dan dapat berinvestasi di lebih banyak instrumen keuangan dengan biaya administrasi yang lebih mahal daripada reksa dana biasa. Dana lindung nilai menjadi pemberitaan belakangan ini karena beberapa manajernya memperoleh bayaran pengelolaan yang sangat besar, beberapa manajer lainnya dituduh melakukan perdagangan “orang dalam”, dan ketika harga saham menurun tajam, dana lindung nilai cenderung disalahkan.

Dana lindung nilai dapat dipahami dengan bantuan kerangka keuangan kita. Dana lindung nilai dapat mengasihi penyimpan dengan memberi kesempatan menyimpan dengan pengembalian yang lebih besar di dalam risiko dan korelasi yang lebih rendah dalam siklus ekonomi. Banyak dana lindung nilai berinvestasi dalam derivatif (instrumen keuangan turunan, yang nilainya tergantung pada aset lain yang menjadi acuannya), dan dengan demikian memberi peluang mengurangi risiko di berbagai pihak para peminjam derivatif, selain para investor. Dengan cara ini, dana lindung nilai dapat menunjukkan kasih kepada perusahaan-perusahaan yang ingin mengurangi risiko. Dana lindung nilai dapat dianggap sebagai pedagang grosir di pasar sekuritas yang bergerak dalam bisnis membeli produk yang kelebihan pasokan dan menjual produk yang kekurangan pasokan, dan dengan demikian berusaha mendapatkan keuntungan dan juga membantu memperbaiki mekanisme pasar. Dengan cara ini, mereka melayani masyarakat dengan membuat harga sekuritas lebih akurat dalam mencerminkan nilai intrinsik.

Kerumitan investasi dana lindung nilai tertentu dapat menyulitkan dalam menjelaskan dengan tepat bagaimana mereka menunjukkan keadilan dan kasih. Jika semua posisinya adalah pertukaran nilai pasar secara sukarela, maka dapat diasumsikan masing-masing pihak berharap mendapat keuntungan. Namun, kerumitan itu juga bisa menutupi subsidi-subsidi tersembunyi, ketidakseimbangan kekuasaan, informasi yang tidak seimbang, penghindaran pajak, atau pelanggaran dasar-dasar keuangan alkitabiah lainnya. Beberapa dana lindung nilai, karena strategi investasi tertentunya, dapat cukup jelas dalam cara mereka mengasihi penyimpan dan peminjam, sementara beberapa lainnya mengalami kesulitan dalam melakukannya. Para profesional keuangan dan investor sebaiknya menyelidiki dengan saksama apakah dana lindung nilai tertentu—atau investasi apa pun—mendatangkan penatalayanan yang baik, keadilan, dan kasih, ataukah hanya beroperasi untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya bagi para manajernya dengan mengorbankan pihak-pihak lain.

Peminjam

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kita sudah melihat bahwa meminjam dapat menjadi tindakan penatalayanan, keadilan dan kasih yang dimampukan oleh penciptaan Allah. Meminjam bisa membuat orang mendapatkan akses ke sumber daya yang digunakan untuk membuat peminjam maupun pemberi pinjaman berkembang.

Jumlah Utang Yang Tepat

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dapatkah prinsip-prinsip Alkitab membantu kita untuk menentukan berapa besar harus meminjam atau kapan harus meminjam? Beberapa dasar keuangan yang alkitabiah dapat membantu. Pertama, kita hidup di dunia ciptaan Allah yang terikat-waktu dengan siklus-siklus kehidupan sosial dan individu yang heterogen. Ada waktu untuk berutang guna berinvestasi dalam peluang pertumbuhan atau infrastruktur yang akan melayani konsumen atau warga masyarakat, dan ada pula waktu untuk membayar utang, dan waktu-waktu ini berbeda-beda pada setiap individu. Sebagai contoh, orang dengan sumber daya berlebih pada waktu resesi bisa menunjukkan keadilan dan kasih dengan berinvestasi dan bukan menimbun uang tunai. Dari siklus kehidupan pribadi, orang-orang muda biasanya mendapat manfaat dari tabungan atau pinjaman yang disimpan orang-orang yang lebih tua.

Kedua, tujuan meminjam adalah untuk mendapatkan akses ke sumber daya yang dapat digunakan untuk menciptakan sumber daya mendatang yang dapat digunakan untuk membayar kembali. Meminjam untuk pendidikan, peluang pertumbuhan, dan memperkecil dana perumahan dapat memuliakan Allah. Meminjam untuk menopang gaya hidup yang di luar kemampuan Anda, sebagaimana sudah dibahas di atas, merupakan "Penggunaan Pinjaman Yang Tidak Produktif." Ajaran Alkitab menentang segala bentuk keserakahan, yang bisa termasuk meminjam uang untuk alasan yang salah (Lukas 12:14).

Ketiga, peminjam harus cukup yakin bahwa ia dapat menepati janji untuk membayar utangnya—atau setidaknya memahami dan bersedia menerima risiko-risiko jika tidak membayar yang sudah disepakati dengan pemberi pinjaman—sebagai tindakan kasih. Hal ini akan menyingkirkan pengajuan pinjaman yang palsu atau menyesatkan maupun referensi pribadi yang tidak benar. Sebagai contoh, meminjam hari ini karena Anda memperkirakan akan kehilangan pekerjaan besok tidak mungkin menunjukkan kasih kepada pemberi pinjaman. Meningkatkan saldo kartu kredit tanpa perencanaan yang jelas untuk membayarnya juga bukan tindakan kasih.

Keempat, jumlah yang dipinjam seharusnya tidak berlebihan tetapi tepat, bijaksana, sesuai dengan risiko-risiko yang akan dihadapi. Bagaimana mungkin mengasihi—diri sendiri maupun orang yang memberi pinjaman—jika kita selalu meminjam hingga batas kredit kita tanpa ada ruang untuk situasi tak terduga?

Prinsip-prinsip keuangan alkitabiah berlaku untuk keputusan-keputusan keuangan pribadi, institusi, maupun pemerintah, meskipun contoh-contoh di atas kebanyakan untuk individu. Secara umum, prinsip-prinsip ini menganjurkan level utang yang wajar dalam sebagian besar kasus dan penggunaan ekuitas keuangan individu, perusahaan, dan pemerintah yang lebih besar. Secara khusus, para peminjam mungkin tidak akan mengambil banyak utang jika mereka ingat bahwa menurut rancangan Allah, meminjam itu menciptakan relasi timbal balik jangka panjang yang dimaksudkan Allah untuk membawa manfaat bagi pemberi pinjaman maupun peminjam. Akses terhadap utang bukanlah satu-satunya perhatian kita. Memberkati orang lain melalui meminjam dan meminjamkan jelas ya.

Memberi Agunan untuk Mendapatkan Pinjaman

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kami membahas beberapa ayat Alkitab tentang agunan di bagian, Kebangkrutan, penghapusan utang, dan modifikasi pinjaman”. Pandangan orang Kristen arus utama adalah bahwa memakai rumah sebagai agunan pinjaman tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab. Pandangan ini sesuai dengan pemahaman kita tentang peran keuangan yang dimaksudkan Allah dalam masyarakat. Tetapi, menurut Amsal 22:26-27 dan berdasarkan ajaran Alkitab tentang menjadi pengambil risiko yang bijaksana, pemberi pinjaman tampaknya tidak boleh menerima rumah sebagai agunan jika mereka tidak sangat yakin peminjam dapat membayar utangnya. Demikian pula, menurut ajaran Alkitab, pemilik rumah tidak boleh menjaminkan rumahnya sebagai agunan jika ia tidak sangat yakin akan dapat membayar utang itu. Hal ini sangat kontras dengan praktik-praktik pemberian pinjaman saat ini di berbagai negara maju yang membolehkan orang mengambil pinjaman yang relatif besar dibandingkan tingkat dan kestabilan pemasukan mereka, atau riwayat mereka dalam membayar utang. Dengan agunan, ada kecenderungan untuk pemberi pinjaman berpikir, "Saya dapat menyita jika perlu, jadi saya tak perlu berpikir terlalu keras tentang apakah utang ini baik bagi peminjam atau dapat dibayar," dan ada kecenderungan untuk peminjam berpikir, "Jika saya tidak dapat membayar, bank dapat mengambil rumah itu dan saya tidak melakukan hal yang merugikan." Pemikiran kedua pihak ini tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dan dengan peran keuangan yang dimaksudkan Allah sebagai bentuk keadilan dan kasih.

Kebangkrutan, Penghapusan Utang dan Modifikasi Pinjaman

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Dasar-dasar keuangan yang diciptakan Allah meliputi penciptaan kita sebagai makhluk sosial yang mampu mengambil risiko dan tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Hal ini tentu saja akan menimbulkan kasus-kasus pinjaman yang tak dapat dilunasi. Jadi, pinjaman yang tak dapat dilunasi belum tentu merupakan dosa. Gagal bayar bisa terjadi akibat peminjaman yang ceroboh, pengelolaan yang tidak cakap, menyembunyikan atau menutupi pendapatan dari pemberi pinjaman, memberi keterangan palsu kepada pemberi pinjaman saat mengajukan pinjaman, memberi keterangan palsu kepada peminjam saat memberikan pinjaman, atau persyaratan pinjaman yang tidak dirancang untuk membantu peminjam berkembang. Tetapi pada kasus-kasus lain, situasi-situasi tak terduga bisa menyebabkan pinjaman yang dilakukan dengan baik pun gagal. Peminjam mungkin kehilangan pekerjaan, menanggung biaya medis yang tak terduga, atau menderita kerugian akibat bencana alam.

Dalam situasi-situasi seperti ini, pemberi pinjaman wajib menghapuskan utang itu atau memodikasi pembayaran utang. Di Alkitab, hal ini dilakukan dengan membolehkan peminjam menyimpan agunannya jika hal itu diperlukan untuk kesejahteraan atau kemampuannya mencari nafkah.

Jika engkau sampai mengambil jubah sesamamu sebagai gadai, engkau harus mengembalikannya kepada dia sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja selimutnya, pakaian yang menempel pada kulitnya. Apa lagi yang dapat dipakainya untuk tidur? (Keluaran 22:26–27)
Kilangan atau batu kilangan atas tidak boleh diambil sebagai gadai karena hal itu berarti mengambil nyawa orang sebagai gadai. (Ulangan 24:6)
Apabila engkau meminjamkan sesuatu kepada sesamamu, engkau tidak boleh masuk ke rumahnya untuk mengambil jaminan darinya. Engkau harus berdiri di luar, dan orang yang kauberi pinjaman itu harus membawa jaminan itu ke luar kepadamu. Jika orang itu miskin, janganlah engkau tidur dengan barang jaminannya; kembalikanlah jaminan itu kepadanya pada waktu matahari terbenam, supaya ia dapat tidur dengan jubahnya sendiri dan memberkati engkau. Maka engkau akan menjadi benar di hadapan TUHAN, Allahmu. (Ulangan 24:10-13)

Jubah sesama yang diambil sebagai agunan harus dikembalikan sebelum matahari terbenam karena sesama itu membutuhkannya agar ia tidak kedinginan di malam hari. Batu kilangan tidak boleh disita karena hal itu akan menghilangkan kemampuan menggiling gandum untuk mencari nafkah. Bahkan agunan yang sah tidak boleh diambil dengan paksa, seperti dengan memasuki rumah peminjam. Semua ini melindungi peminjam yang kesusahan dari malapetaka lebih lanjut, meskipun ini akan membuat pemberi pinjaman bukan saja kehilangan keuntungan yang diharapkan dari pinjaman itu, tetapi juga kehilangan modal. Situasi peminjam dirasakan juga oleh pemberi pinjaman. Inilah sifat relasi berbasis-waktu yang melekat pada keuangan.

Dalam ekonomi modern, perlindungan-perlindungan ini diwujudkan dalam undang-undang kebangkrutan, yang juga dikenal sebagai insolvensi (ketidakmampuan membayar utang), pemeriksaan, kuratel (pengampunan oleh kurator), administrasi (pengelolaan/restrukturisasi utang oleh administator) atau penyitaan (penguasaan aset). Pada umumnya, undang-undang itu mencegah pemberi pinjaman mengambil kebutuhan-kebutuhan pokok untuk hidup dan bekerja sebagai pembayaran dari peminjam yang gagal bayar. Undang-undang modern juga mencegah pemberi pinjaman memasuki rumah peminjam untuk menyita barang-barang, meskipun mereka bisa meminta aparat penegak hukum untuk melakukannya. Undang-undang juga mencegah peminjam dijebloskan ke penjara karena gagal bayar, sebuah tindakan tidak manusiawi yang kontraproduktif yang biasa dilakukan selama berabad-abad sebelum zaman modern. Bisa jadi pengembangan undang-undang kebangkrutan modern merupakan penggenapan yang telah lama tertunda dari prinsip-prinsip yang ada di Alkitab tentang hal ini.

Meskipun demikian, para peminjam harus melakukan apa pun yang dapat mereka lakukan untuk membayar utang. Chewning berpendapat, berdasarkan sifat Allah yang tidak berubah dan Amsal 6:1-5, jika kita tidak dapat membayar utang, kita harus merendahkan diri dan memohon belas kasihan dari pemiutang kita, dan bukan mencari perlindungan hukum atas kebangkrutan kita.[1] Mungkin ini terlalu jauh, mengingat ayat-ayat di atas melindungi peminjam yang kesusahan dengan hukum Allah, bukan belas kasihan pemberi pinjaman. Tetapi Chewning sungguh benar bahwa langkah pertama bagi peminjam adalah mencari bantuan dan nasihat pemberi pinjaman. Seperti telah kita ketahui, pinjaman dimaksudkan untuk menciptakan relasi jangka panjang antara peminjam dan pemberi pinjaman. Mengajukan kebangkrutan tanpa terlebih dahulu berusaha membuat rencana yang disetujui bersama dengan pemberi pinjaman hampir tak pernah menjadi cara yang menghormati relasi. Tiemstra mendorong kita untuk memandang risiko sebagai hal yang serius dan bahwa meminjam bukanlah “cara mudah untuk mendapat uang tanpa bekerja; meminjam adalah ungkapan serius dari tanggung jawab kita di hadapan Allah.”[2] Keuangan adalah tentang keadilan dan kasih yang serius, dan ketika hal-hal yang terjadi tidak seperti yang diharapkan peminjam dan pemberi pinjaman, keadilan dan kasih tak boleh terhenti, tetapi justru harus ditingkatkan di kedua belah pihak.

Penyimpan dan Pemberi Pinjaman

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Orang yang menyediakan sumber daya—pemberi pinjaman dan penyimpan—memiliki tanggung jawab untuk menginvestasikan sumber daya mereka untuk kepentingan bersama, dan bukan untuk keuntungan mereka saja. Perspektif ini kadang disebut “investasi yang bertanggung jawab secara sosial.” Kita akan membahasnya melalui contoh berinvestasi dalam saham, bukan menyimpan uang di bank atau memberikan pinjaman, meskipun prinsip-prinsip yang sama berlaku di semua jenis investasi.

Sebuah perusahaan menerbitkan saham karena ia yakin ia memiliki lebih banyak peluang produktif daripada memiliki sumber daya. Perusahaan itu mendapatkan akses ke sumber daya tambahan dengan menjual saham kepada investor.[1] Investor mengasihi perusahaan itu—dan akhirnya juga para nasabah, pemasok, pekerja, dan komunitasnya—dengan mengizinkannya menggunakan beberapa sumber daya untuk suatu periode. Perusahaan itu mengasihi penyimpan dengan memberikan pengembalian yang pantas dalam bentuk dividen atau apresiasi saham.

Para investor harus membeli saham hanya di perusahaan-perusahaan yang memenuhi tujuan Allah dalam keuangan. Perusahaan-perusahaan ini akan bertindak sebagai penatalayan yang baik atas ciptaan Allah, menunjukkan kepedulian dan kasih melalui produk dan jasa yang mereka jual, dan berlaku adil dalam praktik-praktik ketenagakerjaan dan relasi-relasi komunitas. Secara praktiknya, hal ini sulit dilakukan investor, karena untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang ribuan perusahaan akan memakan waktu. Namun, sekarang ada beberapa opsi untuk para investor dapat berinvestasi dalam reksa dana yang menyaring perusahaan-perusahaan melalui tindakan penatalayanan, keadilan, dan kasih yang buruk. Banyak yang telah ditulis tentang investasi yang bertanggung jawab secara sosial dan investasi yang bertanggung jawab secara alkitabiah, dan pembahasan rinci tentang hal ini tidak tercakup dalam artikel ini.[2] Namun, pendekatan investasi ini sangat selaras, dan memang diamanatkan oleh, kerangka yang dikembangkan dalam tulisan ini. Kami tidak melihat ada dasar alkitabiah yang memisahkan iman seseorang dari keputusan untuk berinvestasi dalam saham.