Bootstrap

Jumlah Utang Yang Tepat

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Usmc 100911 m 620 001 2

Dapatkah prinsip-prinsip Alkitab membantu kita untuk menentukan berapa besar harus meminjam atau kapan harus meminjam? Beberapa dasar keuangan yang alkitabiah dapat membantu. Pertama, kita hidup di dunia ciptaan Allah yang terikat-waktu dengan siklus-siklus kehidupan sosial dan individu yang heterogen. Ada waktu untuk berutang guna berinvestasi dalam peluang pertumbuhan atau infrastruktur yang akan melayani konsumen atau warga masyarakat, dan ada pula waktu untuk membayar utang, dan waktu-waktu ini berbeda-beda pada setiap individu. Sebagai contoh, orang dengan sumber daya berlebih pada waktu resesi bisa menunjukkan keadilan dan kasih dengan berinvestasi dan bukan menimbun uang tunai. Dari siklus kehidupan pribadi, orang-orang muda biasanya mendapat manfaat dari tabungan atau pinjaman yang disimpan orang-orang yang lebih tua.

Kedua, tujuan meminjam adalah untuk mendapatkan akses ke sumber daya yang dapat digunakan untuk menciptakan sumber daya mendatang yang dapat digunakan untuk membayar kembali. Meminjam untuk pendidikan, peluang pertumbuhan, dan memperkecil dana perumahan dapat memuliakan Allah. Meminjam untuk menopang gaya hidup yang di luar kemampuan Anda, sebagaimana sudah dibahas di atas, merupakan "Penggunaan Pinjaman Yang Tidak Produktif." Ajaran Alkitab menentang segala bentuk keserakahan, yang bisa termasuk meminjam uang untuk alasan yang salah (Lukas 12:14).

Ketiga, peminjam harus cukup yakin bahwa ia dapat menepati janji untuk membayar utangnya—atau setidaknya memahami dan bersedia menerima risiko-risiko jika tidak membayar yang sudah disepakati dengan pemberi pinjaman—sebagai tindakan kasih. Hal ini akan menyingkirkan pengajuan pinjaman yang palsu atau menyesatkan maupun referensi pribadi yang tidak benar. Sebagai contoh, meminjam hari ini karena Anda memperkirakan akan kehilangan pekerjaan besok tidak mungkin menunjukkan kasih kepada pemberi pinjaman. Meningkatkan saldo kartu kredit tanpa perencanaan yang jelas untuk membayarnya juga bukan tindakan kasih.

Keempat, jumlah yang dipinjam seharusnya tidak berlebihan tetapi tepat, bijaksana, sesuai dengan risiko-risiko yang akan dihadapi. Bagaimana mungkin mengasihi—diri sendiri maupun orang yang memberi pinjaman—jika kita selalu meminjam hingga batas kredit kita tanpa ada ruang untuk situasi tak terduga?

Prinsip-prinsip keuangan alkitabiah berlaku untuk keputusan-keputusan keuangan pribadi, institusi, maupun pemerintah, meskipun contoh-contoh di atas kebanyakan untuk individu. Secara umum, prinsip-prinsip ini menganjurkan level utang yang wajar dalam sebagian besar kasus dan penggunaan ekuitas keuangan individu, perusahaan, dan pemerintah yang lebih besar. Secara khusus, para peminjam mungkin tidak akan mengambil banyak utang jika mereka ingat bahwa menurut rancangan Allah, meminjam itu menciptakan relasi timbal balik jangka panjang yang dimaksudkan Allah untuk membawa manfaat bagi pemberi pinjaman maupun peminjam. Akses terhadap utang bukanlah satu-satunya perhatian kita. Memberkati orang lain melalui meminjam dan meminjamkan jelas ya.