Bootstrap

Gereja Yang Memperlengkapi Memberdayakan dan Bekerja Sama dengan Orang-orang di Jemaatnya dalam Mengadakan Pelayanan

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Craft 19860 620 copy
Kunjungan ke Tempat Kerja

Pendeta Gereja Baptis Inggris David Coffey berkata, “Selama saya menjadi Pendeta, saya membuat kebiasaan rutin untuk mengunjungi anggota gereja di tempat kerja mereka, kapan saja dirasa tepat. Saya pernah duduk bersama pengacara pembela di ruang sidang; saya pernah menyaksikan petani membantu kelahiran anak sapi; saya pernah menghabiskan waktu bersama konsultan kanker di rumah sakitnya; saya pernah mengamati aktivitas di pabrik kimia dan duduk di kantor manajer yang mengelola toko buku besar. Saya pernah naik tank (kendaraan lapis baja) dan menghabiskan waktu bersama beberapa perwira militer senior; saya pernah berbagi suka dan duka tentang hidup berkeluarga bersama para ibu rumah tangga; saya pernah mengunjungi asrama tunawisma di London dan berkeliling penjara wilayah bersama seorang Gubernur. Tujuan dari kunjungan-kunjungan ini terutama adalah untuk mendorong dan memuridkan anggota gereja di tempat Allah memanggil mereka menjadi pekerja.’[2]

Ahli Alkitab Dale Bruner melaporkan, “Pengkotbah Presbiterian yang dihormati, George Buttrick, berkata di kelas pelatihan kotbah bahwa alasannya mendedikasikan sebagian besar minggu kerjanya untuk mengunjungi jemaatnya di rumah-rumah dan kantor-kantor mereka di pusat kota New York adalah sebuah ayat dari Injil Yohanes yang mengatakan: “Domba-domba tidak akan mendengarkan suara orang asing” (Yohanes 10:4-5). Saya percaya bahwa sebagian besar efektivitas Dr. Buttrick sebagai pengkotbah adalah kepedulian dan waktu kebersamaannya dengan jemaatnya ini.”.[3]

Apa Yang Seharusnya Dilakukan Para Pemimpin Gereja?

Seorang pengusaha Australia yang sangat terkemuka berkata dalam pidato sambutannya di sebuah acara makan makan yang menghormatinya sebagai penerima penghargaan atas integritas dalam kehidupan masyarakat dan kerja, bahwa meskipun ia telah sepuluh tahun menjadi pengurus gereja Anglikan, sebagai pendukung dan orang kepercayaan pendeta yang ditahbiskan, namun tidak sekali pun selama sepuluh tahun itu pendeta itu menanyakan tentang pekerjaannya atau bagaimana ia mengungkapkan imannya di tempat kerja.[7]

Para pemimpin gereja yang memperlengkapi sudah mulai memikirkan tentang misi Allah yang utuh dan juga pertumbuhan gereja. Mereka memikirkan bagaimana mereka dapat menolong meningkatkan pelayanan dan misi sehari-hari jemaatnya di dunia maupun melalui program-program dan pelayanan di gereja. Mereka memikirkan apa yang dilakukan jemaatnya sepanjang waktu dan bukan hanya pada waktu senggang. Mereka juga menyadari keterbatasan mereka sendiri dan merekrut para pemimpin awam untuk memimpin pelayanan-pelayanan di tempat kerja.

Sangat mudah untuk menyalahkan para pemimpin gereja atas kegagalan gereja menyediakan sumber daya bagi jemaat agar mereka dapat lebih baik dalam pelayanan hidup sehari-hari. Tetapi, para pemimpin hanya bisa disalahkan sebagian. Bagi banyak anggota gereja, menyerahkan tanggung jawab pelayanan kepada para profesional dan menghindari untuk menerima tanggung jawab pribadi adalah hal yang melegakan. Padahal visi gereja yang memperlengkapi adalah seluruh gereja mengambil tanggung jawab. Di banyak gereja yang sudah memulai gerakan memperlengkapi, tindakan itu adalah hasil level baru dari percakapan dan kemitraan para pemimpin gereja dengan anggota jemaat akar rumput. Terkadang hal ini terbantu dari masukan para narasumber yang terlibat dalam pelayanan iman dan kerja di gereja atau tempat lain. Gerakan ini kadang dilakukan secara langsung dan kadang melalui buku, video, atau materi daring. Agar inisiatif ini dapat berkelanjutan, diperlukan pemaparan visi dari atas, energi dan semangat yang menyala-nyala dari anggota akar rumput, dan sumber daya dari luar.

Banyak pendeta menyadari perlunya memberdayakan setiap orang percaya dalam pelayanan hidup sehari-hari, tetapi mereka menghadapi berbagai hambatan ketika mencoba memenuhi kebutuhan ini. Laporan Dwight Dubois, Equipping Pastors Conversations, membahas berbagai kesulitan yang dihadapi para pendeta. Lihat atau unduh laporan lengkapnya: Equipping Pastors Conversations (PDF).

Jika pemerlengkapan harus ditanamkan sebagai prioritas dalam kehidupan jemaat, kepemimpinan pastoral dan bagaimana pelaksanaannya sangatlah penting, meskipun sulit untuk menguraikan seperti apa kepemimpinan itu. David Miller mengidentifikasi lima faktor yang terkait dengan aspek-aspek inti pelayanan pastoral secara umum, yang menurutnya perlu diterapkan secara lebih spesifik untuk dunia kerja oleh para pemimpin gereja. Aspek-aspek inti ini meliputi:

  • Pelayanan kehadiran atau mendengarkan di lingkup pekerjaan, dengan mengunjungi jemaat di tempat kerja mereka

  • Pelayanan kotbah dan doa yang secara intensional dan konstruktif membahas masalah-masalah iman dan kerja

  • Pelayanan pengajaran yang dirancang untuk membahas masalah-masalah iman dan kerja, dan juga memanfaatkan pengalaman dan keahlian anggota gereja lain sebagai masukan

  • Pelayanan integrasi pribadi yang memastikan jemaat dilatih untuk menggunakan doa dan studi perenungan pribadi dalam kehidupan sehari-hari mereka

  • Pelayanan pertemuan jemaat pebisnis, mungkin dalam kemitraan dengan lembaga pelayanan dunia kerja lainnya [1]

Miller berkata, “hasil riset saya menemukan bahwa kelompok-kelompok yang dipimpin dan didirikan orang awam biasanya lebih efektif dalam memahami dan memenuhi kebutuhan integrasi dunia kerja’.[4] William Diehl mengatakan hal serupa:

Kunci untuk membawa dunia kerja ke tempat ibadah adalah pendeta. Jika ia harus memegang kendali ketat atas segala sesuatu, hal itu tidak akan terjadi. Ada dua alasan mengapa pendeta tidak boleh mencoba mengendalikan sepenuhnya: sangat sedikit pendeta yang memiliki pengetahuan luas tentang isu-isu dunia kerja untuk dapat merancang program-program pendidikan yang relevan; dan kedua, kepemimpinan awam harus dilibatkan dalam perencanaan maupun pelaksanaan program-program agar mereka memiliki kredibilitas di mata jemaat lainnya.[5]

Robert Banks juga sangat menganjurkan keterlibatan orang Kristen “biasa” jika ingin mengembangkan teologi kehidupan sehari-hari yang bermanfaat, karena:

  • Orang Kristen biasa dapat mengidentifikasi masalah mereka sehari-hari dengan sangat baik.

  • Orang Kristen biasa sudah memiliki beberapa unsur teologi kehidupan sehari-hari.

  • Teologi kehidupan sehari-hari adalah usaha yang koperatif antara orang Kristen biasa dan teolog profesional.

  • Teologi kehidupan sehari-hari yang dapat diterapkan memerlukan uji coba praktis oleh orang-orang Kristen biasa.

  • Hanya teologi yang ditempa dalam kerasnya dinamika kehidupan sehari-hari yang akan memiliki vitalitas dan relevansi.[6]

Pengusaha Kent Humphries, ketika ia menjadi Presiden Fellowship of Companies for Christ International, menekankan peran penting yang harus dilakukan para pendeta sebagai pemerlengkap dan mentor dalam pelayanan di dunia kerja.[8] Jelas bahwa banyak pendeta merasa tidak terhubung dengan dunia kerja masa kini dan merasa tidak mampu untuk tugas itu. Beberapa merasa terancam dengan antusiasme dan mimpi-mimpi besar para wirausahawan di dunia kerja. Tetapi pesan yang jelas adalah bahwa para pendeta memiliki peran yang sangat penting untuk dilakukan—bukan dengan berpura-pura sebagai ahli, atau sebagai pengendali, melainkan sebagai penyemangat dan pendukung.

Memulai proses kemitraan antara pendeta dan jemaat yang bekerja membutuhkan banyak waktu, banyak percakapan, dan banyak kolaborasi. Kemitraan semacam ini juga memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi seluruh gereja yang dimobilisasi dan didukung oleh misi dan pelayanan sepanjang waktu. Debra Meyerson menjelaskan jenis kepemimpinan yang terlibat dalam penjelasannya tentang para pengubah budaya terbaik:

Mereka tidak membawa panji-panji; mereka tidak meniup terompet. Tujuan mereka besar-besaran, tetapi cara mereka biasa-biasa saja. Mereka teguh dalam komitmen mereka, namun fleksibel dalam cara-cara memenuhinya. Tindakan mereka mungkin kecil tetapi dapat menyebar seperti virus. Mereka mendambakan perubahan cepat tetapi percaya pada kesabaran. Mereka sering bekerja secara individu, tetapi menyatukan orang-orang. Alih-alih memaksakan keras-keras agenda mereka, mereka mengadakan percakapan-percakapan. Alih-alih memerangi musuh-musuh yang kuat, mereka mencari teman-teman yang kuat. Dan dalam menghadapi kemunduran, mereka terus bergerak maju.[9]