Bootstrap

Kebenaran, Kejujuran dan Kebohongan di Tempat Kerja (Tinjauan Umum)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Truth and deception

Hampir semua orang tahu bahwa umat Allah seyogyanya mengatakan kebenaran. Meskipun kita tahu ada beberapa pengecualian – seperti saat melindungi orang tak bersalah, menjaga keamanan nasional, dan beberapa hal lainnya – kita harus ingat bahwa Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai “jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6) dan kita tahu bahwa kebenaran adalah cara hidup panggilan Allah untuk kita.

Tetapi komitmen kita terhadap kebenaran seringkali diuji di tempat kerja. Kadang tampaknya mustahil bisa berhasil di tempat kerja hanya dengan mengatakan kebenaran. Kadang bahkan tempat kerja tampak seperti dunia yang berbeda dari yang pernah didiami Yesus, dan kebenaran benar-benar tidak cocok di tempat kerja. Pikirkanlah kasus Philippe Kahn ini:

Philippe Kahn adalah pimpinan Borland International, perusahaan perangkat lunak rintisan yang memerlukan peluang untuk meluncurkan perusahaannya. Perangkat lunaknya telah diuji di lapangan dan siap dipasarkan dan didistribusikan, dan satu-satunya yang ia butuhkan tinggal peluang itu. Tetapi Kahn tidak memiliki karyawan (selain asistennya) dan tidak punya uang untuk mengadakan kampanye lewat pemasangan iklan yang mahal. Yang ia butuhkan sebenarnya memasang iklan di majalah yang tepat, majalah Byte. Tetapi biaya pemasangan iklan itu $20.000 yang tidak ia miliki, dan ia juga tidak memiliki agunan yang cukup untuk melakukan pinjaman sebesar itu. Ia membutuhkan kredit 100% untuk pemasangan iklan itu. Dan satu-satunya cara yang ia tahu untuk mendapatkan kredit itu adalah dengan melakukan bluffing (gertakan) untuk meyakinkan staf penjualan Byte bahwa perusahaannya jauh lebih aktif dan berjalan baik dari kenyataannya. Maka, ia lalu menyewa ruang kantor untuk hari itu, mempekerjakan karyawan-karyawan sementara untuk menjawab panggilan-panggilan telepon yang sebenarnya tidak ada, membiarkan satu berkas terbuka yang menunjukkan bahwa Byte berada jauh di bawah daftar para pengiklan potensial, dan berkata kepada staf penjualan itu bahwa Byte sebetulnya bukanlah forum yang tepat untuk mengiklankan produknya. Tujuannya, sebagaimana diakuinya kemudian dalam wawancara di majalah Inc., staf penjualan itu percaya bahwa perusahaannya cukup kuat untuk menghasilkan penjualan dari pemasangan iklan itu dan mengembalikan pinjaman.[1] Dan ternyata, yang terjadi memang seperti itu. Iklan itu menjual perangkat lunak seharga sekitar $150.000, Byte mendapat bayaran, dan Borland International siap beroperasi. Jelas, semua pihak diuntungkan dan tidak ada yang dirugikan.

Strategi Kahn menimbulkan pertanyaan penting tentang mengatakan kebenaran dan penipuan. Tampak jelas bahwa tujuan Kahn adalah menipu staf penjualan Byte. Banyak orang di kalangan bisnis menilai tindakan yang dilakukan Kahn itu sebagai hal yang cerdik, dan menyalahkan staf penjualan itu karena tidak mengerjakan PRnya (menyelidiki perusahaan) sebelum memberikan kredit. [2] Tetapi, skenario ini membuat banyak orang lain menilainya sebagai hal yang tidak etis. Hal ini menunjukkan beberapa nuansa yang perlu dikaji untuk mencapai pandangan yang logis dan benar tentang kejujuran dan keterbukaan serta penerapannya di dunia kerja.

Dalam artikel ini, kita pertama-tama akan meletakkan dasar alkitabiah tentang mengatakan kebenaran, menetapkannya sebagai norma prima facie (norma pada pandangan pertama yang berlaku sampai ada alasan yang lebih kuat untuk mengesampingkannya-Pen) dalam interaksi-interaksi antar manusia. Setelah itu kita akan melihat beberapa pengecualian dari norma ini. Kita akan menegaskan mengapa mengatakan kebenaran itu penting, baik bagi orang percaya maupun masyarakat pada umumnya. Kemudian kita akan menerapkan gagasan tentang mengatakan kebenaran ini di tempat kerja dan menyatakan bahwa meskipun berkata benar merupakan norma yang sangat kuat, tetapi ada kalanya norma itu tidak harus selalu dilakukan. Kita akan membahas tentang puffery (bualan, pernyataan yang melebih-lebihkan), white lies (dusta putih), bluffing (gertakan), dan situasi-situasi ketika pihak lain tidak punya hak atas kebenaran. Meskipun sebagian besar hidup orang percaya dijalani dengan mengejar kebenaran, menjelaskan pengecualian-pengecualiannya membutuhkan banyak kata, dan banyak teks artikel ini dihabiskan untuk menentukan batasannya yang tepat. Proporsi teks dalam artikel tentang kebenaran dan kebohongan ini tidak mencerminkan proporsi yang seimbang antara kebenaran dan kebohongan dalam hidup orang percaya.