Mengapa Mengatakan Kebenaran Itu Penting
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Selain meniru karakter Allah, mengatakan kebenaran sangat penting bagi masyarakat yang berkembang. Oleh karena itu, selain dalam situasi-situasi yang jarang terjadi, Allah memerintahkan kita untuk berkata benar. Dan meskipun perintah Allah saja sudah cukup untuk menjadi motivasi, para teolog dan ahli filsafat juga mengidentifikasi alasan-alasan lain.
Komunikasi Yang Otentik Memerlukan Kejujuran/Berkata Benar
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBerkata benar/kejujuran sangat penting untuk terjalinnya komunikasi yang otentik, dan memungkinkan terjadinya interaksi yang tulus di antara manusia. Artinya, jika kebenaran tidak diharapkan, komunikasi tak akan berlangsung lama sebelum akhirnya terputus seluruhnya. Bayangkan seperti apa rasanya hidup dalam masyarakat yang tak seorang pun mengharapkan kebenaran. Bagaimana orang dapat membedakan mana yang benar dan yang salah? Atas dasar apa orang dapat membuat keputusan-keputusan penting jika tidak ada harapan tentang kebenaran? Hidup akan kacau tanpa norma kejujuran.
Ini sebenarnya adalah pandangan ahli filsafat Immanuel Kant, dan prinsip universalisabilitas tentang mengatakan kebenaran (meskipun ia tidak akan mendukung pendapat yang disampaikan di sini bahwa ada pengecualian terhadap norma universal). Kant menganggap prinsip ini sebagai ujian terhadap prinsip moral yang valid, dan memakai kejujuran/berkata benar sebagai salah satu ilustrasi utamanya. Ia menegaskan bahwa untuk dianggap sah, sebuah norma harus bersifat universal—berlaku untuk semua orang. Salah satu ilustrasinya membayangkan apa yang akan terjadi jika tidak ada yang menerima norma tersebut. Ia dengan tepat mengatakan bahwa tanpa norma universal tentang mengatakan kebenaran, dasar komunikasi akan terancam, dan masyarakat yang tidak memiliki norma ini tidak akan berfungsi.[1] Hal ini dikuatkan oleh fakta bahwa hampir semua peradaban memiliki semacam norma yang menganjurkan berkata benar dan melarang kebohongan.[2]
Kepercayaan dan Kerja Sama Memerlukan Kejujuran/Berkata Benar
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBerkata benar/kejujuran membangun kepercayaan dan kerja sama di antara warga masyarakat. Kepercayaan sangat penting bagi masyarakat yang berkembang, dan menjadi orang yang perkataannya dapat dipegang membangun kepercayaan dan kredibilitas.[1] Hukum Musa menegaskan hal ini di Ulangan 25:15, yang mengaitkan transaksi yang jujur dengan kemakmuran orang Israel di negeri itu. “Haruslah ada padamu batu timbangan yang tepat dan benar; serta takaran yang utuh dan benar, supaya kamu hidup lama di tanah yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu” (lihat juga Imamat 19:36). Kitab Amsal juga menunjukkan hubungan antara sifat dapat dipercaya dengan kerukunan masyarakat. Amsal 3:29 menegaskan bahwa kepercayaan di antara sesama memungkinkan mereka untuk hidup tenteram, tanpa takut dicelakai oleh sesamanya. Selanjutnya, kitab Amsal juga menekankan bahwa sifat dapat dipercaya membawa pemulihan dalam relasi maupun komunitas (Amsal 13:17, 25:13). Adam Smith menyatakan dengan sangat jelas bahwa transaksi yang jujur dan sifat dapat dipercaya sangat penting untuk berlangsungnya sistem pasar yang baik. Budaya-budaya yang rentan korupsi seringkali berada di bagian-bagian dunia yang paling miskin, karena menjalankan bisnis di dalam budaya-budaya yang tingkat kepercayaannya rendah lebih sulit dan berisiko. Demikian pula, perusahaan-perusahaan yang dikuasai budaya tidak percaya biasanya memiliki biaya operasional yang tinggi, karena mereka memerlukan sistem atau cara-cara pengawasan yang mahal. Mereka juga memerlukan biaya-biaya yang tidak jelas, karena karyawan cenderung enggan untuk "bekerja lebih keras" bagi majikan mereka, cenderung kurang bersemangat untuk menerima perubahan, dan kurang berkomitmen pada pekerjaan mereka.
Martabat Manusia Memerlukan Kejujuran/Berkata Benar
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBerkata benar/kejujuran memperlakukan orang lain dengan bermartabat. Mengatakan kebenaran kepada seseorang adalah ukuran rasa hormat yang akan hilang ketika seseorang dibohongi.
Alkitab menjelaskan hal ini dengan kisah di kitab Kejadian tentang Yakub dan pelayanannya kepada Laban (Kejadian 29-30). Yakub bekerja selama tujuh tahun untuk bisa menikahi Rahel, tetapi setelah tahun-tahun pelayanan itu dipenuhi, Laban menipu Yakub dan mengganti Rahel dengan putrinya yang kurang disukai, Lea, sebagai istri Yakub. Yakub sangat marah ketika ditipu dan diperlakukan tidak hormat seperti itu (Kejadian 29:25). Ia lalu membalas sikap tidak hormat itu kepada Laban di Kejadian 30, ketika ia menipu Laban melalui kawanan ternak yang digembalakannya untuk Laban, dengan cara memisahkan ternak yang lebih kuat untuk dirinya dan menyisakan yang lebih lemah untuk Laban (Kejadian 30:42).
Demikian pula di 2 Raja-raja 12, ketika menyangkut uang untuk renovasi bait suci, ada pekerja-pekerja tertentu yang sangat dapat dipercaya sehingga para pengawas tidak perlu menghitung lagi uang yang mereka keluarkan untuk biaya renovasi itu. Karena mereka jujur, mereka diperlakukan dengan bermartabat dan dipercaya oleh raja dan para imam yang bertanggung jawab atas renovasi bait suci itu (lihat juga 2 Raja-raja 22:7). Hal ini diperkuat juga oleh amsal yang memperingatkan seseorang, “Seorang kawan melukai dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlebihan” (Amsal 27:6). Lawan yang mencium secara berlebihan adalah orang yang melimpahi seseorang dengan sanjungan palsu, menjerumuskan orang itu ke dalam ilusi persahabatan dan kepercayaan, padahal kenyataannya ia seorang musuh. Di sini, penipuan memperlakukan orang yang ditipu sebagai pion yang dimanipulasi untuk tujuan-tujuan egois penipu sendiri, bukan sebagai orang yang bermartabat yang pantas dihormati. Rasa tidak hormat juga tampak dalam amsal: “Lidah dusta membenci korbannya, dan mulut licin mendatangkan kehancuran” (Amsal 26:28; juga Amsal 26:18-19, 24, 26).
Hak seseorang untuk membuat keputusan otonominya sendiri didasarkan pada memiliki informasi yang akurat, sehingga orang sering merasa dilanggar dan sangat tidak dihormati ketika ditipu. Otonomi seseorang dilemahkan ketika ia ditipu. Hal ini tampak dalam kasus Yakub dan Laban. Otonomi Yakub untuk menikahi wanita pilihannya benar-benar terkikis oleh penipuan Laban, karena Yakub tidak akan menikahi Lea jika ia dibiarkan memilih sendiri sepenuhnya (Kejadian 29:17-20). Hal ini semakin tampak jelas ketika Yakub balik menipu Laban, karena Laban tidak akan memelihara ternak yang jelas-jelas akan merugikannya secara finansial jika ia tidak ditipu dengan sangat berhasil oleh Yakub (Kejadian 30:42-43).
