Bootstrap

Mengatakan Kebenaran di Tempat Kerja

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Truthtelling in the workplace

Laporan Keuangan Harus Menyatakan Kebenaran

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Contoh paling tepat untuk peran kejujuran/berkata benar di tempat kerja adalah dalam penyusunan laporan-laporan keuangan perusahaan, pemerintah, gereja, lembaga nirlaba, atau pun individu. Semua entitas ini harus memenuhi ketentuan tertentu untuk menyiapkan laporan keuangan yang bertujuan memberi gambaran yang akurat kepada orang lain tentang kondisi keuangan mereka.

Hal ini sering membutuhkan pengungkapan informasi yang tidak menyenangkan, seperti keuntungan yang berkurang, cadangan dana yang menipis, standar kompensasi eksekutif yang kontroversial, kewajiban utang yang meningkat, dan lain sebagainya. Meskipun organisasi dan individu mungkin lebih suka menyembunyikan informasi ini, mereka memiliki kewajiban hukum dan moral untuk memberikan informasi yang akurat.

Kebanyakan laporan keuangan disusun berdasarkan aturan-aturan yang menentukan cara mendefinisikan, menghitung, memperkirakan, dan memverifikasi berbagai aspek laporan. Mematuhi aturan-aturan ini membantu membuat laporan keuangan menjadi akurat dan sebanding antar berbagai entitas. Namun, aturan-aturan saja tidak cukup. Entitas juga harus membuat penilaian tentang faktor-faktor seperti kemungkinan kontrak selesai tepat waktu, masa pakai peralatan, suku bunga mendatang, berbagai macam risiko ke depan, dan banyak hal lainnya. Para pemimpin sering tergoda untuk menyesuaikan penilaian mereka tentang faktor-faktor ini dengan cara yang akan menggambarkan entitas dalam keadaan paling baik—ketimbang memberikan gambaran paling akurat tentang posisi keuangan yang sebenarnya. Bahkan, beberapa pemimpin mungkin percaya bahwa mereka punya kewajiban untuk "mengatur pemasukan"—agar laba tampak stabil dari kuartal ke kuartal—dengan membuat penyesuaian-penyesuaian pesimistis pada saat-saat makmur dan beralih ke penyesuaian-penyesuaian optimistis pada masa-masa sulit.

Alkitab, ekspektasi masyarakat, serta hukum dan regulasi di negara-negara yang bebas dan terbuka melarang manipulasi-manipulasi semacam itu. Satu-satunya kriteria yang dapat diterima untuk laporan keuangan adalah “menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan entitas, hasil usaha, dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.” [1] Artinya, laporan itu harus menyampaikan kebenaran. Tidak cukup hanya mengikuti aturan atau tidak berisi laporan palsu. Ada kewajiban yang lebih tinggi, yaitu menyampaikan gambaran yang akurat tentang situasi yang sebenarnya. Inilah standar untuk menilai semua laporan kita. Apakah laporan itu memberi gambaran akurat tentang situasi sebenarnya kepada pendengar atau pembacanya? Jika tidak, laporan itu tidak mengatakan kebenaran.

Mungkin Ada Pengecualian tentang Mengatakan Kebenaran di Tempat Kerja

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Meskipun jelas sikap standarnya adalah mengatakan kebenaran, di dalam Kitab Suci pun sikap ini tidak dianggap mutlak sepenuhnya—ada beberapa pengecualian terhadap prinsip umum ini. Tentu saja yang dibolehkan hukum tidak menentukan standar berkata benar. Atau, jika hendak dikatakan dengan cara lain, hukum adalah batas minimum moral, titik dasar moral, bukan batas atasnya. Apa yang dapat dilakukan seseorang tanpa melanggar hukum bukanlah standar.

Berikut adalah beberapa kategori pengecualian yang dapat diterima tentang norma mengatakan kebenaran.

Puffery (Bualan/Pernyataan Yang Dilebih-lebihkan)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Banyak iklan zaman sekarang termasuk kategori yang bisa disebut "harmless puffery” (bualan yang tidak berbahaya). Ini bisa berlaku untuk teks iklan maupun citra yang dibangun dan dikaitkan dengan produk perusahaan. Sebagai contoh, jaringan penjual Yogurt TCBY menyebut produknya "Yogurt Terbaik di Negara Ini." Padahal, kemungkinan besar ada perselisihan pendapat yang meluas tentang apakah produk itu benar-benar yogurt terbaik di negara itu. Sejauh yang diketahui, perusahaan itu belum mengadakan survei untuk mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung pernyataan mereka, atau memberikan klarifikasi apa pun tentang hal yang pada dasarnya merupakan opini dan pernyataan yang tidak terukur. Ini jelas merupakan contoh puffery (bualan, pernyataan yang dilebih-lebihkan) yang tidak akan dianggap serius oleh banyak orang sebagai pernyataan yang dapat dibuktikan. Namun kebanyakan orang tidak akan menganggap nama perusahaan itu sebagai samaran. Konsumen yang rasional akan menerima pernyataan itu apa adanya—omong kosong dalam hubungan antar manusia.

Menerapkan standar berkata benar yang ketat pada iklan yang akan melucuti bualan promosi akan membuat iklan itu menjadi sekadar pernyataan fakta yang dapat diverifikasi, dan akan membuat banyak iklan kehilangan daya tariknya. "Pizza terlezat di kota ini" dipahami sebagai slogan, bukan fakta. Pada umumnya, segala pernyataan tentang opini yang tak dapat diverifikasi dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap berkata benar, kecuali pernyataan itu disertai pernyataan eksplisit seperti "Menurut pendapat saya...." Namun, kita biasanya bisa tahu jika seseorang mengungkapkan opini, dan kita tahu bahwa iklan pada umumnya adalah opini yang bermotif jualan, bukan pernyataan kebenaran yang obyektif. Kita tak perlu diberi tahu, "Pizza terlezat di kota ini—menurut pendapat pemiliknya." Opini itu penting bagi masyarakat—sekalipun tidak benar—dan iklan itu juga punya nilai penting, sekalipun hanya semacam bualan yang tak berbahaya. Apakah kita benar-benar menginginkan dunia dengan para penggemar olahraga yang menyanyi, "Kita di peringkat 14, atau paling banter 13," atau para kekasih yang bersenandung, "Aku mencintaimu dengan 93% hatiku”?

Mari kita ambil contoh lain dari bursa mobil yang memasang iklan, "Masalah kredit? Tidak ada aplikasi yang ditolak." Kebanyakan orang tidak akan menerima iklan ini secara harfiah karena kita mengenalinya sebagai bualan komersial. Kita tidak akan benar-benar percaya bahwa orang dengan riwayat kredit yang sangat buruk, atau baru saja menyatakan bangkrut, benar-benar akan diberi kredit. Karena kita menyikapinya dengan skeptis, kita mungkin berpikir iklan itu tidak akan merugikan siapa-siapa. Namun, karena iklan itu memuat pernyataan khusus—"tidak ada aplikasi yang ditolak"—iklan itu jelas lebih berpotensi menyesatkan daripada pernyataan opini yang tidak jelas. Jika iklan itu tidak menyampaikan realitas situasi yang sebenarnya kepada orang kebanyakan, iklan itu harus menjelaskan apa sebenarnya yang dimaksudkan. Dalam hal ini, perusahaan itu harus menyertakan disclaimer yang menjelaskan bahwa semua aplikasi kredit akan ditinjau. Atau, untuk meminimalkan kemungkinan salah paham, mereka harus menghapus bagian iklan yang menyatakan, "tidak ada aplikasi yang ditolak." Permasalahannya di sini adalah pernyataan “Tidak ada aplikasi yang ditolak" bukan sekadar opini, tetapi fakta. Jika bukan fakta, maka pernyataan itu merupakan pelanggaran terhadap norma mengatakan kebenaran yang tidak dapat diterima.

Iklan-iklan juga bisa membuat pernyataan yang tersirat, bukan melalui teks iklan itu secara langsung, tetapi melalui gambar-gambar yang dikaitkan dengan produk mereka. Produk alat cukur pria sering disertai gambar wanita cantik yang tertarik pada pria yang habis bercukur menggunakan alat, krim, atau losion dari suatu perusahaan. Pernyataan tersiratnya adalah jika Anda menggunakan produk ini, Anda akan dikelilingi wanita-wanita cantik yang menganggap Anda sangat menarik. Atau setidaknya Anda akan merasa lebih seperti pria yang menarik. Atau mungkin juga iklan itu hanya menggunakan wanita cantik untuk menarik perhatian Anda, dan Anda tahu betul bahwa memakai produk itu tidak akan membuat Anda lebih menarik.

Terlepas dari cara kerja psikologis iklan itu, kebanyakan konsumen yang rasional bisa tahu bahwa itu hanya bualan dan tidak mengharapkan gambaran yang sepenuhnya akurat tentang daya tarik produk itu. Faktanya, banyak orang, ketika mereka berpikir rasional, menyadari bahwa produk kebersihan mereka tidak ada hubungannya dengan daya tarik seksual. Namun, citra yang dikaitkan dengan produk itu tetap populer bagi pengiklan, yang menjadi alasan mengapa bualan semacam ini terus berlanjut. Sulit untuk menjadi terlalu marah terhadap jenis promosi berlebihan seperti ini, sejauh iklan itu tidak benar-benar menyesatkan siapa pun. (Apakah iklan itu memperkuat stereotip gender yang berbahaya, merendahkan perempuan atau laki-laki, atau mempromosikan citra tubuh yang tidak sehat, merupakan pertanyaan-pertanyaan yang layak diajukan, meskipun tidak termasuk dalam pembahasan ini).

Tentu saja, ketika pengiklan membuat pernyataan yang terukur, mereka menampilkan diri seakan sedang mengatakan kebenaran, memenuhi tuntutan moral berkata benar, dan mematuhi hukum yang mewajibkan kejujuran dalam periklanan. Sebagai contoh, ketika produsen pasta gigi membuat pernyataan bahwa "4 dari 5 dokter gigi yang disurvei merekomendasikan Crest," pernyataan itu harus diverifikasi oleh survei-survei itu sendiri.

Kebenaran juga diharapkan ketika pernyataan yang dapat diverifikasi dibuat di luar konteks periklanan. Pernyataan non-iklan yang melebih-lebihkan biasanya dimaksud untuk menyesatkan, untuk menyampaikan bahwa orang atau situasi itu lebih baik dari yang sebenarnya. Jika kebenaran disampaikan apa adanya, hal itu jelas tidak akan memberi kesan sepositif pernyataan yang dilebih-lebihkan. Sebagai contoh, melebih-lebihkan pengalaman kerja atau latar belakang pendidikan pada daftar riwayat hidup adalah hal yang tidak etis, karena penerima CV itu mengharapkan kebenaran dan akan membuat keputusan berdasarkan kebenaran yang ada dalam dokumen itu. Mengatakan, "Saya orang paling tepat untuk pekerjaan ini," dibolehkan karena semua orang tahu perkataan itu tidak didasarkan pada penilaian obyektif semua kandidat. Tetapi mengatakan, “Saya lulusan Oxford,” padahal Anda tidak lulus, tidak diperbolehkan.

Bahkan ketika memberikan pendapat yang tak dapat diverifikasi, Anda harus tetap berhati-hati agar tidak melebih-lebihkan, karena orang yang meminta pendapat Anda mungkin bergantung pada penilaian yang akurat. Jika Anda dimintai pendapat tentang mantan mahasiswa atau rekan kerja, misalnya, segala pernyataan spesifik yang Anda berikan diharapkan benar. Bahkan pernyataan yang kurang jelas seperti "salah satu mahasiswa terbaik saya" hanya boleh disampaikan jika mahasiswa itu memang lebih baik dari kebanyakan mahasiswa lainnya.

Memang, hiperbola (penggunaan penekanan yang berlebihan untuk menyampaikan hal yang benar) merupakan kiasan yang lazim digunakan dalam cara berkomunikasi masa kini. Hiperbola juga dipakai dalam Alkitab, terutama dalam ayat-ayat puitis. Mazmur 6:7 yang berbunyi, "Setiap malam, aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku" merupakan gaya hiperbola yang mengatakan, "Aku sangat sedih." Kita tidak mengharapkan tempat tidur Pemazmur benar-benar basah kuyup atau dibanjiri air mata. Perkataan Yesus, "Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah... Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah... Jika matamu menyebabkan engkau berbuat dosa, cungkillah" (Markus 9:43, 45, 47) sering dianggap sebagai hiperbola. Kita akan merasa ngeri jika seseorang mengamputasi kakinya karena berharap hal itu akan mencegahnya untuk merampok bank lagi. Tetapi hiperbola tidak diharapkan dalam situasi-situasi orang meminta pendapat Anda, dan jika pendapat diberikan, pendapat itu biasanya disertai penjelasan yang makin menegaskan pendapat yang sebenarnya.

Salah satu contoh yang sulit dihadapi adalah dalam hal memberi surat rekomendasi. Sungguh menyusahkan jika Anda harus merekomendasi karyawan yang sudah Anda pecat dan yang, tanpa bantuan Anda, akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan lain. Salah satu solusi yang umum untuk hal ini, yang sering dianjurkan para pengacara perusahaan, adalah tidak mengatakan apa-apa selain menyatakan bahwa orang itu pernah bekerja di perusahaan Anda selama periode tertentu. Namun, hal ini bisa sangat bermasalah dalam kasus mantan karyawan yang “berbahaya”, karena pemberi kerja berikutnya tidak terlindungi dari “potensi bahaya” akibat ketidakcakapan, karakter yang buruk, atau kepribadian yang kasar. Namun, kebanyakan perusahaan tak mau ambil risiko dituntut atas pencemaran nama baik. Di pengadilan, kebenaran adalah pembelaan mutlak, tetapi sebagian besar perusahaan ingin menghindari proses hukum sejak awal.

Ketika rekomendasi diberikan, tak jarang rekomendasi itu dilebih-lebihkan, membuat orang yang direkomendasikan menjadi lebih baik atau lebih berkualitas dari yang sebenarnya. Hal ini sering terjadi pada rekomendasi yang diberikan kepada karyawan yang akan kembali ke sekolah untuk menempuh pendidikan lebih lanjut. Kebiasaan umum melebih-lebihkan dalam surat referensi ini menimbulkan masalah, karena penerima referensi mengharapkan evaluasi yang jujur ​​tentang orang itu untuk dapat menentukan apakah orang itu cocok untuk posisi atau organisasi tertentu. Ketidakcocokan tidak akan membawa kebaikan bagi organisasi maupun karyawan itu sendiri.

Kebiasaan melebih-lebihkan yang sudah sangat lazim inilah yang menyebabkan timbulnya sinisme terhadap surat-surat rekomendasi dan referensi, sampai-sampai ada sebagian orang yang benar-benar mengabaikannya dan meragukan nilai keseluruhannya. Ini hal yang sulit, karena prinsip kehati-hatian dalam hukum dapat melarang pengungkapan material tentang kandidat suatu posisi. Meskipun Anda tidak melanggar kewajiban untuk mengatakan kebenaran, tindakan itu sama sekali tidak akan membantu orang yang meminta rekomendasi. Untuk berlaku adil, jika Anda mengadopsi kebijakan ini, Anda harus memberlakukannya untuk semua permintaan rekomendasi, karena akan tidak tepat jika ketidakterbukaan Anda ditafsirkan sebagai penolakan terhadap kandidat itu. Ini bahkan juga berlaku jika seseorang meminta klarifikasi lebih lanjut dari Anda secara tidak resmi atau “off the record.”

Kita mungkin tergoda untuk melakukan tindakan melebih-lebihkan ini untuk diri kita sendiri. Kita mungkin ingin berkata atau memberi kesan seperti, "Saya sudah berkali-kali berada dalam situasi yang Anda bicarakan, dan inilah cara terbaik yang saya temukan untuk mengatasinya," padahal sebenarnya kita hanya sekali menghadapi situasi seperti itu, atau hanya mendengar bagaimana orang lain mengatasi situasi itu. Jika faktanya kita benar-benar yakin dengan apa yang harus dilakukan dalam situasi itu, kita mungkin merasa dibenarkan untuk menampilkan diri dengan begitu percaya diri. Namun, pernyataan telah melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan, sesungguhnya, adalah kebohongan yang disampaikan dalam situasi yang mengharapkan kebenaran. Alih-alih melebih-lebihkan seberapa sering Anda menghadapi situasi tertentu, cukup katakan pada orang itu bagaimana Anda akan mengatasinya. Anda dapat berkata bahwa Anda telah melihatnya (jika memang ya) dan menjelaskan bagaimana Anda akan mengatasi situasi semacam itu.

White Lies (Dusta Putih)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

"Dusta putih" adalah kebohongan yang dimaksudkan untuk memperlancar komunikasi atau membelokkan konflik kecil yang dianggap tidak akan merugikan siapa-siapa. Sebagai contoh, jika Anda terlambat menghadiri rapat, Anda mungkin tergoda untuk mencari-cari alasan demi menyelamatkan muka, seperti "Lalu lintas macet sekali hari ini," atau "Saya mendapat telepon mendadak yang harus diterima." Atau ambillah contoh skenario yang sangat umum ini: Anda tidak ingin berbicara dengan seseorang, jadi Anda meminta seorang rekan untuk mengatakan kepada orang itu bahwa Anda tidak ada di tempat atau sedang ada rapat. Jenis dusta putih lainnya termasuk perkataan-perkataan seperti, "Perkenalkan teman baik saya" (padahal orang itu tidak begitu Anda sukai), "Saya lihat Anda orang yang bijaksana" (padalah pelanggan itu jelas-jelas bodoh), "Saya akan menelepon Anda" (padahal Anda tidak berniat menghubunginya).

Meskipun sulit untuk secara tegas menolak dusta putih (karena tampaknya tidak berbahaya), tetapi biasanya ada cara untuk menangani hal-hal semacam itu tanpa harus berbohong dan tetap terhindar dari situasi canggung. Jika Anda terlambat datang rapat, misalnya, Anda cukup mengakui, “Maaf saya terlambat,” dan tidak perlu membahas lebih lanjut. Orang-orang yang ikut rapat bersama Anda tidak perlu tahu apa yang membuat Anda terlambat, dan sikap ambigu ini lebih baik daripada dusta putih, meskipun sama-sama relatif tidak berbahaya. Demikian pula, jika Anda tidak ingin ditemui, cukup minta orang yang mewakili Anda itu untuk mengatakan bahwa Anda sedang tidak bersedia. Orang yang minta bertemu biasanya tidak perlu tahu apa alasan Anda tidak bersedia ditemui, dan Anda tidak berkewajiban memberi penjelasan lengkap tentang alasan itu. Atau jika Anda berhadapan langsung dengan orang itu, Anda cukup berkata, "Saya tidak bisa membicarakan hal ini sekarang, tetapi saya akan senang menghubungi Anda lagi nanti." Sekali lagi, Anda tidak berkewajiban memberi penjelasan lengkap. Membiarkan sesuatu ambigu/mengambang tidak selalu sama dengan menipu, dan tidak memberi penjelasan lengkap tidak selalu berarti berbohong.

Beberapa situasi yang membuat kita tergoda untuk berdusta putih sebenarnya adalah situasi-situasi yang kita harus jujur. Sebagai contohnya, ketika seseorang meminta evaluasi Anda tentang presentasi yang dilakukannya di perusahaan, akan lebih mudah dan sangat efisien bagi Anda untuk berkata, "Bagus, saya suka," dan selesai. Namun, tindakan itu bisa menghilangkan kesempatan untuk memberi umpan balik yang bermanfaat dan membangun jika, pada kenyataannya, presentasi itu tidak bagus. Anda dapat memuji bagian-bagian yang memang patut dipuji, dan juga menunjukkan bagian-bagian yang masih kurang agar orang itu dapat memperbaikinya untuk presentasi yang selanjutnya.

Demikian pula, kita mungkin mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa beberapa kebohongan dapat diterima karena relatif kecil. Misalnya, mengelabui atasan Anda tentang cara Anda menggunakan waktu atau menggelembungkan laporan pengeluaran Anda. Kita bisa sangat rentan terhadap kecurangan ini jika kita dapat meyakinkan diri kita sendiri bahwa hal itu sudah menjadi kebiasaan umum. Atau kita mungkin mencoba membenarkan kecurangan sebagai kompensasi atas ketidakadilan yang kita rasa dilakukan terhadap kita. "Saya pantas mendapatkan bonus yang lebih besar, tetapi saya dicurangi karena saya tidak mau tidur dengan bos seperti Pat, jadi saya menebusnya dengan mengambil sedikit uang dari laci." Tindakan ini jelas sudah melampaui semua yang disebut dusta putih atau bualan yang tidak berbahaya. Tindakan ini adalah penipuan terhadap rekan yang tidak menaruh curiga, yang tujuannya tiada lain hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi, yang kita tahu tidak akan bisa kita dapatkan jika pihak lain tidak ditipu. Tindakan seperti ini tidak mendapat tempat dalam etika Kristen.

Bluffing (Gertakan)

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Salah satu pelanggaran terhadap kejujuran yang paling umum di dunia kerja adalah bluffing (gertakan) atau yang disebut sebagian orang sebagai "saling menipu". [1]

Bluffing bisa dianggap sah jika semua pihak tahu bahwa kebenaran tidak selalu diharapkan, dan gertakan itu dianggap sebagai bagian dari negosiasi. Seperti sebuah tarian yang diharapkan ketika kedua pihak sudah mengetahui musik dan gerakannya. Contoh-contoh bluffing yang lazim yang biasanya dianggap sah meliputi kepura-puraan dalam olahraga, tipu muslihat dalam permainan poker, negosiasi harga ketika belanja di berbagai bagian dunia non-barat, dan pernyataan tidak bersalah dalam persidangan. Bluffing yang dilakukan Philippe Kahn terhadap staf penjualan majalah Byte adalah contoh lainnya. Yang membuat bluffing tampak dapat diterima adalah asumsi bahwa semua orang tahu gertakan itu bisa terjadi—yang artinya, semua orang tahu aturan permainannya. Ini jelas tampak pada contoh-contoh di atas (meskipun tidak begitu jelas dalam kasus Kahn), dan sulit untuk menyatakan bahwa seseorang telah ditipu secara tidak dapat dibenarkan dalam kasus-kasus tersebut.

Boleh jadi, pembelaan klasik terhadap bluffing/gertakan dalam bisnis datang dari Albert Carr, yang menulis di Harvard Business Review pada tahun 1968. Carr menyatakan bahwa bisnis itu seperti permainan poker, dan karena semua orang tahu aturan mainnya, bluffing atau gertakan bukanlah penipuan dan karena itu merupakan tindakan yang dapat diterima. Tindakan ini adalah bagian dari yang sering disebut sebagai moralitas caveat emptor ("membuat pembeli berhati-hati") yang sangat sesuai dengan pandangan Carr tentang mengatakan kebenaran. Carr lebih lanjut mengatakan bahwa gertakan merupakan komponen penting dalam praktik bisnis yang cerdik dan efektif. Berbicara tentang pebisnis, ia berkata,

Dalam kehidupan mereka di kantor, mereka tidak lagi menjadi warganegara biasa; mereka menjadi pelaku permainan yang harus dipimpin oleh seperangkat standar etika yang berbeda.... Etika dalam permainan poker berbeda dengan idealisme etika dalam relasi-relasi manusia yang beradab. Permainan poker tidak membutuhkan kepercayaan orang lain. Permainan itu mengabaikan pernyataan persahabatan. Tipu muslihat yang cerdik dengan menyembunyikan kekuatan dan niat seseorang, bukan kebaikan dan ketulusan hati, sangat penting dalam permainan poker. Tak ada yang menganggap permainan poker lebih buruk karena alasan itu. Dan tak ada yang boleh menganggap permainan dalam bisnis lebih buruk karena standarnya tentang yang benar dan yang salah berbeda dari tradisi-tradisi moralitas dalam masyarakat.[2]

Carr berbicara tentang moralitas ganda yang radikal, di mana standar moral kehidupan pribadi tidak dapat diterapkan pada bisnis dan tetap kompetitif. Carr menyimpulkan bahwa mengatakan kebenaran sebagai nilai etika di tempat kerja harus ditinggalkan dan digantikan dengan gertakan dan tipu muslihat yang menjadi ciri khas dalam permainan poker. Dalam hal ini Carr berbeda pendapat dengan pakar ekonomi seperti Milton Friedman, yang mengatakan bahwa aktivitas-aktivitas bisnis harus sesuai dengan "aturan dasar masyarakat, baik yang tercermin dalam hukum maupun dalam kebiasaan/norma etika."[3]

Dari perspektif alkitabiah, pandangan Carr tentang moralitas bisnis yang dipisahkan secara tegas dari moralitas kehidupan pribadi, tidak dapat dianggap sebagai etika bisnis yang sah. Alkitab tidak menerima pembagian kehidupan ke dalam aspek-aspek moral yang terpisah, yang di antaranya boleh mengambil keuntungan dari orang lain melalui penipuan yang tak diduga. Sebagaimana disampaikan sebelumnya dalam tulisan ini, analogi permainan poker tidak berlaku untuk bisnis, karena bisnis jelas bukan permainan: tidak semua pelaku berada di meja permainan karena pilihan (dan tidak bebas pergi sesuai pilihan) dan tidak semua orang mengetahui aturan permainan itu. Elemen terakhir ini sangat penting karena batas antara menggertak orang yang tahu apa yang sedang terjadi dengan mengambil keuntungan dari orang yang tidak tahu, tidak selalu jelas.

Namun, ini tidak selalu berarti bahwa semua gertakan itu salah. Atau bahwa gertakan dan negosiasi itu selalu merupakan hal yang sama, karena dalam negosiasi tujuannya adalah untuk mencapai kesepakatan yang baik dan jujur ​​tentang harga yang wajar dan saling menguntungkan. Namun, pada kenyataannya gertakan sering menjadi bagian dari negosiasi. Ada beberapa skenario yang jelas menunjukkan semua orang mengetahui aturannya, seperti negosiasi dalam penjualan properti komersial, atau perjanjian dalam penyelesaian gugatan hukum. Dalam situasi-situasi semacam itu, kedua pihak mengharapkan proses negosiasi yang progresif untuk mencapai kesepakatan akhir. Tetapi, negosiasi yang progresif tidak berarti Anda boleh menipu pihak lain secara terang-terangan di dalam proses itu. Hal itu hanya berarti Anda tidak mengungkapkan semua kartu Anda sejak awal. Sebagai contoh, pengacara yang mewakili kliennya dalam sidang penyelesaian sengketa mungkin mendapat wewenang untuk menyelesaikan kasus itu dengan $100.000. Mengatakan kebenaran tidak berarti harus mengungkapkan semuanya sejak awal, dan pengacara itu dapat secara sah melakukan penawaran pertama sebesar $75.000. Hal ini menjadi lebih rumit jika pengacara itu secara eksplisit ditanya apakah ini harga tertinggi dari wewenang yang diberikan padanya. Alih-alih berbohong dan berkata "ya", pengacara itu bisa dengan enteng berkata bahwa itulah harga yang ditawarkan pada saat ini. Negosiasi itu tidak perlu benar-benar melakukan penipuan terhadap pihak lain, meskipun mereka mengetahui tarian permainan itu. Namun, mengatakan kebenaran juga tidak berarti harus mengungkapkan semuanya dari awal, sehingga kehilangan daya tawar dalam bernegosiasi.

Satu batasan gertakan yang penting dalam situasi apa pun adalah harus ada pengungkapan material; karena pengungkapan informasi faktual sangat penting untuk memahami transaksi itu. Sebagai contoh, jika saya akan menjual mobil yang transmisinya akan rusak, tidaklah sah jika saya mengelabui pembeli untuk berpikir bahwa transmisi mobil itu dalam keadaan baik. Jika saya tidak mau atau tidak mampu mengungkapkan kondisi mobil yang sebenarnya, setidaknya saya harus menyatakan bahwa saya menjual mobil itu "apa adanya". Sesungguhnya, dalam banyak yurisdiksi, penjual dapat dituntut atas penipuan karena tidak melakukan pengungkapan material (hal ini terutama berlaku dalam penjualan rumah).

Dalam banyak skenario negosiasi, pelaku menggertak dengan mengarang fakta-fakta semu yang tidak dapat diverifikasi, seperti, "Saya tidak tahu apakah saya bisa membuat penawaran ini disetujui oleh bos saya," atau "Ini adalah penawaran terbaik dan terakhir saya," atau "Sudah ada sejumlah orang lain yang tertarik pada transaksi ini." Apakah mengarang "fakta" semu termasuk dalam aturan permainan yang dipahami semua orang? Dalam beberapa kasus, mungkin ya. "Ini adalah penawaran terakhir saya" yang disampaikan di awal negosiasi tidak akan dianggap serius oleh negosiator berpengalaman dari pihak lain. Atau jika salah satu pihak berkata, "Ada lima orang lain yang tertarik pada transaksi ini," pernyataan itu akan diabaikan oleh orang-orang di sekitar meja perundingan. Meskipun demikian, tindakan seperti ini dipertanyakan, karena membuat pernyataan yang tampaknya faktual dapat dianggap pihak lain sebagai tindakan yang melampaui aturan gertakan. Kita mungkin tidak dapat berkata dengan tegas bahwa orang Kristen tidak boleh terlibat dalam tindakan menggertak semacam ini. Tetapi, kami sangat menganjurkan agar orang-orang percaya bertanya, "Apakah proses ini menghormati Tuhan dan menghargai pihak lain?"

Pada akhirnya, semua negosiasi harus dilandaskan pada aturan realitas yang normal, di mana pernyataan-pernyataan faktual diharapkan benar. Jika Anda mencoba menjual tanah yang bukan milik Anda, misalnya, tidak seorang pun akan menganggap hal itu sebagai gertakan yang sah. Pendekatan yang mungkin paling menganggap gertakan itu sebagai iklan. Membesar-besarkan (atau mengecilkan) sikap para pihak mengenai harga, ketentuan, atau aspek-aspek lain yang dipahami sebagai taktik bernegosiasi bukanlah menipu. Tetapi, membuat pernyataan fakta yang tidak benar adalah tindakan yang menipu. Kemungkinannya tindakan itu juga tidak akan dipercaya, kecuali oleh pihak-pihak yang paling mudah percaya, yaitu orang-orang yang kemungkinan besar tidak memahami aturan permainan yang membuat gertakan itu sah sejak awal. Alih-alih mengarang fakta palsu, mengapa tidak membuat pernyataan yang benar tentang kurangnya pengetahuan pihak lain. Alih-alih berkata, "Ada tiga pembeli lain yang siap mengajukan penawaran, jadi anggaplah Anda beruntung mendapat penawaran seharga ini," bagaimana jika mengatakan, "Untuk Anda tahu saja, saya bisa mendapatkan tiga pembeli lain yang siap mengajukan penawaran, jadi apakah Anda benar-benar ingin mencoba keberuntungan Anda dengan harga ini?"

Jelas bahwa merasa ragu tentang bluffing (tindakan menggertak) tidak berarti suatu perusahaan atau individu tidak dapat menunjukkan citra terbaiknya. Itu sebabnya orang berdandan saat wawancara dan presentasi, dan mengapa kantor perusahaan menjadi tempat yang menarik untuk bekerja dan dikunjungi. Tetapi yang penting adalah yang kita tampilkan dengan cara terbaik dan menarik itu merupakan diri atau produk kita yang sebenarnya, bukan pribadi atau produk fiktif. Dalam kisah Philippe Kahn dan majalah Byte, Kahn dengan sengaja menampilkan perusahaannya yang bukan sebenarnya kepada staf penjualan yang tidak tahu bahwa dirinya sedang digertak. Kasus ini menggambarkan bahayanya gertakan. Meski diakui bahwa gertakan dapat diterima jika jelas semua orang tahu aturannya, godaan untuk mengambil keuntungan dari orang yang mungkin tidak mengetahui aturan itu sangat besar, dan sering menjadi alasan untuk menggertak sejak awal. Seperti dikatakan Alexander Hill, “Konsep saling menipu... hanya boleh digunakan dalam situasi-situasi yang sudah ditetapkan dengan cermat... di mana setiap orang memahami aturan dengan jelas dan orang luar yang tidak tahu apa-apa tidak boleh dipengaruhi secara negatif. Prosedur yang bersih seperti itu hampir tidak mungkin diterapkan di tempat kerja.”[4]

Dengan pemikiran ini, kasus Philippe Kahn dan Borland jelas merupakan penipuan yang tidak sah. Fakta bahwa taktik itu berhasil tidak menjadikannya benar, sama seperti menerobos lampu merah tidak apa-apa jika tidak tertabrak mobil di persimpangan. Jika Borland bangkrut dan tidak membayar Byte $20.000, akan lebih jelas lagi bahwa penipuan itu tidak sah.

Sebetulnya, penipuan yang dilakukan Kahn sangat mirip dengan jenis-jenis penipuan yang dilakukan dalam kehancuran ekonomi global belakangan ini, yang dipicu oleh runtuhnya pasar obligasi hipotek yang dijaminkan. Pemberi pinjaman memberi pinjaman berisiko kepada pembeli rumah yang tidak menunjukkan kemampuan untuk membayar kembali. Pemberi pinjaman lalu menjual pinjaman-pinjaman itu kepada investor yang tidak (diberi) tahu tentang tingkat risiko yang ada. Jika harga perumahan terus meningkat—seperti halnya ketika Borland menjual banyak perangkat lunak—maka ketika para peminjam gagal bayar, pemberi pinjaman dapat menyita dan menjual rumah-rumah itu dengan harga yang cukup tinggi untuk mengembalikan pinjaman, dan para investor kemungkinan tidak pernah tahu seberapa besar sebenarnya risiko yang mereka hadapi. Tetapi fakta bahwa yang terjadi sebaliknya—harga rumah turun, kredit macet, dan ekonomi terjerumus ke dalam resesi global—menunjukkan bahwa hanya karena penipuan kadang diuntungkan oleh faktor keberuntungan, tidak berarti semua orang mendapat keuntungan dan tak ada yang dirugikan. Menipu orang atau pihak lain pada dasarnya adalah tindakan yang merugikan semuanya.

Faktanya, seringkali sulit untuk mengenali batas antara gertakan dan penipuan yang melanggar hukum. Bayangkan Anda mengelabui seorang rekan kerja untuk berpikir bahwa Anda akan mendukung usahanya untuk mendapatkan promosi, tetapi Anda lalu menjelek-jelekkannya di depan bos agar Anda sendiri yang mendapatkan promosi itu. Ini jelas merupakan pelanggaran terhadap norma mengatakan kebenaran, pelecehan terang-terangan terhadap rekan kerja itu, dan tidak menghormati Kristus. Namun, Anda hampir dapat meyakinkan diri Anda bahwa itu hanyalah satu bentuk gertakan. Salah satu problema tentang gertakan adalah cara itu membuka celah penyalahgunaan sambil tetap memakai kedok legitimasi. Kita sebaiknya membatasi gertakan hanya pada situasi-situasi yang kita yakin semua pihak tahu bahwa gertakan sedang terjadi dan apa saja aturan dan batasannya. Mengulangi peringatan Alexander Hill, banyak orang jarang atau tidak pernah menghadapi situasi seperti itu dalam pekerjaan mereka.

Ketika Orang Tidak Punya Hak atas Kebenaran Itu

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Kategori lain dari pengecualian yang mungkin terjadi pada norma mengatakan kebenaran adalah ketika orang yang bertanya tidak punya hak atas kebenaran itu. Sebagai contoh, jika seorang penjahat bersenjata datang ke sebuah toko swalayan untuk merampok, para karyawan tidak wajib mengatakan kebenaran tentang di mana tempat menyimpan uang. Banyak orang akan menerima bahwa berbohong kepada perampok itu adalah hal yang dapat dibenarkan. Bahkan, dalam beberapa kasus, menjelaskan kepada orang itu bahwa ia tak punya hak atas kebenaran itu sama dengan memberi informasi yang ia cari. Dalam kasus itu, sedikit menipu orang itu untuk mencegahnya mengetahui yang tidak berhak ia ketahui merupakan hal yang juga dapat dibenarkan.

Demikian pula, jika Anda dalam posisi harus menjaga kerahasiaan, orang yang meminta Anda melanggar kewajiban itu tidak punya hak atas informasi yang mereka cari dari Anda. Namun, dalam kasus kerahasiaan, kewajiban untuk tidak mengungkap informasi tidak membuat kebohongan dapat dibenarkan. Sebagai contoh, jika Anda bekerja di bagian SDM perusahaan Anda dan Anda memiliki informasi tentang PHK mendatang yang harus Anda rahasiakan, lalu seseorang meminta Anda untuk memberi “peringatan” tentang keamanan pekerjaan mereka, Anda punya kewajiban untuk tetap menjaga kerahasiaan itu.

Membocorkan informasi itu salah, tetapi berbohong juga salah. Respons yang tepat adalah berkata bahwa andaipun Anda memiliki informasi tentang hal itu, Anda tidak dapat mengungkapkannya. Hal ini tetap berlaku meskipun orang itu minta tolong atas dasar hubungan persahabatan atau menunjukkan bahwa alasannya membutuhkan informasi itu adalah karena ada pembelian rumah yang sedang dalam proses atau komitmen finansial lainnya yang sedang dibuat. Dalam hal ini, Anda harus menjaga kerahasiaan sebagai bagian dari kesetiaan Anda kepada perusahaan, dan mengatakan kepada orang itu bahwa Anda tidak dapat menjawab pertanyaan seperti itu dan Anda tidak suka ditempatkan dalam posisi yang membahayakan itu, yang dapat membuat Anda kehilangan pekerjaan jika Anda mengungkapkan informasi itu.

Perbedaan antara contoh kasus perampokan dan menjaga kerahasiaan adalah karyawan bagian SDM itu memiliki opsi lain selain berbohong secara langsung. Penjaga toko itu tidak dapat berkata kepada perampok, "Andaipun saya tahu di mana uang itu disimpan, saya tidak akan mengungkapkan informasi itu kepada Anda"—setidaknya jika ia mau selamat dari para perampok itu! Tetapi karyawan di bagian SDM memiliki opsi itu. Hal ini juga berlaku jika ada pelanggan yang menanyakan tentang margin keuntungan dari harga produk yang Anda tawarkan. Anda tidak perlu berbohong, Anda hanya perlu menegaskan bahwa itu adalah informasi rahasia yang tidak boleh Anda ungkapkan. Perkataan ini memperkuat fakta bahwa pelanggan itu tak punya hak atas informasi itu. Dan pelanggan itu punya hak untuk tidak dibohongi oleh Anda.

Situasi makin ambigu jika kebohongan itu hanya untuk melindungi diri Anda dari akibat tindakan Anda sendiri. Sebagai contoh, atasan Anda pada umumnya tidak punya hak untuk mengetahui apa yang Anda lakukan pada saat Anda tidak bekerja. Bagaimana jika Anda memilih untuk melakukan hal yang akan membuat Anda tidak disukai oleh atasan atau rekan kerja Anda atau akan menyingkapkan informasi yang sangat pribadi? Jika seseorang berkata ia melihat Anda di kasino akhir pekan lalu, apakah Anda boleh berbohong untuk menyangkalnya? Bagaimana dengan ikut demonstrasi untuk memperjuangkan hak-hak sipil? Beribadah di gereja? Menghadiri lokakarya untuk para korban KDRT? Sulit untuk menemukan aturan umum dari Kitab Suci atau lainnya dalam situasi seperti ini. Tetapi kita dapat memerhatikan bahwa kedewasaan rohani yang berkembang cenderung berjalan seiring dengan kemampuan mengungkap kebenaran yang lebih besar dalam situasi-situasi yang tampaknya bisa menimbulkan kesulitan pribadi. Orang Kristen baru mungkin akan sangat sulit mengakui dirinya menghadiri ibadah gereja jika ia takut hal itu akan mengurangi penghargaan rekan kerjanya terhadapnya. Orang Kristen yang lebih dewasa mungkin bersedia mengambil risiko dan mampu mengubah situasi itu menjadi pengalaman yang positif bagi diri mereka sendiri maupun rekan kerja mereka. Namun, orang yang paling dewasa rohani pun yang bertobat menjadi Kristen di negara yang melarang pertobatan semacam itu mungkin akan memutuskan untuk membohongi orang lain agar hal itu tetap tersembunyi, setidaknya sampai waktu dan tempat yang ditentukan Tuhan. Dietrich Bonhoeffer menasihati teman-temannya untuk memberi hormat ala Nazi (“Heil Hitler”) untuk menutupi perlawanan mereka terhadap Hitler.[1] Di sini, sekali lagi, perhatikanlah bahwa untuk menemukan contoh yang jelas, kita telah mengambil situasi yang jauh melebihi yang dihadapi banyak orang Kristen di tempat kerja. Bagi banyak orang Kristen di berbagai tempat dan waktu, bertumbuh dalam Kristus berarti makin bersedia mengungkapkan diri secara terbuka dan tanpa kebohongan.

Tipu Muslihat untuk Mendapatkan Informasi Yang Berhak Anda Ketahui

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Ada situasi-situasi di mana penipuan diperlukan untuk mendapatkan informasi yang berhak diketahui suatu organisasi. Hal ini pada dasarnya merupakan pengecualian dari yang sudah disebutkan sebelumnya, penipuan untuk tujuan intelijen nasional dan menerapkannya di tempat kerja yang lain. Sebagai contoh, bayangkan pekerjaan Anda adalah menyampaikan (surat) perintah pengadilan kepada orang yang ingin menghindari muncul di pengadilan. Jika Anda memulai dengan mengungkapkan siapa diri Anda dan mengapa Anda mencoba menghubungi mereka, mereka mungkin tidak akan mengakui siapa mereka. Padahal, pekerjaan Anda sangat penting untuk berjalannya sistem hukum.

Atau pikirkan tentang praktik belanja misteri. Sebagai sarana penilaian kualitas, banyak perusahaan ritel, medis, perhotelan, dan layanan pelanggan lainnya menggunakan para pembeli misterius untuk datang ke lokasi-lokasi mereka, berpura-pura menjadi pelanggan, dan melaporkan pengalaman mereka. Informasi ini bisa sangat penting untuk memastikan pelanggan mendapatkan yang dijanjikan oleh merek tertentu. [1] Untuk memastikan mereka akan diperlakukan sebagai pelanggan biasa, para pembelanja misterius ini harus menyembunyikan kebenaran bahwa mereka akan melaporkan pengalaman mereka kepada perusahaan. Pembelanja misterius—setidaknya dalam situasi ini—berusaha memperoleh informasi yang berhak diketahui organisasi mereka, yang tidak dapat diperoleh tanpa penipuan.

Sama seperti memakai kebohongan untuk melindungi informasi yang tidak berhak diketahui orang lain itu sah, menggunakan tipu muslihat untuk memperoleh informasi yang berhak Anda ketahui juga sah. Pendekatan yang sama dapat dilakukan untuk mengetahui layanan pelanggan, harga dan lain-lainnya dari pesaing dengan mengirim "pembeli misterius kompetitif" ke lokasi-lokasi mereka. Tindakan ini dasar etikanya lebih dipertanyakan. Selama pembeli misterius kompetitif hanya mengamati harga, interaksi, lingkungan, dan lain-lain yang bisa terlihat di depan umum, tidak ada penipuan yang dilakukan. Namun, jika pembeli misterius kompetitif ini ditanya siapa mereka sebenarnya atau apa yang sedang mereka lakukan, akan tidak etis jika mereka memberi jawaban yang bohong. Yang lebih buruk lagi adalah menghubungi pesaing, mengelabui mereka tentang identitas Anda, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan mereka jawab jika mereka tidak ditipu.[2]

Informasi Yang Tidak Berhak Anda Ketahui

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Sampai di sini kita telah membahas tentang penipuan untuk memperoleh informasi yang berhak Anda ketahui. Hal ini berbeda dengan spionase korporat, yang artinya memakai penipuan atau cara lain untuk mendapatkan informasi yang tidak berhak Anda ketahui. Informasi ini biasanya mengenai produk, strategi, keuangan, orang, atau penelitian dan pengembangan yang menjadi target perusahaan itu. Tindakan ini tidak etis dan ilegal. Karena entitas yang melakukan spionase tidak berhak mengetahui informasi itu, mereka jelas tidak boleh memakai penipuan untuk mendapatkan informasi itu. Sebagai contoh, beberapa perusahaan berusaha mendapatkan informasi tentang keadaan internal perusahaan pesaing dengan menyuruh beberapa karyawan mengaku sebagai mahasiswa pascasarjana yang sedang mengerjakan tesis. Mereka mungkin mengatakan atau menyiratkan bahwa informasi itu akan disamarkan atau disatukan. Ini jelas melanggar hukum, persis seperti cara perusahaan pada umumnya yang memata-matai, menggunakan cara-cara curang untuk memperoleh akses kepada informasi yang tidak berhak dimiliki perusahaan pesaing.

Hal lain yang menarik dari spionase korporat adalah situasi di mana Anda mungkin tanpa menipu mendapatkan informasi yang tidak berhak Anda peroleh. Sebagai contoh, Anda seorang tenaga pemasaran yang menginap di sebuah hotel di kota calon pelanggan potensial Anda. Anda mendapati, tenaga pemasaran pesaing juga menginap di kamar hotel itu pada malam sebelumnya dan meninggalkan salinan penawaran perusahaannya di laci. Anda tinggal membolak-balik surat penawaran itu untuk mengetahui tentang harga, ketentuan, dan produk-produk yang direkomendasikan pesaing. Dari sini Anda bisa mendapatkan keuntungan kompetitif yang lumayan. Namun Anda tidak punya hak atas informasi itu, dan sebenarnya (dalam banyak kasus) surat penawaran itu akan ditandai dengan jelas sebagai hal yang "rahasia". Tetapi, Anda tidak menipu siapa pun untuk mendapatkan informasi itu. Haruskah Anda menganggapnya sebagai keberuntungan, atau sebagai konsekuensi yang wajar dari keteledoran pesaing yang meninggalkan surat penawaran di kamar hotel?

Karena prinsip yang selama ini kita ikuti berkaitan dengan "hak untuk tahu", maka satu-satunya jawaban yang sesuai dengan prinsip itu adalah Anda tidak boleh membaca surat penawaran itu atau membiarkan diri Anda atau perusahaan Anda mengetahui isinya. Banyak perusahaan dengan reputasi baik memiliki kebijakan untuk tidak memakai—atau bahkan mengetahui, jika mungkin—informasi rahasia pesaing. Manajer dan para eksekutif—jika mereka beretika—akan menegakkan kebijakan ini dan mencegah secara ketat penggunaan informasi yang tidak berhak diketahui perusahaan.

Implikasi Sosial dari Melindungi Informasi Yang Tak Berhak Diketahui Orang Lain

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Pembahasan tentang legitimasi penipuan ketika pihak lain tidak berhak tahu ini mungkin tampaknya seperti serangkaian alasan untuk tindakan yang dipertanyakan. Di level pribadi, hal ini mungkin sering terjadi. Namun di level masyarakat, jika tidak ada mekanisme yang melindungi orang dan organisasi dari keharusan mengungkap hal-hal yang tidak berhak diketahui orang lain, masyarakat dapat dirugikan. Pikirkan kasus berikut ini yang dilaporkan kepada Proyek Teologi Kerja:

Saya bekerja di sebuah perusahaan farmasi besar, mengajar kursus yang dimaksudkan untuk membantu para manajer dan tenaga profesional menyelidiki keluhan-keluhan tentang kualitas produk. Jadi, jika suatu produk kedapatan dibuat dan dipasarkan meskipun sebenarnya tidak memenuhi standar kualitas, maka penyelidikan akan diadakan untuk mengungkap apa yang telah terjadi yang menyebabkan insiden itu. Selama melakukan penyelidikan itu, hal yang profesional adalah membuat daftar kemungkinan penyebab yang kemudian akan diuji, dan dieliminasi dengan logika dan pengujian lebih lanjut, untuk menentukan mana yang paling cocok dengan akibat sebenarnya yang dilaporkan. Tindakan ini benar-benar setara dengan proses yang harus dilalui seorang dokter dalam mendiagnosis serangkaian gejala misterius; karena tentu akan menjadi tindakan malpraktik jika langsung mengambil kesimpulan awal tanpa mengeliminasi kemungkinan penyebab-penyebab lain yang masuk akal.
Tetapi, divisi hukum perusahaan menasihati para manajer agar tidak menyimpan catatan tentang penyelidikan daftar kemungkinan penyebab tersebut, karena catatan itu bisa terkena panggilan pengadilan (diminta melalui surat panggilan pengadilan). Jika ada orang yang menggugat perusahaan karena alasan lain memperoleh akses ke dokumen yang berisi daftar panjang kemungkinan penyebab cacat produk itu, hal itu dapat memberi kesan yang salah bahwa perusahaan mengetahui banyak kekurangan dalam proses-proses itu, tetapi tidak melakukan apa-apa untuk memperbaikinya.[1]

Dalam situasi ini, perusahaan farmasi itu memiliki informasi internal yang digunakan untuk meningkatkan pengendalian mutu. Perusahaan itu percaya—mungkin dengan alasan yang sah—bahwa jika informasi ini terungkap kepada para penuntut dalam perkara hukum yang tidak berhak mengetahuinya, informasi itu kemungkinan akan disalahpahami dan digunakan untuk merugikan perusahaan. Karena perusahaan itu tidak yakin bahwa yang dianggapnya sebagai hak privasi akan dihormati sistem peradilan, maka perusahaan itu mengubah prosesnya dengan tidak melakukan pencatatan informasi yang diperlukan untuk meningkatkan pengendalian mutu. Akibatnya, masyarakat dirugikan karena kualitas obat tidak sebaik yang seharusnya bisa dicapai jika ada pencatatan informasi itu. Anda tidak harus setuju dengan pendapat perusahaan farmasi itu tentang siapa tepatnya yang berhak mengetahui apa, untuk menyadari bahwa mencapai keseimbangan yang tepat adalah persoalan yang memiliki dampak sosial yang penting. Hak atas privasi, termasuk hak untuk memakai penipuan untuk menyembunyikan informasi dari yang tidak berhak mengetahuinya, terlalu rumit untuk ditangani dengan larangan penipuan yang menyeluruh. Di dunia yang telah jatuh, setidaknya, kebenaran dan kebohongan adalah isu-isu yang sangat rumit, bahkan dalam terang prinsip-prinsip Alkitab.