Laporan Keuangan Harus Menyatakan Kebenaran
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Contoh paling tepat untuk peran kejujuran/berkata benar di tempat kerja adalah dalam penyusunan laporan-laporan keuangan perusahaan, pemerintah, gereja, lembaga nirlaba, atau pun individu. Semua entitas ini harus memenuhi ketentuan tertentu untuk menyiapkan laporan keuangan yang bertujuan memberi gambaran yang akurat kepada orang lain tentang kondisi keuangan mereka.
Hal ini sering membutuhkan pengungkapan informasi yang tidak menyenangkan, seperti keuntungan yang berkurang, cadangan dana yang menipis, standar kompensasi eksekutif yang kontroversial, kewajiban utang yang meningkat, dan lain sebagainya. Meskipun organisasi dan individu mungkin lebih suka menyembunyikan informasi ini, mereka memiliki kewajiban hukum dan moral untuk memberikan informasi yang akurat.
Kebanyakan laporan keuangan disusun berdasarkan aturan-aturan yang menentukan cara mendefinisikan, menghitung, memperkirakan, dan memverifikasi berbagai aspek laporan. Mematuhi aturan-aturan ini membantu membuat laporan keuangan menjadi akurat dan sebanding antar berbagai entitas. Namun, aturan-aturan saja tidak cukup. Entitas juga harus membuat penilaian tentang faktor-faktor seperti kemungkinan kontrak selesai tepat waktu, masa pakai peralatan, suku bunga mendatang, berbagai macam risiko ke depan, dan banyak hal lainnya. Para pemimpin sering tergoda untuk menyesuaikan penilaian mereka tentang faktor-faktor ini dengan cara yang akan menggambarkan entitas dalam keadaan paling baik—ketimbang memberikan gambaran paling akurat tentang posisi keuangan yang sebenarnya. Bahkan, beberapa pemimpin mungkin percaya bahwa mereka punya kewajiban untuk "mengatur pemasukan"—agar laba tampak stabil dari kuartal ke kuartal—dengan membuat penyesuaian-penyesuaian pesimistis pada saat-saat makmur dan beralih ke penyesuaian-penyesuaian optimistis pada masa-masa sulit.
Alkitab, ekspektasi masyarakat, serta hukum dan regulasi di negara-negara yang bebas dan terbuka melarang manipulasi-manipulasi semacam itu. Satu-satunya kriteria yang dapat diterima untuk laporan keuangan adalah “menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan entitas, hasil usaha, dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.” [1] Artinya, laporan itu harus menyampaikan kebenaran. Tidak cukup hanya mengikuti aturan atau tidak berisi laporan palsu. Ada kewajiban yang lebih tinggi, yaitu menyampaikan gambaran yang akurat tentang situasi yang sebenarnya. Inilah standar untuk menilai semua laporan kita. Apakah laporan itu memberi gambaran akurat tentang situasi sebenarnya kepada pendengar atau pembacanya? Jika tidak, laporan itu tidak mengatakan kebenaran.
