Bootstrap

White Lies (Dusta Putih)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
White lies

"Dusta putih" adalah kebohongan yang dimaksudkan untuk memperlancar komunikasi atau membelokkan konflik kecil yang dianggap tidak akan merugikan siapa-siapa. Sebagai contoh, jika Anda terlambat menghadiri rapat, Anda mungkin tergoda untuk mencari-cari alasan demi menyelamatkan muka, seperti "Lalu lintas macet sekali hari ini," atau "Saya mendapat telepon mendadak yang harus diterima." Atau ambillah contoh skenario yang sangat umum ini: Anda tidak ingin berbicara dengan seseorang, jadi Anda meminta seorang rekan untuk mengatakan kepada orang itu bahwa Anda tidak ada di tempat atau sedang ada rapat. Jenis dusta putih lainnya termasuk perkataan-perkataan seperti, "Perkenalkan teman baik saya" (padahal orang itu tidak begitu Anda sukai), "Saya lihat Anda orang yang bijaksana" (padalah pelanggan itu jelas-jelas bodoh), "Saya akan menelepon Anda" (padahal Anda tidak berniat menghubunginya).

Meskipun sulit untuk secara tegas menolak dusta putih (karena tampaknya tidak berbahaya), tetapi biasanya ada cara untuk menangani hal-hal semacam itu tanpa harus berbohong dan tetap terhindar dari situasi canggung. Jika Anda terlambat datang rapat, misalnya, Anda cukup mengakui, “Maaf saya terlambat,” dan tidak perlu membahas lebih lanjut. Orang-orang yang ikut rapat bersama Anda tidak perlu tahu apa yang membuat Anda terlambat, dan sikap ambigu ini lebih baik daripada dusta putih, meskipun sama-sama relatif tidak berbahaya. Demikian pula, jika Anda tidak ingin ditemui, cukup minta orang yang mewakili Anda itu untuk mengatakan bahwa Anda sedang tidak bersedia. Orang yang minta bertemu biasanya tidak perlu tahu apa alasan Anda tidak bersedia ditemui, dan Anda tidak berkewajiban memberi penjelasan lengkap tentang alasan itu. Atau jika Anda berhadapan langsung dengan orang itu, Anda cukup berkata, "Saya tidak bisa membicarakan hal ini sekarang, tetapi saya akan senang menghubungi Anda lagi nanti." Sekali lagi, Anda tidak berkewajiban memberi penjelasan lengkap. Membiarkan sesuatu ambigu/mengambang tidak selalu sama dengan menipu, dan tidak memberi penjelasan lengkap tidak selalu berarti berbohong.

Beberapa situasi yang membuat kita tergoda untuk berdusta putih sebenarnya adalah situasi-situasi yang kita harus jujur. Sebagai contohnya, ketika seseorang meminta evaluasi Anda tentang presentasi yang dilakukannya di perusahaan, akan lebih mudah dan sangat efisien bagi Anda untuk berkata, "Bagus, saya suka," dan selesai. Namun, tindakan itu bisa menghilangkan kesempatan untuk memberi umpan balik yang bermanfaat dan membangun jika, pada kenyataannya, presentasi itu tidak bagus. Anda dapat memuji bagian-bagian yang memang patut dipuji, dan juga menunjukkan bagian-bagian yang masih kurang agar orang itu dapat memperbaikinya untuk presentasi yang selanjutnya.

Demikian pula, kita mungkin mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa beberapa kebohongan dapat diterima karena relatif kecil. Misalnya, mengelabui atasan Anda tentang cara Anda menggunakan waktu atau menggelembungkan laporan pengeluaran Anda. Kita bisa sangat rentan terhadap kecurangan ini jika kita dapat meyakinkan diri kita sendiri bahwa hal itu sudah menjadi kebiasaan umum. Atau kita mungkin mencoba membenarkan kecurangan sebagai kompensasi atas ketidakadilan yang kita rasa dilakukan terhadap kita. "Saya pantas mendapatkan bonus yang lebih besar, tetapi saya dicurangi karena saya tidak mau tidur dengan bos seperti Pat, jadi saya menebusnya dengan mengambil sedikit uang dari laci." Tindakan ini jelas sudah melampaui semua yang disebut dusta putih atau bualan yang tidak berbahaya. Tindakan ini adalah penipuan terhadap rekan yang tidak menaruh curiga, yang tujuannya tiada lain hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi, yang kita tahu tidak akan bisa kita dapatkan jika pihak lain tidak ditipu. Tindakan seperti ini tidak mendapat tempat dalam etika Kristen.