Pekerja Perempuan di Perjanjian Baru
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Di mana-mana orang selalu bekerja. Dan jika kita membaca Perjanjian Baru, kita akan menemukan perempuan-perempuan yang melakukan berbagai macam pekerjaan. Bagi sebagian perempuan, itu adalah pekerjaan melahirkan dan membesarkan anak. Bagi sebagian yang lain, itu berarti memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dan bagi yang lain lagi, itu berarti menjadi wanita pengusaha yang terlibat dalam usaha-usaha yang menguntungkan. Bagi banyak orang, itu merupakan bentuk pelayanan bagi Kristus dan kerajaan-Nya.
Perempuan Senang Menerima Tugas Penting (Lukas 1)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKetika kita membuka kitab Injil menurut Lukas, kita langsung bertemu dengan seorang perempuan lanjut usia bernama Elisabet, istri seorang imam Yahudi, dan seorang gadis bernama Maria, yang bertunangan dengan seorang tukang kayu. Elisabet yang mandul saat itu sedang hamil enam bulan di usianya yang sudah lanjut dan akan melahirkan Yohanes Pembaptis. Maria yang kemungkinan baru berusia belasan tahun juga hamil, tetapi ia mengandung dari Roh Kudus, bukan karena berhubungan badan dengan laki-laki. Setelah perjumpaannya dengan malaikat Tuhan dan persetujuannya untuk menjadi ibu Mesias Allah, Maria melakukan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh tujuh puluh mil (lk 112,65 kilometer) dari provinsi Galilea di utara ke dataran tinggi Yudea untuk mengunjungi sepupunya, Elisabet. Bagi kedua perempuan itu, kehamilan mereka sangat ajaib.
Kita mungkin tidak menganggap melahirkan dan membesarkan anak sebagai “pekerjaan” dan bertanya-tanya mengapa artikel tentang perempuan yang bekerja harus dimulai dengan dua perempuan hamil. Tetapi di dalam kedua kasus ini, perempuan-perempuan itu sedang bermitra dalam pekerjaan Allah yang datang ke dunia yang berdosa dan rusak untuk melepaskan cengkeraman Iblis atas hidup manusia. Kemitraan ini memerlukan pekerjaan yang nyata. Pastinya, akan ada pekerjaan fisik untuk melahirkan dan membesarkan anak-anak istimewa ini. Tetapi Maria dan Elisabet menerima prospek pekerjaan ini dengan sukacita. Maria mengungkapkan pentingnya tugas yang diberikan Allah padanya dalam nyanyian yang kita sebut Magnificat (Nyanyian Pujian Maria):
“Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku. Sebab Ia telah memerhatikan kerendahan hamba-Nya… Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya. Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari tahta-Nya dan meninggikan orang-orang yang rendah. Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa.” (Lukas 1:46-53)
Melahirkan bukan satu-satunya pekerjaan penting yang dilakukan Maria sepanjang hidupnya. Ia juga berperan penting dalam pelayanan Yesus ketika Dia dewasa. Tetapi bagian kisahnya yang menginspirasi kita saat ini adalah bahwa ia memercayai tujuan-tujuan Allah meskipun itu berarti ia harus melakukan pekerjaan yang sulit.
Perempuan-perempuan Memungkinkan Pekerjaan Yesus Berlangsung (Lukas 4:14-19)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiYesus, yang saat itu berusia tiga puluh tahun, “dalam kuasa Roh kembali ke Galilea. Lalu tersebarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu. Sementara itu Ia mulai mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia” (Lukas 4:14-15). Ketika Yesus pergi dari kota ke kota dan dari desa ke desa di Galilea untuk menyampaikan Kabar Baik Allah (Lukas 4:18-19), “Kedua belas murid-Nya [laki-laki] bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka.” (Lukas 8:1-3).
Perempuan-perempuan yang telah disembuhkan Yesus dari hal tertentu ini menjadi bagian dari rombongan yang berjalan mengikuti Tuhan di daerah Galilea. Pekerjaan yang ditentukan sendiri oleh perempuan-perempuan ini adalah melayani kebutuhan-kebutuhan fisik Yesus di dalam perjalanan-perjalanan-Nya. Mengingat sistem patriarki masyarakat Palestina di abad pertama, yang membuat kaum perempuan sangat sering dikucilkan, pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana perempuan-perempuan ini dapat bepergian bersama Yesus dan para pengikut-Nya tanpa menimbulkan kesan tentang skandal atau hal yang memalukan? Fakta bahwa mereka memiliki kekayaan telah membuat mereka menjadi benefactor (penyandang dana/donatur) yang bebas beraktivitas di ruang publik tanpa mendapat kecaman. Jika Anda pernah bertanya-tanya bagaimana Yesus dan murid-murid-Nya dapat bertahan hidup selama tiga tahun tanpa sumber pemasukan yang jelas, Anda tak perlu mencari jauh-jauh dari perempuan-perempuan kaya ini.
Ajaran-ajaran Yesus Mencakup Perempuan
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKeempat Injil yang menuliskan tentang pelayanan Yesus di bumi berisi lebih banyak penyebutan tentang perempuan dibandingkan hampir semua tulisan sekuler lainnya pada zaman itu. Di dalam kitab-kitab Injil itu kita mendengar Yesus memuji perempuan karena iman mereka (perempuan Kanaan di Matius 15:28; Marta di Yohanes 11:26-27), atau kemurahan hati mereka (persembahan janda miskin di Markus 12:43-44). Yesus memasukkan mereka di dalam pengajaran-pengajaran-Nya (perempuan yang membuat roti di Matius 13:33; atau perempuan yang mencari dirham yang hilang di Lukas 15:8-10). Bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku, Yesus berbicara bebas dengan perempuan di muka unum (Yohanes 8:10-11) dan mengajarkan teologi kepada mereka (Lukas 10:39). Dia memercayakan berita kebangkitan kepada perempuan sementara para murid laki-laki bersembunyi karena takut kepada penguasa orang Yahudi.
Tidak seperti beberapa murid (laki-laki), tidak ada perempuan yang meninggalkan Yesus, mengkhianati Yesus atau tidak memercayai perkataan-Nya. Karena iman mereka, pengertian mereka dan kesetiaan mereka, perempuan sering dijadikan contoh bagi laki-laki. Dan setelah kenaikan-Nya ke surga, perempuan-perempuan yang setia ini juga ada bersama para lelaki yang berdoa di ruang atas di Yerusalem, menantikan janji tentang Roh Kudus yang akan menyiapkan mereka untuk pelayanan yang berkelanjutan.
Sebagian orang berpendapat bahwa karena perempuan-perempuan ini kemudian tidak terdengar lagi di dalam Perjanjian Baru, mereka tak lebih hanya menjadi penyandang dana bagi Yesus selama pelayanan-Nya di bumi. Padahal kita juga tidak mendengar tentang semua murid selain yang dua orang saja di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru selanjutnya. Tetapi kita mengetahui dari tradisi yang kuat bahwa Tomas pergi ke India sebagai penginjil dan penanam-gereja. Kita berasumsi mereka semua (kecuali Yudas yang bunuh diri) menyebar ke mana-mana, membawa Injil Yesus sampai ujung-ujung bumi yang dikenal.
Kitab Kisah Para Rasul pada awalnya menceritakan tentang pekerjaan Petrus sebagai pemimpin gereja mula-mula di Yerusalem (dengan tongkat estafet yang tak lama kemudian diserahkan kepada Yakobus, saudara Yesus, bukan Yakobus murid Yesus). Lalu cerita berlanjut dengan rasul Paulus, yang kadang bekerja bersama Barnabas, dan kadang bersama Silas. Dan di sinilah kita menemukan cerita-cerita menarik tentang perempuan-perempuan dari berbagai profesi yang menjadi pengikut Yesus dan pekerja yang sangat rajin di gereja-gereja baru yang tersebar di sekitar Kekaisaran Romawi.
Inilah kisah nyata dari lima perempuan yang bekerja itu, yang profesi awalnya sangat beragam, tetapi berakhir dengan kedudukan menakjubkan yang sama. Sumber otoritas kita atas kisah-kisah mereka adalah rasul Paulus. Kita menemukan kisah-kisah mereka di dua bagian Alkitab: di dalam tulisan Lukas tentang gereja-gereja Kristen yang mula-mula, khususnya ketika ia mengadakan perjalanan bersama rasul Paulus, dan kemudian di dalam surat-surat rasul itu.
Lidia, Perempuan Pedagang (Kisah Para Rasul 16)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKisah yang pertama adalah tentang seorang perempuan dari kota Tiatira di barat laut Turki, yang terkenal dengan serikat pengrajinnya, khususnya serikat para profesional yang banyak memahami tentang produksi dan penjualan pewarna kain ungu yang mahal. Lidia adalah anggota dari serikat itu. Kita tidak tahu bagaimana seorang perempuan bisa menjadi salah satu dari para profesional itu, tetapi ketika kita pertama kali bertemu dengannya, ia telah menyeberang ke Yunani timur laut dan mendirikan pusat bisnisnya di kota Roma yang disebut Filipi. Sebagai penjual pewarna kain ungu yang langka dan mahal, Lidia tentu saja memiliki cukup kekayaan untuk membeli bisnis waralaba itu.
Kita tahu dari Kisah Para Rasul 16 bahwa, meskipun ia dilahirkan dan dibesarkan untuk percaya kepada dewa-dewi kota Tiatira, Lidia tidak beribadah di kuil dewa-dewi yang dihormati di kota kelahirannya itu. Ia sudah berbalik menjadi "orang yang takut akan Allah." Ia telah mengambil langkah besar dengan meninggalkan didikan agamanya dan menyelidiki pernyataan-pernyataan orang Yahudi tentang Allah yang esa dan ingin mengetahui lebih dalam. (Banyak orang yang takut akan Allah menjadi penganut agama Yahudi). Kita pertama kali bertemu Lidia di tepi sungai Filipi bersama sekelompok perempuan yang berkumpul untuk berdoa. Di sanalah Paulus dan Silas bertemu dengannya dan berbicara padanya tentang Yesus, dan di sanalah ia menjadi orang pertama yang bertobat dan menjadi Kristen di Yunani.
Karena yakin dengan kebenaran Injil Kristen dan percaya bahwa kabar baik itu untuk semua orang, ia memberi kesaksian kepada seisi rumahnya dan mereka semua lalu dibaptis bersamanya. Para rasul tinggal selama beberapa minggu untuk mengajari Lidia dan seisi rumahnya tentang hal-hal yang perlu dilakukan sebagai pengikut-baru Yesus. Di sana, di rumahnya yang besar, Lidia lalu memulai gereja Kristen pertama di Yunani, dan menyambut orang-orang percaya baru lainnya dalam persekutuan iman.
Lidia berhasil dalam pekerjaan profesionalnya maupun pekerjaan sosial atau spiritualnya dalam merawat gereja Yunani yang baru lahir. Kemungkinan besar pengetahuan dan koneksi yang dimilikinya sebagai pedagang mendukungnya dalam pekerjaan gerejanya, dan sebaliknya. Pada diri Lidia, kita melihat seorang perempuan yang keterampilan dan minatnya tidak dibatasi hanya pada satu bidang tertentu saja. Sesungguhnya kita melihat bahwa posisinya dalam perdagangan maupun pengetahuannya tentang iman membuatnya memiliki kemampuan yang unik untuk merintis gereja di Yunani.
Damaris, Perempuan Intelektual (Kisah Para Rasul 17:17)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKetika rasul Paulus melanjutkan pelayanannya di berbagai kota-kota Yunani, sampailah ia pada suatu hari di kota Atena yang unik, yang terkenal dengan universitasnya dan suasana intelektualnya. Di Kisah Para Rasul 17 kita melihat ia berkeliling menjelajahi kota itu dan merasa heran dengan semua berhala dan kuil serta nama dewa dewi yang tak ada habisnya. Kita membaca di Kisah Para Rasul 17:17 bahwa "ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah (di rumah ibadat) dan di pasar setiap hari (ia berbicara) dengan orang-orang yang dijumpainya di situ. Juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa berdebat dengan dia." Dari situ ia menerima undangan untuk berbicara di depan Areopagus, dewan terkemuka di Atena. Ketika ia berbicara tentang Yesus, beberapa orang mengejeknya, tetapi beberapa yang lain percaya. Di antara orang yang percaya itu ada seorang perempuan bernama Damaris.
Di dalam budaya kota itu, kaum perempuan hidupnya terkungkung. Tetapi ada satu kelompok perempuan yang dikecualikan. Mereka adalah wanita-wanita penghibur intelek, para pelacur kelas atas yang terikat dengan pria-pria kaya di kota itu. Perempuan-perempuan ini mampu membuat diri mereka sejajar secara intelektual, dan terlibat dalam perdebatan-perdebatan mendalam tentang topik-topik filsafat yang rumit. Alkitab tidak secara spesifik mengatakan bahwa Damaris seorang wanita penghibur, tetapi fakta bahwa ia dibolehkan hadir dalam pertemuan Paulus dengan para pemimpin kota memberi indikasi kuat tentang kemungkinan itu. Kebebasannya untuk berada di ruang publik serta kemampuannya untuk mengikuti percakapan Paulus dengan para pemimpin terkemuka membuatnya dapat mengenal dan menerima Injil yang diajarkan Paulus. Ia menjadi salah satu petobat baru dalam Kekristenan di kota Atena.
Pakar Perjanjian Baru Richard Bauckham berkata bahwa setiap kali kita menemukan nama seseorang di kitab Kisah Para Rasul atau surat-surat rasul Paulus, nama itu ada di sana karena orang itu telah dikenal luas di lingkungan gereja-gereja Kristen sebagai pengajar dan pemimpin. Karena kita menemukan nama Damaris, kita juga tahu bahwa ia dikenal dalam pelayanan di gereja-gereja itu. Sebagai seorang intelektual, ia memiliki kemampuan untuk menjangkau kalangan intelektual di Atena.
Jika Damaris memulai kariernya sebagai “teman kencan” kalangan atas dan mengakhirinya sebagai penginjil, kita mungkin bertanya-tanya bagaimana dampak perubahan ini terhadap penghasilan, pengaruh, atau kondisi kerjanya. Jawabannya mungkin sudah lenyap ditelan sejarah. Tetapi paling tidak, kita dapat berkata bahwa Allah bisa memimpin seorang perempuan mengubah kariernya, dan Dia sungguh memercayakan pekerjaan penting kepada perempuan-perempuan dari berbagai latar belakang.
Febe, Perempuan Pedagang (Roma 16:1-2)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiRasul Paulus lalu meninggalkan Atena dan pergi ke Korintus. Kota ini sangat berbeda dari Atena. Terletak di wilayah sempit yang menghubungkan semenanjung selatan yang luas dengan tanah daratan Yunani, kota Korintus memiliki dua pelabuhan: satu di pantai barat Laut Adriatik dan satu di pantai timur Teluk Saronik. Sebagai kota Romawi (seperti Filipi) di Yunani, kota ini merupakan kota perdagangan yang ramai dengan beragam populasi etnis dan berbagai kuil untuk setiap dewa atau dewi yang dikenal (termasuk dewa-dewa orang Mesir). Sewaktu di Korintus, Paulus tinggal selama delapan belas bulan untuk mengajar dan memulai gereja-gereja Kristen baru.
Di sanalah kita bertemu Febe. Saat tinggal di Korintus, Paulus telah menulis surat yang panjang kepada orang-orang Kristen di kota Roma, dan ia membutuhkan seseorang untuk mengantarkan surat itu kepada mereka. Tampaknya Febe yang sering bepergian untuk keperluan bisnis menawarkan diri untuk membawa surat itu dalam perjalanannya ke Roma berikutnya. Jadi, kita bertemu Febe di dalam surat Paulus yang menjelaskan tentang dirinya kepada orang-orang Kristen di Roma:
Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari seiman kita yang adalah pelayan jemaat (diaken) di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri. (Roma 16:1-2)
Perhatikanlah dua kata yang dipakai Paulus untuk menggambarkan Febe. Pertama-tama, di gereja ia adalah pelayan jemaat atau diaken, istilah yang digunakan Paulus hanya untuk lima orang dalam surat-suratnya: dirinya sendiri, Tikhikus, Epafras, Timotius, dan Febe. Apapun yang dilakukan Paulus dan ketiga laki-laki itu sebagai diaken, kita dapat berasumsi bahwa itulah juga yang dilakukan Febe di gereja-gereja.
Tetapi Paulus juga memakai kata yang kedua untuk menggambarkan Febe. Terjemahan Alkitab kita menyebutnya sebagai pemberi bantuan atau “benefactor” (penyandang dana, donatur- Pen), tetapi kata Yunani yang dipakai Paulus dalam suratnya adalah prostatis. Menurut ahli kosakata Thayer, arti mula-mula kata itu adalah “perempuan yang ditempatkan di atas orang lain.” Kata Yunani itu adalah bentuk feminin dari kata maskulin prostates, kata yang biasanya diterjemahkan sebagai pemimpin – yang merujuk pada “orang yang berkotbah, mengajar dan memimpin di Meja Tuhan.” Jelaslah bahwa Febe, perempuan pedagang itu bukan sekadar seorang donatur. Ia adalah seorang pemimpin gereja di Kengkrea.
Seperti perempuan pedagang Lidia, Febe memakai kekayaan dan pengaruhnya untuk mengembangkan gereja Kristen. Ia bahkan memanfaatkan perjalanan bisnisnya untuk menyebarkan Injil. Ia bukan sekadar pengantar pesan. Ia adalah pemimpin gereja itu sendiri. Saat ini, perempuan sering tidak diberi tanggung jawab yang setara dalam bisnis maupun di gereja. Tetapi, ini bukanlah preseden yang ditetapkan gereja-gereja Kristen yang mula-mula.
Priskila, Pembuat Tenda (Kisah Para Rasul 18:2)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiDi Korintus, Paulus membutuhkan sarana untuk menafkahi dirinya sendiri, dan bersyukur, ia punya usaha: ia membuat tenda kulit untuk pemerintah Romawi dan pihak-pihak swasta yang memesannya. Sewaktu di Korintus, ia bekerja sama dengan pasangan suami istri yang juga pembuat tenda kulit: Priskila dan Akwila. (Pemerintah Romawi mewajibkan tenda kulit untuk pasukan militernya yang bermarkas di pangkalan-pangkalan seluruh kekaisaran. Tenda kanvas tidak cocok, terutama untuk iklim-iklim di daerah utara. Selain itu, Paulus dapat membawa beberapa peralatan untuk mengerjakan bahan dari kulit, tetapi ia tidak akan dapat membawa peralatan yang diperlukan untuk mengerjakan bahan dari kanvas. Kanvas biasanya digunakan untuk layar perahu).
Meskipun para ahli percaya bahwa Priskila adalah orang non-Yahudi (dan dari kalangan bangsawan Romawi), tetapi ia telah menikah dengan Akwila, seorang Yahudi dari Pontus, provinsi Turki. Mereka tinggal di Roma dan menjadi bagian dari orang-orang yang bekerja bersama rasul Petrus dalam penginjilannya di sana. Namun, kaisar Romawi (sekitar tahun 51-52 M) memerintahkan agar semua orang Yahudi diusir dari Roma. Korintus adalah kota besar terdekat di luar Italia, jadi mereka lalu menetap di sana sebagai pengungsi. Di sana mereka terhubung dengan rasul Paulus.
Pasangan pembuat tenda ini menjadi begitu berharga bagi rasul Paulus sampai-sampai ketika ia meninggalkan Korintus untuk memulai pekerjaan misionaris di Efesus, ia membawa Priskila dan Akwila juga bersamanya. Pasangan ini disebutkan enam kali di Perjanjian Baru, dan di dalam semuanya, kecuali satu, nama Priskila disebutkan lebih dulu. Ini bukan sekadar masalah kesopanan di abad pertama; ini menunjukkan keunggulan Priskila dalam pekerjaan mereka bersama. Pada akhirnya, ketika perintah tentang pengusiran orang Yahudi dari Roma dicabut, mereka kembali ke rumah mereka di ibukota dan lagi-lagi aktif dalam merintis gereja-gereja baru di sana.
Priskila sering dianggap sebagai pembuat tenda, tetapi ia jelas melakukan banyak hal yang lain juga selama hidupnya: wanita pengusaha, pengungsi, penginjil keliling, dan penanam gereja. Meskipun kita sering mendengar cerita tentang pria-pria yang kompleks (dengan berbagai kepribadian dan peran) di dalam Alkitab, pada diri Priskila kita melihat bahwa perempuan juga memiliki banyak talenta, beragam aspek, dan mampu bekerja di berbagai lingkungan yang berbeda.
Yunia, Orang-dalam Istana dari Keluarga Yahudi dan Donatur (Roma 16:7)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSelama bertahun-tahun, para pakar Alkitab bingung dengan referensi Paulus di Roma 16:7: "Salam kepada Andronikus dan Yunia, saudara-saudara sebangsaku, yang pernah dipenjarakan bersama aku. Mereka orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan telah hidup dalam Kristus sebelum aku." Siapakah orang-orang ini? Paulus berkata jelas bahwa mereka adalah saudara sebangsanya, mereka pernah dipenjara bersamanya, mereka adalah rasul-rasul terpandang, dan mereka telah menjadi orang percaya sebelum dirinya. Siapakah orang yang memenuhi kriteria-kriteria itu?
Kriteria itu menunjuk pada seorang Yahudi, yang telah mengenal Yesus saat Dia melayani di bumi (persyaratan untuk jabatan rasul), dan telah menjadi pengikut Yesus sebelum Paulus sendiri. Sekarang mereka tinggal di Roma.
Dalam bukunya Gospel Women, pakar Alkitab terkemuka Richard Bauckham menguraikan simpul misteri ini untuk kita, dan memulainya dengan salah satu perempuan yang disembuhkan Yesus, yang disebutkan di Lukas 8:3. Ia adalah Yohana, istri Khuza, manajer perusahaan yang bekerja untuk Raja Herodes Antipas. Ternyata nama Yohana adalah padanan kata Ibrani untuk nama Romawi Yunia. Mungkinkah Yohana di dalam kitab Injil adalah orang yang sama dengan rasul Yunia? Perhatikanlah beberapa petunjuk yang bisa mengarah kepada kesimpulan itu.
Nama Khuza bukanlah nama orang Yahudi, dan ia diduga orang Nabatea – bangsa Arab kuno (Raja Herodes Antipas memiliki hubungan lain dengan keluarga kerajaan Nabatea). Namun, sebagai menteri keuangan raja yang tinggal di istana bergaya Romawi baru di kota kerajaan Tiberias, ia membutuhkan seorang istri Yahudi yang terhubung dengan keluarga Yahudi yang kaya. Muncullah Yohana muda (mungkin ia baru saja memasuki masa pubertas ketika menikah dengan pria dewasa yang usianya jauh lebih tua, Khuza). Meskipun raja Herodes Antipas memiliki darah Yahudi, kekuasaannya bergantung pada pemerintahan Romawi, sehingga kehidupan istana di Tiberias mengikuti kebiasaan-kebiasaan di kerajaan Romawi. Yohana kemungkinan besar diberi nama Romawi (Yunia) dan dibentuk dengan cara bertindak dan berpikir orang Romawi.
Tetapi Yohana yang kita temukan pertama kali di Alkitab bukan sebagai bagian dari keluarga kerajaan, tetapi sebagai seorang perempuan yang membutuhkan penyembuhan. Lukas berkata bahwa setelah Yesus menyembuhkannya, ia menjadi bagian dari kelompok perempuan-perempuan yang melakukan perjalanan untuk mengurus keperluan-keperluan fisik Juru Selamat. Intinya, ia menjadi salah satu donatur-Nya, yang menyediakan dana untuk mendukung kelompok pelayanan Yesus.
Yang tidak disebutkan dalam Alkitab adalah apakah Khuza sudah meninggal dan Yohana menjadi janda, tetapi para ahli menduga kemungkinan besar memang demikian (mengingat jauhnya perbedaan usia mereka). Alkitab juga tidak mengatakan bahwa dalam perjalanan bersama rombongan Yesus, Yohana akhirnya menikah lagi dan menjadi istri Andreas, salah seorang murid Yesus. Namun, jika ini benar terjadi, maka hal itu akan menjawab semua petunjuk yang diberikan dalam salam Paulus kepada pasangan ini di Roma 16:6. Kita tahu bahwa Petrus pertama-tama membawa Injil ke Roma, dan ia membawa serta saudaranya, sesama murid Yesus, yang bernama Andreas. Jadi, ketika surat Paulus kepada jemaat di Roma dibacakan kepada orang-orang Kristen yang berkumpul itu, ia menyapa pasangan rasul ini dengan nama Romawi mereka – Andronikus dan Yunia.
Paulus tidak mengatakan bahwa di Palestina mereka adalah Andreas dan Yohana, tetapi semua petunjuknya cocok dengan kemungkinan itu.
Memastikan identitas Yunia membuat kita melakukan semacam pekerjaan detektif yang menarik. Namun sayangnya kita sering harus bersusah payah untuk mengungkap pekerjaan penting perempuan-perempuan di sepanjang sejarah. Di semua bidang pencapaian manusia, kontribusi perempuan seringkali ditutup-tutupi, atau disematkan sebagai kontribusi laki-laki yang dianggap lebih mungkin menjadi sumber inovasi, kecerdasan, atau kepahlawanan. Perempuan masih harus terus berjuang untuk diakui atas pekerjaan mereka. Namun, Tuhan selalu melihat nilai para pekerja perempuan. Di seluruh Perjanjian Baru, Tuhan memilih perempuan maupun laki-laki untuk memahami pesan-Nya dan untuk bekerja bagi tujuan-tujuan-Nya.
Kesimpulan tentang Pekerja Perempuan di Perjanjian Baru
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiBaik perempuan maupun laki-laki bisa menjadi pemimpin di gereja-gereja abad pertama. Praktik itu merupakan penyimpangan radikal dari pandangan filosofis kafir yang diterima pada masa itu. Oleh karena itu, budaya yang lebih luas mulai menentang para pemimpin perempuan di gereja-gereja. Berabad-abad sebelumnya, Aristoteles telah mengajarkan bahwa perempuan adalah "laki-laki yang gagal" dengan "anatomi yang cacat." Perempuan tidak boleh memimpin. Satu demi satu, Bapa-Bapa Gereja kemudian menyerap pemikiran Aristoteles itu dan mulai menutup pintu kepemimpinan bagi perempuan. Pada abad ketiga, perempuan secara efektif tidak memiliki akses lagi kepada segala jenis kepemimpinan Kristen.
Tetapi hal itu tidak menghapus pandangan abad pertama tentang laki-laki dan perempuan yang bekerja berdampingan dalam pelayanan. Kita memiliki catatannya di Perjanjian Baru, dalam kisah Maria, Maria Magdalena, Lidia, Damaris, Febe, Priskila, dan Yunia. Dari kisah-kisah ini, kita dapat merekonstruksi sejarah tentang perempuan yang bekerja baik di gereja maupun di bursa kerja bagi tujuan-tujuan Allah. Syukur kepada Allah.
