Bootstrap

Kesimpulan tentang Pekerja Perempuan di Perjanjian Baru

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Conclusion

Baik perempuan maupun laki-laki bisa menjadi pemimpin di gereja-gereja abad pertama. Praktik itu merupakan penyimpangan radikal dari pandangan filosofis kafir yang diterima pada masa itu. Oleh karena itu, budaya yang lebih luas mulai menentang para pemimpin perempuan di gereja-gereja. Berabad-abad sebelumnya, Aristoteles telah mengajarkan bahwa perempuan adalah "laki-laki yang gagal" dengan "anatomi yang cacat." Perempuan tidak boleh memimpin. Satu demi satu, Bapa-Bapa Gereja kemudian menyerap pemikiran Aristoteles itu dan mulai menutup pintu kepemimpinan bagi perempuan. Pada abad ketiga, perempuan secara efektif tidak memiliki akses lagi kepada segala jenis kepemimpinan Kristen.

Tetapi hal itu tidak menghapus pandangan abad pertama tentang laki-laki dan perempuan yang bekerja berdampingan dalam pelayanan. Kita memiliki catatannya di Perjanjian Baru, dalam kisah Maria, Maria Magdalena, Lidia, Damaris, Febe, Priskila, dan Yunia. Dari kisah-kisah ini, kita dapat merekonstruksi sejarah tentang perempuan yang bekerja baik di gereja maupun di bursa kerja bagi tujuan-tujuan Allah. Syukur kepada Allah.