Pekerja Perempuan di Perjanjian Lama
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Sejak dahulu kala, laki-laki dan perempuan telah bekerja sama dalam berbagai bidang usaha yang mereka geluti. Di wilayah-wilayah koloni Amerika zaman dahulu, perempuan melakukan berbagai tugas, mulai dari menjadi pengacara sampai mengurus pemakaman, dari pandai besi sampai pembuat senjata, dari sipir penjara sampai pembuat kapal, dari tukang daging sampai penebang kayu. Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa perempuan mengurusi jasa penyeberangan dan mengoperasikan mesin penggergajian atau penggilingan. Mereka juga membuat kacamata dan mengecat rumah. Segala jenis pekerjaan yang dilakukan laki-laki dilakukan juga, setidaknya sesekali, oleh perempuan. Para istri memiliki pengetahuan yang baik tentang pekerjaan suami mereka, dan seringkali dapat mengambil alih dan menjalankan pekerjaan itu dengan baik ketika suaminya meninggal.
Namun, seiring mencuatnya Revolusi Industri pada awal tahun 1800-an, “pekerjaan laki-laki” dan “pekerjaan perempuan” menjadi semakin dipisahkan sampai Doktrin tentang Bidang-bidang Tersendiri (Doctrine of Separate Spheres) [1] tertanam kuat di benak masyarakat. Laki-laki dan perempuan dianggap sangat berbeda satu dengan yang lain, sehingga tidak mungkin ada tumpang tindih dalam keterampilan atau pekerjaan mereka. Segala pemikiran tentang laki-laki dan perempuan yang bekerja berdampingan menjadi tidak mungkin.
Tetapi itu bukanlah rancangan Allah yang mula-mula. Di Kejadian 1:26-28 kita mendengar Allah berkata:
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, atas ternak dan seluruh bumi, serta atas segala binatang yang melata di bumi."
Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya,
menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia;
laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Allah memberkati mereka dan berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyaklah. Penuhilah dan taklukkanlah bumi. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan atas segala binatang melata di bumi."
Perhatikanlah bahwa Allah memberikan dua tugas kepada laki-laki maupun perempuan: untuk membangun keluarga (memenuhi bumi) dan untuk menaklukkan bumi, atau lebih tepatnya, untuk menjadi penatalayan atau pengurus atas ciptaan Allah. Orang sering berasumsi bahwa perintah pertama tentang mengurus keluarga hanya diberikan kepada perempuan, sedangkan perintah kedua tentang mengelola bumi hanya diberikan kepada laki-laki. Tetapi itu salah baca teks. Allah memberikan kedua perintah itu kepada laki-laki dan perempuan. Ini menunjukkan bahwa laki-laki harus memiliki tanggung jawab dalam keluarga maupun di tempat kerja, dan perempuan harus memiliki tanggung jawab di dunia yang lebih luas maupun di rumah.
Dengan membaca Kejadian 2:18, kita akan mendapat gambaran yang lebih jelas tentang perintah awal ini. Tuhan Allah berfirman, "Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan baginya penolong yang sepadan dengan dia." Sebelumnya di Kejadian 2, laki-laki ditempatkan di taman yang indah dengan diberi tugas untuk mengelola dan merawatnya. Di Kejadian 2:18, Allah menciptakan perempuan untuk bekerja bersama laki-laki dalam tugas yang sama.
Allah Menciptakan Perempuan Sebagai Ezer-Penolong (Kejadian 2:18)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiApa Arti Ezer dalam Alkitab?
Banyak opini tentang perempuan yang bekerja terbentuk dari kata yang tertulis di Kejadian 2:18: "penolong." Karena itu, kata ini layak mendapat perhatian besar. Apakah perempuan hanya asisten yang menolong laki-laki? Pada zaman kita, kita memakai kata "penolong" dalam pengertian seperti asisten tukang ledeng yang memberikan kunci pas kepada atasannya untuk melakukan pekerjaannya. Tetapi itu jauh dari arti kata Ibrani yang digunakan untuk menggambarkan perempuan pertama.
Apa Arti Nama Ezer dalam Bahasa Ibrani?
Allah menciptakan perempuan sebagai ezer. Kata ezer muncul dua puluh satu kali di Perjanjian Lama. Dua kali, kata ini merujuk pada perempuan pertama, Hawa, di Kejadian 2. Tiga kali, kata itu merujuk pada bangsa-bangsa yang kuat, yang dimintai tolong bangsa Israel ketika mereka dikepung. Dan di dalam yang enam belas kali lainnya, kata ini merujuk pada Allah sebagai penolong kita. Dialah yang datang menolong kita dalam ketidakberdayaan kita. Itulah arti kata ezer. Karena Allah tidak lebih rendah dari ciptaan-Nya, maka segala anggapan bahwa ezer-penolong lebih rendah tidak dapat dipertahankan. Dalam bukunya Man and Woman: One in Christ, Philip Payne mengatakan seperti ini: "Kata benda yang digunakan di sini [ezer] di seluruh Perjanjian Lama tidak menunjukkan 'penolong' sebagai 'hamba/pelayan', tetapi penolong, juru selamat, penyelamat, pelindung seperti pada 'Tuhan itu Penolong kita.' Tidak ada kejadian lain di Perjanjian Lama yang merujuk pada sosok yang lebih rendah, tetapi selalu pada yang lebih tinggi atau setara... 'penolong' mengungkapkan bahwa perempuan adalah penopang/kekuatan yang menolong atau menyelamatkan laki-laki."
Meskipun banyak orang Kristen yang saleh melihat fungsi perempuan sebagai bawahan laki-laki, kata ezer dalam bahasa Ibrani asli menjungkirbalikkan pemikiran itu. Perempuan tidak diciptakan untuk melayani laki-laki, tetapi untuk melayani bersama laki-laki. Tanpa perempuan, laki-laki hanya separuh cerita. Perempuan bukan sekadar tambahan atau pelengkap opsional bagi laki-laki mandiri yang mampu mencukupi diri sendiri. Allah berkata di Kejadian 2:18 bahwa tanpa perempuan, kondisi laki-laki "tidak baik." Maksud Allah dengan menciptakan perempuan bagi laki-laki adalah agar keduanya menjadi mitra dalam banyak tugas yang dihadapi dalam mengurusi ciptaan Tuhan.
Kejadian 3 dan Lahirnya Dosa
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSementara Kejadian 1 dan 2 menunjukkan rancangan Allah pada manusia, Kejadian 3 menunjukkan pilihan manusia (laki-laki dan perempuan) untuk menjadi apa mereka. Anda mungkin tahu cerita tentang pohon terlarang yang disebut Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat, dan tentang ular yang membujuk perempuan bahwa memakan buah yang dilarang Allah justru akan membuatnya menjadi seperti Allah, mengetahui segalanya, yang baik maupun yang jahat. Perempuan itu terbujuk, dan laki-laki yang ada di sampingnya mengikuti jejaknya. Pada saat mereka berdua memakan buah itu, segalanya berubah bagi mereka berdua. Pekerjaan laki-laki tetap mengerjakan tanah, tetapi sekarang ia harus berjuang dengan kondisi-kondisi yang sulit. Dan bagian hukuman perempuan adalah ia akan berahi pada laki-laki, tetapi laki-laki akan menguasainya. Di antara konsekuensi-konsekuensi akibat Kejatuhan, lahirlah patriarki.
Patriarki berarti dominasi laki-laki terhadap perempuan. Kata itu menunjukkan bahwa masyarakat telah terstruktur sejak permulaan sejarah manusia. Di Kejadian 4 kita melihat bahwa poligami juga telah ada sejak awal, ketika Lamekh menyombongkan diri kepada kedua istrinya tentang kemampuannya mengalahkan musuh-musuhnya. Setelah Adam dan Hawa meninggalkan Taman Eden, para istri menjadi properti yang dapat dikoleksi. Akumulasi kecabulan dan kekerasan itu berarti, "TUHAN melihat betapa besarnya kejahatan manusia di bumi dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata." (Kejadian 6:5).
Manusia berdosa memperlakukan orang lain dengan tidak adil. Ini terjadi sejak permulaan zaman sampai masa kini. Baik laki-laki maupun perempuan bisa mengalami perlakuan tidak adil di tempat kerja dan merasa tak berdaya untuk mengubah situasi mereka. Tetapi Allah mengetahui kejahatan yang ada di hati manusia itu. Dia secara rutin memakai sarana manusia untuk menantang Si Jahat dan para pelaku kejahatan.
Sifra dan Pua: Dua Bidan Ezer Yang Menentang Raja (Keluaran 1:8-22)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSalah satu konsekuensi dosa pada perempuan adalah rasa sakit yang hebat pada saat melahirkan (Kejadian 3:16). Maka muncullah para bidan. Bidan telah menjadi bagian pengalaman hidup manusia sepanjang kita memiliki catatan sejarah. [1] Di Keluaran 1, pekerjaan yang khususnya untuk perempuan ini menjadi isu utama dalam konteks politik. Tempatnya di Mesir saat orang Ibrani diperbudak dengan kejam, dipaksa membangun kota-kota Pitom dan Raamses dengan bahan bangunan yang buruk. "Tetapi semakin ditindas, mereka semakin bertambah banyak dan berkembang pesat, sehingga orang Mesir merasa takut kepada orang Israel itu." (Keluaran 1:12).
(Raja) Firaun memerintahkan para bidan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang dilahirkan, tetapi para bidan itu "takut akan Allah" dan membiarkan anak-anak lelaki itu hidup. Jonathan Magonet menyebut kedua bidan ini sebagai "contoh perlawanan paling awal, dan dalam beberapa hal paling kuat, terhadap rezim jahat." Diperintahkan untuk melakukan genosida, kedua perempuan pemberani ini mempertaruhkan nyawa mereka dengan tidak mematuhi Firaun. Mereka adalah perempuan ezer dalam arti kata itu yang sesungguhnya, yang menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan mereka. Bersedia melawan kejahatan dengan berani, para perempuan ini menggunakan keahlian profesional mereka untuk membantu orang lain pada saat krisis.
Terkadang perempuan ezer dipanggil untuk melawan kejahatan yang kuat, atau membantu orang-orang yang lebih lemah, atau keduanya. Salah satu bayi Ibrani yang diselamatkan para bidan ini bertumbuh dewasa menjadi orang yang melawan Firaun dan membebaskan orang Ibrani dari perbudakan di Mesir. Kita menghormati Musa sebagai salah satu pahlawan besar dalam sejarah orang Ibrani, tetapi ia bisa tetap hidup karena ada dua bidan, Sifra dan Pua, yang mempertaruhkan nyawa mereka ketika mereka menentang perintah raja.
Terkadang perempuan (dan laki-laki) di tempat kerja saat ini mendapati diri mereka menghadapi perintah atasan yang secara etika tidak dapat mereka laksanakan. Memahami kehendak Allah dan melakukannya dalam situasi semacam itu dapat membawa risiko pada pekerjaan mereka. Namun, sama seperti Allah menghormati para bidan Ibrani itu, Allah juga menghormati orang-orang yang saat ini berdiri dan berjuang untuk yang benar di tempat kerja.
Rahab: Situasi Yang Tidak Biasa Membutuhkan Peran Ezer (Yosua 2)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiTerkadang perempuan-perempuan hebat dipanggil untuk tampil sebagai ezer-ezer dalam situasi-situasi yang tidak biasa. Rahab adalah salah satu contohnya. Berikut ini latar belakang kisahnya. Allah sudah memakai Musa untuk membebaskan orang Ibrani dari perbudakan di Mesir, dan Musa telah memimpin rombongan manusia yang sangat besar itu selama empat puluh tahun di padang gurun, sebelum akhirnya mereka tiba di sebelah timur Kanaan, siap untuk menaklukkan Tanah Perjanjian. Pada saat itu Musa sudah wafat dan Yosua menggantikannya memimpin sekitar tiga juta orang, yang berkemah di sisi timur Sungai Yordan, di seberang wilayah tujuan mereka.
Saat bangsa Israel (orang-orang Ibrani) siap untuk berperang, sasaran pertama mereka adalah kota penting Yerikho yang berkubu. Sebagai komandan yang bijaksana, Yosua mengirim dua orang mata-mata menyeberangi sungai untuk mencari tahu segala sesuatu yang bisa mereka ketahui tentang kota itu. Maka muncullah perempuan ezer bernama Rahab. Sebagian besar terjemahan Alkitab mengatakan ia seorang pelacur, meskipun ada juga yang berpendapat bahwa ia hanya seorang pemilik penginapan. Terlepas dari apa pun profesinya, ia memiliki rumah yang membentang di sepanjang tembok ganda yang mengelilingi kota Yerikho, lokasi yang sangat bagus untuk kedua mata-mata itu dapat melakukan tugas mereka. Yosua 2 menceritakan pengalaman mereka di sana.
Raja Yerikho mendengar tentang mata-mata itu dan mengirim sepasukan tentara untuk menangkap mereka. Namun Rahab menyembunyikan mata-mata itu di atap rumahnya yang datar di bawah tumpukan rami (bahan linen) yang dijemur di sana. Ia berkata kepada para tentara itu bahwa orang-orang itu memang datang ke sana, tetapi mereka telah pergi, dan jika para tentara itu mau bergegas, mereka akan dapat mengejar mata-mata itu di jalan belakang sungai. Ketika keadaan sudah aman, Rahab naik ke atap rumahnya dan melakukan percakapan menarik dengan kedua mata-mata Israel itu.
Bagaimana mungkin seorang pelacur Kanaan kafir bisa berbohong kepada para penguasa dan tetap menjadi perempuan ezer? Jawabannya terletak pada percakapannya dengan kedua mata-mata itu, yang di dalamnya ia berkata:
"Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kami dilanda ketakutan terhadap kamu, bahkan semua penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu. Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu keluar dari Mesir, dan juga apa yang kamu lakukan terhadap Sihon dan Og, kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yang telah kamu tumpas. Ketika kami mendengar itu, ciutlah hati kami dan patahlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah. Sekarang, karena aku telah menunjukkan kasih setia terhadapmu, bersumpahlah demi TUHAN bahwa kamu juga akan menunjukkan kasih setia terhadap kaum keluargaku.” (Yosua 2:8-12).
Rahab mulai percaya bahwa Allah bangsa Israel adalah "Allah di surga di atas dan di bumi di bawah." Dengan berbalik meninggalkan dewa-dewi Kanaan dan kesetiaan pada bangsanya sendiri, ia melindungi mata-mata itu dan menyelamatkan nyawa mereka. Ia telah menjadi orang yang percaya Tuhan dan bersedia mempertaruhkan nyawanya untuk membantu tergenapinya tujuan-tujuan Tuhan. Ia memakai kekuatan ezer-nya untuk menopang kesetiaan barunya. Dengan membiarkan mata-mata itu meluncur turun melalui jendela tembok luar dengan tali yang kuat, ia membuat mereka dapat pergi dengan selamat. Anda dapat membaca kisah pembebasan Allah yang luar biasa atas kota Yerikho ini di Yosua 6. Pada akhirnya Rahab dan seluruh keluarganya bergabung dengan umat Allah. Apa pun yang telah ia lakukan di masa lalu menjadi tidak relevan ketika ia menyerahkan nasibnya kepada Allah Israel. Allah tidak meminta pertanggungjawaban atas masa lalunya, tetapi memberinya awal yang baru. Dan ini bukan terakhir kalinya kita mendengar tentang Rahab di Alkitab. Di dalam Matius 1, kita menemukan namanya di antara para nenek moyang Yesus Kristus.
Perempuan ezer ini berdiri di hadapan kita, menyaksikan berbagai kemungkinan di dalam diri setiap kita. Siapa pun Anda, apa pun yang mungkin menghantui dari masa lalu Anda, ketahuilah bahwa Allah tidak melihat hal itu. Dia melihat pada bisa menjadi apa Anda oleh karena iman. Allah adalah Allah atas segala permulaan yang baru.
Debora: Perempuan Ezer Yang Diperlengkapi untuk Memimpin (Hakim-hakim 4-5)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiTerkadang Allah memanggil seorang perempuan ke jenjang kepemimpinan tertinggi pada saat krisis. Ketika orang Israel tinggal di Tanah Perjanjian, mereka sering menyimpang dari iman kepada Tuhan. Pengorbanan manusia, pelacuran ritual, dan praktik-praktik lainnya sering menggantikan penyembahan kepada Tuhan Allah. Ketika hal ini terjadi, Allah akan mengizinkan bangsa-bangsa di sekitarnya untuk menaklukkan Israel. Ketika mereka berseru kepada Allah minta dilepaskan, Allah akan membangkitkan seorang pemimpin yang mengatur serangkaian operasi militer untuk mengusir si penindas. Kita bertemu Debora pada saat seperti itu, ketika suku-suku Israel utara ditindas dengan kejam oleh Raja Yabin dan pasukan militernya yang kuat.
Kita pertama kali bertemu Debora dalam pekerjaannya sehari-hari sebagai hakim atas semua orang di negeri itu. Alkitab berkata bahwa Debora adalah seorang nabi dan juga hakim, seorang perempuan yang bijaksana: "Ia biasa duduk di bawah pohon kurma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim; dan orang Israel menghadap dia untuk mencari keadilan" (Hakim-Hakim 4:4-5). Tetapi, ketika mendengar tentang penindasan terhadap dua suku Israel di utara, nabi Debora mengambil peran kepemimpinan yang berbeda. Dalam kehidupannya yang aman tenteram di daerah perbukitan, ia bisa saja mengabaikan penderitaan orang Israel di dataran utara yang ditaklukkan raja Yabin. Namun, seorang perempuan ezer yang memiliki kemampuan untuk menolong orang yang tak berdaya akan bertindak.
Ia memerintahkan Barak (seorang laki-laki dari daerah utara) untuk mengerahkan pasukan 10.000 orang bersenjata yang akan dipakai Allah mengalahkan tentara Raja Yabin yang kuat. Tentara Yabin memiliki sembilan ratus kereta perang besi sementara bangsa Israel tidak memiliki satu pun; pasukan Israel jelas kalah kuat. Allah telah memberikan rencana pertempuran kepada nabi Debora, tetapi Barak yang penakut meminta dengan sangat agar Debora mendampinginya selama pertempuran, sebab kalau tidak, ia tidak mau menerima tugas itu. Sebagian orang Kristen beranggapan, laki-laki tidak boleh bekerja di bawah pimpinan perempuan, tetapi di sini Barak dan Debora menjadi tim yang sukses karena Debora yang menjadi pemimpinnya.
Pasukan Israel dengan kekuatan seadanya, yang berkemah di lereng Gunung Tabor, memandang ke bawah ke arah semua kereta perang besi dengan para pemanah dan pendekar pedangnya yang sangat terlatih, dan menyadari bahwa pertempuran semacam ini tidak ada harapan. Tetapi pada saat yang tepat, Debora yang berada di samping Barak berteriak, "Bangunlah! Tuhan sungguh ada di depanmu!" (Hakim-Hakim 4:14). Dan ketika pasukan Barak bergerak menuruni lereng gunung, Allah membuat tentara musuh itu panik. Ahli sejarah Josephus mengatakan bahwa badai butiran es menghantam tentara Yabin tepat di wajah mereka, membutakan para pemanah, pengemudi kereta perang, dan kuda-kuda mereka. Hujan langsung mengubah dataran itu menjadi rawa berlumpur, memerangkap roda-roda kereta perang besi yang berat itu di lumpur. Sungai Kison yang mengalir deras di dekatnya meluap dan menggenangi daratan, menghanyutkan para tentara ke laut dengan airnya yang bergolak. Menyaksikan pembebasan Allah, Debora dan Barak menaikkan puji-pujian mereka kepada Tuhan: "Majulah sekuat tenaga, hai jiwaku!" (Hakim-Hakim 5:21).
Di dalam kitab Hakim-Hakim, Debora adalah pemimpin teladan, yang setara dengan pemimpin-pemimpin terbesar Israel. Tidak ada hakim lain yang juga disebut nabi, yang menunjukkan betapa dekat keserupaan Debora dengan Musa dan Yosua. Sebagai nabi, ia memiliki iman yang tak tergoyahkan kepada Allah, yang memberinya kekuatan untuk memimpin bangsanya. Ia tahu bahwa Tuhanlah yang mengalahkan musuh. Ia hanyalah alat di tangan Tuhan.
Tidak semua laki-laki atau perempuan dipanggil untuk memimpin, tetapi setiap perempuan diciptakan Allah untuk menjadi ezer, untuk berada di samping orang yang tak berdaya tanpa bantuannya. Seperti Debora, keyakinan kita adalah pada Tuhan, bukan pada diri kita sendiri. Kita juga dapat "berjalan maju dengan sekuat tenaga" karena kita melakukannya dengan kekuatan Tuhan Allah kita.
Rut: Menantu Ezer
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiPekerjaan perempuan bermacam-macam bentuknya. Di antara perempuan-perempuan di Perjanjian Lama, sebagian ada yang melayani sebagai bidan, ada juga yang sebagai pelacur atau pemilik penginapan, beberapa sebagai nabi, dan satu sebagai pemimpin bangsa. Tetapi bagi banyak perempuan masa kini, seperti halnya di zaman Alkitab, pekerjaan itu terutama dilakukan di dalam keluarga. Di dalam aspek kehidupan domestik itu, perempuan membuat pilihan-pilihan setiap hari tentang bagaimana mereka akan melaksanakan pekerjaan penting mereka. Terkadang pilihan itu tampak mudah; di lain waktu mereka membutuhkan komitmen yang kuat untuk bertindak melampaui yang diharapkan orang pada umumnya. Itulah yang terjadi pada perempuan Moab yang bernama Rut.
Latar belakangnya: Di kota Israel yang bernama Betlehem, seorang laki-laki bernama Elimelekh mewarisi tanah yang ia rencanakan akan dibagikan kepada putra-putranya, Mahlon dan Kilyon. (Di Timur Dekat Kuno, harta kepemilikan hampir selalu diwariskan dari ayah kepada anak laki-laki, tidak pernah kepada anak perempuan - dengan satu pengecualian). Kehidupan keluarga ini awalnya baik-baik saja sampai kelaparan yang terjadi di Betlehem membuat mereka melarikan diri ke negara tetangga, Moab, yang berlimpah makanan. Di sana, kedua anak laki-laki itu menikahi perempuan Moab. Pada waktunya, ayah dan kedua anak laki-laki itu meninggal, meninggalkan tiga orang janda: Naomi (istri Elimelekh), Rut, dan Orpa. Dalam budaya zaman itu, Rut dan Orpa bisa pulang ke rumah orangtua mereka untuk diatur dalam pelaksanaan pernikahan berikutnya. Hal ini penting karena perempuan tidak dapat bertahan hidup tanpa laki-laki (ayah, suami, atau anak) yang merawatnya.
Ketika Naomi memutuskan untuk pulang ke Betlehem, ia mendesak kedua menantunya untuk kembali ke rumah orangtua mereka dan mencari suami lain. Orpa setuju untuk melakukan hal itu, tetapi Rut menolak. Ia bersikeras dan berkata kepada Naomi: "Jangan desak aku meninggalkan engkau untuk pulang dan tidak mengikutimu! Ke mana pun engkau pergi, ke situlah aku pergi; di mana pun engkau bermalam, di situlah aku bermalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku" (Rut 1:16). Itulah kata-kata seorang perempuan ezer. Ia sebetulnya punya banyak alasan untuk mengikuti jejak Orpa, tetapi ia dengan tegas bersikeras untuk menyertai Naomi. Orang Israel tidak suka dengan orang Moab, dan jika ia pergi ke Betlehem, ia akan menghadapi prasangka sebagai pendatang/orang asing. Tetapi Rut sadar bahwa Naomi tidak punya siapa-siapa lagi untuk merawatnya. Jadi, bersama-sama, Naomi dan Rut melakukan perjalanan menuju masa depan yang tidak diketahui di Betlehem.
Setibanya di sana, pikiran pertama Rut adalah mencari makanan untuk mereka berdua. Panen jelai sedang berlangsung, dan Rut menjadi seorang "pemungut jelai." Sebagai pendatang atau bukan, pekerjaan itu tidak akan mudah baginya. Memungut jelai berarti merangkak dengan tangan dan lutut di antara deretan tanaman gandum, dan memungut biji-bijian yang jatuh atau terlewat disabit para penuai. Ketika pemilik ladang (seorang laki-laki bernama Boas) melihat komitmen Rut dan mendengar ceritanya, ia memutuskan untuk menambahkan hasil pungutannya. Ketika Naomi mendengar tentang kemurahan hati Boas, ia membuat rencana yang berani: Rut, seorang pendatang yang miskin, akhirnya melamar orang Israel yang kaya pemilik perkebunan jelai itu.
Kitab Rut yang pendek di Perjanjian Lama dapat dibaca dalam waktu kurang dari satu jam. Jika Anda membacanya, Anda akan tahu bahwa rencana Naomi berhasil. Ketika Rut meminta Boas untuk "kembangkanlah sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkau seorang yang berhak menebusku" (Rut 3:9), Boas tahu ia sedang mendengar lamaran perkawinan. Jawabannya: "Anakku, diberkatilah engkau oleh Tuhan. Kasih yang kau tunjukkan ini lebih daripada yang sebelumnya, karena engkau tidak berpaling kepada orang muda yang miskin atau kaya. Jadi, jangan takut, Anakku. Semua yang kaukatakan akan kulakukan untukmu, sebab semua orang di kota ini tahu bahwa engkau seorang perempuan yang baik budi."
Kata Ibrani (chayil) yang diterjemahkan di sini sebagai "baik budi" sebenarnya memiliki arti yang jauh lebih kuat di Alkitab. Kata yang umum digunakan itu muncul 246 kali di Perjanjian Lama. Di dalam hampir semuanya, kecuali beberapa saja, kata itu merujuk pada prajurit atau tentara dan biasanya diterjemahkan sebagai "kekuatan" atau "keberanian." Seorang prajurit yang menolak meninggalkan tempat tugasnya saat menghadapi bahaya adalah prajurit chayil. Inilah jenis kekuatan yang ditunjukkan Rut dalam merawat Naomi.
Akan tetapi, ada satu kendala sebelum pernikahan dapat dilangsungkan: seorang kerabat dekat menginginkan tanah Elimelekh, dan Boas tahu orang itu memiliki hak lebih dulu. Tetapi, ketika orang itu tahu bahwa Rut termasuk dalam kesepakatan penebusan itu, ia mundur karena menurut hukum waris yang rumit, anak laki-lakinya melalui Rut bisa mewarisi tanah itu untuk keluarga Naomi, bukan untuk keluarga Elimelekh. Setelah sidang penyelesaian sengketa dilaksanakan secara terbuka, Boas bebas menikahi Rut. Mereka kemudian memiliki seorang anak laki-laki, dan anak itu menjadi ahli waris Naomi.
Kita mungkin tersenyum membaca adat istiadat kuno ini, tetapi hal ini menunjukkan integritas Rut dalam bekerja. Identitas etnisnya telah menjadi hal yang sekunder dibandingkan imannya kepada Allah Naomi, yang pada gilirannya menyoroti kesetiaannya kepada ibu mertuanya dan kesediaannya untuk bekerja keras menghidupi mereka berdua.
Jika Anda membaca kitab Rut sampai akhir, Anda akan tahu bahwa Rut dan Boas menjadi kakek buyut raja terbesar Israel, Daud. Pendatang asing ezer itu kini menjadi bagian dari umat Allah di Betlehem, dan seperti Rahab, perempuan asing ini juga menjadi nenek moyang Yesus Kristus (Matius 1:3). Siapa yang bisa menduga hasil yang luar biasa seperti itu!
Di dunia kerja saat ini, perempuan ezer kadang dipanggil melampaui batas-batas etnis untuk berbuat baik bagi masyarakat. Hal itu tak pernah mudah, tetapi jika Tuhan dihormati, hal itu dapat mendatangkan berkat tak terduga bagi perempuan itu sendiri maupun orang-orang lain yang terdampak sikap tidak peka terhadap perbedaan etnis.
Abigail: Istri-Peternak Ezer Yang Menyelamatkan Seisi Rumahnya dari Bencana (1 Samuel 25)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiMenolak dihalangi oleh batasan patriarki, Abigail menentang peran gender demi mencegah memanasnya pertikaian di tempat kerja menjadi pembunuhan dan genosida.
Berikut adalah latar belakang kisahnya (terdapat di 1 Samuel 25): Peternak yang kaya, Nabal, menggembalakan domba dan lembu sapi di lapangan yang tidak berpagar. Daud, yang sedang dalam pelarian dari kejaran Raja Saul, secara sukarela menugaskan sekelompok besar orang-orangnya untuk melindungi ternak Nabal. Ganjaran yang diharapkan atas pelayanan sepanjang tahun ini adalah persembahan besar berupa makanan pada waktu panen. Tetapi Nabal malah mencemooh pekerjaan Daud dan menolak memberikan apa pun padanya. Sebagai akibatnya, Daud mempersenjatai empat ratus orang-orangnya dan pergi untuk memusnahkan seisi rumah Nabal. Ketika istri Nabal, Abigail, mendengar hal ini, ia merasa harus bertindak, meskipun sebagai seorang perempuan dan sebagai istri Nabal di masyarakat yang patriarkis, tindakan ini di luar batas yang diperbolehkan baginya. Apa yang dapat ia lakukan?
Dengan langsung menyingkirkan struktur patriarki dan mempertaruhkan nyawanya di dalam proses itu, Abigail memuati keledai-keledainya dengan banyak makanan dan pergi menemui Daud dan kelompok pejuangnya. Ia bersujud sampai ke tanah dan menyerahkan persembahannya, dengan harapan Daud akan menerima permohonan maafnya atas nama suaminya. Daud ditenangkan dengan pemberian dan kata-kata bijak Abigail. Ia dan anak buahnya menerima pemberian itu dan kembali ke tempat pesembunyian mereka di gunung.
Tetapi saat kembali ke rumah, Abigail masih menghadapi kemarahan Nabal atas ketidakpatuhannya. Nabal bisa saja tak mau lagi berhubungan dengannya atau yang lebih buruk, ia bisa saja membunuh Abigail. Namun, ketika pemilik peternakan itu mendengar niat Daud untuk membunuhnya dan seisi rumahnya, ia terkena stroke dan meninggal sepuluh hari kemudian.
Ketika Daud mendengar bahwa Nabal sudah mati, ia langsung melamar Abigail. Dengan diiringi lima pelayannya, Abigail menaiki keledainya dan pergi untuk menjadi istri Daud. Hal itu mungkin bagaikan akhir cerita dongeng bagi Abigail, tetapi Daud sudah memiliki dua istri lain, dan pada waktunya ia akan menikahi lima istri lagi. Patriarki dalam satu dan lain bentuk masih akan mengungkung kehidupan Abigail.
Di dunia masa kini, perempuan pemberani seperti Abigail bisa saja kembali ke rumahnya, mengambil alih peternakan, dan menjalankannya dengan efektif. Kita tidak hidup di lingkungan patriarki Timur Dekat Kuno. Tetapi kita juga masih berhadapan dengan pandangan-pandangan patriarkis di tempat kerja, di rumah, dan di semua aspek kehidupan. Bagaimana seorang perempuan ezer menghadapi lingkungan semacam itu? Seperti Abigail, kita dapat membuat keputusan sampai seberapa jauh kita bersedia menerima hal itu dan apa yang kita pilih untuk diubah. Kita berusaha menggulingkan patriarki di tempat kerja dan di masyarakat yang lebih luas, namun kita tahu bahwa kita mungkin tidak akan melihat berakhirnya seksisme (ketidakadilan berbasis gender) itu di sepanjang hidup kita.
Hulda: Seorang Nabi dan Pengajar (2 Raja-raja 22)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiSalah satu profesi yang paling penting namun kadang kurang dihargai adalah guru. Kita bisa berhasil baik atau tidak, tergantung pada kualitas guru-guru yang kita miliki. Bagi sebagian orang, semuanya tergantung pada kualitas pendidikan yang mereka terima. Di dalam 2 Raja-raja, kita bertemu dengan seorang guru yang memberi dampak bukan hanya pada satu murid, tetapi seluruh bangsa.
Melanjutkan kembali alur cerita sejarah Perjanjian Lama, musuh bebuyutan Daud, Raja Saul, akhirnya wafat, dan Daud menggantikannya sebagai raja. Setelah pemerintahan yang panjang dan sukses, Daud digantikan oleh anaknya, Salomo. Namun setelah Salomo wafat, kerajaan itu mulai terpecah akibat pertikaian di antara raja-raja yang bersaing di utara (Israel) dan di selatan (Yehuda). Meskipun beberapa raja di dua abad berikutnya setia kepada Tuhan, sebagian besar raja-raja meninggalkan Allah Israel dan menyembah berhala. Akibatnya, kerajaan di utara menjadi sedemikian jahat sampai Allah mendatangkan tentara Asyur untuk menaklukkan dan mencerai-beraikan mereka. Di selatan, keadaan hanya sedikit lebih baik. Banyak raja-raja Yehuda yang berlaku jahat, sampai seorang raja muda yang memiliki hati untuk Tuhan naik takhta. Namanya Yosia.
Pada zaman Yosia, bait Allah di Yerusalem telah dicemari dengan penyembahan berhala, dan Yosia memerintahkan proyek pembersihan menyeluruh untuk mengembalikan bait suci kepada Allah. Dalam proses renovasi itu, seorang pekerja menemukan gulungan naskah kuno, yang kemudian ia serahkan kepada Hilkia, imam besar. Para pejabat di istana raja tidak dapat memahami dokumen ini, tetapi ketika sebagian isi dokumen itu dibacakan kepada raja, raja paham. Murka Allah akan turun ke atas Yehuda karena segala kejahatan yang telah dilakukannya. Tetapi, apakah ada hal yang lain lagi? Maka Yosia pun memerintahkan stafnya untuk mencari nabi yang dapat dipercaya untuk menjelaskan seluruh isi gulungan kitab itu.
Yeremia bernubuat di Yerusalem pada masa itu (Yeremia 1:2), seperti halnya Zefanya (Zefanya 1:1). Tetapi imam besar Hilkia tidak datang kepada para nabi laki-laki ini, melainkan kepada seorang perempuan bernama Hulda yang tinggal di Distrik Kedua, wilayah universitas. Para ahli percaya bahwa ia seorang pengajar, dan kita tahu dari Alkitab bahwa ia juga seorang nabi.
Apakah Anda heran bahwa imam besar dan sekretaris raja memilih seorang perempuan untuk menafsirkan naskah kuno itu bagi mereka? Saat kita mendengarkan perkataannya kepada raja dan pejabat istana (2 Raja-raja 22:14-20), kita mendengar seorang yang berbicara terus terang. Ia tidak berbasa-basi. Ya, bangsa itu akan menghadapi kehancuran. Tetapi kehancuran itu tidak akan terjadi pada masa pemerintahan Yosia karena ia menghormati Tuhan Allah. Namun para penerusnya adalah orang-orang jahat, dan pada akhirnya bangsa itu akan ditawan di Babel.
Hulda adalah penolong sejati (ezer) karena ia datang untuk menolong raja dan bangsanya, dengan menggunakan karunia rohani dan intelektualnya. Ia membuat para pemimpin itu memahami Firman Tuhan, dan sebagai hasilnya, Yosia mengadakan pembersihan berhala besar-besaran di setiap bagian wilayah Yehuda. Berkat pengajaran Hulda, semua orang yang tinggal di Yehuda diselamatkan dari kehancuran yang akan segera terjadi.
Terkadang, perempuan bisa mendapati pekerjaan rutin mereka diinterupsi oleh permintaan untuk mengambil peran yang berbeda, yang mendorong mereka untuk berbicara bagi Allah di ranah publik. Pengalaman Hulda menantang kaum perempuan untuk menerima kesempatan baru ini dan tidak menghindarinya. Di dalam prosesnya, mereka mungkin mendapati bahwa Allah memakai karunia-karunia mereka dengan cara baru, atau memberi mereka karunia-karunia yang sama sekali baru.
Ester: Gadis Harem Yang Menjadi Ratu Yang Kuat (Ester 4)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiEster adalah seorang perempuan yang menganggap dirinya tak punya pengaruh terhadap suaminya atau dalam hal-hal penting. Tetapi situasi yang sangat pelik memaksanya untuk tampil dan bertindak, dan menyadari bahwa ia memiliki kemampuan yang lebih besar dari yang ia pikirkan, bahkan kemampuan untuk mengubah iklim politik bagi semua orang Yahudi di Persia.
Penakhlukan Yehuda oleh Babel langsung diikuti dengan penakhlukan Babel oleh Media dan Persia. Kitab Ester di Alkitab diawali dengan orang Yahudi yang berada dalam pembuangan selama tujuh puluh tahun di bawah pemerintahan raja Persia yang labil dan lalim, yang dikenal para ahli sejarah sebagai Xerxes (Ahasyweros). Tangan kanan raja itu adalah Haman, seorang pria yang jauh lebih jahat dari raja. Ia membenci orang Yahudi dan terutama seorang Yahudi bernama Mordekai. Tempat usaha Mordekai berada tepat di luar gerbang istana, dan setiap kali Haman memasuki istana, ia harus melewati seorang pria yang tidak mau memberi hormat padanya. Karena sangat ingin menyingkirkan orang Yahudi yang sukar ditundukkan ini, ia menyusun rencana untuk membersihkan kerajaan dari semua orang Ibrani.
Sementara itu, raja memiliki masalah lain: ratunya, Wasti, menolak permintaannya untuk memamerkan kecantikannya di hadapan sekelompok pria mabuk yang sedang berpesta pora bersama raja. Sikap kurang ajar seperti itu harus dihukum, maka Wasti pun dipecat sebagai ratu. Tetapi, siapa yang akan menggantikannya? Maka diadakanlah kontes kecantikan untuk mencari gadis tercantik di seluruh 127 provinsi Persia, dan keponakan Mordekai, Ester, termasuk di antara mereka yang dibawa ke istana untuk menjalani perawatan kecantikan wajib selama setahun sebelum dibawa kepada raja. Pada akhirnya, Ester menjadi yang nomor satu dalam kontes kecantikan itu dan dimahkotai sebagai ratu kerajaan. Satu fakta tentang dirinya yang tetap disembunyikan adalah bahwa ia orang Yahudi.
Sementara itu, Haman berhasil menghasut raja Ahasyweros bahwa semua orang Yahudi di kerajaan Persia harus dibunuh. Karena Hukum Media dan Persia sangat ketat dan tak dapat diganggu gugat, maka begitu Xerxes menandatangani dekrit itu (tanpa mengetahui bahwa ratunya adalah salah satu orang Yahudi yang dibenci), tidak ada yang dapat membatalkannya.
Ketika Ester mendengar tentang dekrit itu, ia mengirim pesan kepada Mordekai, yang menjawab, "Janganlah kira karena engkau di istana raja, hanya engkau dari antara semua orang Yahudi yang akan terluput. Sebab jika engkau berdiam diri saja pada saat ini, pertolongan dan kelepasan bagi orang Yahudi akan muncul dari pihak lain, tetapi engkau dan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, justru untuk saat seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” (Ester 4:13-14)
Gadis harem yang menjadi ratu ini ketakutan dan tak bisa membayangkan bahwa ia dapat melakukan sesuatu tentang dekrit itu, tetapi akhirnya ia setuju untuk pergi menghadap raja dan berkata tegas kepada Mordekai, "Kalau aku harus mati, biarlah aku mati" (Ester 4:16). Ester harus membuat pilihan. Ia bisa terus menyembunyikan ke-Yahudiannya dan menjalani sisa hidupnya sebagai ibu negara di istana Ahasyweros. Atau, ia bisa mempertaruhkan nyawanya dan melakukan yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan bangsanya. Ia mulai mengerti bahwa kedudukannya yang tinggi bukan sekadar hak istimewa yang bisa dinikmati, tetapi sebagai tanggung jawab besar yang harus digunakan untuk menyelamatkan orang lain. Bangsanya dalam bahaya, dan masalah mereka menjadi masalahnya karena ia berada dalam posisi terbaik untuk melakukan sesuatu tentang hal itu.
Meskipun ia dididik untuk menjadi gadis harem yang patuh, Ester, perempuan ezer itu, menemukan kekuatan batin untuk berani bertindak demi kepentingan orang lain.
Di dalam kitab Ester yang singkat, Anda bisa membaca tindakan-tindakan berisiko yang dilakukan Ester untuk membujuk raja mengeluarkan dekrit yang memberi hak kepada orang Yahudi untuk membela diri. Di dalam proses itu, ratu harem menjadi perempuan yang kuat. Dari pasal 4 sampai akhir kitab, kita melihat seorang perempuan ezer yang kuat yang menghadapi penjahat dan menangani masalah politik dengan cara yang belum pernah terjadi atau belum pernah dilakukan oleh kaum perempuan dalam budaya saat itu.
Terkadang sebagai perempuan kita menyesalkan kecilnya tantangan kita dan terbatasnya pengaruh kita. Kita mungkin merasa hanya memiliki kegunaan yang terbatas bagi Tuhan. Namun, kita dapat mengingatkan diri kita sendiri bahwa Allah yang berdaulat memegang kendali atas hidup kita dan mengetahui yang dapat kita lakukan. Apa pun yang Tuhan taruh di tangan Anda untuk dilakukan hari ini, besok, atau minggu depan tidak pernah tanpa arti, tidak pernah tidak penting. Allah telah membawa Anda ke posisi dan keadaan Anda saat ini dalam kehidupan: "Siapa tahu, justru untuk saat seperti ini Anda beroleh kedudukan sebagaimana diri Anda saat ini."
Wanita Hikmat dan "Permulaan Hikmat" (Amsal 1:20-32; 9:10)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKita mungkin tidak asing dengan perempuan-perempuan “real” (nyata) dan situasi-situasi “real” (nyata) di Perjanjian Lama. Tetapi Alkitab juga memanggil kita untuk membentuk pola hidup kita berdasarkan nilai-nilai perempuan "ideal" (tidak nyata) yang segera akan kita jumpai begitu kita membuka kitab Amsal. Ia disebut Lady Wisdom (Wanita Hikmat) dan ia "berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya, di ujung jalan ramai ia berseru-seru...'orang bebal akan dihancurkan oleh ketidakacuhannya, tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, aman dari kengerian akan malapetaka" (Amsal 1:20-21, 32-33).
Sembilan pasal pertama kitab Amsal membandingkan Wanita Hikmat dengan perempuan bodoh. Jika kita ingin menjadi bijak dalam cara hidup kita, kita dianjurkan untuk mendengarkan Wanita Hikmat, bukan perempuan yang tanpa kematangan atau akal sehat.
Di seluruh Alkitab, konsep hikmat digambarkan sebagai wawasan yang menuntun kepada hidup yang dijalani dengan baik. Orang bijak memakai gabungan dari pengetahuan yang diperoleh dengan pengalaman hidup ini untuk membuat keputusan-keputusan yang baik yang mendatangkan hasil-hasil yang positif. Kamus Bahasa Inggris Oxford mendefinisikan hikmat sebagai "the capacity of judging rightly in matters relating to life and conduct" (kemampuan untuk menilai dengan tepat dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan dan perilaku." Di sini hikmat lebih dari sekadar pengetahuan; hikmat adalah prasyarat untuk kehidupan yang berhasil.
Amsal 9:10 berkata bahwa untuk memperoleh hikmat, ada suatu permulaan yang tidak boleh kita abaikan. "Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." Untuk mengalami bagaimana "takut" akan Allah menuntun kepada hikmat, pertama-tama kita harus menghilangkan ancaman dari kata "takut." "Takut akan TUHAN" dalam Alkitab tidak pernah berarti "ketakutan." Kata itu selalu berarti hidup dengan rasa takjub, bukan hanya atas kedaulatan Allah, tetapi juga atas kebaikan dan kemurahan-Nya. Ketika kita hidup dengan rasa takjub akan Allah, kita belajar cara menjadi bijak. Kita mulai melihat kehidupan dari sudut pandang kekekalan. Kita fokus pada permainan jangka panjang, bukan hanya pada permainan berikutnya.
Perjanjian Lama memberi kita banyak contoh tentang perempuan-perempuan yang membuat keputusan bijak karena mereka takut akan Allah. Sifra dan Pua takut akan Allah, dan hal itu memberi mereka hikmat dan keberanian untuk menentang Firaun (Keluaran 1:15-21). Rahab mengambil risiko dengan berpihak pada mata-mata musuh karena ia yakin bahwa "TUHAN, Allahmu, adalah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah" (Yosua 2:11). Debora tahu bahwa Allah-lah yang mengirimkan badai yang menghancurkan pasukan musuh (Hakim-Hakim 5:4). Rut, orang Moab kafir, meninggalkan bangsanya dan pindah ke negeri asing karena ia mengikuti Allah ibu mertuanya, Naomi (Rut 1:16). Abigail memenangkan hati Daud dengan mengingatkan bahwa melalui intervensinya, "TUHAN sudah mencegahmu menumpahkan darah dan membalas dengan tanganmu sendiri" (1 Samuel 25:26). Hulda berbicara tanpa rasa takut kepada raja dan para pegawai istana, dan empat kali ia memulainya dengan perkataan, "Beginilah firman Tuhan!" (2 Raja-Raja 22:14-20). Ester merundingkan perdamaian bagi bangsanya ketika ia menyadari bahwa Allah membawanya ke dalam posisi sebagai ratu "justru untuk situasi seperti saat ini" (Ester 4:13-14).
Mengenal Allah adalah pintu gerbang ke arah perspektif hidup yang mengubah pikiran, tindakan, dan tujuan kita. Sesungguhnya, ketika kita mengenal Allah, seluruh orientasi hidup kita berubah. Lalu, bagaimana kita dapat mengenal Allah? Kita tidak dibiarkan hanya menebak-nebak tentang hal ini. Yesus telah datang dari Allah, dengan mengambil rupa manusia, untuk menyatakan Allah kepada kita. Ketika Filipus meminta Yesus menunjukkan “Bapa” (Allah) kepadanya dan murid-murid lain, Yesus menjawab, "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa" (Yohanes 14:9). Rasul Paulus, yang menulis kepada orang-orang Kristen di Kolose berkata bahwa Yesus "adalah gambar Allah yang tidak kelihatan" (Kolose 1:15). Surat kepada orang Ibrani diawali dengan pernyataan bahwa Yesus adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar keberadaan Allah yang sesungguhnya dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan" (Ibrani 1:3).
Allah yang tidak kelihatan telah menjadi kelihatan dalam diri Yesus. Jadi, jika kita ingin mengenal Allah, kita dapat membaca keempat kitab Injil dan mendengarkan Yesus dengan saksama. Dari ajaran-ajaran-Nya, kita belajar bahwa Allah sangat sabar dengan kita. Dari tindakan-tindakan-Nya, kita belajar bahwa Allah memiliki hati bagi orang-orang yang terpinggirkan dalam kehidupan. Dari kehidupan-Nya, kita belajar bahwa Allah begitu mengasihi kita sampai Dia rela mati untuk kita. Entah bagaimana caranya, ketika kita melihat kemurahan dan kasih karunia Allah dinyatakan di depan mata kita melalui keempat kitab Injil Perjanjian Baru, hal itu mengubah kita. Kita mendapat gambaran sekilas tentang apa yang benar-benar penting dalam kehidupan ini. Kita menjadi bijak.
Wanita Hikmat masih berseru nyaring di jalan-jalan kota kita, memanggil kita untuk mengikuti penabuh genderang yang berbeda. Penabuh genderang itu adalah Yesus, Allah dalam rupa manusia yang memberi kita perspektif yang berbeda tentang kehidupan, suara tabuhan genderang yang berbeda. Ketika kita berbaris mengikuti-Nya, teladan-Nya akan membentuk ulang pikiran dan tindakan kita. Jika kita membuat fokus pada Yesus sebagai pengejaran yang serius, kita akan diubahkan sepenuhnya.
Wanita Bijak dalam Pakaian Sehari-hari (Amsal 31)
Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar IsiKita bertemu Wanita Hikmat di pasal-pasal pembukaan kitab Amsal. Kita juga bertemu dengannya di ayat-ayat penutup kitab yang sama. Amsal 31:10 bertanya, "Istri yang cakap siapa yang dapat menemukannya? Ia jauh lebih berharga daripada permata." Apakah Wanita Hikmat telah diturunkan pangkatnya menjadi "istri yang cakap" semata? Sayangnya, kebanyakan terjemahan dari bahasa Ibrani mengaburkan maksud teks aslinya. Kata yang diterjemahkan menjadi "cakap" adalah kata Ibrani chayil yang, seperti telah kita pelajari, berarti perkasa, kuat, pemberani, yang dipakai di Perjanjian Lama sebanyak 242 kali, dan biasanya untuk menggambarkan prajurit atau tentara. Di 2 Samuel 23 kita tahu bahwa "para pahlawan/pejuang" Daud adalah chayil karena keberanian dan kekuatan mereka. Di sini, Amsal 31:10 seharusnya dibaca, "Perempuan yang pemberani siapa yang dapat menemukannya? Ia jauh lebih berharga daripada permata."
Lalu, seperti apakah hikmat dalam kehidupan perempuan pemberani ini? "Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, dan menguatkan lengannya" (Amsal 31:17). Sebagai perempuan ezer, ia tahu bahwa untuk bertindak dengan bijaksana dibutuhkan kekuatan, dan karena itu ia "melatih" otot-otot moral dan belas kasihnya. Otot-otot moral itu membuat lima hal tentang dirinya menonjol:
Pertama, sebagai perempuan ezer yang chayil, ia dapat dipercaya (Amsal 31:11-12). Suaminya percaya kepadanya karena ia tahu istrinya memikirkan kepentingannya. Hal ini juga berlaku bagi perempuan-perempuan di tempat kerja masa kini. Apakah para rekan kerja dan atasan tahu bahwa kita memikirkan kepentingan mereka? Jika kita tidak dapat dipercaya, maka hal-hal lainnya hampir tidak ada artinya.
Kedua, sebagai perempuan ezer yang chayil, ia cerdik (Amsal 31:13-18). Ia memilah tugas-tugas dan bahan-bahan dengan hati-hati. Ia berpikir ke depan, tidak bertindak impulsif atau pada saat-saat terakhir. Ia memikirkan pekerjaannya dengan cermat, mempertimbangkan bidang itu dengan saksama, dan mengubahnya menjadi kebun anggur yang menguntungkan. Ia menghasilkan "barang dagangan yang menguntungkan" - barang-barang yang ia tahu dapat ia jual karena dibuat dengan baik.
Ketiga, sebagai perempuan ezer yang chayil, ia murah hati (Amsal 31:19-20). Meskipun terjemahannya membuat kedua ayat ini tampak seperti tidak berhubungan, bahasa Ibrani menyatukan keduanya secara tatabahasa dengan mengatakan bahwa perempuan ini bekerja (dalam hal ini, memintal dan menenun) agar ia memiliki sarana untuk menolong orang miskin dan yang membutuhkan.
Keempat, sebagai perempuan ezer yang chayil, ia rajin (Amsal 31:21-25). Ia menyiapkan semua kebutuhan orang-orang yang dalam penanganannya (sampai pada pakaian hangat jika terjadi salju di Timur Tengah). Dan ia menjalankan industri rumahtangga yang sukses, dengan membuat pakaian dan ikat pinggang linen untuk dijual.
Kelima, sebagai perempuan ezer yang chayil, ia menjaga lidahnya (Amsal 31:26). Ayat ini berkata bahwa "Ia membuka mulutnya dengan hikmat, ajaran kasih setia ada di lidahnya."
Inilah tindakan nyata Lady Wisdom (Wanita Hikmat). Di dalam dirinya kita melihat bahwa orang bijak/ berhikmat itu dapat dipercaya, cerdik, murah hati, rajin, dan menjaga lidahnya. Meskipun hikmat dipersonifikasikan sebagai perempuan di seluruh kitab Amsal, kata-kata bijaknya ditujukan untuk laki-laki maupun perempuan. Dan meskipun para penerjemah di Amsal 31:10 menyebutnya sebagai "istri" (mungkin karena ayat-ayat berikutnya menyebutkan tentang suaminya), kata Ibrani itu hanyalah kata untuk "perempuan." Penutup kitab Amsal membuat konsep hikmat menjadi konkret sehingga kita dapat melihat seperti apa hikmat itu dalam tindakan.
Sifat dapat dipercaya, cerdik, murah hati, rajin, dan berhati-hati dalam berbicara adalah bukti-bukti hikmat. Kelimanya merupakan buah hikmat, tetapi tidak dapat menggantikan hikmat. Sumber utama hikmat dapat ditemukan di Amsal 31:30: "Kemolekan itu menipu dan kecantikan sia-sia, tetapi isteri yang takut akan Tuhan dipuji-puji." Basis dasar hikmat terletak pada "pengenalan kita akan Yang Mahakudus," "rasa takut kita akan Allah." Kita tidak hanya takjub pada kemahakuasaan Allah yang berdaulat atas semesta, tetapi juga atas kasih Allah yang mengherankan dan tak berkesudahan pada kita. Kita tak dapat memahami betapa Allah sangat peduli pada kita. Tetapi, Dia memang peduli. Pada hakikatnya, Allah adalah kasih. Kasih itu diberikan kepada setiap kita, tanpa memikirkan siapa kita atau apa yang mungkin telah kita lakukan. Inilah anugerah dari takut akan Allah.
Relasi kita dengan Tuhan memberi kita perspektif yang berbeda tentang kehidupan. Kita menjadi tahu apa yang penting dan berharga. Kita tahu apa yang dapat bertahan dan apa yang akan berlalu. Dan kita memilih untuk hidup bagi yang dapat bertahan. Kita membawa perspektif itu dalam setiap pilihan yang kita buat - apakah hal itu dapat dipercaya atau tidak, untuk merencanakan ke depan dan bertindak dengan hati-hati, untuk menunjukkan belas kasihan, untuk mengejar tujuan-tujuan kita dengan rajin, dan untuk mengendalikan lidah kita. Kita memilih untuk menjadi bijak atau tidak.
Ella Wheeler Wilcox dalam puisinya tahun 1916 menulis seperti ini:
Satu kapal berlayar ke Timur, dan satunya lagi ke Barat,
Oleh tiupan angin yang sama.
Pengaturan layar kitalah, bukan angin kencang
Yang menentukan jalan yang kita tempuh.
Seperti angin laut menunjukkan gelombang waktu,
Saat kita mengarungi kehidupan.
Pengaturan jiwalah yang menentukan tujuan,
Dan bukan situasi yang tenang atau bergelora.
"Pengaturan jiwalah yang menentukan tujuan." Laki-laki dan perempuan, lajang atau menikah, semuanya dapat belajar dari Amsal 31. Di semua bagian kehidupan Anda, termasuk tempat kerja Anda, jadikanlah hidup bijaksana sebagai tujuan Anda dengan mengingat apa yang akan bertahan selamanya. Jika Anda melakukannya, Anda akan memilih untuk menjadi orang yang dapat dipercaya, cerdik, murah hati, rajin, dan mampu mengendalikan lidah. Dan, terlebih dari itu, Anda akan mengetahui perbedaan antara yang akan berlalu dan yang dapat bertahan, dan Anda akan memilih untuk menyerahkan diri kepada yang akan bertahan selamanya. Itulah formula Allah untuk menjalani hidup dengan bijaksana.
Ketika kita meninjau kembali perempuan-perempuan yang bekerja di Perjanjian Lama, kita melihat mereka semua berpikir jauh ke depan, memilih untuk hidup bagi yang pada akhirnya penting atau berharga. Itulah pilihan yang juga Allah berikan pada setiap kita setiap hari.
