Bootstrap

Debora: Perempuan Ezer Yang Diperlengkapi untuk Memimpin (Hakim-hakim 4-5)

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Shutterstock 243995698

Terkadang Allah memanggil seorang perempuan ke jenjang kepemimpinan tertinggi pada saat krisis. Ketika orang Israel tinggal di Tanah Perjanjian, mereka sering menyimpang dari iman kepada Tuhan. Pengorbanan manusia, pelacuran ritual, dan praktik-praktik lainnya sering menggantikan penyembahan kepada Tuhan Allah. Ketika hal ini terjadi, Allah akan mengizinkan bangsa-bangsa di sekitarnya untuk menaklukkan Israel. Ketika mereka berseru kepada Allah minta dilepaskan, Allah akan membangkitkan seorang pemimpin yang mengatur serangkaian operasi militer untuk mengusir si penindas. Kita bertemu Debora pada saat seperti itu, ketika suku-suku Israel utara ditindas dengan kejam oleh Raja Yabin dan pasukan militernya yang kuat.

Kita pertama kali bertemu Debora dalam pekerjaannya sehari-hari sebagai hakim atas semua orang di negeri itu. Alkitab berkata bahwa Debora adalah seorang nabi dan juga hakim, seorang perempuan yang bijaksana: "Ia biasa duduk di bawah pohon kurma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim; dan orang Israel menghadap dia untuk mencari keadilan" (Hakim-Hakim 4:4-5). Tetapi, ketika mendengar tentang penindasan terhadap dua suku Israel di utara, nabi Debora mengambil peran kepemimpinan yang berbeda. Dalam kehidupannya yang aman tenteram di daerah perbukitan, ia bisa saja mengabaikan penderitaan orang Israel di dataran utara yang ditaklukkan raja Yabin. Namun, seorang perempuan ezer yang memiliki kemampuan untuk menolong orang yang tak berdaya akan bertindak.

Ia memerintahkan Barak (seorang laki-laki dari daerah utara) untuk mengerahkan pasukan 10.000 orang bersenjata yang akan dipakai Allah mengalahkan tentara Raja Yabin yang kuat. Tentara Yabin memiliki sembilan ratus kereta perang besi sementara bangsa Israel tidak memiliki satu pun; pasukan Israel jelas kalah kuat. Allah telah memberikan rencana pertempuran kepada nabi Debora, tetapi Barak yang penakut meminta dengan sangat agar Debora mendampinginya selama pertempuran, sebab kalau tidak, ia tidak mau menerima tugas itu. Sebagian orang Kristen beranggapan, laki-laki tidak boleh bekerja di bawah pimpinan perempuan, tetapi di sini Barak dan Debora menjadi tim yang sukses karena Debora yang menjadi pemimpinnya.

Pasukan Israel dengan kekuatan seadanya, yang berkemah di lereng Gunung Tabor, memandang ke bawah ke arah semua kereta perang besi dengan para pemanah dan pendekar pedangnya yang sangat terlatih, dan menyadari bahwa pertempuran semacam ini tidak ada harapan. Tetapi pada saat yang tepat, Debora yang berada di samping Barak berteriak, "Bangunlah! Tuhan sungguh ada di depanmu!" (Hakim-Hakim 4:14). Dan ketika pasukan Barak bergerak menuruni lereng gunung, Allah membuat tentara musuh itu panik. Ahli sejarah Josephus mengatakan bahwa badai butiran es menghantam tentara Yabin tepat di wajah mereka, membutakan para pemanah, pengemudi kereta perang, dan kuda-kuda mereka. Hujan langsung mengubah dataran itu menjadi rawa berlumpur, memerangkap roda-roda kereta perang besi yang berat itu di lumpur. Sungai Kison yang mengalir deras di dekatnya meluap dan menggenangi daratan, menghanyutkan para tentara ke laut dengan airnya yang bergolak. Menyaksikan pembebasan Allah, Debora dan Barak menaikkan puji-pujian mereka kepada Tuhan: "Majulah sekuat tenaga, hai jiwaku!" (Hakim-Hakim 5:21).

Di dalam kitab Hakim-Hakim, Debora adalah pemimpin teladan, yang setara dengan pemimpin-pemimpin terbesar Israel. Tidak ada hakim lain yang juga disebut nabi, yang menunjukkan betapa dekat keserupaan Debora dengan Musa dan Yosua. Sebagai nabi, ia memiliki iman yang tak tergoyahkan kepada Allah, yang memberinya kekuatan untuk memimpin bangsanya. Ia tahu bahwa Tuhanlah yang mengalahkan musuh. Ia hanyalah alat di tangan Tuhan.

Tidak semua laki-laki atau perempuan dipanggil untuk memimpin, tetapi setiap perempuan diciptakan Allah untuk menjadi ezer, untuk berada di samping orang yang tak berdaya tanpa bantuannya. Seperti Debora, keyakinan kita adalah pada Tuhan, bukan pada diri kita sendiri. Kita juga dapat "berjalan maju dengan sekuat tenaga" karena kita melakukannya dengan kekuatan Tuhan Allah kita.