Bootstrap

Empat Cara Melayani Sebagai Duta Besar Kristus di Tempat Kerja

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Amabssador work

Seperti apakah menjadi duta besar Kristus di tempat kerja — melayani Kristus di tempat kerja dan merepresentasikan Dia di sana? Meskipun tidak ada dari kita yang dapat melakukan hal ini dengan sempurna, ada empat komponen yang bisa membuat kesaksian kita dapat dipercaya orang lain—kompetensi, karakter, kepedulian, dan percakapan yang bijak. Kami mendorong Anda untuk memikirkan bagaimana Allah dapat memakai elemen-elemen ini untuk menarik orang kepada diri-Nya. Hal-hal ini bukan formula, teknik, atau langkah-langkah untuk sukses, tetapi sebagai cara kita menunjukkan kepada rekan-rekan kerja dan kolega bahwa iman kita nyata. Ketika kami meninjau konsep-konsep ini untuk diri kami sendiri, kami sendiri terus-menerus menemukan aspek-aspek yang perlu kami tingkatkan. Tetapi tidak ada yang begitu gagal sampai membuat putus asa. Bahkan, ketika kami melakukan kesalahan dan dapat mengakui kekurangan-kekurangan kami dengan rendah hati, kesaksian kami menjadi lebih dapat dipercaya. Sekalipun ada kemungkinan untuk sempurna, orang tidak akan mengidentifikasi dirinya sebagai orang Kristen yang sempurna. Untuk mengidentifikasi diri sebagai saksi seperti kita, mereka perlu tahu bahwa kita pun membutuhkan kasih karunia.

Memberitakan Injil melalui Kompetensi

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Tugas pertama duta besar Kristus di tempat kerja adalah melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya – karena kompetensi kita sangat memengaruhi kredibilitas kita. Kompetensi berarti melaksanakan pekerjaan kita sebaik-baiknya, mencurahkan segenap hati kita di dalamnya, memberikan produk dan layanan terbaik yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang logis.

Alkitab berbicara tentang pentingnya melakukan pekerjaan baik di sejumlah ayatnya. Sebagai contoh:

Pernahkah engkau melihat orang yang mahir dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri. (Amsal 22:29)
Apa pun yang dapat dikerjakan dengan tanganmu, kerjakanlah dengan sekuat tenaga. (Pengkotbah 9:10)
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk TUHAN. (Kolose 3:23)

Kita tak perlu heran jika pekerjaan kita sangat terkait erat dengan kesaksian kita. Pikirkan hal berikut:

  • Allah itu Pekerja dan Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya yang seperti itu. Di dalam Kejadian 1 dan 2, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Pekerja – pencipta, perancang, pembangun, penguasa dan pengembang properti— dan sejak awal, bekerja sudah menjadi bagian dari rencana Allah untuk manusia - sebagai bagian integral yang menyatu dengan kehidupan manusia. Allah memerintahkan manusia pertama, nenek moyang kita, untuk mengusahakan dan merawat Taman Eden dengan rajin (Kejadian 2:15), untuk produktif dalam pekerjaan mereka membuat dunia berkembang sepenuhnya (Kejadian 1:28).

  • Kehidupan, masa depan dan identitas Adam berkaitan erat dengan bumi dan pekerjaannya di dalamnya. [1]

  • Kita mencerminkan gambar Allah melalui pekerjaan kita. Sebagai duta besar Kristus, kita punya tanggung jawab untuk menyatakan Kristus dalam konteks dinamika pekerjaan kita sendiri. Michael Williams menulis, “Kita ada untuk tujuan menggambarkan Allah, mencerminkan Dia kepada dunia, menirukan Dia dalam kehidupan orang-orang dan masyarakat sekitar kita.” [2]

  • Kualitas pekerjaan dan sikap kita dalam bekerja berbicara banyak kepada orang lain tentang kita – dan tentang Allah yang kita layani. Dapatkah Anda bayangkan Yesus memakai bahan yang kurang bermutu, menunjukkan kinerja tukang kayu yang buruk, atau meminta bayaran yang terlalu tinggi kepada pelanggan-Nya? Jika Dia bekerja seperti itu, para pelanggan yang mendengar Dia mengajar akan punya alasan untuk menyimpulkan bahwa teologi-Nya sama reyotnya dengan meja-meja-Nya.

  • Paulus berkata bahwa produk dan layanan yang kita berikan dalam memenuhi kebutuhan orang lain dan memengaruhi kemajuan hidup manusia merupakan hal penting dalam kita mengasihi sesama: "Tentang kasih persaudaraan, … kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, mengurus persoalan-persoalan sendiri, dan bekerja dengan tanganmu sendiri, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada siapa pun." (1 Tesalonika 4:9-12)

  • Ketika kita melakukan pekerjaan baik, Allah dimuliakan. Abraham Kuyper menjelaskan, "Di mana pun manusia berada, apa pun yang ia lakukan, untuk apa pun ia menggunakan tangannya dalam pertanian, perdagangan, industri, atau memakai pikirannya dalam dunia seni atau sains, ia bagaimanapun selalu berdiri di hadapan wajah Allahnya, ia dipekerjakan untuk melayani Allahnya, ia harus tekun menaati Allahnya, dan di atas segalanya, ia harus bertujuan untuk memuliakan Allahnya."[3]

  • Melakukan pekerjaan baik dengan hati seorang hamba dan “seperti melakukan untuk Tuhan” membawa kemuliaan bagi Allah dan sangat membantu kita untuk memiliki hak untuk didengar. Sebaliknya, kita merusak kesaksian kita jika kita melalaikan tanggung jawab kita, bekerja asal-asalan, atau bekerja hanya untuk kepentingan diri sendiri saja.

Intinya: Di tempat kerja, orang menilai kita pertama-tama dari pekerjaan kita, bukan teologi kita. Jika kita ingin orang lain memerhatikan iman kita, kita harus memerhatikan pekerjaan kita.

Memberitakan Injil melalui Karakter

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Karakter adalah prasyarat kedua untuk memiliki pengaruh rohani. Setiap manusia diciptakan segambar dengan Allah dan secara naluriah menghormati sifat-sifat karakter Allah yang menciptakan kita – dan ini berlaku juga pada orang-orang yang tidak mengenal Allah. Manusia secara universal menghargai Buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak para pemuka agama tertarik pada Yesus karena Dia menunjukkan karakteristik-karakteristik ini. Saat ini, karakter seperti-Kristus masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat.

Orang-orang non-Kristen memerhatikan sukacita kita saat kita bekerja, damai sejahtera kita di tengah kekecewaan, serta keramahan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, hal-hal seperti ini terlalu sering kurang tampak pada orang-orang di antara kita yang seharusnya menunjukkan karakter Kristus kepada dunia. Pada tahun 2013, Grup Barna meneliti tentang kemunafikan di antara orang Kristen. Di antara orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Kristen, penelitian yang didasarkan pada sejumlah sikap dan tindakan yang dipilih-sendiri ini menemukan bahwa 51 persen menggambarkan dirinya lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, suka menghakimi) dibandingkan dengan 14 persen saja yang meneladani sikap dan tindakan Yesus (tidak mementingkan diri sendiri, empati, kasih).[1] C.S. Lewis menjelaskan hal ini:

“Ketika orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat Kekristenan tak dapat dipercaya oleh dunia luar… Hidup kita yang ceroboh memengaruhi pembicaraan dunia luar, dan kita memberi mereka alasan untuk berbicara dengan cara yang menimbulkan keraguan tentang kebenaran Kekristenan.[2]

Jika perkataan kita hendak berarti bagi orang lain, perkataan itu harus keluar dari hidup yang berintegritas, jika tidak, perbuatan kita akan dicemari perkataan yang bernada kebohongan. Integritas bisa sangat menantang di tempat kerja. Tekanan untuk menanggalkan nilai-nilai alkitabiah dan mengikuti cara hidup yang berbeda pada hari Senin dapat mengalahkan komitmen-komitmen tipis yang dibuat di gereja pada hari Minggu. Kristus memanggil kita untuk menghidupi nilai-nilai Kekristenan kita sama utuhnya di tempat kerja maupun di tempat lain, sekalipun harus dengan pengorbanan. Ketika orang melihat bahwa kita tidak sekadar pencitraan, tetapi berusaha dengan rendah hati untuk hidup berintegritas, mereka akan memerhatikan.

Orang juga akan memerhatikan, bukan ketika kita gagal – yang pasti akan kita alami – tetapi ketika kita gagal dan mengakui bahwa kita tidak mampu mengatasinya. Barangkali yang lebih penting daripada melakukan segala sesuatu dengan benar adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan dan meminta maaf kepada orang-orang yang kita lukai. Salah satu unsur karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita tidak sempurna. Jerram Barrs mengingatkan kita tentang dampak kerendahan hati kita pada orang lain,

Sebagai orang Kristen, kita sering berperilaku seakan-akan kita memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen, dan tidak ada yang diterima. Kita bayangkan bahwa mengakui kelemahan atau kebutuhan kita akan merendahkan martabat kita. Orang Kristen dipandang “memiliki segalanya” dan kita takut bahwa membiarkan orang tidak percaya melihat yang tidak kita miliki, akan menghilangkan kepercayaan mereka terhadap kita, dan terhadap Injil. Tetapi ini adalah kebodohan, karena kebenarannya kita selalu lemah dan memiliki kekurangan, dan Injil tidak dilayani dengan berpura-pura sebaliknya. Mengakui, seperti Yesus, bahwa kita membutuhkan kebaikan, karunia, hikmat, atau nasihat dari orang tidak percaya adalah hal yang akan membesarkan hati dan memuliakan orang-orang yang mungkin sudah berpikir hanya akan mendapat cemoohan atau sikap merendahkan dari kita.[3]

Intinya: Melakukan pekerjaan baik saja tidak cukup, harus ada yang menarik dari karakter kita. Dan terkhusus, kemampuan untuk mengakui kesalahan dan kegagalan akan tampak sangat mencolok di mata budaya sekitar kita. Orang perlu mencium keharuman aroma kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang tampak paling jelas melalui karakter rendah hati yang Dia hasilkan di dalam kita.

Memberitakan Injil dengan Menunjukkan Kepedulian

Kembali ke Daftar Isi Kembali ke Daftar Isi

Ketika kompetensi dan karakter bergabung, keduanya membangun kepercayaan yang memberi kredibilitas pada perkataan kita. Jika digabungkan lagi dengan kepedulian yang tulus pada orang lain, kesaksian kita menjadi sangat efektif. Memang benar, orang tidak peduli seberapa banyak yang Anda tahu sampai mereka tahu seberapa banyak Anda peduli.

Menunjukkan kepedulian kepada orang lain bukanlah opsi bagi para pengikut Kristus, tetapi hal yang biasa dilakukan orang Kristen—buah alami dari relasi kita dengan Allah yang murah hati [1]. Kata-kata ramah dan tindakan murah hati yang memengaruhi orang lain muncul dari dalam/hati, bukan karena kewajiban atau sekadar menunaikan tugas agama. Ketika orang melihat kepedulian kita yang tulus, mereka melihat Yesus hidup di dalam kita.

Kita menunjukkan kepedulian dengan perkataan kita. Apa yang kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya berbicara keras tentang siapa kita, apa yang memotivasi kita, dan seberapa besar kita peduli pada orang lain. Rasul Paulus tidak memberi banyak ruang pada kata-kata yang sembrono:

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh anugerah (Efesus 4:29)

Renungkanlah hikmat tentang berkata-kata dari kitab Amsal berikut ini:

Jawaban yang lemah-lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan kemarahan. (Amsal 15:1)
Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang. (Amsal 25:15)
Bibir orang benar mengetahui hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik tipu muslihat. (Amsal 10:32)
Siapa memberi jawaban yang benar, mengecup bibir. (Amsal 24:26)
Bagaikan apel emas di pinggan perak, demikianlah perkataan yang diucapkan pada waktu yang tepat. (Amsal 25:11)
Dan ketika kita harus memberi nasihat, kita harus mengatakan “kebenaran di dalam kasih” (Efesus 4:15).

Kita menunjukkan kepedulian dengan mendengarkan perkataan orang lain. Kesediaan kita untuk mendengar dan menerima masukan dari orang lain memberi pesan kuat yang berkata, “Aku memerhatikan yang kamu pikirkan; kamu punya sesuatu yang berharga untuk dikontribusikan.” Ketika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mendengarkan dengan penuh perhatian dan rendah hati, kita mengundang kepercayaan dan kerja sama di tempat kerja maupun dalam relasi-relasi pribadi.

Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah. (Yakobus 1:19)

Kita mendengarkan bukan hanya karena itu kepemimpinan yang baik atau menunjukkan hal yang baik tentang kita, tetapi karena orang yang berbicara itu adalah individu yang diciptakan segambar dengan Allah dan patut kita hormati sekalipun gambar itu sudah rusak.

Kita menunjukkan kepedulian dengan perbuatan kita. Berbicara dan mendengarkan dengan ramah harus disertai perilaku yang sesuai. Cara kita menanggapi orang lain di tengah stres dan sukses kehidupan sehari-hari akan menunjukkan apakah kita lebih peduli pada orang lain atau diri kita sendiri. Di dalam kitab-kitab Injil, Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya bahwa kepemimpinan rohani bukanlah tentang melakukan hal-hal besar, tetapi tentang menjadi pelayan.

Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu, siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba bagi semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:42-45)

Tindakan-tindakan kebaikan kecil dapat menerangi ruang gelap atau tempat kerja yang gelap.

Janganlah tiap-tiap orang hanya memerhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:4)
Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia. (Filipi 2:14-15)

Mengingat persepsi negatif yang dimiliki banyak orang tentang orang Kristen, Kekristenan tampaknya tidak seperti iman yang dapat dipahami, apalagi bermanfaat, bagi banyak orang, kecuali jika kita menunjukkannya secara berbeda kepada mereka melalui kompetensi, karakter dan kepedulian kita.

Membangun relasi dengan orang-orang yang bekerja di sekitar kita tidak boleh menjadi strategi untuk memanipulasi mereka dalam percakapan iman, melainkan sebagai cara kita yang tulus untuk semakin mengasihi mereka lebih dalam dan mengetahui bagaimana kita dapat melayani mereka.

Intinya: Kompetensi, karakter dan kepedulian secara bersama-sama menimbulkan apologetika Injil yang kuat, yang dengan sentuhan Roh Kudus dapat membuka pintu kepada percakapan-percakapan tentang Injil.