Memberitakan Injil dengan Menunjukkan Kepedulian
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Ketika kompetensi dan karakter bergabung, keduanya membangun kepercayaan yang memberi kredibilitas pada perkataan kita. Jika digabungkan lagi dengan kepedulian yang tulus pada orang lain, kesaksian kita menjadi sangat efektif. Memang benar, orang tidak peduli seberapa banyak yang Anda tahu sampai mereka tahu seberapa banyak Anda peduli.
Menunjukkan kepedulian kepada orang lain bukanlah opsi bagi para pengikut Kristus, tetapi hal yang biasa dilakukan orang Kristen—buah alami dari relasi kita dengan Allah yang murah hati [1]. Kata-kata ramah dan tindakan murah hati yang memengaruhi orang lain muncul dari dalam/hati, bukan karena kewajiban atau sekadar menunaikan tugas agama. Ketika orang melihat kepedulian kita yang tulus, mereka melihat Yesus hidup di dalam kita.
Kita menunjukkan kepedulian dengan perkataan kita. Apa yang kita katakan dan bagaimana kita mengatakannya berbicara keras tentang siapa kita, apa yang memotivasi kita, dan seberapa besar kita peduli pada orang lain. Rasul Paulus tidak memberi banyak ruang pada kata-kata yang sembrono:
Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya beroleh anugerah (Efesus 4:29)
Renungkanlah hikmat tentang berkata-kata dari kitab Amsal berikut ini:
Jawaban yang lemah-lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan kemarahan. (Amsal 15:1)
Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang. (Amsal 25:15)
Bibir orang benar mengetahui hal yang menyenangkan, tetapi mulut orang fasik tipu muslihat. (Amsal 10:32)
Siapa memberi jawaban yang benar, mengecup bibir. (Amsal 24:26)
Bagaikan apel emas di pinggan perak, demikianlah perkataan yang diucapkan pada waktu yang tepat. (Amsal 25:11)
Dan ketika kita harus memberi nasihat, kita harus mengatakan “kebenaran di dalam kasih” (Efesus 4:15).
Kita menunjukkan kepedulian dengan mendengarkan perkataan orang lain. Kesediaan kita untuk mendengar dan menerima masukan dari orang lain memberi pesan kuat yang berkata, “Aku memerhatikan yang kamu pikirkan; kamu punya sesuatu yang berharga untuk dikontribusikan.” Ketika kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mendengarkan dengan penuh perhatian dan rendah hati, kita mengundang kepercayaan dan kerja sama di tempat kerja maupun dalam relasi-relasi pribadi.
Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah. (Yakobus 1:19)
Kita mendengarkan bukan hanya karena itu kepemimpinan yang baik atau menunjukkan hal yang baik tentang kita, tetapi karena orang yang berbicara itu adalah individu yang diciptakan segambar dengan Allah dan patut kita hormati sekalipun gambar itu sudah rusak.
Kita menunjukkan kepedulian dengan perbuatan kita. Berbicara dan mendengarkan dengan ramah harus disertai perilaku yang sesuai. Cara kita menanggapi orang lain di tengah stres dan sukses kehidupan sehari-hari akan menunjukkan apakah kita lebih peduli pada orang lain atau diri kita sendiri. Di dalam kitab-kitab Injil, Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya bahwa kepemimpinan rohani bukanlah tentang melakukan hal-hal besar, tetapi tentang menjadi pelayan.
Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu, siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba bagi semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:42-45)
Tindakan-tindakan kebaikan kecil dapat menerangi ruang gelap atau tempat kerja yang gelap.
Janganlah tiap-tiap orang hanya memerhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Filipi 2:4)
Lakukanlah segala sesuatu tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantahan supaya kamu tidak beraib dan tidak bernoda sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia. (Filipi 2:14-15)
Mengingat persepsi negatif yang dimiliki banyak orang tentang orang Kristen, Kekristenan tampaknya tidak seperti iman yang dapat dipahami, apalagi bermanfaat, bagi banyak orang, kecuali jika kita menunjukkannya secara berbeda kepada mereka melalui kompetensi, karakter dan kepedulian kita.
Membangun relasi dengan orang-orang yang bekerja di sekitar kita tidak boleh menjadi strategi untuk memanipulasi mereka dalam percakapan iman, melainkan sebagai cara kita yang tulus untuk semakin mengasihi mereka lebih dalam dan mengetahui bagaimana kita dapat melayani mereka.
Intinya: Kompetensi, karakter dan kepedulian secara bersama-sama menimbulkan apologetika Injil yang kuat, yang dengan sentuhan Roh Kudus dapat membuka pintu kepada percakapan-percakapan tentang Injil.
