Bootstrap

Memberitakan Injil melalui Karakter

Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Character

Karakter adalah prasyarat kedua untuk memiliki pengaruh rohani. Setiap manusia diciptakan segambar dengan Allah dan secara naluriah menghormati sifat-sifat karakter Allah yang menciptakan kita – dan ini berlaku juga pada orang-orang yang tidak mengenal Allah. Manusia secara universal menghargai Buah Roh: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri” (Galatia 5:22-23). Pada zaman Yesus, banyak orang yang ditolak para pemuka agama tertarik pada Yesus karena Dia menunjukkan karakteristik-karakteristik ini. Saat ini, karakter seperti-Kristus masih menarik perhatian dan mengundang rasa hormat.

Orang-orang non-Kristen memerhatikan sukacita kita saat kita bekerja, damai sejahtera kita di tengah kekecewaan, serta keramahan dan kerendahan hati kita terhadap orang-orang yang menguji kesabaran kita. Sayangnya, hal-hal seperti ini terlalu sering kurang tampak pada orang-orang di antara kita yang seharusnya menunjukkan karakter Kristus kepada dunia. Pada tahun 2013, Grup Barna meneliti tentang kemunafikan di antara orang Kristen. Di antara orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai orang Kristen, penelitian yang didasarkan pada sejumlah sikap dan tindakan yang dipilih-sendiri ini menemukan bahwa 51 persen menggambarkan dirinya lebih seperti orang Farisi (munafik, merasa benar sendiri, suka menghakimi) dibandingkan dengan 14 persen saja yang meneladani sikap dan tindakan Yesus (tidak mementingkan diri sendiri, empati, kasih).[1] C.S. Lewis menjelaskan hal ini:

“Ketika orang Kristen berperilaku buruk, atau gagal berperilaku baik, kita membuat Kekristenan tak dapat dipercaya oleh dunia luar… Hidup kita yang ceroboh memengaruhi pembicaraan dunia luar, dan kita memberi mereka alasan untuk berbicara dengan cara yang menimbulkan keraguan tentang kebenaran Kekristenan.[2]

Jika perkataan kita hendak berarti bagi orang lain, perkataan itu harus keluar dari hidup yang berintegritas, jika tidak, perbuatan kita akan dicemari perkataan yang bernada kebohongan. Integritas bisa sangat menantang di tempat kerja. Tekanan untuk menanggalkan nilai-nilai alkitabiah dan mengikuti cara hidup yang berbeda pada hari Senin dapat mengalahkan komitmen-komitmen tipis yang dibuat di gereja pada hari Minggu. Kristus memanggil kita untuk menghidupi nilai-nilai Kekristenan kita sama utuhnya di tempat kerja maupun di tempat lain, sekalipun harus dengan pengorbanan. Ketika orang melihat bahwa kita tidak sekadar pencitraan, tetapi berusaha dengan rendah hati untuk hidup berintegritas, mereka akan memerhatikan.

Orang juga akan memerhatikan, bukan ketika kita gagal – yang pasti akan kita alami – tetapi ketika kita gagal dan mengakui bahwa kita tidak mampu mengatasinya. Barangkali yang lebih penting daripada melakukan segala sesuatu dengan benar adalah mengakui bahwa kita sering melakukan kesalahan, mencari pengampunan dan meminta maaf kepada orang-orang yang kita lukai. Salah satu unsur karakter yang paling menarik adalah kerendahan hati untuk menerima bahwa kita tidak sempurna. Jerram Barrs mengingatkan kita tentang dampak kerendahan hati kita pada orang lain,

Sebagai orang Kristen, kita sering berperilaku seakan-akan kita memiliki segalanya untuk diberikan kepada orang non-Kristen, dan tidak ada yang diterima. Kita bayangkan bahwa mengakui kelemahan atau kebutuhan kita akan merendahkan martabat kita. Orang Kristen dipandang “memiliki segalanya” dan kita takut bahwa membiarkan orang tidak percaya melihat yang tidak kita miliki, akan menghilangkan kepercayaan mereka terhadap kita, dan terhadap Injil. Tetapi ini adalah kebodohan, karena kebenarannya kita selalu lemah dan memiliki kekurangan, dan Injil tidak dilayani dengan berpura-pura sebaliknya. Mengakui, seperti Yesus, bahwa kita membutuhkan kebaikan, karunia, hikmat, atau nasihat dari orang tidak percaya adalah hal yang akan membesarkan hati dan memuliakan orang-orang yang mungkin sudah berpikir hanya akan mendapat cemoohan atau sikap merendahkan dari kita.[3]

Intinya: Melakukan pekerjaan baik saja tidak cukup, harus ada yang menarik dari karakter kita. Dan terkhusus, kemampuan untuk mengakui kesalahan dan kegagalan akan tampak sangat mencolok di mata budaya sekitar kita. Orang perlu mencium keharuman aroma kehadiran Yesus dalam karakter kita, yang tampak paling jelas melalui karakter rendah hati yang Dia hasilkan di dalam kita.