Memberitakan Injil melalui Kompetensi
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Tugas pertama duta besar Kristus di tempat kerja adalah melakukan pekerjaan kita dengan sebaik-baiknya – karena kompetensi kita sangat memengaruhi kredibilitas kita. Kompetensi berarti melaksanakan pekerjaan kita sebaik-baiknya, mencurahkan segenap hati kita di dalamnya, memberikan produk dan layanan terbaik yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang logis.
Alkitab berbicara tentang pentingnya melakukan pekerjaan baik di sejumlah ayatnya. Sebagai contoh:
Pernahkah engkau melihat orang yang mahir dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri. (Amsal 22:29)
Apa pun yang dapat dikerjakan dengan tanganmu, kerjakanlah dengan sekuat tenaga. (Pengkotbah 9:10)
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk TUHAN. (Kolose 3:23)
Kita tak perlu heran jika pekerjaan kita sangat terkait erat dengan kesaksian kita. Pikirkan hal berikut:
Allah itu Pekerja dan Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya yang seperti itu. Di dalam Kejadian 1 dan 2, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Pekerja – pencipta, perancang, pembangun, penguasa dan pengembang properti— dan sejak awal, bekerja sudah menjadi bagian dari rencana Allah untuk manusia - sebagai bagian integral yang menyatu dengan kehidupan manusia. Allah memerintahkan manusia pertama, nenek moyang kita, untuk mengusahakan dan merawat Taman Eden dengan rajin (Kejadian 2:15), untuk produktif dalam pekerjaan mereka membuat dunia berkembang sepenuhnya (Kejadian 1:28).
Kehidupan, masa depan dan identitas Adam berkaitan erat dengan bumi dan pekerjaannya di dalamnya. [1]
Kita mencerminkan gambar Allah melalui pekerjaan kita. Sebagai duta besar Kristus, kita punya tanggung jawab untuk menyatakan Kristus dalam konteks dinamika pekerjaan kita sendiri. Michael Williams menulis, “Kita ada untuk tujuan menggambarkan Allah, mencerminkan Dia kepada dunia, menirukan Dia dalam kehidupan orang-orang dan masyarakat sekitar kita.” [2]
Kualitas pekerjaan dan sikap kita dalam bekerja berbicara banyak kepada orang lain tentang kita – dan tentang Allah yang kita layani. Dapatkah Anda bayangkan Yesus memakai bahan yang kurang bermutu, menunjukkan kinerja tukang kayu yang buruk, atau meminta bayaran yang terlalu tinggi kepada pelanggan-Nya? Jika Dia bekerja seperti itu, para pelanggan yang mendengar Dia mengajar akan punya alasan untuk menyimpulkan bahwa teologi-Nya sama reyotnya dengan meja-meja-Nya.
Paulus berkata bahwa produk dan layanan yang kita berikan dalam memenuhi kebutuhan orang lain dan memengaruhi kemajuan hidup manusia merupakan hal penting dalam kita mengasihi sesama: "Tentang kasih persaudaraan, … kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, mengurus persoalan-persoalan sendiri, dan bekerja dengan tanganmu sendiri, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada siapa pun." (1 Tesalonika 4:9-12)
Ketika kita melakukan pekerjaan baik, Allah dimuliakan. Abraham Kuyper menjelaskan, "Di mana pun manusia berada, apa pun yang ia lakukan, untuk apa pun ia menggunakan tangannya dalam pertanian, perdagangan, industri, atau memakai pikirannya dalam dunia seni atau sains, ia bagaimanapun selalu berdiri di hadapan wajah Allahnya, ia dipekerjakan untuk melayani Allahnya, ia harus tekun menaati Allahnya, dan di atas segalanya, ia harus bertujuan untuk memuliakan Allahnya."[3]
Melakukan pekerjaan baik dengan hati seorang hamba dan “seperti melakukan untuk Tuhan” membawa kemuliaan bagi Allah dan sangat membantu kita untuk memiliki hak untuk didengar. Sebaliknya, kita merusak kesaksian kita jika kita melalaikan tanggung jawab kita, bekerja asal-asalan, atau bekerja hanya untuk kepentingan diri sendiri saja.
Intinya: Di tempat kerja, orang menilai kita pertama-tama dari pekerjaan kita, bukan teologi kita. Jika kita ingin orang lain memerhatikan iman kita, kita harus memerhatikan pekerjaan kita.
