Memberitakan Injil melalui Percakapan Yang Bijak
Artikel / Dibuat oleh Proyek Teologi Kerja
Secara umum, orang perlu memercayai pembawa pesan sebelum mereka memercayai pesannya. Tetapi jangan salah – kita memiliki pesan yang harus disampaikan. Namun kita harus menyampaikannya dengan bijak. Tak seorang pun datang pada Kristus hanya karena melihat orang Kristen— dan dalam hampir semua kasus, harus ada orang yang menceritakan tentang Kristus kepada mereka. Ini tentu saja tidak berarti kita harus berbicara tentang Yesus setiap waktu. Tetapi ini berarti kita tidak boleh menyembunyikan iman kita dan harus siap berbicara setiap kali kita melihat ada orang yang terbuka untuk lebih memahami.
Mustahil sungguh-sungguh membaca Alkitab tetapi mengabaikan kewajiban untuk membuat Kristus dikenal. Dalam Kotbah di Bukit, Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk menjadi terang dunia—hal yang bukan untuk disembunyikan.
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah tempayan, melainkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. (Matius 5:14-16)
Berbicara tentang Iman Itu Tepat . . .
(Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal. 68) |
Sebagian orang Kristen memakai perkataan yang dilaporkan dari St. Francis (“Beritakanlah Injil setiap waktu, dan jika perlu, pergunakanlah kata-kata”) sebagai alasan untuk tidak membicarakan iman mereka dengan orang-orang yang perlu mendengar Injil. Mereka percaya bahwa mereka memenuhi panggilan Kristus untuk menjadi saksi-Nya hanya dengan cara hidup mereka – tanpa perlu menjelaskan mengapa mereka hidup dengan cara seperti itu. Orang yang berkata dengan naif, “Aku tidak berbicara; Aku hanya membiarkan hidupku yang berbicara,” mungkin tidak menyadari betapa egoisnya pernyataan itu. Siapakah di antara kita yang menjalani kehidupan dengan sedemikian baik sampai perbuatan kita adalah satu-satunya hal yang dibutuhkan untuk bersaksi atas kebaikan Yesus? [1]
Perilaku yang menghormati dan mencerminkan Kristus memang merupakan hal yang sangat penting dalam menjadi saksi. Tetapi menjadi saksi juga memerlukan perkataan.
Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan. Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggung jawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang baik supaya mereka yang memfitnah kamu karena perilakumu yang baik dalam Kristus menjadi malu karena fitnah mereka itu. (1 Petrus 3:15-16)
Hal yang sering dilupakan dari perintah Petrus ini adalah bahwa berbuat baik kepada orang lain itu akan membangun relasi yang membuat orang ingin bertanya “Mengapa?” Mengapa Anda hidup dengan cara yang Anda lakukan? Kita memberi penjelasan kepada orang-orang yang telah melihat perilaku kita yang saleh, mengenali pengharapan kita dan bertanya tentang iman kita.
Meskipun Petrus mendorong saksi-saksi yang enggan untuk berbicara, ia juga memberikan batasan-batasan bagi orang Kristen yang terlalu bersemangat mencari kesempatan untuk mengabarkan Injil—entah pendengarnya siap atau tidak. Meskipun sebagian orang datang pada Kristus tanpa melalui relasi – dan dalam kasus yang jarang tanpa seorang saksi – memaksakan percakapan rohani pada orang lain biasanya akan lebih menimbulkan panas daripada terang. Percakapan iman yang bijak bukan tentang membuat seseorang memanjatkan doa keselamatan, tetapi tentang memancarkan realitas anugerah Allah pada kita dalam Kristus dan menjelaskan realitas itu pada orang yang ingin tahu.
Seperti apakah percakapan yang bijak itu? Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Percakapan yang bijak memerhatikan kondisi hati pendengar. Di Matius 13, Yesus menggambarkan hati manusia seperti lahan yang kasar untuk ditanami Injil. Rumput liar, bebatuan, dan tanah yang keras menggagalkan penanaman benih Kebenaran. Kita para penabur Injil perlu mengambil waktu untuk memikirkan daya penerimaan pendengar kita.
Kebanyakan orang dewasa yang belum percaya memiliki hambatan signifikan dalam menerima Injil, hal-hal yang mengeraskan hati mereka dan telah melatih mereka untuk menjaga jarak dari kebenaran rohani. Selain isu-isu intelektual yang dimiliki banyak orang terhadap Kekristenan, masalah yang lebih mendasar dan sering dilupakan adalah hambatan emosional – sikap acuh tak acuh, tidak percaya, bermusuhan atau ketakutan terhadap orang Kristen atau Kekristenan – sikap-sikap negatif yang merintangi terjadinya percakapan rohani.
Terkadang, hambatan emosional itu disebabkan oleh pengalaman negatif mereka saat bersama kelompok religius atau orang Kristen yang berpikiran sempit, suka menghakimi atau fanatik. Bahkan orang Kristen yang bermaksud baik yang terlalu agresif dapat memicu rasa tidak percaya atau kemarahan, dan tanpa disengaja menciptakan lebih banyak hambatan. Tetapi kemunafikan secara umum bisa memalingkan lebih banyak hati dari Yesus daripada hal lainnya. Anggota keluarga, tetangga, guru yang munafik bisa mengeraskan tanah hati.
Orang Kristen yang bijak akan memikirkan dulu hambatan-hambatan ini sebelum upaya mereka memaparkan Injil ditolak mentah-mentah. Namun ketika orang melihat kompetensi, karakter dan kepedulian kita, Roh Kudus akan membuka pintu bagi kita untuk menjelaskan tentang pengharapan kita kepada orang-orang yang sebetulnya enggan berbicara tentang kebenaran rohani.
Apakah Injil itu?Injil adalah Kabar Baik tentang Allah yang menjangkau kita dengan kepenuhan kasih-Nya melalui Yesus. Biasanya, orang paling tertarik mendengar bagaimana Anda mengalami kebaikan kasih Allah. Ceritakan saja perbedaan mengikut Yesus yang sudah terjadi dalam kehidupan Anda, maka Anda sudah memberitakan Injil. Meskipun, terkadang orang juga bertanya tentang apa itu Injil dalam arti yang lebih teologis, bukan hanya secara subyektif dalam hidup Anda, tetapi sebagai definisi yang obyektif. Banyak penjelasan tentang Injil bisa ditemukan di buku-buku, kotbah-kotbah atau internet, yang bisa membantu untuk Anda pikirkan. Definisi paling langsung terdapat di Alkitab sendiri: Allah menunjukkan kasih-Nya yang besar pada kita dengan mengutus Kristus untuk mati bagi kita ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8). Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci. Dia telah dikuburkan dan telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci. (1 Korintus 15:3-4). Karena anugerah Allah yang menyelamatkan semua orang telah nyata. Dia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia yang sekarang ini, dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh berkat dan penampakan kemuliaan Allah yang mahabesar dan Juru Selamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat milik-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. (Titus 2:11-14). Sebab di dalam Kristus Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka dan Dia telah memercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepada kamu: berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah. (2 Korintus 5:19-20). |
Percakapan yang bijak mengikuti ke mana Roh Kudus sudah bekerja. Penting untuk kita mengenali apa yang sedang dikerjakan Roh Kudus dan mengikuti-Nya, daripada berusaha sendiri membuat sesuatu terjadi menurut waktu kita. Betapa pun meyakinkan atau kuatnya argumen-argumen kita, kita tidak dapat membangkitkan orang yang mati secara rohani. Membuka hati adalah pekerjaan Allah. Dan Dia melakukannya pada waktu-Nya, bukan waktu kita – yang kadang mengherankan kita. Hanya karena seseorang tidak tertarik pada percakapan rohani saat ini tidak berarti Roh Kudus tidak dapat melembutkan hati yang sangat keras itu dengan berjalannya waktu.
Antagonisme atau sikap bermusuhan terhadap Allah bukan cuma persoalan masa kini. Di sepanjang sejarah, umat Allah telah membawa kebenaran-Nya ke kota-kota, bangsa-bangsa dan tempat-tempat kerja yang bersikap bermusuhan. Tetapi Injil tak pernah dikalahkan oleh permusuhan. Allah lebih dahsyat dari segala strategi yang dipakai Si Jahat untuk menghentikan Injil. Tak ada pandangan dunia, tren budaya, atau lingkungan kerja yang terlalu bermusuhan – dan tak ada orang yang terlalu tak punya harapan – untuk dijangkau kuasa Roh Kudus yang sangat cukup.
Dan betapa pun kita sangat bersemangat mengharapkan seseorang datang pada Kristus, ingatlah perkataan Kristus sendiri ini. “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku …” (Yohanes 6:44).
Tugas kita adalah menolong orang mengambil satu langkah lebih dekat kepada Kristus, dan menyerahkan hasil dan waktunya kepada Tuhan. Kita hanyalah satu mata rantai dari rangkaian yang dapat dipakai Roh Kudus pada waktu tertentu – dan rangkaian itu bisa jadi rantai yang panjang. Sungguh indah bisa menjadi mata rantai terakhir dalam rangkaian perjalanan iman seseorang. Tetapi jika kita mengenali yang sedang dikerjakan Roh Kudus dan bergabung, kita tak akan menjadi mata rantai yang hilang.
Percakapan yang bijak membangkitkan rasa ingin tahu. Ketika kita pergi bekerja esok hari sebagai duta besar Kristus, kita perlu mengenali orang-orang yang bekerja di sekitar kita. Apa saja minat mereka, kebutuhan-kebutuhan mereka, harapan-harapan dan impian-impian mereka? Apa yang dapat membuat mereka mendengar cukup lama untuk belajar tentang Allah yang sangat mengasihi mereka dan rindu mengaruniakan kepada mereka hidup yang berkelimpahan di bumi maupun dalam kekekalan di hadirat-Nya? Jika kita tidak mengambil waktu untuk mengenali rekan-rekan kerja kita, pintu-pintu bisa tertutup, tidak terbuka.
Percakapan yang bijak harus singkat—setidaknya di awal. Rasa ingin tahu tentang iman kita tidak muncul dengan sendirinya. Saat menjajaki ketertarikan rohani seseorang, percakapan iman yang panjang kemungkinan tidak cocok atau menimbulkan rasa ingin tahu. Meskipun rekan kita mungkin mendengarkan dengan sopan, tetapi dalam hati mereka mungkin berencana untuk lari dan melepaskan diri dari orang fanatik rohani ini. Karena itu, berusahalah untuk membuat orang ingin mengetahui lebih banyak lagi.
Memerhatikan “Kepentingan” Orang LainKetika pesawat lepas landas, Bill terlibat percakapan yang sopan dengan seorang wanita yang duduk dekat jendela yang ternyata seorang artis. Wanita itu terdiam dan kembali membaca buku ketika ia mengetahui bahwa Bill seorang teolog. Bill memejamkan matanya dan mencoba untuk beristirahat. Ketika pesawat menembus awan dan mencapai ketinggian jelajah, desakan Roh Kudus mengusik tidur siangnya. Ia membuka mata dan melihat teman duduknya sedang memandangi matahari terbenam yang mempesona. “Indah, bukan?” Bill berkata sambil lalu. “Sungguh menakjubkan bagaimana Allah melukis karya seni yang baru setiap petang, dan tak pernah ada yang sama setiap harinya.” Responnya mengejutkan Bill. Selama beberapa saat berikutnya, wanita itu lebih banyak bercerita tentang kehidupannya. Mereka lalu berbincang tentang apa yang dikatakan Alkitab tentang kemampuan Allah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dalam situasi-situasi sulit yang dihadapinya. (Dari Bill Peel dan Walt Larrimore, Workplace Grace, hal. 84-85) |
Mengibarkan Bendera ImanBendera iman adalah pernyataan atau komentar singkat (tidak lebih dari dua kalimat) tentang Allah, Alkitab atau doa dalam percakapan alami yang menunjukkan kita memiliki dimensi rohani – sebuah potret tentang diri Anda. Bendera iman juga bisa berupa kata-kata penghargaan sederhana yang menunjukkan bagaimana Anda melihat gambar Allah terungkap dalam pekerjaan seseorang. Bendera iman itu bisa terdengar seperti …
Pedoman: bendera iman itu …
(Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal. 82-84) |
Bahkan pertanyaan tentang hal-hal biasa seperti rencana kita di akhir pekan, bisa menjadi kesempatan untuk mengundang rasa ingin tahu. “Saya mengajar kelas Sekolah Minggu tentang pemulihan dan perceraian.” “Saya akan mengikuti retret kaum pria bersama gereja saya.” Membiarkan teman-teman kerja mengetahui yang kita lakukan bisa membuka peluang untuk menimbulkan rasa ingin tahu. Pilihan-pilihan dan aktivitas-aktivitas kita lebih berbicara banyak kepada mereka daripada cara penggunaan waktu kita. Semua itu menunjukkan hal-hal yang kita sukai. Mereka mungkin menjadi bingung dan bertanya-tanya, mengapa dari sekian banyaknya pilihan, kita memilih aktivitas-aktivitas Kristen—yang bagi mereka mungkin membosankan atau membuang-buang waktu saja. Ketika rasa ingin tahu itu memenuhi mereka, mereka akan bertanya, dan membuka kesempatan untuk kita memberi penjelasan singkat kepada mereka.
Mereka mungkin juga bertanya: Bagaimana Anda bisa memercayai Tuhan di tengah segala kesulitan yang Anda hadapi? Mengapa Anda begitu baik kepada orang yang sulit dikasihi? Mengapa Anda sedemikian berusaha keras untuk menolong orang lain berhasil? Bagaimana Anda dapat memercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga? Keingintahuan mereka yang terucap merupakan undangan untuk menyampaikan lebih banyak tentang berita Injil yang telah Anda alami di dalam Yesus.
Rasa ingin tahu juga bisa muncul karena adanya kesamaan dalam berelasi. Jerram Barrs, Kepala Institut Francis Schaeffer, menasihati para mahasiswanya agar mencari kesamaan dengan rekan-rekan kerjanya, dan mulai membicarakan iman berdasarkan kesamaan-kesamaan itu. Apakah mereka menyukai seni? Apakah mereka penggemar olahraga? Musik apa yang mereka sukai? Apa pun kegemaran mereka, ketika kita menemukan minat yang sama, dasar relasi terbentuk. Dari hampir setiap ketertarikan yang sama, sebagian cerita iman Anda bisa muncul.[2]
Dalam percakapan-percakapan yang lebih panjang, patut diingat juga bahwa orang menjadi tertarik pada Yesus karena kebutuhan atau aspirasi yang dirasakan secara pribadi. Sebagai makhluk rasional, kita memerlukan informasi, jawaban dan argumen yang rasional, tetapi bukan itu saja. Kita juga makhluk yang memiliki hasrat/kerinduan, yang merasakan jalan hidup kita dengan berusaha menemukan apa yang hilang, yang seringkali tanpa mengetahui apa yang kita cari.[3] Menolong orang lain melihat bahwa kerinduan-kerinduan terdalam mereka dapat dipenuhi di dalam Kristus, akan menimbulkan rasa ingin tahu yang sangat kuat tentang bagaimana Yesus memenuhi kerinduan itu.
Tim Keller merefleksikan pengalaman hidupnya saat berbicara tentang Yesus kepada orang-orang sekuler di New York. “Jika orang tidak mendapati percakapan kita tentang Kristus sangat menarik (dan mematahkan stereotip), mata mereka akan langsung berkabut ketika Anda mencoba berbicara dengan mereka.”[4] Percakapan Yesus dengan Nikodemus (Yohanes 3:1-21) dan dengan perempuan di tepi sumur (Yohanes 4:4-26) adalah contoh yang tepat. Yesus tidak hanya berbicara dengan konsep-konsep dan bahasa yang dapat mereka pahami, Dia juga menjalin percakapan itu dengan hal-hal yang menjawab permasalahan unik setiap orang—kerinduan-kerinduan mereka yang terdalam. Dengan berfokus pada ketertarikan individu, Dia membangkitkan rasa ingin tahu mereka. Kita dapat melihat betapa Dia berhasil dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagai tanggapan mereka.
Akhirnya, ketika orang dapat menghubungkan kuasa Injil dengan kerinduan terdalam mereka, mereka akan berkata, “Andai saja itu benar!” Ketika hal itu terjadi, kita melihat pintu terbuka untuk berita Injil.
Menghubungkan dengan Kebutuhan Orang LainPikirkanlah percakapan-percakapan yang terjadi di tempat kerja Anda selama seminggu terakhir. Topik-topik keprihatinan, ketakutan, kecemasan, kekecewaan, kemarahan, kegembiraan, penghargaan, kedamaian dll apa saja yang diungkapkan? Apakah Anda pernah memiliki pengalaman yang sama ketika Allah begitu nyata bagi Anda, ketika Anda mendapat suatu pelajaran, ketika Anda mulai melihat sesuatu secara berbeda? Ambillah waktu untuk berlatih menceritakan atau menuliskan yang akan Anda katakan. Jagalah sikap positif dan hindari terdengar superior. Jangan katakan “Aku ingat ketika aku dulu percaya bahwa …” |
Percakapan yang bijak (biasanya) positif. Ketika orang menjadi ingin tahu, mereka kemungkinan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Seringkali yang benar-benar ingin mereka ketahui justru yang tidak terucap dalam kata-kata mereka. Mereka mungkin takut bertanya karena mereka khawatir kita tidak berpikiran sama seperti mereka. Mereka mungkin juga sedang menguji kita untuk mengetahui, apakah kita akan mendekati mereka dengan cara yang memaksakan-Alkitab. Jika kita menjawab dengan cara yang menghakimi, mereka kemungkinan akan mundur dan menghindari kita bagaikan wabah penyakit. Namun jika mereka mendapatkan respons yang tidak menghakimi, jujur, tulus, mereka kemungkinan akan kembali untuk bertanya lebih lanjut, apalagi jika hidup dan tindakan kita menggemakan jawaban-jawaban yang kita berikan.
Injil adalah Kabar Baik tentang Yesus, yang bukan berarti Allah menghakimi kita, tetapi Dia mengasihi kita dan ingin mengampuni serta memulihkan kita. Kita tak perlu heran jika orang-orang tak percaya membuat pilihan yang buruk. Jika kita mengeritik secara agresif pilihan-pilihan dan gaya hidup mereka, kita dapat menciptakan penghalang. Ini bukan berarti kita mentolerir perilaku berdosa, melainkan karena kita ingat bahwa keinsafan adalah deskripsi tugas Roh Kudus, bukan kita.
Ketika Dia [Roh Kudus] datang, Dia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman: akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi krpada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. (Yohanes 16:8-11)
Kita juga perlu mengingat respons Yesus terhadap orang berdosa. Dia tidak membawa penghakiman kepada orang-orang yang tidak religius. Dia menyimpan kecaman-kecaman-Nya untuk para pemuka agama, orang-orang Farisi dan para pemimpin Yahudi pada zaman itu. Terhadap orang-orang di luar lingkup aristokrasi religius ini, sikap-Nya lembut, rendah hati dan penuh belas kasih. Ingat kemurahan hati-Nya kepada perempuan yang kedapatan berzinah?
Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Ibu, di manakah mereka? Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?"Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi." (Yohanes 8:10-11)
Saat ini, banyak orang menjaga jarak dari Yesus karena mereka memiliki kesan buruk tentang Dia dari para pengikut-Nya. Mereka mungkin berpikir Dia membenci kaum homoseksual, tidak suka bersenang-senang, memihak pada pandangan politik yang mereka benci, menjauhi orang yang tidak sempurna, rasis, merendahkan wanita, atau hanya peduli pada yang akan terjadi setelah manusia mati. Sikap-sikap ini mungkin ada pada sebagian orang Kristen, tetapi bukan pada Yesus.
Keramahan kita yang tak diduga pada orang yang sensitif terhadap kritik dapat membuat mereka heran dan menjadi penasaran. Petrus memberikan nasihat penting kepada orang yang ingin membantu rekan-rekan kerjanya mengambil satu langkah lebih dekat kepada relasi dengan Kristus.
Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. (1 Petrus 3:8-9)
Setiap interaksi dengan setiap orang setiap hari sangat penting secara rohani, dan kita punya kesempatan untuk menjadi berkat bagi orang lain tidak hanya ketika kita dihina atau diperlakukan buruk, tetapi ketika kita terhubung dengan siapa saja yang diciptakan menurut gambar Allah. Senyum, kata-kata ramah, pujian atas pekerjaan yang diselesaikan dengan baik, dapat dipakai Roh Kudus untuk menarik orang selangkah lebih dekat kepada Yesus.
Percakapan yang bijak memanfaatkan kekuatan cerita. Tak ada yang ingin mendengar pidato basi tentang Yesus, tetapi kebanyakan orang menyukai cerita yang bagus. Dari Kejadian sampai Wahyu, Alkitab dipenuhi dengan cerita-cerita. Allah bisa saja memberi kita buku panduan dengan indeks untuk menjalani kehidupan di bumi. Tetapi Dia memberi kita Alkitab, firman yang diilhamkan-Nya, dan mengisinya dengan cerita-cerita, yang semuanya "bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (2 Timotius 3:16). Bahkan, seluruh Alkitab adalah satu cerita besar tentang penebusan.
Ketika Yesus ingin berbicara tentang kasih Bapa, Dia tidak sekadar menyajikan konsep; Dia menyampaikan cerita yang menarik perhatian—Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32). Ketika Dia ingin menolong murid-murid-Nya memahami tentang kerajaan Allah, Dia memakai cerita-cerita yang ditulis Matius di dalam kitab Injilnya.
Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah dan duduk di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Ia menyampaikan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur….(Matius 13:1-3)
Manusia, menurut Alasdair MacIntyre, adalah "makhluk yang bercerita" [5]. Pikirkanlah percakapan-percakapan yang Anda lakukan di tempat kerja akhir-akhir ini. Berapa banyak yang melibatkan cerita? Kemungkinan besar banyak. Dalam penginjilan, cerita seharusnya memenuhi percakapan rohani kita dengan orang tidak percaya. Cerita dapat membentuk informasi menjadi maksud dan membantu orang lain membayangkan siapa kita dan apa yang kita yakini. Bercerita menggambarkan kebenaran dengan cara yang otentik dan nyata. Cerita membuka peluang bagi orang tidak percaya untuk melihat sekilas tentang menjadi orang percaya, dan dapat memberi alasan untuk mereka memikirkan ulang pikiran-pikiran negatif yang mungkin mereka miliki tentang orang Kristen atau Kekristenan.
Bercerita mengandung kekuatan besar. Alih-alih memakai fakta-fakta untuk mengetuk pintu depan pikiran, yang seringkali dikunci dari dalam, cerita memungkinkan kebenaran masuk melalui pintu belakang hati. Cerita dapat menghasilkan pemahaman baru dan mengembangkan kedalaman dan keluasan persepsi dalam membantu kita dan orang tidak percaya memahami dunia.
Cerita adalah sarana yang sangat penting untuk orang Kristen menantang cara orang tidak percaya memandang dunia. Dengan menyampaikan cerita yang tepat, orang Kristen dapat membuat orang tidak percaya meletakkan senjatanya, lalu masuk dan mendengarkan dengan hati dan pikiran terbuka. Dengan demikian, cerita memberi kesempatan yang tiada bandingannya untuk menantang asumsi-asumsi dasar orang tidak percaya tentang kehidupan.[6]
Cara Menyampaikan Cerita ImanCerita Iman merupakan cara yang efektif untuk menyampaikan kebenaran rohani dalam bentuk yang menarik. Cerita itu menggambarkan secara singkat peristiwa tertentu saat kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan atau saat kita memahami suatu pelajaran rohani yang penting. Cerita iman membuat pendengarnya melihat bagaimana Tuhan bekerja, membuat perbedaan yang berarti dan bermanfaat dalam hidup kita. Cerita Iman ... • memberi gambaran sekilas tentang bagaimana menjadi anak Allah dan seperti apa iman yang hidup dalam kehidupan nyata itu. • sesuai dengan kebutuhan atau situasi dalam kehidupan pendengar dan dapat mendorong timbulnya pertanyaan atau komentar. • membantu menjelaskan mengapa ada yang berbeda pada kita. Pedoman: Cerita Iman … • Sesuai dengan alur percakapan alami, berkaitan dengan topik yang sedang dibicarakan. • Tidak boleh lebih dari dua menit. • Menghindari perdebatan. • Jangan menggambarkan diri kita sebagai orang baik, tetapi sebagai orang yang diampuni, disembuhkan, atau ditolong Tuhan • Menerima, tetapi tidak menuntut, tanggapan. (Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal. 85-89) |
Percakapan yang bijak dapat dipahami. Ketika kita berbicara dengan orang tidak percaya—atau siapa pun—kita ingin dipahami. Namun, jika kita berbicara tentang iman dengan jargon-jargon Kristen, kita menciptakan penghalang yang signifikan. Jargon adalah bahasa orang dalam yang hanya dipahami oleh orang-orang di dalam suatu kelompok—dalam hal ini orang Kristen lain. Berbicara dalam bahasa orang Kristen dapat membuat rekan kerja dan teman kita yang tidak percaya menjadi bingung dan malah menjauh.
Kita tidak dapat berasumsi orang lain memahami istilah-istilah Alkitab yang kaya makna bagi iman kita. Ketika berbicara dengan orang non-Kristen, kita harus menghindari istilah-istilah yang dapat membingungkan, disalahpahami, atau dianggap negatif. Batasi penggunaan bahasa orang dalam seminimal mungkin, lakukan jeda, tanyakan kepada pendengar apakah mereka bisa mengikuti, dan pastikan mereka memahami semua kata-kata teologisnya.
Percakapan yang bijak mengingat siapa yang kita ajak bicara. Salah satu alasan mengapa percakapan rohani itu menakutkan adalah karena kita berbicara dengan orang yang mati—mati rohani, maksudnya. Paulus menggambarkan kondisi mengerikan manusia yang terpisah dari Kristus di dalam kitab Efesus.
Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, kamu menaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang yang tidak taat. Sebenarnya dahulu kita semua juga termasuk di antara mereka, ketika kita hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kita. Pada dasarnya kita adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. (Efesus 2:1-3)
Meskipun percakapan kita harus positif, Injil itu pada hakikatnya bersifat konfrontatif. Menurut Tim Keller,
Dalam setiap presentasi Injil, ada tantangan epistemologis. Orang diberi tahu bahwa pemahaman mereka tentang Allah dan realitas tertinggi: salah… Singkatnya, ada kebenaran tentang Allah (“Anda pikir Anda tahu siapa Allah, tetapi Anda tidak tahu”), kebenaran tentang dosa dan kebutuhan Anda akan keselamatan (“Anda berusaha menyelamatkan diri sendiri, tetapi Anda tidak bisa”), kebenaran tentang Yesus (“Dia adalah Raja Mesianis yang datang untuk menyelesaikan keselamatan bagi Anda”), serta panggilan untuk menanggapi kebenaran-kebenaran ini dengan bertobat dan percaya kepada-Nya.[7]
Jika kita takut orang tidak percaya akan memusuhi Kabar Baik Kristus, patut diingat bahwa kita sedang berbicara dengan orang-orang yang menjadi korban Musuh itu, bukan Musuh itu sendiri. Ya, mereka bisa memusuhi, tetapi kita juga dulu adalah musuh Allah ketika Dia datang mencari kita. Ya, mereka itu orang berdosa, tetapi kita juga. Ya, mereka mungkin tidak mengenal kebenaran, tetapi kita juga tidak bisa mengenal kebenaran dengan pikiran kita sendiri. Ya, mereka mungkin mendukung hal-hal yang dibenci Allah, tetapi kita juga demikian. Mereka mungkin tidak mengasihi Allah, tetapi Allah mengasihi mereka.
Dan yang terpenting, kita sedang berbicara dengan orang yang diciptakan menurut gambar Allah, tak peduli betapa terdistorsi, rusak, atau tak dapat dikenalinya lagi mereka. Fakta ini menuntut rasa hormat kita dan layak mendapatkan harkat yang seringkali tidak diakui di dunia yang telah jatuh dosa ini.
Penulis blog Katolik Jennifer Fitz mengingatkan kita tentang bagaimana hal ini harus memengaruhi penginjilan.
Penginjilan bukanlah tentang membuat orang lain melakukan yang Anda ingin mereka lakukan. Bukan tentang menciptakan teknik yang tepat untuk membuat momen yang tepat itu berlangsung dengan sangat baik.
Penginjilan adalah tentang melihat orang yang ada di depan Anda, tak peduli siapa orang itu, dan memandang takjub pada ciptaan Allah yang sangat indah yang telah dikaruniai martabat dan nilai yang tak dapat dihilangkan oleh apa pun, betapa pun dalamnya orang itu sedang berkubang dalam lumpur saat ini. Anda melihat orang itu, dan Anda tahu pasti: Inilah orang yang pantas menerima pengorbanan sampai mati.
Dan kemudian Anda berusaha selama beberapa menit untuk melakukan hal yang pantas di hadapan orang itu.[8]
Dengan Rendah Hati Menganggap Orang Lain Lebih Utama dari Diri Sendiri (Filipi 2:3)Apa tanda gambar Allah yang Anda lihat pada seseorang? Apa saja kesamaan Anda dengan orang-orang non-Kristen yang menjadi bagian kehidupan Anda? Pengalaman? Kegembiraan? Penderitaan? Persoalan? Kapan Allah begitu nyata bagi Anda, mengajar Anda, menghibur Anda, menguatkan Anda dalam situasi-situasi ini? |
Percakapan yang bijak dimulai dengan bercakap-cakap dengan Tuhan. Meskipun penyebaran Injil yang meluas dengan cepat pada abad pertama digerakkan oleh mobilisasi massa orang-orang Kristen biasa, penyebaran itu sesungguhnya diberdayakan oleh doa-doa yang tekun. Peran penting doa dalam penginjilan dicatat di sepanjang Kitab Kisah Para Rasul (Kisah Para Rasul 1:14; 1:24; 2:42; 2:47; 4:24,31; 8:15; 9:40; 10:9; 10:30-31; 12:5; 13:3; 14:23; 16:25; 20:36; 21:5; 26:29; 28:8).
Ketika kita bertemu rekan kerja dan kolega di tempat kerja yang kita harapkan menjadi percaya, kita perlu ingat bahwa penginjilan dimulai dan diakhiri dengan Allah. Dia telah mengundang kita untuk bermitra dengan-Nya dalam misi kehormatan mendamaikan manusia dengan diri-Nya. Kita melakukan bagian kita dengan menunjukkan kesalehan dan berbicara dengan bijak. Selebihnya ada di tangan-Nya. Itu sebabnya kita berbicara dengan Yesus tentang seseorang sebelum kita berbicara dengan seseorang tentang Yesus. Bahkan Paulus, yang merupakan pembicara andal pun, membutuhkan doa.
Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah dengan mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya. (Kolose 4:2-4)
Perhatikan bahwa Paulus berdoa untuk orang-orang yang belum percaya agar Allah membuka pintu untuk pemberitaan firman – yang hanya Allah yang dapat melakukannya – tetapi juga untuk dirinya sendiri agar ia dapat berbicara dengan jelas.
Berdoa untuk Diri Sendiri dan Orang LainBerdoa untuk Diri Sendiri Kita tidak dapat melakukan apa pun yang bernilai rohani jika Roh Kudus tidak bekerja di dalam kita. Berikut ini adalah contoh-contoh tentang bagaimana kita dapat berdoa untuk diri sendiri sebagai duta besar Kristus di tempat kerja. Kita dapat meminta agar…
Berdoa untuk Orang Lain Kita dapat berdoa untuk rekan dan teman kerja kita dan meminta agar...
(Dari Bill Peel dan Walt Larimore, Workplace Grace, hal.164-165) |
Percakapan yang bijak menghormati integritas di tempat kerja. Apakah tidak apa-apa berbicara tentang Yesus di tempat kerja? Banyak orang Kristen bertanya-tanya, apakah di lingkungan kerja yang berbeda-beda spiritualitasnya kita boleh berbicara tentang Yesus. Apakah hal itu sah? Apakah diizinkan oleh perusahaan saya? Secara umum, jawabannya adalah "ya," - berbicara tentang Yesus di tempat kerja adalah sah. Kami mempertimbangkan situasi hukum, khususnya, di Amerika Serikat. Kami sarankan yang di negara lain juga mempelajari undang-undang di tempat tinggal masing-masing.
Secara umum, jika suatu tempat kerja membolehkan percakapan dan pembicaraan pribadi apa pun—seperti yang terjadi hampir di setiap tempat kerja—maka tempat kerja itu juga harus memperbolehkan percakapan-percakapan religius. Jadi, jika orang dapat berbicara tentang keluarga atau sepak bola di tempat kerja, maka berbicara tentang agama pun dapat dilakukan. Bab VII Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964 (di Amerika-Red) melindungi pekerja di banyak tempat kerja pemerintah maupun swasta dari diskriminasi yang didasarkan agama:
Tindakan ketenagakerjaan yang melanggar hukum bagi pemberi kerja adalah:
(1) gagal atau menolak mempekerjakan atau memberhentikan seseorang, atau dengan kata lain mendiskriminasi seseorang sehubungan dengan kompensasi, syarat, ketentuan, atau hak istimewa pekerjaannya, karena ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau asal kebangsaannya; atau
(2) membatasi, memisahkan, atau menggolongkan pekerja atau pelamar kerja dengan cara apa pun yang akan menghilangkan atau cenderung menghilangkan kesempatan-kesempatan kerjanya, atau dengan kata lain, akan berdampak buruk pada statusnya sebagai pekerja, karena ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, atau asal kebangsaannya.[9]
Ini berarti, antara lain, jika bagian dari keyakinan agama yang kita pegang teguh adalah kewajiban untuk menceritakan Yesus kepada orang lain, maka pemberi kerja biasanya tidak dapat menghalangi kita untuk melakukannya, kecuali jika hal itu akan mengganggu pekerjaan yang sedang dilakukan atau menciptakan lingkungan kerja yang tidak bersahabat bagi orang lain. (Lingkungan kerja yang tidak bersahabat tercipta ketika "tempat kerja dipenuhi intimidasi, olok-olok, dan cercaan diskriminatif yang cukup parah atau meluas hingga mengubah kondisi-kondisi pekerjaan korban dan menciptakan lingkungan kerja yang kejam” [10] Jangan lakukan hal itu!)
Meskipun sudah ada perlindungan hukum semacam ini, para pemberi kerja cenderung tidak konsisten dengan kebijakan mereka sehubungan dengan penginjilan. Terkadang pemberi kerja tidak mengetahui hak-hak pekerja dalam hal ini, atau memilih mengabaikannya, sehingga penegakan hukumnya bisa berbeda-beda. Menurut Deborah Weinstein, yang mengajar Undang-undang Ketenagakerjaan di Wharton School, Universitas Pennsylvania, "Pengadilan di seluruh negeri sangat berbeda-beda dalam menafsirkan isu ini. Dalam kasus tahun 2006 di California, pengadilan mengatakan bahwa proselitisasi yang terus-menerus dan terang-terangan dilarang karena dapat menjadi gangguan. Tetapi pengadilan lain, seperti di Colorado, mengatakan bahwa para pemberi kerja harus berusaha keras mendukung orang-orang yang perlu melakukan proselitisasi.[11]
Tentu saja, jika kita harus menggunakan kekuatan hukum untuk berbicara tentang Allah kepada rekan-rekan kerja, kita mungkin telah kehilangan kesempatan untuk mendapat rekan bicara. Mungkin kita perlu bertanya mengapa ada kebijakan yang sangat membatasi itu pada awalnya. Apakah kita atau orang Kristen lain pernah melakukan gangguan, penyelewengan, penyalahgunaan kekuasaan, atau pelanggaran lainnya saat berbicara tentang Allah? Sekalipun ada hukum yang berpihak pada Anda tentang dengan hak untuk menginjili, namun jika cara-cara Anda tidak dapat dipertanggungjawabkan, Anda bisa berisiko menjauhkan orang-orang yang akan Anda ajak bicara.
Bagaimanapun, sangat penting untuk menghindari ketidakseimbangan kekuasaan saat membagikan iman kita di tempat kerja. Jika kita memiliki kekuasaan atas orang lain, ada bahaya bahwa membagikan iman kita akan dipandang sebagai pemaksaan. Orang mungkin takut untuk berkata tidak atau meminta kita berhenti bicara. Mereka bahkan bisa berpura-pura menerima pesan kita karena takut prospek pekerjaan mereka akan berkurang jika mereka tidak menerimanya. Yang lain mungkin menduga orang-orang yang menerima pesan kita akan mendapat keuntungan di tempat kerja. The Conference Board —sebuah organisasi bisnis global— memerhatikan, “Karena para supervisor memiliki wewenang untuk mempekerjakan, memecat, atau mempromosikan seseorang, para karyawan bisa menganggap ekspresi keagamaan supervisor mereka sebagai paksaan, meskipun hal itu tidak dimaksudkan demikian.”[12]
Sebagian orang Kristen berpendapat bahwa yang terbaik adalah menghindari penginjilan kepada orang-orang yang posisi kekuasaannya lebih rendah dan memercayai Tuhan agar menunjuk orang lain untuk membagikan Kabar Baik kepada mereka. Yang lain percaya bahwa para supervisor bisa saja membagikan iman mereka jika mereka benar-benar memperhatikan untuk mencegah dampak yang merugikan. Sudah jelas bahwa, jika berbicara tentang Tuhan akan mengeksploitasi ketidakseimbangan kekuasaan, maka kita tidak boleh melakukannya. Berhati-hatilah, dan ingatlah bahwa orang-orang yang memiliki kekuasaan hampir selalu meremehkan betapa besarnya pengaruh kekuasaan itu terhadap orang-orang yang posisinya lebih rendah. Seorang supervisor mungkin berpikir percakapan sambil lalu tentang iman bukanlah penyalahgunaan kekuasaan, tetapi bagaimana supervisor itu bisa benar-benar tahu kalau bawahannya merasakan hal yang sama? Bertanya kepada bawahan jelas bukan cara mengetahui yang dapat diandalkan!
Intinya, setidaknya di Amerika Serikat, hampir di setiap tempat kerja kita memiliki hak untuk menceritakan Kabar Baik kepada orang lain, selama kita melakukannya dengan cara yang tidak menyinggung, agresif, atau menyalahgunakan kekuasaan. Dengan kasih karunia Allah, hal ini seharusnya sangat mungkin dilakukan.
